1
BEBERAPA ASPEK BIOLOGI KUTU PUTIH (Paracoccus marginatus) (HEMIPTERA: PSEUDOCOCCIDAE) PADA TANAMAN TERUNG
DI RUMAH KACA
SKRIPSI
OLEH :
PRATOMI SIMARMATA 150301182
HAMA PENYAKIT TANAMAN
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2020
2
BEBERAPA ASPEK BIOLOGI KUTU PUTIH (Paracoccus marginatus) (HEMIPTERA: PSEUDOCOCCIDAE) PADA TANAMAN TERUNG
DI RUMAH KACA
SKRIPSI
OLEH :
PRATOMI SIMARMATA 150301182
HAMA PENYAKIT TANAMAN
Skripsi sebagai Salah Satu Syarat untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Pertanian di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2020
1
ABSTRAK
Pratomi Simarmata 2020, “Beberapa Aspek Biologi Kutu Putih (Paracoccus marginatus) (Hemiptera: Pseudococcidae) pada Tanaman Terung di Rumah Kaca”, di bawah bimbingan Maryani Cyccu Tobing dan Ameilia Zuliyanti Siregar.
P. marginatus merupakan hama polipag yang menyerang tanaman terung.
Penelitian Biologi serangga kutu putih (Paracoccus marginatus) telah dilaksanakan mulai Januari sampai Juni 2020 di rumah kaca dan laboratorium Hama Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara menggunakan metode deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari beberapa aspek biologi kutu putih (P. marginatus) pada tanaman terung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: telur menetas setelah 6-8 (7.2±0.78) hari, nimfa instar pertama 5-7 (5.6±0.69) hari, nimfa instar kedua jantan 5-6 (5.4±0.51) hari, nimfa instar kedua betina 4-5 (4.4±0.51) hari, nimfa instar ketiga jantan 3-4 (3.5±0.52) hari, nimfa instar ketiga betina 4-5 (4.5±0.52) hari dan pupa jantan 4-7 (4.7±0.94) hari. Siklus hidup P. marginatus berkisar antara 31-37 (33,5 ± 5,18) hari. Umur imago betina 14-16 (14.7±0.67) dan imago jantan 3-5 (4.2±0.78) hari. Imago betina selama hidupnya dapat menghasilkan 1-2 ovisak dengan presentase telur yang menetas 89.08%. Perbandingan nisbah kelamin P. marginatus jantan : betina adalah 1 : 2,67
Kata kunci: Paracoccus marginatus, biologi, terung
ABSTRACT
Pratomi Simarmata 2020, "Some Aspects Biological of Mealybug (Paracoccus marginatus) (Hemiptera: Pseudococcidae) in Eggplant Plants in the Greenhouse", supervised by Maryani Cyccu Tobing and Ameilia Zuliyanti Siregar.
P. marginatus is a polypagic pest that attacks eggplant plants. The biology of mealybug insects (Paracoccus marginatus) has been carried out from January 2020 to June 2020 in the greenhouse and plant pest laboratory, Faculty of Agriculture, University of Sumatra Utara using descriptive methods. This study aims to study several aspects of the biology of mealybug (P. marginatus) in eggplant plants. The results showed that the life cycle of P. marginatus ranged between 31-37 (33,5 ± 5,18) days: eggs hatched after 6-8 (7.2 ± 0.78) days, first instar nymph 5-7 (5.6 ± 0.69) days, instar nymph second male 5-6 (5.4 ± 0.51) days, second female instar nymph 4-5 (4.4 ± 0.51) days, third male instar nymph 3-4 (3.5 ± 0.52) days, third female instar nymph 4-5 (4.5 ± 0.52) days and male pupal 4-7 (4.7 ± 0.94). The development time of the adult stage for female and male progeny were 14-16 (14.7 ± 0.67) days and 3-5 (4.2 ± 0.78) days. Female imago during their life can produce 1-2 ovisac with the percentage of eggs hatching 89.08%. The sex ratio of P. marginatus was 1: 2.67
Keywords: Paracoccus marginatus, biology, eggplant
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama Pratomi Simarmata dilahirkan pada tanggal 27 Februari 1997 di Medan, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Penulis berjenis kelamin Laki laki dan merupakan anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan Drs.
Oslen Simarmata Msi dan Masnur Sinaga. Alamat penulis di Perumahan graha Tj anom Blok D no 94 Kecamatan Pancur batu, Kabupaten Deli serdang, Provinsi Sumatera Utara.
Pendidikan formal penulis dimulai dari pendidikan di SD Agia Sophia (2004-2009), SMP Santo Yoseph Medan (2009-2012), SMA Santo Yoseph Medan (2012-2015), dan S1 Agroteknologi Universitas Sumatera Utara (2015- 2020). Penulis diterima di jurusan Agroteknologi melalui jalur SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dengan minat hama dan penyakit tumbuhan (HPT).
Selama mengikuti perkuliahan, Penulis ikut serta dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan yaitu anggota Himpunan Mahasiswa Agroteknologi (HIMAGROTEK), dan Penulis menjadi Asisten di Laboratorium Hama pada Tahun Ajaran 2018/2019
Penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PT Perkebunan Nusantara III Unit Kebun Dusun Hulu Kecamatan Ujung Pandang, Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara pada 16 Juli 2018 – 23 Agustus 2018. Penulis juga melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Pardomuan motung, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera utara pada 16 Juli 2019 – 20 Agustus 2019.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas kasihNya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya dengan judul “Beberapa Aspek Biologi Kutu Putih Paracoccus marginatus (Hemiptera: Pseudococcidae) pada Tanaman Terung di Rumah kaca”.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada bapak dan ibu tercinta, abang dan adik-adik penulis atas kasih, doa dan dukungannya, penulis juga mengucapkan terima kasih dan rasa hormat kepada Komisi Pembimbing, Prof. Dr. Dra. Maryani Cyccu Tobing, MS selaku Ketua dan Ameilia Zuliyanti Siregar, SSi, MSc, PhD selaku Anggota atas segala bimbingan dan arahannya mulai penulisan proposal, pelaksanaan penelitian hingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak mengalami kekurangan. Oleh karena itu, penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan hasil penlitian ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.
