MANAJEMEN SUMBERDAYA MANUSIA (Sebuah Sudut Pandang dalam Tinjauan Islam)

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)

MANAJEMEN SUMBERDAYA MANUSIA (Sebuah Sudut Pandang dalam Tinjauan Islam)

Khotibul Umam, M.Si.

*)

Abstrak

Pengetahuan tentang manajemen sebenarnya telah berkembang luar biasa pada beberapa dasawarsa terakhir, namun para ahli tetap berupaya mencari inspirasi untuk mengembangkan konsep-konsep keilmuan manajerial yang digali dari berbagai sumber budaya yang lahir dalam sejarah kehidupan umat manusia, hingga juga digali dari doktrin agama.

Islam sebagai suatu agama diyakini oleh kaum muslim bukan semata mata ajaran yang mengatur ritual ritual ibadah, akan tetapi kaum muslim meyakini Islam sebagai way of life. Al-qur‟an dan hadist sebagai sumber utama ajaran Islam berisi petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia.

Tulisan singkat ini mencoba ikut andil dalam diskursus akademik keilmuan manajemen yang digali dari ajaran Islam, yang diharapkan dapat menginspirasi dan memperkaya wawasan pengetahuan kita dalam bidang manajemen.

Pembahasan konsep pengetahuan manajemen dalam tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membicarakan secara luas konsep manajemen, akan tetapi hanya membatasi diri pada aspek diskursus mengenai manajemen sumber daya manusia dalam pandangan Islam secara ringkas.

Kata Kunci: Manajemen SDM, Islam

A. Pendahuluan

Manusia dalam menjalani kehidupan sejatinya tidak bisa lepas dari berbagai hal terkait dengan manejemen. Adanya manajemen juga tidak bisa dilepaskan sejak adanya manusia itu sendiri. Sehingga manajemen sebetulnya sama usianya dengan kehidupan manusia, baik langsung maupun tidak langsung, baik disadarai ataupun tidak disadari. Contohnya dalam kehidupan sehari-hari kita seperti mengatur diri kita atau jadwal tugas-tugas kita, kita sudah melakukan yang namanya manajemen. Tatanan kehidupan yang tertata baik dan terarah merupakan sendi-sendi manajemen yang tidak bisa terpisahkan dengan kehidupan manusia, karena manusia mengatur (memanage) kehidupannya.

*) Penulis adalah Dosen Tetap Jurusan Ekonomi dan Bisnis Islam STAI Sufyan Tsauri Majenang Kabupaten Cilacap.

(6)

Tentunya manajemen menjadi keniscayaan bagi kehidupan manusia untuk selalu diinovasi sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga manajemen bisa memberi manfaat yang lebih baik. Manajemen sudah memasuki berbagai aspek kehidupan manusia, seperti ekonomi, sosial politik, Agama, pendidikan dan sebagainya. Karenanya pengetahuan mengenai manajemen semakin dirasakan sebagai suatu kebutuhan, baik oleh individu, kelompok maupun organisasi.

Atas dasar kesadaran mengenai pentingnya pengetahuan manajemen, maka banyak pakar semakin terdorong untuk selalu mengkaji dan bahkan mengembangkan pengetahuan di bidang manajemen. Pengetahuan manajemen itu sendiri kemudian menjadi semacam obyek studi yang menarik dan dilakukan secara intensif dan akademik, sehingga menjadi ilmu yang berdiri sendiri yang tumbuh subur. para ahli terus berupaya mencari inspirasi untuk mengembangkan konsep-konsep keilmuan manajerial yang digali dari berbagai sumber, baik yang digali dari berbagai budaya yang lahir dalam sejarah kehidupan umat manusia, maupun juga digali dari doktrin agama.

Islam sebagai suatu agama diyakini oleh kaum muslim bukan semata mata ajaran yang mengatur ritual ritual ibadah, akan tetapi kaum muslim meyakini Islam sebagai way of life. Al-qur‟an dan hadist sebagai sumber utama dan kedua ajaran Islam berisi petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia. Al-qur‟an yang menyediakan informasi keilmuan, seperti ilmu fisika, Biologi, Kimia, Ilmu ekonomi, Ilmu jiwa, Sosiologi, ilmu manajemen dan lain sebagainya. Dalam hubungan ini al-qur‟an memberikan sinyal dan inspirasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Melalui tulisan singkat ini, penulis mencoba ikut andil dalam diskursus

akademik keilmuan manajemen yang digali dari ajaran Islam, yang diharapkan

dapat menginspirasi dan memperkaya wawasan pengetahuan kita dalam bidang

manajemen. Pembahasan konsep pengetahuan manajemen ini tidak

dimaksudkan untuk membicarakan secara luas konsep manajemen, akan tetapi

hanya membatasi diri pada aspek diskursus mengenai manajemen sumber daya

(7)

manusia dalam pandangan islam dalam upaya mencapai tujuan, dengan kata lain, tulisan ini secara spesifik hanya berbicara tentang masalah pemberdayaan manusia dalam organisasi untuk mencapai tujuan.

