• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi MBS Terhadap Pengadaan Hubu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Implementasi MBS Terhadap Pengadaan Hubu"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Tugas ini dibuat untuk memenuhi tugas individu dalam Mata Kuliah

Manajemen Berbasis Sekolah

Disusun Oleh :

Aceng Fuad Hasim Ikbal 152520117

PROGRAM PASCA SARJANA

STUDI

KONSENTRASI MANAGEMENT PENDIDIKAN ISLAM

INSTITUT PERGURUAN TINGGI ILMU AL-

QUR’AN

(2)

i

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’aalamin puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah memberikan kenikmatan terutama nikmat Iman, Islam serta

nikmat sehat waal’afiat sehingga penulis bisa menyelesaikan penulisan makalah

ini dengan baik.

(3)

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

A. Latar belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 2

BAB II PEMBAHASAN ... 3

A. Pengertian Implementasi MBS Terhadap Pengadaan Hubungan Sekolah dan Masyarakat ... 3

B. Landasan Hukum ... 3

C. Prinsip-prinsip program hubungan sekolah–masyarakat ... 4

D. Konsep-konsep hubungan sekolah-masyarakat ... 5

E. Jalur-jalur komunikasi sekolah-masyarakat ... 7

BAB III PENUTUP ... 10

Kesimpulan ... 10

Daftar Pustaka ... 11

Glosarium ... 11

(4)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Sejak bergulirnya reformasi pada pertengahan tahun 1998, telah terjadi gelombang perubahan dalam segala sendi kehidupan, baik kehidupan bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara. Perubahan mendasar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara saat ini merupakan pergeseran terhadap sistem penyelenggaraan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintahan.

Perubahan orientasi paradigma ini diberlakukan melalui penetapan perundang-undangan mengenai Pemerintah Daerah atau yang lebih sering kita dengar dengan istilah otonomi daerah. Perubahan orientasi paradigma tersebut telah melahirkan sistem penyelenggaraan pemerintahan yang lebih dinamis. Seluruh aktivitas yang dilakukan cenderung berdasarkan aspirasi setempat (kedinasan), sehingga sasaran lebih terjamin dalam pencapaiannya.

Salah satu implementasi dari penerapan paradigma desentralisasi itu adalah di sektor pendidikan. Sehingga, saat ini pendidikan berjalan lebih memprioritaskan aspek dasar dari nilai-nilai yang melekat pada daerahnya dan merupakan acuan dalam melihat kondisi kebutuhan pasar yang diharapkan pada daerah tersebut, yang mengakibatkan kebijakan dalam menjalankan pendidikan lebih mengedepankan pada kebijakan suatu sekolah yang mengadakan program pembelajaran tersebut tanpa mengabaikan ketentuan dasar pemerinah tentang kebijakan dalam melaksanakan pendidikan.

Dalam upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia, kita semua sepakat bahwa pendidikan memegang peran yang sangat penting. Untuk itu, aspek yang sangat nyata dalam peranan pendidikan tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata yaitu adanya instansi pendidikan tersebut, atau yang lebih kita fahami yaitu adanya sekolah. Selain itu, sebagai penunjang yang nyata dari keberhasilan sekolah tersebut yaitu adanya masyarakat yang meneberikan dorongan berupa materil. Adanya masyarakat memberikan jalan terhadap keberlangsungan proses pembelajaran yang dilaksanakan disekolah tersebut yaitu

(5)

dengan cara memberi pendidikan terhadap salah satu anggota keluarganya atau lebih, sehingga ada proses saling membutuhkan diantara masyarakat dan sekolah. Hal tersebut memberikan pertanyaan terhadap tingkat efektifitas dalam manajemen berbasis sekolah itu terhadap masyarakat sebagai peningkatan kualitas pendidikan. Maka sebagai motif MBS yang menempatkan sekolah dan masyarakat sebagai salah satu yang berperan dalam tingkat efektifitas penulis mengangkat kajian ini dengan judul makalah pelaksanaan / implementasi MBS

terhadap pengadaan hubungan sekolah dan masyarakat.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana implementasi MBS terhadap pengadaan sekolah dan masyarakat?