Medan, Desember 2020
Penulis
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Tujuan Penelitian ... 3
Kegunaan Penelitian ... 3
TINJAUAN PUSTAKA Kutu Putih Paracoccus marginatus ... 4
Morfologi ... 4
Siklus Hidup ... 5
Gejala Serangan... 7
Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Populasi P. marginatus ... 10
Pengendalian P. marginatus ... 11
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ... 13
Bahan dan Alat ... 13
Metode Penelitian ... 13
Persiapan Penelitian ... 13
PenyediaanTanaman Inang ... 13
Persiapan Kurungan Serangga ... 13
Penyediaan dan Perbanyakan P. marginatus ... 14
Investasi P. marginatus ... 14
Pemeliharaan ... 14
Pelaksanaan Penelitian ... 14
Stadia telur, nimfa dan imago P. marginatus ... 14
Jumlah Ovisak dalam sepasang imago ... 15
Persentase telur yang Menetas... 15
Nisbah Kelamin P. marginatus ... 15
Peubah amatan ... 16
Stadia telur, nimfa dan imago P. marginatus ... 16
Jumlah Ovisak dalam sepasang imago ... 16
Persentase telur yang Menetas ... 16
Nisbah Kelamin P. marginatus ... 16
HASIL DAN PEMBAHASAN Stadia telur nimfa dan imago P. marginatus ... 18
Telur ... 19
Nimfa ... 20
Imago ... 23
Jumlah Ovisak dari Sepasang Imago P. marginatus ... 26
Persentase Telur menetas P. marginatus ... 26
Nisbah Kelamin P. marginatus ... 27
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 29 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel Judul Hal
1 Perbedaan fase hidup P. marginatus 24
2 Jumlah ovisak dari sepasang imago P. marginatus 26
3 Presentase telur menetas P. marginatus 26
4 Nisbah Kelamin P. marginatus 27
DAFTAR GAMBAR
Gambar Judul Hal
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
Gejala malformasi daun
Koloni kutu putih P. marginatus Serangan pada pucuk daun Daun menguning
Tanaman mati
Daun yang ditutupi jamur jelaga Siklus hidup P. marginatus
Kumpulan telur dan Telur yang tidak menetas Nimfa instar 1
Perbedaan nimfa instar 2
Nimfa instar 3 betina dan pra pupa jantan Pupa jantan
Imago betina dan imago jantan
7 7 8 8 9 9 18 19 20 21 22 23 23
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Judul Hal
1 2 3 4 5 6 7 8
Data lama hidup setiap stadia P. marginatus
Data jumlah ovisak dari sepasang imago P. marginatus Data presentase telur menetas P. marginatus
Data jumlah ovisak dari sepasang imago P. marginatus Data nisbah kelamin P. marginatus
Data suhu dan kelembaban Deskripsi varietas terung Lampiran foto lahan penelitian
34 35 36 36 36 37 40 41
PENDAHULUAN Latar Belakang
Kutu putih papaya Paracoccus marginatus (Hemiptera : Pseudococcidae) ditemukan untuk pertama kalinya dari tanaman singkong Manihot esculenta di Meksiko pada tahun 1955. Hama ini dikumpulkan dari berbagai daerah di wilayah neotropis (Belize, Kosta Rika, Guatemala, dll). Williams dan Granara de Willink mendeskripsikan spesies pada tahun 1992 dan dideskripsikan kembali oleh Miller dan Miller pada tahun 2002. Hama ini berasal dari tanaman asli Meksiko, dan tidak pernah menyebabkan masalah serius di sana karena ketersediaan musuh alami endemiknya (Miller et al., 1999 ; Miller dan Miller, 2002 ).
Pada tahun 2002 di Guam, hama kutu putih P. marginatus dilaporkan menyerang tanaman pepaya dan kemudian pada tahun 2003 di Palau. Pada tahun 2004 hama ini menginvasi sampai Hawaii yang menyebabkan kerugian besar pada perkebunan pepaya (Heu et al., 2007).
Di Indonesia hama ini diketahui pertama kali menyerang tanaman papaya di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat pada Mei dan Juli 2008 dilaporkan telah banyak merusak pertanaman papaya milik petani di Bogor. Selanjutnya, pada tahun 2009 P. marginatus dilaporkan menyerang lebih dari 21 spesies tanaman dari famili Apocynaceae, Araceae, Caricaceae, Convolvulaceae, Cucurbitaceae, Euphorbiaceae, Fabaceae, Malvaceae, Moraceae, Myrtaceae, Rubiaceae, Anacardiaceae, Rosaceae, Rutaceae, Sapindaceae, Sapotaceae, dan Solanaceae (Sartiami et al., 2009 ; Thalib et al., 2014).
Serangan hama kutu putih meluas secara cepat ke berbagai wilayah Indonesia, antara lain Kabupaten Bogor, Sukabumi, Cianjur, Kota Depok (Jawa Barat), DKI Jakarta, Kabupaten Tangerang (Banten), beberapa kabupaten di Jawa
2
Tengah, Kota Surabaya (Jawa Timur), Kota Pekanbaru (Riau), Denpasar (Bali), dan Sulawesi (Friamsa 2009; Muniappan 2011).
Masuknya hama P. marginatus ke Indonesia telah menimbulkan kerugian besar pada tanaman pepaya. Pada tahun 2009, 10 kabupaten sentra pepaya di Jawa Tengah mendapat serangan parah hama kutu putih. Dilaporkan sekitar 135.000 tanaman pepaya di Kabupaten Boyolali terpaksa dimusnahkan, bahkan hama ini dilaporkan telah mencapai Kabupaten Klaten, yang terindikasi dari adanya 300 tanaman pepaya yang terserang (Sartiami et al., 2009).
Kutu putih P. marginatus merupakan serangga polifagus dan tercatat lebih dari 60 jenis tanaman inang dari 22 famili. Selain pepaya, inang penting lainnya yang dicatat adalah jeruk, mangga, alpukat, tomat, terong, lada, kacang, kacang polong, ubi jalar, kapas, kembang sepatu, ceri, delima, karet dll. (Miller dan Miller, 2002; Heu et al., 2007 ).
Terung (Solanum melongena) merupakan tanaman sayur-sayuran dari famili Solanaceae yang dapat ditemukan tumbuh di daerah tropik maupun subtropik, tergolong tanaman yang adaptif dan mudah ditanam, serta dapat tumbuh sepanjang tahun. Beberapa tanaman inang P. marginatus antara lain Carica papaya L. (pepaya), Citrus spp. (jeruk), Persea americana P. Mill.
(alpukat), Solanum melongena L. (terung), Hibiscus spp. (kembang sepatu), Plumeira spp. (kamboja) (Miller dan Miller, 2002; Hasyim et al., 2016 ).
Berdasarkan permasalahan di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang beberapa aspek biologi kutu putih P. marginatus pada tanaman terung di rumah kaca sebagai tindakan awal untuk melakukan pengendalian.
3
Tujuan Penelitian
Untuk mempelajari beberapa aspek biologi Kutu putih P. marginatus pada tanaman terung di rumah kaca.
Kegunaan Penulisan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai beberapa aspek biologi hama kutu putih P. marginatus pada tanaman terung sebagai tindakan awal untuk melakukan pengendalian di lapangan bagi pihak yang membutuhkan dan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.
