Tingkat Kecemasan Pasien yang Menjalani Operasi Elektif Dinilai dengan Visual Analog Scale for Anxiety ( VAS-A)
di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan
TESIS
Oleh:
dr. Liani Rizky Hikmayanty NIM :167041021
Pembimbing I:
dr. Qadri Fauzi Tanjung, Sp.An, KAKV Pembimbing II:
dr. Cut Meliza Zainumi, M.Ked(An), Sp.An
PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK
DEPARTEMEN/SMF ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN 2020
Judul Tesis:
TINGKAT KECEMASAN PASIEN YANG MENJALANI OPERASI ELEKTIF DINILAI DENGAN VISUAL ANALOG SCALE FOR ANXIETY (VAS-A)
DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN
Nama Mahasiswa : dr. Liani Rizky Hikmayanty
NIM : 167041021
Program : Magister Kedokteran
Konsentrasi : Anestesiologi dan Terapi Intensif
Menyetujui,
Pembimbing I Pembimbing II
dr. Qadri Fauzi Tanjung, Sp.An, KAKV dr. Cut Meliza Zainumi, Mked (An) Sp.An
NIP. 1971111 200112 1002 NIP. 19830420 200801 2009
Ketua Program Studi Dekan
Magister Kedokteran Klinik
Dr.dr.Rodiah Rahmawaty Lubis, M.Ked(Oph), SpM(K) Dr.dr Aldy Safruddin Rambe Sp.S(K) NIP. 197604172005012002 NIP. 196605241992031002
Telah diuji pada tanggal : 23 Januari 2020
Penguji tesis :
Penguji I Penguji II
Prof. dr. Achsanuddin Hanafie, Sp. An, KIC, KAO dr. Yutu Solihat, Sp.An, KAKV
NIP. 19520826 198102 1001 NIP. 19580811 198711 1001
Penguji III
dr. Asmin Lubis, DAF, Sp.An, KAP, KMN
Mengetahui,
Ketua Departemen Ketua Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Anestesiologi dan Terapi Intensif FK USU – RSUP H. Adam Malik Medan FK USU – RSUP H. Adam Malik Medan
dr. Akhyar H. Nasution, Sp. An, KAKV Prof. dr. Achsanuddin Hanafie, Sp. An, KIC, KAO NIP. 19600701 198702 1 002 NIP. 19520826 198102 1 001
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahirabbil’alamin, dengan segala kerendahan hati dengan memanjatkan puji syukur serta doa saya sampaikan kehadirat ALLAH SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya telah memberikan kepada saya akal, hikmat dan pemikiran sehingga saya dapat menyelesaikan tesis ini, yang saya persembahkan sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan Magister dalam bidang Ilmu Anestesiologi dan Terapi Intensif di Fakultas kedokteran Universitas Sumatera Utara yang saya cintai dan banggakan.
Saya sangat menyadari bahwa dalam penulisan tesis ini masih banyak kekurangan, baik dari segi isi maupun penyampaian bahasa. Meskipun demikian, saya berharap dan besar keinginan saya agar kiranya tulisan ini dapat memberi manfaat dan menambah khasanah serta perbendaharaan dalam penelitian di bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara/ RSUP H. Adam Malik Medan, khususnya tentang
“ TINGKAT KECEMASAN PASIEN YANG MENJALANI OPERASI ELEKTIF DINILAI DENGAN VISUAL ANALOG SCALE ANXIETAS ( VAS
A ) DI RUMAH SAKIT UMUM HAJI ADAM MALIK MEDAN “
Dengan berakhirnya penulisan tesis ini, maka pada kesempatan ini pula, ijinkan saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga dan penghargaan setinggi – tingginya kepada yang terhormat: dr. Qadri F. Tanjung SpAn, KAKV dan dr. Cut Meliza, M.Ked (An), SpAn Atas kesediaannya sebagai pembimbing penelitian saya ini walaupun di tengah kesibukannya masih dapat meluangkan waktu dan dengan penuh perhatian serta kesabaran, memberikan bimbingan, saran dan pengarahan yang sangat bermanfaat kepada saya dalam menyelesaikan tulisan ini.
Pada kesempatan yang berbahagia ini perkenankanlah saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada :
Yang terhormat Bapak Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH., M.Hum, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Dr.
dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S (K) atas kesempatan yang telah diberikan kepada
iii
saya untuk mengikuti program Magister Kedokteran Klinik di bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Yang terhormat Kepala Departemen/ SMF Anestesiologi dan Terapi Intensif FK USU/ RSUP H. Adam Malik Medan, Dr. dr. Akhyar H. Nasution, SpAn, KAKV, Prof. dr. Achsanuddin Hanafie, SpAn. KIC. KAO sebagai Ketua Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif, terima kasih saya persembahkan oleh karena telah memberikan izin, kesempatan, ilmu dan pengajarannya kepada saya dalam mengikuti program Magister Kedokteran Klinik di bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif hingga selesai.
Yang terhormat guru – guru saya di jajaran Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif FK-USU / RSUP H. Adam Malik Medan : Prof. dr. Achsanuddin Hanafie, SpAn. KIC. KAO; dr. Hasanul Arifin SpAn. KAP. KIC; Dr. dr.
Nazaruddin Umar, SpAn. KNA; Dr. dr. Akhyar H. Nasution, SpAn. KAKV; dr.
Asmin Lubis, DAF, SpAn. KAP.KMN; dr. Ade Veronica HY, SpAn. KIC; dr.
Yutu Solihat, SpAn. KAKV; dr. Soejat Harto, SpAn. KAP; Dr. dr. Dadik W.
Wijaya, SpAn; dr. M. Ihsan, SpAn. KMN; dr Qodri F. Tanjung , SpAn. KAKV;
dr. Rommy F Nadeak, SpAn, KIC; dr. Rr. Shinta Irina, SpAn, KNA ; dr. Raka Jati P. M.Ked (An) SpAn,; dr. Bastian Lubis M.Ked (An) SpAn, KIC; dr. Wulan Fadine M.Ked (An) SpAn; dr. A. Yafiz Hasbi M.Ked (An) SpAn dan dr. Tasrif Hamdi M.Ked (An) SpAn, saya ucapkan terima kasih atas segala ilmu, keterampilan dan bimbingannya selama ini dalam bidang ilmu pengetahuan di bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif sehingga semakin menumbuhkan rasa percaya diri dan tanggung jawab saya terhadap pasien serta pengajaran dalam bidang keahlian maupun pengetahuan umum lainnya yang kiranya sangat bermanfaat bagi saya di kemudian hari. Kiranya Allah SWT memberkati guru – guru saya tercinta.
Sembah sujud dan rasa syukur saya persembahkan kepada orang tua tercinta, ayahanda : Lilik Prianto, S.Pd dan ibunda : Nurhariani, S.Pd saya sampaikan rasa hormat dan terima kasih saya yang tak terhingga serta penghargaan yang setinggi – tingginya atas doa dan perjuangannya yang tiada henti serta dengan siraman kasih sayang yang luar biasa yang telah diberikan
saya sehingga saya dapat menjadi pribadi yang dewasa, berakhlak dan memiliki landasan yang kokoh dalam menghadapi masalah kehidupan ini sehingga saya dapat menjadi anak yang berbakti kepada orang tua dan berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara. Dengan memanjatkan doa kehadirat Allah SWT ampunilah dosa kedua orang tua saya serta sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi saya sewaktu kecil. Terima kasih juga saya tunjukkan kepada adik- adik saya : Ade Liany Putri S.Pd dan M. Said Rinaldy, ST yang telah memberikan dorongan semangat selama saya menjalani pendidikan ini.
Yang tercinta teman – teman sejawat peserta pendidikan keahlian Anestesiologi dan Terapi Intensif khususnya . dr. Mirza, dr. Arie Budi, dr. Lysa, dr. Okky, dr. Gibson, dr. Sutan, dr. Alland, dr. Christian, dr. Andi, dr. Agus, dr Riza, dr. Edwin Saragih, SpBS dan dr. Dhyka M.Ked (Surg) yang telah bersama sama baik duka maupun suka, saling membantu sehingga terjalin rasa persaudaraan yang erat dengan harapan teman – teman lebih giat lagi sehingga dapat menyelesaikan studi ini. Semoga Allah SWT selalu memberkahi kita semua.
Kepada seluruh teman – teman, rekan – rekan dan kerabat, keluarga besar, pasien – pasien yang tidak dapat saya sebutkan namanya satu persatu yang senantiasa memberikan peran serta, dukungan moril dan materil kepada saya selama menjalani pendidikan, dari lubuk hati saya yang terdalam saya ucapkan banyak terima kasih.
Semoga segala bimbingan, bantuan, dorongan, petunjuk, arahan dan kerja sama yang diberikan kepada saya selama mengikuti pendidikan, kiranya mendapat berkah serta balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT.
Medan, Januari 2020 Penulis
(dr. Liani Rizky Hikmayanty)
v ABSTRAK
Pendahuluan: Insiden anxietas preoperatif memiliki angka insidensi yang masih tinggi, yang sebagian besar disebabkan oleh kurangnya pengetahuan atau informasi yang didapatkan, terkait dengan operasi yang akan dilakukan.
