• Tidak ada hasil yang ditemukan

SLR: FAKTOR PENYEBAB TERLAMBATNYA ERUPSI GIGI PERMANEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SLR: FAKTOR PENYEBAB TERLAMBATNYA ERUPSI GIGI PERMANEN"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Volume 3 No 1 Maret 2022 ISSN: 2721-2033

SLR: FAKTOR PENYEBAB TERLAMBATNYA ERUPSI GIGI PERMANEN

Indah Min Baladina 1*, Agus Marjianto2, Isnanto3

1,2,3

Jurusan Kesehatan Gigi, Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya

*[email protected]

ABSTRAK

Masalah : Erupsi gigi adalah proses dimana gigi berkembang muncul melalui jaringan lunak rahang dan mukosa untuk memasuki rongga mulut. Waktu erupsi gigi permanen 6-12 tahun, gigi sulung mulai digantikan dengan gigi permanen. Gigi permanen lebih sering mengalami gangguan pada proses erupsi jika dibandingkan dengan gigi sulung. Gangguan proses tumbuh kembang baik gigi sulung maupun gigi permanen dapat mempengaruhi waktu erupsi Tujuan : diketahuinya faktor yang menyebabkan terlambatnya erupsi gigi permanen. Desain Studi : Jenis penelitian ini yaitu literature review. Pencarian jurnal dilakukan dari tahun 2016-2021 pada database Google Schoolar, Resechgate, dan Pubmed dalam bahasa indonesia dan bahasa inggris. Stategi pencarian jurnal menggunakan PICOS dengan keyword “permanent teeth eruption”. Jurnal dipilih berdasarkan dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang akan di review Hasil : Berdasarkan hasil literature review pada 10 jurnal, telah didapatkan faktor penyebab terlambatnya erupsi gigi permanen yaitu jenis kelamin, status gizi, sosial ekonomi, genetik, hormonal dan nutrisi. Kesimpulan : Jenis kelamin, status gizi, sosial ekonomi, genetik hormonal dan nutrisi dapat menyebabkan terlambatnya erupsi gigi permanen pada anak.

Kata kunci:

Erupsi, gigi permanen, keterlambatan erupsi

ABSTRACT Key word:

Eruption, permanent teeth, delay in eruption

Problem: Tooth eruption is the process by which developing teeth emerge through the soft tissues of the jaws and mucosa to enter the oral cavity. When the permanent teeth erupt 6-12 years, the primary teeth begin to be replaced by permanent teeth.

Permanent teeth are more often disturbed in the eruption process when compared to primary teeth. Disturbances in the growth process of both primary and permanent teeth can affect the time of eruption. Aim : To identify factors that cause delayed eruption of permanent teeth. Study Design: This type of research is a literature review. Journal searches were carried out from 2016- 2021 on Google Schoolar, Researchgate, and Pubmed databases in Indonesian and English. The journal search strategy uses PICOS with the keyword “permanent teeth eruption”. Journals were

(2)

selected based on the inclusion and exclusion criteria to be reviewed. Results: Based on the results of a literature review in 10 journals, it was found that the factors causing delayed eruption of permanent teeth were nutritional status, gender, genetics, nutrition, socioeconomic status, and hormonal. Conclusion:

Nutritional status, nutrition, genetics, gender, socioeconomic, and hormonal, can cause delayed eruption of permanent teeth in children

PENDAHULUAN

Perkembangan gigi merupakan proses yang berkelanjutan dan ditandai dengan serangkaian tahap. Gigi geligi akan tumbuh dan berkembang dalam waktu yang berbeda, proses pertama tumbuh kembang gigi adalah pada masa prenatal, ditemukan di daerah anterior mandibula waktu usia 5-6 minggu, sesudah terjadi tanda-tanda perkembangan gigi di daerah anterior maksila kemudian berlanjut kearah posterior dari kedua rahang (Sinta et al., 2015). Siklus tumbuh kembang ini berurutan mulai tahap inisiasi, tahap proliferasi, tahap histodiferensiasi dan tahap morfodiferensisi, yang kemudian berlanjut pada tahap pembentukan jaringan keras pada usia kehamilan 16 minggu. Tahap inisiasi merupakan tahap awal pembentukan benih gigi dari jaringan epitel mulut atau yang sering dikenal sebagai bud stage. Benih gigi mulai dibentuk sejak janin berusia antara 6-8 minggu. Pada tahap ini proses proliferasi jaringan ektodermal dan jaringan mesenkimal terus berlanjut. Tahap cap dimulai pada minggu ke-9 dan ke-10 masa intrauterin (Almonaitiene & Tutkuviene, 2010).

Istilah "eruption" berasal dari kata latin "erupsi" yang berarti peristiwa kemunculan.

Erupsi gigi adalah proses dimana gigi berkembang muncul melalui jaringan lunak rahang dan mukosa untuk memasuki rongga mulut (Verma et al., 2017). Erupsi gigi adalah pergerakan gigi dari dalam prosesus alveolaris ke rongga mulut. Gigi susu berjumlah 20 buah yang terdiri dari empat gigi seri, dua gigi taring dan empat gigi geraham, rahang atas dan rahang bawah. Pada gigi permanen berjumlah 32 buah yaitu empat gigi seri, dua gigi taring, empat gigi geraham kecil dan empat gigi geraham besar pada rahang atas dan rahang bawah (Ria & Simaremare, 2020). Erupsi gigi sangat penting untuk memonitoring perkembangan oklusal, diagnosis maloklusi dan efisiensi perencanaan perawatan gigi pada masa anak-anak dan remaja. Selain itu, erupsi gigi digunakan juga sebagai memperkirakan umur anak dengan melihat gigi apa saja yang telah terlihat di dalam rongga mulut (Mujiyati et al., 2015).

Erupsi adalah suatu proses yang menunjukkan adanya perpindahan gigi dari dalam tulang rahang menuju rongga mulut sehingga menjadi bagian dari lengkung rahang (Amelia et al., 2016). Erupsi gigi diartikan sebagai pergerakan gigi dari tempat pembentukannya di dalam tulang alveolar ke arah dataran oklusal pada kavitas oral.

