• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Penelitian Terdahulu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Penelitian Terdahulu"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

20 BAB II

KAJIAN TEORI

2.1 Penelitian Terdahulu

Tujuan dalam pembangunan ekonomi salah satunya adalah dengan penyedian lapangan pekerjaan yang dapat menumbuhkan angkatan kerja terutama di Indonesia dimana pertumbuhan angkatan kerja lebih cepat daripada pertumbuhan lapangan kerja. Hal tersebut dapat menimbulkan permasalahan seperti meningkatkan jumlah pengangguran (Subandi, 2011), namun permasalahan utama yang sedang dihadapi Indonesia saat ini adalah semakin meningkatnya pengangguran yang mayoritas tidak memiliki keahlian dan pendidikan rendah (Sunasih,2017). Oleh karena itu terciptalah pemberdayaan pendidikan non formal untuk mengasah kemampuan, keahlian dan kompetensi yang di miliki masyarakat agar dapat berguna khususnya untuk mencari pekerjaan demi mensejahterakan keluarga, dan diri sendiri.

Pendidikan non formal pada tiap daerah maupun negara memiliki perbedaan disesuaikan dengan kebutuhan daerah atau negara tersebut. Di Swedia pendidikan non formal mendasarkan point-nya pada dukungan pemerintah terhadap pendidikan non formal. Terdapat beberapa bidang dimana bidang tersebut mempunyai peminat yang banyak diantaranya : seni, patung, media. Jurnalisme, kepemimpinan, pelatihan, internasional, drama, ekologi, agama, filsafat kehidupan, olahraga, bahasa, penulisan kreatif, pariwisata, dan studi budaya (Abdullah, Jonus, 2012).

Sedangkan dalam jurnal Non-formal education: Developing skills and competencies through voluntary activities and its recognition in France mengatakan bahwa Pendidikan non formal di Negara Perancis tidak hanya dilakukan melalui lembaga namun juga melalui kegiatan yang mendorong mereka untuk terus belajar dan memahami serta mengembangkan pengetahuan keterampilan mereka sehingga tercipta proses belajar yang dapat menggali tantangan, menyelesaikan masalah dan dapat mengasah kemampuan bersosialisasi dengan orang lain sehingga tanpa sadar kemampuan berbicara di depan publik dapat terasah (Khasanzyanova, 2014).

(2)

21 Pendapat berbeda muncul lewat artikel Twenty-First Century Skills for All:

Adults and Problem Solving in Technology Rich Environments yang mengungkapkan bahwa Pendidikan non-formal tidak hanya mengacu pada pelatihan dan kursus namun juga pembelajaran mengenai keterampilan dan kemampuan dalam hal ini adalah teknik marketing dalam pariwisata. Selain itu, artikel ini juga memberikan model pendidikan ekonomi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di sektor pariwisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan ekonomi memiliki peran yang signifikan dalam sektor pariwisata. Berdasarkan hasil tersebut, maka model pendidikan ekonomi yang diusulkan baik pendidikan formal maupun nonformal. Untuk pendidikan formal diberikan dalam bentuk perangkat pembelajaran yang terdiri dari pendidikan ekonomi kreatif sedangkan pada pendidikan nonformal diseminasi melalui konferensi dan pendampingan wirausaha (Iñiguez-Berrozpe & Boeren, 2020).

Beberapa pelatihan yang dilaksanakan oleh SKB tidak hanya memuat mengenai pendidikan formal namun juga pemberdayaan pendampingan wirausaha . seperti yang ada di SKB Mojoagung terdapat pelatihan ternak bebek, pelatihan ternak bebek ini berfokus pada penguasaan keterampilan dan standar kompetensi.

penguasaan keterampilan dan standar kompetensi tersebut dapat dilihat melalui silabus dan RPP dalam pembelajaran dan unsur sikap masyarakat belajar dalam proses pembelajaran, hal ini memberikan pengaruh terhadap pendapatan masyarakat dimana masyarakat mengatakan mendapatkan tambahan pendapat setelah mengikuti pelatihan pemberdayaan ternak bebek (Al AsyAri, 2017).

SKB Gudo juga mempunyai program keterampilan daur ulang sampah yang dilaksanakan selama 50 hari. yang dimulai dari tanggal 05 Agustus 2016 hingga 29 September 2016. pelatihan ini dilakukan pada hari senin dan rabu dimulai dari pukul 08.00 hingga pukul 16.00. Hasilnya program ini menjadi kesempatan kerja bagi masyarakat dan membuka peluang usaha untuk masyarakat yang ingin memiliki pendapatan tambahan (Permanasari, 2017).

(3)

22 Dalam pelaksanaannya terdapat pelaksanaannya kebijakan pendidikan tidak selalu menunjukkan hasil yang baik seperti pada artikel dengan judul Implementasi Kebijakan Pendidikan Keaksaraan Terhadap Jenjang Pendidikan NonFormal di Kabupaten Mamuju Utara dimana hasil implementasi kebijakan pendidikan literasi pada jenjang pendidikan informal Kabupaten Mamuju Utara dengan pendekatan Akret (Aktif - Kreatif) berbasis kecakapan hidup disebabkan faktor standar dan tujuan yang tidak jelas, sumber daya dan sikap yang tidak memadai. kekhasan, komunikasi non-fungsional, dan kondisi lingkungan ekonomi, sosial, dan politik yang belum memberikan kontribusi signifikan telah terbukti kurang berhasil dari yang diharapkan (Darwis, 2017).

Selaras dengan pendapat sebelumnya dalam artikel Implementasi Kebijakan Penyelenggara Pendidikan Kesetaraan Program Paket C di Kota Manado Implementasi kebijakan implementasi Paket C Pendidikan Setara di Kota Manado, baik dari aspek organisasi, interpretasi dan penerapan, belum sepenuhnya berhasil.

Perlu adanya tenaga pengajar yang sesuai dengan kompetensi pembelajaran yang dibutuhkan dan dibutuhkan sumber pendanaan baru dan mengusahakan untuk tidak tergantung dengan bantuan pemerintah. (Ferry markus, 2016).

