HUBUNGAN ANTARA JUMLAH PARITAS DENGAN TERJADINYA KANKER SERVIKS DI RSUP. HAJI ADAM
MALIK MEDAN PADA TAHUN 2016
SKRIPSI
Oleh :
NAVINRAJ A/L MOGANARAJAN 140100242
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2017
HUBUNGAN ANTARA JUMLAH PARITAS DENGAN TERJADINYA KANKER SERVIKS DI RSUP. HAJI ADAM
MALIK MEDAN PADA TAHUN 2016
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran
Oleh :
NAVINRAJ A/L MOGANARAJAN 140100242
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
i
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur Penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan kurnia-nya yang telah memberikan kesempatan penulis untuk dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan berjudul “Hubungan Antara Jumlah Paritas Dengan Terjadinya Kanker Serviks di RSUP. Haji Adam Malik Medan Pada Tahun 2016”. Penulisan skripsi ini ditujukan sebagai tugas akhir dalam pemenuhan persyaratan untuk memperoleh kelulusan Sarjana Kedokteran dari Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara.
Penulis mengakui adanya kekurangan dalam tulisan ini sehingga laporan hasil penelitian ini tidak mungkin disebut sebagai suatu karya yang sempurna.
Kekurangan dan ketidak sempurnaan tulisan ini tidak lepas dari berbagai macam rintangan dan halangan yang selalu datang baik secara pribadi pada penulis maupun dalam teknis pengerjaan. Penulis merasakan semua itu sebagai suatu pujian dan pengalaman yang sangat berharga dalam kehidupan penulis yang kelak dapat memberikan manfaat di kemudian hari.
Oleh karena kekurangan pada diri penulis dalam merampungkan skripsi ini, maka semua itu tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari beberapa pihak.
Untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, SpS(K), selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian.
2. Dr. Feby Yanti Harahap, M.Ked (PA), Sp.PA, sebagai dosen pembimbing skripsi atas kesabaran, waktu dan masukan-masukan yang diberikan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
3. Dr. T Ibnu Alferaly, M.Ked(PA), Sp.PA, D.Bioet dan Dr. Hemma Yulfi DAP&E, M.Med.Ed sebagai dosen penguji yang telah bersedia menguji dan memberikan masukan demi perbaikan skripsi ini.
iii
4. Staf yang bertugas di Instalasi Rekam Medis yang telah membantu saya untuk mencarikan rekam medis demi menyelesaikan skripsi ini.
5. Orang tua yang tercinta, K.Moganarajan dan V.Nyanambal serta adik-adik, Arvesha, Shivania dan Thavaeraaj yang telah memberikan kasih sayang, semangat dan doanya dalam mendukung penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
6. Teman-teman kelompok sesama bimbingan skripsi, Puvanesvari dan Santiya serta teman-teman lainnya, Nivashinee dan Vijaya Kumar yang telah memberikan bantuan berupa saran, kritikan dan motivasi selama penyusunan skripsi ini.
Demikianlah ucapan terima kasih saya sampaikan. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfat kepada semua orang untuk pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam dunia kedokteran.
Medan, 12 Desember 2017 Penulis,
Navinraj A/L Moganarajan
140100248
iv
DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Pengesahan... i
Kata Penghantar... ii
Daftar Isi... iv
Daftar Tabel... vi
Daftar Gambar... vii
Daftar Singkatan... viii
Daftar Lampiran... ix
Abstrak... x
Abstract... xi
BAB I PENDAHULUAN... 1
1.1. Latar Belakang... 1
1.2. Rumusan Masalah... 2
1.3. Tujuan Masalah... 2
1.4. Hipotesis... 2
1.5. Manfaat Penelitian... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 4
2.1. Anatomi dan Histologi Serviks... 4
2.2. Epidemiologi Kanker Serviks... 6
2.3. Etiologi Kanker Serviks... 7
2.4. Faktor Risiko Kanker Serviks... 7
2.5. Patofisiologi Kanker Serviks... 11
2.6. Gejala Klinis Kanker Serviks... 11
2.7. Diagnosis Kanker Serviks... 12
2.8. Klasifikasi Kanker Serviks... 14
v
2.10. Penatalaksanaan Kanker Serviks... 16
2.11. Pencegahan Kanker Serviks... 17
2.12. Kerangka Teori... 19
2.13. Kerangka Konsep... 20
BAB III METODE PENELITIAN... 21
3.1. Rancangan Penelitian... 21
3.2. Lokasi Penelitian... 21
3.3. Waktu Penelitian... 21
3.4. Populasi Dan Sampel Penelitian... 21
3.5. Metode Pengumpulan Data... 23
3.6. Metode Analisis Data 24 3.7. Definisi Operasional 24 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 25
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 33
5.1. Kesimpulan... 33
5.2. Saran... 33
DAFTAR PUSTAKA... 34
LAMPIRAN... 36
vi
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
2.1 Klasifikasi tipe Histopatologik WHO 14
2014
2.2 Stadium menurut FIGO 15
4.1 Distribusi sampel pasien berdasarkan 26
usia
4.2 Distribusi sampel pasien berdasarkan 26
tahap pendidikan
4.3 Distribusi sampel pasien berdasarkan 27
jenis pekerjaan
4.4 Distribusi sampel pasien berdasarkan 27
jumlah paritas
4.5 Tabulasi silang hubungan antara 28 paritas dengan terjadinya kanker serviks
---
vii
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
2.1 Anatomi sistem reproduktif wanita 5
2.2 Histologi serviks 6
2.3 Perjalanan kanker serviks 11
2.4 Proses Pap’s Smear 12
2.5 Stadium menurut FIGO 16
---
viii
DAFTAR SINGKATAN
DNA : Deoxyribonucleic Acid
IVA : Inpeksi Visual dengan Asam Asetat
NIS : Neoplasia Intraepitel Serviks HPV : Human Papilloma Virus
WHO : World Health Organization SD : Sekolah Dasar
SMP : Sekolah Menengah Pertama SMA : Sekolah Menengah Atas
---
ix
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran A Daftar Riwayat Hidup Lampiran B Pernyataan Orisinalitas
Lampiran C Surat Izin Survei Awal Penelitian Lampiran D Ethical Clearance
Lampiran E Surat Permohonan Izin Penelitian Lampiran F Surat Izin Penelitian
Lampiran G Output Perangkat Lunak Statistik Lampiran H Data Induk Penelitian
---
x
ABSTRAK
Latar Belakang: Kanker serviks merupakan suatu proses neoplasma atau keganasan pada serviks. Diperkiraan 200.000-300.000 wanita meninggal setiap tahunnya karena penyakit tersebut terutama di negara-negara miskin dan merupakan penyebab kematian perempuan yang kedua di Indonesia setelah kanker payudara. Wanita dengan paritas tinggi yaitu >3 kali berisiko 5,5 kali untuk terkena kanker serviks. Wanita dengan paritas tinggi dapat menyebabkan trauma pada jalan lahir dan dapat menimbulkan sel-sel abnormal yang berkembang menjadi keganasan.
Tujuan: Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui hubungan antara paritas dengan terjadinya kanker serviks di RSUP Haji Adam Malik, Medan pada tahun 2016. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis cross sectional dan data pada penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari rekam medik pasien yang berobat dengan keluhan ginekologi di RSUP Haji Adam Malik, Medan, periode 1 Januari 2016 hingga 31 Disember 2016. Data dikelompokkan berdasarkan jumlah paritas pada pasien. Data dianalisa menggunakan program komputer SPSS secara deskriptif. Hasil: Hasil penelitian diperoleh bahwa paling sedikit penderita kanker serviks nullipara(6,3%) dan primipara(12,5%) malah paling tertinggi adalah multipara(33,3%) dan grandemultipara(47,9%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p=0,000 (CR value= 0,43) maka Ho ditolak artinya ada hubungan antara paritas dengan terjadinya kanker serviks di RSUP.
