• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada dasarnya manusia ingin mengetahui sosok dan sifat Tuhan.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada dasarnya manusia ingin mengetahui sosok dan sifat Tuhan."

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pada dasarnya manusia ingin mengetahui sosok dan sifat Tuhan.1 Selama berabad- abad manusia mencoba menyelidiki dan menjelaskan sosok Tuhan dan pengaruh Tuhan di dalam kehidupan. Manusia mencoba mencari tahu melalui agama, ilmu, juga filsafat. Dari tiga hal inilah kemudian manusia memahami berbagai sosok dan sifat Tuhan. Manusia mengenali Tuhan sebagai yang Mahakuasa, Mahabaik, dan Mahaadil. Manusia memahami Tuhan sebagai sosok yang memiliki sifat transenden dan pemahaman tersebut datang dari pengetahuan terbatas yang dimiliki oleh manusia. Keterbatasan yang dijelaskan melalui ilmu pengetahuan sangat terbatas pada pembuatan deskripsi yang didasarkan atas pengalaman empirik. Sedangkan dari agama juga menjelaskan dari keyakinan berlandaskan dari satu doktrin.

Karman dalam artikelnya berjudul “Manusia dan Penderitaan” karya menjelaskan tentang pemahaman manusia terhadap sifat-sifat Tuhan yang juga dapat dikatakan benar karenanya pada sifat-sifat tersebut ditambahkan kata “Maha” dalam pengertian yang merujuk pada sifat positif paling tinggi terhadap kekuasaan, kasih, pengetahuan serta keadilan.2 Hal ini berbanding terbalik dengan perspektif yang berbeda yang sering dipertanyakan oleh manusia tentang kemahakuasaan Tuhan. Berdasarkan contoh artikel yang dikutip dari Kompasiana, tragedi 1965 yang terjadi di Indonesia, merupakan peristiwa yang sangat pahit bagi bangsa ini. Kebenaran penyebab yang melatarbelakangi tragedi pembantaian hingga diskriminasi tersebut sampai saat ini tidak pernah ditemukan kebenarannya.3 Lewat musibah tersebut manusia bertanya-tanya mengapa tragedi tersebut terjadi.

Jalan hidup yang dirasakan oleh manusia tidak dapat dipungkiri tidak dapat terlepas dari adanya penderitaan, kesengsaraan, kemalangan, musibah bencana alam serta masalah- masalah kehidupan sosial lainnya yang masih sangat kental di dalam kehidupan manusia hingga zaman sekarang. Pada dasarnya, Tuhan khususnya bagi kaum teis mengimani Tuhan sebagai Sang Mahakuasa dan Mahabaik. Kemudian orang-orang teis tersebut,

1 Franz Magnis Suseno, Menalar Tuhan,(Yogyakarta:Kansius,2013),hal.17

2 Yonky Karman, “Manusia Dan Penderitaan”, Jurnal Teologi dan Gereja, Vol.11 No.23.2010.hal.2

3Musafir. Peristiwa 1965, Sebuah Tragedi kemanusiaan dalam Sejarah Bangsa https://www.kompasiana.com/musafir/550070cca333111e73510f76/peristiwa-1965-sebuah-tragedi-

kemanusiaan-dalam-sejarah-bangsa, diakses pada 29 September 2020, pukul 16.55 WITA

(2)

mempertanyakan dimakah Tuhan? Mengapa Ia membiarkan semua ini terjadi. Dari sinilah dapat dilihat bahwa Tuhan sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia yang mengatur berdasarkan kemahakuasaan yang dimiliki-Nya.4

Salah satu upaya manusia menjelaskan Tuhan berpengaruh dalam kehidupan manusia itu disebut dengan Teodisi. Secara etimologi, teodisi berasal dari kata Yunani yaitu: theos, artinya Allah dan dike, artinya “keadilan”.Teodisi merupakan upaya rasional untuk membela Tuhan dan menjaga citra Tuhan yang absolut di tengah adanya penderitaan dan keburukan.

Salah satu tokoh filsuf yang berasal dari Jerman bernama Gottfried Wilhelm Von Leibniz memperkenalkan istilah tersebut melalui sebuah karya tulis filsafat klasiknya yang berasal dari bahasa Prancis dilatarbelakangi terhadap karya Pierre Bayle yang menekankan tentang pertentangan rasio dan iman, Leibniz kemudian menentang hal tersebut dengan menulis mengenai, teodisi, kebaikan Tuhan, serta kebebasan manusia maupun asalmula kejahatan.5

Gottfried Wilhelm Von Leibniz kemudian membuat suatu perbedaan tentang arti keburukan dalam tiga bagian yakni: Pertama, keburukan metafisik, misalnya bencana alam.

Keburukan ini sudah ada dengan sendirinya termuat dalam pengertian “alam ciptaan”. Jika alam diciptakan dengan sempurna lalu apakah perbedaan antara ciptaan dengan penciptanya.

Kedua, keburukan fisik, berkaitan dengan keterbatasan hakikat manusia. misalnya, penyakit dan penderitaan. Apabila dilihat dalam konteks yang lebih luas, keburukan seperti ini ada manfaatnya yakni kita lebih berhati-hati dalam menjaga kesehatan namun mungkin juga keburukan ini merupakan hukuman bagi kita agar memperbaiki diri. Ketiga, keburukan moral, ini adalah dosa atau kejahatan dalam arti sesungguhnya atau kejahatan yang merupakan akibat langsung dari kebebasan manusia yang disalahgunakan.6

Tuhan tidak menghendaki kejahatan, tetapi membiarkan manusia untuk bebas membuat pilihan. Karena itu, dosa atau kejahatan akan tetap ada dalam hidup manusia. Tuhan mencintai manusia dan melarang tindakan kejahatan dalam bentuk apapun namun manusia yang dicintai Tuhan adalah manusia bebas yang justru karena itu bisa melakukan apa yang sebenarnya dilarang Tuhan. Inilah posisi dimana jika saja Tuhan memaksakan cinta dan keinginannya dengan cara menghancurkan kebebasan manusia.7Teori Leibniz tentu saja mendapatkan banyak kritik dari filsuf lainnya, hal ini mau menekankan jikalau ia tidak bermaksud membuktikan kalau dunia yang ditempati oleh manusia adalah dunia yang paling

4Vincentius Damar, Kejahatan Dalam Dunia yang Terbaik,(Yogyakarta:Kansius,2016),hal. 11

5Vincentius Damar, Kejahatan Dalam Dunia yang Terbaik,(Yogyakarta:Kansius,2016), hal. 5

6 Vincentius Damar, Kejahatan Dalam Dunia yang Terbaik,(Yogyakarta:Kansius,2016), hal. 6

7Vincentius Damar, Kejahatan Dalam Dunia yang Terbaik,(Yogyakarta:Kansius,2016),hal. 7

(3)

baik dari semua dunia yang mungkin ada. Leibniz menekankan kalau ia hanya mau membela bagaimana rasionalitas terhadap kepercayaan kebaikan serta keadilan Tuhan.8

David Ray Griffin merupakan profesor filsafat agama yang menerapkan pemikiran Alfred North Whitehead dan Charles Hartshorne pada subjek teodisi. David yang merupakan teolog proses, mengkritik kemahakuasaan Allah bahwa pada dasarnya masalah kejahatan merupakan persoalan kaum teis yang percaya pada pemahaman doktrin creatio ex- nihilo atau jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yaitu ciptaan dari ketiadaan sebagai benang utama kemahakuasaan Allah.9

