DI KABUPATEN J OMBANG
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian
Pr ogram Studi Agr ibisnis
OLEH :
RONGGOJ ATI PUTUNINGRAT
0824010028
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
J AWA TIMUR
DI KABUPATEN J OMBANG
SKRIPSI
OLEH :
RONGGOJ ATI PUTUNINGRAT
0824010028
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
J AWA TIMUR
DI KABUPATEN J OMBANG
Disusun Oleh
RONGGOJ ATI PUTUNINGRAT
NPM : 0824010028
Telah dipertahankan di hadapan dan diterima Oleh Tim Penguji Skr ipsi Pr ogram Studi Agribisnis Fakultas Per tanian
Univer sitas Pembangunan Nasional “Veteran” J awa Timur Pada tanggal : 07 Desember 2012
Pembimbing : Tim Penguji :
1. Pembimbing Utama 1. Ketua
Dr. Ir. Zainal Abidin, MS. Dr. Ir. Zainal Abidin, MS.
2. Pendamping Pendamping 2. Sekretaris
Dr. Ir. A. Rachman Waliulu, SU. Ir. Nuriah Yuliati, MP.
3. Anggota
Ir. Sigit Dwi Nugroho, MSi.
Mengetahui :
Dekan Fakultas Pertanian Ketua Program Studi
Agribisnis
Telah Direvisi Tanggal : ……….
Pembimbing Utama: Pembimbing Pendamping :
Assalamualaikum, Wr. Wb.
Puji dan syukur kepada Allah SWT, karena atas ridha dan karunia-Nya.
Penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul KEMITRAAN
ANTARA PETANI TEBU DENGAN PG. DJ OMBANG BARU DI KABUPATEN J OMBANG. Tidak lupa pula penulis haturkan shalawat dan
salam kepada Nabi Muhammad SAW, yang dengan segala kerendahan hati dan
kesucian iman, serta kebersihan budi, akhlak dan perilakunya, telah menjadi panutan
bagi seluruh umat muslim di dunia. Terimakasih kepada bapak Dr . Ir . Za inal Abidin, MS dan bapak Dr . Ir . A. Rachman Waliulu, SU yang telah
meluangkan waktunya untuk menjadi pembimbing skripsi ini. Banyak sekali bantuan, motifasi, dan bimbingan yang sangat berharga, yang diberikan kepada penulis, untuk itu pada kesempatan ini penulis menghaturkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Dr. Ir. Ramdan Hidayat, MS selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas
Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur.
2. Dr. Ir. H. Eko Nurhadi, MS selaku Ketua Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur.
ii
persatu. ”I can’t be like what I’am now without you, Guys!!”.
6. Seluruh karyawan bagian akademik, keuangan, dan kemahasiswaan Fakultas Pertanian UPN“Veteran” Jatim yang membantu proses perkuliahan.
7. Seluruh dosen Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Jatim yang bersedia memberikan ilmunya kepada Penulis.
8. Buat my Friska, terimakasih atas dukungannya“You are the best!!”.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan di dalam penulisan skripsi ini, oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Semoga skipsi ini dapat memberikan sumbangan pemikiran yang berguna.
Wassamualaikum, Wr.Wb.
Halaman
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR GAMBAR ... vi
DAFTAR TABEL ... vii
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... 1
1.2Permasalahan ... 5
1.3Tujuan Penelitian ... 8
1.4Manfaat Penelitian ... 8
1.5Batasan Masalah ... 9
II. TINJ AUAN PUSTAKA 2.1Penelitian Terdahulu ... 10
2.2Diskripsi Singkat Tanaman Tebu ... 13
2.2.1. Rendemen Tebu ... 14
2.2.2. Penentuan Rendemen Gula Tebu ... 16
2.2.3. Sistem Bagi Hasil Dan Kebijakan Tebu Rakyat ... 19
2.2.4. Peningkatan Produksifitas Gula Nasional ... 22
2.3.Tinjauan Mengenai Kemitraan ... 25
2.3.1. Syarat Kemitraan Usaha Pertanian ... 30
2.3.2. Model-model Kemitraan Usaha Bersama ... 31
3.1. Kerangka Pemikiran ... 42
3.2. Hipotesis ... 45
IV. METODE PENELITIAN 4.1. Penentuan Obyek Penelitian ... 46
4.2. Penentuan Sampel ... 46
4.3. Pengambilan Data ... 47
4.4. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 47
4.5. Analisis Data ... 48
V. KEADAAN UMUM WILAYAH 5.1. Keadaan Umum Perusahaan... 53
5.1.1. Sejarah Pabrik Gula Djombang Baru ... 53
5.1.2. Lokasi Pabrik Gula Djombang Baru ... 56
5.1.3 Struktur Organisasi PG. Djombang Baru ... 57
5.2. Keadaan Umum Kabupaten Jombang ... 59
5.2.1 Kondisi Geografis ... 59
5.2.2. Kondisi Penduduk ... 60
5.2.3. Kondisi Perkebunan ... 61
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Karakteristik Petani Mitra ... 63
6.1.1. Usia Petani Mitra ... 64
6.1.2. Pendidikan Petani Mitra ... 64
6.2.1. Persiapan Lahan ... 68
6.2.2. Penanaman ... 70
6.2.3. Pemeliharaan ... 71
6.2.4. Rendemen Tebu ... 75
6.2.5. Tebu Keprasan... 76
6.2.6. Panen ... 76
6.3. Mekanisme Kemitraan antara PG. Djombang Baru dengan Petani Tebu Mitra di Kabupaten Jombang ... 77
6.3.1. Mekanisme Pembinaan Kemitraan ... 78
6.4. Tanggapan Petani Mitra terhadap Kemitraan ... 89
6.4.1 Atribut Evaluasi Kemitraan ... 89
6.4.2. Analisis Tingkat Kepuasan Petani Mitra ... 92
6.4.2.1. Tingkat Kesesuaian Atribut ... 93
6.4.2.2. Matriks Kepentingan-Kepuasan Petani Mitra ... 95
VII. KESIMPULAN DAN SARAN 7.1. Kesimpulan ... 104
7.2. Saran ... 105
DAFTAR PUSTAKA... 107
Waliulu, SU.
RANGKUMAN
PG. Djombang Baru dalam memproduksi gula masih memiliki kendala, yaitu belum adanya lahan tanam tebu sendiri untuk menanam tebu maka untuk memenuhi kebutuhan bahan baku tebu tersebut pabrik gula disamping menyewa lahan milik masyarakat juga menjalin kerjasama dengan petani tebu rakyat di sekitar pabrik. Hubungan kerjasama antara pabrik gula dengan petani sebagai pemasok tebu tersebut dalam bentuk hubungan kemitraan. Hubungan antara petani tebu rakyat dengan PG. Djombang Baru yang dijalin dengan dasar kerjasama terkadang berjalan kurang harmonis dan tidak sesuai dengan harapan yang diinginkan, hal ini akibat dari masing-masing pihak yang masih cenderung untuk tidak mematuhi kesepakatan yang telah diputuskan bersama. Fenomena yang menarik tersebut menstimulus peneliti untuk mengadakan penelitian tentang kemitraan yang sudah dilaksanakan dengan berbagai permasalahan yang dihadapinya.
Tujuan penelitian ini adalah (1) Mengidentifikasi masalah penyediaan bahan baku tebu yang dihadapi oleh petani mitra selama bermitra dengan PG. Djombang Baru di Kabupaten Jombang.(2) Mengidentifikasi mekanisme pembinaan PG. Djombang Baru yang diinginkan oleh petani mitra dalam kemitraan antara petani tebu dengan PG. Djombang Baru di Kabupaten Jombang.(3) Menganalisis tanggapan petani mitra terhadap bentuk kemitraan yang dibuat oleh PG. Djombang Baru.
Pengambilan data menggunakan Data Primer dan Data Sekunder. Data Primer yaitu Interview (Data yang didapat saat melakukan penelitian), dan metode kuisioner (Data yang didapat adalah daftar pertanyaan yang telah diisi oleh responden). Data Sekunder adalah keadaaan umum perusahaan, sejarah PG. Djombang Baru, Lokasi PG. Djombang Baru, dan Struktur organisasi PG. Djombang Baru.
1
1.1. Latar Belakang
Keberadaan industri gula memegang peranan penting bagi masyarakat
Indonesia dan sektor industri lainnya karena gula merupakan salah satu komponen
yang diperlukan untuk konsumsi masyarakat dan juga diperlukan sebagai bahan
baku semisal untuk industri olahan pangan. Hal ini merupakan implikasi dari
perkembangan jumlah penduduk yang dapat dipastikan terus meningkat setiap
tahunnya bahkan pada tahun 2011 tercatat sebanyak 236 juta jiwa. Informasi data
Kementerian BUMN pada tahun yang sama mendeskripsikan Indonesia
membutuhkan 5 juta ton gula yang terdiri dari 2,75 juta ton untuk konsumsi
langsung masyarakat dan 2,25 juta ton untuk keperluan industri produksi gula
Nasional baru bisa memenuhi 53 % dari kebutuhan total, sisanya 47% dari
kebutuhan tersebut dipenuhi melalui impor (Kementerian BUMN, 2011).
