• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSTRUKSI PENDIDIKAN REPRODUKSI BAGI REMAJA DALAM BINGKAI PENDIDIKAN ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KONSTRUKSI PENDIDIKAN REPRODUKSI BAGI REMAJA DALAM BINGKAI PENDIDIKAN ISLAM"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Ahmad Sulton (Konstruksi Pendidikan Reproduksi Bagi

Remaja Dalam Bingkai Pendidikan Islam) p-ISSN 2580-7056; e-ISSN 2580-7064

KONSTRUKSI PENDIDIKAN REPRODUKSI BAGI REMAJA DALAM BINGKAI PENDIDIKAN ISLAM

Ahmad Sulton

Institut Agama Islam Negeri Ponorogo email: [email protected]

Abstract: Adolescents are an age that is prone to deviations in sexual behavior. Sex education is very important for adolescents are able to understand themselves and their sexuality. Many things cause children in adolescence to commit sexual deviations or free sex as a way of escape from various problems and a lack of children’s ability to control themselves from their emotions. Sex education covers several aspects of life, consisting of: Anatomy of the body, health, personal hygiene, reproductive system, human relations, sexual response, religion, and expressions of love.

According to Islam, sex education is to educate lust in accordance with the teachings of Islam, so that it becomes a lust blessed by God, in order to create an atmosphere of calm and happiness in the home, a place to educate offspring who obey God and to find out adultery. This study is categorized as library research. This type of study is qualitative research. It is called qualitative because this study emphasizes the process, especially the process of obtaining information related to the title of the study, namely the construction of sex education for adolescents' perspective Islamic education. This study aims to understand sex education (reproduction) for adolescents from the perspective of Islamic education so that it can be expected to reduce sexual deviant behavior.

Key Word: Adolescence, Sex Education, Islam

Seiring dengan laju arus globalisasi yang begitu cepat telah meninggalkan

dampak yang signifikan terhadap bangsa Indonesia. Sebagaimana diketahui

bahwa globalisasi mengakibatkan bangsa Indonesia terbuka dengan hal-hal yang

dianggap baru, seperti: gagasan baru, data baru, dan informasi baru. Hal demikian

banyak dijumpai di lingkungan politik, ekonomi atau perdagangan, dan memiliki

peluang mengubah kebiasaan, tradisi, dan bahkan budaya lama. Sebagaimana

dapat kita lihat dalam contoh seperti: Mc Donald‟s, Berger King, Domino‟s Pizza,

Kentucky Fried Chicken, Jean‟s, dan lain lain. Barang-barang seperti ini telah

mengubah kebiasaan, dari sejak bangun tidur sampai tidur kembali seperti makan,

minum, pakaian, dan gaya hidup seorang atau kelompok orang dari “tradisional

lokal” ke “tradisional global. Globalisasi disatukan dengan kekuasaan

mengakibatkan perubahan yang sangat besar terhadap Bangsa ini. Kemajuan

semakin nyata diperlihatkan dalam beberapa bidang yaitu: bidang pemerintahan,

industri, pendidikan dan sosial.

(2)

Ahmad Sulton (Konstruksi Pendidikan Reproduksi Bagi

Remaja Dalam Bingkai Pendidikan Islam) p-ISSN 2580-7056; e-ISSN 2580-7064

Bersamaan dengan arus globalisasi yang hembusan semakin kencang ini tentu ikut andil dalam mempengaruhi sikap dan perilaku penduduk Indonesia terhadap masalah reproduksi. Dewasa ini, industri seks di tempat-tempat prostitusi semakin berkembang dan menjalar ke berbagai daerah di Tanah Air, meskipun ada upaya yang serius dari pemerintah untuk menghilangkan industri ini. Salah satu upaya pemerintah dalam rangka menghentikan industri tersebut adalah dengan menutup atau bahkan menghentikan tempat-tempat prostitusi beroperasi, sebagai salah satu contoh adalah apa yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur di bantu oleh Wali Kota Surabaya menghentikan Lokalisasi Dolly Surabaya. Namun, dalam kenyataannya, meskipun lokalisasi terbesar di Jawa Timur tersebut ditutup tetapi masih banyak praktik-praktik prostitusi di tempat lain. Salah satu alasan mengapa kemudian praktik prostitusi masih ada karena didasarkan dalam „hidden culture‟ (kebudayaan bersembunyi).

Terdapat perubahan besar dalam perlakuan masyarakat Indonesia terhadap persoalan seks. Penduduk Indonesia sudah terbukti mulai melakukan hubungan seks pada umur semakin muda atau masa remaja. Perubahan tersebut tidak mengherankan mengingat masa remaja adalah periode yang penuh dengan perubahan tubuh maupun perubahan mental, waktu anak berusia remaja menemukan kesempatan untuk mencoba hal-hal yang baru. Menurut Alex Sobur sebagaimana dikutip oleh Diananda mengemukakan bahwa masa remaja merupakan masa peralihan atau transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa (Diananda, 2019).

Dalam konteks Indonesia, pemerintah melakukan usaha yang serius dalam

mempraktikan pendidikan reproduksi di institusi pendidikan atau sekolah

khusunya di Sekolah Menengah Atas, melalui metode memberikan materi

pendidikan reproduksi bagi remaja sebagai bagian integrasi dari materi pelajaran

atau kurikulum pendidikan, misalnya dimasukkan dalam mata pelajaran

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK). Di samping itu, materi

pendidikan reproduksi bagi remaja dapat dilakukan terpisah dengan mata

pelajaran lain dan menjadi mata pelajaran tersendiri, seperti mata pelajaran

Kesehatan Reproduksi Remaja. Kebijakan ini terdapat dalam kurikulum yang

(3)

Ahmad Sulton (Konstruksi Pendidikan Reproduksi Bagi

Remaja Dalam Bingkai Pendidikan Islam) p-ISSN 2580-7056; e-ISSN 2580-7064

digunakan di Indonesia saat ini sebagaimana yang diatur oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku (Hermiyanty dkk., 2016).

