• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "V. HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

5.1. Perkembangan Keberadaan Ruang Terbuka Publik

Berdasarkan sejarah, perkembangan Kota Tua Jakarta berawal dari sebuah noktah yaitu Sunda Kelapa yang jatuh ke tangan Pangeran Jayakarta dari Kesultanan Banten dan membangun kota Jayakarta yang kemudian dihancurkan oleh VOC. VOC akhirnya membangun kota jiplakan Amsterdam dan menempatkan pusat pemerintahan di sekitar kawasan Taman Fatahillah sekarang. Pada perkembangan selanjutnya grid-grid yang dibentuk oleh kanal- kanal pada akhir abad 18 dinyatakan tidak sehat karena timbul wabah malaria dan pes yang dahsyat, seiring dengan pergantian pemerintahan, maka Benteng Kasteel Batavia kemudian dihancurkan oleh Daendles, yang kemudian difungsikan untuk menimbun kanal-kanal yang sudah dangkal dan lambat arusnya

Seiring dengan perkembangan kota, maka keberadaan dari ruang terbuka publik yang ada di Kota Tuapun mengalami perubahan yang kemudian akan dikaji berdasarkan beberapa periode (Lampiran 2).

a. Masa Sebelum Kekuasaan VOC

Kawasan Kota Tua sebagai cikal bakal kota Jakarta dibangun oleh Fatahillah, 22 Juni 1527, setelah sebelumnya berupa kota Sunda Kelapa dengan Pelabuhan Sunda Kelapa yang didirikan oleh Kerajaan Sunda Pajajaran di awal abad ke-4. Kawasan yang diganti namanya menjadi Jayakarta oleh Fatahillah, berkembang menjadi kota pelabuhan internasional di mana berbagai bangsa tinggal sehingga terbentuklah suatu budaya campuran.

Satu-satunya sumber peta yang dapat dipergunakan untuk merekonstruksi morfologi kota selama kurun waktu tersebut (1527-1618) adalah peta Ijzerman tahun 1619 (Gambar 17). Berdasarkan peta Ijzerman terlihat bahwa kota Jakarta terbentang di tepi Barat Ciliwung dengan ditandai ruang terbuka berupa alun-alun sebagai pusat kota dengan pasar di sebelah selatannya. Namun karena kota Jayakarta pada saat itu dihancurkan oleh VOC maka tidak ada sama sekali meninggalkan jejaknya.

(2)

Alun-alun Kampung Kiai Aria

Keterangan :

Pasar

Gambar 17. Peta Keberadaan Ruang Terbuka Masa Kekuasaan Jayakarta (Sumber: Haris, 2007)

b. Masa Kekuasaan VOC (Periode 1619-1808)

Tahun 1619 adalah mulai masuknya bangsa Belanda yang yang kemudian membangun benteng pertahanan dan membuat pemukiman untuk bangsa warga Belanda. Pada tahun 1622-1627 Belanda mulai membangun kota bentengnya berdasarkan kota Amsterdam dengan menggunakan kanal-kanal dan jalan sebagai bagian dari ruang terbuka yang berbentuk grid. Bentuk grid ini masih berkembang dan masih bisa kita saksikan sekarang, kota Benteng Batavia membagi daerah Batavia menjadi kawasan “di dalam benteng” (Surjomihardjo, 2000).

Perkembangan Kota Tua Jakarta mengalami perubahan yang signifikan pada masa kolonilisme Belanda. Karakter morfologi kawasan Batavia beberapa abad yang lalu kini masih dapat kita saksikan dan masih dapat kita telusuri jejaknya (Gambar 18).

(3)

Gambar 18. Peta Perkembangan Kota Tua Masa Kekuasaan Jayakarta sampai VOC (Sumber: Dinas Tata Kota, 2007)

Pada periode ini terdapat beberapa jenis ruang terbuka publik yaitu berupa pelabuhan, pasar, alun alun, jalan dan kanal. Javasche Kaasjes merupakan pelabuhan yang dikenal pada masa Kerajaan Jayakarta kemudian bernama Haven Kanal. Lapangan terbuka yang pada saat itu merupakan bagian dari Kastil Batavia berfungsi sebagai tempat eksekusi. Pasar yang bernama Vishmarkt sebagai tempat penjualan ikan dan kebutuhan sehari-hari. Stadhuis Plein yang sekarang disebut Taman Fatahillah merupakan pusat kota Batavia pada periode tersebut. Selain itu ruang terbuka lainnya adalah berupa jalan dengan kanal atau jalan tanpa kanal yang dibuat dengan pola tegak lurus yang saling berpotongan. Keberadaan ruang terbuka pada periode 1619-1808 dapat dilihat pada Gambar 19.

JAYAKARTA, 1618

BATAVIA, 1627 JAYAKARTA,

1619 JAYAKARTA,

1618

BATAVIA, 1627 JAYAKARTA,

1619

BATAVIA 1650

BATAVIA 1672 BATAVIA

1635

BATAVIA 1650

BATAVIA 1672 BATAVIA

1635

(4)

Batas Zona Inti

street square

Gambar 19. Peta Keberadaan Ruang Terbuka Publik di Kota Tua Jakarta berdasarkan Peta Tahun 1650

de Prinsenstraat (Jalan Cengkeh)

Haven Kanaal kini Pelabuhan Sunda Kelapa

De Tijgergragt, (Jalan Poskota dan Jalan Lada) De Groene gedemte, (Jalan Kali Besar 2)

Stadhuis Plein (Taman Justitie Plein (Lapangan eksekusi) Vishmarkt (Pasar Ikan)

de Groote River, kini Jalan Kali

de Nieuwpoorstraat (Jalan Pintu Besar Utara)

de Leeuwinnenracht, (Jalan Kali Besar Timur 3)

de Kaaimansgragt, (Jalan Kemukus)

Stad Buiten gragt, (Jalan Asemka dan Jembatan Batu) de Heerenstraat/ de

Thewater (Jalan Teh)

Buiten Niewpoort gragt, kini Jalan Pintu Besar Selatan de Amsterdamschegragt, (Jalan Nelayan Timur)

de Hospitalstraat/ Bank Straat ( kini Jalan Bank)

(5)

Jalan utama Batavia dulu yaitu de Prinsenstraat, kini telah menjadi Jalan Cengkeh. Jalan utama ini berupa jalan yang lurus berfungsi sebagai axis yang menghubungkan Kastil Batavia di sekitar Jalan Tongkol sekarang dengan Stadhuis atau Balaikota, yang kini telah menjadi Museum Fatahillah atau Museum Sejarah. Pada Gambar 18 tampak jelas bahwa jalan-jalan di dalam kota tertutup ini dibangun lebar dan lurus, saling menyilang dengan siku-siku yang tajam.

De Nieuwpoorstraat, kini telah menjadi Jalan Pintu Besar Utara tersambung terus ke utara dengan de Heerenstraat atau Jalan Teh. Pada ujung paling selatan Jalan Kali Besar Timur dulu terdapat de Hospitalstraat yang kemudian berubah menjadi Bank Straat dan hingga kini masih bernama Jalan Bank yang terletak antara gedung eks Bank Exim dan Gedung Bank Dagang Negara. Jalan-jalan di dalam kota dibangun pula di pinggir-pinggir kanal atau terusan yang cukup banyak mengalir di dalam kota Batavia (Ataladjar, 2003)

Di Kota batavia sebelah timur, terdapat Jalan Lada yang kita kenal sekarang, dulu merupakan sebuah terusan yang bernama de Tijgerstraat atau Terusan Macan. Di depan Kastil Batavia, mengalir sebuah kanal bernama de Amsterdamschegragt, kini sebagiannya menjadi Jalan Nelayan Timur yang terbentang dari tepi timur Ciliwung hingga berpotongan dengan bagian utara dari de Tijgerstraat yang mengalir dari utara ke selatan. Sementara di sebelah selatannya, mengalir de Groenegragt yang lebih pendek. Di sebelah selatan Groenegragt mengalir de Leeuwinnengragt, sekitar Jalan Kunir dan Jalan Kali Besar Timur III sekarang. Kanal ini sama panjangnya dengan de Amsterdamschegragt yang terbentang dari tepi timur Ciliwung, memotong lurus de Tijgerstracht sendiri membentang dari utara ke selatan dekat dengan tembok luar kota sebelah timur. Terusan de Kaaimansgragt, sekitar Jalan Kemukus sekarang, membentang dari utara ke selatan atau sekitar Jalan Lada dan Jalan Poskota saat ini, searah dengan aliran Kali Besar (de Groote River) (Ataladjar, 2003).

