BAB I PENDAHULUAN
Bab ini terbagi atas beberapa sub-bab, dimulai dari latar belakang masalah yang berisi mengenai apa yang melatarbelakangi permasalahan. Dalam latar belakang masalah peneliti membahas tentang perpajakan secara umum, faktor-faktor penghindaran pajak, dan penelitian terdahulu. Selanjutnya adalah identifikasi masalah, yang berisi pengidentifikasian masalah yang berasal dari latar belakang masalah.
Bagian selanjutnya yaitu batasan masalah dan batasan penelitian dimana dibahas pembatasan topik-topik penelitian apa saja yang akan diteliti terkait identifikasi masalah sebelumnya. Bagian Keempat adalah rumusan masalah, yaitu perumusan permasalahan dari penelitian. Sebagai pembahasan terakhir adalah tujuan dan manfaat penelitian yang mengungkapkan alasan dan tujuan penelitian ini dilakukan.
A. Latar Belakang
Tax planning adalah Tindakan yang diambil oleh perusahaan untuk merencanakan
meminimalisir beban pajak dari laba perusahaan dengan menekan jumlah pajak guna memperoleh laba dan likuiditas yang diinginkan oleh manajemen. Tax planning juga harus tetap mengikuti peraturan undang-undang yang berlaku agar tidak melakukan pelanggaran.
Perusahaan harus dapat memanfaatkan dengan baik terhadap celah-celah dalam aturan pajak yang ada. Adapun sisi baik atau buruknya dalam melakukan tax planning, sisi baiknya berdampak kepada perusahaan dan sisi buruk nya berdampak kepada pemerintah. Bagi pemerintah bagi perusahaan yang melakukan tax planning mengakibatkan penerimaan Negara
berkurang. Aapabila penerimaan Negara berkurang, maka pembangunan nasional juga akan terganggu karena APBN sebesar 80% didanai oleh sector pajak (Serli, 2021).
Pada saat pandemic Covid-19 ini pemerintah telah menetapkan UU Cipta kerja, yakni di aturan tentang pajak dalam Undang-Undang nomor 11 Tahun 2020. Terdapat penurunan tarif pajak penghasilan badan wajib pajak sebersar 3%, dengan demikian tarif pajak penghasilan badan wajib pajak menjadi 22%. Ada beberapa aturan yang dirubah yakni, penghapusan dividen dalam negeri dan penyesuaian tarif PPh pasal 26. Karena adanya perubahan (penurunan) tarif PPh badan dalam UU Cipta kerja tahun 2020, hal ini dapat menjadi sebuah peluang kepada perusahaan untuk menjalankan tax planning. Dengan adanya UU Cipta kerja ini pemerintah berharap kepada wajib pajak akan membayar pajak sesuai dengan aturan yang berlaku.
Walaupun begitu pada kenyataannya perusahaan masih bisa melakukan penurunan beban pajak dengan celah-celah yang ada.
Pajak merupakan pungutan negara terhadap orang pribadi maupun badan yang sifatnya wajib dan memaksa yang akan dipergunakan oleh negara untuk kemakmuran rakyat tetapi tidak mendapat timbal balik secara langsung (Susanti et al., 2021). Pungutan tersebut berguna untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran negara guna menyelenggarakan pemerintahan dalam pembangunan nasional di seluruh Indonesia yang pada dasarnya untuk kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia. Dalam mewujudkan pembangunan nasional yang pastinya perlu dana besar dan rencana yang matang. Dengan tidak didukung oleh pendanaan yang besar, walaupun dana berasal dari pendapatan non pajak dalam negeri dan pendapatan non pajak luar negeri, sangat tidak mungkin melakukan pembangunan akan terwujud. Cara untuk mendapatkan dana yang besar bagi negara adalah pajak, dikarenakan pajak merupakan sumber pendapatan Negara yang tersbesar yang sangat penting untuk melaksanakan pembangunan
nasional yang tidak pernah berhenti. Namun pemerintah menargetkan pajak dalam periode 2018 sampai dengan 2020 tidak pernah terealisasikan. Berikut ini data target penerimaan pajak dengan realisasinya periode 2018-2020 di Indonesia :
Tabel 1.1
Data target pajak dan realisasi pajak di Indonesia periode 2018-2020
Sumber: https://www.ssas.co.id/ya-tuhan-12-tahun-ri-tak-pernah-capai-target-pajak/ Data diolah oleh Penulis
Pajak menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 Pasal 1 Ayat (1) berbunyi bahwa kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Untuk semua wajib pajak perorangan atau wajib pajak badan diharuskan untuk ikut serta guna laju pertumbuhan negara dan pembangunan negara dapat berproses dengan efektif dan efesien bagi.
