• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Indonesia menjadi negara yang memiliki potensi keindahan alam dan berbagai macam budaya yang dapat menjadikan salah satu tujuan wisata yang populer di dunia Provinsi Sumatera Barat adalah salah satu daerah yang cukup terkenal di dunia yang mempunyai potensi wisata alam, budaya dan sejarah (Hardiyanto, Soejanto, & Berlianty, 2018). Potensi wisata alam daerah pada daerah Sumatra Barat yang terletak pada desa Nagari Tuo Pariangan Kabupaten Tanah Datar mendapatkan penghargaan seperti, salah satu objek wisata menarik dan unik.

Nagari Tuo Pariangan merupakan sejarah nenek moyang tertua di Minangkabau terdapat 22 suku dan 22 niniak mamak suku atau 101 Niniak maka Paruik, sesuai dengan adat sekitar desa nagari pariangan. Ada 7 destinasi di Nagari Tuo Pariangan yang terindah dunia seperti Masjid Islah, Kuburan Panjang, Balai Nan Saruang, Lapangan Maharajo Dirajo, Rumah Gadang Datuk Maharajo Depang, Puncak Kawa dan Puncak Mortir dan Air Terjun (Mózo, 2017).

Desa Pariangan mendapatkan penghargaan dari media pariwisata Travel Budget Magazine USA pada 2012 yang mempunyai potensi wisata sebagai desa terindah dan tradisi budaya yang masih sangat kental di tingkat internasional. Hal ini dapat membuktikan bahwasannya Desa Nagari Pariangan mampu sebanding dengan desa-desa yang terkenal di belahan dunia seperti wisata Niagara on The Lake berlokasi pada negara canada, wisata Cresky Krumlovv berlokasi pada negara Republik Ceko, wisata Wengen berlokasi pada negara Swiss, wisata Shirakawa go berlokasi pada negara Jepang serta wisata Eze berlokasi pada Prancis. Adapun media Travel Budget Magazine USA adalah media massa berupa majalah internasional yang memantau wisata alam dunia dianggap indah dan memiliki budaya leluhur kuat, untuk itu Indonesia mempunyai kriteria desa wisata alam indah (Wanda Gustri Yomi, M. Fachri Yomi, M. Fachri Adnan, 2018). Hal ini dapat

(2)

2

dibuktikan dengan adanya Rumah Gadang DT. Kyo dan Rumah Gadang Datuk Maharajo Depang yang mempunyai keunikan pada rangka, lesung, dibangun tanpa menggunakan paku, tetapi menggunakan pasak untuk menyatukan seluruh tiang Arsitektur yang pertama kali membangun rumah gadang bernama Tantejo Gurhano.

Namun pengembangan wisata di Kabupaten Tanah Datar terdapat permasalahan adalah pertama minimnya fasilitas yang diberikan kepada kelompok sadar wisata (Pokdarwis) terhadap pelayanan, seperti toko cinderamata, fasilitas hotel, fasilitas rumah makan dan petunjuk arah Kedua minimnya anggaran yang diberikan pada Pemerintah Daerah terhadap pengembangan objek wisata Nagari Tuo Pariangan, seperti memberikan fasilitas dan sarana prasarana pariwisata.

Ketiga tingkat kesadaran masyarakat kurang dalam memanfaatkan atau mengelola objek Wisata Nagari Tuo Pariangan. Menurut Kepala Bidang Pariwisata Kabupaten Tanah Datar mengatakan “pembangunan objek wisata Nagari Tuo Pariangan dapat dilaksanakan yang sesuai dengan APBD Sumatera Barat, akan tetapi APBD yang diberikan Pemprov kepada PemKab belum cukup dalam mendanai pengembangan Objek wisata Nagari Tuo Pariangan”. Artinya adalah pendanaan yang diberikan Pemprov terhadap Pemkab APBD belum cukup yang mampu memberikan pengembangan objek wisata Nagari Tuo Pariangan secara tepat. Oleh sebab itu pemerintah khususnya bidang Pariwisata mempunyai kewenangan dalam menerapkan berupa memberikan pemahaman pada masyarakat dalam keterlibatannya untuk mengelola objek wisata Nagari Tuo Pariangan.

