4.1. PENGUMPULAN DATA OBJEK PENELITIAN
Untuk meningkatkan mutu produk perusahaan maka langkah yang harus diambil adalah mengimplementasikan Manajemen Mutu Terpadu (MKT). Kegagalan dalam penera- pannya kemungkinan besar mengakibatkan orang enggan melakukannya. Bagi perusahaan biasa seperti perusahaan plastik ini penerapannya bukan menjadi sesuatu yang penting. Perusahaan hanya ingin melihat berapa untungn-
ya, tanpa memperhatikan segi yang lain. Misinya saja
"Tidak ada orang bekerja yang mau rugi." Untuk memper- tahankan kelangsungan hidupnya dalam iklim kompetitif dewasa ini, perusahaan harus dipaksa untuk memperbahar-
ui manajemennya, yaitu mencapai mutu dalam hasil pro- duksinya dan meningkatkan produktivitasnya. Persoalan utama yang dihadapi oleh penulis dan perusahaan dalam usaha tersebut adalah pandangan yang bersifat jangka pendek (miopik) dan bertumpu pada paradigma lama.
Beberapa guru mutu seperti yang telah dibahas secara jelas pada bab II seperti W. Edwards Deming, Juran, Kaoru Ishikawa dsb. secara umum mereka mengatakan bahwa
apa yang dinamakan mutu itu mengandung pengertian yang lebih luas, mencakup bukan hanya hal kuantitatif saja melainkan kualitatif. Maka untuk menerapkan MMT ini memerluk an t a h apan/ 1an gk ah- 1an g ka h yang d i1aks an a kan
77
berkesinambungan. Perusahaan yang belum melaksanakan Pengendalian Mutu Terpadu (PMT) dapat langsung menerapkan MMT karena di dalam MMT juga terdapat PMT. Sekarang, konsep barus tersebut dicoba diterapkan pada industri
Modern Plastik sesuai dengan keadaan dan lingkungannya. Transformasi kultural dalam organisasi sebagaimana diharapkan oleh W. Edwards Deming dalam mengimplementasikan MMT menuntut pengetahuan mendalam, disiplin dan komitmen pimpinan. Sedangkan keadaan yang ada dalam perusahaan Modem Plastik masih berkisar pada faktor-faktor produksi non mekaniknya.
A. Sumber Daya Manusia (Man Power)
Sistem yang di anut oleh industri Modem Plastik yang mengolah bijih plastik adalah sistem mekanit Sehingga para pekerja hanya dipandang sebagai bagian dari suatu mesin. Jadi mereka masuk kerja, menjalankan proses produksi, ditimbang, dan dibayar sesuai dengan ketentuan dan perjanjian. Data yang ada tentang pekerja dapat dilihat pada tabel 4-1 di bawah ini:
Juralah karyawan Buta huruf
Tingkat pendidikan a. TK/SD-SMA/Kj b. Akademi/ PT
Laki-laki 29 orang 23 orang
5 orang 1 orang
Ferempuan 33 orang 25 orang
6 orang 2 orang
Total karyawan 62 orang 48 orang
1 ] orang 3 orang
Tabel 4-1 Data tentang Pekerja Modem Plastik 1996
B. Sistem Manajemen
Perusahaan belum menerapkan sistem manajemen yang baik, sehingga antara pimpinan dan bawahan jarang ada komunikasi. Pimpinan hanya ingin mengetahui bebrapa besar pembeliannya, lalu diproduksi menjadi berapa. Setelah itu berapa besar penjualannya dan dikurangi dengan prosentase biaya-biaya maka untungnya sudah dapat diperkirakan. Masai ah upah atau bonus diberikan sesuai dengan kebijakan perusahaan pada karyawan yang bersangkutan dan disesuaikan dengan UMR yang berlaku. Jadi dalam perusahaan jarang terjadi komunikasi dua arah, hal inilah yang menjadikan tidak adanya motivasi kerja.
