• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN KURIKULUM PAI DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KAJIAN KURIKULUM PAI DI INDONESIA"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN KURIKULUM PAI DI INDONESIA

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi

Tugas Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran PAI Dosen Pengampu: Dr. Abdul Rahman, M.Ag

Disusun Oleh:

1. Badrul Ahadi (1600118025) 2. Fathiya Fauziati Rosyida (1600118026)

PASCASARJANA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG

(2)

1

KAJIAN KURIKULUM PAI DI INDONESIA

A.PENDAHULUAN

Pendidikan agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup

etika, budi pekerti dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. Peningkatan potensi spiritual mencakup pengenalan,pemahaman,dan penanaman

nilai-nilai keagamaan,serta pengalaman nilai-nilai tersebutdalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan.Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang di miliki manusia yang actualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai mahluk Tuhan.

Pendidikan agama islam diberikan dengan memberikan tuntunan bahwa agama diajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT dan berakhlaq mulia ,serta bertujuan untuk menghasilkan manusia yang jujur,adil,berbudi pekerti ,etis saling menghargai, disiplin, harmonis dan produktip,baik personal maupun social. Tuntutan ini mendorong dikembangkanya standar kompetensi sesuai dengan jenjang persekolahan yang secara nasional.

Konsep kurikulum Pendidikan Agama Islam yang berlaku di Indonesia dapat dilihat dari definisi kurikulum yang terdapat dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional 2003 pasal 1 ayat11, yang berbunyi: “Kurikulum adalh seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta

cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belahar

mengajar”.1

Pada prinsipnya kurikulum berkisar pada pengembangan aspek ilmu pengetahuan dan teknologi yang perlu diimbangi perkembangan pendidikan. Manusia, disisi lain sering kali memiliki keterbatasan kemampuan untuk

(3)

2

menerima, menyampaikan dan mengolah informasi, karenanya diperlukan proses pengembangan kurikulum yang akurat dan terseleksi dan memiliki tingkat relevansi yang kuat. Dalam hal ini akan dibahas Kajian Kurikulum PAI di Indonesia.

B.PEMBAHASAN

1. Kurikulum Pendidikan Agama Islam

a. Pengertian Kurikulum dan Unsur-Unsurnya

Kata “kurikulum” berasal dari bahasa Yunani yang semula digunakan dalam bidang olahraga, yaitu currere yang berarti jarak tempuh lari, yakni jarak yang harus ditempuh dalam kegiatan berlari mulai dari

start hingga finish. Pengertian ini kemudian diterapkan dalam bidang

pendidikan.2

Hilda taba dalam bukunya Curriculum Develoment menuliskan “curriculum is after all, a way of preparing young to participate as productive members of our culturer” artinya : Kurikulum adalah cara mempersiapkan manusia untuk berpartisipasi sebagai anggota yang produktif dar suatu budaya.

Dalam perspektif mikro, kurikulum merupakan suatu sistem yang memiliki beberapa komponen yaitu, tujuan, materi, strategi pembelajaran (KBM), dan evaluasi.3

Pada Prinsip dasarnya Kurikulum sebagai program pendidikan mencakup:

1) Sejumlah mata pelajaran atau organisasi pengetahuan 2) Pengalaman belajar atau kegiatan belajar

3) Program belajar (plan of learning) bagi siswa 4) Hasil belajar yang diharapkan.4

Unsur-Unsur Kurikulum secara garis besar meliputi :

2 Prof. Dr.H.Muhaimin, M.A, Pengambangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam (di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi), (PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta : 2012), h.1

3

Abdul Rahman, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, (Semarang: CV. Karya Abadi Jaya, 2015), Cet. 1. hlm.106

(4)

3

1) Goal (Cita-Cita/Tujuan) : Tujuan pendidikan nasional dan Tujuan lembaga pendidikan

2) Matter (Bahan Pelajaran) : Sesuai dengan tujuan, silabus pelajaran, dan pengetahuan ilmiah.

3) Organizing (Strategi Pelaksanaan Kurikulum)

4) Evaluating (Evaluasi Kurikulum) : Penilaian terhadap Input

pelajaran(semua SDA sebelum menempuh program berupa dana, sarana prasarana dan siswa.), Proses pembelajaran, Out put

pembelajaran (Penilaian terhadap lulusan pendidikan ) dan Out come pembelajaran (Kemampuan lulusan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab) .5

Kurikulum ini bertujuan memberikan pengetahuan yang solid serta melatih para siswa menggunakan ide-ide dan proses penelitian. Dengan pengetahuan yang dimiliki diharapkan memiliki konsep-konsep dan cara-cara yang dapat dikembangkan dalam masyarakat yang luas. 6

b. Dasar Kurikulum PAI

Penting sekali untuk mengetahui yang menjadi dasar dalam pengembangan kurikilum PAI selain itu, dasar ini juga yang melatar belakangi pentingnya kurikulum PAI tersebut dikembangkan pada dunia pendidikan di indonesia. Dasar pengembangan kurikulum PAI adalah: 1) Agama merupakan hak asasi manusia.

