Oleh
Ahmad Roip Saepullah
I. Pendahuluan
Dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab II Pasal 3 dinyatakan bahwa:
“Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.1
Tujuan pendidikan yang bersifat umum itu kemudian dirumuskan ke dalam tujuan yang lebih khusus yakni tujuan institusional dan tujuan kurikuler yang harus dicapai oleh setiap mata pelajaran.
Salah satu kelompok mata pelajaran yang ada dalam muatan kurikulum 2006, adalah kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, yang memiliki tujuan membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. 2
Diketahui bahwa agama (Islam) dan pendidikan adalah dua hal yang satu sama lain saling berhubungan. Melalui agama, manusia diarahkan menjadi manusia seutuhnya sesuai dengan nilai-nilai ajaran
1 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3.
2 Peraturan Pemerintah RI No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
Islam. Proses pengembangannya adalah melalui pendidikan. Karena dengan pendidikan orang akan menjadi lebih dewasa dan lebih mampu baik dari segi kecerdasannya maupun sikap mentalnya. Agama dimaksudkan untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya, dengan pertama-tama mengarahkan siswa menjadi "manusia
Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa".3 Di samping itu juga, agama memberikan tuntunan yang jelas kepada manusia, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang harus dikerjakan dan mana pula yang harus ditinggalkan, mana yang
menguntungkan dan mana yang merugikan.
Harapan yang paling fundamental dengan adanya pendidikan Agama Islam di sekolah/madrasah adalah diharapkan lahirnya sosok-sosok yang benar-benar mampu memahami substansi agama itu sendiri sekaligus dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan dengan indikasi prilaku dan kesalehan yang nyata.
Kenyataannya, pendidikan Agama Islam di sekolah atau madarasah masih dianggap kurang memberikan kontribusi kearah tersebut. Menurut Muhaimin, menyoroti kegiatan Pendidikan Agama Islam yang selama ini berlangsung di sekolah, antara lain; Pendidikan Agama Islam selama ini lebih terkonsentrasi pada persoalan-persoalan teoritis; Pembelajaran pendidikan agama Islam yang selama ini berlangsung kurang memperhatikan persoalan bagaimana mengubah pengetahuan agama yang bersifat kognitif menjadi "makna" dan "nilai" yang perlu diinternalisasikan dalam diri siswa, untuk selanjutnya menjadi sumber minat bagi siswa untuk bergerak, berbuat dan berperilaku secara kongkret -agamis dalam kehidupan praksis sehari-hari; Isu kenakalan remaja, tauran, tindak kekerasan, kriminalitas, dan sebagainya, sekalipun tidak
sepenuhnya secara langsung terkait dengan metodologi pendidikan agama yang selama ini berlangsung secara konvensional dan tradisional merupakan bukti kurang tepatnya sasaran pendidikan Agama Islam.4
Munculnya kesenjangan antara harapan dan kenyataan ini,
walaupun bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pendidikan Agama Islam, namun kenyataannya pendidikan Agama Islam memeganng
peranan dalam pembentukan kepribadian peserta didik. Permasalahannya adalah bagaimana mengimplementasikan Pendidikan Agama Islam
sebagai bagian dari kurikulum secara nyata sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan pada sekolah atau madrasah. Implementasi dari kurikulum ini adalah melalui proses pembelajaran.
Menurut Soedijarto, pada umumnya tujuan pendidikan yang telah dijabarkan dan demikian ideal itu, selama ini tidak pernah dengan sunguh-sungguh diterjemahkan secara operasional (diimpelementasikan).5 Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah
lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses
pembelajaran di dalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi; otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang
diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya ketika anak didik lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoritis, akan tetapi mereka miskin aplikasi.
Berdasarkkan uraian di atas, dalam makalah ini akan dibahas mengenai persoalan implementasi kurikulum Pendidikan Agama Islam dalam hal pembelajaran.
4 Muhaimin, et. Al, Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah,(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002) h.90.
II. Pembahasan
A. Kurikulum Pendidikan Agama Islam
Menurut Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 dan peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 menetapkan Pengertian kurikulum sebagai "Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu",6 dengan kata lain Kurikulum adalah seperangkat rencana pengajaran yang digunakan guru sebagai pedoman dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan.
Pengertian yang hampir sama dikemukakan oleh Hilda Taba, bahwa : “ A curriculum is a plan for learning: therefore, what is known about the learning process and depelopment of the individual has bearing on the shaping of a curriculum”.7 Kurikulum merupakan rencana untuk belajar yang diwujudkan dalam proses pembelajaran.