Haji Adam Malik Medan. Kesimpulan: Semakin tinggi jumlah paritas, semakin meningkat resiko untuk seseorang wanita untuk menderita kanker serviks. Diharapkan tempat pelayanan kesehatan untuk lebih memberi penyuluhan kesehatan pada wanita yang beresiko tinggi terkena kanker serviks untuk melakukan Pap’s Smear dan IVA.
Kata Kunci : kanker serviks, paritas, serviks
xi
ABSTRACT
Background: Cervical cancer is a process of neoplasm or malignancy of the cervix. The estimated 200,000-300,000 women die every year because of the disease especially in poor countries and are the second leading cause of death in Indonesia after breast cancer. Women with high parity (>
3) are 5.5 times the risk for cervical cancer. Women with high parity can cause trauma to the birth canal and can cause abnormal cells that develop into malignancy. Purpose: This study aims to determine the relationship between parity with the occurrence of cervical cancer in the RSUP Haji Adam Malik Medan in 2016. Method: This study used cross sectional type and data in this study using secondary data obtained from medical records of patients with Gynaecology problems at RUSP.Haji Adam Malik Medan, the period January 1, 2016 to 31 December 2016. Data are grouped by the number of parities of the patients. Data were analyzed using SPSS computer program descriptively. Results: The results showed that the lowest cervical cancer patients nullipara(6.3%) and primipara (12.5%) while the most patients multipara (33.3% ) and grandemultipara (47.9%). Chi-Square test results show the value p = 0.000 (CR Value=0,43) then Ho rejected means there is a relationship between parity with the occurrence of cervical cancer in RSUP. Haji Adam Malik Medan. In conclusion: The higher the number of parity, the higher the risk for a woman to suffer from cervical cancer.It is expected that the health service to further give health education to women who are at high risk of cervical cancer to do Pap’s Smears.
Keywords: cervical cancer, parity, cervix
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Kanker serviks merupakan suatu proses neoplasma atau keganasan pada leher rahim (serviks) yang disebabkan oleh virus Human Papiloma Virus (HPV).
Kanker serviks menempati peringkat kedua penyakit yang dialami wanita di seluruh dunia akibat kanker (Putra, 2013).Setiap tahun di seluruh dunia terdapat 600.000 kanker serviks invasif baru dan 300.000 kematian. Pada tahun 2012 terdapat kurang lebih 270.000 kematian wanita karena kanker serviks, lebih dari 85% dari kematian tersebut terjadi pada negara miskin dan berkembang (Hestuningtyas, 2016). Faktor resiko terjadinya infeksi HPV adalah hubungan seksual pada usia dini, berhubungan seks dengan berganti-ganti pasangan dan memiliki pasangan yang suka berganti-ganti pasangan. Ko-faktor yang memungkinkan infeksi HPV berisiko menjadi kanker leher rahim antara lain status imunitas (pasien HIV positif), jumlah paritas yang banyak, merokok, ko- infeksi dengan penyakit menular seksual lainnya atau penggunaan jangka panjang (lebih dari 5 tahun) kontrasepsi oral (Darmayanti, 2015).
Menurut hasil penelitian dari Melva (2008), jumlah kehamilan >3 kali
merupakan faktor prospektif terhadap kejadian kanker serviks. Kanker serviks banyak ditemukan pada wanita yang melahirkan 3-5 kali. Bagi banyak orang tua, beranggapan bahwa banyak anak maka akan banyak rejeki. Akan tetapi, masyarakat banyak yang belum mengerti tentang akibat yang ditimbulkan dari seringnya seorang ibu melahirkan. Dengan seorang ibu sering melahirkan dan memiliki banyak anak maka akan menyebabkan hormon selama kehamilan dan perlukaan pasca persalinan berubah menjadi sel kanker.
Wanita dengan paritas tinggi dapat menyebabkan trauma pada jalan lahir dan
dapat menimbulkan sel-sel abnormal pada mulut rahim jumlah anak yang
2
dilahirkan melalui jalan normal dapat menyebabkan terjadinya perubahan sel abnormal dari epitel pada mulut rahim dan dapat berkembang menjadi keganasan.
Oleh karena itu, sebagai tenaga kesehatan perlu menumbuhkan kesadaran diri pada wanita dalam melakukan deteksi dini terhadap kanker serviks serta berperilaku hidup sehat dan bersih. Jika pada pemeriksaan awal ibu tidak terkena kanker serviks maka dapat dilakukan pencegahan dengan vaksinasi. Namun, bagi ibu yang sudah terkena kanker serviks maka harus segera diberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan stadium yang diderita untuk mencegah terjadinya metastase (penyebaran ke organ lain) (Mayrita, 2014).
1.2 RUMUSAN MASALAH
Bagaimanakah hubungan antara paritas dengan terjadinya kanker serviks di RSUP Haji Adam Malik?
1.3 TUJUAN PENELITIAN 1.3.1 Tujuan Umum
Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui hubungan antara jumlah paritas dengan terjadinya kanker serviks di RSUP Haji Adam Malik pada tahun 2016.
1.3.2 Tujuan Khusus
a) Mengetahui data sosiodemografi sampel pasien yang berobat di RSUP Haji Adam Malik.
b) Mengetahui jumlah paritas pada sampel pasien yang berobat di RSUP Haji Adam Malik.
1.4 HIPOTESIS
Terdapat hubungan antara jumlah paritas dengan terjadinya kanker serviks di RSUP. Haji Adam Malik Medan pada tahun 2016.
3
1.5 MANFAAT PENELITIAN
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk 1. Bagi Profesi Kedokteran
Sebagai tambahan ilmu pengetahuan untuk memberikan pendidikan kesihatan terutama pada wanita yang mengalami paritas lebih dari tiga kali dan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber motivasi bagi profesi kedokteran untuk melakukan penyuluhan kesehatan hal ini sesuai dengan peran kedokteran yaitu sebagai pendidik dan konselor kesehatan.
2. Bagi wanita
Wanita mengetahui jumlah paritas merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kanker serviks.
3. Bagi Penelitian yang akan datang
dijadikan sebagai informasi untuk mengembangkan penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan kanker serviks dan dapat menjadi sebuah rekomendasi bagi penelitian selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 ANATOMI DAN HISTOLOGI SERVIKS
Serviks adalah bagian dari rahim yang paling sempit, terhubung ke fundus uteri oleh uterine isthmus. Serviks berasal dari bahasa latin yang berarti leher.
Bentuknya silinder atau lebih tepatnya kerucut. Batas atas serviks adalah ostium interna. Serviks letaknya menonjol melalui dinding vagina anterior atas. Bagian yang memproyeksikan ke dalam vagina disebut sebagai portio vaginalis. Rata-rata ukurannya adalah 3cm panjang dan 2,5cm lebar portio vaginalis. Ukuran dan bentuk serviks bervariasi sesuai usia, hormon, dan paritas. Sebelum melahirkan, ostium eksternal masih sempit, hanya berbentuk lingkaran kecil di tengah serviks.
Bagian luar dari serviks menuju ostium eksternal disebut ektoserviks. Lorong antara ostium eksterna ke rongga endometrium disebut sebagai kanalis endoservikalis.
Pada serviks terdapat zona transformasi (transformation zone), yaitu: area terjadinya perubahan fisiologi sel-sel skuamos dan kolumnar epitel serviks.
Terdapat 2 ligamen yang menyokong serviks, yaitu ligamen kardinal dan uterosakral. Ligamen kardinal adalah jaringan fibromuskular yang keluar dari segmen bawah uterus dan serviks ke dinding pelvis lateral dan menyokong serviks. Ligamen uterosakral adalah jaringan ikat yang mengelilingi serviks dan vagina dan memanjang hingga vertebra. Serviks memiliki sistem limfatik melalui rute parametrial, kardinal, dan uterosakral.
5
Gambar 2.1. Anatomi sistem reproduksi wanita (dikutip dari
http://www.artikelsiana.com/2016/02/ciri-ciri-kanker-serviks-sesuai-stadium.html)
Permukaan serviks terdiri atas dua macam epitel yaitu epitel kolumner dan epitel skuamosa dan antara epitel dengan stroma dibatasi oleh membran basalis.