B. Pembahasan

1. Manajemen Sumber daya Manusia

Untuk memahami secara lebih rinci dan lengkap tentang Manajemen sumber daya manusia, serta hal-hal yang terkait dengannya, berikut akan dipaparkan beberapa pengertian, konsep, teori dan kecenderungan yang terkait.

a. Pengertian Manajemen Sumber daya Manusia

Manajemen sumber daya manusia (MSDM) merupakan bagian dari konsep besar ilmu manajemen. Berbicara tentang manaejemen, maka akan sampai pada pemahaman organisasi. Dan Organisasi sendiri mempunyai sumber daya yang digunakan dalam pencapaian tujuan, salah satunya adalah sumber daya manusia.

Urgensi sumber daya manusia ini, perlu disadari oleh semua tingkatan manajemen. Bagaimanapun majunya teknologi saat ini, namun faktor manusia tetap memegang peranan penting bagi keberhasilan suatu organisasi.

Organisasi merniliki berbagai macam sumber daya

sebagai„input‟ untuk diubah menjadi „output‟ berupa produk barang

atau jasa. Sumber daya tersebut meliputi modal atau uang, teknologi

untuk menunjang proses produksi, metode atau strategi yang

digurunakan untuk beroperasi, manusia dan sebagainya. Di antara

berbagai macam sumber daya tersebut, manusia atau sumber daya

manusia (SDM) merupakan elemen yang paling penting. Untuk

merencanakan, mengelola dan mengendalikan sumber daya manusia

dibutuhkan suatu alat manajerial yang disebut manajemen sumber

daya manusia (MSDM).

(8)

MSDM dapat dipahami sebagai suatu proses dalam organisasi serta dapat pula diartikan sebagai suatu kebijakan (policy). Sebagai suatu proses, Cushway (1994:13) misalnya, mendefinisikan MSDM sebagai ‘Part of the process that helps theorganization achieve its objectives’. Pernyataan ini dapat diterjemahkan sebagai „bagian dari proses yang membantu organisasi mencapai tujuannya‟.

1

Sementara itu, Schuler, Dowling, Smart dan Huber (1992:16) mengartikan MSDM dalam rumusan seperti berikut ini:

Human Resource Management (HRM) is the recognitionof the importance of an organization’s workforce asvital human resources contributing to the goals of theorganization, and the utilisation of several functions andactivities to ensure that they are used effectively and fairlyfor the benefit of the individual, the organization, andsociety’

Dimana pernyataan tersebut dapat diterjemahkan sebagai berikut:

Manajemen Sutnber Daya Manusia/MSDM merupakan pengakuan tentang pentingnya tenaga kerja organisasi sebagai sumber daya manusia yang sangat penting dalam memberi kontribusi bagi tujuan- tujuan organisasi, dan penggunaan beberapa fungsi dan kegiatan untuk memastikan bahwa SDM tersebut digunakan secara efektif dan adil bagi kepentingan individu, organisasi dan masyarakat.

2

Hani Handoko mendefinisikan MSDM sebagai suatu proses penarikan, seleksi, pengembangan, pemeliharaan, dan penggunaan sumber daya manusia untuk mencapai baik tujuan-tujuan individu maupun organisasi.

3

Kemudian Buchari Zainun, memaparkan bahwa MSDM merupakan bagian yang penting, bahkan dapat dikatakan bahwa manajemen itu pada hakikatnya adalah manajemen sumber daya manusia. Atau

1Priyono, Pengantar Manajemen, (Sidoarjo: Zifatama Publisher, 2007), hlm 25.

2Ibid, hlm 26.

3T. Hadi Handoko, Manajemen Personalia dan Sumber daya Manusia edisi 2, (Yogyakarta: BPFE, 2001), hlm 4.

(9)

dengan kata lain manajemen sumber daya manusia adalah identik dengan manajemen itu sendiri.

4

b. Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia

Secara terperinci, tujuan manajemen SDM bisa dikategorikan ke dalam beberapa kategori sebagai berikut:

5

1) Tujuan Organisasional

Tujuan organisasional merupakan tujuan MSDM yang disesuaikan ke dalam tujuan organisasi yang ada, bagaimana MSDM memberikan kontribusi pada pencapaian efektivitas organisasi. Walaupun secara formal suatu lembaga sumber daya manusia diciptakan untuk dapat membantu para manajer, namun demikian para manajer tetap bertanggung jawab terhadap kinerja karyawan. Manajemen sumber daya manusia membantu para manajer dalam menangani hal-hal yang berhubungan dengan sumber daya manusia.