Kurangnya pemahaman mengenai e-learning juga menjadi kendala yang dimiliki oleh SKB Trenggalek dimana dari 5 pamong belajar, 4 diantara mereka dapat dikatakan tidak lagi muda sehingga dialami kendala kurangnya pemahaman sistem baru yang dilaksanakan melalui e-learning dalam aplikasi SeTara Daring.

beberapa faktor yang mempengaruhi kurangnya kompetensi dalam memberikan pelajaran diantaranya adalah faktor usia, faktor kesehatan, faktor penggunaan teknologi yang masih kurang di kurangnya pengalaman dan kompetensi dikarenakan usia yang masih muda. sedangkan pamong usia muda menjadi acuan pembelajaran ketiak pamong yang sudah berusia lanjut tidak dalam menguasai sistem yang baru (Widiantor,2020).

Adanya kompetensi dari pamong namun tidak dibarengi dengan tingginya partisipasi masyarakat akan dirasa percuma. beberapa SKB mengalami penurunan jumlah peserta didik seperti di SKB Surabaya yang awalnya memiliki 105 orang peserta seiring berjalannya waktu menurun menjadi 60 orang yang terbagi di 3 kelas

(4)

23 yakni kelas 10, 11, 12 masyarakat beranggapan bahwa program yang diberikan tidak merubah kehidupan mereka. (Qoni, 2020).

Pemberdayaan merupakan kewajiban pemerintah yang harus dilaksanakan seperti pada program pendidikan non formal Paket A di SKB Kabupaten Sintang sehingga perlunya sosialisasi untuk menyebarkan informasi kepada masyarakat.

Banyak masyarakat yang masih belum mengetahui kewajiban pemerintah untuk melaksanakan pemberdayaan masyarakat hal ini berpengaruh terhadap pengetahuan masyarakat mengenai bentuk - bentuk pemberdayaan dalam pelaksanaan kebijakan program paket A (Syahdan, 2012). Seperti yang dilakukan oleh SKB Pacitan yang menyebarkan pamflet, brosur dan spanduk di titik tertentu untuk menarik perhatian masyarakat (Widodo, 2015).

2.2 Kerangka Teori

2.1.1 Implementasi Kebijakan

Implementasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia di artikan sebagai pelaksanaan atau penerapan. Frasa ini berhubungan dengan sebuah kegiatan yang dilaksankan dengan tujuan tertentu. Implementasi juga dapat dikatakan sebagai proses susunan kegiatan yang akan dilaksanakan setelah terjadinya pengambilan keputusan. (A.Rahmawati). Implementasi secara timologis juga dapat di uraikan sebagai kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan yang telah selesai dengan menggunakan alat atau sarana guna memperoleh hasil yang maksimal. Implementasi juga berhubungan dengan tujuan terntentu dan tindakan yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Dasar dari implementasi adalah

“membangun interaksi” agar kebijakan dapat dilaksanakan (Nawi,2018). .

Kebijakan Publik menurut Winarno (dalam Muhammad munadi dan Barnawi) merupakan Kebijakan yang dikembangkan oleh lembaga dan pejabat pemerintah yang dipengaruhi oleh aktor dan faktor non-negara. Implikasi dari frasa ini adalah politik tidak hanya didominasi oleh kepentingan pemerintah, tetapi aspirasi pihak non-pemerintah perlu diperhatikan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya harus dipertimbangkan terlebih dahulu.(Barnawi,2011). Mada Sutapa mendifinisikan kebijakan publik menjadi dua pendapat. Pertama, terdapat

(5)

24 pandangan abhwa kebijakan identik dengan aktivitas yang dilaksanakan oleh pemerintah. Pendapat ini beranggapan bahwa setiap tindakan yang dilaksanakan pemerintah dapat disebut sebagai kebijakan publik. Pendapat kedua, menyatakan bahwa mereka memusatkan perhatian pada setiap pelaksanaan kebijakan (Policy Implementation). Sehingga dapat disimpulkan bawah pandangan pendapat pertama melihat kebijakan publik sebagai keputusan keputusan yang dikeluarkan oleh pemerintah dengan tujuan tertentu, sedangkan pandangan kedua menganggap kebijakan publik memiliki hasil atau dampak yang dapat diduga atau di antisipasi sebelumnya (Mada Sutapa,2018).

Implementasi kebijakan didefinisikan oleh Van Meter dan Van Horn (Agustino,2008) sebagai sebuah aktivitas yang akan dilaksanakan oleh seseorang ataupun kelompok beserta pejabat pemerintah maupun swasta yang bertujuan untuk mencapai maksud tertentu. Ditekankan oleh Van Meter dan Van Horn bahwa tahapan implemnetasi baru dapat terlaksanakan selama proses pengesahan telah terjadi dan sepakat mengenai ketetapan alokasi sumber daya dana.

Implementasi kebijakan dapat berarti usaha untuk memahami kenyataan yang terjadi setelah program atau keputusan tersebut dilaksanakan, yaitu kegiatan atau peristiwa yang dilaksanakan setelah proses pengesahan/legislasi kebijakan publik, baik itu terikat dengan usaha – usaha untuk menadministrasikannya maupun usaha untuk memberikan efek pada masyarakat (Sabatier, 1986). Implementasi kebijakan menjadi tahap selanjutnya setelah proses pemutusan/ pembuatan kebijakan. Tahap ini biasanya dikelola oleh pembuat kebijakan (policy maker) Kemudian, setelah kebijakan tersebut dilegitimasi oleh pembuat kebijakan dengan melalui proses perumusan masalah sampai penentuan alternative lain berdasarkan rekomendasi. Pembuat kebijakan sebagai aktor juga sekaligus sebagai pelaksana kebijakan (Wibawa,1994).

Implemntasi kebijakan memiliki fungsi untuk membentuk hubungan yang dapat mewujudkan hasil akhir berupa kegiatan-kegiatan atau program-program dari sasaran maupun tujuan dari kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah. Fungsi implementasi juga mencakup sistem penerus kebijakan (policy delivery system)

(6)

25 dimana dalam penerusan sistem kebijakan ini terdiri atas aturan-aturan dan fasilitas- fasilitas yang disusun/didesain khsuus untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Oleh karena itu, kebijakan-kebijkan publik biasanya masih berupa rancangan umum yang memiliki isi seperti tujuan, sasaran, fasilitas yang dilaksanakan melalui program-program dengan tujuan yang ada dalam kebijakan. Pada hakikatnya program – program dari sebuah kebijakan bermaksud untuk memunculkan perubahan-perubahan tertentu dalam lingkup kebijakan (abdul wahab, 2008).