4
TINJAUAN PUSTAKA
Hama Kutu Putih P. marginatus (Hemiptera: Pseudococcidae) Morfologi
Telur diletakkan secara berkelompok dalam sebuah kantung (ovisak), kantung telur terbuat dari benang - benang lilin yang sangat lengket mudah melekat pada permukaan daun, dan dapat diterbangkan angin. Telur yang tidak berhasil menetas akan berubah warnanya setelah satu hari menjadi agak kehitaman sedangkan telur yang berhasil menetas berwarna kuning tua (Pramayudi dan Oktarina, 2012).
Menurut Walker et al. (2008), individu betina P. marginatus melalui tiga stadia yaitu telur, nimfa, dan imago. Imago betina tidak memiliki sayap, dan bergerak perlahan dalam jarak yang dekat dan dapat diterbangkan oleh angin.
Serangga betina biasanya meletakkan telur 100 hingga 600 butir dalam sebuah kantung telur yang diletakkan dalam waktu satu hingga dua minggu. Individu jantan melalui empat stadia yaitu telur, nimfa, pupa dan imago. Stadium imago jantan memiliki satu pasang sayap, aktif terbang mendekati betina dewasa.
Imago betina kutu putih pepaya berwarna kuning dan dilapisi oleh lilin putih yang tidak terlalu tebal menutupi tubuhnya. Imago betina memiliki rangkaian filamen lilin pendek di sepanjang bagian tepi tubuh dan kantung telur berkembang di abdomen posterior bagian ventral. Imago jantan kutu putih pepaya memiliki sepasang sayap, sepuluh antena tersegmentasi, aedeagus yang berbeda, klaster pori lateral, toraks, dan kepala. Pada stadia pradewasa yaitu stadium nimfa instar 2, jenis kelamin jantan dan betina sudah dapat dibedakan. Kutu putih pepaya jantan pada nimfa instar kedua biasanya berwarna merah muda dan terkadang kuning sedangkan kutu putih betina bewarna kuning (Jithu et al., 2016).
5
Siklus Hidup
Kutu putih pepaya memilliki telur berwarna kuning kehijauan di dalam kantung telur (ovisak) yang panjangnya tiga samapai empat kali atau lebih dari pada panjang tubuhnya. Keseluruhan kantung telur ditutupi oleh lilin putih. Masa inkubasi bervariasi dari 3 hingga 9 hari (Kumar et al., 2014).
Imago betina sewaktu meletakkan telur posisi abdomen ditekukkan ke bawah dan ovipositor tegak lurus pada permukaan tanaman. Lalu telur diletakkan pada bagian bawah permukaan tanaman. Setelah meletakkan telur yang pertama, imago P. marginatus bergerak sedikit untuk melakukan proses peletakan telur berikutnya (Husni et al., 2012).
Nimfa kutu putih instar pertama disebut crawler dan belum dapat dibedakan jenis kelaminnya. Panjang tubuh nimfa instar pertama adalah rata-rata 0,42 ± 0,074 mm dan lebar tubuh rata-rata 0,27 ± 0,024 mm. Nimfa instar satu tubuhnya bewarna kekuningan. Lamanya hidup nimfa instar pertama (3,56 ± 0,53) hari (Al-Helal et al., 2012; Chellappan et al., 2013)
Nimfa kutu putih instar kedua sudah dapat dibedakan jenis kelaminnya dengan melihat warna tubuhnya. Nimfa instar dua jantan tubuhnya berwarna merah muda, sedangkan yang betina berwarna kuning. Kutu putih pepaya instar kedua memiliki panjang tubuh rata-rata 0.6 ± 0.054 mm dan lebar tubuh rata-rata 0.4 ± 0.089 mm. Lama hidup nimfa intar dua pada betina 4,4 hari dan jantan 4,3 hari(Al-Helal et al., 2012; Munwar et al., 2016 ).
Kutu putih instar ketiga betina memiliki panjang rata-rata 0.88 ± 0.04 mmdan lebar tubuh rata-rata mm dengan kisaran 0.57±0.03 mm. Secara umum kutu putih pepaya instar ketiga betina ukuran tubuhnya lebih besar dan lebih lebar dibandingkan dengan yang jantan. Stadium nimfa instar ketiga pada jantan disebut
6
prapupa, karena di sekitar tubuh serangga jantan mulai diselimuti oleh benang- benang lilin (Friamsa, 2009; Kumar et al., 2014 ).
Rata-rata lama perkembangan setiap stadium P. marginatus pada tanaman pepaya adalah stadium telur selama 6.80 ± 2.0 hari, nimfa instar pertama selama 5.8 ± 0.7 hari. Nimfa instar kedua betina selama 3.48 ± 0.5 hari, nimfa instar kedua jantan selama 4.5±0.5 hari, nimfa instar ketiga betina selama 8.52 ± 1.3 hari, nimfa instar ketiga jantan atau prapupa selama 2.3 ± 0.48 hari dan nimfa instar keempat atau pupa jantan selama 4.7 ± 0.4 hari. Lama hidup imago P.
marginatus betina adalah 53.56 ± 3.2 dan imago jantan 34.5±1.5 hari (Kumar et al., 2014).
Imago betina memiliki permukaan tubuh yang dilapisi oleh lilin putih tipis, memiliki rangkaian filamen lilin di sekitar tepi tubuh bagian posterior yang berukuran 1/4 kali panjang tubuhnya dan tidak memiliki sayap. Panjang tubuh imago betina rata-rata 2.14 ± 0.06 mm dan lebar tubuh rata-rata 1.21 ± 0.05 mm dengan kisaran 0,9 - 1,7 mm. Imago betina biasanya meletakkan 100 - 600 telur dalam satu kantung telur (ovisak). Peletakan telur biasanya berlangsung dalam satu sampai dua minggu, dan pada hari kesepuluh nimfa instar satu atau crawler sudah mulai aktif mencari makan (Kumar et al., 2014; Walker et al., 2008).
Imago jantan berwarna merah muda, terutama pada masa pra pupa dan pupa, sedangkan pada saat instar pertama dan kedua berwarna kuning. Panjang tubuh imago jantan rata-rata 1.29±0.03 mm dan lebar tubuh 0.17±0.01 mm. Imago jantan memiliki antena dengan 10 segmen, aedagus terlihat jelas, memiliki sejumlah pori lateral dan sayap berkembang dengan baik (Kumar et al., 2014).
7
Gejala Serangan
Kutu putih hidup secara bergombol dan menyerang tanaman inang dengan menusuk dan menghisap cairan tumbuhan dengan memasukkan stilet ke dalam jaringan epidermis daun, buah maupun batang. Pada waktu yang bersamaan kutu putih mengeluarkan racun ke dalam daun, sehingga mengakibatkan klorosis, malformasi daun muda dan buah rontok (Gambar 1), banyak menghasilkan embun madu yang dapat berasosiasi dengan cendawan jelaga, hingga kematian tanaman (Kauffman et al., 2001 ; Nasution et al., 2012).
