BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tuberkolusis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil Mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah yang sebagian besar basil tuberkolusis masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone infection.
Tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia, demikian juga tuberkulosis pada kehamilan. Insidens TBC pada kehamilan adalah 1/10.000 kehamilan.Penelitian pada tahun 1985-1990 di New York, memperlihatkan insidens TBC pada kehamilan adalah 12 kasus per 100.000 kelahiran dan pada tahun 1991-1992 insidens meningkat menjadi 95 kasus per 100.000 kelahiran. Penelitian di London tahun 1997-2001, menunjukkan 32 wanita hamil menderita TBC, dengan insidens 252/100.000 kelahiran. Lima puluh tiga persen didiagnosis sebagai TBC ekstrapulmonal, 38% TBC pulmonal dan 9% TBC ekstra dan intra pulmonal.
Indonesia merupakan negara dengan prevalensi TB ke 3 tertinggi di dunia setelah cina dan india berdasarkan survei kesehatan rumah tangga 1985 dan survei kesehatan nasional 2001 TB menempati rangking no 3 sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia.
TBC dibandingkan risiko pengobatan itu sendiri. Pemberian regimen kemoterapi yang tepat dan adekuat akan memperbaiki kualitas hidup ibu, mengurangi efek samping obat anti tuberculosis (OAT) terhadap janin dan mencegah infeksi yang terjadi pada bayi yang baru lahir.
Maka dari itu, sesuai kasus yang diberikan oleh dosen pembimbing, penulis berusaha menguraikan tentang kaitan antara penyakit TB paru dengan kondisi ibu yang sedang hamil (antenatal).
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah : 1.2.1 Bagaimana sistem pernapasan pada kehamilan?
1.2.2 Apa pengertian dari tuberculosis paru ? 1.2.3 Bagaimana etiologi dari tuberkolosis ? 1.2.4 Apa manifestasi klinis daru tuberkolosis?
1.2.5 Bagaimana patofisiologi dari tuberkolosis pada antenatal? 1.2.6 Bagaimana pemeriksaan penunjang dari tuberculosis paru ? 1.2.7 Bagaimana efek tuberculosis pada ibu hamil ?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.3.1 Mengetahui perubahan pernapasan pada kehamilan 1.3.2 Menjelaskan pengertian dari tuberculosis paru 1.3.3 Mengetahui etiologi dari tuberkolosis
1.3.4 Mengetahui manifestasi klinis daru tuberkolosis
1.3.5 Mengetahui patofisiologi dari tuberkolosis pada antenatal 1.3.6 Mengetahui pemeriksaan penunjang dari tuberculosis paru 1.3.7 Mengetahui efek tuberculosis pada ibu hamil
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1 Sistem Pernapasan Pada Kehamilan 2.1.1 Fungsi Paru
Wanita hamil bernapas lebih dalam (meningkatkan volume tidal, volume gas bergerak masuk atau keluar traktus respiratorius padasetiap tarikan napas), tetapi frekuensi napasnya hanya sedikit meningkat (kira-kira dua kali bernapas dalam satu menit). Peningkatan volume tidal pernapasan, yang berhubungan dengan frekuensi napas normal, menyebabkan peningkatan volume napas satu menit sekitar 26%. Peningkatan volume napas satu menit disebut hiperventilasi kehamilan, yang menyebabkan konsentrasi karbon dioksida di alveoli menurun. Peningkatan kadar progesteron tampaknya menyebabkan hiperventilasi kehamilan karena hiperventilasi terjadi pada pria yang diberi progesteron (Scott, dkk., 1990).
Selama masa hamil, perubahan pada pusat pernapasan menyebabkan penurunan ambang karbon dioksida. Progesteron dan estrogen diduga menyebabkan peningkatan sensitivitas pusat pernapasan terhadap karbon dioksida. Selain itu, kesadaran wanita hamil akan kebutuhan napas meningkat. Beberapa wanita mengeluh mengalami dispnea saat istirahat.
Pada awal kehamilan dan dengan demikian bukan di sebabkan oleh uterus, diafragma terdorong keatas sebanyak 4 cm. Gerakan respirasi diafragma meningkat dan terjadi peningkatan iga bagian bawah sternal dari 68° pada awal kehamilan menjadi 103° pada akhir kehamilan. Peningkatan kompensatorik garis tengah toraks sebesar 2 cm ini berarti volume rongga toraks hampir sama dengan keadaan sebelum hamil. Diafragma melakukan sebagian besar kerja respirasi, bernafas lebih bersifat torakalis daripada abdominalis. Pengaruh hormon menyebabkan otot dan tulang rawan di regio toraks melemas sehingga toraks melebar. Penurunan compliance dinding toraks menyebabkan dinding toraks dapat bergerak semakin kedalam sehingga udara yang terperangkap lebih sedikit dan volume residua menurun. Progesteron menurunkan kepekaan kemoreseptor periver dan sentral untuk karbon dioksida. Hal ini berarti dorongan pernafasan terpicu pada kadar karbondioksida yang lebih rendah sehingga wanita hamil bernafas lebih dalam. Seiring dengan peningkatan kadar progesterone selama kehamilan, peningkatan responsivitas terhadap PCO2 menyebabkan tidal volume
dan dengan demikian, volume permenit meningkat. Oleh karena itu, hiperventilasi peningkatan volume alun merupakan hal normal pada kehamilan. Konsumsi oksigen meningkat,tetapi tekanan oksigen arteri tidak berubah.