2) Tujuan Fungsional

Tujuan fungsional menyangkut bagaimana MSDM berperan pada level kebutuhan organisasi. Artinya, tujuan MSDM pada level fungsional terkait dengan lingkup MSDM yang bersangkutan.

3) Tujuan Sosial

Ditujukan untuk secara etis dan sosial merespon terhadap kebutuhan- kebutuhan dan tantangan-tantangan masyarakat melalui tindakan meminimasi dampak negatif terhadap organisasi.

Kegagalan organisasi dalam menggunakan sumber dayanya bagi keuntungan masyarakat dapat menyebabkan hambatan-hambatan.

4) Tujuan Personal

4Buchari Zainun, Manajemen Sumber Daya Manusia Indonesia. (Jakarta: PT Gunung, 2001), hlm.17

5Sofyandi Herman, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Yogyakarta: Gra-ha Ilmu, 2005), hlm. 7.

(10)

Tujuan personal berkaitan dengan individu-individu yang ada dalam lingkup Manajemen SDM. Ditujukan untuk membantu karyawan dalampencapaian tujuannya, minimal tujuan-tujuan yang dapat mempertinggi kontribusi individual terhadap organisasi.

Tujuan personal karyawan harus dipertimbangkan jika para karyawan harus dipertahankan, dipensiunkan, atau dimotivasi. Jika tujuan personal tidak dipertimbangkan, kinerja dan kepuasan karyawan dapat menurun dan karyawan dapat meninggalkan organisasi.

2. Sumber Daya Manusia Berkualitas Menurut Islam

Manusia diciptakan oleh Allah sebagai penerima dan pelaksana ajaran sehingga ia ditempatkan pada kedudukan yang mulia. Untuk mempertahankan kedudukannya yang mulia dan bentuk pribadi yang bagus itu, Allah melengkapinya dengan akal dan perasaan yang memungkinkannya menerima dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan membudayakan ilmu yang dimilikinya.Ini berarti bahwa kedudukan manusia sebagai makhluk yang mulia itu karena akal dan perasaan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang seluruhnya dikaitkan kepada pengabdian pada Pencipta

6

Potensi-potensi yang diberikan kepada manusia pada dasarnya merupakan petunjuk (hidayah) Allah yang diperuntukkan bagi manusia supaya ia dapat melakukan sikap hidup yang serasi dengan hakekat penciptaannya.

7

Sejalan dengan upaya pembinaan seluruh potensi manusia, Muhammad Quthb berpendapat bahwa Islam melakukan pendidikan dengan melakukan pendekatan yang menyeluruh terhadap wujud manusia, sehingga tidak ada yang tertinggal dan terabaikan sedikitpun, baik dari segi jasmani maupun segi rohani, baik kehidupannya

6Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, Cet. III,(Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm 3.

7Jalaluddin, Filsafat Pendidikan Islam, Cet. II,(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), hlm. 108.

(11)

secara mental, dan segala kegiatannya di bumi ini. Islam memandang manusia secara totalitas, mendekatinya atas dasar apa yang terdapat dalam dirinya, atas dasar fitrah yang diberikan Allah kepadanya, tidak ada sedikitpun yang diabaikan dan tidak memaksakan apapun selain apa yang dijadikannya sesuai dengan fitrahnya. Pendapat ini memberikan petunjuk dengan jelas bahwa dalam rangka mencapai pendidikan Islam mengupayakan pembinaan seluruh potensi secara serasi dan seimbang.

8

Hasan Langgulung melihat potensi yang ada pada manusia sangat penting sebagai karunia yang diberikan Allah untuk menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Suatu kedudukan yang istimewa di dalam alam semesta ini. Manusia tidak akan mampu menjalankan amanahnya sebagai seorang khalifah, tidak akan mampu mengemban tanggung jawabnya jikalau ia tidak dilengkapi dengan potensipotensi tersebut dan mengembangkannya sebagai sebuah kekuatan dan nilai lebih manusia dibandingkan makhluk lainnya.

9

Artinya, jika kualitas SDM manusianya berkualitas maka ia dapat mempertanggungjawabkan amanahnya sebagai seorang khalifah dengan baik. Kualitas SDM ini tentu saja tak hanya cukup dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), tetapi juga pengembangan nilainilai rohani-spiritual, yaitu berupa iman dan taqwa (imtaq). Dari penjabaran di atas dapat dimengerti bahwa pengembangan SDM sangat penting, tak hanya dari sudut ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, tak kalah pentingnya adalah dimensi spiritual dalam pengembangan SDM. Kualitas SDM tidak akan sempurna tanpa ketangguhan mental-spiritual keagamaan. Sumber daya manusia yang mempunyai dan memegang nilai-nilai agama akan lebih tangguh secara rohaniah. Dengan demikian akan lebih mempunyai tanggung jawab spiritual terhadap ilmu pengetahuan serta teknologi. Sumber daya manusia

8Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Cet. I, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm, 51.

9Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan; Suatu Analisa Psikologi danPendidikan, Cet. III(Jakarta: Pustaka al-Husna, 1995), hlm 57.

(12)

yang tidak disertai dengan kesetiaan kepada nilai-nilai keagamaan, hanya akan membawa manusia ke arah pengejaran kenikmatan duniawi atau hedonisme belaka. Dan jika semangat hedonisme sudah menguasai manusia, bisa diramalkan yang terjadi adalah eksploitasi alam sebesar- besarnya tanpa rasa tanggung jawab dan bahkan penindasan manusia terhadap manusia lain.

10

Dengan demikian pengembangan SDM berdasarkan konsep Islam adalah membentuk manusia yang berakhlak mulia, yang senantiasa menyembah Allah yang menebarkan rahmat bagi alam semesta dan bertaqwa kepada Allah.Inilah yang menjadi arah tujuan pengembangan SDM menurut konsep Islam.

3. Manajemen Sumber Daya Manusia Menurut Islam

Dalam Islam pengelolaan sumber daya manusia mengacu pada apa yangdicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW didasarkan pada konsep Islam mengenai manusia itu sendiri. Konsep Pertama: Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Tuhan. Oleh karena itu segala kegiatan manusia harus merupakan bentuk ibadah, ibadah dalam arti luas, tidak hanya ibadah yang bersifat ritual.Setiap kegiatan manusia bisa bernilai ibadah jika diniatkan untuk mencari ke-ridlo-an Tuhan. Bermasyarakat yang baik adalah ibadah, bekerja dengan giat merupakan ibadah, bahkan tidur pun bisa bernilai ibadah. Konsep kedua: Manusia adalah khalifatullah fil ardhli - wakil Allah di bumi, yang bertugas memakmurkan bumi. Konsekuensi dari kedua konsep ini adalah segala kegiatan manusia akan dinilai dan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat.Dengan konsep tersebut Islam memandang bahwa masalah memange manusia bukan masalah yang sepele.Islam mengusahakan sumber daya manusia untuk ikut memakmurkan bumi dalam lingkup pengabdian kepada Tuhan dengan memanfaatkan seoptimal mungkin potensi yang telah dianugerahkan oleh Tuhan.

10Wakhudin, Tarmizi Taher; Jembatan Umat, Ulama dan Umara (Bandung: Granesia, 1998), hlm 240-241.

(13)

Dalam hal recruitment & selection, beliau sangat mementingkan profesionalisme. Beliau bersabda, “Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat (kehancuran)-nya.” (HR Bukhari dan Ahmad). Rasulullah juga bersabda, “Siapa yang mengangkat seseorang sebagai pegawai dari suatu kaum, padahal pada kaum itu terdapat seseorang yang diridhai Allah (cakap, soleh dan beriman) maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. (HR al-Hakim).

Rasulullah sangat memperhatikan masalah remunerasi.Dalam hadis riwayat Abdur-Razzaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa‟id al-Khudri, Nabi s.a.w.bersabda: “Barang siapa mempekerjakan pekerja, beritahukanlah upahnya.” Sedangkan dalam Hadis Riwayat Ibn Majah dari Ibnu Umar, bahwa Nabi bersabda: “Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering.”

Dalam hubungannya dengan organizational management, Rasulullah adalah manager yang piawai dalam mendelegasikan suatu tugas kepada para sahabatnya.Kemampuan pendelegasian yang baik ini dikarenakan beliau sangat mengenal karakter, potensi dan (minat) masing-masing sahabatnya. Ada yang menarik dalam sejarah Islam, Umar bin Khatab adalah seorang yang tinggi besar, kuat serta pandai berperang. Akan tetapi Umar tak pernah diangkat menjadi panglima perang. Justru Usamah, pemuda 16 tahun, pernah ditugaskan menjadi seorang panglima perang. Itu karena Rasulullah paham, bahwa selain memiliki kompetensi dalam berperang, Umar memiliki kompetensi sebagai seorang pemimpin (khalifah). Dan ia disiapkan untuk itu.

Rasulullah juga telah mencontohkan implementasi Participative

Management.Beliau kerap melibatkan para sahabatnya dalam pengambilan

keputusan.Contoh yang monumental tentang manajemen partisipatif ini

bisa dilihat dari keberhasilan Rasul dan sahabat dalam perang Khandaq.Di

samping itu, Rasulullah juga sangat piawai dalam memberikan motivasi

(14)

kepada sahabatnya secara tepat sesuai keadaan sahabatnya.Beliau tidak hanya memotivasi untuk masalah akhirat saja,Beliau juga memotivasi para sahabatnya untuk selalu optimal di semua posisi dan peran kehidupan masing-masing.Yang menarik adalah Rasulullah memberikan perhatian yang istimewa kepada semua sahabatnya, sehingga diriwayatkan bahwa setiap sahabat merasa bahwa dia adalah orang yang paling diperhatikan dan dicintai Rasul-Nya.Inilah salah satu bentuk immaterial compensation yang dicontohkan oleh Rasulullah.Pada praktiknya, Rasulullah tidak hanya sebagai seorang manager, beliau adalah seorang leader.Dan lebih dari itu, beliau tidak hanya menjadi seorang leader, tetapi leader yang mampu mencetak leader-leader unggul.Hal ini bisa dilihat dari jejak khulafaur rasyidin dan semua sahabatnya.

