• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengajaran Profesional dan Pembelajaran Bermakna 2

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pengajaran Profesional dan Pembelajaran Bermakna 2"

Copied!
274
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Pembelajaran Bermakna 2

Desember 2009

Modul Pelatihan

(4)
(5)
(6)
(7)

Kata Pengantar

Jadwal Pelatihan (contoh)

Unit 1 Pembelajaran Kontekstual dalam Pengembangan Kecakapan Hidup

Unit 2 Bagaimana Merancang Pembelajaran untuk Mengembangkan Kecakapan Hidup?

Unit 3 Bagaimana Menciptakan Lingkungan Kelas yang Mendorong Siswa untuk Belajar?

Unit 4 Persiapan dan Praktik Mengajar

Unit 5 Bagaimana Peran Kepala Sekolah (KS) dan Pengawas Sekolah (PS) dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran?

Unit 6 Bagaimana Membuat Rencana Tindak Lanjut (RTL)?

Unit 7* Bagaimana Melakukan Pendampingan yang Efektif?

Unit 8* Bagaimana Memberdayakan MGMP?

Unit 9* Bagaimana Menjadi Fasilitator yang Efektif?

Daftar Isi

i iiii

1

25 91

117

149

173

189

201

239

* Unit 7, 8, dan 9 digunakan hanya untuk pelatihan fasilitator

(8)
(9)

Kata Pengantar

Decentralized Basic Education 3 (DBE3) Project, yang didanai USAID, bertujuan untuk mendukung Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama dalam meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan menengah pertama dan pendidikan non formal. Untuk mencapai tujuan itu, DBE3 telah mengembangkan dan melaksanakan program pelatihan guru di enam propinsi, yaitu: Sumatra Utara, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

Untuk keperluan pelatihan tersebut dikembangkanlah modul dengan nama “Pengajaran Profesional dan Pembelajaran Bermakna 2”. Modul ini terdiri atas sembilan unit (Unit 1–9), tetapi tidak semua unit disajikan di setiap tingkatan pelatihan. ToT di tingkat Nasional dan tingkat Provinsi menggunakan semua unit, sedangkan pelatihan di kabupaten hanya menggunakan Unit 1 sampai dengan Unit 6.

Unit 1: Pembelajaran Kontekstual dalam Pengembangan Kecakapan Hidup. Unit ini membahas potensi pembelajaran kontekstual dalam mengembangkan kecakapan hidup. Analisis yang digunakan pada unit ini memungkinkan peserta untuk terus mengidentifikasi kemungkinan penggunaan pembelajaran kontekstual dalam mengembangkan kecakapan hidup.

Unit 2: Bagaimana Merancang Pembelajaran untuk Mengembangkan Kecakapan Hidup? Unit ini terdiri atas tiga sub unit yaitu sub Unit 2A: Pertanyaan/Tugas yang Mendorong Siswa untuk Berbuat dan Berpikir Tingkat Tinggi. Pada sub unit ini peserta akan dilatih bagaimana merumuskan pertanyaan tingkat tinggi (menganalisis, mengevaluasi, dan mengkreasi) sehingga mereka dapat melengkapi pembelajarannya dengan pertanyaan tersebut. Sub Unit 2B: Pemecahan Masalah, berisi bagaimana guru dapat memasukkan pemecahan masalah secara individu dan kelompok untuk mengembangkan kecakapan akademik dan sosial dalam proses pembelajaran yang dilakukan. Sub Unit 2C: Pembelajaran Kooperatif. Sub Unit ini membahas secara praktis pembelajaran kooperatif untuk pengembangan kecakapan personal dan sosial siswa.

Unit 3: Bagaimana Menciptakan Lingkungan Kelas yang Mendorong Siswa untuk Belajar. Unit ini secara praktis dan mendalam membahas bagaimana penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar. Banyak dampak positif yang dapat diperoleh dengan menciptakan lingkungan belajar ini, misalnya, pencapaian tujuan pembelajaran menjadi lebih mudah, iklim belajar kondusif, dan sebagainya. Sumber belajar tidak harus merupakan media yang mahal dan rumit, tetapi yang paling utama adalah kecocokan dengan kompetensi dasar.

Unit 4: Persiapan dan Praktik Mengajar. Unit ini akan memfasilitasi guru agar bisa membuat persiapan mengajar dengan menggunakan pembelajaran kontekstual yang mengembangkan kemampuan pemecahan masalah, kemampuan bekerjasama, sekaligus mempraktikannya di sekolah latihan.

(10)

Pembelajaran? Pada unit ini dipaparkan secara praktis bagaimana PS dan KS, sebagai unsur kunci di samping guru, dapat memberikan andil dalam melakukan pembaharuan guna peningkatan mutu pembelajaran di sekolahnya.

Unit 6: Bagaimana Membuat Rencana Tindak Lanjut. Pelatihan akan sangat bermanfaat apabila ditindaklanjuti dengan langkah nyata penerapan gagasan yang diperoleh dalam pelatihan. Unit ini akan memberi fasilitasi kepada tiga unsur kunci pembaharuan di sekolah (Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas) dalam membuat Rencana Tindak Lanjut: Apa saja yang perlu dilakukan di sekolah segera setelah pelatihan berakhir.

Unit 7: Bagaimana Melakukan Pendampingan yang Efektif. Unit ini memberikan ketrampilan kepada peserta dalam memberikan pendampingan dengan baik dan benar, sehingga pihak yang didampingi akan merasa nyaman, tertarik, dan tertantang untuk melaksanakan pembaharuan pembelajaran.

Unit 8: Bagaimana Memberdayakan MGMP?. Kegiatan MGMP adalah kegiatan yang sangat penting untuk meningkatkan profesionalisme guru. Kegiatan MGMP harus benar-benar merupakan kegiatan praktis yang dibutuhkan oleh guru. Unit ini memberikan dan menggali beberapa kegiatan yang dimaksud.

Unit 9: Bagaimana Menjadi Fasilitator yang Efektif? Unit ini memberikan ketrampilan dan pemahaman kepada peserta untuk melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan selama persiapan, pelaksanaan, dan pasca-pelatihan.

Modul ini menggunakan pendekatan pembelajaran orang dewasa dan guru. Metode pembelajaran interaktif yang digunakan modul ini tidak hanya untuk memotivasi peserta dalam pelatihan, namun juga untuk menyediakan model berbagai metode yang dapat digunakan oleh guru di dalam kelas.

Suasana pelatihan yang banyak mengaktifkan peserta juga dimaksudkan memberi pesan bahwa suasana seperti itulah yang diharapkan terjadi di sekolah nanti.

Penyusunan pembelajaran di tiap sesi dalam modul ini menggunakan kerangka sederhana yang disebut ICARE. Pendekatan ini meliputi lima unsur kunci pengalaman pembelajaran, yaitu:

Introduction (Kenalkan), Connection (Hubungkan), Application (Terapkan), Reflection (Refleksi), dan Extension (Kegiatan Lanjutan). Penggunaan kerangka ICARE dimaksudkan untuk memastikan bahwa para peserta memiliki kesempatan untuk mengaplikasikan apa yang telah mereka pelajari.

Pendekatan ini adalah pendekatan yang hanya digunakan selama pelatihan. Pendekatan pengajaran yang dilakukan oleh guru di dalam kelas tidak harus menggunakan pendekatan ini.

Akhirnya keberhasilan peningkatan mutu pendidikan berada di semua tingkatan dengan semangat

“Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin”, “Keberanian mencoba hal baru tanpa takut salah”, dan “Memulai oleh diri sendiri tanpa menunggu contoh dari orang lain”.

(11)

JADWAL PELATIHAN (contoh)

Jadwal di bawah ini adalah (1) untuk pelatihan sekolah dan (2) untuk pelatihan fasilitator.

Pelatihan fasilitator termasuk tiga unit tambahan dibanding pelatihan sekolah, yaitu unit 7 s.d. 9.

Jadwal tersebut dapat disesuaikan dengan keadaan setiap daerah, tetapi sebaiknya waktu tidak dikurangi karena akan mengurangi efektivitas pelatihan.

Jadwal Pelatihan Sekolah

Pleno

Pleno

Pleno

Pleno

Pleno

Pleno

Pleno

Pleno/

Kelompok Mata Pelajaran

Waktu Topik/Kegiatan Fasilitator Keterangan

30’

90’

15’

90’

30’

75’

60’

120’

120’

15’

120’

08.00 – 08.45

08.45 – 10.00

10.00 – 10.15 10.15 – 11.45

11.45 – 12.15

12.15 – 13.30 13.30 – 14.30

14.30 – 16.30

08.00 – 10.00

10.00 – 10.15 10.15 – 12.15

Pembukaan·

Penjelasan umum tentang proyek DBE3 dan pelatihan

Unit 1: PAKEM/CTL dalam Pengembangan Kecakapan Hidup

Istirahat

Unit 2: Bagaimana Teknik Pembelajaran untuk Mengembangkan Kecakapan Hidup?