Progesteron memiliki efek lokal pada tonus otot polos jalan napas dan pembuluh darah paru. Kapasitas difusi adalah tingkat kemudahan gas menembus membran paru. Pada awal kehamilan, kapasitas difusi menurun mungkin karena efek estrogen pada komposisi mukopolisakarida dinding kapiler, yang meningkatkan jarak temouh difusi (de swiet, 1998b). Efek ini mungkin berlangsung selama beberapa bulan setelah persalinan. Peningkatan retensi air di jaringan paru juga mengakibatkan penurunan kapasitas difusi. Terjadi peningkatan closing volume yang mengisyaratkan diameter saluran napas kecil berkurang; hal ini mungkin disebabkan oleh peningkatan cairan paru. Penurunan efisiensi pemindahan gas di paru dikompensasi secara parsial oleh relaksasi otot polos bronkiolus yang dipicu oleh progesteron, yang menurunkan resistensi saluran napas. Penurunan resistensi saluran napas berarti aliran udara meningkat. Prostaglandin juga memengaruhi otot polos bronkiolus. Prostaglandin F2α , yang meningkat sepanjang kehamilan, adalah konstriktor otot polos; prostaglandin E1 dan E2, yang meningkat pada trimester ketiga, merupakan dilator otot polos. Bagaimana mereka memengaruhi efisiensi pernapasan pada kehamilan masih belumlah jelas, walaupun apabila digunakan untuk menginduksi abortus terapetik prostaglandin F2α dapat menyebabkan asma pada Wanita yang rentan (kreisman, van de weil, & mitchell, 1975). Usaha/kerja bernapas mungkin tidak berubah karna penurunan resissistensi jalan napas mengompensasi kongesti di kapiler dinding bronkus.
Banyak wanita hamil mengalami dispnea, yang menimbulkan rasa tidak nyaman dan kecemasan, sering pada awal kehamilan sebelum terjadi perubahan dalam tekanan intraabdomen. Hal ini berkaitan berat dengan PCO2 dan mungkin disebabkan oleh hiperventilasi (de swiet, 1998b).
dilatasi vaskular dapat menyebabkan suara serak dan lebih berat, serta batuk menetap. Pada kasus yang berat, perubahan berupa penebalan laring dapat menyebabkan penyulit apabila akan dilakukan intubasi, misalnya pada anestesia. Pada kehamilan, volume ekspirasi paksa pada 1 detik dan laju arus puncak biasanya tidak terpengruh.
Volume dan kapasitas paru
Parameter Definisi Rentang normal Perubahan pada kehamilan :
1. Volume alun napas (tidal volume, TV) Volume bernapas normal saat istirahat 500 ml Meningkat sampai 150-200 ml (25-40%) 75 % meningkat pada trimester pertama
2. Frekuensi pernapasan (respiratory rate, RR) Jumlah pernapasan permenit 12 kali/menit Tidak berubah/sedikit meningkat menjadi 15 kali/menit Volume per menit (minute volume, MV) Udara total yang dihirup dalam satu menit pernapasa (= TV x RR) 6000 ml/menit 6,5 l/menit Meningkat sekitar 40% 10 l/menit
3. Volume cadangan inspirasi (inspiratory reserve volume, IRV) Volume udara yang dapat diinspirasi di atas volume alun napas 3100 ml Tidak berubah 4. Volume cadangan ekspirasi (expiratory reserve volume, ERV) Volume gas
yang dapat di ekspirasi selain volume alun napas 1200 ml Menurun secara progresif dari awal kehamilan menjadi sekitar 1100 ml
5. Volume residual (residual volume, RV) Voleme gas yang tertinggal di paru setelah ekspirasi maksimum 1200 ml Menurun secara prgresif
paru (= TLC – volume volume residual) 4800 ml Meningkat 100-200 ml pada akhir kehamilan tidak jelas pada wanita gemuktidak berubah Kapasitas inspirasi Kemampuan inspirasi total paru (= IRC+TV) 2200 ml Meningkat menjadi sekitar 2500 ml pada aterm
7. Kapasitas residual fungsional (functional residual capacity, FRC) Volume gas yang tertinggal di paru setelah bernapas biasa (=ERV+RV) 2800 ml Menurun secara progresif menjadi 2300 ml – meningkatkan efisiensi pencampuran 8. Volume residual (residual volume, RV) Volume gas yang tertinggal setelah
ekspirasi maksimum (= FRC-ERV) 2400 ml Ruang mati fisiologis Meningkat sekitar 60 ml Ventilasi alveolus Perbedaan antara TV dan volume ruang mati fisiologis Meningkat
2.1.1 Perubahan Sistem Pernapasan Pada Masa Kehamilan a) Trimester I
Kebutuhan oksigen meningkat sampai 20%, selain itu diafragma juga terdorong terjadi hiperventilasi dangkal (20-24x/menit) akibat kompliansi dada (chest compliance) menurun. Volume tidal meningkat. Volume residu paru (functional residual capacity) menurun. Kapasitas vital menurun
Adaptasi ventilasi dan structural selama masa hamil bertujuan menyediakan kebutuhan ibu dan janin. Kebutuhan oksigen ibu meningkat sebagai respon terhadap percepatan laju metabolic dan peningkatan kebutuhan oksigen jaringan uterus dan payudara. Janin membutuhkan oksigen dan suatu cara untuk memebuang karbondioksida.
Peningkatan kadar estrogen menyebabkan ligamentum pada kerangka iga berelaksasi sehingga ekspansi rongga dada meningkat.
b) Trisemester II
20-25% dari biasanya. Ibu hamil dapat merasa lelah karena kerja jantung dan paru-paru menjadi lebih berat. Penurunan adanya penekanan CO2 seorang wanita hamil sering mengeluarkan sesak nafas sehingga meningkatkan usaha bernafas.
16 minggu : serabut-serabut elastik terbentuk di paru-paru, terlihat brochiolus terminal dan respiratorius.