Pengembangan pariwisata Nagari Tuo Pariangan yang merupakan tugas dan fungsi dalam memenuhi tanggung jawab pada masyarakat yaitu Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tanah Datar. Sedangkan pengertian pengembangan pariwisata adalah suatu perubahan dalam upaya untuk mewujudkan tujuan yang terdapat pada pariwisata berkaitan dengan daya tarik suatu objek wisata yang membuat pengunjung luar (mancanegara) dan pengunjung secara lokal (Palimbunga, 2017). Menurut Peraturan Menteri Pariwisata Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2018 tentang pengembangan daya tarik wisata mempunyai tujuan untuk melakukan suatu perubahan yang membuat pengunjung luar (mancanegara)

(3)

3

maupun pengunjung di dalamnya sebagai upaya peningkatan dalam fasilitas berupa pembuatan jalan, pembangunan pusat informasi wisata, dan pembangunan pusat kuliner (Malik et al., 2020). Dalam upaya untuk mewujudkan tujuan yang terdapat pada pariwisata berkaitan dengan daya tarik suatu objek wisata yang membuat Rencana Strategis (Renstra) Disparpora.

Peraturan daerah Kabupaten Tanah Datar Nomor 5 tahun 2017 tentang perubahan atas peraturan daerah Kabupaten Tanah Datar nomor 6 tahun 2016 tentang rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) tahun 2016- 2021, untuk menjalankan fungsi dan kewajiban pemerintah, serta penerapan pertanggungjawaban kinerja pemerintah,pencapain target dan tujuan pembangunan pariwisata, pemuda dan olahraga dengan penyusunan Perubahan Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tanah Datar.

Rencana strategis (Renstra) Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tanah Datar tahun 2016-2021 yaitu (aditya wujaya, 2018): Pertama menaikkan peranan pemuda pada pembangunan untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing pemuda. Kedua menumbuh kembangkan minat olahraga di tengah-tengah masyarakat dengan menaikkan kualitas, kualitas wahana, prasarana olahraga dan menaikkan kiprah organisasi olahraga. Ketiga melibatkan Tanah Datar sebagai wisata unggulan di daerah Sumatera Barat dan Nasional serta Internasional dengan berbagai destinasi pariwisata halal berbasis budaya dan alam dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, dan menaikkan pemasaran pariwisata. Dinas Pariwisata mempunyai salah satu Program Pengembangan Destinasi wisata unggulan pariwisata.

Sedangkan pariwisata adalah tempat hiburan kegiatan yang berkaitankan dengan masyarakat dalam melakukan suatu perjalanan atau rekreasi wisata untuk mengunjungi objek wisata pada daerah Indonesia (Juardi; Handani, Dani; Sukarni, Novita, 2020). Untuk itu pemerintah Kabupaten Tanah Daerah berupaya mengembangkan objek wisata yang memperlihatkan peran masyarakat terhadap pelaksanaan pengelolaan yaitu Pokdarwis. Pemerintah Kabupaten Tanah Datar khusus bidang Pariwisata membentuk organisasi kelompok sadar wisata

(4)

4

(Pokdarwis) adalah perencanaan dan pembangunan wisata yang berupaya membuat suatu kegiatan atau program dimana masyarakat terlibat secara langsung dalam membangun wisata yang menarik pengunjung wisatawan lokal maupun mancanegara.

Pokdarwis mempunyai tujuan sebagai berikut ini : pertama, meningkatkan peran masyarakat sebagai aktor penting dalam pembangunan wisata lokal serta memiliki pengetahuan dan berkualitas yang mampu berdaya saing terhadap objek- objek wisata tersebut. kedua, membangun sumber daya manusia secara disiplin terhadap sikap dan perilaku, agar melayani wisatawan lokal dan mancanegara secara baik dan sopan. Ketiga, mempromosikan objek wisata ke akun media sosial seperti Facebook (FB), Instagram (IG), Twitter Dan Website Pemerintah Kabupaten Tanah Datar bernama @pesonatanahdatar. Menurut penelitian terdahulu dapat mendeskripsikan bahwa dalam pengembangan teknologi yang mempunyai dampak terbesar pada bidang pariwisata dapat menunjukkan bahwa tingkatan dalam menginformasikan melalui akun media sosial sangat tinggi hal ini dikarenakan kemudahan mengakses informasi melalui media sosial guna untuk mempromosi wisata pada wisatawan lokal (Anggareta, Octaviany, & Achmad, 2020).

