• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 3 No BAB I. PENDAHULUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 3 No BAB I. PENDAHULUAN"

Copied!
118
0
0

Teks penuh

(1)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 1

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. L ATAR BELAKANG

Peranan sektor pertanian dalam kegiatan perekonomian di Indonesia dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar yaitu sekitar 15,34% pada tahun 2010 (angka sangat sementara, atas dasar harga berlaku). Kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia ini menempati urutan kedua setelah sektor industri pengolahan. Sementara itu ada sebanyak 38,7 juta orang yang bekerja di sektor pertanian. Jumlah tersebut merupakan 35,76% dari total tenaga kerja di Indonesia berdasarkan data BPS per Agustus 2010.

Sementara itu perdagangan dalam negeri (domestik) dan perdagangan luar negeri (internasional) untuk komoditas pertanian yang meliputi sub sektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan masih cukup luas untuk terus dikembangkan. Sektor pertanian sudah terbukti merupakan sektor yang dapat diandalkan dalam pemulihan perekonomian nasional, mengingat sektor pertanian terbukti masih dapat memberikan kontribusi pada perekonomian nasional walaupun pada saat itu terjadi krisis. Hal ini dikarenakan terbukanya penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian dan tingginya sumbangan devisa yang dihasilkan. Kementerian Pertanian menetapkan 4 sukses pembangunan pertanian, dimana salah satunya adalah “Peningkatan Nilai Tambah, Daya Saing dan Ekspor”.

Di sisi lain pengembangan globalisasi perdagangan antar negara telah berjalan dengan penerapan berbagai kebijakan dan kesepakatan dari sidang WTO, dan pembentukan kerjasama antar negara dalam suatu kawasan seperti APEC, NAFTA dan AFTA. Pada kawasan yang lebih kecil terjalin kerjasama ekonomi sub regional Indonesia dengan pembentukan kawasan segitiga pertumbuhan khususnya dengan Singapura-Johor dan Riau (SIJORI) dan kerjasama Indonesia- Malaysia dan Thailand (IMT-GT), termasuk forum kerjasama antar Negara Brunei, Indonesia, Malaysia dan Philippina (BIMP-EAGA) (Depertemen Pertanian, 2007).

(2)

2 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Berdasarkan hal tersebut, Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (Pusdatin) mulai tahun 2009 telah melakukan analisis mengenai kinerja perdagangan komoditas pertanian yang dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana kinerja perdagangan beberapa komoditas unggulan pertanian serta posisi Indonesia di pasar internasional akan produk pertaniannya. Analisis ini diterbitkan dalam bentuk Buku Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian (ISSN No. 2086- 4949). Analisis kinerja perdagangan Volume 3 No. 1 Tahun 2011 berisi analisis untuk komoditas ubi kayu, bawang merah, kopi, kakao dan daging sapi.

1.2. METODOLOGI

Sumber Data dan Informasi

Analisis kinerja perdagangan komoditas pertanian tahun 2011 disusun berdasarkan data dan informasi yang diperoleh baik dari data primer maupun data sekunder yang bersumber dari daerah, instansi terkait baik di lingkup Kementerian Pertanian maupun di luar Kementerian Pertanian seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Perdagangan, Food and Agriculture Organization (FAO), dan Uncomtrade.

Cakupan Komoditas Pertanian

Cakupan komoditas pertanian yang dianalisis pada Buku Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 3 No. 1 Tahun 2011 antara lain meliputi komoditas unggulan nasional yaitu ubi kayu (sub sektor tanaman pangan), bawang merah (sub sektor hortikultura), kopi dan kakao (sub sektor perkebunan), dan daging sapi (sub sektor peternakan).

Metode Analisis

Metode analisis yang digunakan dalam penyusunan analisis kinerja perdagangan komoditas pertanian adalah sebagai berikut :

(3)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 3 A. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif merupakan analisis keragaan diantaranya dengan menampilkan nilai rata-rata pertumbuhan per tahun, rata-rata dan persen kontribusi (share) yang mencakup indikator kinerja perdagangan komoditas pertanian sebagai berikut :

 Produksi dan populasi

 Harga produsen, konsumen, dan internasional

 Volume dan nilai ekspor-impor, berdasarkan wujud primer dan olahan, serta kode HS (Harmony Sistem)

 Negara tujuan ekspor dan negara asal impor

 Negara eksportir dan importir dunia

B. Analisis Inferensia

Analisis inferensia yang digunakan dalam analisis kinerja perdagangan komoditas pertanian antara lain :

a. Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP)

ISP digunakan untuk menganalisis posisi atau tahapan perkembangan suatu komoditas. ISP ini dapat menggambarkan apakah untuk suatu komoditas, posisi Indonesia cenderung menjadi negara eksportir atau importir. Secara umum ISP dapat dirumuskan sebagai berikut :

dimana :

= volume atau nilai ekspor komoditas ke-i Indonesia = volume atau nilai impor komoditas ke-i Indonesia Nilai ISP adalah

-1 s/d -0,5 : Berarti komoditas tersebut pada tahap pengenalan dalam perdagangan dunia atau memiliki daya saing rendah atau negara bersangkutan sebagai pengimpor suatu komoditas

(4)

4 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

-0,4 s/d 0,0 : Berarti komoditas tersebut pada tahap substitusi impor dalam perdagangan dunia

0,1 s/d 0,7 : Berarti komoditas tersebut dalam tahap perluasan ekspor dalam perdagangan dunia atau memiliki daya saing yang kuat

0,8 s/d 1,0 : Berarti komoditas tersebut dalam tahap pematangan dalam perdagangan dunia atau memiliki daya saing yang sangat kuat.

b. Indeks Keunggulan Komparatif (Revealed Comparative Advantage – RCA) dan RSCA (Revealead Symetric Comparative Advantage)

Konsep comparative advantage diawali oleh pemikiran David Ricardo yang melihat bahwa kedua negara akan mendapatkan keuntungan dari perdagangan apabila menspesialisasikan untuk memproduksi produk-produk yang memiliki comparative advantage dalam keadaan autarky (tanpa perdagangan). Balassa (1965) menemukan suatu pengukuran terhadap keunggulan komparatif suatu negara secara empiris dengan melakukan penghitungan matematis terhadap data-data nilai ekspor suatu negara dibandingkan dengan nilai ekspor dunia.

Penghitungan Balassa ini disebut Revealed Comparative Advantage (RCA) yang kemudian dikenal dengan Balassa RCA Index :

dimana:

: Nilai ekspor komoditi i dari negara j (Indonesia) : Total nilai ekspor non migas negara j (Indonesia)

: Nilai ekspor komoditi i dari dunia : Total nilai ekspor non migas dunia

(5)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 5 Sebuah produk dinyatakan memiliki daya saing jika RCA>1, dan tidak berdaya saing jika RCA<1. Berdasarkan hal ini, dapat dipahami bahwa nilai RCA dimulai dari 0 sampai tidak terhingga.