Pemikiran selanjutnya datang dari John Hick yang merupakan seorang teolog yang terkenal dengan dialog antar agama-agama hingga pendapatnya terhadap Pluralisme. John Hick menyatakan bahwa terdapat tiga tradisi utama dalam teodisi yaitu; teodisi Plotinus, teodisi Agustinus, dan terakhir teodisi Ireneus. Menurut John Hick, kejahatan dibagi atas dua kejahatan moral (moral evil) dan kejahatan alam (natural evil). Penderitaan karena kejahatan moral berasal dari manusia seperti pikiran kejam dan ketidakadilan yang meresap ke dalam perbuatan. Kejahatan alam adalah sesuatu yang terlepas sama sekali dari pikiran dan tindakan manusia seperti contoh, bencana alam hingga wabah penyakit. Akan tetapi, sering didapati kerusakan alam yang disebabkan oleh ulah manusia sehingga hal tersebut termasuk pada kejahatan moral.10

Baik dalam bentuk ilmu, filsafat, bahkan tidak terkecuali agama-agama sudah lama menggumuli kejahatan-kejahatan moral. Ketika terjadi peristiwa yang memilukan seperti bencana alam, konflik sosial, agama maupun budaya, para seniman turut serta mengambil bagian untuk menyuarakan pendapatnya melalui sebuah karya seni salah satunya dalam bentuk syair lagu. Penyanyi kebanggaan Indonesia Ebiet G.Ade yang dikenal kerap kali membangkitkan ingatan berbagai tragedi yang terjadi di Indonesia melalui lirik satirenya di setiap lagu yang diciptakannya.

Dalam wawancara dengan salah satu program TV di Indonesia, Ebiet menjelaskan jikalau dia menulis lagu berdasarkan fakta yang terjadi. Lagu Ebiet G. Ade yang sering didengarkan oleh masyarakat di Indonesia lagu pertama berjudul “Berita Kepada Kawan”.

Lagu ini terinspirasi dengan tragedi yang terjadi di Indonesia, ditulis di bulan Juni 1978 setelah bencana gas beracun di dataran tinggi Dieng. Lagu ini memperlihatkan perasaan sedih

8Yonky Karman, “Manusia Dan Penderitaan”, Jurnal Teologi dan Gereja, Vol.11 No.23.2010.hal.5

9Carmia Margaret “Allah Yang Berbela Rasa”, Jurnal Teologi Proses.hal. 42

10 Jusuf Nikolas Anamofa “Masalah Kejahatan Dan Kemahakuasaan Tuhan Dalam Proses Perspektif Teisme Proses”, Jurnal UNIERA Edisi, Vol.1; ISSN 2086-0404. 2013. Hal 63

(4)

Ebiet yang melihat bencana yang terjadi. Banyak orang yang harus kehilangan keluarganya.Melalui lagu ini Ebiet mengajak para pendengarnya untuk merenungkan kembali apa yang telah manusia lakukan selama ini.11

Banyak lirik dalam lagu-lagu yang ditulis oleh Ebiet G.Ade mengandung kata Tuhan, seperti lagu sebelumnya yakni liriknya mengatakan mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Lagu ini mengajak para pendengarnya untuk merenung kembali perilaku selama hidup. Semua yang terjadi karena kehendak Tuhan agar manusia sadar bahwa Tuhanlah yang ada di atas segalanya. Ebiet.G.

Ade mencoba memahami Tuhan lewat lagunya.

Lagu selanjutnya yaitu “Masih Ada Waktu”, yang mengambil makna dalam nuansa Islami yang diketahui lagu ini terinspirasi dari perkataan sufi seorang wanita Rabi’atul’

Adawiyyah yang hidup pada abad ke-8. Pesan yang disampaikan Ebiet G. Ade dalam lagu ini adalah ajakan kepada manusia untuk selalu bersyukur atas kesempatan yang masih diberikan Tuhan untuk hidup di dunia, dan juga merupakan ajakan terhadap manusia untuk terus beribadah kepada sang pencipta. Lagu yang diciptakan tidak hanya tentang alam, atau pemahaman mengenai Tuhan, tetapi ada juga yang bertemakan tentang percintaan.

Lagu selanjutnya yaitu “Elegi Esok Pagi”, mengambarkan suasana yang menyedihkan karena hatinya kosong, walaupun dalam kehidupannya dipenuhi dengan kebahagiaan. Lirik yang terkenal dalam lagu tersebut Ijinkanlah aku kenang sejenak perjalanan Dan biarkan ku mengerti apa yang tersimpan di matamu, menjelaskan kepada pendengar mengenai suasana yang memberikan kesan romantis terhadap seseorang yang akan selalu mengenang setiap perjalanan dalam kehidupannya terutama terhadap yang paling berwarna dalam kehidupannya, akan tetapi seseorang dalam lagu tersebut mendambakan sebuah keabadian.12

Ebiet G.Ade mempuyai lirik-lirik yang sangat kental dengan berbagai macam makna dan nilai spiritual yang tinggi terhadap bangsanya sendiri. Lirik yang ditulis oleh Ebiet G.

Ade adalah puisi sekaligus filosofi. Lagu-lagu Ebiet G. Ade selalu menyisipkan hikmah serta pelajaran yang diambil berdasarkan fakta atau pengalaman yang terjadi.

Sebelumnya sejumlah penulis sudah membahas tentang lagu-lagu Ebiet G. Ade diantaranya Jurnal karya Mardiana Tri Lestari menulis tentang sudut pandangnya terhadap analisis diksi dan stilistika genetis pada lirik lagu Ebiet G. Ade. Berikutnya jurnal Septiara

11Net Tv. Inspirasi Di Balik Lagu Ebiet.G.ade sang Musisi Legendaris- Satu Indonesia.

https://www.youtube.com/watch?v=2eGrpvU0XDs&t=291s diakses pada jumat 17.Juli 2020, pukul 22.58. Wib.

12Hapsari Septiara, “Romantisme dalam Lirik Lagu Ebiet G. Ade”, (Jurnal Bahasa dan Sastra, No. 4 Vol. 4, 2019) hal.5

(5)

Hapsari menulis tentang sudut pandangnya terhadap romantisme dalam beberapa lirik lagu Ebiet G. Ade. Selain itu, tulisan karya Sarwo Indah Ika Wigati membahas mengenai sudut pandangnya terhadap tuturan metaforis dalam lirik lagu-lagu Ebiet G. Ade, dan jurnal berikutnya yang ditulis oleh Darius Ade Putra membahas mengenai analisis dibalik lagu berita kepada kawan berdasarkan sudut pandang teologis spiritualitas Kristen.

Sementara itu sudah cukup banyak tulisan mengenai teodisi. Di antaranya jurnal yang mempertimbangkan teodisi Leibniz yang ditulis oleh Ignasius Ngari menjelaskan adanya penolakan dari beberapa filsuf terhadap argumen teori Leibniz. Berikutnya tulisan mengenai teodisi Islam esoteris yang berlandaskan pada sudut pandang salah satu tokoh terhadap Tuhan dan kejahatan, jurnal ini ditulis oleh Nur Prabowo dari pusat penelitian kemasyarakatan dan kebudayaan LIPI. Berikutnya tulisan dari Maftukhin mengenai teodisi Islam yang mengambil sudut pandang terhadap bencana alam berdasarkan pemikiran teodisi Said Nursi. Jurnal berikutnya mengenai tulisan terhadap kejahatan dalam kritik teodisi Albert Camus yang ditulis oleh Hananta I.Subarkah dan Dr. Siti Murtiningsih.

Berdasarkan latar belakang dalam pendahuluan, penulis merasa tertarik menganalisis lagu-lagu Ebiet G. Ade dari sudut pandang filsafat ketuhanan. Oleh sebab itulah Penulis mengangkat judul Tuhan di Antara Rumput yang Bergoyang: Konsep Teodisi Lagu-lagu Ebiet G.Ade penulis mencoba menggali lebih dalam tentang konsep teodisi yang terlihat menarik dalam muatan beberapa lirik lagu-lagu Ebiet G. Ade yang mengandung konsep teodisi.