C. Budaya Perusahaan
Dalam pembahasan MMT, apabila perusahaan ingin menerapkan MMT maka harus melakukan transformasi budaya. Dalam hal irrJ di lingkungan perusahaan belum tercipta suatu budaya perusahaan karena pekerja belum punya rasa memiliki rasa memiliki perusahaan.
T a b e l 4-2 Produktivitas selama 1 Minggu dari beberapa karyawan untuk tiap harinya Bulan Desember 1997
Tanggal 16 17 18 19 20 21
Output 697 962,5 1156 1077 1034 013,5
Total jam kerja 80 jam 112 jam 128 jam 128 jam 128 jam 128 jam
Produktivitas 8,7125 8.59375 9,03125 8,4140625 8,078125 7,13671875
79
Data-data ini mau menunjukkan bahwa produktivitas tenaga kerja tidak dilihat.
Dalam hal ini perusahaan membagi proses kegiatannya menjadi 2 giliran kerja (shif). Tiap 1 shif menjalankan 5 mesin sejenis. Tiap 1 mesin dijalankan oleh 2 orang. Tiap orang bekerja untuk 1 shif yaitu 8 jam kerja. Maka kalau dilihat pada tabel 4-2 tersebut, pada tanggal 21 penghitungan produktivitasnya adalah Output dibagi input (total jam kerja) menjadi P = O/I = 913,5/ (16 orang X 8 jam) = 7,13671875. Untuk lebih jelasnya total output tiap mesin dapat dilihat pada tabel 4-3 dan 4-4 di bagian selanjutnya.
Apabila dibandingakan dengan produktivitas tanggal 18 terlihat mengalami penurunan. Namun saat produktivitas para pekerja meningkat perusahaan tidak memperhatikannya Akibatnya para pekerja merasa seperti suatu mesin, yang berdampak pada proses kerja dan tidak ada penghargaan terhadap mutu. Selama mengadakan pengamatan dan penelitian, penulis membatasi pencarian data dengan metode pencatatan dan wawancara langsung dengan bagian yang terlibat di dalamnya. Sebenarnya di dalam menerapkan MMT data yang diolah bukan hanya dari hasil pencatatan proses produksi sehari-hari saja, melainkan juga memadukan dengan hasil survei melalui pengisian kuesioner. Hanya kali ini belum dapat penulis jalankan, berhubung dengan beberapa hal berikut ini:
- pelanggan perusahaan bukan dari golongan orang modern
- kebanyakan dari pelanggan belum seberapa mempersoalkan mutu
Analisa kuantitatif dari MMT dapat diterapkan melalui beberapa metode. Sebenarnya apabila perusahaan sudah maju atau yang menjaga mutu produknya, analisa ini sebagai salah satu alat bantu para manajemennya untuk mengevaluasi dan memecahkan masalah yang terjadi. Misalnya berikut ini akan penulis tunjukkan satu per satu namun disesuaikan dengan kondisi perusahaan selama satu minggu dari tanggal 16 sampai dengan 21 Desember 1997.