2a: Pertanyaan/tugas yang mendorong siswa untuk berbuat/berpikir tingkat tinggi 2b: Menggunakan pertanyaan/tugas untuk

kegiatan pemecahan masalah Istirahat

2b: Menggunakan pertanyaan/tugas untuk kegiatan pemecahan masalah (lanjutan) 2c: Pembelajaran Kooperatif

Unit 3: Bagaimana Menciptakan Lingkungan Kelas yang Mendorong Siswa untuk Belajar?

Istirahat

Unit 4::::: Persiapan dan Praktik Mengajar 1. Kesepakatan penekanan kegiatan dalam

mata pelajaran 2. Modelling

3. Penyusunan RPP/sesi parallel untuk KS dan PS (unit 5)

4. Simulasi

5. Modelling pendampingan 6. Penyempurnaan RPP Hari 1

Hari 2

(12)

Waktu Topik/Kegiatan Fasilitator Keterangan

75’

180’

90’

150’

15’

120’

75’

90’

30’

12.15 – 13.30 13.30 – 16.30

13.30 – 15.00

07.30 – 10.00 10.00 – 10.15 10.15 – 12.15

12.15 – 13.30 13.30 – 15.00

15.00 – 15.30 Hari 3

Pleno

Di sekolah

Di tempat pelatihan Istirahat

Unit 4: Persiapan dan Praktik Mengajar (lanjutan)

Unit 5: Bagaimana Peran KS dan PS dalam meningkatkan Mutu Pembelajaran?

1. Apa yang harus dikerjakan KS dan PS untuk menunjang peningkatan mutu pembelajaran?

2. Apa yang perlu dilakukan untuk peningkatan MGMP?

3. Pengamatan guru mengajar - persiapan

Unit 4 (lanjutan): Praktik Mengajar 1. Praktik mengajar

Istirahat

2. Praktik pendampingan, umpan balik dari praktik mengajar

Istirahat

Unit 6: Penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL)

Penutupan

SESI KHUSUS KEPALA SEKOLAH DAN PENGAWAS (diselenggarakan secara paralel dengan sesi mata pelajaran)

(13)

2. JADWAL PELATIHAN ToT ( Pelatih Nasional dan Fasilitator Daerah )

Pleno

Pleno

Pleno

Pleno

Pleno

Pleno

Pleno

Pleno/

Kelompok Mata Pelajaran

Waktu Topik/Kegiatan Fasilitator Keterangan

08.00 – 08.45

08.45 – 10.00

10.00 – 10.15 10.15 – 11.45

11.45 – 12.15

12.15 – 13.30 13.30 – 14.30

14.30 – 16.30

08.00 – 10.00

10.00 – 10.15 10.15 – 12.15

12.15 – 13.30 13.30 – 16.30 Hari 1

Pembukaan·

Penjelasan umum tentang proyek DBE3 dan pelatihan

Unit 1: PAKEM/CTL dalam Pengembangan Kecakapan Hidup

Istirahat

Unit 2: Bagaimana Teknik Pembelajaran untuk Mengembangkan Kecakapan Hidup?

2a: Pertanyaan/tugas yang mendorong siswa untuk berbuat/berpikir tingkat tinggi 2b: Menggunakan pertanyaan/tugas untuk

kegiatan pemecahan masalah Istirahat

2b: Menggunakan pertanyaan/tugas untuk kegiatan pemecahan masalah (lanjutan) 2c: Pembelajaran Kooperatif

Unit 3: Bagaimana Menciptakan Lingkungan Kelas yang Mendorong Siswa untuk Belajar?

Istirahat

Unit 4::::: Persiapan dan Praktik Mengajar 7. Kesepakatan penekanan kegiatan dalam

mata pelajaran 8. Modelling

9. Penyusunan RPP/sesi parallel untuk KS dan PS (unit 5)

10. Simulasi

11. Modelling pendampingan 12. Penyempurnaan RPP Istirahat

Unit 4: Persiapan dan Praktik Mengajar (lanjutan)

30’

90’

15’

90’

30’

75’

60’

120’

120’

15’

120’

75’

180’

Hari 2

(14)

Waktu Topik/Kegiatan Fasilitator Keterangan

75’

180’

90’

15’

90’

60’

75’

60’

90’

30’

150’

15' 120'

75' 90'

30' 12.15 – 13.30 13.30 – 16.30

08.30 – 09.30

09.30 - 09.45 09.45 - 11.15

11.15 - 12.15

12.15 - 13.30 13.30 - 14.30

14.30. - 16.00

16.00 - 16.30

07.30 - 10.00

10.00 - 10.15 10.15 - 12.15

12.15 - 13.30 13.30 - 15.00

15.00 - 15.30 Hari 3

Pleno

Di sekolah

Di tempat pelatihan

Pleno

Di sekolah

Di tempat pelatihan Hari 4

Istirahat

Unit 4: Persiapan dan Praktik Mengajar (lanjutan)

Unit 5: Bagaimana Peran KS dan PS dalam meningkatkan Mutu Pembelajaran?

1. Apa yang harus dikerjakan KS dan PS untuk menunjang peningkatan mutu pembelajaran?

2. Apa yang perlu dilakukan untuk peningkatan MGMP?

3. Pengamatan guru mengajar - persiapan Istirahat

Unit 7 (T): Bagaimana Pendampingan yang Efektif?

Unit 8 (T): Bagaimana Memberdayakan MGMP?

1. Apa sajakah yang sebaiknya masuk program MGMP?

2. Bagaimana pola kegiatan MGMP yang baik?

3. Simulasi berbagai legiatan MGMP

4. Organisasi MGMP (tk Kab/Rayon/Sekolah) Istirahat

Unit 8 (T): Bagaimana Memberdayakan MGMP? (lanjutan)

Unit 9 (T): Bagaimana Menjadi Fasilitator yang Efektif

Pengecekan Persiapan untuk Praktek Mengajar (pada esok harinya)

Unit 4 (lanjutan): Praktik Mengajar 1. Praktik mengajar

Istirahat

2. Praktik pendampingan, umpan balik dari praktik mengajar

Istirahat

Unit 6: Penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL)

Penutupan

(15)

Presentasi Pendahuluan

(16)
(17)

Pembelajaran Kontekstual dalam Pengembangan

Kecakapan Hidup

(18)
(19)

Unit 1

Pembelajaran Kontekstual dalam Pengembangan Kecakapan Hidup

Pendahuluan

Pembelajaran di dalam kelas, pada dasarnya dimaksudkan untuk membantu siswa BERTAHAN HIDUP atau bahkan MEWARNAI KEHIDUPAN. Karena itu, pembelajaran di sekolah tidak seharusnya diarahkan untuk sekedar mengenal, mengingat, atau memahami ilmu pengetahuan.

Siswa harus mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan yang dipelajarinya untuk bekal mereka dalam mengenali dan mengatasi masalah kehidupan, atau bahkan dalam menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan.

Kecakapan untuk bisa bertahan hidup atau bahkan mewarnai kehidupan ini dikenal dengan istilah Life Skills atau Kecakapan Hidup. Kecakapan Hidup ini dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok, yaitu: (a) Kecakapan Personal, (b) Kecakapan Sosial, (c) Kecakapan Akademis, dan (d) Kecakapan Vokasional (Kejuruan).

Di dalam kesempatan ini, hanya ada 2 kelompok kecakapan hidup yang akan dikembangkan, yaitu Kecakapan Akademis dan Kecakapan Sosial. Dari Kecakapan Akademis akan dikembangkan Kecakapan dalam Memecahkan Masalah dan dalam Pengambilan Keputusan. Dari Kecakapan Sosial akan dikembangkan kecakapan bekerja dalam kelompok dan kecakapan belajar secara kooperatif.

Selama ini, di jenjang SMP telah dikembangkan pola pembelajaran kontekstual. Pola pembelajaran kontekstual ini memiliki beberapa ciri, antara lain menuntut siswa untuk aktif dan kreatif, menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi, memanfaatkan lingkungan yang ada di sekitar, dan bekerja dalam kelompok. Tampak, pembelajaran kontekstual memiliki kontribusi untuk pengembangan kecakapan hidup. Akan tetapi, meskipun telah dilatihkan secara intensif, pembelajaran kontekstual belum diterapkan secara mantap.

Tujuan

Setelah mengikuti sesi ini, peserta diarahkan untuk menyadari pentingnya peranan pembelajaran kontekstual dalam pengembangan kecakapan hidup siswa. Secara khusus, peserta pelatihan diharapkan mampu:

(20)

kontekstual.

Menemukan strategi untuk meningkatkan komitmen guru dalam menerapkan pembelajaran kontekstual di kelas.

