• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN. A. Rancangan Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN. A. Rancangan Penelitian"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian Research and Development (RnD) sesuai dengan teori Borg dan Gall (1989) yang terdiri dari 10 langkah yaitu potensi dan masalah, pengumpulan informasi dan studi pustaka, desain produk, validasi produk, perbaikan desain, uji coba produk, revisi produk, uji coba pemakaian, revisi produk, dan produk massal.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian akan dibagi menjadi dua wilayah masyarakat pesisir, yakni:

Kabupaten Situbondo sebagai tempat untuk uji coba Modul CENIKMA dan alat ukur, sedangkan Kabupaten Probolinggo sebagai tempat penelitian. Pemilihan Kabupaten Situbondo sebagai tempat uji coba Modul CENIKMA dan uji validitas serta reliabilitas intrumen karena Kabupaten Situbondo memiliki karakteristik yang sama dengan Kabupaten Probolinggo yaitu sama-sama berada di wilayah pesisir Pantai Utara Pulau Jawa dengan area tapal kuda, mayoritas penduduk bekerja sebagai nelayan.

Secara geografis, Kabupaten Situbondo mempunyai luas 1.638,50 km² atau 163.850 Ha serta mempunyai bentuk memanjang dari barat ke timur kurang lebih 150 km di Pantai Utara Pulau Jawa. Secara astronomis, wilayah Kabupaten Situbondo terletak di posisi antara 7°35'–7°44' Lintang Selatan dan 113°30'–

114°42' Bujur Timur. Batas sebelah utara adalah Selat Madura, batas sebelah timur adalah Selat Bali, batas sebelah Selatan adalah Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi, batas sebelah Barat adalah Kabupaten Probolinggo. Peta Kabupaten Situbondo dideskripsikan sebagai berikut.

commit to user

(2)

Gambar 6. Peta Kabupaten Situbondo

Setelah melalui uji validitas dan reliabilitas instrumen, maka dilakukan pengambilan data penelitian di Kabupaten Probolinggo. Peta Kabupaten Probolinggo dideskripsikan sebagai berikut.

Gambar 7. Peta Kabupaten Probolinggo

Kabupaten Probolinggo adalah salah satu kabupaten yang terletak di Jawa Timur tepatnya daerah tapal kuda yang sama seperti Kabupaten Situbondo.

Berada pada posisi 112’50’-113’30’ Bujur Timur (BT) dan 7’400-8’10’ Lintang Selatan (LS), dengan luas wilayah Kabupaten Probolinggo yaitu 1.696,17 km, terdiri dari daerah dataran rendah, dataran tinggi, dan pesisir pantai. Batas commit to user

(3)

Kabupaten Probolinggo adalah daerah di ujung Provinsi Jawa Timur yang di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pasuruan, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Situbondo dan Kabupaten Jember, sebelah utara berbatasan dengan Selat Madura dan Pantai Utara Pulau Jawa, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang. Daerah pesisir Kabupaten Probolinggo berbatasan langsung dengan Pantai Utara Pulau Jawa. Jumlah penduduk Kabupaten Probolinggo pada tahun 2019 adalah sebanyak 1.095.370 juta jiwa.

Keadaan geografis tersebut menunjukkan bahwa masyarakat pesisir sebagian besar berpenghasilan dari pekerjaan sebagai nelayan. Pendapatan yang diperoleh dari hasil bekerja sebagai nelayan biasanya diberikan per hari setelah pulang dari melaut yang berada pada kategori di bawah Upah Minimal Kerja (UMK) yang hanya cukup digunakan untuk kebutuhan makan dalam waktu satu hari saja.

Banyaknya masyarakat pesisir yang bekerja sebagai nelayan, dikarenakan mereka hanya menempuh pendidikan dasar sampai pada jenjang sekolah menengah pertama saja, sehingga mereka tidak mempunyai kesempatan untuk bekerja pada bidang lain yang menghasilkan pendapatan lebih tinggi. Hasil penelitian Hanafi (2017) menginformasikan bahwa budaya yang berkembang pada masyarakat pesisir yaitu melestarikan peninggalan leluhur yaitu menikahkan anak secara dini.

Uji coba modul dan alat ukur validitas dilakukan pada bulan September 2019 dengan jumlah kader kesehatan sebanyak 80 kader kesehatan. Jumlah kader kesehatan yang harus ada di setiap desa adalah lima orang yang disesuaikan dengan lima meja pada posyandu (Pemerintah Provinsi Jawa Timur, 2011).

Kabupaten Situbondo terdiri dari empat kecamatan, yakni : (1) Kecamatan Banyuglugur yang terdiri dari empat desa yaitu Desa Banyuglugur, Desa Kalianget, Desa Kalisari, dan Desa Lubawang; (2) Kecamatan Arjasa terdiri dari dari empat desa yaitu Desa Arjasa, Desa Bayeman, Desa Curah Tatal, dan Desa Jati Sari; (3) Kecamatan Bungatan terdiri dari empat desa yaitu Desa Blethok, Desa Bungatan, Desa Mlandingan Wetan, dan Desa Pasir Putih; (4) Kecamatan Banyuputih terdiri dari empat desa yaitu Desa Banyuputih, Desa Sumberejo, Desa Sumberanyar, dan Desa Sumberwaru.

commit to user

(4)

Sementara itu, penelitian akan dilakukan di daerah Pesisir Kabupaten Probolinggo yang terdiri dari empat kecamatan, yakni: (1) Kecamatan Gending yang terdiri dari empat desa yaitu Desa Pesisir, Desa Pikatan, Desa Klaseman, dan Desa Pajurangan; (2) Kecamatan Pajarakan yang terdiri dari empat desa yaitu Desa Penambangan, Desa Gejugan, Desa Karangpranti, dan Desa Sukokerto; (3) Kecamatan Kraksaan terdiri dari empat desa yaitu Desa Kalibuntu, Desa Asembagus, Desa Asembakor, dan Desa Kebonagung; (4) Kecamatan Paiton terdiri dari empat desa yaitu Desa Binor, Desa Sumberanyar, Desa Karanganyar, dan Desa Randu Tatah. Penelitian dilaksanakan pada November dan Desember 2019. Permasalahan di tempat penelitian ini adalah tingginya kasus pernikahan dini, rendahnya peran kader kesehatan, dan rendahnya keterlibatan ayah atau ibu remaja dalam mencegah terjadinya pernikahan diri.

C. Metode Pengambilan Data Penelitian

Uraian berikut akan menjelaskan tentang metode pengambilan data penelitian yang terdiri dari tiga studi. Studi pertama dan kedua merupakan studi yang dilakukan dengan pendekatan Research and Development (RnD) mengacu pada bagan alur RnD Borg dan Gahl (1989), sedangkan studi ketiga di luar alur RnD yang bertujuan untuk menguji teori yang terkait dengan niat, khususnya intensi menikahkan anak secara dini.

1. Studi Pertama

Studi pertama yaitu studi yang dilakukan untuk pengembangan Modul CENIKMA yang akan diuraikan pada gambar sebagai berikut.