2. Bagaimana prinsip-prinsip program hubungan sekolah–masyarakat? 3. Bagaimana konsep-konsep hubungan sekolah-masyarakat?

(6)

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Implementasi MBS Terhadap Pengadaan Hubungan Sekolah dan Masyarakat

Implementasi secara bahasa berarti pelaksanaan, penerapan implemen (Sutan Rajasa, 2002: 234). Implemen dalam arti sederhana dapat diartikan sebagai alat, aparat, perkakas (rumah), perabot, peralatan (Sutan Rajasa, 2002: 234). Sedangkan, manajemen berbasis sekolah (MBS) diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah. Mendorong pengambilan keputusan secara partisipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (guru, siswa, kepala sekolah, karyawan, orang tua siswa dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. Dengan otonomi yang lebih besar, maka sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengelola sekolah sehingga lebih mandiri (Depdiknas, 2006: 3).

Jadi implementasi MBS terhadap pengadaan pengadaan hubungan sekolah dan masyarakat merupakan bentuk penerapan dari sebuah sistem yang sudah tersusun yang di dalamnya terdapat beberapa kebijakan terhadap keputusan bersama yang lebih terpusat kepada suatu instansi sekolah tertentu dalam upaya peningkatan mutu dan kredibilitas suatu instansi sekolahnya tersebut dengan menitik beratkan kepada peranan yang diberikan oleh sekolah dan masyarakat yang ada di dalamnya sebagai salah satu aspek tercapainya manjemen berbasis sekolah.

Menurut Edge yang dikutip dalam bukunya Muhammad Syaifuddin, dkk, terdapat delapan motif penerapan MBS, yaitu motif ekonomi, profesional, politis, efisiensi administrasi, finansial, prestasi siswa, akuntabilitas, dan efektifitas sekolah (Mohammad Syaifuddin dkk, 2007: 20). Untuk itu, dalam penerapan efektifitas kinerja dari suatu instansi pendidikan, MBS ini sangat diperlukan dalam menangani nilai dari pendidikan tersebut.

(7)

B. Landasan Hukum

Berdasarkan PERMENDIKNAS Tahun 2007 tentang peraturan mengenai peran serta masyarakat dan kemitraan sekolah meliputi :

a. Sekolah melibatkan warga dan masyarakat pendukung sekolah dalam mengelola pendidikan

b. Warga sekolah dilibatkan dalam pengelolaan akademik

c. Masyarakat pendukung sekolah dilibatkan dalam pengelolaan non- akademik

d. Keterlibatan peran serta warga sekolah dan masyarakat dalam pengelolaan dibatasi pada kegiatan tertentu yang ditetapkan

e. Setiap sekolah menjalin kemitraan dengan lembaga lain yang relevan f. Kemitraan dilakukan dengan lembaga pemerintah dan non-pemerintah g. Kemitraan SMA dilakukan minimal dengan perguruan tinggi

h. Sistem kemitraan sekolah ditetapkan dengan perjanjian secara tertulis (Ayes Rintiani, 2011: 68).

C. Prinsip-prinsip program hubungan sekolah–masyarakat

Jika suatu kegiatan telah diketahui dan ditentukan tujuannya, maka logikanya adalah menyusun program kerja. Menurut Ametembur yang dikutip oleh Yusak Burhanuddin, merumuskan program hubungan sekolah-masyarakat menjadi:

1. Perencanaan hubungan sekolah-masyarakat haruslah integral dengan program pendidikan yang bersangkutan.

2. Setiap pejabat/petugas sekolah terutama guru haruslah menganggap dirinya adalah petugas hubungan masyarakat (public relations officer). 3. Program hubungan sekolah-masyarakat didasarkan atas kerjasama dan

(8)

D. Konsep-konsep hubungan sekolah-masyarakat

Masalah hubungan sekolah dan masyarakat adalah sangat luas dan kompleks serta beraneka ragam. Berikut ini adalah bermacam-macam konsep hubungan sekolah-masyarakat untuk mempertimbangkan hubungan yang lebih efektif untuk dikembangkan di sekolah.

