BAB III
GAMBARAN UMUM TENTANG KONSEP BAI’ AS-SALAM
A. Pengertian Bai’ as-salam
Akad salam atau pesanan sangat erat kaitannya dengan akad jual beli karena akad salam merupakan salah satu bentuk jual beli dengan ketentuan didalamnya, pada dasarnya jual beli dapat ditinjau dari beberapa segi baik itu dari segi hukum, segi obyek jual beli, dan segi pelaku jual beli.1 Namun, kali ini yang akan dibahas adalah jual beli yang ditinjau dari segi obyek (benda) dengan ketentuan jual beli yang disebutkan sifat-sifatnya dalam perjanjian yaitu jual beli salam (bai‟ as-salam).2
Bai‟ as-salam (ملسلا عيب) secara bahasa disebut juga dengan as-salaf (فلسلا) yang bermaksud at-taqdīm (ميدقتلا) yang berarti pendahuluan atau mendahulukan, karena jual beli yang harganya didahulukan kepada penjual, yang berarti pesanan atau jual beli dengan melakukan pemesanan terlebih dahulu.3 Bai‟ as-salam secara istilah adalah menjual suatu barang yang penyerahannya ditunda atau menjual suatu barang yang ciri-cirinya jelas dengan pembayaran modal lebih awal, sedangkan barangnya diserahkan kemudian hari.4 Kemudian para fuqaha‟ menyebutnya dengan barang-barang mendesak karena ia sejenis jual beli barang yang tidak ada di tempat, sementara dua pokok yang melakukan transaksi jual beli mendesak.5 Istilah salam adalah bahasa dari masyarakat Hijaz sedangkan salaf dikenal di masyarakat Irak.6
Bai‟ as-salam adalah jual beli dengan cara memesan barang terlebih dahulu yang disebutkan sifatnya atau ukurannya, sedangkan pembayarannya dilakukan dengan tunai. Atau menjual suatu barang yang penyerahannya ditunda, atau menjual suatu barang yang ciri- cirinya disebutkan dengan jelas dan pembayaran dilakukan terlebih dahulu, sedangkan barang diserahkan dikemudian hari sesuai kesepakatan awal. Artinya bahwa yang diberlakukan adalah prinsip bai‟ (jual beli) suatu barang tertentu antara pihak penjual dan pembeli sebesar
1 Ahmad Wardi Muslich, Fiqh Muamalat (Jakarta: Amzah, 2010), 241. Selanjutnya ditulis Muslich, Fiqh.
2 Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), 75. Selanjutnya ditulis Suhendi, Fiqh.
3 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, terjemahan oleh Nor Hasanuddin (Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2006), 217. Selanjutnya ditulis sabiq, Fiqh.
4 Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2000), 147. Selanjutnya ditulis Haroen, Fiqh.
5 Sabiq, Fiqh, 218.
6 Tim Manajemen Perbankan Syari’ah 2012 B, Fiqh Muamalah dalam Konteks Ekonomi Kontemporer (Depok: STEI Sebi, 2014), 78. Selanjunya ditulis Tim Manajemen, Fiqh.
harga pokok ditambah nilai keuntungan yang disepakati, di mana waktu penyerahan barang dikemudian hari sementara penyerahan uang dibayarkan di muka secara tunai.7
Adapun contoh kasus bai‟ as-salam, yaitu ada seorang pembeli yang memesan beberapa daun pintu ke pembuat atau produsen daun pintu, kemudian sang pemesan menyebutkan kriteria atau sifat pintunya, baik dari segi model dan bahan kayu yang digunakan dengan perjanjian waktu yang sudah ditentukan dan disepakati kedua belah pihak.
Dan seorang pemesan harus membayar lunas biaya pemesanan daun pintu tersebut dan daun pintu harus selesai ditanggal yang ditentukan kedua belah pihak. Orang yang memesan atau yang memiliki uang disebut muslam, orang yang memiliki barang disebut muslam „ilaih, barang yang dipesan disebut muslam fīh, dan harganya disebut ra‟su māl as-salam.8 Kemudian cara pemesanan tidak diisyaratkan harus dengan lafal salam atau salaf, melainkan cukup dengan lafal bai‟ atau jual beli. Akan tetapi boleh juga dengan lafal salam atau salaf. 9
Barang dalam akad salam seharusnya disebutkan segala sesuatu yang bisa mempertinggi dan memperendah harga barang tersebut, misalnya benda tersebut berupa kaos sepak bola (jersey) dengan menyebutkan jenisnya baik itu authentic,10 replika, dan seterusnya. Bahkan bisa disebutkan jenis bahannya sekalipun. Pada intinya sebutkan semua identitas barang yang dikenal oleh para ahli di bidang ini yang menyangkut kualitas barang tersebut. Selanjutnya barang yang akan diserahkan hendaknya barang yang biasa didapatkan di pasar dan harga hendaknya dipegang di tempat akad berlangsung.11
Bai‟ as-salam tidak hanya dikenal dengan jual beli pesanan secara biasa dengan melibatkan pembeli (muslam) dan pemilik barang (muslam „ilaih) dengan ketentuan yang berlaku, namun ada pula yang disebut salam paralel atau bertingkat.12 Salam paralel atau salam bertingkat yaitu melaksanakan dua transaksi bai‟ as-salam antara penjual dengan pembeli dan antara penjual dengan pemasok atau pihak ketiga lainnya secara simultan.13 Dengan kata lain penjual memesan kepada pihak lain untuk menyediakan barang pesanan dengan cara salam, maka itulah yang disebut salam paralel.
7 Tim Manajemen, Fiqh, 79.
8 Fathurrahman Djamil, Penerapan Hukum Perjanjian dalam Transaksi di Lembaga Keuangan syariah (Jakarta: Sinar Grafika, 2012), 133. Selanjutnya ditulis Djamil, Penerapan Hukum.
9 Muslich, Fiqh, 205.
10 Authentic adalah tulen, sejati, boleh diakui sebagai sah. Namun authentic banyak diartikan sebagai kata asli. Lihat Jhon M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005), 46. Selanjutnya ditulis Echol, Kamus.
11 Suhendi, Fiqh, 76.
12 Sutan Remy Sjahdeini, Perbankan Syariah Produk-produk dan Aspek-aspek Hukumnya (Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, 2014), 251. Selanjutnya ditulis Sjahdeini, Perbankan.