Sebagian besar ruang terbuka memiliki pola linier (memanjang) dengan batas-batas disepanjangnya (Kostof, 1992) berupa kanal dan jalan (street) dengan pola lurus (straight) dan lainnya berupa jalan tanpa kanal berpola lurus

(6)

(straight) seperti Jalan Cengkeh (de Prinsestraat) dan Jalan Pintu Besar Utara (de Nieuwpoorstraat). Carmona et al. menyebutkan bahwa ruang terbuka tipe street merupakan ruang tiga dimensi dengan batas-batas (bangunan) di sepanjangnya dan tipe square sebagai ruang terbuka dengan batas-batas (bangunan) di sekelilignya. Stadhuis Plein (Taman Fatahillah sekarang) sebagai ruang terbuka yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan yang dominan

(dominated square) dan Pasar Ikan berupa square dengan bentuk amorf (amorphous square).

Tabel 9. Karakter fisik dan Fungsi Ruang Terbuka Publik pada periode 1619-1808

Keterangan: Zona I= Sunda Kelapa, Zona 2= Zona Fatahillah, Zona 3= Zona Pecinan

Zona Nama Ruang

Terbuka Publik Masa Kolonial

Nama Ruang Terbuka Publik

Kini

Tipe dan Karakter Fungsi

Zona 1 Haven Kanal Pelabuhan Sunda Kelapa

kanal-linear dermaga kapal/main point entry Pasar Ikan Baru amorphous square pasar pelelangan ikan

segar Justitie Plein Lapangan

eksekusi

dominated square tempat eksekusi de Amsterdamche

gragt

Jalan Nelayan Timur

kanal-jalan-lurus Sirkulasi pejalan kaki/transportasi air Zona 2 de Groote River Jalan Kali Besar

Barat-Timur

kanal-jalan-lurus Sirkulasi pejalan kaki/transportasi air Stadhuis Plein Taman Fatahilah dominated square pusat kegiatan de Groene gedemte

gragt

Jalan Kali Besar Timur 2

kanal-street sirkulasi de Leeuwinnengragt Jalan Kali Besar

Timur 3

kanal-jalan-lurus Sirkulasi pejalan kaki/transportasi air - Jalan Kali Besar

Timur 4

jalan-lurus sirkulasi - Jalan Kali Besar

Timur 5

jalan-lurus sirkulasi de Nieuwpoorstraat Pintu Besar Utara jalan-lurus sirkulasi

de Tijgergragt Jalan Poskota kanal-jalan-lurus Sirkulasi pejalan kaki/transportasi air de Tijgergragt Jalan Lada kanal-jalan-lurus Sirkulasi pejalan

kaki/transportasi air de Prinse srtaat Jalan Cengkeh jalan-lurus axis, sirkulasi Bank straacht Jalan Bank jalan-lurus sirkulasi de Heerenstraat Jalan Teh jalan-lurus sirkulasi

de Kaaimansgragt Jalan Kemukus kanal-jalan-lurus Sirkulasi pejalan kaki/transportasi air Kwartier straat Jalan Ketumbar jalan-lurus Sirkulasi pejalan kaki Zona 3 Buiten Tyger gragt Jalan Pintu Besar

Selatan

kanal-jalan-lurus Sirkulasi pejalan kaki/transportasi air

(7)

c. Masa Kekuasaan Daendles (Periode 1808–1905)

Sejak tahun 1730-an hingga akhir abad ke-18 di Batavia terjadi perpindahan besar-besaran ke daerah yang lebih tinggi dan lebih jauh letaknya dari rawa yaitu Weltevreden (daerah sekitar Lapangan Banteng sekarang), merupakan daerah yang dipandang lebih sehat. Pada 1810 Daendles memerintahkan membongkar tembok kota, benteng dan bangunan bangunan yang ada di kota Batavia untuk membangun bangunan di Weltevreden. Hanya beberapa bangunan yang disisakan tidak dibongkar. Ruang terbuka yang awalnya terdiri dari kanal dan jalan kemudian kanal-kanal tersebut diurug demi menjaga kualitas lingkungan, hanya pola jalan yang berbentuk garis lurus yang saling tegak lurus tidak berubah. Kota inipun sempat menjadi kota mati selama kurang tebih 100 tahun (Gambar 20).

Gambar 20. Peta Kondisi Kota Tua sekitar tahun 1870

Setelah ditinggalkan, kawasan Kota Tua pada periode akhir abad ke-19 ini menjadi kawasan yang disebut downtown (Kota Bawah) dan daerah Weltevreden sebagai Kota Atas yang kemudian dihubungkan oleh rel kereta tram dengan jalur

bangunan tersisa street

square

(8)

dari de Prinsenstraat (Jalan Cengkeh) – Stadhuisplein (Taman Fatahillah) belok ke barat yaitu ke Binnen Nieuw Straat (Jalan Pintu Besar Utara) – Buiten Nieuw Straat (Jalan Pintu Besar) – Molenvlietvliet (Jalan Gajah Mada) – Tanah Abang.

Walaupun pusat pemerintahan dipindahkan ke Weltevreden (sekitar Lapangan Banteng sekarang), sebagian kantor-kantor perdagangan dan perusahaan masih tetap dipertahankan di Kota Batavia (Sejarah Kota Tua, 2007).

Bagian utara didominasi oleh pelabuhan dengan fasilitas dan bangunan terkait kegiatannya (Heuken, 2000) yang kemudian disebut Sunda Kelapa. Sunda Kelapa pada periode ini berupa kanal lebar menjorok ke laut dengan daratan dan rawa-rawa, sebagai sedimentasi dari Kali Besar di sekitarnya. Pelabuhan ini masih menjadi pintu masuk (main point entry) bagi pengunjung dari arah utara, hingga selesainya Pelabuhan Tanjung Priuk pada tahun 1885. Kemudian Daendles bercita-cita agar kota yang pernah mendapat julukan ”Ratu dari Timur” (The Queen of the East) itu kelak akan terisi dengan bangunan-bangunan baru. Oleh karena itu parit-parit ditimbun agar sumber penyakit dapat ditiadakan.

d. Masa Dibangun Kembali oleh Deandles (Periode 1905–1942)

Selain terjadi pembongkaran tembok keliling dengan kubu-kubunya, kanal-kanal yang tadinya mengelilingi lahan rumah yang membentuk pola kotak- kotak segi empat semua dihilangkan diganti dengan jalan darat. Namun demikian struktur kota abad 17 masih terlihat, antara lain pada garis-garis batas kota dan jalan-jalan kota.

Kota batavia pada periode ini masih memiliki pola yang sama, kotak- kotak, namun sudah tidak lagi dibentuk oleh kanal, melainkan oleh jalur-jalur jalan, yang tadinya kanal. Kali Besar menjadi sumbu membelah kota menjadi dua bagian utama, yaitu barat dan timur, menerus menyambung dengan ”Pelabuhan Kanal” (Haven kanaal) untuk kapal-kapal kecil. Sampai dengan tahun 1903 terjadi perluasan kota terjadi ke arah selatan dengan dibangunnya Stasiun Kereta Api dan beberapa bangunan bergaya modern.

Pada Gambar 21 terlihat peninggalan pada masa itu antara lain suatu lingkungan dengan sebuah taman yang sering disebut Stasiun Plein, karena berada di depan stasiun, kemudian sering disebut Taman Beos.