1. Menurut Ametembun dalam bukunya Guru dalam Administrasi Sekolah

Pembangunan (konsepsi hubungan sekolah-masyarakat) yang dikutip

oleh Yusak Burhanuddin, konsepnya sebagai berikut:

a. Konsep Menunggu, sekolah hanya menunggu dan megharapkan perhatian dan bantuan masyarakat.

b. Konsep preventif, kegiatan-kegiatan sekolah hanya untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan oleh masyarakat.

c. Konsep tanda bahaya, kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan sekolah-masyarakat terjadi bila ada bahaya, misalnya, kebakaran, bangunan sekolah runtuh, dan sebagainya sehingga sekolah memerlukan bantuan (kontak) dengan masyarakat.

d. Konsep pameran, sekolah memamerkan kegiatannya kepada masyarakat. Hal-hal yang dipamerkan adalah yang telah diseleksi (yang baik-baik saja) sehingga mencerminkan keaslian dari keseluruhan program sekolah tersebut.

e. Konsep prestise, kegiatan-kegiatan sekolah sebagai alat untuk menonjolkan karirnya. Biasanya hal ini cendrung untuk mencari popularitas dan semata-mata mengejar prestise bukan prestasi. Biasanya disertai dengan perhitungan dan keuntungan individualitas pribadi.

f. Konsep partnership, hubungan ini dapat diinterprestasikan sebagai hubungan proses timbal balik dimana kebutuhan dan keinginan masyarakat juga menjadi kebutuhan dan keinginan sekolah, terutama dalam kegiatan-kegiatan kurikuler.

(9)

yang erat hubungannya dengan problema sendiri (Yusak Burhanuddin, 1998: 92-93).

2. Menurut Balai Pendidikan Guru Tertulis Jawa Barat, terdapat empat jenis hubungan sekolah-masyarakat.

a. Sikap acuh tak acuh antara kedua belah pihak, yaitu antara sekolah-masyarakat. Konsep ini beranggapan bahwa sekolah dan masyarakat merupakan lembaga yang terpisah. Jenis komunikasi yang digunakan adalah komunikasi tertutup (komunikasi intern), yaitu sekolah hanya berkomunikasi dengan dirinya sendiri.

b. Publisitas, yaitu komunikasi satu arah. Sekolah menjual iklannya kepada masyarakat agar segala sesuatu yang dikehendaki dan dibutuhkan sekolah dapat diketahui masyarakat.

c. Interpretasi pendidikan, seperti halnya publisitas lebih ditekankan, bahwa informasi yang telah diberikan kepada masyarakat dapat ditafsirkan menurut pengetahuan dan pendapat yang ada padanya. Hal ini cendrung untuk memperkuat sikap dan pendapat yang telah melekat di masyarakat.

d. Usaha bersama, jenis komunikasi di ini bersifat dua arah, timbal balik. Masyarakat cendrung untuk beranggapan bahwa mereka harus secara langsung dilibatkan ke dalam urusan-urusan sekolah (Yusak Burhanuddin, 1998: 93).

E. Jalur-jalur komunikasi sekolah-masyarakat

Ada beberapa jalur yang mungkin dapat ditempuh, namun jalur yang paling menguntungkan adalah jalur yang langsung berhubungan dengan murid dan situasi pertemuan langsung (face to face). Jalur lain yang mungkin dapat ditempuh dalam hubungan sekolah-masyarakat adalah:

1. Anak/murid

(10)

2. Surat-surat selebaran atau buletin sekolah

Biasanya orangtua akan mambaca dengan cermat selebaran yang langsung diterima dari sekolah. Agar lebih efektif, komunikasi tertulis ini harus berisi informasi yang diperlukan oleh orangtua murid, khususnya mengenai hal-hal yang sedang terjadi pada anak mereka. Untuk itu, hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga tepat pada sasarannya.