Pertanyaan Kunci

Beberapa pertanyaan kunci yang perlu mendapatkan jawaban dari kegiatan ini antara lain:

Kecakapan hidup apa saja yang bisa dikembangkan oleh pembelajaran kontekstual?

Strategi apa yang bisa digunakan supaya guru mau menerapkan pembelajaran kontekstual secara terus-menerus di kelas?

Petunjuk Umum

Agar pelaksanaan sesi ini dapat berjalan dengan baik, berikut disampaikan beberapa petunjuk umum.

Fasilitator hendaknya mendorong peserta untuk aktif mengamati video pembelajaran IPA dan menemukan aspek kecakapan hidup yang terdapat di dalamnya.

Manakala tidak ada video atau video tidak bisa ditayangkan, alternatif yang bisa dilakukan adalah: (1) Introduction: menyampaikan tujuan dan skenario; (2) Connection: presentasi tentang kecakapan hidup dan Pembelajaran Kontekstual; (3) Application: diskusi kelompok potensi Pembelajaran Kontekstual dalam pembentukan kecakapan hidup dan cara meningkatkan komitmen guru dalam menerapkan Pembelajaran Kontekstual di kelas; (4) Reflection: merenungkan kembali tujuan dan proses serta hasil yang telah dicapai; dan (5) Extension: membaca informasi tambahan dan materi-materi pembelajaran kontekstual dan kecakapan hidup untuk memantapkan pemahaman tentang kedua hal tersebut.

Fasilitator hendaknya menyediakan prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual secara tertulis, sehingga bisa dijadikan bahan oleh peserta untuk mengidentifikasi kontribusi pembelajaran kontekstual dalam pengembangan kecakapan hidup.

Fasilitator hendaknya mendorong peserta untuk mengeluarkan pendapatnya secara objektif sehingga menghasilkan pemikiran yang tepat sasaran.

Sumber dan Bahan

Rekaman video yang memuat kecakapan hidup

Catatan tentang Prinsip-prinsip Pembelajaran Kontekstual

(21)

Handout Peserta 1.1: Identifikasi Aspek Kecakapan Hidup dalam Tayangan Video

Handout Peserta 1.2: Identifikasi Potensi Pakem/CTL untuk Kecakapan Hidup

Handout Peserta 1.3: Identifikasi Faktor dan Upaya Peningkatan Komitmen dalam Menerapkan Pembelajaran Kontekstual

Informasi Tambahan 1.1: Prinsip-prinsip Pembelajaran Kontekstual

Informasi Tambahan 1.2: Definisi Kecakapan Hidup

Kertas Flipchart, spidol, pulpen, post it berwarna, kertas catatan, penempel kertas, lem, dan gunting.

Waktu

Waktu yang disediakan untuk kegiatan ini adalah 90 menit. Rincian alokasi waktu dapat dilihat pada setiap tahapan penyampaian sesi ini.

ICT

Penggunaan TIK untuk mendukung sesi ini bukan merupakan keharusan tetapi kalau memungkinkan dapat disediakan:

Proyektor LCD

Laptop atau personal computer untuk presentasi

Layar proyektor LCD

Namun demikian, fasilitator harus tetap siap apabila peralatan yang diharapkan tidak tersedia.

Fasilitator harus menyiapkan presentasi dengan menggunakan OHP atau dengan menggunakan kertas flipchart.

(22)

Ringkasan Sesi

Introduction 10 menit

Connection 20 menit

Application 50 menit

Reflection 10 menit

Extension

Fasilitator menyampaikan tujuan dan hasil yang

diharapkan, serta gambaran selintas tentang kecakapan hidup.

Menyaksikan tayangan Video Menganalisis tayangan video

Diskusi kelompok tentang: (a) kecakapan hidup dalam video, (b) potensi pembelajaran kontekstual untuk kecakapan hidup, (c) cara memotivasi penerapan pembelajaran kontekstual.

Menilai sejauh mana kegiatan sesi telah mencapai tujuan Peserta menuliskan hasil refleksi dari unit ini.

Membaca sumber lain yang

berhubungan dengan pembelajaran kontekstual dan kecakapan hidup.

Perincian Langkah-langkah Kegiatan

Introduction (10 menit)

(1) Fasilitator menyampaikan tujuan dan hasil yang diharapkan dari kegiatan sesi ini

(2) Fasilitator menyampaikan beberapa catatan terkait dengan kecakapan hidup untuk jenjang SMP

(3) Fasilitator menyampaikan bahwa sebentar lagi peserta akan diajak menonton tayangan video.

Mereka dituntut memperhatikan dan merekam aspek-aspek kecakapan hidup yang terdapat dalam tayangan video tersebut.

(4) Fasilitator mengingatkan bahwa rekaman tersebut akan dimanfaatkan dalam diskusi selanjutnya.

Connection (20 menit)

(1) Fasilitator menyediakan dan membagikan Handout Peserta 1.1: Identifikasi Aspek Kecakapan Hidup dalam Tayangan Video untuk diisi oleh peserta. Format terdiri atas tiga kolom dan tiga

(23)

Catatan untuk Fasilitator

Terdapat bermacam-macam kecakapan hidup yaitu:

a) Kecakapan personal, b) Kecakapan sosial,

c) Kecakapan akademis, dan

d) Kecakapan kejuruan atau vokasional.

Untuk jenjang SMP, jenis kecakapan hidup yang menjadi fokus program pelatihan ini adalah:

a) Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, b) Kerja kelompok dan belajar secara kooperatif.

1

baris. Kolom pertama berisikan aspek kecakapan hidup. Kolom kedua berisi tempat untuk menuliskan deskripsi dari kejadian dalam tayangan video yang cocok dengan pengembangan aspek kecakapan hidup. Kolom ketiga berisi saran perbaikan pembelajaran apabila upaya pengembangan kecakapan hidup tidak tampak dalam tayangan video tersebut.

(2) Fasilitator menayangkan suatu video pembelajaran mata pelajaran IPA, upayakan gambar dan suara dapat diterima dengan baik oleh seluruh peserta dari tempat duduknya.

(3) Fasilitator memantau dan mendorong setiap peserta agar mengisi format yang telah diberikan.

Application (50 menit)

Kegiatan 1: Diskusi Tayangan Video (10 menit)

(1) Fasilitator meminta peserta untuk duduk berkelompok kecil

(2) Fasilitator, secara klasikal, mengajak peserta untuk berbagi tentang temuan dari hasil pengamatan video, dan menekankan bahwa “Pembelajaran Kontekstual tampaknya mempunyai potensi yang besar dalam pengembangan kecakapan hidup”.

Kegiatan 2: Diskusi Potensi Pembelajaran Kontekstual (20 menit)

(1) Fasilitator membagikan Informasi Tambahan 1.1 yang berisikan beberapa prinsip pembelajaran kontekstual

(2) Faslitator membagikan Handout Peserta 1.2: Identifikasi Potensi Pakem/CTL untuk Kecakapan Hidup dan meminta peserta untuk mendiskusikan potensi pembelajaran kontekstual dalam pembentukan kecakapan hidup ditinjau dari masing-masing prinsip yang diberikan.

(3) Tuliskan hasil diskusi di kertas flipchart untuk dipajangkan.

(24)

Catatan untuk Fasilitator

Beberapa prinsip dalam pembelajaran kontekstual antara lain:

1. mendorong anak belajar secara aktif (learning by doing).

2. mendorong anak berkreasi dengan menggunakan pikirannya sendiri, tidak sekedar meniru pikiran guru atau teman

3. mendorong anak melakukan inkuiri dan mempertanyakan (questioning) terhadap informasi yang dibutuhkan

4. mendorong anak belajar secara bersama-sama dalam masyarakat belajar 5. mendorong digunakannya asesmen yang otentik

6. mendorong anak untuk selalu melakukan refleksi terhadap proses dan hasil belajar yang telah dilakukan

1

(4) Fasilitator menekankan “Mengingat Pentingnya Peran Pembelajaran Kontekstual dalam Pengembangan Kecakapan Hidup, dan Masih Rendahnya Komitmen Guru dalam Menerapkan Pembelajaran Kontekstual, Perlu Diidentifikasi Faktor dan Upaya yang Bisa Dilakukan untuk Meningkatkan Komitmen Guru Menerapkan Pembelajaran Kontekstual”

Kegiatan 3: Diskusi Upaya Peningkatan Komitmen Guru (20 menit)

(1) Fasilitator membagikan Handout Peserta 1.3: Identifikasi Faktor dan Upaya Peningkatan Komitmen Menerapkan Pembelajaran Kontekstual dan diskusikan dalam kelompok.

(2) Tuliskan hasil diskusi di kertas flipchart dan memajangkan hasilnya di dalam ruangan.