(9)

Gambar 21. Peta Keberadaan Ruang Terbuka Publik Periode 1905-1942 Di sisi barat taman, yaitu di de Binnen Nieuwpoort straat (Jl. Pintu Besar Utara), terdapat berderet dari selatan ke utara: kantor Nederlandsche Handel

Keterangan :

: street : square

a = Pelabuhan Sunda Kelapa b = Pasar Ikan

c = Jl Tongkol d = Jl Nelayan Timur e = Jl Kali Besar Timur 1 f = Jl Kali Besar Timur 2 g = Jl Cengkeh h = Jl Teh

i = Jl Kali Besar Timur-Barat j = Jl Kali Besar Timur 3 k = Jl Kali Besar timur 4 l = Jl Kali Besar Timur 5 m = Taman Fatahillah n = Jl Poskota o = Jl Ketumbar p = Jl Kemukus

a b

c

l

r = Jl Bank S = Taman Stasiun Kota t = Jl Pintu Besar Utara u = Jl Asemka v = Jl Pintu Kecil w = Jalan Perniagaan x = Jl Pekojan y = Jl Jembatan Batu z = Jl Pintu Besar Selatan A = Jalan Pancoran

d

f h e g

i j

k l

m o

k

p

n

s t

u

x v

w

z l r

y

A

(10)

Maatschappij (NHM)/Museum Bank Mandiri, Javasche Bank sebagai hasil perombakan kedua (tahun 1930), sekarang Bank Indonesia Kota, kantor Nederlandsch Indische Escomto Maatschappij (NIEM) dan lain-lain. Di jalan Binnen Nieuwpoort straat (Jl. Pintu Besar Utara) yang dilalui jalur kereta api dalam kota (tram) dan berterminal di Amsterdam Poort. Stadhuis Plein (sekarang Taman Fatahillah) masih dijadikan sebagai pusat lingkungan kota Batavia. Di sekelilingnya terdapat bangunan-bangunan penting yang sudah ada pada zaman VOC, yaitu Balai Kota Batavia, hasil perombakan ketiga dan sekarang sebagai Museum Sejarah Jakarta

Di sisi selatan, terdapat Raad van Justitie (Dewan Pengadilan) yang sekarang menjadi Museum Seni Rupa yang sudah ada sejak abad ke-18. Di sisi utara Stadhuis terdapat Cafe Batavia, Kantor Pos dan Telegram yang ada sejak awal abad ke-20.

Kota Batavia selanjutnya sejak 1920-an cenderung berkembang menjadi kota modern dan pada tahun 1930-an sudah lebih berkembang lagi sehingga terbentuk menjadi kota kolonial modern (een modernekolonialstad). Namun pola lama antara lain adanya selasar bagian samping bawah dalam bangunan, deretan gedung di tepian jalan masih terlihat. Jalan Cengkeh, sebagai jalan utama yang pernah menjadi sumbu penghubung antara Kastil dengan Stadhuis kondisinya semakin buruk. Pada kawasan Pecinan terdapat Glodok Plein (Jalan Pancoran sekarang) yang berasal dari kata pancuran air sebagai keran tempat mengambil air (Heuken, 1997). Kawasan Pancoran menjadi pusat aktivitas masyarakat Tionghoa mengadakan perayaan besar Tionghoa. Sedangkan kawasan Pekojan merupakan kawasan yang sudah dihuni oleh komunitas Arab ditandai dengan bangunan Rumah Gedong, Masjid An-Nawier dan Langgar Tinggi yang sudah ada pada pertengahan abad ke 19.

Keberadaan, karakter dan fungsi ruang terbuka publik pada periode ini dapat dilihat pada Tabel 10.

(11)

Tabel 10. Keberadaan ruang Terbuka Publik periode 1905-1942

Keterangan: Zona I= Sunda Kelapa, Zona 2= Zona Fatahillah, Zona 3= Zona Pecinan

Zona Nama Ruang

Terbuka Publik Masa Kolonial

Nama Ruang Terbuka Publik

Kini

Tipe dan Karakter Fungsi

Zona 1 Haven Kanal Pelabuhan Sunda Kelapa

kanal-linear dermaga/pelabuhan kapal

Pasar Ikan Baru amorphous square pasar ikan segar D Amsterdamche

gragt

Jalan Nelayan Timur

kanal-jalan-lurus sirkulasi pejalan kaki/transportasi air Zona 2 de Groote River Jalan Kali Besar

Barat-Timur

kanal-jalan-lurus sirkulasi pejalan kaki/transportasi air Stadhuis Plein Taman Fatahilah dominated square pusat kegiatan De Groene gedemte

gragt

Jalan Kali Besar Timur 2

jalan-lurus sirkulasi pejalan kaki De Leeuwinnengragt Jalan Kali Besar

Timur 3

jalan-lurus sirkulasi pejalan kaki, kendaraan - Jalan Kali Besar

Timur 4

jalan-lurus sirkulasi pejalan kaki - Jalan Kali Besar

Timur 5

jalan-lurus sirkulasi pejalan kaki De Nieuwpoorstraat Pintu Besar Utara jalan-lurus Sirkulasi

kendaraan,tram,pejalan kaki

De Tijgergragt Jalan Poskota jalan-lurus sirkulasi kendaraan/pejalan kaki De Tijgergragt Jalan Lada jalan-lurus sirkulasi pejalan kaki,

kendaraan De Prinse srtaat Jalan Cengkeh jalan-lurus axis, jalur tram,

sirkulasi pejalan kaki Bank straacht Jalan Bank jalan-lurus sirkulasi

kendaraan,pejalan kaki De Heerenstraat Jalan Teh jalan-lurus sirkulasi

kendaraan,pejalan kaki De Kaaimansgragt Jalan Kemukus jalan-lurus sirkulasi kendaraan Kwartier straat Jalan Ketumbar jalan-lurus sirkulasi pejalan kaki Stasiun Plein Taman Stasiun Oval square Peralihan moda

transportasi Zona 3 Buiten Tyger gragt Jalan Pintu Besar

Selatan

jalan-lurus sirkulasi pejalan kaki,tram, kendaraan

Jalan Jembatan

batu

jalan-lurus sirkulasi pejalan kaki, kendaraan Jalan Asemka jalan-lurus sirkulasi pejalan kaki,

koemersil Jalan Pintu Kecil jalan-lengkung sirkulasi pejalan kaki,

kendaraan Jalan Perniagaan jalan-lengkung sirkulasi pejalan kaki,

kendaraaan Jalan Pancoran jalan-lengkung pasar, sirkulasi pejalan

kaki, kendaraan Zona 4 Jalan Pekojan jalan-lengkung sirkulasi pejalan kaki,

tempat kegiatan religi

(12)

e. Masa Pasca Kemerdekaan (Periode 1942-1972)

Setelah Belanda ditaklukkan oleh bangsa Jepang, kota Batavia di tinggalkan oleh bangsa Belanda dan pada masa inilah kota Batavia berganti nama menjadi kota Jakarta. Pada masa pendudukan Jepang yang hanya selama tiga setengah tahun tersebut tidak banyak mengalami perubahan sampai dengan masa kemerdekaan Indonesia. Pembangunan serta pemerintahan difokuskan di pusat Kota Jakarta (sekitar Monas dan Lapangan Banteng). Sedangkan Kota Lama Jakarta kembali menjadi kota yang ditinggalkan.

Selain bangunan-bangunan yang masih dalam kondisi baik seperti Balai Kota, Museum Seni Rupa, ada yang dirombak total, berkondisi buruk dan bahkan ada yang hancur. Jalan Cengkeh, sebagai jalan utama yang pernah menjadi sumbu penghubung antara Kastil dengan Stadhuis kondisinya semakin buruk.

5.2. Karakter Fisik, Fungsi dan Keradaan Saat Ini

Berdasarkan penelusuran perkembangan ruang terbuka bersejarah, dapat diketahui keberadaan, fungsi dan karakter fisiknya hingga sekarang. yang dijelaskan per zona.

a. Zona Sunda Kelapa

Pada zona ini terdapat beberapa ruang terbuka yang masih ada sampai sekarang. Pelabuhan Sunda Kelapa sebagai ruang terbuka yang telah ada dari masa Kerajaan Sunda-Pajajaran, keberadaannya kini masih dapat dilihat dan fungsinya masih sebagai pelabuhan bongkar muat barang. Namun kondisinya sekarang, pelabuhan ini menjadi sepi dan tidak seramai saat sebelum dibuatnya Pelabuhan Tanjung Priok. Pasar Ikan sekarang merupakan peninggalan dari Pasar Ikan yang baru dibuka pada periode 1905-1942, sedangkan Pasar Ikan lama (Vishmark) yang berada di bagian utara Kali Besar (Groot River) sudah tidak ada lagi. Pasar Ikan kini menjadi nama jalan yang berada di depan Museum Bahari.

Kondisi Pasar Ikan kini kumuh dan kotor dengan utilitas yang memprihatinkan.