Efek lainnya berguna untuk kesejahteraan masyarakat karena penerimaan sektor pajak dapat membantu terlaksananya pembangunan-pembangunan yang telah direncanakan oleh pemerintah.
Tahun Target Pajak Realisasi Shortfall %
2018 Rp 1.424 triliun Rp 1.315,9 triliun Rp 108 triliun 92%
2019 Rp 1.577,6 triliun 1.332,1 triliun Rp 245,5 triliun 84,4%
2020 Rp 1.198,8 triliun Rp 1.069,98 triliun Rp 128,8 triliun 89,25%
Perusahaan dimana sebagai wajib pajak yang pastinya memiliki kewajiban untuk bayar pajak yang dihitung dari laba perusahaan. Dengan besar pajak perusahaan yang tinggi, pajak yang diterima oleh negara semakin tinggi juga. Begitupun sebaliknya untuk perusahaan membayar pajak suatu keharusan dan menjadi beban yang mengurangi laba. Tujuan perusahaan dengan pemerintah berkaitan dengan pajak sudah berbeda sekali. Perusahaan ingin agar pajak yang dibayarkan atau terutang sedikit mungkin, berbeda dengan pemerintah yang ingin pajak yang diterima dari perusahaan sesuai dengan proporsional perusahaan sebagaimana mestinya.
Karena adanya perbedaan tujuan, masih banyak perusahaan yang melakukan Tax Planning untuk meminimalisir beban pajak yang dibayar oleh perusahaan dan bisa dengan melakukan penghindaran pajak (Tax Avoidance), kedua hal inilah yang membuat target pajak pemerintah tidak pernah tercapai.
Tarif Pajak Efektif (Effective Tax Rate/ETR) merupakan ukuran terpenting dari beban pajak bagi pembuat keputusan untuk berbagai jenis usaha dan untuk pemberian insentif kepada para wajib pajak (Erawati & Novitasari, 2021). Dengan adanya nilai tarif pajak efektif ini merupakan salah satu bentuk perhitungan tarif pajak yang ideal dalam perusahaan, dan dapat menjadi gambaran bagaimana hasil manajemen pajak dalam meminimalisir pajak yang dibayarkan. Sehingga dalam penelitian ini penulis menggunakan tarif pajak efektif (ETR) sebagai indikator adanya Tax Planning. Pada dasarnya ETR merupakan perbandingan antara kewajiban perpajakan kini yang dihasilkan dari penghasilan kena pajak berdasarkan peraturan perpajakan, terhadap laba atau arus kas sebelum pajak (Hanlon dan Heitzman dalam Putri 2018). Oktaviana et al. (2019) menjelaskan bahwa presentase ETR ≤ 25% mempunyai arti baik untuk perusahaan karena dapat memanfaatkan sumber daya perusahaan dalam mengefisiensi beban pajak perusahaan. Sebaliknya jika ETR > 25% mempunyai arti buruk untuk perusahaan
karena masih belum memanfaatkan sumber daya perusahaan dalam mengefisiensi beban pajak perusahaan, sehingga efektif tarif pajak tidak tercapai. Tarif 25% ini berdasarkan tarif statutory (hukum) yang berlaku di masing-masing negara, di Indonesia sendiri berdasarkan (UU) No. 36 tahun 2008 pasal 17. Semakin tinggi tingkat persentase ETR yaitu mendekati tarif pajak penghasilan badan sebesar 25% mengindikasikan bahwa semakin rendah tingkat penghindaran pajak perusahaan, sebaliknya semakin rendah tingkat persentase ETR mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat penghindaran pajak perusahaan (Dewinta dan Setiawan, 2016).
