• Tidak ada hasil yang ditemukan

NANI WIJAYANTI A

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "NANI WIJAYANTI A"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

MANAJEMEN PEMBIBITAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI KEBUN SERUYAN PT INDOTRUBA TENGAH, MINAMAS PLANTATION

KALIMANTAN TENGAH

NANI WIJAYANTI A24100064

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2015

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Manajemen Pembibitan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Seruyan, PT Indotruba Tengah, Minamas Plantation, Kalimantan Tengah adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya baik yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Februari 2015 Nani Wijayanti NIM A24100064

(4)
(5)

ABSTRAK

NANI WIJAYANTI. Manajemen Pembibitan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Seruyan, PT Indotruba Tengah, Minamas

Plantation, Kalimantan Tengah. Dibimbing oleh MEGAYANI SRI RAHAYU dan ADE WACHJAR.

Kegiatan magang bertujuan untuk mempelajari teknik budidaya tanaman kelapa sawit yang sesungguhnya di lapangan, memperoleh pengalaman dan melatih keterampilan kerja dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit, serta menambah wawasan pengetahuan manajerial khususnya di pembibitan kelapa sawit. Kegiatan magang dilakukan di Kebun Seruyan, PT Indotruba Tengah, Minamas Plantation, Kalimantan Tengah mulai bulan Februari hingga Juni 2014. Metode pelaksanaan magang yaitu bekerja langsung baik dalam bidang teknis maupun dalam bidang manajerial dengan aspek khusus manajemen pembibitan kelapa sawit. Hasil pengamatan dan pengukuran dianalisis menggunakan rata-rata dan uji korelasi. Pengelolaan pembibitan di Kebun Sekunyir sudah dilakukan dengan baik. Persentase bibit yang hidup di persemaian sebesar 87.0%, menunjukkan bahwa kecambah yang digunakan mempunyai kualitas yang baik dan sesuai untuk ditanam di lapangan dan diharapkan mampu memberikan hasil produksi yang optimal. Meskipun demikian masih perlu peningkatan pengawasan oleh supervisor agar pekerja melakukan pekerjaan dengan penuh disiplin dan sesuai dengan standar.

Kata kunci: kelapa sawit, pembibitan, manajemen pembibitan.

ABSTRACT

NANI WIJAYANTI. Nursery Management of Oil Palm (Elaeis guineensis Jacq.) in Seruyan Estate, PT Central of Indotruba,

Minamas Plantation, Central Kalimantan. Supervised by MEGAYANI SRI RAHAYU and ADE WACHJAR.

Internship aimed to studyi the oil palm cultivation technique in the field, improve experience and skills in the management of oil palm plantation. Internship activities were conducted in Seruyan Estate, PT Central of Indotruba, Minamas Plantation, Central Kalimantan from February to June 2014. Internship was conducted by involving in the technical and managerial aspects, with special observation on nursery management. Data were analyzed using simple statistic and correlation test.

Nursery management in Sekunyir was done well. The percentage of seeds of which live in a seedbed was 87.0%. It showed that sprouts used in the field had good quality and prospective to be planted in the field to have optimal production. It is important to increase supervison activities in order to encourage workers follow the working standard.

Keywords: oil palm, nursery, nursery management

(6)
(7)

MANAJEMEN PEMBIBITAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI KEBUN SERUYAN PT INDOTRUBA TENGAH, MINAMAS PLANTATION

KALIMANTAN TENGAH

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian

pada

Departemen Agronomi dan Hortikultura

NANI WIJAYANTI

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2015

(8)
(9)

Judul Skripsi : Manajemen Pembibitan Kelapa Sawit

(Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Seruyan, PT Indotruba Tengah, Minamas Plantation, Kalimantan Tengah

Nama : Nani Wijayanti NRP : A24100064

Disetujui oleh

Ir Megayani Sri Rahayu, MS Pembimbing I

Dr Ir Ade Wachjar, MS Pembimbing II

Diketahui oleh

Dr Ir Agus Purwito, MSc.Agr.

Ketua Departemen

Tanggal Lulus:

(10)
(11)

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah mencurahkan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penyusunan skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik dan lancar. Judul magang yang dilaksanakan sejak bulan Februari hingga Juni 2014 ialah Manajemen Pembibitan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) di Kebun Seruyan, PT Indotruba Tengah, Minamas Plantation, Kalimantan Tengah.

Skripsi merupakan tugas akhir penulis sebagai syarat untuk kelulusan program pendidikan sarjana di Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu Ir Megayani Sri Rahayu, MS dan Bapak Dr Ir Ade Wachjar, MS selaku pembimbing skripsi yang telah memberikan dukungan, bimbingan serta arahannya selama pelaksanaan magang dan penyusunan skripsi.

2. Bapak Dr Edi Santosa, SP, MSi selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan dan saran-saran perbaikan skripsi.

3. Kedua orang tua, Arif Masnurun, dan seluruh keluarga besar atas doa dan dukungan yang diberikan kepada penulis.

4. Ibu Dr Ir Nurul Khumaida, MSi selaku pembimbing akademik yang telah membimbing penulis selama menjalankan studi.

5. Direktorat Pendidikan Tinggi (DIKTI) yang telah memberikan beasiswa Bidik Misi kepada penulis selama perkuliahan.

6. Bapak Ondra Utama selaku manager kebun, dan keluarga besar Kebun Seruyan, PT Indotruba Tengah, Minamas Plantation, Kalimantan Tengah.

7. Bapak Davidson Pandung selaku asisten Divisi 3 Kebun Sekunyir dan Bapak Warsito selaku mandor yang telah memberi bimbingan dan masukan kepada penulis.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Februari 2015 Nani Wijayanti

(12)
(13)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN vi

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Magang 2

TINJAUAN PUSTAKA 2

Pembibitan 2

Sistem Pembibitan 2

Pre Nursery 3

Main Nursery 5

Penanaman Bibit ke Lapangan 6

METODE 6

Tempat dan Waktu 6

Metode Pelaksanaan 7

Pengamatan dan Pengumpulan Data 7

Analisis Data dan Informasi 8

KEADAAN UMUM 9

Letak Geografis Kebun 9

Keadaan Iklim dan Tanah 9

Luas Areal Konsesi dan Tata Guna Lahan 9

Keadaan Tanaman dan Produksi 10

Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan 10

PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG 11

Aspek Teknis 11

Aspek Manajerial 27

PEMBAHASAN 29

Daya Tumbuh Bibit Kelapa Sawit di Pembibitan Awal 29

Pertumbuhan Bibit di Pembibitan Awal 30

KESIMPULAN DAN SARAN 33

Kesimpulan 33

Saran 33

DAFTAR PUSTAKA 33

LAMPIRAN 35

(14)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Luas areal tanaman menghasilkan, produksi, dan produktivitas tandan buah segar kelapa sawit di Kebun Seruyan, PT Indotruba Tengah, Kalimantan

Tengah tahun 2009-2013 10

2. Daya tumbuh bibit kelapa sawit di pembibitan awal

asal Marihat dan Socfindo 14

3. Pertumbuhan bibit kelapa sawit asal Marihat dan

Socfindo 16

4. Hasil uji korelasi antara tinggi bibit, diameter bibit,

dan jumlah pelepah 17

5. Pertumbuhan vegetatif pada bibit varietas Yangambi

umur 8 bulan di pembibitan utama 20

6. Hasil uji korelasi antar peubah pertumbuhan vegetatif kelapa sawit varietas Yangambi umur 8 bulan di

pembibitan utama 21

7. Pertumbuhan vegetatif bibit kelapa sawit varietas

Marihat SMB umur 10 bulan di pembibitan utama 21 8. Hasil uji korelasi antar peubah pertumbuhan vegetatif

bibit kelapa sawit varietas Marihat SMB 22

DAFTAR GAMBAR

1. Keragaan kecambah kelapa sawit normal: (a) kecambah dengan panjang 10 mm, (b) kecambah dengan panjang 25 mm, (c) kecambah pucuk dan akar terpuntir,

(d) kecambah dengan akar terpuntir 13

2. Keragaan kecambah kelapa sawit abnormal:

(a) kecambah menyerupai garputala dengan pucuk bentuk pancing, (b) kecambah berbentuk graham, (c) kecambah berbentuk tongkat terkait, (d) kecambah

terhambat, (e) kecambah tanpa akar 13

3. Grafik pertumbuhan tinggi bibit kelapa sawit

di pre nursery 17

4. Grafik pertumbuhan diameter bibit kelapa sawit

di pre nursery 17

5. Grafik pertumbuhan jumlah pelepah bibit

kelapa sawit di pre nursery 18

6. Penanaman LCC Mucuna bracteata 23

7. Penanaman bibit kelapa sawit 23

8. Kegiatan pengendalian gulma: (a) pada tanaman belum

menghasilkan, dan (b) pada tanaman menghasilkan 24

9. Pemupukan pada tanaman menghasilkan 26

(15)