1.2 Rumusan Masalah

Berlandaskan pada latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang diangkat oleh penulis berdasarkan latar belakang yaitu, bagaimana konsep teodisi lagu-lagu Ebiet G.Ade ditinjau dari filsafat ketuhanan?

1.3 Tujuan Penelitian

Dari pertanyaan penelitian dalam rumusan masalah di atas, maka tujuan penulis dalam penelitian ini ialah mendeskripsikan konsep teodisi dari lagu-lagu Ebiet G. Ade yang berbicara tentang Tuhan dan penderitaan manusia, berdasarkan gagasan dan pemikiran dari konsep filsafat ketuhanan.

(6)

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian inisecara teoritis, ialah untuk memberi kontribusi pemikiran terhadap kajian filsafat ketuhanan lebih khusus mengenai konsep teodisi. Dengan penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi peneliti yang melakukan penelitian selanjutnya. Penelitian lagu-lagu Ebiet G. Ade memang sudah sering dilakukan dan dibahas dalam bidang akademik maupun praksis. Namun, penelitian ini menggunakan sudut pandang yang berbeda dari sebelumnya dengan menggunakan konsep pemikiran filsafat ketuhanan. Secara praktis, penelitian ini diharapkan memberi manfaat kepada pembaca hingga pendengar lagu Ebiet G. Ade dalam memahami kemahakuasaan Tuhan yang terdapat dalam syair lagu Ebiet G. Ade

1.5 Metode Penelitian

Penelitian ini adalah studi pustaka. Studi ini merupakan serangkaian proses pengumpulan data penelitian, dengan cara mencatat literatur maupun buku buku yang berkaitan dengan topik penelitian. Metode yang digunakan adalah deskriptif analitis.

Penelitian deskriptif analitis mengambil masalah atau memusatkan perhatian kepada masalah-masalah sebagaimana adanya saat penelitian dilaksanakan, hasil penelitian yang kemudian diolah dan dianalisis untuk diambil kesimpulannya.13

Penulis akan menganalisis lirik lagu-laguEbietG.Adesebagai sumber primer. Penulis membatasi lagu-lagu yang akan menjadi objek penelitian, penulis hanya menganalisis empat lagu yaitu lagu Untuk Kita Renungkan, Elegi Esok Pagi, Berita Kepada Kawan dan Masih Ada Waktu. Dari lagu tersebut dalam penelitian ini adalah lirik-lirik lagu Ebiet G. Ade yang mengandung konsep-konsep teodisi. Adapun sumber sekunder, penulis juga menggunakan berbagai buku, jurnal, artikel, internet dan bahan literatur lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini.

1.6 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan terdiri dari lima bagian yaitu, pada bagian pertama berisi latar belakang pendahuluan, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan. Selanjutnya di bagian kedua akan membahas mengenai konsep teodisi berdasarkan tiga pemikiran teori antar lain Gottfried Wilhelm Von Leibniz, David Ray Griffin dan John Hick. Bagian ketiga menggambarkan data dari objek penelitian

13Zed, Mestika. Metode Penelitian Kepustakaan. (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2008), hal. 2-3

(7)

berupa beberpa dari lagu Ebiet yang mengandung konsep teodisi. Kemudian pada bagian keempat berisi analisis hasil penelitian berdasarkan landasan teori yang ditentukan dan di bagian terakhir yaitu bagian kelima berisi kesimpulan dan saran.

(8)

BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Asal Mula Pemahaman serta Konsep Teodisi

Teodisi didirikan pada tahun 341 – 270 SM , umumnya konsep ini dirumuskan oleh Epikuros.14 Teodisi yang digambarkan sangat kompleks dan dilematis bagi pembaca karena Epikuros mencoba menjelaskan bagaimana Tuhan dan kejahatan saling berhubungan. Di samping itu, masalah kejahatan berdiri di antara tiga ide pokok yakni, Tuhan itu mahakuasa, mahabaik dan kejahatan yang ada di dunia terjadi karenanya. Permasalahannya di antara ketiga hal tersebut hanya dua ide pokok yang dapat diakui kebenarannya secara bersamaan dan dapat dikatakan ide pokok, sedangkan yang lain adalah salah. Hal ini mengakibatkan lahirnya kontradiksi di antara ketiga ide pokok tersebut.

Sebagaimana gambaran konsep teodisi itu berkembang dan dapat dipahami, berikut akan dipaparkan beberapa pemikiran para tokoh yang mencoba menjelaskan upaya hubungan masalah kejahatan dan sifat kemahakuasaan Tuhan dalam pengaruh kehidupan umat manusia.

Gottfriend Wilhelm Von Leibniz mencoba menjelaskan konsep teodisi dari segi pemahaman kaum teis, sedangkan David Ray Griffin mencoba menjelaskan konsep teodisi melalui teologi proses, dan John Hick menawarkan konsep pemikiran dari sudut pandang pluralistik dan persoalan klaim kebenaran dalam wacana keagamaan dalam perspektif seorang Kristen.15 Penulis menggunakan konsep ketiga tokoh ini dalam mendasari teori teodisi, agar mampu mewakili konsep teodisi dari sudut pandang filsafat ketuhanan.

14(Cambridge: Cambridge University Press, 2016),74–75. Harus ditekankan bersama bahwa istilah teodisi pertama kali digunakan oleh Leibniz, tetapi pertanyaan semacam itu telah dibahas jauh sebelum Leibniz modern. Epicurus (34 1270 SM) pertama kali membahas pertanyaan semacam itu dengan mengajukan beberapa asumsi tentang kehadiran Tuhan di tengah penderitaan. Pertama, Tuhan itu baik tetapi tidak mahakuasa, sehingga penderitaan tidak dapat disangkal. Kedua, Tuhan itu mahakuasa, tetapi tidak semuanya baik, jadi Tuhan tidak mau menyangkal penderitaan. Ketiga, penderitaan berlanjut karena Tuhan tidak baik dan tidak mahakuasa. Keempat, Tuhan itu mahakuasa dan mahakuasa, tetapi premisnya rentan menghadapi penderitaan.

Lih. Angela Longo, Plotinus dan Epicurus: Materi, Persepsi, Sukacita.

15 Vincentius Damar, Kejahatan Dalam Dunia yang Terbaik,(Yogyakarta:Kansius,2016),hal.13.

(9)

2.2 Kemahatahuan dan Kemahakuasaan Tuhan: Konsep Teodisi Menurut Leibniz Pada buku Theodicy Gottfriend Wilhelm Von Leibniz mengajukan pertanyaan tentang dunia tempat dia tinggal, apakah dunia ini adalah yang paling baik dari dunia-dunia yang lain, serta bagaimana kejahatan dapat dijelaskan dengan pandangan dunia tersebut. Diketahui sosok Leibniz mempuyai tujuan dalam mengutarakan pandangannya terhadap teodisi sebagai paradigma untuk membela kemahabaikan dan kemahakuasaan Tuhan di hadapan realitas penderitaan dan kejahatan di dunia.16

Gottfriend Wilhelm Von Leibniz yang menggandeng beberapa tokoh seperti Spinoza, Malebranche, dan Pierre Bayle kemudian mencoba berdialog di dalamnya untuk menemukan perbandingan juga antara kejahatan dan kemahakuasaan Tuhan dikehidupan manusia17 Dalam pemikiran para tokoh tersebut, Leibniz di satu sisi cenderung menemukan persamaan kemahabaikan dan kemahakuasaan Tuhan di antara para tokoh tersebut akan tetapi di sisi lain Leibniz menemukan pandangan realitas dari kejahatan.18

