9 BAB II
TINJAUAN TEORITIS A. Tinjauan Penelitian Terdahulu
Barimbing & Karimi, 2015 penelitian menganalisis tentang
“Pengaruh PAD, Tenaga Kerja, dan Investasi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Bali” penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh PAD, tenaga kerja dan investasi secara serempak dan secara parsial pada periode tahun 2008-2012. Pada penelitian ini peneliti menggunakan data kuantitatif dan kualitatif dengan menggunakan data sekunder dan variabel yang digunakan adalah Pendapatan Asli Daerah, Penanaman Modal Asing, Penanaman Modal Dalam Negeri dan Tenaga Kerja. Pada penelitian ini peneliti menggunakan teknik analisis regresi linear berganda dan menggunakan program SPSS dengan metode pengujian uji asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas, uji autokorelasi, uji multikolerasi, dan uji heterokedastisitas. Hasil dari penelitian ini PAD berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota di provinsi Bali, tenaga kerja berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota di Provinsi Bali dan investasi berpengaruh positif dan signifikan tehadap pertumbuhan ekonomi kabupaten/Kota Provinsi Bali.
Latif & Soesatyo, 2014 penelitian ini menganalisis tentang “Pengaruh Investasi, Tenaga Kerja, dan Pendapatan Asli Daerah terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Kediri” penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
pengaruh Invetasi, Tenaga Kerja, Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Kediri. Pada penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif dan variabel yang yang digunakan adalah Tenaga Kerja, PAD dan Investasi. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan dengan cara mempergunakan data sekunder yang berupa data time series pada periode 2015-2012. Teknik pengolahan data yang digunakan adalah dengan uji statistik menggunakan analisis regresi berganda dengan model analisa yang digunakan yaitu teknik analisis deskriptif, analisis statistik dan uji asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heterokedastisitas dan uji autokolerasi.
Hasil dari penelitian ini Investasi berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di kabupaten kediri, tenaga kerja berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di kabupaten kediri, pendapatan asli daerah berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di kabupaten kediri.
Karim et al., 2018 penelitian ini menganalisis tentang “Pengaruh Pendapatan Asli, Invetasi Pemerintah dan Angkatan Kerja Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Maluku Utara” penelitian ini pertujuan untuk menganalisis penagruh secara simultan dan parsial pengaruh PAD, Investasi Pemerintah dan Angkatan Kerja terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Maluku Utara. Pada penelitian ini peneliti mengunakan jenis penelitian data sekunder dan variabel yang digunakan adalah pendapatan asli, investasi pemerintah dan angkatan kerj. Model analisis dalam penelitian ini adalah model regreli linear berganda, asumsi klasik dan
metode Ordinary Least Square (OLS). Hasil dari penelitian ini adalah PAD,Investasi Pemerintah dan Angkata Kerja memiliki pengaruh yang tidak signifikan.
Maharani, 2016 Penelitian ini Menganalisis tentang “Kajian Pengaruh Investasi dan Tenaga Kerja Terhadap PDRB Sumut” Kajian ini bergantung pada besar kecilnya dampak spekulasi, baik usaha dalam negeri maupun usaha asing, terhadap PDRB. Dimana spekulasi tersebut juga akan mengasimilasi berbagai buruh dengan tujuan agar menjadi berguna. Teknik yang digunakan adalah OLS dan variabel yang digunakan adalah varibel Investasi PMA, investasi PMDN dan Jumlah Tenaga kerja, dalam penelitian ini jenis informasi yang digunakan adalah informasi opsional sebagai informasi time series dari tahun 1984-2005, khususnya informasi jumlah tenaga kerja, ukuran usaha PMDN, jumlah kepentingan PMA di Sumatera Utara. Dan PDRB Sumut konsekuensi dari penelitian ini adalah faktor otonomi PMDN,PMA,jumlah tenaga kerja dan kondisi moneter berpengaruh positif terhadap PDRB Sumut.
