Mahasiswa UNAIR Banyuwangi Bikin Masker Cantik dari Limbah Kulit Pisang
UNAIR NEWS – Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu desa yang memiliki potensi tinggi penghasil pisang. Hasil olahan pisangnya pun beraneka ragam. Ada keripik pisang, sale, dan aneka yang lain.
Sayangnya, produksi pengolahan pisang yang tinggi itu tidak diimbangi dengan pengolahan limbahnya. Jadilah limbah berupa kulit pisang berserakan diberbagai tempat.
Menurut Kepala Kelurahan Tamansari, Nursamsi, kebanyakan masyarakat Desa Tamansuruh cenderung membuang limbah kulit pisang. Limbah kulit pisang yang paling banyak adalah kulit pisang kapok. Ada beberapa yang memanfaatkannya sebagai pakan ternak, namun hasilnya belum mengatasi besaran limbah yang ada.
“Di Desa Tamansuruh sudah memiliki kelompok ibu PKK yang aktif dan sering mengadakan pertemuan dan membahas masalah limbah kulit pisang ini, namun dari pertemuan ke pertemuan toh belum bisa memberikan solusi yang nyata,” kata Lurah Nursamsi.
Bergegas dari kenyataan diatas dan berusaha untuk memberikan solusinya, lima mahasiswa Universitas Airlangga PSDKU Banyuwangi membuat inovasi untuk memberdayakan masyarakat dengan mengubah limbah kulit pisang menjadi barang yang bernilai ekonomis, yaitu masker wajah.
Dari lima mahasiswa prodi akuntansi PSDKU UA melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2017 dengan judul propsoal
”Optimalisasi Potensi Limbah Kulit Pisang Kepok (Musa paradisiaca) Menjadi Kuping Macan (Kulit Pisang Masker Cantik ) sebagai Upaya Pemberdayaan Ekonomi Kreatif pada Kelompok PKK di Desa Tamansuruh, Kabupaten Banyuwangi.” Program ini
berhasil menarik perhatian Dirjen Dikti dan dinyatakan lolos untuk mendapatkan dana pembinaan program PKM tahun 2017.
PROMOSI masker cantik yang terbuat dari kulit pisang di Banyuwangi. (Foto: Ist)
Lima mahasiswa tersebut adalah Nilna Firdaus Anggraini (ketua/2016), Suaibatul Islamiyah (2016), Nur Jannah (2016), Miranti Nareswari (2014), dan Romzi Kharisanto(2014). Sasaran pengabdian kelima mahasiswa itu adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Tamansuruh, mengurangi tingkat pengangguran, memberikan fasilitas pelatihan kewirausahaan, meningkatkan kreatifitas mahasiswa, membantu mengangkat nilai jual limbah kulit pisang sehingga dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.
Kegiatan yang dilaksanakan meliputi perencanaan program, sosialisasi pengenalan manfaat limbah kulit pisang menjadi masker kecantikan, pelatihan dan praktik pengolahan limbah kulit pisang menjadi masker kecantikan, pemanfaatan masker kecantikan dari limbah kulit pisang pada remaja di lingkungan Desa Tamansuruh serta ditutup dengan melakukan evaluasi kegiatan. (*)
Penulis : Siti Mufaidah
Editor : Bambang Edy Santosa
Pasca Juara di Pimnas, PKM Anti Kantong Panda Semakin Laris
UNAIR NEWS – Persoalan lingkaran hitam di sekitar mata seseorang, merupakan masalah yang sering ditemukan di masyarakat seiring dengan bertambah padatnya aktivitas sehari- hari yang mengurangi waktu untuk istirahat. Selama ini memang dikenal ada beberapa solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Mulai dari penggunaan bahan alami seperti irisan kentang atau mentimun, hingga perawatan wajah di klinik-klinik kecantikan.
Karena itulah, Losepocket Company yang beranggotakan lima mahasiswi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga menghadirkan inovasi “Penutup Kompres Mata (PKM) Anti Kantong Panda”.
Inovasi itu kemudian dituangkan dalam Program Kreativitas mahasiswa (PKM) dan berhasil menjadi Juara I presentasi Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2016 di nomor PKM Kewirausahaan kelas Presentasi-4. Pimnas ke-29 ini berlangsung di IPB, 8-11 Agustus 2016.
Kelima mahasiswa Fakultas Farmasi UNAIR tersebut adalah Ulima Hapsari (Ketua kelompok) dengan anggota Dhiah Ayu Febriani, Afifatun Nisa, Husniatul Fitriah, dan Hogi Rutheda Diana.
Mereka berinovasi dibawah bimbingan dosen Azza Faturrohmah, S.Si., M.Si., Apt.