Tujuan: Untuk mengetahui tingkat kecemasan pasien yang menjalani operasi elektif dinilai dengan Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A)
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian studi analitik dengan desain cross- sectional. Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan (RSUP HAM) dari Oktober – November 2019. Total sampel yang diperoleh adalah dengan 72 pasien. Pengumpulan data menggunakan instrumen VAS-A.
Hasil: Dari hasil yang didapatkan bahwa nilai rerata VAS-A pada 72 pasien sebesar 4,14±1,9. Kelompok perempuan memiliki nilai rerata VAS A yang lebih tinggi (5,77±1,2) dibandingkan kelompok laki-laki (3,79±1,8) (p=0,001).
Kelompok ASA I memiliki nilai rerata VAS A yang lebih tinggi (5,06±1,9) dibandingkan dengan kelompok ASA II (3,79±1,8) (p=0,733). Pada kelompok general anestesi memiliki nilai rerata VAS A yang lebih tinggi (5,52±1,69) dibandingkan dengan kelompok laki-laki (3,69±1,4) (p=0,001). Pada kelompok operasi ortopedi memiliki nilai rerata VAS A yang lebih tinggi (5,27±1,77) dibandingkan dengan kelompok jenis operasi digestif, obstetric ginekologi dan bedah saraf yang memiliki nilai VAS A masing-masing 4,56±1,24; 4,35±1,57;
1,73±0,79 (p=0,001).
Kesimpulan: Pada penelitian ini didapatkan nilai rerata VAS-A pada 72 pasien sebesar 4,14±1,9 dengan derajat kecemasan ringan.
Kata Kunci: Anxietas preoperatif, kunjungan preoperatif, VAS-A
Introduction: The incidence of preoperative anxiety had a high incidence rate, which is largely due to lack of knowledge or information obtained, related to the operation to be performed.
Objective: To determine the level of anxiety of patients undergoing elective surgery assessed by Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A)
Method: This research was an analytic study with cross-sectional design. The study was conducted at the Adam Malik Central Haji General Hospital Medan (RSUP HAM) from October to November 2019. The total sample obtained was 72 patients. Data collection using the VAS-A instrument.
Results: From the results obtained that the mean value of VAS-A in 72 patients was 4.14 ± 1.9. The female group had a higher mean VAS A value (5.77 ± 1.2) than the male group (3.79 ± 1.8) (p = 0.001). The ASA I group had a higher mean VAS A value (5.06 ± 1.9) compared to the ASA II group (3.79 ± 1.8) (p = 0.733).
The general anesthesia group had a higher mean VAS A value (5.52 ± 1.69) compared to the male group (3.69 ± 1.4) (p = 0.001). The orthopedic surgery group had a higher mean VAS A value (5.27 ± 1.77) compared to the types of digestive, obstetric gynecological and neurosurgery operations which had a VAS A value of 4.56 ± 1.24 respectively 4.35 ± 1.57; 1.73 ± 0.79 (p = 0.001).
Conclusion: In this study, the mean value of VAS-A in 72 patients was 4.14 ± 1.9 with mild degree of anxiety.
Keywords: Preoperative Anxietas, preoperative visits, VAS-A
vii DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... ii
ABSTRAK ... v
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
DAFTAR SINGKATAN ... xiii
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan masalah ... 5
1.3 Tujuan Penelitian ... 6
1.3.1 Tujuan Umum ... 6
1.3.2 Tujuan Khusus ... 6
1.4 Manfaat Penelitian ... 6
1.4.1 Manfaat Bagi Klinisi dan Praktisi Kesehatan ... 6
1.4.2 Manfaat bagi manajemen rumah sakit ... 6
1.4.3 Manfaaat Bagi Peneliti ... 7
1.4.4 Manfaat Bagi Instansi Pendidikan ... 7
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kecemasan (Ansietas) ... 8
2.1.1 Definisi Kecemasan (Ansietas) ... 8
2.1.2 Patofisiologi Kecemasan (Ansietas) ... 11
2.1.3 Manifestasi Klinis Ansietas... 15
2.2 Premedikasi ... 17
2.3 Kunjungan Preoperatif ... 18
2.3.1 Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik ... 22 2.3.2 Faktor Komorbid yang berdampak selama tindakan Anestesi 24
2.6 Kerangka Teori ... 33
2.7 Kerangka Konsep ... 34
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Design Penelitian ... 35
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian ... 35
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 35
3.3.1 Populasi ... 35
3.3.2 Sampel ... 35
3.3.3 Teknik Pengambilan Sampel dan Besar Sampel ... 36
3.4 Variabel Penelitian ... 37
3.5 Definisi Operasional ... 37
3.6 Alur Penelitian ... 39
3.7 Prosedur Penelitian... 40
3.8 Prosedur Pengukuran Tingkat Kecemasan ... 40
3.9 Analisis Data ... 41
3.10 Etika Penelitian ... 41
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil ... 42
4.1.1 Karakteristik sampel ... 42
4.1.2 Hubungan tingkat kecemasan yang dinilai dengan VAS A dengan usia ... 44
4.1.3 Hubungan tingkat kecemasan yang dinilai dengan VAS A dengan jenis kelamin... 45
4.1.4 Hubungan tingkat kecemasan yang dinilai dengan VAS A dengan ASA ... 46
4.1.5 Hubungan tingkat kecemasan yang dinilai dengan VAS A dengan jenis anestesi ... 47
ix
4.1.6 Hubungan tingkat kecemasan yang dinilai dengan VAS A
dengan jenis operasi ... 47
4.2 Pembahasan... 48
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ... 51
5.1 Kesimpulan ... 51
5.2 Saran ... 51
DAFTAR PUSTAKA ... 52
LAMPIRAN ... 55
Halaman
Tabel 2.1 Standar Prosedur Operasional Perawatan Pre Operatif... 19
Tabel 2.2 Klasifikasi Status Fisik menurut ASA ... 22
Tabel 2.3 Kuesioner Patient Health Questtionaire-9 (PHQ-9) ... 27
Tabel 2.4 Interpretasi derajat depresi menurut PHQ-9 ... 28
Tabel 4.1 Karakteristik Sampel ... 42
Tabel 4.2 Distribusi Sampel Berdasarkan Kategori VAS-A ... 44
Tabel 4.3 Hubungan tingkat kecemasan yang dinilai dengan VAS A dengan jenis kelamin ... 45
Tabel 4.4 Hubungan tingkat kecemasan yang dinilai dengan VAS A dengan ASA 46 Tabel 4.5 Hubungan tingkat kecemasan yang dinilai dengan VAS A dengan jenis anestesi ... 46
Tabel 4.6 Hubungan tingkat kecemasan yang dinilai dengan VAS A dengan jenis operasi ... 47
xi
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Patofisiologi Ansietas ... 15
Gambar 2.2 Instrumen VAS-A (Williams, 2010)... 30
Gambar 2.3 Hasil uji validitas dan reliabilitas instrumen VAS-A dibandingkan dengan instrumen kecemasan standar STAI (Facco, 2013) ... 31
Gambar 2.4 Hasil uji sensitivitas dan spesifisitas instrumen VAS-A pada kurva ROC ... 32
Gambar 2.5 Kerangka Teori ... 33
Gambar 2.6 Kerangka Konsep ... 34
Gambar 3.1 Alur Penelitian ... 39
Gambar 3.2 Instrumen Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A) ... 41
Halaman
Lampiran 1. Curriculum Vitae ... 55
Lampiran 2. Jadwal Tahapan Penelitian ... 56
Lampiran 3. Lembar Observasi Pasien ... 57
Lampiran 4. Lembar Penjelasan Mengenai Penelitian ... 58
Lampiran 5. Formulir Inform Consent ... 60
Lampiran 6. Anggaran Penelitian... 65
xiii
DAFTAR SINGKATAN
ACC : American College of Cardiology AHA : American Heart Association
ASA : American Society of Anesthesiologists BCCE : asam β-Carboline-3-Carboxylic
BDI : Beck Depression Inventory CDAS : Corah's Dental Anxiety Scale
DSM : Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Depkes RI : Departemen Kesehatan Republik Indonesia
ECG : Electrocardiogram
GABA : γ-Aminobutyric Acid GABA-A : γ-Aminobutyric Acid tipe A GAD-7 : General Anxiety Disorder
GCS : Glasgow Coma Scale
HPA axis : Hipotalamus-Hipofisis-Adrenal KEPK : Komisi Etik Penelitian Kesehatan MCPP : Metachloro-Phenylpiperazine METs : Metabolic Equivalent
NGT : Nasogastric Tube
NIMH : National Institute of Mental Health PAK : Penyakit Areteri Koroner
PHQ-9 : Patient Health Questionnaire-9 PJK : Penyakit Jantung Koroner
PONV : Perioperative Nausea and Vomiting
PRIME-MD : Primary Care Evaluation of Mental Disorders
RSUP : Rumah Sakit Umum Pusat
STAI : Spielberger's State Trait Anxiety Inventory
USG : Ultrasonography
VAS : Visual Analogue Scale
VAS-A : Visual Analog Scale for Anxiety WHO : World Health Organization
1.1 Latar Belakang
Tindakan operasi atau pembedahan merupakan salah satu bentuk penanganan medis invasif yang dilakukan secara rutin di berbagai sentra pelayanan kesehatan. Berdasarkan data yang diperoleh dari World Health Organization (WHO), jumlah pasien dengan tindakan operasi mengalami peningkatan yang sangat signifikan dari tahun ke tahun. Tercatat di tahun 2011 terdapat 140 juta pasien di seluruh rumah sakit di dunia yang menjalani tindakan operasi, sedangkan pada tahun 2012 angka ini mengalami peningkatan menjadi 148 juta jiwa. Data di Indonesia sendiri menunjukkan tindakan operasi sepanjang tahun 2012 dilakukan pada sekitar 1,2 juta jiwa.
