• Tidak ada hasil yang ditemukan

3 METODOLOGI. 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "3 METODOLOGI. 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini terdiri dari 2 tahapan, yakni dilaksanakan pada bulan Agustus 2012 untuk survey data awal dan pada bulan Februari-Maret 2013 pengambilan data lapangan dan penelusuran data sekunder. Lokasi penelitian adalah Pulau Liukang Loe, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan. Letak lokasi penelitian terletak di wilayah perairan sebelah selatan pulau Sulawesi tepatnya pada posisi 05 38' 30.4" LS dan 120 26' 62.4" BT. Dengan batas-batas wilayah :

Sebelah utara : Pantai Bira Sebelah timur : Pulau Kambing Sebelah selatan : Pulau Selayar Sebelah barat : Laut Flores

Pelaksanaan survey penelitian disesuaikan dengan tingkat kedatangan wisatawan dimana dalam penelitian ini dilakukan pada dua periode yakni musim puncak (peak season) dan musim kedatangan kurang (low season). Menurut Wong (1998), peningkatan intensitas kegiatan wisata pesisir di Asia Tenggara umumnya terjadi pada musim panas (bulan Mei sampai September). Letak lokasi dan stasiun penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.1.

3.2 Jenis dan Sumber Data Penelitian

Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini dan pertimbangan kondisi wilayah penelitian, maka penelitian ini dilakukan dengan metode survey dan studi literatur dimana data bersumber dari data primer yakni data yang dikumpulkan melalui observasi dan pengukuran langsung di lapangan dan data sekunder yang bersumber dari instansi terkait dengan pengelolaan Pulau Liukang Loe sebagai kawasan wisata bahari. Adapun objek dalam penelitian ini yakni terkait dengan aktivitas wisata bahari antara lain ekosistem terumbu karang untuk aktivitas wisata selam dan snorkling, pantai berpasir putih untuk wisata pantai serta kualitas perairan kaitannya dengan daya dukung ekologi. Adapun jenis data yang dibutuhkan, sumber dan metode pengumpulan data dapat dilihat pada Tabel 3.1 sebagai berikut.

(2)

G am b ar 3 .1 P et a L o k as i d an S ta si u n P en eliti an d i P u la u L iu k an g L o e K ab u p ate n B u lu k u m b a

(3)

1,….dst *) A. Fisika-Kimia-Biologi 1. BOD (mg/l) 2. Oksigen terlarut (mg/l) 3. Amonia (mg/l) 4. pH 5. Salinitas (0/∞) 6. Suhu (0 C) 7. Kekeruhan (NTU) 8. Bakteri E. coli (MPN/100 ml) Biologi/Non-Biologi 1.Tutupan terumbu karang (%) 2. Profil pantai - Tipe pantai (m) - Lebar pantai (m) - Kemiringan pantai 3. Ikan karang 4. Vegetasi pantai 5. Biota berbahaya Hidroosanografi 1. Kecerahan (m) 2. Kedalaman (m) 3.Kecepatan arus (cm/dtk) 4. Material dasar 5. Ketersediaan air tawar Peta 10 >5 2 6.5-8.5 Alami Alami 5 1 000 - - - - - - - - - - - Titrasi DO meter Spektrofotometer pH meter Refraktometer Termometer Turbidimeter Titrasi Meteran/LIT Meteran, Waterpass, - - - Secchi disk Tali penduga &

meteran Layang-layang arus,kompas dan stopwatch - - Analisis SIG Lab. In situ Lab. In situ In situ In situ In situ Data sekunder Data sekunder In situ Data sekunder In situ In situ In situ In situ In situ In situ In situ Citra Quickbird B. C. D

Keterangan : *) = Baku mutu wisata pesisir (Kepmen Negara LH No. 51 Tahun 2004).

3.2.1. Rancangan Penelitian

Pada penelitian ini Dusun yang dijadikan tempat pengambilan contoh adalah Dusun Ta’buntuleng dan Pasilohe. Pengambilan contoh lokasi ini didasarkan pada keterwakilan pemanfaatan sumberdaya dan mata pencaharian masyarakat secara dominan. Adapun kelompok masyarakat yang terambil menjadi contoh adalah Nelayan, Tokoh Masyarakat, Pemerintah Desa dan Jasa. Sementara untuk pengambilan contoh wisatawan, teknik pengambilan contoh dilakukan secara accidental sampling, yaitu contoh yang diambil dari siapa saja yang kebetulan berada/ditemui dan atau yang pernah ke Pulau Liukang Loe yang bersedia menjadi responden.

