REPUBLIK INDONESIA
KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
SURAT PENCATATAN
CIPTAAN
Dalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:
Nomor dan tanggal permohonan : EC00201931107, 26 Februari 2019 Pencipta
Nama : Fermanto Lianto
Alamat : Taman Surya 2, Blok D1/2, Pegadungan Kalideres, Jakarta Barat, Dki Jakarta, 11440
Kewarganegaraan : Indonesia
Pemegang Hak Cipta
Nama : Fermanto Lianto
Alamat : Taman Surya 2, Blok D1/2, Pegadungan Kalideres, Jakarta Barat, Dki Jakarta, 11440
Kewarganegaraan : Indonesia
Jenis Ciptaan : Proposal Penelitian
Judul Ciptaan : FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI MAKNA
TERITORIAL PADA SKALA MESO DI RUMAH SUSUN (RUSUN)
Tanggal dan tempat diumumkan untuk pertama kali di wilayah Indonesia atau di luar wilayah Indonesia
: 20 Mei 2016, di Bandung
Jangka waktu pelindungan : Berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung selama 70 (tujuh puluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia, terhitung mulai tanggal 1 Januari tahun berikutnya.
Nomor pencatatan : 000136060
adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon.
Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.
a.n. MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA DIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN INTELEKTUAL
Dr. Freddy Harris, S.H., LL.M., ACCS.
NIP. 196611181994031001
Powered by TCPDF (www.tcpdf.org)
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI MAKNA TERITORIAL PADA SKALA MESO
DI RUMAH SUSUN (RUSUN)
Kasus Studi Rusunawa dan Rusunami di DKI Jakarta, Indonesia
Disiapkan untuk:
UJIAN USULAN PENELITIAN DISERTASI (AUW 831)
Fermanto Lianto NPM: 2014842001
Promotor:
Prof. Ir. Lilianny Sigit Arifin, M.Sc., Ph.D.
Ko-Promotor:
Dr. Ir. Y. Basuki Dwisusanto, M.Sc.
PROGRAM DOKTOR ARSITEKTUR SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN BANDUNG
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI MAKNA TERITORIAL PADA SKALA MESO
DI RUMAH SUSUN (RUSUN)
Kasus Studi Rusunawa dan Rusunami di DKI Jakarta, Indonesia
Disiapkan untuk:
UJIAN USULAN PENELITIAN DISERTASI (AUW 831)
Fermanto Lianto NPM: 2014842001
Promotor:
Prof. Ir. Lilianny Sigit Arifin, M.Sc., Ph.D.
Ko-Promotor:
Dr. Ir. Y. Basuki Dwisusanto, M.Sc.
PROGRAM DOKTOR ARSITEKTUR SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN BANDUNG
MEI 2016
HALAMAN PENGESAHAN
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI MAKNA TERITORIAL PADA SKALA MESO DI RUMAH SUSUN (RUSUN)
Kasus Studi Rusunawa dan Rusunami di DKI Jakarta, Indonesia
Oleh:
Fermanto Lianto NPM: 2014842001
Disetujui Untuk Diajukan Pada Ujian Usulan Penelitian Disertasi Pada Hari/Tanggal: Sabtu, 14 Mei 2016
Promotor:
Prof. Ir. Lilianny Sigit Arifin, M.Sc., Ph.D.
Ko-Promotor:
Dr. Ir. Y. Basuki Dwisusanto, M.Sc.
PROGRAM DOKTOR ARSITEKTUR SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN BANDUNG
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI MAKNA TERITORIAL PADA SKALA MESO DI RUMAH SUSUN
(RUSUN)
Kasus Studi Rusunawa dan Rusunami di DKI Jakarta, Indonesia
Fermanto Lianto (NPM: 2014842001)
Promotor: Prof. Ir. Lilianny Sigit Arifin, M.Sc., Ph.D.
Ko-Promotor: Dr. Ir. Y. Basuki Dwisusanto, M.Sc.