18 minggu : gerakan pernafasan dapat terdeteksi namun perkembangan struktur alveolus paru belum mencukupi bagi kemungkinan hidup janin sebelum minggu ke 27-28.
20 minggu : lubang hidung terbuka kembali.
22 minggu : gerakan nafas yang diikuti oleh bunyi suara yang lemah. 24 minggu : sakus dan duktus alveolus terbentuk, gerakan seperti
pernafasan mulai terlihat, terlihat lesitin dalam cairan amnion. 28 minggu : terbentuk surfaktan di permukaan alveolar. c) Trisemester III
Pernafasan masih diafragmatik selama kehamilan, tetapi karena pergerakan diafragma terbatas setelah minggu ke-30, wanita hamil bernafas lebih dalam, dengan meningkatkan volume tidal dan kecepatan ventilasi, sehingga memungkinkan pencampuran gas meningkat dan konsumsi oksigen meningkat 20%. Diperkirakan efek ini disebabkan oleh meningkatnya sekresi progesteron. Keadaan tersebut dapat menyebabkan pernafasan berlebih .Ph kehamilan 32 mg, menyebabkan ibu hamil sulit bernafas (sesak nafas & pendek nafas) sbg kompensasi tjdnya desakan rahim & keb O2 ä, ibu hamil akan bernafas lbh dlm sktr 20 s/d 35% dr biasanya.
2.1.2 WOC
Pernapasan pada masa kehamilan
TRISEMESTER I TRISEMESTER II TRISEMESTER III
Napas dalam
pernapasan Perubahan takanan abdomenperbesaran uterus Diafragma terangkat hingga v.residu , kapasitas
inspirasi
kelelahan Sesak
2.1.3 Diagnosa Keperawatan a. Trisemester 1
- Gangguan pertukaran gas b. Trisemester 2
- Pola napas tidak efektif - Intoleransi aktivitas c. Trisemester 3
- Pola napas tidak efektif 2.2 Tuberculosis paru
2.2.1 Pengertian Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit akibat kuman Mycobakterium tuberkculosis sistemis sehingga dapat mengenai semua organ tubuh dengan lokasi terbanyak di paru paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer (Arif Mansjoer, 2000).
Tuberkolosis merupakan infeksi bakteri kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis dan ditandai oleh pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi dan oleh hipersensitivitas yang diperantarai-sel (Cell-Mediated-Hypersensitivity). Penyakit biasanya terletak di paru, tetapi dapat mengenai organ lain. Dengan tidak adanya pengobatan yang efektif untuk penyakit yang efektif, biasa terjadi perjalanan penyakit yang kronik, dan berakhir dengan kematian .
Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil Mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah yang sebagian besar basil tuberkolusis masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone infection dan selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai focus primer dari ghon ( Hood Alsagaff, th 1995. hal 73)
lainnya, terutama meningen, ginjal, tulang, dan nodus limfe (Suzanne dan Brenda, 2001).
2.2.2 Etiologi
Penyebab tubercolosis adalah Microbakterium Tubercolosis sejenis kuman berbentuk batang dengan ukuran panjang 1 -4/ um dan tebal 0,3-0,6/um. Sebagian dinding kuman terdiri atas asam lemak (lipid), peptidoglikan dan arabinomanan. Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam (asam alkohol) sehingga disebut bakteri tahan asam(BTA). Ia juga lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisis. Kuman dapat tahan hidup pada udara kering maupaun dalam keadaan dingin (dapat bertahan tahun tahun dalam lemari es). Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan penyakit tuberculosis menjadi aktif lagi. Didalam jaringan, kuman hidup sebagai parasit intraseluler yakni salam sitoplasma makrofag. Makrofag yang semula memfagositosi malah disenanginya karena banyak mengandung lipid. Sifat lain kuman ini adalah aerob. Sifat ini menujukan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigenny. Dalam hal ini tekanan oksigen pada bagian apical lebih tinggi dari bagian lain, sehingga bagian apical ini merupakan tempata predileksi penyakit tuberculosis. Bakteri ini sangat lambat pertumbuhannya, mereka memecah diri setiap 16-20 jam.
Ibu
peredaran darah, sistem saluran linfe,saluran napas, atau penyebaran langsung kebagian-nagian tubuh lainnya.
Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular.Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.
Janin
Tuberkulosis dapat ditularkan baik melalui plasenta di dalam rahim, menghirup atau menelan cairan yang terinfeksi saat kelahiran, atau menghirup udara yang mengandung kuman TBC setelah lahir.
2.2.3 Manifestasi Klinis
Ibu
a) Demam, biasanya subfebril menyerupai demam influenza. Serangan demam pertama dapat sembuh sebentar, tetapi kemudian dapat timbul kembali. Begitulah seterusnya, hilang timbulnya demam influenza ini. Sehingga klien merasa tidak pernah terbebas dari serangan demam influenza. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh klien dan berat ringannya infeksi kuman tuberculosis yang masuk.
darah karena terdapat pembuluh hdarah yang pecah. Kebanyakan bentuk darah pada tuberculosis terjadi pada kavitas tetapi dapat juga terjadi pada ulkus dinding bronkus.
c) Sesak nafas, sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, yang infiltrasinya sudah meliputi setengah bagian paru-paru.
d) Nyeri dada : ini jarang ditemukan, nyeri timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis.
e) Malaise : ditemukan berupa anoreksia, berat badan menurun, sakit kepala, nyeri otot dan keringat di waktu di malam hari.