Bakrie dan Susmiadi (1999) menyatakan, membiarkan impor meningkat
berarti membiarkan industri gula terus mengalami kemunduran yang akan
menimbulkan masalah bagi Indonesia. Pertama, industri gula melibatkan sekitar
1.4 juta petani dan tenaga kerja. Kedua, kebangkrutan industri gula juga berkaitan
dengan aset yang sangat besar dengan nilai sekitar Rp 50 triliun. Ketiga, gula
merupakan kebutuhan pokok yang mempunyai pengaruh langsung terhadap
inflasi, sesuatu yang mengkhawatirkan pelaku bisnis, masyarakat umum, dan
pemerintah. Lebih jauh, membiarkan ketergantungan kebutuhan pokok yang
(Pakpahan, 2000)
Mengamati lebih dalam terjadi penurunan produksi guia nasionai antara
lain disebabkan oleh dua hal, yaitu: (1) penurunan produktivitas gula per hektar
(terutama di Pulau Jawa). Penurunan ini disebabkan oleh pergeseran areal tebu
dari lahan sawah ke lahan kering, tidak ada inovasi dan adaptasi teknologi
budidaya tebu lahan kering secara memadai dan meningkatnya biaya produksi, (2)
penurunan rendemen karena faktor budidaya maupun pabrik yang disebabkan
semakin panjangnya hari giling pabrik gula sehingga masa giling semakin jauh
dari periode kemasakan tebu yang optumal, kurangnya pasokan tebu, dan
meningkatnya jumlah gula yang hilang per ton yang digiling.
(Djojosubroto, 1995).
Soekartawi, (2002) menyatakan bahwa efektifitas suatu kegiatan usahatani
dapat tercapai bila petani dapat mengalokasikan sumberdaya yang dimiliki
dengan sebaik-baiknya, sedangkan efisiensi akan tercapai bila pemanfaatan
sumberdaya tersebut menghasilkan keluaran (output) yang melebihi masukan
(input). Oleh karenanya pemerintah melalui perusahaan gula milik BUMN masih
perlu ditingkatkan kinerjanya agar mampu memberikan kontribusi besar dalam
upaya pemenuhan kebutuhan gula Nasional. Saat ini di Indonesia terdapat 61
pabrik Gula (PG ), 51 Pabrik Gula milik BUMN dan sisanya 9 Pabrik Gula milik
swasta, yang terbesar di Pulau Jawa dan di luar Jawa meliputi propinsi Sumatra
utara, Sumatra Selatan, Lampung, Sulawasi Selatan dan Gorontalo.
PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) disingkat PTPN X sebagai salah satu
Tengah. Diantara kedua belas Pabrik Gula yang ada salah satunya adalah
PG. Djombang Baru. PG. Djombang Baru yang terletak di Kabupaten Jombang
merupakan Unit Usaha Strategis (UUS) di bawah naungan PT. Perkebunan
Nusantara X yang memiliki kapasitas giling terpasang 2.650 ton per hari,
mempunyai peranan yang cukup besar sebagai penyedia gula bagi masyarakat
khususnya di wilayah Jawa Timur, walaupun dalam 5 tahun terakhir produksinya
menunjukkan angka-angka yang fluktuatif dan cenderung menurun.
Sebagaimana perusahaan BUMN pada umumnya menghadapi permasalahan
baik di sektor on farm maupun off farm. Permasalahan di sektor on farm yang
cukup menonjol diantaranya yaitu kesulitan pengembangan area tebu akibat
persaingan penggunaan lahan yang ketat dengan komoditi lain dan terjadinya alih
fumgsi lahan pertanian ke non pertanian, terutama yang terjadi di Pulau Jawa.
Sedangkan permasalahan di sektor off farm terkait dengan usia pabrik yang relatif
lama dengan teknologi pengolahan yang relatif konvensional, sehingga kapasitas
giling sangat terbatas dan kualitas gula relatif kurang baik.
Sehubungan permasalahan yang ada dengan memegang konsep revitalisasi
industri gula nasional yang secara konkret membahas tentang pencapaian
kesinambungan antara produksi dan konsumsi, baik konsumsi langsung maupun
konsumsi industri serta terpenting adalah mencakup upaya-upaya terwujudnya
masyarakat (petani) yang sejahtera melalui perkebunan yang berdaya saing dan
berkeadilan maka konsep kemitraan sebagai langkah tepat untuk memenuhi
tantangan tersebut. Kemitraan merupakan pilihan yang tepat karena petani
kerjasama yang saling menguntungkan (win-win solution). Kemitraan menjadi
bagian terpenting dari industri gula dimana kemitraan merupakan bentuk riil
kerjasama usaha antara petani tebu dengan pabrik gula, dimana pabrik gula
memberikan pinjaman biaya garap, bibit, pupuk, herbisida, dan alat-alat, selain itu
petani di berikan bimbingan teknis dan penyuluhan serta jaminan pengelolahan
seluruh hasil panen oleh pabrik gula (Nuhung, 2006).
PG. Djombang Baru dalam memproduksi gula masih memiliki kendala,
yaitu belum adanya lahan tanam sendiri untuk menanam tebu maka untuk
memenuhi kebutuhan bahan baku tebu tersebut pabrik gula disamping menyewa
lahan milik masyarakat juga menjalin kerjasama dengan petani tebu rakyat di
sekitar pabrik. Hubungan kerjasama yang dijalin antara pabrik gula dengan petani
sebagai pemasok tebu tersebut dalam bentuk hubungan kemitraan. Meskipun
demikian, hubungan kemitraan antara petani tebu rakyat dengan
PG. Djombang Baru yang dijalin dengan dasar saling menguntungkan terkadang
berjalan kurang harmonis dan tidak sesuai dengan harapan yang diinginkan, hal
ini akibat dari masing-masing pihak yang masih cenderung untuk tidak mematuhi
kesepakatan yang telah diputuskan bersama. Fenomena yang menarik tersebut
menstimulus peneliti untuk mengadakan penelitian tentang kemitraan yang sudah
dilaksanakan dengan berbagai permasalahan yang dihadapinya.
Berdasarkan atas uraian di atas maka perlu dilakukan kajian yang lebih
mendalam mengenai “Kemitraan Antara Petani Tebu dengan PG. Djombang Baru
Di kabupaten Jombang” didalamnya mempelajari tentang tanggapan petani
Kesulitan penyediaan pasokan bahan baku dari petani merupakan
tugas berat yang harus dihadapi oleh PG. Djombang Baru. Padahal
ketersediaan bahan baku yang cukup dan kontinu bagi suatu usaha agroindustri
gula amat penting. Hal ini disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut
(Soekartawi, 2005) :
a. Produk usaha pertanian adalah musiman sehingga diperlukan manajemen
stok yang baik.
b. Produk usaha pertanian bersifat lokal dan spesifik dan oleh karenanya
diperlukan perencanaan pengadaan bahan baku secara baik.
c. Harga produk pertanian umumnya berfluktuasi. Oleh karena itu diperlukan
stok yang cukup agar tidak terjadi pembelian bahan baku yang
berulang-ulang pada harga yang tidak pasti.
d. Mesin pengolahan akan berjalan efisien kalau digunakan terus sampai
diperoleh pemakaian yang efisien. Oleh karena itu, bahan baku harus
tersedia setiap saat manakala bahan baku tersebut diperlukan.
Pihak manajemen PG. Djombang Baru sadar akan tantangan tersebut, dan
dilain sisi petani di sekitar lokasi pabrik gula cenderung memiliki preferensi untuk
mengikuti kemitraan dikarenakan selisih harga yang ditawarkan
PG. Djombang Baru sebanding dengan tingkat rendemen yang dihasilkan oleh
petani. Para petani tersebut juga beranggapan bahwa permintaan tebu di pasar
bebas cukup tinggi apabila dikelola dengan baik oleh manajemen, meskipun
menguntungkan antara pihak Pabrik Gula dengan petani peserta kemitraan, maka
pihak pabrik gula juga perlu memperhatikan tanggapan-tanggapan dari petani
yang kadang kala belum mendapat perhatian penuh dari kemungkinan masalah
yang dihadapi semisal kurang cepat dalam menghadapi kerusakan panen,
turunnya rendemen, kesulitan tebang pengangkutan dan lain sebagainya, padahal
naik turunnya produksi tebu berpengaruh langsung pada besar kecilnya rendemen
yang dihasilkan, maka jelas ada kepentingan dari kedua belah pihak untuk saling
kerja sama yang baik dan harmonis agar produksi tebu maupun hasil gula dapat
meningkat. Selain itu, kemitraan yang telah dilaksanakan memberikan dampak
secara eksplisit dari segi ekonomi maupun sosial.