Karakter ruang terbuka berupa pelabuhan (Pelabuhan Sunda Kelapa) yang masih dapat dilihat sekarang adalah polanya yang linier dan lurus berorientasi ke laut. Di Sepanjang pelabuhan berderet kapal-kapal Phinisi yang sedang berlabuh.

Pasar Ikan sebagai pasar berbentuk square tidak beraturan (amorphous square)

(13)

yang berada di tepi laut juga menunjukkan orientasinya ke laut. Bangunan- bangunan bekas gudang (sekarang Museum Bahari) dan menara pengawas (sekarang Menara Syahbandar) merupakan Bangunan Cagar Budaya (BCB) yang memperkuat ruang terbuka di zona ini. Jalan Tongkol merupakan ruang terbuka berupa jalan (street) yang berbentuk lengkung/tidak lurus (Carmona et al., 2003) sebagai akses yang menghubungkan jalan Cengkeh dengan kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa. Jalan Nelayan Timur berupa jalan yang berbentuk lurus sebagai peralihan dari Zona Sunda Kelapa dengan Zona Fatahillah (Gambar 22).

Gambar 22. Ruang Terbuka Publik di Zona Sunda Kelapa

(14)

b. Zona Fatahillah

Pada zona ini terdapat Taman Fatahillah sebagai ruang terbuka yang menjadi pusat aktivitas. Kawasan sekitar Taman Fatahillah adalah kawasan yang sudah banyak tersentuh upaya revitalisasi. Taman Fatahillah sebagai ruang publik utama telah berhasil menjadi ruang terbuka publik yang banyak dikunjungi orang dengan berbagai aktivitas seperti pengamatan edukasi, fotografi, pameran, bazar, konser dan sebagainya. Menurut Garnham (1985) ruang terbuka publik sebagai ruang terbuka yang dapat diakses dan dimanfaatkan secara spontan oleh publik secara fisik dan visual dan menurut Hakim (2002) sebagai ruang terbuka yang dimanfaatkan oleh publik dan di dalamnya mengandung unsur-unsur kegiatan.

Namun karena aktivitas di Taman Fatahillah, ruang terbuka lain di sekitar Taman Fatahillah akhirnya seringkali dijadikan tempat parkir yang sebenarnya menjadi area semi pedestrian.

Koridor Kali Besar telah dikenal sebagai daerah perkantoran dan perusahaan besar di jaman kolonial. Hingga kini masih banyak terdapat bangunan tua dengan estetika tinggi sebagai aset yang luar biasa sehingga kawasan ini menjadi sasaran utama revitalisasi setelah Taman Fatahillah. Secara fisik keberadaan ruang terbuka ini sudah mengalami pembenahan, hal ini dapat dilihat dari ketersediaan jalur pedestrian dan street furniturenya yang sudah memadai.

Namun ruang terbuka di Kali Besar belum termanfaatkan secara optimal. Ruang selasar tepi bangunan sering digunakan bagi pihak yang tidak berkepentingan seperti pemulung dan gelandangan (Gambar 23).

Gambar 23. Kondisi Jalur Pedestrian dan Selasar Bangunan di Jalan Kali Besar

(15)

Ruang terbuka lain yang berupa jalan terdiri dari Jalan Kali Besar Timur 1, Jalan Kali Besar Timur 2, Jalan Kali Besar Timur 3, Jalan Kali Besar Timur 4, Jalan Kali Besar Timur 5, Jalan Pintu Besar Utara, Jalan Cengkeh, Jalan Teh, Jalan Kemukus, Jalan Ketumbar, Jalan Lada, dan Jalan Bank. Taman Stasiun Kota kini masih dalam pengerjaan sebagai tempat peralihan moda transportasi busway.

Keberadaan Taman Stasiun ini sekarang berupa plaza bawah tanah sehingga sudah berubah dari karakter awalnya (Gambar 24).

Gambar 24. Kondisi Taman Stasiun Kota Sebelum Menjadi Plaza Bawah Tanah Zona ini didominasi oleh ruang terbuka yang berupa jalan (street) dan square (taman Fatahillah) sebagai pusat kawasan. Ruang terbuka berupa jalan (street) memiliki pola lurus (straight) yang antar jalan membentuk grid menunjukkan formalitas dalam desainnya (Gambar 25). Ruang-ruang terbuka berupa square di zona ini adalah Taman Fatahillah yang dikelilingi oleh bangunan bersejarah (dominated square) dan Taman Stasiun Kota yang berbentuk oval. Di sepanjang jalan dan sekeliling square ada zona ini dibatasi oleh dinding-dinding dengan gaya arsitektur yang unik. Menurut Carmona et al. (2003) salah satu elemen pembentuk ruang terbuka kota adalah fasade bangunan (building facades) yang terdiri dari unsur dinding (walls), kolom (column) dan bukaan (opening).

Unsur dinding, kolom dan bukaan yang yang membentuk fasade bangunan di sepanjang jalan pada zona ini menghasilkan gaya/style campuran dari beberapa arsitektur kolonial dengan tropis yang disebut gaya eklektik (eclectic style) misalnya campuran gaya Neo Classic-Modern, Barouqe-Neo Classic,

(16)

Renaissance-Modern, Neo Classic-Art Deco. Sebagian besar bangunan yang terdapat pada zona ini adalah bangunan Cagar Budaya. Secara lengkap Bangunan Cagar Budaya yang berada di Zona Fatahillah dapat dilihat pada Lampiran 3 .

Gambar 25. Peta Ruang Terbuka Publik pada Zona Fatahillah

c. Zona Pecinan

Kawasan Pecinan kini masih dihuni mayoritas masyarakat Tionghoa sebagai pusat perekonomian. Ruang terbuka dan bangunan di zona ini sebagian besar difungsikan sebagai area komersil seperti menjadi pasar dan tempat pedagang kaki lima (Gambar 26). Ruang terbuka pada zona ini terdiri dari Jalan Asemka yang berada di bawah jalan tol, Jalan Pintu Kecil, Jalan Perniagaan, Jalan Jembatan Batu, Jalan Pintu Besar Selatan dan Jalan Pancoran.

Dibandingkan dengan ruang terbuka di Zona Fatahillah, ruang terbuka di zona ini memiliki pola yang tidak beraturan (amorph), artinya antar jalan tidak saling tegak lurus kecuali perpotongan antara Jalan Pintu Besar Selatan dengan Jalan Jembatan Batu dan Jalan Asemka. Jalan Pintu Besar Selatan (Buiten Nieuw

(17)

straat) sudah terbentuk dari periode awal kolonial yang berpotongan dengan Jalan Jembatan Batu dan Jalan Asemka yang awalnya berupa kanal, yaitu Stad Buitengragt (Gambar 27). Bangunan di sepanjang jalan di zona ini didominasi bangunan urban yang rapat dan beberapa bangunan cagar budaya seperti Toko Obat Lay An Tong dan Klenteng Budhi Dharma yang berada di Jalan Perniagaan.

Gambar 26. Aktivitas Komersil di Jalan Pancoran

Gambar 27. Peta Ruang Terbuka Publik pada Zona Pecinan

d. Zona Pekojan

Gambar 27. Peta Ruang Terbuka di Zona Pecinan

(18)

d. Zona Pecinan

Jalan Pekojan merupakan ruang terbuka bersejarah satu-satunya jalan yang dapat mewakili zona ini sebagai bekas lokasi perkampungan Arab (Gambar 28).

Walaupun kini dihuni sebagian besar oeh masyarakat Tionghoa, namun pada jalan ini masih terdapat beberapa fakta sejarah memiliki nilai penting sebagai bukti bahwa kawasan ini pernah sebagai pusat aktivitas masyarakat Islam. Peninggalan tersebut berupa bangunan rumah tinggal bergaya Mor (Rumah Gedong) dan masjid tua seperti An-Nawier dan Langgar Tinggi (Gambar 29).

.

Gambar 28. Peta Ruang Terbuka Publik pada Zona Pekojan

Gambar 29. Bangunan Langgar Tinggi di Pekojan

(19)

Keberadaan ruang terbuka publik bersejarah pada masing-masing periode dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Keberadaan Ruang Terbuka Publik Bersejarah di Kota Tua Jakarta

Keterangan: Zona 1 = Zona Sunda Kelapa, Zona 2 = Zona Fatahillah, Zona 3 = Zona Pecinan, Zona 4 = Zona Pekojan

Secara spasial, keberadaan ruang terbuka publik bersejarah di Kota Tua Jakarta dapat dilihat pada Gambar 30. Sedangkan kondisinya dapat dilihat pada Gambar 31, Gambar 32, Gambar 33 dan Gambar 34.