10. Kegiatan pengendalian kumbang tanduk: (a) pencarian larva kumbang tanduk pada rumpukan, (b) larva kumbang tanduk, (c) serangan kumbang tanduk pada

pangkal bibit kelapa sawit 27

DAFTAR LAMPIRAN

1. Keragaan bibit kelapa sawit abnormal di pembibitan

awal 37

2. Keragaan bibit kelapa sawit abnormal di pembibitan

utama 38

3. Jurnal harian kegiatan magang sebagai karyawan harian di Kebun Seruyan, PT Indotruba Tengah, Minamas

Plantation, Kalimantan Tengah 39

4. Jurnal harian kegiatan magang sebagai pendamping mandor di Kebun Seruyan, PT Indotruba Tengah,

Kalimantan Tengah 41

5. Jurnal kegiatan magang sebagai pendamping asisten di Kebun Seruyan, PT Indotruba Tengah, Minamas

Plantation, Kalimantan Tengah 43

6. Peta wilayah Kebun Seruyan, PT Indotruba Tengah 45 7. Keadaan curah hujan dengan hari hujan Kebun Seruyan,

Minamas Plantation, Kalimantan Tengah 46 8. Luas areal konsesi dan tata guna lahan Kebun Seruyan

PT Indotruba Tengah, Minamas Plantation, Kalimantan

Tengah 47

9. Data produksi tandan buah segar (TBS) Kebun Seruyan 48 10. Hasil rendemen (ekstraksi) Kebun Seruyan,

PT Indotruba Tengah, Kalimantan Tengah 49 11. Struktur organisasi Kebun Seruyan, PT Indotruba

Tengah, Minamas Plantation, Kalimantan Tengah 50 12. Peta areal pembibitan Kebun Sekunyir 51

RIWAYAT HIDUP 52

(16)
(17)
(18)
(19)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kelapa sawit merupakan komoditas yang memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia dan mempunyai prospek yang cerah, baik sebagai sumber devisa maupun sebagai penyedia lapangan pekerjaan.

Kelapa sawit merupakan tanaman penghasil minyak sebagai bahan baku utama minyak goreng yang banyak dipakai di seluruh dunia. Menurut Pardamean (2008) minyak yang berasal dari kelapa sawit terdiri atas dua macam, yaitu minyak yang berasal dari daging buah (mesokarp) yang disebut crude palm oil (CPO) dan minyak yang berasal dari inti sawit yang disebut palm kernel oil (PKO).

Indonesia merupakan produsen kelapa sawit utama terbesar dunia setelah Malaysia dengan luas areal kelapa sawit pada tahun 2007 mencapai 6 766 836 ha dan produksi sebesar 17 664 725 ton Crude Palm Oil (CPO) dan pada tahun 2012 luas areal kelapa sawit meningkat signifikan mencapai 9 572 714 ha dan produksi sebesar 26 015 518 ton CPO (Direktorat Jenderal Perkebunan 2013). Indonesia mengalami perkembangan yang begitu pesat dalam memproduksi minyak kelapa sawit terbukti dengan pencapaian volume ekspor pada tahun 2007 sebesar 5 701 286 ton dengan nilai ekspor sebesar US$ 3 738 652, sedangkan pada tahun 2012 volume ekspor meningkat menjadi 7 262 831 ton dengan nilai ekpor sebesar US$ 6 676 504 (Direktorat Jenderal Perkebunan 2013). Produksi kelapa sawit dipengaruhi oleh jumlah pokok produktif, bahan tanam, kondisi iklim, topografi, kultur teknis, kebijakan perusahaan, dan faktor sosial seperti pencurian tandan buah segar (Miranda 2009).

Salah satu masalah utama pengusahaan komoditas kelapa sawit Indonesia adalah rendahnya produktivitas tanaman. Produktivitas kebun sawit rata–rata hanya 16 ton TBS per ha, sedangkan potensi produksi dapat mencapai 30 ton TBS/ha (Pusat Penelitian Kelapa Sawit 2003). Upaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman kelapa sawit di Indonesia adalah melalui peremajaan bagi tanaman yang sudah tua dan tidak produktif dengan menggunakan bibit kelapa sawit yang unggul dan berkualitas. Bibit unggul bisa berasal dari hasil persilangan berbagai sumber (inter and intra specific crossing) dengan metode reciprocal recurrent selection (RRS).

Selain itu bahan tanam kelapa sawit unggul dapat dihasilkan dari pemuliaan pada tingkat molekuler yang diperbanyak secara vegetatif dengan teknik kultur jaringan (Pahan 2008). Faktor bibit memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan penanaman kelapa sawit karena dalam budidaya kelapa sawit keberhasilan penanaman di lapangan dan perolehan produksi bergantung pada kualitas bibit tanaman kelapa sawit yang digunakan. Berdasarkan uraian di atas sangat penting untuk mendapatkan bibit yang unggul dan bermutu sehingga memperoleh hasil produksi yang optimal.

Salah satu perusahaan penyedia bibit yaitu PT Indotruba Tengah. PT Indotruba Tengah adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah dan tergabung dalam grup

(20)

2

Minamas Plantation yang pembukaan lahanya dimulai tahun 1990-1992 (Minamas Plantation 2004).

Tujuan Magang

Kegiatan magang bertujuan mempelajari teknik budidaya tanaman kelapa sawit yang sesungguhnya di lapangan, memperoleh pengalaman dan melatih keterampilan kerja dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit serta menambah wawasan pengetahuan manajerial perkebunan. Selain itu juga bertujuan mempelajari dan menganalisis aspek manajemen pembibitan kelapa sawit di perusahaan perkebunan kelapa sawit.

TINJAUAN PUSTAKA

Pembibitan

Pembibitan merupakan langkah awal dari seluruh rangkaian kegiatan budidaya tanaman kelapa sawit. Melalui tahap pembibitan ini diharapkan akan menghasilkan bibit yang baik dan berkualitas.

Bibit merupakan produk yang dihasilkan dari suatu proses pengadaan bahan tanam yang dapat berpengaruh terhadap pencapaian hasil produksi pada masa selanjutnya. Pembibitan merupakan awal kegiatan lapangan yang harus dimulai setahun sebelum penanaman dimulai. Untuk menghasilkan bibit yang baik dan berkualitas diperlukan pengelolaan yang intensif selama tahap pembibitan.

Kecambah yang akan dijadikan bibit dibeli dari institusi yang menjual kecambah seperti Marihat dan Socfindo. Kecambah berasal dari benih yang berkualitas dan bermutu. Benih kelapa sawit apabila ditanam langsung ditanah maka persentasi daya kecambahnya hanya 50% dalam 3-6 bulan karena benih kelapa sawit mempunyai sifat dormansi. Untuk mematahkan sifat dormansi tersebut dilakukan dengan merendam benih dalam larutan fungisida dan antibiotik dan disimpan di dalam ruang pengering selama 2 hari (Pahan 2008).

Sistem Pembibitan

Pembibitan kelapa sawit dapat dilakukan dengan menggunakan satu atau dua tahap pekerjaan bergantung pada persiapan yang dimiliki sebelum kecambah dikirim ke lokasi pembibitan. Untuk pembibitan yang menggunakan satu tahap (single stage), pembibitan kelapa sawit langsung dilakukan di pembibitan utama (main nursery). Perusahaan umumnya menggunakan sistem pembibitan dua tahap (double stage). Keuntungan dan kelemahan penggunaan sistem dua tahap yaitu segi areal pembibitan penjarangan di persemaian mengurangi luas areal pembibitan, dari biaya tenaga kerja dan supervisi yaitu biaya pengendalian gulma dan penyiraman di persemaian lebih murah, naungan individual dapat diganti dengan struktur yang permanen jika naungan diperlukan, dan dari segi agronomis

(21)

3 dapat memberikan pengawasan yang lebih khusus pada persemaian, pemberian pupuk cair secara efisien dapat dilakukan sejak di persemaian, dan penjarangan lebih mudah dilakukan karena jarak polybag yang cukup leluasa. Sedangkan sistem pembibitan satu tahap keuntungan dan kelemahannya yaitu membutuhkan areal yang lebih luas pada periode 3-4 bulan pertama, membutuhkan lebih banyak sarana irigasi, dari segi biaya tenaga kerja dan supervisor tidak ada biaya transplanting, sistem lebih mudah dikelola, dan penanganan bibit lebih sedikit, dan dari segi agronomis tidak ada mengalami transplating shock yang mempengaruhi pertumbuhan bibit. Sistem pembibitan dua tahap terdiri atas pembibitan awal (pre nursery) selama ± 3 bulan pada polybag ukuran kecil dan pembibitan utama (main nursery) selama 9–12 bulan dengan ukuran polybag lebih besar (Pusat Penelitian Kelapa Sawit 2003). Perusahaan menggunakan sistem pembibitan dua tahap karena memiliki beberapa keuntungan diantaranya memudahkan supervisi dalam pengawasan dan pemeliharaan, adanya seleksi yang ketat di pembibitan awal dapat mengurangi kebutuhan tanah dan polybag besar di pembibitan utama, dan terjaminnya bibit yang akan ditanam ke lapangan karena telah melalui beberapa tahapan seleksi.

