Utang pemerintah sebesar Rp 106 triliun lebih jatuh tempo pada tahun 2009. Utang yang jatuh tempo itu berasal dari SUN (Surat Utang Negara) yang jatuh tempo dan juga utang luar negeri yang jatuh tempo.
Hal ini dikatakan oleh Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto ketika ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (27/11/2008).
"Untuk SUN yang jatuh tempo di 2009 jumlahnya Rp 44,9 triliun, dan utang luar negeri yang jatuh tempo jumlahnya Rp 61,6 triliun, jadi tinggal dikonversi ke dolar AS sesuai asumsi APBN-P 2008 untuk utang luar negeri," tuturnya.
Sementara untuk membayar jumlah utang yang jatuh tempo ini salah satu cara yang ditempuh oleh pemerintah dikatakan Rahmat adalah refinancing melalui SUN.
"Bisa juga dari pinjaman, atau lewat pengelolaan kas dimana seperti SAL (Sisa Anggaran Lebih) karena diperkirakan ada penyerapan anggaran yang tidak maksimal," katanya.
Total utang pemerintah Indonesia hingga 31 Oktober 2008 mencapai Rp 1.606 triliun atau meningkat 15,8 persen dibanding posisi akhir tahun 2007 senilai Rp 1.387 triliun. Ini menurut data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang.
Posisi pinjaman luar negeri pemerintah sampai 31 Oktober 2008 sebesar US$ 62,10 miliar (Rp 682,79 triliun) dan dalam Bentuk Surat Utang Negara (SUN) mencapai Rp 923 triliun. Sementara itu, pada akhir tahun lalu posisi pinjaman luar negeri sebesar US$ 62,25 miliar (Rp 586 triliun), dan dalam bentuk SUN Rp 801 triliun.
Dari keseluruhan utang pemerintah 49,8 persennya dalam bentuk mata uang rupiah, 19,9 persen dalam bentuk yen, 19,9 dalam dolar AS, 6 persen dalam mata uang euro, 0,7 persen dalam poundsterling, serta dalam mata uang lainnya 3,8 persen.
Utang pemerintah sebesar Rp 1.606 triliun terhadap PDB mencapai 37,3 persen meningkat dari posisi 2007 sebesar 35,8 persen, tetapi jauh lebih rendah bila dibandingkan 2000 yang pernah mencapai 88 persen terhadap PDB.
Utang luar negeri yang jatuh tempo pada tahun 2008 mencapai US$ 1,69 miliar, tahun 2009 meningkat menjadi US$ 6,51 miliar, dan untuk tahun 2010 sebesar US$ 5,23 miliar. Pemerintah memperbesar penarikan utang dan hibah luar negeri untuk menggerakkan perekonomian masyarakat. Utang dan hibah itu akan digunakan untuk mempercepat pelaksanaan proyek pembangunan daerah tertinggal yang sedang berjalan.