Menyadari keterbatasan RCA tersebut, maka dikembangkan Revealed Symmetric Comparative Advantage (RSCA), dengan rumus sebagai berikut :

Konsep RSCA membuat perubahan dalam penilaian daya saing, dimana nilai RSCA dibatasi antara -1 sampai dengan 1. Sebuah produk disebut memiliki daya saing jika memiliki nilai di atas nol, dan dikatakan tidak memiliki daya saing jika nilai dibawah nol.

c. Import Dependency Ratio (IDR)

Import Dependency Ratio (IDR) merupakan formula yang menyediakan informasi ketergantungan suatu negara terhadap impor suatu komoditas. Nilai IDR dihitung berdasarkan definisi yang dibangun oleh FAO (Food and Agriculture Organization of the United Nations).

Penghitungan nilai IDR tidak termasuk perubahan stok dikarenakan besarnya stok (baik dari impor maupun produksi domestik) tidak diketahui.

Ekspor 100 Impor

Produksi

Impor

IDR 

 

d. Self Sufficiency Ratio (SSR)

Nilai SSR menunjukkan besarnya produksi dalam kaitannya dengan kebutuhan dalam negeri. SSR diformulasikan sbb.:

Ekspor 100 Impor

Produksi

Produksi

SSR 

 

(6)

6 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian e. Constant Market Share Analysis (CMSA)

Analisis CMS pertama sekali di perkenalkan oleh Tyszynski di tahun 1950, untuk menganalisis daya saing sebuah komoditi ke negara tertentu dengan kinerja perdagangan ke dunia. Model ini kemudian dikembangkan Leamer and Stern (1970) serta Richardson (1971) menyatakan keempat faktor yang mempengaruhi kinerja daya saing memiliki bobot yang sama. Namun, Milana (1981) menyatakan competitiveness effect seharusnya memiliki bobot yang lebih tinggi dibandingkan faktor lain dalam menentukan daya saing produk ekspor. Lebih lanjut Milana mengembangkan model CMS sebagai berikut :

q2-q1 = world growth effect + commodity composition effect + market distribution effect + competitiveness effect

dengan perhitungan lebih lanjut dari persamaan di atas adalah : world growth effect

commodity composition effect market distribution effect competitiveness effect

Dimana :

= total ekspor negara asal ke negara mitra

= ekspor komoditi p dari negara ke negara mitra

= total ekspor komoditi p di dunia

= pangsa negara asal di dunia

= = pangsa ekspor komoditi p dari negara asal di dunia

t = waktu pengamatan

(7)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 7

II. GAMBARAN UMUM KINERJA PERDAGANGAN KOMODITAS PERTANIAN

Globalisasi dari sisi ekonomi adalah suatu perubahan dunia yang bersifat mendasar atau struktural dan akan berlangsung terus dalam laju yang semakin pesat sesuai dengan kemajuan teknologi. Dalam era globalisasi, peran transportasi dan komunikasi sangat penting, yang dapat menyebabkan terjadinya penipisan batas-batas antar negara ataupun antar daerah di suatu wilayah. Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO).

Pengembangan globalisasi perdagangan antar negara telah berjalan dengan penerapan berbagai kebijakan dan kesepakatan dari sidang WTO, dan pembentukan kerjasama antar negara dalam suatu kawasan seperti APEC, NAFTA dan AFTA. Pada kawasan yang lebih kecil terjalin kerjasama ekonomi sub regional Indonesia dengan pembentukan kawasan segitiga pertumbuhan khususnya dengan Singapura-Johor dan Riau (SIJORI) dan kerjasama Indonesia- Malaysia dan Thailand (IMT-GT), termasuk forum kerjasama antar Negara Brunei, Indonesia, Malaysia dan Philippina (BIMP-EAGA). Kerjasama antar negara tersebut merupakan peluang pasar yang baik bagi produk pertanian dari Indonesia (Departemen Pertanian, 2007).

Sementara pemasaran antar wilayah (perdagangan domestik) komoditas pertanian terjadi karena adanya perbedaan tingkat penawaran dan permintaan yang mempengaruhi keragaman harga komoditas di setiap wilayah, aliran komoditas akan terjadi dari sentra produsen yang harganya lebih rendah ke daerah konsumen yang harganya lebih tinggi.

Gambaran umum kinerja perdagangan komoditas pertanian dilihat dari neraca perdagangan luar negeri (ekspor dikurangi impor) komoditas pertanian yang meliputi sub sektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan selama tahun 2006 sampai dengan 2010 terlihat mengalami surplus

(8)

8 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

baik dari sisi volume neraca perdagangan maupun nilai neraca perdagangan, hal ini dapat dilihat secara rinci pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Perkembangan ekspor, impor dan neraca perdagangan komoditas pertanian Indonesia, 2006 – 2010

Pertumb. (%)

2006 2007 2008 2009 2010 2006 - 2010

1 Ekspor

- Volume (Ton) 22.894.705 23.941.511 27.154.760 29.572.229 28.708.103 5,99 - Nilai (000 US$) 14.863.221 21.257.215 29.300.336 23.037.582 32.519.850 25,16 2 Impor

- Volume (Ton) 15.036.980 15.910.691 12.593.233 13.401.149 16.874.435 4,32 - Nilai (000 US$) 5.961.331 8.597.854 11.341.138 9.897.316 13.982.414 26,17 3 Neraca Perdagangan

- Volume (Ton) 7.857.724 8.030.820 14.561.527 16.171.080 11.833.668 16,94 - Nilai (000 US$) 8.901.890 12.659.361 17.959.198 13.140.266 18.537.436 24,58 Sumber : BPS diolah Pusdatin

No. Uraian Tahun

Berdasarkan Tabel 2.1 terlihat bahwa surplus neraca perdagangan komoditas pertanian dari tahun 2006 terus mengalami peningkatan hingga pada tahun 2008 mencapai US$ 17,96 milyar dengan volume sebesar 14,56 juta ton.

Namun kemudian menurun pada tahun 2009 hingga hanya menjadi US$ 13,14 milyar sedangkan volumenya naik menjadi 16,17 juta ton. Tahun 2010 nilai neraca perdagangan ini kembali naik menjadi US$ 18,54 milyar walaupun volumenya turun menjadi 11,83 juta ton.