Gambar 8. Tujuh tahapan awal dari Bagan Alur tahap RnD Borg dan Gahl (1989) (Bagan Alur ini dipakai untuk studi pertama yaitu uji coba produk)

a. Potensi dan masalah

Pengkajian potensi dan masalah dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan melakukan wawancara kepada partisipan dengan panduan

Validasi produk Desain produk

Pengumpulan data

Potensi dan masalah

Revisi produk pengemban gan

Uji coba produk Revisi produk

commit to user

(5)

wawancara. Fokus penelitian yaitu perilaku apa saja yang dilakukan masyarakat pesisir yang berhubungan dengan pernikahan, materi pada modul yang diperlukan oleh orang tua untuk mencegah pernikahan dini remaja, dan bentuk modul yang diinginkan oleh ayah atau ibu sehingga selalu tertarik untuk membaca dan memahami isi modul sehingga akan menurunkan niat mereka untuk menikahkan anak gadisnya secara dini. Instrumen penelitian yaitu peneliti sendiri. Hasil penelitian yaitu berupa catatan lapangan. Potensi dan masalah yang digali pada studi awal penelitian dilakukan dengan penelitian kualitatif. Partisipan dalam penelitian yang dimaksud adalah Camat yang terdiri dari empat Camat yaitu Camat Gending, Camat Pajarakan, Camat Kraksaan, dan Camat Paiton, Ketua Rukun Tetangga, Ketua PKK yang terdiri dari empat Ketua PKK Kecamatan yaitu Ketua PKK Kecamatan Gending, Ketua PKK Kecamatan Pajarakan, Ketua PKK Kecamatan Kraksaan, dan Ketua PKK Kecamatan Paiton. Selain itu, juga terdapat Bidan Koordinator Puskesmas terdiri dari empat orang yaitu Bidan Kordinator Puskesmas Gending, Bidan Kordinator Puskesmas Pajarakan, Bidan Kordinator Puskesmas Kraksaan, dan Bidan Kordinator Puskesmas Paiton. Kriteria partisipan dalam penelitian ini adalah pemangku kepentingan yang bertanggung jawab menjalankan program-program di daerah dan pencegahan terjadinya pernikahan dini di daerah pesisir. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive samping. Rekrutmen partisipan dilakukan dengan melakukan kerja sama dengan Puskesmas dan kader kesehatan di Daerah Pesisir yang merupakan wilayah kerja Dinas Kesehatan Probolinggo untuk mendapatkan data para pemangku kepentingan. Persetujuan dari partisipan dilakukan dengan mendatangi masing- masing rumah dari calon partisipan untuk meminta persetujuan apakah mau berpartisipasi dalam penelitian atau tidak. Semua calon partisipan yang setuju untuk berpartisipasi dalam penelitian akan dikunjungi ulang sesuai dengan hari dan waktu untuk dilakukan penelitian dengan metode wawancara.

Peneliti bersama kader kesehatan mendatangi masing-masing rumah dari calon informan untuk melakukan wawancara dengan panduan wawancara terkait dengan permasalahan yang terjadi di daerah pesisir. Semua hasil wawancara direkam menggunakan tape recorder atas persetujuan partisipan untuk menggali potensi masalah berupa perilaku yang banyak dilakukan masyarakat pesisir yang commit to user

(6)

berhubungan dengan pernikahan, topik pertanyaan yang ditanyakan adalah sebagai berikut.

1) Apa saja peristiwa fenomenal atau sedang trend yang paling banyak terjadi di pesisir pada saat ini?

2) Apakah banyak anak gadis yang sudah tidak sekolah? Mengapa?

3) Pada usia berapa biasanya anak gadis itu dinikahkan?

4) Apa yang menyebabkan anak gadis menikah lebih awal?

5) Apakah menikah dini merupakan keinginan dari anak gadis itu sendiri?

b. Pengumpulan informasi dan studi pustaka

Pengumpulan informasi untuk merencanakan pembuatan modul dilakukan oleh peneliti dengan melakukan pengumpulan informasi melalui wawancara di Daerah Pesisir yaitu Kecamatan Gending, Kecamatan Pajarakan, Kecamatan Kraksaan, dan Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur untuk mengetahui kebutuhan informasi dan pengetahuan mengenai pernikahan dini dan risikonya, serta desain produk modul seperti apa yang diharapkan ayah atau ibu remaja.

Peneliti melakukan wawancara untuk menganalisis kebutuhan kepada 20 ayah atau ibu dan hasilnya akan digunakan sebagai dasar mengembangkan modul yang sesuai dengan harapan ayah atau ibu remaja.

Daftar pertanyaan yang ditanyakan pada saat wawancara adalah sebagai berikut.

1) Menurut Anda, apakah yang dimaksud dengan tumbuh kembang remaja dan asupan gizi remaja yang diperlukan remaja?

2) Menurut Anda, apakah yang dimaksud dengan reproduksi remaja sehat?

3) Apakah Anda mengetahui batasan usia menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan? Jika Anda mengetahuinya, tolong uraikan batasan tersebut!

4) Menurut Anda, apa saja faktor penyebab terjadinya pernikahan dini di sekitar tempat tinggal Anda?

5) Menurut Anda, apa saja akibat dari terjadinya pernikahan dini?

6) Menurut Anda, apa saja dampak risiko psikologis dari terjadinya pernikahan dini?

7) Apakah Anda pernah mengetahui bahwa Kabupaten Probolinggo menyumbang angka pernikahan tertinggi di Jawa Timur? commit to user

(7)

8) Apakah Anda pernah mendapatkan informasi tentang pernikahan dini dan dampaknya? Jika pernah, tolong uraikan dari mana sumber informasi tersebut berasal!

9) Bentuk modul panduan pencegahan pernikahan seperti apa yang Anda inginkan? Apakah berupa tulisan saja? Apakah gambar saja? Apakah berupa tulisan dan gambar? Uraikan alasan dari pilihan Anda tersebut!

10) Apakah Anda menginginkan modul panduan pencegahan pernikahan dini yang dicetak berbentuk buku? Jika iya, seberapa besar bentuk modul panduan cetak yang Anda inginkan?

11) Apakah Anda mengingikan modul pencegahan pernikahan dini yang dapat dibawa berpindah tempat? Uraikan jawaban Anda!

12) Apakah Anda mengingikan modul pencegahan pernikahan dini yang bisa dimasukkan ke telepon seluler dan berupa file? Uraikan jawaban Anda!

Teknik analisis data dalam penelitian awal kualitatif ini menggunakan teknik thematic analysis yang mengacu pada teori dari Graneheim and Lundman (2004). Tahapan thematic analysis adalah dengan membaca secara berulang transkip masing-masing partisipan untuk mendapatkan kalimat bermakna yang disebut meaning unit yang kemudian diringkas menjadi condensed meaning unit dengan proses refleksi untuk menemukan kode. Setelah ditemukannya kode, maka diringkas menjadi subkategori dan diringkas lagi menjadi kategori. Beberapa kategori yang ditemukan dikaitkan satu dengan yang lain kemudian muncul tema.

c. Desain produk

Modul CENIKMA adalah modul yang dibuat sendiri oleh peneliti. CENIKMA adalah nama yang diberikan oleh peneliti sendiri. Pengembangan Modul CENIKMA berdasarkan pada hasil penelitian tahap awal yaitu penggalian potensi dan masalah penelitian yang ada di daerah pesisir. Hasil yang didapatkan dari penggalian potensi dan masalah yaitu di daerah pesisir marak terjadi pernikahan dini.