Tabel 4-3
Hasil produksi menurut Pemakaian mesin (dalam kg)
Bulan : Desember 1997 Shif. Pagi
Harike 1 1
3 4 5 6
Mesin 1 135 129 150 120 105 100
Mesin 2 135 135 107,5 127,5 115 110
Mesin 3 - - - - - -
Mesin 4 -
189 177,5
75 167,5 170
Mesin 5 - - 132 159 165 132
Tabel 4-4
Hasil produksi menutut Pemakaian mesin (dalam kg) Bulan : Desember 1997 Shif: Sore
Han 1
i
3 4 5 6
Mesin 1 162 129 150 120 117 2"
Mesin 2 107,5 107,5 105 122.5 105
97,5
Mesin 3 - - - - - -
Mesin 4 157,5 120 190 200 157,5 155
Mesin 5 - 153 144 153 102 129
81
4.1.1. Analisa Kuantiiatif
Pada hakekatnya MMT merupakan suatu metode kuantitaif dan kualitatif guna meningkatkan perbaikan mutu produk secara terus menerus. Dal am perusahaan apabila menerapkan MMT, analisa terhadap mutunya dijelaskan sebagai berikut:
A. Diagram Alir
Secara rinci proses produksi pendaur ulangan perusahaan pada vvaktu itu dapat dijelaskan seperti ini. Pertama bahan dibeli dari suplier yaitu para pemulung yang menjual sampah plastiknya. Perusahaan membeli dengan harga mulai dari Rp 200,00 sampai Rp 1.200,00 per kgnya. dari bahan yang dibeli, ditimbang kemudian diproses oleh bagian pilih. Jenis plastik yang sesuai diambil sedangkan jenis plastik yang tidak sesuai seperti PVC dikumpulkan lalu dijual lagi. Setelah semua sampah dispesifikasikan menurut jenisnya maka semuanya dihancurkan atau giling. Setelah itu dimasukkan ke dalam bak pencuci lalu dibersihkan. Di bagian pencucian sampah-sampah yang hancur tersebut diambil dengan saringan lalu dimasukkan dalam karung kemudian dikeringkan dengan mesin pengering.
Setelah dikeringkan, lalu diserahkan ke bagian pembentukan bijih plastik untuk dimasukkan ke dalam mesin pembentuk bijih plastik. Setelah melalui mesin ini maka produk bijih plastik keluar berupa butiran bijih plastik lalu di masukkan dalam karung oleh bagian pengemasan. Dari bagian ini lalu diambil sedikit untuk dijadikan sampel guna dilihat mutunya. Mutu masih diamati secara manual diraba,
dibakar dsb. Yang tidak sesuai dikumpulkan lagi untuk diproduksi ulang.
Gambar 11 Diagram Alir Proses Produksi di PT Modern Plastik C MULAI ")
[ Pembelian f Bahan f~
\ Tidak
\ P i l i h / V ' Y a
I
|Giling
\ Cuci f
Pengeringanf
i i
\ Karung 11
?
I Pemanasan I
i I i _.„ m., f
;Pendinginam
I ' i
Pemotonganf
Pengemasan
SELESAI
S3
B. Peta Pengendali
Peta pengendali dapat menunjukkan kepada kita jenis variasi yang terjadi melaui metode statistik. Dari hasil peta pengendali kita dapat melakukan evaluasi terhadap permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan.
Tanggal j Output Sampel Cacat jProb(%) P rata-rata 3 akar UCL ;LCL 16 297 i 50 i 5.9 0.118 0.090333 0.0172 0.107533 0.073134 17l 258 501 0.12 0.090333 0.0172 0.107533 0.073134 18 300 50 i 3.2 0064 0.090333 0.0172 0.107533 0.073134 19 240 50', 5.4 0.108 0090333 0.0172 0.107533 0.073134
20 222 50; 0.04 0.090333 0.0172 0.107533 0.073134
21 120 50 4.6 0.092 0.090333 0.0172 0.107533 0.073134
300 27.1
Tabel 8 Data peta pengendali produk Pe Hitam Co
Peta Kendali Produk PE Hitam CO
J *
0.12 -^
I 0-1 1
i 0.08 j
0.06
0.04
0.02 -
0
~ \
v /f= Prob (%) P rata-rata
3 akar UCL LCL
1 3 4
Harike
Gambar 12 Gambar Peta Kendali Produksi PT Modern Plastik 16-21 Desember 1996
Pada gambar tersebut terlihat bahwa penyimpangan yang terjadi selama satu minggu di luar batas kendali. Dalam satu minggu hasil produksi untuk bijih plastik jenis Low Density Polyethilene (LDPE) Hitam CO antara 100 sampai 300 kg per harinya untuk 2 shif. Lalu diambil 25 kg untuk tiap shifhya dari tiap karung untuk dijadikan sampel. LDPE Hitam CO tersebut diproduksi hanya di mesin 1 yang outputnya pada masing-masing shif telah ditunjukkan pada tabel 4-3 - 4-4.