Dalam penggunaan media sosial wisatawan dapat membuka akun media sosial melalui situs resmi website milik pemerintah daerah bernama pesona tanah data (arif wardana, 2018). Layanan website dan media sosial bertujuan untuk mempermudah masyarakat dalam komunikasi dan interaksi yang dapat menggunakan teknologi modern pada era sekarang. Kecanggihan teknologi informasi dalam pemerintahan yang berbasis online pada pemerintah khususnya bidang pariwisata yang mempunyai program pengembangan destinasi wisata unggul berupa iklan online, gmail, dan pemasaran afiliasi yang mencakup kegiatan- kegiatan tersebut (Setiyorini, Farida, & Kristiyana, 2018).

Kegiatan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Nagari Tuo Pariangan adalah membentuk bimbingan teknologi yang melakukan pelatihan tata kelola destinasi

(5)

5

wisata Kabupaten Tanah Datar yang dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tanah Datar, khususnya bidang Pariwisata di Hotel Emersia Batusangkar tanggal 9 september 2020. Dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia pengelola destinasi wisata di Kabupaten Tanah Datar yang diikutsertakan masyarakat berjumlah 40 orang dalam mengelola destinasi wisata Kabupaten Tanah Datar.

Menurut data pengunjung wisata Nagari Tuo Pariangan Kabupaten Tanah Datar dari tahun 2015-2019 sebagai berikut (Badan Pusat Statistik Kabupaten Tanah Datar, 2021): Tahun 2015 mengalami kenaikan Penduduk mancanegara jumlah kunjungan sebesar 936 Orang dan Penduduk Lokal sebesar 7.253 Orang jadi total keseluruhan 8.189 Orang. Tahun 2016 mengalami kenaikan pada Penduduk mancanegara berjumlah 1.756 Orang dan Penduduk Lokal berjumlah 10.634 Orang jadi total keseluruhan 12.390 Orang. Tahun 2017 mengalami penurunan pada pengunjung mancanegara berjumlah 1.638 Orang dan penduduk Lokal berjumlah 45.760 mengalami peningkatan jadi secara keseluruhan pengunjung berjumlah 47.398 Orang. Tahun 2018 pengunjung mancanegara mengalami penurunan lagi 1.057 Orang dan penduduk Lokal peningkatan 244.334 Orang, jadi total keseluruhan 245.391 Orang. Dan Tahun 2019 mengalami penurunan jumlah wisata mancanegara 406 Orang dan pengunjung Lokal 241.603 Orang, jadi total keseluruhan 242.009 Orang.

Sebagaimana menurut UU No. 10 Tahun 2009 Pasal 1 Pariwisata yang membahas tentang fasilitas dapat mendukung dengan adanya pelayanan atau ketersediaan pemerintah terhadap masyarakat, masyarakat dengan swasta atau pemerintah daerah dengan pemerintah pusat lainnya yang mampu mengembangkan pada sektor pariwisata (Hendrita, 2017). Dalam visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Tanah Datar menetapkan pengembangan sektor pariwisata sebagai salah satu faktor pendukung dalam pengelolaan destinasi wisata pada desa Nagari Tuo Pariangan. Upaya untuk melaksanakan pengembangan pariwisata guna untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai pengelola destinasi wisata dengan melalui peran pemerintah daerah. Hal ini dapat dilihat melalui

(6)

6

program pelaksanaan pelatihan melalui Pokdarwis, pengusaha kuliner, pemandu wisata dan pengelola homestay.