4. Prinsip-prinsip Manajemen Sumber daya Manusia dalam pandangan Islam

Sumberdaya manusia (SDM), merupakan titik sentral yang harus mendapatkan perhatian serius dalam konteks keorganisasian dan manajemen, karena keberhasilan suatu organisasi dan atau keberhasilan suatu pekerjaan sangat ditentukan oleh partisipasi personal atau manusia yang melakukannya. Pemusatan perhatian pada kontribusi fungsi SDM bagi keberhasilan pencapaian tujuan strategis organisasi, merupakan tugas pemimpin atau manajer. Maka seorang manajer yang baik akan selalu berpegang pada prinsip-prinsip profesional dalam pemberdayaan personal.

Islam sebagai agama peradaban pada hakikatnya telah meletakkan prinsip-prinsip profesionlitas dalam manajemen, khususnya yang berkaitan dengan bagaimana seorang pemimpin memanage atau memberdayakan manusia dalam suatu organisasi atau suatu pekerjaan, untuk mencapai kesuksesan yang optimal.

Adapun prinsip-prinsip tersebut sebagai berikut;

a. Keterpercayaan

(15)

Dalam surat al-Qashas 28:26 yang artinya: “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya".

11

Bagi kebanyakan kaum muslim, ayat ini tidak bermakna apa apa kecuali sebatas kisah cerita. Al-Qur‟an sebagai kalam Allah yang agung, yang diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dalam menempuh kehidupannya di dunia, tidak dipahami sebagaimana seharusnya ia sebagai petunjuk, sehingga kaum muslim tidak dapat membangun peradabannya berdasarkan inspirasi petunjuk al-Qur‟an.

Seharusnya kaum muslim dapat mengambil pelajaran dari cerita/kisah tersebut, karena mustahil Allah hanya bermaksud menginformasikan kisah itu tanpa ada sesuatu yang bermanfaat bagi manusia.

Dalam ayat di atas diceritakan bahwa anak nabi Syuaib mengusulkan kepada ayahnya agar mempekerjakan Nabi Musa.

Sekilas tidak ada yang menarik dari kisah ini, namun ada pembelajaran yang bisa diambil dari kisah itu, yakni ketika anak nabi Suaib mengususulkan agar ayahnya, usulan itu diiringi dengan alasan bahwa nabi Musa adalah orang yang kuat dan dapat

“dipercaya”.

Kepercayaan, kejujuran dan sikap amanah, adalah sesuatu yang penting untuk dipertimbangkan dalam merekruit tenaga kerja untuk kepentingan organisasi. Sikap ini menjadi salah satu penentu keberhasilan disamping kemampuan atau kompetensi.

b. Kompetensi

11Departemen Agama RI, Al-Qur.an dan Tafsirnya (Edisi Revisi 2008)

(16)

Kompetensi adalah keterampilan yang diperlukan seseorang yang ditunjukkan oleh kemampuannya untuk dengan konsisten memberikan tingkat kinerja yang memadai atau tinggi dalam suatu fungsi pekerjaan spesifik. Ini adalah suatu pendekatan model input, yang fokus pada keterampilan yang dibutuhkan untuk mengerjakan suatu pekerjaan. Keterampilan-keterampilan ini adalah kompetensi dan mencerminkan kemampuan potensial untuk melakukan sesuatu.

Kompetensi dapat berupa penguasaan masalah, ketrampilan kognitif maupun ketrampilan perilaku, tujuan,perangai, konsep diri, sikap atau nilai.

Prinsip kompetensi adalah prinsip utama dalam manajeman Islam. Kompetensi yang dimaksud di sini adalah kemampuan atau keahlian yang dimiliki oleh personal sebagai bagian dari organisasi atau bagian dari suatu proses kerja, yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Kompetensi yang dimaksud dapat berupa kompetensi kognitif, yakni kemampuan pengetahuan dan daya analisis, kompetensi sikap seperti keberanian, kejujuran, dedikasi atau loyalitas, disiplin dan sebagainya, serta kompetensi keterampilan yang melingkupi kecakapan, ketepatan dan kecepatan dalam melakukan suatu pekerjaan.

Firman Allah dalam surat an-Naml misalnya dapat kita ambil pelajaran mengenai prinsip ini.