Pada masa remaja, memiliki curiosity tentang seksualitas sangat urgen khususnya dalam pembentukan relasi dengan lawan jenisnya. Hal demikian menyebabkan remaja selalu berusaha mencari informasi mengenai seksualitas.

Dalam melacak informasi itu, Remaja harus didampingi dan dibimbing oleh orang tua atau guru agar tidak terjerumus kepada tindakan seks bebas. Remaja hari ini begitu mudah mengiyakan permintaan lawan jenis untuk melakukan hubungan seks sebelum menikah dengan alasan suka sama suka dan saling mencintai satu sama lain. Remaja tidak pernah berfikir kerugian apa yang akan diterimanya jika melakukan hubungan seksual di luar pernikahan. Berdasarkan hasil penelitian Sarwono sebagaimana dikutip oleh Diana Oktaviani & Supriyo, tindakan seksual didahului dengan pegangan tangan dengan pacar, perempuan (93%), bercimuan laki- laki (61,6%), perempuan (39,4%), raba payudara laki- laki (2,32%), perempuan ( 6,7%), pegang alat kelamin, laki- laki ( 7,1%), perempuan (1%), hubungan seks, laki- laki (2%) (Oktaviani & Supriyo, 2016).

Peningkatan masalah-masalah remaja seperti kehamilan di luar nikah, pemerkosaan yang terjadi pada saat berkencan, dan penyakit seksual yang menular dilatarbelakangi oleh kurangnya memahami tindakan seks yang benar.

Hal demikian terjadi karena kurang terbukanya informasi mengenai seks yang benar dan sehat dalam masyarakat, bahkan muncul kecenderungan bahwa membahas seks secara inklusi diduga tidak bermoral dan tabu (Irmayanti &

Zuroida, 2019). Media informasi yang tersebar dalam masyarakat, baik melalui media masa maupun media elektronika menjadi refrensi remaja tentang seks.

Untuk memperoleh informasi mengenai seks yang benar dan sehat, para remaja memerlukan pendidikan seks dalam kehidupannya.

Berdasarkan fenomena-fenomena yang terjadi pada remaja sebagaimana

keterangan di atas, maka perlu perhatian serius bagi kalangan akademisi Islam

untuk ikut terlibat dalam menyelesaikan problematika tersebut. Oleh karena itu,

menjadi sangat urgen untuk mengkaji pendidikan reproduksi bagi remaja dalam

perspektif Islam sebagai salah satu bentuk usaha mensosialisasikan dan

(4)

Ahmad Sulton (Konstruksi Pendidikan Reproduksi Bagi

Remaja Dalam Bingkai Pendidikan Islam) p-ISSN 2580-7056; e-ISSN 2580-7064

menyebarluaskan informasi-informasi pendidikan reproduksi yang benar sehingga mampu menggurangi atau bahkan menghilangkan penyimpangan-penyimpangan perilaku seksual yang terjadi di masyarakat.

METODE

Metode merupakan sesuatu yang urgen dalam penelitian. Baik dan buruk produk penelitian salah satunya ditentukan oleh metode penelitian. Studi ini dikategorisasikan sebagai studi kepustakaan (library research). Dikatakan studi kepustakaan karena studi ini dilakukan secara langsung di perpustakaan bukan lapangan untuk memperoleh data yang diperlukan baik data kualitatif atau kuantitatif. Jenis studi ini adalah penelitian kualitatif. Dinamakan kualitatif, sebab studi ini lebih menekankan pada proses, terutama proses untuk memperoleh informasi berkaitan dengan judul studi yaitu konstruksi pendidikan reproduksi bagi remaja dalam bingkai pendidikan Islam. Karena fokusnya pada proses, maka penelitian ini juga bersifat alamiah dan induktif (Bogdan & Biklen, 1997). Teknik analisis data yang digunakan adalah model analisis deskriptif-eksploratif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman dengan mengikutsertakan 3 unsur analisis: reduksi data, penyajian data, dan pembuatan simpulan. Pertama, langkah reduksi data dilaksanakan dengan cara menggolongkan dan mengklasifikasi data yang lebih urgen, esensial, substansial, dan relevan dengan permasalahan yang dirumuskan. Kedua, pada langkah penyajian data dilakukan dengan cara menata data dalam sebuah sistem informasi yang padu dan sarat akan makna. Ketiga, langkah penarikan kesimpulan dilakukan dengan penafsiran data dan penyelesaian dengan menelusuri informasi-informasi baru yang dibutuhkan dalam menyusun simpulan yang tepat (Lexy, 1994).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pendidikan Reproduksi Bagi Remaja Dalam Bingkai Pendidikan Islam

Islam menganjurkan agar setiap muslim baik remaja, dewasa, dan orang tua

tetap menjaga dari perbuatan asusila. Begitu pula sebaliknya, setiap muslimah

baik gadis, istri, dan nenek harus suci dari perbuatan asusila. Si bujang dan si

gadis tidak melakukan senggama sebelum nikah (premarital intercource), si

(5)

Ahmad Sulton (Konstruksi Pendidikan Reproduksi Bagi

Remaja Dalam Bingkai Pendidikan Islam) p-ISSN 2580-7056; e-ISSN 2580-7064

dewasa tidak melakukan senggama di luar nikah (extra marital intercoure), dan si duda dan di janda tidak melakukan senggama sesudah kematian atau perceraian istri/suami (postmarital intercourse). Setiap orang tua apapun latar belakang suku, bangsa, agama, maupun kebudayaannya ingin anak gadisnya tetap perawan sampai kawin.

Menurut pandangan M. Kasim Mugi Amin, terdapat ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Islam berkaitan dengan pendidikan reproduksi, antara lain:

anjuran khitan khususnya bagi remaja laki-laki, ajaran dalam bentuk larangan kejahatan/penyimpangan seksual dan sekaligus konsekuensi berupa pemberian sanksi bagi yang melakukannya, perintah menegakkan syari‟at perkawinan dalam Islam, perintah menetapkan etika seksual yang benar, dan anjuran menetapkan syari‟at yang mengatur hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan (Amin, 1997) .