Kurikulum dalam pendidikan Islam, dikenal dengan kata manhaj yang berarti jalan yang terang yang dilalui oleh pendidik bersama anak didiknya untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka. Sedangkan kurikulum pendidikan (manhaj al-dirosah) dalam kamus
Tarbiyah adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.8
Pengertian kurikulum dalam pandangan modern merupakan program pendidikan yang disediakan oleh sekolah yang tidak hanya sebatas bidang studi dan kegiatan belajarnya saja, akan tetapi meliputi segala sesuatu
6 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1, ayat 13
7 Hilda Taba, Curriculum Development : Theory and Practice. (New York: Harcourt, Brace & World, Inc. 1962)
yang dapat mempengaruhi perkembangan dan pembentukan pribadi siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan sehingga dapat
meningkatkan mutu kehidupannya yang pelaksanaannya tidak hanya di sekolah tetapi juga di luar sekolah.
Jika diaplikasikan dalam pendidikan Agama Islam, maka kurikulum berfungsi sebagai pedoman yang digunakan oleh pendidik untuk
membimbing peserta didiknya ke arah tujuan tertinggi pendidikan agama Islam, melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dalam hal ini proses pendidikan agama Islam bukanlah suatu proses yang dapat dilakukan secara serampangan, tetapi hendaknya mengacu kepada konseptualisasi manusia paripurna (insan kamil) yang strateginya telah tersusun secara sistematis dalam kurikulum pendidikan agama Islam.
Sebagai sebuah sistem, kurikulum terdiri dari beberapa komponen yang saling terkait dan terintegrasi. Terkait dengan komponen-komponen tersebut Ralph W. Tayler menyajikannya dalam bentuk
pertanyaan-pertanyaan yang mendasar 9:
1. What educational purpose should the school seek to attain? 2. What educational experiences can be provide that are likely to
attain these purpose?
3. How can these educational experiences be effectively organized?
4. How can we determine wheter these purpose are being attained?
Pertanyaan pertama pada hakikatnya sebagai landasan penentuan arah dan tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran (ahdaf al-Ta’limiyah), Pertanyaan kedua berkenaan dengan materi pembelajaran yang akan diberikan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan ( al-muhtawa), pertanyaan ketiga adalah bagaimana strategi atau metode yang
digunakan untuk menyampaikan materi yang telah dikembangkan (turuqu tadris wawasailihi), dan pertanyaan keempat berkenaan dengan evaluasi atau penilaian (al-taqwim), terkait pertimbangan dalam menentukan keberhasilan pencapaian tujuan.
Tujuan Pendidikan Agama Islam secara umum sebagai penjabaran dari tujuan kurikulum dalam rangka mencapai tujuan nasional adalah membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan serta pengamalan peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketaqwaannya.
Adapun ruang lingkup Pendidikan Agama Islam di sekolah memuat materi al-Quran dan Hadis, Aqidah/Tauhid, Akhlak, Fiqih, dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Ruang lingkup tersebut menggambarkan materi pendidikan agama yang mencakup perwujudan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya, maupun lingkungannya (hablum minallah, hablum minannas wahablum minal ’alam). Dalam penyampaian materi pembelajaran untuk mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan strategi dan metode yang tepat, umumnya strategi dan metode yang digunakan oleh guru PAI sama dengan strategi atau metode pada mata pelajaran lainnya. Terakhir untuk mengukur sejauh mana ketercapaian tujuan yang telah ditetapkan dilakukan evaluasi, baik melalui formatif maupun sumatif.
memperhatikan aspek pendidikan prilaku yang bersifat aktivitas langsung.10
B. Implementasi Kurikulum PAI dalam Pembelajaran
Menurut Oemar Hamalik, mengatakan bahwa implementasi kurikulum mencakup tiga kegiatan pokok, yaitu pengembangan program,
pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi. Pengembangan program
mencakup program pembelajaran, program bimbingan dan konseling atau remedial. Pelaksanaan pembelajaran meliputi proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan prilaku yang lebih baik. Sementara evaluasi adalah proses penilaian yang dilakukan sepanjang pelaksanaan kurikulum.11
Salah satu bentuk implementasi kurikulum adalah pelaksanaan pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran mengacu pada program pembelajaran yang disusun oleh guru, di antaranya dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Komponen RPP harus mencakup perencanaan seluruh kegiatan pelaksanaan pembelajaran berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan.