Menurut Ulima Hapsari, anti kantong panda dengan nama produk Losepocket ini merupakan penutup mata yang dilengkapi dengan
ice gel. Alat ini dapat memberikan sensasi dingin pada mata serta terdapat wadah lubang yang dapat diisi dengan bahan alami yang berkhasiat untuk mengurangi lingkaran hitam di sekitar mata.
”Produk ini dibuat dari bahan kain parasut yang lembut, sehingga nyaman untuk dipakai dalam segala posisi, baik pada saat tidur dan sifatnya tahan air, sehingga mudah dibersihkan dari sisa potongan bahan alami,” kata Ulima, usai menerima Medali Emas Pimnas Ke-29 di gedung Graha Widya Wisuda (GWW) IPB. Seperti diketahui, raihan medali emas dari Ulima Dkk ini merupakan satu dari 8 medali emas, 3 perak, dan 2 perunggu yang diraih Tim Pimnas UNAIR, yang sekaligus memastikan tampil sebagai Juara III Pimnas 2016.
Ditambahkan oleh Ulima, bahwa Losepocket ini juga tersedia dalam variasi warna yang menarik. Selain itu juga terdapat sensasi aroma terapi dari rempah-rempah pilihan yang berkhasiat sebagai sedative yang dapat memberikan efek relaksasi bagi para pengguna Losepocket.
Anggota Losepocket Company dari Fakultas Farmasi UNAIR.
Inovasi mereka meraih medali emas pada Pimnas ke-29/2016, di IPB. Pasca juara ini, Lospocket semakin laris. (foto:
Istimewa)
Kelebihan lain produk mahasiswa UNAIR ini adalah, pengguna tidak perlu mengeluarkan biaya mahal untuk mengatasi permasalahan lingkaran hitam di sekitar mata. Untuk ini cukup dengan Rp 25.000,- untuk satu kemasan Losepocket yang terdiri atas satu penutup kompres mata, satu ice gel, satu pack aroma terapi, serta petunjuk cara penggunaan dan penyimpanan Losepocket.
Penjualan dan promosi produk ini sudah merambah beberapa wilayah di Indonesia. Antara lain Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Banyuwangi, Denpasar, Mataram, dan beberapa kota lain.
Penjualan Losepocket ini dilakukan melalui sistem Pre-Order yang sebagian besar dilakukan melalui Official Account Instagram: @losepocket dan LINE: @owm1807o.
”Hingga bulan ke-4 (April 2016) penjualan Losepocket sudah mencapai 200 produk. Penjualan ini langsung meningkat drastis setelah produk kami mendapat Juara I (satu – red) pada Pimnas 2016 di Institut Pertanian Bogor,” tambah Ulima.
Kedepan, Losepocket Company berharap bahwa produk Losepocket ini dapat memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi masyarakat dalam mengatasi persoalan lingkaran hitam di sekitar mata. (*) Penulis: Bambang Bes
Mahasiswa UNAIR Tawarkan
“Serbuk Ajaib” untuk Cuci Darah Pasien Gagal Ginjal
UNAIR NEWS – Ginjal merupakan organ terpenting dalam tubuh manusia. Tetapi penderita gangguan ginjal, akhir-akhir ini terus meningkat, akibat pola hidup yang kurang sehat. Padahal, penanganan kasus gagal ginjal dengan melakukan cuci darah (hemodialisis) membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untuk itulah mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga berinovasi dalam penelitiannya dan menemukan solusi yang berpotensi meningkatkan hemodialisis dengan kinerja lebih optimal.
”Penanganan kasus gagal ginjal di Indonesia saat ini, menurut Menkes, terkendala oleh biaya yang mahal dan keterbatasan alat cuci darah, sedangkan penderitanya sekitar 3000 orang dan banyak yang berakhir dengan kematian. Karena itulah kami berusaha membantu mencari solusinya,” ujar Januardi Wardana, ketua Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Penelitian Eksakta, FST UNAIR tentang isonasinya.
Selain Januardi, Tim juga beranggotakan Bella Prelina, Ahya Isyatir Rodliyah, dan Zakiyatus Syukriyah. Atas prestasi ini mereka menuangkan penelitian ini dalam program PKM. Bahkan setelah dinilai oleh Dikti, proposal bertajuk “Potensi Cation Exchanger Zeolit A Sebagai Hemoadsorben Penderita Gagal Ginjal” ini lolos penilaian dan memperoleh dana dari Kemenristekdikti untuk program PKM tahun 2017.