Pembedahan elektif maupun darurat merupakan suatu peristiwa komplek yang menegangkan, karena selain pasien mengalami gangguan fisik, dapat juga terjadi masalah psikologis. Salah satu reaksi emosional dari pasien yaitu kecemasan yang hampir selalu muncul dalam proses pembedahan. Kecemasan adalah suatu keadaan dimana pasien mengalami perasaan gelisah akibat ancaman atau penyebab yang tidak jelas yang dimanifestasikan dengan gejala fisiologis, emosional dan kognitif. Studi yang dilakukan oleh Bedaso (2019) mendapati bahwa dari 402 orang pasien yang terjadwal menjalani tindakan pembedahan di Ethiopia ditemukan kecemasan pada 47% pasien. Angka ini cukup tinggi yang menandakan bahwa kecemasan ditemukan pada hampir separuh pasien (Bedaso, 2019).
Berdasarkan analisa data WHO tahun 2007 di Amerika Serikat, dari 35.539 pasien bedah di unit perawatan intensif, didapati 8.922 pasien (25,1%) mengalami kondisi kecemasan dan 2.473 pasien (7%) mengalami kecemasan yang sangat berat sebelum operasi. Tingkat kecemasan praoperatif dapat terkait kecemasan akibat pembedahan, dan kecemasan akibat pembiusan. Suatu studi yang dilakukan oleh Mathhias (2012) di Srilanka pada 100 orang pasien pembedahan, ditemukan skor kecemasan terkait pembiusan adalah 4.63 ± 2.6, sedangkan skor kecemasan akibat pembedahan adalah 4.17 ± 2.5. Sungguh
2
mengejutkan bahwa ternyata kecemasan pasien justru lebih banyak diakibatkan oleh kekhawatiran terhadap pembiusan dan bukan karena pembedahan, terbukti dari skor kecemasan akibat pembiusan yang lebih tinggi dibandingkan kecemasan akibat pembedahan (Mathhias, 2012).
Kecemasan yang tinggi dapat memberikan efek dalam mempengaruhi fungsi fisiologis tubuh yang ditandai dengan adanya peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi nadi, peningkatan frekuensi nafas, ketakutan, mual/
muntah, gelisah, pusing, diaforesis, gemetar, sensasi rasa panas dan dingin. Dalam kondisi yang sangat berat, kecemasan dapat mengakibatkan naiknya tonus simpatis sampai pada titik yang dapat mempengaruhi kondisi umum pasien, misalnya kadar gula darah yang melambung tinggi, eksaserbasi dari penyakit paru kronis yang ada selama ini, atau bahkan aritmia kordis (Mathhias, 2012).
Konsekuensi dari anxietas perioperatif terutama terjadi pada kejadian kardiak (Cardiac Event) seperti infark miokard akut, gagal jantung, edema paru, tingkat penerimaan kembali setelah tindakan operasi (6 bulan pertama, 1 tahun), dan kualitas hidup yang buruk. Dampak berkorelasi dengan rasa sakit pasca operasi yang tinggi, peningkatan konsumsi analgesik dan anestesi, lama tinggal di rumah sakit, pengaruh buruk selama induksi anestesi dan pemulihan pasien dan menurunkan kepuasan pasien dengan pengalaman perioperative (Székely et al., 2007).
Cemas berbeda dengan rasa takut. Karakteristik rasa takut adalah adanya suatu objek sumber yang spesifik dan dapat diidentifikasi serta dapat dijelaskan oleh individu sedangkan kecemasan diartikan sebagai suatu kebingungan, kekhawatiran pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebab atau objek yang tidak jelas dan dihubungkan dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya.
Sebagai contoh kekhawatiran menghadapi operasi/ pembedahan (misalnya takut sakit waktu operasi, takut terjadi kecacatan), kekhawatiran terhadap anestesi/
pembiusan (misalnya takut terjadi kegagalan anestesi/ meninggal, takut tidak bangun lagi) dan lain-lain (Friedman, 2010).
Kecemasan ini perlu mendapat perhatian dan intervensi karena keadaan emosional pasien yang tidak stabil akan berpengaruh kepada fungsi tubuh pasien menjelang operasi. Kecemasan yang tinggi dapat memberikan efek dalam
mempengaruhi fungsi fisiologis tubuh yang ditandai dengan adanya peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi nadi, peningkatan frekuensi napas, ketakutan, mual/ muntah, gelisah, pusing, diaforesis, gemetar, sensasi rasa panas dan dingin. Selain itu adanya Kecemasan sebelum operasi dan intraoperative merupakan sering terjadi dalam anestesi ketika operasi, di mana usia, ras, jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, pendapatan, dan riwayat operasi sebelumnya juga mempengaruhi. tanda-tanda tersebut tidak jarang membuat tindakan pembedahan (khususnya pembedahan elektif) ditunda oleh dokter.
Penelitian Skala Analog Visual Kecemasan Preoperatif Amsterdam (APAIS) Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale, yang dilakukan oleh Joaquin Hernandez (2015), memberikan pengukuran sederhana dan dapat dipakai untuk mengukur tingkat kecemasan preoperatif pada pasien yang sedang atau akan melakukan tindakan bedah jantung, di mana pada penelitian ini dilakukan dengan 300 pasien (25% wanita dan 75% pria). Selain itu, 40% pasien memiliki ASA status fisik III dan 60% menunjukkan skor ASA sebesar IV. Dalam wawancara, 94% dari pasien menunjukkan kecemasan preoperatif (VAS-A> 0), dengan 37% hasil kecemasan tinggi level (VAS-A ≥ 7).
Perasaan cemas ini hampir selalu didapatkan pada pasien preoperatif yang sebagian besar disebabkan oleh kurangnya pengetahuan atau informasi yang didapatkan, terkait dengan operasi yang akan dilakukan. Hal ini bisa disebabkan oleh kurangnya daya pengingat, salah interprestasi informasi tentang operasi atau tidak akrab dengan sumber informasi. Pengukuran kecemasan secara objektif relatif sulit dilakukan. Oleh karena itu, banyak peneliti mencoba menyusun suatu instrumen penilaian kecemasan yang dapat mengukur tingkat kecemasan seorang pasien. Berbagai instrumen pengukuran kecemasan yang berhasil dikembangkan diantaranya Corah's Dental Anxiety Scale (CDAS), Spielberger's State Trait Anxiety Inventory (STAI), Beck Depression Inventory (BDI) dan Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A). Dari kesemua instrumen tersebut, metode pengukuran kecemasan dengan menggunakan VAS-A dinilai paling mudah, sederhana dan dapat dipahami oleh pasien. VAS-A juga terbukti telah teruji validitas dan reliabilitasnya untuk mengukur tingkat kecemasan pasien sehingga dapat digunakan dalam keseharian (Facco, 2013).
4
Cemas dalam operasi mungkin dapat dikurangi dengan cara mengetahui lebih banyak tentang kelainan yang pasien derita, sehingga pasien yakin kalau operasi merupakan jalan terbaik untuk mengatasi masalah. Sebenarnya, operasi tidak lagi menjadi hal yang menakutkan apalagi jika dikaitkan dengan rasa sakit.
Pasalnya menjelang operasi pasien akan terbebas dari rasa sakit akibat kerja obat- obat anestesi. Keyakinan pasien biasanya akan sedikit berkurang jika mendapatkan informasi tambahan dari orang lain yang pernah menjalani operasi yang sama. Jika dengan semua itu kekhawatiran masih juga menyelimuti tentu dokter bedah dan anestesi dapat menjadi tumpuan untuk bertanya (Friedman, 2010).
Sayangnya pemberian informasi yang holistik pada pasien yang akan menjalani pembedahan masih sangat minimal. Penelitian yang dilakukan Homzova (2015) pada pasien preoperatif, ditemukan bahwa pasien membutuhkan berbagai macam tipe informasi. Pasien tersebut kebanyakan membutuhkan informasi tentang tanda dan gejala penyakit yang dialami, komplikasi pasca operasi, efek prosedur operasi pada perubahan gaya hidup, efek operasi 24-48 jam pertama, alasan mengapa dokter menyarankan dilakukan operasi, bagaimana dokter melakukan tindakan operasi, kewajiban administrasi yang harus dipenuhi pasien saat berada di Rumah Sakit dan obat-obat yang dapat mempercepat penyembuhan.
