• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PERMASALAHAN EKONOMI KOTA ASPEK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS PERMASALAHAN EKONOMI KOTA ASPEK"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

Rohmawati

3614100016

Galih Alco P.

3614100031

Fajri Majida

3614100058

Herman

3615100341

Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota

Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan

Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Dosen Pembimbing:

(2)

P

a

g

e

i

Kata Pengantar

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena berkat limpahan rahmat dan karunianya

penulis dapat menyelesaikan tugas 4 Ekonomi Kota dengan judul “Analisis Permasalahan

Ekonomi Kota Aspek Pelayanan Transportasi” tepat waktu. Tugas ini merupakan syarat

wajib bagi mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya dalam penyelesaian

mata kuliah Ekonomi Kota. Makalah ini berisi mengenai analisis persoalan ekonomi kota

yang disebabkan oleh pelayanan transportasi, kemudian penulis memberikan rekomendasi

untuk menangani persoalan ekonomi kota yang telah dianalisa.

Penulis berterimakasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam

pembuatan makalah ini dari awal sampai selesai. Ucapan terimakasih tak lupa kami

sampaikan kepada dosen pembimbing mata kuliah Ekonomi Kota yaitu:

1. Dr.Ir.Eko Budi Santoso, Lic.rer.reg

2. Vely Kukinul S, ST, MT

Dengan segela kerendahan hati penulis menyadari bahwa penulisan dan

penyusunan ini masih jauh dari kata sempurna, mengingat terbatasnya waktu dan

kemampuan penulis. Kritik dan saran sangat diperlukan untuk dijadikan sebagai acuan

tugas-tugas selanjutnya.

Surabaya, Mei 2016

(3)

P

1.4. Sistematika Penulisan ... 2

BAB II ... 4

TINJAUAN PUSTAKA ... 4

1.1. Pengertian Transportasi ... 4

1.2. Peranan Transportasi Dalam Ekonomi Kota ... 5

1.3. Kemacetan Transportasi ... 6

1.3.1 Definisi Kemacetan ... 6

1.3.2 Penyebab Kemacetan ... 7

1.4. Pengertian dan Klasifikasi Jalan ... 7

1.4.1 Klasifikasi menurut fungsi jalan ... 8

1.4.2 Klasifikasi menurut kelas jalan ... 8

1.4.3 Klasifikasi menurut medan jalan ... 8

1.4.4 Klasifikasi menurut wewenang pembinaan jalan ... 9

1.5. Level Of Service (LOS) ... 9

BAB III ... 11

METODE ANALISA ... 11

3.1. Ruang Lingkup Penelitian ... 11

3.2. Jenis Sumber Data ... 11

BAB IV ... 12

GAMBARAN UMUM WILAYAH ... 12

4.1. Gambaran Umum Wilayah ... 12

4.2. Perkembangan LHR Di Jalan Kertajaya ... 12

BAB V ... 15

ANALISIS PERSOALAN EKONOMI KOTA ... 15

5.1. Analisis LOS di Jalan Kertajaya ... 15

5.2. Analisis LOS terhadap Ekonomi Kota ... 20

BAB VI ... 22

(4)

P

a

g

e

ii

BAB VII ... 24

PENUTUP ... 24

7.1. Kesimpulan ... 24

(5)

P

Transportasi merupakan salah satu sarana yang mengambil peran penting dalam

pengembangan sistem ekonomi disuatu tempat terutama bagi daerah perkotaan. Hal

tersebut disebabkan masyarakat kota lebih banyak melakukan aktivitas dalam bidang

perekonomian yang membutuhkan sarana transportasi. Sehingga kegiatan dan

pembangunan ekonomi harus diimbangi dengan pembangunan sarana transportasi.

Dengan begitu kegiatan ekonomi masyarakat dapat berpotensi untuk lebih berkembang

secara optimal.

Pertumbuhan ekonomi kota dapat dilihat pula melalui pertumbuhan transportasi kota

tersebut, maka dari itu pembangunan transportasi sangat penting untuk

menyeimbangkan kebutuhan transportasi yang terus meningkat sebanding dengan

peningkatan jumlah penduduk yang semua aktivitasnya membutuhkan mobilisasi untuk

melakukan perpindahan dan menunjang segala aktivitas. Mobilitas penduduk yang tinggi

menuntut adanya penyediaan sarana transportasi yang juga memadai untuk kebutuhan

masyarakat selain itu transportasi juga diharapkan aman, nyaman, dan terjangkau. Hal

lain yang juga dibutuhkan dalam transportasi adalah manajemen lalu lintas yang tepat

dimana masyarakat tidak membutuhkan waktu lama dalam berpindah dari tempat asal

menuju tujuan perpindahannya.

Namun faktanya hampir seluruh kota-kota di Indonesia mempunyai permasalahan

lalu lintas yang sangat kompleks. Salah satunya adalah kota Surabaya yang mengalami

perkembangan sangat pesat di perekonomian, perdagangan dan industri. Kota

Surabaya sebagai Kota Metropolitan memiliki daya tarik kegiatan ekonomi yang tinggi

yang berdampak sosial secara langsung dengan tingginya tingkat urbanisasi. Hal

tersebut berakibat pada permasalahan transportasi perkotaan. Permasalahan

transportasi Kota Metropolitan salah satunya yang terdapat pada Kota Surabaya yang

sampai saat ini belum terpecahkan adalah kemacetan lalu lintas, terutama pada jalan

jalan strategis seperti Koridor Kertajaya-Kertajaya Indah. Dimana koridor ini yang

menghubungkan Surabaya Timur menuju ke Surabaya Pusat.

Kondisi tersebut mengharuskan Pemerintah Kota Surabaya bersama-sama seluruh

komponen masyarakatnya untuk mencari solusi dan alternatif pemecahan permasalahan

transportasi kota yang akan berdampak pada masalah ekonomi kota Surabaya.

Dalam makalah ini, akan dijelaskan mengenai permasalahan ekonomi kota bada

(6)

P

a

g

e

2

mengenai permasalahan ekonomi kota pada bidang transportasi. Dari hasil analisa

tersebut penulis akan mencoba memberikan rekomendasi untuk menyelesaikan

masalah ekonomi kota pada bidang transportasi yang ada di Koridor Kertajaya-Kertajaya

Indah.