13 Djamil, Penerapan Hukum, 137.
Salam paralel diperkenankan dengan syarat akad kedua terpisah dan tidak berkaitan dengan akad salam pertama.14 Salam paralel biasanya banyak digunakan dalam dunia perbankan, di mana bank bisa bertindak dalam dua peran, yakni pada akad pertama sebagai penjual (muslam ‟ilaih) dan pada akad kedua sebagai pembeli (muslam) dengan melibatkan pihak ke tiga sebagai produsen, yang pada intinya pada akad ke dua ini bank adalah pembeli dan produsen adalah penjual.15
Adapun Contoh dari salam paralel adalah bank menerima pesanan kendaraan bermotor dari nasabah kemudian bank bersedia untuk memenuhi pesanan nasabah tersebut dengan berakadkan salam. Namun, karena bank bukanlah produsen atau penjual kendaraan bermotor maka bank harus menghubungi pihak ketiga sebagai penjual atau produsen kendaraan bermotor untuk bekerja sama memenuhi pesanan nasabah bank tersebut. Sehingga bank dan penjual atau produsen kendaraan bermotor melaksanakan akad salam berikutnya namun tidak melibatkan nasabah bank. Dengan demikian terjadilah dua akad salam atau salam bertingkat yang disebut salam paralel.
Berdasarkan pendapat di atas sudah cukup untuk memberikan perwakilan penjelasan dari bai‟ as-salam. Di mana inti dari pendapat tersebut yaitu bai‟ as-salam merupakan akad pesanan atau jual beli pesanan dengan pembayaran di depan atau terlebih dahulu, dan barangnya diserahkan kemudian hari.16 Tetapi ciri-ciri barang tersebut haruslah jelas penyifatannya serta jelas kuantitas, kualitas, dan waktu penyerahannya.17 Bahkan bisa juga ditarik kesimpulan dengan unsur-unsur yang harus ada dalam bai‟ as-salam yaitu jual beli barang dilakukan dengan pesanan, spesifikasi barang yang dipesan jelas kriterianya, pembayaran dilakukan pada saat akad secara penuh, dan barang diserahkan dikemudian hari.
B. Landasan Hukum Bai’ as-salam
Jual beli salam atau bai‟ as-salam diisyaratkan dalam Islam berdasarkan firman Allah dan hadits Rasulullah.
1. Firman Allah QS. Al-Baqarah 2 : 282. 18
14 Sjahdeini, Perbankan. 254.
15 Sjahdeini, Perbankan. 252.
16 Muhammad Yazid Afandi, Fiqh Muamalah dan Implementasinya dalam Lembaga Keuangan Syari‟ah (Yogyakarta: Logung Pustaka, 2009), 159. Selanjutnya ditulis Afandi, Fiqh.
17 Karim Adwarman, Ekonomi Islam: Suatu Kajian Kontemporer (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), 93. Selanjutnya ditulis Adwarman, Ekonomi.
18 Kementrian Agama Republik Indonesia, Al-Qur‟an dan Terjemahannya (Bandung: Sygma Examedia Arkanleema, 2007), 48. Selanjutnya ditulis Kementrian, Al-Qur‟an.
“ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan, hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan, janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikit pun dari utangnya. Jika yang berutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya), atau ia sendiri tidak mampu mengimlakan, maka hendaklah walinya mengimlakan dengan jujur. Dan, persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu. Jika tidak ada dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis utang itu, baik kecil atau pun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan, bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu;
dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Adapun tafsir berdasarkan ayat di atas, firman Allah Swt. “hai orang-orang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan,
hendaklah kamu menuliskannya.” Ini merupakan bimbingan dari Allah bagi hamba- hamba-Nya yang beriman, jika mereka bermuamalah melalui aneka jenis muamalah yang tidak tunai, maka hendaklah mereka mencatatnya agar catatan itu dapat menjaga batas waktu muamalah itu, serta lebih meyakinkan kepada orang yang memberi kesaksian. Hal ini diingatkan oleh Allah dengan firman-Nya, “yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu.” 19
Berkaitan dengan firman Allah, “Hai orang-orang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya,” Sufyan ats-Tsauri meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ayat ini diturunkan berkaitan dengan masalah salam (mengutangkan) hingga waktu tertentu. Saya bersaksi bahwa salam yang dijamin untuk diselesaikan pada tempo tertentu adalah dihalalkan dan diizinkan oleh Allah. Kemudian dia membaca ayat, “Hai orang-orang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan.”
Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan ditegaskan dalam shahihain, dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa Nabi Saw. tiba di Madinah, sedang penduduknya mengutangkan buah selama satu, dua, atau tiga tahun. Maka Rasulullah Saw. bersabda “Barang siapa yang meminjamkan sesuatu, hendaklah dia melakukannya dengan takaran, timbangan, dan jangka waktu yang pasti.” (HR. Bukhari dan Muslim).20
2. Hadits Nabi Saw.21
ُنْب وُرْمَع اَنَ ثَّدَح ِوَّللا ِدْبَع ْنَع ٍحيَِنَ ِبَِأ ُنْبا اَنَرَ بْخَأ َةَّيَلُع ُنْب ُليِعاَْسِْإ اَنَرَ بْخَأ َةَراَرُز
ِوَّللا ُلوُسَر َمِدَق َلاَق اَمُهْ نَع ُوَّللا َيِضَر ٍساَّبَع ِنْبا ْنَع ِلاَهْ نِمْلا ِبَِأ ْنَع ٍيرِثَك ِنْب َنيِدَمْلا َمَّلَسَو ِوْيَلَع ُوَّللا ىَّلَص َلاَق ْوَأ ِْيَْماَعْلاَو َماَعْلا ِرَمَّثلا ِفِ َنوُفِلْسُي ُساَّنلاَو َة
ٍموُلْعَم ٍلْيَك ِفِ ْفِلْسُيْلَ ف ٍرَْتَ ِفِ َفَّلَس ْنَم َلاَقَ ف ُليِعاَْسِْإ َّكَش ًةَث َلََث ْوَأ ِْيَْماَع ْنَع ُليِعاَْسِْإ اَنَرَ بْخَأ ٌدَّمَُمُ اَنَ ثَّدَح ٍموُلْعَم ٍنْزَوَو ٍموُلْعَم ٍلْيَك ِفِ اَذَِبِ ٍحيَِنَ ِبَِأ ِنْبا
ٍموُلْعَم ٍنْزَوَو )
هاور يراخبلا (
19 Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Kemudahan dari Allah Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 1, terjemahan oleh Syihabuddin (Jakarta: Gema Insani, 2000), 462. Selanjutnya ditulis Ar-Rifa’i, Kemudahan.
20 Ar-Rifa’i, Kemudahan, 463.
21 Imam Al- Bukhari, Shahih Bukhari, Jilid 2, terjemahan oleh Zainuddin Hamidy (Kuala Lumpur:
Klang Book Centre, 2005), 292. Selanjutnya ditulis Al-Bukhari, Shahih Bukhari.
“Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Zurarah telah mengabarkan kepada kami Isma'il bin 'Ulayyah telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abi Najih dari 'Abdullah bin Katsir dari Abu Al Minhal dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata: Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tiba di Madinah orang-orang mempraktekan jual beli buah-buahan dengan sistim salaf, yaitu membayar dimuka dan diterima barangnya setelah kurun waktu satu atau dua tahun kemudian atau katanya dua atau tiga tahun kemudian. Isma'il ragu dalam hal ini. Maka Beliau bersabda: "Siapa yang mempraktekkan salaf dalam jual beli buah-buahan hendaklah dilakukannya dengan takaran dan timbangan yang diketahui (pasti) ". Telah menceritakan kepada kami Muhammad telah mengabarkan kepada kami Isma'il dari Ibnu Abi Najih seperti redaksi hadits ini: "dengan takaran dan timbangan yang diketahui (pasti).”(HR. Bukhari ).
Adapun tafsir hadits di atas yaitu Ibn Abbas meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Saw. datang ke Madinah ketika penduduk memesan buah-buahan dalam waktu satu atau dua tahun atau juga tiga tahun. Kemudian harus dilaksanakan dalam ukuran tertentu, berat tertentu, dan waktu yang ditentukan.22 As-salam atau as-salaf boleh dilakukan pada semua yang ditakar, ditimbang dan dihitung. Kebolehan pada barang yang ditakar dan ditimbang dengan perumpamaan buah-buahan.23
Berdasarkan ketentuan dalam hadits ini, dalam praktik jual beli salam harus ditentukan spesifikasi barang secara jelas, baik dari sisi kualitas, kuantitas, ataupun waktu penyerahannya, sehingga nantinya tidak terdapat perselisihan.24 Kemudian akad salam sah apabila memenuhi hal berikut, barang jelas sifatnya seperti warna dan ukurannya, jelas jenisnya yaitu seperti nomor barang dan perinciannya kalau yang dipesan lebih dari satu, bentuk akad harus jelas sperti berapa uang pertama dan kapan akan memenuhinya atau menyerahkan uang sekaligus untuk barang yang telah ditentukan.25 Kemudian jelas waktunya yaitu penyerahan harus pasti, kapan pesanan itu jadi, dan harga harus jelas tidak boleh ada kenaikkan, perbedaan, harus pasti, dan lebih baik ada catatan.26
Jual beli jika ditinjau dari obyeknya terbagi menjadi tiga macam, yaitu jual beli dengan benda yang kelihatan, jual beli dengan sifat-sifatnya disebutkan dalam janji, dan jual beli bendanya tidak ada. Bai‟ as-salam termasuk kepada jual beli dengan sifatnya disebutkan dalam janji, yaitu jual beli tidak tunai atau meminjamkan barang yang seimbang dengan harga tertentu. Maksudnya perjanjian yang penyerahan barangnya
22 Imam Taqiyuddin Abu Bakar Muhammad Al-Husaini, Kifayatul Akhyar, Juz 2, terjemahan oleh Mohammad Rifa’i (Semarang: Toha Putra, 2005), 194. Selanjutnya ditulis Taqiyuddin, Kifayatul.
23 Taqiyuddin, Kifayatul, 195.
24 Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2012), 294. Selanjutnya ditulis Rasjid, Fiqh.
25 Rasjid, Fiqh, 295.
26 Taqiyuddin, Kifayatul, 196.
ditangguhkan hingga masa tertentu sebagai imbalan harga yang telah ditetapkan ketika akad.27 Harga hendaknya ditentukan di tempat akad berlangsung.28
Seseorang menjual sesuatu yang jelas sifatnya dan dijamin tersedia pada waktunya kelak dengan harga tunai diperbolehkan.29 Disyaratkan dalam bai‟ as-salam apa yang disyaratkan dalam jual beli karena salam merupakan salah satu dari jual beli. Apa yang disepakati harus dari hal-hal yang diperbolehkan, harus ada keridhoan, barang yang dijadikan obyek salam harus berupa barang yang memang boleh dijual, harus ada kemampuan membayar ketika tiba waktu pembayarannya, harga dan barang harus sama- sama diketahui.30
Seseorang umumnya memerlukan benda yang ada pada orang lain atau pemiliknya dan dapat dimiliki dengan mudah, tetapi pemiliknya kadang-kadang tidak mau memberikannya. Adanya syariat jual beli menjadi jalan untuk mendapatkan keinginan tersebut, tanpa berbuat salah.31 Jual beli menurut bahasa, artinya menukar kepemilikan barang dengan barang atau saling menukar. Dengan demikian jual beli itu menukar barang dengan barang atau barang dengan uang yang dilakukan dengan jalan melepaskan hak milik dari yang satu kepada yang lain atas dasar saling merelakan.32 Begitu pun dengan bai‟ as-salam yang merupakan jual beli karena termasuk kepada salah satu macam jual beli yang ditinjau dari segi hubungan dengan obyeknya.
Bai‟ as-salam merupakan akad yang diperbolehkan meskipun obyeknya tidak ada di majelis akad tetapi sifat obyeknya disebutkan, sebagai pengecualian dari persyaratan jual beli yang berkaitan dengan obyeknya. Hukum jual beli salam atau bai‟
as-salam ini boleh, sebagai pengecualian dari persyaratan jual beli, di mana barang harus ada pada waktu akad.
C. Mekanisme dan Keuntungan Bai’ as-salam 1. Mekanisme Bai’ as-salam
Bai‟ as-salam merupakan bentuk jual beli dengan pembayaran di muka dan penyerahan barang dikemudian hari dengan harga, spesifikasi, jumlah, kualitas, tanggal
27 Taqiyuddin, Kifayatul, 197.
28 Rasjid, Fiqh, 296.
29Teungku Muhammmad Hasbi Ash-Shiddieqy, Koleksi Hadits-hadits Hukum (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2011), 326. Selanjutnya ditulis Ash-Shiddieqy, Koleksi.
30 Mardani, Ayat-ayat dan Hadits Ekonomi syariah (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), 130. Selanjutnya ditulis Mardani, Ayat-ayat.
31 Sohari Sahrani dan Ru’fah Abdullah, Fikih Muamalah (Bogor: Ghalia Indonesia, 2011), 65.
Selanjutnya ditulis Sahrani, Fikih.
32 Sahrani, Fikih, 66.
dan tempat penyerahan yang jelas, serta disepakati sebelumnya dalam perjanjian. Barang yang diperjualbelikan belum tersedia pada saat transaksi dan harus diproduksi terlebih dahulu, seperti produk-produk pertanian dan produk barang yang dapat diperkirakan dan diganti sesuai berat, ukuran, dan jumlahnya.33
Ulama mengharuskan pembayaran salam dilakukan di tempat kontrak. Hal tersebut dimaksudkan agar pembayaran yang diberikan oleh pembeli (muslam) tidak dijadikan sebagi utang penjual. Lebih khusus lagi pembayaran salam tidak bisa dalam bentuk pembebasan utang yang harus dibayar dari penjual (muslam „ilaih).34 Karena hal ini bertujuan untuk mencegah praktik riba dengan melalui mekanisme bai‟ as-salam.