Doktor Arsitektur Bandung Mei 2016
ABSTRAK
Pada daerah perkotaan seperti di DKI Jakarta Indonesia, yang berpenduduk padat dan terus meningkatnya pertambahan penduduk, serta lajunya arus urbanisasi dari desa dan daerah/kota lainnya atau yang dikenal sebagai kaum urbanis untuk alasan mencari pekerjaan dan sebagainya, menyebabkan kebutuhan akan tempat tinggal yang menjadi salah satu kebutuhan mendasar dalam kehidupan manusia setelah pangan dan sandang. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, di mana tanah dan rumah sangat terbatas dan mahal harganya, perlu dikembangkan permukiman dalam bentuk rumah susun (Rusun), terutama untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) berupa rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) dan rumah susun sederhana milik (Rusunami).
Kebutuhan akan ruang membuat penghuni mencari cara untuk membentuk teritorial/batas kepemilikan berbagi koridor/selasar untuk meletakkan barang-barang pribadi, fasilitas umum, ruang bersosialisasi, dan sebagainya. Ruang inilah yang akhirnya membentuk pola perilaku dalam beradaptasi dengan lingkungan, dan menimbulkan permasalahan batas-batas kepemilikan/
teritorial dalam skala mikro (satuan rumah susun), skala meso (bangunan rusun) dan skala makro (kawasan rusun). Rusun yang cenderung terbuka (open territory), menimbulkan masalah adanya teritorial yang diperebutkan (contested territory), dipertahankan, tetapi ada juga yang dikompromikan (compromised territory), untuk kepentingan bersama. Sehingga perlu dicari faktor-faktor yang memengaruhi makna teritorial di rusun, terutama pada skala meso, dengan kasus studi rusunawa dan rusunami di DKI Jakarta Indonesia, melalui metode penelitian Grounded Theory, agar dapat memberikan makna terhadap ruang dan tempat (teritorial) yang bebas dari gangguan privasi, nyaman, aman, memberikan rasa aman di rusun.
Kata Kunci: Rusunawa, Rusunami, Makna Teritorial, Skala Meso, Grounded Theory.
FACTORS AFFECTING THE MEANING OF MESO-SCALE TERRITORIES IN VERTICAL HOUSING (RUSUN)
Study Case Rusunawa and Rusunami in DKI Jakarta, Indonesia
Fermanto Lianto (NPM: 2014842001)
Promotor: Prof. Ir. Lilianny Sigit Arifin, M.Sc., Ph.D.
Co-Promotor: Dr. Ir. Y. Basuki Dwisusanto, M.Sc.
Doctoral Architecture Bandung May 2016
ABSTRACT
In urban areas like DKI Jakarta Indonesia, which is densely populated and an increasingly growing population, as well as the pace of urbanization of villages and regions/cities, known as the urbanists for reasons of finding a job and so on, creating the need for shelter became one of the fundamental needs of human life as food and clothing. To meet these needs, where the land and the house was very limited and expensive price, need to be developed settlement in the vertical housing, especially for low-income communities (MBR) in rental low-cost vertical housing (Rusunawa) and ownership low-cost vertical housing (Rusunami). The need for space, make residents to find ways to establish territories/ownership to 'share' the corridor/hallway to put personal belongings, public facilities, social space, in high population density. This space is eventually formed a patterns of behaviour in adapting to the environment, and cause problems of ownership boundaries/territoriality in a micro scale (apartment units), meso scale (building towers) and macro scale (building region). Vertical housing which tends to open (open territory), problematic existence of disputed territories (contested territory), are retained, but some are compromised (compromised territory), for the common good. So it is necessary to find the factors that affect the meaning of territories in vertical housing, especially at meso-scale, with case studies rusunawa and rusunami in DKI Jakarta - Indonesia, through the research method of Grounded Theory, in order to provide meaning to the spaces and places (territories), which is free from interference of privacy, comfortable, secure, providing a sense of security in the vertical housing.