Jika dilihat rata-rata pertumbuhannya per tahun, volume neraca perdagangan tahun 2006 - 2010 terlihat mengalami peningkatan yaitu rata-rata sebesar 16,94% per tahun. Peningkatan laju ini terutama karena pertumbuhan volume ekspor yang meningkat sebesar 5,99% per tahun sementara volume impor meningkat sebesar 4,32 % per tahun. Demikian pula bila dilihat dari sisi nilai neraca perdagangan menunjukkan peningkatan yang cukup besar dengan rata-rata pertumbuhan per tahun sebesar 24,58%. Rata-rata pertumbuhan nilai ekspor sebesar 25,16% per tahun dan nilai impor meningkat sebesar 26,17% per tahun. Volume ekspor dan impor komoditas pertanian ini secara lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 2.1 berikut ini, yang secara umum menunjukkan volume

(9)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 9 ekspor selalu lebih tinggi dibandingkan volume impornya atau mengalami surplus dalam neraca perdagangan pertanian.

5.000  10.000  15.000  20.000  25.000  30.000 

2006 2007 2008 2009 2010

(000 Ton)

Volume Ekspor Volume impor

Gambar 2.1. Perkembangan volume ekspor dan impor komoditas pertanian, 2006 – 2010

Sementara dari sisi nilai neraca perdagangan komoditas pertanian dapat dilihat pada Gambar 2.2. Surplus nilai neraca perdagangan terbesar dicapai pada tahun 2010 yaitu sebesar US$ 18,54 Milyar, dengan nilai ekspor sebesar US$

32,52 milyar dan nilai impor sebesar US$ 13,98 milyar. Sementara tahun 2009 tercatat adanya penurunan nilai neraca perdagangan, baik untuk nilai ekspor, impor maupun surplus perdagangannya.

(10)

10 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

5.000  10.000  15.000  20.000  25.000  30.000  35.000 

2006 2007 2008 2009 2010

(JutUS$)

Nilai Ekspor Nilai Impor Neraca Perdagangan

Gambar 2.2. Perkembangan nilai ekspor, impor dan neraca perdagangan komoditas pertanian, 2006 – 2010

Dari keempat sub sektor pada sektor pertanian, sub sektor perkebunan menjadi andalan nasional karena setiap tahunnya neraca perdagangan sub sektor perkebunan selalu mengalami surplus, sehingga secara total pertanian dapat menutupi defisit yang dialami oleh sub sektor lainnya. Secara lengkap hal ini dapat dilihat lebih jelas pada Lampiran 2.1. Terjadinya surplus tersebut karena lebih dari 90% nilai ekspor komoditas pertanian berasal dari komoditas perkebunan dengan persentase impor yang lebih kecil, sebaliknya untuk sub sektor lainnya persentase kontribusi nilai impor jauh lebih tinggi dibandingkan ekspornya (Gambar 2.3).

(11)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 11

tanaman  pangan; 

1,45% hortikultura; 

1,43%

perkebunan; 

94,33%

peternakan; 

2,79%

Nilai Ekspor

tanaman  pangan; 

33,29%

hortikultura; 

9,61%

perkebunan; 

39,63%

peternakan; 

17,47%

Nilai Impor

Gambar 2.3. Kontribusi sub sektor pertanian berdasarkan rata-rata nilai ekspor dan impor, rata-rata 2006 - 2010

Demikian pula halnya dari sisi volume ekspor, terlihat pada Gambar 2.4 menunjukkan sub sektor perkebunan merupakan sub sektor yang berkontribusi cukup besar terhadap total volume ekspor pertanian. Lebih dari 90% volume ekspor komoditas pertanian berasal dari komoditas perkebunan dan bila dilihat kontribusi volume impornya hanya sebesar 20,65% dari total volume impor komoditas pertanian. Sementara untuk sub sektor lainnya persentase impor justru lebih tinggi dibandingkan ekspornya. Volume impor yang terbesar adalah sub sektor tanaman pangan mencapai 62,90% dari volume impor total pertanian.

Secara rinci volume ekspor dan impor per sub sektor pertanian tahun 2006 – 2010 disajikan pada Lampiran 2.2.

(12)

12 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

tanaman  pangan; 

3,34% hortikultura; 

1,67%

perkebunan; 

93,30%

peternakan; 

1,69%

Volume Ekspor

tanaman  pangan; 

62,90%

hortikultura; 

9,25%

perkebunan; 

20,65%

peternakan; 

7,20%

Volume Impor

Gambar 2.4. Kontribusi sub sektor pertanian berdasarkan rata-rata volume ekspor dan impor, rata-rata 2006 - 2010

Bila dilihat pada Lampiran 2.1 nilai surplus sub sektor perkebunan tahun 2006 sebesar US$ 12,30 milyar mengalami kenaikan menjadi US$ 24,68 milyar tahun 2010 dengan rata-rata pertumbuhan per tahun meningkat sebesar 22,43%.

Dimana rata-rata pertumbuhan per tahun nilai ekspor naik sebesar 25,27% dan nilai impor naik sebesar 43,90%. Sementara nilai neraca perdagangan sub sektor tanaman pangan, hortikultura dan peternakan selalu mengalami defisit. Selama periode 2006 – 2010 besarnya defisit subsektor tanaman pangan dan hortikultura cenderung meningkat rata-rata masing-masing sebesar 13,38% dan 37,26%.

Sementara sub sektor peternakan, defisit yang terjadi cenderung menurun rata- rata sebesar 2,18% setiap tahunnya seperti tersaji pada Gambar 2.5.

(13)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 13

(5.000)

5.000  10.000  15.000  20.000  25.000 

2006 2007 2008 2009 2010

(000 Ton)

Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan Peternakan

Gambar 2.5. Perkembangan neraca perdagangan sub sektor pertanian, 2006 – 2010

(14)

14 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Lampiran 2.1. Perkembangan neraca perdagangan sub sektor pertanian, 2006 - 2010

No. Uraian Rata-rata Pertumb. (%)

2006 2007 2008 2009 2010 2006 - 2010 2006 - 2010

1 Nilai Ekspor

- Tanaman Pangan 264.155 289.049 348.883 321.261 477.708       340.211 17,73 - Hortikultura 238.063 254.765 433.920 379.739 390.720       339.441 16,94 - Perkebunan 13.972.064 19.964.870 27.369.363 21.581.669 30.702.863      22.718.166 25,27 - Peternakan 388.939 748.531 1.148.170 754.913 200.475       648.206 9,54 Pertanian 14.863.221 21.257.215 29.300.336 23.037.582 31.771.766      24.046.024 24,35 2 Nilai Impor

- Tanaman Pangan 2.568.453 2.729.147 3.526.957 2.737.862 3.893.840          3.091.252 13,83 - Hortikultura 527.415 795.846 926.044 1.077.463 1.292.868       923.927 25,90 - Perkebunan 1.675.067 3.376.402 4.535.918 3.949.191 6.028.110          3.912.938 43,90 - Peternakan 1.190.396 1.696.459 2.352.219 2.132.800 634.896          1.601.354 0,40 Pertanian 5.961.331 8.597.854 11.341.138 9.897.316 11.849.714         9.529.471 20,78 3 Neraca Perdagangan