Zona

Nama Ruang Terbuka Publik

Periode 1619-1808

Periode 1808-1905

Periode 1905-1942

Periode 1942-1972

Zona 1 Pelabuhan Sunda Kelapa Ada Ada Ada Ada Pasar Ikan Lama

(Vishmarkt)

Ada Ada Tidak Ada Tidak Ada Pasar Ikan Baru Tidak Ada Tidak Ada Ada Ada

Lapangan Eksekusi Ada Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Jalan Tongkol Tidak Ada Tidak Ada Ada Ada Jalan Nelayan Timur Ada Ada Ada Ada Zona 2 Jalan Kali Besar Barat-

Timur

Ada Ada Ada Ada

Taman Fatahilah Ada Ada Ada Ada

Jalan Kali Besar Timur 1 Ada Ada Ada Ada Jalan Kali Besar Timur 2 Ada Ada Ada Ada Jalan Kali Besar Timur 3 Ada Ada Ada Ada Jalan Kali Besar Timur 4 Ada Ada Ada Ada Jalan Kali Besar Timur 5 Ada Ada Ada Ada Pintu Besar Utara Ada Ada Ada Ada

Jalan Poskota Ada Ada Ada Ada

Jalan Lada Ada Ada Ada Ada

Jalan Cengkeh Ada Ada Ada Ada

Jalan Bank Ada Ada Ada Ada

Jalan Teh Ada Ada Ada Ada

Taman Stasiun Kota Tidak Ada Tidak Ada Ada Ada Pintu Besar Utara Ada Ada Ada Ada

Jalan Ketumbar Ada Ada Ada Ada

Zona 3 Jalan Asemka Tidak Ada Ada Ada Ada Jalan Pintu Kecil Tidak Ada Tidak Ada Ada Ada Jalan Perniagaan Tidak Ada Ada Ada Ada Jalan Jembatan Batu Tidak Ada Tidak Ada Ada Ada

Jalan Pancoran Ada Ada Ada Ada

Jalan Pintu Besar Selatan Ada Ada Ada Ada Zona 4 Jalan Pekojan Tidak Ada Ada Ada Ada

Street Square Badan Air Batas Zona Inti

(20)

Gambar 30. Peta Keberadaan Ruang Terbuka Publik di Kota Tua Jakarta

Gambar 31. Ruang Terbuka Bersejarah di Zona Sunda Kelapa

2. Pasar Ikan 3. Jalan Tongkol

1. Pelabuhan Sunda Kelapa

4. Jalan Nelayan Timur

6. Jalan Kali Besar Timur 2

5. Jalan Kali Besar Timur 1 7. Jalan Cengkeh

9. Jalan Kali Besar Barat-Timur

8. Jalan Teh 10. Jalan Kali Besar Timur 3

(21)

Gambar 32. Ruang Terbuka Bersejarah di Zona Fatahillah

13. Taman Fatahillah

14. Jalan Poskota 15. Jalan Ketumbar 16. Jalan Kemukus

17. Jalan Lada 18. Jalan Bank 19. Taman Stasiun Kota

20. Jalan Pintu Besar Utara 12. Jalan Kali Besar Timur 5 11. Jalan Kali Besar Timur 4

(22)

Gambar 33. Ruang Terbuka Bersejarah di Zona Pecinan

Gambar 34. Ruang Terbuka Bersejarah di Zona Pekojan

5.3. Nilai Integritas Ruang Terbuka Publik Saat Ini di Kota Tua Jakarta Nilai integritas dari ruang terbuka publik bersejarah ditentukan berdasarkan kriteria nilai historik dan nilai estetika dan nilai fungsi yang perrhitungannya dapat dilihat pada (Lampiran 4). Penjabaran mengenai masing- masing nilai dijelaskan sebagai berikut.

24. Jalan Pekojan

21. Jalan Asemka 22. Jalan Pintu Kecil 23. Jalan Perniagaan

25. Jalan Jembatan Batu 26. Jalan Pintu Besar Selatan 25. Jalan Pancoran

(23)

5.3.1. Nilai Sejarah (Historical Value)

Penilaian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kualitas kesejarahan dari ruang terbuka. Parameter penilaian terdiri dari nilai kronologis, fakta sejarah, tingkat even bersejarah, keunikan dan keutuhan dengan hasil penilaian dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Nilai Sejarah pada Ruang Terbuka Bersejarah

Sumber: Studi Pustaka dan Ahli dari Dinas Museum dan Kebudayaan

Keterangan: NK=nilai kronologis, FS=fakta sejarah, Kl=kelangkaan, ES=even sejarah, Ku=keutuhan, N=nilai total, K = kategori (T=tinggi, jika N=13-15, S=sedang, jika N=9-12, R=rendah, jika N=5-8).

Berdasarkan hasil penilaian pada Tabel 12 didapatkan beberapa ruang terbuka yang memiliki nilai sejarah tinggi, sedang dan rendah.

Zona Ruang Terbuka

Variabel Nilai

Total

NK FS Kl ES Ku N K

Sunda Kelapa

Pelabuhan Sunda Kelapa

3 2 3 3 2 13 T

Pasar Ikan 2 2 1 2 2 9 S

Jalan Nelayan Timur 2 1 1 2 1 7 R

Jalan Tongkol 1 2 1 1 1 6 R

Fatahillah Taman Fatahilah 3 3 3 3 3 15 T Jalan Kali Besar Barat-Timur 3 3 3 3 3 15 T Pintu Besar Utara 3 3 3 3 3 15 T

Jalan Bank 3 2 2 3 3 13 T

Jalan Poskota 3 2 3 3 3 14 T

Jalan Lada 3 2 2 3 2 12 S

Jalan Kali Besar Timur 4 3 2 2 3 3 13 T Jalan Kali Besar Timur 5 3 2 2 3 3 13 T

Jalan Cengkeh 3 2 2 3 2 12 S

Taman Stasiun Kota 2 2 2 2 1 9 S

Jalan Ketumbar 3 2 2 2 2 11 S

Jalan Kemukus 3 2 2 2 2 11 S

Jalan Kali Besar Timur 1 2 1 1 2 1 7 R Jalan Kali Besar Timur 2 2 1 1 2 1 7 R Jalan Kali Besar Timur 3 3 3 2 3 1 12 S

Jalan Teh 2 2 1 2 1 8 R

Pecinan Jalan Pancoran 2 2 2 2 2 10 S Jalan Jembatan Batu 2 2 2 2 2 10 S

Jalan Perniagaan 2 2 2 2 2 10 S

Jalan Pintu Besar Selatan 3 2 1 2 1 9 S

Jalan Pintu Kecil 2 1 1 2 1 7 R

Jalan Asemka 1 2 1 2 1 7 R

Pekojan Jalan Pekojan 2 2 2 2 1 9 S

(24)

a. Zona Sunda Kelapa

Pelabuhan Sunda Kelapa termasuk ruang terbuka yang memiliki nilai historik tinggi. Hal ini dikarenakan Pelabuhan Sunda Kelapa memiliki nilai kronologis tinggi dilihat dari usianya yang lebih dari 100 tahun. Keberadaan Kapal Phinisi dan aktivitas bongkar muat barang secara tradisional sebagai fakta sejarah bahwa pelabuhan tersebut pernah menjadi pelabuhan rempah-rempah tingkat internasional di masanya. Pelabuhan yang pernah menjadi pintu masuk utama (main entry point) ini termasuk memliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan pelabuhan lain yang yang ada di Jakarta. Sedangkan Pasar Ikan dan Jalan Tongkol memiliki nilai sedang, karena Pasar Ikan sudah mengalami banyak perubahan dan tidak terlalu memiliki keunikan. Sedangkan Jalan Tongkol, sebagai jalan yang baru dibuka setelah tahun 1805 mengurangi nilai kronologisnya ditambah fakta sejarah yang tidak dapat lagi dilihat di jalan ini. Jalan Nelayan Barat memiliki nilai sejarah yang rendah karena sudah banyak mengalami perubahan sehingga mengurangi nilai keutuhan. Selain itu kedua ruang terbuka tersebut juga banyak ditemui di tempat lain sehingga mengurangi nilai keunikan ruang tersebut.

b. Zona Fatahillah

Sebagian besar ruang terbuka pada zona ini memiliki nilai historik tinggi, seperti Taman Fatahillah, Jalan Kali Besar Barat-Timur, Jalan Pintu Besar Utara, Jalan Bank, Jalan Poskota, Jalan Kali Besar Timur 4 dan Kali Besar Timur 5.