1.2. Tujuan

Dalam makalah ini, tujuan yang ingin dicapai adalah sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi permasalahan ekonomi kota pada bidang transportasi yang ada di

Koridor Kertajaya – Kertajaya Indah.

2. Menganalisa permasalahan ekonomi kota pada bidang tranportasi yang ada di

Koridor Kertajaya-Kertajaya Indah.

3. Memberikan rekomendasi terhadap ekonomi kota pada bidang tranportasi yang

sudah dianalisis.

1.3. Manfaat

Manfaat dari penulisan makalah ini adalah untuk mengidentifikasikan permaslaahn

ekonomi kota pada bidang transportasi yang kemudian diberikan penyelesaian masalah

berupa rekomendasi. Harapannya rekomendasi ini dapat dijadikan saran dalam

penyelesaian masalah yang serupa.

1.4. Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN: Berisi mengenai latar belakang pembahasan makalah, tujuan

pembahasan makalah, manfaat pembahasan makalah dan sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA: Berisi mengenai teori-teori yang digunakan dalam

pembahasan makalah yaitu mengenai teori tranportasi, pengertian pertumbuhan

ekonomi pengertian dan klasifikasi jalan dan Level Of Service (LOS).

BAB III METODE PENELITIAN: Berisi mengenai ruang lingkup penelitian dan jenis

sumber data yang digunakan.

BAB IV GAMBARAN UMUM: Berisi mengenai gambaran umum wilayah gambaran

umum koridor jalan Kertajaya dan perkembangan transportasinya

BAB V HASIL DAN ANALISIS: Berisi mengenai hasil analisa yang telah dilakukan yaitu

analisis LOS di Koridor Kertajaya-Kertajaya Indah dan analisis LOS terhadap Ekonomi

(7)

P

a

g

e

3

BAB VI KONSEP PENANGANAN PERSOALAN EKONOMI KOTA: Berisi mengenai

solusi berupa rekomedasi dari penulis yang dapat bersumber dari pendapat penulis

maupun kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.

BAB VII PENUTUP :Berisi mengenai kesimpulan yang sudah dibahas pada bab-bab

(8)

P

Menurut Abbas, (2003), transportasi sebagai dasar untuk pembangunanekonomi

dan perkembangan masyarakat serta pertumbuhan industrialisasi. Dengan adanya

transportasi menyebabkan, adanya spesialisasi atau pembagian pekerjaan

menurutkeahlian sesuai dengan budaya, adat-istiadat, dan budaya suatu bangsa atau

daerah. Pertumbuhan ekonomi suatu negara atau bangsa tergantung pada tersedianya

pengangkutan dalam negara atau bangsa yang bersangkutan (Abbas, 2003).

Transportasi merupakan turunan dari kombinasi tata guna lahan yang saling

membutuhkan yang kemudian membentuk suatu pergerakan dari guna lahan satu ke

guna lahan yang lain. Peningkatan intensitas perubahan tata guna lahan menambah

beban transportasi di sebuah kota. Beban transportasi bila tidak diimbangi dengan

penyediaan prasarana yang memadai akan menimbulkan permasalahan. Salah satu

bentuk dari permasalahan tersebut adalah kemacetan(Miro dalam Astati, 1998).

Transportasi di darat ada beberapa macam, mulai dari kendaraan tidakbermesin

seperti sepeda, delman, andong, becak, dan sebagainya, serta kendaraan bermesin

seperti motor dan mobil. Masyarakat biasanya menggunakan transportasi pribadi

seperti mobil pribadi, sewaan, ataupun motor untuk memenuhi kebutuhan akan

transportasi. Pengguna jalan yang tidak memiliki kendaraan pribadi dapat

menggunakan transportasi massal, seperti bus, angkot, ojek, dan lain sebagainya.

Transportasi massal (public transportation) adalah transportasi yang digunakan secara umum dengan pengenaan biaya bagi yang memanfaatkan jasanya. Jenis transportasi

ini bisa mengangkut penumpang dalamjumlah relatif banyak.

Dalam transportasi kita melihat dua kategori yaitu :

a. Pemindahan bahan-bahan dan hasil-hasil produksi dengan menggunakanalat

angkut.

b. Mengangkut penumpang dari suatu tempat ke tempat lain.

Dengan ini dapat disimpulkan bahwa definisi transportasi adalah kegiatan pemindahan

barang (muatan) dan penumpang dari suatu tempat ke tempat lain. Dalam transportasi

terlihat ada dua unsur yang terpenting yaitu :

a. Pemindahan atau pergerakan (movement)

b. Secara fisik mengubah tempat dari barang (komoditi) dan penumpang

ketempat lain

Fungsi transportasi yang disebut Siregar dalam Astati (1998) adalah sebagai

(9)

P

a

g

e

5

daripadaasalnya yang berupa nilai tempat (place utility) dan nilai waktu (time utility). Hal ini berarti serupa dengan konsep opportunity cost.

1.2. Peranan Transportasi Dalam Ekonomi Kota

Ekonomi pada hakikatnya terhubung dengan produksi, distribusi, dan konsumsi

terhadap manusia. Hal ini juga sama halnya dengan peranan transportasi bagi

ekonomi. Peranan ekonomi dalam transportasi diantaranya (Morlok dalam

Pangaribuan, 2005):

a. Transportasi memperbesar jangkauan akan sumberdaya yang dibutuhkan oleh suatu daerah, sehingga suatu daerah dapat memungkinkan mendapatsumberdaya

yang lebih murah, yang sebelumnya tidak ada menjadi ada dengan adanya akses

oleh transportasi.

b. Pemakaian sumberdaya lebih efisien karena ada pengkhususan dan pembagian kerja yang baik.

c. Adanya transpotasi membuat penyaluran barang-barang kebutuhan tersalur dengan baik dan sampai tujuannya.