2) Dasar Negara kita Pancasila sila Pertama “Ketuhanan yang Maha Esa”

3) Undang-undang Dasar 1945 Pasal 29 Ayat 1 dan 2 tentang hak dan kebebasan menjalankan agama.

4) Undang -undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3.7

Sedangkan menurut Dr. Armai Arief, M. A. dasar-dasar kurikulum PAI antara lain adalah:

5

S.Nasution, Asas-Asas Pengembangan Kurikulum, (Bumi Aksara, Jakarta : 2008),h.6 6 Abdul Rahman, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, h.92

(5)

4 1) Dasar Agama

Kurikulum diharapkan dapat menolong siswa untuk membina iman yang kuat, teguh terhadap ajaran agama, berakhlak mulia dan melengkapinya dengan ilmu yang bermanfaat didunia dan diakhirat. 2) Dasar falsafah

Pendidikan islam harus berdasarkan wahyu tuhan dan tuntunan nabi

Muhammad SAW serta warisan ulama terdahulu. 3) Dasar psikologis

Kurikulum tersebut harus sejalan dengan ciri perkembangan siswa, tahap kematangan dan semua segi perkembangannya

4) Kurikulum yang diharapkan

Kurikulum diharapkan turut serta dalam proses kemasyarkatan terhadap siswa, penyesuaian mereka dengan lingkungannya, pengetahuan dan kemahiran yang ada yang akan menambah produktifitas dan keikut sertaan mereka dalam membina ummat dan bangsa.

Semua dasar yang dikemukakan diatas idealnya dapat “mewarnai” penyusunan kurikulum PAI, agar semua aspek kemanusiaan anak didik dapat terkembangkan dengan baik, menuju manusia paripurna sebagaimana yang dicita-citakan dalam pendidikan islam.8

c. Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI)

Menurut Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 dan peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 menetapkan Pengertian kurikulum sebagai "Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan

bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman

penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan

pendidikan tertentu",9 dengan kata lain Kurikulum adalah seperangkat

rencana pengajaran yang digunakan guru sebagai pedoman dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan.

8 Dr. Armai Arief, M.A., Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Ciputat Pres, Jakarta Selatan, 2002, h. 34-35

(6)

5

Pengertian yang hampir sama dikemukakan oleh Hilda Taba, bahwa

: “ A curriculum is a plan for learning: therefore, what is known about the

learning process and depelopment of the individual has bearing on the

shaping of a curriculum”.10 Kurikulum merupakan rencana untuk belajar

yang diwujudkan dalam proses pembelajaran.

Kurikulum dalam pendidikan Islam, dikenal dengan kata manhaj

yang berarti jalan yang terang yang dilalui oleh pendidik bersama anak didiknya untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap

mereka. Sedangkan kurikulum pendidikan (manhaj al-dirosah) dalam kamus Tarbiyah adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.11

Pengertian kurikulum dalam pandangan modern merupakan program pendidikan yang disediakan oleh sekolah yang tidak hanya sebatas bidang studi dan kegiatan belajarnya saja, akan tetapi meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan dan pembentukan pribadi siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan sehingga dapat meningkatkan mutu kehidupannya yang pelaksanaannya tidak hanya di sekolah tetapi juga di luar sekolah.

Jika diaplikasikan dalam pendidikan Agama Islam, maka kurikulum berfungsi sebagai pedoman yang digunakan oleh pendidik untuk membimbing peserta didiknya ke arah tujuan tertinggi pendidikan agama Islam, melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dalam hal ini proses pendidikan agama Islam bukanlah suatu proses yang dapat dilakukan secara serampangan, tetapi hendaknya mengacu kepada konseptualisasi manusia paripurna (insan kamil) yang strateginya telah

tersusun secara sistematis dalam kurikulum pendidikan agama Islam.

10

Hilda Taba, Curriculum Development : Theory and Practice. (New York: Harcourt, Brace & World, Inc. 1962)

(7)

6 d. Ruang Lingkup Kurikulum PAI

Sebagai sebuah sistem, kurikulum terdiri dari beberapa komponen yang saling terkait dan terintegrasi. Terkait dengan komponen-komponen tersebut Ralph W. Tayler menyajikannya dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang mendasar 12:

1. What educational purpose should the school seek to attain?

2. What educational experiences can be provide that are likely to attain

these purpose?