Menurut pedoman Kelompok Sadar Wisata berbasis masyarakat adalah pelaksanaan pembangunan wisata yang melibatkan peran masyarakat serta pemerintah sebagai fasilitator dalam pembuatan program kebijakan yang mampu mengembangkan destinasi wisata (arif wardana, 2018). Pokdarwis sebagai pendorong destinasi wisata yang maju yang melibatkan masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan dan pengembangan pariwisata pada desa pariangan.

Pemerintah daerah selaku pembuat pelaksanaan program dan menyediakan fasilitator seperti sarana dan prasarana serta peningkatan promosi dan peningkatkan pembinaan objek wisata/pokdarwis. Namun dalam pelaksanaan dan pengembangan yang belum mengoptimalkan fungsi dan peran sebagai kelompok sadar wisata.

Permasalahannya adalah peran dan fungsi masyarakat yang kurang memahami terhadap pelaksanaan Pokdarwis sebagai partisipasi dalam mengembangkan program pembangunan pariwisata yang berbasis masyarakat dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Dari permasalahan yang di atas dapat menggambarkan seperti proses pengembangan yang belum menonjolkan objek wisata Nagari Tuo Pariangan Kabupaten Tanah Datar yang dikelola kelompok sadar wisata (Pokdarwis), karena kurangnya pemahaman masyarakat dalam mengelola wisata Nagari Tuo Pariangan. Maka peneliti mengangkat judul tentang “Pengembangan Daerah Tujuan Wisata Nagari Tuo Pariangan Kabupaten Tanah Datar”.

1.2 Rumusan Permasalahan

1. Bagaimana Pengembangan Daerah Tujuan Wisata Nagari Tuo Pariangan Kabupaten Tanah Datar ?

2. Apa hambatan Pemerintah terhadap Pengembangan Daerah Tujuan Wisata Nagari Tuo Pariangan Kabupaten Tanah Datar ?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui Pengembangan Potensi Wisata Nagari Tuo Pariangan Kabupaten Tanah Datar.

(7)

7

2. Untuk mengetahui hambatan pemerintah terhadap Pengembangan Daerah Tujuan Wisata Nagari Tuo Pariangan Kabupaten Tanah Datar

1.4 Manfaat Penelitian a) Manfaat Akademis

1) Dapat memberikan informasi dan pengetahuan tentang Pengembangan Daerah Tujuan Wisata Nagari Tuo Pariangan di Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tanah Datar.

2) Hasil penelitian mengharapkan mampu sebagai acuan bagi peneliti selanjutnya dan berguna untuk mahasiswa maupun dosen.

b) Secara Praktis

1) Untuk memberikan rekomendasi Pemerintah daerah terhadap memperbaiki kinerja terutama pada Pengembangan Daerah Tujuan Wisata Nagari Tuo Pariangan Kabupaten Tanah Datar.

c) Manfaat Teoritis

1) Hasil penelitian mampu memberikan wawasan dan pengetahuan terhadap Pengembangan Daerah Tujuan Wisata Nagari Tuo Pariangan yang berada di Desa Nagari Pariangan Kabupaten Tanah Datar.

2) Mampu memberikan teori tentang pengembangan pariwisata dan wisata.

1.5 Definisi Konseptual

Definisi Konseptual adalah untuk memberikan penjelasan mengenai makna dari suatu permasalahan yang diangkat oleh peneliti. Maka dengan adanya penjelasan yang diberikan mampu mempermudah dalam memahami permasalahan yang diangkat oleh penelitian terkait. Sedangkan definisi konsep yang digunakan peneliti sebagai berikut :

a. Konsep Pengembangan

Menurut Moekijat, pengembangan adalah perubahan secara dinamis yang dilakukan sekelompok orang guna untuk mendapatkan kesejahteraan dan mencapai tujuan. Menurut Peraturan Menteri Pariwisata Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2018 tentang pengembangan daya tarik wisata mempunyai tujuan untuk melakukan suatu perubahan yang membuat pengunjung luar

(8)

8

(mancanegara) maupun pengunjung di dalamnya sebagai upaya peningkatan dalam fasilitas berupa pembuatan jalan, pembangunan pusat informasi wisata, dan pembangunan pusat kuliner (Malik et al., 2020).