Bayi
Abortus, terhambatnya pertumbuhan janin, kelahiran prematur dan terjadinya penularan TB dari ibu ke janin melalui aspirasi cairan amnion (disebut TB congenital). Gejala TB congenital biasanya sudah bisa diamati pada minggu ke 2-3 kehidupan bayi,seperti prematur, gangguan napas, demam, berat badan rendah, hati dan limpa membesar. Penularan kongenital sampai saat ini masih belum jelas,apakah bayi tertular saat masih di perut atau setelah lahir.
2.2.4 Patofisiologi dan WOC
mereka yang mengidap infeksi tuberculosis aktif dan hanya pada masa infeksi aktif.
Basil mycobacterium tuberculosis sangat sulit dimatikan apabila telah mengkolonisasi saluran nafas bawah, maka tujuan respons imun adalah lebih untuk mengepung dan mengisolasi basil bukan untuk mematikannya. Respons selular melibatkan sel T serta makrofag. Makrofag mengelilingi basil diikuti oleh sel T dan jaringan fibrosa membungkus kompleks makrofag basil tersebut. Tuberkel akhirnya mengalami kalsifikasi dan disebut kompleks Ghon, yang dapat dilihat pada pemeriksaan sinar-x toraks. Sebelum ingesti bakteri selesai, bahan mengalami perlunakan (perkijuan). Mikro-organisme hidup dapat memperoleh akses ke sistem trakeobronkus dan menyebar melalui udara ke orang lain. Bahkan walaupun telah dibungkus secara efektif, basil dapat bertahan hidup dalam tuberkel.
Apabila partikel infeksi terisap oleh orang sehat, akan menempel pada jalan nafas atau paru-paru. Kuman menetap di jaringan paru akan bertumbuh dan berkembang biak dalam sitoplasma makrofag. Di sini kuman dapat terbawa masuk ke organ tubuh lainnya. Kuman yang bersarang di jaringan paru-paru akan membentuk sarang tuberkulosis pneumonia kecil dan disebut sarang primer.
WOC TB PARU Secara Umum
Droplet nucler/dahak yang mengandung basil TBC (Mycobacterium Tuberculosis)
Factor dari luar :
1. Factor toksik (alcohol dan rokok )
2. Social ekoomi rendah 3. Terpapar penderita TBC 4. lingkungan buruk
Batuk , bersin Factor dari dalam ;
1. Ibu hamil, bayi
MK : Risiko tinggi infeksi
Membentuk sarang TB Premonia Kecil/sarang primer
Reaksi sistematis
pleura
Kerusakan membrane alveolar-kapiler dan merusak
pleura,atelaktasis
malaise Sesak, sianosis, penggunaan alat bantu hiperventilasi
napas
Ekspansi torak Perubahan cairan intrapleura
Anoreksia
MK : Gangguan pertukaran gas MK : intoleransi aktivitas
Berat badan
lemah
MK : Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Diagnosa Keperawatan Tb Paru Secara Teortis
1. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d batuk produktif ,batu darah 2. Gangguan pertukaran gas b.d hiperventilasi
3. Pola napas tidak efektif b.d perubahan cairan intrapleura
4. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d reaksi sistematik tubuh 5. Intoleransi aktivita b.d reaksi sistemik tubuh
2.2.5 Pemeriksaan Penunjang
Berikut ini pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk menguji seseorang positif terkena TB Paru:
a) Uji Serologi
Mendiagnosis tuberkulosis yang berdasarkan pengenalan antibodi Ig G serum terhadap antigen mikrobacterium tertentu dan menggunakan teknik ELIZA (Enzim Linket Imunoserbent). Penerapan ini paling besar kemungkinan pada anak dan klien tuberkulosis ekstra pulmunal yaitu pada kasus sputumnya tidak ada.
b) Pemeriksaan radiologi
Gambaran radiologik yang dicurigai sebagai kelainan TB yang masih aktif, bila didapatkan gambaran bayangan berawan / nodular di bagian tas paru, gambaran kavitas (lubang pada paru), terutama lebih dari satu yang dikelilingi oleh bayangan opak (putih) berawan atau nodular, bayangan bercak milier (berbintik-bintik putih seukuran jarum pentul) yang berupa gambaran nodul-nodul (becak bulat) miliar yang tersebar pada lapangan paru, dan gambaran berupa efusi pleura (terdapatnya cairan pada selaput paru).
bronkovaskuler (paru) menghilang pada pleura yang terisi udara, gambaran kolaps, cairan, atau desakan jantung.
c) Pemeriksaan Dahak
Spesimen dahak dikumpulkan/ditampung dalam pot dahak yang bermulut lebar, berpenampang 6 cm atau lebih dengan tutup berulir, tidak mudah pecah dan tidak bocor, pot ini harus selalu tersedia di Unit pelayanan kesehatan. Diagnosa tubercolosis ditegakkan dengan pemeriksaan spesimen dahak sewaktu pagi sewaktu (SPS). Spesimen dahak sebaiknya dikumpulkan dalam 2 hari kunjungan yang berurutan ( Depkes RI, 2002 ).
Adapun waktu pelaksanaan pengumpulan dahak sebagai berikut: Sewaktu yaitu Dahak dikumpulkan pada saat suspek TBC paru datang berkunjung pertama kali pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak hari kedua. Pagi yaitu dahak dikumpulkan di rumah pada hari kedua, segera setelah bangun tidur pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di Unit pelayanan kesehatan. Sewaktu yaitu dahak dikumpulkan di Unit pelayanan kesehatan pada hari kedua, saat menyerahkan dahak pagi ( Depkes RI, 2002).