3. How can these educational experiences be effectively organized?

4. How can we determine wheter these purpose are being attained?

Pertanyaan pertama pada hakikatnya sebagai landasan penentuan arah dan tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran (ahdaf

al-Ta’limiyah), Pertanyaan kedua berkenaan dengan materi pembelajaran yang akan diberikan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan (

al-muhtawa), pertanyaan ketiga adalah bagaimana strategi atau metode yang

digunakan untuk menyampaikan materi yang telah dikembangkan (turuqu

tadris wawasailihi), dan pertanyaan keempat berkenaan dengan evaluasi

atau penilaian (al-taqwim), terkait pertimbangan dalam menentukan keberhasilan pencapaian tujuan.

Kurikulum PAI mencakup usaha untuk mewujudkan keharmonisan, keserasian, kesesuaian, dan keseimbangan antara:

1. Hubungan manusia dan Sang Pencipta (Allah SWT.)

Sejauh mana kita sebagai hamba Allah SWT. telah melaksanakan segala kewajiban yang diperintahkan-Nya? Dan setaat kita telah mematuhi segala dalam islam dalam kehidupan sehari-hari? Banyak sekali ayat Al-Qur’an maupun hadits Nabi yang menegaskan

kewajiban seorang hamba dengan sang Khalik yaitu Allah SWT. 2. Hubungan manusia dengan manusia.

(8)

7

Apakah kita seorang muslim yang menjadikan orang lain merasa tentram berapa didekat kita? Sejauh mana hak-hak orang lain telah kita tunaikan? Jangan sampai kita merugikan apalagi mendholimi atau menganiaya hak-hak orang lain.

3. Hubungan manusia dengan makhluk lain dan lingkungan alam

Kita sebagai khlifah dibumi, tentu mempunyai tugas dan tanggung

jawab mengelola dan melestarikan alam dan memakmurkan bumi jangan sampai alam dan makhluk lain terpedaya dan terusik karena

keberadaan kita yang akibatnya akan kembali kepada manusia itu sendiri

4. Hubungan manusia dengan dirinya sendiri (berakhlak dengan diri sendiri)

Penghargaan orang lain terhadap diri kita, sangat tergantung kepada sejauh mana kita menghargai atau dengan kata lain berakhlak kepada diri sendiri.

Keempat hubungan tersebut diatas, tercakup dalam kurikulum PAI yang tersusun dalam beberapa mata pelajaran, yaitu:

1) Mata pelajaran akidah akhlak, 2) Mata pelajaran ibadah syariah (fiqh), 3) Mata pelajaran Al-Qur’an hadits

4) Mata pelajaran sejarah dan kebudayaan islam (SKI), dan 5) Mata pelajaran bahasa arab

Mata-mata pelajaran tersebut yang merupakan scope atau ruang lingkup kurikulum PAI yang disajikan pada sekolah-sekolah yang berciri khas agama islam atau madrasah, sementara ruang lingkup kurikulum PAI pada sekolah-sekolah umum adalah mata pelajaran pendidikan agama

islam yang bentuk kurikulumnya Broad Field atau in one system.

(9)

8

(separated subject curriculum), seperti: tauhid, tajwid, fiqih, ushul fiqih,

ilmu hadits, tarikh, dan lain-lain.13

Ada beberapa karakteristik kurikulum pendidikan Agama Islam di antaranya; memiliki sistem pengajaran dan materi yang selaras dengan fitrah manusia; harus mewujudkan tujuan pendidikan Agama Islam; harus realistis dan tidak bertentangan dengan niali-nilai Islam; harus

memperhatikan aspek pendidikan prilaku yang bersifat aktivitas langsung.14

e. Perbedaan PAI dengan Pendidikan Islam

Tafsir (2004) membedakan antara Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Pendidikan Islam (PI). PAI dibakukan sebagai nama kegiatan mendidikkan Agama Islam.Kata “Pendidikan” ini ada pada dan mengikuti setiap mata pelajaran, dalam hal ini PAI sejajar atau sekatagori dengan Pendidikan Matematika, Pendidikan Olahraga, Pendidikan Biologi dan seterusnya.15 Jadi PAI dipandang sebagai Mata Pelajaran yang isinya berupa kegiatan mendidikkan Agama Islam, diantaranya : Al-Qur’an Hadist, Fiqih, Akidah Ahlaq dan Sejarah Kebudayaan Islam.

Sedangkan PI adalah nama sistem, yaitu sistem pendidikan yang islami, yang memiliki komponen-komponen yang secara keseluruhan mendukung terwujudnya sosok Muslim yang diidealkan, teori-teorinya disusun berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis.16

f. Fungsi Kurikulum PAI

Adapun fungsi kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah : 1) Bagi Madrasah yang bersangkutan

a. Alat untuk mencapai tujuan PAI yang diinginkan b. Pedoman untuk mengatur kegiatan-kegiatan PAI

c. Menghindari keterulangan yang memboroskan waktu d. Menjaga kesinambungan

13

Drs. H. Hamdan, M.Pd, Pengembangan dan Pembinanaan Kurikulum, h. 41-42 14 Abdul Majid, op.cit, hh.45-46.