Berdasarkan pembacaan terhadap literatur-literatur yang telah diuraikan di atas, penulis berpandangan bahwa pendidikan reproduksi merupakan usaha untuk melakukan proses bimbingan dan arahan kepada peserta didik tentang pentingnya mengetahui dan memahami makna, fungsi alat-alat reproduksi bagi laki-laki dan perempuan , dan tujuan reproduksi, sehingga dapat kesadaran kepada seseorang agar mengerti tentang arti, fungsi, dan tujuan seks, sehingga dapat menyalurkan ke jalan yang benar, dan dapat menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan seks yang menyimpang serta syahwat yang tidak terkendali. Dalam hal ini, peran pendidik adalah menanamkan nilai-nilai yang berkaitan dengan seks serta fungsi bagi remaja khususnya pelajar. Dengan pendidikan seks yang diberikan itu, setidak-tidaknya telah memberi bekal yang positif bagi remaja yang sebentar lagi terjun ke masyarakat, karena dilihat dari usia remaja sudah mendekati usia perkawinan.

Dalam perspektif Islam, pendidikan reproduksi adalah proses bimbingan

atau dampingan terhadap hasrat (nafsu syahwat) agar selaras dengan ajaran Islam,

hasil dari proses bimbingan itu adalah menjadikan hasrat dapat dirahmati oleh

Allah swt. agar tercipta suasana kedamaian dan kebahagian dalam rumah tangga,

(6)

Ahmad Sulton (Konstruksi Pendidikan Reproduksi Bagi

Remaja Dalam Bingkai Pendidikan Islam) p-ISSN 2580-7056; e-ISSN 2580-7064

dan menjadi tempat untuk mendidik keturunan yang taat kepada Allah dan supaya menjahui perbuatan zina. (Yadin, 2016).

Pendidikan reproduksi, sampai hari ini masih dianggap tabu oleh kalangan masyarakat, apalagi diberikan kepada remaja. Ada kekhawatiran apabila remaja mendapatkan pendidikan seksual, mereka akan terjerumus dalam pergaulan bebas atau bahkan seks bebas. Tetapi kalau dicermati, sebenarnya persoalan tersebut tidak perlu terjadi apabila pendidikan seks tersebut diberikan secara proposional.

Para remaja mendapatkan pendidikan seks untuk menjadi bekal dirinya kelak, bukan untuk dilaksanakan sekarang. Sebab dengan pendidikan seks yang benar, maka remaja diharapkan dapat memahami arti penting hubungan seks dilakukan serta bagaimana akibat yang ditimbulkan apabila dilakukan tidak semestinya.

Dengan bekal pendidikan seks tersebut para remaja justru akan lebih mengetahui dampak negetif yang ditimbulkan bila melakukan hubungan seks sebelum waktunya.

Konstruksi Pendidikan Reproduksi Bagi Remaja dalam Bingkai Pendidikan Islam

Pada bagian pembahasan ini, penulis akan mengemukakan konstruksi pendidikan reproduksi dalam bingkai pendidikan Islam merujuk pada elaborasi teoretik George R. Knight. Dalam pengertian yang sangat sederhana dan mudah dipahami sebagaimana tertuang dalam buku yang berjudul Issues and Alternatives in Educational Philosophy, Knight menjelaskan dengan sangat gamblang bahwa terdapat beberapa rumusan untuk menjelaskan segala sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan yaitu: tujuan pendidikan, kurikulum pendidikan, metode pendidikan, konsep pendidik, dan konsep peserta didik (Knight, 2007) . Berkaitan dengan pendidikan reproduksi ini, penulis hanya akan menjelaskan sekurang- kurangnya tiga rumusan, yaitu: tujuan pendidikan reproduksi, kurikulum pendidikan reproduksi, dan metode pendidikan reproduksi sebagaimana yang akan dijelaskan di bawah ini

Tujuan Pendidikan Reproduksi Bagi Remaja Perspektif Pendidikan Islam

Segala sesuatu yang dilakukan atau dikerjakan, jelas ada harapan yang ingin

diwujudkan. Bagitu juga dengan pendidikan reproduksi, memiliki tujuan yang

(7)

Ahmad Sulton (Konstruksi Pendidikan Reproduksi Bagi

Remaja Dalam Bingkai Pendidikan Islam) p-ISSN 2580-7056; e-ISSN 2580-7064

mulia. Tujuan ini menjadi sebuah dasar, acuan, dan pedoman dalam pelaksanaan suatu proses pembinaan pendidikan reproduksi. Tujuan pendidikan reproduksi bagi peserta didik, utamanya para remaja tidak lepas dari upaya membimbing moral dan akhlak yang mulia peserta didik, agar mereka memahami gejolak- gejolak seksual yang dialami dan mengantisipasinya dengan cara yang benar dan sehat. Secara lebih khusus dan terperinci akan diuraikan tujuan pendidikan reproduksi bagi remaja perspektif Islam sebagaimana dikemukakan oleh para ahli di bawah ini

Menurut Abieno, tujuan pendidikan reproduksi adalah menjadikan sikap yang sehat pada diri seseorang terhadap persoalan seks dan seksualitas (Abineno, 1980). Lebih lanjut bahwa sikap seks yang sehat bukan hanya diekspresiakan melalui perkataan, tetapi juga ungkapan-ungkapan lain yang dapat membentuk sikap dan perilaku yang benar tentang seks. Jika kita salah memahami seks, bisa jadi pendidikan reproduksi yang diberikan mengakibatkan pandangan yang keliru mengenai seks itu sendiri. Untuk itu, seks harus dipahami secara benar, tidak hanya sebagai dorongan jasmaniyah semata tetapi juga harus dipahami sebagai fitrah manusia yang harus dijaga dan dihormati. Dengan demikian, apa yang diajarkan harus mampu membentuk pandangan yang positif, sehingga tidak mendorong untuk melakukan hubungan seks yang salah.