Sistem transportasi erat kaitannya dengan keadaan ekonomi suatu wilayah

karena pertumbuhan ekonomi suatu wilayah sangat dipengaruhi kondisi sistem

transportasi yang ada di wilayah tersebut. Sistem transportasi yang baik akan

mempermudah pergerakan mobilitas perekonomian baik produksi, distribusi, maupun

konsumsi. Teori transportasi saat ini menempatkan sistem transportasi sebagai bagian

yang tak terpisahkan dari infrastruktur desa maupun kota. Pembangunan sistem

transportasi ini membentuk integrasi antar wilayah. Kegiatan pemindahan suatu barang

atau manusia sekalipun dapat cepat dilakukan dengan transportasi. Seperti halnya

pengiriman barang dari suatu wilayah yang tidak memiliki barang tersebut sehingga

wilayah yang tidak memiliki barang tersebut sebelumnya dapat menikmati utilitas dari

barang tersebut.

Core atau inti hubungan diantara keduanya ada dua hal yaitu pergerakan

orang dan atau barang dan level aksesibilitas. Pergerakan orang dan atau barang

timbul karena adanya derivated demand atau permintaan turunan dari suatu kegiatan

atau aktifitas yang mengharuskan adanya perpindahan, dimana dengan perpindahan itu

tentunya akan menghasilkan suatu nilai atau value yang dapat berbentuk bermacam

macam, mulai dari uang, kepuasan, kebergunaan dan lain lain. Dan nilai atau value

tersebut mulai dari suatu hal yang dapat diukur hingga suatu yang tidak dapat diukur

karena menyangkut suatu hal yang abstrak, seperti kepuasan, semua hal yang terkait

value tersebut dapat dikatakan membawa peningkatan secara ekonomi, apapun

(10)

P

a

g

e

6

Transportasi juga akan menentukan level of aksesibilitas dari suatu daerah,

yang menggambarkan tingkat kemudahan suatu daerah dicapai atau di akses dari

daerah lainnya. Semakin mudah daerah tersebut dicapai maka semakin tinggi level

aksesibilitasnya demikian juga sebaliknya semakin sulit daerah tersebut d capai maka

semakin rendah level aksesibilitasnya. Dan tingkat kemudahan untuk mencapai suatu

daerah sangat ditentukan oleh sarana dan prasarana transportasi yang ada. Level of

service akan sangat berpegaruh terhadap perekonomian, karena dengan level of

service yang tinggi akan sangat memudahkan aktifitas perekonomian terutama

pergerakan barang dan jasa. (sumber Jurnal : Fatah, Amir. “Menurunkan Angka Kecelakaan Lalu Lintas Melalui Implementai Teori-Teori Matematika Dan IPA Dalam Berkendara”. ISBN 978-979-17763-6-3)

1.3. Kemacetan Transportasi

1.3.1 Definisi Kemacetan

Kemacetan identik dengan kepadatan (density), yang didefinisikan sebagai jumlah kendaraan yang menempati suatu panjang jalan tertentu dari lajur atau jalan,

dirata-rata terhadap waktu. Menurut Meyer et al (1984), kemacetan lalulintas pada ruas

jalan raya terjadi saat arus kendaraan lalulintas meningkat seiring bertambahnya

permintaan perjalanan pada suatu periode tertentu serta jumlah pemakai jalan melebihi

dari kapasitas yang ada. Menurut Wohl et al (1984), kemacetan lalulintas terjadi apabila

kapasitas jalan tetap sedangkan jumlah pemakai jalan terus meningkat, yang

menyebabkan waktu tempuh perjalanan menjadi lebih lama.

Kemacetan adalah keadaan di mana kendaraan mengalami berbagai jenis

kendala yang mengakibatkan turunnya kecepatan kendaraan di bawah keadaan normal.

Kemacetan akan sangat merugikan bagi para pengguna jalan, karena akan menghambat

waktu perjalanan mereka. Menurut Cambridge (2005), terdapat 7 penyebab kemacetan,

yaitu physical bottlenecks, kecelakaan lalu lintas (traffic incident), area pekerjaan (work zone), cuaca buruk (bad weather), alat pengatur lalu lintas yang kurang memadai (poor signal timing), acara khusus (special event), dan fluktuasi pada arus normal (fluctuations in normal traffic).

Definisi lainnya adalah bahwa kemacetan lalu lintas terjadi saat

kendaraan-kendaraan yang berada pada satu ruas jalan harus memperlambat laju kendaraan-kendaraannya,

kemacetan lalu lintas akan berhubungan dengan pergerakan kendaraan di suatu ruas

(11)

P

Jika arus lalu lintas mendekati kapasitas, kemacetan mulai terjadi. Kemacetan

semakin meningkat apabilaarus begitu besarnya sehingga kendaraan sangat berdekatan

satu sama lain. Kemacetan total terjadi apabila kendaraan harus berhenti atau bergerak

sangat lambat (Tamin,2000). Lalu-lintas tergantung kepadakapasitas jalan, banyaknya

lalu-lintas yang ingin bergerak, tetapi kalaukapasitas jalan tidakdapat menampung, maka

lalu-lintas yang ada akan terhambat dan akan mengalir sesuai dengan kapasitas jaringan

jalan maksimum (Sinulingga,1999).

Kemacetan , ditinjau dari tingkat pelayanan jalan (Level Of Service= LOS), pada

saat LOS < C. LOS < C , kondisi arus lalu-lintas mulai tidak stabil, kecepatan operasi

menurun relatif cepat akibat hambatan yang timbul dan kebebasan bergerak relatif kecil.

Pada kondisi ini nisbah volume-kapasitas lebih besar atau sama dengan 0,8( V/ C >0,8).

Jika LOS (Level Of Service) sudah mencapai E, aliran lalu-lintas menjadi tidak stabil

sehingga terjadilah tundaan berat, yang disebut dengan kemacetan lalu-lintas ( Tamin

dan Nahdalina, 1998). Kemacetan bukan hanya disebabkan oleh perilaku berkendara pengguna jalan, tetapi kemacetan juga dapat terjadi karena beberapa alasan,

diantaranya:

a. Arus kendaraan yang melewati jalan telah melampaui kapasitas jalan.

b. Adanya perbaikan jalan.

c. Bagian jalan tertentu yang longsor.

d. Terjadi banjir sehingga memperlambat kendaraan.

e. Perilaku pemakai jalan yang tidak taat lalu lintas.

f. Terjadi kecelakaan lalu lintas sehingga terjadi gangguan kelancaran.

g. Kesalahan teknis dari rambu lalu lintas.