Adapun pendapat para ahli yaitu Hasibuan berpendapat mengenai pengembangan adalah upaya yang dilakukan guna untuk meningkatkan kemampuan, pengetahuan secara teori, konseptual dan etika pegawai (Ervina, 2017). Pengembangan Indonesia cukup pesat terutama pada daerah wisata lokal yang mampu mendorong perekonomian masyarakat. Pengembangan juga mempunyai tujuan adalah untuk memajukan dan memproses suatu kebijakan dalam mencapai kesejahteraan.

b. Pariwisata

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, pemerintah desa, pemerintah daerah dan pengusaha (I Made Suyasa & I Wayan Suteja, 2021). Pada Pasal 4 Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 mengenai tujuan dalam menyelenggarakan pariwisata adalah (Putu Edi Putrawan, 2019):

1. Memperlihatkan, memanfaatkan, melestarikan dan meningkatkan kualitas objek wisata serta daya tarik wisata.

2. Menimbulkan rasa cinta tanah air dan mempersatukan antar bangsa . 3. Meningkatkan perekonomian pendapatan nasional untuk memberikan

kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

4. Mendorong kemajuan produk nasional.

Menurut para ahli Fandeli mengenai pariwisata adalah suatu yang berhubungan dengan rekreasi (perjalanan) dari satu tempat ketempat lainnya yang menunjukkan wisata lokal dan wisata buatan serta memperlihatkan pengembangan potensi objek wisata daerah) (Sitapraptiwi & Muktiali, 2020).

Pariwisata telah menjadi hal biasa dalam melakukan aktifitas penting hingga kebutuhan masyarakat dari negara maju sampai berkembangan. Sehingga dapat

(9)

9

memberikan pelayanan pariwisata seperti memberikan sarana dan prasarana, transportasi, restoran, penginapan, serta fasilitas. Sebagaimana pengertian pariwisata yang mempunyai ciri-ciri yaitu (Satria, 2017):

1. Melakukan perjalanan yang bersifat sementara.

2. Mengunjungi satu tempat ketempat lainnya dalam melakukan perjalanan.

3. Melakukan rekreasi.

4. Melihat hal-hal potensi wisata alam, budaya dan buatan.

Namun ada beberapa potensi wisata daerah seperti Wisata lokal merupakan salah satu wisata peninggalan dari leluhur yang dikembangkan melalui budaya wisata untuk menjadikan suatu objek wisata menarik seperti wisata alam dan wisata budaya (Afrilian, Par, & Hanum, 2016). Menurut Boo Wisata alam adalah keindahan alam yang dimiliki sebuah desa yang dapat menikmati alam secara alami dan tidak merusak ekosistem alam tersebut (Dewi, 2018). Wisata budaya adalah wisata yang berasal dari adat istiadat lokal yang telah menjadi tradisi budaya serta mempunyai ciri khas seperti halnya pada bangunan kuno, kerajinan tangan, kesenian dan peninggalan sejarah dari leluhur yang mampu memberikan manfaat guna untuk melestarikan kebudayaan asli daerah lokal (M Fathurrahman Nurul Hakim, 2019). Asli daerah lokal yang merupakan desa wisata yang kenal dengan tradisi adat istiadat, kebudayaan, seni dan cara pola hidup.

Maka daya tarik wisata budaya masyarakat yang memiliki keaslian pada bentuk kegiatan kebudayaan (Juardi; Handani, Dani; Sukarni, Novita, 2020) seperti berikut :

1. Aksebilitasnya bagus, hingga mempermudah pengunjung atau wisatawan dalam menggunakan berbagai jenis alat transportasi.

2. Mempunyai potensi objek wisata yang menarik seperti budaya, alam, makanan khas daerah yang mampu mengebangkan wisata lokal.