Ruang-ruang tersebut termasuk memiliki nilai kronologis yang tinggi karena keberadaannya sudah lebih dari 100 tahun. Even bersejarah yang pernah terjadi dapat dikatakan berskala Internasional karena pernah sebagai pusat pemerintahan pada masanya. Fakta sejarah yang ada masih banyak seperti keberadaaan bangunan tua dan bersejarah yang berada di sekitarnya, selain itu bentuk grid pada jalan juga masih tetap dipertahankan sebagai cerminan dari kota kolonial Belanda.

Ruang terbuka dengan elemen-elemen bangunan para kawasan sekitar Taman Fatahillah ini termasuk langka, karena pola eklektik pada bangunan merupakan adaptasi antara arsitektur kolonial asli (klasik) dengan arsitektur tropis pada bangunan yang hampir tidak ditemukan di tempat lain. Bangunan tersebut

(25)

sebagian besar masih tergolong memiliki keutuhan yang tetap terjaga walaupun mengalami kerusakan akibat tidak berfungsinya lagi bangunan.

Beberapa ruang terbuka di zona ini yang memiliki nilai sedang adalah Jalan Lada, Taman Stasiun Kota, Jalan Ketumbar, Jalan Kemukus. Ruang terbuka tersebut masih memiliki nilai kronologis yang tinggi, namun fakta sejarah tidak banyak ditemukan dan keutuhan sudah tidak terjaga.

Sedangkan ruang yang memiliki nilai rendah seperti Jalan Kali Besar Timur 1, Kali Besar Timur 2, dan Jalan Teh yang memiliki jumlah fakta sejarah dan tingkat keutuhan yang rendah (Gambar 35) .

Gambar 35. Kondisi ruang terbuka dengan Fakta Sejarah Rendah

c. Zona Pecinan

Ruang-ruang terbuka pada zona ini memiliki nilai sedang dan rendah. Jalan Pancoran, Jalan Jembatan Batu, Jalan Perniagaan dan Jalan Pintu Besar Selatan termasuk dalam kategori sedang. Fakta sejarah berupa bangunan bersejarah sudah tidak banyak lagi dapat dilihat. Beberapa bangunan dengan gaya Pecinan hanya dapat dilihat pada Jalan Perniagaan. Pada Jalan Pancoran fakta sejarah yang masih dapat dilihat adalah aktivitasnya yang bernuansa Cina. Sedangkan sebagian besar bangunan sudah merupakan gaya bangunan urban sebagaimana bangunan di kota modern lain. Fakta yang masih dapat dilihat pada ruang-ruang tersebut adalah pola ruang yang tidak beraturan (amorph) dan pola bangunan yang rapat sebagai salah satu karakter kawasan Pecinan. Jalan Asemka memiliki nilai rendah karena pada ruang tersebut memiliki nilai kronologis, fakta sejarah, keutuhan dan kelangkaan yang rendah.

(26)

d. Zona Pekojan

Pada zona ini terdapat Jalan Pekojan yang sudah ada sejak masa kolonial Belanda, ditambah dengan fakta sejarah yang masih dapat dilihat, walaupun hanya sedikit.

Ruang terbuka yang dulu sebagai pusat aktivitas religius sudah tidak terlihat.

5.3.2. Nilai Estetika (Aesthetic Value)

Nilai estetika ditentukan berdasarkan tingkat representasi terhadap gaya tertentu, proporsi antara ketinggian bidang dinding, kontinuitas dinding ruang (ritme) dan skala ruang. Adapun hasil penilaian dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Nilai Estetika Ruang Terbuka Bersejarah

Sumber : survei lapang

Keterangan: RG=representasi gaya, Pr=proporsi, Rt=ritme, Sk=skala, N=nilai total, K = kategori (T=tinggi,jika N=10-12, S=sedang, jika N=7-9, R=rendah, jika N=4-6).

Berdasarkan hasil penilaian pada Tabel 12 dapat dilihat tingkat kualitas estetika ruang terbuka pada masing-masing zona.

Zona Ruang Terbuka Variabel

N K

RG Pr Rt Sk

Sunda Kelapa

Pelabuhan Sunda Kelapa 3 3 3 3 12 T

Pasar Ikan 3 2 2 1 8 S

Jalan Nelayan Timur 1 2 2 2 7 S

Jalan Tongkol 1 2 1 2 6 S

Fatahillah Taman Fatahilah 3 3 3 3 12 T Jalan Kali Besar Barat-Timur 3 3 3 3 12 T

Pintu Besar Utara 3 3 3 3 12 T

Jalan Bank 3 3 3 3 12 T

Jalan Poskota 3 3 3 3 12 T

Jalan Lada 2 3 3 3 11 T

Jalan kali Besar Timur 4 3 1 3 3 10 T Jalan Kali Besar Timur 5 3 1 3 3 10 T

Jalan Cengkeh 2 3 1 2 8 S

Taman Stasiun Kota 2 3 3 3 11 T

Jalan Ketumbar 2 3 3 3 11 T

Jalan Kemukus 2 3 3 3 11 T

Jalan Kali Besar Timur 1 1 2 1 2 6 R Jalan Kali Besar Timur 2 1 2 1 2 6 R Jalan Kali Besar Timur 3 2 2 1 2 7 S

Jalan Teh 1 3 1 1 6 R

Pecinan Jalan Pancoran 3 3 2 2 10 T

Jalan Jembatan Batu 2 3 2 3 10 T

Jalan Perniagaan 2 2 1 2 7 S

Jalan Pintu Besar Selatan 1 3 2 3 9 S

Jalan Pintu Kecil 1 3 2 3 9 S

Pekojan Jalan Asemka 1 1 1 1 4 R

Jalan Pekojan 1 2 2 2 7 R

(27)

a. Zona Sunda Kelapa

Pelabuhan Sunda Kelapa memiliki nilai estetika tinggi, selain karena memiliki tingkat representasi yang tinggi terhadap citra bahari, juga memiliki nilai yang tinggi pada proporsi, ritme dan skala (Gambar 36). Keberadaan kapal-kapal Phinisi yang sedang berlabuh membentuk skala yang monumental dan ritme yang kontinu. Jalan yang lebar menciptakan ruang yang proporsional terhadap bidang yang dibentuk deretan kapa-kapal tua tersebut. Pasar Ikan memiliki nilai sedang, karena masih memiliki nilai representasi terhadap citra bahari yang ditunjang dengan kegiatan pelelangan ikan di dalamnya. Namun ruang terbuka pada Pasar Ikan ini tidak memiliki proporsi, ritme dan skala yang istimewa, terlebih pada Jalan Nelayan Barat dan Jalan Tongkol.

Gambar 36. Ruang Terbuka sebagai Representasi Citra Bahari b. Zona Fatahillah

Sebagian ruang terbuka pada Zona Fatahillah memiliki nilai estetika tinggi seperti Taman Fatahillah, Jalan Kali Besar Barat-Timur, Jalan Pintu Besar Utara, Jalan Kali Besar Timur 4, Jalan Kali Besar Timur 5, Jalan Bank, Jalan Poskota, Jalan Lada dan Taman Stasiun Kota. Selain masih sangat memiliki tingkat representasi yang tinggi terhadap citra kolonial (dari keberadaan bangunan dan pola ruangnya), ruang-ruang tersebut juga memiliki proporsi, ritme dan skala yang istimewa. Proporsi antara ketinggian bangunan dengan lebar jalan menciptakan

(28)

sudut pandang yang dapat memberikan kesan visual yang tinggi. Menurut Jacobs (1993) jika sebuah ruang terbuka dengan rasio 1:4 antara ketinggian dengan lebar berarti ruang tersebut memiliki sense of enclosure yang lemah, sedangkan rasio 2:1 memiliki sense of enlosure baik dan 1:1 adalah rasio minimum pada ruang terbuka. Berdasarkan pengamatan, terdapat ruang yang memiliki rasio 3:1 dan sebagian besar ruang terbuka dengan rasio 1:1 sampai 1:5. Sense of enclosure merupakan perasaan timbul pada sebuah ruang terbuka yang dibatasi oleh dinding-dinding. Proporsi pada ruang terbuka di Jalan Kali Besar memiliki perbandingan antara lebar jalan dengan ketinggian bangunan adalah lebih dari 1,5 (Gambar 37). Hal ini menunjukkan bahwa sense of enclosure pada ruang tersebut baik, sehingga pengguna ruang memiliki kenyamanan terhadap kesan visual.