Salah satu tujuan dari pengenalan sistem kemitraan adalah peningkatan
pendapatan petani tebu. Pendapatan petani tebu merupakan fungsi dari produksi
tebu dan harga yang diperoleh untuk tebu dan gulanya, hal ini berarti walaupun
produksi gula perhektar relatif tinggi tetapi kalau harga gula yang diterima petani
menurun, boleh jadi pendapatan bersih petani tidak meningkat. Ditinjau dari segi
ekonomi akibat langsung dari sistem kemitraan adalah pertambahan yang sangat
besar dari penggunaan modal, biaya dan sebagainya yang kurang memenuhi,
selain itu dalam hal pembinaan waktu yang diberikan relatif sehingga dapat
mempengaruhi hasil produksi dan secara otomatis juga dapat mempengaruhi
pendapatan petani yang mengikuti kemitraan.
Sikap yang ditunjukkan petani mitra terhadap pelaksanaan kemitraan
dengan PG. Djombang Baru dapat dijadikan indikasi adanya permasalahan dalam
akan memberikan loyalitas kepada perusahaan jika harapan petani dalam bermitra
dapat dipenuhi oleh perusahaan. Petani mitra yang terpenuhi harapannya relatif
akan loyal dan melaksanakan kesepakatan kemitraan dengan sebaik-baiknya.
Loyalitas petani mitra ini pada gilirannya akan menjamin ketersediaan bahan
baku tebu bagi pabrik gula.
Penelitian ini menganalisis dan memberikan rekomendasi kebijakan yang
dapat diambil dari permasalahan yang dihadapi oleh PG. Djombang Baru terkait
dengan kemitraan yang dijalin perusahaan dengan petani tebu
di Kabupaten Jombang. Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini
dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Apa saja permasalahan budidaya tebu yang dihadapi oleh petani mitra selama
bermitra dengan PG. Djombang Baru di Kabupaten Jombang?
2. Bagaimanakah mekanisme pembinaan PG. Djombang Baru yang diinginkan
oleh petani mitra dalam kemitraan antara petani tebu dengan
PG. Djombang Baru di Kabupaten Jombang?
3. Bagaimana tanggapan petani mitra terhadap aspek-aspek kebijakan kemitraan
1. Mengidentifikasi permasalahan budidaya tebu yang dihadapi oleh petani
mitra selama bermitra dengan PG. Djombang Baru di Kabupaten Jombang.
2. Mengidentifikasi mekanisme pembinaan PG. Djombang Baru yang
diinginkan oleh petani mitra dalam kemitraan antara petani tebu dengan
PG. Djombang Baru di Kabupaten Jombang.
3. Menganalisis tanggapan petani mitra terhadap aspek-aspek kebijakan
kemitraan yang dibuat oleh PG. Djombang Baru.
1.4. Manfaat Penelitian
1. Bagi Petani
Penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan lebih jelas tentang
manfaat yang bisa diperoleh jika petani melakukan kemitraan yang ideal
dengan pabrik gula dalam hal pengolahan tebu.
2. Bagi Perusahaan
Penelitian ini dapat menjadi referensi yang menggambarkan alasan perilaku
petani mitra yang selama ini mengikuti kemitraan. Penelitian ini juga
dapat memberi rekomendasi kebijakan berkenaan dengan kemitraan yang
dapat diterapkan dalam membina hubungan kerjasama yang saling
menguntungkan dengan petani mitra.
3. Bagi Penulis
Penelitian ini merupakan wujud pengaplikasikan displin ilmu managemen
agribisnis yang telah diperoleh selama ini, sekaligus menambah wawasan
1. Hasil produksi tebu dari petani mitra dengan 3 sampai dengan 5 kali keprasan.
2. Penelitian ini dilakukan pada Masa Tanam 2011-2012.
3. Responden yang diambil adalah petani tebu yang mengikuti kemitraan dengan
PG. Djombang Baru.
4. Sampel yang diambil adalah petani tebu mitra yang berada
2.1. Hasil Penelitian Terdahulu
1. Novita W. (2006), melakukan penelitian tentang “Pola Kemitraan antara
Petani Tebu Dengan Pabrik Gula Asembagus ( Di Desa Trigonco Kecamatan
Asembagus Kabupaten Situbondo)”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui pola kemitraan antara petani tebu dengan PG. Asembagus dan
juga untuk mengetahui keuntungan yang diperoleh petani tebu peserta
kemitraan. Metode pengambilan sampel dilakukan secara acak berstrata
dengan dasar strata luas lahan serta menetapkan jumlah sampel yang diambil
sebesar 10% dari jumlah populasi sebanyak 300 orang yaitu 30 orang sampel.
Sedangkan untuk analisa data menggunakan analisa deskriptif dan kuantitatif.
Hasil penelitian menunjukkan PG. Asembagus mengadakan kerjasama yang
bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani tebu dan menambah
pasokan bahan baku bagi PG. Asembagus. Bentuk atau pola kemitraan yang
dijalin oleh petani tebu dengan Pabrik Gula Asembagus adalah kontrak kerja
yang saling menguntungkan. Sedangkan keuntungan yang diperoleh petani
tebu dalam melakukan kemitraan adalah Rp.16.946.681 dan nilai B/C Ratio
pada usahatani tebu kemitraan adalah 1,42 sehingga nilai B/C Ratio >1 yang
artinya usahatani tebu pada petani tebu kemitraan layak diusahakan.
2. Sr iati, J unaidi dan Gusnita (2006) meneliti “Pola Kemitraan antara Petani
Tebu Rakyat dengan PTPN VII Unit Usaha Bungamayang dalam Usahatani
Tebu: Kasus di Desa Karang Rejo Kecamatan Sungkai Selatan, Lampung
anggota TRK dan petani anggota TRB dengan PTPN VII (persero) Unit Usaha Bungamayang di Desa Karang Rejo, (2) menganalisis faktor-faktor yang berhubungan (modal, luas lahan, akses kelahan, dan pengalaman) dengan keputusan petani menjadi anggota TRK di Desa Karang Rejo,dan (3) membandingkan pendapatan usahatani tebu petani anggota TRK dan anggota TRB di Desa Karang Rejo, Lampung Utara. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2006, dengan metode survey, dan data dikumpulkan secara acak berlapis tak berimbang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan aktivitas hubungan kemitraan antara petani tebu anggota Tebu Rakyat Kredit (TRK) dengan Tebut Rakyat Bebas (TRB) dengan PTPN VII Unit Usaha Bungamayang , terlihat dalam hal hak dan kewajiban petani, hak dan kewajiban PTPN VII Unit Usaha Bungamayang, kredit, pengolahan, dan bagi hasil. Faktor yang berhubungan dengan keputusan petani menjadi anggota TRK adalah faktor modal, akses ke lahan, dan pengalaman. Sedangkan faktor luas lahan tidak berhubungan dengan keputusan petani menjadi anggota TRK. Pendapatan
rata-rata petani TRK lebih besar dari pendapatan rata-rata-rata-rata petani TRB yaitu Rp 15.969.443,23 untuk petani TRK dan Rp 13.591.636,84 untuk petani TRB.
3. Mukhlis (2009), meneliti tentang “Kemitraan Tebu Rakyat Intensifikasi
(Suatu Kajian Pamberdayaan Ekonomi Rakyat di PTPN VII Unit Usaha
Cinta Manis Sumatera Selatan)”. Penelitian ini bertujuan 1) Mendetkripsikan
dan menganalisis pelaksanaan kemitraan TR di PTPN VlI Unit Usaha Cima
Manii, 2) Menganalisis faktor yang mendorong dan menghambat perusahaan
dan petani dalam melaksanakan kemitraan.penelitian ini dilakukan dengan
metode study kasus dan pengambilan responden dengan proportionite Random
VII dilaksanakan melalui dua pola yaitu pola TR APBN dan pola TR
Mandiri. terdapat perbedaan pokok anlara pola TR APRN dan TR Mandiri
yaitu pola TR APBN mendapatkan fasilitasi dari pemerintah dan PTPN
sedangkan TR Mandiri tidak mendapatkan fasilitasi dari pemerintah namun
mendapat fasilitasi dari PTPN. petani TR APBN mendapat fasilitasi berupa
bantuan sarana produksi, kredit modal, bimbingan dan arahan dari PTPN
dalam teknis budidaya tebu. Kemitraan belum sepenuhnya terlaksana namun
hubungan kemitraan telah memberikan pemberdayaan ekonomi rakyat dengan
pendapatan petani rata-rata Rp. 1,2 juta/Ha. faktor yang mendorong kemitraan
TR bagi petani APBN adalah adanya perangkat peraturan yang terkait,
mendapatkan fasilitasi dan akses lahan. Faktor yang mendorong petani
Mandiri adalah adanya perangkat peraturan yang terikat.akses lahan dan
pasar. Faktor yang mendorong PTPN adalah tersedianya SDM, teknologi
modern, peraturan pemerintah, bantuan dari pemerintah untuk petani, akses
pasar yang jelas.