3. Masyarakat dan pemerintah desa dapat memberikan dukungan wisata pada desa serta meningkatan wisatawan tersebut.

4. Keselamatan desa yang terlindungi.

5. Tersedia akomodasi, telekomunikasi dan tenaga kerja yang memadai.

(10)

10 6. Kondisi sejuk

7. Dapat memperkenalkan pariwisata kepada wisatawan lokal dan mancanegara.

c. Konsep Pengembangan Pariwisata

Pengembangan Pariwisata adalah suatu perubahan dalam upaya untuk mewujudkan tujuan yang terdapat pada pariwisata berkaitan dengan daya tarik suatu objek wisata yang membuat pengunjung luar (mancanegara) dan pengunjung secara lokal (Palimbunga, 2017). Dalam meningkatkan pengembangan pariwisata mempunyai tujuan sebagai berikut ini (Rivano E. Kandou, Maria H. Pratiknjo, 2019):

1. Untuk meningkatkan perekonomian daerah terutama pada desa yang mampu mengembangkan potensi objek wisata dan mensejahterakan masyarakat.

2. Mempromosikan wisata ke internasional melalui media sosial yang mendapatkan dukungan pada masyarakat sekitar.

3. Untuk membangun sumber daya manusia secara berkualitas yang mempunyai pengetahuan, pengalaman dan mematuhi aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah.

Menurut d’amore dalam pendekatan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat terbagi menjadi 7 bagian yaitu (Asep Dada Suganda, 2018): Pertama,, memperhatikan dalam pembangunan yang akan dilakukan masyarakat lokal.

Kedua, mempromosikan dan mengembangankan masyarakat lokal. Ketiga melibatkan masyarakat lokal dalam perindustrian. Keempat, menginvestasikan modal penduduk lokal dalam wirausaha. Kelima, menggambarkan produk wisata lokal. Keenam, mengatasi permasalahan-permasalahan yang muncul dalam mengembangkan produk lokal. Dan ketujuh, pemberdayaan masyarakat dalam mengikuti kegiatan-kegiatan.

Peraturan Menteri (Permen) Pariwisata Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2016 membahas pedoman destinasi pariwisata berkelanjutan dapat menciptakan aktivitas yang baik seperti fasilitas, pelayanan dan menciptakan pengalaman serta memberikan manfaat bagi masyarakat. Menurut Kementerian

(11)

11

Pariwisata mengenai hambatan dan tantangan dalam pengembangan pariwisata Indonesia seperti (Khusniyah, 2020):

1. Pelayanan dasar dan infrastruktur dalam melayani wisatawan yang kurang adanya pemahaman.

2. Investasi dan iklim bisnis kurang terjadi terhadap kepastian antara pemerintah dengan pihak swasta sebagai bentuk kerjasama.

3. Kesehatan dan kebersihan belum optimal dalam kinerja.

4. Adanya bencana alam yang mengakibatkan terganggunya aktivitas dalam berwisata.

5. Kurangnya akomodasi penerbangan secara langsung terhadap wisata desa.

6. Kurang sarana dan prasarana pada destinasi wisata.

7. Kurangnya sumber daya manusia.

8. Kurangnya ilmu pengetahuan mengenai pariwisata.

9. Sumber daya manusia yang belum memenuhi standar kualitas kinerja.

Faktor-faktor destinasi wisata dapat dikatakan maju dalam pengembangan pariwista sebagai berikut ini (Ika Nurwahyuni, 2019) :

1. Memiliki fasilitas yang lengkap atau sarana dan prasarana wisata yang merupakan perlengkapan dalam melayani pengunjung menikmati perjalanan wisata tersebut. Seperti pemandu pengunjung, alat transportasi, hotel, tempat makan sehingga para pengunjung wisata menjadi nyaman dan aman.

2. Infrastruktur adalah salah satu faktor yang menjadi pendukung dalam pengelolaan ataupun pembangunan seperti jalan, spot-spot foto, dana desa, tempat wahana sebagai daya tarik wisata.

3. Sumber daya manusia juga faktor pendukung yaitu dengan melakukan pembinaan masyarakat akan pentingnya potensi alam wisata yang mampu memajukan perekonomian seperti membuka usaha-usaha kecil, tempat spot foto, seta mendapatkan untung dari pengelolaan wisata tersebut. Masyarakat juga dapat memelihara pelestarian yang ditinggal nenek moyang agar menjaga tradisi budaya adat istiadat di Minangkabau.