Kunjungan preoperatif merupakan suatu upaya untuk mempersiapkan pasien pada kondisi fisiologis dan mental yang optimal guna menurunkan aangka kejadian morbiditas dan mortalitas yang dapat diakibatkan oleh tindakan bedah dan anestesi. Kunjungan preoperatif dilakukan pada satu hari sebelum jadwal dilakukannya tindakan operasi, dimana persetujuan untuk melanjutkan tindakan operasi hanya diberikan pada pasien yang benar-benar dinyatakan dalam kondisi optimal untuk dilakukan tindakan anestesi. Kunjungan preoperatif juga berguna untuk membina hubungan baik dengan pasien, mengetahui riwayat anestesi, riwayat penyakit dan pengobatan terdahulu, menilai risiko anestesi dan pembedahan, serta merencanakan obat premedikasi, obat anestesi dan pengelolaan anestesi yang sesuai dengan kondisi pasien, dan diakhiri dengan penandatangan
lembar persetujuan setelah penjelasan (informed consent) dan persetujuan tindakan anestesi.
Kunjungan preoperatif juga menjadi media dimana dokter anestesi dapat memberikan informasi seluas-luasnya mengenai gambaran tindakan anestesi yang akan diberikan kepada pasien di keesokan harinya. Menurut Szekely, (2007) informasi yang diberikan saat kunjungan preoperatif bertujuan meningkatkan kemampuan adaptasi pasien dalam menjalani rangkaian prosedur pembedahan sehingga pasien diharapkan lebih kooperatif, berpartisipasi dalam perawatan paska operasi, dan mengurangi resiko komplikasi paska operasi (Jeanne, 2016).
Persiapan pra operasi pada pasien yang akan menjalani elektif dan prosedur bedah atau diagnostik adalah bagian yang sangat penting dalam tahapan operasi. Ahli anestesi bertanggung jawab untuk mengoptimalkan persiapan operasi pasien untuk meminimalkan komplikasi anestesi. Manajemen preoperatif pada pasien membutuhkan berbagai obat tambahan dan juga keahlian. Literatur merekomendasikan penggunaan beberapa jenis obat saja. Ahli anestesi diharapkan melihat pasien sebelum dan sesudah tindakan operasi, Sampai setelah pasien kembali dengan selamat ke ruang rawatan dan dalam pemulihan dari efek anestesi pembedahan, dalam hal ini sebaiknya diawasi oleh ahli anestesi.
Pemahaman yang komprehensif yang diberikan oleh tim dokter yang profesional dan terpercaya tentunya diharapkan mampu menurunkan tingkat kecemasan pasien dalam menghadapi operasi di keesokan harinya. Meski demikian, studi yang meneliti pengaruh kunjungan preoperatif terhadap tingkat kecemasan pasien jumlahnya masih sangat sedikit, terlebih lagi di Indonesia pada umumnya dan di Medan secara khusus. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengaruh kunjungan preoperatif terhadap tingkat kecemasan pasien yang menjalani operasi elektif dinilai dengan Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A), khususnya di kota Medan.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas, masalah pada penelitian ini adalah bagaiamana tingkat kecemasan pasien yang menjalani operasi elektif dinilai dengan Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A).
6
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui tingkat kecemasan pasien yang menjalani operasi elektif dinilai dengan Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A).
1.3.2 Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah:
1. Untuk melihat distribusi frekuensi tigkat kecemasan yang dinilai dengan VAS-A berdasarkan usia.
2. Untuk melihat distribusi frekuensi tigkat kecemasan yang dinilai dengan VAS-A berdasarkan PS-ASA.
3. Untuk melihat distribusi frekuensi tigkat kecemasan yang dinilai dengan VAS-A berdasarkan jenis kelamin.
4. Untuk melihat distribusi frekuensi tigkat kecemasan yang dinilai dengan VAS-A berdasarkan teknik anestesi.
5. Untuk melihat distribusi frekuensi tigkat kecemasan yang dinilai dengan VAS-A berdasarkan jenis operasi.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat diantaranya:
1.4.1 Manfaat Bagi Klinisi dan Praktisi Kesehatan
a. Memberikan informasi khususnya bagi dokter spesialis Anestesi mengenai pentingnya kunjungan preoperatif terhadap pasien yang akan menjalani operasi elektif di RSUP Haji Adam Malik Medan
b. Memberikan gambaran umum mengenai tingkat kecemasan yang dihadapi pasien yang akan menjalani tindakan operasi di RSUP Haji Adam Malik Medan.
1.4.2 Manfaat Bagi Manajemen Rumah Sakit
Sebagai data tentang tingkat kecemasan pasien yang menjalani operasi elektif di RSU Haji Adam Malik Medan.
1.4.3 Manfaat Bagi Penelitian
Sebagai sarana untuk meningkatkan pengetahuan tentang kecemasan pasien yang menjalani operasi elektif dengan skor VAS A.
1.4.4 Manfaat Bagi Instansi Pendidikan
a. Menambah dan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan tentang tingkat kecemasan pasien yang dinilai dengan skor VAS A
b. Memberikan data-data yang berguna menunjang penelitian lain di kemudian hari untuk topik yang berkaitan dengan kunjungan pre operatif
8 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kecemasan (Anxietas)
2.1.1 Definisi Kecemasan (Anxietas)
Kecemasan adalah gangguan alam perasaan, ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan, tanpa disertai adanya gangguan dalam menilai realitas, kepribadian masih tetap utuh, perilaku dapat terganggu tetapi masih dalam batas-batas normal (NIMH, 2015). Kecemasan adalah perasaan tidak jelas, subyektif dan tidak spesifik (Duko et al, 2015). Anxietas adalah hal yang normal di dalam kehidupan karena anxietas sangat dibutuhkan sebagai pertanda akan bahaya yang mengancam.
Anxietas dikarakteristikkan lebih lazim sebagai suatu sensasi yang difus, tidak menyenangkan, samar-samar akan rasa ketakutan terhadap sesuatu yang akan terjadi, sering disertai dengan gejala autonomik seperti sakit kepala, berkeringat, dada berdebar, sesak di dada, ketidaknyamanan ringan di perut, dan gelisah; diindikasikan oleh ketidakmampuan untuk duduk atau berdiri dalam waktu yang lama. Kumpulan gejala khusus ini muncul selama anxietas dan cenderung bervariasi pada beberapa orang (Langer, 2014).
Anxietas dikonseptualisasi sebagai respons normal dan adaptif yang mempengaruhi kualitas hidup, dan memperingatkan tubuh akan ancaman kerusakan tubuh, nyeri, keadaan tak berdaya, atau rasa frustasi akan kebutuhan tubuh atau sosial; perpisahan dengan orang tercinta; ancaman terhadap kesuksesan atau status seseorang; dan akhirnya ancaman terhadap kesatuan atau keseluruhan.
Anxietas akan mendorong seseorang untuk mengambil langkah yang diperlukan untuk mencegah ancaman atau mengurangi konsekuensi. Persiapan ini disertai oleh peningkatan aktivitas otonomik dan somatik yang dikendalikan oleh interaksi dari sistem saraf simpatetik dan parasimpatetik.
Soewandi (1997) menyatakan bahwa umur yang lebih muda lebih mudah menderita stress dari pada umur tua. Hal ini sesuai dengan Hamilton (1995) bahwa usia muda cenderung lebih stress dibanding dengan usia tua.
Selain faktor umur, pendidikan memiliki peranan penting yang mempengaruhi tingkat kecemasan seseorang. Tingkat pendidikan seseorang berpengaruh dalam memberikan respon terhadap sesuatu yang datang baik dari dalam maupun dari luar. Orang yang berpendidikan tinggi akan memberikan respon yang lebih rasional dibandingkan mereka yang berpendidikan lebih rendah atau mereka yang tidak berpendidikan (Raystone, 2005). Tingkat pendidikan akan berpengaruh dalam memberikan respon terhadap sesuatu yang datang dari luar.
Tinggi rendahnya pendidikan seseorang mempengaruhi daya serap pengetahuan (Sukmadinata, 2003). Dengan demikian tingkat pendidikan seseorang tetap saja memiliki pengaruh respon yang ditimbulkan oleh seseorang terhadap informasi yang diperoleh (Sukmadinata, 2003).
Faktor lain yang dapat mempengaruhi kecemasan seseorang adalah pengalaman. Menurut Kozier (2004) Pengalaman masa lalu individu dalam menghadapi kecemasan dapat mempengaruhi individu ketika menghadapi stressor yang sama karena individu memiliki kemampuan beradaptasi/ mekanisme koping yang lebih baik, sehingga tingkat kecemasan pun akan berbeda, dapat menunjukan tingkat kecemasan yang lebih ringan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman masa lalu seseorang dalam menghadapi stressor yang sama dapat menunjukkan kemampuan mekanisme koping yang berbeda, sehingga tingkat kecemasannya pun berbeda antara seseorang yang telah mempunyai riwayat pembedahan sebelumnya dengan seseorang yang tidak mempunyai pengalaman pembedahan sebelumnya.
Kemungkian faktor penyebab kecemasan yang lain adalah status sosial ekonomi. Menurut Stuart & Sudeen (1998), semakin rendahnya status ekonomi seseorang maka akan menyebabkan orang tersebut mudah mengalami kecemasan.
Jenis pekerjaan erat kaitannya dengan pendapatan seseorang. Semakin banyak responden yang tidak bekerja biasanya tingkat penghasilannya pun juga rendah.