Probabilitas prosentase cacat/ rusak dihitung dari jumlah item cacat dibagi dengan sampel yang diambil, misalnya tanggal 16 : P = 5,9 kg/ 50 kg = 0,118
Probabilitas rata-rata dihitung jumlah % P dibagi dengan banyaknya hari dalam minggu tersebut, jadi P rata-rata = (0,118+0,l2+...+0,092)/6 - 0,090333
Batas atas dan bawah kendali dihitung dengan rumus : UCL/LCLp = P rata-rata ± 3 sqrt;
3 sqrt = 3 V(P rata-rata (1- P rata-rata))/n;
dalam hal ini 3 sqrt menurut perhitungan didapat:
3 akar = 3 V(0,090333(l-0,090333))/6 = 0,0172
Untuk mencari sebab-sebab masalah yang terjadi yang termasuk di luar kontrol ini maka dapat dipenksa lebih teliti lagi dalam lembar pemenksaan. Jadi untuk memecahkan masalah MMT menggunakan beberapa rangkaian alat bantu.
S5
C. Lembar Pemeriksaan
Lembar pereiksaan dibuat setiap hari dan diisi oleh bagian pembentukan bijih plastik untuk mencatat setiap kejadian atau peristiwa yang terjadi selama proses produksi. Lembar pemeriksaan ini digunakan untuk mengevaluasi pekerja tentang hasil kerjanya yaitu jumlah produksinya. Dari hasil perhitungan dari lembar
pemeriksaan dapat diketahui produk apa yang banyak cacatnya.
Tabel4-6
Jumlah produk cacat tiap rnesin dalam 1 minggu (dalam kg)
Bulan : Desember 1997 dari lembar pemeriksaan
Tanggai 16 17 18 19 20 21
Mesin 1 5,9 6 3,2
5,4 2 4,6
Mesisn 2 8 5 6,5 12
4 2,5
Mesisn 3 -
- - - - -
Mesin 4 7,8 9 3,2 12
5 3
Mesin 5 -
8,3 19,5 2,5 4 3,5
Dari lembar pemeriksaan dapat diketahui bahwa produk bijih plastik jenis Polypropilene dalam minggu tersebut merupakan produk yang bermasalah karena banyak variasinya. Produk tersebut dikerjakan di mesin IV. Maka penyebabnya di cari secara khusus dalam mesin IV.
Diagram sebab akibat dari produk yang harus digiling ulang, tampak pada gambar berikut
MESIN BAH AN
disengaja kemasukan
barang\^ / p e r a w a t a n t i d a k / B e lek d i p e r h a t i k a n /* *^
sudah / susut lama
grade
terlalu tinggi kurang pengawasan
pulang lebih awal
PRODUKSI ULANG
MANUSIA
Gambar13 Diagram Ishikawa d a r i masalah p r o d u k s i u l a n g
is sin IV sin 11 sin 1 sinV sin III
Jumlah 40 38 27.1 20.5 0 125.6
Prosentase % Kum 0.318471 0.318471 0.302548 0.684019 0.215764 0.89 0.163217 1
0 1
DIAGRAM PARETO KERJA MESIN
Mesin IV Mesin II Mesin I Mesin V MESIN KE
Mesin III
ISeries2
• Series 1
Gambar 14 Diagram Pareto untuk permasalahan produksi 16-21 Desember 1996
S7
4.1.2. ANALISA KUALITATIF
Analisa kualitatif merupakan suatu rangkaian dari MMT yang memberikan evaluasi tentang proses produksi yang telah berlangsung.