Implementasi kebijakan dalam pandangan Van Meter dan Van Hom (1975) adalah aktivitas-aktifitas yang dikerjakan oleh seseorang maupun kelompok yang bertujuan untuk mencapai ketetapan yang ada dalam keputusan kebijakan. Teori ini menghubungkan isu kebijakan dengan implementasi dari sebuah model konseptual yang mengikat kebijakan dengan kemampuan kinerja. Teori ini juga menegaskan konsep-konsep penting dalam langkah-langkah implementasi yakni perubahan, kontrol, dan kepatuhan dalam menjalankan aktivitas.

Implementasi dalam prosesnya akan dipengaruhi oleh ukuran-ukuran kebijakan. Implementasi ynag dilakukan pada program-program dapat dikatakan berhasil apabila perubahan yang inginkan cukup sedikit. Sedangkan keterikatan pada tujuan, terutaba bagi mereka pelaksana program cukup tinggi. Van meter dan Van Hom (1975) juga mengemukakan hubungan antara kebijakan dan kinerja dapat dibedakan oleh beberapa variabel bebas yang saling terhubung, yakni ;

a. Standar/ukuran dan tujuan kebijakan b. Sumber-sumber kebijakan

c. Ciri-ciri atau karateristik badan/instansi pelaksana d. Komunikasi terkait pelaksanaan kegiatan

e. Sikap pelaksana

f. Lingkungan ekonomi,sosial dan politik

Variabel-variabel kebijakan memiliki hubungan dengan tujuan-tujuan yang telah diputuskan berikut dengan sarana yang tersedia. Pelaksana kebijakan berfokus pada kegiatan – kegiatan yang menjadi program termasuk dengan pelaksanaan dan

(7)

26 hubungan dalam lingkup politik dengan kelompok-kelompok sasaran. Perhatian pelaksana kebijakan akhirnya mengarah pada pelaksanaan program yang ada di lapangan.

Gambar 2. 1 Model Implementasi Kebijakan Van Meter dan Van Horn Implementasi kebijakan menurut Sabatier dan Mazmanian (1979) mengembangkan model kontrol efektif dan pencapaian. Menurut pandangannya, pendekatan dalam tahapan kebijakan membagi proses pembuatan kebijakan menjadi susunan elemen yang tidak nyata yang membuat pendekatan kebijakan tidak dapat membantu proses pembuatan kebijakan. Oleh karena itu, melalui sudut pandang ini, implementasi dan pembuatan kebijakan menjadi proses yang sama.

Proses implementasi yang dirumuskan Sabatarier dan Mazmanian (dalam abdul wahab,2012) umumnya dilaksanakan dalam bentuk regulasi berupa Undang- Undang, tidak hanya berupa undang-undang proses implementasi dapat pula berbentuk perintah atau keputusan eksekutif penting atau keputusan badan peradilan. Keputusan tersebut biasanya di gunakan untuk menentukan atau

Ciri-ciri badan pelaksana

Sikap para pelaksana

Kinerja

Lingkungan : ekonomi, sosial, politik

Komunikasi antar organisasi dan kegiatan pelaksanaan

Standar dan tujuan kebijakan

Sumber – sumber kebijakan

(8)

27 menetapkan masalah yang ingin di selesaikan. Proses tersebut dilaksanakan setelah melalui beberapa tahapan yang biasanya di dahului dengan tahapan pengesahan undang-undang, kemudian hasil (output) kebijakan dapat berupa pelaksanaan keputusan oleh instansi pelaksana, kelompok-kelompok sasaran bersedia atas pelaksanaan keputusan-keputusan tersebut, efek yang jelas baik itu disengaja maupun tidak disengaja. Hasil tersebut mengungkapkan efek dari keputusan sebagai mana tanggapan dari badan-badan pengambil keputusan untuk melakukan upaya perbaikan terhadap undang-undang atau aturan yang berlaku.

Implementasi kebijakan dikemukakan oleh Macom Goggin menjadi fungsi penarik serta penghambat yang dilimpahkan ke nagara bagian untuk dilakukan tindakan, dan menjadi urusan mereka untuk mengambil keputusan. Namun, selain itu pilihan pilihan negara bukan hanya keputusan satu orang saja tetapi dapat juga keputusan dari hasil tawar menawar anatar kelompok pada tingkat nasional maupun tingkat lokal yang ikut sebagai pelDalam pendekatan model ini, terdapat asumsi yang menyatakan bahwa implementasi program-program pemerintah pusat yang terikat dengan variabel top-down maupun bottom up. Hal inilah yang disebut model kebijakan implementasi antar pemerintah (intergovernmental policy implementation model) dalam teori Goggin.

(9)

28 Gambar 2. 2 Model Implementasi Kebijakan Goggin

Pendekatan yang dikembangkan Goggin ini lebih berfokus pada logika pemikiran dimana banyaknya penjelasan-penjelasan tentang perbedaan dalam proses implementasi sehingga tidak adanya penjelasan tunggal yang dapat mendefinisikan secara universal mengenai proses implementasi. Keputusan- keputusan kebijakan akan dapat menyebabkan bergeraknya proses implementasi yang membatasi dalam beragam tingkatan, melalui bentuk dan isi keputusan tersebut. Perilaku dan aktor pemerintah provinsi serta kabupaten/kota harus melaksanakan kebijakan sesuai aturan undang-undang. Respon yang didapat dari pemerintah pada tingkat provinsi atau kabupaten/kota maupun sebaliknya respon pemerintah kabupaten/kota terhadap provinsi dan pemerintah pusat dapat beragam tergantung pada sifat serta jarak temu preferensi dari aktor utama pada tingkat bawah. Respon pemerintah provinsi juga terbatas dalam melakukan tindakan.

