• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL VO2MAX DAN PROFIL MENTAL TOUGHNESS PENDAKI PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV : Analisis kriteria ideal untuk seorang pendaki profesional.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PROFIL VO2MAX DAN PROFIL MENTAL TOUGHNESS PENDAKI PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV : Analisis kriteria ideal untuk seorang pendaki profesional."

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

Rifqi Abdurrahman S, 2015

PROFIL VO2MAX DAN PROFIL MENTAL TOUGHNESS PENDAKI PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi. SKRIPSI

Diajukan Guna Memenuhi Sebagian Dari Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Kepelatihan OIahraga

Oleh

Rifqi Abdurrahman S

0807657

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEPELATIHAN OLAHRAGA FAKULTAS PENDIDIKAN OLAHRAGA DAN KESEHATAN

(2)

PROFIL VO2MAX DAN PROFIL MENTAL TOUGHNESS PENDAKI PAMOR 14 PEAKS EXPEDITON IV

(Analisis kriteria ideal untuk seorang pendaki profesional)

Oleh

Rifqi Abdurrahman S

Sebuah Skripsi yang Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari

Syarat Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga

© Rifqi Abdurrahman S 2015

Universitas Pendidikan Indonesia

Mei 2015

Hak Cipta dilindungi undang-undang

Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhnya, atau sebagian,

(3)

Rifqi Abdurrahman S, 2015

PROFIL VO2MAX DAN PROFIL MENTAL TOUGHNESS PENDAKI PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.

Judul : PROFIL VO2MAX DAN PROFIL MENTAL TOUGHNESS PENDAKI PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION 1V

Disetujui dan Disahkan Oleh:

Pembimbing I

Dr. Berliana, M.Pd

NIP. 196205131986022001

Pembimbing II

Drs. H. Dede Rohmat N, M.Pd

NIP. 196312091988031001

Mengetahui,

Departemen Pendidikan Kepelatihan Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga

Dr. H. R. Boyke Mulyana, M.Pd

(4)

ABSTRAK

PROFIL VO2MAX DAN PROFIL MENTAL TOUGHNESS PENDAKI PAMOR 14 PEAKS EXPEDITON IV

(Analisis kriteria ideal untuk seorang pendaki profesional)

Rifqi Abdurrahman S* 2015

Penelitian ini berangkat dari permasalahan tidak berimbangnya capaian Vo2Max dan Mental Toughness secara serempak pada pendaki. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran Vo2Max dan Mental Toughness pendaki PAMOR 14 Peaks Expedition IV. Untuk dapat menjawab permasalahan penelitian, digunakan metode deskriptif, tujuan penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran, lukisan secara sistematik mengenai fakta - fakta, sifat - sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki. Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel, dengan teknik total sampling, yang mana seluruh populasi dijadikan sebagai sampel. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan tes Balke dan Angket yaitu dengan cara pengetesan terhadap 5 orang pendaki sebagai responden. Secara umum dapat disimpulkan bahwa gambaran VO2Max dan Mental Toughness para pendaki termasuk ke dalam kategori baik. Berdasarkan uraian di atas maka gambaran VO2Max pendaki yaitu sampel A,B dan E termasuk dalam kategori baik, sedangkan C dan D termasuk dalam kategori Cukup. Selanjutnya untuk gambaran Mental Toughness pendaki yaitu sampel C termasuk kategori Baik, sampel A,B dan E termasuk kedalam kategori Cukup, dan untuk sampel D termasuk dalam kategori buruk.

*Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga Angkatan 2008

(5)

Rifqi Abdurrahman S, 2015

PROFIL VO2MAX DAN PROFIL MENTAL TOUGHNESS PENDAKI PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi. ABSTRACT

PROFILES and MENTAL TOUGHNESS PROFILE VO2MAX CLIMBERS PRESTIGE 14 PEAKS EXPEDITON IV

(Analysis of the criteria for a professional climber)

Rifqi Abdurrahman S* 2015

The purpose of this research is to know the description of Mental Toughness and Vo2Max climbers PRESTIGE 14 Peaks Expedition IV. To be able to answer the problems of such research, then done using descriptive method, the purpose of this descriptive study was to make a descriptive overview, paintings, systematically about the facts, properties and relationships between phenomena investigated. The study also uses the technique of sampling technique of total sampling population which made sebai samples. Instruments in this study using the test Balke and test Questionnaire that is by testing for climbers PAMOR 5 Peaks Expedition 14 IV. In general it can be concluded that Mentality image of VO2Max and Tougness members follow the prestige PRESTIGE 14 Peaks Expedition IV are included in the category either. Based on the description above, the PAMOR climber VO2Max picture samples of A, B and E are included in the category of good, while C and D are included in the category is enough. Next up for the Mental picture of PRESTIGE climber Toughness sample C sample, Both categories include A, B and E are included into the category Fairly, and to sample D included in the bad.

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... i

UCAPAN TERIMAKASIH ... ii

ABSTRAK ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah... 4

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 4

E. Batasan Penelitian ... 5

F. Definisi Operasional ... ... 5

1. VO2 Max... ... 5

2. Mental Toughness... 6

3. Pendaki Gunung... ... 6

4. 14 Peaks... ... 6

5. Organisasi PAMOR... ... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 8

A. Aspek-aspek Olahraga Prestasi ... 8

B. Kondisi Fisik... 9

1. Pengertian Kondisi Fisik ... 9

2. Komponen Kondisi Fisik ... 13

C. Daya Tahan (VO2 Max) ... 19

1. Pengertian Daya Tahan (VO2 Max)... 19

2. Mengapa Daya Tahan Dibutuhkan ... 20

3. Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Daya Tahan ... 21

(7)

Rifqi Abdurrahman S, 2015

PROFIL VO2MAX DAN PROFIL MENTAL TOUGHNESS PENDAKI PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.

1. Motivasi Dasar... 25

2. Dinamika Psikologi ... 28

E. Mental Toughness... 30

1. Pengertian Mental Toughness ... 30

2. Mengapa Mental Toughness Dibutuhkan ... 30

3. Bagaimana Meningkatkan Mental Toughness ... 32

F. Pendaki Gunung ... 34

1. Pengertian Pendaki Gunung ... 34

2. Jenis Pendakian ... 35

3. Klasifikasi Pendakian ... . 38

4. Sistem Pendakian ... 39

G. Ekspedisi Pendakian Gunung ... 40

1. Pengertian Ekspedisi ... 40

2. Sejarah Ekspedisi Pendakian Gunung ... 41

3. Ekspedisi Pendakian Gunung Organisasi PAMOR ... 42

BAB III METODE PENELITIAN ... 58

A. Metode Penelitian ... 58

B. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel ... 59

1. Populasi ... 59

2. Sampel ... 60

3. Teknik Pengambilan Sampel ... 61

C. Instrumen ... 62

1. Balke Test ... 62

2. Angket ... 63

D. Uji Coba Instrumen ... 70

1. Pengujian Validitas Instrumen ... 72

2. Pengujian Reliabilitas Instrumen ... 76

E. Prosedur Pengolahan Data ... 79

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 81

A. Hasil Penelitian ... 81

(8)

2. Dskripsi Hasil Tes Angket Mental Toughness ... 82

B. Pembahasan Hasil Analisis Data ……… .. 82

1. Pengolahan Data VO2 Max ………. ... 82

2. Pengolahan Data Mental Toughness ... 83

C. DiskusiTemuan ... 85

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 88

A. Kesimpulan... 88

B. Saran ... 88

DAFTAR PUSTAKA ... 100

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 104

(9)

Rifqi Abdurrahman S, 2015

PROFIL VO2MAX DAN PROFIL MENTAL TOUGHNESS PENDAKI PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi. BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mendaki Gunung merupakan suatu olahraga ekstrem yang penuh petualangan

dan kegiatan ini membutuhkan keterampilan, kecerdasan, kekuatan, dan daya juang

yang tinggi. Bahaya dan tantangan seakan hendak mengungguli merupakan daya tarik

dari kegiatan ini.Pada hakekatnya bahaya dan tantangan tersebut adalah untuk

menguji kemampuan diri dan untuk bisa menyatu dengan alam. Keberhasilan suatu

pendakian yang sukar berarti keunggulan terhadap terhadap rasa takut dan

kemenangan terhadap perjuangan melawan diri sendiri.

Olahraga mendaki gunung mempunyai nilai positif untuk menyalurkan minat

dan bakat generasi muda yang senantiasa menginginkan hal-hal baru. Melalui

olahraga mendaki gunung ini generasi muda akan berkembang secara spontan dan

dapat dipacu untuk memberikan rangsangan kepada jiwa muda yang suka akan

tantangan, keuletan dan ketangkasan serta kemampuan untuk menghadapi tantangan

melalui kegiatan yang positif.

Mendaki gunung mempunyai tingkat dan kualifikasi yang berbeda. Seperti

istilah mountaineering atau istilah lainnya mencakup pengertian perjalanan melintasi

bukit hingga ekspedisi ke Himalaya, padahal menurut bentuk dan jenis medan yang

dihadapi mountaineering menurut Solehudin (2006,hlm.5) terbagi menjadi 4 bagian :

Hill Walking / Fell Walking Scrambling, Climbing, dan Mountaineering.