1.4. Pengertian dan Klasifikasi Jalan

Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan,

termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu

lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah

permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api,

jalan lori, dan jalan kabel (Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006). Jalan raya

adalah jalur - jalur tanah di atas permukaan bumi yang dibuat oleh manusia dengan

bentuk, ukuran-ukuran dan jenis konstruksi nya sehingga dapat digunakan untuk

menyalurkan lalu lintas orang, hewan dan kendaraan yang mengangkut barang dari

(12)

P

a

g

e

8

Jalan raya pada umumnya dapat digolongkan dalam 4 klasifikasi yaitu :

klasifikasi menurut fungsi jalan, klasifkasi menurut kelas jalan, klasifikasi menurut

medan jalan dan klasifikasi menurut wewenang pembinaan jalan (Bina Marga 1997).

1.4.1 Klasifikasi menurut fungsi jalan

Klasifikasi menurut fungsi jalan terdiri atas 3 golongan yaitu :

a. Jalan arteri yaitu jalan yang melayani angkutan utama dengan ciri-ciri perjalanan

jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara

efisien.

b. Jalan kolektor yaitu jalan yang melayani angkutan pengumpul/pembagi dengan

ciri-ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang dan jumlah jalan

masuk dibatasi.

c. Jalan lokal yaitu Jalan yang melayani angkutan setempat dengan ciri-ciri

perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk

tidak dibatasi.

1.4.2 Klasifikasi menurut kelas jalan

Klasifikasi menurut kelas jalan berkaitan dengan kemampuan jalan untuk

menerima beban lalu lintas, dinyatakan dalam muatan sumbu terberat (MST)

satuan ton.

Tabel 2.1 Klasifikasi Jalan menurut Kelas Jalan

1.4.3 Klasifikasi menurut medan jalan

Medan jalan diklasifikasikan berdasarkan kondisi sebagian besar kemiringan

medan yang diukur tegak lurus garis kontur. Keseragaman kondisi medan yang

diproyeksikan harus mempertimbangkan keseragaman kondisi medan menurut

rencana trase jalan dengan mengabaikan perubahan-perubahan pada bagian kecil

(13)

P

a

g

e

9

Tabel 2.2 Klasifikasi Jalan berdasarkan Jenis Medan

1.4.4 Klasifikasi menurut wewenang pembinaan jalan

Klasifikasi menurut wewenang pembinaannya terdiri dari Jalan Nasional,

Jalan

Provinsi, Jalan Kabupaten/Kota dan Jalan Desa.

a. Jalan nasional merupakan jalan arteri dan jalan kolektor dalam sistem jaringan

jalan primer yang menghubungkan antar ibukota propinsi, dan jalan strategis

nasional, serta jalan tol.

b. Jalan propinsi merupakan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang

menghubungkan ibukota propinsi dengan ibukota kabupaten/kota, atau antar

ibukota kabupaten/kota, dan jalan strategis propinsi.

c. Jalan kabupaten merupakan jalan lokal dalam sistem jaringan jalan primer yang

tidak termasuk pada jalan nasional dan propinsi yang menghubungkan ibukota

kabupaten dan ibukota kecamatan, antar ibukota kecamatan, dengan pusat

kegiatan lokal.

d. Jalan kota adalah jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder yang

menghubungkan antar pusat pelayanan dalam kota, menghubungkan pusat

pelayanan dengan persil, menghubungkan antar persil, serta menghubungkan

antar pusat permukiman yang berada dalam kota.

e. Jalan desa merupakan jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau

antar permukiman dalam desa, serta jalan lingkungan.

1.5. Level Of Service (LOS)

LOS (Level of Service) atau tingkat pelayanan jalan adalah salah satu metode yang

digunakan untuk menilai kinerja jalan yang menjadi indikator dari kemacetan. Suatu

jalan dikategorikan mengalami kemacetan apabila hasil perhitungan LOS menghasilkan

nilai mendekati 1. Dalam menghitung LOS di suatu ruas jalan, terlebih dahulu harus

mengetahui kapasitas jalan (C) yang dapat dihitung dengan mengetahui kapasitas

dasar, faktor penyesuaian lebar jalan, faktor penyesuaian pemisah arah, faktor

penyesuaian pemisah arah, faktor penyesuaian hambatan samping, dan faktor

(14)

P

a

g

e

1

0

sebagai jumlah kendaraan maksimal yang dapat ditampung di ruas jalan selama kondisi

tertentu (MKJI, 1997).

Volume adalah jumlah kendaraan yang melalui suatu titik pada suatu jalur gerak

per satuan waktu yang biasanya digunakan satuan kendaran per waktu (Morlok, 1978).

Satuan yang digunakan dalam menghitung volume lalu lintas (V) adalah satuan mobil

penumpang (SMP). Untuk menunjukkan volume lalu lintas pada suatu ruas jalan maka

dilakukan dengan pengalian jumlah kendaraan yang menggunakan ruas jalan tersebut

dengan faktor ekivalensi mobil penumpang (EMP). Level of Service (LOS) dapat

diketahui dengan melakukan perhitungan perbandingan antara volume lalu lintas

dengan kapasitas dasar jalan (V/C). Dengan melakukan perhitungan terhadap nilai

LOS, maka dapat diketahui klasifikasi jalan atau tingkat pelayanan pada suatu ruas

jalan tertentu. Berikut adalah klasifikasi LOS.

(15)

P

a

g

e

1

1

BAB III

METODE ANALISA

3.1. Ruang Lingkup Penelitian

Makalah penelitian ini memiliki batas ruang lingkup kota Surabaya, khususnya

pada koridor Kertajaya – Kertajaya Indah yang terdiri dari Jalan Kertajaya,

Manyarkertoarjo, dan Kertajaya Indah. Adapun yang diamati dalam makalah penelitian

ini adalah pengaruh pelayan transportasi terhadap ekonomi kota. Untuk pelayanan

transportasi pada koridor studi dapat ditinjau dari analis Level Of Service (LOS). Sedangkan dari segi ekonomi dapat ditinjau melalui nilai LOS, dimana LOS dari setiap

jalan akan berdampak pada kelancaran kegiatan ekonomi.