Epitel kolumner menutupi endoserviks pada kanalis serviks. Kelenjar endoserviks yang terdapat di bawahnya adalah lipatan epitel atau kripte yang masuk ke dalam stroma dan bukan kelenjar asli.
Epitel ini terdiri atas dua macam sel yaitu sel tidak bersilia yang memproduksi lendir/mukus dan berfungsi membasahi kanalis servikalis dan sel yang bersilia yang berfungsi membersihkan lendir. Epitel skuamosa melapisi ektoserviks, terdiri atas empat lapis sel yaitu: 1) Lapisan yang paling dalam adalah lapisan basal atau lapisan germinal yang berfungsi untuk regenerasi sel. Lapisan ini tersusun dari satu sama atau dua lapis sel yang berbentuk lonjong dan berdiri tegak lurus terhadap membrana basal. 2) Lapisan kedua adalah parabasal yang berfungsi untuk pertumbuhan sel. 3) Lapisan ketiga adalah lapisan intermedier yang berfungsi untuk permatangan sel di mana sitoplasma dan glikogen semakin banyak sedangkan inti sel tetap. 4) Paling luar adalah lapisan superfisial yaitu sel-
6
sel pipih yang matang dengan inti piknotik agak meninggi di tengah dan sitoplasma banyak (Vinoshini, 2015).
Gambar 2.2. Histologi Serviks (dikutip dari Vinoshini, 2015)
2.2 EPIDEMIOLOGI KANKER SERVIKS
Menurut World Health Organitation (WHO, 2009) didapatkan data 500.000 sampai 1 juta kasus baru terinfeksi kanker serviks setiap tahunnya. Sedangkan menurut data dari Globocan pada tahun 2008, didapatkan data pada kasus kanker serviks di seluruh dunia mencapai 530.232 kasus. Asia memiliki 312.990 kasus kanker serviks dan baik dari jumlah global maupun Asia 58% meninggal.
Sebanyak 2,2 juta perempuan di dunia menderita kanker serviks. Setiap tahunnya, terdapat kurang lebih 400.000 kasus baru kanker serviks, dan sebanyak 80%
terjadi pda wanita yang hidup di negara berkembang ( Haryani,S., Defrin, Yenita, 2016). Negara Indonesia memiliki penderita kanker serviks terbanyak dibandingkan dengan negara berkembang lainnya (Mayrita, 2014). Menurut perkiraan Departemen Kesehatan RI saat ini, jumlah wanita penderita baru kanker serviks berkisar 90-100 kasus per 100.000 penduduk dan setiap tahun terjadi 40 ribu kasus kanker serviks (PNPK Kanker Serviks, 2015).
7
2.3 ETIOLOGI KANKER SERVIKS
Chandrawati (2016) menyebutkan penyebab primer kanker serviks adalah infeksi kronik serviks oleh satu atau lebih virus HPV (Human Papilloma Virus) tipe onkogenik yang beresiko tinggi menyebabkan kanker serviks yang ditularkan melalui hubungan seksual (penyakit menular seksual). Perempuan biasanya terinfeksi virus ini saat usia belasan tahun, sampai tiga puluhan, walaupun kankernya sendiri baru akan muncul 10-20 tahun sesudahnya. Infeksi virus HPV yang berisiko tinggi menjadi kanker adalah tipe 16, 18, 45, 56 di mana HPV tipe 16 dan 18 ditemukan pada sekitar 70% kasus ( Hidayat, E., Hasibuan, D.H.S., Fitriyani, Y., 2014).
Infeksi HPV tipe ini dapat mengakibatkan perubahan sel-sel leher rahim menjadi lesi intra-epitel derajat tinggi (high-grade intraepithelial lesion/ LISDT) yang merupakan lesi prakanker. Sementara HPV yang berisiko sedang dan rendah menyebabkan kanker (tipe non-onkogenik) berturut turut adalah tipe 30, 31, 33, 35, 39, 51, 52, 58, 66 dan 6, 11, 42, 43, 44, 53, 54,55 (Manoppo, 2016).
2.4 FAKTOR RISIKO
Beberapa faktor yang mempengaruhi kanker serviks antara lain :
2.4.1 Pola hubungan seksual
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara lesi pra kanker dan kanker serviks dengan aktivitas seksual pada usia dini, khususnya sebelum umur 17 tahun. Hal ini diduga ada hubungan dengan belum matangnya daerah transformasi pada usia tersebut bila sering terekspos. Frekuensi hubungan seksual berpengaruh terhadap lebih tingginya risiko pada usia, tetapi tidak ada pada kelompok usia lebih tua. Jumlah pasangan seksual menimbulkan konsep pria berisiko tinggi sebagai vektor yang dapat menimbulkan infeksi yang berkaitan dengan penyakit hubungan seksual. Sedangkan Nugraha B.D (2003) menganalisis bahwa akan terjadinya perubahan pada sel leher rahim pada wanita
8
sperma dengan kadar PH yang berbeda-beda sehingga dapat mengakibatkan perubahan dari displasia menjadi kanker (Fatimah, 2009).
2.4.2 Paritas
Kanker serviks sering terjadi pada wanita yang sering melahirkan. Semakin sering melahirkan, semakin besar risiko mendapatkan kanker serviks.13 Perempuan dengan paritas tinggi (>3) merupakan faktor risiko kejadian kanker serviks terkait dengan terjadinya eversi epitel kolumner serviks selama kehamilan yang menyebabkan dinamika baru epitel metaplastik imatur yang dapat meningkatkan risiko transformasi sel serta trauma pada serviks sehingga dterjadi infeksi HPV resisten (Halimatusyaadiah, S., 2016). Hal ini dibuktikan pada suatu studi kohort dimana didapatkan bahwa infeksi HPV lebih mudah ditemukan pada wanita hamil dibandingkan dengan yang tidak hamil. Selain itu pada kehamilan terjadi penurunan kekebalan seluler (Hestuningtyas, 2016)
2.4.3 Kontrasepsi Oral
Kontrasepsi oral merupakan faktor risiko kanker serviks. Kontrsepsi oral dapat berbentuk pil kombinasi, sekuensial, mini atau pasca senggama dan bersifat reversible. Kontrasepsi oral kombinasi merupakan campuran estrogen sintetik seperti noretrindon. Kontrasepsi ini mengandung kandungan estrogen dan progesterone yang tetap. Pemakaian estrogen dapat berisiko karena merangsang penebalan dinding endometrium dan merangsal sel-sel endometrium sehingga berubah sifat menjadi kanker. Kontrasepsi oral yang dipakai dalam jangka panjang yaitu lebih dari 5 tahun dapat meningkatkan risiko relatif 1,53 kali (Rasjidi, 2008)
2.4.4 Sosial Ekonomi
Tingkat ekonomi merupakan faktor risiko kanker serviks. Wanita di kelas sosial ekonomi yang rendah memiliki faktor risiko lima kali lebih besar daripada faktor risiko pada wanita di kelas paling tinggi. Hubungan ini dikacaukan oleh
hubungan seksual dan akses ke sistem pelayanan kesehatan (Hestuningtyas,
9
2016). Menurut Suwijoga (2007) pernyataan tersebut diperkuat dengan adanya penelitian yang menunjukkan bahwa infeksi HPV lebih prevalen pada wanita dengan tingkat pendidikan dan pendapatan yang rendah (Fatimah, 2009).
2.4.5 Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan mempengaruhi proses belajar, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin mudah pula orang tersebut untuk menerima informasi. Tinggi rendahnya tingkat pendidikan berkaitan dengan sosio ekonomi, kehidupan seks, dan kebersihan. Orang yang berpendidikan tinggi biasanya akan memiliki banyak pengetahuan tentang kesehatan, sehingga orang tersebut memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatannya dan melakukan upaya-upaya pencegahan agar terhindar dari penyakit khususnya kanker serviks (Hestuningtyas, 2016).