Erupsi gigi dapat digunakan untuk memperkirakan umur anak, juga digunakan untuk menilai maturasi gigi dan dental age secara klinis. Waktu erupsi gigi sulung sangat bervariasi pada setiap bayi (Coban & Kansu, 2018). Erupsi gigi merupakan gerak normal gigi kearah rongga mulut dari posisi pertumbuhannya dalam tulang alveolar (Gunawan et al., 2016). Erupsi gigi dapat dibagi menjadi tiga tahapan yaitu erupsi tahap preemergent

(3)

(ketika gigi berkembang dan bergerak di dalam tulang alveolar), tahap emergence (ketika puncak tonjol atau tepi insisal gigi pertama menembus gingiva) dan tahap postemergent (ketika pertumbuhan gigi telah mencapai tingkat oklusal (Ahmad, 2014).

Terdapat 4 tipe gigi yang masing – masing memiliki morfologi dan fungsi berbeda diantaranya adalah incisivus, caninus, premolar dan molar. Formasi dari tipe gigi manusia tersebut dapat dijadikan sebagai indikator prakiraan usia seseorang yang dilihat melalui erupsi gigi tersebut. Erupsi gigi pada umumnya ditandai oleh kemunculan gigi yang keluar melalui gingiva, kemunculan gigi yang dimaksud berkaitan dengan proses pergantian dari gigi sulung hingga menjadi gigi permanen. Berdasarkan urutan (sequence) dan kemunculan gigi (eruption), keduanya menunjukkan perkembangan gigi pada usia – usia tertentu. Gigi manusia memiliki periode tertentu, yang diwujudkan dengan tanggalnya gigi tertentu sebagai tanda munculnya gigi – gigi yang baru (Oktaviana et al 2016,)

Erupsi gigi yang terjadi di dalam mulut mengalami urutan waktu erupsi yang berbeda pada setiap jenis gigi, diawali dengan fase gigi sulung hingga digantikan dengan fase gigi permanen, sehingga menyebabkan adanya variasi waktu dan urutan munculnya edua jenis gigi tersebut (Trianah, 2019). Menurut World Health Organization (WHO), Indonesia termasuk ke dalam negara ketiga dengan prevalensi stunting tertinggi di regional Asia Tenggara/South-East Asia Regional (SEAR). Rata-rata prevalensi balita stunting di Indonesia pada tahun 2005-2017 sebesar 36,4%. Hasil survey yang dilakukan oleh SEANUTS (South East Asia Nutritions Surveys) pada tahun 2011 terkait masalah gizi anak di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam, didapatkan bahwa ukuran tinggi badan anak‐ anak Indonesia paling pendek di antara keempat negara lainnya. Untuk anak usia sekolah, yaitu usia 5 – 12 tahun ditemukan kejadian stunting sebesar 24,1% untuk anak laki‐ laki dan 25,2 % untuk anak perempuan. Anak usia sekolah yang menderita stunting dengan kategori sangat pendek sebesar 5,9 % untuk anak laki‐ laki dan 4,9 % untuk anak perempuan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yasmine et al (2021) didapatkan bahwa 12 anak (26,7%) mengalami stunting dan 33 anak (73,3%) tidak mengalami stunting. Pada anak yang mengalami stunting, terdapat 8 anak (66,7%) yang mengalami keterlambatan erupsi gigi premolar-2 atas kanan dan 7 anak (58,3%) yang mengalami keterlambatan erupsi gigi premolar-2 atas kiri. Anak yang mengalami stunting 4,6 kali lebih berisiko mengalami keterlambatan erupsi gigi premolar-2 kanan atas dan 4,4 kali lebih berisiko mengalami keterlambatan erupsi gigi premolar-2 kiri.

Kekurangan nutrisi dapat mempengaruhi perkembangan gigi karena peran nutrisi untuk jaringan mulut tidak berbeda dengan jaringan organ tubuh lainnya. Kurangnya asupan karbohidrat, protein, lemak, yodium, kalsium, magnesium, fosfor, vitamin C, dan vitamin D selama masa pertumbuhan dan perkembangan gigi dapat menyebabkan erupsi gigi tertunda (Lailasari et al., 2017), Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Agnes (2019) menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara status gizi terhadap erupsi gigi. Sebab, keterlambatan erupsi itu memiliki sangat banyak faktor, yaitu genetik, jenis kelamin, ras, penyakit sistemik, hormon, serta nutrisi. Namun, faktor nutrisi yang dikaitkan dalam penelitian ini ternyata hanya memiliki porsi (1%) saja dalam menyebabkan keterlambatan erupsi gigi, sedangkan yang menjadi faktor terbesar terjadinya keterlambatan erupsi gigi yaitu genetik dengan porsi (78%).

(4)

Erupsi gigi dipengaruhi oleh sekresi hormon pertumbuhan. Hormon pertumbuhan meningkatkan kadar serum osteocalcin yang merupakan penanda pembentukan tulang.

Defisiensi hormon pertumbuhan ini menyebabkan keterlambatan erupsi gigi daripada individu normal. Menurut Blenkin & Taylor (2012), kontribusi kontrol genetik terhadap perkembangan gigi diperkirakan sebesar 90%. Studi tentang pola mineralisasi gigi menunjukkan bahwa tahap awal perkembangan gigi hampir sama antara pria dan wanita, dan dimorfisme seksual dalam perkembangan terjadi di sekitar tahap penyelesaian mahkota kemudian berlanjut meningkat selama tahap pengembangan akar.

Dalam tahapan-tahapan tersebut, anak perempuan mencapai sebagian besar tahapan perkembangan lebih cepat dibandingkan dengan anak laki-laki.

Selain itu, faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan gigi ialah asupan kalsium, fosfor, vitamin C dan D (Indriyanti dkk., 2006). Kekurangan zat-zat di atas dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan gigi serta dapat memperlambat erupsi gigi. Nutrisi memiliki peranan penting untuk seluruh proses metabolisme tubuh. Nutrisi dan diet intake sangat berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan seluruh organ dalam tubuh termasuk tulang dan gigi. Salah satu upaya pemenuhan gizi pada balita adalah melalui air susu ibu (ASI).