3.2. Jenis Sumber Data

Adapun sumber data yang digunakan untuk penyusunan makalah penelitian ini

adalah menggunakan data sekunder dan data primer. Data sekunder diambil dari hasil

analisis yang terdapat pada suatu studi literature. Data sekunder yang digunakan adalah

(16)

P

a

g

e

1

2

BAB IV

GAMBARAN UMUM WILAYAH

4.1. Gambaran Umum Wilayah

Gambar 4.1 : Batas Wilayah Penelitian Koridor Kertajaya-Kertajaya Indah

Lokasi studi yang dibahas dalam makalah penelitian ini adalah koridor

Kertajaya-Kertajaya Indah. Koridor ini terdiri dari Jala Kertajaya, Manyar Kertoarjo, dan

Kertajaya Indah. Jalan Kertajaya memiliki tipe Jalan 6/2D dengan panjang jalan 0,72Km

yang terdiri dari dua jalur dimana masing-masing jalur memiliki lebar sebesar 10m dan

dipisahkan oleh median selebar 5,50m. Pada jalan Kertajaya dilengkapi dengan trotoar

selebar 3,30m. Untuk Jalan Manyar Kertoarjo, tipe jalan ini adalah 6/2D dengan panjang

jalan 1,11Km yang terdiri dari dua jalur dimana masing-masing jalur memiliki lebar

sebesar 12m dan dipisahkan oleh median selebar 5,50m. Sedangkan pada Jalan

Kertajaya Indah memiliki tipe 6/2D dengan panjang jalan 1,98Km yang terdiri dari dua

jalur dimana masing-masing jalur memiliki lebar sebesar 10m dan dipisahkan oleh

median selebar 12m. Adapun Koridor Kertajaya-Kertajaya Indah ini menghubungkan

Surabaya Timur yang didominasi oleh permukiman, dengan Surabaya Pusat yang

didominasi oleh kegiatan perdagangan dan jasa.

4.2. Perkembangan LHR Di Jalan Kertajaya

Lalu lintas harian rata-rata disingkat LHR adalah volume lalu lintas yang dua arah

yang melalui suatu titik rata-rata dalam satu hari, biasanya dihitung sepanjang tahun.

LHR adalah istilah yang baku digunakan dalam menghitung beban lalu lintas pada

(17)

P

a

g

e

1

3

dalam pengukuran polusi yang diakibatkan oleh arus lalu lintas pada suatu ruas jalan.

Berikut diberikan data perkembangan LHR di Jalan Kertajaya dari tahun ke tahun :

Tabel 4.1 LHR di Jalan Kertajaya menuju ke timur tahun 2012.

Sumber : Dinas Perhubungan Surabaya

Tabel 4.2 LHR di Jalan Kertajaya menuju ke barat tahun 2012.

(18)

P

a

g

e

1

4

Tabel 4.3 LHR di Jalan Kertajaya total 2 arah tahun 2012.

Sumber : Dinas Perhubungan Surabaya

Tabel 4.4 LHR Jalan Kertajaya tahun 2005-2012

Sumber : Dinas Perhubungan Surabaya

Dari data di atas diketahui bahwa lalu lintas harian rata-rata jalan Kertajaya dari

tahun ke tahun mengalami naik turun atau bervariasi. Hal ini disebabkan oleh

bervariasinya jumlah volume lalu lintas yang melalui ruas jalan tersebut sehingga

(19)

P

5.1. Analisis LOS di Jalan Kertajaya

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan oleh narasumber didapatkan

data tingkat pelayanan jalan Kertajaya adalah sebagai berikut.  Simpang bersinyal pada Jl. Kertajaya memiliki tundaan :

Tabel 5.1 Tundaan Jl.Kertajaya pada Jam Puncak Pagi

KODE Q

0,641. Sedangkan urutan arus terbesar hingga terkecil berikutnya adalah titik barat

(arus 727 smp/jam, DS 0,481), Selatan (arus 725 smp/jam, DS 0,53), Utara (arus

576 smp/jam, DS 0,632), barat belok kanan ( arus 246 smp/jam, DS 0,480), dan

timur belok kanan ( arus 132 smp/jam, DS 0,257). Total Tundaan di Jalan Kertajaya

pada jam puncak pagi adalah sebesar 33,66 det/jam, sehingga tingkat pelayanan

jalannya (LOS) berada pada tingkat D yang artinya Arus mulai tidak stabil, kecepatan

rendah dan berbeda-beda, volume mendekati kapasitas.

(20)

P

Timur dengan arus sebesar 735 smp/jam dengan derajat kejenuhan (DS) sebesar

0,462. Sedangkan urutan arus terbesar hingga terkecil berikutnya adalah titik

selatan (arus 711 smp/jam, DS 0,603), barat (arus 626 smp/jam, DS 0,384), Utara

(arus 502 smp/jam, DS 0,638), barat belok kanan ( arus 215 smp/jam, DS 0,417),

dan timur belok kanan ( arus 101 smp/jam, DS 0,196). Total Tundaan di Jalan

Kertajaya pada jam puncak siang adalah sebesar 32,75 det/jam, sehingga tingkat

pelayanan jalannya (LOS) berada pada tingkat D yang artinya Arus mulai tidak

stabil, kecepatan rendah dan berbeda-beda, volume mendekati kapasitas.

