BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Program Profesi Insinyur adalah program pendidikan tinggi setelah program sarjana untuk membentuk kompetensi Keinsinyuran. Insinyur adalah seseorang yang mempunyai gelar profesi di bidang Keinsinyuran (Undang-Undang Nomor 11, 2014). Program profesi insinyur menurut Undang-undang nomor 11 tahun 2014 tentang keinsinyuran menyatakan bahwa keinsinyuran adalah kegiatan teknik dengan menggunakan kepakaran dan keahlian berdasarkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya guna secara berkelanjutan dengan memperhatikan keselamatan, kesehatan, kemaslahatan, sertakesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan.
Keinsinyuran mencakup disiplin teknik yaitu: kebumian dan energi;
rekayasa sipil dan lingkungan terbangun; industri, konservasi, dan pengelolaan sumber daya alam; pertanian dan hasil pertanian dalam arti luas; teknologi kelautan dan perkapalan; dan aeronotikadan astronotika. Keinsinyuran mencakup bidang: pendidikan dan pelatihan teknik/teknologi; penelitian, pengembangan, pengkajian, dan komersialisasi; konsultansi, rancang bangun, dan konstruksi;
teknik dan manajemen industri, manufaktur, pengolahan, dan proses produk;
ekplorasi dan eksploitasi sumber daya mineral; penggalian, penanaman, peningkatan, dan pemuliaan sumber daya alami; dan pembangunan, pembentukan, pengoperasian, dan pemeliharaan aset.
Kode etik insinyur merupakan norma dan asas yang diterima oleh para insinyur sebagai landasan dan tingkah laku. Kode etik profesi tidak hanya melindungi masyarakat, tetapi juga membangun dan memelihara integritas dan reputasi. Seorang insinyur professional dalam pelaksanaan kerja selalu mengasah ilmudan pengalaman kerja sesuai dengan keahlian yang dimiliki serta berpedoman pada kode etik.
Pada praktek pengelolaan di industri kelapa sawit diperlukannya kepakaran insinyur seperti contoh pada prinsip utama kode etik disebutkan bahwa keselamatan masyarakat serta integritas dan kejujuran merupakan hal yang harus diutamakan melebihi kepentingan pribadi dan perusahaan sesuai dengan SOP
1
PTPN III bahwa setiap karyawan yang bekerja wajib menggunakan APD yang lengkap dan layak. Selain itu, setiap karyawan PTPN III tidak boleh melakukan korupsi dan setiap unit dan kebun harus di sertifikasi bebas dari korupsi. Pada praktik keinsinyuran di industri sawit banyak di temui beberapa praktik keinsinyuran yaitu pada aktivitas penggalian produksi dan pengangkutan dimana pada praktiknya harus mengutamakan kesehatan dan keselamatan kerja, pada proses di pabrik kelapa sawit perlu kepakaran dalam proses pengolahan buah kelapa sawit menjadi CPO (crude palm oil) apalagi ketika pabrik sedang ada maintenance sehingga pada praktik industri kelapa sawit akan selalu beriringan dengan praktik keinsinyuran.
Kebun Torgamba merupakan kebun dibawah naungan PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) yang terdiri atas 8 afdeling atau divisi dengan luasan 6102,47 dan komoditas yang ditanam adalah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.). Pada awalnya Kebun Torgamba adalah Hutan Primer dataran rendah berawa dan bergelombang. Hutan tersebut adalah Daerah Konsensi pengambilan kayu oleh pengusaha HPH (Hak Pengusaha Hutan). Pemerintah Republik Indonesia melalui Departemen Pertanian (PT. Perkebunan IV) yang berkedudukan di Gunung Pamela yang didirikan dengan Akte Notaris GHS Lumban Tobing. SH Nomor: 144/1997 tanggal 10 Maret 1977 mengadakan survey untuk menjajaki daerah Kabupaten Labuhan Batu untuk dijadikan daerah perkebunan. Selanjutnya tahun 1977 melalui Surat Keputusan Direksi PT. Perkebunan IV mengadakan pengembangan perkebunan kelapa sawit dengan nama Kebun Torgamba Group yang dibuka pada tahun 1978. Pada tahun 1981 Kebun Torgamba Group dibagi menjadi 7 (tujuh) kebun terdiri dari: Kebun Torgamba, Kebun Sei Kebara, Kebun Sei Baruhur, Kebun Sei Daun, Kebun Sei Meranti, PIR (Perkebunan Inti Rakyat) Lokal Bagan Batu dan Bagan Sinembah. Pada perkembangannya, berdasarkan PP No. 8 tahun 1996 terjadi peleburan PT. Perkebunan III, PT. Perkebunan IV, PT.