Dari berbagai penelitian terdahulu diatas memiliki kesamaan dengan
obyek penelitian yang akan dilakukan yaitu sama-sama mengkaji tentang
kemitraan tebu antara petani tebu dengan perusahaan BUMN (PTPN) maupun
pabrik gula. Namun, penelian yang akan dilakukan memiliki perbedaan terutama
pada penetapan lokasi yaitu di PG. Djombang Baru Kabupaten Jombang dan
bukan hanya mekanisme pembinaan kemitraan tetapi juga tingkat kepentingan
2.2. Deskr ipsi Singkat Tanaman Tebu
Tebu (bahasa Inggris: sugar cane) adalah tanaman yang ditanam untuk
bahan baku gula dan vetsin. Tanaman ini hanya dapat tumbuh di daerah beriklim
tropis.Tanaman ini termasuk jenis rumput-rumputan.
Tanaman Tebu (Saccharum Officanarum L) merupakan tanaman
perkebunan semusim, yang mempunyai sifat tersendiri, sebab didalam batangnya
terdapat zat gula. Tebu termasuk keluarga rumput-rumputan (graminae) seperti
halnya padi, glagah, jagung, bambu dan lain-lain.
Klasifikasi Ilmiah Tanaman Tebu
Kerajaan Plantae
Divisi Magnoliophyta
Kelas Liliopsida
Ordo Poales
Famili Poaceae
Genus Saccharum Officanarum L
Sumber :www.wikipedia.com
Umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai kurang lebih
1 tahun. Di Indonesia tebu banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Sumatra.
Untuk pembuatan gula, batang tebu yang sudah dipanen diperas dengan mesin
pemeras (mesin press) di pabrik gula.Sesudah itu, nira atau air perasan tebu
tersebut disaring, dimasak, dan diputihkan sehingga menjadi gula pasir yang kita
kenal. Dari proses pembuatan tebu tersebut akan dihasilkan gula 5%, ampas tebu
90% dan sisanya berupa tetes (molasse) dan air.
Daun tebu yang kering (dalam bahasa Jawa, dadhok) adalah biomassa
dadhok itu sebagai bahan bakar untuk memasak, selain menghemat minyak tanah
yang semakin mahal, bahan bakar ini juga cepat panas.
Dalam konversi energi pabrik gula, daun tebu dan juga ampas batang tebu
digunakan untuk bahan bakar boiler, yang uapnya digunakan untuk proses
produksi dan pembangkit listrik. Di beberapa daerah air perasan tebu sering
dijadikan minuman segar pelepas lelah, air perasan tebu cukup baik bagi
kesehatan tubuh karena dapat menambah glukosa. salah satu tempat yang menjual
es tebu yaitu di daerah Jember dan sekitarnya.
2.2.1. Rendemen Tebu
Rendemen tebu adalah kadar kandungan gula didalam batang tebu yang
dinyatakan dengan persen. Bila dikatakan rendemen tebu 10 %, artinya ialah
bahwa dari 100 kg tebu yang digilingkan di Pabrik Gula akan diperoleh gula
sebanyak 10 kg. Ada 3 macam rendemen, yaitu: rendemen contoh, rendemen
sementara, dan rendemen efektif.
1. Rendemen Contoh
Rendemen ini merupakan contah yang dipakai untuk mengetahui apakah
suatu kebun tebu sudah mencapai masak optimal atau belum. Dengan kata lain
rendemen contoh adalah untuk mengetahui gambaran suatu kebun tebu berapa
tingkat rendemen yang sudah ada sehingga dapat diketahui kapan kapan saat
tebang yang tepat dan kapan tanaman tebu mencapai tingkat rendemen yang
memadai.
2. Rendemen Sementara
Perhitungan ini dilaksanakan untuk menentukan bagi hasil gula, namun
sifatnya masih sementara. Hal ini untuk memenuhi ketentuan yang
menginstruksikan agar penentuan bagi hasil gula dilakukan secepatnya setelah
tebu petani digiling sehingga petani tidak menunggu terlalu lama sampai selesai
giling namun diberitahu lewat perhitungan rendemen sementara. Cara
mendapatkan rendemen sementara ini adalah dengan mengambil nira perahan
pertama tebu yang digiling untuk dianalisis di laboratorium untuk mengetahui
berapa besar rendemen sementara tersebut.
Rumus : Rendemen Sementara = Faktor Rendemen x Nilai Nira.
3. Rendemen Efektif
Rendemen efektif disebut juga rendemen nyata atau rendemen terkoreksi.
Rendemen efektif adalah rendemen hasil perhitungan setelah tebu digiling habis
dalam jangka waktu tertentu.Perhitungan rendemen efektif ini dapat dilaksanakan
dalam jangka waktu 15 hari atau disebut 1 periode giling sehingga apabila pabrik
gula mempunyai hari giling 170 hari,maka jumlah periode giling adalah 170/15 =
12 periode. Hal ini berarti terdapat 12 kali rendemen nyata/efektif yang bisa
diperhitungkan dan diberitahukan kepada petani tebu.
Tebu yang digiling di suatu pabrik gula jelas hanya sebagian kecil saja yang
akan menjadi gula. Kalau 1 kuintal tebu mempunyai rendemen 10 % maka hanya
2.2.2. Penentuan Rendemen Gula Tebu
Tujuan utama penanaman tebu adalah untuk memperoleh hasil hablur yang
tinggi. Hablur adalah gula sukrosa yang dikristalkan. Dalam sistem produksi gula,
pembentukan gula terjadi di dalam proses metabolisme tanaman. Proses ini terjadi
di lapangan (on farm). Pabrik gula sebenarnya hanya berfungsi sebagai alat
ekstraksi untuk mengeluarkan nira dari batang tebu dan mengolahnya menjadi
gula kristal.
Hablur yang dihasilkan mencerminkan dengan rendemen tebu. Dalam
prosesnya ternyata rendemen yang dihasilkan oleh tanaman dipengaruhi oleh
keadaan tanaman dan proses penggilingan di pabrik. Untuk mendapatkan
rendemen yang tinggi, tanaman harus bermutu baik dan ditebang pada saat yang
tepat. Namun sebaik apapun mutu tebu, jika pabrik sebagai sarana pengolahan
tidak baik, hablur yang didapat akan berbeda dengan kandungan sukrosa yang ada
di batang. Oleh sebab itu sering terjadi permasalahan dengan cara penentuan
rendemen di pabrik. Berbagai kasus yang mencuat dan bahkan menyebabkan
konflik antara petani dan pabrik gula adalah karena ketidakjelasan penentuan
rendemen. Perhitungan rendemen memerlukan alat dan metode khusus yang
selama ini hanya dilakukan di pabrik. Meskipun demikian untuk keperluan
penelitian dan keperluan kemitraan petani dengan pabrik diperlukan pengukuran
rendemen dengan cara yang cepat dan sederhana. Salah satu alternatif metode
pengukuran rendemen secara cepat adalah dengan hand refractometer. Tentu saja
harus dengan suatu konversi dari hasil pengukuran dengan alat handrefractometer
Kandungan gula total dalam batang tebu oleh kandungan gula total yang
dicerminkan oleh persen pol dalam nira tebu. Sementara itu rendemen yang
diperoleh sangat tergantung dari kandungan sukrosa yang merupakan bagian dari
gula total. Selain gula, dalam nira juga terkandung padatan lain. Besarnya nilai
padatan terlarut dicerminkan oleh nilai brix. Angka rendemen yang digunakan
untuk menghitung hasil di pabrik gula adalah ratio antara hasil gula kristal
(hablur) dengan bobot tebu yang digiling (tebu) yang disebut rendemen nyata.