(10)

9 2) Bagi Masyarakat

a. Masyarakat sebagai pengguna lulusan (User), Oleh karena itu Madrasah / Sekolah harus meengetahui kebutuhan masyarakat dalam konteks pengembangan PAI

b. Kerjasama yang harmonis dalam pengembangan kurikulum PAI dengan Sekolah/Madrasah

g. Proses Pengembangan Kurikulum PAI

Pengembangan Kurikulum PAI ialah Kegiatan menghasilkan

Kurikulum PAI dengan mengaitkan satu komponen dengan komponen lainnya berupa kegiatan penyusunan (Desain), pelaksanaan, penilaian dan penyempurnaan kurikulum PAI untuk menghasilkan Kurikulum PAI yang lebih baik.17

1. Perencanaan => Ide (Asal dari : (1) Visi (pernyataan tentang harapan yang ingin dicapai oleh suatu lembaga pendidikan dalam jangka panjang) (2) Kebutuhan pengguna (pelajar, masyarakat,pengguna lulusan) dan studi lanjut (3) Hasil evaluasi kurikulum sebelumnya dan tuntutan perkembangan iptek juga zaman. (4) Pandangan para Ahli pendidikan (5) Era globalisasi. => 5 ide diatas akan dievaluasi untuk di kembangkan menjadi Program berupa Dokumen/Berkas yang berisi : Informasi dan jenis dokumen, Format silabus dan komponen kurikulum yang harus dikembangkan.

2. Implementasi => Melakukan sosialisasi dan pengembangan Program berupa pengembangan kurikulum dalam bentuk RPP atau SAP (Satuan Acara Pembelajaran), proses pembelajaran di dalam dan diluar kelas, serta evaluasi pembelajaran untuk mengetahui tingkat efektivitas dan efisiensi Program tersebut.

3. Evaluasi = > dari evaluasi ini akan di peroleh feedback (umpan balik) yang akan digunakan dalam penyempurnaan kurikulum berikutnya.18

(11)

10 2. Pengembangan PAI

a. PAI dalam Sorotan

Tingginya kasus korupsi dan Krisis akhlak yang terjadi di Indonesia seperti yang kita ketahui, secara langsung atau tidak berhubungan dengan persoalan “pendidikan”. Hal ini pun menimbulkan opini mengenai kegagalan PAI sebagai faktor utama krisis ini, mengingat

PAI yang seharusnya menciptakan akhlakul karimah bagi para peserta didiknya.

Namun, Opini ini tidak boleh kita telan mentah-mentah begitu saja karena Krisis moral yang terjadi bukan karena kegagalan PAI saja namun begitu juga dengan pendidikan yang lainnya, dan sangat tidak adil jika mengkambinghitamkan PAI yang hanya beberapa jam di sekolah untuk menghadapi arus globalisasi yang menyeret pada dekadensi moral tersebut, sekiranya lingkungan masyarakat dan keluarga memiliki peran yang lebih besar dalam peningkatan akhlak para peserta didik dan masyarakat.

b. Berbagai Kritik terhadap PAI

Selama ini pelaksanaan pendidikan agama yang ada disekolah masih banyak kelemahan. Mochtar Buchori (1922) menilai pendidikan agama masih gagal.kegagalan ini disebabkan karena praktik pendidikannya hanya memperhatikan aspek kognitif semata dari pertumbuhan kesadaran nilai-nilai (agama) , dan mengabaikan pembinaan aspek afektif dan konatif-volitif, yakni kemauan dan tekad untuk mengamalkan nilai-nilai ajaran agama.akibatnya terjadi kesenjangan antara pengetahuan dan pengamalan.19

Dalam konteks system pembelajaran, agaknya titik lemah

pendidikan agama lebih terletak pada komponen metodologinya.titik kelemahan tersebut dapat diidentifikasikan sebagai berikut :

(12)

11

1. Kurang bisa mengubah pengetahuan agama yang kognitif menjadi makna dan nilai atau kurang mendorong penjiwaan terhadap nilai-nilai keagamaan yang perlu diinternalisasikan dalam diri peserta didik 2. Kurang dapat berjalan bersama dan bekerjasama dengan

program-program pendidikan non-agamaKurang mempunyai relevansi terhadap perubahan sosial yang terjadi di masyarakat atau kurang ilustrasi

konteks sosial budaya, dan atau bersifat statis skontekstual dan lepas dari sejarah, sehingga peserta didik kurang menghayati nilai-nilai

agama sebagai nilai hidup dalam keseharian.