Dalam buku Theodicy, Leibniz membandingkan beberapa bentuk kepercayaan untuk membentuk konsep ketuhanan yang dipakai olehnya dimulai dengan pertama, paganisme kepercayaan ini terkenal dengan pandangan bersifat takhayul yang merujuk kepada kemampuan dalam ramalan dan tanda-tanda yang akan terjadi dimasa akan datang. Kedua, Zoroasterianisme para pengikut kepercayaan ini percaya ada dua bentuk prinsip yaitu yang jahat dan yang baik, prinsip baik terlahir dari Dewa Oromasdesdan prinsip jahat segala kejahatan berasal dari Dewa Arimanius.19

Selanjutnya Leibniz membahas kepercayaan agama Yahudi yang didirikan oleh Abraham dan Musa. Berbeda dengan pembahasan sebelumnya para penganut Yahudi memiliki landasan kepercayaan terhadap dogma atas iman mereka: “satu Tuhan, sumber segala kebaikan, pencipta segala sesuatu”20 namun, Leibniz berpendapat bahwa agama Yahudi masih belum lengkap karena mengingat agama Yahudi tidak memiliki doktrin mengenai imortalitas jiwa. Untuk melengkapi ajaran dari Musa, Leibniz menjelaskan agama Kristiani dalam bukunya, bahwa agama ini juga adalah dasar konsep ketuhanan yang dipakai

16 Franz Magnis Suseno, Menalar Tuhan,(Yogyakarta:Kansius,2013),hal.217.

17 Vincentius Damar, Kejahatan Dalam Dunia yang Terbaik,(Yogyakarta:Kansius,2016),hal.43. Salah satu karakter terkenal yang terlahir dari pemikiran Leibniz yaitu bersifat dialogal.

18 Vincentius Damar, Kejahatan Dalam Dunia yang Terbaik,(Yogyakarta:Kansius,2016),hal.52.

Selain karakter yang bersifat dialogal, disini Leibniz mencoba menunjukkan sifat karakter harmoninya

19 Vincentius Damar, Kejahatan Dalam Dunia yang Terbaik,(Yogyakarta:Kansius,2016),hal.62.

20 Vincentius Damar, Kejahatan Dalam Dunia yang Terbaik,(Yogyakarta:Kansius,2016),hal.63.

(10)

olehnya. Leibniz menggunakan konsep ketuhanan kristiani yang terkenal dengan iman kepada satu Tuhan sebagai pribadi yang memiliki rasio, kehendak serta kuasa.

Tuhan dalam pemahaman Gottfriend Wilhelm Von Leibniz dipelajari dalam tiga bagian, masing-masing di antaranya mempunyai implikasi tersendiri dimulai dengan yang pertama, kebijaksanaan yang dikaitkannya dengan kebenaran di sini lebih tepatnya lebih menekankan kepada cara berpikir Tuhan yang bersifat rasional. Implikasi dari bagian ini yaitu Tuhan bersifat Mahatahu serta Mahabijaksana. Kemahatahuan Tuhan dalam konsep ini mencangkup kehidupan di masa lalau, masa kini, dan juga masa depan. Dalam sudut pandang ini akan dinilai kontras ketika dikaitkan dengan kebebasan manusia.21

Kedua adalah kehendak, yang dijelaskan Leibniz sebagai dorongan untuk melakukan sesuatu yang di dalamnya terkandung nilai kebaikan. Berdasarkan dengan metode pemahaman skolastik yang dicetus oleh Thomas Aquinas dalam filsafat barat, Leibniz menguraikan adanya dua macam kehendak yaitu kehendak yang antesenden dan kehendak yang konsekuen. Kehendak antesenden lebih berdominan kepada kebaikan diri sendiri tanpa terkait dengan situasi yang mengitarinya dan sebaliknya kehendak konsekuen berfokus kepada perwujudan kebaikan dengan melihat situasi yang mengitarinya. Arti dalam pemahaman ini, mengambil contoh ketika manusia melakukan kebaikan dalam dirinya tanpa terkait dengan situasi konkret mana pun situasi itu dikehendaki secara antesenden oleh Tuhan akan tetapi, jika manusia melakukan kejahatan secara konsekuen Tuhan menghendaki suatu hukuman bagi si pembuat kejahatan tersebut.22 Implikasi dari bagian ini adalah Tuhan memiliki kebebasan yang didasarkan dengan kebijaksanaan ilahi dan mengingat sifat-sifat yang sempurna yang dimiliki-Nya selalu mengarah kepada kebaikan. Oleh sebab itulah Tuhan disebut sebagai yang Mahabaik.23

Ketiga, adalah kuasa dengan kata lain kemampuan untuk mengadakan yang dikehendaki. Gottfriend Wilhelm Von Leibniz mengaitkan bagian ini dengan ada ( being )24. Secara umum, kemahakuasaan ini dipahami sebagai tidak adanya batasan bagi kuasa si subjek ( Tuhan ). Leibniz bependapat bahwa adanya dua faktor internal yang mendukung:

keniscayaan moral (moral necessity) dan metafisis (absolute or metaphysical necessity). cara kerja bagian ini adalah melalui keniscayaan moral yang diturunkan dari kemahabaikan-Nya, mendorong Tuhan untuk mengarahkan kuasa-Nya hanya pada dua sudut pandang baik dan

21 Vincentius Damar, Kejahatan Dalam Dunia yang Terbaik,(Yogyakarta:Kansius,2016),hal.65.

22 Thomas Aquinas, summa theologica, I, q.19,a 6,(ad I). berdasarkan konsep hukuman mati.

23 Vincentius Damar, Kejahatan Dalam Dunia yang Terbaik,(Yogyakarta:Kansius,2016),hal.66.

24 Leibniz, Essay on The Justice of God, hal 7.

(11)

terbaik didasari pada pandangan ilahi-Nya.25 sedangkan keniscayaan metafisis, Tuhan menerapkan kuasa-Nya berdasarkan pada prinsip kontradiktif.26

Dari ketiga bagian ini Leibniz mengaitkan bahwa kemahatahuan serta kemahabaikan dan kemahakuasaan yang ditunjukkan Tuhan itu semua berasal dari keniscayaan hakikat-Nya yang tak terbatas. Sifat-sifat itu juga bukan karena Tuhan yang kehendaki tetapi karena hal itu merupakan atribut yang secara niscaya identik dengan Diri-Nya.27 Kesempurnaan Tuhan membuat ketiga bagian yang dijelaskan yang meskipun berbeda dan memiliki sudut pandang dengan kapasitasnya masing-masing hal ini tetap merupakan satu kesatuan dalam Diri Tuhan.

Leibniz mengatakan bahwa tidak ada dasar yang menjelaskan bahwa ada lebih dari satu (Tuhan) inilah yang menjadi bukti hanya ada satu Tuhan dengan kesempurnaan-Nya dan bahwa segala sesuatu berasal dari Nya.28

2.3 Mendialogkan Konsep Teologi ProsesMenurut Griffin & Konsep Teodisi Hick David Ray Griffin yang merupakan seorang teolog proses menulis pandangannya bahwa pada dasarnya suatu masalah kejahatan merupakan persoalan kaum teis yang percaya pada doktrin creation ex-nihilo sebagai simpul utama kemahakuasaan Tuhan.29Bagi pengikut teologi proses, konsep kemahakuasaan Tuhan ini tidak dikenal. Baik Tuhan maupun entitas nyata lainnya tidak memiliki kekuatan otonom untuk menentukan dirinya sendiri. Tuhan disebut pencipta dalam posisinya secara persuasif mendorong entitas nyata lainnya untuk berkembang selaras dengan seluruh tatanan, kesatuan, sekaligus memberikan batasan-batasan tertentuagar keharmonisan tidak lepas kendali.