(3) Fasilitator memandu peserta untuk berkeliling dan menemukan serta menuliskan ide yang muncul di setiap kelompok dan ide atau isyu yang unik di setiap kelompok.

(4) Fasilitator selanjutnya memberikan penguatan tentang potensi pembelajaran kontekstual dalam pembentukan kecakapan hidup dan memotivasi peserta untuk menerapkan pembelajaran kontekstual demi dimiliki dan terkuasainya kecakapan hidup.

Reflection (10 menit)

(1) Fasilitator meminta peserta untuk merenungkan kembali apakah tujuan dari sesi ini telah tercapai atau belum.

(2) Fasilitator mendorong peserta untuk menuliskan hal penting yang mereka pelajari saat itu, mengapa hal itu dipandang lebih penting dari hal lain yang juga dipelajari pada sesi itu, hal penting apa lagi yang masih diperlukan agar menjadi lebih baik lagi, serta apa rencana tindak lanjut terkait dengan telah dimilikinya hal penting tersebut.

(25)

Extension

Fasilitator mendorong peserta untuk:

(1) Menggali dan menemukan butir-butir penting lain tentang pembelajaran kontekstual dan kecakapan hidup.

(2) Mempelajari dan mencermati Informasi Tambahan 1.2: Definisi Kecakapan Hidup yang disediakan di unit ini.

(3) Mengidentifikasi salah satu pengalaman pembelajaran yang paling tinggi (paling rendah) kadar penerapan Prinsip-Prinsip Pembelajaran Kontekstualnya. Mengapa bisa terjadi?

(4) Mencari strategi bagaimana membantu guru mau dan mampu menerapkan pembelajaran yang kadar kontekstualnya lebih tinggi?

Pesan Utama

Pembelajaran Kontekstual memiliki potensi yang besar untuk pengembangan kecakapan hidup.

Karena itu, guru perlu terus menerus berupaya menerapkan pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran yang dilakukan sehari-hari secara efektif dan efisien.

(26)

Handout Peserta 1.1

Identifikasi Aspek Kecakapan Hidup dalam Tayangan Video

Petunjuk: Tuliskan secara deskriptif temuan aspek kecakapan dalam tayangan video pada kolom ke-2 dan ide pengembangan aspek kecakapan hidup pada kolom ke-3

Aspek Kecakapan Hidup yang Seharusnya Dikembangkan

Pemecahan Masalah/

Pengambilan Keputusan

Kerja Kelompok/

Pembelajaran Kooperatif

Terlihat dalam Tayangan Video, yaitu ketika ....

Tidak Terlihat dalam Tayangan Video, tetapi Bisa

Dikembangkan dengan ...

(27)

Handout Peserta 1.2 Identifikasi Potensi Pakem/CTL

untuk Kecakapan Hidup

Petunjuk: Berikan tanda centang ( ) pada kolom yang disediakan bila aspek PAKEM/CTL tersebut berkontribusi dalam pengembangan kecakapan hidup.

PRINSIP-PRINSIP CTL

Anak belajar aktif (learning by doing)

Anak menggunakan pikirannya sendiri

Anak melakukan inkuiri dan selalu mempertanyakan

Mengembangkan masyarakat belajar

Menggunakan asesmen otentik

Anak melakukan refleksi terhadap proses dan hasil belajarnya

KONTRIBUSI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL dalam PENGEMBANGAN:

Kecakapan Akademis (Pemecahan Masalah, Pengambilan Keputusan, dll)

Kecakapan Sosial (Bekerja dan Belajar secara Kooperatif, dll.)

(28)

Handout Peserta 1.3

Identifikasi Faktor dan Upaya Peningkatan Komitmen dalam Menerapkan Pembelajaran Kontekstual

Kemampuan Guru

Kebijakan Sekolah

Dukungan Komite Sekolah

Dukungan Pengawas

Dukungan Fasilitator Daerah

Kebijakan Dinas Pendidikan

Lainnya:

...

Faktor yang Mempengaruhi Komitmen Guru dalam Menerapkan Pembelajaran Kontekstual

Upaya yang Perlu Dilakukan untuk Meningkatkan Komitmen Guru dalam Menerapkan Pembelajaran Kontekstual

(29)

Informasi Tambahan 1.1

Prinsip-prinsip Pembelajaran Kontekstual

Beberapa prinsip dalam pembelajaran kontekstual antara lain:

1. Mendorong anak belajar secara aktif (learning by doing);

2. Mendorong anak berkreasi dengan menggunakan pikirannya sendiri, tidak sekedar meniru pikiran guru atau teman;

3. Mendorong anak melakukan inkuiri dan mempertanyakan (questioning) terhadap informasi yang dibutuhkan;

4. Mendorong anak belajar secara bersama-sama dalam masyarakat belajar;

5. Mendorong digunakannya asesmen yang otentik;

6. Mendorong anak untuk selalu melakukan refleksi terhadap proses dan hasil belajar yang telah dilakukan.

(30)

Informasi Tambahan 1.2 Definisi Kecakapan Hidup

Definisi kecakapan hidup yang digunakan dalam unit ini adalah sesuai dengan definisi yang dirumuskan oleh Departemen Pendidikan Nasional.

Kecakapan Hidup::::: kecakapan yang memungkinkan orang dapat secara positif dan adaptif mengatasi situasi dan tuntutan hidup sehari-hari, seperti berpikir kreatif dan kritis, mengambil keputusan yang tepat, memecahkan masalah, dan bersikap tanggung jawab.

Kecakapan-kecakapan ini berkaitan dengan kesehatan pribadi remaja (fisik dan emosi), pengembangan keluarga dan masyarakat, partisipasi sebagai warga negara, juga partisipasi sebagai tenaga kerja.

Sumber: Departemen Pendidikan Nasional

Banyak guru di Indonesia memandang Pendidikan Kecakapan Hidup hanya berupa kecakapan vokasional atau pelatihan kerja. Akan tetapi, makna kecakapan hidup lebih dari itu. Kecakapan Personal, Sosial dan Akademik juga kecakapan hidup yang penting untuk perkembangan anak. Di Indonesia, Pendidikan Kecakapan Hidup didasarkan atas konsep bahwa anak muda perlu 1.) learn1 to know, 2.) learn to do, 3.) learn to live with others dan 4.) learn to be. Oleh karena itu, kecakapan hidup terbagi atas empat kategori:

Kecakapan hidup Akademik (know)

Kecakapan hidup Vokasional (do)

Kecakapan hidup Personal (be), dan

Kecakapan hidup Sosial (live with others)

Kecakapan hidup dimasukkan dalam pendidikan dasar dan menengah, baik formal maupun non- formal sebagaimana ditetapkan dalam Sandar Nasional Pendidikan (pasal 13).

Tujuan pendidikan kecakapan hidup menurut Depdiknas adalah memberdayakan anak muda (remaja)2 untuk mengembangkan pengetahuan dan kecakapan yang diperlukan untuk

1 National Plan of Action: Indonesia’s Education For All (2003) National Coordination Forum Education For All

2 Anak muda atau remaja: anak yang berusia antara 12 and 16 tahun.

(31)

bertahan hidup dalam semua lingkungan dengan menggunakan sumber-sumber yang ada dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka.

Depdiknas mendefinisikan siswa yang memiliki kecakapan hidup adalah mereka:

yang memiliki kecakapan, pengetahuan, sikap dan kesiapan agar berhasil dalam bekerja dengan orang lain atau bekerja secara mandiri, yang akan membantu meningkatkan kualitas hidup mereka;

yang memiliki motivasi dan etika tinggi agar berhasil dalam bekerja dan bersaing dalam lingkungan lokal, domestik dan internasional (global) dan memenuhi tuntutan pasar;

yang memiliki kecakapan dan peluang untuk belajar sepanjang hayat sehingga mereka dapat mencapai status yang sama dengan orang lain;

yang sadar akan pentingnya pendidikan bagi mereka sendiri dan keluarga mereka dan kaitan antara pendidikan untuk peningkatan pendapatan dan kesejahteraan sosial.

Di bawah ini dikemukakan beberapa definisi yang biasa digunakan untuk menjelaskan kecakapan hidup:

Definisi Kecakapan hidup: Istilah ini merujuk pada sekelompok besar kecakapan psiko-sosial dan interpersonal yang dapat membantu orang untuk mengambil keputusan yang tepat, berkomunikasi secara effektif, dan mengembangkan ketrampilan dalam mengatasi masalah dan manajemen diri yang dapat membantu mereka memperoleh hidup yang sehat dan produktif.

Kecakapan hidup dapat diarahkan kepada tindakan pribadi dan tindakan kepada orang lain, juga tindakan untuk mengubah lingkungan sekitar agar kondusif terhadap kesehatan.