Kemudian barang yang akan dikirim pun harus diketahui, baik itu dari jenis, kualitas, dan jumlahnya.35 Dan barang harus bisa diidentifikasi dengan jelas untuk mengurangi kesalahan akibat kurangnya pengetahuan tentang macambarang tersebut. Kemudian hukum awal mengenai pembayaran adalah bahwa ia harus dalam bentuk uang tunai.
Risiko terhadap barang yang diperjualbelikan masih berada pada penjual sampai waktu penyerahan barang. Pihak pembeli berhak untuk meneliti dan dapat menolak barang yang akan diserahkan apabila tidak sesuai dengan spesifikasi awal yang disepakati.36
Bai‟ as-salam memang pada kenyataannya ada dua jenis dalam transaksinya, yaitu akad salam biasa yang hanya melibatkan penjual dan pembeli, kemudian akad salam paralel (as-salam al-mawājī) yang melibatkan penjual, pembeli, dan pihak lain.37 Namun untuk lebih jelas lagi bagaimana akad salam, baik akad salam biasa maupun salam paralel berjalan dalam dunia bisnis, penulis memberikan gambaran mekanisme akad tersebut berupa skema dan contohnya.
a. Berikut skema bai‟ as-salam.38
33 Ascarya, Akad dan Produk Bank Syari‟ah (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), 90. Selanjutnya ditulis Ascarya, Akad.
34 Sahrani, Fikih, 71.
35 Sahrani, Fikih, 72.
36 Adwarman, Ekonomi, 95.
37 Afandi, Fiqh, 161.
38 Haroen, Fiqh, 149.
Penjual (muslam ‘ilaih)
Pembeli (muslam) 2. Negosiasi
dan akad salam
1. Pesanan dengan negosiasi
3. Bayar di muka
Adapun alur skema bai‟ as-salam di atas adalah sebagai berikut:
1. Konsumen atau muslam melakukan pesanan dengan spesifikasi barang yang diinginkan baik dari bentuk, ukuran, bahan, dan sebagainya.
2. Konsumen atau muslam melakukan negosiasi disertai akad salam bersama penjual atau muslam „ilaih untuk menemukan kata sepakat.
3. Konsumen atau muslam melakukan pembayaran pesanan di muka setelah menemukan kata sepakat kedua belah pihak untuk bertransaksi salam.
4. Penjual atau muslam „ilaih melakukan produksi sesuai pesanan dari konsumen atau muslam.
5. Penjual atau muslam „ilaih mengirimkan barang hasil produksi atau muslam fīh yang dipesan kepada pembeli atau muslam sesuai tanggal yang disepakati di awal.39
Adapun contoh kasus dari bai‟ as-salam, yaitu sebagai berikut:
Seorang yang bernama Umar, ia hendak membeli satu set meja makan berserta kursinya. Namun Umar sendiri menginginkan barang tersebut yang sesuai dengan keinginannya baik dari segi ukiran, bahan kayunya, ukurannya serta warnanya. Setelah Umar merancang barang yang dia inginkan akhirnya Umar datanglah ke sebuah toko mebel ukiran Jepara, di sana ia bernegosiasi untuk melakukan pesanan barang yang diinginkan. Dan ia pun menjelaskan secara rinci apa dan seperti apa yang ia akan pesan pada toko mebel tersebut, sehingga ditemukanlah kata sepakat untuk melaksanakan akad salam.
Pihak toko merincikan berapa nominal yang harus dikeluarkan Umar atas pesanannya tersebut, dan yang harus dibayar oleh Umar sebesar Rp 8.000.000,- dengan banyak barang satu meja dan empat kursi. Dan akhirnya Umar pun merogoh kocek dan membayar langsung di tempat akad sebesar Rp 8.000.000,- secara tunai dengan waktu pemesanan tanggal 1 Maret 2015 sampai selesai, dan barang dikirim pada tanggal 18 Maret 2015 sebagai penyerahan barang ke pemesan. Kemudian dikala itu juga yaitu pada
39 Haroen, Fiqh, 150.
4. Produksi sesuai pesanan
5. Kirim barang (muslam fīh)
tanggal pemesanan toko mebel tersebut sudah memulai pembuatan atau memproduksi barang pesanan.
Tanggal 15 Maret 2015 barang sudah jadi dan siap untuk dikirim, namun barang tetap harus dikirim pada tanggal 18 Maret 2015 sesuai perjanjian, yang akhirnya barang ada di bawah pengawasan toko mebel Jepara tersebut selama tiga hari meskipun barang sudah menjadi milik sang pemesan yaitu Umar. Dalam hal ini, toko mebel Jepara sudah mendapatkan hak dan melaksanakan kewajibannya sebagai penjual atau muslam „ilaih dengan mendapat bayaran tunai sebagai hak dan memproduksi pesanan sesuai perjanjian sebagai kewajiban. Begitu pun Umar sebagai konsumen atau pemesan sudah melaksanakan kewajiban dan haknya sebagai pembeli atau muslam, dengan membayar tunai biaya pemesanan dan mendapat barang pesanan sesuai perjanjian keduanya.
b. Berikut skema salam paralel.40
Adapun alur skema salam paralel di atas adalah sebagai berikut:
40 Sjahdeini, Perbankan, 252-253.
Bank (muslam ‘ilaih/
muslam)
Penjual (muslam ‘ilaih)
Pembeli (muslam)
5. Kirim barang (muslam fīh) 4. Bayar
di muka 3. Negosiasi dan
akad salam
2. Bayar di muka
1. Pesan barang dan
negosiasi akad salam
6. Kirim barang (muslamfīh)
1. Bank sebagai pembeli (muslam) melakukan pemesanan barang dengan spesifikasi barang yang diinginkan, kemudian bernegosiasi akad salam dengan penjual (muslam
„ilaih) sebagai produsen.
2. Bank sebagai pembeli (muslam) melakukan pembayaran kepada penjual (muslam
„ilaih) sebagai produsen ketika kedua belah pihak sudah mencapai kata sepakat untuk transaksi salam.
3. Pembeli (muslam) dalam hal ini adalah nasabah melakukan pemesanan sesuai keinginan dengan spesifikasi barang yang dipesan, serta bernegosiasi dan berakad salam dengan pihak bank sebagai penjual (muslam „ilaih).
4. Pembeli (muslam) dalam hal ini adalah nasabah melakukan pembayaran kepada bank sebagai penjual (muslam „ilaih) setelah bersepakat melakuakan transaksi salam.