Pre Nursery

Pembibitan awal merupakan periode kritis, kecerobohan dalam pemeliharaan dapat menyebabkan kecambah tidak tumbuh atau kecambah mati. Kebutuhan bibit harus direncanakan dan bahan tanam yang digunakan harus dapat dipastikan berasal dari pusat sumber benih yang telah memiliki legalitas dari pemerintah (Pusat Penelitian Kelapa Sawit 2003). Pada saat ini bahan tanam yang dianjurkan adalah hasil persilangan Dura x Pisifera yaitu Tenera.

Persiapan Kecambah

Kebutuhan bahan tanam untuk suatu luas areal tertentu ditentukan oleh kerapatan tanaman yang akan ditanam. Pemesanan kecambah pada institusi penghasil benih harus dilakukan satu tahun sebelumnya dengan mengacu pada program penanaman dan dilakukan pemesanan dengan jumlah yang cukup sehingga seleksi yang ketat tidak akan mengakibatkan kekurangan bibit yang akan ditanam di lapangan. Bahan tanam kelapa sawit untuk kerapatan tanam 136 pohon/ha diperlukan 200 kecambah/ha (Pahan 2008).

Persiapan dan Penanaman Kecambah

Tahapan kegiatan yang dilakukan di pembibitan awal dan juga perawatan diantaranya: pembuatan bedengan, pembuatan naungan bila diperlukan, pengisian babybag dengan tanah dan penyusunannya di bedengan, penanaman kecambah, pemeliharaan pre nursery dan seleksi bibit.

Lokasi pembibitan awal harus berdekatan dengan pembibitan utama untuk yang menggunakan sistem pembibitan dua tahap.

Bedengan dibuat pada areal yang telah diratakan dengan ukuran lebar 1.2 m, panjang 8 m, dan tinggi 2 m untuk setiap bedengan. Bedengan yang

(22)

4

berukuran 8 m x 1.2 m dapat memuat 1 000 bibit. Untuk 15 000 kecambah atau 75 ha tanaman di lapangan diperlukan areal pembibitan awal seluas

± 250 m2 atau ± 15 bedengan (Pusat Penelitian Kelapa Sawit 2003).

Kecambah yang telah ditanam sangat peka terhadap kondisi di sekitar lingkungan tumbuhnya. Untuk mengurangi kepekaan terhadap lingkungan luar maka pada bedengan dibuat naungan yang berfungsi sebagai pelindung kecambah dari percikan air hujan, dan juga menjaga intensitas cahaya yang masuk agar kecambah tidak mengalami sunshock. Pengaturan naungan disesuaikan dengan umur kecambah, kecambah yang berumur 0-1.5 bulan diberikan naungan sebesar 100%, kecambah berumur 1.5-2.5 bulan diberikan naungan 50% dan kecambah yang berumur lebih dari 2.5 bulan naungan dihilangkan secara bertahap.

Pengisian babybag dengan top soil harus sudah selesai sebelum kecambah datang sehingga ketika kecambah datang dapat segera ditanam.

Ukuran babybag bergantung pada lamanya bibit di bedengan. Pada pembibitan awal babybag yang digunakan berwarna hitam dengan ukuran panjang 22 cm, lebar 14 cm, dan tebal 0.07 mm. Di setiap babybag dibuat lubang berdiameter 0.3 cm sebanyak 12-20 buah. Setelah babybag berisi tanah babybag disusun dalam bedengan yang telah disiapkan.

Kecambah yang diterima di kebun harus segera ditanam pada hari itu juga atau paling lama satu hari setelah penerimaan kecambah. Penanaman kecambah harus dengan pengawasan ketat, karena apabila terjadi kesalahan dalam penanaman, kecambah menjadi afkir atau bahkan kecambah mati.

Kecambah ditanam sesuai dengan posisinya yaitu bagian calon daun mengarah ke atas dan bagian calon akar mengarah ke bawah.

Pemeliharaan Bibit

Kecambah yang telah ditanam diberikan perawatan yang baik agar kecambah dapat tumbuh dengan baik pula. Perawatan di pembibitan awal meliputi penyiraman, pemupukan, konsolidasi, penyiangan gulma, pengendalian hama dan penyakit, dan seleksi bibit.

Hama yang sering ditemukan pada pembibitan awal yaitu semut, belalang, dan jangkrik, sedangkan penyakit yang biasa ditemukan di pembibitan awal meliputi penyakit akar (root diseases), penyakit daun (leaf diseases), bercak daun dan hawar daun (leaf spots or leaf blights), dan busuk daun (leaf rot) (Pusat Penelitian Kelapa Sawit 2009).

Seleksi Bibit

Bibit kelapa sawit ditanam selama 3 bulan pada pembibitan awal dan sebelum dipindah tanam ke pembibitan utama dilakukan seleksi bibit.

Seleksi bibit dilakukan untuk membuang bibit yang mempunyai bentuk dan pertumbuhan yang abnormal serta bibit yang terserang hama dan penyakit.

Seleksi bibit di pembibitan awal dilakukan dalam dua tahap yaitu tahap satu pada bibit umur 4-6 minggu dan tahap dua pada saat transplanting ke pembibitan utama. Seleksi dilakukan terhadap bibit yang pertumbuhanya terputar (twisted shoot), daun bibit menggulung (rolled leaf), collante, daun bibit berkerut (crinkle leaf), bibit berdaun sempit (grass leaf), dan bibit

(23)

5 dengan daun bulai (chimaera). Kelainan-kelainan bibit yang terjadi di pembibitan awal dapat dilihat pada Lampiran 1.

Main Nursery

Main nursery atau pembibitan utama merupakan tahap kedua dari sistem pembibitan dua tahap. Di pembibitan utama bibit dipelihara dari umur 3 bulan hingga 12 bulan. Keberhasilan rencana penanaman di lapangan dan produksi ditentukan oleh pelaksanaan pembibitan utama dan kualitas bibit yang dihasilkan.

Persiapan Main Nursery

Bibit yang digunakan di main nursery berasal dari Marihat dan Socfindo. Kegiatan yang dilakukan di pembibitan utama meliputi: persiapan dan pengolahan tanah, mempersiapkan kebutuhan air dan instalasi penyiraman, pemancangan, pengisian polybag dengan tanah, penanaman bibit, pemeliharaan bibit utama yang terdiri atas penyiangan, pemberian mulsa, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, dan seleksi bibit.

Persiapan pembibitan dilakukan dengan meratakan areal menggunakan buldozer. Prosedur pembukaan areal pembibitan sama dengan prosedur pembukaan areal untuk pertanaman kelapa sawit.

Penyiapan kebutuhan air dan instalasi penyiraman merupakan pekerjaan yang sangat penting untuk menjamin keberhasilan pembibitan.

Kemampuan menyediakan air untuk bibit dalam jumlah yang cukup dengan jaringan irigasi yang baik. Perlu diperhatikan kebutuhan air untuk pembibitan utama yaitu 2 liter tiap polybag dengan sistem penyiraman menggunakan sprinkle, dianjurkan pada areal dengan ketersediaan sumber air yang cukup.

Kegiatan berikutnya yaitu pemancangan yang dilaksanakan apabila pembuatan jaringan pipa penyiraman telah selesai. Pola tanam yang digunakan adalah pola tanam segitiga sama sisi, dengan jarak tanam 90 cm x 90 cm x 90 cm.

Pengisian tanah ke dalam polybag dilakukan setelah kegiatan pemancangan selesai. Tanah yang digunakan untuk pengisian ke polybag diusahakan menggunakan tanah yang kering. Hal ini ditujukan untuk mempermudah proses pengayakan. Setelah pengisian, media perlu disiram setiap hari selama 7-10 hari sebelum penanaman.

Kegiatan selanjutnya yaitu penanaman bibit. Kelancaran penanaman bibit ke main nursery bergantung pada kecepatan membuat lubang tanam pada media tumbuh dalam polybag di pembibitan utama, kecepatan mengangkut bibit dari pembibitan awal ke pembibitan utama dan kecepatan serta keterampilan menanam bibit tersebut.

Pemeliharaan Bibit

Pemeliharaan di pembibitan utama sangat penting dilakukan agar mendapatkan bibit yang baik dan berkualitas. Pemeliharaan di pembibitan

(24)

6

utama meliputi: penyiraman, penyiangan, pemberian mulsa, pemupukan, dan pengendalian hama dan penyakit.

Menurut Purwanto (2009) hama tanaman kelapa sawit yang menjadi fokus pengendalian adalah ulat api, ulat kantong, dan tikus. Jenis ulat api yang menyerang yaitu Setora nitens, Thosea asigna, dan Darna trima. Pada umumnya penyakit yang menyerang bibit kelapa sawit di Indonesia adalah relatif sama, hanya beragam secara kuantitatif dan kualitatif sesuai keadaan setempat. Penyakit akar yang serius jarang terjadi, penyakit akar muncul bila penanaman bibit dilakukan pada kondisi kering.