Dibenarkan oleh mereka, bahwa organ ginjal bertugas untuk menyaring sisa-sisa metabolisme untuk dibuang keluar tubuh manusia. Apabila ginjal tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik, maka akan mengalami gagal ginjal. Penyebab utama gagal ginjal ini antara lain pola hidup yang tidak sehat,
serta akibat tingginya kadar uremik toksin dalam darah.
DIANTARA Tim PKM-PE ini melakukan penelitian serius, baik di UNAIR dan di AMTEC Malaysia. (Foto: Dok PKM-PE FST)
Ada berbagai macam jenis uremik toksin, salah satunya adalah kreatinin yang merupakan asam organik yang memiliki gugus nitrogen dan diproduksi dalam tubuh manusia, terutama pada hati, ginjal, dan pankreas. Secara fisiologis, konsentrasi normal kreatinin dalam darah 1,2 hingga 5 mg/dL. Apabila melebihi batas, maka dapat dikategorikan sebagai penyakit gagal ginjal.
“Sementara itu proses hemodialisis selama ini biasanya terjadi dalam waktu relaif lama. Jadi pasien mengalami rasa sakit dan tidak nyaman. Untuk itu diperlukan suatu bahan tambahan yang mampu meningkakan kualitas hemodialisis. Melalui PKM-PE inilah kami meneliti kemampuan zeolit dan zeolit yang ter-imprinted kreatinin untuk adsropsi kreatinin,” tambah Januardi.
Penelitian PKM-PE ini dilakukan di Universitas Airlangga dan AMTEC, Malaysia. Penelitiannya diawali dengan membuat zeolit terlebih dahulu. Bahan dasar yang digunakan adalah natrium aluminat, silikon dioksida, dan air. Pembuatan zeolit ini
menggunakan metode hidrotermal pada suhu 1000C.
“Sedangkan Imprinted zeolit merupakan zeolit yang telah tercetak porinya dengan pori kreatinin. Untuk membuatnya kami tambahkan larutan kreatinin ke dalam suspensi zeolit dan dilakukan ekstrak dengan air panas hingga pH-nya netral, sehingga harapan kami pori-pori zeolit yang terbentuk memliki kesamaan dengan pori-pori kreatinin dan proses adsorpsi semakin cepat berlangsung,” tambah Bella Prelina, anggota tim.
Zeolit yang dipilih digunakan karena mudah dalam sintesisnya dan memiliki potensi besar dalam penyerapan limbah metabolik penderita gagal ginjal. Zeolit memiliki sifat fisika dan kimia yang unik, yakni meliputi dehidrasi, adsorben dan penyaring molekul, katalisator dan penukar ion. Sifat zeolit sebagai adsorben dan penyaring molekul, juga dimungkinkan sebagai material berpendukung hemoadsorben yang memiliki tingkat akurasi tinggi, sehingga menjadikannya adsorben yang selektif dan mempunyai efektivitas adsorpsi yang tinggi.
“Pada penelitian ini kami membuat zeolit dan zeolit yang telah terimprinted porinya. Kami meneliti kemampuan adsorpsinya dalam variasi waktu adsorpsi,” tambah Zakiyatus Syukriyah.
Juga ditambahkan oleh Januardi, bahwa dalam rentang waktu 15 menit, zeolit mampu mengadsorpsi kreatinin sekitar 40%.
Sedangkan zeolit yang terimprinted sekitar 60%. Diantara keduanya, zeolit yang porinya telah terimprinted memiliki kemampuan lebih besar dibandingkan zeolit biasa.
”Karena zeolit yang ter-imprinted lebih selektif. Sekaligus membukikan bahwa zeolit memiliki kemampuan sebagai adsorben uremik toksin, sehingga memiliki potensi untuk hemodialisis kreatinin,” kata Januardi. (*)
Editor: Bambang Bes
Atasi Pencemaran, Beli Sayuran Cukup dengan Sampah Popok Bayi
UNAIR NEWS – Berawal dari keprihatinan terhadap kondisi pencemaran sungai yang terjadi di Kota Surabaya, empat mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) menggagas metode baru dalam mencegah pencemaran pada salah satu sungai di kawasan Gunung Anyar Tengah, Surabaya. Metode baru yang dimaksud adalah membeli sayur memakai popok bayi (diaper) yang disingkat LISA KEPO.
Keempat mahasiswa FKM UNAIR penggagas ide tersebut adalah Anca Laika (FKM/2015), Musyayadah (FKM/2015), Elsya Vira Putri (FKM/2014), dan Ahmad Habibullah (FKM/2014). Ide tersebut kemudian mereka tuangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa – Pengabdian Masyarakat (PKM-M) dan berhasil lolos seleksi pendanaan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) tahun 2016.