Sikun Pribadi, dalam buku yang berjudul Mutiara-mutiara Pendidikan mengemukakan bahwa tujuan pendidikan reproduksi adalah untuk membimbing peserta didik menjadi pribadi yang dewasa sehingga dapat melakukan hubungan seks secara benar (Pribadi, 1987). Hubungan seks yang benar adalah hubungan seks yang bertanggungjawab dan akan berpengaruhi positif kepada anak, sedangkan hubungan seks yang tidak benar dapat berdampak negatif dan merugikan anak itu sendiri. Jadi seorang harus menyadari akan segala konsekuensi dari hubungan seks yang dilakukan.

Menanggapi pendapat Sikun Pribadi yang cenderung memaknai seks hanya

terbatas sebagai hubungan senggama semata. Hendrawan Nadesul mengatakan

bahwa tujuan pendidikan reproduksi adalah menanamkan nilai-nilai kepada

peserta didik khususnya remaja, menanamkan sikap, pandangan, dan perilaku

(8)

Ahmad Sulton (Konstruksi Pendidikan Reproduksi Bagi

Remaja Dalam Bingkai Pendidikan Islam) p-ISSN 2580-7056; e-ISSN 2580-7064

bagaimana membawa peran seksualnya sesuai dengan jenis kelaminnya. Begitu juga menanamkan bagaimana bergaul dengan lawan jenis, bagaimana menjaga diri agar yang sudah bisa tetapi belum boleh dipegang. Pendidikan reproduksi yang benar, tidak mengajarkan peserta didik dan remaja berpraktek seks (knowing is doing), mereka dibuat lebih mengerti dan menghormati seks sebagai sesuatu yang luhur, bukan sesuatu yang kotor dan dosa (Nadesul, 2007). Pendidikan reproduksi menjadi panduan agar remaja tidak terjerumus ke dalam kegiatan beresiko penyakit kelamin, seks prematur, dan hamil di luar nikah.

Tujuan pendidikan reproduksi menurut Utsman adalah memberikan data yang tepat dan memadai kepada generasi muda khususnya remaja sesuai kebutuhan untuk memasuki masa baligh (dewasa), menjauhkan generasi muda khususnya remaja dari perbuatan mesum, serta mengatasi persoalan seksual, dan memahami batasan-batasan relasi antara laki-laki dan perempuan yang boleh dan tidak boleh atau yang perlu dihindari (Ath-Thawill, 2000). Tujuan pendidikan reproduksi sebagaimana gambaran Ath-Thawill nampak bertolak belakang dengan tujuan pendidikan seks di Barat terutama negara-negara liberal. Poin penting yang diajarkan di negara Barat adalah cenderung pada aspek teknis pendidikan seks yang menerangkan anatomi tubuh, kesehatan reproduksi dan bagaimana mencegah penyakit kelamin dan kehamilan dini. Jadi pembelajaran dalam pendidikan seks tanpa mengajarkan nilai-nilai moral seks, atau mencegah agar tidak melakukan seks sebelum waktunya, tetapi lebih menekankan pada safe sex (seks aman).

Dari uraian beberapa pendapat di atas, maka penulis dapat menyimpulkan

bahwa tujuan pendidikan reproduksi bagi remaja perspektif pendidikan Islam

adalah menolong remaja untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber dari

dorongan seksual, membantu menyiapkan dan membentuk manusia dewasa yang

dapat memahami akan peran dan fungsi seksnya serta dapat bertanggungjawab

terhadap perilaku seksnya, baik secara individu, sosial maupun agama, sehingga

tidak akan terjerumus dalam perilaku seks menyimpang atau seks yang tidak

bertanggungjawab yang didasarkan pada nilai-nilai keislaman. Usaha tersebut

dapat diwujudkan dengan memahami pola pergaulan, cara berpakaian, dan

(9)

Ahmad Sulton (Konstruksi Pendidikan Reproduksi Bagi

Remaja Dalam Bingkai Pendidikan Islam) p-ISSN 2580-7056; e-ISSN 2580-7064

bagaimana mensikapi perilaku seks yang sehat, serta memahami akan pentingnya menjaga organ reproduksinya agar terhindar dari perilaku seks yang tidak sehat.

Penulis menyadari bahwa fenomena perilaku seks menyimpang yang dilakukan oleh remaja, termasuk para peserta didik, disebabkan oleh kurangnya memiliki pengetahuan dan informasi yang benar tentang apa yang dialami oleh remaja terkait dengan perkembangan seksualnya. Akibat yang jelas adalah banyak terjadi kasus pergaulan bebas di kalangan remaja khususnya pelajar, pacaran melampaui batas, hamil di luar nikah dan kasus aborsi anak, belum lagi ada beberapa kasus pelajar yang terpaksa dikeluarin oleh pihak sekolah karena terlibat kasus perkosaan, hamil dan nikah dini. Hal senada juga dikemukakan oleh Komnas Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa tidak kurang 93,7% remaja pernah melakukan hubungan seksual, 83% pernah nonton vide porno, dan 21,2%

pernah melakukan aborsi di dua belas kota besar di Indonesia seperti: Sumatera Barat, Riau, Palembang, Lampung, Medan, Makasar, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Surabaya, Malang, dan Bogor (Fitriana & Siswantara, 2018).

Akibat dari perilaku seks tersebut, tidak hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi juga memiliki dampak terhadap orang tua, sekolah dan lingkungan masyarakat sekitar. Misalnya, siswi hamil di luar nikah, siswi tersebut harus menanggung malu, putus sekolah dan menjadikan masa depan dirinya menjadi tidak jelas. Belum lagi kalau pacar (pasangan) yang menghamili lari dan tidak bertanggungjawab, maka bisa dipastikan siswi tersebut akan menanggung beban atas janin yang ada dalam perutnya, menderita malu termasuk orang tuanya, sekolah terputus dan masa depan menjadi hancur.