Sabatier dan Mazmanian (1979) mengembangkan model pengendalian dan kinerja yang efektif. Menurutnya, pendekatan ini membagi proses menjadi beberapa bagian yang artifisial dan tidak praktis, sehingga pendekatan tahap kebijakan tidak membantu untuk memahami proses pembuatan kebijakan. Oleh karena itu, dari sudut pandang ini. Implementasi dan pembuatan kebijakan adalah

Oucome keputusan negara bagian

Kapasitas negara bagian

Variabel Penyela Variabel Tergantung

Variabel Bebas

Pemacu dan penghambat di tingkat vederal

Implementasi di tingkat negara bagian

Pemacu dan penghambat di

tingkat negara bagian dan tingkat

lokal

(10)

29 proses yang sama. Sabatier dan Mazmanian mendukung integrasi ide-ide teoritis top-down dan bottom-up dengan enam kondisi yang cukup untuk mengatur implementasi tujuan kebijakan yang efektif dan harus dilaksanakan. Enam kondisi tersebut adalah.

a) Jelasnya tujuan dan konsisten dalam melaksanakan kebijakan sehingga kebijakan tersebut dapat menjadi standard dan dapat dievaluasi.

b) Adanya aturan yang berlaku dan dapat memastikan adanya perubahan dalam pengimplementasian kebijakan

c) Struktur implementasi yang terususn secara legal agar dapat membantu pelaksanaan kebijakan oleh pelaksana kebijakan serta kelompok sasaran kebijakan

d) Pelaksanaan kebijakan harus dilaksanakan oleh para ahli yang memiliki komiten untuk melaksanakan kebijakan sehingga tujuan kebijakan dapat tercapai

e) Dibutuhkan dukungan dari pejabat pemerintah baik di legistaltif maupun eksekutif

f) Perubahan sosial ekonomi tidak melemahkan dukungan dari pejabat pemerintah serta tidak dapat merubah aturan yang berlaku yang mendasari kebijakan.

Implementasi kebijakan menurut Sabatier dan Mazmanian (dalam rahmawati) mengembangkan model kontrol efektif dan pencapaian. Menurut pandangannya, pendekatan dalam tahapan kebijakan membagi proses pembuatan kebijakan menjadi susunan elemen yang tidak nyata yang membuat pendekatan kebijakan tidak dapat membantu proses pembuatan kebijakan. Oleh karena itu, melalui sudut pandang ini, implementasi dan pembuatan kebijakan menjadi proses yang sama. Sabatier dan Mazmanian mengidentifikasi tiga variabel bebas yang mempengaruhi implementasi kebijakan, yakni: variabel 1) kemudahan atau kesulitan dalam menghadapi masalah dengan indikator, i) perbedaan karakter kelompok sasaran, ii) kelemahan teknik pelaksanaan, iii) Derajat perubahan perilaku yang diinginkan. (iv) Persentase kelompok sasaran dibandingkan dengan

(11)

30 total populasi, selanjutnya variabel (2) Kemampuan kebijakan untuk mensistematisasikan proses dalam implementasi, dengan indikator (i) Kejelasan dan konsistensi tujuan, (ii) Integrasi hierarkis dalam lembaga pelaksana, (iii) Keputusan regulasi oleh lembaga pelaksana, (iv) Kecukupan alokasi sumber daya, (v) Tenaga Kerja pelaksana, (vi) Akses formal ke pihak luar. Terakhir adalah variabel (3) dengan Indikator (i) Dukungan politik, (ii) Kondisi sosial ekonomi dan teknis, (iii) Dukungan dari atasan, (iv) Sikap dan sumber daya yang tersedia, (v) Komitmen dan Keterampilan Pejabat.

Gambar 2. 3 Model Implementasi Kebijakan Mazmanian dan Sabatier MUDAH TIDAKNYA

MASALAH DIKENDALIKAN Kesukaran-kesukaran teknis Keragaman perilaku kelompok sasaran

Presentase kelompok sasaran dibanding jumlah penduduk Ruang Lingkup perubahan perilaku yang inginkan

KEMAMPUAN KEBIJAKAN MENTRUKTURKAN PROSES IMPLEMENTASI

Kejelasan dan konsistensi tujuan Digunakannya teori kausal yang memadai

Ketepatan alokasi sumber dana Keterpaduan hierarki dalam dan diantara lembaga pelaksana Rekrutmen pejabat pelaksana Akses formal pihak luar

VARIABEL DI LUAR KEBIJAKAN YANG MEMPENGARUHI PROSES IMPLEMENTASI

Kondisi sosio-ekonomi dan teknologi Dukungan publik

Sikap dan sumber-sumber yang dimiliki kelompok-kelompok

Dukungan dari pejabat atasan Komitemen dan kemampuan

kepemimpinan pejabat-pejabatn atasan

TAHAP-TAHAP DALAM PROSES IMPLEMENTASI Output

Kebijakan Badan-badan pelaksana

Kesediaan kelompok sasaran mematuhi output kebijakan

Dampak Nyata output kebiakan

Dampak output kebijakan sebagai presepsi

Perbaikan mendasar dalam undang- undang

(12)

31 Implemnetasi Kebijakan mengarah pada adanya sistem pengelolaan pada urursan urursan publik (Administrative Governance). Pada pengelolaan urusan urusan publik dapat dibentuk melalui good governance yang membutuhkan reformasi kelembagaan dan reformasi manajemen publik. Reformasi kelembagaan terdiri dari perbaikan unsur-unsur pemerintah daerah seperti struktur dan infrastruktur pemerintahan. Dewan pendidikan dan Lembaga Swadaya Masyarakat sebagai stakeholders dan pemerintah mauapun lembaga eksekutif beserta MPR- DPR/D sebagai shareholders. Sedangkan reformasi manajemen berhubungan dengan model manajemen pemerintahan yang bersifat dinamis menyesuaikan dengan tuntutan dan perubahan zaman tidak sekedera merubah bentuk pandang namun juga merubah manajemen atau tata kelola sehinngga birokrasi menjadi lebih mudah (Mujianto,2015).