Mengapa menggunakan popok bayi? “Metode ini berawal dari keprihatinan kami terhadap kondisi Sungai Kali Mas Surabaya yang tercemar akibat melimpahnya limbah popok bayi. Sedangkan di wilayah Gunung Anyar Tengah terletak di lokasi yang diapit dua sungai, sehingga berpotensi untuk dicemari oleh limbah yang berasal dari popok bayi bekas,” ungkap Anca Laika, Ketua Tim PKM-M ini.
Sesuai dengan ilmu kesehatan lingkungan yang mereka dapatkan di bangku kuliah, popok bayi itu mengandung zat bernama Gel Sodium Polyacrylate, sehingga dapat dimanfaatkan menjadi media
tanam sayuran, atau sering disebut sebagai METAPOK (MEdia TAnam POpok). Bahkan gagasan mereka ini mendapat apresiasi dari Dinas Pertanian Pemerintah Kota Surabaya dengan membantu memberi bibit sayuran agar bisa ditanam menggunakan METAPOK tersebut.
Dalam proses implementasi gagasan, tim PKM-M LISA KEPO memberdayakan para ibu anggota Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) setempat. Tim PKM mengajak para ibu PKK untuk membuat bank sampah yang cukup besar, tujuannya untuk menampung popok bayi bekas.
Setiap warga yang menyetorkan sampah popok bayi juga dianjurkan untuk membawa buku tabungan popoknya. Di buku itu kemudian dicatatkan jumlah popok yang di kumpulka setiap hari ke pengurus bank sampah. Semakin banyak sampah popok bekas yang dikumpulkan di bank sampah, semakin banyak pula sayuran hasil tanam yang dihasilkan. Metode inilah yang diberi nama LISA KEPO (beLI SAyur paKEk POpok).
Anca dan kawan-kawan berharap, dengan adanya penemuan ini maka intensitas pembuangan popok bayi bekas bisa berkurang, kemudian gagasan ini juga bisa menyebar ke daerah lain.
Sebetulnya tujuan dari ide ini hanya ingin agar masyarakat tidak membuang sampah diaper ke sungai, sebab dampak dari pembuangan popok bayi bekas ini, menurut penelitian ecoton pimpinan Prigi Arisandi, membuat 85% ikan di Kali Surabaya berkelamin betina.
“Kondisi ini bisa menyebabkan kepunahan ikan yang hidup di Sungai-sungai di Surabaya,” tutur Anca Laika, ketua pelaksanaan dalam program PKM ini.
Disinyalir, pembuangan sampah popok bayi di sungai yang dilakukan masyarakat Surabaya ini merupakan perkembangan budaya bahwa popok bayi tidak boleh dibakar. Ada kepercayaan di masyarakat jika membuang popok bayi ke tempat sampah, mereka meyakini nantinya sampah popok itu akan dibakar ketika
di TPA (Tempat Pembuangan Akhir sampah), dan itu dipercaya dapat membuat bayi mereka terserang ”Suleten” (iritasi kulit pada area sekitar kelamin). (*)
Editor : Bambang Bes
Ditawarkan, Hand Sanitizer Berbasis Natural Protection Dari Daun Kersen
UNAIR NEWS – Memanfaatkan keberadaan melimpahnya bahan, yaitu pohon kersen atau ada yang menyebut pohon talok yang mudah tumbuh dimana-mana, serta kandungan saponin, tanin dan flavonoid yang ada pada daun kersen, dimanfaatkan oleh mahasiswa Universitas Airlangga untuk diinovasi menjadi hand sanitizer atau antiseptik tangan untuk menghambat pertumbuhan bakteri atau bakteriostatik.
Apalagi, penggunaan hand sanitizer di kalangan mahasiswa dan masyarakat, saat ini bukanlah suatu gaya hidup baru.
Penggunaan antiseptik tangan atau hand sanitizer sudah menjadi kebiasaan masyarakat luas, karena penggunaan hand sanitizer yang praktis serta memiliki efek yang sama seperti cuci tangan.
Antiseptik yang biasa digunakan (di pasaran) merupakan bahan dengan kandungan alkohol, dimana alkohol merupakan zat aktif pada kebanyakan hand sanitizer. Namun, penggunaan alkohol yang berlebihan dapat mengakibatkan kulit kering pada beberapa kulit sensitif.
Dengan fakta banyaknya bahan dan ingin membuat 0% bahan kimia,
menggelitik mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga untuk melakukan inovasi membuat hand sanitizer dari daun kersen. Mahasiswa inovativ ini adalah Maulita Maharani Ulfa (2014), Nur Lailatul Fitrotun Nikmah (2014), Shendy Canadya Kurniawan (2014), Gayoh Mahardika Wan Mahsuri (2015), dan Nandana Abimantra (2015).