Gambar 1. Gejala malformasi daun (Kauffman et al., 2001)
Serangan kutu putih pepaya biasanya ditandai oleh banyaknya gumpalan benang lilin berwarna putih pada permukaan bunga dan permukaan atas dan bawah daun (Gambar 2) (Cham et al., 2011).
Gambar 2. Koloni kutu putih (Cham et al., 2011)
8
Pada daun tua serangan biasanya terjadi pada tulang tengah dan urat daun, sedangkan pada daun muda dan buah terjadi pada seluruh bagian. Kutu putih mengisap cairan, menginjeksikan racun ke dalam jaringan tanaman. Serangan pada pucuk menyebabkan daun tumbuh kerdil dan keriput (Gambar 3) (Pantoja et al., 2007).
Gambar 3. Serangan pada pucuk daun (Pantoja et al., 2007).
Pada tanaman yang sudah dewasa, gejala yang muncul adalah daun menguning dan kelamaan daun akan gugur (Gambar 4). Serangan pada buah yang belum matang menyebabkan bentuk buah yang tidak sempurna. Serangan yang berat dapat menutupi permukaan buah hingga terlihat putih akibat tertutupi koloni kutu putih tersebut (Pantoja et al., 2007).
Gambar 4. Daun menguning (Pantoja et al., 2007).
Serangan kutu putih pepaya mengakibatkan bunga dan buah gugur sebelum waktunya. Selain menyebabkan kerusakan pada daun, batang, buah, dan
9
bunga, kutu putih pepaya menghasilkan embun madu yang dapat memicu tumbuhnya cendawan jelaga. Cendawan jelaga tumbuh dan berkembang menutupi permukaan daun sehingga menghambat proses fotosintesis. Selain pada papaya, hama ini juga menimbulkan kerusakan pada tanaman kamboja, kembang sepatu, jarak pagar, terung, dan ubi kayu. Namun kerusakan paling berat terjadi pada papaya. Serangan pada pucuk papaya menyebabkan daun menjadi kerdil dan keriput dan akhirnya tanaman mati (Gambar 5) (Muniappan et al., 2010 ; Walker et al., 2011).
Gambar 5. Tanaman mati
(Muniappan et al., 2010 ; Walker et al., 2011).
Populasi nimfa instar lanjut dan imago dewasa tinggi akan menyebabkan serangan yang serius seperti daun mengkerut, kerdil dan tanaman mati . Selain kerusakan langsung akibat aktivitas makan nimfa instar lanjut juga dapat mengakibatkan kerusakan tidak langsung yaitu adanya jamur jelaga (Gambar 6).
.
Gambar 6. Daun yang ditutupi jamur jelaga (Seni dan Chongtham, 2013).
10
Faktor yang mempengaruhi perkembangan Populasi P. marginatus
Ketersediaan pakan sangat berpengaruh pada perkembangan hama kutu putih papaya P. marginatus karena tanaman pepaya dapat tumbuh dimana-mana, dengan tersedianya tanaman papaya maka sumber pakan juga tersedia. Curah hujan dan angin berpengaruh pada penyebaran kutu putih P. marginatus menjadi lebih cepat karena ukuran tubuh yang kecil (Nasution et al., 2012).
Perbedaan jenis tumbuhan inang juga berpengaruh terhadap populasi kutu putih, kutu P. marginatus yang hidup pada daun pepaya memiliki stadium telur dan masa perkembangan nimfa yang paling singkat sedangkan yang paling lama pada ubi kayu. Keperidian tertinggi juga terdapat pada kutu putih yang dipelihara pada daun papaya. Hal ini menunjukan bahwa tanaman papaya meruapakan inang yang paling sesuai perkembangan dan pertumbuhan (Maharani et al., 2016)
Kutu putih P. marginatus memiliki ukuran tubuh yang kecil serta kepiridian tinggi dan kemampuan berkembang biak yang cepat karena sifat dari serangga ini mampu bereproduksi tanpa terjadinya fertilisasi (partenogenesis).
Musim kemarau telur – telur betina hasil pembiakan secara partenogenesis akan menghasilkan individu jenis jantan maupun betina, yang selanjutnya menghasilkan telur – telur yang dibuahi lebih banyak (Nasution et al., 2012).
Populasi kutu putih sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim sehingga kelimpahan populasi lebih tinggi didaerah kering dibandingkan dengan daerah curah hujan yang tinggi (basah). Keadaan suhu yang lebih panas dengan kelembaban rendah, merupakan tempat yang lebih sesuai untuk perkembangan kutu putih P. marginatus. Serangan kutu putih P. marginatus mengalami penurunan pada musim penghujan dengan curah hujan ringan berkisar 140 mm – 278,4 mm dan pada waktu tertentu dengan curah hujan yang sangat tinggi
11
serangan kutu putih sangat sedikit jumlahnya atau tidak sama sekali (Amarasekare et al., 2008).
Pengendalian P. marginatus
Pengendalian P. marginatus secara hayati dengan mengunakan musuh alami untuk kutu putih pepaya di daerah asalnya di Meksiko adalah Acerophagus papayae Noyes and Schauff, Anagyrus loecki Noyes and Menezes, Pseudoleptomastix mexicana Noyes and Schauff. Family Coccinellidae Predator
yang digunakan untuk mengendalikan kutu putih adalah Cryptolaemus montrouzieri (Coleoptera: Coccinellidae) (Muniappan et al., 2006).
Musuh alami untuk kutu putih pepaya yang ditemukan di wilayah Bogor
untuk golongan predator terdiri dari Ordo Diptera dari Famili Syrphidae;
Ordo Coleoptera dari Famili Coccinellidae; dan Ordo Neuroptera dari Famili Chrysopidae. Dari golongan parasitoid yang ditemukan adalah Ordo Hymenoptera dari Famili Encyrtidae, Braconidae, Scelionidae, dan
Eulophidae. Predator yang ditemukan dari wilayah Bogor sama dengan yang ditemukan di Sukabumi yaitu Scymnus sp., Curinus coeruleus, Chilocorus sp. dan Cryptolaemus montrouzieri (Sartiami et al., 2009).
Hasil penelitian Herlinda et al. (2012) menunjukan bahwa semua bioinsektisida yang berbahan aktif konidia B. bassiana efektif membunuh nimfa P. marginatus. Bioinsektisida yang paling efektif ialah bioinsektisida dengan bahan pembawa kompos yang mengandung cendawan Trichoderma virens yang mampu membunuh 82,86% nimfa P. marginatus sedangkan bioinsektisida yang paling rendah menyebabkan mortalitas P. marginatus 73,48% ialah bioinsektisida dengan bahan pembawa abu sekam.