Adapun tahapan penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.2, dimulai dengan identifikasi potensi dan pemanfaatan sumberdaya, kesesuaian lahan untuk ekowisata bahari, daya dukung ekologi meliputi pendekatan ruang/spasial dan kualiats air serta rekomendasi pengelolaan keberlanjutan ekowisata bahari di Pulau Liukang Loe.

(4)

Masukan

Proses

Luaran

Gambar 3.2 Tahapan Penelitian

Identifikasi potensi dan pemanfaatan sumberdaya Pulau Liukang Loe

Analisis kesesuaian ekowisata bahari Pulau Liukang Loe

Analisis daya dukung ekologi Pulau Liukang Loe (Pendekatan ruang/spasial dan parameter kualitas

perairan)

Pengelolaan Pulau Liukang Loe untuk ekowisata bahari berkelanjutan

Sumberdaya Pulau Liukang Loe untuk pengembangan ekowisata bahari berkelanjutan

(5)

Penelitian ini menggunakan metode survey yang dirancang untuk mendeskripsikan kondisi ekologis objek penelitian Pulau Liukang Loe. Variabel penelitian antara lain inventarisasi sumberdaya dan tingkat pemanfaatan, kesesuaian ekowisata bahari, daya dukung dengan pendekatan ruang/spasial dan kualitas air serta rekomendasi pengelolaan keberlanjutan ekowisata bahari di Pulau Liukang Loe.

Pengambilan contoh diambil di daerah pesisir yang dianggap bisa mewakili kondisi kualitas perairan dan pantai Pulau Liukang Loe. Penentuan stasiun penelitian dilakukan berdasarkan keterwakilan variabilitas kondisi ekologi. Lokasi pengambilan contoh juga didasarkan pada keberadaan dan penyebaran sumberdaya biofisik yang bersumber dari data sekunder dan hasil survey lapangan. Data potensi sumberdaya penting yang diketahui dari data sekunder maka pengamatan hanya melakukan ground check. Pengukuran parameter biofisik perairan diukur dengan menggunakan pengukuran in situ. Sementara stasiun sosial ekonomi berada di sebelah utara pulau (Kampung Ta’buntuleng) yang merupakan pusat pengembangan ekowisata bahari dan sebelah tenggara pulau (Kampung Pasilohe).

Berikut adalah pengamatan kondisi biofisik ekosistem pantai dan terumbu karang di Pulau Liukang Loe dengan teknik observasi sebagai berikut :

1. Pantai

Pengamatan data kondisi pantai untuk peruntukan wisata pantai meliputi parameter kemiringan pantai, tipe pantai, lebar pantai, penutupan lahan/vegetasi pantai, kedalaman perairan, substrat dasar perairan, kecepatan arus dan ketersediaan air tawar dilakukan dengan observasi dan pengukuran langsung di lapangan. Keberadaan pantai berpasir yang sesuai untuk wisata pantai berada di sebelah utara yaitu Kampung Ta’buntuleng, sebelah barat pulau dan sebelah tenggara pulau.

2. Terumbu karang

Penentuan stasiun terumbu karang berdasarkan sebaran terumbu karang yang berada di perairan dangkal Pulau Liukang Loe. Secara detail stasiun terumbu karang dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel 3.2 Stasiun penelitian ekosistem terumbu karang di Pulau Liukang Loe

Stasiun Lintang Bujur Nama Lokasi

Stasiun I 120.25454 -5.394960 Batubong

Stasiun II 120.25152 -5.384443 Panekang Kera

Stasiun III 120.26202 -5.381295 Ujung Baturapa

Stasiun IV 120.26570 -5.381690 Batu Sobbalong

Identifikasi terumbu karang dengan menggunakan Metode Line Intercept Transect (LIT). Pengamatan kondisi terumbu karang untuk peruntukan wisata