Menurut Yusrina & Devy (2016), ASI adalah emulsi lemak dalam larutan protein laktosa dan garam organik yang memiliki komposisi lengkap dan sangat cocok digunakan sebagai asupan bayi. Pemberian ASI eksklusif sangat bermanfaat untuk bayi karena ASI adalah sumber gizi ideal dengan komposisi seimbang dan sesuai dengan kebutuhan bayi.

World Health Organization (WHO) dan United Nation Childerns Fund (UNICEF) merekomendasikan pemberian ASI oleh ibu dilakukan selama paling sedikit 6 bulan pertama dalam kehidupan seorang anak. Kemudian dilanjutkan dengan makanan pendamping (MP) ASI, namun tetap diberikan asupan ASI sampai usia anak mencapai 2 tahun.

Menurut hasil dari penelitian Variani (2018) didapatkan hasil rata-rata waktu erupsi gigi incisivus pertama pada bayi yang diberi ASI terjadi lebih cepat dibandingkan dengan waktu erupsi gigi incisivus pertama pada bayi yang diberi susu formula, di mana bayi yang mendapat asupan ASI erupsi dimulai pada usia 4-5 bulan sedangkan pada bayi yang mendapat asupan susu formula erupsi terjadi pada usia 6-7 bulan. Oleh karena gigi merupakan salah satu bagian penting dari tubuh, dan ASI memiliki peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan gigi anak mulai dari gigi sulung sampai gigi permanen.

Berdasarkan uraian di atas didapatkan suatu masalah penulisan yaitu, terdapat banyak faktor resiko yang menyebabkan keterlambatan erupsi gigi sulung pada bayi yang disebabkan oleh status gizi, jenis kelamin, genetik, nutrisi, sosial ekonomi dan hormonal. Salah satu cara untuk mencegah keterlambatan erupsi gigi permanen yaitu dengan memenuhi asupan gizi dalam tubuh.

METODE

Studi tentang Faktor Penyebab Terlambatnya Erupsi Gigi Permanen ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) yang telah ber-ISSN (International Standard Serial Number) secara elektronik yang telah dipublikasikan melalui

(5)

internet. Pencarian literatur dilakukan selama bulan Agustus dan September 2020. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh bukan dari pengamatan langsung, akan tetapi diperoleh dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu. Sumber data sekunder yang didapat berupa artikel atau jurnal yang relevan dengan menggunakan database melalui Google Scholar, pubmed, dan researhgate. Jurnal yang dipakai dalam penyusunan skripsi dengan systematic literature review, berjumlah 10.

Pencarian artikel atau jurnal menggunakan keyword dan boolean operator (AND, OR, dan NOT) yang digunakan untuk memperluas atau menspesifikasi pencarian, sehingga mempermudah dalam penentuan artikel atau jurnal yang digunakan. Kata kunci yang digunakan dalam penelitian ini yaitu keterlambatan erupsi gigi permanen dan permanent tooth eruption. Mengacu pada PICOS (Population, Intervention, Comparator, Outcames, Study Design and Population Type, Publication Years, Languange).

Tabel 1 Kriteria Inklusi dan Eksklusi

Kriteria Inklusi Eksklusi

Population/problem

Faktor penyebab

terlambatnya erupsi gigi permanen.

Faktor penyebab

terlambatnya erupsi gigi sulung.

Intervention - -

Comparation Anak usia 6-12 bulan. Bayi usia 4-48 bulan.

Outcome

Faktor yang menyebabkan terlambatnya erupsi gigi permanen

Faktor penyebab karies gigi

Study design

Cross-sectional, cohort, observational research, deskriptif analitik

Literature review dan Skripsi.

Tahun Terbit Artikel atau jurnal yang terbit sejak tahun 2016-2020.

Artikel atau jurnal yang terbit sebelum tahun 2016.

Bahasa Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Selain dari Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Berdasarkan hasil pencarian literature melalui publikasi di tiga database dan menggunakan kata kunci yang sudah disesuaikan, penulis mendapatkan 412 artikel pada database google scholar, mendapatkan 21 artikel pada database Researchgate, dan mendapatkan 527 artikel pada database Pubmed yang sesuai dengan kata kunci tersebut.

Dari tiga database tersebut, penulis mendapatkan 960 artikel. Hasil pencarian yang sudah didapatkan kemudian diperiksa duplikasi, ditemukan terdapat 55 artikel yang sama sehingga dikeluarkan dan tersisa 905 artikel. Penulis kemudian melakukan skrining berdasarkan judul yang disesuaikan dengan tema literature review, sebanyak 868 dieksklusi karena tidak sesuai dan tersisa artikel. Kemudian penyeleksian berdasarkan

(6)

abstrak studi telah tereksklusi sebanyak 814 artikel dan tersisa 23 artikel. Penilaian kelayakan berdasarkan naskah secara keseluruhan dan kesesuaian dengan kriteria kelayakan didapatkan sebanyak 10 artikel

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 2 menyajikan rangkuman hasil literature review tentang faktor faktor penyebab terlambatnya erupsi gigi permanen pada anak

Tabel 2 Rangkuman Hasil Literature Review

No. Penulis (Tahun)

Judul Jurnal Vol (No)

Metode (Desain, Sampel, Variabel, Instrumen)

Hasil Database

1. Nagaratna B.

Bagewadi, Hemanth Kumar, Shivanand B. Bagewadi, Vijay Kumar, Ganesh Shenoy Pachmal, Z.

Manva Mohnish (2016)

Comparison of chronology of teeth eruption with body mass index among school children at Mangalore: A cross-sectional study

Vol. 14 (no. 3)

D : Penelitian ini adalah studi cross sectional dan data penelitian dianalisis menggunakan SPSS versi 17.0

S : Populasi dalam penelitian ini 2928 anak dalam

kelompok usia 5,5-15 tahun yang diambil dari 5 sekolah di Mangalore, Karnataka

V : Pengecekan erupsi gigi permanen menggunakan kaca mulut, pengecekan berat badan dan tinggi badan menggunakan grafik ketinggian dan timbangan

I : Pemeriksaan intra oral dan IMT/BMI

Terdapat hubungan antara erupsi gigi dengan IMT dan jenis kelamin

Research gate

2 Evangelista, S.,

Vasconcelos, K. R. F., Xavier, T. A., Oliveira, S., Dutra, A. L.

T., Nelson- Filho, P.,&

Küchler, E.

