• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Namun menurut Bernard Berelson & Gary A.Steiner yang dikemukakan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Namun menurut Bernard Berelson & Gary A.Steiner yang dikemukakan"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

7 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Komunikasi

2.1.1 Definisi Komunikasi

Harold Lasswell dalam Riswandi (2009, 2) komunikasi merupakan sebuah proses yang menjelaskan “siapa” mengatakan “apa” dengan saluran “apa”, kepada “siapa”, dan “dengan akibat apa” atau “hasil apa”.

Namun menurut Bernard Berelson & Gary A.Steiner yang dikemukakan dalam buku yang sama mengatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dan lain-lain melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar, angka- angka, dan lain-lain.

Kemudian Carl I. Hovlan dalam Winarni (2003, 3) mengungkapkan bahwa komunikasi merupakan proses yang memungkinkan seseorang atau komunikator menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain (komunikate). Pengertian tersebut lebih menekankan pada keberhasilan seorang komunikator, sedangkan menurut M. Rogers yang lebih menekankan kepada keberhasilan komunikator mengungkapkan bahwa komunikasi merupakan proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud mengubah tingkah laku mereka.

(2)

8 2.1.2 Macam-macam Konteks Komunikasi

Menurut Deddy Mulyana (70) Indikator paling umum untuk mengklasifikasikan komunikasi berdasarkan konteksnya atau tingkatnya adalah jumlah peserta yang terlibat dalam komunikasi.

a. Komunikasi intrapribadi : komunikasi dengan diri sendiri, baik disadari atau tidak. Contohnya yaitu berfikir.

b. Komunikasi diadik : komunikasi yang melibatkan hanya dua orang, seperti suami istri, guru murid dan lain sebagainya. Ciri yang menonjol yaitu pihak-pihak yang berkomunikasi berada dalam jarak yang berdekatan, serta mengirim dan menerima pesan secara spontan.

c. Komunikasi antarpribadi : komunikasi antara orang-orang yang bertatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik verbal ataupun non verbal.

d. Komunikasi kelompok (kecil) : komunikasi dari sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama, yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut. Contohnya yaitu keluarga, tetangga, dan lain sebagainya.

e. Komunikasi publik : komunikasi antara seorang pembicara dengan sejumlah besar orang (khalayak) yang tidak

(3)

9

dikenali satu persatu. Komunikasi publik biasanya berlangsung lebih formal.

f. Komunikasi organisasi : komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi, bersifat dan informal, dan berlangsung dalam suatu jaringan yang lebih besar dari pada komunikasi kelompok.

g. Komunikasi massa : komunikasi yang menggunakan media massa, baik cetak (surat kabar, majalah) atau elektronik (radio, televisi), yang dikelola oleh suatu lembaga atau orang yang dilembagakan, yang ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar di banyak tempat, anonim dan heterogen.

2.1.3 Unsur Komunikasi

Dalam Nuruddin (2009, 95) dijelaskan bahwa elemen komunikasi secara umum tidak jauh berbeda atau juga berlaku pada komunikasi massa, yang membedakan ialah jumlah pesan yang disampaikan kepada penerima. Kemudian menurut Soyomukti (2012, 58) bahwa untuk

terjadinya proses komunikasi minimal terdiri dari tiga unsur utama, yaitu : pengirim pesan, pesan dan target penerima pesan. Ketiga unsur tersebut merupakan unsur dasar, namun proses komunikasi dapat mengandung lebih dari unsur itu, antara lain :

a. pengirim pesan (komunikator) : manusia yang memulai proses komunikasi. Komunikator selalu memiliki tujuan (motif komuikasi), selain itu komunikator bisa dilakukan

(4)

10

oleh satu orang, banyak orang/ lebih dari satu orang, serta kumpulan orang (massa)

b. penerima pesan (komunikan) : manusia berakal budi kepada siapa pesan komunikator ditujukan.

c. Pesan : segala ssesuatu yang disampaikan komunikator kepada komunikan untuk mewujudkan motif

komunikasinya.

d. saluran komunikasi dan media komunikasi : saluran komunikasi lebih identik dengan proses berjalannya pesan.

Sedangkan media komunikasi lebih identik dengan alat (benda) untuk menyampaikan. Jadi saluran komunikasi lebih umum daripada media komunikasi.

e. efek komunikasi : situasi yang diakibatkan oleh pesan komunikator dalam diri komunikannya. Efek komunikasi ini bisa berupa efek psikologis yang terdiri dari tiga hal :

 pengaruh kognitif : seseorang menjadi tahu sesuatu

 pengaruh afektif : terjadi perubahan perasaan dan sikap

 pengaruh konatif : perubahan tingkah laku dan

tindakan 2.1.4 Unsur Pesan Komunikasi

a. Pesan verbal

Menurut Mulyana (237) Pesan verbal merupakan segala jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Bahasa

(5)

11

juga bisa dianggap sebagai suatu sistem kode verbal. Bahasa verbal merupakan sarana utama untuk menyatakan pikiran, perasaan, dan maksud komunikator. Bahasa verbal menggunakan kata-kata yang merepresenatasikan berbagai aspek realitas individual.

Fungsi bahasa yang mendasar adalah untuk memberi nama atau memberi julukan terhadap orang, objek, dan peristiwa. Selain itu Larry L. Barker dalam Mulyana (243) mengutarakan bahwa bahasa memiliki tiga fungsi, antara lain : penamaan, interaksi dan transmisi informasi.

Keterbatasan bahasa merujuk pada jumlah kata yang tersedia untuk mewakili objek. Kata-kata merupaka kategori- kategori untuk merujuk pada objek tertentu, seperti orang, benda, peristiwa, sifat, perasaan, dsb. Kata-kata pada dasarnya bersifat parsial, tidak melukiskan sesuatu secara eksak. Selain itu kata-kata juga bersifat ambigu, karena kata-kata merepresentasikan persepsi dan interpretasi orang-orang yang berbeda, yang menganut latar belakang sosial budaya yang berbeda-beda pula.

b. Pesan Non Verbal

Secara sederhana komunikasi non verbal diartikan sebagai sebagai semua isyarat yang bukan kata-kata. Larry A. Samovar dan Richard dalam Mulyana (308) mendefinisikan pesan non verbal merupakan prilaku yang disengaja juga tidak disengaja

(6)

12

sebagai bagian dari peristiwa komunikasi secara keseluruhan, kita mengirim banyak pesan non verbal tanpa menyadari bahwa pesan-pesan tersebut bermakna bagi orang lain.

Paul Ekman dalam Mulyana (314) menyebutkan lima fungsi pesan non verbal menurut prilakunya, antara lain :

 Emblem : gerakan mata tertentu merupakn simbol

yang memiliki kesetarn dengan simbol verbal.

Kedipan mata dapat mengatakan “saya tidak sungguh-sungguh”

 Ilustrator : pandangan ke bawah dapat menunjukkan depresi atau kesedihan

 Regulator : kontak mata berarti saluran percakapan terbuka

 Penyesuaian : kedipan mata yang meningkat ketika orang berada dalam tekanan.

 Affect display : pembesaran manik-mata (pupil

dilation) menunjukkan peningkatan emosi.

Dalam hubungannya dalam prilaku verbal, prilaku nonverbal mempunyai fungsi sebagai berikut :

 Perilaku nonverbal dapat mengulangi perilaku verbal, misalnya anda menganggukkan kepada ketika anda mengatakan “Ya”, atau menggelengkan kepala ketika mengatakan “Tidak”

(7)

13

 Memperteguh : menekankan atau melengkapi perilaku verbal

 Prilaku non verbal dapat menggantikan prilaku verbal, jadi berdiri sendiri.