Rustiono, 2008 Penelitian ini menganalisis tentang “Analisis Investasi, Tenaga Kerja dan Pengeluaran Pemerintah terhadap Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah” penelitian ini bertujuan untuk mengetimasi pengaruh faktor moneter provinsi (PAD, DAU, DBH) dan upaya Pemabangunan Keuangan di wilayah/masyarakat perkotaan di wilayah keresidenan Semarang. Pada penelitian ini menggunakan model regresi log linear dengan metode kuadrat terkecil (OLS). Hasil dari penelitian ini adalah
variabel PMDN, PMA, tenaga kerja dan pengeluaran pemerintah berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah.
Maryati, U. dan Endrawati (2010) membedah “Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Umum terhadap Pertumbuhan Ekonomi :Sumatera Barat tahun 2004-2006”. Pencipta menggunakan faktor PAD, DAU dan DAK. Teknk yang digunakan adalah teknik analisi regregi berganda. Berdasarkan hasil penelitian PAD dan DAU berpengaruh siginifikan dan positif terhadap Pertumbuhan Ekonomi.
Sedangkan DAK berpengaruh Tidak signifikan dan negetaif terhadap Pertumbuhan ekonomi.
B. Teori dan Kajian Pustaka 1. Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi mungkin merupakan kondisi kenaiakan pendapatan yang terjadi berkat kenaikan dalam produksi barang dan jasa.
Peningkatan pendapatan tidak terkait dengan peningakatan populasi, dan dapat dinilai dari peningkatan output, pengembangan teknologi dan inovesai dalam bidang sosial.
Pertumbuhan ekonomi juga memiliki arti suaru proses perubahan ekonomi yang terjadi dalam perekonomian negara dalam waktu yang sangat tertentu menuju status yang lebih kuat. sacara umum,, proses ekonomi ini identik dengan peningkatan kapasitas produksi yang diwujudkan dengan kenaikan nilai dalam menjalani Pertumbuhan
ekonomi. Menurut (Sadono, 2013),Untuk mengukur pertumbuhan ekonomi, digunakan nilai produk domestik bruto (PDB) regional berdasarkan harga konstan dan menghilangkan pengaruh perubahan harga(Sadono, 2013).
Secara umum teori pertumbuhan dapat kategorikan menjadi aliran analisis/teori dan aliran sejarah/pengalaman (Boediono, 1982). Beberapa teori tentang pertumbuhan ekonomi:
a. Menurut teori pertumbuhan Klasik
Menurut Teori Ekonomi Klasik (Adam Smith), unsur- unsur utama dari sistem produksi adalah sumber daya alam, sumber daya manusia (jumlah dan kualitas penduduk), dan Modal (Boediono, 1982). Peningkatan produksi pada tahap ini ketika unsur-unsur sumber daya alam tidak di manfaatkan secara optimal ditentukan oleh persediaan sumber daya dan modal. Dengan peningkatan produksi yang berkelanjutan, sumber daya alam dimanfaatkan sepenuhnya. Pada tahap ini, sumber daya alam membatasi pertumbuhan ekonomi (Boediono, 1982).
Faktor kedua dalam produksi adalah jumlah penduduk.
Menurut teori ini, pasif, populasi disesuaikan dengan tingkat permintaan tenaga kerja. Adam Smith memaikan peran sentral dalam pertumbuhan dan akumulasi stok modal pada faktor ketiga, proses peningkatan produksi ( Priyono, Zaenudin
Ismail). Menurut Adam Smith, persediaan modal memiliki dua implikasi terhadp tingkat produksi total. Dengan kata lain, efek langsung dari peningkatan modal dan efek tidak langsung dari peningkatan produtivitas melalui kemungkinan spesialisasi, spesialisasi dan pembagian kerja. Semakin besar persedian modal, semakin besar potensi spesialisasi dan pembagian kerja dan semakin tinggi produktivitas per kapita (Boediono, 1982).
Teori Pertumbuhan Klasik David Recardo mengembangkan teori klasik Adam Smith menjadi model yang lebih tajam dalam hal konsep dan mekanisme pertumbuhan.