C. (2018)

Timing of Permanent Tooth Emergence is Associated with

Overweight/O besity in Children from the Amazon Region

Vol. 29 (no. 5)

D : Jenis penelitian ini ialah cross sectional. Data dianalisis menggunakan SPSS versi 18.

S : Populasi penelitian yaitu 192 anak, 09-12 tahun, dari sekolah umum di Manaus, Amazonas-Brasil.

V : Erupsi gigi

permanen,indeks massa tubuh

I : Pemeriksaan intra oral dan IMT/BMI

Status gizi,jenis kelamin sangat berhubunga n dengan erupsi gigi permanen

Pubmed

3 Arid, J., Vitiello, M.

C., da Silva, R. A. B., da Silva, L. A.

Nutritional status is associated with permanent

Vol 16 (no.1)

D : Penelitian ini adalah studi observasional analitik dengan pendekatan cross sectional.

Terdapat hubungan antara erupsi gigi

permanen

Pubmed

(7)

B., de Queiroz, A.

M., Küchler, E. C., &

Nelson- Filho, P.

(2017).

tooth eruption chronology

S : Populasi penelitian yaitu 353 anak, 8-11 tahun, dari 4 sekolah umum di Alfenas, Minas Gerais-Brasil.

V : Erupsi gigi

permanen,indeks massa tubuh

I : Pemeriksaan intra oral dan IMT/BMI

dengan berat badan,dan jenis kelamin pada anak

4 Nassif, N., &

Sfeir, E.

(2020)

Age and Sequence of Permanent Teeth Eruption in Lebanese Children

Vol. 20 (no.2)

D : Penelitian ini adalah studi cross sectional dan data penelitian dianalisis menggunakan SPSS versi 22.0

S : Populasi ini yaitu 2.317 anak yang usia nya antara 5- 13 tahun di sekolah Lebanon

V : Indeks massa tubuh,erupsi gigi

I : Pemeriksaan intra oral dan IMT/BMI

Terdapat hubungan yang signifikan antara erupsi gigi

permanen dengan faktor genetik dan sosial ekonomi

Pubmed

5 Sadia Hassan, Hassan Shahid (2018)

Assesment of Eruption of Permanent Tetth According To Age And Its Relation With Body Mass Index In Local Population

Vol. 27 (no.03)

D : Penelitian ini adalah studi cross sectional dan data penelitian dianalisis menggunakan SPSS versi 22.0 (IBM, Corporation)

S : Populasi penelitian ini sebanyak 300 anak yang berusia 5-15 tahun. Anak tersebuat diambil dari 3 sekolah yang dipilih yaitu Sekolah Internasional Pak Turk (Universitas Isra), Sekolah Isra (Hadi Nagar) dan Sekolah Dasar Negeri, Desa Haji Ismail Khan Chand (Hala Naka)

V : Erupsi gigi,indeks massa tubuh

I : Pemeriksaan intra oral dan IMT/BMI

Terdapat hubungan antara erupsi gigi dengan IMT

Research gate

6 Annisah Biancika Jasmine1, Mohammad Zulkarnain,

Faktor Risiko Status Gizi Dan Erupsi Gigi Tetap

Vol.16 (no.1)

D : Penelitian ini adalah studi observasional analitik dengan pendekatan cross sectional.

Terdapat hubungan yang signifikan antara status

Google sholar

(8)

Rico Januar Sitorus (2021)

Premolar-2 Pada Anak Usia 10 Tahun Di Kecamatan Tuah Negeri

S : Populasi penelitian ini adalah anak usia 10 tahun berjumlah 45 orang, yang diambil secara random dari sekolah dasar di Kecamatan Tuah Negeri.

V : Status gizi,erupsi gigi

I : Pemeriksaan intra oral dan antropometri

gizi,status sosial ekonomi dengan erupsi gigi permanen

7 Lailasari, D.

(2017)

Hubungan Jumlah Erupsi Gigi Permanen Dengan Status Gizi Pada Anak Usia 6-7 Tahun

Vol. 30 (no. 2)

D : Penelitian ini adalah studi observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Penentuan status gizi berdasarkan

antropometri menggunakan software Anthro 1.02.

S : Populasi penelitian ini adalah murid kelas 1 SDN Tanjungsari 02 Kabupaten Sumedang yang berjumlah 57 orang berumur antara 6-7 tahun sedangkan sampel penelitian adalah total sampling.

V : Status gizi,erupsi gigi

I : Pemeriksaan intra oral dan Antropometri

Ada hubungan antara status gizi,jenis kelamin, dengan jumlah gigi tetap yang erupsi

Google sholar

8 Agnes C. H.

Sitinjak, Paulina N.

Gunawan, Pritartha S.

Anindita

Hubungan Status Gizi dengan Erupsi Gigi Molar Pertama Permanen Rahang Bawah pada Anak Usia 6- 7 Tahun di SD Negeri 12 Manado (2019)

Vol. 7 (no. 1)

D : Penelitian ini adalah studi observasional analitik dengan pendekatan cross sectional.

S : Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SD Negeri 12 Manado yang berusia 6-7 tahun.

Berdasarkan survei awal siswa yang berusia 6-7 tahun berjumlah 73 orang, terdiri dari 27 siswa laki-laki, dan 46 orang perempuan.

V : Status gizi,erupsi gigi

I : Pemeriksaan intra oral dan IMT/BMI

Tidak terdapat hubungan yang siknifikan antara erupsi gigi permanen dengan status gizi tetapi faktor terbesar yaitu faktor genetik

Google sholar

9 Priya Subramania m, Raksha

Association of eruption timing first

Vol. 18 (no.1)

D : Penelitian ini adalah studi cross sectional dan data penelitian dianalisis

Terdapat hubungan antara

Google sholar

(9)

Pagadala (2020)

permanent molars and incisors with body mass index of children in Bengaluru City

menggunakan SPSS versi 22.0

S : Populasi dalam penelitian ini sebanyak 3166 anak sekolah yang terdiri dari 1636 laki – laki dan 1530 perempuan yang berusia 5- 15 tahun di sekolah di kota bengaluru, Karnataka

V : Pengecekan erupsi gigi permanen menggunakan kaca mulut, mengukur berat badan menggunakan timbangan digital, dan mengukur tinggi badan