Tahap membuat desain produk Modul CENIKMA yaitu pembuatan desain yang terdiri dari cover untuk bagian paling depan, kemudian bagian isi dari Modul CENIKMA yang merupakan materi tentang pernikahan dini, pemilihan warna

commit to user

(8)

yang dipakai sebagai dasar, pemilihan huruf dan gambar yang disesuaikan dengan karakteritsik ayah atau ibu remaja sehingga tertarik dengan Modul CENIKMA.

d. Validasi produk

Validasi dalam penelitian ini terdiri dari validasi kuesioner dan validasi Modul CENIKMA. Kuesioner yang akan diuji validitas dan reliabilitasnya adalah kuesioner kompetensi kader kesehatan yang dalam hal ini dibagi menjadi kuesioner pengetahuan dan keterampilan komunikasi kader kesehatan, kuesioner sikap, norma subjektif, dan kontrol yang dirasakan terhadap niat menikahkan anak secara dini, kuesioner proses perubahan niat ayah atau ibu remaja menikahkan anak secara dini sesuai TTM.

Validasi Modul CENIKMA bertujuan untuk menilai isi dan konten modul CENIKMA.Validasi dilakukan dengan menghadirkan tiga ahli yaitu ahli media dari ahli Informasi dan Teknologi dan dua ahli materi/konten dari dosen program kebidanan dan dokter spesialis anak. Peneliti memberikan angket kepada tiga ahli untuk memberikan penilaian.

Aspek yang divalidasi oleh tiga tenaga ahli yaitu ahli media dari ahli Informasi dan Teknologi dan dua ahli materi/konten dari dosen program kebidanan dan dokter spesialis anak diuraikan dalam tabel berikut.

commit to user

(9)

Tabel 4. Point yang divalidasi ahli media yaitu dosen Informasi dan Teknologi

Point No Komponen

A Desain 1 Desain cover sesuai

2 Bentuk dan ukuran modul sesuai 3 Pemilihan jenis kertas tepat 4 Penjilidan rapi dan kuat

B Materi 5 Kejelasan materi yang terdapat dalam modul 6 Kecukupan materi yang disajikan

C Bahasa 7 Kejelasan bahasa yang digunakan 8 Ketepatan penulisan ejaan

9 Kejelasan struktur kalimat

10 Kesesuaian gaya bahasa dengan karakteristik pengguna

11 Ketepatan penggunaan tanda baca D Visual 12 Konsistensi tata letak (layout)

13 Kejelasan ilustrasi

14 Kesesuaian ilustrasi dengan materi 15 Daya tarik dari ilustrasi

16 Kesesuaian margin dengan badan modul 17 Ketepatan proporsi warna

18 Ketepatan pemilihan warna dengan fungsinya dalam materi

E Tipografi 19 Pemilihan jenis huruf 20 Ukuran huruf proporsional

21 Penekanan menggunakan gaya huruf 22 Kesesuaian ukuran spasi

commit to user

(10)

Tabel 5. Point yang di validasi ahli media yaitu dosen program kebidanan dan dokter spesialis anak

Point No Komponen

A Bahasa 1 Bahasa mudah dipahami

2 Penterjemahan bahasa latin atau kata-kata khusus kesehatan ke dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar

B Materi 3 Kemenarikan isi materi

4 Kesesuaian materi yang disajikan secara konseptual

5 Kualitas materi sesuai dengan kebutuhan pada orang tua remaja dan kader kesehatan

6 Cakupan isi materi sudah sesuai dengan tujuan pengembangan modul

7 Materi yang disajikan disertai sumber rujukan yang jelas

C Visual 8 Konsistensi tata letak (layout) 9 Kejelasan ilustrasi

10 Kesesuaian ilustrasi dengan materi 11 Daya tarik dari ilustrasi

12 Kesesuaian margin dengan badan buku 13 Daya tarik cover

14 Ketepatan proporsi warna

commit to user

(11)

Adapun pedoman dan kriteria skoring Modul menurut Harjasujana (1999) yang dideskripsikan dalam tabel sebagai berikut.

Tabel 6. Pedoman dan kriteria skoring Modul menurut Harjasujana (1999)

Skor Interprestasi Keputusan

90-100 Sangat baik Produk baru siap dimanfaatkan di lapangan yang sebenarnya dan dipakai untuk kegiatan pelatihan/tidak revisi

80-89 Baik Produk baru siap dimanfaatkan di lapangan yang sebenarnya dan digunakan untuk kegiatan pelatihan/tidak revisi

70-79 Cukup baik Produk baru siap dimanfaatkan di lapangan sebenarnya untuk kegiatan pelatihan/tidak revisi

60-69 Kurang baik Merevisi dengan meneliti kembali secara seksama dan mencari kelemahan-kelemahan produk untuk disempurnakan

<60 Sangat kurang baik Produk gagal, merevisi secara besar-besaran dan mendasar tentang isi produk.

e. Revisi produk

Setelah dilakukan validasi oleh pakar, maka peneliti akan melakukan perbaikan apabila terdapat bagian yang kurang sesuai dengan memperhatikan saran dan masukan ahli Informasi dan Teknologi. Peneliti melanjutkan proses penelitian dengan melakukan wawancara kepada partisipan kemudian hasilnya dianalisis dengan thematic analysis.

Tabel 7. Teknik analisis thematic analysis: dari meaning unit sampai kode (Graneheim dan Lundman, 2004).

Meaning unit Condensed meaning unit Code

Meaning unit 1 Meaning unit 2 Meaning unit 3 Dst

Meaning unit 4 Meaning unit 5 Meaning unit 6 Dst

Condensed meaning unit 1 Condensed meaning unit 2 Condensed meaning unit 3 Dst

Condensed meaning unit 4 Condensed meaning unit 5 Condensed meaning unit 6 Dst

code 1

code 2

commit to user dst

(12)

Tabel 8. Teknik analisis thematic analysis dari kode sampai tema (Graneheim and Lundman, 2004)

Tema Tema

Kategori Sub- kategori Kode

Kategori 1

Sub- kategori 1

Kode 1 Kode 2 Kode 3 Kode 4

Sub- kategori 2 Kode 5 Kode 6 Kode 7

Kategori 2

Sub- kategori 3 Kode 8 Kode 9 Kode 10 Kode 11 Kode 12

Sub- kategori 4

Kode 13 Kode 14

Kategori 3

Sub- kategori 5

Kode 15 Kode 16 Kode 17 Kode 18 Kode 19

Sub- kategori 6

Kode 20 Kode 21 Kode 22 Kode 23

Penjelasannya dari tabel adalah sebagai berikut. Transkip yang berasal dari wawancara dibaca berulang sehingga didapatkan makna. Penggalan paragraf atau kalimat bermakna disebut meaning unit. Meaning unit masih terlalu panjang sehingga diringkas sehingga menjadi condensed meaning unit.