Pendidikan berbasis kecakapan hidup: Istilah ini sering digunakan secara bergantian dengan istilah pendidikan kesehatan berbasis kecakapan. Perbedaan keduanya terletak pada jenis muatan atau topik yang dicakupi. Dengan menggunakan istilah “pendidikan berbasis kecakapan hidup”, tidak semua muatan program dianggap ‘’terkait dengan kesehatan.” Misalnya, muatannya mungkin meliputi baca tulis, berhitung, pendidikan tentang hidup secara damai atau hak asasi manusia.

Kecakapan Mencari Nafkah: Kecakapan hidup mungkin dirancukan dengan kecakapan mencari nafkah; tetapi, keduanya tidak sama. Kecakapan mencari nafkah hanya terkait dengan memperoleh pendapatan dan kecakapan vokasional/teknis, merupakan salah satu bagian dari kecakapan hidup.

Kecakapan mencari nafkah adalah kemampuan, sumber daya, dan kesempatan untuk memperoleh tujuan pribadi dan ekonomi keluarga. Kecakapan–kecakapan ini meliputi pertukangan kayu, menjahit, pemrograman komputer, mencari kerja (misalnya mengikuti wawancara), kecakapan mengelola bisnis, kecakapan wirausaha, dan kecakapan mengelola uang. Kecakapan hidup meliputi kecakapan personal, sosial, dan akademik di samping kecakapan mencari nafkah atau vokasional.

Sumber: http://www.unicef.org/hidup skills/index_7308.html

(32)

Di bawah ini disajikan dampak positif dari memperoleh kecakapan Personal, Sosial dan Akademik dan akibat yang ditimbulkannya karena tidak memiliki kecakapan-kecakapan tersebut.

Kecakapan Sosial

Kecakapan Sosial sangat penting untuk membantu anak untuk melakukan pilihan sosial yang akan memperkuat kecakapan interpersonal mereka dan mempermudah keberhasilan di sekolah.

Manfaat dari memiliki kecakapan sosial yang baik adalah:

· Ketahanan dalam menghadapi krisis pada masa yang akan datang dan peristiwa kehidupan yang menyebabkan stres

· Kemampuan untuk jalan keluar yang aman dan tepat untuk mengatasi sikap agresi dan frustasi

· Bertanggung jawab terhadap keselamatan sekolah, keberhasilan akademik dan perilaku positif Siswa yang kurang memiliki kecakapan sosial terbukti:

· Menghadapi kesulitan dalam hubungan interpersonal dengan orang tua, guru, dan teman sebaya.

· Mengalami tingkat penolakan yang tinggi dari teman sebaya.

Penolakan oleh teman sebaya ternyata beberapa kali ada kaitannya dengan kekerasan di sekolah.

· Menunjukkan tanda-tanda depresi, agresi dan kecemasan.

· Memiliki prestasi akademik yang rendah sebagai akibat tidak langsung.

· Sangat sering terlibat dalam tindak kriminal sesudah menjadi orang dewasa.

Kecakapan Personal

Kecakapan Personal sangat penting untuk membantu anak membangun harga diri yang tinggi, ahlak mulia, dan penghargaan dan kasih sayang kepada orang lain dalam masyarakat. Yang dikehendaki adalah orang yang tindakannya mencerminkan sikap berpendidikan, rasional, dan empati terhadap tanggung jawab sosial. Departemen Pendidikan Nasional merumuskan kecakapan personal sebagai kecakapan yang ditunjukkan oleh orang yang yang merefleksikan ahlak mulia dan yang mengoptimalkan potensi individunya.

Mereka yang kecakapan personalnya tidak berkembang ternyata tidak menghargai perasaan orang lain, merendahkan orang yang kurang beruntung, menderita pelecehan fisik atau kata-kata dan kehilangan kesempatan karena rendahnya harga diri, dan menunjukkan prilaku yang tidak bermoral, tidak sopan atau melanggar hukum di negara mereka.

Kecakapan Akademik

Kecakapan Akademik diutamakan untuk membantu anak untuk menjadi siswa yang efektif dan

(33)

untuk mengembangkan kecakapan yang diperlukan untuk sukses dalam pendidikan yang lebih tinggi dan lingkungan profesional seperti kecakapan meneliti, memecahkan masalah dan teknologi.

Kecakapan Akademik berguna untuk membantu anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, untuk mengambil keputusan yang tepat, untuk menerapkan kecakapan meneliti, dan untuk menyerap pengetahuan baru dengan cepat.

Orang yang kurang memiliki kecakapan akademik mengalami drop out sekolah, yang ternyata berkaitan dengan perilaku kriminal, kehamilan sebelum nikah, pengangguran, dan kemiskinan.

Keberhasilan pengembangan kecakapan ini tergantung pada sejauh mana anak dapat melihat orang-orang yang memberi contoh tentang sifat-sifat tersebut dan lingkungan yang nyaman yang diberikan kepada anak untuk berlatih menggunakan kecakapan ini seperti di keluarga atau di kelas.

Siswa harus diberi kesempatan yang tepat untuk mengembangkan, membangun, dan mempraktekkan kecakapan-kecakapan ini setiap hari agar mereka mampu secara efektif menggunakan kecakapan-kecakapan ini ketika mereka menghadapi tantangan-tantangan sehari-hari dalam hidup mereka.

Siswa yang memiliki kecakapan hidup memberi manfaat bagi individu, masyarakat, dan pemerintah daerah.

Individu

Kecakapan, pengetahuan dan pemahaman untuk bekerja di perusahaan atau menjadi wirausahawan untuk mencari pekerjaan

Kemampuan untuk secara sukses mendukung diri mereka sendiri dan keluarga mereka Memiliki kesempatan untuk mengembangkan kecakapan mereka lebih lanjut

Masyarakat

Menciptakan lapangan pekerjaan baru dalam masyarakat Mengurangi kemiskinan

Mengurangi kesenjangan sosial dan ancaman kejahatan yang terkait dengan masalah sosial dan masalah-maalah lainnya

Pemerintah Daerah

Meningkatkan kualitas sumber daya manusia

Menumbuhkan ekonomi daerah dan potensi pemasukan pajak Mengurangi urbanisasi

(34)

Presentasi Unit 1

(35)
(36)

Beberapa Prinsip Pembelajaran Kontekstual

(37)
(38)
(39)

Bagaimana Merancang Pembelajaran untuk

Mengembangkan Kecakapan Hidup?

UNIT 2A: Pertanyaan/Tugas yang Mendorong Siswa untuk Berbuat/Berpikir Tingkat Tinggi UNIT 2B: Pemecahan Masalah

UNIT 2C: Pembelajaran Kooperatif (Jigsaw)

(40)
(41)

Unit 2

Bagaimana Merancang Pembelajaran untuk Mengembangkan Kecakapan Hidup?

Pendahuluan

Kecakapan hidup dapat diperoleh melalui belajar. Oleh karena itu, pembelajaran kontekstual berbagai matapelajaran di sekolah perlu dirancang secara khusus untuk memperkuat kecakapan hidup siswa.

Salah satu kategori kecakapan hidup yang perlu dikembangkan secara terus-menerus agar menjadi kebiasaan siswa adalah kecakapan akademik. Kecakapan akademik ini sangat penting untuk membantu siswa memperoleh kecakapan analitis, sintesis, ilmiah, dan teknologi yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan dalam lembaga pendidikan formal dan tempat kerja.

Selain itu, kecakapan personal dan sosial siswa dapat dikembangkan melalui pembelajaran kontekstual pula. Guru dapat menciptakan lingkungan belajar bagi siswa dengan menerapkan model-model pembelajaran yang memberi kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk berinteraksi dengan sesamanya secara aktif. Guru dapat menerapkan kegiatan pembelajaran kooperatif yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan, membangun, dan berlatih menggunakan kecakapan personal dan sosial secara berulang-ulang.

Pada unit ini akan dikembangkan kecakapan hidup siswa, khususnya kecakapan akademik, personal, dan sosial melalui pertanyaan/tugas terbuka (Unit 2A), pemecahan masalah (Unit 2B), dan pembelajaran kooperatif (Unit 2C).

Tujuan

Tujuan umum Unit 2 ini adalah sebagai berikut.

Peserta mampu mengembangkan pertanyaan/tugas tingkat tinggi dalam rangka meng- integrasikan kecakapan hidup ke dalam pembelajaran di kelas

Peserta mampu menggunakan pertanyaan/tugas terbuka untuk kegiatan pemecahan masalah

Peserta mampu menerapakan teknik pembelajaran kooperatif yang dapat mengembangkan kecakapan hidup siswa.

Peserta mampu menyusun langkah pembelajaran yang menerapkan pemecahan masalah dan pembelajaran kooperatif.