Artinya:

“(38). berkata Sulaiman: "Hai pembesar-pembesar, siapakah di

antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya

kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang

yang berserah diri". (39). berkata 'Ifrit (yang cerdik) dari golongan

jin: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu

kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu;

(17)

Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya". (QS. 027/An-Naml ayat 38-39)

12

Dalam ayat di atas dikisahkan bahwa nabi Sulaiman bertanya kepada para bawahannya (termasuk bangsa Jin) dalam sebuah rapat, tentang siapa diantara bawahannya yang memiliki kemampuan untuk memindahkan singgasana Ratu Bilqis dari istananya untuk dibawa ke istana Nabi Sulaiman. Yang menarik dari pertanyaan ini adalah bahwa, sebagai seorang pemimpin, nabi Sulaiman mencari person yang memiliki kompetensi untuk melakukan suatu pekerjaan, atau dengan kata lain bahwa nabi Sulaiman sedang mencari seseorang yang memiliki kemampuan atau skill untuk dapat melaksakan tugas dalam upayanya mencapai tujuan.

Pengertian manajemen, sebagaimana banyak diuraian menyebutkan bahwa manajemen adalah merupakan salah satu seni dalam memanfaatkan manusia untuk mencapai tujuan. Pemanfaatan atau perberdayaan manusia dalam suatu mekanisme kerja secara logis tidak bisa melepaskan diri dari prinsip “kompetensi”. Karena keberhasilan atau kesuksesan suatu pekerjaan yang ditangani oleh seseorang mensyaratkan adanya kemampuan seseorang untuk melaksanakan pekerjaan dimaksud. Tanpa memperhatikan prinsip ini, maka pekerjaan akan sia-sia dilakukan, atau akan mengalami kegagalan.

Dengan menggunakan logika relevansi, kita dapat mengambil pelajaran yang termuat dalam cerita di atas, yakni dalam manajemen (pengelolaan) suatu pekerjaan atau organisasi yang dijalankan, khususnya dalam mengelola sumberdaya manusia yang terlibat di dalamnya, maka kompetensi menjadi prinsip yang tidak bisa ditinggalkan.

12Ibid,

(18)

Sistem seleksi dan penetapan misalnya harus menekankan kepada identifikasi kompetensi yang paling dibutuhkan bagi kepentingan suatu pekerjaan tertentu. Usaha yang dilakukan adalah mengunankan sebanyak mungkin sumber informasi tentang calon sehingga dapat ditentukan apakah calon memiliki kompetensi yang dibutuhkan Metode penilaian atas calon yang dapat dilakukan melalui berbagai cara seperti wawancara perilaku (behavioral event review) tes, simulasi lewat assesment centers, menelaah laporan evaluasi kinerja atas penilaian atasan, teman sejawat dan bawahan.

Inilah prinsip utama manajemen sumberdaya manusia dalam Islam, yang dapat kita ambil pelajaran dari kisah mengenai pertanyaan nabi Sulaiman dalam kisah yang disampaikan ayat di atas.

c. Kesesuaian kompetensi personal dengan penempatan

Dalam sebuah hadits yang sangat populer nabi bersabda:

إذا ُىِسد الأمر لإى غير أهلها فانتظر لاساعة

Artinya: Apabila diserahkan suatu urusan (tugas/pekerjaan) kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat (kegagalann/kehancuran) nya.

Melalui hadits ini nabi Muhammad mengajarkan prinsip manajemen suberdaya manusia kepada kita bahwa pembagian kerja harus disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian sehingga pelaksanaan kerja berjalan efektif. Oleh karena itu, dalam penempatan seseorang untuk melaksanakan tugas tertentu harus menggunakan prinsip the right man in the right place. Pembagian kerja harus rasional/objektif, bukan emosional subyektif yang didasarkan atas dasar like and dislike.

Dengan adanya prinsip orang yang tepat ditempat yang tepat

(the rightman in the right place) akan memberikan jaminan terhadap

(19)

kestabilan, kelancarandan efesiensi kerja. Penempatan orang sesuai dengan keahlian atau kompetensi kerja secara tepat merupakan kunci bagi penyelengaraan kerja. kecerobohan dalam penempatan seseorang dalam melaksanakan suatu kerja atau tugas akan berpengaruh kurang baik dan mungkin menimbulkan kegagalan dalam penyelenggaraan pekerjaan, oleh karena itu, seorang pimpinan atau manajer yang berpengalaman akan menempatkan seseorang sesuai kompetensinya sebagai prinsip utama yang akan menjadi titik tolak bagi prinsip-prinsip lainnya.

d. Tidak melebihi batas kemampuan dalam pembebanan kerja

Manusia adalah makhluk yang memiliki keterbatasan, baik dari sisi fisik maupun psikisnya, dan juga dari sisi kompetensi dan daya tahannya, bahkan waktu yang dimilikinya. Sisi kemanusian ini harus mendapatkan perhatian oleh seorang pimpinan atau manajer dalam memberikan tugas kepada bawahannya.