Makna dari condensed meaning unit dapat dicari melalui proses refleksi sehingga ditemukan kode. Kode merupakan kata atau frasa dengan makna tertentu. Beberapa kode yang memiliki makna hampir sama diringkas menjadi subkategori. Beberapa subkategori diringkas menjadi kategori. Beberapa kategori dikaitkan antara satu dan lainnya sehingga ditemukan tema.

commit to user

(13)

Adapun contoh koding dari data verbatim transkip adalah sebagai berikut.

Contoh koding dari meaning unit ke codes ditampilkan pada tabel berikut.

Tabel 9. Contoh koding dari meaning unit ke codes.

Meaning units Condensed meaning units

Codes

remaja di sekitar rumah saya yang telah dinikahkan dini oleh orang tuanya, yang saya lihat adalah banyak yang bercerai, ada yang bercerai hanya beberapa bulan setelah menikah, ada yang satu tahun setelah menikah dan banyak di antara mereka akhirnya merantau keluar negeri

remaja di sekitar rumah saya yang telah dinikahkan dini, banyak yang bercerai beberapa bulan setelah menikah, ada yang satu tahun setelah menikah dan banyak yang akhirnya merantau ke luar negeri

remaja yang dinikahkan dini banyak yang bercerai beberapa bulan dan satu tahun setelah menikah dan banyak yang akhirnya merantau ke luar negeri

remaja yang dinikahkan dini banyak yang bercerai setelah menikah akhirnya merantau ke luar negeri

Adapun contoh dari codes ke subcategory dicontohkan pada tabel berkut.

Tabel 10. Contoh dari codes ke subcategory

Subcategory Category

ayah atau ibu menikahkan anak secara dini karena mayoritas berasal dari sosial ekonomi rendah

faktor penyebab pernikahan dini

pernikahan dini mengakibatkan timbulnya masalah kesehatan pada wanita dan bayi yang dilahirkan, pertengakaran dalam rumah tangga hingga perceraian

dampak pernikahan dini

commit to user

(14)

f. Uji coba produk

Uji coba produk berupa Modul CENIKMA akan dilakukan di Kabupaten yang berbeda yaitu Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Uji coba produk dilakukan kepada kader kesehatan dan ayah atau ibu remaja yang akan diuraikan sebagai berikut.

1. Uji coba produk pada kader kesehatan

Uji coba produk dilakukan kepada kader kesehatan yang berada di wilayah pesisir yang berjumlah 80 orang kader kesehatan (Data Puskesmas Wilayah Pesisir Kabupaten Situbondo, 2019). Rekrutmen responden dilakukan dengan bekerja sama dengan Puskesmas Wilayah Pesisir Kabupaten Situbondo.

Puskesmas Wilayah Pesisir Kabupaten Situbondo menugaskan seorang Bidan Koordinator untuk membantu peneliti mengundang kader kesehatan yang akan diuji coba untuk datang ke Puskesmas. Kader kesehatan diberikan informasi bahwa akan diikutsertakan ke dalam kegiatan penelitian yang berlangsung selama tiga hari dan bagi mereka yang setuju untuk ikut serta, maka diminta datang ke Puskesmas lagi pada hari dan waktu yang disepakati bersama.

Peneliti membagi kader kesehatan ke dalam dua kelompok yaitu 40 kader kesehatan pada kelompok intervensi dan 40 kader kesehatan pada kelompok kontrol. Kedua kelompok diberikan informed consent dan pre-test kuesioner kompetensi kader kesehatan yang terdiri dari kuesioner pengetahuan dan keterampilan komunikasi kader kesehatan. Setelah selesai pre-test, 40 kader kesehatan kelompok kontrol dipersilahkan pulang dan pada hari ketiga diminta datang kembali ke Puskesmas. Kelompok intervensi diberikan pelatihan dengan narasumber peneliti dan bidan desa dengan Modul CENIKMA selama tiga. Hari ketiga setelah pelatihan kelompok intervensi selesai, maka kedua kelompok tersebut secara bersama diminta untuk mengisi post-test kuesioner kompetensi kader kesehatan yang terdiri dari kuesioner pengetahuan dan keterampilan komunikasi kader kesehatan.

commit to user

(15)

Pre-test Treatment Post-test Exsperimental group

Control group

Gambar 9. Quasi exsperimental design (Johnson and Christensen, 2014)

Arti kode :

O1 : pre-test kelompok intervensi

X : pelatihan dengan Modul CENIKMA O2 : post-test kelompok intervensi O3 : pre-test kelompok kontrol O4 : post-test kelompok kontrol

Desain eksperimen yang digunakan dalam studi kedua sama dengan uji coba pada studi pertama. Desain eksperimen dalam uji coba pada studi pertama yaitu pengembangan Modul CENIKMA pada kader kesehatan dan ayah atau ibu remaja dan studi kedua yaitu implementasi hasil pengembangan Modul CENIKMA pada kader kesehatan dan ayah atau ibu remaja yang tertera pada gambar 6 di atas.

Berikut ini disajikan data Kecamatan, Desa, dan jumlah kader kesehatan di Kabupaten Situbondo untuk uji coba produk hasil pengembangan Modul CENIKMA dan instrumen penelitian lainnya yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol.

O1 X O2 O2

O3 X O4 O4

commit to user

(16)

Tabel 11. Kecamatan, Desa, dan jumlah kader kesehatan Kabupaten Situbondo

Kecamatan Desa Jumlah Kader Kesehatan

Kelompok Intervensi

Banyuglugur Banyuglugur 5

Kalianget 5

Kalisari 5

Lubawang 5

Arjasa Arjasa 5

Bayeman 5

Curah Tatal 5

Jati Sari 5

Kelompok Kontrol

Bungatan Blethok 5

Bungatan, 5

Mlandingan Wetan 5

Pasir Putih 5

Banyuputih Banyuputih 5

Sumberejo 5

Sumberanyar 5

Sumberwaru 5

Total 80

2. Uji coba produk pada ayah atau ibu remaja

Uji coba produk dilakukan kepada ayah atau ibu remaja yang berada di wilayah pesisir yang berjumlah 80 ayah atau ibu remaja. Rekrutmen responden dilakukan dengan bekerja sama dengan Kepala Desa, Bidan Desa, dan kader kesehatan di Wilayah Pesisir Kabupaten Situbondo. Data mengenai ayah atau ibu remaja diperoleh dari Bidan Desa. Peneliti bersama dengan kader kesehatan mendatangi rumah calon responden untuk menanyakan bersedia atau tidak untuk berpartisipasi dalam penelitian. Bagi calon responden yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian, maka diminta untuk hadir di Balai Desa sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Responden yang telah hadir di Balai Desa diminta untuk mengisi informed consent dan pre-test. Bagi mereka yang masuk ke dalam kelompok kontrol, maka dipersilahkan untuk pulang dan datang kembali ke Balai Desa dua hari mendatang untuk post-test. Kelompok intervensi diberikan pelatihan dengan Modul CENIKMA dengan fasilitator kader kesehatan yang kompeten dan telah mengikuti pelatihan dengan Modul CENIKMA. Pelatihan berlangsung selama commit to user

(17)

tiga hari. Baik kelompok intervensi maupun kelompok kontrol diminta mengisi post-test pada hari ketiga. Setelah selesai, maka peneliti melakukan rekap data dan analisis data. Desain eksperimen yang digunakan yaitu tertera pada gambar 6.