W/H = 6 : 1 atau W/H> 1.5

Gambar 37. Proporsi Ruang Terbuka Kali Besar

Bangunan-bangunan yang tinggi menciptakan skala monumental pada ruang. Fasade bangunan tua dan bersejarah yang berderet di sepanjang/di sekeliling jalan/taman juga dapat menciptakan ritme yang kontinu pada ruang (Gambar 38).

Ruang yang memiliki nilai sedang adalah Jalan Cengkeh dan Jalan Kali Besar Timur 3. Pada jalan ini sudah tidak banyak elemen ruang terbuka yang dapat dijadikan sebagai representasi gaya kolonial. Bangunan-bangunan yang berada di sepanjang jalan ini sudah merupakan campuran berbagai tipe yang mencerminkan bagunan urban sehingga kontinuitas dari dinding ruang juga tidak tercipta. Sedangkan ruang yang memiliki nilai estetika rendah seperti Jalan Kali Besar 1, Jalan Kali Besar 2 tidak banyak terdapat elemen-elemen ruang yang

W H

(29)

dapat mempresentasikan citra kolonial. Proporsi, ritme dan skala ruang pada jalan tersebut kurang menunjang nilai estetika ruang.

Gambar 38. Kontinuitas Fasade Bangunan di Kali Besar

c. Zona Pecinan

Pada Zona Pecinan terdapat Jalan Pancoran dan Jalan Jembatan Batu yang memiliki nilai estetika tinggi. Nilai representasi pada Jalan Pancoran diberikan pada aktivitas khas Pecinan dan karakter jalan yang sempit serta bangunan yang rapat, sedangkan elemen berupa bangunan bersejarah Pecinan tidak banyak ditemukan. Representasi Jalan Jembatan Batu terhadap gaya pecinan tidak terlalu menonjol, namun perbandingan antara lebar jalan dengan ketinggian bangunan (W/H) yang sangat proporsional menambah nilai estetika pada ruang terbuka.

Ruang terbuka yang termasuk pada nilai estetika rendah memiliki tingkat representasi, proporsi, ritme dan skala yang tidak mendukung estetika ruang.

d. Zona Pekojan

Kawasan ini didominasi oleh bangunan hunian. Ruang terbuka terbentuk dari jalan dengan fasade bangunan hunian dan beberapa spot bangunan bersejarah seperti bangunan masjid dan rumah tinggal dengan arsitektur Mor pada Rumah Gedong (Gambar 39). Walaupun bangunan bersejarah tersebut dalam jumlah yang kecil, namun dapat menjadi representasi sebagai tempat yang pernah dihuni komunitas Arab dengan budaya Islamnya. Karena fasade bangunan terbentuk dari berbagai tipe bangunan terutama bangunan urban, maka kontinuitas dinding ruang

(30)

tidak tercipta. Proporsi dan skala ruang yang terbentukpun termasuk penilaian yang tidak istimewa.

Gambar 39. Rumah Gedong dan Masjid An Nawier sebagai Representasi Citra pada Zona Pekojan

5.3.3. Nilai Fungsi (Functional Value)

Nilai fungsi didapatkan dari indikator kenyamanan, akses dan linkage serta kegunaan secara ekonomi dan sosial (Tabel 13).

a. Zona Sunda Kelapa

Semua ruang terbuka pada zona ini memiliki nilai fungsi sedang karena Pelabuhan Sunda Kelapa, Pasar Ikan, Jalan Tongkol dan Jalan Nelayan Barat termasuk ruang terbuka yang selain tidak memiliki kenyamanan yang tinggi, aktivitas ekonomi dan sosialpun belum belum terlihat menonjol.

b. Zona Fatahillah

Pada zona ini terdapat Taman Fatahillah, Jalan Kali Besar Barat-Timur, Jalan Kali Besar Timur 3 dan Jalan Cengkeh dengan nilai fungsi tinggi. Berdasarkan nilai fungsi yang diperoleh, ruang-ruang tersebut telah memenuhi kriteria atau berpotensi sebagai sebagai ruang publik aktif (Gambar 40).

c. Zona Pecinan

Pada zona ini terdapat Jalan Pancoran yang memiliki nilai fungsi paling tinggi (Gambar 40). Jalan tersebut telah dikenal sebagai pusat jajanan dan obat- obatannya. Selain kenyamanan dan akses yang cukup baik, ruang terbuka ini juga telah efektif dimanfaatkan sebagai area komersil khas Pecinan. Sedangkan ruang

(31)

terbuka lainnya termasuk kategori sedang seperti Jalan Pintu Kecil, Jalan Jembatan Batu, Jalan Perniagaan dan Jalan Asemka.

Gambar 40. Ruang Terbuka dengan Nilai Fungsi Tinggi

Tabel 13. Nilai Fungsi Ruang Terbuka Bersejarah

Keterangan: RG=representasi gaya, Pr=proporsi, Rt=ritme, Sk=skala, K = kategori (T=tinggi, S=sedang, R=rendah).

Zona Ruang Terbuka Variabel Nilai

Total

K AL KE KS N K

Sunda Kelapa

Pelabuhan Sunda Kelapa 1 3 1 2 7 S

Pasar Ikan 2 2 3 2 9 S

Jalan Nelayan Timur 2 1 2 2 7 S

Jalan Tongkol 2 3 2 2 9 S

Fatahillah Taman Fatahilah 3 3 2 3 11 T Jalan Kali Besar Barat-Timur 3 3 2 2 10 T

Pintu Besar Utara 3 3 1 2 9 S

Jalan Bank 3 3 1 2 9 S

Jalan Poskota 3 3 1 2 9 S

Jalan Lada 2 3 2 2 9 S

Jalan kali Besar Timur 4 3 3 1 1 8 S Jalan Kali Besar Timur 5 3 3 1 1 8 S

Jalan Cengkeh 2 3 3 2 10 T

Taman Stasiun Kota 3 3 2 2 10 T

Jalan Ketumbar 2 3 1 2 7 S

Jalan Kemukus 2 3 1 1 7 S

Jalan Kali Besar Timur 1 1 2 2 1 6 R Jalan Kali Besar Timur 2 2 1 2 2 7 S Jalan Kali Besar Timur 3 3 3 2 3 11 T

Jalan Teh 1 2 1 1 5 R

Pecinan Jalan Pancoran 3 2 3 3 11 T

Jalan Jembatan Batu 2 3 1 1 7 S

Jalan Perniagaan 2 2 3 2 9 S

Jalan Pintu Besar Selatan 2 2 3 2 9 S

Jalan Pintu Kecil 1 2 3 2 8 S

Pekojan Jalan Asemka 2 2 3 2 9 S

Jalan Pekojan 2 2 2 2 8 S

(32)

JIka ketiga penilaian digabungkan maka didapatkan nilai integritas ruang terbuka publik sebagai penilaian menyeluruh yang mencerminkan kualitas dan signifikansi ruang terbuka publik bersejarah (Tabel 14).

Tabel 14. Nilai Integritas Ruang Terbuka Publik Bersejarah di Kota Tua Jakarta

Keterangan: N= nilai, K = kategori untuk nilai total (T=tinggi, jika N=31-39, S=sedang, jika N=22-30, R=rendah, N=13-21).