David Ray Griffin menyatakan kemahakuasaan Tuhan dalam teolog proses adalah ketika Allah secara persuasif mengarahkan dan memberi batasan terhadap relasi dan aktualisasi setiap entitas.30 Kuasa yang Tuhan miliki adalah kuasa untuk dapat mempengaruhi ciptaan-Nya. Allah bukanlah Tuhan yang ingin menguasai dengan cara menempatkan segala sesuatu. Sudut pandang David terhadap konsep teodisi, dibandingkannya dengan sudut pandang teologi proses yang berusaha menjelaskan Allah dengan sisi yang logis.

25 Leibniz, Essay on The Justice of God, hal 230.

26 Leibniz, Essay on The Justice of God, hal 282.

27 Leibniz, Essay on The Justice of God, hal 182.

28 Leibniz, Essay on The Justice of God, hal 7.

29 Emanuel Bria, Jika ada Tuhan Mengapa ada Kejahatan: Percikan Filsafat Whitehead (Yogyakarta:

Kanisius, 2008)hal. 63

30Carmia Margaret, Allah Yang Berbela Rasa: TinjauanTerhadapKonsepTeodise Dalam Teologi hal.44

(12)

Sementara itu, argumentasi terkemuka dari Filsuf Britania John Hick tidak dapat dilepaskan apabila membahas teodisi. Apabila Griffin mengemukakan Tuhan dan kejahatan sebagai proses persuasif yang membiarkan manusia untuk memilih dan berkembang karena pilihannya. Maka berbeda dengan Hick yang mengemukakan bahwa terdapat tiga tradisi utama dalam teodisi. Tradisi yang dimaksud ialah, teodisi Plotinus, teodisi Agustinus, dan teodisi Ireneus.31

Dari ketiga tradisi ini, Hick mengambil penyimpulan berupa pertanyaan, apakahduniaini benar-benarkaryadaripencipta yang Maha Penyayang? John Hick berargumen jika Tuhan betul-betul sang Maha penyayang dan Mahakuasa, seharusnya Tuhan mampu menghilangkan bencana alam dan kesengsaraan pada umat manusia. Kemudian ia mengakhiri dengan argumentasi bahwa penderitaan yang terjadi, berakar dari kejahatan etika maupun moral yang berasal dari pilihan manusia, sebagai contoh pikiran yang kejam dan ketidakadilan, kemudian teraplikasi dalam perbuatan manusia yang menimbulkan kejahatan.32

31 Robert Ackermann, Agama Sebagai Kritik: Analisis Eksistensi Agama-Agama Besar (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2013), hal. 16-18

32 Gernaida Pakpahan, Teodisi Allah dalam Hikmat terhadap Penderitaan Orang Benar (Jurnal Manna Rafflesia, Vol 8, No. 2, 2022), hal. 555

(13)

BAB III

HASIL PENELITIAN

3.1 Latar Belakang Penulis dan Konteks Pembuatan Lagu

Abid Ghoffar bin Aboe Dja'far atau lebih dikenal sebagaiEbiet G Ade merupakan penyanyi sekaligus pencipta lagu. Dalam penelitian, ini terdapat beberapa lagunya yang bermakna atau mengandung teodisi yang menjadi acuan penulis. Ebiet lahir di Wanadadi, Banjarnegara Jawa Tengah pada 21 April 1954. Oleh karena lagu-lagunya yang memotret kehidupan bangsa Indonesia mulai sekitar tahun 1970an (hingga saat ini), maka ia dikenal di kancah nasional. Ebiet dikenal lewat lagu tentang cinta, keluarga, religius dan bencana. Hal ini menunjukkan beragamnya jenis lagu yang dinyanyikannya, disamping itu terdapat banyak lagu Ebiet yang populer.33

Sebagai musisi sekaligus penyair, ia mengemukakan bahwa dirinya memiliki kecintaan pada cerita tentang alam, religius maupun sosial-politik. Berdasarkan fakta demikian, Ebiet banyak membahas tentang alam sebelum ia menghasilkan lagu yang berjudul

“Berita kepada Kawan”. Lagu ini menjadi yang pertama untuk dibahas dalam bab ini, yakni lagu yang mengisahkan tanda ungkapan bela rasa terhadap meletusnya kawah beracun di daerah Dieng. Kawah Sinila meletus disebabkan oleh gempa yang terjadi sebelumnya, setidaknya menelan 149 korban jiwa karena peristiwa ini.34

Lagu “Berita kepada Kawan” dirilis pada tahun 1979 pada album Camelia II.

Tentunya dilandasi dari peristiwa gempa dan disusul gunung meletus di Dieng. Berdasarkan fakta demikian, kita dapat melihat lagu ini mengantarkan pendengar untuk merefleksikan kembali tindakan manusia terhadap alam. Tak hanya refleksi pada alam, melainkan kita sebagai pendengar disuguhkan dengan kata-kata dalam lagu tersebut, yang menekankan pada keengganan Tuhan dalam melihat dosa manusia.35 Lirik ini mengarahkan kita untuk memahami bahwa Tuhan sebagai yang mahakuasa berpengaruh atas manusia serta hal-hal (bencana) yang terjadi pada manusia.

33 Darius Putra, Aku, Tuhan dan Alam: Analisis Teologi Spiritualitas Kristen di Balik Lagu “Berita Kepada Kawan” karya Ebiet G Ade (Jurnal Tumou Tou: Volume V No.1, 2018) hal. 61

34https://hot.detik.com/music/d-3547397/kawah-dieng-dan-cerita-di-balik-lagu-berita-kepada-kawan- ebiet-g-ade diakses pada 01 Noveber 2022

35 Potongan lagu “Berita kepada Kawan” yang bersinggungan dengan Tuhan, manusia dan alam.

(14)

Lirik lagu yang mengandung unsur teodisi tidak hanya “Berita kepada Kawan”, melainkan ada pula lagu yang berjudul “Masih ada Waktu”. Lagu ini mengisahkan tentang manusia yang perlu melakukan perenuangan atas kesempatan yang masih disediakan Tuhan untuk dijalani. Tidak sebatas merenungkan, melainkan perlu bersyukur karena kehendak Tuhan masih dapat menjalani hidup. Ungkapan syukur yang dimaksud dalam lagu ini, ialah perbuatan baik kepada sesama maupun bagi semua makhluk ciptaan-Nya.36

Konteks atau latar belakang ditulisnya lagu ini (Masih ada Waktu), ialah hendak mengisahkan penekanan Ebiet pada makna dalam nuansa Islam. Dapat diketahui lagu ini terinspirasi dari perkataan seorang sufi wanita Rabi’atul’ Adawiyyah yang hidup pada abad ke-8. Pesan yang disampaikan Ebiet G. Ade dalam lagu ini adalah ajakan kepada manusia untuk selalu bersyukur atas kesempatan yang masih diberikan Tuhan.37 Sama halnya dengan lagu sebelumnya, yakni “berita kepada kawan”, lagu ini pun mengandung unsur teodisi di dalamnya.

Lagu selanjutnya yang memiliki unsur teodisi ialah pada lagu Ebiet yang berjudul

“Elegi Esok Pagi). Lagu ini tentunya serupa dengan beberapa judul sebelumnya, yakni memiliki unsur teodisi dalam lirik maupun maknanya. Konteks lagu tersebut, berasal dari pengalaman pribadi Ebiet dalam dalam merenungkan sebuah cinta kasih yang mengharapkan keabadian. Terdapat makna filosofi dalam penciptaan lagu ini, ialah ketika hendak menceritakan perjalanan hidup mulai dari penderitaan cinta hingga menuju kebahagiaan yang abadi dalam hidup seorang manusia.38

Dari latar balakang maupun konteks diciptakannya lagu-lagu di atas, dapat terlihat bahwa lagu ini mangandung makna teodisi. Untuk lebih lengkap dan jelas, penulis akan mengmukakan hasil pustaka yang penulis temui. Tentunya lirik-lirik dari lagu-lagu di atas yang secara konkret menekankan unsur teodisinya.