Berikut ini disajikan data Kecamatan, Desa, dan jumlah ayah atau ibu remaja di Kabupaten Situbondo untuk uji coba produk hasil pengembangan Modul CENIKMA dan instrumen penelitian lainnya yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol.

Tabel 12. Kecamatan, Desa, dan jumlah ayah atau ibu remaja Kabupaten Situbondo

Kecamatan Desa Jumlah Ayah atau Ibu Remaja Kelompok Intervensi

Banyuglugur Banyuglugur 7

Kalianget 5

Kalisari 5

Lubawang 3

Arjasa Arjasa 4

Bayeman 8

Curah Tatal 3

Jati Sari 5

Total 40

Kelompok Kontrol

Bungatan Blethok 7

Bungatan, 3

Mlandingan Wetan 6

Pasir Putih 4

Banyuputih Banyuputih 10

Sumberejo 2

Sumberanyar 4

Sumberwaru 4

Total 40

g. Revisi produk

Setelah selesai uji produk, maka produk berupa Modul CENIKMA akan direvisi sesuai dengan temuan pada saat uji coba, akan tetapi jika tidak ada yang perlu untuk direvisi, maka dilanjutkan ke tahap uji coba pemakaian.

2. Studi Kedua

Studi kedua yaitu implementasi dari hasil pengembangan Modul CENIKMA pada studi pertama yang akan diuraikan pada gambar sebagai berikut. commit to user

(18)

Gambar 10. Tiga tahapan akhir dari Bagan Alur tahap RnD Borg dan Gahl (1989)

Implementasi dari hasil pengembangan Modul CENIKMA dilaksanakan secara berjenjang yaitu pertama diterapkan pada kader kesehatan lalu kedua diterapkan kepada ayah atau ibu remaja yang akan diuraikan sebagai berikut.

a. Implementasi kepada Kader Kesehatan 1) Jenis Penelitian

Jenis penelitian kuantitatif dengan desain penelitian quasi exsperimental design yang akan diterapkan secara berjenjang yaitu pertama pada kader kesehatan dan kedua pada ayah atau ibu remaja. Desain eksperimen yang digunakan yaitu tertera pada gambar 6.

2) Jenis Intervensi

Pelatihan kader kesehatan dengan Modul CENIKMA ini merupakan implementasi produk tahap pertama untuk kader kesehatan yang nantinya akan diimplementasikan ke tahap kedua oleh kader kesehatan ke ayah atau ibu remaja.

Intervensi ini menggunakan rancangan eksperimen yang sama dengan uji coba.

Responden yang digunakan berbeda dari responden pada uji coba. Responden pada tahap ini adalah kader kesehatan di wilayah Pesisir Kabupaten Probolinggo.

3) Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian dilaksanakan di empat Kecamatan yang berada di daerah Pesisir Kabupaten Probolinggo. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2020.

4) Alat dan Bahan

Alat atau bahan yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut.

a) Modul CENIKMA

b) Kuesioner kompetensi kader kesehatan, yang terdiri dari dua subskala 1. Kuesioner pengetahuan kader kesehatan tentang pernikahan dini 2. Kuesioner keterampilan komunikasi kader kesehatan

Revisi produk Produk massal Uji Pemakaian

commit to user

(19)

5) Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian

a) Modul CENIKMA divalidasi oleh satu orang ahli media yaitu dosen Informasi dan Teknologi, kemudian juga divalidasi oleh dua orang ahli materi/konten yaitu satu orang dosen kebidanan dan satu orang dokter spesialis anak.

b) Kuesioner kompetensi kader kesehatan

Kuesioner kompetensi kader kesehatan meliputi pengetahuan dan keterampilan komunikasi kader kesehatan diuji validitas dan reliabilitasnya dengan melibatkan 80 kader di daerah pesisir Kabupaten Situbondo. Validitas kuesioner pengetahuan diuji dengan biseral point.

Validitas keterampilan komunikasi diuji dengan corrected item-total correlation. Reliabilitas dengan membandingkan cronbach alpha.

6) Variabel Penelitian dan Definisi Operasional a) Variabel Dependen Penelitian

Variabel dependen penelitian ini yaitu kompetensi kader kesehatan.

Definisi operasional dari kompetensi kader kesehatan adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh kader kesehatan yang berbeda dimensi, meliputi pengetahuan kader kesehatan tentang pernikahan dini dan keterampilan komunikasi.

Kriteria kader kesehatan kompeten yaitu memiliki pengetahuan baik dan keterampilan komunikasi baik. Pengetahuan kader kesehatan tentang pernikahan dini dan keterampilan komunikasi untuk menyampaikan segala sesuai tentang pernikahan dini.

Definisi operasional dari pengetahuan kader kesehatan mengenai pernikahan dini adalah segala sesuatu yang diketahui oleh kader kesehatan tentang remaja dan pernikahan dini. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur pengetahuan kader kesehatan adalah kuesioner pengetahuan kader kesehatan tentang pernikahan dini dengan aspek pengembangan alat ukur dalam tahapan tahu (know), yaitu mengingat materi yang pernah didapatkan. Jenis data pada pengetahuan kader kesehatan tentang pernikahan dini adalah data ordinal dengan skor 0-20 untuk kategori kurang, skor 21-30 untuk kategori cukup dan skor 31-40 untuk kategori baik. commit to user

(20)

Selain pengetahuan kader kesehatan, kompetensi kader kesehatan juga terdiri dari keterampilan komunikasi kader kesehatan yang definisi operasionalnya adalah kemampuan kader kesehatan untuk menyampaikan informasi dan menciptakan kebersamaan melalui lisan, tulisan, dan visual.

Alat ukur yang digunakan untuk mengukur keterampilan komunikasi kader kes ceklist keterampilan komunikasi kader kesehatan untuk menyampaikan segala sesuai tentang pernikahan dini. Aspek pengembangan alat ukur keterampilan komunikasi kader kesehatan terdiri dari tiga kategori yaitu, keterampilan komunikasi lisan, keterampilan komunikasi tulisan dan keterampilan keterampilan komunikasi lisan komunikasi visual.

Keterampilan komunikasi lisan yaitu kemampuan seseorang dalam berkomunikasi melalui berbicara dan umpan balik dapat diberikan secara langsung. Keterampilan komunikasi tulisan yaitu kemampuan seseorang membuat pesan-pesan secara tertulis dalam berbagai macam bentuk.

Keterampilan komunikasi visual yaitu kemampuan seseorang dalam mengomunikasikan pesan atau informasi kepada pembaca dengan berbagai kekuatan visual, seperti tipografi, ilustrasi, warna, garis, dan lain sebagainya dengan bantuan teknologi.