(10)

2

Strategi untuk mencapai keberhasilan dalam kegiatan mendaki gunung

sangatlah diperlukan melalui perencanaan yang matang dan faktor-faktor yang

mendukung keberhasilan suatu pendakian gunung, diantaranya adalah faktor fisik

seorang pendaki gunung.Pendaki gunung yang mempunyai tingkat kebugaran

jasmani yang baik dapat melakukan suatu pendakian tanpa mengalami kelelahan yang

berarti. Banyak pendaki gunung yang belum sadar akan hal ini sehingga

mengakibatkan suatu pendakian terhambat karena kelelahan atau bahkan terjadi

kecelakaan karena hilangnya konsentrasi saat melewati jalur yang curam karena

staminanya telah habis. Faktor lainnya adalah sikap mental dari seorang pendaki

gunung. Mental sekuat baja diperlukan oleh setiap pendaki gunung karena di

pegunungan kita akan menghadapi berbagai situasi dan kondisi yang tidak terduga

seperti perubahan cuaca yang ekstrim, jalur-jalur pendakian yang terjal, bahkan

tersesat sekalipun.

Oleh karena itu mendaki gunung dibutuhkan kekuatan dan daya tahan otot

tertentu, serta memiliki kapasitas VO2 Max yang baik. Hal ini perlu sekali untuk

mengatasi tipisnya oksigen di daerah ketinggian.Thoden (dalam Sukarman, 1992)

dalam www.pkr-ikor.upi.edu/[email protected]., mengemukakan bahwa yang

dimaksud dengan VO2max adalah: “Daya tangkap aerobik maksimal

menggambarkan jumlah oksigen maksimum yang dikonsumsi per satuan waktu oleh

seseorang selama latihan atau tes, dengan latihan yang makin lama makin berat

sampai kelelahan. Dalam

http://st296963.sitekno.com/article/139957/mengupas-

ekspedisi-kopassus-mount-everest-tetap-segar-mendaki-dahi-langit-oleh-kandidat-doktor-octavianus-matakupan.html mengemukakan VO2max yang dibutuhkan untuk

mendaki gunung tertinggi didunia menurut hasil penelitian tim ekspedisi Amerika

Serikat pada pendakian ke puncak Everest dengan komposisi tim pendaki gunung dan

ilm uwan faal olah raga (1981) menyimpulkan bahwa VO2max pendaki di

permukaan laut rata-rata 62 ml/kg/menit, yang akan terus menurun menjadi hanya

tinggal 15 ml/kg/menit saat mendekati puncak, untuk mencapai rata-rata tersebut

(11)

Karena latihan kondisi fisik memiliki peranan yamg sangat penting dalam

peningkatan VO2max. sasaran utama dari program latihan terhadap hal-hal diatas

karena untuk mendaki gunung hal tersebut yang paling dibutuhkan yaitu system

energi yang digunakan atau yang dominanya adalah kapasitas aerobic dan anerobik.

Oleh karena itu Progam latihan kondisi fisik tersebut haruslah disusun secara teliti

serta dilaksanakan secara cermat dan dengan penuh disiplin. Harsono (2001,hlm,4)

seorang pakar dan dosen mata kuliah kondisi fisik mengatakan bahwa kalau kondisi

fisik baik maka akan ada:

1. Peningkatan dalam kemampuan sistem sirkulasi dan kerja jantung.

2. Peningkatan dalam kekuatan, kelentukan, stamina, kecepatan.

3. Ekonomi gerak yang lebih baik pada waktu latihan.

4. Pemulihan yang lebih cepat dalam organ-organ tubuh setelah latihan

5. Respon yang cepat dari organisme tubuh kita apabila sewaktu-waktu respon

demikian diperlukan.

Peralatan pendakian yang baik dan sesuai kebutuhan dalam suatu perjalanan

mendaki gunung menjadi salah satu faktor lain yang mendukung keberhasilan suatu

pendakian. Efektivitas peralatan dapat medukung faktor fisik dan mental seorang

pendaki gunung misalnya, ketika fisik kita sudah lemah peralatan yang berlebihan

akan menjadi hambatan lain selain faktor alam yang ekstrim karena membawa beban

yang berlebih.

Pentingnya kondisi fisik sebagai fondasi terwujudnya prestasi yang maksimal,

terutama dalam pendakian gunung belum ada standar baku dari kondisi fisik itu

sendiri, dimana pada keadaan alam terbuka sebuah gangguan sangatlah besar

kemungkinan terjadi, apalagi tujuan dari sebuah petualangan di pendakian alam

terbuka itu adalah untuk tujuan prestasi maka kondisi fisik dari seorang atlet yang

melakukan pendakian sangatlah penting.

Tentunya untuk menjadi kuat dan perkasa harus memiliki kondisi fisik yang

(12)

4

merupakan indikator kemampuan komponen daya tahan. Dikdik Zafar S.

(2010,hlm.47) menjelaskan bahwa vo2max adalah jumlah oksigen yang di proses

tubuh pada kerja maksimal. Pada kerja maksimal sumber energi adalah aerob dan

anaerob. Konponen ini sangat penting dan sangat di perlukan dalam pendakian

gunung.

Dari beberapa ungkapan dalam latar belakang diatas membuat penulis

terinspirasi untuk menjadikan sebuah kajian penelitian. Sehingga dalam penelitian

ini penulis berusaha mengulas Vo2max para pendaki gunung dalam skripsi yang

berjudul “ ProfilVo2 Max dan Profil Mental Toughness Pendaki PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka

peneliti ingin mengungkapkan masalah yaitu :

“Bagaimanakah profil vo2max dan profil mental toughness pendaki PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV?”

C. Tujuan Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana profil

vo2max dan profil mental toughness pendaki PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV.

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan hasil kajian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai

berikut:

1. Sebagai referensi bagi para pendaki gunung dalam melaksanakan kegiatan

mendaki gunung.

2. Bagi organisasi PAMOR, hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi referensi

(13)

E. Batasan Penelitian

Batasan penelitian dimaksudkan untuk memperjelas masalah–masalah apa

saja yang akan diteliti. Selain itu juga, diperlukan agar permasalahan dapatterjangkau

oleh penulis. Adapun batasan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Penelitian ini mengenai profil vo2max dan profil mental toughness pendaki

PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV

2. Populasi dan sampel penelitian ini adalah pendaki gunung anggota PAMOR

yang sudah melakukan PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV

F. Definisi Operasional

Untuk menghindari penafsiran yang salah tentang istilah dalam penelitian ini

maka perlu adanya kejelasan istilah.Istilah yang digunakan dalam peneletian ini

sebagai berikut, yaitu:

1. VO2 Max

Kemampuan aerobik (VO2max) adalah kemampuan olah daya aerobik terbesar yang

dimiliki seseorang. Hal ini ditentukan oleh jumlah zat asam(O2) yang paling banyak

dapat dipasok oleh jantung, pernapasan, dan hemo-hidro-limpatik atau transport O2,

CO2 dan nutrisi pada setiap menit(Karpovich, dalam Santoso, 1992). Menurut

Devries (dalam Joesoef, 1988)yang dimaksud dengan VO2max adalah derajat

metabolisme aerob maksimumdalam aktivitas fisik dinamis yang dapat dicapai

seseorang. VO2max adalah ambilan oksigen (oxygenintake) selama upaya

maksimal”; dan menurut Costill, ( dalam Maglischo,1982), bahwa kapasitas kerja fisik dinamis yang dapat dilakukan dalam waktuyang lama dapat diukur dari

konsumsi oksigen maksimalnya (VO2max atau maximal oxygen uptake)”. VO2max adalah suatu indikator yang baik daricapaian daya tahan aerobik. Individu yang terlatih

dengan VO2max yanglebih tinggi akan cenderung dapat melaksanakan lebih baik di

dalam aktivitasdaya tahan dibanding dengan orang-orang yang mempunyai VO2max

(14)

6

2. Mental Toughness

Ketangguhan mental istilah yang umum digunakan oleh pelatih, psikolog

olahraga, komentator olahraga, dan pemimpin bisnis umumnya menggambarkan

kumpulan atribut yang memungkinkan seseorang untuk bertahan melalui situasi yang

sulit (seperti pelatihan atau situasi sulit bersaing dalam permainan) dan muncul tanpa

kehilangan kepercayaan.

Ketangguhan mental adalah kemampuan untuk berdiri teguh dalam pikiran

positif dan proaktif yang telah dibuat untuk diri sendiri dan tetap bertekad untuk

menindaklanjuti menciptakan perasaan dan tindakan yang positif.Beberapa orang

mengasosiasikan konsep ketangguhan mental dengan agresif, kekerasan, atau marah.