Tabel 5.3 Tundaan Jl.Kertajaya pada Jam Puncak Sore

Timur dengan arus sebesar 932 smp/jam dengan derajat kejenuhan (DS) sebesar

0,562. Sedangkan urutan arus terbesar hingga terkecil berikutnya adalah titik barat

(arus 814 smp/jam, DS 0,615), Selatan (arus 784 smp/jam, DS 0,574), Utara (arus

657 smp/jam, DS 0,721), barat belok kanan ( arus 283 smp/jam, DS 0,690), dan

timur belok kanan ( arus 129 smp/jam, DS 0,210). Total Tundaan di Jalan Kertajaya

(21)

P

kecepatan rendah dan berbeda-beda, volume mendekati kapasitas.  Simpang bersinyal pada Jl. Manyar Kertoarjo memiliki tundaan :

Tabel 5.4 Tundaan Jl. Manyar Kertoarjo pada Jam Puncak Pagi

KODE Q

Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa ketika jam puncak pagi di simpang bersinyal

Jalan Manyar Kertoarjo pada titik yang memiliki arus paling tinggi adalah sebelah

Timur dengan arus sebesar 873 smp/jam dengan derajat kejenuhan (DS) sebesar

0,743. Sedangkan urutan arus terbesar hingga terkecil berikutnya adalah titik barat

(arus 595 smp/jam, DS 0,514), utara (arus 425 smp/jam, DS 0,648), selatan (arus

418 smp/jam, DS 0,75), timur belok kiri ( arus 270 smp/jam, DS 0,498), dan timur

belok kanan ( arus 244 smp/jam, DS 0,827), barat belok kanan (arus 147 smp/jam,

DS 0,48). Total Tundaan di Jalan Manyar Kertoarjo pada jam puncak pagi adalah

sebesar 41,56 det/jam, sehingga tingkat pelayanan jalannya (LOS) berada pada

tingkat E yang artinya Arus tidak stabil, kecepatan rendah dan berbeda-beda,

volume mendekati kapasitas.

Tabel 5.5 Tundaan Jl. Manyar Kertoarjo pada Jam Puncak Siang

(22)

P

bersinyal Jalan Manyar Kertoarjo pada titik yang memiliki arus paling tinggi adalah

sebelah Timur dengan arus sebesar 976 smp/jam dengan derajat kejenuhan (DS)

sebesar 0,736. Sedangkan urutan arus terbesar hingga terkecil berikutnya adalah

titik barat (arus 526 smp/jam, DS 0,471), utara (arus 478 smp/jam, DS 0,729),

selatan (arus 424 smp/jam, DS 0,693), timur belok kanan ( arus 362 smp/jam, DS

0,820), timur belok kiri ( arus 249 smp/jam, DS 0,444), dan barat belok kanan (arus

241 smp/jam, DS 0,465). Total Tundaan di Jalan Manyar Kertoarjo pada jam

puncak siang adalah sebesar 42,53 det/jam, sehingga tingkat pelayanan jalannya

(LOS) berada pada tingkat E yang artinya Arus tidak stabil, kecepatan rendah dan

berbeda-beda, volume mendekati kapasitas.

Tabel 5.6 Tundaan Jl. Manyar Kertoarjo pada Jam Puncak Sore

KODE Q

bersinyal Jalan Manyar Kertoarjo pada titik yang memiliki arus paling tinggi adalah

sebelah Timur dengan arus sebesar 1095 smp/jam dengan derajat kejenuhan (DS)

sebesar 0,835. Sedangkan urutan arus terbesar hingga terkecil berikutnya adalah

titik barat (arus 696 smp/jam, DS 0,595), selatan (arus 641 smp/jam, DS 0,952),

(23)

P

0,922), barat belok kanan ( arus 315 smp/jam, DS 0,570), dan timur belok kiri (arus

293 smp/jam, DS 0,503). Total Tundaan di Jalan Manyar Kertoarjo pada jam

puncak sore adalah sebesar 50,91 det/jam, sehingga tingkat pelayanan jalannya

(LOS) berada pada tingkat E yang artinya Arus tidak stabil, kecepatan rendah dan

berbeda-beda, volume mendekati kapasitas.

 Simpang bersinyal pada Jl. Kertajaya Indah memiliki tundaan :

Tabel 5.7 Tundaan Jl. Kertajaya Indah pada Jam Puncak Pagi

KODE Q

sebelah barat dengan arus sebesar 1304 smp/jam dengan derajat kejenuhan (DS)

sebesar 0,750. Sedangkan urutan arus terbesar hingga terkecil berikutnya adalah

titik selatan (arus 1091 smp/jam, DS 0,750), utara (arus 1077 smp/jam, DS 0,685),

dan timur (arus 638 smp/jam, DS 0,581). Total Tundaan di Jalan Kertajaya Indah

pada jam puncak pagi adalah sebesar 42,10 det/jam, sehingga tingkat pelayanan

jalannya (LOS) berada pada tingkat E yang artinya Arus tidak stabil, kecepatan

rendah dan berbeda-beda, volume mendekati kapasitas.

Tabel 5.8 Tundaan Jl. Kertajaya Indah pada Jam Puncak Siang

(24)

P

sebelah barat dengan arus sebesar 1179 smp/jam dengan derajat kejenuhan (DS)

sebesar 0,710. Sedangkan urutan arus terbesar hingga terkecil berikutnya adalah

titik selatan (arus 1109 smp/jam, DS 0,747), utara (arus 1090 smp/jam, DS 0,704),

dan timur (arus 696 smp/jam, DS 0,618). Total Tundaan di Jalan Kertajaya Indah

pada jam puncak siang adalah sebesar 41,75 det/jam, sehingga tingkat pelayanan

jalannya (LOS) berada pada tingkat E yang artinya Arus tidak stabil, kecepatan

rendah dan berbeda-beda, volume mendekati kapasitas.

Tabel 5.9 Tundaan Jl. Kertajaya Indah pada Jam Puncak Sore

KODE Q

sebelah selatan dengan arus sebesar 1787 smp/jam dengan derajat kejenuhan

(DS) sebesar 0,765. Sedangkan urutan arus terbesar hingga terkecil berikutnya

adalah titik barat (arus 1470 smp/jam, DS 0,748), utara (arus 1398 smp/jam, DS

0,74), dan timur (arus 969 smp/jam, DS 0,744). Total Tundaan di Jalan Kertajaya

Indah pada jam puncak pagi adalah sebesar 46,99 det/jam, sehingga tingkat

pelayanan jalannya (LOS) berada pada tingkat E yang artinya Arus tidak stabil,

kecepatan rendah dan berbeda-beda, volume mendekati kapasitas.

Sumber : Putrantono, Aditya. “Analisa Kapasitas Ruas Jalan Dan Simpang Untuk Persiapan Bus Rapid Transit (Brt) Koridor Timur - Barat Surabaya (Studi Kasus Jl.Kertajaya Indah S/D Jl. Kertajaya)”. Skripsi Jurusan Teknik Sipil-Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan ITS.