Seleksi Bibit

Tahap terakhir yaitu seleksi bibit. Perbedaan pertumbuhan bibit di pembibitan utama dapat disebabkan oleh faktor genetis dan perbedaan kultur teknis yang diterima masing-masing bibit. Seleksi dilakukan terhadap bibit yang tumbuh tinggi dan kaku dengan sudut pelepah yang kecil (erected), bibit yang permukaan tajuknya rata, bibit yang anak daunnya tidak membelah, sedangkan pada bibit yang lain pada umur yang sama telah membelah sempurna, bibit yang terserang penyakit tajuk, bibit kerdil, dan bibit juvenil (Pusat Penelitian Kelapa Sawit 2003). Keragaan bibit abnormal pada pembibitan utama tercantum pada Lampiran 2.

Penanaman Bibit ke Lapangan

Bibit yang telah berumur 10-12 bulan siap untuk dipindahkan ke lapangan. Bibit-bibit yang telah siap tanam dikumpulkan berdasarkan asal bibit. Pengelompokan diatur setiap 100-200 bibit dan disesuaikan dengan kapasitas angkut truk. Sebelum bibit diangkut ke truk sebaiknya disiram dengan air untuk menghindari kekeringan jika beberapa hari tidak turun hujan ketika telah ditanam. Bibit diangkut tegak lurus dengan memegang bagian polybag bukan bagian daun atau batang agar bibit tidak rusak dan polybag tidak pecah (Pusat Penelitian Kelapa Sawit 2003).

Pada pola tanam monokultur, sebaiknya penanaman tanaman kacang- kacangan (LCC) sebagai tanaman penutup tanah dilaksanakan segera setelah persiapan lahan selesai. Tanaman penutup tanah pada areal tanaman kelapa sawit sangat penting karena dapat memperbaiki sifat-sifat fisik, kimia, biologi tanah, mencegah erosi, mempertahankan kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan tanaman pengganggu (Direktorat Jenderal Perkebunan 2008).

METODE

Tempat dan Waktu

Kegiatan magang dilaksanakan di Kebun Seruyan, PT Indotruba Tengah, Minamas Plantation, Kalimantan Tengah selama empat bulan mulai bulan Februari sampai dengan Juni 2014. Untuk kegiatan aspek khusus pembibitan penulis melakukannya di areal pembibitan Divisi III Kebun Sekunyir.

(25)

7 Metode Pelaksanaan

Kegiatan magang yang dilakukan di Kebun Seruyan meliputi seluruh pekerjaan yang mengarah pada pengelolaan kebun di berbagai tingkat jabatan secara teknis dan manajerial dimulai dari karyawan harian lepas (KHL) hingga pendamping asisten. Aspek teknis dilakukan pada tingkat jabatan sebagai KHL selama satu bulan. Kegiatan di pembibitan meliputi:

pengisian babybag dengan tanah, seleksi kecambah di pembibitan awal, pemupukan, penyiraman, pengendalian hama, penanaman bibit di pembibitan utama, dan seleksi bibit, sedangkan kegiatan pada tanaman menghasilkan meliputi: penanaman kelapa sawit, penanaman tanaman penutup tanah, pengendalian gulma secara manual dan kimia, pemupukan tanaman menghasilkan, serta pengendalian hama dan penyakit. Rincian kegiatan saat menjadi karyawan harian lepas tercantum pada Lampiran 3.

Aspek manajerial penulis lakukan pada tiga bulan berikutnya dengan rincian sebagai pendamping mandor selama satu bulan dan sebagai pendamping asisten selama dua bulan. Kegiatan sebagai pendamping mandor meliputi penentuan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan yang akan dilakukan, melakukan apel pagi, membantu mengawasi karyawan harian, serta membuat laporan harian mandor. Kegiatan sebagai pendamping asisten meliputi membantu menyusun rencana kerja harian divisi, mengikuti apel pagi, mengikuti pelaksanaan pemeliharaan semua bangunan yang ada di divisi sesuai jadwal, dan mengikuti mengawasi mandor dan karyawan harian dan mengevaluasi pekerjaan yang telah dilakukan. Rincian kegiatan sebagai pendamping mandor tercantum pada Lampiran 4 dan rincian kegiatan magang sebagai pendamping asisten divisi tercantum pada Lampiran 5.

Pengamatan dan Pengumpulan Data

Pengumpulan data dan informasi menggunakan metode langsung untuk data primer dan metode tidak langsung untuk data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung di lapangan pada saat aktif melakukan kegiatan di kebun, wawancara dan diskusi langsung dengan karyawan kebun, mandor dan asisten kebun. Pengamatan utama dan pengumpulan data primer dilakukan terhadap pembibitan dengan melakukan pengukuran tinggi bibit, diameter bibit, dan menghitung jumlah pelepah bibit kelapa sawit baik di pre nursery maupun di main nursery.

Pengamatan Pre Nursery

1. Penghitungan jumlah kecambah afkir, kecambah mati, dan kecambah ganda.

Data ini digunakan untuk mengetahui tingkat persentase kecambah normal yang akan ditanam dan untuk mengetahui kualitas kecambah serta upaya-upaya perbaikan dalam menekan kematian kecambah tersebut. Seleksi dilakukan terhadap kecambah normal, kecambah abnormal, kecambah mati, dan kecambah ganda. Kecambah normal apabila terdapat calon akar dan calon daun lengkap, kecambah

(26)

8

abnormal apabila kecambah hanya terdapat salah satu dari calon akar atau calon daun yang tumbuh, kecambah mati apabila calon akar dan calon daun telah membusuk berwarna coklat, dan kecambah ganda apabila pada satu kecambah terdapat lebih dari satu calon akar dan calon daun yang keluar. Pengambilan data kecambah dilakukan pada kecambah yang berasal dari SMB Marihat.

2. Pengukuran tinggi, diameter, dan jumlah pelepah bibit kelapa sawit.

Pengukuran peubah-peubah pertumbuhan dilakukan untuk mengetahui laju pertumbuhan bibit kelapa sawit. Pengukuran dilakukan pada bibit di 3 bedengan yang berada di baris pertama, baris kedua, dan baris ketiga dengan masing-masing bedengan terdapat 100 bibit contoh sehingga diperoleh 300 bibit contoh. Pengukuran dilakukan pada saat bibit berumur 4 minggu setelah tanam (MST) dan pengukuran dilakukan satu minggu sekali selama 11 MST.

Pengukuran di pembibitan awal dilakukan dengan menggunakan penggaris dari pangkal batang hingga ujung daun tertinggi yang telah diluruskan. Diameter batang diukur dengan menggunakan jangka sorong sekitar 1 cm dari permukaan tanah. Penghitungan jumlah pelepah dilakukan pada daun yang berwarna hijau dan telah membuka sempurna. Data yang diperoleh dirata-ratakan, kemudian dilakukan uji korelasi untuk mengetahui hubungan antar peubah vegetatif bibit kelapa sawit.

Pengamatan Main Nursery

Pengukuran peubah-peubah pertumbuhan meliputi tinggi dan diameter bibit, serta jumlah pelepah kelapa sawit dilakukan juga di pembibitan utama pada bibit varietas Yangambi untuk bibit umur 8 bulan dan varietas Lame untuk bibit umur 10 bulan. Pengukuran bibit dilakukan di empat plot yaitu plot D dengan jumlah bibit 2 324 bibit, plot C2-5 dengan jumlah bibit 9 055 bibit, plot C1-5 dengan jumlah bibit 4 295 bibit, dan plot B dengan jumlah bibit 9 574 bibit yang terdiri atas dua plot berumur 8 bulan (plot C2-5 dan plot D) dan 2 plot bibit berumur 10 bulan (plot C1-5 dan plot B). Masing- masing plot diambil 70 bibit contoh atau dari plot berturut-turut diambil bibit contoh sebesar 3%, 0.8%, 1.7%, dan 0.8% dari total bibit dari masing–

masing plot sehingga didapat 280 bibit contoh. Hasil pengukuran kemudian dirata-ratakan.

Data sekunder diperoleh dari laporan manajemen di kantor kebun dan studi pustaka. Data sekunder yang dikumpulkan meliputi kondisi umum lokasi meliputi: letak geografis kebun, keadaan iklim dan tanah, luas areal dan tata guna lahan, keadaan tanaman dan produksi, peta lokasi perkebunan, struktur organisasi dan ketenagakerjaan, dan data produksi perusahaan selama 5 tahun terakhir.

Analisis Data dan Informasi

Analisis data dilakukan dengan analisis kualitatif dan kuantitatif.

Analisis kualitatif merupakan analisis yang mendeskripsikan kondisi

(27)

9 kegiatan di kebun kemudian dibandingkan dengan norma baku dan standar yang ditetapkan di perusahaan ataupun studi pustaka. Analisis kuantitatif merupakan analisis statistik dengan menggunakan rata-rata, persentase atau uji korelasi. Uji korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan antar berbagai peubah pertumbuhan yang diamati.