 Prilaku non verbal dapat meregulasi perilaku verbal.

2.1.5 Macam-macam Media Komunikasi

Fiske (2012 : 29) menjelaskan bahwa medium atau media komunikasi merupakan alat-alat yang bersifat teknis atau fisik yang mengubah pesan menjadi sinyal sehingga memungkinkan untuk ditransmisikan pada saluran. Media dapat dibagi menjadi tiga kategori utama :

 Presentasi media : suara, wajah, tubuh

 Media representasi : buku, lukisan, foto, tulisan, arsitektur, dekorasi interior, kebun, dan sebagainya.

 Media mekanis : telepon, radio, teleks. Media ini

merupakan transmiser-transmiser dari kategori satu dan dua.

Kemudian Nurudin (2017 : 48) mengungkapkan bahwa media merupakan alat bantu untuk memindahkan pesan dari komunikator kepada penerima pesan.

(8)

14 2.2 Twitter Sebagai Media Komunikasi Sosial

2.2.1 Media Komunikasi Sosial

Ahlqvist dkk (2008) dalam Sulianta (2015 : 5) menjelaskan bahwa media sosial atau media komunikasi sosial adalah interaksi sosial antara manusia dalam memproses, berbagi dan bertukar informasi. Hal tersebut mencakup gagasan dan berbagai konten dalam komunitas virtual.

Kemudian Paramitha (2011) dalam Aulia (2016 : 9) memberikan penjelasan yang sama namun lebih detail bahwa media sosial adalah sebuah sarana yang dibuat untuk memudahkan interaksi sosial dan komunikasi dua arah. Dengan semua kemudahan yang diberikan oleh media sosial ini, penyebaran informasi dari satu individu ke individu lain menjadi sangat mudah. Hal tersebut tentunya berbeda dengan komunikasi massa, umpan balik komunikasi massa membutuhkan beberapa waktu untuk sampai pada komunikatornya.

Selain itu Evans (2008) dalam Aulia (2016 : 9), berpendapat bahwa media sosial selalu berubah dari waktu ke waktu sehingga memungkinkan seseorang dapat menjadi kedua pihak, yaitu sebagai komunikan dan juga sebagai komunikator. kemudian secara lebih lengkap disebutkan oleh Andreas Kaplan dan Michael Haenlein dalam Lesmana (10-11), bahwa media sosial merupakan sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang dibentuk atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0. adanya teknologi tersebut memungkinkan penciptaan dan pertukaran konten yang dibuat pengguna.

(9)

15

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa media sosial merupakan sarana untuk mewadahi interaksi sosial secara virtual, dalam media sosial setiap penggunanya dapat menjadi komunikator sekaligus komunikan.

2.2.2 Macam-Macam Media Komunikasi Sosial

Media komunikasi sosial terdiri dari media lama dan baru. Media lama merupakan proses produksi serta penyimpanan data menggunakan media cetak (koran, majalah, tabloid) dan media elektronik (radio, televisi). Namun saat ini media lama tersebut terus mengikuti perkembangan zaman hingga akhirnya media lama juga bisa kita temukan melalui media baru. Kemunculan media baru tidak terlepas dari kemunculan internet . Media baru merupakan istilah yang dimaksudkan untuk mencakup kemunculan era digital, komputer, atau jaringan teknologidan komunikasi pada abad ke 20.

Dalam bukunya Teori Komunikasi Massa, McQuail menjelaskan bahwa Media Baru atau New Media adalah berbagai perangkat teknologi komunikasi yang berbagi ciri yang sama yang mana selain baru dimungkinkan dengan digitalisasi dan ketersediaannya yang luas untuk penggunaan pribadi sebagai alat komunikasi. Menurut Denis McQuail ciri utama media baru adalah adanya saling keterhubungan, aksesnya terhadap khalayak individu sebagai penerima maupun pengirim pesan, interaktivitasnya, kegunaan yang beragam sebagai karakter yang terbuka, dan sifatnya yang ada di mana-mana.

(10)

16

Media baru merupakan media komunikasi yang berbasis internet.

Di dalamnya antara lain terdapat perpaduan media lama dan media baru seperti koran digital, radio online dan sebagainya. Sedangkan media komunikasi sosial yang tanpa perpaduan media lama

2.2.3 Ciri-Ciri Media Komunikasi Sosial

Humas Kementerian Perdagangan RI (2014 : 27) memaparkan beberapa ciri-ciri media komunikasi sosial seperti berikut ini:

a. Informasi yang disampaikan dibagikan kepada khalayak dan tidak terbatas pada satu orang tertentu.

b. pesan muncul tanpa melalui perantara gatekeeper dan tidak ada gerbang penghambat.

c. Pesan disampaikan secara online dan langsung.

d. Cepat atau tertundanya informasi diterima tergantung pada waktu interaksi yang ditentukan sendiri oleh pengguna.

e. Media sosial menjadikan penggunanya sebagai kreator dan aktor yang memungkinkan dirinya untuk beraktualisasi diri.

f. Dalam konten media sosial terdapat sejumlah aspek fungsional seperti identitas, percakapan (interaksi), berbagi (sharing), kehadiran (eksis), hubungan (relasi), reputasi (status) dan kelompok (group).

Berbeda dengan pendapat diatas, menurut Sulianta Feri (2015) ciri- ciri yang dapat dijumpai pada media sosial yaitu :

a. Transparansi

(11)

17

Keterbukaan informasi karena konten media sosial ditunjukan untuk konsumsi publik untuk sekelompok orang

b. Dialog dan Komunikasi

Ketika ada sebuah komunikasi maka akan terjalin hubungan dan komunikasi interaktif menggunakan ragam fitur.

c. Jejaring Relasi

Hubungan antara pengguna layaknya jaring – jaring yang terhubung satu sama lain dan semakin kompleks seraya mereka menjalin komunikasi dan terus membangun pertemanan.

d. Multi Opini

Memungkinkan setiap orang yang menggunakan media sosial dengan mudahnya berargumen dan mengutarakan pendapatnya.

Dari ciri-ciri yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa media sosial memiliki perbedaan yang cukup jauh dengan media massa. Jika informasi yang disebar memiliki kecepatan yang sama untuk sampai kepada khalayak, namun kecepatan feed tentu berbeda, dalam media sosial dapat secara langsung. Media sosial sangat kental dengan ciri tanpa adanya gatekeeper, setiap akun atau setiap pengguna dapat dengan bebas beropini sesuai apa yang mereka pikirkan.

(12)

18 2.2.4 Fungsi Media Komunikasi Sosial

Menurut Kaplan dan Haenlein (2010) media komunikasi sosial memiliki beberapa fungsi sebagai berikut :

a. Memperluas interaksi sosial antar manusia menggunakan internet dan teknologi web.

b. Mentransformasi praktek komunikasi searah media siaran dari satu institusi media ke banyak audiens (“one to many”) menjadi praktik komunikasi dialogis antar banyak audiens (“many to many”).

c. Mendukung demokratisasi pengetahuan dan informasi.

Mengubah manusia dari pengguna isi pesan menjadi pembuat pesan itu sendiri.