Pasien sebagai ibu rumah tangga biasanya cenderung lebih sering dirumah dan kurang bergaul dengan dunia luar sehingga informasi yang didapat mengenai berbagai hal termasuk pembedahan pun lebih sedikit, sehingga tingkat kecemasan pasien akan muncul pada saat akan menjalani pembedahan. Ibu yang bekerja biasanya memiliki intensitas diluar rumah lebih banyak sehingga akan
10
mempunyai akses lebih besar pula untuk mendapatkan informasi (Depkes RI, 2003).
Aryani (2009) menyebutkan bahwa pasien preoperatif pada pembedahan mayor mengalami tingkat kecemasan sedang, meskipun jenis operasinya berbeda.
Hal ini dikarenakan tindakan pembedahan merupakan salah satu faktor eksternal yang akan mempengaruhi tingkat kecemasan seseorang (Stuart & Sudeen, 1998).
Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat menyebabkan terjadinya penundaan operasi dan mengganggu proses penyembuhan. Hal ini dikarenakan manifestasi klinis dari respon fisiologis cemas menyebabkan tidak normalnya fungsi fisiologis organ-organ tubuh seperti sistem kardiovaskular, sistem pernafasan, sistem gastrointestinal, sistem neuromuskular, sistem urogenitalia, sistem endokrin, dan lain-lain (Dadang Hawari, 2008).
Penurunan atau pengurangan tingkat kecemasan sebenarnya tergantung pada pasien yang akan menjalani operasi. Bila pasien mampu mengontrol dan mengendalikan persepsinya terhadap operasi yang akan dijalani, maka dapat memberikan ketenangan tersendiri. Ketenangan juga bisa didapatkan dari tingkat kecerdasan spiritual atau sering disebut sebagai kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual merupakan kapasitas dari otak manusia yang memberi kemampuan dasar untuk membentuk makna, nilai, dan keyakinan. Keyakinan tersebut yang akan membentuk pikiran bawah sadar yang selanjutnya akan menimbulkan energi yang dapat meningkatkan ketenangan dalam menghadapi sesuatu (Ary Ginanjar Agustin, 2006).
Kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan. Terdapat hubungan yang kuat antara kecemasan dengan kecerdasan spiritual pada diri seseorang. Adanya hubungan antara tingkat kecerdasan spiritual dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi dipengaruhi oleh banyak faktor seperti usia, latar belakang pendidikan, dan faktor lingkungan dari seseorang itu sendiri. Dengan mempunyai umur yang cukup dan matang, kemampuan seseorang untuk berfikir akan sesuatu hal akan semakin matang pula. Demikian pula dengan latar belakang pendidikan. Dengan mempunyai pendidikan yang cukup maka seseorang akan mampu untuk bertindak lebih positif dalam menghadapi suatu permasalahan dibandingkan dengan
seseorang yang mempunyai latar belakang pendidikan lebih rendah. Hal ini dikarenakan lembaga pendidikan mampu memberikan suatu pengaruh dalam pembentukan sikap seseorang. Dengan mempunyai usia yang cukup matang dan latar belakang pendidikan yang cukup maka secara tidak langsung akan menjadikan seseorang mempunyai kecerdasan spiritual yang tinggi. Hal ini dikarenakan dengan mempunyai usia dan pendidikan yang cukup menjadikan seseorang akan termotivasi untuk mendapatkan informasi yang lebih dibandingkan dengan seseorang dengan usia yang belum cukup umur dan tidak mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup pula. Dengan mendapatkan informasi yang cukup, maka mampu menjadikan dan membentuk kepribadian seseorang menuju manusia yang seutuhnya. Pasien yang mempunyai keimanan/
kecerdasan spiritual yang baik, cenderung lebih berhasil dalam menjalani proses operasi dibandingkan dengan pasien yang mempunyai kecerdasaan spiritual yang kurang. Meskipun terjadi kecemasan dalam diri, namun kecemasan yang muncul dapat ditekan dengan adanya kepercayaan yang tinggi terhadap keagungan dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.
2.1.2 Patofisiologi Kecemasan (Anxietas)
Terdapat beberapa teori yang mendasari kecemasan ditinjau dari kontribusi 2 ilmu, yaitu ilmu psikologi dan ilmu biologi. Teori psikologi menerangkan kecemasan melalui konsep emosional dan sosial budaya, sedangkan teori biologi lebih menekankan pada peranan neurotramistter dalam tubuh (Saddock, 2010).
1. Teori Psikologi a. Teori Psikoanalitik
Definisi Freud, kecemasan dipandang sebagai hasil dari konflik psikis antara keinginan seksual atau agresif sadar dan ancaman sesuai dari realitas superego atau eksternal. Dalam menanggapi sinyal ini, ego mengerahkan mekanisme pertahanan untuk mencegah pikiran dan perasaan yang tidak dapat diterima dari muncul dalam kesadaran.
12
b. Teori Perilaku
Teori-teori perilaku atau belajar dari kecemasan mendalilkan bahwa kecemasan merupakan respon terkondisi terhadap rangsangan lingkungan tertentu.
c. Teori Eksistensial
Konsep utama teori eksistensial adalah bahwa orang-orang mengalami perasaan hidup di alam semesta tanpa tujuan. Kecemasan merupakan respon mereka terhadap kekosongan yang dirasakan dalam keberadaan dan makna.
2. Teori Biologis
a. Peranan Sistem Saraf Otonom
Sistem saraf otonom dari beberapa pasien dengan gangguan kecemasan, terutama mereka dengan gangguan panik, menunjukkan nada simpatik meningkat, beradaptasi perlahan terhadap rangsangan berulang, dan merespon berlebihan terhadap rangsangan moderat.
b. Neurotransmitter
Terdapat tiga neurotransmitter utama yang terkait dengan kecemasan pada basis studi hewan dan respons terhadap terapi obat, yaitu norepinefrin (NE), serotonin, dan gamma-aminobutyric acid (GABA).
Ø Norepinefrin
Teori umum tentang peran norepinefrin pada gangguan kecemasan adalah bahwa pasien yang terkena mungkin memiliki sistem noradrenergik yang kurang baik yang ditandai dengan adanya aktivitas lonjakan kadar norepinefrin sewaktu waktu (surge). Gejala kronis pasien dengan gangguan cemas, seperti serangan panik, kesulitan untuk tidur, mengejutkan, dan autonomic hyperarousal, adalah karakteristik noradrenergik yang meningkat.
Ø Serotonin
Beberapa laporan menunjukkan bahwa metachloro-phenylpiperazine (MCPP), yaitu suatu obat obat serotonergik, dan fenfluramine (Pondimin), mampu menyebabkan pelepasan serotonin, yang terbukti menimbulkan peningkatan kecemasan pada pasien dengan gangguan kecemasan.
Ø GABA
Dari beberapa studi yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa beberapa pasien dengan gangguan kecemasan memiliki fungsi abnormal reseptor GABA mereka, meskipun hipotesa ini masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut.
Sebuah peran dari GABA pada gangguan cemas adalah sebagian besar didukung oleh keefektifan dari benzodiazepine, yang meningkatkan aktivitas dari GABA pada reseptor GABA tipe A (GABA-A), dalam penanganan dari beberapa bentuk gangguan cemas. Walaupun benzodiazepine potensi-rendah adalah paling efektif untuk gejala gangguan cemas pada umumnya, potensi-tinggi benzodiazepine, seperti alprazolam (Xanax), dan clonazepam efektif dalam penanganan gangguan panik.
Penelitian membuktikan bahwa susunan saraf otonom memperlihatkan gejala gangguan cemas yang diinduksi ketika satu benzodiazepine invers agonist, asam β -carboline-3-carboxylic (BCCE) diberikan. BCCE juga dapat menyebabkan anxietas. Antagonis benzodiazepin, flumazenil (Romazicon), menyebabkan serangan panik yang sering pada pasien dengan gangguan panik. Data ini memberikan hipotesa bahwa beberapa pasien dengan gangguan cemas mempunyai fungsi abnormal dari reseptor GABA- A mereka, walaupun hubungan ini sudah tidak diperlihatkan secara langsung (Saddock, 2010).
c. Konsep Neuroanatomi
Lokus seruleus dan proyek inti raphe terutama ke sistem limbik dan korteks serebral. Dalam kombinasi dengan data dari studi pencitraan otak, daerah ini telah menjadi fokus dari banyak hipotesa tentang pembentukan substrat neuroanatomi dari gangguan kecemasan. Dua bidang sistem limbik telah menerima perhatian khusus dalam literatur: peningkatan aktivitas di jalur septohippocampal, yang dapat menyebabkan kecemasan.
Korteks serebral frontal terhubung dengan wilayah parahippocampal, cingulate gyrus, dan hipotalamus dan, dengan demikian, mungkin terlibat dalam produksi gangguan kecemasan. Korteks temporal juga telah terlibat sebagai situs patofisiologi pada gangguan kecemasan.
14
Jika stres menyebabkan keseimbangan terganggu, maka tubuh kita akan melalui serangkaian tindakan (respons stres) untuk membantu tubuh mendapatkan kembali keseimbangan. Perjuangan untuk mempertahankan keseimbangan ini disebut sebagai sindrom adaptasi umum. Ini adalah cara tubuh bereaksi terhadap stres dan untuk membawa kembali sistem tubuh ke keadaan yang seimbang.