Pemeriksaan sputum adalah penting karena dengan ditemukannya kuman BTA. Diagnosis tuberkolusis dapat ditegakkan. Kriteria BTA sputum positif adalah bila sekurang-kurangnya ditemukan tiga batang kuman BTA pada satu sedian dengan kata lain diperlukan 5.000 kuman dalam 1 mL sputum .
d) Pemeriksaan Darah
sedikit meninggi dengan hitung jenis pergeseran ke kiri. Jumlah limfosit masih di bawah normal. Laju endap darah mulai meningkat. Bila penyakit mulai sembuh, jumlah leukosit kembali normal dan jumlah limfosit masih tinggi. Laju endap darah perlahan turun sampai normal. Hasil pemeriksaan darah didapatkan, anemia ringan dengan gambaran normokrom dan normositer, gama globulin meningkat, kadar natrium dan darah menurun (Zulkifli, 2007).
e) Tes Tuberkulin
Biasanya dipakai cara mantoux yakni dengan menyuntikkan 0,1cc tuberkulin PPD (Purified Protein Derivate) intra cutan. Setelah 48-72 jam tuberkulin disuntikkan, akan timbul reaksi berupa indurasi kemerahan yang terdiri dari infiltrasi limfosit yakni persenyawaan antara antibody dan antigen tuberkulin.
Hasil tes mentoux dibagi dalam :
1) Indurasi 0-5 mm (diameternya) : mantoux negative 2) Indurasi 6-9 mm : hasil meragukan 3) Indurasi 10-15 mm : hasil mantoux positive 4) Indurasi lebih dari 16 mm : hasil mantoux positif kuat
Biasanya hampir seluruh penderita memberikan reaksi mantoux yamg positif (99,8%) Kelemahan tes ini juga dapat positif palsu yakni pemberian BCG atau terinfeksi dengan Mycobacterium lain. Negatif palsu lebih banyak ditemukan daripada positif palsu .
2.2.6 Komplikasi
1. Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau karena tersumbatnya jalan napas.
2. Atelektasis (parumengembang kurang sempurna) atau kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial.
3. Bronkiektasis (pelebaran broncus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
4. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, dan ginjal. 2.2.7 Tuberkulosis Pada Kehamilan
a) Efek tuberculosis terhadap kehamilan
Efek TB pada kehamilan tergantung pada beberapa factor antara lain tipe, letak dan keparahan penyakit, usia kehamilan saat menerima pengobatan antituberkulosis, status nutrisi ibu hamil, ada tidaknya penyakit penyerta, status imunitas, dan kemudahan mendapatkan fasilitas diagnosa dan pengobatan TB. Status nutrisi yang jelek, hipoproteinemia, anemia dan keadaan medis maternal merupakan dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas maternal. Usia kehamilan saat wanita hamil mendapatkan pengobatan antituberkulosa merupakan factor yang penting dalam menentukan kesehatan maternal dalam kehamilan dengan TB.
seseorang. Bahkan, TB pada samping kiri dan kanan rahim bisa menimbulkan kemandulan. Hal ini tentu menjadi kekhawatiran pada pengidap TB atau yang pernah mengidap TB, khususnya wanita usia reproduksi. Jika kuman sudah menyerang organ reproduksi wanita biasanya wanita tersebut mengalami kesulitan untuk hamil karena uterus tidak siap menerima hasil konsepsi.
Harold Oster MD,2007 mengatakan bahwa TB paru (baik laten maupun aktif) tidak akan memengaruhi fertilitas seorang wanita di kemudian hari. Namun, jika kuman menginfeksi endometrium dapat menyebabkan gangguan kesuburan.
b) Efek tuberculosis terhadap janin
Menurut Oster,2007 jika kuman TB hanya menyerang paru, maka akan ada sedikit risiko terhadap janin.Untuk meminimalisasi risiko,biasanya diberikan obat-obatan TB yang aman bagi kehamilan seperti Rifampisin, INH dan Etambutol. Kasusnya akan berbeda jika TB juga menginvasi organ lain di luar paru dan jaringan limfa, dimana wanita tersebut memerlukan perawatan di rumah sakit sebelum melahirkan. Sebab kemungkinan bayinya akan mengalami masalah setelah lahir. Penelitian yang dilakukan oleh Narayan Jana, KalaVasistha, Subhas C Saha, Kushagradhi Ghosh, 1999 tentang efek TB ekstrapulmoner tuberkuosis, didapatkan hasil bahwa tuberkulosis pada limpha tidak berefek terhadap kahamilan, persalinan dan hasil konsepsi. Namun juka dibandingkan dengan kelompok wanita sehat yang tidak mengalami tuberculosis selama hamil mempunyai resiko hospitalisasi lebih tinggi (21% : 2%), bayi dengan APGAR skore rendah segera setelah lahir (19% : 3%), berat badan lahir rendah (<2500 ).
Gejala TB congenital biasanya sudah bisa diamati pada minggu ke 2-3 kehidupan bayi,seperti prematur, gangguan napas, demam, berat badan rendah, hati dan limpa membesar. Penularan kongenital sampai saat ini masih belum jelas,apakah bayi tertular saat masih di perut atau setelah lahir.
2.2.8 Penatalaksanaan
Dalam perawatan klien hamil dengan TB perawat harus mampu memberikan pendidikan pada klien dan keluarga tentang penyebaran penyakit dan pencegahannya, tentang pengobatan yang diberikan dan efek sampingnya, serta hal yang mungkin terjadi jika penyakit TB tidak mendapatkan pengobatan yang adekuat. Klien dan keluarga harus tahu system pelayanan pengobatan TB sehingga klien tidak mengalami drop out selama pengobatan dimana keluarga berperan sebagai pengawas minum obat bagi klien. Pemantuan kesehatan ibu dan janin harus selalu dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi yang mungkin terjadi akibat TB.Perbaikan status nutrisi ibu dan pencegahan anemia sangat penting dilakukan untuk mencegah keparahan TB dan meminimalkan efek yang timbul terhadap janin.Pendidikan tentang sanitasi lingkungan pada keluarga dan klien penting diberikan untuk menghindari penyebaran penyakit lebih luas.