KEADAAN UMUM

Letak Geografis Kebun

PT Indotruba Tengah, Kebun Seruyan pada awalnya adalah perkebunan kelapa sawit yang tergabung dalam manajemen Group Salim Plantation dan merupakan perintis pertama dalam bidang usaha perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah. PT Indotruba Tengah memulai pembukaan lahan pada tahun 1990 dan penanaman kelapa sawit pertama dilakukan pada tahun 1992. Kebun Seruyan merupakan kebun pemekaran dari Kebun Sekunyir pada bulan Januari 2002, dengan luas areal HGU 4 179.4 ha. Kebun Seruyan terletak di Desa Pembuang Hulu II Kecamatan Hanau, Kabupaten Seruyan. Kebun Seruyan di sebelah utara berbatasan dengan PT Indotruba Timur, di sebelah barat berbatasan dengan Kebun Sekunyir, di sebelah timur berbatasan dengan PT Sinarmas dan di sebelah selatan berbatasan dengan PT Wana Sawit Subur Lestari. Kebun Seruyan terletak di titik koordinat 2.391–2.471 LS dan 111.984–112.083 BT dengan temperature rata-rata 28–32 oC. Peta Kebun Seruyan dapat dilihat pada Lampiran 6.

Keadaan Iklim dan Tanah

Kebun Seruyan pada umumnya memiliki topografi datar sampai dengan bergelombang dengan kemiringan 0-15% dan sebagian kecil memiliki topografi bergelombang berbukit dengan kemiringan lereng 15-30%. Secara geologis tanah di areal Kebun Seruyan adalah typic plinthudults (Ultisol) 16%, Spodosol dengan seri tanah Ultic Halporthods 5.6%, Ultisol dengan seri tanah Grossarenic Kandiudults 78.4%. Derajat keasaman (pH) tanah

< 4.5.

Berdasarkan curah hujan dan hari hujan selama tahun 2007-2011 Kebun Seruyan memiliki curah hujan rata rata tahunan 2 600 mm tahun-1 dengan hari hujan rata-rata 179.1 hari tahun-1 dan rata-rata bulan kering 1.30 serta rata-rata bulan basah 9.70. Musim hujan terjadi sekitar bulan Juli- Oktober dengan puncak musim hujan pada bulan Juli, sedangkan musim kemarau terjadi pada bulan Desember hingga Juni. Keadaan iklim di Kebun Seruyan menurut klasifikasi Schmidth Ferguson termasuk ke dalam tipe iklim A (sangat basah). Keadaan hari hujan bulanan selengkapnya tercantum pada Lampiran 7.

Luas Areal Konsesi dan Tata Guna Lahan

PT Indotruba Tengah memiliki areal hak guna usaha seluas 7 734.6 ha yang terbagi dalam 2 kebun, yaitu Kebun Sekunyir 3 555.2 ha

dan Kebun Seruyan 4 179.4 ha. Areal tanam Kebun Seruyan terbagi menjadi

(28)

10

3 Divisi yaitu Divisi 1, Divisi 2, dan Divisi 3. Area Divisi 1 seluas 1 134.3 ha, Divisi 2 seluas 1 233.9 ha dan areal Divisi 3 seluas 1 023.7 ha.

Luas bangunan (emplasment) pada Divisi 1 yaitu 9.28 ha, dengan luas areal untuk jalan dan jembatan yaitu 38.63 ha, Divisi 2 luas areal yang digunakan untuk pembangunan jalan dan jembatan yaitu 43.76 ha, dan di Divisi 3 luas areal yang digunakan untuk bangunan (emplasment) 5.0 ha, sedangkan areal yang digunakan untuk pembangunan jalan dan jembatan yaitu 36.0 ha.

Kebun Seruyan memiliki lahan okupasi seluas 797. 7 ha dan mempunyai areal konservasi seluas 3.6 ha. Tata guna lahan di Kebun Seruyan dapat dilihat pada Lampiran 8.

Keadaan Tanaman dan Produksi

Tanaman kelapa sawit di Kebun Seruyan ditanam mulai tahun 1992 hingga tahun 2013. Varietas kelapa sawit yang ditanam adalah varietas Yangambi dan Lame. Bibit kelapa sawit berasal dari penyedia bibit yaitu Socfindo. Jarak tanam yang digunakan dibagi menjadi dua, yaitu jarak tanam dengan sistem lama 9 meter x 9 meter x 9 meter dengan jumlah populasi 136 tanaman. Pada tahun 2013 digunakan jarak tanam baru dengan tujuan memaksimalkan produksi yaitu 6.96 meter x 7.97 meter x 6.96 meter dengan jumlah populasi 178-180 pokok. Produksi tandan buah segar (TBS) di Kebun Seruyan selama lima tahun terakhir (2009-2013) berfluktuatif dengan rata-rata 89 782.2 ton dan produktivitas 27.60 ton/ha (Tabel 1).

Produksi tandan buah segar selama lima tahun terakhir dan data hasil ekstraksi (rendemen) kelapa sawit dapat dilihat pada Lampiran 9 dan Lampiran 10.

Tabel 1. Luas areal tanaman menghasilkan, produksi, dan produktivitas tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kebun Seruyan, PT Indotruba Tengah, Kalimantan Tengah tahun 2009-2013.

Tahun Luas Areal TM (ha)

Populasi Tanaman (pohon)

Produksi (ton)

Produktivitas (ton/ha)

2009 3 253.1 5 888 78 456.43 24,11

2010 3 253.1 5 888 94 136.69 28.94

2011 3 253.1 5 888 103 136.83 31.76

2012 3 253.1 5 888 81 092.99 24.93

2013 3 253.1 5 477 91 908.26 28.25

Rata-rata 3 253.1 5 806 89 782.2 27.60

Sumber: Kantor besar Kebun Seruyan 2014

Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan

Kebun Seruyan dipimpin oleh seorang manajer yang bertanggung jawab terhadap perkembangan dan pengelolaan kebun yang dipimpinnya.

Seorang manajer kebun memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan dalam pengelolaan suatu kebun yang dipimpinnya. Dalam pengelolaan

(29)

11 Kebun Seruyan seorang manajer dibantu langsung oleh 1 orang asisten kepala, 2 orang asisten divisi, dan 1 orang kepala administrasi kebun (kasie).

Seorang asisten kepala bertugas untuk mengoordinasikan asisten divisi, mengelola emplasemen, dan traksi, memiliki tanggung jawab terhadap semua kegiatan baik sumber daya alam, sumber daya manusia, dan administrasi di divisi masing masing. Asisten kepala bertanggung jawab langsung kepada manajer. Asisten divisi berada di bawah asisten kepala yang memiliki tugas dan tanggung jawab mengelola kebun tingkat divisi yang dibantu oleh karyawan divisi yaitu mandor I, mandor panen, mandor perawatan, mandor pupuk, mandor emplasemen, krani divisi, krani panen, krani buah. Kepala administrasi bertugas untuk mengurus administrasi kebun meliputi perencanaan biaya kegiatan kebun dan mengatur keuangan kebun. Kepala administrasi dalam mengelola kebun dibantu oleh kasir, administrasi tanaman, dan tim keamanan.

Sistem ketenagakerjaan di Kebun Seruyan dibagi menjadi karyawan staf/pimpinan dan karyawan non staf. Karyawan staf terdiri atas manajer, senior asisten, asisten divisi, kepala administrasi, sedangkan karyawan non staf terdiri atas karyawan administrasi kebun/divisi, mandor divisi, pemanen, perawat tanaman, guru TK/SD/SMP, petugas kesehatan, karyawan teknik/transpor, dan keamanan. Struktur organisasi dan ketenagakerjaan Kebun Seruyan tercantum pada Lampiran 11.

PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG

Aspek Teknis Areal Pembibitan

Kegiatan pembibitan kelapa sawit dilakukan di Kebun Sekunyir.

Pembibitan di Kebun Sekunyir dimulai pada tahun 2012 dengan total luas areal ± 12 ha yang terdiri atas areal pre nursery seluas 0.36 ha, main nursery seluas 9.64 ha, dan infrastruktur 2 ha. Pengelolaan pembibitan di lakukan oleh satu orang mandor pembibitan. Kecambah yang digunakan di pembibitan Kebun Sekunyir ada 2 jenis yaitu kecambah yang berasal dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) dan dari Socfindo. Pembibitan di Kebun Sekunyir menggunakan sistem pembibitan dua tahap yaitu pembibitan awal dan pembibitan utama. Kegiatan yang ada di pembibitan awal yaitu: pembuatan bedengan, pengisian tanah ke babybag, pembuatan naungan, seleksi kecambah pada saat kecambah datang, penanaman kecambah, konsolidasi, penyiraman, pengendalian gulma, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, serta seleksi kecambah saat akan dipindahtanam ke pembibitan utama. Kegiatan yang dilakukan di pembibitan utama meliputi: pengisian tanah ke polybag, konsolidasi polybag, pembuatan lubang tanam, penanaman bibit kelapa sawit, penyiraman, pengendalian gulma, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, serta seleksi bibit. Peta areal pembibitan di Kebun Sekunyir dapat dilihat pada Lampiran 12.