Tahapan salah satu responnya disebut fase alarm, yang dicirikan oleh aktivasi langsung dari sistem saraf dan kelenjar adrenal. Berikutnya fase resistensi, yang ditandai dengan aktivasi hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA) axis. HPA axis adalah sistem terkoordinasi dari tiga jaringan endokrin yang mengelola respon kita terhadap stres (Tsigos et al. 2000).
HPA adalah bagian utama dari sistem neuroendokrin yang mengendalikan reaksi terhadap stres dan memiliki fungsi penting dalam mengatur berbagai proses tubuh seperti pencernaan, sistem kekebalan tubuh dan penggunaan energi. Sedikit saja kenaikan kortisol akan menyebabkan lonjakan energi untuk alasan bertahan hidup, peningkatan fungsi memori;
semburan lebih rendah meningkatkan kekebalan dan kepekaan terhadap rasa sakit. Masalah terjadi ketika kita meminta tubuh kita bereaksi terlalu sering atau dengan perlawanan yang berlebihan, baik dari yang dapat mengakibatkan meningkatnya kadar kortisol. Ketika stres diulangi atau konstan, kadar kortisol meningkat dan tetap tinggi, menyebabkan fase ketiga dari sindrom adaptasi umum yang tepat disebut sebagai overload. Pada tahap overload, sistem tubuh mulai memecah dan risiko penyakit kronis meningkat secara signifikan (Tsigos et al. 2000).
Gambar 2.1 Patofisiologi anxietas (Tsigos et al. 2000)
d. Peranan Genetik
Penelitian genetik telah menghasilkan bukti kuat bahwa setidaknya beberapa komponen genetik berkontribusi terhadap perkembangan gangguan kecemasan. Faktor herediter telah diakui sebagai faktor predisposisi dalam pengembangan gangguan kecemasan. Hampir setengah dari semua pasien dengan gangguan panik memiliki setidaknya satu kerabat yang terkena dampak.
2.1.3 Manifestasi Klinis Anxietas
Gejala-gejala kecemasan meliputi rasa khawatir, tidak tenang, ragu, bimbang, memandang masa depan dengan was-was, kurang percaya diri, gugup apabila tampil di depan umum, sering merasa tidak bersalah dan menyalahkan orang lain, tidak mudah mengalah, tidak tenang bila duduk, sering kali mengeluh, khawatir berlebihan terhadap penyakit, mudah tersinggung, suka membesarkan masalah yang kecil, sering merasa ragu dalam mengambil keputusan, bila
16
bertanya sesuatu sering kali berulang-ulang, jika sedang emosi sering bertindak histeris (NIMH, 2015).
Kecemasan dianggap sebagai respon normal ketika kecemasan itu disebabkan oleh adanya ancaman yang diketahui. Apabila individu mampu mengatasi ancaman atau sumber tekanan (stresor) ini, maka kecemasan akan hilang.
Anxietas adalah bagian dari suatu mekanisme yang dikembangkan untuk menghadapi situasi yang tidak sesuai. Respons anxietas dapat diartikan sebagai bagian dari sistem alarm otak yang menyala pada saat merasakan bahaya.
Karakteristik dari respons termasuk penghindaran, kewaspadaan yang berlebih, dan peningkatan arousal yang ditujukan untuk menghindari bahaya. Tetapi pada beberapa individu, mekanisme ini terlalu aktif. Alarm menyala terlalu sering, tidak dapat dihentikan meskipun keadaan aman.
Pengalaman anxietas memiliki dua komponen: kesadaran adanya sensasi fisiologis, (seperti palpitasi dan berkeringat) dan kesadaran sedang gugup atau ketakutan. Perasaan malu mungkin memperberat anxietas. Disamping efek motorik dan visceral, anxietas juga mempengaruhi berpikir, persepsi dan belajar.
Anxietas cenderung menghasilkan kebingungan dan distorsi dari persepsi, tidak hanya dari waktu dan ruang tetapi juga pada orang dan arti peristiwa. Distorsi tersebut dapat mengganggu belajar dengan menurunkan kemampuan memusatkan perhatian, menurunkan daya ingat, dan mengganggu kemampuan untuk menghubungkan satu hal dengan hal yang lain, untuk membuat suatu hubungan.
Pada anxietas terjadi mekanisme sebagaimana terjadi pada stres. Terjadi pengaktifan sistem saraf simpatis dan aktivasi hipotalamus-hipofisis-adrenal. Bila sebagian besar daerah sistem saraf simpatis melepaskan impuls pada saat yang bersamaan, maka dengan berbagai cara, keadaan ini akan meningkatkan kemampuan tubuh untuk melakukan aktivitas otot yang besar, di antaranya dengan cara (Saddock, 2010):
1. Peningkatan tekanan arteri.
2. Peningkatan aliran darah untuk mengaktifkan otot-otot bersamaan dengan penurunan aliran darah ke organ-organ, seperti traktus gastrointestinalis dan ginjal, yang tidakdiperlukan untuk aktivitas motorik cepat.
3. Peningkatan kecepatan metabolisme sel di seluruh tubuh.
4. Peningkatan konsentrasi glukosa darah.
5. Peningkatan proses glikolisis di hati dan otot.
6. Peningkatan kekuatan otot.
7. Peningkatan aktivitas mental.
8. Peningkatan kecepatan koagulasi darah.
2.2 Premedikasi
Dua tujuan umum premedikasi diusulkan oleh Beecher tahun 1955 adalah sebagai berikut:
1. Menenangkan pasien sebelum menjalani operasi dengan ahli bedah dan 2. Untuk mengurangi bahaya yang ditimbulkan oleh anestesi dan
pembedahan.
Atropin pernah digunakan sebelumnya anestesi untuk mencegah "inhibisi vagal" dan mengurangi sekresi yang diinduksi oleh kloroform atau eter.
Morfin juga sudah digunakan untuk mengurangi iritabilitas refleks pasien dan mengurangi kebutuhan eter. Seiring dengan hadirnya halogen dan anestesi intravena maka secara dramatis memperpendek waktu induksi anestesi, tujuan utama premedikasi tidak lagi mencegah atau mengurangi gerakan radikal dan sekresi pasien, tetapi untuk menghilangkan ketakutan pasien dan mengurangi kegelisahan pasien.
Tujuan lain dari premedikasi anestesi, seperti yang ditemukan dalam literatur, adalah untuk:
a. Mencegah rasa sakit pasca operasi, b. Profilaksis efektif terhadap ponv,
c. Menurunkan kejadian perioperative shivering, d. Menurunkan pruritus pasca operasi,
e. Menurunkan sekresi lambung, f. Mencegah reaksi alergi,
g. Menekan respon refleks terhadap rangsangan pembedahan, dan h. Mengurangi kebutuhan anestesi untuk prosedur pembedahan.
18
Kecemasan sebelum operasi dapat terjadi hingga 80% dari pembedahan pasien. Dua kelompok pasien yang rentan adalah perempuan dan anak-anak.
Sementara kebanyakan orang dewasa wanita biasanya khawatir tentang ketidakpastian masa depan mereka, keluarga mereka, keberhasilan operasi dan keamanan anestesi, sebaliknya pada anak-anak, akan mengalami berbagai tingkat kecemasan sebelum operasi. Pendekatan psikologis dan farmakologis efektif dalam mengurangi kecemasan pra operasi. Sebuah penelitian dilakukan pada awal 1963 menunjukkan bahwa pasien yang dikunjungi oleh ahli anestesi sebelum operasi cenderung tetap tenang dalam operasi daripada mereka yang tidak menerima kunjungan. Studi lain menemukan bahwa lembar edukasi pasien tentang efek anestesi kurang efektif dalam mengurangi kecemasan kunjungan pre operasi. Midazolam telah terbukti efektif dalam mengurangi tingkat kecemasan pra operasi dalam banyak penelitian. Itu tidak akan menunda waktu pemulangan dari ruang pemulihan pada operasi rawat jalan.
2.3 Kunjungan Preoperatif
Sebelum operasi, pasien diberikan pemeriksaan medis, menerima tes preoperatif tertentu, dan status fisik mereka dinilai sesuai dengan sistem klasifikasi status fisik ASA. Jika hasil ini memuaskan, pasien menandatangani formulir persetujuan dan diberikan izin operasi.
Tabel 2.1 Standar Prosedur Operasional Perawatan Pre Operatif
Pengertian Perawatan pre operatif merupakan tahap pertama dari perawatan perioperatif yang dimulai sejak pasien diterima masuk di ruang terima pasien dan berakhir ketika pasien dipindahkan ke meja operasi untuk dilakukan tindakan Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah dalam
mempersiapkan pasien sebelum dilakukan pembedan untuk menghindari adanya infeksi nasokomial.
Kebijakan • Perawatan pre operasi dilakukan saat pasien masih di ruang rawat inap
• Perawatan pre operasi meliputi persiapan fisik dan mental Prosedur a. Persiapan fisik
Diet
• Bila diperlukan dilakukan persiapan terhadap pasien untuk menunjang kelancaran operasi, seperti pemasangan infus, istirahat total, pemasangan Supportif seperti O2, Foley catheter, NGT , dll.
8 jam menjelang operasi pasien tidak diperbolehkan makan, 4 jam sebelum operasi pasien tidak diperbolehkan minum, (puasa) pada operasi dengan anaesthesi umum.