2.4.6 Kebiasaan Merokok
Wanita yang memiliki kebiasaan merokok berisiko 2 kali lebih besar terkena kanker serviks dibandingkan dengan wanita yang bukan perokok. Risiko menderita kanker serviks meningkat dengan peningkatan jumlah batang rokok yang dikonsumsi, tetapi tidak berhubungan dengan lamanya merokok. Rokok mengandung karsinogen, yakni bahan kimia yang dapat memicu kanker. Bahan karsinogen tersebut akan diserap ke dalam paru-paru, lalu masuk ke dalam darah, dan selanjutnya dibawa ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah. Para peneliti menduga bahan kimia tersebut menjadi penyebab kerusakan DNA sel serviks yang kemudian berkembang menjadi kanker serviks. Selain itu merokok dapat menurunkan daya tahan tubuh kita dalam memerangi infeksi HPV (Manoppo, 2016).
2.4.7 Umur
Menurut Purwanti(2014), umur diatas 35 tahun mempunyai risiko tinggi terhadap kanker serviks. Semakin tua usia seseorang, maka semakin meningkat
10
usia lebih dari 35 tahun merupakan gabungan dari meningkatnya dan bertambah lamanya waktu pemaparan terhadap karsinogen serta melemahnya sistem kekebalan tubuh akibat pertambahan umur (Hestuningtyas, 2016).
2.4.8 Defisiensi Gizi
Menurut N.Fatimah (2009) menganalisis terjadinya peningkatan displasia ringan dan sedang yang berhubungan dengan defisiensi zat gizi seperti beta karotin, vitamin A dan asam folat. Banyak mengkonsumsi sayuran dan buah- buahan yang mengandung bahan-bahan antioksidan seperti alpukat, brokoli, kol, wortel, jeruk, anggur, bawang, bayam dan tomat berkhasiat untuk mencegah terjadinya kanker. Dari beberapa penelitian melaporkan defisiensi terhadap asam folat, vitamin C, vitamin E, beta karotin atau retinol dihubungkan dengan peningkatan risiko kanker serviks.
2.4.9 Karakterisitik Pasangan
Sirkumsisi pernah dipertimbangkan menjadi faktor pelindung, tetapi sekarang hanya dihubungkan dengan penurunan faktor risiko. Studi case-control menunjukan pasien dengan kanker serviks lebih sering mengalami menjalani seks aktif dengan partner yang melakukan seks berulang kali. Selain itu, partner dari pria dengan kanker penis atau partner dari pria yang istrinya meninggal terkena kanker serviks juga akan meningkatkan risiko kanker serviks.
2.4.10 Etnis dan faktor sosial
Wanita di kelas sosioekonomi yang paling rendah memiliki faktor risiko pada wanita di kelas yang paling tinggi. Hubungan ini mungkin dikacaukan oleh hubungan seksual dan akses ke sistem pelayanan kesehatan. Di USA ras negro, hispanik, dan wanita Asia memiliki insiden kanker serviks yang lebih tinggi daripada wanita ras kulit putih. Perbedaan ini mencerminkan pengaruh dari sosioekonomi (Rasjidi, H.I., 2008).
11
2.5 PATOFISIOLOGI
Gambar 2.3. Perjalanan Kanker Serviks (PNPK Kanker Serviks, 2015, Calver, L.E., 2008).
Perkembangan kanker invasif berawal dari terjadinya lesi neoplastik pada lapisan epitel serviks, dimulai dari neoplasia intraepitel serviks (NIS) 1, NIS 2, NIS 3 atau karsinoma in situ (KIS). Selanjutnya setelah menembus membrana basalis akan berkembang menjadi karsinoma mikroinvasif dan invasif.
Pemeriksaan sitologi papsmear digunakan sebagai skrining, sedangkan pemeriksaan histopatologik sebagai konfirmasi diagnostic (PNPK, 2015).
2.6 GEJALA KLINIS
Pada tahapan pra kanker sering tidak ditemukannya gejala (asimtomatis). Bila ada gejala yang timbul biasanya keluar keputihan yang tidak khas. Namun, beberapa gejala mengarah kepada infeksi HPV menjadi kanker serviks antara lain:
Terdapat keputihan berlebihan, berbau busuk dan tidak sembuh-sembuh.
Adanya perdarahan tidak normal. Hanya terjadi bila setelah sel-sel leher rahim menjadi bersifat kanker dan menyerang jaringan-jaringan di
Paparan HPV Infeksi transien Infeksi persisten
pembersihan Regresi
12
Meningkatnya perdarahan selama menstruasi.
Terjadinya siklus diluar menstruasi dan setelah hubungan seks.
Nyeri selama berhubungan seks.
Kesulitan atau nyeri saat berkemih.
Terasa nyeri didaerah sekitar panggul.
Perdarahan pada masa pra atau pasca menopause.
Bila kanker sudah mencapai stadium tiga ke atas, maka akan terjadi pembengkakan diberbagai anggota tubuh seperti betis, paha, tangan dan sebagainya (Fatimah, 2009).
2.7 DIAGNOSIS
2.7.1 Sitologi
Pemeriksaan sitologi dikenal dengan pemeriksaan Pap’s Smear. Sitologi bermanfaat untuk mendeteksi sel-sel serviks yang tidak menunjukkan adanya gejala, dengan tingkat ketelitiannya mencapai 90%. Untuk deteksi diambil dari dinding vagina atau dari serviks dengan spatel ayre atau kapas lidi kemudian dibuat sediaan apus kaca benda yang bersih dan segera diberi alkohol 95%
(Fatimah, 2009).
Gambar 2.4 Proses Pap’s Smear (dikutip dari Arisusilo, 2012)
13
2.7.2 Kolposkopi
Kolposkosi merupakan pemeriksaan serviks dengan menggunakan alat kolposkopi yaitu alat yang disamakan dengan mikroskop bertenaga rendah pembesaran antara 6-40 kali dan terdapat sumber cahaya didalamnya. Kolposkopi dapat meningkatkan ketepatan sitologi menjadi 95%. Alat ini pertama kali diperkenalkan di Jerman pada tahun 1925 oleh Hans Hinselmann untuk memperbesar gambaran permukaan porsio sehingga pembuluh darah lebih jelas dilihat. Pada alat ini juga dilengkapi dengan filter hijau untuk memberikan kontras yang baik pada pembuluh darah dan jaringan. Pemeriksaan kolposkopi dilakukan untuk konfirmasi apabila hasil tes pap smear abnormal dan juga sebagai penuntun biopsy pada lesi serviks yang dicurigai (Fatimah, 2009).
2.7.3 Biopsi
Menurut Sjamsuddin (2001) biopsy dilakukan di daerah yang abnormal jika sambungan skuamosa-kolumnar (SSK) yang terlihat seluruhnya dengan menggunakan kolposkopi. Biopsi harus dilakukan dengan tepat dan alat biopsi harus tajam dan harus diawetkan dalam larutan formalin 10% sehingga tidak merusak epitel (Fatimah, 2009).
2.7.4 Konisasi
Konisasi serviks adalah pengeluaran sebagian jaringan serviks sehingga bagian yang dikeluarkan berbentuk kerucut. Konisasi dilakukan apabila :
Proses dicurigai berada di endoserviks.
Lesi tidak tampak seluruhnya dengan pemeriksaan kolposkopi.
Ada kesenjangan antara hasil sitologik dengan histopatologik (Fatimah, 2009).