(6)

snorkling dan selam, terutama penutupan karang dapat dihitung dengan rumus tutupan karang hidup menurut English et al. (1994), yaitu :

Kehadiran tiap kategori (%) = × 100% …... 1

Hasil perhitungan tersebut kemudian dianalisis dengan kategori menurut Brown (1986) yang menyatakan bahwa persentase tutupan karang dapat dibagi menjadi empat kategori, yaitu :

1. Kategori rusak : 0.0-24.9 % 2. Kategori sedang/kritis : 25.0-49.9 % 3. Kategori baik : 50.0-79.9 % 4. Kategori sangat baik : 80.0-100 %

Persentase tutupan adalah persentase luas area yang ditutupi oleh pertumbuhan karang. Persentase karang hidup yang tinggi menandakan bahwa terumbu karang di suatu perairan berada dalam keadaan sehat.

3.3 Analisis Data

3.3.1 Analisis Kesesuaian dan Daya Dukung untuk Wisata

Suatu kegiatan pemanfaatan yang akan dikembangkan hendaknya disesuaikan dengan potensi sumberdaya dan peruntukkannya. Matriks kesesuaian untuk ekowisata bahari meliputi peruntukkan untuk wisata pantai, wisata snorkling dan wisata selam (diving). Setiap kegiatan wisata mempunyai persyaratan sumberdaya dan lingkungan yang sesuai dengan objek wisata yang akan dikembangkan.

Untuk menghitung kesesuaian wisata dapat menggunakan rumus (Yulianda et al. 2010) :

IKW = x 100% ……….. 2 Dimana :

IKW = Indeks Kesesuaian Wisata

Ni = Nilai parameter ke-i (bobot x skor)

Nmaks = Nilai maksimum dari suatu kategori wisata

Penentuan kesesuaian berdasarkan perkalian dari skor dan bobot yang diperoleh dari setiap parameter. Kesesuaian kawasan dilihat dari tingkat persentase kesesuaian yang diperoleh melalui penjumlahan nilai dari seluruh parameter. Penentuan kesesuaian berdasarkan perkalian dari skor dan bobot yang diperoleh dari setiap parameter. Kesesuaian kawasan dilihat dari interval kesesuaian yang diperoleh dari penjumlahan nilai dari seluruh skor parameter yang dibandingkan dengan nilai maksimal dari setiap indeks kesesuaian dari setiap jenis aktivitas wisata. Persen interval yang didapatkan dari perhitungan indeks adalah sebagai berikut, kategori tidak sesuai (TS) yaitu <

(7)

pada Tabel sebagai berikut.

Tabel 3.3 Matriks kesesuaian lahan untuk wisata pantai

Parameter Bobot Kategori SS (S1) Skor Kategori S (S2) Skor Kategori SB (S3) Skor Kategori TS (N) Skor Tipe pantai (m) Lebar pantai (m) Kedalaman (m) Material dasar Arus (m/dtk) Kemiringan pantai (0) Kecerahan (m) Penutupan lahan pantai Biota berbahaya Ketersediaan air tawar 3 3 3 2 2 2 1 1 1 1 Pasir putih >15 0-2 Pasir 0-0,10 < 25 >75 Kelapa, lahan terbuka Tidak ada <0,5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Pasir putih,sedikit karang 10-15 > 2-4 Karang berpasir > 0,10-0,40 > 25-45 >50-75 Semak belukar Bulu babi 0,5-1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Pasir hitam, Berkarang 3-<10 >4-6 Pasir berlumpur, berkarang >0,40-0,50 >45-75 >25-50 Belukar tinggi Bulu babi, ikan pari >1-2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 Lumpur, berbatu, <3 >6 Lumpur >0,50 >75 <25 Hutan bakau, pemukiman Bulu babi, ikan pari,lepu ikan hiu >2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

Sumber : dimodifikasi dari (Yulianda et al. 2010). Keterangan :