(12)

12 1.6 Definisi Operasional

Definisi Operasional adalah sebagai alat untuk mengukur seberapa besar indikator dalam penelitian yang berkaitan dengan pengembangan daerah tujuan wisata Nagari Tuo Pariangan Kabupaten Tanah Datar khususnya di bidang pariwisata. Dalam Definisi Operasional membuat suatu indikator yang dapat memberikan gambaran bagi peneliti atau memberikan arahan dalam pelaksanaan indikator peneliti seperti :

1. Pengembangan Daerah Tujuan Wisata Nagari Tuo Pariangan Kabupaten Tanah Datar :

a. Peranan pemerintah dalam pengelola wisata.

b. Partisipasi dari stakeholder dalam aspek wisata.

c. Pembagian keuntungan adil.

d. Penggunaan sumber daya lokal.

e. Penguatan institusi lokal

2. Hambatan Pemerintah terhadap Pengembangan Daerah Tujuan Wisata Nagari Tuo Pariangan Kabupaten Tanah Datar.

a. Infrastruktur atau sarana wisata b. Dukungan sumber daya masih kurang c. Anggaran terbatas

d. Akses Jaringan 1.7 Metode Penelitian

1.7.1 Jenis Penelitian

Penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah memaparkan suatu keadaan wilayah dalam bentuk berupa data dan pelaksana yang memfokuskan pada kajian menyeluruh tentang suatu objek yang menjadi pusat penelitian (Muzha, 2013). Penelitian ini menggunakan kualitatif yang memberikan informasi berupa data yang didapatkan oleh instansi pemerintah Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tanah Datar. Dalam penelitian ini dapat menjawab pertanyaan dari permasalahan terkait Peran Pokdarwis dalam Pengembangan wisata Nagari Tuo Pariangan Kabupaten Tanah Datar.

(13)

13 1.7.2 Lokasi Penelitian

Peneliti melakukan penelitian di instansi pemerintah khususnya bidang Pariwisata di Kabupaten Tanah Datar. Terletak pada Komplek Benteng Van der Capellen Batusangkar. Namun disisi lain peneliti juga melakukan penelitian yang lebih berfokus pada wisata nagari pariangan tuo berlokasi desa Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

1.7.3 Sumber Data

1. Sumber Data Primer

Peneliti menggunakan sumber data primer, karena sumber data primer dapat memberikan informasi secara langsung melalui wawancara pada kepala bidang pariwisata Bapak Efrison SE dan pokdarwis di Nagari Pariangan selaku narasumber informasi yang dibutuhkan melalui tatap muka dan tanya jawab langsung untuk memperoleh data.

2. Data Sekunder

Sumber data penelitian sekunder kami gunakan untuk mendukung data primer dalam bentuk pengumpulan data yang kami targetkan dari hasil wawancara seperti, dokumen-dokumen yang dimiliki oleh Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Tanah Datar seperti data tabel, gambar ilustrasi, dan dokumen-dokumen penting lainnya sebagai keabsahan kebenaran dari hasil penelitian yang kami lakukan di lapangan.

1.7.4 Teknik Pengumpulan Data

Dalam mengumpulkan data dengan menggunakan teknik yang secara langsung guna untuk mendapatkan informasi dalam penelitian menjawab permasalahan rumusan masalah yang dibahas terkait :

i. Wawancara

Wawancara adalah suatu cara penyatuan data yang diperoleh dengan cara berkomunikasi secara langsung dengan melalui tanya jawab kepada informan. Seperti halnya penelitian ini melakukan wawancara terhadap Kepala Bidang, Kasi, dan Staaf pada bidang Pariwisata Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tanah Datar.