Kepercayaan manajer kepada kemampuan yang dimiliki seseorang harus diiringi dengan kesadaran bahwa seseorang itu tetap memiliki keterbatasan. Atas dasar kesadaran seperti ini maka seorang manajer harus membatasi diri untuk memberikan pekerjaan kepada orang yang dipercayanya memiliki kompetensi, agar tidak melebihi batas kemampuan orang itu.

Islam (al-Qur‟an: surah al-Baqarah ayat 286) telah mengisyaratkan konsep manajemen demikian dalam mengelola sumberdaya manusia.

Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan

kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang

diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang

dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan Kami,

janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami

tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan

(20)

kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma'aflah kami;

ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir."(al-Baqarah 2: 286)

13

Ayat ini secara eksplisit, sebagaimana tergambar dari artinya di atas, menginformasikan kepada kita bahwa Allah sebagai penguasa sekalian alam tidak memberikan beban di luar kemampuan manusia. Tentunya kaum muslim meyakini bahwa ayat ini bukan sekedar informasi untuk diketahui manusia.

Sebagai petunjuk hidup (way of life), melalui ayat ini tentu Tuhan ingin mengajarkan kepada manusia untuk (khususnya orang yang berperan sebagai pemimpin suatu organisasi), agar manusia (manajer) memperhatikan sisi keterbatasan bawahannya dalam memberikan tugas atau tanggug jawab.

e. Kewenangan dan tanggung-jawab

Kewenangan dan tanggung-jawab adalah prinsip selanjutnya dalam manajemen Islam. Seseorang yang diberi tugas atau amanat untuk melakukan suatu tindakan atau kerja harus diberikan kewenangan dan tanggung-jawab dalam melaksanakan tugasnya.

Pemberian kewenangan ini mutlak dalam dalam suatu sistem manajemen untuk menjamin kelancaran pelaksanaan tugas atau kerja yang dibebankan kepada seseorang. Tanpa adanya kewenangan, seseorang akan mengalami keraguan dalam melaksanakan tugasnya, yang pada akhirnya ia tidak dapat melaksanakan tugas dengan baik. Kewenangan dalam suatu sistem manajemen harus diberikan secara penuh dalam batasan wilayah

13Ibid,

(21)

kerjanya tanpa ada yang boleh melakukan intervensi, karena intervensi dari luar akan dapat menggangu mekanisme kerja dan bermuara pada tidak tercapainya hasil atau tujuan kerja yang diinginkan.

Sebagai contoh kecil di sini dapat diilustrasikan misalnya:

seorang tukang parkir harus diberikan kewenangan untuk mengatur parkir kendaraan sesuai tempat yang telah ditentukan. Kewenangan tukang parkir ini tidak boleh diintervensi pihak lain, bahkan oleh seseorang yang memiliki jabatan yang lebih tinggi sekalipun. Jika seseorang yang memiliki jabatan lebih tinggi melakukan parkir di tempat yang bukan seharusnya, maka tukang parkir memiliki kewenangan untuk melarang demi tercapainya tujuan dari aturan perparkiran. Disinilah letak pentingnya pemberian wewenang dalam suatu sistem manajemen.

Pemberian wewenang itu sendiri juga harus diikuti oleh tanggung-jawab. Wewenang dan tanggung jawab harus seimbang.

Setiap pekerjaan harus dapat memberikan pertanggungjawaban yang sesuai dengan wewenang. Oleh karena itu, makin kecil wewenang makin kecil pula pertanggungjawaban demikian pula sebaliknya.

Adanya tanggung jawab atas kewenangan yang diberikan Tanggung jawab terbesar terletak pada manajer puncak. Kegagalan suatu usaha bukan terletak pada karyawan, tetapi terletak pada puncak pimpinannya karena yang mempunyai wewemang terbesar adalah manajer puncak. oleh karena itu, apabila manajer puncak tidak mempunyai keahlian dan kepemimpinan, maka wewenang yang ada padanya merupakan bumerang.

Prinsip kewenanganan tanggung-jawab dalam manajemen Islam ini dapat kita pahami berdasarkan hadis nabi:

كلكم راع و كلكم مسؤىل عن رعيته

(22)

Artinya: Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintakan pertanggung-jawannya.