12
Berbagai teknik pengendalian telah dilakukan petani, antara lain dengan melakukan eradikasi tanaman terserang, mengganti tanaman pepaya dengan tanaman lain yang relatif tahan, dan menyemprot hama menggunakan pestisida.
Namun dari sekian usaha pengendalian, belum ada satupun yang efektif menghentikan invasi hama ini. Pengendalian kimiawi dengan insektisida berbahan aktif asefat, karbaril, khlorpirifos, diazinon, dimetoat, malation, dan minyak mineral putih hanya efektif secara parsial, atau memerlukan aplikasi dua kali dari
dosis normal untuk memberikan efek terhadap infestasi hama kutu putih (Walker et al., 2011).
13
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Januari sampai Juni 2020 di Rumah Kaca dan Laboratorium Hama Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. (± 25 m di atas permukaan laut) dengan suhu ruangan 23,95-33,60˚C dan kelembaban relatif 54,60 - 84,00% .
Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan adalah tanaman terung (Solanum melongena .), polibag ukuran 5 kg, kain kasa, hama kutu putih P.
marginatus, kantong plastik, alkohol 70%, kayu triplek
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah ayakan tanah, loop, kuas halus, mikroskop, gembor, cawan petri, gunting. thermohygrometer untuk mengukur kelembaban dan suhu serta alat yang mendukung lainnya.
Metode Penelitian
Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode deskriptif yaitu mengamati secara langsung siklus hidup P. marginatus yang dipelihara pada tanaman terung dalam kurungan di rumah kaca.
Persiapan Penelitian
Penyediaan Tanaman Inang
Benih terung S. melongena yang digunakan ditanam langsung dalam polibag ukuran 5 kg dalam satu lubang. Media tanam yang digunakan yaitu tanah bagian atas (top soil) kemudian dimasukkan ke dalam polybag ukuran 5 kg.
Tanaman terung umur 3 bulan digunakan sebagai pakan kutu putih setelah tanam Persiapan Kurungan Serangga
Kurungan serangga berbentuk kubus yang terbuat dari kayu dengan ukuran
14
tinggi 40 cm dan lebar 50 cm yang ditutup dengan kain kasa di bagian atas kurungan dibuat resleting untuk memasukkan hama P. marginatus
Penyediaan dan Perbanyakan P. marginatus
Ovisak (kumpulan telur) P. marginatus dikumpulkan dari tanaman pepaya di lapangan. Kemudian diinokulasi dan dipelihara pada bibit terung berumur 3 bulan yang di dalam polibag. Kemudian masing-masing tanaman diinokulasikan P.marginatus dipelihara hingga berkembang menjadi nimfa instar sampai imago.
Imago generasi kedua yang dihasilkan, digunakan sebagai serangga uji dan ditutup dengan kain kasa. Tanaman terung disiram setiap hari untuk menghindari kekeringan tanaman terung.
Investasi P. marginatus Kutu putih yang digunakan dalam penelitian ini merupakan hasil dari perbanyakan yang dilakukan di tanaman inang terung. Satu ovisak P. marginatus, diletakkan di bagian daun terung, kemudian tanaman tersebut dikurung dan ditutup dengan kain kasa. Setelah telur menetas diambil 10 ekor nimfa instar dan dipindahkan ke daun yang lain pada tanaman yang sama dengan mengunakan kuas halus.
Pemeliharaan
Media tanam harus dilakukan penyiraman secara teratur, untuk menjaga kelembabannya dan tanaman inang agar tidak kekuranan air. Demikian pula sebaliknya media yang terlalu basah akan menyebabkan tanaman mati.
Penyiangan gulma dilakukan apabila di dalam polibag percobaan tersebut tumbuh gulma yang dapat mengganggu pertumbuhan.
Pelaksanaan Penelitian
a. Stadia telur, nimfa dan imago P. marginatus
15
Satu ovisak P. marginatus diletakan di daun bagian bawah dibiarkan sampai keluar nimfa. Telur yang telah menetas menjadi nimfa instar 1, kemudian dipindahkan ke dalam kurungan sebanyak 10 ekor/tanaman dengan 10 ulangan.
Selanjutnya diamati perkembangan nimfa instar 1 hingga imago meliputi warna dan umur setiap stadia. Dihitung persentase kematian mulai nimfa instar 1 sampai menjadi imago. Pengamatan dilakukan setiap hari.
b. Jumlah Ovisak dari Sepasang Imago
Dua pasang imago P. marginatus betina dan jantan hasil biakan tanaman baru sebanyak 5 ulangaan pada tanaman terung dipelihara hingga menghasilkan ovisak (kumpulan telur) Kemudian dihitung jumlah ovisak yang ada dalam satu kurungan tersebut dengan mengamati secara langsung.
c. Persentase Telur menetas
Sepasang imago generasi kedua yang telah dipelihara dan menghasilkan ovisak (kumpulan telur) sampai keluar nimfa. Tanaman yang daunnya telah diletaki telur oleh P. marginatus dan menetas menjadi nimfa instar 1 , selanjutnya daun dipotong dengan menggunakan gunting dan diamati di bawah mikroskop.
Kemudian dihitung persentase jumlah telur yang menetas dan telur yang tidak menetas
d. Nisbah Kelamin P. marginatus
Dua pasang imago P. marginatus betina dan jantan hasil biakan pada tanaman terung dipelihara hingga menghasilkan ovisak. Satu ovisak generasi kedua dimasukan ke tanaman baru sebanyak 5 ulangan sampai keluar nimfa instar jantan dan betina selanjutnya dibiarkan dan dihitung berapa jumlah jantan dan betina dengan mengunakan mikroskop, pengamatan dilakukan setiap harinya.
16
Peubah Amatan
a. Stadia telur, nimfa dan imago P. marginatus
Pengamatan dilakukan setiap hari meliputi warna dan umur setiap stadia.
Untuk mengetahui lama stadia telur dihitung pada saat telur diletakkan sampai menetas menjadi nimfa instar 1. Selanjutnya nimfa instar 1 dipelihara sampai menjadi imago untuk mengetahui lama stadia nimfa termasuk umur setiap nimfa instar dan jumlah nimfa yang menjadi imago. Sedangkan untuk mengetahui lama stadia imago, dihitung sejak imago muncul sampai imago mati. Kemudian dihitung persentase kematian dari nimfa instar 1 sampai menjadi imago.
b. Jumlah Ovisak dari Sepasang imago jantan dan betina
Pengamatan ini dilakukan untuk melihat jumlah ovisak P. marginatus hasil biakan pada tanaman terung. Ovisak (kumpulan telur) yang di hasilkan oleh satu pasang imago jantan dan betina, kemudian dihitung jumlah ovisak yang ada dalam satu kurungan hasil biakan pada tanaman terung.
c. Persentase Telur yang menetas
Pengamatan ini dilakukan untuk melihat jumlah telur yang menetas dan yang tidak menetas pada tanaman terung. Untuk mengamati persentase telur yang menetas ketika telur dihasikan dari sepasang imago jantan dan betina.