Berdasarkan hasil penilaian secara komposit, nilai integritas diklasifikasikan menjadi tiga tingkatan, yaitu nilai integritas tinggi, sedang dan rendah. Ruang terbuka yang memiliki nilai integritas tinggi dominan berada pada Zona Fatahillah sebagai cerminan keberhasilan dari sebuah ruang terbuka publik

Zona Ruang Terbuka

Nilai Historik

Nilai Estetika

Nilai Fungsi

Nilai Total

N K N K N K N K

Sunda Kelapa

Pelabuhan Sunda Kelapa 13 T 12 T 7 S 32 T

Pasar Ikan 9 S 8 S 9 S 26 S

Jalan Nelayan Timur 7 R 6 S 7 S 20 R Jalan Tongkol 6 R 7 S 9 S 22 S

Fatahillah

Taman Fatahilah 15 T 12 T 11 T 38 T Jalan Kali Besar Barat-

Timur

15 T 12 T 10 T 37 T Pintu Besar Utara 15 T 12 T 9 S 36 T Jalan Bank 13 T 12 T 9 S 36 T Jalan Poskota 14 T 12 T 9 S 35 T Jalan Lada 12 S 11 T 9 S 32 T Jalan kali Besar Timur 4 13 T 10 T 8 S 31 T Jalan Kali Besar Timur 5 13 T 10 T 8 S 31 T Jalan Cengkeh 12 S 8 S 10 T 30 S Taman Stasiun Kota 9 S 11 T 10 T 30 S Jalan Ketumbar 11 S 11 T 7 S 29 S Jalan Kemukus 11 S 11 T 7 S 29 S Jalan Kali Besar Timur 1 6 R 6 R 7 S 19 R Jalan Kali Besar Timur 2 7 R 6 R 7 S 20 R Jalan Kali Besar Timur 3 12 S 7 R 11 T 30 S

Jalan Teh 8 S 6 T 5 R 19 R

Pecinan

Jalan Pancoran 10 S 10 T 11 T 31 T Jalan Jembatan Batu 9 S 11 S 7 S 27 S Jalan Perniagaan 10 S 7 S 9 S 26 S Jalan Pintu Besar Selatan 9 R 9 S 9 S 27 S Jalan Pintu Kecil 7 R 9 S 8 S 24 S Jalan Asemka 7 S 4 R 9 S 20 R Jalan Pekojan 9 T 7 R 8 S 24 S

(33)

bersejarah. Taman Fatahillah merupakan ruang terbuka berejarah yang memiliki nilai integritas paling tinggi. Pengertian ruang publik berdasarkan Hakim (2002) bahwa ruang terbuka publik memberi kesempatan untuk bermacam-macam kegiatan seperti berjalan kaki, bermain, duduk, mengobrol dan sebagainya sudah dipenuhi pada Taman ini. Sebagai peninggalan masa lalu, ruang terbuka tersebut memiliki tingkat representasi yang tinggi terhadap karakter kesejarahannya. Pola square dan keberadaan bangunan bersejarah dengan arsitektur kolonial merupakan fakta sejarah dan representasi kota kolonial yang paling dominan.

Proporsi dan skala ruang tersebut sangat mendukung nilai estetikanya. Sebagai ruang publik, ruang terbuka tersebut sudah cukup memberikan kenyamanan dan telah dimanfaatkan secara optimal bagi masyarakat (Gambar 41).

Gambar 41. Ruang Terbuka Publik dengan Nilai Integritas Tinggi

Sebagai ruang terbuka utama di Kota Tua, taman ini memiliki arti yang penting bagi Kota Tua. Selain sebagai peninggalan sejarah juga menjadi pusat aktivitas masyarakat dan sebagai kawasan yang dijadikan icon atau landmark bagi kawasan Kota Tua (Dinas Tata Kota, 2005). Pada Zona Sunda Kelapa terdapat Pelabuhan Sunda Kelapa dan Jalan Pancoran pada Zona Pecinan sebagai ruang terbuka dengan nilai integritas tinggi. Secara spasial, nilai integritas ruang terbuka tersebut dapat dilihat pada Gambar 42.

(34)

Gambar 42. Peta Nilai Integritas Ruang Terbuka Publik Bersejarah di Kota Tua Jakarta

(35)

Ruang terbuka di Zona Fatahillah yang juga memiliki nilai integritas tinggi adalah Jalan Kali Besar Barat-Timur, Jalan Pintu Besar Utara, Jalan Cengkeh, Jalan Poskota, Jalan Lada, namun juga terdapat ruang terbuka dengan nilai sedang dan rendah. Jalan Kali Besar Timur 3, Taman Stasiun Kota, Jalan Kemukus dan Jalan Ketumbar dengan nilai sedang dan Jalan Kali Besar Timur 1, Jalan Kali Besar Timur 2 serta Jalan Teh. Walaupun nilai dan arti sejarah pada Jalan Cengkeh tinggi, namun karena faktanya sudah mengalami banyak perubahan sehingga menurunkan nilai estetikanya dan ruang terbuka bersejarah ini termasuk nilai integritas sedang nilai integritas sedang.

Kawasan yang memiliki nilai sedang pada zona Sunda Kelapa adalah Pasar Ikan dan Jalan Tongkol, sedangkan yang memiliki nilai rendah adalah Jalan Nelayan Timur. Pada Zona Pecinan terdapat Jalan Pintu Besar Selatan, Jalan Pintu Kecil dan Jalan Perniagaan dengan nilai integritas sedang, dan Jalan Asemka dengan nilai integritas rendah. Pada Zona Pekojan terdapat Jalan Pekojan dengan nilai integritas sedang.

Ruang terbuka publik dengan nilai integritas tinggi merupakan perwakilan dari ruang terbuka bersejarah yang dianggap memiliki karakter sejarah yang dapat merepresentasikan citra pada masing-masing zona, memiliki nilai estetika yang masih tinggi dan sebagai ruang yang telah memenuhi kriteria sebagai ruang publik. Sedangkan pada ruang dengan nilai integritas sedang dan rendah dianggap belum atau tidak memenuhi ketiga kriteria nilai integritas ruang terbuka publik, baik pada nilai sejarah, estetika maupun fungsi.

5.4

.

Kebijakan Pemerintah dan Pengelolaan di Kota Tua Jakarta 5.4.1. Kebijakan Pemerintah

Dukungan terhadap upaya pengembangan Kota Tua dapat dilihat dari berbagai peraturan perundangan lainnya yang secara langsung dan tidak langsung terkait dengan kawasan tersebut. Pada Tabel 15 dipaparkan beberapa perangkat peraturan yang dikeluarkan pemerintah dari tingkat pusat sampai daerah dalam upaya pelestarian aset-aset sejarah di Kota Tua Jakarta dan pemanfaatannya :

Gambar

Gambar 18. Peta Perkembangan Kota Tua Masa Kekuasaan Jayakarta sampai  VOC (Sumber: Dinas Tata Kota, 2007)
Gambar 19. Peta Keberadaan Ruang Terbuka Publik di Kota Tua Jakarta    berdasarkan Peta Tahun 1650
Tabel 9. Karakter fisik dan Fungsi Ruang Terbuka Publik pada periode        1619-1808
Gambar 22. Ruang Terbuka Publik di Zona Sunda Kelapa
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dalam kehidupan masyarakat Jawa berbagai macam ragam seni dan budaya hingga kini masih bertahan dan dijalankan, salah satu bentuk upaya dalam pemaknaan ini dapat

Pemberdayaan masyarakat terutama dibidang peningkatan ekonomi melalui kegiatan koperasi simpat pinjam, usaha kecil dan menengah (UKM) Perencanaan dan penerapan sistem

Dunia seni pertunjukan adalah dunia yang identik dengan praktis dan keilmuwan seni, tanpa ditunjang dengan bekal mata kuliaah umum lain, maka akan melahirkan individu yang hanya

Dalam rangka mendukung pelaksanaan Prioritas Nasional Tahun 2019- 2024, ditetapkan 6 (enam) Sasaran Strategik Kementerian Dalam Negeri. Adapun tujuan dan Sasaran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap mahasiswa FIB UI angkatan 2012 menunjukkan bahwa dalam melakukan pencarian informasi Mahasiswa FIB UI

Nomor judul Nomor bab Waktu pemutaran T01 C0 0 1 00 : 00 : 19 Bahasa Indonesia Buku Petunjuk Mengubah sudut pengambilan gambar Pada disk DVD video yang gambar direkam dari 2 sudut

Kinerja pengendali gain scheduling yang dapat dilihat dari respon waktu sistem lup tertutup apabila diberi input gangguan berupa sinyal step dan komando pilot side- slipe 3

Namun penulis ingin menganalisa dan menghitung perpindahan panas yang terjadi dalam ketel uap pipa air (water tube boiler) dengan data kapasitas uap boiler yang