Key Worlds: Rusunawa, Rusunami, Meaning of Territories, Meso-scale, Grounded Theory.
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur dan terima kasih kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena kami dapat melaksanakan Seminar Usulan Penelitian Desertasi Program Doktor Arsitektur, Universitas Katolik Parahyangan, pada semester genap tahun akademik 2015/2016, dengan judul: Faktor-Faktor yang Memengaruhi Makna Teritorial pada Skala Meso di Rumah Susun (Rusun), Kasus Studi Rusunawa dan Rusunami di DKI Jakarta, Indonesia.
Kami berterima kasih atas bimbingan dan yang tak kenal lelah dari Promotor: Prof. Ir. Lilianny Sigit Arifin, M.Sc., Ph.D., dan Ko-Promotor merangkap Kepala Program Doktor Arsitektur: Dr. Ir. Yohanes Basuki Dwisusanto, M.Sc., Para Dosen Pembahas: Dr. Ir. Purnama Salura, M.M., M.T., Dr. Ir. Rumiati R. Tobing, MT., IAI, serta para Dosen lainnya, Petugas perpustakaan, Teman-teman dan Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu, baik secara materi maupun non materi, sehingga Ujian Usulan Penelitian Disertasi ini dapat terlaksana dengan sukses. Kami menyadari tulisan ini masih ada kekurangannya, sehingga kami membutuhkan masukkan untuk menyempurnakan tulisan ini.
Akhir kata semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua, Terima Kasih dan Tuhan memberkati selalu. Berkah Dalem.
Bandung, Mei 2016 Penulis
Fermanto Lianto NPM: 2014842001
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN ABSTRAK
ABSTRACT
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI... iii
DAFTAR SINGKATAN ...v
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB 1 PENDAHULUAN ...1
1.1 Latar Belakang...1
1.2 Fenomena Teritorial di Rusun ...6
1.2.1 Teritorial terbuka (Open Territory)... 7
1.2.2 Teritorial yang diperebutkan (Contested Territory)... 9
1.2.3 Teritorial yang dikompromikan (Compromised Territory)... 12
1.3 Makna Teritorial bagi Penghuni Rusun...13
1.4 Kerangka Pemikiran ...15
1.5 Rumusan Masalah...15
1.6 Maksud, Tujuan dan Manfaat Pembahasan Makna Teritorial...16
1.6.1 Maksud Penelitian ... 16
1.6.2 Tujuan Penelitian ... 16
1.6.3 Manfaat Penelitian ... 16
1.7 Outcome Penelitian...17
BAB 2 TERITORIAL DI PERMUKIMAN ...19
2.1 Preferensi bermukim...19
2.2 Makna Teritorial ...21
2.2.1 Karakteristik Teritorial... 23
iv
2.2.2 Klasifikasi Teritorial... 35
2.3 Penelitian Terdahulu ... 39
BAB 3. METODE PENELITIAN ... 43
3.1 Grounded Theory ... 43
3.1.1 Ciri-Ciri Penelitian Grounded Theory... 45
3.1.2 Prinsip-Prinsip Penelitian Grounded Theory... 46
3.2 Langkah-langkah Penelitian... 48
3.2.1 Metode Pengumpulan Data ... 51
3.2.2 Metode Analisis Data ... 53
3.2.3 Validasi/Keabsahan ... 58
3.3 Tahapan Penelitian ... 61
3.4 Penentuan Kasus Studi ... 61
3.5 Jadwal Penelitian... 64
REFERENSI ... 65 LAMPIRAN
GLOSARIUM
DAFTAR SINGKATAN
BCI Bumi Cengkareng Indah
DKI Daerah Khusus Ibukota
FGD Focus Group Discussion
KK Kepala Keluarga
MBR Masyarakat Berpenghasilan Rendah
RT Rukun Tetangga
Rusun Rumah Susun
Rusunami Rumah Susun Sederhana Milik Rusunawa Rumah Susun Sederhana Sewa
RW Rukun Warga
Sarusun Satuan Rumah Susun
vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Contoh Penghuni L ... 2
Gambar 1.2 Contoh Permasalahan Teritorial di Rusun. ... 4
Gambar 1.3 Perumahan Susun Pruitt Igoe di St. Louis Missouri Amerika Serikat. ... 5