5. Penjual (muslam „ilaih) dalam hal ini adalah produsen yang ditunjuk oleh bank, melakukan pengiriman barang (muslam fīh) yang dipesan nasabah atau pembeli (muslam) ke bank sebagai pembeli (muslam).
6. Bank sebagai penjual (muslam „ilaih) mengirim barang (muslam fīh) ke nasabah sebagai pembeli (muslam).
Adapun contoh dari salam paralel, yaitu sebagai berikut:
Seorang ibu rumah tangga yang membutuhkan satu buah gerobak alumunium untuk berjualan ayam goreng di pasar tradisional. Namun ibu tersebut kebingungan karena tidak adanya bengkel pembuatan gerobak dari alumunium yang terdekata dengan rumah dan lokasi penjualannya nanti, karena si ibu merasa kerepotan kalau harus mencari bengkel alumunium dengan jarak yang jauh. Dengan demikian ibu tersebut datang ke bank syari’ah untuk mencari solusi yang tepat supaya bisa mendapat gerobak untuk berjualan karena si ibu adalah salah satu nasabah bank syari’ah tersebut.
Pihak bank sendiri sudah mempunyai mitra bengkel alumunium yang siap memproduksi gerobak sesuai pesanan, dengan demikian pihak bank dan produsen bernegosiasi dan berakad salam untuk satu buah gerobak alumunium sesuai spesifikasi dari ibu tersebut. Dan produsen mematok harga Rp 2.500.000,- untuk satu unit gerobak kepada bank tersebut.
Ibu tersebut datang kembali ke bank untuk melakukan negosiasi dan berakad salam. Terjadilah pula kesepakatan untuk pemesanan gerobak alumunium yang sesuai spesifikasi yang diharapkan ibu tersebut dengan harga Rp 3.000.000,- untuk satu unit gerobak alumunium dibayar tunai di tempat akad. Dan pihak bank dengan ibu tersebut sepakat untuk memulai akad pemesanan pada tanggal 4 Maret 2015 sampai tanggal
pengiriman 23 Maret 2014. Begitu pun pihak bank kepada produsen yang menjanjikan barang selesai dan dilakukan pengiriman kepada konsumen bank pada tanggal 23 Maret 2015. Dengan demikian, akad salam yang dilakukan dalam contoh tersebut adalah salam bertingkat yang disebut salam paralel, yaitu terjadi dua kali akad salam di mana pemesan gerobak berakad salam dengan bank syari’ah, dan bank syari’ah sendiri berakad salam dengan mitranya yaitu bengkel alumunium.
Akad salam paralel memang biasa digunakan oleh bank untuk memenuhi pesanan nasabah. Di mana akad salam paralel telah melaksanakan dua transaksi salam antara bank dengan produsen dan antara bank dengan pembeli. Mekanisme salam paralel ini berdasarkan pertimbangan bahwa yang dibeli bank dalam transaksi salam adalah barang, dan bank tidak berniat untuk menjadikannya sebagai persediaan, maka dilakukanlah transaksi salam ke dua kepada pembeli.41
Salam paralel juga bisa karena bank memfasilitasi seorang untuk memproduksi sebuah hasil.42 Bank bertindak sebagai penyedia dana yang akan digunakan oleh nasabah untuk memproduksi barang tertentu yang dipesan oleh pihak bank. Nasabah bertindak sebagai penjual dengan kesanggupan menyediakan barang yang dipesan oleh bank.
Setelah barang pesanan sudah dipenuhi oleh penjual (nasabah), bank dapat menjual kembali kepada pihak lain dengan harga yang ditetapkan oleh bank, dalam hal ini pihak bank mendapat keuntungan dari selisih harga barang yang dipesan setelah bank menjual kepada pihak lain.43
Contoh kasus dari akad salam peralel di atas yaitu, ada seorang petani mengajukan dana untuk mengelola sawahnya kepada bank. Setelah diperhitungkan biaya untuk mengelola sawahnya sebesar Rp 5.000.000,-. Setelah bank melakukan analisa, bank menyetujuinya. Bank dalam pembiayaan ini menggunakan akad salam paralel, dengan kesepakatan bahwa dari dana Rp 5.000.000,- yang akan dikeluarkan oleh bank akan mendapatkan gabah kering 2 ton dari petani dengan perhitungan harga gabah kering sebesar Rp 2.500,- per kilo. Penerimaan gabah kering tersebut dilakuakn dalam tempo 4 bulan yang akan datang. Ketika masa penerimaan tiba, pihak bank mencari pembeli gabah tersebut. Bank bisa menjual gabah kering tersebut dengan harga yang ditetapkan oleh
41 Hakim, Fiqih, 236.
42 Hakim, Fiqih, 237.
43 Hakim, Fiqih, 238.
pihak bank. Dengan demikian, bank mendapat keuntungan dari margin penjualan kepada pihak lain.44
Kontrak salam itu harus bebas satu sama lain. Keduanya tidak boleh terikat satu sama lain sehingga hak dan kewajiban kontrak yang satu bergantung pada hak dan kewajiban kontrak paralelnya.45 Misalnya ada sebuah kontrak salam paralel di mana seseorang yang bernama Doni telah membeli 20 pasang sandal dari Alan Footwear dengan akad salam yang akan diserahkan pada tanggal 5 Aplir. Doni dapat menjual 20 pasang sandal tersebut kepada Salman dengan akad salam paralel dengan penyerahan pada tanggal 5 april juga.
Penyerahan sandal kepada Salman tidak boleh bergantung pada penerimaan barang dari Alan Footwear. Jika Alan Footwear tidak mengirim sandal pada tanggal 5 April, Doni tetap harus memenuhi untuk mengirim 20 pasang sandal ke Salman pada tanggal 5 april. Doni dapat menempuh jalan apa saja atas kelalaian Alan Footwear, tetapi Doni tetap tidak dapat menghindar dari kewajibannya untuk mengirim sandal kepada Salman sesuai perjanjian. Demikian pula apabila Alan Footwear mengirim barang yang rusak yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang telah disepakati, Doni tetap wajib mengirim barang kepada Salman sesuai spesifikasi yang telah disepakati bersama.
Akad salam, baik salam biasa maupun salam paralel memiliki perbedaan, yaitu jika akad salam biasa yang ada didalamnya hanya dua belah pihak yang terkait yaitu pembeli atau muslam dan penjual atau muslam „ilaih.46 Sedangkan untuk akad salam paralel melibatkan tiga pihak yaitu pembeli atau muslam yaitu nasabah, penjual atau muslam „ilaih yaitu bank, dan pihak yang ditunjuk bank yaitu produsen pesanan sebagai penjual atau muslam „ilaih untuk bank. Dan pihak produsen ini bisa diketahui oleh nasabah atau pun tidak. Sehingga dalam salam paralel terjadi dua akad salam atau biasa disebut salam bertingkat.