Perhitungan rendemen nyata yang diperoleh dilakukan dengan rumus:
Dari perhitungan ini berarti gula yang diperoleh adalah hanya gula yang
dihasilkan dalam bentuk kristal selama satu periode proses. Kenyataannya selama
proses terjadi kehilangan gula dalam proses, sehingga angka rendemen nyata lebih
rendah dibandingkan kandungan sukrosa yang sesungguhnya. Kehilangan dalam
proses penggilingan sangat dipengaruhi oleh efisiensi pabrik gula. Kehilangan
gula selama proses kemungkinan terbawa dalam bagase (ampas), filtercake
(blotong) atau molases (tetes) (Lembaga Penelitian IPB, 2002). Penggilingan yang
kurang baik menyebabkan sebagian gula masih terbawa dalam bagase. Pada saat
proses pemurnian nira kotor menjadi nira jernih dapat terjadi kehilangan gula
bersama dengan filter cake (blotong). Kehilangan gula innya adalah pada saat
pemisahan antara kristal gula dengan tetes. Pada gambar 1 disajikan secara
Gambar 1. Alur Pengolahan tebu menjadi gula kristal
Untuk mengetahui kandungan sukrosa total yang terdapat dalam batang
tebu, harus diukur dengan menggiling contoh tebu dan dianalisis kandungan brix
dan pol dengan alat polarimeter. Parhitungan ini di pabrik gula dilakukan dalam
analisis pendahuluan untuk mengetahui kamasakan tebu. Rendemen dalam
analisis ini dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Hasil perhitungan rendemen berdasarkan pol dan brix secara normal akan
selama proses proses tidak diperhitungkan. Oleh sebab itu untuk menghitung
rendemen hasil sebaiknya digunakan perhitungan rendemen analisis. Masalahnya
sering sulit untuk melakukannya secara cepat dan mudah. Salah satu alternatif
pengukuran rendemen secara cepat diusulkan penggunaan alat yang sederhana
dan mudah diperoleh, yaitu hand refractometer. (Soekartawi, 2005)
2.2.3. Sistem Bagi Hasil dan kebijakan Tebu Rakyat
Menurut Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan
No.1083/Menhutbun1X/1998 tentang kebijakan peningkatan produktifitas Industri
Gula antara lain:
Petani bebas memilih antara sistem pembelian tebu atau sistem bagi hasil
(SHB) melalui kesepakatan antara pabrik gula dengan petani yang dituangkan
dalam surat perjanjian kerjasama.
1. Berdasarkan hablur bagian petani dan pabrik gula dihitung berdasarkan
ketentuan sebagai berikut:
a. Untuk rendemen tebu sampai dengan 8,90 % maka hablur bagian petani
adalah 65% (enam puluh lima perseratus) dari rendemen tebu yang dicapai
dan hablur bagian pabrik gula adalah 35% (tiga puluh lima perseratus) dari
rendemen tebu yang dicapai.
b. Pada rendemen tebu diatas 8,90% maka agar petani terangsang
meningkatkan efisiensinya, maka hablur bagian petani dihitung dengan
rumus :
T = 50,8 + 1,60 x R dan
Dimana :
T = Hablur bagian petani dalam persen dari rendemen tebu.
P = Hablur bagian pabrik gula dalam persen dari rendemen tebu.
R = Rendemen tebu dari tebu rakyat yang diolah PG.
Bagi penyerahan tebu yang menggunakan sistem bagi hasil (SBH),
selain hasil gula yang menjadi hak petani maka petani juga memperoleh
tetes sebesar 2 Kg setiap kwintal tebu.
2. Berdasarkan SK. Gubernur tentang petunjuk pelaksaan pembinaan Kemitraan
Tebu Rakyat di Jawa Timur pada musim Giling Tahun 1998 :
a. Dengan memperlihatkan kondisi gula sebagai komoditas prioritas, maka
pencadangan areal untuk penanaman tebu dilahan sawah diatur secara
bergilir dengan komoditas lain.
b. Pembinaan Tebu Rakyat ditempuh melalui kemitraan antara petani atau
kelompok tani dengan pabrik gula yang disesuaikan dengan kondisi
masing-masing daerah, yang secara prioritas dapat berbentuk :
1. Tebu Rakyat (TR) Kredit yaitu tebu rakyat yang dikembangkan oleh
petani dengan memanfaatkan kredit koperasi primer untuk anggotanya
dengan bimbingan teknis dan pengolahan hasil oleh perusahaan mitra.
2. Tebu Rakyat (TR) Mandiri yaitu tebu rakyat yang dikembangkan oleh
petani dengan modal sendiri dengan bimbingan teknis dan pengolahan
hasilnya oleh perusahaan mitra.
3. Tebu Rakyat (TR) Kerjasama Usahatani (TR-KSU) yaitu tebu rakyat
pengolahannya kepada perusahaan mitra atas dasr kesepakatan
bersama.
4. Sewa lahan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.
c. Bentuk-bentuk pola kemitraan antara petani dengan pabrik gula tersebut di
atas, pelaksanaannya tergantung pada pilihan petani yang ditentukan pada
saat kegiatan pembinaan.
d. Untuk menunjang kelancaran kegiatan motivasi dan musyawarah dengan
petani perlu dibentuk tim pengawas lepangan.
Program tebu rakyat adalah salah satu program intensifikasi nasional
yang bertujuan meningkatkan produksi gula dan sekaligus meningkatkan
kesejahteraan petani tebu beserta keluarganya, melalui peningkatan pendapatan
dari lahan petani yang ditanami tebu oleh petani itu sendiri, selain itu kerjasama
kelompok tani pada satu hamparan usaha tani guna memanfaatkan potensi lahan,
dan dana secara optimal dengan menerapkan teknologi anjuran.
Teknologi anjuran (Hasta Usaha) adalah usaha dalam proses produksi
tebu dan gula yang terdiri dari : Penggarapan tanah yang baik, Penjadwalan pada
masa tanam, Penggunaan bibit tebu varietas unggul Penggunaan pupuk
berimbang, Pemeliharaan tanaman yang tepat, Pengendalian jasad pengganggu,
Penyediaan dan pengaturan air sesuai kebutuhan tanaman, Perlakuan panen dan
pasca panen secara efisien.
Hindia, Belanda, dan menyewa tanah dari petani. Setelah Indonesia
merdeka, keadaan serupa masih tetap berlangsung namun dalam perkembangan
kemudian menyewa tanah rakyat itu dipandang memiliki kelemahan-kelemahan.
Dengan terbitnya Inpres tersebut maka sistem produksi gula di Indonesia
terutama pabrik-pabrik gula di Jawa yang tidak memiliki lahan Hak Guna Usaha
(HGU) yang cukup luas mengalami perubahan mendasar. Pengusaha tanaman
tebu untuk bahan baku produksi gula tidak lagi dilakukan di pabrik gula dengan
cara menyewa lahan petani, tetapi dilakukan petani diatas lahan miliknya sendiri
dengan dukungan bimbingan masal (BIMAS) yang terprogram.
Pokok-pokok Inpres tersebut adalah :
a. Mengalihkan perusahaan tanaman tebu dari sistem sewa tanah oleh
pabrik gula menjadi tebu rakyat yang diusahakan petani diatas lahan
milik sendiri.
b. Meningkatkan produksi gula dan pendapatan petani tebu dengan
melakukan Intensifikasi pada tebu rakyat (baik yang berasal dari
pengalihan sewa tanah maupun tebu rakyat yang sudah ada, dan
selanjutnya dikelola dalam wadah yang sama dengan Intensifikasi
tanaman pangan).
c. Menugaskan pabrik gula dalam fungsi dan peran sebagai pimpinan kerja
lapangan guna melaksanakan alih teknologi budidaya tebu kepada
petani, penyediaan bibit unggul, penyediaan dan pelayanan sarana
produksi dan pelayanan kredit.
2.2.4. Peningkatan Produktivitas Gula Nasional
Dalam mencapai target revitalisasi industri gula nasional tahun 2010-2014
ditetapkan 2 strategi: jangka pendek dan jangka panjang, Strategi jangka pendek
diarahkan pada pembenahan on farm dan off farm, sementara strategi jangka
produksi gula nasional, selain itu jangka panjang antara lain mencakup:
pemberdayaan asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) dan Koperasi Petani Tebu
Rakyat (KPTR), pemberdayaan riset dan pengembangan PG, peningkatan kualitas
sumberdaya manusia (SDM), kerjasama antar perusahaan, dan integrasi produk
utama dan produk pendamping PG (Kementrian BUMN, 2011).
a. Strategi Jangka Pendek
1. Konsolidasi Area
Program akselerasi lebih diarahkan pada upaya perluasan area tebu di
lahan pengairan teknis potensial, yang secara histories menjadi basis
produksi tebu. Selain itu diarahkan pula pada pengembangan lahan-lahan
tegalan yang potensial. pengelolahan blok kebun yang cukup luas dapat
diperoleh dengan meningkatkan partisipasi dan profesionalisme KPTR dan
APTR.
2. Percepatan Rehabilitasi Tebu Keprasan
Salah satu penyebab rendahnya perolehan produktivitas tebu adalah
relative cukup tinggi katagori tanaman ratoon terhadap tanaman pertama
yang telah mengalami keprasan secara berulang-ulang lebih dari 4 kali,
tindakan pembongkaran ratoon pada kegiatan 2 tahun terakhir telah
mampu meningkatkan produktivitas gula secara signifikan.
3. Penyediaan Bibit Bermutu
Rehabilitasi tanaman ratoon secara simultan harus didampingi oleh
ketersediaan bibit dari sisi kualitas dan jumlah yang memadai, dan perlu
kebijakan harga bibit yang memadai untuk mengembangkan orientasi
propit bisnis pembibitan.