Kurikulum Pendidikan Reproduksi Bagi Remaja Perspektif Pendidikan Islam

Berbicara kurikulum tidak bisa dilepaskan dengan dunia pendidikan, karena

kurikulum merupakan alat yang krusial dalam meralisasikan program pendidikan,

baik pendidikan formal maupun non formal. Dalam dunia pendidikan, kurikulum

merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Oleh

karena itu, kurikulum hendaknya bersifat adaptif terhadap perubahan zaman dan

(10)

Ahmad Sulton (Konstruksi Pendidikan Reproduksi Bagi

Remaja Dalam Bingkai Pendidikan Islam) p-ISSN 2580-7056; e-ISSN 2580-7064

kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, karena pendidikan akan selalu menyesuaikan perkembangan zaman agar pendidkan dapat diterima oleh masyarakat yang membutuhkan.

Secara lebih khsusus Ahmad Sulton mengemukakan bahwa kurikulum merupakan salah satu komponen pokok dan penting dalam aktivitas kependidikan khususnya pendidikan Islam, dan bahkan beberapa pakar pendidikan menyatakan kurikulum sebagai jantung yang memompa dan menggalirkan nilai-nilai (values) penting pendidikan Islam menuju peserta didik. Pendek kata, sukses atau kurang berhasil produk pendidikan Islam sangat bergantung pada kurikulum yang diterjemahkan oleh pendidik (Sulton, 2015).

Kurikulum pendidikan Islam sendiri dalam kenyataanya tidak menyinggung secara jelas tentang pendidikan reproduksi, tetapi hanya tersirat dalam materi pembelajaran yang ada. Dan guru pendidikan Islam mempunyai peran untuk menggali hal-hal yang tersirat tersebut untuk diajarkan secara terencana dan nyata agar dapat bermanfaat bagi peserta didik. Untuk itu, dalam mengembangkan potensi dirinya perlu mendapatkan perhatian yang serius agar dapat mencapai tujuan sebagaiman yang diharapkan. Sebagaimana diketahui bahwa kurikulum dalam pengertian sempit diidentikan dengan sebagai materi pelajaran yang diberikan guru terhadap peserta didik, maka dibawah ini akan dijelaskan materi- materi pendidikan reproduksi menurut para pakar diantaranya adalah:

Le Francois mengidentifikasikan pokok-pokok bahasan materi dalam pendidikan reproduksi antara lain sebagai berikut (Le Francois, 1977):

Pertama, pendidikan reproduksi untuk sekolah menegah pertama, meliputi materi pokok: 1) Aspek biologis yang terdiri dari sistem endoktrin, menstruasi, kehamilan dan persalinan, perbedaan bentuk tubuh, masturbasi dan intercourse (bersetubuh, respon terhadap rangsangan seksual, aborsi, pengendalian kelahiran);

2) Hubungan interpersonal, yang terdiri dari heteroseksual, homoseksual,

bagaimana emosi berpengaruh terhadap fungsi organ, dan pemahaman hak dan

tanggungjawab keluarga; 3) Konsep diri, yang terdiri dari bagaimana tanggapan

orang terhadap diriku, bagaimana perasaanku terhadap diri sendiri, mengapa

(11)

Ahmad Sulton (Konstruksi Pendidikan Reproduksi Bagi

Remaja Dalam Bingkai Pendidikan Islam) p-ISSN 2580-7056; e-ISSN 2580-7064

orang kadang menyukai dan kadang membenci, mengapa kadang-kadang saya membenci orang lain.

Kedua, pendidikan reproduksi untuk sekolah menengah atas, muatan materi meliputi: 1) Aspek biologis, yang terdiri dari alat reproduksi laki-laki dan perempuan, konsepsi (pembuahan); 2) Perilaku seksual, yang terdiri dari libido seksual, intercourse (bersetubuh, respon terhadap rangsangan seksual, aborsi, pengendalian kelahiran), bagaimana memanfaatkan energi remaja, 3) Macam- macam perilaku seksual, terdiri dari penyimpangan seksual, prostitusi dan perkosaan, dan 4) Penyakit hubungan seksual

Materi-materi pendidikan reproduksi yang disebutkan di atas meskipun direkomendasikan untuk diajarkan kepada peserta didik, tetapi bukan berarti tidak perlu disaring dan disesuaikan dengan kondisi dan situasi setempat. Menurut hemat penulis bahwa materi-materi pendidkan seks tersebut yang diajarkan harus tetap dalam kolidor norma agama dan norma kesusilaan, serta disesuaikan dengan perkembangan peserta didik.

Berbeda dengan para ahli sebelumnya yang menekankan materi pendidikan reproduksi secara tematik, Rono Sulistyo dan Nashih Ulwan membuat rencana materi pendidikan reproduksi berdasarkan tingkat usia (Saputra, 2016). Rono Sulistyo menggelompokan usia dari: 7 – 10 tahun, 11 – 13 tahun, dan 14 – 16 tahun . Sedangkan Nashih Ulwan agak berbeda pada pembagian rentang usia, yaitu: 7 – 10 tahun, 10 – 11 tahun, 14 – 16 tahun, dan usia melewati remaja.

Keduanya, baik dari Rono Sulistyo dan Nashih Ulwan memiliki kesamaan dalam membagi rentang 14 – 16 tahun. Menurut pandangan penulis, pada rentang usia 14 – 16 tahun itu berada pada usia anak SMP akhir dan awal memasuki SMA, meskipun dari sisi materi sedikit terdapat perbedaan.