2. Keuntungan Bai’ as-salam
Diantara bukti kesempurnaan agama islam ialah membolehkannya jual beli dengan cara salam.47 Bai‟ as-salam sendiri memiliki beberapa keuntungan, yaitu sebagai berikut:
a. Keuntungan Bagi Pembeli (muslam)48
44 Afandi, Fiqh, 164-166.
45 Hakim, Fiqih, 234.
46 Ascarya, Akad, 95.
47 Ash-Shiddieqy, Koleksi, 327.
1) Jaminan Mendapatkan Barang
Jaminan untuk mendapatkan barang sesuai dengan yang ia butuhkan dan pada waktu yang ia inginkan. Keuntungan seperti ini bisa terjadi dalam kasus tertentu, seperti pada saat barang akan menjadi langka dan sulit didapat, tetapi saat itu justru dibutuhkan orang. Maka pembeli yang sudah melakukan akad jual-beli secara salam tentu tidak perlu repot mencari barang yang langka itu. Sebab dia pada dasarnya sudah membeli dan sudah memiliki barang itu, karena transaksi sudah selesai. Tinggal menunggu pengiriman saja. Contoh yang paling sederhana adalah membeli tiket kereta api atau pesawat beberapa bulan sebelum musim mudik. Tiket sudah dibayar penuh dan uangnya sudah lunas. Sedangkan barang atau jasanya belum kita nikmati. Maka pada saat musim mudik tiba, ketika orang kelimpungan mencari tiket, kita sudah mempunyai tiket.
2) Harga Cenderung Lebih Baik
Keuntungan kedua dengan menggunakan bai‟ as-salam ini adalah kita tidak akan jadi korban permainan harga. Biasanya hukum pasar yang berlaku adalah ketika barang langka, maka harga cenderung akan naik. Ketika demand49 tinggi sementara supply50 tidak bisa memenuhi, harga akan melambung. Harga tiket akan naik beberapa kali lipat, baik resmi atau tidak resmi, di musim liburan.
Tetapi mereka yang sudah beli tiket jauh-jauh hari, tentu tidak perlu membayar lebih. Tiket yang mereka punya harganya pasti jauh lebih murah.
b. Keuntungan bagi penjual (muslam „ilaih)51 1) Dapat Modal.
Pihak penjual bisa dapat uang segar tanpa harus segera menyerahkan barang. Seolah-olah penjual mendapatkan modal gratisan untuk menjalankan usahanya dengan cara-cara yang halal, sehingga ia dapat menjalankan dan mengembangkan usahanya tanpa harus membayar bunga. Dengan demikian selama belum jatuh tempo, penjual dapat menggunakan uang pembayaran tersebut untuk menjalankan usahanya.
2) Punya Tempo.
48 Muhammad Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), 114. Selanjutnya ditulis Hasan, Berbagai.
49 Demand adalah permintaan yang menyatakan sikap pembeli atau konsumen dengan membeli lebih banyak pada tingkat harga yang lebih rendah. Lihat Aziz, Ekonomi, 108.
50 Supply adalah persediaan yang menyatakan siakap penjual dengan bersedia menjual barang lebih banyak pada harga yang lebih tinggi. Lihat Aziz, Ekonomi, 107.
51 Hasan, Berbagai, 115.
Selain mendapat modal, pihak penjual juga memiliki keleluasaan dalam memenuhi permintaan pembeli, karena biasanya tenggang waktu antara transaksi dan penyerahan barang pesanan berjarak cukup lama.
Dengan demikian, bai‟ as-salam bermanfaat bagi penjual dan juga pembeli. Akad salam ini dibolehkan dalam syariat Islam karena punya hikmah dan manfaat yang besar, di mana kebutuhan manusia dalam bermuamalah seringkali tidak bisa dipisahkan dari kebutuhan atas akad ini. Kedua belah pihak, yaitu penjual dan pembeli bisa sama-sama mendapatkan keuntungan dan manfaat dengan menggunakan akad salam, baik akad salam biasa mau pun akad salam paralel (salam bertingkat).
D. Rukun dan Syarat Bai’ as-salam
Bai‟ as-salam adalah pembelian barang yang diserahkan dikemudian hari, sedangkan pembayaran dilakukan di muka.52 Sedangkan menurut kamus istilah ekonomi islam bai‟ as-salam adalah jual beli barang dengan cara pemesanan dan pembayaran yang dilakukan di muka dengan syarat-syarat tertentu.53 Bai‟ as-salam akan terbilang sah bila rukun dan syarat yang ada didalamnya terpenuhi dengan baik, dan berikut rukun dan syarat bai‟ as-salam.54
1. Rukun Bai’ as-salam.
a. Pembeli atau muslam, yaitu seseorang yang menggunakan barang dan jasa.
b. Penjual atau muslam „ilaih, yaitu seseorang yang menyediakan barang atau jasa kepada pembeli.
c. Modal, yaitu segala hal yang dipakai sejak awal mula berdagang dan biasanya berupa uang, jasa dan sebagainya.
d. Barang atau muslam fīh, yaitu sesuatu yang diperjualbelikan pada pasar komersil atau tempat tertentu. Kemudian barang juga dapat diklasifikasikan seperti barang jadi, barang setengah jadi atau mentah.
e. Ucapan atau shīghat,55 yaitu segala hal yang dibicarakan oleh pedagang dan pembeli seperti halnya akad, harga, kualitas dan kuantitas.
52 Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik (Jakarta : Gema Insani Prees, 2001), 108. Selanjutnya ditulis Antonio, Bank Syariah.
53 Ahmad Subagyo, Kamus Istilah Ekonomi Islam (Jakarta : PT Gramedia Jakarta, 2009), 362.
Selanjutnya ditulis Subagyo, Kamus Istilah.
54 Muslich, Fiqh, 245.
55 Shīghat adalah ungkapan atau yang mewakilinya yang bersumber dari transaktor untuk menunjukkan keinginannya terhadap keberlangsungan transaksi dan sekaligus mengisyaratkan keridhaan terhadap akad. Lihat Haroen, Fiqh. 99.
2. Syarat Bai’ as-salam.
Syarat-syarat bai‟ as-salam ini ada yang berkaitan dengan modal atau harga (ra‟su al-māl), dan ada yang berkaitan dengan objek akad atau barang yang dipesan (muslam fīh).
a. Modal atau harga (ra‟su al-māl) 1) Modal usaha dan alat pembayaran.56
Modal di sini adalah sejumlah uang yang dikeluarkan untuk membayar barang yang dibutuhkan atau dipesan. Modal atau uang sebagai alat pembayaran untuk pembelian atau pemesanan barang diisyaratkan harus diketahui secara jelas jumlah dan bentuknya seperti jenis dan macamnya misalnya dinar, dirham, dollar, dan lain-lain. Hukum awal mengenai pembayaran adalah bahwa ia harus dalam bentuk uang tunai.