3. Media massa (media masa)

Media masa seperti radio, surat kabar dan televisi merupakan media yang sangat tepat untuk menyampaikan informasi kepada orangtua murid. Walaupun efektifitasnya sering dilebih-lebihkan oleh para administrator. 4. Pertemuan informasi

Para guru dan staf sekolah lainnya hanya dapat mengadakan hubungan dengan warga masyarakat secara tidak resmi. Hal ini memberikan kesempatan untuk memperbincangkan persoalan-persoalan yang dapat dicarikan pemecahannya secara langsung dan untuk membina hubungan yang kelak dapat memperlancar pertemuan-pertemuan resmi, jika diperlukan.

5. Laporan kemajuan murid (rapor)

Laporan kemajuan murid yang secara formal disampaikan kepada orangtua juga merupakan alat bagi sekolah untuk berkomunikasi dengan mereka. Jalan ini nampaknya hanya satu arah saja sehingga dapat menimbulkan tujuan yang berbeda-beda.

6. Kontak formal

Hal ini dapat dilakukan dengan pertemuan-pertemuan resmi. Masyarakat atau orangtua diundang secara resmi oleh sekolah melalui surat, telepon dan sebagainya. Layanan sekolah yang baik dan mengesankan akan membuat kesan yang mendalam bagi masyarakat. Dengan demikian, dapat meningkatkan hubungan yang sehat antara sekolah dan masyarakat. 7. Memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia di masyarakat

(11)

Pemanfaatan sumber-sumber tersebut sebetulnya merupakan cara terbaik untuk mengadakan hubungan dengan masyarakat, misalnya pemanfaatan tokoh-tokoh masyarakat ataupun dengan jalan karya wisata.

8. Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3)

Organisasi ini bekerja sama dengan sekolah dalam mengembangkan hubungan-hubungan yang sehat antara sekolah dengan masyarakat, BP3 ini merupakan wadah, sehingga kepala sekolah, guru dan masyarakat dapat melakukan komunikasi dan mamberikan informasi tentang inovasi-inovasi yang sedang dijalankan dalam program pengajaran dewasa ini (Yusak Burhanuddin, 1998: 95-96).

Efisiensi administrasi sebagai motif MBS menempatkan sekolah sebagai alat untuk mengalokasikan sumber daya secara efektif dalam menemukan kebutuhan para siswa (http://ansarbinbarani.blogspot.co.id). Untuk itu, tujuan dari ketercapainannya suatu kinerja bisa diidentifikasi dari keterlaksanaanya tujuan yang telah direncanakan. Dalam hal ini, Bent dan Kronenberg yang dikutip oleh Yusak Burhanuddin mengemukakan tiga hal tujuan utama hubungan sekolah-masyarakat, yaitu:

1. Untuk mencegah kesalah pahaman antara masyarakat terhadap sekolah (To

Prevent Misunderstanding).

2. Untuk memperoleh sumbangan-sumbangan finansial dan material (To

Secure Financial Support).

3. Untuk menjalin kerjasama dalam pembuatan kebijaksanaan-kebijaksanaan

(To Secure Coopration in Policy Making) (Yusak Burhanuddin, 1998, 94).

(12)

BAB III PENUTUP Kesimpulan

Dalam pengimplementasian MBS terhadap pengadaan sekolah dan masyarakat sangat diperhatikan sekali tingkat efektifitas yang harus dilakukan dari kedua belah pihak, baik dari pihak sekolah ke masyarakat maupun dari pihak masyarakat ke sekolah, guna menunjang keberhasilan MBS tersebut. Sehingga koordinasi diantara keduanya harus berjalan seimbang dan ada keterbukaan informasi diantara keduanya.

Tingkat keberhasilan dari pengimplementasian MBS terhadap pengadaan sekolah dan masyarakat terlihat dari kinerja yang telah di dapat dan diharapkan dari kedua belah pihak. Apa yang menjadi tujuan sekolah dalam peningkatan mutu terlaksana dengan bantuan masyarakat dan sebaliknya masyarakat terbantu pula dengan adanya kinerja dari sekolah tersebut.