”Karena cara kerja dari saponin, tanin dan flavonoid itu adalah menghambat pertumbuhan bakteri atau bakteriostatik, dan itu juga ada pada daun kersen,” kata Maulita Maharani Ulfa, ketua tim.
KELOMPOK PKMK Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR sambil menunjukkan Calabura Septik buatannya. (Foto: Dok PKMK-FF) Kreativitasnya ini kemudian dituangkan dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K), dan berhasil lolos dari seleksi oleh Dikti, sehingga memperoleh dana pengembangan dari Kemenristekdikti untuk program PKM tahun 2016-2017.
Sehingga, lanjut Maulita, ekstrak daun kersen yang berbasis natural protection juga ikut dalam upaya ekoefisiensi pohon kersen itu sendiri. Ekofisiensi yang dimaksudkan adalah memaksimalkan potensi dari keberadaan pohon kersen yang relatif banyak ini, dengan tanpa merusak ekosistem pohon kersen itu sendiri.
”Keunggulan yang kami tawarkan dalam produk ini adalah penggunaan 0% bahan kimia, dapat dimakan atau edible, sehingga aman untuk digunakan oleh segala umur,” kata Maulita.
Oleh Tim PKMK, produk ini diberi nama “Calabura Septik”.
Selama ini ditawarkan dengan dua kemasan botol spray ukuran 60 ml dan 100 ml. Harganya sangat terjangkau masyarakat, yaitu harga Rp 10.000 untuk kemasan isi 60 ml dan harga Rp 18.000 untuk kemasan isi 100 ml. Budaya hidup sehat memang banyak diidamkan. (*)
Editor: Bambang Bes
Charger Handphone Memanfaatkan Panas Tangan Manusia Buatan Mahasiswa UNAIR
UNAIR NEWS – Dunia telah memasuki era perkembangan teknologi yang pesat. Berbagai mesin mulai terbiasa dioperasikan oleh manusia. Mulai dari instrumen pabrik hingga kotak-kotak pintar yang biasa disebut sebagai smartphone. Bagi generasi Y, generasi yang melek teknologi, smartphone sudah menjadi kebutuhan primer. Karena itu mahasiswa UNAIR berhasil berinovasi membuat charger handphone dengan hanya memanfaatkan panas tangan manusia.
Berangkat dari masalah itulah, sekelompok mahasiswa S-1 Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga, yaitu Raja Bugatti (ketua kelompok), Luqyana Salsabila, Lendy Pradhana, Syahrul Munir, dan Vinda Aprilia,
membuat inovasi baru.
Hasil inovasinya yang bernama ”Hand Charging, Charge The World , Charge The Society” kemudian dituangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Eksakta (PKM- PE) . Dibawah bimbingan dosennya, Supadi, M.Si., proposal ini lolos penilaian Dikti dan memperoleh dana penelitian program PKM Kemenristekdikti tahun 2017.
”Kami terinspirasi dari kalor yang ada di dalam tubuh manusia dengan memanfaatkan konsep-konsep termodinamika dan hukum seeback. Karena tubuh manusia itu memiliki ion yang membawa listrik dan menghasilkan panas, sehingga memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber pengisian daya bagi smartphone,” kata Raja Bugatti, ketua tim.
Secara global, ide itu terinspirasi dari data bahwa peningkatan pengguna smartphone di dunia, khususnya di Indonesia, menurut Emarketer mencapai lebih dari 100 juta pengguna. Namun, perkembangan tersebut justru membawa efek stres tersendiri terhadap pengguna sebagai akibat dari habisnya daya pada smartphone. Kemudian mengutip hasil riset salah satu perusahaan smartphone di China, Indonesia merupakan negara yang memiliki penduduk paling rentan terkena stres terhadap masalah tersebut.
DUA anggota Tim PKM-KC melakukan percobaan- percobaan, dan berhasil. (Foto: Dok PKM-KC)
Sebenarnya, lanjut Raja Bugatti, inovasi charger portable itu sudah ada, yaitu power bank. Namun yang menjadi masalah adalah terbatasnya daya yang dapat disimpan oleh alat tersebut.
Sehingga apabila daya pada penyimpanan habis, power bank tidak lagi bisa digunakan.
Lain halnya dengan inovasi Hand Charging yang tidak memiliki batas daya, mengingat daya yang didapat bersumber pada panas dari tangan si pengguna HP. Hand Charging dapat dipakai kapan dan di manapun. Hingga pada daerah yang tidak ada listrik sekali pun, Hand Charging menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan pengisian daya pada smartphone.