36 Berita Kompas, Masih ada Waktu Karya Ebiet G Ade.

https://www.kompasiana.com/teotarigan/5f80059b8ede480e65015262/masih-ada-waktu-meminjam-catatan- pada-ilalang-dan-bintang-gemintang

37 Syifa Hayati, Pesan Dakwah dalam Lirik Lagu Ebiet G. Ade (Jurnal Tabligh: Vol 1 No.1, 2017), hal.

113

38 Hapsari Septiara, “Romantisme dalam Lirik Lagu Ebiet G. Ade”, (Jurnal Bahasa dan Sastra, No. 4 Vol. 4, 2019) hal.5

(15)

3.2 Teodisi dalam Lagu Ebiet G Ade: Kumpulan Lirik yang Bermakna Teodisi Pada prinsipnya lagu-lagu Ebiet menggambarkan caranya untuk memahami Tuhan, oleh karana itu begitu banyak lagu Ebiet yang mengandung Teodisi. Tetapi dalam peneltiian ini, sesuai pembatasan penelitian di bab pertama, maka yang digunakan sebagai konteks penelitian ialah pada lagu berjudul “Berita Kepada Kawan”, “Masih Ada Waktu”, dan “Elegi Esok Pagi”. Dari beberapa lagu ini, penulis akan memberikan penekanan pada lirik yang mengandung makna teodisi.

Pertama, lagu “Berita kepada Kawan”. Dalam hasil temuan penulis atas beberapa lirik maupun makna dalam lagu ini, terdapat sebuah bagian yang terdapat unsur teodisi dalam kalimat lagu tersebut. Salah satu lirik yang mengandung teodisi mengatakan “mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa”. Lirik ini jelas mengantarkan kita kepada realita penderitaan yang terjadi, yakni bencana. Selain bencana yang menjadi realita, Ebiet mempertanyakan mungkinkah Tuhan bosan melihat perilaku manusia? Hal ini menunjukkan bahwa penderitaan yang dialami manusia, akan selalu dikaitkan dengan sosok transenden yakni Tuhan.

Proses Ebiet dalam lagu ini memang berlandaskan pada realita gempa sesuai latar belakang konteks di atas. Lebih daripada itu, terdapat kata ataupun sosok Tuhan yang dituliskan dalam lirik lagu ini. Tentunya tidak sekedar dituliskan begitu saja, melainkan memang Ebiet tertarik dengan makna filosofis serta kaitannya pembicaraan ketuhanan.39 Kesenangan pada tema-tema tersebut, mengarahkan Ebiet agar selalu menulis dan mampu membuat yang memiliki kandungan berbagai makna, baik filosofis, sosial, lingkungan, maupun hingga pada ranah-ranah teodisi.

Kedua, lagu “Masih ada Waktu”. Pada hasil temuan penulis atas beberapa lirik maupun makna lagu ini, terdapat sebuah bagian yang mengandung unsur teodisi dalam lirik atau kalimat yang terdapat pada lagu tersebut. Salah satu liriknya ialah Kita mesti beryukur bahwa kita masih diberi waktu. Entah sampai kapan tak ada yang bakal dapat menghitung.

Hanya atas kasih-Nya hanya atas kehendak-Nya kita masih bertemu matahari.40Lirik ini mengarahkan pendengar untuk merenungkan, bahwa hidup di dunia adalah atas anugerah-

39 Darius Putra, Aku, Tuhan dan Alam: Analisis Teologi Spiritualitas Kristen di Balik Lagu “Berita Kepada Kawan” karya Ebiet G Ade (Jurnal Tumou Tou: Volume V No.1, 2018) hal. 62

40 Berita Kompas, Masih ada Waktu Karya Ebiet G Ade.

https://www.kompasiana.com/teotarigan/5f80059b8ede480e65015262/masih-ada-waktu-meminjam-catatan- pada-ilalang-dan-bintang-gemintang

(16)

Nya. Oleh sebab itu, kita harus bersyukur masih memiliki waktu untuk hidup sebagai manusia di dunia ini.

Pencarian makna mendalam, serta merenungkan kehidupan di dunia memang menjadi poin utama penulisan lagu ini. Secara khusus pada pemaknaan ucapan syukur untuk kehidupan di dunia yang penuh penderitaan sekaligus kebahagiaan. Lirik selanjutnya lebih memberi penekanan yakni pada kalimat semuanya menggeleng semuanya terdiam. Semuanya menjawab tak mengerti. Yang terbaik hanyalah segera bersujud. Hal ini mengibaratkan bahwa setiap orang yang tidak mengenal Tuhan, sebaiknya segera berdoa kepadanya.

Tentunya bermakna lebih dalam pada bagian bersujud, oleh karena kehidupan manusia yang memiliki batas harus sadar atas sosok ilahi yang menciptakannya. Hal ini menekankan pada kemahakuasaan Tuhan yang perlu disembah serta mengucap syukur pada-Nya, daripada hidup dalam berbagai kejahatan.

Ketiga, lagu “Elegi Esok Pagi”. Pada hasil penelusuran pustaka yang dilakukan penulis, ada beberapa lirik dalam lagu ini yang mengandung unsur teodisi pada sebuah bagian. Salah satu liriknya yakni Ijinkanlah aku kenang sejenak perjalanan Dan biarkan ku mengerti apa yang tersimpan di matamu. Lirik inimenjelaskan kepada pendengar mengenai suasana yang memberikan kesan romantis terhadap seseorang yang akan selalu mengenang perjalanan hidupnya.41

Perlu digaris bawahi, setiap perjalanan dalam kehidupan yang dimaksud ialah pada bagian yang paling berwarna dalam kehidupannya, namun di sisi lain seseorang dalam lagu tersebut mendambakan sebuah keabadian. Mendambakan hidup abadi dalam cinta kasih memang merupakan harapan setiap orang, tetapi hal ini hanya sebatas angan-angan belaka.

Tentunya hanya Tuhan yang Mahakuasa mampu memberikan hal tersebut setelah kematian.

Lirik ini menjadikan manusia untuk terus menuju pada cinta yang sejati, oleh karena apabila menemukannya manusia akan memperoleh semuanya.42

Argumentasi dalam lagu ini memang sangat mendalam. Terlebih khusus mengenai cinta sejati. Prinsip utama memang mengarahkan pendengar untuk terhipnotis dengan lirik yang begitu dalam. Pesan terakhir yang menarik dalam lagu ini ialah, mengarahkan

41 Hapsari Septiara, “Romantisme dalam Lirik Lagu Ebiet G. Ade”, (Jurnal Bahasa dan Sastra, No. 4 Vol. 4, 2019) hal. 5

42 Hapsari Septiara, “Romantisme dalam Lirik Lagu Ebiet G. Ade”. hal. 6-7

(17)

pendengar untuk menekan setiap kerinduan kepada apapun. Oleh karena setiap kerinduan belum tentu akan terbalas sesuai keinginan manusia. Ebiet meringkasnya dalam sebuah lirik, barangkali di tengah telaga ada tersisa butiran cinta dan semoga kerinduan ini bukan jadi mimpi di atas mimpi.

(18)

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Analisis Teodisi Lagu “Berita Kepada Kawan”: Mungkinkah Tuhan Mulai Bosan dengan Perilaku Manusia?