(30)

12

Pre Nursery

Kegiatan di pre nursery meliputi: pembuatan bedengan, pengisian babybag, pembuatan naungan, seleksi kecambah, penanaman kecambah, pemberian mulsa, penyiraman, pemupukan, konsolidasi bibit, pengendalian gulma, seleksi bibit, serta pengukuran pertumbuhan bibit di pre nursery.

Pembuatan bedengan. Hal yang penting untuk dipersiapkan pada pembibitan yaitu pembuatan bedengan. Bedengan dibuat memanjang dengan arah barat timur dan di tepi bedengan dibuat pembatas dari kayu.

Bedengan dibuat dengan ukuran lebar 95 cm dan panjang bedengan 9.5 m dengan kapasitas 1 000 babybag/bedengan dan jumlah bedengan yaitu sebanyak 60 bedengan. Pembuatan bedengan dilakukan oleh 3 orang tenaga kerja harian dengan standar kerja 1.5 HK/bedengan. Di pembibitan Kebun Sekunyir jumlah kecambah yang disemai yaitu sebanyak ± 60 000 kecambah.

Pengisian babybag. Pegisian babybag dilakukan dengan sistem borongan dan dilakukan oleh 1 orang tenaga kerja perempuan dengan standar kerja 400 babybag/HK dan dibantu oleh seorang laki-laki untuk mengayak tanah. Pengisian babybag dilakukan dengan menggunakan top soil yang didapat dari Blok C19 dan sebelumnya sudah diayak dengan menggunakan ayakan berdiameter 1 cm. Babybag yang digunakan berwarna hitam yang telah diberi lubang perforasi sebanyak 18 buah. Ukuran babybag yang digunakan di Kebun Sekunyir yaitu lebar 7.5 cm, tinggi 15 cm, dengan ketebalan 0.01 mm. Kegiatan penataan babybag dilakukan secara bersamaan setelah pengisian babybag selesai.

Pembuatan naungan. Pemberian naungan di pembibitan awal berfungsi untuk mencegah bibit kelapa sawit terkena langsung sinar matahari yang berlebihan yang dapat menyebabkan sunshock serta untuk menghindari percikan tanah di babybag oleh air hujan. Naungan yang digunakan di pembibitan Kebun Sekunyir adalah paranet dengan intensitas cahaya masuk 60% artinya sinar matahari yang masuk ke pembibitan sebesar 60%. Naungan dibuat dengan ukuran 60 m x 60 m dengan tinggi 2 meter dari permukaan tanah. Jarak antar tiang sekitar 1.5 meter.

Seleksi kecambah. Pada saat kegiatan magang berlangsung penulis melakukan kegiatan seleksi kecambah pada tanggal 28 Februari 2014.

Kecambah yang telah diterima di perusahaan dilakukan seleksi sebelum ditanam dalam babybag. Seleksi kecambah dilakukan dengan memisahkan kecambah normal, kecambah abnormal, dan kecambah poliembrioni. Di Kebun Sekunyir kecambah poliembrioni tetap ditanam dengan harapan ketika tumbuh menjadi bibit didapatkan bibit yang normal dengan memutus salah satu bagian batang bibit yang dinilai kurang baik. Pemutusan bagian batang bibit yang kurang baik dilakukan ketika bibit sudah berumur 1 bulan sehingga sudah terlihat fisik bibit poliembrioni. Keragaan kecambah kelapa sawit normal tercantum pada Gambar 1.

(31)

13

a b c

d

Gambar 1. Keragaan kecambah kelapa sawit normal: (a) Kecambah dengan panjang 10 mm, (b) kecambah dengan panjang 25 mm, (c) kecambah pucuk dan akar terpuntir, (d) kecambah dengan akar terpuntir.

Sumber: Kantor Pembibitan Kebun Sekunyir

Kecambah abnormal memiliki ciri-ciri bentuk kecambah menyerupai garputala dengan pucuk bentuk pancing, kecambah berbentuk graham, kecambah dengan bentuk tongkat berkait, kecambah terhambat, dan kecambah tanpa akar. Keragaan kecambah kelapa sawit abnormal tercantum pada Gambar 2.

a b c

d e

Gambar 2. Keragaan kecambah kelapa sawit abnormal:

(a) kecambah menyerupai garputala dengan pucuk bentuk pancing, (b) kecambah berbentuk graham,

(c) kecambah berbentuk tongkat terkait, (d) kecambah terhambat, (e) kecambah tanpa akar.

Sumber: Kantor Pembibitan Kebun Sekunyir

(32)

14

Kecambah setelah dilakukan seleksi kemudian disemprot insektisida dengan merk dagang Decis dengan konsentrasi 1 ml untuk 1 liter air agar kecambah terhindar dari serangan hama seperti semut ketika sudah ditanam.

Hasil seleksi dan daya tumbuh bibit kelapa sawit di Kebun Sekunyir tahun penanaman 2013 di pembibitan awal dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Daya tumbuh bibit kelapa sawit di pembibitan awal asal Marihat dan Socfindo.

Tanggal Tanam

Jumlah Kecambah

Diterima

Jumlah Kecambah

Afkir

Jumlah Kecambah

Ditanam

Jumlah Kecambah

Tumbuh

Daya Tumbuh Kecambah

(%)

6/1/13 39 092 1 609 37 483 28 954 77.2

6/4/13 34 178 810 33 368 30 379 91.0

12/6/13 31 930 797 31 136 27 834 89.0

26/6/13 41 695 503 41 216 37 087 90.0

Rata-rata 36 724 930 35 801 31 064 87.0

Sumber: Kantor Kebun Sekunyir 2014

Penanaman kecambah. Penanaman kecambah merupakan hal yang paling penting untuk diperhatikan karena apabila terjadi kesalahan pada saat penanaman akan terjadi kecambah yang tumbuh abnormal. Saat pelaksanaan penanaman kecambah pekerja harus dapat membedakan antara bakal daun (plumula) dan bakal akar (radikula). Bakal daun ditandai dengan bentuk pucuk yang meruncing dan bakal akar ditandai dengan bagian bawah berbentuk tumpul panjangnya 8-25 mm berwarna putih gading dengan posisi saling bertolak belakang. Kecambah yang belum jelas perbedaan bakal daun dan akar dapat ditunda penanamanya, sedangkan yang terlalu panjang akarnya dapat dipotong 5 cm dari pangkalnya. Penanaman

kecambah dilakukan oleh tenaga kerja harian dengan standar kerja 1 000 kecambah/HK. Penanaman kecambah di pembibitan Kebun Sekunyir

masih terdapat penanaman kecambah yang salah yang dilakukan oleh karyawan sehingga ketika kecambah sudah berumur 1 bulan kecambah menjadi bibit yang abnormal. Hal ini disebabkan tenaga kerja yang ingin cepat menyelesaikan pekerjaan sehingga kurang memperhatikan prosedur penanaman kecambah. Hal inilah yang menyebabkan pentingnya dilakukan pengawasan yang ketat oleh asisten dan supervisi untuk menghindari kesalahan dalam penanaman kecambah kelapa sawit.

Pemberian mulsa. Mulsa yang digunakan pada pembibitan awal yaitu cangkang kelapa sawit yang diperoleh dari pabrik kelapa sawit.

Pemberian mulsa bertujuan menjaga kelembaban tanah dan menjaga media tumbuh dari percikan air hujan. Penulis melakukan kegiatan pemberian mulsa di pembibitan awal pada saat bibit berumur dua minggu setelah tanam.

Mulsa di pembibitan awal diberikan dengan menggunakan gelas takaran

±100 gram untuk setiap babybag.

(33)

15 Penyiraman. Sistem penyiraman di pembibitan awal menggunakan sistem irigasi curah dengan instalasi irigasi menggunakan selang sumisanshui merk Kiriko. Penyiraman dilakukan dalam sehari, yaitu dengan rotasi dua kali pada pagi dan sore hari. Penyiraman tidak dilakukan apabila curah hujan hari sebelumnya mencapai 10 mm. Penyiraman dilakukan selama 3 jam dari jam 06.00 hingga jam 07.00 pagi dan pada sore hari dari jam 14.00 hingga jam 17.00 sore. Kebutuhan air untuk bibit di pembibitan awal yaitu 0.8 liter/babybag. Sumber air yang digunakan yaitu dari waduk buatan yang lokasinya di belakang kantor pembibitan.

Pengendalian gulma. Pengendalian gulma di pembibitan awal Kebun Sekunyir dilakukan secara manual. Pengendalian gulma di pembibitan awal bertujuan untuk mempertahankan kondisi bibit agar mendapat unsur hara yang dibutuhkan dari tanah tanpa ada kompetisi dengan gulma.

Pengendalian gulma secara manual dilakukan 2 minggu sekali dengan tenaga kerja 4 orang perempuan, setiap orang mampu menyelesaikan pengendalian gulma secara manual sebanyak 4 bedengan dalam 7 jam kerja.

Gulma yang dominan di pembibitan awal adalah gulma jenis rumput.

Standar kerja untuk kegiatan pengendalian gulma yaitu 4 bedengan/HK.