• Pada pasien dengan anaesthesi lokal atau spinal anaesthesi makanan ringan diperbolehkan. Bahaya yang sering terjadi akibat makan/minum sebelum pembedahan antara lain :
• Aspirasi pada saat pembedahan
• Mengotori meja operasi
• Mengganggu jalannya operasi
• Pemberian lavement sebelum operasi dilakukan pada bedah saluran pencernaan dilakukan 2 kali yaitu pada waktu sore dan pagi hari menjelang operasi. Maksud
20
dari pemberian lavement antara lain
• Mencegah cidera kolon
• Memungkinkan visualisasi yang lebih baik pada daerah yang akan dioperasi.
• Mencegah konstipasi.
• Mencegah infeksi Persiapan Kulit
• Daerah yang akan dioperasi harus bebas dari rambut.
• Pencukuran dilakukan pada waktu malam menjelang operasi.
• Rambut pubis dicukur bila perlu saja, lemak dan kotoran harus terbebas dari daerah kulit yang akan dioperasi.
• Luas daerah yang dicukur sekurang-kurangnya 10-20 cm2
• Pencukuran menggunakan pisau cukur searah dengan rambut kemudian dicuci dengan sabun sampai bersih
• Setelah dilakukan pencukuran, pasien dimandikan dan dikenakan pakaian khusus dan memakai tutup kepala.
Kebersihan Mulut
• Mulut harus dibersihkan dan gigi harus disikat
• Gigi palsu harus dilepas dan disimpan Hasil Pemeriksaan
• Dilakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dengan hasil pemeriksaan fisik oleh dokter ruangan dan atau dokter konsulen RS menunjukkan kondisi dalam batas toleran
• Dokter Ruangan dan atau dokter konsulen penyakit dalam dan atau dokter konsulen anestesi dan atau dokter konsulen lainnya menyatakan pasien dapat
dioperasi
• Pemeriksaan penunjang laboratorium, foto roentgen, ECG, USG dan lain-lain.
• Persetujuan Operasi / Informed Consent
• Izin tertulis dari pasien / keluarga harus tersedia.
Persetujuan bisa didapat dari keluarga dekat yaitu suami / istri, anak tertua, orang tua dan kelurga terdekat.
• Pada kasus gawat darurat ahli bedah mempunyai wewenang untuk melaksanakan operasi tanpa surat izin tertulis dari pasien atau keluarga, setelah dilakukan berbagai usaha untuk mendapat kontak dengan anggota keluarga pada sisa waktu yang masih mungkin
• Diberikan antibiotik perioperatif sesuai petunjuk dokter
b. Persiapan mental
• Pasien harus memahami maksud dan tujuan operasi serta resiko yang harus dihadapi dalam menjalani operasi ini.
• Lakukan Informed Consent sesuai prosedur.
• Pasien di tenangkan dan diberi penyuluhan yang baik agar tegar menghadapi tindakan operasi yang akna dijalaninya.
• Pasien diminta untuk berdoa menurut keyakinannya masing-masing.
• Keluarga pasien diminta selalu mendampingi dan mendukung secara moril.
Unit Terkait 1. Unit Rekam Medik 2. Bidang Perawatan
3. Kelompok Kerja Fungsional Keperawatan
22
The American Society of Anesthesiologists (ASA) telah mempublikasikan kumpulan penuntun yang menyarankan previsit anestesi yang harus dilakukan seperti:
Ø Wawancara dengan pasien atau penjaga pasien dalam mengungkapkan riwayat, berobat, anestesi dan penyakit sebelumnya
Ø Pemeriksaan fisik yang tepat
Ø Indikasi untuk pemeriksaan tambahan untuk diagnostik
Ø Melihat hasil data penunjang diagnostik (laboraotrium, EKG, foto radiologi, dan lembar konsultasi)
Ø Menetapkan skor status fisik ASA (PS-ASA)
Ø Menetapkan dan mendiskusikan tentang rencana anestesi yang akan dilakukan pada pasien, pada orang dewasa dimintai informed concent.
Tabel 2.2 Klasifikasi Status Fisik menurut ASA
2.3.1 Anamnesis dan Pemerikasaan Fisik
Riwayat anestesi merupakan komponen penting. Pasien atau penjaganya dapat memberikan informasi di atas kertas, melalui internet, wawancara lewat telepon, atau secara langsung. Kondisi penyakit pasien, riwayat alergi, operasi sebelumnya, dan riwayat penggunaan rokok, alkohol, dan obat terlarang lainnya harus dilaporkan. Gejala kardiovaskular, penyakit paru, dan saraf harus ditulis.
Adanya suatu penyakit dapat diketahui bagaimana berat ringannya penyakit, stabilitasnya, eksaserbasi yang sekarang atau yang akan terjadi.
Keadaan kardiorespirasi atau kapasitas fungsionalnya tidak hanya memprediksi outcome dan komplikasi perioperatif, namun juga pada saat evaluasi pasien selanjutnya. Keadaan tubuh yang lebih ideal dapat memelihara sistem kardiorespirasi dan mengurangi tingkat kesakitan seperti perbaikan profil lipid dan glukosa dan mengurangi tekanan darah dan obesitas. Sebaliknya, ketidak mampuan untuk berolahraga mungkin merupakan suatu tanda penyakit kardiorespiratori. Pasien yang tidak mampu lagi mengerjakan kegiatan yang tingkatan rata-rata (4-5 metabolik ekuivalen atau METs, seperti berjalan empat langkah atau menaiki dua anak tangga) akan menambah resiko terjadinya komplikasi perioperatif. Riwayat pribadi dan keluarga yang bermasalah dengan anestesi seperti muntah dan mual hebat perioperatif (PONV), delirium yang mengancam jiwa berkepanjangan, dicuriagai dapat terjadi hipertermia yang hebat, atau defisiensi pseudokolinesterase harus tercatat dan mengacu untuk dibuatnya rencana anestesia.
Pemeriksaan preanestesi termasuk jalan napas, jantung, dan paru, melihat tanda-tanda vital, termasuk saturasi oksigen dan pengukuran tinggi badan dan berat badan. Ketika ditemukan kesulitan jalan napas, segera sesuatu seperti peralatan dan orang yang ahli untuk menanganinya. Auskultasi jantung dan meraba nadi, vena perifer, dan ektremitas untuk melihat apakah ada edema sangat penting diketahui dan akan berpengaruh pada rencana terapi. Pemeriksaan paru berupa auskultasi untuk mendengarkan wheezing, mendengarkan berkurangnya bunyi napas dan bunyi abnormal, dan memperhatikan adanya sianosis atau clubbing dan bantuan napas. Pada pasien dengan defisit fungsional, atau tindakan anestesia secara regional atau saraf tertentu, maka pemeriksaan neurologis diperlukan untuk melihat kelaianan yang dapat membantu dalam diagnosis atau mempengaruhi posisi pasien dan menetapkan dasar kelainan. Pada bagian ini akan membicarakan faktor-faktor komorbid yang akan berdampak selama tindakan anestesi (Sweitz er, 2018)
24
2.3.2 Faktor Komorbid yang berdampak selama tindakan Anestesi.
Penyakit Areteri Koroner (PAK) bervariasi mulai dari ringan, merupakan penyakit yang stabil dengan dampak kecil pada perioperatif yang menghasilkan penyakit berat dan bertanggung jawab pada komplikasi serius pada anestesi dan operasi. Pemeriksaan fisik dan riwayat terdahulu dapat melakukan penanganan awal pada jantung. Catatan rekam medis dan diagnostik sebelumnya perlu diketahui, terutama pemeriksaan stres noninvasif dan hasil dari kateterisasi jantung. Perlunya untuk menghubungi dokter utama yang bertanggung jawab atau ahli jantung untuk informasi yang lebih lanjut dan meniadakan pemeriksaan lain atau konsultasi lain.
Sebelumnya American College of Cardiology/ American Heart Association (ACC/AHA) membuat pedoman operasional tentang evaluasi kardiovaskuler pada operasi non kardiak jumlah rekomendasinya dikurangi untuk pemeriksaan revaskularisasi. Sebuah algoritma untuk pasien dengan resiko jantung perioperatifdikembangkan sebagai berikut:
• Langkah 1
Mempertimbangkan urgensi operasi. Untuk operasi darurat, terfokus pada pemantauan perioperatif (seperti EKG serial, enzim jantung, monitoring jantung) dan mengurangi resiko (pemberian Beta adrenergik bloker, statin, penatalaksanaan nyeri).
• Langkah 2
Fokus terhadap kondisi penyakit jantung yang aktif seperti infark miokard, angina berat atau tidak stabil, gagal jantung dekompensata, penyakit katup berat, dan aritmia yang berat. Semua kondisi penyakit aktif jantung ditunda operasinya kecuali pada kasus emergensi.
• Langkah 3
Bergantung pada besarnya resiko dan beratnya operasi. Pasien tanpa penyakit jantung yang aktif (lihat langkah 2) pasien dengan operasi beresiko rendah akan dilaksanakan tanpa pemeriksaan yang lebih lanjut.
• Langkah 4
Melakukan penilaian kapasitas fungsional yang disebut sebagai METs. Pasien tanpa gejala dengan kapasitas fungsional yang tinggi dpaat langsung dilakukan operasi.