14
2.8 KLASIFIKASI
2.8.1 Tipe Histopatologik Menurut WHO 2014
Table 2.1 Klasifikasi tipe histopatologik menurut WHO 2014 (dikutip dari PNPK, 2015)
15
2.9 STADIUM
Table 2.2 stadium klinik menurut FIGO (dikutip dari PNPK, 2015)
0 Karsinoma in situ (karsinoma preinvasif)
I Karsinoma serviks terbatas di uterus (ekstensi ke korpus uterus dapat diabaikan) IA Karsinoma invasif didiagnosis hanya dengan mikroskop. Semua lesi yang terlihat
secara makroskopik, meskipun invasi hanya superfisial, dimasukkan ke dalam stadium IB
IA1 Invasi stroma tidak lebih dari 3,0 mm kedalamannya dan 7,0 mm atau kurang pada ukuran secara horizontal
IA2 Invasi stroma lebih dari 3,0 mm dan tidak lebih dari 5,0mm dengan penyebaran horizontal 7,0 mm atau kurang
IB Lesi terlihat secara klinik dan terbatas di serviks atau secara mikroskopik lesi lebih besar dari IA2
IB1 Lesi terlihat secara klinik berukuran dengan diameter terbesar 4,0 cm atau kurang IB2 Lesi terlihat secara klinik berukuran dengan diameter terbesar lebih dari 4.0 cm
II Invasi tumor keluar dari uterus tetapi tidak sampai ke dinding panggul atau mencapai 1/3 bawah vagina
IIA Tanpa invasi ke parametrium
IIA1 Lesi terlihat secara klinik berukuran dengan diameter terbesar 4,0 cm atau kurang IIA2 Lesi terlihat secara klinik berukuran dengan diameter terbesar lebih dari 4,0 cm IIB Tumor dengan invasi ke parametrium
III Tumor meluas ke dinding panggul/ atau mencapai 1/3 bawah vagina dan/atau menimbulkan hidronefrosis atau afungsi ginjal
IIIA Tumor mengenai 1/3 bawah vagina tetapi tidak mencapai dinding panggul
IIIB Tumor meluas sampai ke dinding panggul dan / atau menimbulkan hidronefrosis atau afungsi ginjal
IVA Tumor menginvasi mukosa kandung kemih atau rektum dan/atau meluas keluar panggul kecil (true pelvis)
IVB Metastasis jauh (termasuk penyebaran pada peritoneal, keterlibatan dari kelenjar getah bening supraklavikula, mediastinal, atau para aorta, paru, hati, atau tulang)
16
Gambar 2.5 Stadium Kanker Serviks menurut FIGO (dikutip dari PNPK, 2015)
2.10 PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan kanker serviks yang utama pada stadium awal yaitu stadium 1A sampai 2A adalah operasi radikal histerektomi + bisalpingoophorektomi bilateral + Limfadenektomi pelvis bilateral. Operasi khusus seperti ini lazimnya dikerjakan oleh seorang ahli di bidang kanker kandungan (onkologi -ginekologi).
Sedangkan penatalaksanaan pada stadium 2B keatas adalah radiasi atau kemoradiasi paliatif saja (Sofian, 2011).
17
2.11 PENCEGAHAN
2.11.1 Pencegahan Primer
Pemberian vaksin Human Papilloma Virus (HPV),
Dengan cara ini infeksi HPV dapat dieliminasi. Vaksin ini membutuhkan serangkaian 3 suntikan dalam periode 6 bulan. Efek samping yang biasanya ringan. Yang paling umum adalah jangka pendek kemerahan, bengkak, dan nyeri di tempat suntikan. Terdapat dua jenis vaksin HPV yaitu Cevarix dan Gardasil. Dalam uji klinis, kedua vaksin mencegah kanker serviks dan pra-kanker yang disebabkan oleh HPV tipe 16 dan 18 (Arisusilo, 2012).
Penggunaan Kondom
Para ahli sebenarnya sudah lama meyakininya, tetapi kini mereka punya bukti pendukung bahwa kondom benar-benar mengurangi risiko penularan virus penyebab kutil kelamin dan banyak kasus kanker serviks.
Penggunaan kondom juga dapat mengurangkan terjadinya kehamilan yang berlebihan.
Sirkumsisi pada pria
Sebuah studi menunjukkan bahwa sirkumsisi pada pria berhubungan dengan penurunan risiko infeksi HPV pada penis dan kasus seorang pria dengan riwayat multiple sexual partner, terjadi penurunan risiko kanker serviks pada pasangan wanita mereka yang sekarang (Vinoshini, 2015).
Operasi section caesarea
Dengan cara ini, trauma pada jalan lahir dapat dikurangi. Menurut Mayrita(2014), perlukaan pasca persalinan dapat menjadikan awal terjadinya kanker serviks apabila tidak segera ditangani. Operasi ini adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan
18
2.11.2 Pencegahan Sekunder
Tujuan dari pencegahan sekunder adalah untuk menemukan kasus-kasus dini sehingga kemungkinan penyembuhan dapat ditingkatkan. Pencegahan sekunder termasuk skrining dan deteksi dini seperti pap smear, Kolposkopi dan Inspeksi visual dengan asam asetat (IVA).
2.11.3 Pencegahan Tersier
Tujuan dari pencegahan tersier adalah untuk mencegah komplikasi penyakit dan pengobatan, sesudah gejala klinis berkembang dan diagnosis sudah ditegakkan. Terdapat dua pengobatan pada pencegahan tersier yaitu :
Pengobatan pada pra kanker
- Kauterisasi yaitu membakar serviks secara elektris.
- Kriosurgeri yaitu serviks dibuat beku sampai minus 80-180 derajat celcius dengan menggunakan gas CO2 atau N2O.
- Konisasi yaitu memotong sebagian dari serviks yang cukup representatif dengan pisau biasa atau pisau elektriks.
- Operasi (histerektomi) bila penderita tidak ingin mempunyai anak lagi.
- Sinar laser yang digunakan dibawah pengawasan kolposkop, radiasi dengan pemanasan jarum radium yang dapat digunakan bila penderita yang sudah tua takut dioperasi.
Pengobatan pada kanker invasif
Tindakan pengobatan pada kanker serviks invasif berupa radiasi, operasi atau gabungan antara operasi dan radiasi.
19
2.12 KERANGKA TEORI
Patofisiologi
Dimulai dari NIS 1, NIS 2, NIS 3 atau karsinoma in situ (KIS)
Faktor risiko
Pola hubungan seksual
Paritas
Kontrasepsi oral
Sosial ekonomi
Tingkat pendidikan
Kebiasaan merokok
Umur
Defisiensi gizi Etiologi
HPV
Diagnosis
Sitologi
Kolposkopi
Biopsy
Konisasi
Kanker Serviks
Klasifikasi
Tipe
Histopatologik menurut WHO 2014
Tipe derajat Histologik
Stadium
Menurut FIGO
Penatalaksaan
Operasi radikal histerektomi,
bisalpingoophorektomi
bilateral dan
limfadenektomi pelvis bilateral
Radiasi dan
kemoradiasi paliatif
Pencegahan
Pencegahan primer
Pencegahan sekunder
Pencegahan tersier
20
2.13 KERANGKA KONSEP
Berdasarkan tujuan penelitian di atas maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah
Variable Independen Variable Dependen
Jumlah paritas
Kejadian Kanker serviks di RSUP. Haji Adam Malik Medan pada tahun 2016
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 RANCANGAN PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelatif dengan desain penelitian cross sectional dengan tujuan untuk melihat hubungan antara jumlah paritas dengan terjadinya kanker serviks.
3.2 LOKASI PENELITIAN
Penelitian ini akan dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik, Medan karena rumah sakit ini mempunyai angka pasien yang menderita kanker serviks lebih banyak berbanding rumah sakit lain. Selain itu, lokasi ini juga telah dipilih karena rumah sakit ini merupakan rumah sakit umum yang biasanya menjadi rujukan para peneliti di kota Medan ini.
3.3 WAKTU PENELITIAN
Waktu pelaksanaan penelitian ini adalah dari bulan April hingga Desember 2017 di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik.
3.4 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 3.4.1 Populasi Penelitian
Populasi penelitian adalah seluruh pasien yang berobat dengan keluhan ginekologi dan melakukan Pap’s Smear di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam
22
3.4.2 Sampel Penelitian
Sampel penelitian adalah seluruh pasien yang berobat dengan keluhan ginekologi dan melakukan Pap’s Smear di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik, Medan dari 1 Januari 2016 sehingga 31 Desember 2016. Jenis sampel yang digunakan adalah consecutive sampling. Pada consecutive sampling, semua responden yang memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah yang diperlukan terpenuhi. Consecutive sampling ini merupakan jenis non probability sampling yang paling baik, dan sering merupakan cara termudah. Sebagian besar penelitian klinis (termasuk uji klinis) menggunakan teknik ini untuk pemilihan subjeknya. Adapun besar sampel yang perlu dihitung berdasarkan rumus estimasi proporsi untuk populasi :
Dimana :
n = besar sampel minimum
Za = tingkat kemaknaan, skor Z untuk a p = proporsi/persentase kepositifan q = (1-p)
d = kesalahan (absolut) yang dapat ditolerir
Pada penelitian ini, tingkat kemaknaan skor Z untuk a= 0,05 (tingkat kepercayaan 95%) dari table Za adalah 1,96. Nilai p yang ditetapkan adalah 0,5.