Pemupukan. Pemupukan dilakukan satu kali pada umur 1 minggu setelah tanam (MST). Pupuk yang digunakan yaitu pupuk NPK Control Release Fertilizer (CRF) dengan merk dagang Simplot dengan dosis pupuk 5 gram/babybag. Pemupukan diakukan oleh 3 orang tenaga kerja perempuan dengan standar kerja 10 bedengan/HK. Satu orang bertugas membuat lubang untuk pupuk, 1 orang memberikan pupuk, dan 1 orang bertugas menutup lubang pupuk. Pupuk dimasukkan ke masing-masing lubang sebanyak ± 2.5 gram dan kemudian ditutup dengan tanah. Aplikasi pupuk Simplot dilakukan dengan menggunakan tutup botol yang takaran dosisnya sudah disesuaikan.

Konsolidasi bibit. Konsolidasi bibit merupakan kegiatan memperbaiki posisi babybag yang kurang benar seperti miring atau babybag roboh. Konsolidasi bibit dilakukan untuk menjaga bibit tetap tumbuh pada posisi yang normal baik letak maupun arah pertumbuhan. Konsolidasi bibit dilakukan terhadap babybag yang miring, babybag yang kekurangan tanah, dan bibit yang akarnya terlalu dangkal ke permukaan. Kegiatan konsolidasi bibit penulis lakukan pada saat bibit berumur 1 bulan. Konsolidasi bibit dilakukan oleh 6 orang tenaga kerja perempuan dengan standar kerja 3 bedengan/HK.

Seleksi bibit. Kegiatan seleksi bertujuan untuk memperoleh bibit yang baik dan memenuhi kriteria untuk ditanam. Kegiatan seleksi bibit di pre nursery Kebun Sekunyir berlangsung dengan baik di bawah pengawasan tim Minamas Research Centre (MRC). Seleksi bibit di pre nursery dilakukan pada saat bibit berumur 2.5–3 bulan atau pada saat pindah tanam ke lapangan main nursery. Seleksi di pembibitan awal dilakukan terhadap bibit abnormal seperti bibit rolled leaf (daun menggulung), twisted shoot (daun terpuntir), chimera (bibit bulai), bibit mati, bibit ganda, dan bibit juvenil (daun tidak membuka). Bibit yang abnormal kemudian dibuang atau dibakar. Ciri-ciri bibit normal yaitu mempunyai bentuk daun lanceolate atau

(34)

16

tajuk daun rata, dimana tiap daun yang keluar pada akhir pertumbuhannya akan lebih besar dari daun yang terdahulu.

Pertumbuhan bibit. Kegiatan pengukuran dilakukan penulis untuk mengetahui pertumbuhan vegetatif bibit kelapa sawit. Pengukuran dilakukan ketika bibit berumur 1 bulan hingga bibit akan dipindahtanam ke pembibitan utama sekitar 2.5 bulan. Data pertumbuhan bibit kelapa sawit di pembibitan awal dapat dilihat pada Tabel 3 dan hasil uji korelasi antar peubah vegetatif bibit kelapa sawit disajikan pada Tabel 4.

Tabel 3. Pertumbuhan bibit kelapa sawit asal Marihat di pembibitan awal

Bedengan Jumlah Bibit

Sampel MST TB

(cm)

DB (cm)

JP (helai)

1 100 4 5.9 0.3 0.0

5 8.4 0.4 1.2

6 11.7 0.4 1.9

7 15.9 0.4 1.9

8 17.0 0.4 2.0

9 19.9 0.5 2.2

10 22.0 0.6 2.9

11 24.0 0.7 3.5

2 100 4 4.1 0.3 0.0

5 6.9 0.3 1.5

6 11.4 0.4 1.9

7 15.9 0.4 1.9

8 18.6 0.4 2.0

9 20.8 0.5 2.4

10 22.8 0.5 2.8

11 24.4 0.6 3.3

3 100 4 4.5 0.3 0.0

5 7.6 0.3 1.4

6 11.5 0.4 1.9

7 13.9 0.4 2.0

8 17.2 0.4 2.2

9 20.2 0.5 2.6

10 22.2 0.5 3.3

11 24.0 0.6 3.8

Rata-rata 15.5 0.4 2.0

Keterangan: MST = Minggu Setelah Tanam DB = Diameter Bibit (cm) TB = Tinggi Bibit (cm) JP = Jumlah Pelepah (helai) Sumber: Pengamatan penulis (2014)

(35)

17 Tabel 4. Hasil Uji Korelasi antara tinggi bibit, diameter bibit, dan

jumlah pelepah

Peubah Tinggi Bibit Diameter Bibit Jumlah Pelepah

Tinggi bibit - - -

Diameter bibit 0.99467** - -

Jumlah pelepah 0.87523** 0.91257** - Keterangan: ** nyata pada taraf 1%.

Sumber: Pengamatan Penulis (2014).

Pertumbuhan vegetatif dapat dilihat pada kenaikan pertumbuhan tinggi bibit, penambahan diameter bibit, dan penambahan jumlah pelepah bibit. Kenaikan pertumbuhan tinggi bibit, penambahan diameter bibit, dan jumlah pelepah bibit dapat dilihat pada Gambar 3, Gambar 4, dan Gambar 5.

Gambar 3. Grafik pertumbuhan tinggi bibit kelapa sawit di pre nursery

Gambar 4. Pertumbuhan diameter batang bibit kelapa sawit di pre nursery

0 5 10 15 20 25 30

2 4 6 8 10 12

Tinggi Bibit (cm)

Minggu Setelah Tanam (MST)

0.20 0.30 0.40 0.50 0.60 0.70

2 4 6 8 10 12

Diameter Batang (cm)

Minggu Setelah Tanam (MST)

(36)

18

Gambar 5. Pertumbuhan jumlah pelepah bibit kelapa sawit di pre nursery

Main Nursery atau Pembibitan Utama

Kegiatan di main nursery meliputi pengisian tanah ke polybag, konsolidasi polybag, pembuatan lubang tanam, transplanting, penyiraman bibit, pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit, seleksi bibit, dan pertumbuhan bibit di pembibitan utama.

Pengisian tanah ke polybag. Pengisian media tanam di pembibitan utama harus sudah selesai 1 bulan sebelum dilakukan kegiatan transplanting.

Dalam kegiatan pengisian tanah ke polybag tanah yang digunakan yaitu top soil dan tidak bercampur dengan kerikil. Sebelum tanah dimasukkan ke dalam polybag tanah diayak terlebih dahulu. Polybag yang digunakan yaitu polybag berwarna hitam ukuran 40 cm x 50 cm, ketebalan 0.2 mm dengan 36 lubang perforasi. Agar dapat berdiri tidak miring, polybag bagian dalam dibalik menjadi bagian luar. Kegiatan pengisian tanah ke dalam polybag dilakukan oleh tenaga kerja borongan laki-laki dengan standar kerja 100 polybag/HK. Pada saat pengisian tanah penulis hanya mampu menyelesaikan 20 polybag. Setelah pengisian tanah ke polybag selesai dilakukan juga kegiatan penataan polybag sesuai dengan jarak polybag yaitu 90 cm x 90 cm x 90 cm.

Konsolidasi polybag. Konsolidasi polybag dilakukan pada polybag yang posisinya miring, meluruskan barisan polybag yang kurang lurus, meratakan dan menambah tanah ke dalam polybag, mencabut gulma yang tumbuh. Polybag disusun dengan jarak yang telah ditetapkan oleh perusahaan yaitu 90 cm x 90 cm x 90 cm. Kegiatan konsolidasi sudah harus selesai selambat-lambatnya 2-3 minggu sebelum transplanting. Kegiatan konsolidsi polybag dilakukan oleh tenaga kerja harian perempuan dengan standar kerja 2 000 polybag/HK. Dalam kegiatan ini penulis hanya mampu menyelesaikan sebanyak 1 250 polybag selama 7 jam kerja.

Pembuatan lubang tanam. Pembuatan lubang tanam dilakukan pada saat akan dilakukan transplanting bibit dari pembibitan awal ke pembibitan utama. Pembuatan lubang tanam dilakukan dengan menggunakan pipa ukuran 4 inch sesuai standar perusahaan. Cara pembuatan lubang tanam yaitu dengan menancapkan pipa ke dalam polybag hingga mencapai

± 20 cm. Kegiatan pembuatan lubang tanam dilakukan oleh tenaga kerja borongan laki-laki dengan standar kerja 250 polybag/HK selama 7 jam kerja.

0.00 1.00 2.00 3.00 4.00

2 4 6 8 10 12

Jumlah Pelepah (pelepah)

Minggu Setelah Tanam (MST)

(37)

19 Pemupukan. Pemupukan dilakukan bersamaan pada saat bibit di pembibitan awal dipindahtanam ke pembibitan utama. Setelah membuat lubang tanam, pupuk langsung diaplikasikan, pupuk cair yang digunakan

yaitu pupuk control release fertilizer (CRF) merk Simplot dengan dosis 50 gram/polybag. Pemberian pupuk dilakukan dengan menggunakan tutup

botol yang takaran dosisnya sudah disesuaikan dengan dosis yang telah ditetapkan. Bersamaan dengan pupuk diberikan juga micorhyyza merek micogol.