Rono sulistyo mengemukakan bahwa peserta didik pada umur kisaran 7

sampai 10 tahun, perlu diberikan materi tentang seks yang dilakukan oleh

binatang secara umum kemudian disusul seks yang dilakukan oleh manusia, dari

mulai berjumpanya ovum dengan sperma, umur kisaran 11 sampai 13 tahun

diajarkan tentang embriologi instrumen kelamin dalam, anatomi dan terjadi tanda-

tanda kelamin sekunder, menstruasi, konsepsi (pembuahan) dan persalinan,

(12)

Ahmad Sulton (Konstruksi Pendidikan Reproduksi Bagi

Remaja Dalam Bingkai Pendidikan Islam) p-ISSN 2580-7056; e-ISSN 2580-7064

anomali tindakan seksual seperti perkosaan, prostitusi dan lain-lain. Pada umur kisaran 14 sampai 16 tahun, diajarkan materi tentang intercouse (bersetubuh, respon terhadap rangsangan seksual, aborsi, pengendalian kelahiran), premarital intercouse, promiscuity, illigimitasi, dan VD (Venereal Desease). Dijelaskan pula aspek sosial dari hubungan seksual dan rasa tanggungjawab.

Nashih Ulwan dalam persoalan ini agak berbeda pandangan dengan Rono Sulistyo mengenai materi yang diajarkan pada anak umur kisaran 7 sampai 10 tahun, yaitu meliputi sebagai berikut: anak diajarkan tata krama, memohon ijin masuk rumah dan etika dalam melihat lawan jenis, umur kisaran 10 sampai 11 tahun, anak dijauhkan dari persoalan-persoalan yang memicu nafsu birahi, umur kisaran 10 sampai 16 tahun, anak diajarkan sopan santun dalam bergaul dengan lawan jenis, jika telah mampu menempuh jenjang pernikahan, dan usia telah menghampiri remaja, anak diajarkan tentang sopan santu dan menahan diri jika anak belum mampu jenjang pernikahan.

Dari beberapa pendapat yang telah penulis kemukakan, terdapat perbedaan pandangan dalam materi pendidikan seks di atas. Di satu sisi ada yang tidak menghendaki nilai-nilai agama dimasukkan dalam materi pendidikan seks, seperti yang dianut oleh bangsa Barat, termasuk diantaranya adalah Francois, dan lain sebagainya. Di sisi yang lain menginginkan nilai-nilai agama dijadikan dasar dan pondasi dalam mengajarkan pendidikan seks, sebagaimana dikehendaki oleh Nashih Ulwan dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, konsep hubungan seksual dalam materi pendidikan seks harus ditekankan bahwa hubungan seks hanya boleh dilakukan dalam ikatan pernikahan yang sah, bukan hubungan seks pra- nikah atau seks bebas.

Jadi materi pendidikan seks itu meliputi materi yang sebenarnya selalu dibutuhkan oleh peserta didik. Kadang-kadang peserta didik juga tidak tahu tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan seksual, misalnya, seks itu apa?

bagaimana dengan masturbasi atau onani?. Bagi sebagian peserta didik persoalan

yang ditanyakan terkadang belum dipahami. Orang tua di rumah sebenarnya

mempunyai peran hal itu, namun kadang orang tua binggung untuk memberikan

jawaban atas pertanyaan tersebut.

(13)

Ahmad Sulton (Konstruksi Pendidikan Reproduksi Bagi

Remaja Dalam Bingkai Pendidikan Islam) p-ISSN 2580-7056; e-ISSN 2580-7064

Wenita Indrasari memberikan tips khusus untuk menjawab beberapa pertanyaan tersebut, seperti berikut (Indrasari, 2004): Pertama, bersikaplah wajar.

Kedua, jawablah dengan informasi yang sederhana terlebih dahulu dan tidak terpancing untuk langsung menjawab pertanyaan. Ketiga, utamakan informasi yang bisa langsung diikuti dengan tindakan kebersihan diri anak. Keempat, selain informasi yang jujur, tetap perhatikan reaksi psikologi anak, dan Kelima, kaitkan dengan pelajaran disekolah.

Kurikulum pendidikan reproduksi dalam perspektif Islam sebagaimana yang diajarkan oleh para ustad, kiai, dan mudaris di pesantren dapat dirujuk dari kitab- kitab hukum Islam atau fiqh. Dalam konteks ini, kitab-kitab fiqh yang menjelaskan tentang materi-materi pendidikan reproduksi diantaranya adalah sebagai berikut: al-Haid wa al-Nifas (Kitab Haid dan Nifas), Risalah al-Mahid (masalah haid), Uqu Dulljain, dan Qurrotul ‘Uyun, untuk kitab kedua terakhir banyak dipelajari di pesantren terutama pada waktu ngaji kilatan. Penulis dapat menarik benang merah dalam bentuk ringkasan bahwa kitab tersebut menjelaskan tentang nifas, persalinan, kehamilan, haid, hal-hal yang tidak diperbolehkan bagi perempuan yang mengalami kondisi tersebut, dan tata cara thaharah dan shalat bagi mereka (Sanusi, 2015).

Berdasarkan semua uraian-uraian di atas, maka kurikulum pendidikan seks yang dapat diajarkan kepada remaja, khususnya pelajar, menurut pendapat penulis adalah sebagai berikut: memakai hijab dan etika berpakaian, etika dalam pergaulan antara laki-laki dan perempuan, hubungan seksual laki-laki dan perempuan, proses kejadian manusia, memilih pasangan hidup, pernikahan, wanita yang boleh dinikahi dan yang tidak boleh dinikahi, pornografi, zina dan bahayanya, dan tindakan seks menyimpang (masturbasi, onani, homoseksual, lesbi, heteroseksual, dan lain sebagainya).

Metode Pendidikan Reproduksi Bagi Remaja Perspektif Pendidikan Islam Metode secara umum dapat diterjemahkan sebagai cara yang ditempuh untuk menggapai sesuatu. Dalam konteks filsafat pendidikan Islam, metode merupakan instrumen yang dipakai untuk menggapai tujuan pendidikan Islam.