• Langkah 5
Menganggap pasien dengan kapasitas yang rendah atau menengah yang dimana membutuhkan operasi yang beresiko sedang atau operasi vaskuler.
Jumlah penyakit klinis yang dapat diperkirakan (PJK, gagal jantung terkompensasi, penyakit serebrovaskuler, diabetes dan gagal ginjal) menentukan kegunaan dari pemeriksaan jantung lebih lanjut. Pasien tanpa perkiraan penyakit klinis tersebut dapat melakukan operasi. Pasien yang diperkirakan memiliki resiko penyakit tersebut akan disegerakan untuk pemeriksaan lebih lanjut jika hasilnya tersebut akan mengubah rencana tindakan. Beberapa faktor resiko akan PJK seperti merokok, hipertensi, usia tua, kelamin pria, hiperkolestrolemia, dan riwayat keluarga akan meningkatkan resiko perioperatif (Sweitzer, 2018).
Tujuan akhir dari penilaian medis preoperatif adalah untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas bedah dan anestesi pasien operatif, dan untuk mengembalikkannya ke fungsi yang diinginkan secepat mungkin. Sangat penting untuk menyadari bahwa risiko "perioperatif" adalah multifaktorial dan fungsi dari kondisi medis preoperatif pasien, invasif prosedur bedah dan jenis anestesi yang diberikan. Riwayat dan pemeriksaan fisik, berfokus pada faktor risiko untuk komplikasi jantung dan paru dan penentuan kapasitas fungsional pasien, sangat penting untuk evaluasi pra operasi apa pun (Sweitzer, 2018).
Sasaran utama evaluasi dan persiapan preoperatif berikut telah diidentifikasi (Sweitzer, 2018):
1. Dokumentasi kondisi pasien untuk operasi yang diperlukan.
2. Penilaian status kesehatan keseluruhan pasien.
3. Mengungkap kondisi tersembunyi yang dapat menyebabkan masalah selama dan setelah operasi.
4. Penentuan risiko perioperatif.
5. Optimalisasi kondisi medis pasien untuk mengurangi morbiditas atau mortalitas perioperatif bedah dan anestesi pasien.
26
6. Pengembangan rencana perawatan perioperatif yang tepat.
7. Pendidikan pasien tentang operasi, anestesi, perawatan intraoperatif dan perawatan nyeri pasca operasi dengan harapan mengurangi anxietas dan memfasilitasi pemulihan.
8. Pengurangan biaya, pemendekan masa inap di rumah sakit, pengurangan pembatalan dan peningkatan kepuasan pasien.
2.4 Kuesioner Kesehatan Pasien-9 (Patient Health Quistionnaire-9)
Pengukuran tingkat depresi menggunakan Patient Health Questtionaire (PHQ-9). PHQ-9 telah dilakukan penelitian validasi oleh Kroenke K, dan Spitzer RL. PHQ-9 adalah skala depresi Sembilan item. PHQ-9 adalah alat yang ampuh untuk membantu dalam mendiagnosis depresi serta menyeleksi dan pemantauan pengobatan (Kroenke K dan Spitzer, 2001).
Patient Health Questionnaire (PHQ) adalah persedian laporan diri berbentuk pilihan ganda yang dilindungi hak ciptanya oleh Pfizer Inc yang digunakan sebagai alat skrinning dan diagnostic untuk gangguan kesehatan mental depresi, anxietas, alkohol, makanan, dan gangguan somatoform. Ini merupakan versi laporan diri dari penilaian Primary Care Evaluation of Mental Disorders (PRIME-MD), alat diagnostic yang dikembangkan pada pertengahan tahun 1990- an oleh Pfizer Inc. panjangnya penilaian membatasi kelayakannya; akibatnya versi yang lebih pendek terdiri dari 11 pertanyaan multi-bagan-Kuisioner Kesehatan Pasien dikembangkan dan divalidasi (Kroenke dan Spitzer, 2001).
Tabel 2.3 Kuesioner Kesehatan Pasien-9 (PHQ-9) Selama 2 minggu terakhir,
seberapa sering anda terganggu oleh masalah-masalah berikut Gunakan tanda
Tidak pernah
Bebera- pa hari
Lebih dari separuh waktu yang dimaksud
Hampir setiap hari
1 Kurang tertarik atau bergairah dalam melakukan apapun
0 1 2 3
2 Merasa murung, muram dan putus asa
0 1 2 3
3 Sulit tidur atau mudah
terbangun atau terlalu banyak tidur
Merasa lelah atau kurang bertenaga
0 1 2 3
4 Merasa lelah atau kurang bertenaga
0 1 2 3
5 Kurang nafsu makan atau terlalu banyak makan
0 1 2 3
6 Kurang percaya diri atau merasa bahwa anda adalah orang yang gagal atau telah mengecewakan diri sendiri atau keluarga
0 1 2 3
7 Sulit berkonsentrasi pada sesuatu, misalnya membaca Koran atau menonton televisi.
0 1 2 3
8 Bergerak atau berbicara sangat lambat sehingga orang
lain\memperhatikannya. Atau sebaliknya merasa resah atau gelisah sehingga anda lebih
0 1 2 3
28
sering bergerak dari biasanya.
9 Merasa lebih baik mati atau ingin melukai diri sendiri dengan cara apapun.
0 1 2 3
Penilaian yang dibuat untuk jawaban yaitu:
• Tidak sama sekali = nilai 0
• Beberapa hari = nilai 1
• Lebih dari separuh waktu yang dimaksud = nilai 2
• Hampir setiap hari = nilai 3
Ada dua komponen dari PHQ-9 yaitu menilai gejala dan gangguan fungsional untuk membuat depresi tentative diagnostik dan mendapatkan skor keparahan untuk membantu memilih dan mamantau pengobatan. PHQ-9 didasarkan langsung pada kriteria diagnostic gangguan depresi dalam Diagnostic dan Statistic Manual Fourth Edition (DSM-IV) (Kroenke K dan Spitzer, 2001) Kuesioner ini telah dibentuk untuk menaksir mood pasien. Pertanyaan yang ditanya adalah: seberapa sering anda terganggu oleh masalah-masalah berikut (Kroenke dan Spitzer, 2001):
Tabel 2.4 Interpretasi derajat depresi menurut PHQ-9 (Kroenke K dan Spitzer, 2001)
PHQ-9 merupakan alat khusus untuk depresi, skor masing-masing dari 9 kriteria terkait DSM-IV berdasarkan modul suasana hati dari PRIME-MD yang asli. PHQ-9 sensitif dan spesifik dalam diagnosisnya dan telah menyebabkan
SKOR INTERPRETASI
0-4 Depresi minimal / normal
5-9 Depresi ringan
10-14 Depresi sedang
15-20 Depresi sedang berat
20-27 Depresi Berat
keunggulan dalam pengaturan perawatan primer. Alat ini digunakan dalam berbagai konteks yang berbeda, termasuk pengaturan klinis di seluruh Amerika Serikat serta studi penelitian.
Selain PHQ versi Sembilan item (PHQ-9) yang digunakan untuk menilai gejala depresi PHQ juga memiliki versi tujuh item (GAD-7) yang digunakan untuk menilai gejala anxietas, dan versi limabelas item (PHQ-15) yang digunakan untuk menilai gejala somatik. Semuanya tergabung untuk menciptakan gejala- gejala PHQ Somatic, anxiety, depressive (PHQ-SADS) dan termasuk pertanyaan mengenai serangan panik (setelah bagian GAD -7).
2.5 Instrumen VAS - A
Kecemasan adalah sumber stressor perioperatif yang relevan, mempengaruhi kualitas hidup, meningkatkan persepsi dan gangguan nyeri perioperatif, serta turut mempengaruhi hasil operasi. Kecemasan preoperatif dan depresi mungkin juga bertahan bahkan jauh setelah operasi itu sendiri selesai. Ini menunjukkan bahwa evaluasi yang tepat dari kecemasan preoperatif merupakan faktor yang relevan untuk manajemen dan kualitas perawatan secara keseluruhan.
Kecemasan sebelum operasi dan ketidaknyamanan psikologis telah diselidiki dalam beberapa penelitian menggunakan beberapa tes psikologis, termasuk yang paling terkenal adalah instrumen Spielberger Trait Anxiety Inventory (STAI) dan Beck Depression Inventory (BDI). Tes ini telah divalidasi dengan baik dan bermanfaat untuk penelitian dan praktik klinis dalam pengaturan kejiwaan, tetapi tidak cocok untuk penilaian kecemasan rutin dalam anestesiologi.
Dalam hal ini, tes yang ideal untuk diterapkan dalam praktik sebagai anestesiologis mestilah efektif, sederhana dan cepat dan tidak memerlukan kompetensi kejiwaan atau psikologis khusus.
Konsep Visual Analogue Scale telah diperkenalkan pertama sekali pada tahun 1960-an oleh Aitken dkk untuk dapat mengukur keadaan psikologis dan menilai rasa sakit. Konsep ini sekarang telah diterima secara universal tidak hanya sebagai ukuran intensitas nyeri, tetapi juga telah digunakan untuk menilai pengalaman subjektif lainnya. Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A) telah diperkenalkan pada tahun 1976 dan digunakan pertama kali pada pasien yang