I : Pemeriksaan intra oral dan IMT/BMI

erupsi gigi permanen dengan status gizi dan faktor genetik

10 Vijayakumar Anu, Jain R Brindha, Pinky T Carol, Pauline CR Diana, Jackuline D Elsy, and Sharma Garima (2020)

Does Body Mass Index affect Tooth Eruption Sequence? A Study among 6-7 Years Old Schoolchildre n in Chennai, India

Vol. 13 (no. 3)

D : Penelitian ini

memasukkan data ke dalam Microsoft Excel 2007 dan dianalisis menggunakan SPSS versi 16, uji Chi-square, uji z, dan uji korelasi Spearman

S : Populasi ini yaitu 529 anak usia 6-7 tahun

V : Berat anak menggunakan timbangan, tinggi timbangan diukur menggunakan pita penjahit, mengecek erupsi gigi menggunakan kaca mulut

I :Pemeriksaan intra oral dan IMT/BMI

Terdapat hubungan antara erupsi gigi permanen dengan IMT, jenis kelamin dan nutrisi

Pubmed

Sebagian besar artikel menggunakan desain cross sectional ( 9 artikel) dan deskriptif analitik (3 artikel). Seluruh artikel menggunakan ukuran sampel besar hingga sedang dengan ukuran sampel terbesar yaitu 3.166 responden dan terkecil yaitu 45 responden.

Kualitas studi dari masing-masing artikel relatif tinggi. Seluruh studi yang sesuai berdasarkan topik literature review dilakukan di berbagai macam negara yaitu Indonesia (Jasmine et al.,2021; Sitinjak et al., 2019; Lailasari et al., 2018), India (Subramaniam &

Pagadala, 2020; Bagewadi et al., 2016; Anu et al., 2020), Brazil (Evangelista et al., 2018; Arid et al., 2017), Pakistan (Hassan & Shahid, 2018) dan Lebanon ( Nassif et al.,2020).

(10)

Berdasarkan hasil literature review pada 10 jurnal, didapatkan beberapa faktor-faktor penyebab keterlambatan erupsi gigi permanen. Uraian secara sistematis dapat dilihat pada tabel 3

Tabel 3 Faktor penyebab terlambatnya erupsi gigi permanen No. Faktor-faktor penyebab

terlambatnya erupsi gigi permanen

Artikel Terkait

1.  Jenis kelamin

 Status gizi

Nagaratna B. Bagewadi, Hemanth Kumar, Shivanand B. Bagewadi, Vijay Kumar, Ganesh Shenoy Pachmal, Z.

Manva Mohnish 2.  Status gizi

 Jenis kelamin

Evangelista, S., Vasconcelos, K. R. F., Xavier, T. A., Oliveira, S., Dutra, A. L. T., Nelson-Filho, P.,& Küchler, E. C.

3.  Status gizi

 Jenis kelamin

 Genetik

Arid, J., Vitiello, M. C., da Silva, R. A. B., da Silva, L. A. B., de Queiroz, A. M., Küchler, E. C., & Nelson-Filho, P.

4.  Sosial ekonomi

 Genetik

 Jenis kelamin

Nassif, N., & Sfeir, E.

5.  Status gizi Sadia Hassan, Hassan Shahid 6.  Status gizi

 Nutrisi

 Jenis kelamin

Annisah Biancika Jasmine1, Mohammad Zulkarnain, Rico Januar Sitorus

7.  Nutrisi

 Jenis kelamin

Della Lailasari, Yuliawati Zaenab, Erna Herawati, Indah Suasani Wahyuni 8.  Jenis kelamin

 Genetik

 Status gizi

Agnes C. H. Sitinjak, Paulina N.

Gunawan, Pritartha S. Anindita 9.  Jenis kelamin

 Status gizi

 Hormonal

Priya Subramaniam, Raksha Pagadala

10.  Status gizi

 Jenis kelamin

 Nutrisi

Vijayakumar Anu, Jain R Brindha, Pinky T Carol, Pauline CR Diana, Jackuline D Elsy, and Sharma Garima

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui faktor resiko yang mempengaruhi keterlambatan erupsi gigi dari hasil rangkuman literatue review pada 10 jurnal yaitu jenis kelamin, status gizi, sosial ekonomi, genetik, hormonal, dan nutrisi

Erupsi gigi didefinisikan sebagai pergerakan akar gigi dan gigi dari tempat perkembangan aslinya dalam proses alveolar ke posisi fungsionalnya di rongga mulut.

Erupsi gigi permanen adalah peristiwa yang teratur, berurutan, dan sesuai usia dan dianggap sebagai tonggak penting selama perkembangan anak. Erupsi gigi diakui

(11)

sebagai aspek penting dari pertumbuhan dan perkembangan manusia. Ini dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, dan mungkin mencerminkan perkembangan umum tubuh anak.

Erupsi gigi adalah aspek penting dari pertumbuhan dan perkembangan manusia. Ini dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, dan mungkin mencerminkan perkembangan umum tubuh anak.

Faktor Penyebab Terlambatnya Erupsi Gigi Permanen

Berdasarkan hasil literature review pada 10 jurnal, telah didapatkan beberapa faktor yang menyebabkan keterlambatan erupsi gigi permanen, yaitu jenis kelamin, status gizi, sosial ekonomi, genetik, hormonal, dan nutrisi (Anu et al., 2020; Hassan & Shahid, 2018;

Lailasari et al., 2018; Sitinjak et al., 2019; Subramaniam & Pagadala, 2020; Bagewadi et al., 2016; Jasmine , 2021; Evangelista et al., 2018; Arid et al., 2017; Nassif et al., 2020 )

Erupsi gigi permanen dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya yaitu jenis kelamin. Pada umumnya erupsi gigi pada anak perempuan lebih cepat dibandingkan pada anak laki-laki karena maturasi/tingkat kematangan pada anak perempuan lebih cepat daripada pada anak laki-laki ( Subramaniam & Pagadala, 2020; Bagewadi et al., 2016).