(42)

Presentasi Umum Unit 2

(43)

Unit 2A

Pertanyaan/Tugas yang Mendorong Siswa untuk Berbuat/BerpikirTingkat Tinggi

Pendahuluan

Sering kita mengamati guru yang mengajukan banyak pertanyaan dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Pertanyaan-pertanyaan tersebut terkadang sangat banyak sehingga terkesan bahwa guru itu sedang menguji siswanya. Selain itu, apabila dicermati, jenis-jenis pertanyaan yang dilontarkan baru sebatas pertanyaan yang membutuhkan jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’, atau pertanyaan yang membutuhkan hanya satu jawaban tertentu. Pertanyaan tersebut belum memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir kreatif, kurang menuntut siswa untuk mengemukakan gagasannya sendiri.

Jenis pertanyaan yang diajukan atau tugas yang diberikan oleh guru sangat berpengaruh terhadap perkembangan keterampilan berpikir siswa. Pertanyaan/tugas tersebut bukan hanya untuk memfokuskan siswa pada kegiatan, tetapi juga untuk menggali potensi belajar siswa. Pertanyaan atau tugas yang memicu siswa untuk berpikir analitis, evaluatif, dan kreatif dapat melatih siswa untuk menjadi pemikir yang kritis dan kreatif.

Tujuan

Setelah mengikuti sesi ini, peserta mampu merumuskan pertanyaan/tugas yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi, yaitu menganalisis, mengevaluasi, dan mengkreasi.

Pertanyaan Kunci

Apa saja jenis pertanyaan/tugas yang dapat memicu siswa berpikir tingkat tinggi?

Bagaimana merumuskan pertanyaan/tugas yang mendorong siswa untuk berbuat atau berpikir tingkat tinggi?

(44)

Petunjuk Umum

Kegiatan dilaksanakan secara pleno, namun peserta duduk berdasarkan kelompok mata pelajaran.

Sumber dan Bahan

Handout Peserta 2a.1: Tugas Mengidentifikasi Pertanyaan

Handout Peserta 2a.2: Tingkatan Berpikir Taksonomi Bloom

Handout Peserta 2a.3: Contoh Jenis Pertanyaan /Tugas berdasarkan Taksonomi Bloom

Handout Peserta 2a.4: Daftar Kata Kerja untuk Membuat Pertanyaan/Tugas

Spidol, kertas flipchart (kertas plano), kertas HVS: hijau, kuning, merah; gunting, lem, selotip.

Pita kertas (Kertas HVS dibagi sama besar menjadi 12 bagian – arah panjang)

Waktu

Waktu yang digunakan untuk unit ini adalah 90 menit.

ICT

Proyektor LCD

Laptop atau personal computer untuk presentasi

Layar proyektor LCD

Fasilitator harus tetap siap dengan persiapan alternatif apabila peralatan yang diharapkan tidak tersedia.

(45)

Ringkasan Sesi

Perincian Langkah-langkah Kegiatan

Introduction (5 menit)

(1) Fasilitator menjelaskan latar belakang dan tujuan sesi dengan menggunakan informasi dari bagian pendahuluan dan tujuan.

(2) Fasilitator menyiapkan peserta untuk mengikuti kegiatan berikutnya.

Connection (10 menit)

Ungkap Pengalaman

(1) Fasilitator menampilkan tayangan pertanyaan berikut satu per satu, dan mintalah peserta untuk menyampaikan gagasan mereka secara lisan.

· Apa yang ingin Saudara ketahui dengan bertanya kepada siswa?

· Proses berpikir apakah yang terpicu oleh pertanyaan Saudara?

· Apa tujuan Saudara mengajukan pertanyaan kepada siswa?

· Jika Saudara mengharapkan jawaban benar, bagaimana kemungkinan siswa berani menjawab bila mereka tidak yakin jawabannya benar?

(Beri peserta waktu beberapa menit untuk menjawab tiap pertanyaan) Introduction

5 menit

Connection 10 menit

Application 70 menit

Reflection 5 menit

Extension

Menjelaskan latar belakang dan tujuan sesi

Berurun gagasan tentang tujuan bertanya

Mengidentifikasi pertanyaan Merumuskan pertanyaan

Pertanyaan/

tugas tingkat manakah yang sulit

dirumuskan?

Mengapa?

Berlatih merumuskan pertanyaan/

tugas berdasarkan Taksonomi Bloom

(46)

Catatan untuk Fasilitator

Yang ingin diketahui dengan bertanya kepada siswa:

· pengetahuan siswa?

· proses berpikir siswa?

Proses berpikir yang terpicu oleh pertanyaan yang Saudara ajukan:

· siswa mengulang gagasan yang Saudara telah kemukakan?

· siswa membangun gagasan sendiri?

Tujuan mengajukan pertanyaan

· mengharapkan jawaban benar?

· merangsang siswa berpikir?

1

Application (70 menit)

Kegiatan 1: Mengidentifikasi 3 Tingkat/Jenis Pertanyaan (20 menit)

(1) Fasilitator memberi bacaan yang dilengkapi dengan pertanyaan (Handout Peserta 2a.1).

Dalam kelompok mata pelajaran, peserta membaca teks kemudian mengidentifikasi pertanyaan yang ada dalam bacaan, manakah yang termasuk:

· pertanyaan yang menuntut siswa menganalisis

· pertanyaan yang menuntut siswa mengevaluasi

· pertanyaan yang menuntut siswa mengkreasi

(2) Fasilitator memberikan Handout Peserta 2a.2: Tingkatan Berpikir Taksonomi Bloom dan Handout Peserta 2a.3: Contoh Jenis Pertanyaan/Tugas Berdasarkan Taksonomi Bloom.

Kelompok (pasangan) memeriksa kembali apakah hasil identifikasi mereka sudah tepat.

Catatan untuk Fasilitator

Langkah Tambahan sebelum peserta dibagi handout 2a.3 (Jika diperlukan) 1. Bagilah tiap peserta 3 kartu: warna merah (berarti mengkreasi), kuning

(berarti mengevaluasi), dan hijau (berarti menganalisis);

2. Tayangkanlah beberapa pertanyaan satu per satu dan mintalah peserta menentukan jenis pertanyaan tersebut dengan cara mengangkat kartu yang sesuai. (Usahakan pertanyaan mewakili semua jenis dan semua mata pelajaran. Pertanyaan dapat diambil dari Handout Peserta 2a.3).

2

(3) Fasilitator menyatakan bahwa:

· pertanyaan yang menuntut ‘menghafal’ digolongkan sebagai pertanyaan tingkat rendah;

· pertanyaan yang menuntut berpikir ‘memahami’ dan ‘menerapkan’ sebagai pertanyaan tingkat

(47)

sedang ; dan pertanyaan yang menuntut berpikir menganalisis, mengevaluasi, dan mengkreasi sebagai pertanyaan tingkat tinggi.

(4) Fasilitator memberi penegasan tentang ciri singkat ketiga jenis pertanyaan :

· Menganalisis — ada proses menghubung-hubungkan ;

· Mengevaluasi — ada proses membandingkan sesuatu dengan kriteria tertentu ;

· Mengkreasi — ada proses membangun/membentuk gagasan baru.

Kegiatan 2 : Merumuskan Pertanyaan (50 menit)

(1) Fasilitator memberikan Handout Peserta 2a.4: Daftar Kata Kerja untuk Membuat Pertanyaan/Tugas dan peserta membacanya secara perorangan (10 menit).

(2) Setiap peserta, masih dalam kelompok mata pelajaran, membuat 3 pertanyaan/ tugas (menganalisis, mengevaluasi, dan mengkreasi) sesuai dengan mata pelajaran masing-masing.

Setiap pertanyaan ditulis pada kertas kecil. Setelah itu, semua pertanyaan dikumpulkan di bagian tengah meja;

(3) Ketua kelompok memimpin diskusi untuk menggolongkan semua pertanyaan ke dalam 3 tingkatan: menganalisis, mengevaluasi, dan mengkreasi). Setelah selesai peserta meninjau kembali hasilnya kemudian menetapkannya;

(4) Pertanyaan/tugas hasil setiap kelompok ditempel pada kertas HVS hijau (‘menganalisis’), kuning (‘mengevaluasi’), dan merah (‘mengkreasi’);

(5) Selanjutnya semua kelompok diminta untuk saling mencermati hasil kerja kelompok lain.

Mereka diberi kesempatan untuk saling berdiskusi dan memberi masukan.

Catatan untuk Fasilitator

1. Diskusi difokuskan pada: “Apakah pengelompokan pertanyaan sudah tepat mana pertanyaan ‘menganalisis’, ‘mengevaluasi’, dan ‘mengkreasi’?”

2. Pertanyaan yang dibahas di sini dimaksudkan terutama untuk digunakan guru sebagai alat dalam membelajarkan bukan mengetes siswa.

3

Reflection (5 menit)

Fasilitator menanyakan kepada peserta:

(1) Pertanyaan atau tugas tingkat manakah (menganalisis, mengevaluasi, atau mengkreasi) yang sukar dirumuskan? Mengapa?