- Tanaman Pangan -2.304.299 -2.440.098 -3.178.074 -2.416.601 -3.416.132 ‐2.751.041 13,38

- Hortikultura -289.352 -541.081 -492.124 -697.724 -902.148 ‐584.486 37,26

- Perkebunan 12.296.997 16.588.468 22.833.445 17.632.478 24.674.753      18.805.228 22,43

- Peternakan -801.457 -947.928 -1.204.049 -1.377.887 -434.421 ‐953.148 -2,18

Pertanian 8.901.890 12.659.361 17.959.198 13.140.266 19.922.052      14.516.553 27,21

4 Nilai Ekspor

- Tanaman Pangan 1,78 1,36 1,19 1,39 1,50 1,45

- Hortikultura 1,60 1,20 1,48 1,65 1,23 1,43

- Perkebunan 94,00 93,92 93,41 93,68 96,64 94,33

- Peternakan 2,62 3,52 3,92 3,28 0,63 2,79

5 Nilai Impor

- Tanaman Pangan 43,09 31,74 31,10 27,66 32,86 33,29 - Hortikultura 8,85 9,26 8,17 10,89 10,91 9,61 - Perkebunan 28,10 39,27 40,00 39,90 50,87 39,63 - Peternakan 19,97 19,73 20,74 21,55 5,36 17,47 Sumber : BPS diolah Pusdatin

% terhadap Pertanian Tahun (000 US$)

(15)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 15 Lampiran 2.2. Perkembangan volume ekspor dan impor sub sektor pertanian, 2006

- 2010

No. Uraian Rata-rata Pertumb. (%)

2006 2007 2008 2009 2010 2006 - 2010 2006 - 2010

1 Volume Ekspor

- Tanaman Pangan 861.219 999.460 812.290 786.627 892.454 870.410 1,90 - Hortikultura 456.890 393.863 524.485 447.609 364.120 437.393 -3,49 - Perkebunan 21.378.189 22.089.288 25.182.681 27.865.811 27.017.306 24.706.655 6,24 - Peternakan 198.407 458.900 635.304 473.182 494.087 451.976 37,16 Pertanian 22.894.705 23.941.511 27.154.760 29.573.229 28.767.967 26.466.434 6,04 2 Volume Impor

- Tanaman Pangan 11.456.509 9.398.520 7.414.293 7.788.215 10.504.602 9.312.428 0,21 - Hortikultura 923.867 1.293.411 1.429.967 1.524.666 1.560.798 1.346.542 14,89 - Perkebunan 1.776.174 4.268.242 2.683.739 2.963.531 3.578.062 3.053.950 33,59 - Peternakan 880.430 950.518 1.065.235 1.124.737 1.231.525 1.050.489 8,78 Pertanian 15.036.980 15.910.691 12.593.234 13.401.149 16.874.987 14.763.408 4,32

3 Volume Ekspor

- Tanaman Pangan 3,76 4,17 2,99 2,66 3,10 3,34

- Hortikultura 2,00 1,65 1,93 1,51 1,27 1,67

- Perkebunan 93,38 92,26 92,74 94,23 93,91 93,30

- Peternakan 0,87 1,92 2,34 1,60 1,72 1,69

4 Volume Impor

- Tanaman Pangan 76,19 59,07 58,88 58,12 62,25 62,90 - Hortikultura 6,14 8,13 11,36 11,38 9,25 9,25 - Perkebunan 11,81 26,83 21,31 22,11 21,20 20,65 - Peternakan 5,86 5,97 8,46 8,39 7,30 7,20 Sumber : BPS diolah Pusdatin

Tahun (Ton)

% terhadap Pertanian

(16)

16 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

III. KINERJA PERDAGANGAN UBI KAYU

Ubi kayu (Manihot utilissima) merupakan salah satu bahan pangan utama, tidak saja di Indonesia tetapi juga di dunia. Di Indonesia, ubi kayu merupakan makanan pokok ke tiga setelah padi dan jagung. Sedangkan untuk konsumsi penduduk dunia, khususnya penduduk negara-negara tropis, setiap tahun diproduksi sekitar 300 juta ton ubi kayu (Rukmana, 1997 dalam Simanjuntak, 2002).

Tanaman ubi kayu memiliki banyak varietas atau klon yang dapat di konsumsi sebagai makanan atau menjadi bahan baku bagi industri tapioka dan gaplek ataupun tepung gaplek, yang selanjutnya dipergunakan untuk berbagai industri seperti makanan, makanan ternak, kertas kayu lapis dan lainnya.

Berdasarkan potensi fisik seperti kesesuaian lahan, iklim, sumber daya manusia dan tingkat adaptasi tekologi, tanaman ubi kayu bisa dibudidayakan di banyak tempat di Indonesia sehingga memungkinkan untuk diusahakan oleh para petani secara luas.

Ubi kayu memang mempunyai potensi yang cukup besar untuk dioptimalkan pemanfaatannya. Menurut Angka Sementara BPS, tahun 2010 produksi ubi kayu Indonesia sebesar 23,91 juta ton. Lima provinsi penghasil ubi kayu terbesar di Indonesia adalah Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan DI Yogyakarta.

Pada dasarnya komoditas ubi kayu mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, multi guna dan mempunyai multiplier effect yang besar dalam pembangunan ekonomi dan lingkungan. Dengan produksi yang cukup tinggi, Indonesia termasuk 5 negara produsen ubi kayu terbesar di dunia dan berpotensi besar untuk dikembangkan. Saat ini ubi kayu tidak hanya dimanfaatkan sebagai sumber pangan, bahan baku industri dan pakan ternak, tetapi juga sebagai sumber energi alternatif seperti bioetanol. Kondisi ini menjadikan perhatian untuk mengetahui lebih dalam kinerja perdagangan dari ubi kayu.

(17)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 17 3.1. SENTRA PRODUKSI UBI KAYU

Berdasarkan rata-rata produksi tahun 2006-2010 terdapat 5 provinsi sentra produksi ubi kayu yang mempunyai kontribusi kumulatif sampai dengan 79,29%, yaitu Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan DI Yogyakarta.

Provinsi Lampung memberikan kontribusi terbesar terhadap total produksi ubi kayu Indonesia hingga mencapai 32,95%. Peringkat kedua dan ketiga adalah Jawa Tengah yang berkontribusi 16,63%, dan Jawa Timur berkontribusi 15,62%.

Provinsi Jawa Barat dan DI Yogyakarta berkontribusi dibawah 10% (Gambar 3.1).