Transplanting. Transplanting dilakukan pada saat bibit di pembibitan awal sudah berumur 2.5-3 bulan. Kegiatan transplanting dikerjakan beregu oleh tenaga kerja borongan. Tiap regu terdiri atas 2 orang laki-laki sebagai pembuat lubang tanam dalam polybag, 2 orang perempuan mengambil bibit dari pembibitan awal dan mengecerkanya, 2 orang perempuan bekerja memberikan micorhyyza dan pupuk CRF, dan 2 orang perempuan bertugas menanam bibit kelapa sawit yang telah diecer.

Penyiraman bibit. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan sistem irigasi curah. Penyiraman di pembibitan Kebun Sekunyir dilakukan 2 kali sehari, pagi dan sore dengan lama penyiraman 1 jam. Kebutuhan air untuk bibit di main nursery yaitu 2 liter polybag-1. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan sumishower, tinggi tiang sumishower yaitu 1.5 meter.

Jarak antar tiang sumishower yaitu 13 meter dengan jangkauan penyiraman dalam menyiram bibit kelapa sawit untuk 1 sumishower yaitu 7.5 meter ke kanan dan 7.5 meter ke kiri. Mesin yang digunakan untuk penyiraman menggunakan mesin pompa merk Southern Cross dengan mesin penggerak Yanmar.

Pengendalian gulma. Pada main nursery penyiangan dilakukan dua minggu sekali dengan standar kerja 0.7 ha/HK. Penyiangan di dalam polybag dilakukan dengan mencabut rumput-rumput yang ada di dalam polybag. Sedangkan gulma yang tumbuh di luar polybag disemprot menggunakan herbisida berbahan aktif amonium glufosinat dengan dosis 2 liter ha-1 dan penyemprotan dilakukan lebih rendah dari permukaan polybag agar tidak mengenai tanaman utama.

Pengendalian hama dan penyakit. Hama yang terdapat di pembibitan utama yaitu kumbang malam, ulat api, semut, ulat grayak, dan tikus. Pengendalian hama dilakukan dengan cara manual apabila intensitas serangan masih rendah. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan oleh tenaga kerja harian perempuan dengan standar kerja 3 000 tanaman/HK.

Pengendalian hama dilakukan 2 minggu sekali menggunakan Sevin dengan konsentrasi 2 gram/l air untuk 300 bibit. Sedangkan penyakit yang terdapat di pembibitan utama Kebun Sekunyir yaitu bercak daun yang disebabkan oleh Curvularia maculans dan pengendaliannya menggunakan Amistar Top dengan konsentrasi 1 ml/l air untuk 300 bibit dengan rotasi 2 minggu dan menggunakan Dithane M-45 dengan konsentrasi 2 gram/l air dan dilakukan 2 minggu sekali.

Seleksi bibit. Seleksi bibit di pembibitan utama dilakukan secara bertahap yaitu ketika bibit berumur 6 bulan, 9 bulan, 12 bulan dan saat dipindahtanam ke lapangan. Pada saat kegiatan magang penulis mengikuti seleksi pada umur bibit 6 dan 9 bulan. Cara seleksi bibit pada dasarnya sama

(38)

20

ketika melakukan seleksi pada pembibitan awal, tetapi seleksi juga dilakukan pada bibit kerdil dan flat top. Kegiatan seleksi merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting untuk dilakukan agar mendapat kualitas bibit yang baik, untuk itu kegiatan seleksi harus dengan pengawasan senior asisten dengan didampingi tim MRC.

Pertumbuhan bibit. Pengukuran pertumbuhan bibit kelapa sawit penulis lakukan untuk mengetahui kualitas bibit yang ada di pembibitan utama Kebun Sekunyir. Pengukuran bibit penulis lakukan setiap 1 minggu sekali dan dilakukan sampai bibit di pindahtanam ke lapangan. Pengukuran tinggi bibit penulis lakukan dengan menggunakan penggaris besar yang terbuat dari kayu, pengukuran diameter bibit penulis lakukan menggunakan jangka sorong, dan pengukuran jumlah pelepah penulis lakukan dengan menghitung manual. Pengukuran pertumbuhan vegetatif pada bibit 8 bulan dapat dilihat pada Tabel 5 dan hasil uji korelasi pertumbuhan vegetatif bibit varietas Yangambi umur 8 bulan dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 5. Pertumbuhan vegetatif pada bibit varietas Yangambi umur 8 bulan di pembibitan utama.

Blok Jumlah Bibit Sampel

MST TB

(cm)

DB (cm)

JP (pelepah)

D 70 33 58.10 2.90 11.38

34 62.00 2.92 11.77

35 65.40 3.30 12.41

36 70.60 3.49 13.01

37 75.84 3.86 13.71

38 74.30 3.91 14.11

Rata-rata 67.70 3.40 12.70

C2-5 70 33 82.40 4.37 13.55

34 86.30 4.90 14.47

35 90.90 4.98 14.58

36 96.00 5.12 15.25

37 99.64 5.26 16.38

38 101.10 5.32 16.25

Rata-rata 92.70 5.00 15.10

Standar Perusahaan 64.30 3.60 11.50

Keterangan : MST = Minggu Setelah Tanam TB = Tinggi Bibit (cm) DB = Diameter Bibit (cm) JP = Jumlah Pelepah (cm) Sumber : Pengamatan penulis (2014)

(39)

21 Tabel 6. Hasil uji korelasi antar peubah pertumbuhan vegetatif kelapa sawit varietas Yangambi umur 8 bulan di pembibitan utama.

Umur Bibit (minggu)

Hubungan Korelasi antara

TB-DB TB-JP DB-JP

33 0.75163* 0.40502 0.36968

34 0.78644 0.42345 0.62525

35 0.31231 0.26309 -0.46092

36 0.66525* 0.09729 0.04378

37 0.31231* 0.26309 -0.46092

38 0.38856 0.15299 0.31644

39 0.41784 0.31921 0.19907

40 0.66525* 0.09729 0.04578

41 0.51913 0.41041 0.24008

42 0.52954 0.04161 -0.04437

43 1.0000** 0.50724 0.50724

44 0.40164 -0.09199 -0.05091

Keterangan: * nyata pada taraf 5% TB= Tinggi Bibit

Pertumbuhan vegetatif bibit kelapa sawit varietas Marihat SMB umur 10 bulan di pembibitan utama dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Pertumbuhan vegetatif bibit kelapa sawit varietas Marihat SMB umur 10 bulan di pembibitan utama.

Blok Jumlah Bibit Sampel

MST TB

(cm)

DB (cm)

JP (pelepah)

B 70 40 97.20 5.60 15.20

41 101.20 6.10 16.20

42 108.50 6.80 16.30

43 112.90 8.10 17.20

44 114.70 7.20 17.40

45 114.80 6.80 18.10

Rata-rata 108.20 6.80 16.70

C1-5 70 40 104.00 6.30 15.90

41 107.30 6.50 16.00

42 112.10 6.90 16.90

43 113.00 7.00 16.70

44 114.50 7.10 17.00

45 99.80 5.30 16.40

Rata-rata 108.50 6.50 16.50

Standar Perusahaan 101.90 5.50 15.50

Keterangan : MST = Minggu Setelah Tanam JP= Jumlah Pelepah (helai) TB= Tinggi Bibit (cm) DB= Diameter Bibit (cm) Sumber : Pengamatan penulis (2014)

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilaksanakan dengan pengamatan kriteria mutu bibit tusam (Pinus merkusii) berdasarkan SNI (Standar Nasional Indonesia) di pembibitan, yaitu : ada tidaknya serangan

1) Aktivitas usahatani bawang merah yang dilakukan di Desa Sukasari Kaler meliputi persiapan bibit, pengolahan lahan, penanaman, penyulaman, penyiangan, penyiraman,

Program Mandiri Sapi Donor Hasil Seleksi di UPT/Pembibitan Embrio Embrio TE Pejantan Unggul X Resipien di UPT/Pembibitan Bibit Replacement di Daerah Pejantan Unggul

Di samping itu, penelitian juga bertujuan menentukan lokasi Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) sebagai lokasi pendidikan lapang bagi petani. Seleksi lokasi sumber

Kegiatan pembibitan pada dasarnya berperan dalam penyiapan bahan tanaman (bibit) untuk keperluan penanaman di lapangan, sehingga kegiatan pembibitan harus dikelola

Jenis pekerjaan preventif dalam pengendalian hama yang sering dilakukan adalah sensus hama secara berkala dan penanaman beneficial plant, sedangkan untuk pengendalian secara

Aplikasi pupuk anorganik yang terlalu tinggi disertai pemupukan pupuk organik diduga juga meningkatkan serangan hama di awal pertumbuhan, namun serangan hama ini masih

dan kompos tandan kosong kelapa sawit berpengaruh nyata terhadap kandungan klorofil daun bibit kelapa sawit di pembibitan awal dan awal pembibitan utama pada 5 BSP dan 6 BSP, namun