Kesalahan absolut yang diinginkan adalah sebesar 10%. Berdasarkan rumus di atas, besar sampel yang diperlukan dalam penelitian ini adalah:
23
Dengan demikian besar sampel yang diperlukan adalah 96 orang.
3.4.3 Kriteria inklusi (Kriteria yang diharapkan)
Kriteria inklusi adalah pasien yang berobat ke department Obstetri dan Ginekologi dengan keluhan ginekologi serta data lengkap rekam medis pasien yang melakukan Pap’s Smear dengan hasil Pap’s Smear dan catatan riwayat paritas.
3.4.4 Kriteria eksklusi
Data yang tercatat tidak lengkap.
Penggunaan kontrasepsi hormonal > 4 tahun.
3.5 METODE PENGUMPULAN DATA
Prosedur pengumpulan data akan dilakukan setelah mendapat rekomendasi izin pelaksanaan penelitian dari Institusi Pendidikan dan Komisi Etik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Setelah itu data pasien diambil dari Catatan rekam medis pasien kanker serviks dari Januari 2016 sehingga Desember 2016 Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik, Medan.
(1,96)2 . 0,5 . 0,5 (0.1)2 n =
96 n =
24
3.6 METODE ANALISIS DATA
Pengolahan data dilakukan dengan merekap data dari rekam medis yang ada di bagian rekam medis Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik, Medan.
Analisis data ini akan dilakukan secara analitik dengan menggunakan program komputer Windows SPSS. Pengolahan data dilanjutkan dengan entry data yaitu memasukkan data rekapitulasi yang ada di format ke komputer kemudian dianalisa berdasarkan kategori yang berlaku disesuaikan dengan definisi operasional dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan grafik.
Pengolahan data penelitian dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak statistik 20.
3.7 DEFINISI OPERASIONAL Variable Definisi
operasional
Alat ukur
Cara Ukur
Hasil ukur Skala
ukur Kanker
serviks
Pasien dengan diagnosis kanker serviks yang dijumpai pada rekam medis berdasarkan hasil Pap’s Smear.
Data sekunder dari rekam medis.
Analisis data rekam medis.
Dinyatakan : 1. Kanker serviks 2. Tidak kanker serviks
Ordinal
Paritas Jumlah persalinan yang dialami oleh pasien selama hidupnya.
Data sekunder dari rekam medis.
Analisis data rekam medis.
Dinyatakan dalam jumlah paritas : 1. Nullipara 2. Primipara 3. Multipara
4. Grandemultipara
Nominal
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Lokasi Penelitian
Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan terletak di Jalan Bunga Lau, No 17 Medan. Rumah sakit ini didirikan pada tanggal 21 Juli 1993. RSUP.
Haji Adam Malik Medan merupakan rumah sakit umum kelas A dan jenis rumah sakit ini adalah rumah sakit pendidikan. RSUP. Haji Adam Malik mulai berfungsi sejak tanggal 17 Juni 1991 dengan pelayanan rawat jalan, sedangkan untuk pelayanan rawat inap baru dimulai tanggal 2 Mei 1992.
Karakteristik Sampel Penelitian
Data yang diambil berjumlah 96 orang yang berobat dengan keluhan ginekologi lalu melakukan Pap’s Smear di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik. Dari jumlah 96 tersebut, 48 pasien diantaranya merupakan kelompok kasus yang terdiagnosis kanker serviks yang memenuhi kriteria inklusi yang sudah ditetapkan sebelumnya dan 48 sisanya adalah pasien yang tidak menderita kanker serviks, sehingga 96 jumlah sampel tersebut dapat digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini karena sudah memenuhi batasan sampel yang sudah ditentukan dalam besar sampel penelitian. Sedangkan pasien yang tidak menderita kanker serviks yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasien di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik yang tidak terdiagnosis kanker serviks Didapatkan pasien sebanyak 48 orang yang dipilih secara random. Data sosiodemografi sampel penelitian :
26
Tabel 4.1 Distribusi sampel pasien berdasarkan usia
Usia N % 30-40 26 27,1 41-50 54 56,3
>50 16 16,6 Jumlah 96 100
Berdasarkan tabel 4.1 didapati kebanyakan pasien yaitu 54 orang yang berobat dengan keluhan ginekologi di RSUP. Haji Adam Malik Medan adalah berusia sekitar 41-50 tahun.
Tabel 4.2 Distribusi sampel pasien berdasarkan tahap pendidikan Tahap Pendidikan N % Tidak berpendidikan 5 5,2 SD 37 38,5 SMP 10 10,4 SMA 39 40,6 Sarjana 1 5 5,2 Jumlah 96 100
Berdasarkan tabel 4.2 didapati kebanyakan sampel pasien merupakan tamatan SMA dan hanya 5 orang pasien sampel penelitian tidak berpendidikan.
27
Tabel 4.3 Distribusi sampel pasien berdasarkan jenis pekerjaan Jenis Pekerjaan N % Tidak Bekerja 78 81,2 PNS/TNI/POLRI 7 7,3 Petani 4 4,2 Wiraswasta 7 7,3 Jumlah 96 100
Berdasarkan tabel 4.3 didapati kebanyakan sampel pasien yaitu 78 orang tidak bekerja. Malah hanya 18 sampel pasien yang bekerja sebagai PNS/TNI/POLRI, petani dan wiraswasta.
Tabel 4.4 Distribusi sampel pasien berdasarkan jumlah paritas Jumlah Paritas N % Nullipara 20 20,8 Primipara 19 19,7 Multipara 27 28,1 Grandemultipara 30 31,3 Jumlah 96 100
Berdasarkan tabel 4.4 didapati kebanyakan sampel pasien mengalami partus >3 kali. Terdapat sebanyak 27 sampel pasien dengan multipara dan 30 sampel pasien dengan grandemultipara.
28
Tabel 4.5 Tabulasi silang hubungan antara jumlah paritas dengan terjadinya kanker serviks
Paritas Kanker serviks Tidak kanker serviks
Nullipara 3 (15,0%) 17 (85,0%) p value : 0,01 Primipara 6 (31,6%) 13 (68,4%) CR value : 0,43 Multipara 16 (59,3%) 11 (40,7%)
Grandemultipara 23 (76,7%) 7 (23,3%)
Berdasarkan table 4.5 didapati grandemultipara paling terkena kanker serviks yaitu 23 (76,7%) pasien dan pada pasien tidak menderita kanker serviks hanya 7 (23,3%) orang dalam kategori grandemultipara. Dijumpai kebanyakan orang yaitu sebanyak 17 (85,0%) orang dari pasien yang tidak menderita kanker serviks dengan nullipara dan pada pasien kanker serviks hanya 3 (15,0%) pasien dengan nullipara. Hasil analisi Chi Square menunjukkan nilai signifikan 2 tailed antara paritas dengan kanker serviks adalah 0.000. Hasil uji menunjukkan nilai signifikan lebih kecil dari 0,05 (0.00 < 0.05) artinya terdapat hubungan antara paritas dengan terjadinya kanker serviks. Koefisien korelasi antara paritas dan kanker serviks yang didapat adalah 0.43 berarti nilai p hitung > nilai p tabel uji rank Spearmen bagi total populasi sampel yaitu 0,202 maka Ho ditolak, Ha diterima. Hal tersebut menunjukkan korelasi positif sedang antara paritas dan kanker serviks.
29
Di Indonesia terdapat 100-900 kasus kanker serviks per 100.000 penduduk.