4.1.2.1. Beberapa Aspek Penerapan Manajemen Mutu A. Aspek Produksi
Dari permasalahan tersebut terlihat bahwa bahan baku merupakan penyebab utama terjadinya masalah pada produksi bulan Desember. Perusahaan harus dapat memotivasi para pemasoknya terutama para pemulung. Dalam hal ini yang menjadi kendala dari bahan baku di industri plastik Modern ini :
a. Ketidakstabilan bahan baku
bahan baku yang digunakan berasal dari sampah plastik (termasuk sampah anorganik) yang jenisnya kering, basah, kotor, kadang-kadang mengandung logam. Dari diagram Pareto pada tabel di bawah diagram Ishikawa, cacat yang terjadi di mesin IV disebabkan karena mesin kemasukan logam kecil yang bukan bahan plastik sehingga menyumbat mesin akibatnya terjadi sumbatan sehingga bijih plastik yang dihasilkan banyak yang keropos. Karena banyak yang keropos berarti dianggap kerusakan hasil produksi maka harus didaur ulang lagi.
b. Bahan baku sampah tidak mudah mendapatkannya
hal ini disebabkan karena orang yang mengumpulkan sampah plastik, pemulung tidak banyak.
c. Perkembangan pabrik daur ulang plastik
industri plastik Modern dalam mendapatkan bahan bakunya harus bersaing dengan pabrik sejenis yang lain, hal ini ditentukan dari besar kecilnya harga yang dibayarkan oleh perusahaan. Dengan kata lain pabrik daur ulang plastik saat ini mengalami perkembangan sehingga kalau terlampau kecil harganya para pemulung mencari pelanggan lain, akibatnya bahan yang dipasok perusahaan menjadi berkurang (lihat tabel 4-2) pada tanggal 16 Desember
1996.
d. Keterlambatan bahan baku
akibat dari perkembangan pabrik daur ulang plastik dan ketidakstabilan bahan maka bahan baku sering terlambat.
Industri plasdtik Modern mencatat setiap kejadian selama proses produksi yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengevaluasi setiap kejadian, kesalahan, keterlambatan, dll. yang menjadi masalah dalam proses produksi.
B. Aspek Pemasaran
Pemasaran merupakan suatu bagian yang vital bagi industri plastik Modern seperti perusahaan lain. Maka setiap merancang perencanaan strategis, perusahaan memperhitungkan pasar yang dijadikan sasarannya. Dalam menghadapi
89
persaingan daur ulang plastik saat ini perusahaan menentukan harga jualnya berdasarkan beberapa hal, yaitu :
a. Tujuan (Purpose)
Industri plastik Modem berorientasi untuk memperoleh profit seoptimal mungkin dengan mengeluarkan biaya seminimal mungkin, tentunya dalam batasan normal. Selain itu perusahaan juga mempunyai tujuan sosial untuk membantu mengurangi sampah kota, jadi produknya bemilai tinggi. Karena melihat dari pengalaman perlakuan produk daur ulang di luar negeri bahwa prospeknya bagus maka perusahaan berani menjadikan tujuan sebagai salah satu komponen penentu harganya.
b. Presentasi (Presentation)
dalam memasarkan produknya, pemasar hams pandai-pandai menciptakan suatu nilai (value creation) sehingga produk yang dipasarkan mempunyai suatu keunggulan utama yang dalam istilah manajemen strategiknya adalah "berbeda dengan yang lain". Penjualan plastik di industri plastik Modem memang tepat dengan presentasi karena:
• pangsa pasamya tidak terlalu besar
• termasuk pemsahaan yang sedang berkembang
• budaya dagang yang sudah melekat dalam pemsahaan
• mudah terjalinnya hubungandengan demikian sinergi lebih mudah terbentuk
• memberikan keterangan sejelas-jelasnya.