3. Pendaki Gunung

Pendakian gunung adalah suatu bentuk kegiatan yang dilakukan di alam

terbuka dengan melakukan perjalanan menaiki pegunungan. Gunung dengan segala

aspeknya merupakan lingkungan yang asing bagi organ tubuh kita, apalagi bagi

mereka yang hidup didataran rendah, itulah sebabnya pendaki gunung memerlukan

kesiapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan di gunung. Perlengkapan yang

baik dan tingkat kebugaran jasmani yang prima adalah salah satu usaha untuk

mengurangi bahaya dalam pendakian gunung

4. 14 PEAKS

Fourteen peaks yang dimaksud disini adalah empat belas puncak gunung yang

didaki dalam ekspedisi PAMOR dengan kategori diatas ketinggian 3000 m.dpl yang

berada di pulau jawa, bali, dan lombok antara lain sebagai berikut:

a. Gunung Pangrango Jawa Barat (3019 m.dpl)

b. Gunung Ciremai Jawa Barat (3078 m.dpl)

c. Gunung Slamet Jawa Tengah(3428 m.dpl)

d. Gunung Sindoro Jawa Tengah (3136 m.dpl)

(15)

f. Gunung Merbabu Jawa Tengah (3142 m.dpl)

g. Gunung Semeru Jawa Timur (3676 m.dpl)

h. Gunung Lawu Jawa Timur (3265 m.dpl)

i. Gunung Arjuno Jawa Timur (3339 m.dpl)

j. Gunung Welirang Jawa Timur (3156 m.dpl)

k. Gunung Argopuro Jawa Timur (3088 m.dpl)

l. Gunung Raung Jawa Timur (3332 m.dpl)

m. Gunung Agung Bali (3142 m.dpl)

n. Gunung Rinjani Lombok (3726 m.dpl)

5. Organisasi PAMOR

Organisasi PAMOR ini adalah organisasi yang berdiri pada tahun 1985 di

tingkat fakultas, dikenal aktif dalam melakukan kegiatan-kegiatan alam terbuka salah

satunya pendakian gunung-gunung tropis di Indonesia bahkan sekarang dikenal

sebagai pendaki gunung marathon. PAMOR merupakan organisasi dari FPOK UPI

(Universitas Pendidikan Indonesia) yang beranggotakan dari mahasiswa dari ke tiga

jurusan yang ada di FPOK yaitu jurusan (Pendidikan Kepelatihan Olahraga) PKO,

(Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi) PJKR, serta (Ilmu keolahragaan)

(16)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Penggunaan metode yang tepat dalam suatu penelitian ilmiah sangat

menentukan tercapainya tujuan pemecahan masalah dalam penelitian. Oleh karena

itu diperlukan suatu metode tertentu agar data dapat terkumpul untuk keberhasilan

penelitian. Mengenai jenis dan bentuk metode penelitian yang digunakan dalam

sebuah penelitian biasanya disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai dalam

sebuah penelitian tersebut. Seperti diungkapkan Surakhmad (1990,hlm.131)

bahwa “Metode merupakan cara utama yang dipergunakan untuk mencapai suatu

tujuan”

Penggunaan metode penelitian tergantung kepada permasalahan yang akan

dibahas, dengan kata lain harus dilihat dari efektivitasnya, efisiennya, dan

relevannya metode penelitian tersebut. Suatu metode dikatakan efektif apabila

selama pelaksanaan dapat terlihat adanya perubahan positif menuju tujuan yang

diharapkan, dan suatu metode dapat dikatakan efisien apabila penggunaan waktu,

fasilitas, biaya dan tenaga dapat dilaksanakan sehemat mungkin serta dapat

mencapai hasil yang maksimal. Metode dikatakan relevan apabila waktu

penggunaan hasil pengolahan dengan tujuan yang hendak dicapai tidak terjadi

penyimpangan.

Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode deskrtiptif. Mengenai

metode deskriptif dijelaskan pula oleh Sudjana dan Ibrahim (1989,hlm.64) sebagai

berikut:

Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa kejadian yang terjadi pada saat sekarang. Dengan perkataan lain, peneliti deskriptif mengambil masalah atau memutuskan perhatian kepada masalah-masalah aktual sebagaimana adanya pada saat penelitian dilaksanakan.

Pendapat tersebut memberikan makna bahwa penelitian deskriptif adalah

penelitian dengan tujuan untuk menggambarkan suatu peristiwa pada saat

(17)

Rifqi Abdurrahman S, 2015

PROFIL VO2MAX DAN PROFIL MENTAL TOUGHNESS PENDAKI PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.

deskripsi dijelaskan oleh Surakhmad (1990,hlm.140) terutama ciri-cirinya sebagai

berikut:

1. Memusatkan diri pada pemecahan masalah-masalah yang ada pada masa sekarang, pada msalah-masalah yang actual.

2. Data yang dikumpulkan mula-mula disusun, dijelaskan dan kemudian dianalisa (karena itu metode ini sering pula disebut metode analitik).

Berdasarkan ciri-ciri metode deskriptif tersebut dapat penulis kemukakan

bahwa dalam penelitian ini data yang diperoleh itu dikumpulkan, disusun,

dijelaskan dan dianalisis. Hal ini untuk memperoleh gambaran yang jelas sehingga

tujuan penelitian ini tercapai seperti yang diharapkan.

Penelitian deskriptif ini bertujuan untuk mendapatkan informasi yang

berkaitan dengan profil VO2 maks dan profil mental toughness pendaki PAMOR

14 PEAKS EXPEDITION IV.

Mengenai langkah-langkah penelitian deskriptif dijelaskan oleh Ali

Maksum (2012,hlm.70) adalah sebagai berikut:

1. Menentukan masalah

2. Mengidentifikasi informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah 3. Memilih atau menyusun instrumen pengumpul data

4. Menentukan sampel 5. Mengumpulkan data 6. Menganalisis data

7. Menyusun laporan penelitian

Peneliti menafsirkan bahwa metode penelitian deskriptif merupakan

metode penelitian yang berpusat pada kegiatan penelitian yang sedang

berlangsung pada saat itu dan penelitian ini bersifat menuturkan, menganalisa,

mengklasifikasi serta mengaplikasikan tentang arti data yang diperoleh.

B. Populasi,Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel

1. Populasi

Dalam suatu penelitian untuk memperoleh data, diperlukan sumber data

yang sesuai dengan masalah yang diteliti. Sumber dari penelitian tersebut bisa

dari orang, binatang atau pun benda sesuai dari tujuan yang hendak dicapai dalam

(18)

60

Untuk menyusun sampai dengan menganalisis data sehingga mendapatkan

gambaran sesuai dengan apa yang diharapkan dalam penelitian ini diperlukan

sumber data. Pada umumnya sumber data dalam penelitian ini disebut populasi

dan sampel penelitian. Sudjana dan Ibrahim (1989,hlm.84) menjelaskan tentang

populasi sebagai berikut: “Populasi maknanya berkaitan dengan elemen, yakni

unit tempat diperolehnya informasi. Elemen tersebut dapat berupa individu,

keluarga, rumah tangga, kelompok sosial, sekolah, kelas, organisasi, dan

lain-lain.”

Beranjak dari kutipan tersebut, maka yang dimaksud populasi adalah

sekumpulan unsur yang akan diteliti seperti sekumpulan individu, sekumpulan

keluarga, dan sekumpulan unsur lainnya. Dari sekumpulan unsur tersebut

diharapkan akan memperoleh informasi yang berguna untuk memecahkan

masalah penelitian.

Bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi adalah

sampel.Adapun mengenai objek yang hendak diteliti adalah dinamakan dengan

populasi dan sampel penelitian. Mengenai populasi, Sugiyono (2011,hlm.80)

mengatakan bahwa “populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas:

obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan

oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya.”

Dari pemaparan diatas jadi populasi pada penelitian ini yaitu Anggota

PAMOR yang melakukan ekspedisi 14 puncak secara marhathon berjumlah 5

orang. Alasan untuk memilih populasi anggota PAMOR dikarenakan anggota ini

telah melakukan pendakian ke 14 gunung dalam ketinggian 3000 m.dpl di pulau

jawa, bali dan lombok.

2. Sampel

Penarikan atau pembuatan sampel dari populasi untuk mewakili populasi

disebabkan untuk mengangkat kesimpulan penelitian sebagai suatu yang berlaku

bagi populasi. Sugiyono (2011,hlm.81) mengatakan bahwa “sampel adalah bagian

(19)

Rifqi Abdurrahman S, 2015

PROFIL VO2MAX DAN PROFIL MENTAL TOUGHNESS PENDAKI PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.

Sesuai dengan permasalahan yang penulis ambil jumlah sampel pada

penelitian ini sebanyak lima orang mantan atlet Ekspedisi PAMOR Pendakian

Marathon 14 puncak gunung dalam 8 hari di Jawa, Bali, dan Lombok (JABALO)

tahun 2014 yang tepatnya dilaksanakan pada tanggal 17 s/d 25 Juni 2014. Lima

orang mantan atlet tersebut berjenis kelamin laki-laki dengan usia rata-rata 22

tahun. Pertimbangan yang paling utama yaitu kelima mantan atlet ini telah

berhasil mendaki 14 gunung dengan ketinggian diatas 3000 mdpl dalam waktu 8

hari 4 jam 31 menit di Jawa, Bali, dan Lombok. Mulai dari Gunung Pangrango,

Gunung Ciremai, Gunung Slamet, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung

Merbabu, Gunung Lawu, Gunung Mahameru, Gunung Arjuno, Gunung Welirang,

Gunung Argopuro, Gunung Raung, Gunung Agung, dan Gunung Rinjani. Kelima

mantan atlet ini mampu mendaki 14 puncak gunung ini dengan waktu 8 hari 4 jam

31 menit. Untuk lebih jelas karakteristik sampel bisa dilihat pada tabel 3.1 yakni

nama-nama tujuh orang mantan atlet yang menjadi sampel.