Tiga fungsi menurut Wijayanto tersebut memiliki perbedaan dengan pendapat Tenia (2017) dalam Puspitasari (2018 : 10-11). Dalam tulisannya, Tenia menyebutkan terdapat lima fungsi dari media sosial antara lain untuk mencari berita, informasi dan pengetahuan, kemudian dapat menghadirkan hiburan, dapat digunakan untuk berkomunikasi secara online, mampu menggerakan masyarakat untuk memberikan kritikan, saran, celaan hingga pembelaan melalui media sosial. Dan terakhir sebagai sarana berbagi.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa fungsi dari media sosial adalah untuk menghubungkan pengguna satu dengan lainnya, pengguna dengan komunitas, komunitas satu dengan komunitas lainnya, komunitas

(13)

19

dengan pengguna media sosial dan penjual dengan pembelinya atau sebaliknya secara virtual. Fungsi-fungsi tersebut banyak dimanfaatkan oleh para pengguna untuk memperluas jangkauan informasi yang ingin disampaikan.

2.2.5 Jenis-Jenis Media Komunikasi Sosial

Menurut Kaplan dan Haenlein (2010) terdapat enam jenis media komunikasi sosial: proyek kolaborasi (wikipedia), blog dan microblogs (twitter), komunitas konten (youtube), situs jaringan sosial (facebook, instagram), virtual game (world of warcraft), dan virtual social (second life).

Sedangkan Afandi dalam Nuruddin (2012) menjelaskan hal serupa secara lebih detail mengenai jenis-jenis media baru tersebut, diantaranya :

a. Collaborative Project

Merupakan media sosial yang dapat membuat konten dan dapat diakses secara global, contohnya yaitu wiki dan bookmark social.

b. Blogs and Microblogs

Merupakan sebuah website yang dapat digunakan untuk menyampaikan opini, pengalaman, kegiatan sehari-hari atau yang lainnya. Beberapa contohnya yaitu Kaskus, Bloggers, Wordpress, Multyply dan Plurk.

c. Content communities

(14)

20

Merupakan sebuah aplikasi yang dapat digunakan untuk saling mengirim foto dan video dengan orang yang dituju. Contohnya antara lain adalah Youtube.

d. Social Networking Sites (Situs Jejaring Sosial)

Merupakan sebuah aplikasi yang dapat digunakan penggunanya untuk bertemu atau bergabung dengan pengguna lain melalui akun pribadinya. Pada umumnya situs jejaring sosial memiliki fitur seperti pesan instan dan email. Beberapa contoh dari situs jejaring sosial diantaranya adalah Geocties, Degrees, Twitter, Yahoo Messenger, Instagram, Line, Facebook dan lainnya.

Jenis-jenis media sosial tersebut dibedakan berdasarkan kegunaan, fitur di dalamnya hingga konten yang dibuat oleh penggunanya. Setiap jenis media sosial memiliki pasar atau targetnya masing-masing. Sehingga meskipun terdapat fitur yang sama di dalamnya, tetap saja pengguna tetap memilih jenis media sosial yang mereka gemari.

2.2.6 Twitter

Menurut Puspita (2016), Twitter pertama kali dikemukakan oleh Jack Dorsey, seorang mahasiswa sarjana di Universitas New York yang merupakan karyawan Odeo. Awal perjalanan Twitter tersebut bermula pada bulan Maret 2006 Jack Dorsey, bersama dua temannya yaitu Evan Williams dan Biz Stone. Mereka bertiga berasal dari latar belakang pekerjaan yang berbeda, Evan Williams dan Biz Stone yang berasal dari Google.

(15)

21

Gagasan awal mengenai Twitter tersebut pertama kali dipublikasikan pada tanggal 21 Maret 2006, Dorsey menulis pesan Twitter pertamanya pada pukul 9:50 PM. Pesan tersebut berbunyi: "just setting up my twitter". Versi lengkap Twitter diperkenalkan kepada publik

pada tanggal 15 Juli 2006. Twitter berdiri sebagai perusahaan mandiri pada bulan April 2007.

Namun Zarrella (2010 : 31) menyebutkan bahwa Twitter merupakan sebuah jejaring sosial berbentuk blog yang dibatasi jumlah karakter dalam setiap postingannya (tweet). Jika blog dapat memuat artikel tanpa batasan karakter, dalam Twitter hanya dapat memuat hingga 140 karakter sekali posting.

2.2.7 Fungsi Twitter

Maulana (2012) menjelaskan bahwa melalui halaman website resminya, Twitter mengungkapkan bahwa dirinya merupakan jejaring informasi real-time yang memiliki fungsi untuk menghubungkan pengguna dengan informasi terkini mengenai apa yang sedang terjadi dan hal menarik di sekitar lingkungan pengguna.

Sedangkan fungsi lain disebutkan Rohanawati (2012) dalam penelitiannya, bahwa fungsi awal dari Twitter adalah sebagai information networking. Namun dewasa ini para penggunanya mengalihkan fungsi

awal dari twitter menjadi social networking, para penggunanya lebih mengedepankan kepentingan sosial atau pergaulan. Jika dibandingkan, penyataan Twitter mengenai fungsinya cukup sama dengan pendapat Nana

(16)

22

mengenai fungsi Twitter pada mulanya, namun seiring berjalannya waktu, fungsi tersebut mulai tergeser.

Kemudian Rizky Yuliana (2013) menjelaskan secara lebih rinci mengenai fungsi twitter, sebagai berikut :

a. Twitter sebagai media riset

Adanya Trending Topic dalam twitter, menjadikan Twitter sering digunakan sebagai salah satu media untuk riset sederhana.

b. Networking

Twitter dapat menghubungkan satu dengan lainnya, bahkan yang belum kenal satu sama lain sekalipun, sehingga twitter dapat digunakan untuk memperluas jaringan, baik untuk kepentingan bisnis, akademis atau pun lainnya.

c. Promosi dan Marketing

Twitter merupakan media yang dapat mempertemukan orang-orang maya setiap harinya, sehinga Twitter dapat digunakan sebagai media promosi dan marketing sebuah produk, jasa maupun untuk branding sebuah perusahaan.

Ketiga pendapat tersebut memiliki kesamaan satu sama lain. Jika Nana menjelaskan mengenai perbedaan fungsi twitter pada masa awalnya dan sekarang, Risky menjelaskan fungsi Twitter secara lebih rinci. Fungsi Twitter sebagai Networking pada poin dua menurut Risky merupakan fungsi Twitter pada mulanya menurut Nana.

(17)

23 2.2.8 Fitur Twitter

Menurut Zarrella (2010 : 36-41) twitter memiliki beberapa elemen dasar, antara lain :

a. Akun

Merupakan sebutan untuk sebuah kepemilikan Twitter b. Avatar

Merupakan gambar kecil berukuran 48x48 piksel persegi yang berada disebelah tulisan yang diposting. Avatar atau yang biasa disingkat ava digunakan agar orang mudah mengenali siapa pembuat tulisan tersebut.

c. Bio

Merupakan sebuah wadah untuk menjelaskan siapa pemilik akun dengan maksimal 160 karakter. Adanya bio mempermudah pengikut untuk mengetahui lebih detail tentang siapa pemilik akun

d. Latar Belakang

Merupakan gambar latar belakang yang diunggah khusus untuk halaman pemilik akun. Beberapa pengguna menambahkan banyak informasi tambahan tentang diri mereka sendiri, termasuk situs sosial lain di mana mereka dapat ditemukan.

e. Following

Merupakan akun-akun lain yang diikuti pengguna, pengguna dapat melihat tweet dan kegiatan mereka di twitter setiap saat.

f. Tweeting

(18)

24

Merupakan kegiatan menuliskan apa yang dipikirkan atau kegiatan sehari-hari pengguna, dalam membuat sebuah tweet akan dibatasi hingga sejumlah 140 karakter. Elemen tweeting ini juga digunakan banyak orang untuk memuat berita, konten maupun penawaran.

g. Replies

Merupakan elemen yang digunakan untuk membalas tweeting dari following pengguna. Akun yang dibalas tersebut akan mendapatkan pemberitahuan. Akun yang dapat melihat balasan pengguna satu dengan lainnya adalah yang hanya menjadi followers pengguna tersebut.

h. Direct Message (DM)

Merupakan pesan pribadi yang disediakan oleh twitter, sehingga tidak satupun followers pengguna mengetahuinya. DM bisa kirimkan hanya jika pengguna telah mengikuti akun yang akan diberi pesan secara pribadi.

i. Tagar

Untuk menghubungkan ide dan percakapan dapat dilakukan bebas di Twitter dengan menggunakan tanda tagar (#).