Dan pemunduran peran PAI dalam meningkatkan nilai dan moral juga di karenakan budaya rasionalisme yang semakin besar pengaruhnya dalam era globalisasi dan merasuk kedalam pemikiran-pemikiran para masyarakat Modern , Zaman ini.Jadi jika kita tidak ingin terbebani dan terbawa arus globalisasi dan budaya-budaya buruk kita harus memfilter diri dengan pengalaman agama yang baik.

c. Paradigma Pengembangan PAI

Ada 3 paradigma pengembangan pendidikan agama islam20 : 1. Paradigma Dikotomis

Didalam paradigma ini , semua aspek kehidupan dipandang dengan 2 sisi yang berbeda dan berlawanan, seperti laki-laki dan perempuan. Dan PAI hanya dipandang sebagai pendidikan yang berkonsentrasi pada bidang agama, ritual dan spritual saja.

Implikasi dari paradigma ini peserta didik diarahkan untuk menjadi pelaku (aktor) dan loyal (setia) , memiliki sifat komitmen , dan dedikasi yang tinggi terhadap agama yang dipelajari. Sementara kajian-kajian keilmuan yang bersifat empiris , rasional, analitis-kritis,

dianggap dapat menggoyahkan iman, sehingga perlu ditindih oleh pendekatan keagamaan yang normatif dan doktriner tersebut.

(13)

12 2. Paradigma Mekanisme

Di dalam KBBI berarti : hal kerja mesin, cara kerja suatu organisasi, atau hal saling bekerja seperti mesin , yang mssing-masing bergerak sesuai dengan fungsinya. Implikasi dari paradigma ini para guru /dosen agama harus menguasai ilmu agama dan memahami substansi ilmu-ilmu umum, sebaliknya dosen / guru umum dituntut

untuk mengeuasai ilmu yang di ampuhnya dan ilmu agama, guru/dosen dituntut untuk mampu menyusun buku-buku teks keagamaan yang

dapat menjelaskan hubungan antar keduanya. 3. Paradigma Organism

Dalam konteks pendidikan islam paradigma organism bertolak dari pandangan bahwa aktivitas kependidikan merupakan suatu sistem yang terdiri atas komponen-komponen yang hidup bersama dan bekerja sama secara terpadu menuju tujuan tertentu, yaitu terwujudnya hidup yang religius atau dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai agama.

Paradigma tersebut tampaknya mulai dirintis dan dikembangkan dalam sistem pendidikan di madrasah, yang dideklarasikan sebagai sekolah umum yang berciri khas agama Islam. Dalam hal ini madrasah membuat kebijakan yang terdiri atas 3 kepentingan utama :

a) Sebagai wahana membina ruh dan praktik hidup keislaman

b) Mempertegas keberadaan madrasah sederajat dengan sistem sekolah, sebagai wahana pembinaan masyarakat yang berkepribadian , berpengetahuan , cerdas dan bermoral

c) Mampu merespon tuntutan masa depan, dan menghadapi Era globalisasi.

d. Penciptaan Suasana Religius

(14)

13

spiritual yang mengatur segala muamalah dan sistem sosial masyarakat secara teratur dan sistematis. Guru PAI dalam hal ini memiliki peran yang sangat besar demi terwujudnya suasana religius di sekolah/madrasah dan perguruan tinggi.

3. Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Prinsip-Prinsip Pengembangannya

a. Karakteristik Kurikulum Pendidikan Islam

1. Menonjolkan tujuan agama dan akhlaq pada berbagai tujuan, kandungan,

metode, alat dan teknik bercorak agama.

2. Meluasnya perhatian dan menyeluruhnya kandungan-kandungannya. 3. Ciri-ciri keseimbangan yang relative diantara kandungan kurikulum dari

ilmu dan seni atau kemesti-mestian, pengalaman dan kegiatan pengajaran yang bermacam.

b. Prinsip Umum dan Khusus Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam

1. Berasaskan Islam 2. Mengarah pada tujuan

3. Prinsip integritas antar mata pelajaran

4. Relevansi pendidikan dengan kehidupan dan tuntutan masa depan 5. Fleksibilitas dalam peimlihan program maupun pengembangan

pengajaran

6. Integritas kurikulum dengan strutur kehidupan akhirat 7. Efisiensi/ daya guna

8. Kontuniutas

9. Individualitas dalam memerhatikan objek kurikulum 10. Demokratis

11. Dinamis dengan era

c. Kategori (Komponen) Kurikulum PAI

Kategori disebut juga dengan komponen Ahmad Tafsir (2006) menjelaskan: 1. Tujuan yang ingin dicapai

(15)