Nilai maksimum = 76

Tabel 3.4 Matriks kesesuaian lahan untuk snorkling

Parameter Bobot Kategori SS (S1) Skor Kategori S (S2) Skor Kategori SB (S3) Skor Kategori TS (N) Skor Tutupan karang (%) Jenis life form Jenis ikan karang Kecerahan perairan (%) Kecepatan arus (cm/dtk) Kedalaman terumbu karang (m) Lebar hamparan dasar karang (m) 3 3 2 2 2 1 1 >75-100 >12 >50 100 <10 1-3 >100 4 4 4 4 4 4 4 >50-75 8-12 26-50 80-<100 >10-30 >3-5 50-100 3 3 3 3 3 3 3 >25-50 4-7 10-25 >25-80 >30-50 >5-10 20-50 2 2 2 2 2 2 2 <25 <4 <10 <25 <50 <10;<1 <20 1 1 1 1 1 1 1

Sumber : dimodifikasi dari 1)Yulianda (2010); 2)Kepmen LH nomor 4 tahun 2001; 3)

Yulianda et al. (2010). Keterangan :

(8)

Tabel 3.5 Matriks kesesuaian lahan untuk wisata selam

Parameter Bobot Kategori SS (S1) Skor Kategori S (S2) Skor Kategori SB (S3) Skor Kategori TS (N) Skor Tutupan karang (%) dan benda bersejarah di laut 1,2)

Jenis life form Jenis ikan karang Kecerahan perairan (%) Kecepatan arus (cm/dtk) Kedalaman terumbu karang (m) 3 3 2 2 2 1 >75-100 >12 >100 >80 0-15 5-15 4 4 4 4 4 4 >50-75 8-12 50-100 50-80 >15-30 >15-20 dan >3-<5 3 3 3 3 3 3 >25-50 4-7 20-49 >20-49 >30-50 >20-30 2 2 2 2 2 2 <25 <4 <20 <20 >50 <3 dan > 30 1 1 1 1 1 1

Sumber : dimodifikasi dari 1)Yulianda (2010); 2)Kepmen LH nomor 4 tahun 2001; 3)

Yulianda et al. (2010). Keterangan :

Nilai maksimum = 52

Adapun potensi ekologis pengunjung, unit area dan waktu yang dihabiskan wisatawan untuk setiap unit kegiatan dapat dilihat sebagai berikut.

Tabel 3.6 Potensi ekologis pengunjung (K) dan luas area kegiatan (Lt) No. Jenis Kegiatan ∑ Pengunjung

(orang) Unit Area (Lt) Keterangan 1 2 3 Rekreasi pantai Snorkling Selam 1 1 2 50 m 500 m2 2 000 m2

1 orang setiap 50 m panjang pantai

Setiap 1 orang dalam 100 x 5 m Setiap 2 orang dalam 200 x 10 m

Sumber : Yulianda et al. (2010).

Tabel 3.7 Prediksi waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan No. Jenis Kegiatan Waktu yang dibutuhkan

– Wp (jam)

Total waktu 1 Hari – Wt (jam) 1 2 3 Rekreasi pantai Snorkling Selam 3 3 2 6 6 8 Sumber : Yulianda et al. (2010).

Hasil analisis kesesuaian yang ada dari kawasan yang sangat sesuai dan sesuai akan digunakan sebagai dasar penentuan daya dukung sebagai luas atau panjang area yang dimanfaatkan (Lp). Daya dukung dihitung agar diketahui jumlah maksimum pengunjung yang secara fisik dapat ditampung di kawasan yang tersedia pada waktu tertentu tanpa menimbulkan gangguan pada alam dan

(9)

DDK = K x Lp/Lt x Wt/Wp ……….. 3 Dimana :

DDK = Daya Dukung Kawasan

K = Potensi ekologis pengunjung per satuan unit area Lp = Luas area atau panjang area yang dimanfaatkan Lt = Unit area untuk kategori tertentu

Wt = Waktu yang disediakan kawasan untuk kegiatan wisata dalam 1 hari Wp = Waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk setiap kegiatan tertentu

3.3.2 Pencemaran dan Daya Dukung Lingkungan Pulau Liukang Loe

Daya dukung lingkungan sangat erat hubungannya dengan kapasitas asimilasi dari lingkungan yang menggambarkan jumlah limbah yang dapat dibuang ke dalam lingkungan perairan tanpa menimbulkan polusi (UNEP, 1993).