Efek Seeback dalam inovasi ini menerangkan bahwa jika dua buah logam yang berbeda disambungkan salah satu ujungnya, kemudian diberikan suhu yang berbeda pada sambungan, maka terjadi perbedaan tegangan pada ujung yang satu dengan ujung yang lain. Fenomena itu kemudian dilihat kebalikannya oleh Peltier yang nantinya disebut sebagai efek Peltier.
Dengan menghitung rata-rata kulit manusia dewasa yaitu 1,7m² dan rata-rata manusia mengeluarkan energi sebesar 350.000 J per jam, dan 1 J/jam = 0,00028 W, maka daya yang dapat dikeluarkan oleh tubuh setiap harinya sebesar 5,7 mW/cm2. Dengan daya tersebut, panas yang dihasilkan oleh tubuh manusia mampu membuat lampu bohlam 100 W menyala terang. (*) Editor: Bambang Bes
Optimalkan Bahan Lokal, Isolator Listrik Gelas Keramik ’Cordierite’ Tahan Panas dan Terjangkau
UNAIR NEWS – Mahasiswa jurusan Fisika Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga berhasil membuat terobosan baru, isolator listrik berbasis gelas keramik yang menggunakan bahan baku lokal. Dengan demikian harganya bisa bersaing atau lebih terjangkau dari isolator yang sudah ada di pasaran saat ini.
Keberhasilan ini kemudian dituangkan ke dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Eksata (PKM-PE) dengan judul “Pembuatan Isolator Listrik Berbasis Gelas Keramik
Cordierite Menggunakan Bahan Baku Lokal.” Dibawah bimbingan dosennya, Drs. Siswanto, M.Si., proposal ini berhasil lolos dalam seleksi PKM oleh Kemenristekdikti tahun 2016/2017, dan berhasil mendapatkan dana hibah penelitian.
PKM-PE ini diketuai oleh Tita Aulia, dengan anggota antara lain Siti Nurmala, Mayasari Hariyanto, Amalia Fitriana, dan Moch Andi Putra Jaya. Semua mahasiswa Jurusan Fisika Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga.
Dijelaskan oleh Tita Aulia, penelitian ini didasarkan pada kebutuhan yang besar akan isolator listrik. Sebab isolator punya peran penting dalam kehidupan sehari-hari dan alat bekerja, seperti untuk kabel, kampas motor, dsb. Kemudian isolator listrik yang ada saat ini masih tergolong lebih mahal dan kurang bisa dijangkau oleh masyarakat.
”Selain itu, bahan baku lokal yang kurang dimanfaatkan juga menjadi alasan lain tim kami melakukan penelitian ini,” tambah Tita Aulia.
Keunggulan dari isolator berbasis gelas keramik bikinan mahasiswa UNAIR ini, kata Tita, biasa dibuat dengan bahan baku lokal dan melalui beberapa proses yang sedikit sulit, salah satunya proses sintering, yaitu pemanasan pada suhu sangat tinggi yang lebih dari 1000oC, dan didinginkan dengan proses cooling down (pendinginan secara perlahan). Proses pendinginan yang perlahan itulah yang membuat struktur kristal yang terbentuk menjadi lebih rapi.
Sedikit diinformasikan, bahwa dalam ilmu fisika, material gelas keramik cordierite adalah gelas keramik yang susunan atau struktur kristalnya tersusun rapi (kristalinitasnya tinggi). Antara atom satu dengan yang lainya sangat dekat (berhimpit) sehingga menjadikan isolator ini tidak mudah mengalami retak atau patah ketika terkena suhu yang tinggi.
”Tentu saja, harga isolator ini murah dan merakyat, karena
bahan bakunya berasal dari lokal Indonesia. Mudah-mudahan inovasi kami ini bermanfaat untuk masyarakat, yakni isolator berkualitas baik dengan harga sangat terjangkau dan aman,”
demikian Tita Aulia dan kawan-kawannya berharap. (*) Editor : Bambang Bes
Madu Lebah Apis Dorsata Bisa Sebagai Obat Anti Osteoporosis
UNAIR NEWS – Gangguan osteoporosis sering diderita oleh masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga, diusulkan kepada penderita untuk mengonsumni madu lebah Apis dorsata sebagai alternative obat antiosteoporosis.
Usul itu disampaikan sebab kandungan dalam madu Apis dorsata terdapat asam glukonat yang dapat meningkatkan absorpsi kalsium di dalam usus. Kandungan fenol pada madu ini juga dapat berperan dalam metabolisme tulang serta flavonoid dapat mencegah terjadinya pengeroposan tulang.