14 3. Media (sarana dan prasarana) 4. Strategi

5. Proses pembelajaran 6. Evaluasi

4. Pendekatan dalam Pengembangan Kurikulum PAI

Di dalam teori kurikulum setidak-tidaknya terdapat empat pendekatan

yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum, yaitu : pendekatan subjek akademis; pendekatan humanistis ; pendekatan teknologis ; pendekatan

rekonstruksi social.21

a. Pendekatan Subjek Akademis

Pendekatan subjek akademis dalam menyusun kurikulum atau program pendidikan didasarkan pada sistematisasi disiplim ilmu masung-masing.Setiap ilmu pengetahuan memiliki sistematisasi tertentu yang saling berbeda.pengembangan kurikulum dilakukan dengan menetapkan lebih dahulu mata pelajaran/mata kuliah apa yang harus dipelajari peserta didik, yang diperlukan untuk persiapan pengembangan disiplin ilmu.

Misalnya, untuk aspek keimanan atau mata pelajaran akidah menggunakan sistematisasi ilmu tauhid, aspek/mata pelajaran Al-Qur’an menggunakan sistematisasi ilmu Al-Qur’an atau Tafsir, Akhlaq menggunakan sistematisasi ilmu Akhlaq, Ibadah /Muamalah menggunakan sistematisasi Ilmu Fiqih,Tarikh/Sejarah menggunakan sistematisasi Ilmu Sejarah Kebudayaan Islam. Namun demikian, dalam pembinaannya harus memperhatikan kaitan antara aspek /mata pelajaran yang satu dengan lainnya.

b. Pendekatan Humanistis

Pendekatan humanistis dalam pengembangan kurikulim bertolak dari ide “memanusiakan manusia” .Penciptaan konteks yang akan memberi peluang manusia untuk menjadi lebih human, untuk mempertinggi harkat manusia merupakan dasar filosofi, dasar teori, dasar evaluasi dan dasar pengembangan program pendidikan.Dalam kaitannya dengan penentuan

(16)

15

strategi pembelajaran PAI, maka pendekatan humanistis lebih menekankan kepada “pembelajaran aktif” dimana dalam proses pembelajaran peserta didik di posisikan sebagai orang yang berpengetahuan dan berpengalaman dan guru sebagai fasilitator yang membimbing dan mengarahkan pembelajaran ; memposisikan pelajar sebagai orang yang belajar , mengaktualisasi dan membangun segala potensi-potensi peserta didik.

c. Pendekatan Teknologis

Kurikulum Berbasis Kompetensi termasuk dalam kategori

pendekatan teknologis karena materi yang diajarkan, kriteria evaluasi sukses, dan strategi belajarnya ditetapkan sesuai dengan analisis tugas tersebut.Dalam pengembangan kurkikulum PAI , pendekatan tersebut dapat digunakan untuk pembelajaran PAI yang menekankan pada cara menjalankan tugas-tugas tertentu . misalnya cara menjalankan shalat, haji, puasa, zakat, mengkafani mayit, shalat jenazah, dan seterusnya.

d. Pendekatan Rekonstruksi Sosial

Dalam menyusun kurikulum pendekatan ini bertolak pada masalah-masalah yang dihadapi masyarakat .Proses pendidikan atau pengalaman peserta didik berbentuk kegiatan-kegiatan belajar kelompok yang mengutamakan kerjasama , antar peserta didik , dan peserta didik dengan guru .Karena itu dalam menyusun kurikulum PAI bertolak dari problem masyarakat sebagai isi PAI ,sedangkan pengalaman peserta didik adalah dengan cara memerankan ilmu-ilmu dan teknologi , serta bekerja sama secara berkelompok untuk memecahkan masalah menuju pembentukan masyarakat yang lebih baik.Guru melakukan kegiatan penilaian sepanjang kegiatan belajar.

5. Pengembangan dan Pelaksanaan Kurikulum Pendidikan Islam a. Pengembangan dan Kriteria Penetapan Materi Pendidikan Islam

Ruang lingkup pendidikan agama islam dalam pengembangnanya meliputi keserasian, keselaransan dan keseimbangan antara lain :

(17)

16

3) Hubungan manusia dengan diri sendiri

4) Hubungan manusia dengan mahluk lain dan lingkungannya

b. Pelaksanaan Kurikulum Pendidikan Islam

Dalam pelaksanaan pendidikan agama islam pada sekolah emnengah umum tidak lepas dari bagaimana penggunaan strategi pendekatan antara lain :

1) Pendekatan pengalaman, : memberikan pengalaman keagamaan kepada siswa

2) Pendekatan pembiasaan : kesempatan pada siswa untuk melaksanakan ajaran agama secara kontinyu

3) Pendekatan emosional : menggugah perasaan siswa dalam myakini kebenaran agama

4) Pendekatan fungsional untuk menekankan segi kemanfaatannya bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari dengan tingkat perkembangannya.22 c. Ciri-Ciri Khusus Kurikulum Pendidikan Islam

1) Kurikulum PAI harus menonjol pada mata pelajaran agama (ibadah, muamalah, syariah)

2) Kurikulum PAI memperhatikan pengembangan menyeluruh aspek pribadi siswa yakni jasmani, akal, dan rohani.