Sederhananya kata yang diawali dengan tanda tagar (#), akan menunjukkan bahwa suatu tweet tertentu memiliki topik yang sama. Kumpulan tagar dan semua tweet tentang topik tersebut akan mudah ditemukan dalam fitur pencarian dalam twitter.

(19)

25

Hal yang sama juga dijelaskan oleh Puspitasari (2016) mengenai fitur-fitur twitter, namun terdapat beberapa yang tidak ada dalam pemikiran Zerrella, antara lain:

a) Laman Utama (Home)

Merupakan fitur yang dapat digunakan untuk melihat “tweet‟

yang dikirimkan oleh followers. Halaman utama disebut juga sebagai timeline. Timeline menciptakan sebuah rangkaian tweet yang terorganisir sesuai dengan waktu tweetnya.

b) Profil

Merupakan fitur yang akan dilihat oleh seluruh orang mengenai profil atau data diri serta “tweet” yang sudah pernah dikirim.

Beberapa fitur yang diungkapkan oleh Zarrella, (Bio, Latar Belakang dan Ava) juga dapat dilihat dalam laman Profil tersebut.

c) Retweet (RT)

Merupakan fitur yang digunakan untuk menggunakan tweet orang lain sebagai tweet sendiri. Tetapi pada umumnya pencipta tweet itu pertama kali dipertahankan. Retweet digunakan bila pengguna setuju atau sepaham dengan isi dari tweet yang di retweet.

d) Gamita (Mentions)

Merupakan balasan dari percakapan agar sesama pemilik akun bisa menandai orang yang akan diajak berkomunikasi.

e) Favorit

(20)

26

“kicauan‟ ditandai sebagai favorit agar tidak hilang oleh halaman sebelumnya.

f) Senarai (List)

Merupakan fitur twitter yang dapat mengelompokkan following ke dalam satu group sehingga memudahkan untuk dapat melihat secara keseluruhan para nama (username) yang diikuti (follow).

g) Topik Hangat (Trending Topic)

Secara garis besar adalah topik yang sedang banyak dibicarakan banyak pemilik akun dalam suatu waktu yang bersamaan.

Trending Topic tidak bisa jauh dari hashtag, karena hashtag yang semakin banyak digunakan akan menjadi trending. Selain itu secara spesifik sebuah kata, frasa yang di keluarkan secara cepat juga akan menjadi tending dan menjadi populer baik yang melalui upaya terpadu oleh pemilik akun atau karena suatu peristiwa yang mendorong orang untuk berbicara tentang satu hal tertentu tersebut.

Dapat disimpulkan terdapat 16 fitur dalam twitter yang memiliki fungsi dan kegunaan masing-masing. Seperti Trending Topic dan Hashtag biasanya digunakan untuk membranding seseorang atau

pemasaran. Fitur-fitur tersebut saling terhubung satu sama lain, contohnya dalam kolom tweet yang telah di update akan diiringi dengan like, replies dan retweet.

(21)

27 2.3 Kritik Sosial Melalui Twitter

2.3.1 Definisi Kritik

Menurut Mas’oed (1997, 4) dalam jurnal Yudhi Novriansyah, Secara harfiah, kritik merupakan sebuah kecaman atau tanggapan yang sering disertai oleh argumentasi baik atau buruk tentang suatu karya, pendapat, maupun situasi juga tindakan seseorang dalam kelompok.

Pendapat tersebut sesuai dengan yang tertulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang disebutkan bahwa kritik merupakan kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai argumentasi dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya.

Sejalan dengan pendapat tersebut, dalam tulisan Oksinata, 2010, disebutkan bahwa H.B Jassin (1991, 97) mengungkapkan kritik adalah penerangan dan penghakiman. Hal senada juga dikatakan oleh Panuti Sudjiman (1990, 46) dalam Oksinata (2010) yang menjelaskan bahwa kritik merupakan pengkajian dan evaluasi dari berbagai segi dan penuh pertimbangan. Pendapat-pendapat tersebut memiliki makna yang sama mengenai kritik, bagaimana menyampaikan pemikiran yang sama atau menyampaikan sanggahan-sanggahan untuk melihat, meneliti dan mempertimbangkan baik buruknya suatu karya.

Melakukan kritik berarti telah menjadikan seseorang lebih peka dengan lingkungan sekitarnya. Termasuk dengan lingkungan sosialnya, sehingga adanya kritik sosial membawa pengaruh untuk keseimbangan lingkungannya.

(22)

28 2.3.2 Definisi Kritik Sosial

Oksinata, 2010 mengungkapkan pendapatnya tentang kritik sosial. Bahwa secara sederhana, kritik sosial merupakan salah satu bentuk kepekaan sosial. Kritik sosial yang murni tidak didasarkan pada tanggung jawab mengenai manusia terhadap lingkungan sosialnya.

Sehingga kritik sosial bebas dapat mencakup berbagai segi kehidupan baik politik, ekonomi, sosial dan budaya. Namun Akhmad Zaini akbar, 1994 dalam Mas’oed, 1997, memiliki anggapan lain bahwa kritik sosial merupakan sebuah inovasi sosial, yang berarti kritik sosial menjadi sarana komunikasi yang menjadi gagasan-gagasan baru, dengan tetap memperhatikan nilai gagasan lama untuk suatu perubahan sosial.

Menanggapi pendapat tersebut, dalam tulisannya Mas’oed, 1997 menambahkan. Bahwa ketika dikaitkan dengan situasi dan keadaan tertentu seperti politik pada saat orde baru, kritik sosial tidak berhasil memberi inspirasi atau mendorong perubahan sosial. Sependapat dengan Akhmad Zaini Akbar, Mahfud (1957) dalam Mentari M.A (2015) diungkapkan bahwa kritik sosial adalah suatu aktivitas yang berhubungan dengan penilaian, perbandingan dan pengungkapan mengenai kondisi sosial suatu masyarakat yang terkait dengan nilai-nilai yang dianut saat ini ataupun nilai-nilai yang dijadikan pedoman.

Penggunaan kritik sosial yang bebas membuat siapa saja yang peka terhadap hal-hal melenceng di lingkungannya dapat menggunakan kritik sosial tersebut, baik sastrawan, seniman, akademisi maupun mahasiswa. Dengan kata lain, kritik sosial dapat diartikan sebagai

(23)

29

tindakan mengamati dan melihat perkembangan baik buruknya kualitas suatu lingkungan masyarakat. Sehingga dapat memberikan masukan- masukan atau inovasi baru untuk lingkungannya lebih baik lagi. Kritik sosial dapat digunakan untuk berbagai kepentingan baik ekonomi, politik, pendidikan dan lain-lain dengan menggunakan media yang beragam pula.