Menurut Recardo, proses pertumbuhan ekonomi adalah proses tarik menarik antara kekuatan dinamis ini, dan pada akhirnya, menurut teori ini batas dapat membatasi pertumbuhan ekonomi, sehingga di peroleh hukum penurunan keuntungan (Boediono, 1982).
b. Teori Harrod Domar
Teori Harrod-Domar bertujuan untuk menjelaskan kondisi-kondisi yang harus terpenuhi agar suatu perekonomian dapat mencapai pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan. Analisis Harrod-Domar menggunakan contoh sebagai berikut:
1) Barang modal telah mencapai kapasitas penuh.
2) Tabungan adalah proporsional dengan pendapatan nasional.
3) Rasio modal-produksi (capital-output ratio) tetap nilainya.
4) Perekonomian terdiri dari dua sektor.
Dalam teori Harrod-Domar, jika suatu perekonomian terdiri dari tiga atau empat sektor, konsisi untuk mencapai kapasitas total tidak dipertimbangkan. Namun, berdasarkan teori diatas, mudah untuk menyimpulkan apa yang seharusnya terjadi jika total belanja mencakup banyak faktor, termaksud belanja perintah dan ekspor (Hasan, 2019). Dalam situasi seperti itu, jika Y = C + I + G, sama dengan (I + ∆I), peningkatan barang modal dan dapat dimanfaatkan sepenuhnya.
Menurut Todaro (2011: 138), semua ekonomi perlu menabung dan berinvestasi dibagian tertentu dari PDB agar dapat tumbuh, semakin banyak tabungan dan investasi yang ada lakukan, semakin cepat tingkat pertumbuhan ekonomi.
Namun, tingkat pertumbuhan aktual dari setiap tingkat tabungan dan investasi, dan dapat diukur sebagai kebalikan dari tingkat produksi modal (Todaro M.P, 2011).
2. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Salah satu kebijakan yang disiapkan untuk mendukung pengembangan ekonomi msayarakat lokal adalah indikator petumbuhan PDRB daerah. Produk domestik bruto merupakan indikator untuk memahami kondisi ekonomi lingkungan pada periode waktu tertu, termaksud harga konstan dan berlaku. Pengertian PDRB juga bergantung pada nilai total produk dan jasa bergantung pada nilai total produk dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unut ekonomi disuatu wilayah (Murni, 2006).
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di atas harga konstan menunjukkan nilai tambah produk dan jasa yang dihitung berdasarkan biaya yang berlaku pada suatu tahun tertentu dengan mempertimbangkan proses ekonomi dari tahun ke tahun. Meskipun PDRB dengan harga terendah menggambarkan nilai tambah produk dan jasa yang dihitungg dengan menggunakan harga tahunn saat ini, angka ini dapat digunakann untuk memastikan transformasi ekonomi .
Untuk menghitung semua nilai produksi yang dihasilkan oleh suatu perekonomian selama satu tahun, tiga pendekatan yang sering digunakan Menurut (Tarigan, 2004), yaitu:
a. Pendekatan Produksi
Berdasarkan pendekatan produksi, pendapatan nasional dapat dihitung dengan menggunakan jumlah nilai perakitan
produk atau jasa yang dihasilakan oleh berbagai sektor usaha di lingkungan dalam waktu tertentu ( kurun waktu satu tahun).
b. Pendekatan Pendapatan
Berdasarkam pendekatan pendapatan, diperoleh dengan menjumlahkan hasil dari pendapatan tersebut dengan faktor- faktor produksi yang turut ikut serta dalam proses produksi pada suatu lingkungan dalam jangka waktu tertentu (kurun waktu satu tahun).
c. Pendekatan Pengeluaran
Nilai ini adalah penjumlahan dari pengeluaran konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap domestik, perubahan persediaan dan ekspor bersih (ekspor dikurangi impor).
3. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Menurut (Abdul, 2002) disebutkan bahwa Pendapatan Asli Daerah adalah semua pendapatan daerah yang berasal dari sumber-sumber ekonomi asli daerah. Selanjutnya didukung pasal 1 UU No.32 Tahun 2004 yang dimaksud dengan pendapatan daerah adalah semua hak daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekeayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan. berbicara tentang sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) tidak terlepas dari pendapatan daerah secara umum(Wardhiah, 2018).
Pasal 157 UU No. 32 Tahun 2004 dan pasar 6 Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 menjelaskan bahwa sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah terdiri dari :
a. Pajak Daerah dapat merupakan iuran wajib yang dimiliki oleh setiap orang pribadi atau perseorangan dari suatu badan kepala daerah dengan tidak ada imbalan dan paksaan yang didukung oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. Mendukung hak pungutan, pajak dibagi menjadi dua kelompok, yaitu :
1) Pajak Negara yang dikelola langsung Oleh pemerintah pusat (Direktorat Jendral Pajak). Jeni- jenis pajak yang dikeola langsung oleh pihak Direktorat Jendral Pajak adalah :
a) Pajak Penghasilan (PPh)
b) Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
c) Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBW) d) Bea Materai
e) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) tertentu.
2) Pajak daerah dikelola langsung oleh pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota (Mahmudi, 2010). Jenis-jenis pajak daerah yang dikelola oleh pemerintah provinsi adalah:
a) Pajak Kendaraan Bermotor.
b) Pajak Balik Nama Kendaraan Bermotor c) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor d) Pajak Air Permukaan
e) Pajak Rokok.
Sedangkan jrnis pajak yang dikelola oleh pemerintah kabupaten/kota adalah:
a) Pajak Hotel b) Pajak Restoran c) Pajak Hiburan d) Pajak Reklame
e) Pajak Penerangan Jalan f) Pajak Parkir
g) Pajak Sarang Burung Walet h) Pajak Air Tanah
b. Retribusi Daerah merupakan sumber pendapatan kedua bagi PAD setelah pajak daerah. Retribusi bahkan memiliki karakteristik yang berbeda dengan pajak daerah oleh pemerintah daerah kepada wajib pajak, dan dapat diterima langsung oleh wajib pajak dengan tidak ada kontra prestasi.
Sedangkan retribusi dapat merupakan retribusi wajib oleh pemerintah daerah atas retribusi wajib yang didukung
pemanfaatan suatu jenis pelayanan yang diberikan oleh pemerintah, retribusi dibedakan menjadi tiga jenis yaitu, (Mahmudi, 2010):
1) Retribusi Jasa Umum 2) Retribusi Jasa Usaha
3) Retribusi Perizinan Tertentu.
c. Hasil Pengolah kekayaan daerah yang merupakan pendapatan yang diperoleh dari kegiatan merupakan pendapatan yang diperoleh dari kegiatan pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 adalah penghasilan yang meliputi laba umum atas penyertaan modan BUMD, bagi hasil atas penyertaan modal BUMD, dan bahi hasil. tentang penyertaan modal pada perusahaan swasta (Mahmudi, 2010) .
d. Pendapatan asli Daerah (PAD) lainnya yang sah adalah sebagai berikut, (Mahmudi, 2010):
1) Hasil penjualan aset daerah yang dipisahkan.
2) Jasa Giro.
3) Pendapatan Bunga.
4) Tuntutan ganti rugi.
5) Komisi.
6) Potongan.
7) Keuntungan selisih kurs.
8) Pendapatan denda atas keterlambatan pelaksana pekerjaan
9) Pendapatan denda pajak dan retribusi 10) Pendapatan hasil eksekusi atas jaminan 11) Pendapatan atas fasilitas sosial dan umum
12) Pendpatan dari penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan.
(Nisa, 2017) Giro dan bunga atas penghasilan dan PAD lain yang sah pada umumnya siap memberikan kontribusi yang cukup dan signifikan. Dalam meningkatan pelayanan dan pendapatan bunga, daerah mengoptimalkan pengelolaan kas daerahnya (Mahmudi, 2010).
Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah seluruh daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah, yang diukur dengan dimensi target PAD kabupaten/kota setiap tahun anggaran (Saptaningsi, 2009). (Nisa, 2017) Pendapatan Asli Daerah dapat menjadi salah satu sumber pendapatan daerah yang harus terus didorong oleh pertumbuhan.
Pendapatan Asli Daerah bertujuan untuk menawarkan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mendanai pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan potensi daerah sebagai wujud desentralisasi. Pendpatan Asli Daerah sering dijadikan sebagai salah satu indikator dalam menilai kemandirian suatu lingkungan dalam mengelola keuangan daerahnya, semakin tinggi rasio Pendapatan Asli Daerah dibandingkan dengan
pendapatan keseluruhan yang meningkatkan kemandirian suatu lingkungan (Kusnandar, 2009).
4. Tenaga Kerja
Tenaga kerja adalah penduduk pada usia kerja yaitu antara 15-64 tahun. Penduduk dalam usia kerja ini dapat digolongkan menjadi dua yaitu angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Yang dimaksud dengan angkatan kerja adalah bagian dari tenaga kerja yang terlibat atau masih berusaha untuk terlibat atau masih berusaha untuk terlibat dalam kegiatan produktif yang menghasilkan barang dan jasa (Maharani, 2016)
Angkatan kerja adalah penduduk yang belum bekerja namun siap untuk bekerja atau sedang mencari pekerjaan pada tingkah upah yang berlaku . angkatan kerja terdiri atas golongan bekerja, dan golongan yang menganggur dan mencari pekerjaan (Maharani, 2016).
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), tenaga kerja adalah setiap orang yang berada dalam posisi berusaha bekerja untuk menyediakan barang dan jasa yang baik untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan untuk masyarakat. Aturan kerja yang dianut Indonesia bisa minimal 10 tahun, tanpa aturan maksimal. Jadi setiap orang atau pendudk yang berusia 10 tahun ke atas, dinilai sebagai tenaga kerja (Novianto &
Atmanti, 2013).
Tenaga kerja terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok tenaga kerja dan oleh karena itu bukan angkatan kerja. Kelompok tenaga kerja adalah angkatan kerja atau penduduk usia kerja yang bekerja, atau
memiliki pekerjaan tetapi untuk sementara tidak bekerja, dan yang sedang mencari pekerjaan. Sedangkan bukan angkatan kerja adalah pekerja atau penduduk usia kerja yang tidak bekerja, tidak mempunyai pekerjaan dan tidak sedang mencari pekerjaan, yaitu orang yang kegiatan sekolah (siswa, pelajar) mengurus rumah tangga, dan menerima pendapatan tetapi ketidakseimbangan langsung. atas karyanya(Dumairy, 1996) dalam (Novianto & Atmanti, 2013)
Jumlah kumpulan tenaga kerja yang mungkin deskripsi dari kondisi pekerjaan yang tersedia. Semakin besar jumlah kesempatan kerja yang peroleh maka akan menyebabkan kenaikan total produksi selama suatu negara, dimana salah satu indikator untuk memastikan terjadinya penyerapan tenaga kerja diindonesia adalah Angka Partisipasi angkatan kerja (TPAK). Luasnya partisipasi adalah untuk menjelaskan jumlah pekerja dalam suatu kelompok usia tersebut, yaitu mencocokkan jumlah pekerja dengan jumlah pekerja (Novianto & Atmanti, 2013).
5. Investasi
Menurut Todaro (2000:137-138), investasi memanikan peran penting dalam menggerakan kehiduoan ekonomi bangsa, karena pembentukan modal mempebesar kapasitas prosuksi, menaikkan pendapatan nasional maupun menciptakan lapangan kerja baru, dalam hal ini akan semakin memperluas kesempatan kerja (Sulistiawati, 2012).
Mankiw (2003:61) menyatakan bahwa inovasi teknologi merupakan
salah satu salah satu faktor yang mampu meningkatkan permintaan investasi (Sulistiawati, 2012).