2) Penerimaan pembayaran.
Kebanyakan ulama mengharuskan pembayaran salam dilakukan pada saat kontrak disepakati dan tunai di majelis akad sebelum para pihak meninggalkan majelis. Apabila pembayaran dilakukan setelah barangnya selesai atau dibayar uang panjarnya pada waktu akad, maka jual beli tersebut tidak masuk kepada bai‟ as- salam melainkan jual beli biasa.
b. Obyek akad atau barang yang dipesan (muslam fīh).57
1) Harus jelas ciri-cirinya, jenisnya, dan macamnya, serta dapat diakui sebagai utang.
2) Barang harus dapat diindentifikasi secara jelas, yaitu untuk mengurangi kesalahan akibat kurangnya pengetahuan tentang macam barang tersebut misalnya beras atau kain, tentang kualitasnya pula misalnya kualitas utama, kedua, atau ekspor, dan tidak ketinggalan mengenai jumlahnya.
3) Penyerahan barang dikemudian hari, karena para ulama berpendapat tentang waktu penyerahan barang pada bai‟ as-salam. Menurut ulama Hanafiyah, Malikiyah, Hanabilah, penyerahan barang dikemudian hari sesuai waktu yang disepakati. Menurut mereka jika barang diserahakan pada waktu akad maka bukan termasuk jual beli salam. Namun berbeda dengan ulama Syafi’iyah yang menyetakana bahwa dalam jual beli salam boleh saja barang diserahkan pada waktu akad, karena atas kesepakatan bersama antara penjual dan pembeli.
56 Djamil, Penerapan Hukum, 134.
57 Djamil, Penerapan Hukum, 135- 136.
Alasannya, jika barang yang dibeli itu boleh diserahkan pada waktu yang akan datang, maka penyerahannya pada waktu akad pun juga boleh sehingga kemungkinan terjadinya penipuan lebih dapat dihindari.
4) Tempat penyerahan, Pihak-pihak yang berkontrak harus menunjuk tempat yang disepakati di mana barang (muslam fīh) harus diserahkan. Jika kedua belah pihak yang berkontrak tidak menentukan tempat pengiriman, maka barang harus dikirim ke tempat yang menjadi kebiasaaan, misalnya gudang si pembeli (muslam).
5) Akad salam bersifat mengikat, maksudnya akad harus sekaligus jadi tanpa ada khiyār syarat58 (hak memilih secara syarat) baik bagi kedua belah pihak maupun salah satu pihaknya. Apabila akad salam disertai dengan khiyar syarat maka akad salam menjadi batal atau tidak sah.59
6) Penjualan barang (muslam fīh) sebelum diterima, yaitu Jumhur ulama melarang penjualan ulang barang (muslam fīh) oleh penjual (muslam „ilaih) sebelum diterima oleh pembeli (muslam). Para ulama sepakat bahwa penjual (muslam
„ilaih) tidak boleh mengambil keuntungan tanpa menunaikan kewajiban menyerahkan barang (muslam fīh).
E. Perbedaan Bai’ as-salam dengan Bai’ al-istishnā’
Bentuk-bentuk akad jual beli yang telah dibahas para ulama dalam fiqih muamalah terbilang sangat banyak. Namun, ada tiga jenis jual beli yang telah dikembangkan sebagai sandaran pokok dalam pembiayaan modal kerja dan investasi.60 Terutama investasi yang ada dalam perbankan syari’ah dengan akad jual belinya seperti murābahah,61 as-salam, dan al- istishnā‟. Di sini yang akan dibahas hanyalah bai‟ as-salam dan bai‟ al-istishnā‟ dalam sisi perbedaannya.
Bai‟ as-salam merupakan bentuk jual beli dengan pembayaran di muka dan penyerahan barang dikemudian hari dengan harga, spesifikasi, jumlah, kualitas, tanggal dan tempat penyerahan yang jelas, serta disepakati sebelumnya dalam perjanjian. Sedangkan bai‟
al-istishnā‟ merupakan kontrak penjualan antara pembeli dan pembuat barang. Dalam
58 khiyār syarat adalah hak memilih yang terjadi selama periode tertentu dan disepakati oleh kedua belah pihak yang terkait perjanjian, atau penjualan yang didalamnya disyaratkan sesuatu baik oleh penjual maupun oleh pembeli. Seperti “saya jual rumah ini dengan harga Rp. 100.000.000,- dengan syarat khiyar selama tiga hari. Lihat Suhendi, Fiqh, 83-84.
59 Muslich, Fiqh, 249.
60 Hasan, Berbagai, 143.
61Murābahah adalah salah satu akad jual beli dengan ketentuan menjual barang dengan harganya semula ditambah dengan keuntungan dengan syarat-syarat tertentu. Lihat Muslich, Fiqh, 207.
kontrak ini, pembuat barang menerima pesanan dari pembeli. Pembuat barang lalu berusaha melalui orang lain untuk membuat atau membeli barang menurut spesifikasi yang telah disepakati dan menjualnya kepada pembeli akhir. Kedua belah pihak bersepakat atas harga serta sistem pembayaran, apakah pembayaran dilakukan di muka, melalui cicilan, atau ditangguhkan sampai suatu waktu pada masa yang akan datang.62
Bai‟ al-istishnā‟ jika dilihat dari prinsipnya memang sama dengan bai‟ as-salam yaitu sebagai dua akad jual beli pesanan. Tetapi hal yang membedakannya adalah mekanisme pembayaran pesanan tersebut, jika bai‟ al-istishnā‟ dengan pembayaran di muka, di tengah, maupun di akhir transaksi. Sedangkan bai‟ as-salam proses pembayaran dilakukan di muka secara tunai. Dasar hukum bai‟ al-istishnā‟ secara tekstual memang tidak ada bahkan bai‟ al- istishnā‟ ini tidak diperbolehkan, karena obyek akadnya tidak ada. Namun menurut Hanafiah, akad ini dibolehkan karena sudah sejak lama al-istishnā‟ ini dilakukan oleh masyarakat tanpa ada yang mengingkarinya. Sehingga hukum kebolehannya itu bisa digolongkan kepada ijma.63 Jumhur ulama berpendapat bahwa transaksi istishnā‟ hukumnya boleh atas dasar pertimbangan kemaslahatan umat yang membutuhkan karena hal seperti ini juga telah memasyarakat di seluruh wilayah islam dari berbagai suku bangsa.64 Dalam jual beli al- istishnā‟ terdapat rukun dan syarat yang harus dipenuhi, berikut rukun dan syarat tersebut:
1. Rukun Bai‟ al-istishnā‟.65
a. Mustashni‟ atau pembeli, yaitu pihak yang memebutuhkan dan memesan barang.
b. Shani‟ atau penjual, yaitu pihak yang memproduksi barang pesanan.
c. Shīghat (ījāb dan qabūl), yaitu segala sesuatu yang menunjukkan aspek suka sama suka dari kedua belah pihak baik penjual maupun pembeli.
d. Mashnu‟ atau obyek, yaitu barang yang diproduksi sebagai objek transaksi.