Pengobatan farmakologik yang dapat diberikan kepada ibu hamil dengan TB paru adalah:
1. Isoniazid 5mg/Kg, jangan melebihi 300mg/hari. Bersama dengan peridoksin 50mg/hari
2. Rifampin 10mg/Kg/hari, jangan melebihu 500mg/hari 3. Etambutol 5-25mg/kg/hari, jangan melebihi 2,5gr/hari
3.1 Kasus Tuberkulosis Paru
Seorang perempuan, usia 38 tahun, G5P4A0H4, hamil 20 minggu, datang ke puskesmas untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Hasil pengkajian : batuk sejak dua bulan yang lalu dan tidak sembuh – sembuh, sekret (+), hampir setiap malam keringat dingin, suami (+) TB Paru dan sedang dalam pengobatan, BB : 35 Kg, TB : 140 cm, LILA : 20cm, ibu belum pernah memeriksakan kehamilannya ke pelayanan kesehatan, dan tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi.
3.2 Pengkajian a) Identitas pasien
Nama : Ny. M
Umur : 38 tahun
Jenis kelamin : Perempuan Tempat tinggal : Jalan Muaro Pekerjaan : Ibu rumah tangga Pendidikan : SMA
BB : 35 Kg
Tinggi : 140 cm
LILA : 120 cm
b) Riwayat penyakit sekarang
c) Riwayat penyakit dahulu
Klien tidak pernah menderita penyakit yang berhubungan dengan tuberkulosis ini sebelumnya.
d) Riwayat penyakit keluarga
Suami klien menderita (+) TB Paru dan sedang dalam pengobatan. e) Riwayat psikososial
Status ekonomi klien menengah ke bawah dan sanitasi kesehatan yang kurang ditunjang dengan padatnya penduduk dan pernah punya riwayat kontak dengan penderita tuberkulosis paru seperti suaminya.
f) Pola fungsi kesehatan
Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
klien tinggal didaerah yang berdesak-desakan, kurang cahaya matahari, kurang ventilasi udara dan tinggal dirumah yang sumpek
Pola nutrisi dan metabolic
klien mengeluh anoreksia, nafsu makan menurun Pola eliminasi
Klien tidak mengalami perubahan atau kesulitan dalam miksi maupun defekasi
Pola aktivitas dan latihan
Dengan adanya batuk pada klien terganggunya kenyamanan tidur dan istirahatnya
Pola hubungan dan peran
Klien mengalami perasaan asolasi karena penyakit Pola sensori dan kognitif
Klien tidak mengalami gannguan daya panca indera (penciuman, perabaan, rasa, penglihatan, dan pendengaran)
Pola persepsi dan konsep diri
Karena batuk bersekret tadi emosi klien meningkat dan merasa kawatir dengan penyakitnya
Pola reproduksi dan seksual
klien mengalami perubahan pada reproduksi dan seksual akan berubah karena kelemahan dan batuk yang diderita.
Pola penanggulangan stress
Klien belum pernah berobat dan memeriksakan kesehatan kehamilan sebelumnya
Pola tata nilai dan kepercayaan
Karena batuk tadi klien aktifitas ibadah klien terganggu.
1. Anamnesis
Pertanyaan kapan haid terakhir,riwayat kehamilan,persalinan, dan nifas sebelumnya.riwayat penyakit yang pernah diderita,kesehatan keluarga,kontrasepsi,dll
2. Pemeriksaan umum Status gizi,tanda vital.
3. Pemeriksaan berat badan : pada kasus 35 kg 4. Pemeriksaan tinggi badan : pada kasus 120 cm 5. Pemeriksaan urin
6. Pemeriksaan obstetric - Pemeriksaan luar - Pemeriksaan dalam - Pemeriksaan panggul - Pemeriksaan laboratorium Kunjungan selanjutnya
1. Pemeriksaan detak jantung 2. Pemeriksaan perut
3. Pemeriksaan kaki 4. Pemeriksaan darah 3.3 Diagnosa Keperawatan
2. Gangguan pertukaran gas b.d hiperventilasi
3. Pola napas tidak efektif b.d perubahan cairan intrapleura
4. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d reaksi sistematik tubuh 5. Risiko infeksi b.d factor lingkungan
WOC kasus TB pada ibu hamil
Droplet nucler/dahak yang mengandung basil TBC (Mycobacterium Tuberculosis)
Kurang informasi MK : Risiko tinggi infeksi
Ibu hamil yang terinfeksi menularkan mycobacterium tuberkulosis pada janin
Factor dari luar : suami (+) TB
Factor dari dalam : ibu hamil (trimester 2)
Batuk produktif,batuk darah MK : bersihan jalan napas inefektif Produksi secret
lanjutan
Reaksi sistemik tubuh
Perubahan cairan intrapleura kerusakan membran
alveolar,kapiler,atelakta sis
Hiperventilasi, Sesak napas Menggunakan otot bantu napas
CO2 paru menurun, kebutuhan O2 meningkat
Terjadi sesak,
MK : Pola napas inefektif
MK : Gangguan pertukaran gas Membentuk sarang TB Premonia
Kecil/sarang primer
malaise Kerja jantung
meningkat
Anoreksia,mual muntah
Berat badan
MK : Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
lelah
MK : intoleransi aktivitas
No DIAGNOSA NOC NIC 1 Bersihan jalan napas tidak efektif
b.d batuk produktif
DO : batuk produktif (secret) DS : klien mengeluh sudah 2 bulan batuk tapi belum sembuh
Status respirasi : kepatenan jalan nafas
Indikator:
1. rata- rata pernafasan 2. ritme pernafasan 3. kedalaman inspirasi
4. kemampuan membersihkan sekresi
1. Buka jalan nafas, gunakan teknik chin lift atau ut;ter thrust bila perlu 2. Posisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi 3. Identifikasi pasien perlunya
pemasangan alat jalan nafas buatan
4. Lakukan fisioterapi dada jika perlu 5. Keluarkan sekret dengan batuk
atau suction
6. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
7. Berikan bronkodilator bila perlu 8. Monitor respirasi dan position O2
Aktifitas:
1. monitor frekuensi, ritme, dan usaha respirasi
2. catat pergerakan dada, lihat kesimetrisan, gunakan aksesori otot, dan supraclavicular juga intercostal retraksi otot
3. monitor pola nafas: bradipnea, takipnea, hyperventilation, pernafasan kussmaul, cheyne stokes, apnuestic, pernafasan biot, dan pola attaxic.