Poin ini akan berfokus pada analisis lagu “Berita kepada Kawan”, serta menyelisik mendalam lagu tersebut dengan beberapa pandangan teodisi beberapa tokoh filsafat. Menurut hasil penelitian yang ditelusuri penulis, lagu Ebiet G Ade selalu menghantarkan pendengar menuju kepada kesadaran penuh atas perilaku selama hidup. Tentunya perilaku maupun sikap yang diluar kehendak-Nya.

Sikap hidup yang kurang sesuai kehendak Tuhan, menjadi salah satu dasar lagu ini dinyanyikan Ebiet. Tentunya dinyanyikan berdasarkan konteks bencana, pada bagian mempertanyakan posisi Tuhan. Apakah enggan? Ataukah bosan dengan sikap manusia?

Jawaban secara teologis tentunya Tuhan tidak akan meninggalkan anak-Nya. Tetapi pada bagian Teodisi Leibniz melihat hal ini dalam tiga bagian. Pertama, Tuhan memiliki rasionalitas. Kedua, Tuhan memiliki kehendak. Ketiga, kekuasaan Tuhan atas segala hal.43

Makna lagu “Berita kepada Kawan” yang mengandung unsur teodisi, tentu memberi titik tekan pada penderitaan manusia, serta melibatkan tindakan Tuhan di dalamnya. Hal ini sejalan dengan jawaban teodisi Leibniz yang pertama, yakni menegaskan adanya tindakan Tuhan atas perilaku manusia. Dalam hal ini kita dapat melihat bahwa, keniscayaan sisi Tuhan yang memiliki rasionalitas. Pada akhirnya, manusia memiliki sosok transenden yang mahatahu. Kemahatahuan Tuhan dalam konsep ini mencakup kehidupan di masa lalu, masa kini, dan juga masa depan. Tuhan rasional sudah pasti bijaksana dalam pengambilan keputusan untuk manusia.44 Oleh karenanya, tindakan Tuhan memang membatasi manusia sebab tidak mungkin sesuatu terjadi diluar kehendak-Nya. Sebagai contoh bencana yang hadir di tengah manusia sesuai lagu ini, menekankan bahwa Tuhan lebih dahulu mengetahuinya. Meskipun Ia mengetahui adanya bencana secara rasional, tetapi hal tersebut tidak dapat dihindari, oleh karena bagian dari rancangan-Nya.

43 Leibniz, Essay on The Justice of God, hal 7.

44 Vincentius Damar, Kejahatan Dalam Dunia yang Terbaik,(Yogyakarta:Kansius,2016),hal.65.

(19)

Tuhan sebagai sosok rasional menjadi bagian penting dari tema Teodisi. Adapula argumentasi teodisi yang mengemukakan bahwa Tuhan memiliki kehendak, yang berarti ketika manusia melakukan kebaikan dalam dirinya tanpa terkait dengan situasi konkret mana pun situasi itu dikehendaki secara antesenden oleh Tuhan akan tetapi, jika manusia melakukan kejahatan secara konsekuen Tuhan menghendaki suatu hukuman bagi si pembuat kejahatan tersebut.45 Secara jelas implikasi dari hal ini ialah Tuhan merupakan sosok yang Mahabaik. Dari argumentasi kedua ini, sesuai dengan lagu Ebiet yang menekankan pada pertanyaan “Mungkinkah Tuhan mulai bosan?”

Lirik yang ditulis oleh Ebiet tidak sekali-kali langsung menyatakan Tuhan bosan, melainkan dalam tataran mempertanyakan. Oleh karena pada prinsipnya, pencipta lagu sesuai latar belakang penulisan lagu ini, ia merupakan orang percaya. Tentunya kepercayaan kepada Tuhan tertuang dalam lirik ini, sehingga tidak langsung menekankan bahwa Tuhan bosan, maka bencana hadir. Melainkan bencana di hadirkan, oleh karena kebaikan-Nya. Sifat Tuhan yang baik ditampilkan pada lagu ini. Sesuai dengan fakta terjadi bencana, lagu ini pun ditulis, tetapi posisi Tuhan yang Mahabaik ditonjolkan. Oleh karena bukan ulah Tuhan, melainkan ulah manusia sendiri sehingga bencana terjadi. Selain ulah manusia, Ebiet menggambarkan bahwa sudah seharusnya manusia ditegur oleh suatu hal, agar menjadi sadar bahwa Tuhan satu-satunya pegangan yang mahabaik.

Selain kedua argumentasi Tuhan yang rasional dan Ia sebagai sosok yang memiliki kehendak baik, selanjutnya berakhir pada posisi bahwa Tuhan secara absolut mengadakan sesuatu yang Ia kehendaki. Secara jelas argumentasi ini menekankan pada dua posisi, yakni Tuhan membuat peristiwa yang terjadi pada manusia secara baik dan terbaik. Kedua posisi ini menjadi penting, oleh karena dalam bencana apakah terletak pada posisi baik atau posisi terbaik. Bagi Leibniz, posisi baik apabila sesuai dengan kehendak-Nya, sedangkan posisi terbaik sesuai dengan kehendak Tuhan dan Manusia.46Apabila dilihat dari pandangan ini, terlihat bahwa konteks “Berita kepada Kawan” terletak pada posisi baik. Hal ini di landasi pada berbagai fakta bahwa terdapatnya korban dalam bencana. Tentunya hal ini tidak sesuai dengan kehendak manusia melainkan kehendak-Nya. Pada akhirnya, apapun peristiwa di dunia ini sudah pasti bukan karena kebosanan sang ilahi, melainkan sesuai rasionalitas, kuasa-Nya, serta kehendak baik dari Tuhan.

45 Thomas Aquinas, summa theologica, I, q.19,a 6,(ad I). berdasarkan konsep hukuman mati.

46 Leibniz, Essay on The Justice of God, hal 282.

(20)

4.2 Bersyukur Kepada Sang Mahakuasa: Teodisi dalam Lagu “Masih Ada Waktu”

Poin ini tentunya akan berfokus pada lagu Ebiet “Masih ada Waktu”, yang memberikan penekanan terhadap ungkapan syukur. Beberapa lirik yang mengandung arti Tuhan, manusia dan penderitaan akan didialogkan dengan beberapa pandangan teodisi beberapa tokoh filsafat. Berlandaskan pada hasil penelusuran penulis di atas, lagu ini mengisahkan kehidupan manusia yang memiliki batas. Dengan batasan dalam kehidupan, maka manusia harus menyadari sosok ilahi yang menciptakannya. Hal ini menekankan pada kemahakuasaan Tuhan yang perlu disembah serta selalu mengucap syukur kepada-Nya, daripada terjebak dalam berbagai kejahatan dunia.

Makna teodisi dalam lagu ini sesuai dengan teori serta konsep Teodisi John Hick. Ia mengemukakan bahwa penderitaan yang terjadi, berakar dari kejahatan etika maupun moral yang berasal dari pilihan manusia, sebagai contoh pikiran yang kejam dan ketidakadilan, kemudian teraplikasi dalam perbuatan manusia yang menimbulkan kejahatan.47 Sejalan pada posisi bahwa, manusia pada dirinya selalu terjebak pada kejahatan. Setiap kejahatan yang ia perbuat, dengan sendirinya melupakan bahwa kehidupan di dunia memiliki batas. Oleh karenanya, berbagai penderitaan akan menghampiri manusia akibat perbuatannya sendiri.

Konsep Hick serta makna lagu Ebiet, secara tegas sangat relevan. Sehingga menyimpulkan bahwa lagu Ebiet “Masih ada Waktu” memang berdasar pada konsep teodisi.