Gambar 1.4 Konsep Skip-Stop Elevator dan Kondisi Perumahan Pruitt Igoe ... 5
Gambar 1.5 Contoh Pemanfaatan Ruang Terbuka... 7
Gambar 1.6 Contoh Pagar Pengaman Tambahan. ... 8
Gambar 1.7 ... 8
Gambar 1.8 Contoh Masuknya Pedagang ke Rusun. ... 9
Gambar 1.9 Contoh Pemanfaatan Ruang Publik... 10
Gambar 1.10 Contoh Invasi/Agresi Fisik Terhadap Teritorial Publik. ... 10
Gambar 1.11 Contoh Invasi/Agresi Psikologis Terhadap Teritorial Privat Menjadi Publik. ... 11
Gambar 1.12 Contoh Waktu Penggunaan Teritorial pada Ruang Publik. ... 11
Gambar 1.13 Contoh Kekerasan Terhadap Teritorial pada Teritorial Publik. ... 12
Gambar 1.14 Contoh Perlakuan Kontaminasi Terhadap Teritorial Privat atau Publik. ... 12
Gambar 1.15 Contoh Ruang Publik Untuk Kepentingan Pribadi/Bersama ... 13
Gambar 1.16 Kerangka Pemikiran. ... 15
Gambar 2.1 Makna Teritorial Disusun Berdasarkan Tingkat Kepentingannya.... 22
Gambar 2.2 Karakteristik Teritorial Individu dan Kelompok... 23
Gambar 2.3 Contoh Batas Teritorial Secara Fisik. ... 31
Gambar 2.4 Contoh Batas Teritorial Secara Non Fisik... 31
Gambar 2.5 Contoh Budaya Memelihara Hewan dan Menanam Pohon. ... 34
Gambar 2.6 Beberapa Contoh Teritorial Privat. ... 37
Gambar 2.7 Beberapa Contoh Teritorial Semi Privat. ... 37
Gambar 2.8 Beberapa Contoh Teritorial Semi Publik. ... 38
Gambar 2.9 Beberapa Contoh Teritorial Publik. ... 38
viii
Gambar 2.10 Contoh Hierarki Teritorial pada Rumah, Perumahan dan Rumah
Susun. ... 39
Gambar 2.11 Karakteristik dan Makna Teritorial. ... 42
Gambar 3.1 Prosedur Data Analisis Theoretical Sampling. ... 47
Gambar 3.2 Langkah-langkah dalam penelitian Grounded Theory ... 48
Gambar 3.3 Tahapan Penelitian... 61
Gambar 3.4 Rusunawa Bumi Cengkareng Indah (BCI), Cengkareng Jakarta Barat. ... 62
Gambar 3.5 Beberapa Data Fenomena Teritorial dalam Skala Meso di Rusunawa BCI. ... 62
Gambar 3.6 Rusunami Bidara Cina, Cawang Jakarta Timur. ... 63
Gambar 3.7 Beberapa Data Fenomena Teritorial dalam Skala Meso di Bidara Cina. ... 63
Gambar 3.7 Skematik Blok Plan, Denah dan Unit Sarusun di Rusunami Bidara Cina. ... 63
ix
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Klasifikasi dalam Teritorial. ... 36 Tabel 2.2 Tabel Penelitian Terdahulu ... 39 Tabel 3.1 Perbedaan Classic Grounded Theory dengan Constructivist Grounded
Theory... 44 Tabel 3.2 Jadwal Penelitian... 64
DAFTAR LAMPIRAN
L.1 Tabel Pembangunan Rumah Susun Sederhana di Jakarta Pusat ... 75
L.2 Tabel Pembangunan Rumah Susun Sederhana di Jakarta Utara ... 76
L.3 Tabel Pembangunan Rumah Susun Sederhana di Jakarta Barat ... 77
L.4 Tabel Pembangunan Rumah Susun Sederhana di Jakarta Selatan ... 77
L.5 Tabel Pembangunan Rumah Susun Sederhana di Jakarta Timur ... 78
L.6 Pengertian Rumah Susun... 79
L.7 Klasifikasi Rumah Susun... 82
1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada daerah perkotaan seperti di DKI Jakarta Indonesia, yang berpenduduk padat dan terus meningkat pertambahannya, serta lajunya arus urbanisasi dari desa atau daerah/kota lainnya (yang dikenal sebagai kaum urbanis ), untuk alasan mencari pekerjaan, menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan tempat tinggal, yang merupakan salah satu kebutuhan mendasar dalam kehidupan manusia (yaitu papan) setelah kebutuhan sandang dan pangan.