4. monitor kebisingan respirasi 5. monitor sekresi respirasi pasien 6. Auskultasi bunyi paru setelah
perawatan dan catat hasilnya 7. Monitor kemampuan pasien untuk
batuk secara efektif 2 Gangguan Pertukaran Gas B.d
Hiperventilasi
Status respiratori :pertukaran gas
DO : Kadar CO2 Menurun DS : sesak saat bernapas
Indicator :
1. Mudah bernafas
2. Tidak ada dispnea saat istirahat 3. Tidak ada kegelisahan
4. Tidak ada sianosis
5. PaO2 dalam batas normal 6. PaCO2 dalam batas normal 7. pH arteri dalam batas normal
Status respiratori :ventilasi
1. monitor frekuensi, ritme, dan usaha respirasi
2. catat pergerakan dada, lihat kesimetrisan, gunakan aksesori otot, dan supraclavicular juga intercostal retraksi otot
3. monitor pola nafas: bradipnea, takipnea, hyperventilation, pernafasan kussmaul, cheyne stokes, apnuestic, pernafasan biot, dan pola attaxic.
4. monitor kebisingan respirasi 5. monitor sekresi respirasi pasien 6. Auskultasi bunyi paru setelah
perawatan dan catat hasilnya 7. Monitor dyspnea dan hal-hal yang
meingkatkan atau memperburuknya
Aktivitas :
1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi 2. Identifikasi pasien perlunya
pemasangan alat jalan nafas buatan
Terapi oksigen 3 Pola napas tidak efektif Status Respirasi : Ventilasi
Indikator :
1. rata-rata pernafasan 2. ritme perafasan 3. kedalaman inspirasi 4. volume tidal
5. kapasitas vital
Monitor jalan napas Menajemen pernapasan Terapo oksigen
4 Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penekanan abdomen karena pembesaran uterus
Status nutrisi Indikator :
1. Asupan zat gizi
2. Asupan makanan dan cairan
Menajemen Nutrisi Aktivitas :
Do : BB :35 kg , Tb : 140 cm Ds : klien mengatakan nafsu
makan menurun, sering mual mual
3. Energi
4. Indeks masa tubuh 5. Berat badan
6. Biochemical measures Status nutrisi: intake makanan dan cairan
Indikator :
1. Intake makanan di mulut 2. Intake di saluran makanan 3. Intake cairan di mulut 4. Intake cairan
5. Intake TPN*
makanan/cairan dan menghitung intake kalori harian, jika
diperlukan
2. Memantau ketepatan urutan makanan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian
3. Menentukan jimlah kalori dan jenis zat makanan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, ketika berkolaborasi dengan ahli makanan, jika diperlukan
4. Menetukan kebutuhan makanan saluran nasogastric 5. Anjurkan pasien untuk
memilih makanan ringan, jika kekurangan air liur mengganggu proses menelan
6. Memastikan bahwa makanan berupa makanan yang tinggi serat untuk mencegah konstipasi
makanan, jika diperlukan 8. Menyarankan pemeriksaan
eliminasi makanan yang mengandung laktosa, jika diperlukan
Monitor Nutrisi Aktivitas :
1. Timbang berat badan klien 2. Monitor kehilangan dan
pertambahan berat badan 3. Monitor tipe dan kuantitas
olah raga
4. Jadwalkan perawatan, dan tindakan keperawatan agar tidak mengganggu jadwal makan 5. Monitor adanya mual dan
muntah
7. Monitor tingkat energi, lelah, lesu, dan lemah
8. Monitor intake kalori dan nutrisi
Terapi Nutrisi Aktivitas:
1. Mengontrol penyerapan
makanan/cairan dan menghitung intake kalori harian, jika
diperlukan
2. Menentukan jimlah kalori dan jenis zat makanan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, ketika berkolaborasi dengan ahli makanan, jika diperlukan
air liur mengganggu proses menelan
4. Membantu pasien untuk memilih makanan lembut, lunak dan tidak asam, jika diperlukan
5. Mengatur pemasukan makanan, jika diperlukan
5 Risiko tinggi infeksi b.d sanitasi lingkungan yg buruk
Do :
-Ds : klien mengtakan suaminya (+) TB dan dalam proses pengobatan
Kontrol resiko Indicator :
1. Menyatakan resiko 2. Memantau faktor resiko
lingkungan
3. Melakukan strategi kontrol risiko
4. Modifikasi gaya hidup untuk menurunkan resiko
5. Berpartisipasi dlm skrining utk mengidentifikasi risiko
Proteksi Infeksi Aktivitas :
1. Monitor tanda-tanda dan gejala sistemik dan local dari infeksi.
2. Monitor jumlah
granulosit, WBC, dan perbedaan nilai.