Metode apabila dikaitkan dengan pendidikan Islam, Abuddin Nata memberikan

(14)

Ahmad Sulton (Konstruksi Pendidikan Reproduksi Bagi

Remaja Dalam Bingkai Pendidikan Islam) p-ISSN 2580-7056; e-ISSN 2580-7064

arti metode dengan cara untuk memahami, menggali dan mengembangkan pengetahuan agama Islam pada diri seseorang (Nata, 2005). Penggunaan metode disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik dan bahan yang diajarkan.

Menurut Ahmad Tafsir sebagaimana dikutip oleh Rosmiati Azis mengemukakan bahwa dalam memilih dan menggunakan metode yang paling cocok harus mempertimbangkan banyak hal, diantaranya adalah: keadaan peserta didik yang akan dibimbing, termasuk kecerdasan, kematangan dan perbedaan individu., tujuan yang akan dicapai dalam proses pendidikan, kondisi ruang kelas dan lingkungan sekolah, instrumen-instrumen yang tersedia untuk memberikan pembelajaran, kemampuan pendidik (guru), dan sifat bahan atau media yang akan digunakan dalam proses pembelajaran (Azis, 2019).

Nina Surtiretna dalam buku yang berjudul Remaja dan Problema Seks Tinjauan Islam dan Medis menggaris bawahi bahwa pendidikan reproduksi harus diajarkan secara benar, dengan memperhatikan situasi dan kondisi peserta didik.

Pendidikan reproduksi harus diajarkan sesuai dengan usia peserta didik, dan tidak boleh dilepaskan dari nilai-nilai keagamaa. Secara teknis, pelaksanaan pendidikan reproduksi bisa diberikan oleh pendidik melalui pelajaran agama dan biologi (Surtiretna, 2006).

Memperhatikan pendapat di atas, maka pelaksanaan pendidikan reproduksi juga harus memperhatikan akan metode yang digunakan dalam pelajaran agama maupun medis. Tentu saja dengan memperhatikan kondisi dan kesiapan peserta didik sesuai dengan pertumbuhan dan lingkungan yang ada. Ini dilakukan agar pendidikan seks yang diajarkan oleh guru dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan dengan mengkaitkan aspek-aspek yang penting dalam kehidupan.

Metode pendidikan reproduksi yang benar dapat menggunakan metode

ceramah, diskusi kelompok, tanya jawab, oper head projector (OHP), film dan

gambar-gambar (Fitriana & Siswantara, 2018). Penggunaan metode ceramah

misalnya, dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai hal yang menyangkut

etika pergaulan, etika dalam berpakaian, mengenai organ-organ reproduksi

seksual dan fungsinya, akibat-akibat dari penyimpangan seks serta seluk beluk

permasalahan reproduksi. Metode ceramah bisa juga digunakan untuk

(15)

Ahmad Sulton (Konstruksi Pendidikan Reproduksi Bagi

Remaja Dalam Bingkai Pendidikan Islam) p-ISSN 2580-7056; e-ISSN 2580-7064

menjelaskan masalah pertumbuhan dan perkembangan seksual, proses reproduksi manusia (kejadian manusia), mulai terjadinya konsepsi (pembuahan), pertumbuhan janin dalam kandungan sampai proses kelahiran. Metode ini juga bisa digunakan untuk menjelaskan bagaimana memilih pasangan, bagaimana pernikahan dan segala hal yang berkaitan dengan hubungan laki-laki dan perempuan, termasuk perilaku seks yang menyimpang serta bahayanya.

Dalam menjelaskan hal-hal tersebut di atas, pendidik juga bisa menggunakan bantuan ilustrasi, baik berupa gambar, film maupun melalui OHP, bahkan untuk sekarang dengan media pendidikan lainnya. Sedangkan metode tanya jawab dapat digunakan untuk memberi peluang kepada peserta didik atas beberapa persoalan yang belum diketahui yang menurut merek belum dipahami terkait hal-hal yang berhubungan dengan materi pendidkan seks yang diajarkan.

Metode ini dapat diterapkan dalam berbagai tempat sehingga memudahkan semua pihak untuk memberikan pengertian tentang seks. Namun demikian, penggunaan metode tetap memperhatikan situasi dan kondisi peserta didik, apalagi jika pendidikan seks itu dilakukan di sekolah.

KESIMPULAN

Dari semua uraian yang telah dipaparkan di atas, penulis dapat menarik benang merah dalam bentuk simpulan bahwa pendidikan reproduksi bagi remaja dapat dikonstruksi dengan menggunakan pendekatan Islam. Penulis membutuhkan pembacaan yang serius dalam menyusun konsep pendidikan reproduksi bagi remaja berbasis pendidikan Islam. Penulis menempuh dua langkah dalam menyusun pendidikan reproduksi bagi remaja perspektif pendidikan Islam, yaitu:

Pertama, melakukan sistematisasi pembahasan berkaitan rumusan pendidikan

yang meliputi: tujuan, kurikulum, dan metode pendidikan dengan mengacu pada

elaborasi konseptual yang dikemukakan George R. Knight. Kedua, melacak

pembahasan yang berkaitan rumusan pendidikan Islam dan relasinnya dengan

pendidikan reproduksi bagi remaja melalui pemikiran-pemikiran intelektual

Muslim terutama berkaitan dengan hukum Islam yang bersumber dari Al-Qur‟an

dan Hadis. Eksistensi pendidikan reproduksi bagi remaja dalam bingkai

(16)

Ahmad Sulton (Konstruksi Pendidikan Reproduksi Bagi

Remaja Dalam Bingkai Pendidikan Islam) p-ISSN 2580-7056; e-ISSN 2580-7064

pendidikan Islam menjadi salah satu bentuk ijtihad untuk menyelesaikan

problematika yang dihadapi oleh para remaja. Rumusan pendidikan reproduksi

dapat diimplementasikan secara integrasi atau terpisah dengan kurikulum

pendidikan Islam. Penelitian sederhana ini hanya mengkonstruksi tiga konsep

pendidikan reproduksi bagi remaja dalam bingkan pendidikan Islam yaitu tujuan

pendidikan, kurikulum pendidikan, dan metode pendidikan. Oleh sebab itu, masih

perlu penggalian informasi lebih lanjut dalam bentuk penelitian-penelitian

sehingga dapat berkonstribusi dalam pengembangan pendidikan Islam.