(13)

Daftar Pustaka

Burhanuddin, Yusak, Drs. Administrasi Pendidikan, untuk Fakultas Tarbiyah

Komponen MKDK, Bandung: 1998.

Depdiknas. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. (Edisi 3). Jakarta: (2006). Dirjen Dikdasmen.

Rajasa, Sutan, Kamus Ilmiah Populer. Surabaya: Karya Utama, 2002.

Rintiani, Ayes, “Pengaruh Manajemen Berbasis Sekolah Terhadap Peningkatan Mutu Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Swasta Kelompok Bisnis Dan Manajemen Se-Kabupaten Banyumas”, Skripsi Pada Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Semarang, Semarang, 2011, tidak dipublikasikan.

Syaifuddin, Mohammad, dkk. Manajemen Berbasis Sekolah, Bahan Ajar Cetak, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2007.

(14)

GLOSARIUM

Partisipatif : perihal turut berperan serta dalam suatu kegiatan; keikutsertaan; peran serta;

Otonomi : pemerintahan sendiri; hak, wewenang, dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

Kredibilitas : perihal dapat dipercaya: Profesional : bersangkutan dengan profesi;

Politis : bersifat politik; bersangkutan dengan politik

Efisiensi : ketepatan cara (usaha, kerja) dalam menjalankan sesuatu (dengan tidak membuang waktu, tenaga, biaya); kedayagunaan; ketepatgunaan; kesangkilan;

Administrasi : usaha dan kegiatan yang meliputi penetapan tujuan serta

penetapan cara-cara penyelenggaraan pembinaan organisasi;

Finansial : mengenai (urusan) keuangan

Prestasi : hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya): ia merasa kecewa terhadap -- yang telah dicapai anak asuhnya; -- nya itu telah menumbangkan rekor sebelumnya;

Kemitraan : perihal hubungan (jalinan kerja sama dan sebagainya) sebagai mitra

Integral : mengenai keseluruhannya; meliputi seluruh bagian yang perlu untuk menjadikan lengkap; utuh; bulat; sempurna: masalah itu akan diselesaikan secara -- , tidak secara sebagian-sebagian

Public relations officer : petugas hubungan masyarakat Two way : timbal balik

Koordinasi : perihal mengatur suatu organisasi atau kegiatan sehingga peraturan dan tindakan yang akan dilaksanakan tidak saling bertentangan atau simpang siur

Konsepsi : rancangan (cita-cita dan sebagainya) yang telah ada dalam pikiran

(15)

Preventif : mencegah

Prestise : Berhubungan dengan karir

Intern : sebelah dalam; di kalangan sendiri

Publisitas : orang yang bekerja untuk memperkenalkan dan menjual nama perusaha-an, kehendak suatu golongan, personalitas seseorang, dan sebagainya kepada publik;

Interpretasi : pemberian kesan, pendapat, atau pandangan teoretis terhadap

sesuatu; tafsiran;

Face to Face : pertemuan langsung

Buletin : media cetak berupa selebaran atau majalah, berisi warta singkat atau pernyataan tertulis yang diterbitkan secara periodik oleh suatu organisasi atau lembaga untuk kelompok profesi tertentu

Efisiensi : ketepatan cara (usaha, kerja) dalam menjalankan sesuatu (dengan tidak membuang waktu, tenaga, biaya); kedayagunaan; ketepatgunaan; kesangkilan

Mengalokasikan : penentuan banyaknya barang yang disediakan untuk suatu

tempat (pembeli dan sebagainya); penjatahan

Identifikasi : kegiatan yang mencari, menemukan, mengumpulkan, meneliti,

mendaftarkan, mencatat data dan informasi dari “kebutuhan”

lapangan.