Penyebab kanker serviks 99,7% disebabkan oleh Human Papiloma Virus (HPV) Onkogenik. HPV tipe 16 dan tipe 18 merupakan penyebab utama pada 70% kasus kanker serviks di dunia. Ada beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan kanker serviks di antaranya riwayat kanker serviks dalam keluarga, kebiasaan merokok, imunosupresi,dan infeksi chlamidia. Faktor risiko di sini maksudnya adalah faktor yang bisa saja menjadi pencetus terjadinya kanker serviks ataupun tidak (Manoppo, 2016). Pada penelitian ini dilakukan untuk mencari hubungan antara salah satu faktor risiko kanker serviks yaitu paritas dengan terjadi kanker serviks di RSUP. Haji Adam Malik Medan. Paritas adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan janin yang mampu hidup di luar rahim (28 minggu).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien kanker serviks (76,7%) memiliki paritas dengan risiko tinggi yaitu mempunyai >4 orang anak (grandemultipara) dibandingkan dengan pasien kanker serviks yang memiliki nullipara dan primipara. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Mayrita (2014) bahwa paritas >4 meningkatkan risiko kanker serviks sebesar 5,5 kali lebih besar daripada paritas <4 (Mayrita, 2014). Pada penelititan ini ditemukan juga pada sampel kontrol dengan nullipara (85,0%) dan primipara (68,4%) tidak mengalami kanker serviks. Hal ini menunjukkan paritas merupakan faktor risiko terjadinya kanker serviks.
Berdasarkan hasil uji statistik Chi Square didapatkan nilai p = 0,01 yang berarti ada hubungan antara hubungan antara paritas dengan terjadinya kanker serviks di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Didapatkan pasien kanker serviks paling banyak dengan grandemultipara dan pasien yang terbanyak dengan nullipara dan primipara tidak menderita kanker serviks. Hal ini menggambarkan semakin banyak jumlah anak semakin beresiko mengalami kanker serviks (Mayrita, 2014).
Pada wanita dengan paritas 5 atau lebih mempunyai risiko terjadinya kanker serviks 2,5 kali lebih besar dibanding dengan perempuan dengan paritas 3 atau
30
kolumner serviks selama kehamilan yang menyebabkan dinamika baru epitel metaplastik imatur yang dapat meningkatkan risiko transformasi sel serta trauma pada serviks sehingga memudahkan untuk terjadi infeksi HPV. Bentuk klasik dari infeksi HPV adalah kondiloma akuminata yaitu kutil yang berbentuk kembang kol pada jaringan ikat di tengahnya dan ditutup terutama di bagian atas epitel yang hiperkerotolik. Kondiloma akuminata jarang ditemukan pada serviks dimana lesinya hanya terbatas pada vulva, anus dan vagina bagian posterior.
Kemungkinan peranan terjadinya kanker serviks adalah dengan melakukan gangguan pada gen yang mengatur pembelahan virus dan mengakibatkan pembelahan sel menjadi tidak terkontrol ke arah keganasan. Perubahan sel yang terjadi dapat dalam bentuk jinak kondiloma (NIS 1 = Neoplasma Intraepitel Serviks) atau bentuk prakanker (NIS 2 dan 3), bahkan dapat menjadi karsinoma invasive ( Fatimah, 2009).
Suatu studi case control di Turki menunjukkan paritas >4 meningkatkan risiko kanker serviks sebesar 9.127 (p=0.002). Hal ini dibuktikan juga pada suatu studi kohort dimana didapatkan bahwa infeksi HPV lebih mudah ditemukan pada wanita hamil dibandingkan yang tidak hamil (Hidayat, 2014).
Menurut Chandrawati (2016) paritas atau kelahiran yang paling optimal untuk terjadinya kanker serviks adalah kelahiran sampai ketiga kali dan lebih. Semakin banyak proses melahirkan yang dialami oleh seorang ibu maka semakin tinggi risikonya untuk terkena kanker serviks. Saat proses melahirkan janin tentu saja akan keluar melalui serviks yang merupakan leher rahim, jembatan antara rahim dan vagina. Keluarnya janin akan menimbulkan trauma pada serviks. Jika serviks mengalami kelahiran terus menerus maka serviks juga akan semakin mengalami trauma (Chandrawati, 2016).
Trauma pada jalan lahir tersebut apabila tidak mendapatkan pengobatan dapat menjadi perlukaan yang menahun, yang dapat menimbulkan infeksi alat genetalia bagian atas dan perlukaan yang tidak sembuh dapat menjadi keganasan. Selain itu pengaruh hormonal pada saat kehamilan dapat berpengaruh pada serviks yaitu pengaruh hormon progesteron yang membuat kemungkinan infeksi oleh HPV semakin mudah. Peningkatan hormon ini dapat berisiko untuk terjadinya kanker
31
serviks karena merangsang penebalan dinding endometrium dan merangsal sel-sel endometrium sehingga berubah sifat menjadi kanker (Hestuningtyas, 2016).
Kurangnya pengetahuan masyarakat akan bahaya memiliki banyak anak juga dapat memicu terjadinya kanker serviks. Masyarakat beranggapan banyak anak maka akan banyak rejeki. Padahal anggapan itu salah, hal itu justeru meningkatkan resiko terjadinya kanker serviks. Namun pada penelitian ini, tidak ada hubungan antara tahap pendidikan dengan terjadinya kanker serviks. Hal ini dapat dibuktikan pada tabel 4,1 yaitu kebanyakan pasien kanker serviks dan juga pasien tidak mederita kanker serviks merupakan tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang seharusnya memiliki pengetahuan dan pendedahan tentang deteksi dini kanker serviks
Kanker serviks dapat menyebabkan komplikasi yang parah yaitu anemia, penurunan berat badan dan infeksi yang menyebabkan kekurangan protein dan zat besi akibat pengobatan konvensional. Mengingat bahaya dari penyakit kanker serviks seharusnya masyarakat dapat berpikir cerdas untuk menjaga kesehatan reproduksi dan mengikuti program pemerintah yaitu KB untuk membatasi persalinan agar risiko terjadi kanker serviks semakin sedikit. Metode persalinan juga sangat berperan. Seksio sesarea dapat dilakukan jika jumlah persalinan normal sebelumnya sudah sangat beresiko tinggi bagi menderita kanker serviks.
Mengetahui kanker secara dini sangat penting. Karena merupakan cara yang paling mungkin untuk melawan kanker serviks. Untuk mengetahui kanker serviks secara dini pemeriksaan Pap’s Smear dan IVA yang teratur akan sangat membantu.Tenaga medis juga dapat mengadakan promosi kesehatan tentang pencegahan kanker serviks di berbagai tatanan pelayanan kesehatan (Rumah Sakit, Puskesmas, BPS, Klinik swasta) melalui leaflet, serta perlu memotivasi bagi wanita yang sudah terkena kanker serviks untuk melakukan pengobatan dan bagi wanita yang belum terkena kanker serviks untuk melakukan vaksinasi (Halimatusyaadiah, 2016).
Selain itu menghindari faktor risiko juga sangat penting untuk mencegah terjadinya kanker serviks. Salah satu faktor resiko yang sering dijumpai adalah
32
Propinsi NTB pada tahun 2016, kebanyakan pasien kanker serviks menggunakan kontrasepsi. Pada pemakai kontrasepsi lebih sering di dapatkan pertumbuhan kandida dan bakteri daripada bukan pemakai kontrasepsi. Pada pengguna oral kontrasepsi maupun AKDR terjadi peningkatan pembawa (carrier) bakteri maupun jamur di vagina. Karena beberapa penelitian menunjukkan pada pengguna kontrasepsi terjadi peningkatan kolonisasi kandida, bakterial, dan tricomonas di vagina karena adanya peningkatan kadar hormon estrogen menyebabkan epitel vagina menebal dan permukaan dilapisi oleh glikoprotein sehingga jamur, bakteri, dan tricomonas dapat tumbuh subur (Halimatusyaadiah, 2016).