Indeks massa tubuh/body mass index membantu dalam menentukan kelompok status gizi pada anak dengan bantuan tinggi badan dan berat badan anak. Anak yang memiliki gizi kurus cenderung mengalami keterlambatan erupsi gigi permanen, pada anak yang memiliki gizi normal mengalami ketepatan erupsi gigi permanen sesuai pada waktunya, sedangkan pada anak yang memiliki gizi gemuk/obesitas cenderung mengalami percepatan dalam erupsi gigi permanen (Hassan & Shahid, 2018;

Subramaniam & Pagadala, 2020; Bagewadi et al., 2016; Lailasari et al., 2018).

Tinggi badan dan berat badan adalah penanda fisik dari pertumbuhan dan perkembangan seorang anak dan hal tersebut memiliki hubungan dengan erupsi gigi permanen (Sitinjak et al., 2019). Hal ini juga didukung oleh pernyataan Anu et al., (2020) yang menyatakan bahwa adanya pengaruh yang signifikan secara statistik hubungan antara indeks massa tubuh/body mass index pada erupsi gigi I1, namun tidak ada hubungan antara indeks massa tubuh/body mass index pada erupsi gigi M1.

Pernyataan Anu et al., (2020) dapat didukung oleh pernyataan Lailasari et al., (2018) yang menyatakan bahwa status gizi secara umum memiliki pengaruh yang signifikan perbedaan tetapi memiliki korelasi positif yang lemah. Hal ini menunjukkan bahwa status gizi memiliki peran kecil dalam mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan erupsi gigi permanen.

Tingkat sosial ekonomi yang rendah juga mempengaruhi keterlambatan erupsi gigi permanen. Hal ini sejalan dengan penelitian Arid et al. (2017) ketika status sosial ekonomi meningkat, semakin banyak jumlah gigi yang erupsi sesuai dengan usia. Anak dari keluarga dengan tingkat sosial ekonomi rendah, mengalami ketelambatan erupsi gigi karena kurangnya asupan makanan yang bergizi untuk tubuhnya. Hal ini juga sejalan dengan penelitian Jasmine et al. (2021) yang berhubungan dengan gangguan nutrisi yang terjadi kemugkinan disebabkan oleh tingkat penndidikan dan status sosial ekonomi yang rendah serta pekerjaan oerang tua. Kurang nya mendapatkan informasi yang memadai

(12)

mengenai cara mengasuh anak, menjaga kesehatan anak dan pola konsumsi yang baik untuk anak.

Faktor genentik berpengaruh dalam perkembangan gigi serta erupsi gigi anak.

Kelompok orang yang memiliki etnis/ras yang berbeda menunjukkan perbedaan dalam pola dan waktu erupsi gigi permanen. Hal tersebut juga bergantung pada genetika populasi karena variabilitas etnis. Pertumbuhan dan perkembangan erupsi gigi permanen pada populasi masyarakat Barat dengan masyarakat India tidak dapat disamakan karena kedua populasi tersebut memiliki perbedaan dalam pola dan waktu erupsi gigi permanen (Anu et al., 2020; Khan et al., 2020; Subramaniam & Pagadala, 2020).

Pernyataan Evangelista et al. (2018) anak-anak yang kelebihan berat badan/obesitas memiliki rata-rata jumlah gigi permanen yang lebih tinggi secara statistik. Temuan ini dapat dijelaskan oleh fakta bahwa anak-anak yang kelebihan berat badan dan obesitas mengalami perubahan metabolisme hormonal dan pubertas lebih awal. Jadi, ada kemungkinan bahwa ini adalah mekanisme yang terkait dengan perubahan waktu erupsi gigi.

Kecukupan nutrisi dalam tubuh dipengaruhi oleh cara mengonsumsi, jenis dan waktu pemberian makanan yang semuanya akan berpengaruh pada kesehatan gigi dan mulut. Hal ini sejalan dengan penelitian Jasmine et al (2021), Kondisi malnutrisi dalam jangka waktu yang lama pada anak akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tulang.

Asupan kalsium, fosfor, vitamin C dan vitamin D sangat penting sehingga kekurangan zat-zat tersebut dapatmenghambat pertumbuhan tulang, termasukperkembangan gigi dan perlambatan waktu erupsi gigi. Hal ini juga sejalan dengan lailasari et al (2018) Kekurangan nutrisi berhubungan dengan erupsi gigi, sehingga dapat mempengaruhi perkembangan gigi karena peran nutrisi untuk jaringan mulut tidak berbeda dengan jaringan organ tubuh lainnya. Kurangnya asupan karbohidrat, protein, lemak, yodium, kalsium, magnesium, fosfor, vitamin C, dan vitamin D selama masa pertumbuhan dan perkembangan gigi dapat menyebabkan erupsi gigi tertunda

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil literature review dapat disimpulkan bahwa penyebab terlambatnya erupsi gigi permanen pada anak, yaitu:

1. Jenis kelamin 2. Status gizi 3. Sosial ekonomi 4. Genetik

5. Hormonal 6. Nutrisi

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, P. (2014). Perbandingan Waktu Erupsi Gigi MI Permanen Mandibula Antara Anak Laki-Laki Dan Perempuan Di Ta’mirul Islam Surakarta Tahun 2014.

http://eprints.ums.ac.id/id/eprint/31234

Almonaitiene, R., & Tutkuviene, J. (2010). Factors Influencing Permanent Teeth Eruption The Breast Size Satisfaction Survey: An International, Collaborative Project View

(13)

Project Time And Sequence Of Permanent Teeth Emergence ViewProject.inresearchgate.net.https://www.researchgate.net/publication/286211392 Amelia, C. P., Chemiawan, E., & Hidayat, S. (2016). <p>Gambaran Erupsi Gigi Pada Anak

Kembar</P><P>Description Of Tooth Eruptions In Twins</p>. Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, 28(2), 101–105. https://doi.org/10.24198/jkg.v28i2.18703 Anastasya Sinaga, L., Kartika Apriyono, D., Novita Fakultas Kedokteran Gigi, M., Jember

Bagian Odontologi Forensik, U., Kedokteran Gigi, F., & Jember, U. (2018). Gambaran Erupsi Gigi Permanen pada Anak Sindrom Down Usia 10-16 Tahun di Sekolah Luar Biasa Kabupaten Jember. In Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences (Vol.