Perkembangan produksi ubi kayu di provinsi sentra tahun 2006-2010 secara rinci disajikan pada Lampiran 3.1.

Gambar 3.1. Provinsi sentra produksi ubi kayu di Indonesia, (rata-rata 2006-2010)

3.2. KINERJA PERDAGANGAN UBI KAYU DALAM NEGERI

Untuk melihat kinerja perdagangan ubi kayu dalam negeri, salah satu diantaranya dengan melihat perkembangan harga produsen dan konsumen ubi kayu. Perkembangan harga rata-rata ubi kayu di Indonesia selama lima tahun

(18)

18 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

terakhir (2005-2009) cenderung meningkat (Gambar 3.2). Dalam kurun waktu tersebut, rata-rata pertumbuhan harga ubi kayu di tingkat produsen meningkat sebesar 22,29% per tahun, sedangkan di tingkat konsumen meningkat 20,54%

per tahun. Harga ubi kayu tertinggi di tingkat produsen dan konsumen terjadi pada tahun 2009 masing-masing sebesar Rp. 1.800,- per kg dan Rp. 2.449,- per kg. Dari sisi margin harga produsen-konsumen tertinggi terjadi pada tahun 2009 yaitu sebesar Rp. 648,- per kg (Lampiran 3.2). Lebih jauh perbedaan harga produsen dan konsumen ubi kayu di provinsi sentra produksi di Indonesia tersaji pada Gambar 3.3.

Gambar 3.2. Perkembangan harga produsen dan konsumen ubi kayu di Indonesia, 2005-2009

(19)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 19 0

500 1.000 1.500 2.000 2.500

Lampung Jateng Jatim Jabar DI

Yogyakarta (Rp/Kg)

Produsen Konsumen

Gambar 3.3. Harga rata-rata produsen dan konsumen ubi kayu di provinsi sentra di Indonesia, 2009

Dari provinsi sentra ubi kayu di Indonesia, harga ubi kayu tingkat produsen tertinggi terdapat di Provinsi Jawa Timur diikuti DI. Yogyakarta dan Jawa Tengah, masing-masing sebesar Rp. 948,-/kg; Rp. 905,-/kg; dan Rp. 789,-/kg. Sementara pada tingkat konsumen, harga tertinggi terdapat di Provinsi Lampung sebesar Rp 2.044,-/kg. Demikian pula margin antara harga produsen dan konsumen tertinggi juga terdapat di Provinsi Lampung yaitu sebesar Rp. 1.414,-. Informasi harga ubi kayu di provinsi sentra di Indonesia secara lengkap disajikan pada Lampiran 3.3.

3.3. KINERJA PERDAGANGAN UBI KAYU INTERNASIONAL

Kinerja perdagangan ubi kayu internasional dapat didekati diantaranya dengan melihat neraca perdagangan ekspor impor ubi kayu. Perkembangan neraca perdagangan ubi kayu tahun 2006-2010 cenderung mengalami defisit, kecuali pada tahun 2008-2009 neraca volume ubi kayu mengalami surplus.

Defisit ubi kayu terbesar terjadi pada tahun 2010 yaitu sebesar US$ 75,32 juta

(20)

20 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

dengan volume sebesar 125,82 ribu ton, keragaan ekspor-impor ubi kayu Indonesia dapat dilihat pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1. Perkembangan ekspor, impor dan neraca perdagangan ubi kayu Indonesia, 2006-2010

Pertumb. (%)

2006 2007 2008 2009 2010 2006-2010

1 Ekspor

- Volume (Ton) 139.096 232.566 166.685 206.048 169.031 11,13

- Nilai (000 US$) 16.684 39.292 35.871 32.371 45.432 39,35

2 Impor

- Volume (Ton) 305.243 306.347 158.100 168.716 294.853 8,36

- Nilai (000 US$) 70.284 77.802 57.948 49.912 120.755 28,31

3 Neraca Perdagangan

- Volume (Ton) -166.147 -73.781 8.585 37.332 -125.822 -67,36

- Nilai (000 US$) -53.601 -38.509 -22.077 -17.541 -75.323 59,51 Sumber : BPS, diolah Pusdatin

Uraian

No Tahun

Dari Tabel 3.1. terlihat dalam kurun waktu 2006-2010 defisit volume neraca perdagangan ubi kayu rata-rata menurun sebesar 67,36% per tahun sedangkan defisit nilai neraca perdagangan rata-rata meningkat 59,51% per tahun.

Sementara, perbandingan pertumbuhan volume maupun nilai ekspor ubi kayu dengan impornya terlihat relatif sama, dengan pertumbuhan masing-masing untuk volume ekspor meningkat 11,13% per tahun sedangkan volume impor meningkat 8,36% per tahun. Perkembangan nilai neraca perdagangan ubi kayu secara jelas tersaji pada Gambar 3.4.

(21)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 21 -100

-50 0 50 100 150

2006 2007 2008 2009 2010

(Juta US$)

Ekspor Impor Neraca Perdagangan

Gambar 3.4. Perkembangan nilai ekspor, impor dan neraca perdagangan ubi kayu Indonesia, 2006 - 2010

Bila ditinjau dari wujud produksi ubi kayu yang diekspor, perkembangan tahun 2006-2010 menunjukkan proporsi volume ekspor lebih besar dalam wujud primer sebesar 77,81%. Rata-rata pertumbuhan volume ekspor dalam wujud primer selama 2006-2010 meningkat 11,64% per tahun. Sementara dari sisi volume impor ubi kayu cenderung berupa wujud olahan dengan proporsi lebih dari 98,87% serta pertumbuhan rata-ratanya meningkat sebesar 8,56% per tahun (Lampiran 3.4.). Ubi kayu Indonesia yang diekspor dibedakan menurut kode HS (Harmony Sistem) sebagai berikut:

 Ubi Kayu Primer (kode HS 0714.10), terdiri dari:

- Ubi kayu kepingan kering (kode HS 0714.10.1100) - Ubi kayu dalam bentuk pelet (kode HS 0714.10.1900) - Lain-lain (kode HS 0714.10.9000)

 Ubi Kayu Olahan (kode HS 11.08)

- Pati ubi kayu (kode HS 1108.11.1000)

Berdasarkan kode HS tersebut diatas, ekspor ubi kayu Indonesia tahun 2010 sebagian besar merupakan bentuk ubi kayu kepingan kering dan pati ubi kayu masing-masing sebesar 85,06% dan 14,09% dari total ekspor ubi kayu Indonesia.

(22)

22 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Sebaliknya impor ubi kayu sebagian besar dalam bentuk pati ubi kayu yaitu sebesar 99,99% dari total impor ubi kayu Indonesia (Tabel 3.2).