(17)

Ahmad Sulton (Konstruksi Pendidikan Reproduksi Bagi

Remaja Dalam Bingkai Pendidikan Islam) p-ISSN 2580-7056; e-ISSN 2580-7064

DAFTAR PUSTAKA

Abineno, J. L. C. (1980). Seksualitas dan pendidikan seksuil. Gunung Mulia.

Amin, Muh. K. M. (1997). Kiat Selamatkan Cinta Pendidikan Seks Bagi Remaja Muslim (1 ed.). Titian Ilahi Press.

Ath-Thawill, U. (2000). Ajaran Islam Tentang Fenomena Seksual. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Azis, R. (2019). Hakikat dan Prinsip Metode Pembelajaran PAI. Inspiratif Pendidikan, 8(2), 292–300.

Bogdan, R., & Biklen, S. K. (1997). Qualitative research for education. Allyn &

Bacon Boston, MA.

Diananda, A. (2019). Psikologi remaja dan permasalahannya. ISTIGHNA: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam, 1(1), 116–133.

Fitriana, H., & Siswantara, P. (2018). Pendidikan kesehatan reproduksi remaja di SMPN 52 Surabaya. The Indonesian Journal of Public Health, 13(1), 107–

118.

Hermiyanty, H., Hasanah, H., & Setiawan, H. (2016). Implementasi pendidikan kesehatan reproduksi remaja dalam kurikulum pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di sekolah menengah atas Kota Palu. Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako), 2(1), 45–57.

Indrasari, W. (2004). Ketika Anak Remaja: Kiat Membimbing Anak Remaja Untuk Memahami Perkembangan Reproduksinya (1 ed.). PT. Elex Media Kompitudo.

Irmayanti, N., & Zuroida, A. (2019). PENGEMBANGAN MODEL PENGETAHUAN PERILAKU SEKS MELALUI SEKS EDUCATION UNTUK SISWA SMA. Journal of Urban Sociology, 2(1), 76–85.

Knight, G. R. (2007). Filsafat Pendidikan (1 ed.). Gama Media.

Le Francois, G. R. (1977). Children An Introduction to Child Development (1 ed.). Wadwortt.

Lexy, J. M. (1994). Metode-Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja

Rosda Karya.

(18)

Ahmad Sulton (Konstruksi Pendidikan Reproduksi Bagi

Remaja Dalam Bingkai Pendidikan Islam) p-ISSN 2580-7056; e-ISSN 2580-7064

Nadesul, H. (2007). Seputar Seks: Menjawab 140 Mitos (1 ed.). Gradien Books.

Nata, A. (2005). Filsafat Pendidikan Islam. Gaya Media Pratama.

Oktaviani, D., & Supriyo, S. (2016). Pengaruh Layanan Bimbingan Kelompok Teknik Diskusi Terhadap Perilaku Seksual Pranikah Siswa. Indonesian Journal of Guidance and Counseling: Theory and Application, 5(1).

Pribadi, S. (1987). Mutiara-Mutiara Pendidikan (1 ed.). Erlangga.

Sanusi, S. (2015). Konsep pembelajaran Fiqh dalam Perspektif Kesehatan reproduKsi. Edukasia: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 10(2).

Sulton, A. (2015). KURIKULUM PESANTREN MULTIKULTURAL (Melacak Muatan Nilai-Nilai Multikultural Dalam Kurikulum Pondok Pesantren Sunan Drajat Banjarwati Paciran Lamongan). ULUL ALBAB Jurnal Studi Islam, 16(1), 1–20.

Surtiretna, N. (2006). Remaja dan Problema Seks Tinjauan Islam dan Medis.

Bandung: Remaja Rosdakarya.

Yadin, Y. (2016). Pendidikan Reproduksi (Seks) Pada Remaja; Perspektif

Pendidikan Islam. Jurnal Studi Agama dan Masyarakat, 12(1), 81–99.

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai contoh, Palinscar dan Brown (1984) dalam (Slavin, 2008:203) menemukan bahwa pemahaman dapat dikembangkan dengan mengajari siswa kemampuan-kemampuan

Berhasil hasil penelitian dapat dismpulkan sebagai berikut: (1) Pengukuran kedisiplinan pada peserta didik SMP Negeri 40 Purworejo belum menggunakan instrumen yang

Induksi Pembentukan Kalus dan Regenerasi Tanaman Pembentukan kalus enam persilangan pada kultur antera padi lokal beras hitam dengan varietas budiaya memiliki waktu yang

Kebutuhan rasa aman misalnya kebutuhan rasa aman bilaman sewaktu- waktu berhenti bekerja dengan alasan yang tidak terhindarkan seperti sakit, pemutusan hubungan

Dari hasil observasi yang telah dilaksanakan melalui pengamatan, pembelajaran Bahasa Indonesia pada aspek membaca dengan penggunaan metode ceramah dan media papan

perbedaan antara nilai intrinsic saham dengan nilai pasarnya berdasarkan analisis fundamental dengan pendekatan PER merupakan perbedaan yang signifikan dengan tingkat

PERSEMBAHAN ... DAFTAR LAMPIRAN ... Latar Belakang Masalah ... Batasan Masalah ... Rumusan Masalah ... Tujuan Penelitian ... Manfaat Penelitian ... Sistematika Penulisan

13 orang menerima nasihat dari anggota keluarga nasihat untuk berhenti merokok 15 orang dari teman 26 orang yang tidak pernah mendapat nasihat 166 orang yang