A = a
a + b x 100%
Keterangan
A = Presentase Telur menetas a = Telur yang menetas b = Telur yang tidak menetas d. Nisbah Kelamin P. marginatus
Pengamatan terhadap nisbah kelamin dinyatakan dalam perbandingan antara banyaknya jantan dan betina. Untuk membedakan imago jantan dan betina
17
dapat dilihat dari warna tubuhnya. Individu betina memiliki warna tubuh kuning yang ditutupi oleh lilin berwarna putih tidak bersayap dan mengeluarkan embun madu sedangkan individu jantan memiliki tubuh yang berwarna merah muda, namun terkadang kuning dengan memiliki sepasang sayap. Selanjutnya dihitung jumlah imago jantan dan betina.
18
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Telur menetas setelah 6-8 (7.2±0.78) hari, nimfa instar pertama 5-7 (5.6±0.69) hari, nimfa instar kedua jantan 5-6 (5.4±0.51) hari, nimfa instar kedua betina 4-5 (4.4±0.51) hari, nimfa instar ketiga jantan 3-4 (3.5±0.52) hari, nimfa instar ketiga betina 4-5 (4.5±0.52) hari, pupa jantan 4-7 (4.7±0.94) hari, imago betina 14-16 (14.7±0.67) dan imago jantan 3-5 (4.2±0.78) hari.
2. Imago betina selama hidupnya dapat menghasilkan 1-2 ovisak dengan rataan 1.6 ovisak.
3. Persentase telur menetas P. marginatus pada terung rata-rata mencapai 89.08%.
4. Perbandingan nisbah kelamin jantan betina P. marginatus adalah 1 : 2.67
19
DAFTAR PUSTAKA
Al-Helal MA, Ahmed KN, Khanom NEP, Bulbul S. 2012. Observation on Papaya Mealybug, Paracoccus marginatus Williams and Granara (Hemiptera:
Pseudococcidae) damiging some crops in Bangladesh. Journal of Plant Protection sciences. 4(2):8-15.
Amarasekare KG, Chong JH, Epsky ND, Mannion CM. 2008a. Effect of temperature on the life history of the mealybug Paracoccus marginatus (Hemiptera: Pseudococcidae). J Econ Entomol. 101: 1798–1804.
Amarasekare KG, Mannion CM, Osborne LS, Epsky ND. 2008b. Life history of Paracoccus marginatus (Hemiptera: Pseudococcidae) on four host plant species under laboratory conditions. Env Entomol. 37(3): 630–635.
CABI/EPPO. 2012. Paracoccus marginatus. Distribution Maps of Plant Pests, MapNo. 614. CAB International with EPPO. 2 p.
Cham D, Davis H, Obeng Ofori D, Owusu D. 2011. Host Range of the newly invasive mealybug species Paracocccus Marginatus Williams and Granara De Willink (Hemiptera: Pseudococcidae) in two ecological zones of Ghana Res Zoology. 1(1): 1–7.
Chellappan M, Lawrence L, & Ranjith MT. 2013. Biology and morphometry of Paracoccus marginatus Williams and Granara de Willink (Hemiptera:
Pseudococcidae). Entomon. 38(2): 97–110.
Friamsa N. 2009. Biologi dan Statistik Demografi Kutu Putih Pepaya, Paracoccus marginatus Williams & Granara de Willink (Hemiptera: Pseudococcidae) pada Tanaman Pepaya (Carica papaya L). Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Hasyim, A., W. Setiawati dan Liferdi. 2016. Kutu Kebul Bemisia tabaci Gennadius (Hemiptera: Aleyrodidae) Penyebar Penyakit
Virus Mosaik Kuning pada Tanaman Terung. Iptek Hortikultura.
Herlinda S, Agus DK, Firmansyah, Adam T, Irsan C, Thalib R, 2012. Bioesai bioinsektisida Beauveria bassiana dari Sumatera Selatan terhadap kutu putih pepaya, Paracoccus marginatus Williams & Granara De Willink (Hemiptera: Pseudococcidae). Indonesian Journal of Entomology. 9(2): 81- 87
Heu RA, Fukada MT, Conant P. 2007. Papaya mealybug, Paracoccus marginatus Williams and Granara de Willink (Hemiptera: Pseudococ-cidae). State of
20
Hawaii New Pest Advisory. Department of Agriculture No. 04–03 March 2007.
Husni, Pramayudi N, Faridah M. 2012. Biology of papaya mealy bug Paracoccus marginatus (Hemiptera: Pseudococcidae) in Cassava (Manihot utilissima pohl). Jurnal Natural . 12(2): 1-9.
Illathur R, Sridhar RP and Kennedy JS. 2018.Study on biology of Phenacoccus solenopsis (Tinsley) (Hemiptera: Pseudococcidae), Paracoccus marginatus (Williams and Granara de Willink) (Hemiptera: Pseudococcidae), Maconellicoccus hirsutus (green) (Pseudococcidae: Hemiptera) and Ferrisia virgata (Cockerell) (Hemiptera: Pseudococcidae) in laboratory conditions.
Journal of Fauna and Biological 5(5): 27-31.
Jithu UK, Meera G, Ajesh G, Jithine JR, Lekshmi NR, Deepasree MI. 2016. A review on Paracoccus marginatus Williams, papaya mealy bug (Hemiptera:
Pseudococcidae).Journal of Entomology and Zoology 4(1): 528-533
Kauffman WC, Myerdirk DE, Miller D, Schauff M, Hernandez HG, Jimenez JAV. 2001b. Papaya mealybug biological control in Puerto Rico and Dominican Republic. ESA Annual Meeting –2001: An Entomologica1 Odyssey of ESA.
Kumar V, Topogi SC, Prasad BSR, Revanasidda, Tharini KB, Kumar CTA. 2014.
Biology and management of mealybug, Paracoccus marginatus Williams and Granara de Willink on Jatropha curcas L. Journal of Applied and Natural Science. 6(2):770-778
Maharani, Y. A., Rauf, A., Sartimi, R., Anwar. 2016. Biologi dan neraca hayati kutu putih pepaya Paracoccus marginatus Williams and Granara de Willink (Hemiptera: Pseudococcidae). Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Miller DR, Williams DJ, & Hamon AB. 1999. Notes on a new mealybug (Hemiptera: Coccoidea: Pseudococcidae) pest in Florida and the Caribbean:
the papaya mealybug, Paracoccus marginatus Williams and Granara de Willink. Insecta Mundi 13(3–4): 179–181
Miller DR, Miller GL. 2002. Redescription of Paracoccus marginatus Williams, D. J. and Granara de Willink, (Homoptera:Coccoidea: Pseudococcidae), including descriptions of the immature stages and adult male. Proc Ent Soc Washington 104 (1): 1–23.