Tabel 3.1

Mantan Atlet Expedisi PAMOR Pendakian Marathon 14 puncak gunung

dalam 8 hari di Jawa, Bali, dan Lombok (JABALO) tahun 2014

No Nama Usia NTA Angkatan

PAMOR 1 Aris S. M. 27 Tahun P.6.22.301 XXII

2 Dadan M. 26 Tahun P.6.22.295 XXII

3 Ruly G. 25 Tahun P.6.24.345 XXIV

4 Miftahul C. 23 Tahun P.6.27.365 XXVII 5 Najib F. 23 Tahun P.6.27.360 XXVII

3. Teknik pengambilan sampel

Dengan sampel berjumlah lima orang maka pengambilan sampel peneliti

menggunakan teknik total sampling atau sampling jenuh. Sugiyono (2011,hlm,85)

mengungkapkan bahwa, “sampling jenuh yaitu teknik penentuan sampel bila

semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.” Dengan demikian peneliti

mengambil seluruh pendaki PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV sebagai

(20)

62

C. Instrumen

Untuk mengumpulkan data dari sampel penelitian diperlukan alat yang

sebagai instrumen. Insrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri. Dalam

penelitian ini, peneliti melakukan observasi, wawancara, dokumentasi, dan

angket. Adapun pelaksanaan kegiatannya adalah sebagai beriku:

1. Balke test

Pengumpulan data dalam pelaksanaan penelitian ini adalah menggunakan

beberapa tes yang disesuaikan dengan komponen kebugaran jasmani dasar dalam

kegiatan mendaki gunung, pengukuran vo2maks dapat dilakukan dengan dua cara

yaitu dengan tes latihan maksimal dan tes latihan submaksimal, menurut Moeloek

(1984) yang dikutip oleh Eva Devony (2004,hlm.41) menjelaskan bahwa:

“Pemilihan cara pengukuran disesuaikan dengan kebutuhan dan fasilitas yang ada

tanpa mengurangi validitas”. Sedangkan menurut Harsono (1997) menjelaskan

bahwa: “Uji latihan submaksimal di lapangan lebih tepat digunakan untuk

pengukuran massal karena cara ini sederhana, mudah dilaksanakan dan

berkorelasi baik dengan pengukuran di laboratorium”. Dalam tes submaksimal

yaitu: tes lari 2,4 km, tes lari 15 menit (metode balke), tes lari multi tahap (bleep

test), dalam mendaki gunung termasuk olahraga jarak jauh oleh karena itu penulis

menggunakan tes balke atau 15 menit. Sajoto (1988) dalam Nugraha

(2013,hlm.60) tes lari 15 menit (balke test) mempunyai reliabilitas sebesar 0,99

dan 0,92 dengan koefisien valididas sebesar 0,98 dan 0,85, jika maximum oxygen

dipakai sebagai kriteria. Rumus VO2 maks yaitu {(Jarak/ 15 – 133) X 0,172 +

33,3} untuk tahapannya sebagai berikut:

a. Tes Lari 15 menit (Metode balke)

1) Tujuan

Untuk mengukur tingkat efisisensi fungsi jantung dan paru-paru,yang

ditunjukan melalui pengukuran pengambilan oksigen maksimum.

2) Alat bantu yang digunakan pada tes kondisi fisik adalah sebagai berikut:

a) Lintasan datar dan tidak licin (contoh : stadion)

(21)

Rifqi Abdurrahman S, 2015

PROFIL VO2MAX DAN PROFIL MENTAL TOUGHNESS PENDAKI PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.

c) Peluit

d) Alat tulis

3) Petugas

a) Petugas digaris start

b) Penghitung putaran

c) Pencatat jarak

4) Pelaksanaan

a) Peserta siap digaris start menunggu stopwatch sampai siap dijalankan

dengan waktu 15 menit untuk peserta berlari, sehingga peserta kuat

melaksakan sebanyak mungkin dalam lintasan.

b) Terdengar satu kali peluit tanda peserta sudah mulai berlari.

c) Terdengar 2 kali suara peluit tanda waktu tinggal 1 menit lagi untuk

menyelesaikan putaran lari.

d) Terdengar 3 kali suara peluit tanda waktu sudah berakhir, dan peserta

diam di tempat untuk dihitung jaraknya.

Kategori prediksi VO2 maks menurut Nurhasan (2008,hlm.46) yaitu:

Tabel 3.2

Kategori VO2 maks

VO2maks Kategori JenisKelamin Kategori VO2maks

< 36 Kurang Putra

Putri

Kurang < 30

37 – 47 Cukup Cukup 31 - 42

48 – 57 Baik Baik 43 – 53

58 – 74 Baik sekali Baik sekali 54 – 53

> 75 Sempurna Sempurna > 69

Sumber Nurhasan (2008,hlm.46)

2. Angket

Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini selain observasi,

wawancara, dan dokumentasi, angket atau kuesioner juga digunakan dalam

pengambilan data penelitian ini. Mengenai angket atau kuesioner ini Arikunto

(22)

64

pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden

dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui”.

Analisis validitas kuesioner dengan menggunakan rumus korelasi product

moment. Item pernyataan atau pertanyaan dinyatakan valid jika mempunyai r

hitung yang lebih besar dari r standar yaitu 0,3. Sedangkan uji reliabilitas dari

masing faktor dengan menggunakan uji Alpha-cronbach kuisioner dinyatakan

reliabel jika mempunyai nilai koefisien alpha yang lebih besar dari 0,6

(http://www.damandiri.or.id/file/ahmadsuyutiunairbab5b.pdf)

Kuesioner dapat dibedakan atas beberapa jenis, tergantung pada sudut

pandang dari cara menjawab. Pembagian dari sudut pandang tersebut dibagi

menjadi dua macam yaitu kuesioner terbuka dan tertutup. Pengertian dari kedua

tersebut menurut Arikunto (2002,hlm.128-129) adalah sebagai berikut:

Dipandang dari cara menjawab kuesioner dibagi menjadi dua yaitu. a. Kuesioner Terbuka, yang memberi kesempatan kepada responden untuk

menjawab dengan kalimat tersendiri.

b. Kuesioner Tertutup, yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih.

Sesuai dengan pengertian di atas, maka penulis mengambil kuesioner

untuk penelitian adalah kuesioner tertutup dengan maksud mempermudah

pengisian bagi responden yang dijadikan subjek untuk penelitian.

Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan uraian di atas maka penulis

menentukan bahwa angket adalah seperangkat pernyataan yang harus dijawab

oleh responden secara langsung untuk diungkapkan pengalaman yang telah

dimilikinya.

Bentuk angket yang digunakan untuk memperoleh informasi atau data dari

responden yaitu angket yang bersifat tertutup atau tersusun. “Angket tertutup

adalah angket yang terdiri dari sejumlah pertanyaan atau pernyataan yang sudah

disusun lengkap, tegas, terbatas, dan kongkret sehingga responden hanya diminta

untuk mengisi jawaban pada halaman yang telah disediakan” Arikunto

(23)

Rifqi Abdurrahman S, 2015

PROFIL VO2MAX DAN PROFIL MENTAL TOUGHNESS PENDAKI PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.

Skala pada penelitian sangat berbeda dengan tes karena pengukuran

instrumennya, mengukur mengenai derajat atau tingkat perhatian yang dimiliki

seseorang terhadap suatu objek. Adapun pengertian dari skala menurut Nurhasan

dan Cholil (2007,hlm.348) yaitu, “Skala adalah satu set angka-angka yang

menyatakan nilai-nilai terhadap subjek, objek atau perilaku dengan tujuan

mengkuantifikasikan pengukuran kualitatif”.

Penulis menggunakan skala dalam penelitian ini yaitu Summated Rating

Scales (Likert Scales) atau Skala Likert. Gable, 1986 dalam

Azwar(2003,hlm.139-140) mengartikan Skala Likert merupakan “Metode penskalaan pernyataan sikap

yang menggunakan distribusi respons sebagai dasar penentuan nilai skalanya”.

Kemudian Sugiyono (2008,hlm.134) menjelaskan sebagai berikut:

Skala Likert ini digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian, fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian. Dengan skala ini, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala ini mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata antara lain: sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju.

Dengan beberapa pengertian di atas, maka penulis mengartikan Skala Likert

merupakan suatu penskalaan yang digunakan untuk mengukurpersepsi seseorang

atau sekelompok orang terhadap suatu topik dan menggunakan distribusi respons

sebagai dasar penentuan nilai skala.

Distribusi respons atau pilihan jawaban yang dimaksud di atas yaitu dalam

penskalaan terhadap suatu topik dapat diberikan nilai dengan alternatif pilihan

jawaban yaitu sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, dan sangat tidak

setuju.