Ditengah pesatnya pembangunan saat ini, di mana tanah dan rumah yang tersedia sangat terbatas dan mahal harganya, serta semakin sulitnya kehidupan dalam mencari pekerjaan, serta kaum urbanis yang kurang memenuhi standar kualitas tenaga kerja yang layak, seperti: pendidikan rendah, keahlian yang terbatas, menyebabkan pekerjaan yang ditekuni merupakan jenis pekerjaan fisik dengan penghasilan yang rendah. Pendapatan yang rendah menyebabkan mereka harus tinggal di permukiman kumuh (membangun tempat tinggal dengan papan, multipleks, barang bekas, maupun kardus), yang dikenal sebagai kaum marginal , seperti: pada daerah Slum yaitu permukiman kumuh di atas lahan yang statusnya legal (milik sendiri), dan pada daerah Squatter yaitu permukiman kumuh di atas lahan yang statusnya ilegal (milik pemerintah atau orang lain yang tidak dihuni atau tanpa pengawasan).
Penguasaan terhadap lahan-lahan milik pemerintah oleh masyarakat miskin atau berpenghasilan rendah (MBR), yang tidak memiliki tempat tinggal, seperti yang terjadi di DKI Jakarta: dimana terdapat penghuni liar dalam perkampungan kumuh/squatter, pada bantaran/tepi sungai, dekat/pinggiran rel kereta api atau di bawah jembatan, tempat pembuangan sampah dan sebagainya. Pada saat terjadi penertiban berupa tindakan pembongkaran untuk dipindahkan ke rumah susun (rusun), yang disediakan oleh pemerintah, maka akan terjadi penolakan dengan mempertahankan teritorialnya, karena merasa sudah menjadi miliknya dan sudah
BAB 2
TERITORIAL DI PERMUKIMAN
2.1 Preferensi bermukim
Proses bermukim atau menghuni adalah proses keterkaitan antara manusia dengan tempat dan lingkungannya, yang berkaitan dengan kegiatan manusia untuk
menciptakan ruang eksistensial agar mereka pijak dan
mengorientasikan dirinya, serta dapat mengidentifikasikan dengan lingkungannya sebagai sebuah tempat yang memiliki makna lebih dari sekedar tempat bernaung/
shelter (Schulz, 1988:17-38). Rumah adalah lingkup ruang komunitas terkecil yang mencerminkan budaya penghuninya dalam kehidupan sosial sehari-hari, yang dapat memengaruhi tatanan rumah yang dibangun.
Pada masyarakat berpenghasilan menengah ke atas, aspek non fisik dari sebuah permukiman seperti: prestise, karakteristik sosial, merupakan dasar preferensi bermukim. Rumah bukan hanya sekedar pemenuhan kebutuhan pokok sebagai tempat tinggal, tetapi merupakan pemenuhan kebutuhan akan ekspresi dan aktualisasi diri ( Hirarchy of Need dari Maslow, dalam Lang, 1987:85).