Presentasi dilakukan industri plastik Modern guna menggeser model promosi yang dahulu terkandung dalam unsur pembentuk nilai produk dalam manajemen kuno/ konvensional.
c. Harga (Price)
semua komponen ini dinilai dan diberi prosentase tertentu sehingga harga ditetapkan kemudian. Jadi industri plastik Modern mau menunjukkan bahwa produknya bermutu karena bukan hanya mengandalkan nilai tambahnya tetapi karna karya cipta nilainya misalnya tujuannya bukan hanya untuk untung saja tetapi ada tujuan sosialnya.
d. Kinerja (Performance)
industri plastik Modern menentukan nilai jual produknya karena mempertimbangkan juga kinerjanya.
C. Aspek Pembelajaran
Mesin dalam perusahaan merupakan perangkat keras yang perawatannya harus diperhatikan secara berkesinambungan. Memang industri plastik Modern memang belum memperhatikan pelatihan sebagai sesuatu yang penting. Bagi perusahaan yang penting karyawan bisa mengoperasikan mesin, kalau terjadi masalah segera melapor. Padahal kendala pada mesin disebabkan beberapa hal, yaitu :
91
a. Umur mesin yang sudah tua b. kapasitas mesin yang tidak sama
c. Jenis mesin yang berbeda (orisinil/ asli, bekas) d.Operator mesin yang tidak sama
mengenai data ini penulis simpulkan sendiri sewaktu mengadakan pengamatan di lapangan dan menanyakan langsung pada karyawan yang mengoperasikan mesin. Itulah sebabnya kalau mau menerapkan MMT dalam perusahaan, tahapan komitmen harus dicapai terlebih dahulu guna mengadakan kesepakatan untuk mengadakan perbaikan terus menerus dalam setiap hal yang berhubungan dengan operasi perusahaan.
D. Aspek Sumber Daya
Organisasi harus dipandang sebagai kesatuan sosial di mana setiap individu berperan secara sadar dan yakin dalam upaya mencapai tujuannya. Sedangkan dalam industri platik Modem kurang sekali terlihat karyawan yang memiliki budaya perusahaan. Sehingga karyawan yang bekerja hanya sekedar untuk bekerja karena dibayar, tidak ada rasa ingin maju, memajukan perusahaaan dll.
Jadi sumber daya manusia akan mempengaruhi proses produksi perusahaan.
4.2. LANGKAH-LANGKAH PENERAPAN MANAJEMEN MUTU TERPADU
Dari hasil analisa di atas maka penulis mencoba memberikan tahapan yang dapat diterapkan dalam perusahaan. Karena perumusan masalah dalam penulisan ini ingin mengetahui sampai pada tahap mana konsep MMT ini diterapkan pada industri plastik Modern, maka bagian ini akan memberikan jawabannya. Dalam merekayasa ulang perusahaan perlu memperhatikan penerapan MMT, yang langkah-langkahnya penulis jabarkan sebagai berikut:
4.2.1. Tahap Komitmen/ Kesepakatan
Kesepakatan merupakan salah satu unsur keterlibatan anggota dalam organisasi. Perusahaan harus dapat menekankan kesepakatan pada para pelamar kerja guna mentaati segala peraturan yang berlaku bukan karena ketakutan tapi karena kesepakatan yang keluar dari kesadarannya. Hal ini perlu ditekankan selama pelamar kerja/ calon karyawan menandatangani surat perjanjian kerja.
Dalam menerapkan tahapan komitmen, industri plastik Modern membuat beberapa alat analisa kuantitatif dalam manajemen mutu yang terdiri dari :
• Formulir hasil giling
form ini diberikan kepada bagian timbang bahan lalu diserahkan pada bagian giling untuk mengisinya. Dalam praktek form ini selalu kembali namun jumlah yang tertera didalamnya tidak dicocokkan langsung dengan persediaan di lapangan.