Muniappan, R, Meyerdirk DE, Sengebau FM, Berringer DD, Reddy GVP. 2006.
Classical biological control of the papaya mealybug, Paracoccus
21
marginatus (Hemiptera: Pseudococcidae) in the Republic of Palau. Florida Entomol. 89: 212–217.
Muniappan R, Shepard BM, Watson GW, Carner GR, Sartiami D, Rauf A, Hammig MD. 2010, First report of the papaya mealybug, Paracoccus marginatus (Hemiptera: Pseudococcidae), in Indonesia and India. J Agric Urban Ent. 25 (1): 37–40.
Muniappan R, Shepard BM, Watson GW, Carner GR, Rauf A, Sartiami D, Hidayat P, Afun JVK, Ziaur Rahman AKM. 2011, New records of invasive insects (Hemiptera: Sternorrhyncha) in Southeast Asia and West Africa. J Agric Urban Ent. 26: 167–174.
Munwar A, Mastoi MI, Gilal AA, Sehezad A, Bhatti AR, Zia A. 2016. Effect of different mating exposure timings on the reproductive parameters of mealybug, Paracoccus marginatus (Hemiptera: Pseudococcidae). Pakisan Entomologist. 38(1):65-69
Nasution SA, Max T, Juliet MEM. 2012. Penyebaran dan Tingkat Serangan Kutu Putih Pepaya di Sulawesi Utara. Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi Manado.
Pantoja A, Abreu E, Pena J, Robles W. 2007. Paracoccus marginatus Williams and Granara de Willink (Homoptera: Pseudococcidae) affecting papaya in Puerto Rico. J Agric University of Puerto Rico. 91 (3/4): 223–225
Pramayudi, N dan H.Oktarina, 2012. Biologi hama kutu putih pepaya (Paracoccus marginatus) pada tanaman pepaya. Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh. J. Floratek 7: 32 – 44 Sartiami, D., Dadang, R. Anwar & I.S. Harahap. 2009. Persebaran Hama Baru
Paracoccus marginatus di Propinsi Jawa Barat (Abstrak). Di dalam: Buku Panduan Seminar Nasional Perlindungan Tanaman. Bogor.
Seni, A dan Chongtham, S. 2013. Papaya mealybug Paracoccus marginatus Williams and Granara de Willink (Hemiptera: Pseudococcidae), a current threat to agriculture - a review. Agri. Reviews. 34 (3) : 216-222.
Seni, A. and Sahoo, A. K. 2014. Biology of the papaya mealybug, Paracoccus marginatus Williams and Granara de Willink (Hemiptera : Pseudococcidae).
IJAEB 7(4) : 875-81
Suganthy, M., Janaki., I. and Sakthivel, P. 2012. Biology of Mealy Bugs, Paracoccus marginatus (Williams and Granara de Willink) and Phenacoccus solenopsis (Tinsley) on Sunflower under Greenhouse and Laboratory. Madras Agricultural Journal 99(4): 371-373.
22
Thalib, R. Fachrullah, R.R. Adam, T. Khodijah. Dan Herlinda, S. 2014. Populasi dan serangan kutu putih pepaya Paracoccus marginatus (Hemiptera:
Pseudococcidae) pada tanaman pepaya di daerah dataran rendah Sumatera Selatan. J. HPT Tropika 14 (2): 136 – 141.
Walker, A; Hoy, M. and Meyerdirk, D. 2008. Papaya mealybug, Paracoccus marginatus Williams and Granara de Willink (Insecta: Hemiptera:
Pseudococcidae), Institute of Food and AgriculturalSciences, University of Florida.
Walker, A., Hoy, M and Mayerdirk, D. 2011. Papaya mealybug, Paracoccus marginatus Williams and Granara de Willink (Insecta: Hemiptera:
Pseudococcidae). Entomology and Nematology Department, Florida Cooperative Extension Service, University of Florida, Gainesville, FL Yani M, Aunu R, Dewi S, dan Ruly A. 2016. Biologi dan neraca hayati kutu
putih pepaya Paracoccus marginatus Williams & Granara de Willink (Hemiptera: Pseudococcidae) pada tiga jenis tumbuhan inang. Bogor. J.
HPT Tropika 1: 1 – 9.
23
LAMPIRAN
Lampiran 1. Data lama hidup setiap stadia P. marginatus
Stadia Rata-rata±SD (hari) Interval (hari)
Telur Nimfa instar 1 Nimfa instar 2 Jantan Nimfa instar 2 Betina Nimfa instar 3 Jantan Nimfa instar 3 betina
Pupa jantan Imago jantan Imago betina
7.2 ± 0.78 5.6 ± 0.69 5.4 ± 0.51 4.4 ± 0.51 3.5 ± 0.52 4.5 ± 0.52 4.7 ± 0.94 4.2 ± 0.78 14.7 ± 0.67
6 – 8 5 – 7 5 – 6 4 – 5 3 – 4 4 – 5 4 – 7 3 – 5 14 – 16
24
Ulangan Telur Nimfa instar
1
Nimfa instar 2 Nimfa instar 3 Nimfa instar
4 (Pupa Jantan)
Imago Jantan Betina Jantan Betina Jantan Betina
1 8 5 5 4 3 5 5 4 15
2 8 5 6 5 4 4 5 5 15
3 6 5 5 5 3 5 7 5 14
4 7 7 6 4 4 5 5 5 14
5 7 6 5 4 4 5 4 3 15
6 8 6 5 5 3 4 5 3 15
7 7 5 6 4 4 4 4 4 16
8 8 5 5 4 3 5 4 5 15
9 6 6 5 5 4 4 4 4 14
10 7 6 6 4 3 4 4 4 14
Rata - rata
7.2 5.6 5.4 4.4 3.5 4.5 4.7 4.2 14.7
Standart deviasi
0.78 0.69 0.51 0.51 0.52 0.52 0.94 0.78 0.67
35
Lam pir an 2. D ata p
er sen tase k em atian P . m argi nat us (n=
10)
Lampiran 3. Presentase telur menetas P. marginatus
Ulangan Jumlah telur Telur menetas Telur tidak menetas
Presentase telur menetas