(2) Apakah ada cara lain yang lebih mudah merumuskan pertanyaan-pertanyaan tersebut?

(48)

Extension

Peserta mempelajari lagi bahan bacaan “Taksonomi Bloom” dan berlatih terus merumuskan pertanyaan tingkat tinggi sesuai mata pelajarannya.

Pesan Utama

Guru harus selalu melengkapi pembelajarannya dengan pertanyaan tingkat tinggi (menganalisis, mengevaluasi, dan mengkreasi) walaupun merumuskannya tidak mudah. Kemampuan merumuskan pertanyaan yang baik, antara lain pertanyaan tingkat tinggi, merupakan salah satu kemampuan kunci bagi guru untuk mengembangkan potensi siswa.

(49)

Handout Peserta 2a.1 Tugas Mengidentifikasi Pertanyaan

Apa yang dimaksud dengan sampah? Semua barang yang tidak kita inginkan lagi dan akan dibuang kita sebut sebagai sampah. Coba perhatikan barang-barang di sekitarmu.

Adakah barang-barang yang ingin kamu buang? Barang itu kamu sebut sebagai sampah.

Demikian pula barang yang sudah kita buang tentu saja bisa kita sebut sebagai sampah.

Benda yang kita sebut sebagai sampah belum tentu dianggap sampah oleh orang lain.

Misalnya, kalau kamu tidak memakai lagi suatu buku dan ingin membuangnya, maka buku itu adalah sampah bagimu. Tapi bisa jadi adik kelasmu atau orang lain memerlukannya sehingga bagi mereka buku itu bukan sampah.

Sampah dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok, yaitu sampah organik dan sampah anorganik.

1. Sampah organik

Sampah organik adalah sampah yang bisa membusuk secara alami. Sampah ini biasanya berasal dari tumbuhan dan hewan. Kalau kamu mengubur tikus mati atau sayuran yang tidak terpakai di dalam tanah, maka sampah itu akan terurai dan membusuk. Sampah yang sudah terurai atau membusuk itu bisa dimanfaatkan untuk pupuk kompos. Selain sampah dapur, yang termasuk sampah basah adalah sisa-sisa masakan, nasi, buah, dan lain- lain.

2. Sampah anorganik

Sampah anorganik adalah sampah yang tidak dapat membusuk secara alami. Kalau kamu mengubur plastik selama bertahun-tahun dan kemudian menggalinya, plastik itu akan tetap menjadi plastik tidak bisa menjadi tanah. Selain plastik, benda-benda yang termasuk sampah kering adalah logam, besi, kaca, dll.

Setiap hari kita bisa menghasilkan sampah dalam jumlah yang besar. Di Jakarta saja, dalam setahun jumlah sampahnya bisa mencapai 170 kali besar candi Borobudur. Banyak sekali, bukan? Sampah-sampah yang kita hasilkan akan diangkut dan dibuang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Apa yang akan terjadi di sini? Sampah-sampah ini akan ditumpuk. Semakin lama tumpukannya akan semakin tinggi. Bila sudah terlalu tinggi, sampah-sampah itu akan dibakar. Tentu saja hal itu tidak baik bagi lingkungan. Asap yang dihasilkan akan mengotori udara.

Sampah

(50)

Untuk mengatasi masalah sampah, pemerintah menyediakan tempat sampah di pinggir-pinggir jalan. Untuk sampah organik, disediakan tempat sampah berwarna biru.

Untuk sampah anorganik, disediakan tempat sampah berwarna jingga.

Cara lain untuk mengatasi sampah adalah kegiatan daur ulang. Daur ulang adalah pemanfaatan kembali sampah menjadi barang yang berguna. Sampah organik yang terkumpul bisa diolah kembali atau didaur ulang menjadi pupuk. Pupuk hasil daur ulang ini bisa membuat tanaman tumbuh subur. Sampah anorganik yang terkumpul bisa didaur ulang menjadi barang-barang yang bermanfaat. Ban bekas, misalnya, bisa dijadikan pot bunga atau tempat sampah yang indah. Kaleng-kaleng bekas bisa diolah lagi di pabrik menjadi kaleng baru.

Kalau kita ingin sehat, maka kita harus memiliki cara hidup yang baik. Beberapa cara hidup yang baik adalah tidak boleh membuang sampah sembarangan supaya sampah tidak tersebar dan lingkungan menjadi bersih. Lingkungan yang kotor penuh dengan kuman yang bisa membuat kita sakit. Selain itu kita juga harus berhemat dengan barang sehingga tidak mudah menghasilkan sampah. Sampah yang dibuang harus ditempatkan di tempat yang benar. Yang tidak kalah penting adalah kita juga perlu belajar cara memanfaatkan kembali sampah-sampah kita supaya kita bisa membantu mengurangi jumlah sampah.

Tugas:

1. Apakah yang dimaksud dengan sampah organik dan anorganik?

2. Amati keadaan di dalam dan di sekitar rumah, kelas, dan sekolahmu. Tuliskan sampah- sampah yang kamu jumpai. Kemudian golongkanlah sampah-sampah tersebut menjadi dua golongan sampah yang telah kamu ketahui. Sebutkan alasanmu dalam meng- golongkan sampah-sampah tadi.

3. Perhatikan sampah-sampah yang telah kamu golongkan tadi. Dari golongan sampah anorganik, ambil salah satu jenis sampah. Pikirkanlah bersama kelompokmu bagai- mana cara memanfaatkan kembali barang yang telah dianggap sampah tersebut.

4. Perhatikan cara hidupmu dan anggota kelompokmu. Apakah kelompokmu termasuk banyak menghasilkan sampah atau tidak? Diskusikan apa sajakah yang biasanya kalian lakukan terhadap sampah. Apakah kelompokmu sudah memiliki cara hidup yang termasuk menjaga lingkungan tetap sehat atau tidak? Berikan alasan kalian.

(51)

Handout Peserta 2a.2

Tingkatan Berpikir Taksonomi Bloom

Sering kita mengamati guru yang mengajukan banyak pertanyaan dalam proses pembelajarannya di dalam kelas. Pertanyaan-pertanyaan tersebut terkadang sangat banyak sehingga terkesan bahwa guru itu sedang menguji siswanya. Namun, apabila dicermati, jenis-jenis pertanyaan yang dilontarkan hanya sebatas pertanyaan yang membutuhkan jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’, atau pertanyaan yang membutuhkan hanya satu jawaban tertentu. Pertanyaan tersebut sama sekali tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir kreatif, yaitu kurang menuntut siswa untuk mengemukakan gagasannya sendiri.

Jenis pertanyaan yang diajukan atau tugas yang diberikan oleh guru sangat berpengaruh terhadap perkembangan keterampilan berpikir siswa. Pertanyaan/tugas tersebut bukan hanya untuk memfokuskan siswa pada kegiatan, tetapi juga untuk menggali potensi belajar mereka. Pertanyaan atau tugas yang memicu siswa untuk berpikir analitis, evaluatif, dan kreatif dapat melatih siswa untuk menjadi pemikir yang kritis dan kreatif.

Kondisi di atas akan terjadi apabila guru cukup selektif dalam menggunakan jenis pertanyaan yang dapat meningkatkan keterampilan berpikir siswa. Pada tahun 1950, Benjamin S. Bloom memperkenalkan konsep tingkatan dalam berpikir. Tingkatan berpikir tersebut dapat dipakai guru dalam menyusun pertanyaan atau tugas yang akan diberikan kepada siswa. Berikut adalah tingkatan berpikir Bloom versi perbaikan.

Mengkreasi

Menghasilkan ide-ide baru, produk, atau cara memandang terhadap sesuatu.

Kegiatan: mendisain, membangun, merencanakan, menemukan.

Mengevaluasi

Menilai suatu keputusan atau tindakan.

Kegiatan: memeriksa, membuat hipotesa, mengkritik, bereksperimen, memberi penilaian.

Menganalisis

Mengolah informasi untuk memahami sesuatu dan mencari hubungan.

Kegiatan: membandingkan, mengorganisasi, menata ulang, mengajukan pertanyaan, menemukan.

Menerapkan

Menggunakan informasi dalam situasi lain.

Kegiatan: menerapkan, melaksanakan, menggunakan, melakukan...

Memahami Menerangkan ide atau konsep.

Kegiatan: menginterpretasi, merangkum, mengelompokkan, menerangkan.

Mengingat

Kegiatan: mengenali, membuat daftar, menggambarkan, menyebutkan.

(52)

Handout Peserta 2a.3 Contoh Jenis Pertanyaan /Tugas

Berdasarkan Taksonomi Bloom

Matematika

Bangun 3 Dimensi

Mengkreasi

Rancanglah suatu bangun baru yang memiliki bagian-bagian yang berasal dari bangun yang kamu pilih tadi. Beri nama untuk bangun barumu dan namailah bagian-bagiannya.