93
• Formulir hasil produksi
form ini diisi oleh bagian pendaur ulangan (pelet) dan dikembalikan setiap berakhimya jam giliran kerja (shift). Supervisor akan langsung mencocokkan dengan keadaan yang ada di lapangan. Dan pengisiannya dijamin sesuai dengan keadaan yang ada. Dari form ini perusahaan dapat melihat susut atau tidaknya bahan baku yang tersedia dengan hasil produknya selisih berapa prosen. Apabila dianggap keluar dari batas maka supervisor akan dipanggil untuk mempertanggung jawabkan bagiannya.
• Formulir ganti pisau
diisi oleh bagian produksi apabila tiap kali akan mengganti pisau potong sebab perusahaan akan menambahkan pada upah kerja karyawan yang melakukannya.
• Formulir cuci kolam
hal ini juga sama dengan perlakuan formulir ganti pisau, seb harus diperhitungkan dalam pembayaran upah kerja.
• Formulir permintaan kerja lembur
form ini untuk memperjelas kegiatan yang dilakukan oleh para karyawan pada waktu kerja di luar batas vvaktu kerja (kerja lembur)
• Formulir lembar pemeriksaan
form ini diisi oleh bagian produksi tiap jamnnya untuk mencatat setiap kejadian yang terjadi dalam proses produksi. Lalu diserahkan kepada supervisor untuk diserahkan kepada kepala pabrik untuk dianalisa.
• Formulir denah gudang barang jadi
form ini untuk menegtahui jumlah persediaan barang jadi yang ada digudang yang siap untuk dipasarkan/ dijual. Denah ini setiap kali akan berubah.
Apabila kesepakatan sudah tertanam pada karyawan akan menumbuhkan rasa terlibat. Tahapan ini penulis katakan sudah dicapai oleh perusahaan karena dari semua form yang disebarkan untuk diiisi dapat dipertanggung jawabkan. Namun pengukuran komitmen belum sampai pada kesepakatan untuk memajukan perusahaan karena belum ada keseimbangan input dan output bagi karyawan. Misalnya karyawan yang sudah tiga bulan bekerja, baru, lama gajinya sama dengan UMR. Akibatnya mereka berpikir biar perusahaan sudah maju namun gaji mereka tidak bertambah. Jadi mereka hanya komit/ sepakat sebatas tanggung jawab mereka pada masing-masing bagian.
4.2.2. Tahap Keterlibatan
Kesepakatan yang dimiliki secara sadar akan menyebabkan anggota organisasi mempunyai keterlibatan. Industri plastik Modern belum
05
mencapai tahap ini karena tahapan yang pertama yaitu komitmen belum sepenuhnya dicapai. Pada tahap ini perusahaan sudah harus mengajak para karyawan untuk melibatkan diri guna memacahkan permasalahan yang terjadi maka MMT semakin terlihat. Budaya perusahaan yang melekat pada pimpinan perusahaan masih takut apabila memberikan klepercayaan pada pekerja, jadi tahap ini juga akan terlaksana apabila pihak perusahaan memberikan kepercayaan untuk menjalankan operasi kegiatan pada karyawan yang harus dipertanggung jawabkan. Misalnya para karyawan dilibatkan dalam menentukan target produksi dari perusahaan dalam rapat perencanaan produksi maka dalam dirinya akan timbul semangat dan ia lebih giat melaksanakannya karena ia merasa menjadi bagian dari perusahaan tersebut.
4.2.3. Tahap Metode Ilmiah
Tahap ini fungsinya adalah agar setiap kali pimpinan mengevaluasi para karyawan mereka tidak akan saling menyalahkan, saling melempar tanggung jawab, saling mengelak/ menyanggah kesalahannya, bersengkongkol untuk tujuan tertentu yang merugikan perusahaan baik secara langsung maupun tidak. Dengan adanya metode ilmiah dalam perusahaan maka segala sesuatu dapat dipertanggung jawabkan karena