Berdasarkan uraian tentang alternatif jawaban dalam angket, penulis

menetapkan kategori penyekoran sebagai berikut : Kategori untuk setiap butir

pernyataan positif, yaitu Sangat Setuju = 5, Setuju = 4, Ragu-ragu = 3, Tidak

(24)

66

yaitu Sangat Setuju = 1, Setuju = 2, Ragu-ragu = 3, Tidak Setuju = 4, Sangat

Tidak Setuju = 5. Kategori penyekoran dalam tabel 3.3 adalah sebagai berikut.

Tabel 3.3

Kategori Pemberian Skor Alternatif Jawaban

Alternatif Jawaban Skor Alternatif Jawaban Positif Negatif

Sangat Setuju

Setuju

Ragu-ragu

Tidak Setuju

Sangat Tidak Setuju

5

4

3

2

1

1

2

3

4

5

Untuk lebih jelasnya mengenai tabel persetujuan atau penolakan dapat

dilihat pada Tabel 3.4 di bawah ini:

Tabel 3.4

Skala Sikap Model Linier

No Pernyataan-pernyataan Alternatif Jawaban

SS S RR TS STS

1. Saya merasa senang mendaki gunung √

Keterangan:

SS : Sangat Setuju

S : Setuju

R : Ragu-ragu

TS : Tidak Setuju

STS : Sangat Tidak Setuju

Skor untuk setiap alternatif jawaban berbeda-beda, mulai dari (SS)

diberikan skor 5, dan seterusnya dengan (STS) diberikan skor 1.

Setelah menentukan bobot pemberian nilai terhadap responden, maka

(25)

Rifqi Abdurrahman S, 2015

PROFIL VO2MAX DAN PROFIL MENTAL TOUGHNESS PENDAKI PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.

satu alternatif jawaban yaitu dengan berpedoman pada penjelasan Surakhmad

(1990,hlm.184) sebagai berikut:

1. Rumuskan setiap pernyataan sejelas-jelasnya dan seringkas-ringkasnya. 2. Mengajukan pernyataan-pernyataan yang memang dapat dijawab oleh

responden, pernyataan mana yang tidak menimbulkan kesan negatif. 3. Sifat pernyataan harus netral dan obyektif.

4. Mengajukan hanya pernyataan yang jawabannya tidak dapat diperoleh dari sumber lain.

5. Keseluruhan pernyataan dalam angket harus sanggup mengumpulkan kebulatan jawaban untuk masalah yang kita hadapi.

Untuk mempermudah penyusunan butir-butir pernyataan yang akan

diberikan kepada responden dalam bentuk angket, maka penulis membuat kisi-kisi

tentang profil vo2max dan profil mental toughness pendaki PAMOR 14 PEAKS

EXPEDITION IV.

Sebelum menyusun angket terlebih dahulu menentukan

langkah-langkahnya sebagai berikut:

1. Mengidentifikasikan variabel

2. Mencari definisi konseptual dari tiap-tiap variabel

3. Menjabarkan dari setiap variabel yang menjadi sub variabel yang lebih

spesifik dan tunggal

4. Merumuskan sub variabel dalam kisi-kisi

5. Membuat pertanyaan angket di bawah bimbingan dosen pembimbing

6. Melakukan uji coba angket

7. Melakukan pengujian validitas butir soal

8. Melakukan pengujian reliabilitas butir angket

9. Angket siap dibagikan

Adapun kisi-kisi mengenai profil vo2max dan profil mental toughness

pendaki PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV dengan pernyataan soal

(26)

68

Tabel 3.5

Kisi-Kisi Instrumen profil mental toughness pendaki PAMOR 14

PEAKS EXPEDITION IV.

Komponen Sub komponen Indikator Negatif -

1. ketenangan a. mampu berlatih rileksasi progresif c. selalu fokus pada

sasaran proses dan

e. bicara pada diri sendiri f. dengan mendengarkan

musik memperoleh ketengan

g. tindakan dan perilaku yang tenang

2. konsentrasi a. fokus terhadap apa yg direncanakan dan

c. mengingatkan diri sendiri untuk selalu berkonsentrasi

d. menetapkan kebiasaan sebelum penampilan e. melupakan yang sudah

(27)

Rifqi Abdurrahman S, 2015

PROFIL VO2MAX DAN PROFIL MENTAL TOUGHNESS PENDAKI PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.

potensi anda.

g. percaya diri tetap tenang dan fokus untuk lebih baik

30 53

3. kepercayaan a. melakukan persiapan dengan baik dan mengumpulkan waktu latihan yang cukup b. melatih mental untuk

membangun kepercayaan

c. menjaga citra diri yang positif

d. selalu berfikir dan percaya diri

5. kepaduan/kohesi a. menghargai dinamika tim

(28)

70

Berdasarkan kisi-kisi pernyataan pada tabel 3.5 dapat dirumuskan

pernyataan yang lebih operasional sehingga dapat dijawab dengan mudah oleh

responden dengan mengumpulkan pernyataan-pernyataan tentang harapan

responden terhadap permasalahan penelitian.

Untuk menguji kelayakan alat pengumpul data (angket), penulis terlebih

dahulu mengadakan uji coba angket yang dilakukan oleh responden.

D. Uji coba insrumen

Instrumen yang telah disusun dan dibuat butiran-butiran pernyataan

kemudian diuji cobakan sebagaimana yang dipaparkan menurut Arikunto

(2002,hlm.142-143) mengenai metode pengadaan instrumen adalah sebagai

berikut:

a. Perencanaan meliputi perumusan tujuan, menetukan variabel, kategorisasi variabel.

b. Penulisan butir soal atau item kuesioner, penyusunan skala.

c. Penyutingan yaitu melengkapi instrumen dengan pedoman mengerjakan, surat pengantar, kunci jawaban, dan lain-lain yang diperlukan.

d. Uji coba angket.

e. Penganalisaan hasil, analisis item, melihat pola jawaban peninjauan saran-saran.

f. Mengadakan revisi terhadap item-item yang dirasa kurang baik, dengan mendasarkan diri pada yang diperoleh.

Sesuai dengan pernyataan di atas, maka angket yang telah disusun

kemudian diuji cobakan kepada responden untuk mengukur tingkat validitas dan

reliabilitas dari setiap butir pertanyaan. Dari uji coba angket akan diperoleh

(29)

Rifqi Abdurrahman S, 2015

PROFIL VO2MAX DAN PROFIL MENTAL TOUGHNESS PENDAKI PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.

data dalam penelitian ini. Karena apabila kita melakukan sebuah penelitian dan

menggunakan alat ukur atau instrumen yang tidak relevan, maka hasil dari

penelitian yang dilakukan juga tidak relevan. Oleh karena itu instrumen dalam

sebuah penelitian harus relevan untuk mencapai penelitian yang baik.

Pernyataan di atas sesuai dengan pendapat Sugiyono (2008,hlm.173) bahwa:

Dengan menggunakan instrumen yang valid dan reliabel dalam pengumpulan data, maka diharapkan hasil penelitian akan menjadi valid dan reliabel. Jadi instrumen yang valid dan reliabel merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid dan reliabel.

Dalam penelitian ini, populasi dan sampelnya adalah anggota PAMOR

yang telah melakukan PAMOR 14 Peaks Expedition IV sebanyak 5 orang.

Selanjutnya Penulis menguji cobakan angket tentang profil vo2max dan profil

mental toughness pendaki PAMOR 14 Peaks Expedition IV tetapi bukan kepada

sampel yang sebenarnya yang penulis hendak teliti. Jumlah sampelnya penulis

mengambil sebanyak 5 orang disesuaikan dengan jumlah responden sebenarnya.

Pelaksanaan Uji coba angket penulis laksanakan pada tanggal 22 bulan oktober

2014. Sebelum para sampel mengisi angket tersebut, penulis memberikan

penjelasan mengenai cara-cara pengisiannya.

Untuk memperoleh suatu keyakinan dan kepercayaan diri dari penulis

mengenai hasil uji coba penelitian ini, maka data yang dihasilkan dari uji coba

harus diolah mengenai kevalidan dan kereliabilitinya. Maka dalam hal ini perlu

dibedakan antara hasil penelitian yang valid dan reliabel dengan instrumen yang

valid dan reliabel. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Sugiyono

(2008,hlm.172-173) yang menyatakan bahwa:

(30)

72

Sesuai dengan pernyataan Sugiyono (2008,hlm.172-173) mengenai

kevalidan dan kereliabilitasan suatu instrumen, maka penulis akan menguraikan

mengenai uji validitas dan uji reliabilitas di bawah ini:

1. Pengujian Validitas Instrumen

Validitas instrumen penelitian adalah ketepatan dari suatu instrumen

penelitian atau alat pengukur terhadap konsep yang akan diukur. Instrumen yang

valid harus dapat mendeteksi dengan tepat apa yang seharusnya diukur. Dalam

penelitian ini penulis mengadakan pengujian validitas soal dengan cara analisis

butir soal. Untuk menguji validitas alat ukur, maka harus dihitung korelasinya,

Reliabilitas instrumen digunakan untuk mengukur sejauh mana suatu alat ukur

memberikan gambaran yang benar-benar dapat dipercaya tentang kemampuan

seseorang.

Uji validitas instrumen berkenaan dengan ketepatan alat ukur terhadap

konsep yang diukur sehingga benar-benar mengukur apa yang hendak diukur.