Manusia membutuhkan privasi di dalam berelasi/berhubungan sosial dengan komunitas dan lingkungannya sebagai salah satu perwujudan teritorial, untuk memaknai suatu ruang dan tempat, serta berusaha untuk memberikan batasan atas area kepemilikannya yang dikenal sebagai teritorial (Hall, 1959; Goffman, 1963;
Lyman and Scott, 1967; Skaburskis, 1974; Sommer, 1969; Altman 1975).
Konsep privasi dalam arsitektur dapat diartikan sebagai suatu kebutuhan manusia untuk menikmati kehidupan sehari-harinya tanpa ada gangguan, baik langsung maupun tidak langsung oleh subjek lain. Privasi merupakan konsep yang terdiri dari: (1) Proses pengontrolan boundary, pelangganan terhadap boundary ini merupakan pelangganan terhadap privasi; (2) Proses memperoleh optimalisasi, menyendiri bukan berarti menghindarkan diri dari kehadiran orang lain atau keramaian, tetapi kebutuhan untuk mencapai tujuan tertentu; (3) Proses multi mekanisme, privasi dapat diperoleh melalui ruang personal, teritorial, komunikasi verbal, dan komunikasi non verbal (Altman dalam Gifford, 1987).
43
BAB 3.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang dipergunakan bertujuan untuk menemukan faktor-faktor yang memengaruhi makna teritorial pada skala meso di rumah susun (rusun), untuk mencari penyelesaian terhadap fenomena teritorial yang terjadi pada rusunawa dan rusunami di DKI Jakarta Indonesia, dalam bentuk dokumentasi, penggambaran, wawancara, kuisioner, observasi, focus group discussion, yang pada akhirnya akan menghasilkan tambahan teori tentang teritorial.
3.1 Grounded Theory
Penelitian Grounded Theory adalah metode penelitian yang menggunakan sejumlah prosedur sistematis, yang diarahkan untuk mengembangkan suatu teori berorientasi tindakan, interaksi, atau proses dengan berlandaskan data-data dari i lapangan. Grounded Theory adalah sebuah pendekatan yang refleksif dan terbuka, di mana pengumpulan dan pengembangan data, serta pengembangan konsep teoritis, dan ulasan literatur, berlangsung dalam suatu proses siklus berkelanjutan.
Grounded Theory mengalami perkembangan sejak ditemukan oleh Barney Glaser dan Anselm Strauss pada tahun 1967, Anselm Strauss berkolaborasinya dengan Juliet Corbin, pada tahun 1998 menerbitkan sebuah buku baru tentang Grounded Theory, yang berjudul
terbitan Sage Publication, dan mengembangkan suatu cara melakukan penelitian Grounded Theory yang sedikit berbeda dengan pendekatan sebelumnya. Di tahun 2006, seorang sosiolog yang lain bernama Kathy Charmaz, menerbitkan buku
, dengan kiblat pendekatan yang sama atau mirip dengan Strauss dan Corbin.
Perbedaan antara Grounded Theory-nya Glaser dan Strauss, atau yang lebih dikenal sebagai Classic Grounded Theory, dengan Grounded Theory yang dikembangkan Strauss & Corbin, yang lebih dikenal sebagai Constructivist
REFERENSI
01.sil.org. (2016). Meaning. http://www-01.sil.org/linguistics/GlossaryOf LinguisticTerms/WhatIsMeaning.htm, diakses 16 April 2016.
Altman, I. (1975). Environment and Social Behavior: Privacy, Personal Space, Territory and Crowding. Monterey, California: Brooks Cole.
Ardianti, I., Antariksa, & Wulandari, L. D. (2014). Teritorialitas Ruang Sosial Budaya Pada Permukiman Etnis Madura-Hindu Dusun Bongso Wetan Gresik. Seminar Nasional Arsitektur Pertahanan (ARSHAN), 2014: Insting Teritorial dan Ruang Pertahanan.