4. Peningkatan Mutu Budidaya
Penetapan kebutuhan pupuk di perkebunan tebu masih berpola pada dosis
maka perlu di revisi, kodisi lahan yang bervariasai memiliki kesuburan
tanah dan ketersedian hara yang berbeda, oleh karena itu penetapan dosis
pupuk harus bersifat rasional disesuaikan dengan kondisi lingkungannya,
selain itu efektifitas dan efisiensi pupuk sangat ditentukan oleh ketepatan
aplikasinya. Mengatasi keadaan yang sering terjadi demikian maka tidak
ada cara lain untuk mengatur mekanisme penyedian dan jaminan pupuk
oleh instansi yang berewenang baik pihak pemerintah maupun swasta
membantu penyediaan dan penyaluran pupuk yang kondusif, misalnya
melalui penyediaan stok pupuk dan mengoptimalisasikan kelompok tani
tebu (KPTR dan APTR).
b. Strategi Jangka Panjang
1. Pemberdayaan APTR (Asosiasi Petani Tebu Rakyat) dan KPTR (Koperasi
Petani Tebu Rakyat).
Sebagian besar bahan baku tebu untuk pabrik gula dipenihi dari tebu
rakyat, untuk menjaga kesepahaman dan terciptanya komunikasi yang efektif
antara petani tebu dan PG keberadaan organisasi APTR dan KPTR perlu
lebih diperdayakan secara optimal dalam rangka peningkatan produktivitas
2. Pemberdayaan PG dan Lembaga Penelitian
Untuk meningkatkan daya saing industri gula memerlukan dukungan
teknologi yang handal, namun proses alih teknologi dari produsen teknologi
ke petani dan PG sering mengalami hambatan karena fungsi PG belum
optimal.
3. Mengembangkan Program PHBM Untuk Tebu
Dalam beberapa tahun terakhir sebagian besar PG mengalami
kekurangan bahan baku akibat menyusutnya luas areal, untuk mengatasi
susut areal tebu tersebut dapat dilakukan kerjasama dengan perum perhutani
untuk memanfaatkan lahan gundul dan kritis dengan tanaman tebu. Saat ini
perum perhutani telah mencanangkan program Pembangunan Hutan Bersama
Masyarakat (PHBM) yang melibatkan masyarakat sekitar hutan melalui pola
kerjasama bagi hasil.
4. Kerjasama Antara Perusahaan
Untuk memperkuat posisi tawar industri gula pada era globalisasi ini
maka PTPN dan PT Gula harus mengembangkan kerjasama antar perusahaan
dalam bidang pengelolahan tanaman, SDM, dan perangkat pendukung
lainnya.
2.3. Tinjauan Mengenai Kemitr aan
Kemitraan merupakan suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak
atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan
prinsip saling membutuhkan dan saling membesarkan. Karena merupakan suatu
strategi bisnis maka keberhasilan kemitraan sangat ditentukan oleh adanya
Kemitraan menurut pengertian umum adalah hubungan usaha antara usaha
kecil atau koperasi dan usaha menengah atau besar yang disertai dengan bantuan
pembinaan berupa peningkatan sumber daya manusia, peningkatan pemasaran,
peningkatan teknik Industri, peningkatan modal kerja, peningkatan kredit
perbankan oleh usaha menengah atau besar dengan prinsip saling menguntungkan.
Kemitraan berdasarkan Undang-Undang kemitraan No.9/1995 (pasal:26)
Ayat (1) : Usaha menengah dan usaha besar melaksanakan hubungan kemitraan
dengan usaha kecil, baik yang memiliki maupun yang tidak memiliki
keterkaitan usaha.
Ayat (2) : Pelaksanaan hubungan kemitraan sebagaimana di maksud dalam ayat
(1) di upayakan kearah terwujudnya keterkaitan usaha.
Ayat (3) : Kemitraan dilaksanakan dengan disertai pembinaan dan
pengembangan dalam salah satu atau lebih bidang produksi,
pengolahan, pemasaran, permodalan, sumber daya manusia dan
teknologi.
Ayat(4): Dalam melakukan hubungan kemitraan kedua belah pihak mempunyai
kedudukan hukum yang setara (Hafsah, 2000).
Kemitraan merupakan suatu rangkaian proses yang dimulai dengan
mengenal calon mitranya, mengetahui posisi keunggulan dan kelemahan
usahanya, melalui membangun strategi, melaksanakan dan terus mamonitor dan
mengevaluasi sampai target sasaran tercapai. Proses ini benar-benar dicermati
sejak awal sehingga permasalahan yang timbul dapat di ketahui baik besarnya
permasalahan maupun langkah-langkah yang perlu diambil. Di samping itu
sehingga target yang ingin dicapai tidak mengalami perubahan. Rangkaian urutan
proses pengembangan kemitraan merupakan suatu urutan tangga yang disepakati
secara beraturan dan bertahap untuk mendapatkan hasil yang optimal.
Kemitraan antara pengusaha kecil dan koperasi dengan pengusaha besar
atau menengah dapat dilakukan melalui berbagai kemitraan (Hafsah, 2000).
Dengan demikian kemitraan adalah bentuk hubungan kerjasama usaha
yang berjalan selama ini ada beberapa macam dan penerapannya disesuaikan
dengan kondisi perusahaan, petani, komoditi dan kondisi daerah setempat, antara
lain :
1. Berdasarkan jangka waktu.
a). Kemitraan Insidentil
Merupakan model kemitraan yang didasari atas kepentingan ekonomi
bersama dalam jangka pendek dan dihentikan kalau kegiatan yang
bersangkutan telah selesai.Kemitraan seperti ini dijalin dengan atau tanpa
kesepakatan kontrak kerja. Hubungan yang di jalin dalam pengadaan
sarana produksi dan pemasaran hasil usaha tani.
Contoh : Kemitraan antara petani sayuran dengan pasar swalayan.
b). Kemitraan Jangka Menengah
Merupakan kemitraan berdasarkan motif ekonomi bersama dalamjangka
menengah atau musim produksi tertentu.Kemitraan seperti ini dapat
dilakukan dengan atau tanpa perjanjian tertulis (kontrak atau kesepakatan).
c). Kemitraan Jangka Panjang dan Terus menerus
Merupakan kemitraan yang didasarkan atas saling ketergantungan dalam
hal pengadaan bahan, permodalan, manejemen, dan lain-lain. Kemitraan
seperti ini dilakukan dalam jangka panjang dan terus-menerus dalam skala
besar perjanjian tertulis (kontrak/kesepakatan).
Contoh : Pemilikan petani atau koperasi, misalnya: TR (Tebu Rakyat).
2. Berdasarkan Kerjasama yang dijalin
a). Sistem Kontrak Kerja
Dalam pola ini petani/koperasi dan perusahaan menjalin hubungan
kerjasama dengan melakukan kontrak kerja, baik dalam penyediaan sarana
produksi dari perusahaan maupun jaminan pemasaran hasil produksi
petani ke perusahaan, dengan demikian kegiatan agribisnis perusahaan
yang hanya terbatas pada proses pengolahan (Agroindustri) dan pemasaran
komoditas yang dihasilkan.
b). Bentuk Kontrak Menejemen
Bentuk kemitraan dengan ini berupa bantuan manajemen usahatani dari
lembaga yang berpengalaman seperti, koperasi jasa menejemen maupun
perusahaan agrindustri yang telah memiliki kemampuan dalam
mengelolah agribisnis kepada petani atau lembaga tani dalam ikatan
kontrak. Dalam pola ini koperasi jasa menejemen atau perusahaan
agroindustri melayani kegiatan menejerial usaha agribisnis yang
dikembangkan petani atau koperasi yang sekaligus melakukan bimbingan
c). Pola Unit Pelaksana Proyek
Pola ini menyertakan peran aktif pemerintah dalam pembentukan usaha
agribisnis. Sejak awal sampai saat dikonversikan kepada petani,
pengadaan sarana produksi, pengolahan hasil, dan pemasaran hasil
mendapatkan bantuan serta dukungan pembinaan dan pengendalian dari
pemerintah, berupa bantuan yang merupakan pinjaman yang harus
dikembalikan.
d). Perusahaan Inti Rakyat
Perusahaan agroindustri yang memiliki skala usaha besar bertindak
sebagai inti, sedangkan petani sekitarnya sebagai plasma inti yang sangat
besar peranannya dalam penyediaan sarana produksi, pengolahan hasil,
pemasaran dan pelayanan teknis dan manajerial.
e). Perusahaan Petani
Petani atau koperasi yang pada umumnya kesulitan permodalan,
membentuk usaha patungan berupa suatu perusahaan baru (misalnya:
perusahaan penyalur saprotan) dengan perusahaan agroindustri yang
menyertakan saham masing-masing secara bertahap. Apabila petani atau
koperasi telah mampu menjalankan perusahaan maka pemilikan
keseluruhan saham dialihkan kepada petani atau koperasi.
f). Perusahaan Petani Terpadu
Pembentukan perusahaan baru dengan pola ini sama seperti pola
perusahaan petani, hanya saja dalam pola ini saham milik perusahaan tetap
ada perusahaan baru tersebut. Seluruh kegiatan agribisnis perusahaan
perwakilan petani atau koperasi dalam jajaran menejemen perusahaan baik
pada tingkat operasional maupun tingkat pengawasan.