Seperti yang dikemukakan oleh Sugiyono (2008,hlm.173) bahwa, “Valid berarti

instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya

diukur.”

Adapun macam-macam validitas dibagi menjadi dua macam instrumen

sesuai dengan pengujiannya, yaitu validitas eksternal dan validitas internal.

Ungkapan dari kedua validitas tersebut dapat diketahui dari pernyataan Sugiyono

(2008,hlm.174) yang menyatakan bahwa,”Instrumen yang valid harus mempunyai

validitas eksternal dan validitas internal“. selanjutnya Arikunto (2002,hlm.145)

menyatakan bahwa,”Ada dua macam validitas sesuai dengan cara pengujiannya,

yaitu validitas eksternal dan validitas internal”.

Pengertian dari validitas internal merupakan suatu validitas yang

dikembangkan berdasarkan teori yang relevan dan berdasarkan atas teori-teori

yang dijadikan komponen dalam penelitian. Senada dengan pernyataan Sugiyono

(2008,hlm.174) bahwa, “Validitas Internal adalah suatu validitas dengan kriteria

yang ada dalam instrumen secara rasional (teoritis) telah mencerminkan apa yang

(31)

Rifqi Abdurrahman S, 2015

PROFIL VO2MAX DAN PROFIL MENTAL TOUGHNESS PENDAKI PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.

Kemudian validitas eksternal yaitu suatu instrumen yang dicapai apabila

data yang dihasilkan dari instrumen tersebut sesuai dengan data atau informasi

penelitian yang telah ada. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Sugiyono

(2008,hlm.174) bahwa,”Validitas eksternal tersusun berdasarkan fakta-fakta

empiris yang telah ada”.

Untuk memudahkan penelitian, maka digunakan alat bantu yaitu SPSS 16

for windows. Valid atau tidaknya sama adalah dengan fungsi yang dinyatakan

oleh daya beda butir. Muhammad Nisfiannur (2009,hlm.230) mengatakan“

Penggunaan patokan 0,200 untuk menyatakan bahwa butir telah valid dapat

dilihat pada beberapa rujukan kriteria empirik berikut yang telah dirangkum oleh

Prof. Dali S Naga”.

Tabel 3.6

Hasil Uji Validitas Instrumen

No Pernyataan

Corrected Item-Total Correlation

Status

1. Q1 .332 Valid

2. Q2 .305 Valid

3. Q3 .713 Valid

4. Q4 .713 Valid

5. Q5 .734 Valid

6. Q6 .734 Valid

7. Q7 .713 Valid

8. Q8 .713 Valid

9. Q9 .305 Valid

10. Q10 .282 Valid

11. Q11 .332 Valid

12. Q12 .894 Valid

13. Q13 -.365 Tidak Valid

14. Q14 .543 Valid

(32)

74

16. Q16 .734 Valid

17. Q17 .937 Valid

18. Q18 -.200 Tidak Valid

19. Q19 .332 Valid

20. Q20 -.053 Tidak Valid

21. Q21 -.368 Tidak Valid

22. Q22 .937 Valid

23. Q23 .734 Valid

24. Q24 -.411 Tidak Valid

25. Q25 .734 Valid

26. Q26 .894 Valid

27. Q27 .716 Valid

28. Q28 -.870 Tidak Valid

29. Q29 .311 Valid

30. Q30 .543 Valid

31. Q31 -.963 Tidak Valid

32. Q32 .543 Valid

33. Q33 -.945 Tidak Valid

34. Q34 .734 Valid

35. Q35 -.762 Tidak Valid

36. Q36 .825 Valid

37. Q37 .713 Valid

38. Q38 -.229 Tidak Valid

39. Q39 -.212 Tidak Valid

40. Q40 -.435 Tidak Valid

41. Q41 .937 Valid

42. Q42 .713 Valid

43. Q43 .332 Valid

44. Q44 -.053 Tidak Valid

45. Q45 .332 Valid

(33)

Rifqi Abdurrahman S, 2015

PROFIL VO2MAX DAN PROFIL MENTAL TOUGHNESS PENDAKI PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.

47. Q47 .332 Valid

48. Q48 .734 Valid

49. Q49 .650 Valid

50. Q50 .178 Tidak Valid

51. Q51 .332 Valid

52. Q52 .728 Valid

53. Q53 .332 Valid

54. Q54 .543 Valid

55. Q55 .332 Valid

56. Q56 .713 Valid

57. Q57 .385 Valid

58. Q58 .332 Valid

59. Q59 .937 Valid

60. Q60 .953 Valid

61. Q61 .332 Valid

62. Q62 .969 Valid

63. Q63 .385 Valid

64. Q64 .734 Valid

Pengambilan keputusan berdasarkan perhitungan nilai Corrected

Item-Total Correlationhasil dari analisis Reability Scale. Menurut, Nisfiannor

Muhammad (2009,hlm.230), “bahwa untuk menyatakan butir item valid atau tidak

valid digunakan patokan 0,200”. Terlihat pada tabel diatas memiliki nilai

Corrected Item-Total Correlation > 0,200, yang berarti tes tersebut dinyatakan

Valid.

Berdasarkan hasil penghitungan analisis validitas instrumen dari setiap

butir pernyataan yang berjumlah 64 butir, diperoleh 15 butir yang tidak valid, dan

49 butir soal yang valid, artinya butir pernyataan yang valid dapat digunakan

(34)

76

Selanjutnya butir soal yang valid tersebut akan digunakan sebagai alat tes

pengumpul data. Jadi dalam penelitian ini digunakan 49 pernyataan untuk angket

profil vo2max dan profil mental toughness pendaki PAMOR 14 PEAKS

EXPEDITION IV.

2. Pengujian Reliabilitas Instrumen

Pengertian dari reliabilitas menurut Sugiyono (2008,hlm.175) bahwa,

“Reliabilitas adalah suatu pengukuran yang digunakan untuk mengukur berkali

-kali menghasilkan data yang sama.” Kemudian menurut Arikunto (2002,hlm.154)

mengatakan bahwa, “Reliabilitas merupakan sesuatu instrumen cukup dapat

dipercaya untuk kegunaan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut

sudah baik.”

Reliabilitas atau keterandalan menggambarkan derajat keajegan atau

konsistensi hasil pengukuran. Suatu alat pengukuran atau tes dikatakan reliabel

jika alat ukur menghasilkan suatu gambaran yang benar-benar dapat dipercaya

dan dapat diandalkan untuk membuahkan hasil pengukuran yang sesungguhnya.

Uji reliabilitas digunakan untuk pengumpul data dan dinyatakan bahwa instrumen

tersebut cukup baik sehingga mampu mengungkapkan data yang bisa dipercaya.

Pengujian reliabilitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah kuesioner

dapat memberikan ukuran yang konstan atau tidak.Instrumen (kuesioner) yang

handal berarti mampu mengungkapkan data yang dapat dipercaya. Untuk menguji

reliabilitas dalam penelitian ini digunakan belah dua skor pertanyaan awal akhir.

Dengan teknik korelasi Sperman Brown.Untuk mempermudah penelitian, peneliti

menggunakan alat bantu SPSS 16 for windows.

Tabel 3.7 Uji Reliabilitas

Reliability Statistics

N of Items

Cronbach's Alpha

Keteranga n

(35)

Rifqi Abdurrahman S, 2015

PROFIL VO2MAX DAN PROFIL MENTAL TOUGHNESS PENDAKI PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.

Pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan penghitungan nilai

Cronbach Alpha,Nisfiannor Muhammad (2009,hlm.229)bila nilainya diatas 0,600

maka dinyatakan reliabel. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa instrumen

tes tembakan loncatan lurus telah memenuhi standar reliabilitas, karena memiliki

nilai Cronbach Alpha = 0,868> 0,600.Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa

instrumen yang digunakan dalam penelitian ini memiliki reliabilitas yang

tinggi.

Tabel 3.8

Kisi-Kisi angket profil mental toughness pendaki PAMOR 14 PEAKS

EXPEDITION IVyang sudah teruji validitas dan reliabilitas

Komponen Sub komponen Indikator Negatif -

1. ketenangan h. mampu berlatih rileksasi progresif j. selalu fokus pada

sasaran proses dan

l. bicara pada diri sendiri m. dengan mendengarkan

musik memperoleh ketengan

n. tindakan dan perilaku yang tenang

(36)

78

j. mengingatkan diri sendiri untuk selalu berkonsentrasi

k. menetapkan kebiasaan sebelum penampilan l. melupakan yang sudah

terjadi dan fokus pada masa yang akan datang m. mencegah ketegangan

dengan fokus dan santai

n. percaya diri tetap tenang dan fokus untuk lebih baik

3. kepercayaan h. melakukan persiapan dengan baik dan mengumpulkan waktu latihan yang cukup i. melatih mental untuk

membangun kepercayaan

j. menjaga citra diri yang positif

(37)

Rifqi Abdurrahman S, 2015

PROFIL VO2MAX DAN PROFIL MENTAL TOUGHNESS PENDAKI PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi. E. Prosedur Pengolahan Data

Instrumen yang telah dinyatakan valid dalam arti instrumen itu dapat

digunakan sebagai alat pengumpul data dalam penelitian ini oleh penulis

diperbanyak dan disebarkan pada sampel penelitian sebagai sumber data dalam

penelitian ini.