Perkebunan V menjadi PT. Perkebunan Nusantara III.
Pada bulan September 1996 sesuai SKPTS Direksi terjadi pengurangan kebun di PT. Perkebunan Nusantara-III yaitu Kebun Sei Kebara yang beralih ke Kebun Sei Baruhur. Dengan demikian Kebun Tor Gamba berubah luasnya dari 7.283 Ha menjadi 9.158,48 Ha, disebabkan perpindahan afdeling I, II dan III.
Afdeling 1 Kebun Torgamba merupakan salah satu bagian dari kebun 2
33.000,00 32.000,00 31.000,00 30.000,00 29.000,00 28.000,00 27.000,00 26.000,00 25.000,00
RKAPRealisasi
Torgamba dengan luasan 697,5 Ha dan memiliki total karyawan pelaksana 52 orang terdiri atas personil dengan beberapa bagian jabatan dan pemanen, satu afdeling dipimpin oleh seorang asisten afdeling yang bertanggung jawab terhadap setiap pekerjaan dan terhadap areal afdeling tersebut. Kinerja pada unit usaha perkebunan menggunakan nilai Rencana Kegiatan Anggaran Perusahaan (RKAP) yang harus dicapai selama satu tahun berjalan. RKAP merupakan bagian jangka pendek dari RJP (Rancangan Jangka Panjang). RKAP dan realisasi Afdeling 1 Kebun Torgamba pada 5 tahun terakhir menunjukkan ketidakkonsistenan.
Pada Gambar 1 dapat dianalisa bahwa pada tahun 2018 dan 2019 realisasi produksi afdeling 1 Kebun Torgamba berada diatas RKAP sebesar 16,05% dan 4,20% sedangkan pada tahun 2020 dan 2021 berada dibawah RKAP sebesar 5,10% dan 9,72% dan pada tahun 2022 RKAP satu tahun adalah 32.219,63 Kg/Ha sementara realisasi sampai dengan November sebesar 28.784,00 Kg/Ha sehingga selisih yang harus didapatkan di bulan Desember adalah sebanyak 3.435 Kg/Ha.
24.000,00
2018 2019 2020 2021 2022
RKAP 27.453,59 31.207,24 29.600,00 31.321,86 32.219,63 Realisasi 31.860,01 32.530,85 28.088,40 28.278,84 28.784,00
Gambar 1. Grafik RKAP dan realisasi Afdeling I Kebun Torgamba (Kg/Ha) Produktivitas disebabkan oleh beberapa faktor yaitu luas lahan, tenaga panen atau pemanen, pupuk, dan pestisida (Arsyad, Ilham dan Syarifah, 2017).
Salah satu faktor penting yang mempengaruhi produktivitas adalah pemanen.
Pemanen kelapa sawit di afdeling I Kebun Torgamba adalah sebanyak 40 orang dengan 2 orang diperbantukan menjadi satpam di afdeling. Menurut IK BTAN (2019) pemanen memiliki tugas kerja yaitu mencari dan memotong tandan buah segar (TBS) yang sesuai dengan kriteria matang panen, menurunkan dan memotong pelepah menjadi tiga bagian dan membuangnya ke gawangan mati,
pemanen juga bertanggung jawab untuk memotong tangkai TBS dan mengutip brondolan dan melangsir TBS serta brondolan ke tempat pengumpulan hasil (TPH). Pelaksanaan proses panen dirasa terlalu memakan waktu sehingga efektivitas nya berkurang yang mengakibatkan prestasi pemanen menjadi berkurang.
Prestasi pemanen diukur berdasarkan nilai prestasi memanen rata-rata (PMR) yaitu rata-rata prestasi maksimum yang bisa didapatkan oleh pemanen setiap harinya. Norma PMR yang diharapkan perusahaan adalah 2,5 ton per ha.