Dalam pengimplementasian kurikulum diperlukan komitmen semua pihak yang terlibat, seperti dukungan kepala sekolah, guru dan dukungan internal dalam kelas. Peran guru dalam implementasi kurikulum di sekolah sangat menentukan sekali. Bagaimanapun baiknya sarana dan prasarana pendidikan, jika guru tidak melaksanakan tugasnya dengan baik maka impelementasi kurikulum tidak akan berhasil secara maksimal.
10 Abdul Majid, op.cit, hh.45-46.
Sejak tahun 2006 Sistem Pendidikan Nasional menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Secara umum KTSP
memiliki beberapa kelebihan, di antaranya memberikan keleluasan kepada Stake holder sekolah/madrasah untuk meningkatkakan kreativitasnya, termasuk guru. Keleluasan tersebut tentunya memberikan peluang bagi guru untuk menciptakakan proses pembelajaran yang lebih menarik. Peluang ini belum sepenuhnya dimanfaatkan guru. Guru masih terjebak dalam keasyikan menggunakan metode lama, salah satu yang paling populer adalah metode ceramah.
Hal ini tentunya berimplikasi terhadap proses pembelajaran yang monoton dan cenderung kurang menarik, karena bersifat teoritis dan tidak menyentuh aspek pembentukan pribadi dan akhlak.
Demikian pula dengan pendekatan pembelajaran yang lebih menekankan pada penguasaan apek kognitif seperti hapalan dan
pengetahuan. Sementara afektif dan psikomotorik siswa jarang tersentuh, akibatnya pembelajaran jadi kurang bermakna. Padahal agama adalah akhlak yang berkaitan dengan sikap, perkataan, dan prilaku keseharian.
Selain itu, sebagian guru agama masih terpaku pada ketuntasan kurikulum. Sehingga beranggapan, bahwa pembelajaran dianggap sukses jika target kurikulum tercapai. Oleh karena itu tidak heran jika selama ini pembelajaran hanya sebatas pengajaran bukan pendidikan, sebatas
transfer of knowledge belum menyentuh transfer of value.
pelajaran dalam satu minggu. Dengan muatan pelajaran yang banyak, tentunya tidak cukup untuk menyampaikan materi yang sangat kompleks.
Kondisi lainnya adalah adanya paradigma dikotomis, aspek kehidupan dipandang dengan sangat sederhana, dan kata kuncinya adalah dikotomi atau diskrit, sehingga dikenal ada istilah pendidikan agama dan pendidikan umum. Karena itu, pengembangan pendidikan agama Islam hanya berkisar pada aspek kehidupan ukhrowi yang terpisah dengan kehidupan duniawi, atau aspek kehidupan rohani yang terpisah dengan kehidupan jasmani. Pendidikan (agama) Islam hanya mengurusi persoalan ritual dan spiritual, sementara kehidupan ekonomi, politik, seni-budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni dan sebagainya dianggap sebagai urusan duniawi yang menjadi bidang garap pendidikan non agama.
Kondisi di atas tentu saja menjadikan pendidikan Agama Islam menjadi tidak maksimal dan wajar jika belum bisa membentuk pribadi siswa yang berakhlak mulia. Hal ini tentu harus disadari semua pihak, terutama guru sebagai pemeran utama dalam implementasi kurikulum.
C. Pendekatan Dalam Implementasi Kurikulum PAI
Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam implementasi kurikulum PAI, dapat digunakan dua model pendekatan, yaitu pendekatan makro dan mikro.12
Pendekatan makro, model pendekatan makro berupaya untuk menghadirkan proses pembelajaran pendidikan Agama Islam yang dapat
memberikan nuansa yang berbeda dan harapan kolektif semua pihak, baik sekolah maupun madrasah. Langkah-langkah yang harus ditempuh
sebagai berikut:
1. Merancang program pembelajaran yang unggul
Program pembelajaran yang unggul merupakan bagian dari prinsip, strategi dan tujuan implementasi kurikulum. Melalui pembelajaran yang unggul, pelaksanaan pendidikan Agama Islam akan tampak sebagai nilai plus guna melahirkan lulusan memilki karakter islami yang tangguh. Pendidikan agama Islam dilaksanakan dengan model-model
pembelajaran yang mudah dipahami, dihayati dan dilaksanakan oleh peserta didik.
2. Merumuskan kembali tujuan kurikulum PAI
Untuk mencapai kualitas penerapan kurikulum yang unggul, dibutuhkan
mindset baru yang memandang PAI memiliki cakupan yang luas
meliputi semua aspek kehidupan manusia. Formulasi dapat dituangkan dalam kontent dan tujuan di sekolah.