Tabel 3.2. Kontribusi ekspor dan impor ubi kayu Indonesia menurut wujud produksi, 2010

Volume (Ton) Share (%) Nilai (US$ 000)

Share (%)

Volume (Ton)

Share (%)

Nilai (US$ 000)

Share (%) 1 Ubi kayu kepingan kering 143.775.233 85,06 31.745.792 69,88 202 0,00 363 0,00 2 Ubi kayu dalam bentuk pelet 51.165 0,03 16.369 0,04 7.776 0,00 4.367 0,00 3 Ubi kayu, Lain-lain 1.390.872 0,82 891.122 1,96 12.621 0,00 10.431 0,01 4 Pati ubi kayu 23.813.780 14,09 12.778.524 28,13 294.832.093 99,99 120.739.381 99,99 T O T A L 169.031.050 100 45.431.807 100 294.852.692 100 120.754.542 100 Sumber: BPS, diolah Pusdatin

Ekspor Impor

No Jenis dan Wujud Produksi

Berdasarkan Gambar 3.5, negara tujuan ekspor ubi kayu primer Indonesia terbesar adalah ke Cina yang mencapai 116,94 juta ton pada tahun 2010, diikuti ke Korea Selatan, Hongkong dan Jepang walaupun dalam kuantitas relatif lebih kecil dibandingkan ke Cina yakni masing-masing sebesar 25,16 juta ton, 2,36 juta ton dan 354,5 ribu ton.

116.942

25.158

2.362 355 400

200 20.200 40.200 60.200 80.200 100.200

Cina Korea Selatan Hongkong Jepang Lainnya

(000 Ton)

Gambar 3.5. Negara tujuan utama ekspor ubi kayu primer Indonesia, 2010

(23)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 23 Sementara dalam wujud olahan yang banyak di ekspor Indonesia adalah pati ubi kayu, dimana negara tujuan utama adalah Malaysia sebesar 11,28 juta ton pada tahun 2010. Berikutnya adalah ke Taiwan dan Cina masing-masing sebesar 6,84 juta ton dan 4,15 juta ton (Gambar 3.6). Negara tujuan ekspor ubi kayu menurut kode HS tahun 2010 secara rinci disajikan pada Lampiran 3.5.

11.278

6.840

4.154

500 1.042

400 2.400 4.400 6.400 8.400 10.400

Malaysia Taiwan Cina Singapura Lainnya

(000 Ton)

Gambar 3.6. Negara tujuan utama ekspor ubi kayu olahan Indonesia, 2010

Sedikit berbeda dengan ekspornya, wujud ubi kayu yang diimpor pada tahun 2010 didominasi pati ubi kayu sebesar 99,99% dari total volume impor ubi kayu Indonesia (Tabel 3.2). Negara asal impor pati ubi kayu adalah Thailand dan Singapura masing-masing sebesar 285,50 juta ton dan 6,35 juta ton. Negara asal impor ubi kayu Indonesia menurut kode HS tahun 2010 secara rinci disajikan pada Lampiran 3.6.

Berdasarkan data FAO terdapat 3 jenis wujud produksi ubi kayu yang di ekspor, salah satunya ubi kayu kepingan kering (cassava dried). Pada tahun 2004- 2008 terdapat 5 negara eksportir terbesar ubi kayu kepingan kering di dunia yang secara kumulatif memberikan kontribusi sebesar 97,77% terhadap total volume ekspor ubi kayu di dunia. Negara yang dimaksud adalah Thailand dan Vietnam masing-masing sebesar 74,23%, dan 16,55%. Kemudian disusul oleh Indonesia, Belanda dan Kosta Rica masing-masing sebesar 3,52%, 1,93% dan 1,53%

(24)

24 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

(Gambar 3.7.). Indonesia merupakan negara eksportir ubi kayu yang berada pada urutan ke-3 dengan rata-rata volume ekspor tahun 2004-2008 sebesar 187,07 ribu ton. Keragaan negara eksportir ubi kayu dunia tahun 2004-2008 disajikan pada Lampiran 3.7.

74,23%

16,55%

3,52%

1,93% 1,53% 2,23%

0 500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 3.500 4.000 4.500

Thailand Vietnam Indonesia Belanda Kosta Rica Negara Lain

(000 Ton)

Gambar 3.7. Negara eksportir ubi kayu terbesar dunia, (rata-rata 2004-2008)

Bila dilihat volume impor ubi kayu dunia tahun 2004-2008 terdapat lima negara importir ubi kayu terbesar di dunia yang secara kumulatif memberikan kontribusi sekitar 93,63% terhadap total volume impor ubi kayu di dunia. Cina berada di peringkat pertama dengan rata-rata volume impor sebesar 3,69 juta ton per tahun atau memberikan kontribusi sebesar 67,88% terhadap total volume impor ubi kayu dunia. Urutan kedua dan ketiga adalah Korea Selatan dan Spanyol dengan rata-rata volume impornya masing-masing sebesar 438,96 ribu ton dan 382,05 ribu ton serta memberikan kontribusi masing-masing sebesar 8,08% dan 7,03%. Belanda dan Belgia memberikan kontribusi 6,10% dan 4,54% terhadap total volume impor dunia (Gambar 3.8.). Indonesia merupakan negara importir ubi kayu yang berada pada urutan ke-30 dengan rata-rata volume impor tahun 2004-2008 sebesar 394 ton. Volume impor dan besarnya kontribusi negara-negara importir ubi kayu dunia secara rinci disajikan pada Lampiran 3.8.

(25)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 25

67,88%

8,08% 7,03% 6,10% 4,54% 6,37%

0 500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 3.500 4.000

Cina Korea Selatan Spanyol Belanda Belgia Negara Lain

(000 Ton)

Gambar 3.8. Negara importir Ubi Kayu terbesar dunia, (rata-rata 2004-2008)

3.4. ANALISIS KINERJA PERDAGANGAN UBI KAYU

Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) digunakan untuk menganalisis posisi atau tahapan perkembangan suatu komoditas. Berdasarkan data nilai ekspor dan impor ubi kayu Indonesia diperoleh nilai Indeks Spesialisasi Perdagangn (ISP) ubi kayu primer, olahan dan ubi kayu total Indonesia seperti tersaji pada Tabel 3.3.