Penelitian yang dilakukan ini dapat membuktikan bahwa ada hubungan antara jumlah paritas dengan terjadinya kanker serviks. Namun terdapat beberapa faktor pencetus kanker serviks lain yang tidak dapat diteliti dalam penelitian ini. Hal ini karena data yang diambil adalah data sekunder yaitu rekam medis. Data rekam medis pasien yang diteliti masih perlu dilengkapi dengan data-data yang penting untuk mengetahui faktor-faktor risiko kanker serviks yang lain seperti riwayat penyakit menular seksual, riwayat keluarga dan riwayat persalinan. Oleh karena itu, diharapkan tempat pelayanan kesehatan untuk melengkapi rekam medis dengan informasi yang penting untuk mengetahui faktor- faktor risiko kanker serviks.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan uraian pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Pasien yang didiagnosis kanker serviks paling banyak dijumpai pada paritas grandemultipara (>4 anak) dan paling sedikit pada paritas nullipara (tiada anak).
2. Terdapat hubungan antara jumlah paritas dengan terjadinya kanker serviks di RSUP. Haji Adam Malik Medan pada tahun 2016.
5.2 Saran
Berdasarkan penelitian tentang hubungan antara paritas dengan terjadinya kanker serviks maka saran yang dapat diberikan oleh peneliti adalah :
1. Bagi masyarakat
Diharapkan masyarakat khususnya ibu yang sudah pernah melahirkan untuk melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan Pap’s Smear dan IVA.
2. Bagi Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara
Dapat melakukan sosialisasi kepada kabupaten/kota mengenai pencegahan primer, sekunder dan tersier .
3. Bagi peneliti selanjutnya Perlu dilanjutkan penelitian yang lebih lanjut untuk mengetahui faktor- faktor lain yang dapat mempengaruhi terjadinya kanker serviks sehingga
34
DAFTAR PUSTAKA
Arisusilo, C, 2012, ‘Kanker Serviks Sebagai Pembunuh Wanita Terbanyak di Negara Berkembang’, Sainstis, vol. 1, no. 1, pp. 112-123.
Calver, L.E., 2008, Williams Gynecology, The McGraw-Hill companies, United States of America.
Chandrawati, R., 2016, ‘Faktor Risiko Yang Berpengaruh Dengan Kejadian Kanker Serviks Di RSUD DR. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung’, Kesehatan, vol 7, no. 2, pp. 282-287.
Darmayanti, Hapisah, Kirana, R., 2015, ‘Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kanker Leher Rahim Di RSUD Ulin Banjarmasin’, Kesehatan, vol. 6, no. 2, pp. 172-177.
Fatimah, A.N., 2009, Studi Kualitatif Tentang perilaku Keterlambatan Pasien Dalam Melakukan Pemeriksaan Ulang Pap Smear di Klinik Keluarga Yayasan Kusuma Buana Tanjung Priuk Jakarta Tahun 2008, Skripsi, Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Indonesia.
Halimatusyaadiah, S., 2016, ‘Faktor-Faktor Risiko Kejadian Kanker Serviks Di RSUD Propinsi NTB Tahun 2013-2014’, Media Bina Ilimiah, vol. 10, no.
1, pp. 58-63.
Haryani, S., Defrin, Yenita, 2016, ‘Prevalensi Kanker Serviks Berdasarkan Paritas di RSUP. DR. M. Djamil Padang Periode Januari 2011-Desember 2012, Kesehatan Andalas, vol. 5, no. 3, pp. 647-652.
Hestuningtyas, N.S., 2016, Faktor Risiko kanker Serviks Di RSUD Tugurejo Kota Semarang Tahun 2015, skripsi, Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro, Semarang.
Hidayat, E., Hasibuan, D.H.S., Fitriyani, Y., 2014, Hubungan Kejadian Kanker Serviks Dengan Jumlah Paritas di RSUD DR. Meowardi Tahun 2013, JKKI, vol. 6, no. 3, pp. 128-136.
Manoppo, I.J., 2016, ‘Hubungan Paritas dan Usia Ibu Dengan Kanker Serviks di RSU Prof. Kandou Manado Tahun 2014, Skolastik Keperawatan, vol. 2, no. 1, pp. 46-58.
35
Mayrita, S.N., Handayani, N., 2014, Hubungan Antara Paritas Dengan Kejadian Kanker Serviks Di Yayasan Kanker Wisnuwardhana Surabaya, skripsi, UNUSA, Surabaya.
Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran, 2016, Kanker Serviks, draft, Bakti Husda, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Purwati, A., Irawiraman, H., Hasanah, N., 2014, Hubungan Usia Dan Jumlah Paritas Terhadap Derajat Diferensiasi dan Stadium pada Squamous Cell Carcinoma Serviks di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Periode 2011-2013, skripsi, Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman.
Putra, A.A., 2013, Hubungan Paritas dan Usia Perkahwinan Sebagai Faktor Risiko Lesi Prakanker Serviks Pada Ibu Pasangan Usia Subur di Wilayah Kerja Puskesmas Sukasada II, skripsi, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
Rasjidi, H.I., 2008, Edisi Pertama : Manual Prakanker Serviks , Cv Sagung Seto, Jakarta.
Vinoshini, 2015, Tingkat Pengetahuan Dengan Perilaku Deteksi Dini Kanker Serviks Pada Wanita Usia Subur di Puskesmas Padang Bulan Tahun 2015, skripsi, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
LAMPIRAN A. Daftar Riwayat Hidup
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Navinraj A/L Moganarajan
NIM : 140100242
Tempat / Tanggal Lahir : Perak, Malaysia / 08 Nopember 1996
Agama : Hindu
Nama Ayah : Moganarajan
Nama Ibu : Nyanambal
Alamat : Jln. Dr. Mansyur, Gg. Turi, No 11, Medan Riwayat Pendidikan : 1. St. Anne Kindergarten, Malaysia ( 2002)
2. St. George Primary Institution, Malaysia (2003-2008)
3. St. George Secondary Institution, Malaysia (2009-2013)
4. Goon International College, Malaysia (2014) 5. Fakultas Kedokteran USU ( 2014-sekarang) Riwayat Pelatihan : Kem Kepimpinan Pengawas 2009
Riwayat Organisasi : Ahli Jawatankuasa Kelab Medical Emergency Unit
LAMPIRAN B. Pernyataan Orisinalitas
PERNYATAAN ORISINALITAS
Hubungan Antara Jumlah Paritas Dengan Terjadinya Kanker Serviks di RSUP. Haji Adam Malik Medan Pada Tahun 2016
Dengan ini penulis menyatakan bahwa skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh Sarjana Kedokteran pada Program Studi Pendidikan Dokter pada Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri.
Adapun pengutipan yang penulis lakukan pada bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan skripsi ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penelitian ilmiah.
Apabila dikemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian skripsi ini bukan hasil karya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi lainnya seuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Medan, 12 Desember 2017 Penulis,
Navinraj A/L Moganarajan 140100242
LAMPIRAN C. Surat Izin Survei Awal Penelitian
LAMPIRAN D. Ethical Clearance
LAMPIRAN E. Surat Permohonan Izin Penelitian
LAMPIRAN F. Surat Izin Penelitian
LAMPIRAN G.Output Perangkat Lunak Statistik
Case Processing Summary Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
totalpasien * paritas 96 100.0% 0 0.0% 96 100.0%
totalpasien * paritas Crosstabulation paritas
Total nullipara primipara multipara grandemultipara
totalpasien ya Count 3 6 16 23 48
% within paritas 15.0% 31.6% 59.3% 76.7% 50.0%
tidak Count 17 13 11 7 48
% within paritas 85.0% 68.4% 40.7% 23.3% 50.0%
Total Count 20 19 27 30 96
% within paritas
100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0
%
Chi-Square Tests
Value df
Asymptotic Significance (2-
sided)
Pearson Chi-Square 21.838a 3 .000
Likelihood Ratio 23.382 3 .000
Linear-by-Linear Association 21.406 1 .000
N of Valid Cases 96
a. 0 cells (0.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9.50.
Symmetric Measures
Value
Approximate Significance Nominal by Nominal Contingency Coefficient .430 .000
N of Valid Cases 96