5.2. Analisis LOS terhadap Ekonomi Kota

Berdasarkan hasil survei sekunder terhadap hasil Level of Service (LOS) di

(25)

P

a

g

e

2

1

LOS E, kecuali pada simpang bersinyal Jl. Kertajaya nilai LOS D. Maka diketahui bahwa

tingkat pelayanan jalan di koridor Kertajaya-Kertajaya memiliki Arus yang tidak stabil,

kendaraan kecepatan rendah dan berbeda-beda dan volume mendekati kapasitas. Hal

ini disebabkan pada Koridor Kertajaya-Keratajaya Indah banyak orang melakukan

aktifitas, baik berangkat kerja, pulang kerja, maupun berpergian ke tujuan lain, sehingga

meningkat pola kebutuhan akan transportasi.

Rendahnya tingkat Pelayanan transportasi pada suatu ruas jalan berpengaruh

terhadap kondisi ekonomi suatu perkotaan. Hubungan antara tingkat pelayanan dan

tundaan (kemacetan) kendaraan sangat erat (linear). Semakin rendah tingkat pelayanan

suatu jalan menunjukkan bahwa tundaan yang terjadi juga besar. Tundaan merupakan

permasalahan transportasi yang sekarang selalu dihadapi kota-kota besar di

Indonesia. Tundaan pada umumnya terjadi pada kawasan yang mempunyai intensitas

kegiatan yang tinggi seperti kawasan perdagangan dan jasa. Semakin besar tundaan

akan menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi pemakai jalan, terutama dalam hal

pemborosan waktu (tundaan), pemborosan bahan bakar (BBM), pemborosan tenaga

dan rendahnya tingkat kenyamanan berlalu-lintas serta meningkatnya polusi baik

(26)

P

Mengingat akan potensi ekonomi kearah positif maupun kearah negative maka

perencanaan transportasi butuh kajian yang lebih spesifik untuk mendapatkan penangan

yang sesuai dan bermanfaat. Beebrapa hal yang dapat penulis sampaikan untuk perbaikan

sarana dan prasarana transportasi diantaranya yaitu:

1. Membuat keselarasan dan keserasian kebijakan yang dapat menengahi antara

permasalahan sarana dan prasaraana transportasi.

Kebijakan yang dimaksud adalah kebijakan yang saling mengintegrasikan akan

aspek ekonomi, lingkungan dan social dengan orientasi yang lebih berkelanjutan.

Apabila ketiga aspek ini mendapatkan kebijakan dengan masing-masing pendekatan

maka keadaan transportasi akan menjadi sebuah solusi untuk benar-benar

meningkatkan produktivitas perkotaan. Pendekatan ekonomi akan semakin dekat

dengan keadaan kota dimana kota yang aktivitas masyrakatnya adalah non

pertanian melaikan kegiatan prekonomian secara langsung seharusnya kebijakan

dapat menyesuaikan kebutuhan masyarakatnya secara optimal sehingga kegiatan

ekonomi berjalan tanpa menganggu kesetabilan transportasi dan transportasi

diharapkan mampu menjulang kegiatan ekonomi. Selanjutnya kebijakan berdasarkan

lingkungan diterapkan agar dalam penyediaan sarana dan prasaraan transportasi

dapat tercapai dengan cara yang optimal terhadap penggunaan lahan dan juga efek

adanya sarana dan sarana transportasi diharapkan tidak mengganggu

keseimbangan lingkungan. Apabila kebijakan yang meliputi ekonomi dan lingkungan

telah tercapai maka perlu dilanjutkan pada kebijakan dengan pendekatan pada social

yaitu kebijakn yang langsung pada manusianya. karena yang mengimplementasikan

semua kebijakan sebelumnya dan kegiatan yang ada dalam transportasi itu adalah

manusianya sendiri.yang menyebabkan kemcetan salah satunya adalah sikap dari

pengguan jalan yang tidak taat aturan, maak untuk mengeleminasi pelangaran perlu

kebijakn yang berupa disinsentif pada setiap pelanggar. Apabila kebijakan telah

mampu mengarahkan pola prilaku manusianya yang sadar akan lingkungan dengan

dampak langsung pada prekonomiannya maka seharusnya mereka sendiri dapat

menjadi controlling untuk menjalankan kepentingan transportasi 2. Membatasi Jumlah Kendaraan Pribadi

Konsep penanganan yang dapat diterapkan pada permasalahan ekonomi kota yang

disebabkan oleh pelayanan transportasi adalah membatasi jumalh kendaraan

(27)

P

a

g

e

2

3

cara seperti menaikkan pajak untuk kendaraan pribadi, pembatasan kendaraan yang

berusia lebih dari 10 tahun. Namun dengan pembatasan jumlah kendaraan pribadi

ini, pemerintah mempunyai pekerjaan tambahan yaitu memperbaiki dan

mengupayakan kuantitas dan kualitas layanan angkutan umum. Upaya peningkatan

layanan angkutan umum dapat menggunakan strategi yang sebenarnya sudah

dibuat oleh pemerintah yaitu salah satunya transportasi terpadu. Dengan upaya

perbaikan layanan transportasi umum, maka akan berdampak pada ekonomi kota

tersebut.

3. Pembangunan Boyo Rail

Salah satu permasalahan yang tidak kunjung berakhir adalah masalah kemacetan,

terutama kemacetan yang diambil pada studi kasus makalah ini yaitu pada Koridor

Kertajaya-Kertajaya Indah. Hal tersebut diakibatkan Koridor Kertajaya merupakan

jenis jalan arteri sekunder, dan menghubungkan antara surabaya timur dengan

surabaya pusat. Sirkulasi yang terdapat pada koridor ini pun kebanyakan sirkulasi

internal. Melihat itu pemerintah sudah merencanakan suatu konsep menarik yaitu

Boyo Rail. Konsep mega proyek boyo rail ini salah satu rutenya akan melewati

Koridor Jalan Kertajaya. Mega proyek ini diharapkan adalah salah satu solusi yang

bisa memecahkan kemacetan yang terjadi pada Koridor Kertajaya, hal itu

disebabkan posisi boyo rail yang tidak akan menggunakan badan jalan Kertajaya

(28)

P

Kebermanfaatan transportasi terhadap ekonomi kota merupakan suatu pernyataan yang

tidak dapat dibantahkan dimana baik dan buruknya kinerja transportasi akan sangat

mempengaruhi keadaan perekonomian kota. Kebermanfaaatan akan dapaat tercapai jika

transportasi didukung oleh sarana prasarana yang sesuai dengan kebutuhan kota terhadap

transportasi tersebut. Suarabaya memiliki perkembangan ekonomi yang begitu pesat dan

perkembangan tersebut tidak terlepas dari baiknya pelayananan transportasi (level of service) kota suarabaya.

