BAB I BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kekayaan suatu bangsa terletak dalam kesehatan rakyatnya. Kesehatan adalah hak asasi manusia dan sekaligus investasi untuk keberhasilan pembangunan bangsa. (Mukti dan Moertjahjo, 2008). Agar warga negara dari setiap negara hidup sehat, akses kebutuhan kesehatan dasar diperlukan. Namun, bagi banyak negara, terutama di negara berkembang, kesehatan sering ditandai oleh pembiayaan yang tidak memadai (Haley and Beg , 2012).
Fenomena peningkatan biaya sektor kesehatan, khususnya di Indonesia digambarkan dengan kenaikan tingkat inflasi kesehatan lebih tinggi dari pada barang konsumsi lain (Sulastomo,1997). Pernyataan tersebut disampaikan pula oleh (Mukti et al, 2008) Meningkatnya biaya kesehatan dipengaruhi oleh penerapan ilmu dan teknologi yang canggih dan perubahan pola penyakit sebagai akibat meningkatnnya proporsi penduduk usia lanjut yang menyebabkan meningkatnya insiden penyakit-penyakit kronis dan lain-lain (Mukti et al, 2008).
Dalam rangka menjamin perlindungan terhadap resiko financial, harus terdapat sistem pembayaran pra upaya (prepayment) yang cukup kuat. Si miskin harus disubsidi (melalui subsidi silang dari kelompok resiko rendah kepada kelompok resiko tinggi), fragmentasi pengelolaan dana harus dihindari,dan harus terdapat sistem alokasi atau pembayaran yang strategis untuk meningkatkan keluaran dan kepedulian dari sistem kesehatan (Thabrany,2005).
Mengacu pada Peraturan Daerah Kota Cirebon Nomor 4 Tahun 2011 tentang Sistem Kesehatan Kota Cirebon Bab VIII Pembiayaan Kesehatan Pasal 33
“Besaran anggaran Pemerintah Kota dialokasikan secara bertahap minimal 10%
(sepuluh persen) dari APBD Kota diluar gaji” dan “besaran anggaran kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diprioritaskan untuk kepentingan pelayanan publik sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari anggaran kesehatan dalam APBN,APBD Provinsi dan APBD Kota. Selanjutnya pada pasal 34 disebutkan “
Alokasi pembiayaan dimaksud dalam pasal 33 ditujukan untuk pelayanan kesehatan di bidang pelayanan publik, terutama bagi penduduk miskin, kelompok lanjut usia dan anak terlantar”.
Menurut data keuangan di Dinas Kesehatan Kota Cirebon anggaran pemerintah daerah untuk program kesehatan berkisar 7% dalam kurun waktu 3 tahun, namun pemanfaatan dana untuk jamkesda pada dinas kesehatan semakin turun jika dibandingkan dengan anggaran APBD Kota ketersediaaan dana digambarkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Ketersediaan Dana Program Jamkesda Tahun2009 – 2012
(Rp) (%) (Rp) (%)
2009 608,612,646,500 47,976,549,896 7.88 7,706,144,800 1.27 2010 793,425,337,509 52,362,441,019 6.60 9,146,119,885 1.15 2011 885,859,088,619 58,970,663,026 6.66 6,466,062,950 0.73 2012 871,070,274,388 59,478,116,215 6.83 9,650,565,160 1.11
APBD Dinas Kesehatan JAMKESDA Tahun APBD KOTA
Sumber : Laporan Keuangan Dinas Kesehatan 2009 -2012
Gambar 1. Trend persentase alokasi anggaran Program Jamkesda dan APBD Dinas Kesehatan Kota Cirebon (2009-2012)
Perbandingan persentase anggaran Program Jamkesda dengan anggaran APBD Kota dari tahun 2009 sampai dengan 2011 terlihat persentase anggaran Program Jamkesda trendnya turun.