Tingkatan kebijakan dapat digolongkan berdarkan pengaruh terhadap perubahan yang timbul pada kehidupan masyarakat. Tingkat pertama kebijkan merupakan keputusan keputusan yang dikeluarkan oleh DPR, Presiden dan beberapa kelompok penekan dengan hasil yang akan di implementasikan ke masyarakat. Tingkat kedua, adalah hasil dari kebijakan. Pembelanjaan uang dari hasil kebijakan kemudian melaksanakan pearuturan baru yang akan mempengaruhi kehidupan masyarakat secara umum. Dan pada tingkat terakhir, adalah dampak dari kebijakan yang telah dilaksanakan apakah timbul dampak negative maupun positif dari pelaksanaan kebijakan tersebut.(Peters,1982).

2.1.2 Kebijakan Pendidikan Non Formal

Kebijakan pendidikan adalah langkah yang diambil oleh pemerintah bersama dengan aktor luar pemerintah untuk mempertimbangkan aspek – aspek yang akan mempengaruhi pelaksanakan atau tidak terlaksanaya pada bidang pendidikan oleh masyarakat luas. Kebijakan pendidikan dapat mencakup aspek alokasi dana pendidikan, kurikulum, penarikan tenaga pendidik, staff pengembang yang professional, infrastruktur, sumber daya, dan kebijakan lain yang berkaitan langsung dengan pendidikan (Mujianto, 2015).

(13)

32 Pendidikan adalah alat utama untuk meningkatkan produktivitas manusia (Gary S. Becker dalam Nafukho 2004). Manusia dikonsepkan sebagai model produktif yang dikemas secara cermat. Pengetahuan dan ketrampilan menjadi model seorang individu yang dapat diperoleh di sekolah ataupun di tempat kerja melalui sebuah pelatihan dan pengalaman. Pengetahuan dan ketrampilan tersebut dapat berguna untuk meningkatkan nilai atau value dari seorang individu terhadap produktivitas di tempat kerja. Pengetahuan dan ketrampilan sebagai modal manusia di definisikan oleh Schultz (dalam Nafukho, 2004) sebagai teori modal manusia dengan melalui pendidikan dan pelatihan sebagai sebuah aset yang mana aset ini dapat menjadi produk investasi yang nyata dan menghasilkan keuntungan.

Sistem pendidikan nasional merupakan upaya yang memiliki tujuan untuk mewujudkan menjadikan masyarakat lebih sejahtera, maju, mandiri, modern dan lebih berkualitas. Pembangunan pendidikan penting dilakukan karena pembangunan pendidikan menjadi bagian penting dari upaya global dan dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk mensejahterakan dan meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Pembangunan pendidikan dapat dikatakan berhasil apabila telah memberikan kontribusi yang besar terhadap tujuan pembangunan nasional secara menyeluruh (Nanang Fattah,2012).

Pendidikan di Indonesia di atur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dimana dikatakan dalam pasal 1 ayat (4) Sistem pendidikan nasioanl adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Pada pasal 3 dijelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

(14)

33 Definisi pendidikan menurut Kohnstamm dan Gunning (Syahdan, 2012) pendidikan merupakan dimulainya pembentukan diri dan penentuan bagaimana seseorang akan bersikap, berfikir dan beperilaku. Dahama dan Bhatnagar (dalam Supsiloani, 2019) menyebutkan terdapat 3 tipe pendidikan, yaitu pendidikan informal, pendidikan formal dan pendidikan nonformal.

Pendidikan Informal pada Undang-Undang nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat (11) dijelaskan sebagai jalur pendidikan lingkungan. Pendidikan informal didefinisikan oleh Livingstone (dalam (Sudiapermana, 2009)) sebagai kegiatan yang dikaitkan dengan gerakan pemahanan, pengetahuan atau keahlian yang ada dan terjadi diluar dari kurikulum yang disediakan oleh lembaga pendidik.

Pembelajaran yang dilakukan oleh pendidikan informal dapat terjadi diluar konteks kurikulum lembaga. Pendidikan informal dapat juga dikatakan sebagai pendidikan keluarga karena pada keluargalah pendidikan dimulai. Pendidikan informal dapat dikatakan sebagai pendidikan yang dapat diperoleh dan berlangsung sepanjang hidup. Jalur pendidikan informal dapat berupa jalur dalam rumah tangga dan lingkungan yang berdampingan dengan pendidikan formal maupun nonformal.

Pendidikan informal dalam rumah tangga dapat dikatakan sebagai pengasuhan, seperti perawatan maupun pemeliharaan fisik dan pendidikan (Aci Sutanti, 2019).

Tarakiawan (dalam Sudiapermana, 2009)) berpendapat ada tujuh pendidikan yang dapat terjadi dikeluarga, yakni:

a. pendidikan iman, b. pendidikan moral, c. pendidikan fisik, d. pendidikan inelektual, e. pendidikan psikis, f. pendidikan sosial, dan g. pendidikan seksual.

Selaras dengan pernyataan tersebut, Chalidjah Hasan juga berependapat bahwa pentingnya peran keluarga dalam proses pembelajaran dan masa depan anak.

Bimbingan dan pembinaan dibutuhkan anak untuk dapat mengarahkan minat dan

(15)

34 bakatnya1. Keluarga menjadi Lembaga Pendidikan pertama bagi anak karena, keluarga merupakan lingkungan pertama yang dikenal oleh anak.. Ciri – ciri dari pendidikan informal ialah :

a. Pendidikan terjadi secara terus-menerus tidak mengenal tempat dan waktu, b. Orangtua berperan sebagai guru, dan

c. Tidak adanya kurikulum yang berlaku.

Pendidikan Formal dalam UU nomor 20Tahun 2003 disebutkan pada pasal 1, pasal 14, pasal 17, pasal 18, dan pasal 19. Pada pasal 1 ayat (11) dijelaskan bahwa Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

Sedangkan pada pasal 14 dikatatakan bahwa jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah.

Bentuk pendidikan dasar di sampaikan pada pasal 17 ayat 2 yakni berbentuk Sekolah Dasar(SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau bentuk lain yang sederajat. Dilanjutkan pada pasal 18 menegnai pendidikan menengah yang merupakan lanjutan pendidikan dasar, pada ayat (2) pendidikan menengah terdiri atas pendidikan umum dan pendidikan menengah kejuruan serta ayat (3) pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA) Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat. Pada pasal 19 menjelaskan mengenai pendidikan tinggi dimana pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menegah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis dan doctor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi, kemudian pada yaat (2) dijelaskan pendidikan tinggi diselenggarakan dengan sistem terbuka.