3. Berdasarkan Sumber Dana Pengaturan Permodalan
a). Kerjasama dengan Sistem Bagi Hasil
Bentuk kerjasama antara dua pihak yaitu antara petani dengan perusahaan
pembimbing dengan perhitungan yang telah ditetapkan dalam perjanjian.
Sumber permodalan kerjasama ini berasal dari perusahaan pembimbing
yang berupa sarana produksi seperti : bibit, pupuk, dan obat-obatan dan di
tambah dengan biaya pengolahan tanah, pemeliharaan sampai dengan
panen.
b). Sistem Kredit Koperasi.
Diperlukan ikatan kerjasama antara tiga pihak yaitu: perusahan, KUD,
perbankan sistem ini hanya dapat dilakukan dalam KUD dengan ketentuan
bahwa KUD mampu bertindak sebagai koordinator dan telah bebas dari
tanggungan kredit lama.
2.3.1. Syar at Kemitr aan Usaha Pertanian
Berdasarkan surat keputusan Menteri Pertanian Nomor :
946/Kpts/OT.210/10/1997, tentang syarat kemitraan usaha pertanian adalah
sebagai berikut :
1. Perusahaan mitra harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Mempunyai itikad baik dalam membantu usaha petani atau nelayan dan
pengusaha kecil pertanian lainnya.
b. Memiliki teknologi dan manajemen yang baik.
d. Berbadan hukum dan memiliki bonafiditas.
2. Kelompok mitra yang akan menjadi mitra usaha diutamakan telah dibina oleh
pemerintah daerah.
3. Kemitraan usaha pertanian dilakukan dengan penandatanganan perjanjian
kemitraan lebih dahulu.
4. Isi perjanjian kerjasama mencakup jangka waktu, hak dan kewajiban termasuk
kewajiban melapor kemitraan kepada instansi pembina teknis di daerah,
pembagian resiko penyelesaian bila terjadi perselisihan yang memberikan
kepastian hukum bagi kedua belah pihak.
2.3.2. Model-model Kemitr aan Usaha Bersama
1. Inti-Plasma
Merupakan hubungan kemitraan antara kelompok mitra dengan
perusahaan mitra, yang didalamnya perusahaan mitra bertindak sebagai inti
dan kelompok mitra sebagai plasma.Undang-undang No. 20 Tahun 2008
mengatur bahwa Usaha Besar sebagai inti membina dan mengembangkan
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yang menjadi plasmanya dalam hal
penyediaan dan penyiapan lahan, penyediaan sarana produksi, pemberian
bimbingan teknis produksi dan manajemen usaha, peningkatan penguasaan
teknologi, pembiayaan, pemasaran, penjaminan, pemberian informasi dan
pemberian bantuan lain yang diperlukan bagi peningkatan efisiensi dan
Gambar 2. Pola Kemitr aan Inti – Plasma
Sumber : Deptan. (2002)
2. Subkontrak
Merupakan hubungan kemitraan yang di dalamnya kelompok mitra
memproduksi komponen yang diperlukan perusahaan mitra sebagai bagian dari
produksinya. Ciri khas dari bentuk kemitraan subkontrak ini adalah adanya
kontrak bersama yng mencantumkan volume, harga dan waktu (Hafsah 2000).
Undang-undang No. 20 Tahun 2008 mengatur bahwa salah satu dukungan
yang dapat diberikan Usaha Besar adalah dengan pengaturan sistem
pembayaran yang tidak merugikan salah satu pihak dan berupaya untuk tidak
melakukan pemutusan hubungan sepihak. Pola Subkontrak diilustrasikan
Gambar 3. Plasma Plasma
Plasma Plasma
Gambar 3. Pola Kemitr aan Subkontrak Sumber : Deptan. (2002)
3. Dagang Umum
Merupakan hubungan kemitraan dimana perusahaan mitra memasarkan
hasil produksi kelompok mitra, atau kelompok mitra memasok kebutuhan yang
diperlukan perusahaan mitra. Keuntungan dari pola kemitraan ini adalah
adanya jaminan harga atas produk yang dihasilkan dan kualitas sesuai dengan
yang telah ditentukan atau disepakati. Kelemahan dari pola ini adalah
memerlukan permodalan yang kuat sebagai modal kerja (Hafsah, 2000). Pola
Dagang Umum diilustrasikan Gambar 4.
Gambar 4. Pola Kemitr aan Dagang Umum Sumber : Deptan. (2002)
4. Keagenan
Keuntungan yang diperoleh dari hubungan kemitraan pola keagenan dapat berbentuk komisi atau fee yang diusahakan oleh usaha besar atau menengah (Hafsah, 2000). Pola Keagenan diilustrasikan Gambar 5.
Gambar 5. Pola Kemitr aan Keagenan Sumber : Deptan. (2002)
5. Kerjasama Operasional Agribisnis (KOA)
Merupakan hubungan yang di dalamnya kelompok mitra menyediakan lahan, sarana dan tenaga, sedangkan perusahaan mitra menyediakan biaya atau modal dan/atau sarana untuk mengusahakan atau membudidayakan suatu komoditi pertanian.Pola Kerjasama Operasional Agribisnis (KOA) dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Pola Kemitr aan Kerjasama Operasional Agribisnis (KOA) Sumber : Deptan. (2002)
Kelompok Mitra
Konsumen / Industri
Perusahaan Mitra
Pemberian Hak Khusus
Memasarkan
KelompokMitra Perusahaan
Mitra
-Lahan
-Tenaga
-Biaya
-Modal
6. Pola kemitraan lainnya, seperti bagi hasil, usaha patungan (joint venture), dan
penyumberluaran (outsourcing).
Kemampuan melaksanakan kemitraan harus dibangun dengan sadar dan
terencana melalui tahapan-tahapan yang sistematis. Persiapan kemitraan ini
diperlukan untuk menyiapkan kemampuan masing-masing pihak yang akan
terlibat dalam kemitraan. Hal ini dikarenakan kemampuan dalam bermitra
harus dibangun secara sadar dan terencana melalui tahapan-tahapan yang
sistematis. Tahapan-tahapan ini juga akan membantu masing-masing pihak
yang bermitra untuk lebih memahami kegiatan kemitraan yang akan
dijalankan. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut Hafsah, (2000).
a. Identifikasi dan pendekatan kepada pelaku usaha
Dalam tahap identifikasi dikumpulkan data dan informasi yang berkaitan
dengan jenis usaha atau komoditas yang akan diusahakan, potensi
sumberdaya yang mendukung, tingkat kemampuan para pelaku usaha baik
di bidang penguasaan IPTEK, permodalan SDM, maupun sarana-prasarana
lainnya. Dalam tahap ini diharapkan masing-masing pelaku bisa saling
mengenal dan dapat diidentifikasi pelaku usaha mana yang potensial untuk
dijadikan mitra usaha.
b. Membentuk wadah organisasi ekonomi
Untuk memudahkan komunikasi, kelancaran informasi dan kemudahan
koordinasi dalam kemitraan usaha, maka perlu adanya pengorganisasian
diantara pelaku usaha kecil yang sejenis. Pengorganisasian ini
dimaksudkan agar terbentuk skala ekonomi tertentu yang mempunya
c. Menganalisis kebutuhan pelaku usaha
Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui lebih mendalam mengenai
peluang-peluang usaha dan permasalahan-permasalahan mendasar dalam
pengembangan usaha yang dihadapi pelaku-pelaku usaha baik pelaku
usaha kecil, menengah maupun usaha besar.
d. Merumuskan program
Setelah permasalahan dan peluang-peluang usaha dianalisis, maka dapat
disusun program yang dapat diaplikasikan dalam bentuk kegiatan seperti
pelatihan, magang, studi banding, pemberian konsultasi serta peningkatan
koordinasi dan lain-lain.
e. Kesiapan bermitra
Pelaku usaha kecil perlu menyadari bahwa kemitraan bukan belas kasihan
dari pelaku usaha besar/menengah. Hal ini perlu juga disadari oleh pelaku
usaha besar bahwa adanya kemitraan dengan usaha kecil juga tidak
semena-mena untuk memperoleh keuntungan.
f. Temu usaha
Kegiatan ini bertujuan untuk mempertemukan pelaku-pelaku usaha yang
telah siap bermitra. Harapan dari pertemuan ini adalah adanya kontrak
kerjasama antara pelaku-pelaku usaha yang akan bermitra dan juga
berkembangnya komoditi unggulan yang diminta pasar.
g. Adanya koordinasi
Berkembangnya suatu kemitraan tidak terlepas dari adanya dukungan
iklim yang kondusif untuk berkembangnya investasi dan usaha di daerah
kebijakan perijinan, tingkat suku bunga, peraturan daerah serta
kemudahan-kemudahan lainnya sangat membantu proses kemitraan.