1). http://ojs.unud.ac.id/index.php/ijlfs

Anu, V., Brindha, J. R., Carol, P. T., Diana, P. C., Elsy, J. D., & Garima, S. (2020). Does Body Mass Index affect Tooth Eruption Sequence? A Study among 6-7 Years Old Schoolchildren in Chennai, India. International Journal of Clinical Pediatric Dentistry, 13(3), 261–263. https://doi.org/10.5005/jp-journals-10005-1762

Arid, J., Vitiello, M. C., da Silva, R. A. B., da Silva, L. A. B., de Queiroz, A. M., Küchler, E.

C., & Nelson-Filho, P. (2017). Nutritional Status Is Associated With Permanent Tooth Eruption Chronology. Brazilian Journal of Oral Sciences, 16, 1-7.

https://doi.org/10.20396/bjos.v16i0.8650503

Aritonang, I. (2011). Menilai Status Gizi Untuk Mencapai Sehat Optimal. Leutika dengan CEBios, 7-34.

Bagewadi, B. N., Kumar, H., Bagewadi, B. S., Kumar, V., Pachmal, S. G., & Mohnish, M. Z.

(2020). Comparison Of Chronology Of Teeth Eruption With Body Mass Index Among School Children At Mangalore: A Cross-Sectional Study. DOI: 10.4103/2319- 5932.189835

Blenkin, M., & Taylor, J. (2012). Age Estimation Charts For A Modern Australian Population. Forensic Science International , 221 (1-3), 106-112.

https://doi.org/10.1016/j.forsciint.2012.04.013

Cakrawati, D., & NH, M. (2012). Bahan Pangan, Gizi dan, Kesehatan. ALFABETA,cv, 26- 28.

Coban, B., & Kansu, L. (2018). Timing And Sequence Of Eruption Of Primary Teethin Southern Turkish Children. 2(3), 199–205. https://doi.org/10.30565/medalanya.432277 Dahliansyah, D., Hanim, D., Pediatri, H. S.-S., & 2018, undefined. (n.d.). Hubungan

Pemberian ASI Eksklusif, Status Gizi, dan Kejadian Diare dengan Perkembangan Motorik pada 1000 Hari Pertama Kehidupan. Saripediatri.Org. Retrieved April 23, 2021, from https://saripediatri.org/index.php/sari-pediatri/article/view/1352

De Souza, N., Manju, R., & Hegde, A. (2018). Development And Evaluation Of New Clinical Methods Of Age Estimation In Children Based On The Eruption Status Of Primary Teeth. Journal of Indian Society of Pedodontics and Preventive,Dentistry,36(2),185–190. https://doi.org/10.4103/JISPPD.JISPPD_121_17

(14)

Evangelista, S., Vasconcelos, K. R. F., Xavier, T. A., Oliveira, S., Dutra, A. L. T., Nelson- Filho, P., ... & Küchler, E. C. (2018). Timing Of Permanent Tooth Emergence Is Associated With Overweight/Obesity In Children From The Amazon Region. Brazilian Dental Journal, 29, 465-468. https://doi.org/10.1590/0103- 6440201802230

Gunawan, G., Fadlyana, E., & Rusmil, K. (2016). Hubungan Status Gizi dan Perkembangan Anak Usia 1 - 2 Tahun. Sari Pediatri, 13(2), 142.

https://doi.org/10.14238/sp13.2.2011.142-6

Hassan, S., & Shahid, H. (2018). Assesment of Eruption of Permanent Teeth According To Age And Its Relation With Body Mass Index In Local Population. Journal of The Pakistan Dental Association, 27(03), 127–132. https://doi.org/10.25301/jpda.273.127 Jasmine, A. B. (2021). Faktor Risiko Status Gizi Dan Erupsi Gigi Tetap Premolar-2 Pada

Anak Usia 10 Tahun Di Kecamatan Tuah Negeri. Jpp (Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang), 16(1), 15-21. https://doi.org/10.36086/jpp.v16i1.663

KEMENKES. (2019). Peraturan Menteri Kesehatan republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 Tentang Angka Kecukupan Gizi Dinajurkan Untuk Masyarakat Indonesia.

KEMENKES. (2020). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020 Tentang Standar Antropometri Anak.

Khan, A. S., Nagar, P., Singh, P., & Bharti, M. (2020). Changes in the Sequence of Eruption of Permanent Teeth ; Correlation between Chronological and Dental Age and Effects of Body Mass Index of 5 – 15-year-old Schoolchildren.

https://dx.doi.org/10.5005%2Fjp-journals-10005-1797

Lailasari, Della, Zenab, Y., Herawati, E., Indah, & Wahyuni, S. (2018). Correlation Between Permanent Teeth Eruption And Nutrition Status Of 6-7-Years- Oldchildren.Jurnal.Unpad.Ac.Id. https://doi.org/10.24198/pjd.vol30no2.18322

Marjianto, A., Sylvia, M., & Waluyo, S. (2019). Permanent Tooth Eruption Based On Chronological Age And Gender In 6-12-Year Old Children On Madura. Dental Journal, 52(2), 100-104. doi: 10.20473/j.djmkg.v52.i2.p100.104.

Mujiyati, M., (2015)Hubungan Berat Badan Dengan Erupsi Gigi Molar Pertama Permanen Rahang Bawah Anak Usia 5-8 Tahun Di Kelurahan Bukit Lama.