Kelima mahasiswa peneliti yang tergabung dalam kelompok Program Kreativias Mahasiswa bidang Penelitian Eksakta (PKM- PE) itu diketuai M. Huda Ramadhan Ibrahim, dengan anggota Abdullah Hasib, Samsi Yordan, Siti Nur Rohmah, dan Salsabilla Abani.
Dibawah bimbingan Dr. Ira Yudaniayanti, drh., M.P., dosen mereka, penelitian ini kemudian dituangkan dalam proposal PKM- PE dan lolos seleksi Ditjen Dikti, sehingga memperoleh dana
penelitian dalam program PKM Kemenristekdikti tahun 2016-2017.
Diterangkan oleh M. Huda Ramadhan, yang dilakukan timnya adalah meneliti kadar abu kalsium dan gambaran histopatologi tulang hewan coba yang telah diinduksi osteoporosis dengan cara pengambilan ovarium atau biasa disebut Ovariohysterectomy dan diberi madu sebagai perlakuan sehari-hari selama empat bulan.
Osteoporosis, lanjutnya, bersal dari kata osteo (tulang) dan porous (keropos), yang disebut juga pengeroposan tulang.
Osteoporosis memiliki resiko yang merugikan penderita, dimana akan menyebabkan terjadinya fraktur pada tulang, nyeri pada punggung, dan dapat menyebabkan stres fisik, nyeri pinggang, sakit lutut, sakit persendian, nyeri pada paha, nyeri di kaki, gangguan fungsi aktivitas sehingga menimbulkan hilangnya kemandirian.
Penyebab terbanyak Osteoporosis di Indonesia adalah faktor gender, usia, gangguan metabolisme tulang, kurangnya aktivitas, kekurangan protein, dan kurangnya asupan vitamin D.
Seorang wanita diindikasikan empat kali lebih rentan terserang osteoporosis dibandingkan dengan pria.
Dari penelitian itu, kata Huda, hasilnya sangat luar biasa.
Kadar kalsium abu tulang menunjukkan hasil tertinggi pada hewan coba yang diberi perlakuan madu dengan dosis tertinggi.
Hasil gambaran histopatologi tulang yang diberi madu dengan dosis tertinggi juga menunjukan tidak terlihatnya osteoporosis berbeda dengan tulang yang diinduksi osteoporosis, namun tidak diberi madu sama sekali.
“Dengan penelitian ini diharapkan ada perbedaan gambaran histopatologi dan kadar abu kalsium untuk setiap kelompok perlakuan, dan akhirnya perbedaan itu terlihat nyata sehingga madu dapat dijadikan sebagai obat antiosteoporosis,” ujar M.
Huda Ramadhan.
Dari penelitian ini juga diharapkan bahwa madu dapat digunakan
sebagai bahan ilmiah yang aman untuk mencegah terjadinya osteoporosis. (*)
Editor: Bambang Bes
Ditawarkan, Kompres Luka dari Ekstrak Tanaman Lidah Buaya (Aloe Vera)
UNAIR NEWS – Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya berhasil membuat inovasi baru penyembuh luka dari ekstrak Aloe Vera. Menurut empat mahasiswa yang menelitinya, yaitu Muhammad Hidayatullah Al-Muslim (2016), Dinda Dhia Aldin Kholidiyah (2016), Kusnul Oktania (2016) dan Retno Dwi Susanti (2014), inovasi baru penyembuh luka ini diberi nama KOMPAS kependekan dari “Kompres Penyembuh Luka Aloe Vera”.
“Kami memutuskan untuk membuat kompres luka dari tanaman lidah buaya (Aloe vera) ini dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa yang didanai Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, karena Aloe Vera mempunyai potensi cukup besar sebagai bahan baku obat alami,” kata Retno Dwi Susanti, mewakili tim PKM ini, kemarin di kampusnya.
Tanaman lidah buaya (Aloe vera) lebih dikenal masyarakat sebagai tanaman hias. Padahal tanaman ini mengandung berbagai zat aktif yang dapat dipakai untuk menyembuhkan luka. Oleh karena itu Retno dan kawan-kawannya memanfaatkan aloe vera dalam penelitian ini. Selain itu, lidah buaya pasti berpeluang untuk menjadi komoditas perdagangan yang besar.
Menurut Retno, anggota paling senior di tim PKM ini, Aloe Vera terdapat kandungan saponin dan flavonoid, bahkan juga mengandung tanin dan polifenol. Saponin itu mempunyai kemampuan sebagai pembersih sehingga efektif untuk menyembuhkan luka, sedangkan tanin dapat digunakan sebagai pencegahan terhadap infeksi luka karena mempunyai daya antiseptik. ”Jadi cukup efektif dijadikan sebagai penyembuh luka,” lanjutnya.