Penyelenggaraan Jamkesda, khususnya jaminan kesehatan untuk masyarakat miskin harus mengacu pada prinsip-prinsip (1) dana amanat dan nirlaba dengan pemanfaatan untuk semata-mata peningkatan derajat kesehatan masyarakat miskin (2) menyeluruh/komperhensif sesuai dengan standar pelayanan medik yang cost efektif dan rasional (3) Pelayanan yang terstruktur, berjenjang dengan probabilitas dan ekuitas (4) transparan dan akuntable (Trisnantoro et al ,2009).
Pelaksanaan jamkesda di Kota Cirebon mengacu pada Peraturan Walikota Nomor 13 tahun 2009 tentang Tata Cara Pelayanan Jaminan Kesehatan di Kota Cirebon, dalam aturan ini meliputi pengaturan kepesertaan, pelayanan dan pendanaan pelayanan Jamkesda. Selain Peraturan Walikota dalam Sistem Kesehatan Kota Cirebon pada pasal 37 (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat) ayat 4 ruang lingkup pelayanan kesehatan dasar meliputi kesehatan Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) dan Rawat Inap Tingkat Pertama (RITP), pelayanan kesehatan Rujukan, RJTL dan RITL serta pelayanan Gawat darurat dan diutamakan lifesaving (Pemerintah Kota Cirebon,2009). Berdasarkan Keputusan Walikota Nomor 401/Kep.213-Dinkes/2009 tentang Penetapan jumlah peserta masyarakat miskin diluar kuota program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) Kota Cirebon adalah sejumlah 80.290 jiwa.
Struktur pengelolaan pelaksanaan Jamkesda dikelola oleh Seksi Jaminan Kesehatan dibawah Bidang Jaminan dan Sarana Kesehatan pada Dinas Kesehatan, sehingga mekanisme penganggaran Program Jamkesda melalui APBD Kota Cirebon dengan RKA dan DPA. Dinas Kesehatan dengan Kegiatan “ Kegiatan Peayanan Kesehatan Penduduk di Puskesmas Jaringannya”.
Tabel 2.Anggaran Program Jamkesda Tahun 2009-2012
Tahun Jumlah Dana Klaim yang harus dibayar (Rp)
Klaim yang belum dibayar (Rp)
2009 7,706,184,800 8,543,579,685 837,394,885 2010 9,146,199,885 10,861,639,868 1,715,439,983 2011 6,466,062,950 8,850,094,254 2,384,031,304 2012 9,714,488,000 10,399,446,398 748,881,238 Sumber : Laporan Program Jamkesda 2009 -2012
Tabel 2 terlihat dari tahun ke tahun anggaran Program Jamkesda dan jumlah klaim pelayanan kesehatan dari tahun ke tahun selalu lebih besar dari dana yang tersedia dan selalu ada hutang pada pemberi pelayanan
Melihat alokasi anggaran Dinas Kesehatan yang hanya 7% sedangkan pada Peraturan Daerah disebutkan anggaran kesehatan minimal 10% diluar gaji dan alokasi anggaran jamkesda yang lebih kecil dari jumlah klaim dan ada hutang kepada pemberi pelayanan kesehatan kami ingin mendiskripsikan persepsi stakeholder terhadap kebutuhan anggaran dengan perhitungan berbasis premi pada Program Jamkesda Kota Cirebon.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang alokasi anggaran jamkesda yang lebih kecil dari jumlah klaim yang harus dibayar dan adanya hutang kepada pemberi pelayanan kesehatan tersebut maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut “Bagaimana persepsi stakeholder terhadap kebutuhan anggaran dengan perhitungan berbasis premi pada Program Jamkesda Kota Cirebon?”.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum :
Mengevaluasi kebutuhan anggaran Jamkesda untuk membayar paket pelayanan masyarakat miskin non kuota Jamkesmas pada pemberi pelayanan kesehatan baik sektor pemerintah maupun swasta yang bekerjasama dengan Dinas Kesehatan.
2. Tujuan Khusus:
A. Mengevaluasi kebutuhan dana yang akan digunakan untuk paket pelayanan kesehatan serta jenis layanan yang diselenggarakan pada program Jamkesda kota Cirebon.