Dalam mewujudkan hal tersebut sangat diperlukan koordinasi dan
persamaan persepsi antar lembaga/instansi terkait mulai dari tingkat pusat
sampai ke tingkat daerah. Disamping itu lemahnya pemantauan atau
pengawasan terhadap perilaku usaha seringkali menyebabkan terjadinya
eksploitasi yang kuat terhadap yang lemah dalam kerangka kemitraan,
sehingga kemitraan semacam ini menjadi bersifat semu dan tidak bertahan
lama. Adapun ilustrasi tahapan bermitra dapat dilihat pada Gambar 7.
2.3.3. Manfaat dan Kendala Kemitr aan
Kemitraan telah digambarkan sebagai sebuah bentuk jejaring
kelembagaan dan hubungan produktif yang dapat menjadi salah satu strategi
utama untuk industrialisasi dan restrukturisasi pertanian. Kemitraan
memungkinkan petani untuk mencapai efisiensi produksi yang lebih baik, stabilitas
penerimaan, keterjaminan pasar dan akses modal serta peningkatan penguasaan
teknologi. Para petani juga diuntungkan oleh adanya pendampingan teknis yang
diberikan perusahaan, pengalaman dalam hal administrasi dan pengetahuan
mengenai pasar. Bahwa kemitraan dapat memberikan multiplier effect dalam hal
tenaga kerja, infrastruktur dan pengembangan pasar lokal di Amerika Latin.
Pada kasus kemitraan PT. Pupuk Kujang yang diteliti oleh Zaelani, (2008)
manfaat ekonomi yang diperoleh petani mitra dari pola kemitraan yaitu
produktivitas yang lebih tinggi, pendapatan yang lebih tinggi, harga produk yang
lebih baik dan mudah diterima pasar.
Sedangkan manfaat teknis yang dapat diperoleh petani adalah mutu produk
yang lebih baik dan meningkatkan teknologi pertanian melalui penggunaan pupuk
yang diproduksi oleh perusahaan mitra. Manfaat sosial yang diperoleh petani
mitra dari pola kemitraan yaitu keberlanjutan kerjasama antara perusahaan mitra
dengan petani mitra, dan juga pola kemitraan yang dilaksanakan berhubungan
dengan kelestarian lingkungan.
Zaelani (2008) Kemitraan juga masih menjadi solusi untuk mengatasi atau
meringankan masalah permodalan yang dihadapi petani mitra. Ketersediaan
modal kredit yang mencukupi dan tepat waktu juga akan meningkatkan manfaat
dapat berupa penguatan usaha kelembagaan petani, harga jual yang lebih baik,
kepastian pasar atas produk serta peningkatan produksi. Sedangkan manfaat yang
dapat diperoleh perusahaan mitra diantaranya adalah terjaminnya kontinuitas
pasokan baik secara kualitas maupun kuantitas.
Permasalahan dan kendala yang muncul dalam hubungan kemitraan dapat
bersumber dari adanya ketidakadilan pembagian manfaat dan korbanan.
menemukan bahwa perusahaan tidak memiliki keterikatan apapun juga dalam hal
perjanjian pembagian risiko budidaya akibat cuaca buruk ataupun serangan hama
pengganggu. Oleh karena itu petani harus membayar sendiri biaya asuransi
tanamannya. Ketika kerugian serius yang dihadapi petani diakibatkan oleh
faktor-faktor tersebut maka pada akhirnya petani dianggap berhutang kepada perusahaan
atas seluruh input dan pembimbingan teknis yang selama ini diterima. Para petani
yang dianggap berhutang tersebut dituntut untuk membayarnya dengan produk
yang mereka tanam pada periode tanam berikutnya.
2.3.4. Indikator Evaluasi Kepuasan Petani Terhadap Kemitr aan
Indikator evaluasi pelaksanaan kemitraan dapat dilihat dari tingkat
pelaksanaan hak dan kewajiban kemitraan. Hal ini dikarenakan perjanjian yang di
dalamnya mengatur hak dan kewajiban kedua belah pihak secara rinci dapat
menjadi pedoman pelaksanaan kegiatan bagi pihak-pihak yang bermitra. Petani
yang dianggap sebagai pelanggan dari pelayanan kemitraan perusahaan mitra
memang harus dipuaskan. Pelanggan yang tidak puas akan meninggalkan
perusahaan dan menjadi pelanggan perusahaan lain yang dapat memberikan
kepuasan yang lebih baik (Supranto, 2011). Kepuasan pelanggan secara tidak
harapan pasar. Dalam jangka pendek seringkali tidak terlihat hubungan antara
kepuasan pelanggan dengan profitabilitas. Kepuasan pelanggan merupakan
strategi yang lebih bersifat defensif sehingga kemampuan untuk mempertahankan
pelanggan itulah yang pada akhirnya mempengaruhi profitabilitas dalam jangka
panjang.
Pengukuran kepuasan pelanggan harus diawali oleh penentuan kebutuhan
pelanggan. Kebutuhan pelanggan dapat diartikan sebagai karakteristik/atribut
barang atau jasa yang mewakili dimensi yang oleh pelanggan dipergunakan
sebagai dasar pendapat mereka mengenai jenis barang atau jasa. Penentuan
kebutuhan pelanggan dimaksudkan untuk membentuk suatu daftar semua dimensi
mutu yang penting dalam menguraikan barang atau jasa. Pemahaman mengenai
dimensi mutu dapat dijadikan dasar pengembangan ukuran untuk menilai dimensi
mutu tersebut (Supranto, 2011).
Meskipun ada beberapa dimensi mutu standar yang menggeneralisasi
banyak jenis produk barang dan jasa, beberapa dimensi hanya akan berlaku pada
jenis produk tertentu. Kualitas pelayanan dapat dinilai dengan menggunakan
konsep Servqual. Berdasarkan konsep ini, kualitas pelayanan yang mempengaruhi
kepuasan pelanggan diyakini mempunyai lima dimensi, yaitu (Supranto, 2011):
1. Tangible (bukti langsung), pelayanan merupakan sesuatu yang tidak bisa
dilihat, tidak bisa dicium, dan tidak bisa diraba, maka pelaggan akan
menggunakan bukti langsung untuk menilai kualitas pelayanan. Dimensi
tangible meliputi fasilitas fisik, perlengkapan dan saran komunikasi.
2. Reliability (keandalan), marupakan dimensi yang mengukur kemampuan
3. Responsiveness (ketanggapan), merupakan dimensi yang mengukur
kemampuan untuk menolong pelanggan dan ketersediaan untuk melayani
dengan baik.
4. Assurance (jaminan), merupakan dimensi kualitas yang berhubungan dengan
kemampuan dalam menanamkan rasa percaya dan keyakinan kepada para
pelanggannya.
5. Emphaty (empati), yaitu kepedulian untuk memberikan perhatian dan
memahami kebutuhan pelanggan.
Proses penentuan kebutuhan pelanggan (customer requirements) atau
dimensi mutu (quality dimension) salah satunya dapat dilakukan dengan proses
pengembangan dimensi mutu. Proses pengembangan dimensi mutu melibatkan
orang yang benar-benar berhubungan dekat dengan barang/jasa yang digunakan
3.1. Kerangka Pemikiran.
Menyadari pentingnya pasokan bahan baku tebu tentunya kegiatan
usahatani menjadi sangat sentral untuk diperhatikan bagi suatu pabrik gula.
Peningkatan efisiensi dan efektifitas kegiatan usahatani tebu menjadi wajib
ketika pabrik gula mencanangkan kesinambungan produksinya. Selain itu, kondisi
petani yang bekerja di sektor pertanian umumnya masih didominasi oleh rumah
tangga yang sangat lemah dalam berbagai bidang, seperti keterbatasan dalam
menguasai aset produktif, modal kerja, posisi tawar menjadi problematika
tersendiri bagi keberlanjutan usahanya. Oleh karena itu diperlukan upaya
pemberdayaan petani melalui kemitraan yang secara teknis pelaksanaan usaha
tani tebu tidak diserahkan seluruhnya ke tangan para petani tetapi juga ada peran
pabrik gula atau dalam hal ini PG. Djombang Baru membantu mengatasi
masalah-masalah yang dihadapi oleh petani. Perlu dikaji secara mendalam pelaksanaan
usahatani tebu mulai dari kegiatan on farm sampai dengan off farm serta masalah
yang dihadapinya, misalnya: kerusakan panen, turunnya rendemen, kesulitan
tebang, pengangkutan dan sebagainya.
Kemitraan adalah suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau
lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan
prinsip saling membutuhkan dan saling membesarkan. Keberhasilan kemitraan
sebagai sebuah strategi bisnis ditentukan oleh adanya kepatuhan diantara pihak
yang bermitra dalam menjalankan etika bisnis. Pelaku-pelaku yang terlibat
langsung dalam kemitraan harus memiliki dasar-dasar etika bisnis yang yang