1 BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar belakang
Dunia dihebohkan dengan suatu kejadian yang membuat seluruh umat manusia kaget dan resah yaitu hadirnya virus Covid-19 yang pada mulanya saat itu berasal dari Tiongkok, Wuhan (Yuliana, 2020). Pada tanggal 30 januari 2020, WHO menilai ini adalah masalah yang amat serius terlebih dalam bidang kesehatan masyarakat dan ini penting untuk dijadikan sebagai pusat perhatian internasional (Dong et al., 2020). Virus ini menyebar secara cepat ke berbagai negara dan menginfeksi banyak orang, gejala Covid–19 diantaranya ialah gangguan pernapasan akut, demam yang cukup tinggi, batuk hingga sesak napas (Tosepu et al., 2020).
Indonesia adalah negara dengan penduduk terpadat ke- 4 di dunia, hal ini membuat penyebaran Covid–19 dapat menyebar dengan cepat dan fase penderitaan yang cukup panjang. Fase pertama Covid-19 di Indonesia hadir pada 2 Maret 2020 yang menjangkit dua pasien pertama di Indonesia dan berlanjut kepada penduduk lainnya (Djalante et al., 2020). Dengan adanya awal dari penyebaran ini, berdampak pada semua masyarakat yang ada di Indonesia, penyebaran Covid-19 mulai meningkat dengan pesat hingga pada bulan juni 2020 kasus pasien terkonfirmasi Covid-19 mencapai 31.186 jiwa juga diikuti kasus kematian yang cukup tinggi yaitu sekitar 1851 jiwa. kuatnya penyebaran Covid-19 di Indonesia, berdampak pada pola hidup masyarakat yang keseluruhan kegiatannya di lakukan dirumah (Dong et al., 2020).
Indonesia mengalami masa yang cukup sulit dimana terjadi penyebaran wabah yang sangat berkembang pesat, terjadi PHK besar-besaran dan banyak sector pekerjaan lumpuh. Beberapa sektor seperti sektor bisnis, sektor industri, sektor kesehatan, sektor pembangunan, sektor pariwisata, sektor ekonomi dan sektor pendidikan (Darmalaksana, 2020). Pada sektor pendidikan, seluruh pelajar di Indonesia mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Mahasiswa mulai belajar dari rumah atau biasa disebut dengan Work From Home (WFH) (Darmalaksana, 2020). Bisa dikatakan bahwa belajar dari rumah
2
di masa pandemi Covid-19 ini cukup mengagetkan bagi beberapa orang, dikarenakan seketika semua beralih menjadi daring dan masih banyak orang yang belum siap akan hal itu. Banyak orang yang mengeluhkan susah dan beratnya untuk membeli kuota internet, jaringan internet yang kurang memadai hingga kualitas smartphone yang tidak mumpuni (Sc Alodia, 2020). Begitu juga dengan kegiatan beribadah yang dirasakan oleh umat beragama di Indonesia, disaat Covid-19 hadir di Indonesia pola beribadah umat beragama berubah secara signifikan seperti adaptasi dalam hal tepat beribadah, waktu beribadah serta hal-hal lain yang mengharuskan adanya adaptasi di kegiatan peribadahan (Indriya, 2020). Inilah juga yang dirasakan oleh Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) yang mana menjadi salah satu gereja umat Kristen Protestan yang merasakan dampaknya. Dari segi peribadahan seperti ibadah minggu/kebaktian mingguan, semuanya kini harus dilakukan secara virtual juga perayaan ibadah Paskah dan Natal pun dilakukan secara daring (Bryson, Andres
& Davies, 2020). GPIB memilki beberapa kategorial pelayanan yang menunjang peribadahan seperti PA (Pelayanan Anak) atau biasa disebut Sekolah Minggu, TARUNA (Pelayanan anak – anak remaja), GP (Gerakan Pemuda), PKLU (Pelayanan untuk kategorial lansia), PKP (Pelayanan untuk kategorial Perempuan dan PKB (Pelayanan untuk kategorial Bapak-bapak.
Pada penelitian ini, penulis akan memfokuskan penelitian kepada kategorial Pelayanan Anak (PA) usia 1-12 tahun yang berada di pos pelayanan Kembangsari GPIB Tamansari Salatiga. Pada kategorial pelayanan anak ini, dibagi menjadi 3 kelas usia yaitu Kelas Batita (Bayi tiga tahun) / kelas balita (Bayi lima tahun) (1-5 Tahun), Kelas kecil (Kelas 1-3 SD), Kelas Tanggung (Kelas 4-6 SD).
Pada Pelayanan Anak (PA) di GPIB Tamansari secara khusus pada pos pelayanan Kembangsari Salatiga pun merasakan dampaknya, yang biasanya semua kegiatan Sekolah minggu bisa dilakukan di gereja, kini semuanya harus dihentikan dan dilakukan secara daring. (Wiriadinata, 2016) tujuan dari sekolah minggu menurut gereja baptis ialah bagaimana anak–anak dapat belajar tentang Alkitab, belajar tentang Firman Tuhan dan mengasihi sesama, namun ini semua
3
jadi tidak bisa seratus persen tersampaikan dengan baik karena dilakukan peribadahan secara daring.
Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Tamansari Salatiga ini memilki beberapa tempat pelayanan atau biasa disebut dengan Pos Pelayanan (Pospel). Tempat pertama ialah gereja utama GPIB Tamansari, tempat kedua ialah pospel Kembangsari dan tempat ketiga ialah pospel Kalimangli. Saat sebelum Covid-19 melanda, kegiatan ibadah sekolah minggu dilakukan di tiga tempat tersebut namun untuk pospel Kembangsari dan Kalimangli, guru sekolah minggu dikirim dari gereja inti GPIB Tamansari hadir untuk mengajar di pospel tersbut. Di masa pandemi Covid-19 semua dilakukan secara daring, mulai dari Ibadah mingguan hingga pelayanan kategorial seperti sekolah minggu. Pelayanan Kategorial anak/sekolah minggu ini pada akhirnya mencoba untuk bertahan agar tetap dapat melayani anak-anak sekolah minggu walaupun dalam situasi pandemi Covid-19. Beberapa cara dilakukan seperti streaming video ibadah di Youtube, melakukan Zoom dengan anak sekolah minggu dan rekaman video untuk diupload ke Youtube sekolah minggu. Seiring berjalannya waktu, para pelayan sekolah minggu GPIB Tamansari salatiga melihat penurunan jumlah anak-anak sekolah minggu yang hadir dalam ibadah zoom dan penurunan penonton Youtube sekolah minggu. Seperti yang penulis dapatkan saat wawancara dengan pengurus sekolah minggu GPIB Tamansari Kota Salatiga yang mana memiliki posisi sebagai Wakil ketua dan Sekretaris, Omega Lambulalo Rengga pada tanggal 5 Januari 2022.
“pada saat covid – 19 pertama kali muncul di salatiga dan dimulainya segala kegiatan dari rumah memang menjadi kendala yang cukup sulit untuk kita. Ada 3 Pos Pelayanan yang harus kami layani dan semua terkendala mulai dari Gereja Utama, Pos pelayanan di Kalimangli dan Pos pelayanan di Kembangsari. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan pada saat itu ialah melakukan ibadah secara online atau rekaman dan menguploadnya di Youtube Gereja. Kendala lainnya muncul ketika anak-anak sekolah minggu yang berada di lingkup Pelayanan Kembangsari tidak mengikuti ibadah secara online
4
karena terbatas secara kuota internet dan jaringan sinyal internet yang kurang memadai”
Bukan menjadi suatu masalah bagi jemaat yang tinggal di tengah kota salatiga, namun menjadi masalah yang cukup serius ketika jemaat yang berada di dua pospel ini tidak bisa mengikuti ibadah dengan baik.
Dari latar belakang tersebut, penulis ingin meneliti bagaimana strategi komunikasi yang dilakukan oleh guru-guru sekolah minggu pada ibadah sekolah minggu di Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Tamansari secara khusus pada pos pelayanan Kembangsari di kota Salatiga selama masa pandemi Covid-19. Penelitian ini berguna untuk memberikan informasi tentang bagaimana Strategi atau usaha guru sekolah minggu GPIB Tamansari Salatiga di masa pandemi untuk para pembaca atau penelitian selanjutnya. Penulis memilih GPIB Tamansari Salatiga dikarenakan GPIB Tamansari Salatiga merupakan salah satu gereja tertua di Salatiga dan memiliki beberapa pos pelayanan yang tersebar di beberapa tempat.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian Latar Belakang di atas, maka rumusan masalah penelitian ini yaitu:
Bagaimana strategi komunikasi Guru Sekolah Minggu GPIB Tamansari Salatiga dalam mengajar Sekolah Minggu di Pos Pelayanan Kembangsari pada masa Pandemi Covid-19?
1.3.Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan strategi komunikasi Guru Sekolah Minggu GPIB Tamansari Salatiga dalam mengajar Sekolah Minggu di Pos Pelayanan Kembangsari pada masa Pandemi Covid-19.
1.4.Manfaat Penelitian
5 1.4.1. Manfaat Teoritis
Diharapkan dengan adanya penelitian ini, dapat menjadi tambahan wawasan atau pengetahuan Ilmu Komunikasi terkhusus tentang Strategi Komunikasi.
1.4.2. Manfaat Praktis
a. Sebagai bahan pembelajaran atau bisa jadi penelitian selanjutnya tentang ilmu komunikasi tentang Strategi Komunikasi Guru Sekolah minggu GPIB Tamansari Salatiga dalam mengajar sekolah minggu di masa pandemi Covid-19.
b. Bisa juga sebagai sumber informasi kepada pembaca tentang sebuah bagaimana Strategi komunikasi guru sekolah minggu agar bisa tetap terus mengajar dan semua anak sekolah minggu mendapatkan renungan mingguan di masa pandemi Covid-19.
1.5.Konsep Penelitian 1.5.1. Komunikasi
Dalam kehidupan sehari-hari, sebagai makhluk sosial komunikasi tidak pernah lepas dari kegiatan sehari-hari. Komunikasi yang berarti bertukar informasi dan minimal ada dua pihak yang terlibat (Effendy, 2004).
1.5.2. Strategi Komunikasi
Rogers (dalam Effendy, 2004) mengatakan strategi komunikasi ialah suatu rancangan yang dibuat untuk mengubah tingkah laku manusia dalam berkomunikasi.
1.5.3. Pengajaran
Pengajaran ialah satu proses dimana kegiatan mengajar dan belajar di gabung menjadi satu bagian. Pihak yang (mengajar) ialah guru dan pihak yang (belajar) ialah siswa. Apabila keduanya saling berinteraksi, maka disitulah terjadi proses yang namanya pengajaran (Ahmad Rohani, 2010).