1 Calidjah Hasan, Dimensi-Dimensi Psikologi Pendidikan, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1994)

(16)

35 Sistem pendidikan pada sekolah umumnya menggunakan sistem pendidikan formal. Terdapat beberapa kararteristik pada pendidikan formal menurut Haerullah 2020)

a. Memiliki tujuan jangka panjang dan lebih umum b. Berorientasi pada kememilikan ijazah

c. Memiliki waktu yang relatif lama d. Oerientasi pada masa depan

e. Penggunanan waktu yang terus menerus

f. Kurikulum berisi program yang telah disusun secara terpusat dan seragam g. Proses pembelajarn dilakukan di lingkungan sekolah

h. Memiliki struktur program yang cukup selektif i. Terpusat pada kehidupan sekolah

j. Pendidik menjadi pusat

k. Mendapat dukungan penuh dari pemerintah l. Dikendalikan dan dikelola oleh pejabat pemerintah m. Pendekatan berdasarkan kekuasaan

Pendidikan nonformal dapat dipahami sebagai Kegiatan pendidikan di luar kerangka sistem pendidikan formal yang ditujukan untuk memberikan bentuk-bentuk pengalaman terpilih kepada kelompok-kelompok masyarakat tertentu, orang dewasa dan anak-anak. Pendidikan Nonformal juga dapat diefinisikan kegiatan pelatihan sekaligus pendidikan di luar sekolah yang terstruktur yang dilakukan dalam jangka waktu yang singkat, dan di dukung oleh kelompok pendukung maupun pejabat pemerintah untuk menghasilkan perubahan perilaku disetiap kelompok masyarakat (Moh. Ishom,2020).

Selain itu, Pendidikan Nonformal juga dapat di artikan sebagai pendidikan yang ter-selenggara di luar pendidkan sekolah yang berpotensi dapat meenggantikan pendidikan formal dalam beberapa bagian-bagian tertentu seperti pendidikan dasar maupun ketrampilan kejuruan. (Syahdan, 2012). Pendidikan Non Formal di atur dalam Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa Pendidikan Nonformal

(17)

36 diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlkukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.

Sedangkan Pendidikan nonformal menurut Hardhike adalah organisasi bagi mereka yang membutuhkan pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap, profesi, pekerjaan, usaha mandiri, atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi untuk mengembangkan diri.Pelatihan atau kursus nonformal yang telah diselenggarakan (Dian, 2017). Pasal 3 Undang-Undang nomor 20 Tahun 2003 pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Selanjutnya dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2013 tentang Pendirian Satuan Pendidikan Nonformal pasal 3 ayat (1) dijelaskan satuan Pendidikan Nonformal terdiri atas :

a. LKP

b. Kelompok Belajar c. PKBM

d. Majelis Taklim dan;

e. Satuan PNF sejenis

Pendidikan nonformal menurut Jaosaef (dalam m arif,2017) memiliki beberapa karateristik yakni, pertama pendidikan nonformal tidak membagi tingkatan atau jenjang pendidikan. Kedua, waktu penyampaian dalam pembelajaran cenderung lebih cepat dibanding dengan pendidikan formal. Ketiga, usia peserta didik dalam program kegiatan tidak selalu sama, dikarenakan pendidikan nonformal tidak membagi jenjang pendidikan oleh karena itu tiap program pendidikan dapat ditemukan beragam usia peserta didik. Ke-empat, orientasi peserta didik langsung dalam praktek kerja, terutama pada masyarakat yang sedang berkembang. Ke-lima materi yang dipelajar cederung bersifat khusus.

Ke-enam, pendidikan nonformal menjawab kebutuhan pendidikan yang tidak

(18)

37 merata. Ke-tujuh, surat – surat seperti ijazah atau sertifikat pada umumnya tidak memiliki peran penting bagi penerimaan peserta didik.

Program pendidikan nonformal menurut Abdulhak (2012) terbagi menjadi tiga, yakni :

a) Pendidikan berkelanjutan, diantaranya : 2. Program pasca keaksaraan

3. Program pendidikan kesetaraan

4. Program peningkatan mutu pendidikan 5. Program peningkatan mutu hidup

6. Program pengemabngan minat dan bakat

7. Program yang memiliki orientasi pada masa depan b) Program orang dewasa

1. Program keaksaraan

2. Program pasca keaksaraan atau pasca pendidikan dasar orang dewasa 3. Pendidikan pembaruan

4. Pendidikan kader organisasi

c) Program pendidikan yang terselenggara di masyarakat 1. Pendidikan dalam memberantas buta huruf

2. Pendidikan anak usia dini 3. Pendidikan paket A,B,C

4. Pendidikan pemberdayaan perempuan 5. Pendidikan kepemudaan

6. Pendidikan kelembagaan.

Pendidikan nonformal mencakup semua kelas sosial, tidak hanya usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi, dan latar belakang pendidikan. Tujuan tersebut tidak hanya mengutamakan mereka yang belum pernah sekolah, putus sekolah, atau ingin mendapatkan pekerjaan setelah lulus sekolah, tetapi pendidikan nonformal tidak terkecuali membantu seluruh lapisan masyarakat terutama bagi yang sudah memiliki tingkat pendidikan yang tinggi atau bahkan karyawan tetap.

Dengan kata lain, kelompok sasaran pembelajaran nonformal adalah mereka yang

(19)

38 membutuhkan tambahan pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan diri, yang mengarah pada prinsip belajar sepanjang hayat (Susanti, 2003).