(14)

14 ii. Observasi

Observasi adalah salah satu cara untuk melakukan penyatuan data yang dilakukan dengan berinteraksi pada narasumber yang dapat memberikan informasi secara langsung di lapangan yang dibutuhkan dalam penelitian. Penelitian ini juga melakukan atau mengamati kondisi lapangan dalam mengembangan wisata Nagari Tuo Pariangan Kabupaten Tanah Datar.

iii. Dokumentasi

Dokumentasi adalah suatu cara untuk mendapatkan data-data yang diperlukan berupa gambar-gambar, tabel, peta, data pengunjung wisata, laporan harian atau tahunan, foto dan lainnya sebagai data penunjang dalam penelitian.

1.7.5 Subjek Penelitian

Dalam subjek penelitian ini yang dapat memberikan informasi terkait kondisi dan situasi lapangan, karena sebagai subjek yang mampu menjelaskan apa saja untuk mendapatkan informasi seperti (Mózo, 2017) :

1. Kepala Bidang Pariwisata.

2. Kasi Pemasaran Bidang Pariwisata.

3. Kasi Infrastruktur 4. Kepala Desa Pariangan.

5. Tokoh masyarakat adat.

6. Pokdarwis.

7. Wisatawan lokal.

1.7.6 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data ini diterapkan melalui metode kualitatif merupakan teknik data yang dapat mengolah dan menginterpretasikan data yang berupa memaparkan suatu keadaan wilayah dalam bentuk berupa data dan pelaksana yang memfokuskan pada kajian menyeluruh tentang suatu objek yang menjadi pusat penelitian (Muzha, 2013). Adapun pengumpulan data, reduksi

(15)

15

data, sajian data, dan penarikan kesimpulan yang digunakan oleh peneliti sebagai berikut ini (Elfianita, 2016) :

1. Pengumpulan data

Pengumpulan data adalah data yang diambil dari subjek atau pelaku dalam melakukan peneliti guna untuk mendapatkan data yang secara valid, agar mempermudah menyelesaikan permasalahan.

2. Reduksi Data

Reduksi data adalah suatu analisis data memperkuat, mempertegaskan dan melakukan yang tidak berkepentingan untuk mengatur data menjadi sebuah kesimpulan peneliti data.

3. Sajian Data

Sajian Data adalah komponen rangkaian-rangkaian informasi yang membuat kesimpulan secara praktis dapat menjalankan sistematis dalam sebuah peristiwa di lapangan.

4. Penarikan Kesimpulan

Dalam pengambilan data peneliti juga harus memahami hal-hal yang ada dalam peraturan-peraturan mengenai sebab dan akibat sebelum melakukan penelitian tersebut. Karena penarikan kesimpulan merupakan hasil akhir dari proses analisis data dalam mengelola data.

Referensi

Dokumen terkait

IbM Pokdarwis desa Sekumpul dilaksanakan sebagai upaya memberikan solusi atas permasalahan- permasalahan yang dihadapi oleh kedua Kelompok Sadar Wisata yang ada di

1) Masih minimnya anggaran untuk pengadaan dan pemeliharaan fasilitas keselamatan lalu lintas seperti rambu, guardrail, delineator dan marka jalan. Kondisi ini berdampak

Chatib Quzwain Kabupaten Sarolangun masih jauh dari harapan, salah satunya penyebabnya masih minimnya anggaran yang diberikan pemerintah daerah untuk membiayai kebutuhan

Selain masalah perempuan, permasalahan tanah juga menjadi salah satu pemicu terjadinya perang karena tanah merujuk pada wilayah kekuasaan, tanah merupakan sebuah sumber

Adanya keterbatasan keuangan masyarakat, tidak meratanya pelayanan, sulitnya akses ke tempat pelayanan, minimnya ketersediaan fasilitas kesehatan, terbatasnya sumber daya

Dengan adanya potensi dan permasalahan-permasalahan pada kawasan Agrowisata Turi ini, maka kebutuhan akan tempat rekreasi sangat diharapkan dengan menyediakan

Desa wisata menurut Nuryanti (dalam Buku Panduan Pengembangan Desa Wisata Hijau, 2016:2) merupakan suatu daerah tujuan wisata atau disebut pula destinasi

Manfaat dari kegiatan aplikatif ini adalah tersediannya informasi spasial jalur induk pipa air bawah tanah di kawasan taman wisata Candi Prambanan dalam bentuk model 3D,