2.3.3 Twitter Sebagai Media Kritik Sosial

Setiap orang di Indonesia mampu menggunakan kritik sosial menjadi wadah bagi mereka menyalurkan pendapat. Beragamnya perbedaan dan latar belakang bagi para pengguna kritik sosial. Alat atau media yang digunakan pun berbeda-beda pula. Seperti pendapat Oksinata (2010), bahwa kritik sosial dapat disampaikan secara langsung maupun tidak langsung. Secara tidak langsung, kritik sosial dapat disampaikan melalui media. Media penyampaian kritik sosial beraneka ragam jenisnya, baik media konvensional maupun media online. Sedangkan kritik sosial yang dilakukan secara langsung, yaitu dengan cara unjuk rasa, mogok makan dan lain-lain.

Sependapat dengan Oksinata, menurut Harefa (2012), kritik sosial juga diekspresikan dalam bentuk seni dan fiksi lainnya, seperti karikatur, musik, drama, film. Kritik juga dapat melalui tanda-tanda atau tindakan- tindakan simbolis yang dilakukan sebagai bentuk ketidaksetujuan atau kecaman protes terhadap suatu keadaan masyarakat yang terjadi,

(24)

30

misalnya mogok kerja, mogok makan, yang merupakan bentuk demonstrasi atau unjuk rasa yang dilakukan secara massal.

Pendapat-pendapat diatas tidak jauh berbeda dengan ungkapan Mas’oed (1997, 49), dalam bukunya yang menjelaskan bahwa kritik sosial dapat disampaikan melalui berbagai wahana, mulai dari cara yang paling tradisional, seperti pepe (berjemur diri), ungkapan-ungkapan sindiran melalui komunikasi antarpersonal dan komunikasi sosial, melalui berbagai pertunjukan sosial dan kesenian dalam komunikasi publik, seni sastra dan melalui media sosial.

Dalam media sosial pun juga terdapat macamnya untuk menyampaikan kritik sosial. Media Sosial twitter contohnya, kritik sosial dapat disampaikan melalui berbagai wujud dan bentuk baik dalam foto, video, caption, maupun dalam kolom komentarnya. Banyak diantaranya seperti meme, komik, video dan poster. Jika pada mulanya kritik sosial menjadi sebuah hal yang ditakuti, namun melalui meme dan humor, kritik sosial dianggap aman diungkapkan karena dapat menjadi media kritik yang ringan, mengundang tawa namun tersirat memiliki makna- makna dibalik lucu yang ditawarkan.

2.3.4 Fungsi Kritik Sosial

Menurut Harmono dalam Mentari M.A (2015), tujuan awal dari kritik adalah memperbaiki secara nyata, sehingga terdapat perubahan yang lebih baik dan bisa lebih tertata rapi. Sejalan dengan pemikiran

(25)

31

Hamono, tulisan Ahmad Zaini Akbar dalam buku Mas’oed (1997), menjelaskan bahwa terdapat beberapa fungsi kritik sosial :

a. Kritik sosial sebagai kontrol terhadap jalannya sebuah sistem sosial atau proses bermasyarakat.

b. Kritik sosial sebagai wahana untuk konservasi dan reproduksi sebuah sistem sosial atau masyarakat.

c. Kritik sosial sebagai sarana komunikasi gagasan-gagasan baru sembari menilai gagasan-gagasan lama untuk suatu perubahan sosial.

d. Kritik sosial sebagai alat untuk membongkar berbagai sikap konservatif, status quo dan interest dalam masyarakat untuk perubahan sosial.

Selain untuk memperbaiki dan mengontrol proses bermasyarakat, mengenai proses baik dan buruk suatu lingkungan masyarakat, kritik sosial juga hadir menjadi alat yang digunakan untuk melestarikan, melindungi sistem sosial atau masyarakat. Kritik sosial dapat dipakai sebagai alarm ketika dalam proses bermasyarakat terdapat sesuatu yang ganjal, meski kadang tidak dilakukan secara terbuka, namun kritik sosial akan selalu ada mengiringi perkembangan proses bermasyarakat.

Kritik sosial sebagai sarana komunikasi dinilai menjadi hal penting.

Jika kritik sosial secara terbuka dapat terlihat langsung siapa saja yang ingin menyampaikan saran dan kritik mereka, namun dalam kritik sosial terselubung kita tidak semata-mata mengetahui siapa saja yang ingin menyampaikan kritik tersebut. Dengan adanya kritik sosial suara-suara

(26)

32

masyarakat yang tidak dapat tersalurkan akan diwadahi dalam sebuah kritik tersebut.

2.3.5 Jenis-Jenis Kritik Sosial

Menurut Harefa (2012), Kritik sosial dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yakni kritik yang dilakukan secara terbuka dan kritik yang dilakukan secara tertutup atau terselubung.

a. Kritik sosial secara terbuka berarti kegiatan penilaian, analisis atau kajian terhadap keadaan suatu masyarakat tertentu yang dilakukan secara langsung.

b. Sedangkan kritik sosial yang dilakukan secara terselubung dapat berupa tindakan-tindakan simbolis yang menyiratkan penilaian maupun terhadap keadaan sosial suatu masyarakat secara tidak langsung.

Sejalan dengan pendapat Harefa, Sepriana Yolandi Ataupah (2012), juga mengungkapkan hal yang sama dalam tulisannya. Jika kritik sosial dilakukan secara terbuka, artinya seseorang akan melakukan kritik sosial tersebut tanpa perantara, seperti melakukan demo mogok kerja, mogok makan dan lain-lain. Hal tersebut hingga saat ini masih dilakukan di Indonesia, namun sudah tidak sesering dulu.

Saat ini masyarakat lebih memilih melakukan kritik sosial dengan cara terselubung, perkembangan media menjadi alat yang empuk untuk mereka menyiratkan sindiran-sindiran dan kritik sosial. Sering dijumpai gambar-gambar komik di koran yang sebenarnya memiliki makna untuk menyampaikan kritik sosial, begitu pula gambar-gambar

(27)

33

meme di media sosial. Dibalik jenaka yang disuguhkan dalam meme tersebut, selalu ada kritik yang ingin disampaikan.

2.3.6 Bentuk Kritik Sosial

Menurut Soekanto (1990:395) dalam Anisa Octafinda Retnasih (2014, 38) masalah-masalah sosial yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, dapat membahayakan kehidupan kelompok sosial. Dalam keadaan normal terdapat hubungan yang sesuai antara lembaga-lembaga masyarakat (antara lain: rumah tangga, moral, politik, pendidikan, agama, kebiasaan, dan ekonomi). Namun apabila diantaranya terdapat keganjilan atau ketimpangan sosial antar aspek, maka akan timbul permasalahan sosial.

Masalah-masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat tersebut dapat dikurangi atau bahkan diatasi dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan mengemukakan kritik. Melalui kritik sosial, diharapkan dapat mengurangi masalah-masalah sosial yang terjadi di dalam masyarakat, sehingga keadaan yang ideal yang diharapkan dapat terwujud.