Jenis data dari keterampilan komunikasi kader kesehatan adalah data ordinal dengan skor 0-30 untuk kategori kurang menguasai, skor 31-60 untuk kategori cukup menguasai dan skor 61-100 untuk kategori menguasai.

b) Variabel Independen Penelitian

Variabel independen penelitian yaitu pelatihan dengan Modul CENIKMA dengan definisi operasional yaitu kegiatan tatap muka yang dilakukan selama tiga hari yang bertujuan untuk mempersiapkan dan membantu kader kesehatan meningkatkan kompetensinya dengan menggunakan panduan berupa Modul CENIKMA yang berisi materi tentang remaja dan tumbuh kembangnya, gizi yang diperlukan remaja, kesehatan reproduksi remaja, pernikahan dan pernikahan dini, dan dampak dari pernikahan dini.

commit to user

(21)

c) Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah kader kesehatan yang berada di Pesisir Kabupaten Probolinggo berjumlah 80 orang (Data Puskesmas Wilayah Pesisir Kabupaten Probolinggo, 2019). Berikut ini disajikan data Kecamatan, Desa, dan jumlah kader kesehatan di Kabupaten Probolinggo untuk pengambilan data penelitian yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol.

Tabel 13. Kecamatan, Desa, dan jumlah kader kesehatan Kabupaten Probolinggo

Kecamatan Desa Jumlah Kader Kesehatan

Kelompok Intervensi

Gending Pesisir 5

Pikatan 5

Klaseman 5

Pajurangan 5

Pajarakan Penambangan 5

Gejugan 5

Karangpranti 5

Sukokerto 5

Total 40

Kelompok Kontrol

Kraksaan Kalibuntu 5

Asembagus 5

Asembakor 5

Kebonagung 5

Paiton Binor 5

Sumberanyar 5

Karanganyar 5

Randu Tatah 5

Total 40

d) Teknik Sampling

Jumlah populasi kader kesehatan di pesisir Kabupaten Probolinggo adalah 80 orang, sehingga semuanya akan diikutsertakan dalam pelatihan dengan Modul CENIKMA. Teknik sampling yang digunakan adalah sampling jenuh.

e) Uji Statistik

Uji statistik yang digunakan untuk menganalisis kompetensi kader kesehatan sebelum dan setelah mengikuti pelatihan dengan Modul commit to user

(22)

CENIKMA adalah independent t-test dengan syarat data berdistribusi normal dan data homogen. Jika data tidak berdistribusi normal maka diuji menggunakan uji Mann Withney U.

b. Implementasi kepada Ayah atau Ibu Remaja

Setelah tidak ada yang direvisi lagi, maka dilakukan uji pemakaian Modul CENIKMA kepada ayah atau ibu yang memiliki anak remaja berusia 14-16 tahun dengan penjabaran sebagai berikut.

1) Jenis Penelitian

Jenis penelitian kuantitatif dengan desain penelitian quasi exsperimental design yang akan diterapkan secara berjenjang yaitu pertama pada kader kesehatan dan kedua pada ayah atau ibu remaja. Desain eksperimen yang digunakan sama dengan tahapan uji coba modul seperti yang disajikan dalam gambar 6.

2) Jenis Intervensi

Pelatihan yang dilakukan oleh kader kesehatan kepada ayah atau ibu remaja dengan tujuan menurunkan niat menikahkan anak secara dini.

3) Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian dilaksanakan di empat Kecamatan yang berada di daerah Pesisir Kabupaten Probolinggo. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2020.

4) Alat dan Bahan

Alat atau bahan yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut.

a) Modul CENIKMA

b) Kuesioner niat ayah atau ibu menikahkan anak secara dini 5) Uji Validitas dan Reliabilitas Instrument Penelitian

Uji validitas dan reliabilitas ini dilakukan sebelum pengambilan data dengan melibatkan 80 ayah atau ibu remaja di daerah Pesisir Kabupaten Situbondo.

Validitas diuji dengan corrected item-total correlation, reliabilitas dengan membandingkan cronbach alpha.

commit to user

(23)

6) Variabel Penelitian dan Definisi Operasional a) Variabel Dependen Penelitian

Variabel dependen penelitian dalam penelitian ini adalah niat ayah atau ibu menikahkan anak secara dini yang definisi operasionalnya adalah keinginan menikahkan anak secara dini mencakup aspek dari perilaku orang tua yang lebih percaya bahwa menikahkan anak secara dini akan mendatangkan manfaat, aspek sasaran yaitu seseorang yang mampu secara ekonomi, aspek situasi yaitu anak berada pada kondisi tidak aman karena akan berusia 16 tahun, dan aspek waktu yaitu ingin secepatnya dinikahkan karena rasa takut bahwa orang yang menjadi sasaran akan memilih anak gadis dari orang lain.

Alat ukur yang digunakan untuk mengukur niat ayah atau ibu menikahkan anak secara dini kuesioner niat menikahkan anak secara dini dengan pengembangan alat ukur yang meliputi perilaku, sasaran, situasi dan waktu. Perilaku dari orang tua yakni orang tua yang lebih percaya bahwa menikahkan anak secara dini akan mendatangkan manfaat. Sasaran yang akan dinikahkan dengan anak gadis yakni orang tua telah memilih pria untuk dinikahkan dengan anaknya, yaitu seseorang yang mampu secara ekonomi. Situasi yang dimaksud adalah situasi yang menuntut segera menikahkan anak secara dini yakni anak gadis berada dalam situasi yang tidak aman karena akan berusia 16 tahun. Waktu yang dimaksud adalah waktu yang tepat untuk menikahkan anak secara dini yakni ingin segera menikahkan anaknya dalam waktu singkat karena rasa takut bahwa orang yang menjadi sasaran akan memilih anak gadis dari orang lain.

Jenis data niat ayah atau ibu menikahkan anak secara dini adalah data ordinal dengan skor 1-13 untuk kategori niat rendah, skor 14-27 utnk kategori niat sedang dan skor 28-40 untuk kategori niat tinggi.

b) Variabel Independen Penelitian.

Variabel independen dalam penelitian adalah pelatihan dengan Modul CENIKMA dengan definisi operasional kegiatan tatap muka yang dilakukan selama tiga hari yang bertujuan untuk mempersiapkan dan membantu kader kesehatan meningkatkan kompetensinya dengan commit to user

(24)

menggunakan panduan berupa Modul CENIKMA yang berisi materi tentang remaja dan tumbuh kembangnya, gizi yang diperlukan remaja, kesehatan reproduksi remaja, pernikahan dan pernikahan dini, serta dampak dari pernikahan dini.

c) Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah ayah atau ibu yang memiliki anak gadis remaja (14-16 tahun) yang berada di daerah pesisir Kabupaten Probolinggo.

d) Teknik Sampling

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik cluster random sampling. Pengambilan sampel di lapangan adalah dengan menghitung jumlah sampel pada masing-masing daerah.

e) Sampel

Sampel pada penelitian ini adalah ayah atau ibu yang memiliki anak gadis remaja (14-16 tahun) yang berada di daerah pesisir Kabupaten Probolinggo. Jumlah sampel kelompok intervensi yaitu 40 ayah atau ibu.