Prosedur pengolahan suatu data sangat penting sekali guna menghasilkan

keakuratan dalam penelitian dan penyusunan suatu penelitian sesuai dengan

harapan tanpa menyimpang dari tujuan penelitian ini.

Adapun langkah-langkah atau prosedur dalam pengolahan data adalah

sebagai berikut:

1. Setelah penyebaran dan data dari angket terkumpul kemudian data tersebut

diseleksi dan apakah angket yang menjadi data tersebut sah tanpa ada item

soal yang tidak diisi. Apabila terdapat satu soal yang tidak terisi maka angket

tersebut tidak sah atau tidak layak untuk dijadikan sumber data. sesudah

5. kepaduan/kohesi g. menghargai dinamika tim

(38)

80

2. Memberikan nilai pada tiap-tiap butir pernyataan dalam angket sesuai dengan

pernyataan Nurhasan dan Cholil (2007,hlm.349) menyatakan dengan

ketentuan pada tabel 3.9 sebagai berikut.

Tabel 3.9

Skor Alternatif Jawaban

Alternatif Jawaban Skor Jawaban Positif Negatif

1. Sangat Setuju (SS)

2. Setuju (S)

3. Tidak Bisa (R) menentukan

4. Tidak Setuju (TS)

5. Sangat Tidak Setuju (STS)

5

4

3

2

1

1

2

3

4

5

Keterangan tabel di atas tabel 3.7yaitu untuk nilai butir-butir pernyataan

pada setiap jawaban dengan ketentuan adalah sebagai berikut:

a. Untuk pernyataan positif: SS = 5, S = 4, R = 3, TS= 2, STS = 1

b. Untuk pernyataan negatif: SS = 1, S =2, R= 3, TS = 4, STS = 5

3. Mengelompokkan setiap butir pernyataan.

4. Menjumlahkan nilai seluruh pernyataan untuk tiap butir pernyataan.

5. Menganalisa data yaitu untuk memperoleh kesimpulan yang dapat dipercaya.

6. Mengelompokkan setiap butir pernyataan dalam bentuk angka atau nominal

sesuai dengan skor nilai yang telah ditentukan.

7. Menjumlahkan nilai dari keseluruhan responden untuk setiap butir

(39)

Rifqi Abdurrahman S, 2015

PROFIL VO2MAX DAN PROFIL MENTAL TOUGHNESS PENDAKI PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi. BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data yang telah di bahas pada

bab IV sebelumnya, maka peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa :

1. Profil VO2Max pendaki PAMOR ada ada tiga sampel yang memiliki

VO2Max yang Baik, yaitu sampel A basiknya sebagai atlet trail running,

sampel B basiknya juga sebagai atlet hocky yang berprestasi dan sampel E

karena bakan bawaan kondisi fisiknya yang terlatih secara alami.

Sedangkan VO2Max pendaki yang termasuk dalam kategori cukup ada 2

sampel pendaki yaitu pendaki C dan D basiknya yang bukan berasal dari

atlet dan belum berpengalaman dalam hal mendaki gunung secara cepat.

2. Sedangkan profil Mental Toughness pendaki yang memiliki kategori

Mental Toughness yang tertinggi adalah pendaki C dengan kategori Baik,

pendaki ini bermotivasi yang tinggi untuk melakuakan segala tindakan

secara tangguh. Sedangkan sampel yang masuk kedalam kategori Cukup

adalah sampel A, B dan E, ketiga penadaki ini cukup berpengalaman

dalam menghadapi situasi sulit untuk sebuah keberhasilan secara tangguh,

berkaca sebelumnya telah berhasil melakukan ekspedisi sebelumnya

sehingga terdapat mental yang cukup tangguh yang dimilikinya. Dan

sampel terakhir yaitu sampel D masuk kedalam kategori Buruk, pendaki

ini terpengaruhi oleh rasa cemas dan pesimis yang mempengaruhi dirinya

untuk melakukan sesuatu.

B. Saran

Berkaitan penelitian yang telah dilakukan dengan hasil penelitian yang telah

diperoleh dan berdasarkan kesimpulan yang telah diungkapkan di atas, serta untuk

penyempurnaan hasil penelitian, maka penulis mengemukakan beberapa saran

(40)

89

1. Bagi para penggiat alam terbuka diharapkan melakukan sebagian program

latihan kondisi fisik karena program latihan tersebut memiliki pengaruh yang

signifikan terhadap kemampuan seseorang dalam melakukan berbagai

aktivitas karena pada dasarnya tubuh merupakan bagian dari jiwa yang harus

selalu diolah agar tidak tejadinya kerusakan dalam tubuh itu sendiri. Tetapi

selain kondisi fisik yang diolah untuk tubuh kita, aspek mental memiliki

peranan penting dalam keberhasilan sebuah kegiatan.

2. Kepada para mahasiswa diharapkan selalu berolahraga secara teratur dan

selalu melatih dirinya sendiri terutama aspek ketengguhan mental.

3. Bagi Organisasi PAMOR sebagai fasilitator, untuk selalu menyiapkan diri

sebagai kelompok mahasiswa yang memahami tentang olahraga alam

terbuka.

4. Bagi lembaga diharapkan hasil penelitian ini menjadi sumbangan ilmu

pengetahuan yang akan bermanfaat bagi semua pihak dan penulis berharap

kepada pihak lembaga agar penelitian ini dilakukan kembali dengan sampel

yang lebih besar guna menghasilkan penelitian yang makin baik dari

sebelumnya.

5. Kepada peneliti selanjutnya, diharapkan agar dapat melanjutkan penelitian

dengan cakupan yang lebih luas lagi karena penulis merasa masih banyak

kekurangan dalam penelitian ini oleh karena keterbatasan waktu, tenaga serta

(41)

Rifqi Abdurrahman S, 2015

PROFIL VO2MAX DAN PROFIL MENTAL TOUGHNESS PENDAKI PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi. DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Pendekatan Suatu Praktek Edisi Revisi V. Jakarta: PT. Rineke Cipta.

Arsip Pamor. (2015). Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PAMOR FPOK UPI 2013/2014, Bandung.

Aprianto. (2011). Profil kondisi fisik dan psikologi (motif sosial) tim expedisi Pamor pendakian puncak gunung pada tahun 2011, Skripsi sarjana pada FPOK UPI, Bandung : Tidak diterbitkan.

Anggraeni, L. (2009). "Profil Manajemen Ekspedisi Panjat" . Bandung: Skripsi sarjana pada FPOK UPI : Tidak diterbitkan

Catros. (2007). Sejarah Pendakian Gunung Dan Panjat Tebing Di Indonesia. [Online]. Tersedia: http://catros.wordpress.com/20/07/03/29/sejarah-pendakian-gunung-dan-panjat-tebing-di-Indonesia/ [17-09- 2014] [22:42]

Dikdik Z.S. (2010). Modul Pembinaan Kondisi Fisik. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia

Dikdik dan Paulus. (2006). Materi Penataran Pelatihan Fisik Tingkat Provinsi Se-Indonesia. Koni Pusat

Edgar K. Tam dan Daniel A. Weigand. (2011). Strategi Ketangguhan Mental Para Atlet Terbesar di Dunia (Mental Training For Peak Perfomance.) Jakarta : Satlak Prima Utama Muda.

Fadlily, Fahmi. (2011). Hubungan Tingkat Kebugaran Jasmani Dengan Kemampuan aklimatisasi Pendaki Gunung di atas Ketinggian 3000 Meter Dari Permukaan Laut. Skripsi S1 FPOK-UPI. Bandung: Tidak diterbitkan.

Harsono. (1988). Coaching dan Aspek-Aspek Psikologis dalam coaching, Jakarta: CV. Tambak Kusuma.

Harsono. (2001). Latihan Kondisi Fisik, Bandung

(42)

101

Mahitala UNPAR (2010). Lansekap Misterius Sudirman Range Trails, Bandung: Mahitala UNPAR

Novri (2014). Laporan Kegiatan Pamor 14 Peaks Ekspedition 2014, Bandung: Pamor FPOK UPI.

Nirwansyah, D. (2011). ”Laporan Ekspedisi 14 Puncak 10 Hari Jabalo 2011". PAMOR FPOK UPI Bandung: tidak dipublikasikan.

Nurhasan, & Cholil, D.H. (2007). Modul Tes dan Pengukuran Keolahragaan. Bandung: FPOK UPI Bandung.

Nurhasan. (2008). Tes Kemampuan Fisik Dasar Cabang-cabang Olahraga, Bandung:

FPOK UPI.

Nugraha. R (2013). Skripsi pada FPOK UPI : Tidak diterbitkan

Ramdhan, A. (2011). Analisis Kebutuhan Yang Mandukung Keberhasilan Pendakian Gunung. Skripsi pada IKOR FPOK UPI Bandung : tidak diterbitkan

Rustandi (2009). Perbandingan Tingkat Kebugaran Jasmani Pendaki Gunung PAMOR dan Pendaki Gunung Bramatala. Skripsi sarjana pada FPOK UPI , Bandung : Tidak diterbitkan

Ratih (2009), Proses Pembelajaran Olaraga Panjat Dinding di PAMOR FPOK UPI, Bandung : Tidak diterbitkan

Raka E. G, (2007). Peningkatan Kadar Vo2max Melalui Latihan Cross Country. Skripsi S1 FPOK-UPI. Bandung: Tidak diterbitkan.