Berdasarkan masalah sosial diatas, maka Anisa Octafinda Retnasih (2014, 27) mengemukakan bahwa kritik sosial dapat dibagi menjadi sembilan aspek sesuai dengan masalah-masalah tersebut. meliputi politik, ekonomi, kebiasaan, pendidikan, keluarga, moral, gender, agama, dan teknologi.

a) Kritik Sosial Masalah Politik

(28)

34

Kritik sosial masalah politik merupakan kritik yang muncul seiring dengan terjadinya ketimpangan pada aspek-aspek politik yang meliputi pengaruh, kekuasaan, dan kewenangan. Ketimpangan bisa terjadi apabila pelaksanaan politik tidak dijalankan sesuai dengan porsi skala prioritas masing-masing aspek.

b) Kritik Sosial Masalah Ekonomi

Kritik sosial masalah ekonomi adalah kritik yang muncul akibat adanya ketimpangan ekonomi di masyarakat, misalnya pengangguran, tingginya harga bahan pokok, dan kurangnya lapangan pekerjaan. Adanya permasalahan tersebut menjadikan ekonomi sebagai prioritas untuk diperhatikan, berbeda lagi bila ekonomi telah mapan, maka yang menjadi prioritas bagi masyarakat bukan lagi faktor ekonomi, melainkan faktor lain, misalnya faktor budaya, moral, dan sebagainya.

c) Kritik Sosial Masalah Pendidikan

Kritik sosial masalah pendidikan merupakan kritik yang disebabkan adanya masalah yang terjadi oleh faktor pendidik dan anak didik itu sendiri. Masalah dari faktor pendidik antara lain: masalah kemampuan ekonomi, kemampuan pengetahuan dan pengalaman, kemampuan (skill), kewibawaan, kepribadian, attitude (sikap), sifat, kebijaksanaan, kerajinan, tanggung jawab, kesehatan, dan sebagainya.

Adapun permasalahan yang berasal dari faktor peserta didik sendiri meliputi: masalah kemampuan ekonomi keluarga, intelegensi, bakat dan

(29)

35

minat, pertumbuhan dan perkembangan, kepribadian, sikap, sifat, kerajinan dan ketekunan, pergaulan, dan kesehatan.

d) Kritik Sosial Masalah Kebudayaan

Kritik sosial masalah kebudayaan merupakan kritik yang muncul karena adanya masalah-masalah yang timbul akibat dari terjadinya penyimpangan-penyimpangan terhadap unsur-unsur kebudayaan.

e) Kritik Sosial Masalah Moral

Kritik sosial masalah moral adalah kritik yang bertujuan untuk menyampaikan nilai-nilai kebenaran dan mengkritik nilai-nilai moral yang tidak memperhatikan segi kemanusiaan, serta norma-norma yang ada dalam suatu masyarakat.

f) Kritik Sosial Masalah Keluarga

Kritik sosial masalah keluarga adalah kritik yang muncul akibat adanya perubahan atau hilangnya keharmonisan dalam keluarga. Hal tersebut muncul akibat adanya konflik sosial akibat adanya perbedaan pandangan atau faktor ekonomi.

g) Kritik Sosial Masalah Agama

Kritik sosial masalah agama adalah kritik yang muncul akibat lemahnya pondasi iman manusia, sehingga manusia tidak mampu untuk menjalankan perintah tuhan dan menjauhi larangannya, ketidakmampuan

(30)

36

tersebut dapat menimbulkan penyelewengan yang mengakibatkan masalah-masalah sosial.

h) Kritik Sosial Masalah Gender

Kritik sosial masalah gender merupakan kritik yang muncul akibat adanya penilaian laki-laki kepada wanita, bahwa peran wanita lebih rendah. Antara lain wanita dianggap lemah dan tidak bisa memimpin, serta wanita diposisikan di bawah laki-laki.

i) Kritik Sosial Masalah Teknologi

Kritik sosial masalah teknologi muncul karena masalah teknologi tersebut masih berhubungan dengan aspek ekonomi, dimana teknologi merupakan hal penting dalam perkembangan ekonomi, sehingga ketika teknologi suatu negara tidak dapat menyokong perkembangan ekonominya, maka disaat itulah kritik akan terjadi.

Kemudian menurut Aqsha (2011 : 27) secara lebih ringkas, kritik sosial dapat dibedakan menjadi lima aspek menurut bentuknya, diantaranya adalah:

a. Kritik Sosial Pembangunan

Kritik sosial pembangunan ini muncul karena terdapatnya permasalahan atau isu sosial tentang pembangunan, seperti tidak meratanya pembangunan, fasilitas umum kurang memadai, rusaknya fasilitas umum dan sebagainya. Kritik sosial

(31)

37

pembangunan dapat dicontohkan dengan tersedianya fasilitas umum di tempat-tempat yang seharusnya ada.

b. Kritik sosial hukum

Kritik sosial hukum terjadi karena adanya isu sosial hukum yang ada. Seperti terjadinya negosiasi hukum dan sebagainya.

Contohnya adalah adanya kasus penyuapan, korupsi, kasus kriminalitas dalam masyarakat sampai dengan kasus persidangan yang dinilai tidak adil.

c. Kritik sosial moral masyarakat

Kritik sosial masyarakat ini berawal dari adanya isu atau permasalahan sosial dalam kehidupan masyarakat. Dalam hal ini dapat dicontohkan dengan perilaku anarkis masyarakat, penipuan dalam masyarakat dan kerukunan dalam masyarakat. Hal tersebut dapat memicu sebuah kritik sosial moral masyarakat.

d. Kritik sosial agama

Kritik sosial agama ini berawal dari adanya isu sosial agama, seperti adanya indikasi pemanfaatan agama, adanya tekanan terhadap suatu agama dan sebagainya. Hal tersebut dicontohkan dengan adanya kerukunan umat beragama, aplikasi ajaran agama dan munculnya aliran-aliran agama yang baru.

e. Kritik sosial ekonomi

Kritik sosial ekonomi berawal dari adanya permasalahan sosial ekonomi yang ada, seperti masih banyaknya kemiskinan, adanya bantuan kemiskinan dan sebagainya. Dapat dicontohkan

(32)

38

dengan masih banyaknya keluarga miskin yang ada di Indonesia, adanya bantuan dari pemerintah kepada warga miskin, kesenjangan sosial pada masyarakat dan sulitnya masyarakat dalam menjangkau harga.

Pendapat-pendapat tersebut sejalan dengan pendapat Harsono Suwardi dalam Novy Eryanti (2012, 14) bahwa kritik sosial dapat ditinjau dari tema kritik sendiri, antara lain :

a. Kritik Sosial Politik

Segala hal yang berhubungan dengan pengaturan pemerintahan atau Tata Negara, termasuk kebijakan-kebijakan pemerintah terkait pemilihan umum, politik luar negeri, dan lain- lain.

b. Kritik Sosial Ekonomi

Terdapat tiga aspek di dalam masyarakat, diantaranya yaitu aspek produksi, distribusi, dan konsumsi barang dan jasa, keseimbangan antara tiga unsur tersebut harus merata. Sehingga terjadi keseimbangan antara kebutuhan dan persediaan dalam pemenuhan ekonomi masyarakat, serta kebijakan-kebijakan pemerintah atas masalah diatas seperti kebijakan moneter, perbankan, penanaman modal dan lain sebagainya.

c. Kritik Sosial Masalah Sosial

(33)

39

Segala hal yang menyangkut masalah sosial, seperti kualitas pendidikan, peran wanita, kemiskinan, keadilan, termasuk tindakan dan perilaku masyarakat, baik secara individual maupun organisasional, serta intelektual pers dan mahasiswa termasuk dalam kategori ini.

d. Kritik Sosial Budaya

Segala hal dalam masyarakat yang berhubungan dengan sistem, nilai, norma, gaya hidup, adat istiadat, kebiasaan serta kepercayaan.

e. Kritik Sosial Hukum

Segala hal dalam masyarakat yang menyangkut undang- undang, peraturan dan ketetapan formal. Hal-hal mengenai kriminalitas atau pelanggaran hukum peradilan, penyalahgunaan wewenang, korupsi dan semacamnya.

f. Kritik Sosial Agama

Semua hal yang berkaitan dengan nilai religius, atau tentang konsep dari kitab suci dan ajaran keagamaan. Termasuk pula kebijakan-kebijakan dari pemerintah ataupun lembaga yang berwenang lainnya yang berhubungan dengan keagamaan.