(26)

26 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Tabel 3.3. Analisis Indeks Spesialisasi Perdagangan ubi kayu primer dan olahan Indonesia, 2006-2010

No Uraian

2006 2007 2008 2009 2010

1 Ubi Kayu Primer

Ekspor-Impor 14.789 31.252 20.751 28.645 32.638

Ekspor+Impor 14.884 31.351 20.789 29.316 32.668

ISP 0,99 1,00 1,00 0,98 1,00

2 Ubi Kayu Olahan

Ekspor-Impor -68.390 -69.761 -42.828 -46.186 -107.961

Ekspor+Impor 72.085 85.743 73.030 52.968 133.518

ISP -0,95 -0,81 -0,59 -0,87 -0,81

3 Total Ubi Kayu

Ekspor-Impor -53.601 -38.509 -22.077 -17.541 -75.323

Ekspor+Impor 86.968 117.094 93.820 82.284 166.186

ISP -0,62 -0,33 -0,24 -0,21 -0,45

Sumber : BPS, diolah Pusdatin

Tahun

Dari Tabel 3.3, terlihat selama periode tahun 2006-2010 komoditas ubi kayu dalam wujud primer memiliki daya saing yang sangat kuat, terlihat dari nilai ISP yang mendekati 1. Hal ini sejalan dengan produksi Indonesia memperoleh eksportir ke-3 di dunia setelah Thailand dan Vietnam. Sementara, wujud olahan memiliki daya saing yang rendah di pasar dunia atau dengan kata lain komoditas ubi kayu olahan Indonesia masih pada tahap pengenalan. Hal ini dapat dilihat dengan nilai indeks spesialisasi perdagangan (ISP) ubi kayu olahan dari tahun 2006-2010 bernilai negatif yaitu sebesar -0,59 hingga -0,95, mengingat impor Indonesia sebagian besar dalam wujud olahan.

Nilai IDR (Impor Dependendcy Ratio) dan SSR (Self Suffenciency Ratio) biasanya digunakan untuk menganalisis suatu komoditas, apakah bergantung pada impor atau telah memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Ketergantungan Indonesia terhadap impor ubi kayu pada tahun 2006-2010 relatif kecil, terlihat dari nilai IDR ubi kayu yang berkisar antara 0,73% hingga 1,53%. Sementara, kebutuhan ubi kayu dalam negeri telah terpenuhi dari produksi dalam negeri

(27)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 27 sebesar 99,18% hingga 100,17% selama periode 2006-2010. Nilai IDR dan SSR ubi kayu disajikan pada Tabel 3.4.

Tabel 3.4. Nilai IDR dan SSR Ubi Kayu Indonesia, 2006-2010

No Uraian

2006 2007 2008 2009 2010

1 Produksi (Ton) 19.986.640 19.988.058 21.756.991 22.039.145 23.908.459

2 Ekspor (Ton) 139.096 232.566 166.685 206.048 169.031

3 Impor (Ton) 305.243 306.347 158.100 168.716 294.853

4 Prod + Imp - Eksp 20.152.787 20.061.839 21.748.406 22.001.813 24.034.281

5 IDR (%) 1,51 1,53 0,73 0,77 1,23

6 SSR (%) 99,18 99,63 100,04 100,17 99,48

Sumber : BPS, diolah Pusdatin

Tahun

Indeks Keunggulan Komparatif atau RCA (Revealead Comparative Advantage) merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengukur keunggulan komparatif di suatu wilayah, untuk mengukur keunggulan komparatif ubi kayu Indonesia dalam perdagangan dunia. Hasil perhitungan RSCA terhadap komoditas ubi kayu Indonesia disajikan pada Tabel 3.5.

(28)

28 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Tabel 3.5. Nilai Indeks Keunggulan Komparatif ubi kayu Indonesia dalam perdagangan dunia, 2006-2009

2006 2007 2008 2009

1 Ubi Kayu

Dunia 1.717.215 2.258.214 2.791.705 2.664.986

Indonesia 16.684 39.292 35.871 32.371

2 Non Migas

Dunia 11.341.430.451 12.881.778.535 14.484.741.087 9.474.520.000

Indonesia 79.589.100 92.012.300 107.894.200 97.491.700

3 Dunia 0,0002 0,0002 0,0002 0,0003

Indonesia 0,0002 0,0004 0,0003 0,0003

RCA 1,38445 2,43596 1,72501 1,18047

RSCA 0,16123 0,41792 0,26606 0,08277

Sumber : BPS dan UNComtrade, diolah Pusdatin

Nilai Ekspor (000 US$) Uraian

No

Dari Tabel 3.5. diatas terlihat komoditas ubi kayu Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang lemah pada tahun 2006-2008 dalam pasar perdagangan dunia dengan RSCA sebesar 0,161% sampai dengan 0,418%. Pada tahun 2009 ubi kayu memiliki keunggulan komparatif, hal ini ditunjukkan dari nilai RSCA bernilai positif yakni sebesar 0,083% artinya komoditas ubi kayu Indonesia memiliki daya saing yang sangat lemah di pasar dunia.

(29)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 29 Lampiran 3.1. Provinsi sentra produksi ubi kayu di Indonesia, 2006-2010

2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata

1

Lampung 5.499.403 6.394.906 7.721.882 7.569.178 8.294.070 7.095.888 32,95 32,95 2

Jawa Tengah 3.553.820 3.410.469 3.325.099 3.676.809 3.936.525 3.580.544 16,63 49,58 3

Jawa Timur 3.680.567 3.423.630 3.533.772 3.222.637 2.957.884 3.363.698 15,62 65,19 4

Jawa Barat 2.044.674 1.922.840 2.034.854 2.086.187 2.117.976 2.041.306 9,48 74,67 5

DI Yogyakarta 1.016.270 976.610 892.907 1.047.684 1.037.610 994.216 4,62 79,29 6

Lainnya 4.191.906 3.859.603 4.248.477 4.436.650 5.564.394 4.460.206 20,71 100,00 Indonesia 19.986.640 19.988.058 21.756.991 22.039.145 23.908.459 21.535.859 100,00 Sumber : BPS dan Ditjen Tanaman Pangan, diolah Pusdatin

Share (%)

Share kumulatif

(%)

No Provinsi Produksi (Ton)

Lampiran 3.2. Perkembangan harga produsen dan harga konsumen ubi kayu di Indonesia, 2005-2009

(Rp/Kg) Pertumb. (%) (Rp/Kg) Pertumb. (%)

2005 807 1.164 357

2006 974 20,68 1.361 16,95 387

2007 1.148 17,94 1.627 19,55 479

2008 1.481 28,99 2.096 28,82 615

2009 1.800 21,57 2.449 16,84 648

22,29 20,54

Sumber : BPS, diolah Pusdatin

Tahun Produsen

Rata-rata pertumb. (%)

Konsumen Margin

(Rp/Kg)

Lampiran 3.3. Harga produsen dan konsumen ubi kayu di beberapa provinsi sentra produksi di Indonesia, 2009

Produsen Konsumen Margin

1 Lampung 630 1.286 1.414

2 Jawa Tengah 789 1.172 383

3 Jawa Timur 948 1.255 307

4 Jawa Barat 756 1.442 686

5 DI Yogyakarta 905 1.298 393

Sumber : BPS, diolah Pusdatin

No Provinsi Harga (Rp/Kg)