Mengevaluasi

Menurutmu, apakah bangun tersebut tepat digunakan di tempat kamu menemukannya tadi? Mengapa?

Menganalisis

Terangkan mengapa bangun tadi digunakan di tempat dimana kamu menemukannya.

Menerapkan

Gambarlah bangun yang kamu pilih tadi.

Memahami

Carilah benda-benda yang memiliki bentuk yang sama dengan bangun yang kamu pilih tersebut.

Mengingat

Sebutkan ciri-ciri dari bangun yang kamu pilih.

Ilmu Pengetahuan Alam

Serangga

Mengkreasi

Buatlah jenis serangga baru dari bagian-bagian tubuh serangga yang ada. Gambar dan beri nama bagian-bagian tersebut.

(53)

Mengevaluasi

Kalau kamu ingin menjadi serangga, serangga apa yang jadi pilihanmu? Sebutkan alasannya, paling sedikit lima alasan.

Menganalisis

Pilih dua macam serangga, bandingkan. Tulislah hasil perbandinganmu.

Menerapkan

Wawancarailah 10 orang untuk mengetahui serangga yang paling tidak disukai. Buatlah grafik dari hasil wawancara tersebut dan simpulkan hasilnya.

Memahami

Pilihlah satu nama serangga. Buatlah 10 pernyataan tentang serangga tersebut.

5 pernyataan tentang fakta dari serangga tersebut dan 5 lainnya merupakan opini. Tulis di atas kertas yang berbeda. Berikan kepada temanmu dan minta temanmu untuk

memeriksa pekerjaanmu.

Mengingat

Buatlah daftar nama-nama serangga, kelompokkan berdasarkan jenis serangga yang membahayakan dan tidak membahayakan.

Ilmu Pengetahuan Sosial

Pasar

Mengkreasi

Buatlah usulan perubahan/perbaikan yang dapat membuat pasar di sekitar rumahmu menjadi lebih baik. Kirimkan surat itu kepada pemerintah setempat.

Mengevaluasi

Setujukah kamu apabila semua pasar tradisional diganti dengan pasar modern? Mengapa?

Menganalisis

Bandingkan kondisi beberapa jenis pasar, carilah apa saja kekuatan dan kelemahan masing- masing jenis pasar?

Menerapkan

Misalkan kamu adalah salah seorang anggota Panitia Peringatan Kemerdekaan RI di sekolahmu dan merencanakan untuk membuat pesta. Buatlah daftar barang-barang yang kamu butuhkan dan putuskan di pasar jenis apa kamu akan membelinya. Berikan alasanmu.

(54)

Memahami

Cari nama-nama pasar yang kamu ketahui dan kelompokkan menurut jenisnya.

Mengingat

Sebutkan jenis-jenis pasar yang kamu ketahui dan ciri-cirinya.

Bahasa Indonesia

Sempurna

Kau begitu sempurna Di mataku kau begitu indah Kau membuat diriku Akan selalu memujamu Di setiap langkahku

ku kan selalu merindukan dirimu

Tapi satu bayangkan hidup tanpa cintamu Janganlah kau tinggal diriku

Ku tak akan mampu semua Hanya bersamamu ku akan bisa Kau adalah darahku

Kau adalah jantungku Kau adalah hidupku

Engkau di diriku, oh sayangku Engkau begitu sempurna Dinyanyikan oleh: Gita Gutawa

Mengkreasi

Tulislah sebuah puisi tentang seseorang yang kamu kirimi surat!

Mengevaluasi

Selama ini sikap baik apa yang sudah kamu lakukan kepada seseorang yang kamu kirimi surat?

(55)

Menganalisis

Bandingkan perasaanmu antara kepada temanmu dengan kepada seseorang yang kamu kirimi surat!

Menerapkan

Tulislah surat untuk seseorang, mungkin ibu atau gurumu yang sesuai dengan isi lagu tersebut!

Memahami

Rangkumlah isi lagu tersebut!

Mengingat

Temukan dua kata yang bermakna kias!

(56)

Bahasa Inggris

Kancil and Crocodile

Kancil was a clever mousedeer. He had many enemies. One of them was Crocodile.

Crocodile lived in a river in the forest. Now, one day, Kancil went to the river. It was a very hot day, and he wanted to have a bath. Kancil bathed and splashed about in the water. Crocodile saw Kancil. “A nice meal,” he thought. Then, he crawled behind Kancil and grabbed him. He caught one of Kancil’s legs. Kancil was terrified. Then, he had an idea. He saw a twig floating near him. He picked it up and said, “You stupid fool! So you think you’ve got me. You’re biting a twig - not my leg. Here, this is my leg.” And with that, he showed Crocodile the twig. Crocodile could not see well. He was a very stupid creature, too. He believed the cunning mouse-deer. He freed the mousedeer’s leg and snapped upon the twig. Kancil ran out of the water immediately.” Ha! Ha!” he laughed.

“I tricked you!”.

Mengkreasi

Compose a letter of apology from Kancil to Crocodile.

Mengevaluasi

Do you think Kancil has done the right thing? Why?

Menganalisis

In what ways are Kancil and Crocodile different?

Menerapkan

Change the sentences in one of the paragraphs into the present tense.

Memahami

What examples from the story show that Kancil was a cunning animal?

Mengingat

Why did Kancil go to the river?

(57)

Handout Peserta 2a.4 Daftar Kata Kerja untuk Membuat

Pertanyaan/Tugas

Pertanyaan tingkat rendah: Mengembangkan kemampuan mengingat

Tujuan Kata kerja yang biasa dipakai Tujuan: mengembangkan

kemampuan siswa untuk mengingat. Pertanyaan jenis ini menugaskan siswa untuk menghafal, mengingat kembali, atau menceritakan kembali informasi / pengetahuan yang telah dipelajari.

Jawaban atas pertanyaan ini biasanya sudah ada di buku atau catatan siswa sehingga siswa tinggal menghafal dan mengeluar- kannya ketika ditanya.

Yang dilakukan guru:

berceramah / menerangkan

mengarahkano menunjukkan

menguji

melatih mengingat/

drill

memberi contoh

mengevaluasi kemampuan mengingat

Kapan terjadinya .... (Kapan terjadinya peristiwa penangkapan Pattimura / Di manakah Pattimura ditangkap oleh Belanda?/ Siapa pelaku-pelaku dalam cerita?)

Definisikan / artikan ....

(Apa arti metamorfosa?)

Berikan contoh-contoh ....

{Berikan contoh – contoh kenampakan alam dan kenampakan buatan. (Jawaban bisa dicari di dalam teks).

Hafalkan ....

( Hafalkan alat-alat pencernaan manusia.)

Ceritakan kembali ....

(Ceritakan kembali dongeng Batu Badaun yang telah kamu dengarkan.)

Pasangkan ....

Pasangkan istilah-istilah berikut ini dengan maknanya.

Urutkan ....

Urutkan gambar planet – planet sesuai dengan urutan tata surya yang benar.

Beri nama ....

Berilah nama gambar bagian-bagian bunga ini dengan istilah yang tepat.

Yang dilakukan siswa:

mendengarkan

meyerap informasi

mengingat kembali

menghafal

mengurutkan

mengartikan / mendefinisikan

menyebutkan kembali

memberi nama

menceritakan kembali

Peran siswa dalam kegiatan belajar yang banyak menggunakan pertanyaan tingkat rendah adalah sebagai peserta belajar yang menerima informasi secara pasif. Pertanyaan / penugasan jenis ini biasanya hanya memiliki satu jawaban benar.

Referensi

Dokumen terkait

04 Sistemas de control de la temperatura de aceite con capacidad hasta los 360°C 05 Sistemas de refrigeración de -25°C hasta +40°C. mm

 Menyele- saikan tugas  Mengidentifi- kasi komponen dan ciri LK/LT Reflection 10 menit  Peserta merenungkan apakah tujuan sesi tercapai atau belum;  Peserta

Kabupaten Bojonegoro memiliki berbagai potensi sektoral yang masih tergolong berkembang sehingga pembangunan harus difokuskan pada sektor yang memiliki potensi untuk dikembangkan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan anemia gizi, body image dan perilaku kontrol berat badan dengan kejadian kurang gizi pada remaja putri di

Labuhanbatu Laporan Kegiatan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Daops 02 Labuhanbatu Senin, 23 Januari 2017. KEGIATAN HARIAN  Apel Pagi,  Kebersihan Lingkungan 

Kelemahan siswa dalam penggunaan alat tidak hanya terjadi di Kabupaten ini, Kota Palu sebagai ibukota pusat propinsi dengan fasilitas Pendidikan yang baik, ternyata memiliki

Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu tahap modifikasi dan karakterisasi tepung jagung native serta tepung jagung HMT, penentuan pengaruh substitusi