Ditambahkan oleh Muhammad Hidayatullah Al-Muslim, ketua PKMK ini, bahwa kreativitas “KOMPAS” ini merupakan produk kompres luka yang ampuh dapat menyembuhkan luka dan cukup praktis untuk dipakai. Penggunaannya cukup dengan membersihkan luka terlebih dahulu, kemudian menempelkan KOMPAS pada luka tersebut.
”Orang-orang lebih sering mengira bahwa luka harus dibuat kering dan diangin-anginkan agar cepat sembuh. Padahal kondisi lembap bisa membantu sel fibroblas membentuk jaringan baru yang menutup luka. Jadi kelembapan juga mengurangi jumlah eksudat atau cairan yang keluar dari luka,” jelas Dayat, panggilan akrabnya.
Memang, perawatan luka yang baik dengan menggunakan pembalut luka modern, seperti plester, yang bisa menjaga kelembapan luka. Untuk itu dianjurkan untuk tidak menggunakan kain kasa, karena kain kasa tidak bisa menjaga kelembapan luka dan membuat proses penyembuhan luka menjadi lebih lama.
”Berbeda dengan luka yang sudah lama, yang sudah bernanah misalnya, maka perawatannya tidak perlu ditutup. Dibiarkan terbuka saja. Jadi dengan adanya produk KOMPAS ini, kami harapkan sangat efektif untuk proses penyembuhan luka,” timpal Kusnul Oktania, anggota PKMK KOMPAS ini.
Ditanya wartawan tentang kemasannya? Dijawab oleh Dinda Dhia, dalam satu kemasan berisi tiga biji KOMPAS. “Kalau kita jual per kemasan harganya Rp 15.000, tapi kalau ada yang ingin
membeli per biji, kami siap melayani juga. Jadi kalau per biji kita menjualnya Rp 5.000, kata Dinda. (*)
Editor : Bambang Bes
Ciptakan Selai Mengkudu dan Bogem untuk Anti Hipertensi
UNAIR NEWS – Hipertensi atau dikenal dengan tekanan darah tinggi dapat memicu beberapa penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung, stroke, dan gagal jantung. Penyakit kardiovaskular merupakan pembunuh nomor satu di dunia.
Bersarkan dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, penderita hipertensi di Indonesia sekitar 65 juta jiwa atau sekitar 25,8% dari keseluruhan penduduk Indonesia.
Kondisi stres, obesitas, kurang olahraga, merokok, dan minum alkohol merupakan beberapa faktor penyebab hipertensi.
Penderita hipertensi umumnya mengkonsumsi obat sebagai sarana pengobatan. Namun, konsumsi obat dapat menyebabkan kebosanan karena rasa yang tidak enak.
Berangkat dari masalah itu, lima mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga, yakni Septia Rahmadini (2014), Dian Cahyani Sisari (2014), Syifa’ul Janna (2014), Qurrotul A’yun (2014) dan Aprilia Rachmawati (2015), membuat inovasi produk yang dapat mengatasi hipertensi berupa selai dengan rasa yang lebih bisa dinikmati oleh masyarakat.
Produk inovasi bernama “SEL-DUGEM (Selai Mengkudu dan Bogem) Anti Hipertensi” ini telah lolos bantuan dana pengembangan dari Dirjen Dikti, Kemenristekdikti RI tahun 2016 dalam kategori Program Kreatifitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K).
“SEL-DUGEM (Selai Mengkudu dan Bogem) Anti Hipertensi” ini merupakan selai yang berasal dari buah mengkudu dan buah bogem.
“Kandungan yang dimiliki buah mengkudu yaitu scopoletin dan xeronin memiliki khasiat menurunkan tekanan darah. Sedangkan kandungan pada buah bogem berupa senyawa bioaktif berpotensi sebagai antihipertensi,” ujar Septia Rahmadini.
Produk SEL-DUGEM (Selai Mengkudu dan Bogem) Anti Hipertensi ini dijual dengan dua inovasi kemasan. Produk dengan berat 300 gram seharga Rp. 25.000 dan 100 gram dengan harga Rp.15.000.
Selama empat bulan dibuat, produk ini sudah tersebar ke beberapa daerah di Jawa.
Ke depan, produk ini akan dipasarkan ke luar Jawa hingga ke luar negeri. “SEL-DUGEM (Selai Mengkudu dan Bogem) Anti Hipertensi” dapat dipesan melalui Instagram dan Line dengan akun ‘seldugem’, melalui facebook dengan nama ‘mengkudu dan bogem’, serta kontak whatsaap 085645078780. (*)
Editor : Binti Q. Masruroh