(30)

30 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Lampiran 3.4. Perkembangan ekspor-impor ubi kayu Indonesia menurut wujud produksi, 2006-2010

No Uraian Pertb. (%)

2006 2007 2008 2009 2010 2006-2010

1 Volume Ekspor (Ton) 139.096 232.566 166.685 206.048 169.031 11,13

- Ubi Kayu Primer 132.005 209.669 129.696 197.694 145.217 11,64

- Ubi Kayu Olahan 7.091 22.897 36.990 8.354 23.814 98,02

Persentase thd Total

- Ubi Kayu Primer 94,90 90,15 77,81 95,95 85,91

- Ubi Kayu Olahan 5,10 9,85 22,19 4,05 14,09

2 Nilai Ekspor (000 US$) 16.684 39.292 35.871 32.371 45.432 39,35

- Ubi Kayu Primer 14.836 31.301 20.770 28.980 32.653 32,38

- Ubi Kayu Olahan 1.847 7.991 15.101 3.391 12.779 155,20

Persentase thd Total

- Ubi Kayu Primer 88,93 79,66 57,90 89,52 71,87

- Ubi Kayu Olahan 11,07 20,34 42,10 10,48 28,13

3 Volume Impor (Ton) 305.243 306.347 158.100 168.716 294.853 8,36

- Ubi Kayu Primer 39 45 23 1.903 21 2010,45

- Ubi Kayu Olahan 305.204 306.303 158.077 166.813 294.832 8,56

Persentase thd Total

- Ubi Kayu Primer 0,01 0,01 0,01 1,13 0,01

- Ubi Kayu Olahan 99,99 99,99 99,99 98,87 99,99

4 Nilai Impor (000 US$) 70.284 77.802 57.948 49.912 120.755 28,31

- Ubi Kayu Primer 47 50 19 336 15 373,92

- Ubi Kayu Olahan 70.237 77.752 57.929 49.577 120.739 28,58

Persentase thd Total

- Ubi Kayu Primer 0,07 0,06 0,03 0,67 0,01

- Ubi Kayu Olahan 99,93 99,94 99,97 99,33 99,99

Sumber : BPS, diolah Pusdatin

Tahun

(31)

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 31 Lampiran 3.5. Negara tujuan ekspor ubi kayu per Kode HS (Harmony System)

Indonesia, 2010

No Kode HS Uraian Volume Nilai Volume Nilai

(Ton) (US$ 000)

1 0714101100 Ubi Kayu Kepingan Kering 143.775.233 31.745.792 85,06 69,88

Japan 328.900 89.258 0,19 0,20

Hongkong 2.360.778 549.534 1,40 1,21

Kore, Republic Of 25.158.339 5.707.700 14,88 12,56

Taiwan 33.955 11.862 0,02 0,03

China 115.845.347 25.370.710 0,00 55,84

Malaysia 47.789 16.328 0,03 0,04

South Africa 125 400 0,00 0,00

2 0714101900 Ubi Kayu Dalam Bentuk Pelet 51.165 16.369 0,03 0,04

Japan 1.106 412 0,00 0,00

China 46.412 10.582 0,03 0,02

Philippines 1.536 1.920 0,00 0,00

Australia 316 1.056 0,00 0,00

Netherlands 1.795 2.399 0,00 0,01

3 0714109000 Lain-Lain 1.390.872 891.122 0,82 1,96

Japan 24.490 3.184 0,01 0,01

Hongkong 1.267 6.274 0,00 0,01

China 1.050.180 92.534 0,62 0,20

Singapore 8.895 81.679 0,01 0,18

Philippines 50.309 21.467 0,03 0,05

Malaysia 48.249 32.917 0,03 0,07

Brunei Darussalam 35.504 102.197 0,02 0,22

Saudi Arabia 1.916 1.363 0,00 0,00

Australia 1.945 6.233 0,00 0,01

United States 122.012 384.098 0,07 0,85

United Kingdom 44.105 152.576 0,03 0,34

Netherlands 2.000 6.600 0,00 0,01

4 1108140000 Pati Ubi Kayu 23.813.780 12.778.524 14,09 28,13

Taiwan 6.840.400 4.012.420 4,05 8,83

China 4.154.000 2.234.690 2,46 4,92

Tailand 119.950 55.307 0,07 0,12

Singapore 499.600 284.924 0,30 0,63

Philippines 181.500 60.549 0,11 0,13

Malaysia 11.278.230 5.747.736 6,67 12,65

India 38.000 18.050 0,02 0,04

Israel 50.250 28.140 0,03 0,06

United Arab Emirates 2.100 1.960 0,00 0,00

Egypt 1.000 589 0,00 0,00

South Africa 234.000 128.193 0,14 0,28

Australia 33.500 15.908 0,02 0,04

New Zaeland 217.750 104.857 0,13 0,23

Canada 127.500 67.756 0,08 0,15

China 36.000 17.445 0,02 0,04

T O T A L 169.031.050 45.431.807

Sumber : BPS, diolah Pusdatin

Ekspor 2010 % Thd Total

Negara Tujuan

Referensi

Dokumen terkait

Pertama, suatu negara akan dapat meningkatkan pendapatannya dari perdagangan karena pasar dunia mampu memberikan kesempatan untuk membeli barang pada tingkat harga yang

Globalisasi saat ini telah menyebar ke seluruh dunia, sehingga perdagangan semakin bebas tanpa batas.Akibatnya, persaingan semakin ketat.Ratusan bahkan ribuan produk

Melihat dari sudut pandang semakin berkembangnya budaya masyarakat dan stigma kualitas produk impor lebih baik daripada produk lokal dan gempuran daging

Grafik 1.1 dapat menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara pengekspor karet alam terbesar ke-2 di Dunia di bawah Thailand yang rata-rata volume ekspornya diatas 2,5 juta ton per

Perkembangan jaman yang begitu pesat menyebabkan persaingan hidup yang semakin tinggi. Dunia perdagangan kini tidak hanya berkutat pada pasar lokal saja tetapi juga

Sebagai negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia tentunya Indonesia memiliki peluang yang sangat baik, dan dengan tidak stabilnya pergerakan harga minyak kelapa

Berdasarkan pemaparan diatas dan fakta-fakta yang ada, serta mengacu pada perusahaan penghasil semen terbesar di Indonesia, maka judul yang dipilih untuk penelitian yaitu

Untuk memperlancar sistem perdagangan tersebut maka dibentuklah WTO (World Trade Organization). WTO yaitu suatu organisasi perdagangan dunia yang berfungsi untuk mengatur