Jika dilihat dari jenisnya, investasi sering dibedakan menjadi dua jenis, yaitu investasi riil dan investasi finansial . yang dimaksud dengan investasi riil adalah investasi barang tahan lama (barang modal) yang akan digunakan dalam proses perakitan. Jenis investasi riil dibagi menjadi tiga jenis komponen investasi :
a. Kepercayaan invetasi tetap (Bussines Fixed investment).
b. Investasi untuk perumahan (Residental construction).
c. Investasi dalam perubahan bersih dalam persediaan perusahaan (Net change in bussines inventory).
Sedangkan investasi keuangan adalah investasi pada surat berharga seperti perolehan saham, kewajiban dan bukti hutang lainnya. Menurut (Samuelson, 2005), investasi meliputi penambahan stok modal atau barang disuatu negara, seperti bangunan peralatan produksi, dan barang- barang inventaris dalam waktu satu tahun. Investasi merupakan langkah mengorbankan konsumsi di waktu mendatang.
Investasi adalah penempatan berbagai dana dengan harapan dapat mempertahankan, meningkatkan, ataua memberikan hasil yang positif (sutha, 2000) . Investasi adalah penanaman uang tunai dengan harapan mendapatkan hasil dan nilai tambah (Webster, 1999). Menurut Lypsey (1997), investasi adalah pengeluaran produk yang tidak dinikmati pada titik yang di dukung jangka waktu tertentu, investasi dibagi menjadi tiga,
yaitu investasi jangka pendek, investasi jangka menengah, dan investasi jangka panjang.
Menurut Sumanto, (2006), investasi dapat berupa komitmen sejumlah dana selama suatu periode untuk mendorong pendapatan yang diharapkan di masa depan sebagai kompensasi atas unit yang diinvestasikan. Sedangkan Husnan dalam Anoraga dan Pakarti,(2006) mendefinisikan investasi karena penggunaan uang tunai dengan maksud untuk memperoleh pendapatan. Investasi adalah penanaman modal selama suatu perusaan, dengan tujuan untuk mempercepat kemakmuran suatu organisasi atau perusahaan. Investasi juga didefinisikan sebagai barang yang dibeli oleh individu atau perusahaan untuk memperluas persediaan modal mereka (Mankiw, 2000) .
Berdasarkan jenisnya penanaman modal dibedakan menjadi dua jenis, yaitu : pertama penanaman modal pemerintah, yaitu penanaman modal yang dilakukan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Umumnya, investasi yang dilakukan oleh pemerintah tidak membeli untuk menghasilkan keuntungan. Kedua, penanaman modal swasta adalah penanaman modal yang dilakukan oleh pihak swasta nasional yaitu Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) atau penanaman modal yang dilakukan oleh pihak swasta asing atau disebut penanaman modal asing (PMA).
Harrod dan domar memeberikan peranan kunci kepada investasi terhadap perannya dalam proses pertumbuhan ekonomi khususnya
mengenai watak ganda yang dimiliki investasi. Pertama, investasi memiliki peran ganda dimana dapat menciptakan pendapatan. Kedua, investasi mempebesar kapasitas produksi perekonomian dengan cara meningkatkan stok modal (Jjingan, 1999:291). Penelitian ini menggunakan variabel investasi jenis domestik investment (penanaman modal dalam negeri) dan foreign investment (penanaman modal asing).
6. Penanaman Modal Dalam Negeri
Menurut Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri sebagaimana yang telah diubah dan direvisi oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1970 pasal 1 ayat 2 yang mendefiniskan Penanaman Modal Dalam Negeri sebagai kegiatan ekonomi dengan menanam modal di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dimana penanaman modal seluruhnya berasal dari dalam negeri dan oleh penanaman modal dalam negeri.
Peningkatan kegiatan ekonomi disuatu daerah dapat terjadi apabila masyarakat terus-menerus melakukan kegiatan penanaman modal hal ini, juga dapat meningkatkan kesempatan kerja serta juga dapat meningkatkan kesejahtraan masyrakat. Fungsi penting kegiatan investasi yakni, investasi merupakan komponen pengeluaran agregat, investasi dapat meningkatkan kapasitas produksi, dan investasi meningkatkan pertumbuhan teknolohi (Sukirno, 2000).