Berdasarkan penelitian terdahulu, terdapat beberapa faktor yang digunakan oleh perusahaan untuk melakukan Tax Planning yang menjadikan tarif pajak efektif menjadi lebih rendah. Diantaranya adalah leverage, kepemilikan pengendali, transfer pricing.
Menurut Sari & Marsono (2020) Leverage merupakan penggunaan utang yang akan digunakan oleh perusahaan untuk memenuhi kebutuhan operasional dan investasi perusahaan.
Pembiayaan dengan hutang akan menimbulkan beban bunga yang dapat mengurangi beban pajak perusahaan, biasanya yang paling berpengaruh adalah hutang jangka panjang. Menurut Putri & Putra (2017) Leverage merupakan salah satu rasio keuangan yang menggambarkan hubungan antara hutang perusahaan terhadap modal maupun aset perusahaan. Perusahaan yang memiliki banyak hutang lebih cenderung mempunyai ETR (Effective Tax Rate) yang bagus yang menjadikan peluang memperkecil pajak dalam melakukan tax planning. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Oktaviana et al. (2020) Leverage tidak berpengaruh terhadap penghindaran pajak dengan proksi ETR (Effective Tax Rate) Leverage yang diproksikan dengan debt to equity ratio (DER) tidak berpengaruh terhadap penghindaran pajak yang diproksikan dengan effective tax rate, sedangkan berdasarkan penelitian yang dilakukan Erawati &
Novitasari (2021) Leverage berpengaruh positif terhadap tarif pajak efektif.
Faktor lainnya yang dapat mempengaruhi tax planning dalam perusahaan adalah Transfer Pricing. Dalam Refgia (2017) menyebutkan harga transfer adalah suatu kebijakan perusahaan
dalam menentukan harga transfer atas transaksi baik itu barang, jasa, harta tak berwujud, ataupun transaksi financial dalam transaksi antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa untuk memaksimalkan laba. Bagi perusahaan yang memiliki anak perusahaan di negara lain dengan tarif pajak rendah atau negara yang berstatus tax heaven country, perusahaan induk dapat mengalihkan keuntungan ke negara yang mempunyai tarif pajak rendah dengan memaksimalkan beban dan menjadikan tarif pajak yang dibayarkan oleh perusahaan induk dapat diminimalisir. Di Indonesia salah satu perusahaan sektor pertambangan yaitu PT. Adaro Energy Tbk juga pernah melakukan Tax Planning lewat penghindaran pajak dengan memanfaatkan praktik transfer pricing. PT. Adaro Energy Tbk menjual batu bara dengan harga yang lebih murah ke Coaltrade Services International Pte. Ltd. yang merupakan anak perusahaannya yang berkedudukan di Singapura. Adaro diduga telah mengatur sedemikian rupa sehingga mereka bisa membayar pajak US$ 125 juta atau setara Rp 1,75 triliun (kurs Rp 14 ribu) lebih rendah daripada yang seharusnya dibayarkan di Indonesia. Upaya tersebut telah dilakukan pada tahun 2009 hingga 2017 (https://finance.detik.com). Menurut Pratama &
Larasati (2021) Transfer pricing bisa menjadi faktor yang dapat menurunkan jumlah pajak perusahaan multinasional dengan cara memperkecil harga jual antara perusahaan yang berkedudukan di negara dengan tarif pajak rendah atau tax heaven country. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Susanti et al. (2021) Harga Transfer tidak berpengarh signifikan terhadap penghindaran pajak dengan proksi ETR, sedangkan berdasarkan penelitian yang dilakukan Oktaviana et al. (2020) Transfer Pricing berpengaruh positif terhadap Tax Avoidance dengan proksi ETR.
Dalam perusahaan terdapat pemegang saham pengendali yang mempunyai hak kendali mampu mempengaruhi kebijakan operasi perusahaan melalui manajemen yang mereka pilih dan kebanyakan keputusan kebijakan operasi perusahaan lebih berdasarkan kepada kepentingan pemegang saham pengendali, menurut La Porta et al. (1999) dalam Midiastuty et al. (2016).