Aziz, A. A., & Ahmad, A. S. (2009). Home Making in Low-Cost Housing Area.
'1st National Conference on Environment-Behaviour Studies, 14-15 November 2009. Selangor: Faculty of Architecture, Planning & Surveying, Universiti Teknologi MARA, Shah Alam, Selangor, Malaysia.
Birks, M. & Mills, J. (2011), Grounded Theory: A Practical Guide. London:
SAGE.
Bristol, K. G. (1991, May). The Pruitt-Igoe Myth. In JAE 44/3 (pp. 163-171).
Berkeley: University of California.
Brower, S. (1976). Territory in Urban Settings. In I. Altman, Human Behavior and Enviroment. New York and London: Plenary Press.
Burhanuddin. (2010). Karakteristik Teritorialitas Ruang Pada Permukiman Padat Di Kampung Klitren Lor Kecamatan Gondokusuman, Yogyakarta. Jurnal
, Vol. 2, No. 1, Maret 2010.
Charmaz, Kathy. (2006). Constructing Grounded Theory: A Practical Guide Through Qualitative Analysis. London: Sage Publications.
Charmaz, K. (1990), Discovering Chronic Illness using Grounded Theory, Social Science Medicine, Vol. 30, No 11.
Charmes, E. (2010). Cul-de-sacs, Superblocks and Environmental Areas as Supports of Residential Territorialization. Journal of Urban Design, Vol.
15. No. 3, August 2010, Hal. 357 374.
Cho, Ji Young & Lee, Eun-Hee. Ji Young Cho Kent State University, Kent, Ohio, USA Eun-Hee Lee. Hanyang University, Seoul, South Korea. Reducing Confusion about Grounded Theory and Qualitative Content Analysis:
Similarities and Differences. The Qualitative Report 2014, Vol. 19, Article 64, Hal. 1-20. http://www.nova.edu/ssss/QR/QR19/cho64.pdf. Retrieved February 17, 2016.
73
Wordpress.com. (2016). https://josephrdaniel.wordpress.com/2013/08/07/, diakses 09 Maret 2016.
Yourdictionary.com. (2015). Territory. http://www.yourdictionary.com/territory, diakses 27 Juli 2015.
Zubaidi, F., Ratna S. H. & Faqih, M. (2013). Territoriality in the traditional settlement context. Psychology and Behavioral Sciences, 2013; Vol. 2(3), Hal. 89-95.
LAMPIRAN
L.1Tabel Pembangunan Rumah Susun Sederhana di Jakarta Pusat
LU A S
KEC A M A TA N A R E A L J M L J M L J M L
( m2 ) B LO K LT . U N IT
I JAKARTA P US AT
1 KAR A NG A NYA R 7,285 2 5 18 160 1988 S e wa
27 44 1988 S e wa
36 2 1988 S e wa
2 5 18 128 1990 S e wa
27 22 1990 S e wa
36 1 1990 S e wa
2 J A TI R AWA S AR I 5,875 2 2 30 80 2006 S e wa
21 100 2006 S e wa
3 KE M AYOR A N I 5 18 1,862 1992 S e wa /B e li
KE M AYOR A N II 119,200 21 363 1997
832 1997
4 T ANA H T INGG I I 2 5 21 140 1995 S e wa /B e li
T ANA H T INGG I II 3,205 4 5 21 296 1995
5 J A TI B UN DE R I 1,000 1 5 21 40 1996 S e wa /B e li
6 KE B ON KAC ANG 18,220 4 21 578 1984 S e wa /B e li
7 T ANA H AB ANG 40,330 4 36 960 1984 S e wa /B e li
8 B E NDUNG AN H ILIR I
4,000 3 5 18 296 1995 S e wa /B e li
B E NDUNG AN H ILIR II
12,165 3 10 21 614 1996
9 KAR E T T ENG SIN I 7,537 2 5 21 80 1996 S e wa /B e li
KAR E T T ENG SIN II 2 5 21 80 1997
KA R E T T E N G S IN
III - 3 12 2 1 3 0 8 2 0 0 7
10 P E T AM B UR AN 22,466 2 6 21 200 2000 S e wa /B e li
2 6 21 200 2001