Penanaman modal dalam negeri adalah perseorangan warga negara Indonesia, badan usaha Indonesia, negara RI, atau daerah yang
melakukan penanaman modal di wilayah negara Republik Indonesia.
Penanaman modal dalam negeri adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal dalam negeri dengan menggunakan modal dalam negeri.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwasanya investasi atau penanaman modal merupakan pengeluaran atau pembelanjaan yang dapat berupa jenis barang modal, bangunan, peralatan modal, dan barang-barang inventaris yang digunakan untuk menambah kemampuan memproduksi barang dan jasa atau untuk meningkatkan produktiktivitas kerja sehingga terjadi peningkatan output yang dihasilkan dan tersedia untuk masyarakat.
7. Dana Alokasi Umum (DAU)
Menurut Erlina dkk, (2013 : 29) menyatakan bahwa keseluruhan Dana alokasi Umum (DAU) adalah jumlah dana yang dialokasikan untuk setiap daerah otonom (Provinsi/Kabupaten/Kota) di Indonesia setiap tahunnya sebagai dana pembangunan. DAU merupakan salah satu komponen belanja APBD, dan merupakan dalah satu komponen penerimaan dalam APBD. Tujuan DAU adalah untuk pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk membiayai kebutuhan daerah otonom dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Dana Alokasi UMUM berisi Dana Alokasi Umum Daerah Provinsi dan Dana Alokasi Umum Untuk Daerah Kabupaten/Kota.
𝑅𝑒𝑎𝑙𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖 𝐷𝐴𝑈
𝑅𝑒𝑎𝑙𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑃𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝐷𝑎𝑒𝑟𝑎ℎ 100%
C. Hubungan Antar Variabel
1. Hubungan Variabel Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi dengan menggunakan PDRB pada gagasan harga konstan. Menurut Brata, (2004) yang menyatakan bahwa PAD memiliki pengaruh positif terhadap proses ekonomi di daerah, dan penelitian oleh Tambunan, (2006) yang menyatakan bahwa pertumbuhan PAD yang berkelanjutan akan menyebabkan peningkatan proses ekonomi daerah (Arini S & Kusuma, 2019). Harianto, (2007) dimana PAD merupakan salah satu sumber belanja daerah, jika PAD meningkat maka dana yang dimiliki pemerintah daerah akan semakin tinggi dan kemandirian daerah juga akan meningkat, agar pemerintah daerah berinisiatif menggali potensi daerah dan meningkatkan proses ekonomi.
Pertumbuhan PAD yang berkelanjutan akan menyebabkan naiknya proses per ekonomian daerah itu sendiri (Tambunan, 2006) dalam (Arini S & Kusuma, 2019).
Berdasarkan teori diatas bahwasanya pendapatan asli daerah berpengaruh terhadap produk domestik regional bruto, hal ini dikarenakan semakin tinggi peningkatan pendapatan asli daerah, maka akan meningkatkan laju pertumbuhan perekonomianya, sebab pajak dan
retribusi daerah di kembalikan masyarakat untuk mengembangkan perekonomian daerahnya.
2. Hubungan variabel tenaga kerja terhadap pertumbuhan ekonomi Menurut Todaro (2003) peningkatan dan kumpulan tenaga kerja secara tradisional dianggap bersama sebagai faktor positif yang memacu proses ekonomi. Jumlah pekerja yang lebih besar berarti peningkatan dalam tingkat produksi, sementara peningkatan yang lebih besar berarti ukuran pasar domestik yang lebih besar. Namun, masih di pertanyakan apakah laju kenaikan yang sangat cepat berdampak positif atau negatif terhadap perkembangan ekonominya (Purnamasari et al., 2017).
Berdasarkan teori diatas bahwasannya tenaga kerja berpengaruh terhadap produk domestik regional bruto, sebab semakin tinggi penyerapan tenaga kerja, maka pendapatan dan taraf kesejahteraan hidup akan meningkan dan membuat masyarakat disuatu wilayah semakin produktivitas.