2. Syarat Bai‟ al-istishnā‟.66
a. Bai‟ al-istishnā‟ mengikat setelah masing-masing pihak sepakat atas barang yang dipesan.
b. Bai‟ al-istishnā‟ dapat dilakukan pada barang yang bisa dipesan.
c. Barang dalam bai‟ al-istishnā‟ identifikasi dan deskripsi barang yang dijual harus sesuai permintaan pemesanan.
62 Muslich, Fiqh, 254.
63 Antonio, Bank Syariah, 109.
64 Djamil, Penerapan hukum, 143.
65 Mardani, Fiqh, 125-126.
66 Pusat Pengkajian Hukum Islam dan Masyarakat Madani, Kompilasi Hukum Ekonomi Syari‟ah (Jakarta: Kencana, 2009), 43. Selanjutnya ditulis Pusat Pengkajian, Kompilasi.
d. Pembayaran dalam bai‟ al-istishnā‟ dilakukan pada waktu dan tempat yang disepakati.
e. Setelah bai‟ al-istishnā‟ mengikat, tidak satu pun boleh melakukan negosiasi kembali terhadap isi akad yang sudah disepakati.
f. Jika obyek pesanan tidak sesuai spesifikasi maka pemesanan dapat melakukan hak pilihan (khiyār) untuk melanjutkan atau membatalkan pesanan.
Menurut para fuqaha, bai‟ al-istishnā‟ merupakan suatu jenis khusus dari bai‟ as- salam. Biasanya, jenis ini dipergunakan dalam bidang manufaktur. Dengan demikian, ketentuan bai‟ al-istishnā‟ mengikuti ketentuan dan aturan akad bai‟ as-salam.67 Tujuan istishnā‟ umumnya diterapkan pada pembiayaan untuk pembangunan proyek seperti pembangunan proyek perumahan, komunikasi, listrik, gedung sekolah, pertambangan, dan sarana jalan.68 Namun, dari semua itu pastinya ada perbedaan diantara keduanya baik itu bai‟
as-salam maupun bai‟ al-istishnā‟. Berikut ada beberapa poin perbedaan keduanya, yaitu:69 1. Bai‟ as-salam harus melakukan pembayaran di awal kontrak, sedangkan bai‟ al-
istishnā‟ bersifat angsuran atau di kemudian hari.
2. Kontrak bai‟ as-salam mengikat secara asli dan sulit untuk dibatalkan, sedangkan bai‟
al-istishnā‟ mengikat secara mengikuti, artinya adalah bahwa kontrak masih bisa dibatalkan sebelum produsen melakukan pekerjaannya. Bai‟ as-salam mengikat semua pihak sejak semula, sedangkan bai‟ al-istishnā‟ menjadi pengikat untuk melindungi produsen agar tidak ditinggalkan begitu saja oleh konsumen secara tidak bertanggung jawab.
3. Bai‟ al-istishnā‟ biasanya digunakan pada barang industri manufaktur, sementra bai‟
as-salam dapat dipengaruhi pada barang apapun. Artinya dalam akad salam jenis barang banyak dijumpai di pasaran sedangkan dalam akad istishnā‟ bentuk dan spesifikasinya tertentu, sesuai dengan keinginan pemesan, meskipun tidak selalu demikian.
4. Dalam bai‟ as-salam waktu penyerahan barang itu tertentu, sedangkan dalam bai‟ al- istishnā‟ tidak menjadi keharusan.
Bai‟ as-salam sebenarnya tidak berbeda jauh dengan bai‟ al-istishnā‟.
perbedaannya terletak pada pembayaran harga dan sifat akadnya. Pembayaran harga pada bai‟ as-salam dilakukan pada saat akad dilakukan. Sifat dari bai‟ as-salam adalah mengikat
67 Antonio, Bank Syariah, 113.
68 Ismail, Perbankan Syariah (Jakarta: Kencana, 2011), 149-150. Selanjutnya ditulis Ismail, Perbankan.
69 Tim Manajemen, Fiqh, 86.
secara asli yaitu mengikat semua pihak sejak awal, sedangkan sifat akad dari bai‟ al-istishnā‟
adalah mengikat secara ikutan yaitu mengikat untuk melindungi produsen sehingga tidak ditinggalkan begitu saja oleh konsumen secara tidak bertanggung jawab.70
Secara pengertian Bai‟ as-salam sendiri adalah menjual suatu barang yang penyerahannya ditunda, pembayaran modal lebih awal. Kemudian rukun dan syarat jual beli salam yaitu adanya pembeli dan penjual, barang transaksi, Sighat (ijab dan qabul), dan alat tukar. Sedangkan bai‟ al-istishnā‟ adalah akad jual beli pesanan di mana bahan baku dan biaya produksi menjadi tanggung jawab pihak produsen dengan sistem pembayaran bisa dilakukan di muka, tengah atau akhir. Dalam kontrak ini, produsen menerima pesanan dari pembeli, kemudian membuat atau membeli barang menurut spesifikasi yang telah di sepakati dan menjualnya kepada pembeli akhir. Kedua belah pihak bersepakat atas harga serta sistem pembayarannya.71
Rukun dan syarat bai‟ al-istishnā‟ mengikuti bai‟ as-salam. Hanya saja pada bai‟
al-istishnā‟ pembayaran tidak dilakukan secara kontan dan tidak adanya penentuan waktu tertentu penyerahan barang, tetapi bergantung selesainya barang pada umumnya.72 Menurut fuqaha‟, bai‟ al-istishnā‟ merupakan suatu jenis khusus dari bai‟ as-salam. Biasanya jenis ini di pergunakan di bidang manufaktur dan konstruksi.73
Oleh karena itu, ketentuan bai‟ al-istishnā‟, mengikuti ketentuan dan aturan bai‟
as-salam. Dan perbedaan bai‟ as-salam dan bai‟ al-istishnā‟ adalah cara penyelesaian pembayaran. Bai‟ as-salam dilakukan diawal saat kontrak secara tunai sedangkan pembayaran bai‟ al-istishnā‟ tidak secara kontan bisa dilakukan di awal, tengah maupun akhir.
70 Djamil, Penerapan hukum, 136.
71 Tim Manajemen, Fiqh, 95.
72 Ascarya, Akad, 98.
73 Tim Manajemen, Fiqh, 96.