Namun dengan perkembangan dan pesatnya kegiatan ekonomi yang semakin menuntut

kenaikan teransportasi dapat menajdi permasalahan yang rumit bagi kota seperti yang

terjadi di jalan Kertajaay-Kertajaya Indah yang begitu ramai dilalui. sebagaiman hasil dari

pemabahasan analisis diatas dapat disimpulkan bahwa jalan ini merupakan jalan sebagai

prasarana yang cukup tinggi penggunannya sehingga berakibat menurunkan level of service

(LOS) dengan potensi kemacetan karena naiknya waktu tundaan. Tundaan berawal dengan

jumlah kendaraan yang berasal dari simpang bersinyal sanrat tinggi dengan nilai derajat

kejenuhan (DS) yang hampir bernilai E yaitu kendaraan yang melaju dengan kecepatan

yang rendah bahkan sering berhenti di jalan tersebut.

Dapat disimpulkan bahwa Level of service jalan ini semakin menurun karena adanya suatu kondisi yang hampir mendekati spillover effect. Dimana volume kendaraan yang melintas sudah mendekati kapasitas jalan Kertajaya-Kertajaya Indah terutama pada saat

jam keberangkatan dan pulang kerja yaitu jam puncak pagi dan dan jam puncak sore.

Tabel 6.1 Tundaan Jl. Kertajaya Indah pada Jam Puncak Pagi

(29)

P

Tabel 5.8 Tundaan Jl. Kertajaya Indah pada Jam Puncak Siang

KODE Q

Tundaan (kemacetan) yang terjadi akan menimbulkan permasalahan lainnya sehingga

kembali menurunkan produktivitas kegiatan ekonomi. dengan besarnya presentasi

kemacetan yang menunjukan ketidak stabilan jalan level of service (LOS) yang semakin

turun, maka semakin banyak biaya yang harus ditanggung oleh pengguna jalan. Biaya yang

dikeluarkan disebut sebagai biaya kemacetan yang etrhitung dari pemborosan energy,

keausan dan biaya perawatan mesin bahkan kesehatan fisik dan mental penggunanya yang

semakin berpengaruh pada produktivitas ekonomi.

Salah satu solusi atau rekoemndasi yang digunakan untuk menangani permasalahan

ekonomi dengan penyebab pelayanan transportasi adalah regulasi yang dibuat oleh

pemerintah, pembatasan jumlah kendaraan pribadi dan konsep mega proyek pemerintah

yaitu Boyo Rail.

7.2. Lesson Learned

Sejauh ini belum ada satu-satunya solusi yang dapat langsung memcahkan

permasalahan dalam kasus ransportasi perkotaan secara tuntas apalagi dengan kondisi

transportasi yang semakin parah. Namun masih ada kemungkinan untuk membuat

kebijakan yang berupa sinergi dari berbagai kebijakan lainnya untuk memcahkan

permasalhan transportasi dengan penelaahan dan kajian serat identifikasi untuk

memodifikasi solusi sebagai pencapai perbaiakan dari permasalahan yang ada.

Semua pihak harus sadar bahwa peran transportasi sangat berguna untuk

mendudkung pencapaian kegiatan perekonomian suatu kota. Oleh karena itu

adankeharusan akan kerjasama yang baik antara masyarakat dan pihak berwenang yang

sama-sama merupaakn pengimplementasi akan kesepakatan adanya sarana dan prasarana

transportasi.

Mobilitas yang tinggi perlu didukung dengan pergerakan transportasi yang lancar

(30)

P

a

g

e

2

6

adalah produksi yang tinggi, dimana produksi yang tinggi secara otomatis akan menjadikan

Gambar

Tabel 2.1 Klasifikasi Jalan menurut Kelas Jalan
Tabel 2.2 Klasifikasi Jalan berdasarkan Jenis Medan
Tabel 2.3 Klasifikasi LOS
Gambar 4.1 : Batas Wilayah Penelitian Koridor Kertajaya-Kertajaya Indah
+7

Referensi

Dokumen terkait

Aspek sintaksis yang menjadi pokok masalah penelitian ini, secara lebih rinci mengkaji sistem yang bersangkut-paut dengan relasi dan peran gramatikal dalam BPD, yang secara

Subbab sebelumnya menyebutkan bahwa hasil kali titik dari dua vektor pada ruang berdimensi dua atau ruang berdimensi tiga dapat menghasilkan suatu skalar. Pada subbab ini,

Bahasa Jepang ** (Keterampilan/Bhs. Asing) Pembelajaran Terbagi Antara : Kls.. Bahasa Jerman ** (Keterampilan/Bhs.

Hishshah ( ) adalah tenggang waktu atau jarak yang harus dipertimbangkan dari kedudukan benda langit ke benda langit lainnya, yakni busur pada falak Bulan

Pada dasarnya, weighted moving average punya prinsip yang sama dengan simple moving average , yaitu bahwa dalam memprediksi nilai tukar Euro terhadap US Dollar pada waktu

Makanan itu dikunyah sebentar sebelum ditelan melewati esophagus menuju rumen dan reticulum  Di dalam rumen terdapat jutaan mikrob berupa bakteri anaerob yang memproduksi enzim

• Pada keadaan normal, pertumbuhan sel akan terjadi sesuai dengan kebutuhan melalui siklus sel normal yang dikendalikan secara terpadu oleh fungsi ketiga gen: proto-onkogen, gen

scenario dari Sistem Informasi Investasi di Badan Koordinasi Promosi dan Penanaman Modal Daerah (BKPPMD) Provinsi Jawa Barat yang menunjukkan interaksi antara User (Investor)