Setiap kita adalah pemimpin pada wilayah kewenangan kita masing masing. Makna pemimpin disini adalah adanya kekuasaan atau wewenang bagi setiap individu pada posisinya dalam masyarakat, dalam suatu komunitas atau organisasi dan dalam suatu wilayah tugas kerja kita. Islam menekankan pentingnya kesadaran akan wewenang ini dalam wilayah dan posisi kita pada suatu komunitas kehidupan.

f. Adanya penghargaan dan kompensasi

Islam telah meletakkan manusia pada posisi kemanusiaan alamiahnya, dimana pemenuhan kebutuhan ini telah menjadi prinsip penting dalam manajemen sumber daya manusia. Allah telah mengajarkan manusia tentang hal ini. Konsep pahala dalam Islam tidak hanya memiliki makna spiritual theologis, akan tetapi lebih dari itu Tuhan telah mengajarkan dan menanamkan kesadaran bahwa manusia harus diposisikan sebagai manusia, sebagai makhluk hidup yang memilki kebutuhannya sebagai manusia yang berbeda dengan hewan atau benda mati. Kebutuhan manusia tidak sama dengan kebutuhan kerbau walau keduanya sama-sama makhluk hidup, dan manusia bukan robot.

Tuhan sendiri, sebagai penguasa di atas segala penguasa, telah memberikan reward dan kompensasi atas segala apa yang ia perintahkan kepada manusia. Al-Kahfi ayat 17: 30-31;

Artinya: (30). Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal

saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala

orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan

yang baik. (31). mereka Itulah (orang-orang yang) bagi

mereka surga 'Adn, mengalir sungai-sungai di

bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan

gelang mas dan mereka memakai pakaian hijau dari

sutera Halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk

(23)

sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah;

14

At-Taubah ayat 9: 60;

Artinya (60). Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang- orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk orang memerdekakan budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

15

Ayat di atas adalah ayat yang biasa digunakan para ulama sebagai dalil tentang 8 (delapan) asnaf penerima zakat. Satu hal yang bisa kita ambil dari ayat ini yakni bahwa Allah memberi hak kepada para amil zakat untuk dapat menerima zakat. Tidak dikatakan dalam ayat ini bahwa amil yang berhak menerima zakat adalah amil yang miskin, artinya tidak ada batasan apakah amil itu orang kaya atau miskin. Lantas mengapa orang yang mengurusi zakat berhak menerima zakat?. Jawabannya adalah karena pekerjaannya. Jika dalam hal mengurusi zakat saja Allah memberi reward, maka ini artinya Allah mengajarkan kepada umat manusia agar memberikan reward kepada setiap orang yang telah bekerja.

Demikianlah Islam membangun prinsip manajemen sumberdaya manusia, yang seharusnya dikembangkan dalam kehidupan nyata. Sistem kompensasi yang didasarkan pada keahlian secara ekplisit mengkaitkan reward terhadap pengembangan keahlian. Cara ini sangat tepat untuk dilakukan apabila karyawan tidak memiliki kontrol terhadap hasil-hasil kinerjanya Efektifitas evaluasi kinerja tergantung pada ketepatan penggunaan masing-

14Ibid, 15Ibid,

(24)

masing bentuk data yang ditentukan sebagai sasaran suatu sistem dan tingkat pengawasan atas kinerja karyawan untuk masing-masing variabel yang dinilai. Data hasil kinerja biasanya digunakan untuk keputusan pemberian “reward”.

C.

Penutup

Sumber daya manusia merupakan kekuatan terbesar dalam

manajemen seluruh resources yang ada, karena pada dasarnya seluruh

ciptaan Allah yang ada dimuka bumi ini sengaja diciptakan oleh Allah untuk

kemaslahatan umat manusia. Oleh karena itu sumber daya yang ada ini

harus dikelola dengan benar karena itu merupakan amanah yang akan

dimintai pertanggungjawabannya kelak. Untuk mendapatkan pengelolaan

yang baik ilmu sangatlah diperlukan untuk menopang pemberdayaan dan

optimalisasi manfaat sumber daya yang ada. Di dalam surah Ar-Rohman

ayat ke 33, Allah telah menganjurkan manusia untuk menuntut ilmu seluas-

luasnya tanpa batas dalam rangka membuktikan kemahakuasaan Allah

SWT.

(25)

DAFTAR PUSTAKA

Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Cet. I, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997).

Buchari Zainun, Manajemen Sumber Daya Manusia Indonesia. (Jakarta: PT Gunung, 2001).

Departemen Agama RI, Al-Qur.an dan Tafsirnya (Edisi Revisi 2008).

Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan; Suatu Analisa Psikologi danPendidikan, Cet. III(Jakarta: Pustaka al-Husna, 1995).

Jalaluddin, Filsafat Pendidikan Islam, Cet. II,(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996).

Priyono, Pengantar Manajemen, (Sidoarjo: Zifatama Publisher, 2007).

Sofyandi Herman, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Yogyakarta: Gra-ha Ilmu, 2005).

T. Hadi Handoko, Manajemen Personalia dan Sumber daya Manusia edisi 2, (Yogyakarta: BPFE, 2001).

Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, Cet. III,(Jakarta: Bumi Aksara, 1996).

Wakhudin, Tarmizi Taher; Jembatan Umat, Ulama dan Umara (Bandung:

Granesia, 1998).

Figur

Memperbarui...

Related subjects :