3) Kurikulkum PAI memperhatikan keseimbangan antara peribadi dan msyarakat dunia dan akhirat jasmani dan rohani serta akal manusia 4) Kurikulkum PAI memperhatikan seni dan budaya yang terdapat

ditengah masyarakat.23

6. Implementasi Kurikulum PAI dalam Pembelajaran

Menurut Oemar Hamalik, mengatakan bahwa implementasi kurikulum mencakup tiga kegiatan pokok, yaitu pengembangan program, pelaksanaan

pembelajaran, dan evaluasi. Pengembangan program mencakup program pembelajaran, program bimbingan dan konseling atau remedial. Pelaksanaan pembelajaran meliputi proses interaksi antara peserta didik dengan

(18)

17

lingkungannya sehingga terjadi perubahan prilaku yang lebih baik. Sementara evaluasi adalah proses penilaian yang dilakukan sepanjang pelaksanaan kurikulum.24

Salah satu bentuk implementasi kurikulum adalah pelaksanaan pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran mengacu pada program pembelajaran yang disusun oleh guru, di antaranya dalam bentuk Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Komponen RPP harus mencakup perencanaan seluruh kegiatan pelaksanaan pembelajaran berdasarkan tujuan

yang telah ditetapkan.

Dalam pengimplementasian kurikulum diperlukan komitmen semua pihak yang terlibat, seperti dukungan kepala sekolah, guru dan dukungan internal dalam kelas. Peran guru dalam implementasi kurikulum di sekolah sangat menentukan sekali. Bagaimanapun baiknya sarana dan prasarana pendidikan, jika guru tidak melaksanakan tugasnya dengan baik maka impelementasi kurikulum tidak akan berhasil secara maksimal.

Sejak tahun 2006 Sistem Pendidikan Nasional menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Secara umum KTSP memiliki beberapa kelebihan, di antaranya memberikan keleluasan kepada Stake holder sekolah/madrasah untuk meningkatkakan kreativitasnya, termasuk guru. Keleluasan tersebut tentunya memberikan peluang bagi guru untuk menciptakakan proses pembelajaran yang lebih menarik. Peluang ini belum sepenuhnya dimanfaatkan guru. Guru masih terjebak dalam keasyikan menggunakan metode lama, salah satu yang paling populer adalah metode ceramah.

Hal ini tentunya berimplikasi terhadap proses pembelajaran yang monoton dan cenderung kurang menarik, karena bersifat teoritis dan tidak

menyentuh aspek pembentukan pribadi dan akhlak.

Demikian pula dengan pendekatan pembelajaran yang lebih menekankan pada penguasaan apek kognitif seperti hapalan dan pengetahuan.

(19)

18

Sementara afektif dan psikomotorik siswa jarang tersentuh, akibatnya pembelajaran jadi kurang bermakna. Padahal agama adalah akhlak yang berkaitan dengan sikap, perkataan, dan prilaku keseharian.

Selain itu, sebagian guru agama masih terpaku pada ketuntasan kurikulum. Sehingga beranggapan, bahwa pembelajaran dianggap sukses jika target kurikulum tercapai. Oleh karena itu tidak heran jika selama ini

pembelajaran hanya sebatas pengajaran bukan pendidikan, sebatas transfer of

knowledge belum menyentuh transfer of value.

Faktor lain yang menjadi kendala dalam implementasi kurikulum Pendidikan Agama Islam adalah keterbatasan waktu pelaksanaan pembelajaran terutama di sekolah umum yang hanya diberikan dua jam pelajaran dalam satu minggu. Dengan muatan pelajaran yang banyak, tentunya tidak cukup untuk menyampaikan materi yang sangat kompleks.

Kondisi lainnya adalah adanya paradigma dikotomis, aspek kehidupan dipandang dengan sangat sederhana, dan kata kuncinya adalah dikotomi atau diskrit, sehingga dikenal ada istilah pendidikan agama dan pendidikan umum. Karena itu, pengembangan pendidikan agama Islam hanya berkisar pada aspek kehidupan ukhrowi yang terpisah dengan kehidupan duniawi, atau aspek kehidupan rohani yang terpisah dengan kehidupan jasmani. Pendidikan (agama) Islam hanya mengurusi persoalan ritual dan spiritual, sementara kehidupan ekonomi, politik, seni-budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni dan sebagainya dianggap sebagai urusan duniawi yang menjadi bidang garap pendidikan non agama.