(34)

40 g. Kritik Sosial Militer

Semua yang berkaitan dengan militer atau TNI, termasuk sikap dan kebijakannya.

Dari beberapa pendapat diatas terdapat beberapa poin yang sama, namun dapat disimpulkan bahwa bentuk-bentuk kritik sosial cukup beragam, diantaranya : militer, agama, hukum, budaya, sosial, ekonomi, politik, teknologi, gender, keluarga, moral, pendidikan dan pembangunan. Dengan adanya aneka ragam bentuk kritik sosial tersebut, maka kritik sosial dapat dilakukan secara bebas oleh siapapun dengan media apapun.

Sehingga sasaran kritik sosial didalamnya juga akan beragam. Namun ketika siapapun diperbolehkan melakukan kritik, tetap saja harus mengerti dan memahami etika-etika sebelum melakukan kritik.

2.3.7 Pelaku Kritik Sosial

Menurut Mentari (2015, 4) tindakan mengkritik dapat dilakukan oleh siapapun termasuk sastrawan. Upaya penyampaian kritik bisa disampaikan secara lisan maupun tulisan. Tujuan awal kritik adalah memperbaiki secara nyata sehingga ada perubahan yang lebih baik dan bisa lebih tertata rapi. Karena manfaat kritik yang baik inilah maka memahami etika kritik sebelum melakukan kritik merupakan hal wajib diketahui oleh pelaku kritik, Harmono dalam Mentari (2015, 5)

(35)

41

menjelaskan bahwa pelaku kritik atau kritikus yang tidak mengetahui pokok etika kritik pasti akan melahirkan generasi asal bunyi.

Hal yang sama dikemukakan oleh Ataupah (2012, 9) bahwa kritik sosial sebagai suatu tindakan atau aktivitas sosial merupakan kegiatan membandingkan serta mengamati secara teliti dan melihat perkembangan secara cermat tentang baik atau buruknya kualitas masyarakat yang dapat dilakukan oleh siapapun, termasuk sastrawan maupun penulis secara umum. Sehingga pelaku kritik sosial merupakan dari siapapun yang mampu melakukan penyampaian kritik sosial tersebut dengan etika yang berlaku.

Kemudian Walzer (1985, 31) mengemukakan bahwa kritik adalah kegiatan eksternal, terdapat dua ciri kritikus yang paling memungkinkan.

Pertama, para kritikus harus terlepas secara emosional, terlepas dari ikatannya keintiman dan kehangatan keanggotaan (tidak tertarik dan tidak memihak). Kedua, para kritikus harus secara intelektual terpisah, direnggut lepas dari pemahaman parokial tentang masyarakat mereka sendiri (secara standar dianggap sebagai ucapan selamat diri sendiri) kemudian berpikiran terbuka dan objektif.

Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kritik sosial dapat dilakukan oleh semua orang, karena setiap orang memiliki pendapat masing-masing. Kritik sosial boleh dilakukan oleh sastrawan ataupun penulis secara umum. Namun seseorang yang akan melakukan kritik tidak diperbolehkan memihak dan harus berpikiran terbuka dan

(36)

42

objektif. Kritik sosial yang terdapat dilakukan oleh akun @NKR_Internet dilakukan dengan tidak memihak pihak manapun.

2.4 Humor

2.4.1 Definisi Humor

Menurut KBBI humor merupakan sesuatu yang lucu dan kondisi (dalam cerita atau lainnya) yang menggelikan hati, kejenakaan dan kelucuan. Sedangkan Eysenck dalam Utomo, 2009 berpendapat bahwa secara sederhana humor merupakan suatu hal yang lucu, apapun yang berhubungan dengan humor merupakan hal yang dapat membuat tertawa (fitriani dan hidayah. 2012 : 80)

Sedikit memiliki kesamaan dengan pendapat tersebut, Saraswati, (1998) dalam Syahrul (2013 : 14), mengemukakan bahwa di Indonesia humor dikenal sebagai rasa atau tanda-tanda yang merangsang kita secara mental untuk tertawa atau cenderung tertawa. Humor dapat berupa rasa, atau kesadaran di dalam diri (sense of humor) dan bisa berupa suatu gejala dari suatu hal yang diciptakan dari dalam maupun luar diri kita. Kemudian Martens memiliki pendapat yang sedikit berbeda, dalam fitriani dan hidayah (2012: 80), dijelaskan bahwa humor sebagai reaksi emosi ketika terjadi suatu hal yang tidak sesuai dengan harapan, namun reaksi emosi tersebut membawa kesenangan dan menghasilkan tawa.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa humor merupakan suatu hal yang mengundang tawa, baik melalui kesadaran diri ataupun efek lingkungan sekitar yang menghasilkan kebahagiaan. Humor

(37)

43

sering diciptakan dengan tujuan menghibur untuk menjadi selingan di antara fokus yang berlebihan.

2.4.2 Fungsi Humor

Menurut Setiawan (1990) dalam Rahmanadji (2007) humor berfungsi sebagai rekreasi. Hal tersebut berhubungan dengan bagaimana humor sangat berperan dalam menghilangkan kejenuhan-kejenuhan yang muncul akibat aktifitas sehari-hari yang bersifat rutin. Humor sebagai rekreasi hanya bersifat sebagai hiburan semata. Selain itu, disebutkan pula fungsi humor yang lebih mendalam, yaitu untuk menghilangkan stres akibat tekanan jiwa atau batin.

Hal serupa juga diungkapkan Hendarto (1990), dalam Rahmanadji (2007), bahwa fungsi humor yang sejak dulu familiar dalam masyarakat antara lain, sebagai pembijaksanaan orang dan penyegaran. Hal tersebut dimaksudkan agar mampu membuat orang lebih memusatkan perhatian untuk waktu yang lama.

Sedangkan hal yang sedikit berbeda disampaikan James Danandjaya dalam Suhadi (1989), bahwa fungsi humor yang paling menonjol, yaitu sebagai alat untuk menyalurkan perasaan yang menekan diri seseorang. Perasaan tersebut bisa disebabkan oleh berbagai macam hal, seperti ketidakadilan sosial, persaingan politik, ekonomi, suku bangsa atau golongan, dan kekangan dalam

(38)

44

kebebasan gerak atau kebebasan mengeluarkan pendapat.

(Rahmanadji 2007).

Ketika dihubungkan dengan komunikasi, Tiani (hal 174) dalam jurnalnya menyebutkan bahwa humor dapat berfungsi untuk menyegarkan suasana pada saat terjadi suatu komunikasi. Dalam kalimat-kalimat yang keluar sebagai humor, dapat menjadikan suasana tidak menegangkan, sehingga komunikasi akan menjadi lebih rileks. Selain itu juga dapat digunakan untuk menyindir, mengintimkan atau mengakrabkan persahabatan, dan menyampaikan sikap dan perasaan hati.