2.1.3 Dunia Kerja

Dunia kerja atau yang sering disebut sebagai pekerjaan adalah sebuah hal ynag dilakukan oleh seorang indvidu dengan berbagai tujuan. Penjelasan wirawan mengatakan bahwa pekerjaan dapat diartikan bahwa pekerjaan adalah segala posisi yang ke-semuanya mendapatkan tugas yang sama dan dilaksanakan oleh seorang tenaga kerja (Aswin,). Bekeja dalam pengertian bps.go.id adalah Kegiatan ekonomi seseorang yang bertujuan untuk menghasilkan atau memberikan kontribusi pendapatan atau keuntungan selama setidaknya satu jam (terus menerus) dalam seminggu terakhir. Kegiatan tersebut meliputi pola kegiatan pekerja tidak dibayar yang mendukung kegiatan usaha/ekonomi. Dalam bekerja, tenaga kerja merupakan salah satu unsur yang memgang peranan penting. Pembangunan negara tidak lepas dari sumber daya manusia. Tenaga kerja menjadi salah satu aspek utama yang dapat meningkatkan pembangunan melalui keahlian dan daya saing yang mumpuni. Daya saing yang meningkat dapat dilihat melalui beberapa unsur yakni;

kemudahan atau tercapainya suatu objek, kualitas, daya saing (Mulianingsih, 2017).

Tenaga kerja menurut Sunardi (dalam (Mariami, 2017)) memiliki indikasi sebagai calon tenaga kerja yang baik yakni; berpengetahuan luas, berpenampilan menarik, apat berkomunikasi dengan baik tulis maupun lisan, memiliki motivasi yang kuas, pekerja keras, dan mampu bekerja dengan teliti dan seksama.

Tenaga kerja dapat didefiniskan sebagai penduduk usia kerja seperti, mereka yang sudah siap bekerja atau sedang mencari pekerjaan, mereka yang sedang menempuh pendidikan maupun ibu rumah tangga (Zenda & Suparno, 2017).

Tenaga kerja menurut Sumitro Djojohadikusumo (dalam (Zenda & Suparno, 2017)) merupakan individu yang berambisi dan cakap, dan golongan ini meliputi orang yang bekerja untuk dirinya sendiri, orang yang tidak menerima pembayaran, dan orang yang bekerja untuk menerima pembayaran/upah/gaji. Undang-Undang nomor 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan mengartikan tenaga kerja sebagai

(20)

39 setiap individu yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun masyarakat.

Tenaga kerja memiliki pengertian yang terbatas, tidak semua masyarakat dapat dikatakan sebagai tenaga kerja hanya masyarakat yang sudah mencapai ketentuan seperti umur yang sudah cukup. Menurut bps.go.id batas minimum usia kerja adalah 15 tahun. Sedangkan, masyarakat yang sudah berusia 15 tahun atau lebih yang sedang bekerja, memiliki pekerja ataupun yang sedang tidak bekerja atau pengangguran disebut dengan angkatan kerja2. Namun, masyarakat yang masih bersekolah dan juga ibu rumah tangga atau dalam keadaan fisik tidak dapat bekerja atau mencari pekerjaan adalah bukan angkatan kerja (Simanjuntak, 1993).

Presentase penduduk bekerja di Indonesia menurut bps.go.id pada Agustus tahun 2021 adalah sebesar 93,51 persen atau sejumlah 131 050,52 ribu jiwa. Sedangkan pada Februari tahun 2022 angka ini naik dengan jumlah sebesar 94,17 persen atau sejumlah 135 611,90 ribu jiwa.

Permasalahan dalam ketenagrakerjaan di Indonesia adalah tingkat pengangguran yang tinggi, apalagi di era globalisasi yang menuntut sumber daya untuk selalu berkualitas. Jumlah tenaga kerja dan jenis pekerjaan yang tidak seimbang mmebuat semakin sempitnya kesempatan masyarakat untuk mendapat pekerjaan (Abdul Latief, 2017). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pasal 27 ayat (2) menyatakan bahwa setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusaiaan. Oleh karena itu setiap warga negara Indonesia berhak dan layak untuk mendapatkan pekerjaan. Namun, kembali pada permasalahan awal jumlah kesempatan kerja tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja. Kurangnya lapangan pekerjaan akhirnya membuat banyak pengangguran. Pengangguran menurut bps.go.id yakni pertama merupakan penduduk yang aktif dalam mencari pekerjaan. Kedua yakni masyarakat yang sedang mempersiapkan usaha atau mencari pekerjaan baru. Ketiga yakni masyarakat yang tidak bekerja maupun mencari pekerjaan karena dirasa tidak mungkin untuk mendapat pekerjaan. Keempat yakni masyarakat yang tidak

2 https://www.bps.go.id/subject/6/tenaga-kerja.html di akses pada tanggal 1 Juni 2022

(21)

40 mencari kerja dengan lasan sudah memiliki pekerjaan namun belum mulai bekerja.

Jumlah pengangguran menurut bps.go.id di Indonesia pada Agustus tahun 2021 adalah sebesar 6,46 persen atau sejumlah 9 102,05 ribu jiwa sedangkan pada Februari 2022 mengalami penurusan menjadi 5,83 persen atau sejumlah 8 402,15 ribu jiwa.

Menurut Philip M. Hauser dalam Ali Muhson 2012) terdapat tiga hal untuk melihat masalah pengangguran yakni jam kerja yang masih kurang, pendapatan yang rendah, dan ketidaksesuaian pekerjaan dengan pendidikan atau keahlian yang dimiliki. Persaingan menjadi sebuah keadaan yang tidak dapat dihindari, terutama saat mencari pekerjaan. Persaingan tenaga kerja dapat di artikan sebagai persaingan dalam mencari/mendapatkan pekerjaan. Persaingan tenaga kerja dapat membuat menurunnya jumlah lapangan pekerjaan sehingga menyebabkan banyak individu yang menganggur karena sulit mendapat pekerjaan (Aprilia & Khairiyah, 2018).

Everet dan Scoot menuturkan persaingan kerja membuat mereka mengupayakan berbagai cara untuk mendapatkan pekerjaan, kebutuhan yang semakin banyak dan ancaman PHK hingga kesulitan ekonomi (Muntohasah, 2017). Meskipun begitu, kesempatan kerja di Indonesia mendapat jaminan dalam UUD 1945 pasal 27 ayat 2 yang menyatakan bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak.