3. Menciptakan sumber belajar unggul
Sumber belajar dapat memanfaatkan lingkungan, fenomena dan kejadian alam atau sosial yang nyata dan kontekstual sebagai meteri pendidikan Agama Islam. Dengan memanfaatkan konteks dan
fenomena yang nyata, siswa dapat dengan mudah mengaplikasikan pengetahuannya secara nyata dalam kehidupan.
pendidikan. Melalui pendekatan mikro ini dimaksudkan agar tujuan implementasi kurikulum pendidikan Agama Islam di sekolah atau
madrasah dapat tercapai secara terukur dan berhasil secara maksimal. Pendekatan ini meliputi pengembangan materi, peran guru dan siswa dalam interaksi pembelajaran.
D. Proses Pembelajaran Yang Bermakna
Secara normatif pendidikan Agama Islam menciptakan sistem makna untuk mengarahkan prilaku kesalehan dalam kehidupan manusia.
Pendidikan Agama harus mampu memenuhi kebutuhan dasar, yaitu
kebutuhan memenuhi tujuan agama yaitu memberikan kontribusi terhadap terwujudnnya kehidupan religiusitas.
Hal yang harus diperhatikan adalah asumsi terhadap siswa. Siswa merupakan input utama dalam pembelajaran. Siswa merupakan elemen yang memiliki potensi yang bisa mengarah pada realitas negatif maupun positif. Pembelajaran harus mengarahkan siswa kearah terwujudnya sikap dan prilaku siswa yang positif. Dalam konteks ini, pembelajaran harus mampu menjawab, memberikan dan menyelesaikan problematika siswa.
Dalam PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dinyatakan bahwa “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan
diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan minat, bakat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”.13 Artinya pembelajaran harus dikemas dengan sedemikian rupa agar tercipta pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan.
Untuk memperoleh gambaran proses pembelajaran yang bermakna, Philip Phenix mengidentifikasikan enam wilayah yang bermakna untuk menjadikan peserta didik memahami dunia yang sesungguhnya. Ke-enam wilayah makna tersebut yaitu : symbolics, empirics, esthetics, synnoetics, ethics dan synoptics.
Salah satu wilayah tersebut adalah synoptics “The sixth realm, synoptics refers to meanings that are comprehensively integrative. It include history, religion, and philosophy. Theses discipline combine empirical, ethic and synnoethic meanings into coherent whole”.14
Agama merupakan wilayah synoptics, dimana dalam disiplin tersebut adanya proses pembelajaran yang mengedepankan etika dan pengalaman keberagamaan.
Selanjutnya bahwa untuk mengimplementasikan kurikulum
pendidikan yang baik harus memperhatikan empat pilar belajar menurut Unesco, yaitu Learning to know, Learning to do, Learning to live together, dan Learning to be15. Keempat pilar itu menyangkut proses bagaimana
peserta didik memperoleh kemampuan belajar; melatih dan
mengembangkan kemampuan berpikir; melatih dan mengembangkan kemampuan memecahkan masalah; dan pusat pembudayaan nilai, sikap dan kemampuan.
Untuk mencapai kompetensi yang diharapkan dalam pembelajaran sesuai tujuan yang ditetapkan diperlukan pembelajaran yang efektif dan bermakna, sebab selama ini proses pembelajaran dirasakan belum memiliki makna yang berarti kepada peserta didik.
14 Philip Phenix, The Realms Of Meaning: A Philosophy of the Curriculum For General Education (New York, , Mc. Graw Hill Book co. 1964) h. 7
Ada beberapa metode dan strategi pembelajaran yang bisa diterapkan dalam proses pembelajaran Agama Islam di sekolah atau madarasah di antaranya :
1. Student Centered Instruction, yaitu pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, seperti diskusi dalam berbagai variasi, demonstrasi dan games. Dituntut peran aktif siswa, dan guru sebagai fasilitator
2. Collaborative Learning, yaitu pembelajaran aktif dimana siswa dan guru berkolaborasi atau dengan warga sekolah lainnya.
3. Cooperative learning, yaitu proses pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik terlibat langsung dalam
pembelajaran secara berkelompok dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru.
4. Self discovery learning, yaitu belajar melalui penemuan mereka sendiri, melalui observasi dan pengamatan terhadap masalah yang harus mereka pecahkan.
5. Quantum learning, yaitu strategi pembelajaran yang melibatkan seluruh komponen diri siswa, dengan pendekatan individu dan kelompok.