B. Mengevaluasi dasar perhitungan anggaran Program Jamkesda dengan berbasis premi.
C. Mendiskripsikan persepsi stakeholder dalam penyelenggaraan Program Jamkesda.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi pengelola program jamkesda sebagai masukan dalam usulan perencanaan anggaran guna perbaikan program Jamkesda Kota Cirebon.
2. Bagi Dinas Kesehatan Kota Cirebon sebagai masukan dalam pengambilan kebijakan sehingga kebijakan sub sistem pembiayaan kesehatan dapat lebih efektif dan efisien.
E. Keaslian Penelitian
Penelitian tentang persepsi stakeholder terhadap kebutuhan anggaran berbasis premi pada Program Jamkesda di Kota Cirebon belum pernah dilakukan, penelitian yang serupa dengan penelitian ini adalah :
1. Mulliaddin, (2005) judul penelitian Analisis pembiayaan kesehatan keluarga miskin di Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara. Tujuannya mengetahui perkiraan kebutuhan dana pembiayaan pelayanan kesehatan keluarga miskin, mengetahui persepsi stakeholder tentang sumber dana dan alternatif program pemeliharaan kesehatan keluarga miskin, mengetahui persepsi stakeholder tentang potensi dan cara pengelolaan pembiayaan kesehatan dengan asuransi kesehatan sosial, mengetahui hambatan dalam pembiayaan kesehatan keluarga miskin. Metode penelitian menggunakan rancangan studi kasus dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian perkiraan kebutuhan anggaran untuk kesehatan keluarga miskin berkisar Rp.2.499.749.379,- sampai Rp. 4.004.902.871,- dana saat ini sebesar Rp. 1.605.000.000,- kekurangan dana dialokasikan dari sumber dana
pemerintah daerah pengelolaan oleh PT Askes. Program pembiayaan kesehatan dengan sistem asuransi kesehatan mendapat dukungan dari stakeholder. Persamaan dengan penelitian kami adalah meneliti kebutuhan
anggaran dan persepsi stakeholder. Perbedaan pada penelitian kami kebutuhan anggaran untuk masyarakat miskin non kuota jamkesmas.
2. Samba, (2006) Judul Analisis besaran premi Jaminan Pemeliharaan Kesehatan di Kabupaten Jembrana Propinsi Bali. Tujuan untuk mengetahui besaran premi yang sesuai dengan standar utilisasi normatif dan persepsi stakeholder terhadap besaran biaya dimaksud. Metode yang digunakan rancangan studi kasus jenis penelitian diskriptif dengan analisis kuantitatif dan kualitatif, hasil premi riil diperoleh Rp. 3.634,86,- sedangkan premi dengan standar utilisasi normative diperoleh Rp. 2.536,05,-.Persepsi stakeholder menerima.
Persamaan dengan penelitian kami adalah menghitung premi dan mendiskripsikan persepsi stakeholder. Perbedaannya perhitungan yang ditanyakan pada stakeholder sampai dengan kebutuhan anggaran.
3. Intiasari, (2008) Judul penetapan paket pelayanan kesehatan dan perhitungan
premi program pemeliharaan kesehatan mahasiswa Universitas Jendral Soedirman tahun 2007. Tujuannya merancang alternatif paket pelayanan kesehatan dan perhitungan premi yang rasional untuk pelaksanaan program BPKM (Bantuan Pemeliharaan Kesehatan Mahasiswa) sesuai cakupan kepesertaan di Universitas Jenderal Soedirman di tahun mendatang dan mengidentifikasi persepsi pengelola BPKM dan mahasiswa terhadap pengembangan pelaksanaan program BPKM di tahun mendatang. Metode penelitian diskriptif studi kasus dengan kombinasi pendekatan kuantitatif dan kualitatif hasil penelitian paket ditetapkan RJTP, RITL dan RI dan mahasiswa menyambut positif. Persamaan dengan penelitian ini adalah menghitung paket RJTP, RJTL dan RITL. Perbedaannya penelitian kami menghitung sampai dengan kebutuhan anggaran dan mendiskripsikan persepsi stakeholder pemerintah daerah.