Kondisi di atas tentu saja menjadikan pendidikan Agama Islam menjadi tidak maksimal dan wajar jika belum bisa membentuk pribadi siswa yang berakhlak mulia. Hal ini tentu harus disadari semua pihak, terutama guru

sebagai pemeran utama dalam implementasi kurikulum. C.PENUTUP

(20)

19

pendidikan itu berkembang, salah satu cara mereka mengembangkan kurikulum, karna pendidikan bisa berkembang apanbila kurikulumnya itu baik karena krikukulum meliputi rencana, tujuan, isi, organisasi, strategi dalam pendidikan.

Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran agama Islam, dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati

penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa. Pengembangan kurikulum adalah

kegiatan untuk menghasilkan kurikulum baru melalui langkah-langkah penyusunan kurikulum atas dasar hasil penilaian yang dilakukan selama periode tertentu, pengembangan kurikulum berarti perubahan dan peralihan total dari satu kurikulum ke kurikulum lain, dan perubahan ini berlangsung dalam waktu panjang.

Secara garis besar (umum) tujuan pendidikan agama Islam adalah untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan siswa terhadap ajaran agama Islam, sehingga ia menjadi manusia muslim yang bertakwa kepada Allah SWT, serta berakhlak mulia baik dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Kurikulum PAI untuk sekolah atau madrasah berfungsi sebagai Pengembangan, Penanaman Nilai, Penyesuaian Mental, Perbaikan, Pencegahan, Pengajaran dan Penyaluran.

Madrasah merupakan suatu lembaga pendidikan yang lebih menekankan pada pendidikan agama. Kurikulum PAI di Madrasah memiliki suatu hal yang lebih pokok yang memang diharapkan dan bukan hanya dalam target tujuan PAI tapi juga sebagai pendidikan yang lahir dari agama islam diharapkan dapat berkompetensi jasmani dan rohani, artinya berkompetensi dalam hal sikap, skill,

(21)

20

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Majid, Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012

Abdul Rahman, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, Semarang: CV. Karya Abadi Jaya, 2015

Arifin, Muzayyin. Filsafat Pendidikan Islam Edisi Revisi . Jakarta : PT.Bumi Aksara. 2003

Armai, Arief. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta Selatan. Ciputat Pres. 2002

Hadirja Paraba, Wawasan Tugas Tenaga Guru Dan Pembina Pendidikan Agama

Islam, Friska Agung Insani,Jakarta:2000

Hamdan, Pengembangan dan Pembinanaan Kurikulum (Teori dan Praktek

Kurikulum PAI). Banjarmasin. 2009

Hamalik Oemar, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 2009

Hilda Taba, Curriculum Development : Theory and Practice. New York: Harcourt, Brace & World, Inc. 1962

M.Arsyad Meru, M.Ag, Pengembangan Kurikulum STAI As’adiyah, Sengkang: 2008

Muhaimin. Pengambangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam (di Sekolah,

Madrasah dan Perguruan Tinggi). Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada. 2012

Muhaimin, dkk,. Paradigma Pendidikan Islam , Bandung : PT.Remaja Rosdakarya. 2002

Nasution, S. Asas-Asas Pengembangan Kurikulum. Jakarta : Bumi Aksara. 2008

Sabiq, Sayyid. Unsur-Unsur Dinamika dalam Islam .Jakarta : Intermasa. 1992

Syaifuddin Sabda. Model Kurikulum Terpadu IPTEK dan IMTAQ. Ciputat. PT. Ciputat Press Group. 2006

Syar’i, Ahmad. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka Pirdaus . 2005

Referensi

Dokumen terkait

dan hasil kurikulum diukur dari pencapaian kompetensi. Keberhasilan kurikulum diaratikan sebagai pencapaian kompetensi yang dirancang dalam dokumen kurikulum oleh seluruh

peserta didik berkembang sejalan dengan pengalaman terdahulu dan terus berlanjut pada pengalaman berikutnya. Kurikulum harus didesain supaya bisa memberikan bantuan

Tujuan Pendidikan Agama Islam secara umum sebagai penjabaran dari tujuan kurikulum dalam rangka mencapai tujuan nasional adalah membentuk peserta didik menjadi manusia yang

Hambatan yang dihadapi oleh pihak madrasah terutama guru dalam implementasi Kurikulum 2013 yaitu masih adanya peserta didik yang belum bias membaca, membedakan huruf,

Tahap ini disebut juga tahap inti. Dalam implementasi kurikulum 2013, pengalaman belajar yang diberikan oleh guru sebagai desainer pembelajaran kepada peserta didik

atau jenjang pendidikan tertentu. Kurikulum sebagai proses adalah totalitas pengalaman belajar peserta didik di satu satuan atau jenjang pendidikan untuk menguasai

Dokumen membahas pentingnya resiliensi peserta didik dalam mendukung Kurikulum Merdeka Belajar di