6. Contextual Teaching and Learning (CTL), yaitu strategi yang digunakan untuk untuk membantu peserta didik untuk memahami makna dan materi pelajaran dengan mengaitkan mata pelajaran tersebut dengan konteks kehidupan mereka.
implementasi tersebut. Pertama, keteladanan, merupakan upaya konkrit dalam menanamkan nilai-nilai luhur pendidikan Agama Islam kepada peserta didik. Secara psikologis anak memang senang meniru; tidak saja yang baik, tetapi juga yang tidak baik. Prilaku yang ditiru siswa akan terus melekat sehingga akan menjadi karakter dalam dirinya. Mengingat
pentingnya keteladanan, maka menurut Zakiah Darajat menyebutkan untuk menjadi seorang guru harus memenuhi syarat: bertakwa kepada Allah, berilmu, sehat jasmani dan rohani, dan berkelakuan baik. Guru harus menjadi tauladan bagi siswa dan lingkungannya.16
Kedua, tugas pendidikan Agama Islam, bukanlah sepenuhnya tanggung jawab sekolah/madrasah dalam hal ini guru Agama Islam, akan tetapi juga menjadi tanggung jawab keluarga dan lingkungan masyarakat. Tidak sedikit anak yang mendapat pendidikan Agama Islam yang baik di sekolah, tetapi karena di rumah atau lingkungannya tidak pernah
ditanamkan nilai-nilai religiusitas yang baik, maka anak tersebut menjadi rusak. Oleh karena itu peranan keluarga dan masyarakat terhadap penanaman nilai-nilai pendidikan Agama Islam terhadap anak sangat dibutuhkan.
Ketiga, pentingnya evaluasi, evaluasi bukan hanya dilakukan di sekolah/madrasah secara formal baik formatif maupun sumatif. Lebih dari itu, evaluasi yang dilakukan oleh lingkungan sosial masyarakat sangatlah penting. Jika di sekolah siswa dinilai lebih pada nilai akademis, namun di masyarakat, siswa dinilai akan kesalehan pribadinya yang tercermin dari sikap dan prilakunya (akhlaq).
III. Penutup
Berdasarkan uraian di atas, sebagai penutup dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Kurikulum Pendidikan Agama Islam selanjutnya dijabarkan sebagai pedoman yang digunakan oleh pendidik untuk membimbing peserta didik ke arah tujuan pendidikan agama Islam, dan tujuan Pendidikan Nasional secara umum melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, keterampilan dan sikap secara sistematis.
2. Implementasi Kurikulum Pendidikan Agama Islam, diwujudkan dalam bentuk proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang dilakukan selama ini masih menemui banyak kendala, di antaranya guru masih menggunakan strategi dan metode yang konvensional, sehingga pembelajaran terkesan monoton, dan kurang bermakna.
3. Beberapa pendekatan agar implementasi kurikulum menjadi maksimal, dapat diterakan di anataranya dengan pendekatan makro dan mikro dengan melibatkan seluruh stake holder sekolah atau madrasah. 4. Dalam pembelajaran sebagai implementasi kurikulum PAI, agar lebih
bermakna dapat diterapkan berbagai strategi dan pendekatan yang lebih berpusat pada siswa seperti strategi , Quantum learning, dan Contextual Teaching and Learning (CTL).
5. Tugas pendikan Agama Islam untuk membentuk peserta didik yang beriman dan bertaqwa, serta berakhlak mulia bukan hanya menjadi tanggung jawab guru PAI di sekolah/madrasah, tetapi juga komponen sekolah/madrasah lainnya termasuk keluarga dan lingkungan.
IV. Daftar Pustaka
Darajat, Zakiah, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2000.
Majid, Abdul, Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012.
Muhaimin, et. Al, Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002.
Mujtahid, “Pendekatan Penerapan Kurikulum PAI”, makalah, Jurnal UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, 2011.
Peraturan Pemerintah RI No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Phenix, Philip, The Realms Of Meaning: A Philosophy of the Curriculum For General Education, New York: Mc. Graw Hill Book co. 1964.
Raharjo, M. Dawam, Islam dan Transformasi Budaya, Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 2002.
Soedijarto, Landasan dan Arah Pendidikan Nasional Kita, Jakarta: Kompas, 2008.
Taba, Hilda, Curriculum Development : Theory and Practice. New York: Harcourt, Brace & World, Inc. 1962.
Tyler, Ralph W., Basic Principles Of Curriculum And Instruction, Chicago & London: The University Of Chicago Press, 1949.