Pendapat yang tidak jauh berbeda diungkapkan oleh Siti Mulyani dalam Palupi (2014: 39) yang menyatakan bahwa fungsi utama humor dalam kehidupan masyarakat adalah sebagai sarana hiburan yang kemudian dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

a. Sebagai sarana penghibur dalam kehidupan masyarakat b. Sebagai sarana mengkritik atau mengejek. Kritik dalam

bahasa humor biasanya tidak bersifat langsung, dalam hal tersebut orang atau situasi yang dikritik tidak disebutkan secara langsung.

c. Sebagai sarana untuk menyampaikan atau menjelaskan sesuatu secara lebih populer atau menarik. Terkadang seseorang harus menjelaskan sebuah konsep yang tidak layak dijelaskan apa adanya kepada orang lain.

Sehingga untuk memudahkan dalam melakukan

(39)

45

penyampaian, digunakan umor yang masih berhubungan dengan topiknya.

Dari beberapa penjelasan mengenai fungsi-fungsi humor diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi humor secara umum adalah sebagai hiburan dan menjadi alat untuk menyampaikan hal serius yang ingin dikemas secara lebih ringan, dalam mengkritik contohnya.

2.4.3 Jenis Humor

Menurut Arwah Setiawan (1988) dalam Rahmanadji (2007 : 217- 218) sebagai bentuk ekspresi dalam kehidupan kita, humor dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :

a. Humor personal,

Humor yang muncul dengan kecenderungan tertawa pada diri sendiri, misalnya apabila melihat sebatang pohon yang bentuknya mirip orang sedang buang air besar;

b. Humor dalam pergaulan,

Sebagai contoh senda gurau di antara perkumpulan teman, atau kelucuan yang diselipkan dalam pidato di depan umum;

c. Humor dalam kesenian, atau seni humor.

Humor dalam kesenian masih dibagi menjadi seperti berikut.

(40)

46

a. Humor lakuan, misalnya: lawak, tari humor, dan pantomim lucu.

b. Humor grafis, misalnya: kartun, kari- katur, foto jenaka, dan patung lucu.

c. Humor literatur, misalnya: cerpen lucu, esei satiris, sajak jenaka, dan semacamnya.

Sedangkan Pramono (1983), memisahkn jenis-jenis humor menurut penampilan dan tujuan dibuatnya. Humor dapat digolongkan menjadi:

a. Humor menurut penampilannya, yang terdiri atas: humor lisan, humor tulisan/gambar, humor gerakan tubuh;

b. Humor menurut tujuan dibuatnya atau tujuan pesannya, terdiri atas: humor kritik, humor meringankan beban pesan, dan humor semata-mata pesan.

Jika didasarkan jenis-jenis humor sebagai bentuk ekspresi, akun instagram @Nurhadi_Aldo akan masuk menjadi bentuk ekspresi humor dalam seni. Sedangkan apabila menurut tujuan dibuatnya, akun tersebut termasuk dalam humor kritik.

2.4.4 Humor Sebagai Kritik Sosial (kritik sosial melalui humor)

Sujoko (1982 : 220) dalam Rahmanadji, mengemukakan bahwa di Indonesia kalangan mahasiswa gemar menggunakan humor sebagai sarana kritik sosial. Mahasiswa sebagai salah satu komponen masyarakat memiliki kepekaan yang lebih terhadap lingkungan. Pemikiran-pemikiran

(41)

47

mereka terhadap hal-hal ganjal sering mereka lontarkan melalui humor.

Hal tersebut sangat beralasan, karena sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia yang tidak suka apabila dikritik secara langsung.

Menurut Rahmanadji (2007 : 218), di negara Indonesia, kritik secara tidak langsung memiliki pengaruh yang lebih efektif dibandingkan protes atau kritik yang dilakukan secara langsung. Kritik yang disampaikan secara langsung sering menimbulkan kerugian tersendiri bagi yang melakukan, baik melalui tulisan ataupun aksi. Sedangkan melalui humor, kritik sosial tidak akan ditanggapi serius karena yang menyuarakan berlindung dibalik sebuah jenaka sama sekali tidak bertanggung jawab secara individu.

2.5 Kategorisasi

Harsono Suwardi dalam Novy Eryanti (2012, 14) bahwa kritik sosial dapat ditinjau dari tema kritik sendiri, antara lain :

a. Kritik Sosial Politik : Segala hal yang berhubungan dengan pengaturan pemerintahan atau Tata Negara, termasuk kebijakan- kebijakan pemerintah terkait pemilihan umum, politik luar negeri, dan lain-lain.

b. Kritik Sosial Ekonomi : Terdapat tiga aspek di dalam masyarakat, diantaranya yaitu aspek produksi, distribusi, dan konsumsi barang dan jasa, keseimbangan antara tiga unsur tersebut harus merata.

Sehingga terjadi keseimbangan antara kebutuhan dan persediaan

(42)

48

dalam pemenuhan ekonomi masyarakat, serta kebijakan-kebijakan pemerintah atas masalah diatas seperti kebijakan moneter, perbankan, penanaman modal dan lain sebagainya.

c. Kritik Sosial Masalah Sosial : Segala hal yang menyangkut masalah sosial, seperti kualitas pendidikan, peran wanita, kemiskinan, keadilan, termasuk tindakan dan perilaku masyarakat, baik secara individual maupun organisasional, serta intelektual pers dan mahasiswa termasuk dalam kategori ini.

d. Kritik Sosial Budaya : Segala hal dalam masyarakat yang berhubungan dengan sistem, nilai, norma, gaya hidup, adat istiadat, kebiasaan serta kepercayaan.

e. Kritik Sosial Hukum : Segala hal dalam masyarakat yang menyangkut undang-undang, peraturan dan ketetapan formal. Hal- hal mengenai kriminalitas atau pelanggaran hukum peradilan, penyalahgunaan wewenang, korupsi dan semacamnya.

f. Kritik Sosial Agama : Semua hal yang berkaitan dengan nilai religius, atau tentang konsep dari kitab suci dan ajaran keagamaan.

Termasuk pula kebijakan-kebijakan dari pemerintah ataupun lembaga yang berwenang lainnya yang berhubungan dengan keagamaan.

g. Kritik Sosial Militer : Semua yang berkaitan dengan militer atau TNI, termasuk sikap dan kebijakannya.

Referensi

Dokumen terkait

Sebagaimana dijelaskan dalam Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional bahwa Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah

Berdasarkan observasi lapangan diketahui bahwa distribusi cahaya di ruangan perpustakaan yang tidak merata disebabkan oleh: banyak ruangan dengan lampu yang mati, memancarkan

Rizalinda Sjahril, M.Sc., PhD. Rizalinda Sjahril, M.Sc., PhD. Flora normal tubuh manusia; 2). sterilisasi dan dekontaminasi dr. Lisa Tenriesa M., M.Med.Sc. Mikrobiologi

a) TTG bidang irigasi merupakan teknologi keirigasian yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sederhana, mudah dilaksanakan, murah biaya dan ramah lingkungan. b) Pelaksanaan

Sarana yang dibutuhkan untuk menunjang pelayanan kepada wisatawan antara lain seperti fasilitas umum (toilet), restaurant, ruang informasi, sarana transportasi di dalam

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan berdasarkan tingkat ketergantungan pasien terhadap perawat dan penggunaan

Efek samping yang paling sering timbul berupa intoleransi terhadap sediaan Efek samping yang paling sering timbul berupa intoleransi terhadap sediaan oral, dan ini sangat

Sejalan dengan itu, tujuan pendidikan progresivisme harus mampu memberikan keterampilan dan alat-alat yang bermanfaat untuk berinteraksi dengan lingkungan yang