Persaingan tenaga kerja semakin ketat membuat kesempatan kerja yang dimiliki semakin mengecil yang akhrinya menjadi penyebab banyaknya pengagguran. Pengangguran menurut Sukimo dalam (Indayani & Hartono, 2020) adalah individu yang merupakan angkatan kerja dan sedang dalam proses mencari pekerjaan untuk gaji tertentu namun tidak dapat mendapat pekerjaan yang di-ingini.

Faktor – faktor yang mempengaruhi persaingan tenaga kerja terbagi menjadi 2 yakni;

1. Migrasi, perpindahan masyarakat desa ke kota mengakibatkan semakin banyaknya sebuah penduduk dalah suatu daerah. terbatasnya lapangan pekerjaan di desa yang menyebabkan mininya peluang pekerjaan selain itu

(22)

41 minimnya fasilitas yang ada di desa juga menjadi alasan terjadinya migrasi (Muntohasah, 2017).

2. Kualitas Tenaga Kerja Indonesia. Kualitas tenaga kerja di Indonesia masih belum mencapai kata baik dari segi pendidikan, ketrampilan maupun pengalaman yang dimiliki. Hal ini menyebabkan melemahnya daya saing yang dimiliki tenaga kerja Indonesia dibandingan dengan tenaga kerja asing.

Ketrampilan yang masih rendah akhirnya membuat perusahaan menempatkan tenaga kerja Indonesia di posisi yang membutuhkan ketrampilan rendah (B.Randang, Frankiano, SH, 2011).

Kesiapan dalam bekerja penting dilakukan khususnya bagi angkatan kerja.

Kesiapan kerja menurut Kartini Kartono (1991) merupakan keahlian seseorang untuk melakukan pekerjaan dengan baik di dalam maupun di luar hubungan pekerjaan untuk menciptakan barang ataupun jasa. Selain itu Thayeb (1998) juga berpendapat kesiapan kerja dapat diartikan sebagai sifat yang identik dengan indentifikasi, memilih, merencanakan atau melaksanakan tujuan pekerjaan yang tersedia untuk seseorang tertentu sesuai dengan usia perkembangannya (kritina nugrahani). Kesiapan kerja oleh Hamalik (2013) juga menyatakan bahwa kesiapan adalah tahap atau peristiwa yang harus digapai selama proses perkembangan individu sebelum individu tersebut melakukan sebagaimana mestinya pada setiap pertumbuhan seperti fisik, mental, sosial dan emosiona. Kesiapan kerja penting dilakukan karena apabila seseorang tersebut siap dalam melakukan sesuatu maka seseorang tersebut dapat memperoleh hasil yang memuaskan namun bila mendapat hambatan saat melakukan pekerjaan tersebut ia akan menuai kekecewaan (Ufi Naeli, 2017).

Cabello dkk (2011) dalam (sari zakiah, 2019) berpendapat terdapat empat aspek untuk mengetahui kesiapan dalam bekerja.

a. Personal Charaterictic

Karateristik personal dari seseorang untuk mengukur daya tahan dari seseorang tentang bagaimana ia bersosialisasi di lingkungan kerja, kemudian melakukan improve untuk mengembangkan dirinya. Dalam aspek ini juga digambarkan

(23)

42 tentang kemampuan individu, kemampuan untuk mengarahkan diri, pengenalan dan fleksisbilitas diri,

b. Organisational acumen

Pada aspek ini dilihat guna mengukur motivasi diri untuk bekerja di tempat tertentu dapat berupa organisasi ataupun instansi. Kesadaran mengenai tempat bekerja, perkembangan individu dalam tempat kerja untuk selalu mempelajari hal baru dan sikap dalam menjalani pekerjaan. Aspek ini juga mengukur tingkat profesionalitas dan etika dalam bekerja, bertanggung jawab dan pengetahuan umum

c. Work Competence

Aspek ini menjabarkan mengenai kompetensi dalam pekerjaan yang dilihat melalui kemampuan teknis sesorang (secara khusus pada pekerjaan yang dimaksud), motivasi dalam menyelesaikan tugas dan kemampuan dalam penyelsaian masalah. Pada aspek ini juga dilihat mengenai keahlian dalam berorganisasi, berpikir kritis, kemampuan dalam problem solving dan kreatifitas.

d. Social Intelegence

Aspek ini digambarkan sebagai orientasi interpersonal, keahlian dalam bekerja dan bekerjasama dalam sebuah kelompok/tim, ketrampilan sosial dan kemampuan dalam berkomunikasi.

Aspek –aspek di atas digambarkan dalam berbagai dimensi untuk kesiapan kerja.

Seseorang dapat saja lebih baik dalam salah satu aspek namun masih belum dapat menunjukkan aspek – aspek lainnya. Maka dari itu, kesiapan kerja biasanya di anggap sebagai konsep multidimensi. Banyak aspek kesiapan kerja yang dapat diukur menggunaka berbagai macam metode seperti: self report (mengisi form aplikasi/lamaran kerja), tes kemampuan dan kepribadian serta wawancara (Sari Zakiah, 2019).

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan data produksi lemuru dalam kurun waktu 6 tahun terakhir (2010 – 2015) dapat dihitung produksi lestari perikanan atau Maximum Sustainable Yield

Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi kepada peneliti dalam hal pengembangan media pembelajaran mata pelajaran IPA kelas IV pada hasil belajar siswa di

108/DSN-MUI/X/2016 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pariwisata Berdasarkan Prinsip Syariah (Studi Kasus Di Kampung Coklat Desa Plosorejo Kecamatan Kademangan Kabupaten

Bank Rakyat Indonesia (BBRI) akan meluncurkan satelit milik sendiri dengan investasi sebesar US$220 juta, dari negara Republik Guyana pada Juni tahun depan.. Satelit tersebut

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh pemberian ekstrak kulit buah naga (Hylocereus costaricensis) terhadap kadar SGPT tikus putih (Rattus

Dengan demikian, analisis fundamental merupakan analisis yang berbasis pada berbagai data riil untuk mengevaluasi atau memproyeksi nilai

10 Tahun 2011 tentang Penundaan Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam primer dan Lahan Gambut, maka arah kebijakan untuk peningkatan produksi di bidang

– Desa-desa tertinggal, rawan bencana dan terpencil dapat melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat dengan pendekatan khusus, melalui bantuan dan pendampingan yang intensif dari