3. Pertahankan teknik asepsis untuk pasien yang berisiko. 4. Pertahankan teknik
5. Anjurkan istirahat. 6. Monitor perubahan
tingkat energi / malaise. 7. Beri agen imun. 8. Instruksi pasien untuk
mendapatkan antibiotik sesuai resep.
9. adanya infeksi dalam upaya pengendalian infeksi.
6 Kurangnya pengetahuan b.d rendahnya tingkat pendidkan Do :
-Ds : klien hanya tamatan Sekolah sederajat
Pengetahuan Proses Penyakit Indikator :
1 Kenal dengan nama penyakit
2 Deskripsi dari proses penyakit
3 Deskripsi dari penyebab atau faktor kontribusi
Mengajarkan Proses Penyakit Aktivitas :
1 Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit dengan cara yang benar.
4 Deskripsi dari faktor resiko
5 Deskripsi dari efek penyakit
6 Deskripsi dari tanda dan gejala
7 Deskripsi untuk meminimalkan efek penyakit
8 Deskripsi dari tanda dan gejala komplikasi
3 Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara yang tepat
4 Hindarkan harapan yang kosong
5 Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
6 Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk
melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan dengan cara yang tepat
6 Nyeri akut Tingkat Kenyamanan
Indicator :
perkembangan kepuasan 2 Kaji ketidaknyamanan secara
nonverbal, terutama untuk pasien yang tidak bisa mengkomunikasikannya secara efektif
3 Pastikan pasien mendapatkan perawatan dengan analgesic 4 Gunakan komunikasi yang
terapeutik agar pasien dapat menyatakan pengalamannya terhadap nyeri serta dukungan dalam merespon nyeri
sehari-hari)
6 Gunakan metoda penilaian yang berkembang untuk memonitor perubahan nyeri serta mengidentifikasi faktor aktual dan potensial dalam mempercepat penyembuhan 7 Menyediakan informasi
tentang nyeri, contohnya penyebab nyeri, bagaimana kejadiannya, mengantisipasi ketidaknyamanan terhadap prosedur
BAB IV
PENCEGAHAN TB PARU
4.1 Pencegahan Primer
Pencegahan Primer atau pencegahan tingkat pertama yang meliputi promosi kesehatan dan pencegahan khusus yang dapat ditujukan pada host, agent dan lingkungan. Contohnya :
a) Pencegahan pada faktor penyebab tuberculosis (agent) bertujuan mengurangi penyebab atau menurunkan pengaruh agent tuberculosis yaitu mycobacterium tuberkulosa serendah mungkin dengan melakukan isolasi pada penderita tuberkulosa selam menjalani proses pengobatan.
b) Mengatasi faktor lingkungan yang berpengaruh pada penularan tuberkulosa seperti meningkatkan kualitas pemukiman dengan menyediakan ventilasi pada rumah dan mengusahakan agar sinar matahari dapat masuk ke dalam rumah c) Meningkatkan daya tahan pejamu seperti meningkatkan status gizi individu,
pemberian imunisasi BCG terutama bagi anak.
d) Tidak membiarkan penderita tuberculosis tinggal serumah dengan bukan penderita karena bisa menyebabkan penularan.
e) Meningkatkan pengetahuan individu pejamu (host) tentang tuberkulosa definisi, penyebab, cara untuk mencegah penyakit tuberculosis paru seperti imunisasi BCG, dan pengobatan tuberculosis paru.
4.2 Pencegahan Sekunder
terjadinya komplikasi. Sasaran pencegahan ni ditujukan pada mereka yang menderita atau dianggap menderita (suspect) atau yang terancam akan menderita tuberkulosa (masa tunas). Contohnya :
a) Pemberian obat anti tuberculosis (OAT) pada penderita tuberkulosa paru sesuai dengan kategori pengobatan seperti isoniazid atau rifampizin.
b) Penemuan kasus tuberkulosa paru sedini mungkin dengan melakukan diagnosa pemeriksaan sputum (dahak) untuk mendeteksi BTA pada orang dewasa.
c) diagnosa dengan tes tuberculin
d) Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya e) melakukan foto thorax
f) Libatkan keluarga terdekat sebagai pengawas minum obat anti tuberkulosa 4.3 Pencegahan Tersier
Pencegahan tertier atau pencegahan tingkat ketiga dengan tujuan mencegah jangan sampai mengalami cacat atau kelainan permanent, mencegah bertambah parahnya suatu penyakit atau mencegah kematian. Dapat juga dilakukan rehbilitasi untuk mencegah efek fisik, psikologis dan sosialnya.
a) Lakukan rujukan dalam diagnosis, pengobatan secara sistematis dan berjenjang.
b) Berikan penanganan bagi penderita yang mangkir terhadap pengobatan. c) Kadang kadang perlu dilakukan pembedahan dengan mengangkat sebagian
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pada umumnya, penyakit paru-paru tidak mempengaruhi kehamilan dan persalinan nifas, kecuali penyakitnya tidak terkonrol, berat, dan luas yang wanita hamil yang menderita TB paru di Indonesia yaitu 1,6%. Dengan disertai sesak napas dan hipoksia. Walaupun kehamilan menyebabkan sedikit perubahan pada sistem pernapasan, karena uterus yang membesar dapat mendorong diafragma dan paru-paru ke atas serta sisa udara dalam paru-paru kurang, namun penyakit tersebut tidak selalu menjadi lebih parah. TBC paru merupakan salah satu penyakit yang memerlukan perhatian yang lebih terutama pada seorang wanita yang sedang hamil, karena penyakit ini dapat dijumpai dalam keadaan aktif dan keadaan tenang. Karena penyakit paru-paru yang dalam keadaan aktif akan menimbulkan masalah bagi ibu, bayi, dan orang-orang disekelilingnya
5.2 Saran