Stasiun pengamatan berdasarkan keberadaan aktivitas masyarakat dan wisatawan serta aliran beban limbah yang masuk ke perairan pantai Pulau Liukang Loe. Adapun yang menjadi parameter limbah organik dalam penelitian ini yaitu oksigen terlarut (DO) dan biological oxygen demand (BOD). Selain itu juga dilakukan pengukuran parameter suhu, salinitas, pH, NH3 dan kekeruhan

serta pengukuran terhadap keberadaan bakteri Escherichia coli (E. Coli) di perairan Pulau Liukang Loe. Metode analisa parameter fisika, kimia dan biologi perairan laut mengacu pada Kepmen LH No.51 Tahun 2004.

Data beban limbah diperoleh melalui pengukuran kualitas air untuk peruntukan aktivitas wisata bahari pada tiap-tiap stasiun pengamatan. Besarnya tekanan pemanfaatan (aktivitas penduduk maupun wisata) menyebabkan tingginya laju pembuangan limbah khususnya limbah organik yang bersumber dari limbah toilet (MCK) ataupun limbah dapur yang apabila langsung dibuang ke laut akan berdampak pada pencemaran perairan dan ekosistem pesisir. Oleh karena itu diperlukan suatu kajian kualitas air sehingga daya dukung tidak terlampaui serta dampak pencemaran dan laju degradasi ekosistem dapat diminimalkan. Adapun langkah-langkah dalam penentuan daya dukung melalui pendekatan pencemaran perairan sebagai berikut :

1. Menghitung jumlah penduduk lokal dan wisatawan yang berkunjung di Pulau Liukang Loe yaitu dengan cara menghitung tingkat pertumbuhan penduduk dan wisatawan berdasarkan kondisi pada saat penelitian kemudian diprediksikan jumlah penduduk dan wisatawan untuk 10 tahun kedepan.

2. Pengambilan sampel air laut per stasiun penelitian meliputi parameter DO, pH, kekeruhan kemudian melakukan analisis laboratorium untuk parameter BOD, NH3 dan bakteri E. Coli pada kondisi eksisting.

3. Membandingkan hasil pengukuran tiap parameter per stasiun penelitian dengan nilai baku mutu air laut untuk peruntukkan wisata bahari (sesuai Kepmen LH No. 51 Tahun 2004)

Gambar

Gambar 3.1 Peta Lokasi dan Stasiun Penelitian di Pulau Liukang Loe Kabupaten Bulukumba
Gambar 3.2 Tahapan Penelitian
Tabel 3.3 Matriks kesesuaian lahan untuk wisata pantai
Tabel 3.5 Matriks kesesuaian lahan untuk wisata selam

Referensi

Dokumen terkait

Tipografi adalah suatu proses untuk menyusun bahan publikasi menggunakan huruf cetak, oleh karena itu menyusun meliputi merancang bentuk huruf cetak hingga merangkainya

Meningkatnya konsentrasi ambien menyebabkan meningkatnya dampak pencemaran pada kesehatan manusia dan nilai ekonomi dari gangguan kesehatan tersebut (Gambar 4 dan Gambar 5).. Gambar

Penetasan adalah perubahan intracapsular (tempat yang terbatas) ke fase kehidupan (tempat luas), hal.. ini penting dalam perubahan- perubahan morfologi hewan. Penetasan

Masalah yang dibahas dalam penulisan ini adalah cara memberikan warna kepada semua simpul-simpul yang ada, sedemikian rupa sehingga 2 simpul yang berdampingan

Dari uraian tersebut maka dalam upaya peningkatan kecerdaskan emosional anak asuh melalui pendekatan agama di Panti Asuhan Darul Hadlonah Semarang yang sarat

Pewangi Laundry Rejang Lebong Beli di Toko, Agen, Distributor Surga Pewangi Laundry Terdekat/ Dikirim dari Pabrik BERIKUT INI TARGET MARKET PRODUK NYA:.. Kimia Untuk Keperluan

melakukan analisis apakah ada hubungan tingkat pengetahuan perawat dengan pelaksanaan mengubah posisi yang dilakukan pada pasien

Pin 32-pin 39 adalah port 0 yang merupakan saluran bus I/O 8 bit open collector, dapat juga digunakan sebagai multipleks bus alamat rendah dan bus data selama adanya akses ke