Pemegang saham pengendali memiliki kesempatan besar untuk melakukan ekspropriasi dengan mengatur transaksi-transaksi yang berhubungan dengan tax planning. Dalam Krisna (2019) menyebutkan bahwa pemegang saham pengendali dapat melakukan intervensi kepada perusahaan oleh karena itu diasumsikan manajemen perusahaan berperilaku oportunistik yang memiliki tujuan meminimalisasi tarif pajak perusahaan untuk melakukan kekayaan pribadi mereka. Semakin tinggi proporsi kepemilikan saham maka akan mempunyai pengaruh dalam pengambilan keputusan di suatu perusahaan, sehingga mempunyai kesempatan lebih besar dalam memanfaatkan skema-skema transaksi keuangan agar mendapatkan peluang bagi perusahaan untuk melakukan tax planning dalam mengurangi biaya pajak, Timothy (2010) dalam Dwi & Rendi (2019). Berdasarkan penelitian yang dilakukan Midiastuty (2016) Kepemilikan pengendali tidak berpengaruh terhadap Tindakan pajak agresif yang diukur menggunakan ETR, sedangkan berdasarkan penelitian yang dilakukan Pratiwi & Ardiyanto (2021) Kepemilikan Pengendali berpengaruh positif terhadap Tax Avoidance dengan Proxy ETR.
Berdasarkan masalah diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti “Pengaruh Leverage, Kepemilikan Pengendali dan Transfer Pricing Terhadap Tax Planning” dalam perusahaan Manufaktur yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia 2018-2020.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka peneliti mengidentifikasi beberapa permasalahan, yaitu:
1. Apakah Leverage berpengaruh terhadap Tax Planning ?
2. Apakah Transfer Pricing berpengaruh terhadap Tax Planning ? 3. Apakah Kepemilikan Asing berpengaruh terhadap Tax Planning ? 4. Apakah Hubungan Istimewa berperngaruh terhadap Tax Planning ? 5. Apakah Kepemilikan Pengendali berpengaruh terhadap Tax Planning ?
C. Batasan Masalah
1. Apakah Leverage berpengaruh terhadap Tax Planning ?
2. Apakah Kepemilikan Pengendali berpengaruh terhadap Tax Planning ? 3. Apakah Transfer Pricing berpengaruh terhadap Tax Planning ?
D. Batasan Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, ada beberapa dimensi batasan, yang di dalamnya peneliti menjalankan penelitian. Beberapa batasan tersebut:
1. Objek penelitian hanya dilakukan pada perusahaan-perusahaan manufaktur yang terdapat di Bursa Efek Indonesia.
2. Penelitian ini menganalisis data laporan keuangan yang telah diaudit dan pelaporan satu Tahun penuh selama periode 2018-2020.
3. Indikasi Transfer pricing dalam penelitian ini berkaitan dengan indikator-indikator dari perusahaan yang memiliki kepemilikan asing >20%.
4. Dalam Laporan Keuangan tidak boleh melaporkan Rugi selama periode 2018-2020, dan harus menyatakan dalam mata uang Rupiah.
Batasan ini ditentukan untuk mengurangi bias data agar hasil pengolahan data dalam penelitian ini lebih akurat.
E. Perumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan uraian dalam latar belakang dan identifikasi masalah yang ada, maka rumusan masalah yang dapat penulis simpulkan adalah: “Apakah Leverage, Kepemilikan Pengendali, dan Transfer Pricing berpengaruh terhadap Tax Planning ?”
F. Tujuan Penelitan
Dari penelitian yang akan dilakukan peneliti, bertujuan sebagai berikut:
1. Menganalisis dan menguji pengaruh Leverage terhadap Tax Planning.
2. Menganalisis dan menguji pengaruh Kepemilikan Pengendali terhadap Tax Planning.
3. Menganalisis dan menguji pengaruh Transfer Pricing terhadap Tax Planning.
G. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak terkait, antara lain :
a. Peneliti selanjutnya, untuk bahan referensi bagi pihak-pihak yang akan melaksanakan penelitian lebih lanjut mengenai topik ini.
b. Bagi perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan kinerja manajerial perusahaan.
c. Mahasiswa Jurusan Akuntansi, sebagai bahan referensi untuk menambah ilmu pengetahuan terkait dengan Leverage, Kepemilikan Pengendali, Transfer Pricing dan Tax Planning.