To Prevent Misunderstanding : Untuk mencegah kesalah pahaman

To Secure Financial Support : Untuk memperoleh sumbangan-sumbangan

finansial

To Secure Coopration in Policy Making : Untuk menjalin kerjasama dalam

(16)

Penga Tempat ,Tanggal Lahir

Agama Islam

Kampus Pasca Institut PTIQ Jakarta Jurusan Manjemen Pendidikan Islam Semester 2

Status Belum Menikah

Alamat

Jln Pesanggrahan (Samping Kampus UIN Jakarta) Rt. 03 Rw. 02 No. 35, Mushala Al- Makmur, Ciputat Timur Tangerang Selatan, 15412.

an 1996 – 2002 SD Negeri 2 Cirejag, Jatisari Karawang

2002 – 2005 SLTP Negeri 1 Jatisari Karawang 2005 – 2008 SMK Gema Nusantara 5 Bandung 2010 – 2015 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2015 – Sekarang Kahfi Motivator School, Bintaro 2016 – Sekarang Pasca Institut PTIQ Jakarta

PENGALAMAN ORGANISASI

Ketua Pradana Putra Periode 2006 - 2007 Menteri Pendidikan Periode 2013 – 2015 Anggota 2014 - 2015

Anggota Bidang P3A Periode 2012 – 2013 Anggota (Sampai sekarang)

Kabid. Pendidikan periode 2012 – 2013 Sekretaris Angkatan 2013

Sekretaris II Mushala Al Makmur (Sampai Sekarang)

(17)

Ke

mamp

Mampu mengoprasikan Aplikasi Photoshop

Hardware Computer Mampu Install Operating System, Format dan Partisi Hardisk

SERTIFIKAT – SERTIFIKAT

Pengembangan Potensi Pengurus DKM Se Jabodtabek

Lazuardi Birru (Cibubur), 2 – 4 Oktober 2012

Seminar Nasional Pendidikan Oleh Prof. Dr. Fasli Djalal, MA

Kampus UIN Jakarta, 11 – 12 November 2010

Diklat Pendidikan Bersama Tubagus Wahyudi

(Pendiri Sekolah Kahfi) Kampus UIN Jakarta , 9 Mei 2014

PENGALAMAN KERJA dan TRAINING

Rental Komputer Sifa, Pesanggrahan, Ciputat (2012) Warnet Elok, Pesanggrahan, Ciputat (2012) DPU Daruut Tauhid Jakarta Tim Kencleng (2013)

Guru Praktik Profesi Keguruan Terpadu (PPKT) di SMP Islamiyah Ciputat (2013) Training Social Media Marketing oleh Ednovate, DPU DT Jakarta Guru Pengganti di Madrasah Pembangunan UIN JKT (2014)

Guru SDI Al Hidayah, Pamulang Permai I, Tangsel (2014 – sekarang)

Jakarta, 18 Maret 2016 Hormat saya

Aceng Fuad Hasim Ikbal

Referensi

Dokumen terkait

This design is appropriate with the objective of this research, that is, to know whether or not there is a significant effect of using roundtable technique

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari ekstrak kasar keong bakau (T. telescopium) dengan metode DPPH pada pelarut yang berbeda,

Pada periode tahun 2016 sampai dengan tahun 2019, penyaluran pembiayaan pada sektor Usaha Mikro oleh Perusahaan Pembiayaan mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 27,53% per

Menurut Sutedi , (2011:220) perangkat tes dikatakan memiliki reliabilitas jika dapat mengukur secara ajeg, artinya meskipun berkali-kali tes tersebut digunakan pada sampel

Edison’s Electrocuting an Elephant (1903) is a haunting example of early actuality to which scholars of film, and of animal film, repeatedly return, perhaps because the film

Berdasarkan uraian tersebut, dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini yaitu mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan pengemudi sepeda motor

Kesahihan hadits di atas dapat memberi keyakinan dan penerangan bahwa barang siapa yang meniru atau menjadikan orang-orang jahiliah sama ada dari kalangan Yahudi, Nasrani atau

Berdasarkan hasil pengujian dengan kasus sample uji yang telah dilakukan memberikan kesimpulan bahwa pada proses masih memungkinkan untuk terjadinya kesalahan