Santosa dkk. (2007) Ilmu Kesehatan Olahraga, Bandung. FPOK UPI.

Solehudin A (2006: 5) Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Hasil Panjatan Pada Atlet Panjat Tebing. Skripsi S-I FPOK UPI, Bandung.

Solehudin A. (2006). Diktat Panjat Tebing PAMORFPOK UPI Bandung, Bandung: Pamor FPOK UPI.

(43)

Rifqi Abdurrahman S, 2015

PROFIL VO2MAX DAN PROFIL MENTAL TOUGHNESS PENDAKI PAMOR 14 PEAKS EXPEDITION IV

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.

Schurman, C. (2009). The Outdoor Athlete. Amerika: Champaign.

Sajoto. (2005). Pembinaan Kondisi Fisik Dalam Olahraga. Jakarta: Ikip Semarang.

Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Bandung: Alfabeta.

Surakhmad, W (1998). Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar Metode Teknik. Bandung : Angkasa.

Tim penulis (2013). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung: UPI Bandung.

Tarigan, Beltasar. (2009) Optimalisasi Pendidikan Jasmanidan Olahraga Berlandaskan Ilmu Faal (Sebuah Analisis Kritis), Bandung: FPOK UPI

Wanadri (1993). Diktat Wanadri, Bandung.

[Online]. Tersedia

http://kampus.okezone.com/read/2011/05/21/373/459416/harkitnas-tim-7-summits-unpar-capai-puncak-everest [17-09-2014] [22;35]

[Online]. Tersedia http://www.ngarai.com/lima-pendaki-cacat-berupaya-gapai-puncak-denali-2/ [17-09-2014] [22;35]

[Online]. Tersedia http://www.mensfitness.com/training/build-muscle/mental-toughness-training.[

[Online].Tersediahttp://nblindonesia.com/v1/index15.php?page=newsdetail&id=3940 [02-09-2014] [22:14]

[Online]. Tersedia http://upload.wikimedia.org [02-09-2014] [23:15]

[Online]. Tersedia http://www.claire-cameron.com [02-09-2014] [23:21]

[Online]. Tersedia http://www.rei.com [02-09-2014] [23:34]

[Online]. Tersedia http://kepikromantis.blogspot.com/2014/02/ketangguhan-mental.html [02-09-2014] [22:30]

(44)

103

[Online]. Tersedia https://donibrahimovic.wordpress.com [27-03-2015] [21:25]

[Online]. Tersedia http://www.griyawisata.com [27-03-2015] [21:27]

[Online]. Tersedia http://tersapa.com [27-03-2015] [21:31]

[Online]. Tersedia https://komunitascoemie.files.wordpress.com [27-03-2015] [21:34]

[Online]. Tersedia http://fotowisata.com [27-03-2015] [21:38]

[Online]. Tersedia http://wisatadanbudaya.blogspot.com [27-03-2015] [21:47]

[Online]. Tersedia https://tresnabuana.wordpress.com [27-03-2015] [21:50]

[Online]. Tersedia http://bondowosokab.go.id/pariwisata/gunung-raung [27-03-2015] [21:56]

[Online]. Tersedia http://www.fabulousubud.com [27-03-2015] [22:13]

Gambar

Tabel 3.2
Tabel 3.4 Skala Sikap Model Linier
Tabel 3.5
Tabel 3.6
+3

Referensi

Dokumen terkait

Namun selanjutnya setelah fokus penelitian menjadi jelas maka kemungkinan akan dikembangkan instrumen pengumpulan data sederhana yang diharapkan dapat melengkapi data yang

Hal ini tidak berarti bahwa dengan menggunakan instrumen yang teruji validitasnya dan reliabilitasnya, otomatis hasil (data) penelitian menjadi valid dan reliabel. Hal

Penentuan data yang valid, reliabel dan obyektif, maka penelitian dilaku- kan dengan menggunakan instrumen yang valid dan reliabel, dilakukan pada sampel yang mendekati

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

Dengan instrumen penilaian guru terhadap murid sebagai berikut: Tabel 2. Instrumen Penilaian Indikator Sub-Indikator Kriteria Penilaian BM MM BSH BSB Anak dapat berbicara lancer dengan kalimat yang terdiri dari Kelancaran 4 sampai 6 kata. menyampaikan Anak Dapat menyebutkan gambar yang diperlihatkan guru dengan lancer. Anak dapat berbicara dengan kata- kata yang jelas dalam menyampaikan pendapatnya. Kejelasan Vocal Anak Dapat berbicara jelas saat berkomunikasi dengan temannya Ketetapan Anak dapat menggunakan kata- Intonasi kata yang jelas dalam menyampaikan pendapatnya. Anak dapat berbicara dengan intonasi yang baik Ketetapan Anak dapat menceritakan pilihan kata menggunakan media gambar berseri dengan tepat. Anak mampu menceritakan sesuai tema dengan menggunakan gambar berseri. Struktur kalimat Anak mampu menjelaskan dengan menggunakan media gambar berseri dengan lengkap. Anak mampu berbicara tentang gambar yang disediakan atau dibuat sendiri dengan urut dan bahasa yang lengkap. Kriteria penilaian yaitu sebagai berikut: (a) Belum Berkembang (BB), yaitu bila anak melakukannya harus dengan bimbingan atau dicontohkan oleh guru; (b) Mulai Berkembang (MB), yaitu bila anak melakukannya masih harus diingatkan atau dibantu oleh guru; (c) Berkembang Sesuai Harapan (BSH), yaitu bila anak sudah dapat melakukannya secara mandiri dan konsisten tanpa harus diingatkan atau dicontohkan oleh guru; (d) Berkembang Sangat Baik (BSB), yaitu bila anak sudah dapat melakukannya secara mandiri dan sudah dapat membantu temannya yang belum mencapai kemampuan sesuai indikator yang diharapkan. Teknik analisa data melalui 3 tahap yaitu: reduksi data, deskripsi data, dan verifikasi data. Pertama, reduksi data adalah penyederhanaan yang dilakukan melalui seleksi, pemfokusan dan pengabstrakan data mentah menjadi informasi yang bermakna. Mereduksi data merupakan kegiatan menyeleksi data sesuai dengan fokus permasalahan. Pada tahap ini peneliti mengumpulkan semua

Tujuan Penelitian ini adalah untuk: 1) Bagaimana konsep Perkawinan Siri (Tidak Dicatatkan) menurut Hukum Islam dan Undang-Undang Perkawinan? 2) Bagaimana akibat hukum Perkawinan Siri terhadap kedudukan harta Bersama? Dalam menjawab hal tersebut penulis menggunakan metode penelitian pustaka atau library reseach dengan pendekatan yang digunakan adalah hukum normative serta perbandingan hukum. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah penelusuran berbagai literatur atau refrensi baik dari buku maupun media online. Teknik pengolahan dan analisis data dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu Reduksi Data, Penyajian, dan Pengambilan kesimpulan. Setelah mengadakan beberapa kajian terhadap Akibat Hukum Perkawinan Siri (Tidak Dicatat) Terhadap Kedudukan Harta Bersama Ditinjau dari Hukum Islam dan Undang-Undang Perkawinan dapat disimpulkan menjadi: 1) Perkawinan Siri (Tidak Dicatatkan) menurut Hukum Islam dan Undang-Undang Perkawinan, dalam hukum Islam kawin siri tetap sah dimata agama apa bila syarat dan rukun terpenuhi diantara kedua bela pihak. Lain halnya dengan Undang-Undang Perkawinan yang secara jelas telah mengatur aturan pernikahan dalam artian pencatatan pernikahan dan secara hukum positif/Undang-Undang perkawinan, kawin siri tidak sah karena tidak terdaftar dalam pencatatan perkawinan/pernikahan, 2) Akibat hukum perkawinan siri terhadap kedudukan harta bersama, Jika dilihat dari RUU nikah siri atau Rancangan Undang-Undang Hukum Materil oleh Peradilan Agama Bidang Perkawinan yang akan memidanakan pernikahan tanpa dokumen resmi atau biasa disebut dengan kawin siri, sehingga dalam kedudukan harta bersama Negara tidak berhak mengatur pembagiannya dikarenakan tidak tercatatnya dalam pencatatan pernikahan, namun dalam pembagian harta bersama tetap bisa terlaksana dengan syarat membuat kesepakatan dalam pembagiannya hartanya. Implikasi penelitian ini adalah: 1) Menghendaki adanya pengawasan terhadap perkawinan sehingga tidak terlalu banyak terjadinya perkawinan siri, meskipun dalam hukum Islam di pandang tetap pernikahan yang sah namun di mata hukum kita tidak sah, 2) Penelitian ini diharapkan dapat berdampak pada masyarakat agar mengerti betapa pentingnya pernikahan yang secara legal sebab akan berdampak pada masa depan mereka yang akan menikah/kawin

Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama Dengan menggunakan instrumen yang valid dan