(%) 1
2 3 4 5
197 220 175 290 215
151 206 155 278 195
46 14 20 12 20
76.64 93.63 88.57 95.86 90.69
Jumlah 1050 949 101 445.41
Rata – rata 210 189.8 20.2 89.08
Lampiran 4. Data jumlah ovisak dari sepasang imago P. marginatus
Ulangan Jumlah Ovisak
1 2 3 4 5
1 2 1 2 2
Jumlah 8
Rata - rata 1.6
Lampiran 5. Data nisbah kelamin P. marginatus
Ulangan Jumlah imago P. marginatus Nisbah Kelamin
Jantan Betina
1 2 3 4 5
40 43 37 86 62
111 163 118 192 133
1 : 2.77 1 : 3.79 1 : 3.18 1 : 2.23 1 : 2.14
Jumlah 268 717
Rata - rata 53.6 143,4
Lampiran 6. Data suhu dan kelembaban
6
Tanggal Suhu (C) Kelembaban
23-Mar-20 33.05 61.00
24-Mar-20 31.90 60.33
25-Mar-20 32.37 59.33
26-Mar-20 32.13 60.00
27-Mar-20 31.50 57.67
28-Mar-20 32.20 61.00
29-Mar-20 32.17 62.00
30-Mar-20 31.87 59.67
31-Mar-20 32.63 57.33
1-Apr-20 31.90 57.00
2-Apr-20 32.10 57.00
3-Apr-20 31.57 59.00
4-Apr-20 32.27 58.00
5-Apr-20 31.93 57.33
6-Apr-20 31.63 58.33
7-Apr-20 32.13 58.33
8-Apr-20 32.93 57.00
9-Apr-20 32.33 57.33
10-Apr-20 32.83 56.67
11-Apr-20 32.33 57.00
12-Apr-20 31.93 59.67
13-Apr-20 31.47 60.67
14-Apr-20 33.33 55.67
15-Apr-20 30.53 61.67
16-Apr-20 32.50 58.33
17-Apr-20 32.50 58.33
18-Apr-20 33.03 55.87
19-Apr-20 31.10 62.00
20-Apr-20 32.63 57.00
21-Apr-20 32.27 58.33
22-Apr-20 32.70 56.00
23-Apr-20 31.97 58.00
24-Apr-20 32.01 55.07
25-Apr-20 30.97 57.00
26-Apr-20 32.00 56.67
27-Apr-20 32.00 56.33
28-Apr-20 32.53 57.00
29-Apr-20 31.10 55.57
30-Apr-20 31.30 63.01
1-May-20 32.10 60.00
2-May-20 32.40 58.00
3-May-20 33.60 57.00
4-May-20 31.67 60.00
5-May-20 31.97 57.00
6-May-20 30.97 57.00
7
7-May-20 30.63 62.00
8-May-20 32.10 58.00
9-May-20 31.30 63.00
10-May-20 30.10 64.33
11-May-20 29.33 66.00
12-May-20 29.20 66.00
13-May-20 29.53 65.67
14-May-20 29.90 64.67
15-May-20 31.10 55.57
16-May-20 31.83 55.67
17-May-20 31.60 56.30
18-May-20 30.47 59.67
19-May-20 32.33 54.60
20-May-20 30.50 56.67
21-May-20 30.27 57.33
22-May-20 31.20 60.00
23-May-20 30.93 56.33
24-May-20 29.97 56.00
25-May-20 31.50 56.00
26-May-20 30.53 66.00
27-May-20 29.61 66.00
28-May-20 30.30 62.00
29-May-20 31.10 57.00
30-May-20 30.20 55.00
31-May-20 1-Juni-20 2-Juni-20 3-Juni-20 4-Juni-20 5-Juni-20 6-Juni-20 7-Juni-20 8-Juni-20 9-Juni-20 10-Juni-20 11-Juni-20 12-Juni-20 13-Juni-20 14-Juni-20 15-Juni-20 16-Juni-20
30.10 26.85 26.85 27.85 27.95 28.40 28.10 26.40 26.95 23.95 28.60 26.85 26.85 27.85 27.95 28.40 28.10
59.00 80.50 84.00 77.00 77.00 77.00 74.00 82.00 83.50 74.00 70.00 80.50 84.00 77.00 77.00 77.00 74.00
Rata – rata 30.79 64.43
Standard deviasi 1.93 8.01
Kisaran suhu rumah kaca selama penelitian: 23,95-33,60˚C Suhu rata-rata (T): 30,79˚C
8
Kisaran kelembaban selama penelitian: 54,60-84,00%
Kelembaban rata-rata (RH): 64,43%
Lampiran 7. Deskripsi varietas Terung
Deskripsi Varietas Largo
Asal : PT. East West Seed Indonesia
9
Sisilah : TP 17389 (F) x TP 17357 (M)
Golongan Varietas : hibrida
Tinggi tanaman : 85 – 110 cm
Bentuk penampang batang : bulat
Diameter batang : 1,1 – 1,5 cm
Warna batang : hijau keunguan
Warna daun : hijau keunguan
Bentuk daun : jorong berlekuk
Ukuran daun : panjang 22,5 – 30,0 cm, lebar 15 – 20 cm
Bentuk bunga : seperti bintang
Warna kelopak bunga : hijau keunguan
Warna mahkota bunga : ungu
Warna kepala putik : hijau
Warna benang sari : kuning
Umur mulai berbunga : 30 – 34 hari setelah tanam Umur mulai panen : 50 – 60 hari setelah tanam
Bentuk buah : Silindris
Ukuran buah : Panjang 33,26 – 34, 11 cm, diameter 3,33 – 3,52 cm
Warna kulit buah : ungu
Warna daging buah : putih
Rasa daging buah : putih
Bentuk biji : bulat pipih
Warna biji : coklat
Berat 1.000 biji : 4.5 – 5.5 g
Berat per buah : 146,51 – 155,80
Jumlah buah per tanaman : 17 – 28 buah Berat buah per tanaman : 2,57 – 4,44 kg Daya simpan buah pada suhu : 23 – 26 OC
Hasil buah per hektar : 64,14 – 108,58 ton Populasi per hektar : 25.000 tanaman Kebutuhan benih per hektar : 112,5 – 137,5 g
Penciri utama : batang atas bewarna ungu tua, tulang daun bewarna ungu tua, kelopak bunga/tangkai buah bewarna hijau keunguan
Keungulan varietas : umur panen genjah (50 – 60 hari setelah tanam) bulat lebat (17 – 28 buah per tanaman) Produksi tinggi ( 2,57 – 4,44 kg per tanaman)
Wilayah adaptasi : beradaptasi dengan baik di dataran rendah sampai ketinggian 350 m dpl
Pemohon : PT. East West Seed Indonesia
Pemulia : Nugraheni Vita R., Rahman Awaludin
Peneliti : Tukiman Misidi, M. Taufik Hariyadi
Lampiran 8. Foto lahan penelitian
10