PMR yang tinggi merupakan salah satu indikator bahwa produksi dan produktivitas di kebun tersebut tinggi. Afdeling 1 Kebun Torgamba rata-rata pada bulan Januari sampai dengan November memiliki rata-rata PMR diatas 2,5 ton per ha tetapi masih terdapat anggota pemanen khusus nya PKWT yang memiliki PMR di bawah 2,5 ton per ha. Hal ini disebabkan banyaknya pemanen PKWT yang baru belum memahami dengan lancar cara memanen kelapa sawit. Alat yang biasanya digunakan memanen kelapa sawit adalah egrek dan dodos, egrek digunakan untuk tanaman dewasa sampai dengan tua dengan ketinggian lebih dari 3 meter berumur lebih dari 8 tahun (Gambar 2).
Gambar 2. Egrek dan Dodos Alat Panen Kelapa Sawit
PMR PKWT Afdeling I Kebun Torgamba bahwa pada tahun 2022 menggunakan egrek konvensional adalah sebagai berikut (Tabel 1). Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa rata-rata Januari sampai dengan Juni masih dibawah norma perusahaan yaitu dengan nilai 2.414,65. Pada bulan April dan Juni tahun 2022 sudah berada diatas norma yaitu 3.335,90 dan 2.958,58. Pada bulan Januari, Februari, Maret, dan Mei masih dibawah norma perusahaan yaitu dengan nilai 1.651,02; 2.124,85; 1.918,77; dan 2.498,75.
Tabel 1. PMR Pemanen PKWT Afdeling 1 Tahun 2022
Nama Pemanen PKWT Prestasi Memanen Rata-Rata
Jan Feb Mar Apr May Jun Rata
Sahputra Purnomo 1,134.09 1,514.28 1,489.08 2,096.40 2,124.41 2,13 William Jeverson S 1,237.05 1,953.28 1,662.33 2,688.88 1,844.03 Vincensius Munthe 1,450.36 2,002.35 1,813.54 3,372.24 2 Jona Siregar 1,222.20 1,594.63 1,730.78 2,684
Arimbi 1,110.14 1,436.26 1,337.77
Efriadi Hasiholan 1,727.92 2,509.52 2,2 Indra Yunanda Munthe 2,704.68 3,133.
Ganda Martua Hutasoit 1,903.50 Rajinda Situmorang 2,23 Darman Manurung
Patriot Pratama Franm ade
Ra
PMR yang rendah mengakibatkan produksi dan produktivitas tanaman berkurang sehingga mengakibatkan keuntungan perusahaan tidak maksimal.
Untuk mencegah hal tersebut perlunya upaya-upaya untuk meningkatkan PMR pemanen PKWT sehingga penulis memberikan ide dan membuat alat bantu panen yaitu Torgamba Shocking Sickle (TSS).
TSS adalah alat untuk membantu panen kelapa sawit. Alat ini memperingan pekerjaan panen dengan cara menggunakan sambungan egrek ke fiber dengan mekanisme kerja menggunakan sentakan sehingga tenaga yang digunakan saat panen tidak terlalu banyak dibandingkan menggunakan egrek konvensional. Alat ini memiliki Panjang 30 cm dengan jarak sentakan 10 cm dan adanya pertambahan berat 200 gram. Harapannya setelah penggunaan alat ini proses panen jauh lebih efektif dan efisien, mengurangi tersangkutnya egrek, dan menjadi solusi untuk meningkatkan PMR pemanen.
Gambar 3. Torgamba Shocking Sickle (TSS) 1.2 Tujuan Penulisan Studi Kasus
Secara umum tujuan dari penulisan studi kasus ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengaruh torgamba shocking sickle (TSS) terhadap peningkatan prestasi memanen rata-rata (PMR) pemanen pkwt di afdeling I Kebun Torgamba.
2. Untuk memenuhi tugas akhir dalam program studi program insiyur Universitas Jambi. Secara khusus tujuan penulisan studi kasus ini untuk memberikan informasi mengenai implementasi kerja insinyur dalam bidang pertanian.
1.3 Output Penulisan Studi Kasus
Adapun output yang diharapkan dari penulisan studi kasus ini yaitu dapat memberikan laporan secara sistematika penulisan sesuai dengan standar Fakultas Pertanian Universitas Jambi serta dapat
memberikan data dan informasi mengenai pengaruh torgamba shocking sickle (TSS) terhadap peningkatan prestasi memanen rata-rata (PMR) pemanen pkwt di afdeling I Kebun Torgamba dan dapat menjadi informasi bagi akedemisi maupun praktisi untuk pelaksanaan serupa. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan penulis dalam melaksanakan praktik keinsinyuran di bidang