Oleh karenanya, setiap perilaku kejahatan yang dilakukan manusia menjadi pisau bermata dua. Bagi orang lain, serta kembali bagi dirinya lewat penderitaan. Posisi Tuhan dalam konsep teodisi ini jelas untuk memberikan manusia pilihan sebagai freeman. Tentunya kebebasan berakhir pada tanggung jawab, yang akan menentukan kualitas diri manusia di hadapan yang Mahakuasa.48 Oleh karenanya lagu ini hendak mengarahkan manusia, untuk berhenti pada putaran kejahatan-penderitaan-kejahatan-penderitaan. Hal ini tidak akan selesai, maka harus bersujud dan mengucap syukur kepada Tuhan sesuai lirik lagu ini.

47 Emanuel Bria, Jika ada Tuhan Mengapa ada Kejahatan, 73

48 Gernaida Pakpahan, Teodisi Allah dalam Hikmat terhadap Penderitaan Orang Benar (Jurnal Manna Rafflesia, Vol 8, No. 2, 2022), hal. 555

(21)

4.3 Tawaran Keabadian Nihil vs Menuju Cinta yang Sejati

Bagian ini akan penulis fokuskan pada lagu terakhir yang menjadi batasan dalam penelitian ini, yakni lagu Ebiet yang berjudul “Elegi Esok Pagi”. Sesuai konteks penulisan lagu ini, serta hasil peneltian di atas dapat dilihat bahwa lagu ini mengarahkan pada cinta sejati. Namun terdapat kisah seseorang dalam lagu ini mendambakan sebuah keabadian.

Mendambakan hidup abadi dalam cinta kasih memang merupakan harapan setiap orang, tetapi hal ini hanya sebatas angan-angan belaka. Tentunya hanya Tuhan yang Mahakuasa mampu memberikan hal tersebut setelah kematian.

Senada dengan posisi ketiga dalam teori Teodisi Leibniz, yang menekankan bahwa terdapat dua posisi Kemahakuasaan Tuhan, yakni baik dan terbaik. Bagi Leibniz, posisi baik apabila sesuai dengan kehendak Tuhan, sedangkan posisi terbaik sesuai dengan kehendak Tuhan dan nalar Manusia.49 Paradigma teodisi Leibniz, senada atau relevan dengan konteks atau latar belakang lagu ini. Yakni pada posisi pertama lagu ini, terdapat seseorang yang mendapat tawaran dunia untuk mencari cinta abadi, dengan cara memiliki pasangan.

Sedangkan posisi kedua, menyerahkan kepada sang Mahakuasa untuk menentukan cinta sejati setelah kematian, daripada terjabak pada bayang-bayang dunia yang tidak mungkin terjadi.50

Pada posisi lagu ini, manusia hendak memiliki keabadian demi mendapatkan cinta sejati selamanya. Disamping itu cinta sejati tersebut hanya dimungkinkan lewat kekuasaan Tuhan, oleh karena hidup manusia terbatas dan jauh dari keabadian. Akhirnya makna teodisi dapat hadir secara spesifik dalam argumentasi ini, bahwa kehendak Tuhan yang terbaik menjadi arah utama bagi lagu “Élegi Esok Pagi”. Sikap untuk menemukan cinta di dunia memang dimungkinkan bagi setiap insan, agar mampu hidup lebih baik di dunia. Namun dalam posisi yang sama, yang utama ialah menemukan cinta sejati bersama Tuhan di keabadian, lewat kemahakuasaan-Nya.

49 Leibniz, Essay on The Justice of God, hal 282.

50 Makna sesuai Lirik Lagu Elegi Esok Pagi, barangkali di tengah telaga ada tersisa butiran cinta dan semoga kerinduan ini bukan jadi mimpi di atas mimpi & Ijinkanlah aku kenang sejenak perjalanan Dan biarkan ku mengerti apa yang tersimpan di matamu..

(22)

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian serta pembahasan di atas, menunjukkan bahwa lagu-lagu Ebiet mengandung unsur teodisi. Dapat dilihat bahwa penyair serta musisi mampu memberikan perspektif teodisi bagi pendengarnya. Lagu “Berita kepada Kawan”, “Masih ada Waktu, dan “Elegi Esok Pagi” maknanya sejalan dengan gagasan dan pemikiran filsafat ketuhanan secara khusus perspektif teodisi. Oleh karenanya, dapat disimpulkan bahwa Tuhan hadir lewat penderitaan manusia. Kehadiran Tuhan tersebut, tentunya menunjukkan sifat logis, kemahakuasaan, serta kemahabaikkan-Nya di tengah-tengah kehidupan manusia.

Ketiga sikap Tuhan dalam penderitaan manusia, tidak hanya terlihat dalam doa maupun peribadahan saja. Lewat penelitian ini, sangat konkret ditunjukkan bahwa tindakan Tuhan atas perbuatan manusai dapat ditelisik lewat lagu. Apabila pendengar mampu memahami lirik Ebiet secara mendalam, maka sisi teodisi dalam setiap lirik dalam lagunya dapat nampak secara jelas. Pada akhirnya, hal ini yang menjadi titik tekan bahwa lirik dalam tiga lagu ebiet yang diambil dalam tulisan ini, mengantar manusia memahami Tuhan lewat penderitaan yang di alami.

5.2 Saran

Saran penulis secara khusus ditujukkan kepada peneliti selanjutnya yang tertarik dalam hal konsep teodisi. Bahwa pada setiap lagu yang memiliki unsur Tuhan, manusia dan penderitaan perlu dikaji dalam ranah teodisi. Terlepas pada lagu, peneliti selanjutnya dapat melihat tidak sebatas lagu, melainkan cerpen, puisi, bahkan novel terkenal. Tentunya untuk diteliti secara mendalam dengan paradigma teodisi. Penulis hanya memiliki batasan pada tiga lagu yang dinyanyikan maupun ditulis oleh Ebiet G. Ade. Ke depannya, banyak peneliti dapat meneropong paradigma teodisi secara luas, yakni pada lagu, cerpen, novel maupun puisi terkenal yang mengisahkan tentang Tuhan dan penderitaan manusia.

Referensi

Dokumen terkait

- SAHAM SEBAGAIMANA DIMAKSUD HARUS DIMILIKI OLEH PALING SEDIKIT 300 PIHAK & MASING2 PIHAK HANYA BOLEH MEMILIKI SAHAM KURANG DARI 5% DARI SAHAM DISETOR SERTA HARUS DIPENUHI

Secara garis besar komponen-komponen pembelajaran memiliki banyak komponen, diantaranya ada tujuan pembelajaran sebagai titik tolak untuk mencapai suatu pembelajaran, guru

Kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang pemenuhannya setelah kebutuhan primer terpenuhi, namun tetap harus dipenuhi, agar kehidupan manusia berjalan dengan baik. Contoh: pariwisata

untuk liabilitas keuangan non-derivatif dengan periode pembayaran yang disepakati Grup. Tabel telah dibuat berdasarkan arus kas yang didiskontokan dari liabilitas

Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi penerimaan atau pembayaran kas di masa datang (mencakup seluruh komisi dan bentuk

Emisi surat utang korporasi di pasar domestik selama Januari 2018 mencapai Rp7,67 triliun atau naik 2,84 kali dibandingkan dengan Januari 2018, berdasarkan data oleh

Tinea pedis adalah infeksi dermatofita pada kaki terutama mengenai sela jari kaki dan telapak kaki, dengan lesi terdiri dari beberapa tipe, bervariasi dari ringan, kronis

algoritma kompresi LZW akan membentuk dictionary selama proses kompresinya belangsung kemudian setelah selesai maka dictionary tersebut tidak ikut disimpan dalam file yang