3. Hubungan variabel invetasi terhadap pertumbuhan ekonomi
Investasi dan proses ekonomi sangat erat kaitannya. Faktor-faktor tersebut merupakan salah satu investasi yang akan mendorong proses perekonomian negara. Agar mengalami pendakian yang cepat, setiap bisnis harus menabung dan mengumpulkan GNP-nya semaksimal mungkin. Ketika proses ekonomi suatu negara, meningkat, akan ada peningkatan kesempatan kerja, kesejahteraan, produktivitas dan distribusi pendapatan. Dalam teori klasik dengam model pertumbuhan Harrod-
Domar, untuk memicu proses pertumbuhan neto cadangan atau modal saham (Purnama:2017) dalam (Purnamasari et al., 2017).
Berdasarkan teori diatas bahwasannya investasi berpengaruh terhadap produk domestik regional bruto, sebab semakin besar investasi maka diharapkan mendorong pertumbuhan dalam mengalokasikan sumber daya yang dimiliki suatu daerah sehingga menyebabkan meningkatnya produk domestik regional bruto.
4. Hubungan variabel Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Umum (DAU), adalah dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan keuangan daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya didalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Dalam kaitannya dengan perimbangan keuangan antara pemerintah dengan daerah, seringkali hal ini merupakan konsekuensi dari kewajiban pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.. Dengan demikian, terjadi transfer yang cukup signifikan dalam APBN dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, dan pemerintah daerah dapat leluasa mengembangkan dan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.
Berdasarkan teori diatas bahwasannya dana alokasi umum berpengaruh terhadap produk domestik regional bruto, sebab terdapat hubungan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dengan bentuk pemberian dana perimbangan yang bersumber dari APBN
sehingga memberikan peningkatan terhadap produk domestik regional bruto.
D. Kerangka Berfikir
Pendapatan asli daerah berpengaruh terhadap produk domestik regional bruto, hal ini dikarenakan semakin tinggi peningkatan pendapatan asli daerah, maka akan meningkatkan laju pertumbuhan perekonomianya, sebab pajak dan retribusi daerah di kembalikan masyarakat untuk mengembangkan perekonomian daerahnya.
Tenaga kerja berpengaruh terhadap produk domestik regional bruto, sebab semakin tinggi penyerapan tenaga kerja, maka pendapatan dan taraf kesejahteraan hidup akan meningkan dan membuat masyarakat disuatu wilayah semakin produktivitas.
Investasi berpengaruh terhadap produk domestik regional bruto, sebab semakin besar investasi maka diharapkan mendorong pertumbuhan dalam mengalokasikan sumber daya yang dimiliki suatu daerah sehingga menyebabkan meningkatnya produk domestik regional bruto.
Dana alokasi umum berpengaruh terhadap produk domestik regional bruto, sebab terdapat hubungan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dengan bentuk pemberian dana perimbangan yang bersumber dari APBN sehingga memberikan peningkatan terhadap produk domestik regional bruto.
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir E. Hipotesis
Untuk dapat mengarahkan hasil penelitian, disampaikan suatu hipotesis penelitian. Hipotesis ini akan diuji kebenarannya dan hasil ujian ini akan dapat dipakai sebagai masukan dalam menentukan kebijakan meningkatkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Hipotesis adalah suatu pernyataan yang dikemukakan tetapi masih lemah kebenarannya.
Hipotesis juga dianggap sebagai kesimpulan sementara. Berdasarkan pernyataan di atas, dapat diambil asumsi sebagai berikut :
1. Diduga bahwa PAD berpengaruh terhadap Produk Domestik Regional Bruto.
2. Diduga bahwa tenaga kerja mempunyai pengaruh yang terhadap Produk Domestik Regional Bruto.
3. Diduga bahwa Penanaman Modal Dalam Negeri berpengaruh terhadap Produk Domestik Regional Bruto.
4. Di duga bahwa Dana Alokasi Umum berpengaruh terhadap Produk Domestik Regional Bruto.