Jumlah sampel kelompok kontrol yaitu 40 ayah atau ibu.

Tabel 14. Jumlah sampel ayah atau ibu remaja di Kabupaten Probolinggo Kecamatan Desa Jumlah Ayah atau Ibu remaja Kelompok Intervensi

Gending Pesisir 3

Pikatan 7

Klaseman 8

Pajurangan 2

Pajarakan Penambangan 5

Gejugan 3

Karangpranti 6

Sukokerto 6

Total 40

Kelompok Kontrol

Kraksaan Kalibuntu 6

Asembagus 4

Asembakor 7

Kebonagung 3

Paiton Binor 4

Sumberanyar 3

Karanganyar 8

Randu Tatah 5

Total commit to user 40

(25)

Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah ayah atau ibu yang bersedia menjadi sampel penelitian, ayah atau ibu yang memiliki anak remaja perempuan yang masih aktif bersekolah di sekolah menengah pertama, penduduk asli yang dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP), ayah atau ibu kandung yang dibuktikan dengan Kartu Keluarga (KK) f) Uji Statistik

Uji statistik yang digunakan untuk menganalisis niat ayah atau ibu remaja sebelum dan setelah mengikuti pelatihan dengan Modul CENIKMA adalah independent t-test dengan syarat data berdistribusi normal dan data homogen. Jika data tidak berdistribusi normal maka diuji menggunakan uji mann withney U.

3. Studi Ketiga

Studi ketiga pada penelitian ini merupakan uji untuk menganalisis proses perubahan niat ayah atau ibu remaja untuk menikahkan anak secara dini mengacu pada Transtheoretical Model yang secara simultan bersama-sama dengan faktor determinan intensi dari TPB. Uraian studi ketiga akan dijabarkan sebagai berikut.

a. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah menguji peran proses perubahan niat berdasarkan Transtheoretical Model bersama-sama dengan sikap, norma subjektif dan kontrol yang dirasakan berpengaruh dalam menurunkan niat ayah atau ibu remaja di masyarakat pesisir untuk menikahkan anak secara dini.

b. Hipotesis Penelitian

Hipotesis dalam penelitian ini adalah proses perubahan niat menikahkan anak secara dini sesuai Transtheoretical Model bersama-sama dengan sikap, norma subjektif, dan kontrol yang dirasakan mempengaruhi niat ayah atau ibu remaja untuk menikahkan anak secara dini.

commit to user

(26)

Gambar 11. Dua tahap dari Bagan Alur tahap RnD Borg dan Gahl (1989) c. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian dilaksanakan di empat Kecamatan yang berada di derah Pesisir Kabupaten Probolinggo. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari – Agustus 2020.

d. Alat dan Bahan

Alat atau bahan yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut.

1) Kuesioner sikap terhadap pernikahan dini

2) Kuesioner norma subjektif terhadap pernikahan dini 3) Kuesioner kontrol perilaku terhadap pernikahan dini 4) Kuesioner niat menikahkan anak secara dini

5) Kuesioner proses perubahan niat menikahkan anak secara dini sesuai Transtheoretical Model

e. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian

Uji validitas dan reliabilitas ini dilakukan sebelum pengambilan data dengan melibatkan 40 ayah atau ibu remaja di pesisir Kabupaten Situbondo.

Validitas diuji dengan corrected item-total correlation, reliabilitas dengan membandingkan cronbach alpha.

f. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 1) Variabel Independen Penelitian

Variabel independen penelitian ini ada empat yaitu sikap terhadap pernikahan dini, norma subjektif terhadap pernikahan dini, kontrol perilaku yang dirasakan terhadap pernikahan dini, dan proses perubahan niat menikahkan anak secara dini.

Sikap terhadap pernikahan dini definisi operasionalnya adalah tanggapan dari ayah atau ibu remaja untuk mendukung atau menolak pernikahan dini. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur sikap terhadap pernikahan dini kuesioner sikap terhadap niat menikahkan anak secara dini. Aspek pengembangan alat ukur meliputi aspek kognitif yakni pengetahuan tentang pernikahan dini, dampak, dan penyebab dari

Revisi produk Produk masal

commit to user

(27)

pernikahan dini, aspek afektif yakni menyangkut menyukai atau tidak menyukai dengan kenyataan tentang pernikahan dini, aspek konasi yakni arah perilaku yang menunjukkan kecenderungan mendukung pernikahan dini serta menganggap bahwa menikah secara dini merupakan hal yang biasa. Jenis data pada sikap terhadap pernikahan dini adalah data interval dengan skor 1 untuk sangat tidak setuju, skor 2 untuk kategori tidak setuju, skor 3 untuk kategori setuju dan skor 4 untuk kategori sangat setuju.

Norma subjektif terhadap pernikahan dini definisi operasionalnya adalah persepsi ayah atau ibu remaja dalam menilai pernikahan dini. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur norma subjektif terhadap pernikahan dini kuesioner keyakinan terhadap niat menikahkan anak secara dini dengan aspek pengembangan alat ukur meliputi aspek tingkat kesulitan yang akan dialami oleh ayah atau ibu remaja terhadap keyakinan bahwa menikah dini adalah merupakan warisan dari nenek moyang atau leluhur mereka yang harus dilestarikan. Aspek lainnya adalah kekuatan yang membuat ayah atau ibu remaja yakin untuk mampu menghadapi gunjingan dari masyarakat jika anak perempuan mereka tidak menikah sampai berumur 16 tahun dan disebut sebagai perawan tua. Jenis data norma subjektif terhadap pernikahan dini adalah data interval dengan skor 1 untuk kategori sangat tidak setuju, skor 2 untuk kategori tidak setuju, skor 3 untuk kategori setuju dan skor 4 untuk kategori sangat setuju.

Kontrol perilaku yang dirasakan terhadap pernikahan dini definisi operasionalnya adalahkemampuan ayah atau ibu remaja untuk mengendalikan dorongan dari dalam diri sendiri atau dari luar agar dapat menghasilkan sesuatu yang diinginkan dari pernikahan dini dan menghindari akibat yang tidak diinginkan dari pernikahan dini. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur kontrol perilaku yang dirasakan terhadap pernikahan dini adalah kuesioner kontrol perilaku terhadap niat menikahkkan anak secara dini. Aspek pengembangan alat ukur meliputi keterbukaan yaitu kemampuan ayah atau ibu remaja untuk dapat commit to user

(28)

menerima informasi atau masukan tentang mencegah pernikahan dini, serta aspek keputusan, yaitu pilihan ayah atau ibu remaja untuk menunda menikahkan anak secara dini. Jenis data Kontrol perilaku yang dirasakan terhadap pernikahan dini adalah data interval dengan skor 1 untuk kategori sangat tidak setuju, skor 2 untuk kategori tidak setuju, skor 3 untuk kategori setuju dan skor 4 untuk kategori sangat setuju.