2 6 21 200 2002
J UM LA H 2 4 1, 2 8 3 7 ,5 8 6
Keterangan:
Memenuhi Kriteria Rusunam i Beli/Cicil
Rusunam i M emenuhi Krit eria (Sewa/Beli) Rusunawa Memenuhi Krit eria (Sewa) KEC . T ANAH
AB ANG LO KA S I / W ILA Y A H
KEC . T ANAH AB ANG KEC . T ANAH AB ANG KEC . T ANAH AB ANG KEC . T ANAH AB ANG KEC . S AWAH B E S AR N O
B A N G U N A N P EM B A N G U N A N
S TA TU S KEP E M ILIKA N T Y P E S ELE S A I
KEC . KEM AYOR AN
KEC . J OH AR B A R U
KEC . C E M P AKA P UT IH
KEC . T ANAH AB ANG
83
GLOSARIUM
Demarkasi adalah batas pemisah, biasanya ditetapkan oleh pihak yang sedang berperang (bersengketa) yang tidak boleh dilanggar selama gencatan senjata berlangsung untuk memisahkan dua pasukan yang saling berlawanan dalam medan pertempuran; perbatasan; tanda batas (http://kbbi.web.id/demarkasi, 17-02-2016).
Demografi/Kependudukan adalah ilmu yang mempelajari dinamika kepen- dudukan manusia. Demografi meliputi ukuran, struktur, distribusi penduduk, dan bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian, migrasi, serta penuaan. Analisis kependudukan dapat merujuk masyarakat secara keseluruhan/kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan, kewarganegaraan, agama, atau etnisitas tertentu.
(https://id.wikipedia.org, 26-09-2015).
Dwelling: Manusia berada di muka bumi sebagai makhluk hidup yang tinggal bersama-sama di suatu tempat dan berkaitan dengan kedekatan dalam hidup bertetangga, kita tinggal (dwelling) maka kita membangun/bauen (untuk dihuni), yang berarti saling memelihara/merawat, menghargai, melindungi, menjaga, dan melestarikan (Heidegger, 1971:147 dan Salura, 2001:55).
Bermukim (dwelling) dalam arti kualitatif adalah kondisi dasar kemanusiaan, ketika kita mengidentifikasi suatu tempat, maka kita mendedikasikan diri untuk berada di dunia (Schulz, 1980:5).
Fenomena: hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah; gejala; sesuatu yang luar biasa;
keajaiban; fakta; kenyataan (http://kbbi.web.id/fenomena, 17-02-2016).
Hakikat: intisari atau dasar; kenyataan yang sebenarnya (http://kbbi.web.id/
hakikat, 17-02-2016).
Identifikasi: mengidentifikasikan diri terhadap lingkungannya (Schulz, 1988).
Karakteristik: mempunyai sifat khas sesuai dengan perwatakan tertentu (http://kbbi.web.id/karakteristik, 17-02-2016).
Keamanan adalah keadaan bebas dari bahaya. Istilah ini bisa digunakan dengan hubungan kepada kejahatan, segala bentuk kecelakaan, keamanan rumah terhadap maling dan penyelusup dan lain-lainnya (https://id.wikipedia.
org/wiki/Keamanan, 29-01-2016); Aman: bebas dari bahaya; bebas dari gangguan (pencuri); terlindung atau tersembunyi; tidak dapat diambil orang; tidak meragukan, tidak mengandung risiko; tenteram, tidak merasa takut atau khawatir (http://kbbi.web.id/aman, 29-01-2016). Keamanan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah keamanan terhadap barang, privasi dan gangguan terhadap agresi pihak lain, yang kaitan dengan masalah teritorial, baik secara individu atau kelompok.