Jurnal.Poltekkespalembang.Ac.Id. Retrieved April 21, 2021, from https://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/index.php/jpp/article/view/51

Nassif, N., & Sfeir, E. (2020). Age and Sequence of Permanent Teeth Eruption in Lebanese Children. The Scientific World Journal, 2020. https://doi.org/10.1155/2020/9238679 Oktaviana, I. R. (2016). Derajat Erupsi Gigi Anak Usia 7 Tahun pada Etnis Arab di SD Al

Irsyad Surabaya. Jurnal Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, 5(3).http://journal.unair.ac.id

Noori, A. J., Hussein, S. A., & Ali, D. A. (2015). Height, Weight And The Number Of Erupted Permanent Teeth Among 6-16 Years Old Children in Sulaimani City.Sulaimani Dental Journal, 2(2), 61–66. https://doi.org/10.17656/sdj.10040

(15)

Popple, B., Wall, C., Flink, L., Powell, K., Discepolo, K., Keck, D., Mademtzi, M., Volkmar, F., & Shic, F. (2016). Brief Report: Remotely Delivered Video Modeling for Improving Oral Hygiene in Children with ASD: A Pilot Study. Journal of Autism and Developmental Disorders, 46(8), 2791–2796. https://doi.org/10.1007/s10803-016-2795-4 Praveen Kumar Ashok, Kumud Upadhyaya. Tannins are Astringent. 3, 2012, Journal of

Pharmacognosy and Phytochemistry, Vol. 1, pp. 45-50.

https://www.phytojournal.com/archives?year=2012&vol=1&issue=3&ArticleId=21 Ria, N., & Simaremare, S. A. (2020). Pengetahuan Ibu Tentang Masa Pertumbuhan Gigi

Terhadap Kondisi Gigi Anak. Jurnal Ilmiah PANNMED (Pharmacist, Analyst, Nurse, Nutrition, Midwivery, Environment, Dentist), 15(2), 329–332.

https://doi.org/10.36911/pannmed.v15i2.770

Sinta, I., Vijayakumar, A., & Srimathi, P. (2015). Effect Of Micronutrient Application in Coriander (Coriandrum Sativum L.) cv. CO4. African Journal of Agricultural

Research, 10(3), 84–88.

http://www.academicjournals.org/article/article1421150204_Sinta et al.pdf

Sitinjak, A. C. H., Gunawan, P. N., & Anindita, P. S. (n.d.). Hubungan Status Gizi dengan Erupsi Gigi Molar Pertama Permanen Rahang Bawah pada Anak Usia 6-7 Tahun di SD Negeri 12 Manado. In ejournal.unsrat.ac.id. Retrieved April 21,2021, from https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/egigi/article/view/23308

Subramaniam, P., & Pagadala, R. (2020). Association Of Eruption Timing First Permanent Molars And Incisors With Body Mass Index Of Children In Bengaluru City.

DOI: 10.4103/jiaphd.jiaphd_81_19 Tarigan, R. (2013). Karies gigi. EGC. 10-38

Trianah, A. (2019). Variasi Erupsi Gigi Permanen Pada Anak Laki-Laki Dan Perempuan Usia 5.5-6.4 Tahun Berdasarkan Asupan Asi (Pengamatan di Raudhatul Athfal Kartini dan. http://repository.unair.ac.id/id/eprint/98601

Variani, R. (2018). Perbandingan Waktu Erupsi Gigi Susu Incisivus Pertama Pada Bayi Usia Yang DIberi Susu ASI dan yang Diberi Susu Formula. Jurnal Info Kesehatan,Vol16,No.1,pp.21-31. https://doi.org/10.31965/infokes.Vol16.Iss1.166

Verma, N., Bansal, A., Tyagi, P., Jain, A., Tiwari, U., & Gupta, R. (2017). Eruption Chronology in Children: A Cross-sectional Study. International Journal of Clinical Pediatric Dentistry, 10(3), 278–282. https://doi.org/10.5005/jp-journals-10005-1450 Waworuntu, F. (2016). Pola Erupsi Gigi Permanen Ditinjau Dari Usia Kronologis Dan

Jenis Kelamin Pada Anak Sekolah Menengah Pertama Di Kota Bandung.

https://repository.unpad.ac.id/frontdoor/index/index/year/2020/docId/17525

Windiyati, W., & Arismawati, S. (2018). Evaluasi Antara Pemberian Asi Secara Eksklusif Dan Pemberian Susu Formula Pada Bayi 0-6 Bulan Dengan Percepatan Pertumbuhan Gigi Pertama Kali Pada Bayi Usia 6-12 Bulan Di Uptd Puskesmas Kecamatan Pontianak Kota Tahun 2017. Jurnal Kebidanan, 7(2), 70–76.

https://doi.org/10.33486/jk.v7i2.2.

(16)

Yusrina, A., & Devy, S. R. (2017). Faktor yang Mempengaruhi Niat Ibu Memberikan Asi Eksklusif di Kelurahan Magersari, Sidoarjo. Jurnal Promkes, 4(1), 11-21 https://doi.org/10.31965/infokes.Vol16.Iss1.166

Gambar

Tabel 1 Kriteria Inklusi dan Eksklusi
Tabel 2 menyajikan rangkuman hasil literature review tentang faktor faktor penyebab  terlambatnya erupsi gigi permanen pada anak
Tabel 3 Faktor penyebab terlambatnya erupsi gigi permanen  No.  Faktor-faktor penyebab

Referensi

Dokumen terkait

Hasil literature review ketepatan kode diagnosa yang didapatkan dari jurnal peneliti lakukan berdasarkan Studi literature Review dengan pendekatan metode analisis ditemukan

Berdasarkan analisis yang sudah dibuat menggunakan perbandingan literature review dari beberapa jurnal, didapatkan bahwa metode scrum didalam beberapa kriteria

2 Merumuskan PICOS Tabel 3.1 Format PICOS dalam literature review Kriteria Inklusi Eksklusi Population Gambaran masa menstruasi terhadap kadar hemoglobin tidak ada gambaran

38 Tabel 4.1 Hasil Pencarian Literature untuk Literature Review...46 Tabel 4.2 Jurnal yang memenuhi kriteria inklusi...48 Tabel 4.3 rangkuman dukungan keluarga terhadap anak

Rencana Penyajian Hasil Literature Review Jurnal penelitian yang sesuai dengan kriteria inklusi kemudian dikumpulkan dan dibuat ringkasan jurnal meliputi nama penulis, tahun

Tabel 3.2 PICOS Literature Review Kriteria Inklusi Eksklusi Population Studi terdiri dari kelompok pasien pre operasi dengan kecemasan ringan hingga berat Kelompok pasien pre

Tabel 3.3 Tabel Jurnal Sesuai Kriteria Inklusi Eksklusi NO Penulis Judul Populasi Metode Desain, Sample, Instrumen Hasil Penelitian Outcomes Kesimpulan 1 Gina Agustina

6 Tabel 2.2 Format PEOS dalam Literature Review Kriteria Inklusi Eksklusi Population / populasi Dokumen rekam medis di Rumah Sakit Bukan dokumen rekam medis Exposure /