Proses perubahan niat menikahkan anak secara dini definisi operasionalnya adalah tahapan yang harus dilalui oleh ayah atau ibu remaja dimulai dari tahap precountemplation yang merupakan tahap ketika ayah atau ibu remaja tetap ingin menikahkan anak secara dini karena kurangnya informasi tentang dampak pernikahan dini, tahap countemplation yaitu tahap ketika mulai mempertimbangkan dampak pernikahan dini, tahap preparation yaitu ketika telah mulai meninggalkan niat lama dengan perubahan kecil, tahap action yaitu ketika benar-benar meninggalkan niat lama dan tahap maintenance yaitu ketika ayah atau ibu remaja telah menjadikan niat baru sebagai kebiasaan dan akan diterapkan dalam waktu lebih dari 6 bulan. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur proses perubahan niat menikahkan anak secara dini Kuesioner proses perubahan niat menikahkan anak secara dini sesuai Transtheoretical Model. Aspek pengembangan alat ukur tersebut meliputi aspek precountemplation yaitu ayah atau ibu dari remaja tetap ingin menikahkan anak mereka secara dini. aspek countemplation yaitu ayah atau ibu mulai mempertimbangkan bahwa dengan menikahkan anak secara dini maka akan menimbulkan banyak masalah, aspek preparation yaitu ayah atau ibu remaja mulai melakukan perubahan-perubahan kecil, aspek action yaitu ayah atau ibu remaja sudah benar-benar melakukan perubahan niat menikahkan anak secara dini dan aspek maintenance, ayah atau ibu remaja sudah meninggalkan niat lama dalam beberapa waktu serta menjadikan niat yang baru sebagai sebuah kebiasaan. Jenis data proses perubahan niat menikahkan anak secara dini adalah data interval dengan skor 1 untuk kategori tahap precontemplation, skor 2 untuk kategori tahap contemplation, skor 3 untuk kategori tahap commit to user

(29)

preparation, skor 4 untuk kategori tahap action , dan skor 5 untuk kategori tahap maintenance

2) Variabel Dependen Penelitian

Variabel dependen penelitian dalam penelitian ini adalah niat ayah atau ibu menikahkan anak secara dini yang definisi operasionalnya adalah keinginan menikahkan anak secara dini mencakup aspek dari perilaku orang tua yang lebih percaya bahwa menikahkan anak secara dini akan mendatangkan manfaat, aspek sasaran yaitu seseorang yang mampu secara ekonomi, aspek situasi yaitu anak berada pada kondisi tidak aman karena akan berusia 16 tahun, dan aspek waktu yaitu ingin secepatnya dinikahkan karena rasa takut bahwa orang yang menjadi sasaran akan memilih anak gadis dari orang lain.

Alat ukur yang digunakan untuk mengukur niat ayah atau ibu menikahkan anak secara dini kuesioner niat menikahkan anak secara dini dengan pengembangan alat ukur yang meliputi perilaku, sasaran, situasi dan waktu. Perilaku dari orang tua yakni orang tua yang lebih percaya bahwa menikahkan anak secara dini akan mendatangkan manfaat. Sasaran yang akan dinikahkan dengan anak gadis yakni orang tua telah memilih pria untuk dinikahkan dengan anaknya, yaitu seseorang yang mampu secara ekonomi. Situasi yang dimaksud adalah situasi yang menuntut segera menikahkan anak secara dini yakni anak gadis berada dalam situasi yang tidak aman karena akan berusia 16 tahun. Waktu yang dimaksud adalah waktu yang tepat untuk menikahkan anak secara dini yakni ingin segera menikahkan anaknya dalam waktu singkat karena rasa takut bahwa orang yang menjadi sasaran akan memilih anak gadis dari orang lain.

Jenis data niat ayah atau ibu menikahkan anak secara dini adalah data ordinal dengan skor 1-13 untuk kategori niat rendah, skor 14-27 utnk kategori niat sedang dan skor 28-40 untuk kategori niat tinggi.

3) Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah ayah atau ibu yang memiliki anak gadis remaja (14-16 tahun) yang berada di daerah pesisir Kabupaten Probolinggo. commit to user

(30)

4) Teknik Sampling

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik cluster random sampling. Responden yang digunakan untuk penelitian tahap ini sama dengan responden yang digunakan pada tahap pengukuran niat ayah atau ibu remaja menikahkan anak secara dini. Pengambilan sampel di lapangan adalah menghitung jumlah sampel yang ada pada masing-masing daerah.

5) Sampel

Sampel pada penelitian ini adalah ayah atau ibu yang memiliki anak gadis remaja (14-16 tahun) yang berada di daerah pesisir Kabupaten Situbondo dan Kabupaten Probolinggo yang berada pada kelompok intervensi yaitu 80 ayah atau ibu remaja.

Tabel 15. Jumlah sampel ayah atau ibu remaja Kabupaten Situbondo dan Kabupaten Probolinggo

Kabupaten Situbondo

Kecamatan Desa Jumlah Ayah atau Ibu Remaja

Kelompok Intervensi

Banyuglugur Banyuglugur 7

Kalianget 5

Kalisari 5

Lubawang 3

Arjasa Arjasa 4

Bayeman 8

Curah Tatal 3

Jati Sari 5

Total 40

Kabupaten Probolinggo Kelompok Intervensi

Gending Pesisir 3

Pikatan 7

Klaseman 8

Pajurangan 2

Pajarakan Penambangan 5

Gejugan 3

Karangpranti 6

Sukokerto 6

Total 40

Kriteria inklusi dalam penelitian ini meliputi ayah atau ibu yang bersedia menjadi sampel penelitian, ayah atau ibu yang memiliki anak remaja commit to user

(31)

perempuan yang masih aktif bersekolah di sekolah menengah pertama, penduduk asli yang dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP), ayah atau ibu kandung yang dibuktikan dengan Kartu Keluarga (KK).

6) Uji Statistik

Uji statistik yang digunakan untuk menganalisis proses perubahan niat menikahkan anak secara dini adalah regresi linier berganda apabila memenuhi uji prasyarat analisis yaitu uji normalitas data, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas

commit to user

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan Untuk dapat berkompetensi dalam berkomunikasi lintas budaya di kalangan generasi muda sebagai bentuk kesiapan menghadapi Pemberlakuan

Kegiatan Pembelajaran siswa MI Miftahul Huda Wonorejo Gandusari dan MI Hidayatul Mubtadiin Sukorame Gandusari Trenggalek, di dalam dan luar kelas4. Observasi dan

Selain itu ada komponen adaptability yang mempengaruhi efektifitas kerjasama tim melalui adanya kemampuan perawat dapat menangani perubahan situasi yang terjadi dalam tim, seperti

Tentu, pada tataran realita tidak mungkin akan kita dapati praksis yang sesuai dengan teori yang berasas tersebut. Jika setiap orang tetap akan memaksakan pengaplikasian di

Renstra Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2018-2023 disusun dengan maksud untuk menjabarkan RPJMD Provinsi Sulawesi Selatan, terutama

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian sembelit pada ibu post partum 3 hari di Desa Margorejo

Bidang Teknis Fungsional mempunyai tugas melaksanakan pembinaan, penyusunan rencana dan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan Teknis Fungsional serta melakukan