• Tidak ada hasil yang ditemukan

Artikel AKTIVA TAK BERWUJUD DAN PENGARUH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Artikel AKTIVA TAK BERWUJUD DAN PENGARUH"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Artikel: “AKTIVA TAK BERWUJUD DAN PENGARUHNYA TERHADAP

PERUSAHAAN”

Disusun Oleh : Kelompok 2 (Kelas E)

Eric Lauwrentz (1613021) Sirliandy Putra Pangiawan (1613003) Deresya Setiawati Tandiare (1613002)

TUGAS AKHIR AKUNTANSI KEUANGAN I

Semester III

Jurusan Akuntansi - Universitas Atma Jaya Makassar 2017/2018

Latar Belakang

Setiap Entitas pasti memiliki aktiva tak berwujud yang digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan. Aktiva tak berwujud adalah hak, hak istimewa dan keuntungan kompetitif yang timbul dari pemilikan suatu aktiva yang berumur panjang, yang tidak memiliki wujud fisik tertentu. Bukti pemilikan aktiva tak berujud bisa berupa kontrak, lisensi atau dokumen lain. Dimana Aktiva tak berwujud merupakan bagian dari Aset Nonlancar lainnya yang di neraca diklasifikasikan dan disajikan sebagai Aset Lainnya.

Entitas sering kali mengeluarkan sumber daya maupun menciptakan laibilitas dalam perolehan, pengembangan, pemeliharaan atau peningkatan sumber daya tidak berwujud, seperti ilmu pengetahuan dan teknologi, desain dan implementasi sistem atau proses baru, lisensi, hak kekayaan intelektual, pengetahuan mengenai pasar dan merek dagang.

Aktiva tak berwujud merupakan non-monetary asset yang tidak memiliki wujud fisik yang terdapat dalam neraca perusahaan, yang digunakan untuk memproduksi barang dan jasa. Dalam melakukan analisa terhadap aktiva tak berwujud terdapat berbagai kesulitan, seperti kapan aktiva tak berwujud diakui serta bagaimana penilaian, pengukuran, dan pelaporannya dalam neraca perusahaan.

(2)

(IAI) menerbitkan Exposure Draft Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (ED PSAK) No. 19 Revisi 2000 tentang Aktiva Tak Berwujud.

Oleh karena itu, setiap orang yang akan dan telah berkecimpung dalam dunia profesi akuntan selayaknya dapat benar-benar memahami konsep aktiva tak berwujud, perlakuan akuntansinya, dan penyajiannya dalam laporan keuangan.

Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan dari makalah ini adalah mencoba melihat sejauh mana perlakuan akuntansi untuk aktiva tak berwujud telah ditetapkan dalam Standar Akuntansi Keuangan dan implementasinya dalam dunia nyata melalui analisa kasus atas merek dagang; apakah perlu ditampilkan dalam neraca.

DEFINISI AKTIVA TAK BERWUJUD

Ada beberapa definisi mengenai aktiva tak berwujud, di antaranya:

1. Menurut FASB

FASB dalam SFAC 6 tentang Element of Financial Statement, mendefinisikan aktiva sebagai probable future economic benefits obtained or controlled by a particular entity as a resuit of past transactions or events. Definisi ini berlaku bagi aktiva berwujud dan aktiva tak berwujud. Aktiva berwujud adalah aktiva yang memiliki bentuk fisik, sementara aktiva tak berwujud adalah aktiva yang tidak memiliki bentuk fisik. Aktiva tak berwujud umumnya dikarakteristikkan oleh hak atau keuntungan yang serupa.

2. Menurut IASC

Pengertian aktiva tak berwujud menurut IAS 38 adalah non-monetary asset without physical substance held for use in the production of supply o f goods or service, for rental to others, or for administrative purposes.

3. Menurut PSAK

(3)

Perlakuan akuntansi untuk aktiva tak berwujud seringkali masih menimbulkan kesulitan dalam teori akuntansi. Kesulitan ini meliputi pemberian definisi aktiva tak berwujud, dan yang paling utama adalah adanya ketidakpastian mengenai pengukuran nilai dan masa manfaat dari aset tersebut.

Pada tingkat semantik, aktiva tak berwujud harus dilaporkan sedemikian rupa sehingga memungkinkan adanya real world interpretation. Pandangan umum bahwa aktiva tak berwujud, sebagaimana halnya dengan aset yang lain, merupakan hak atas keuntungan di masa depan, yaitu apabila pengeluaran untuk memperoleh aktiva tak berwujud mempunyai keuntungan potensial di masa depan, maka pengeluaran ini seharusnya diperlakukan sebagai suatu asset sampai keuntungan di masa depan tidak dapat diharapkan lagi. Karena aktiva tak berwujud biasanya tidak mempunyai current marketprice, maka deskripsinya dalam bentuk satuan moneter juga menjadi tidak memadai. Adanya deskripsi dalam pengungkapan sifatnya akan memungkinkan interpretasi yang lebih baik. Pada tingkat behavioral cenderung lebih menekankan adanya pelaporan aktiva tak berwujud dalam neraca untuk memudahkan pengambilan keputusan oleh investor dan kreditur.

KARAKTERISTIK AKTIVA TAK BERWUJUD

Aktiva yang paling penting bagi banyak perusahaan besar di dunia bukanlah persediaan, peralatan, gedung kantor ataupun kendaraan operasional dengan harga milyaran, melainkan citra merek. Kita menghadapi ekonomi yang didominasi oleh penyedia informasi atau jasa, dan aktiva utamanya bersifat tidak berwujud.

Aset tak berwujud mempunyai tiga karakter utama.

1. Teridentifikasi.

Agar teridentifikasi, aset tak berwujud harus dapat dipisahkan dari perusahaan(dapat dijual atau ditransfer), atau berkembang dari kontrak atau perjanjian legal dimana keuntungan secara ekonomi mengalir ke perusahaan.

2. Tidak berfisik.

(4)

3. Bukan aset keuangan.

Aset seperti deposito bank, piutang, dan investment obligasi jangka panjang dan saham juga termasuk tidak mempunyai substansi fisik. Bagaimanapun, asetkeuangan memperoleh nilai dari hak istimewa (right) untuk menerima kas atau setara kas dimasa depan. Aset keuangan tidak terklasifikasi sebagai tak berwujud. Dalam kebanyakan kasus, aset tak berwujud memberikan keuntungan lebih dari satu periode. Oleh karena itu, perusahaan biasanya mengklasifikasikannya sebagai Aset tidak lancar.

MASALAH AKTIVA TAK BERWUJUD (Penilaian, Penyusutan dan Penurunan Nilai Aktiva Tak Berwujud)

Pada umumnya, perusahaan mengklasifikasikan aktiva tak berwujud sebagai aktiva jangka panjang. Jenis aktiva tak berwujud yang paling umum dilaporkan adalah paten, hak cipta, waralaba atau lisensi, merek dagang, dan goodwill.

Akuisisi aktiva tak berwujud dicatat pada biaya pembelian, dan seluruh pengeluaran yang diperlukan untuk membuat aktiva tersebut siap digunakan. Apabila aktiva tersebut diperoleh dengan menggunakan saham atau ditukarkan dengan aktiva lain, biaya aktiva tak berwujud tersebut adalah sebesar nilai pasar wajar aktiva tak berwujud yang diterima. Apabila beberapa aktiva tak berwujud, atau gabungan dari aktiva tak berwujud dan aktiva berwujud, dibeli berdasarkan pembelian keranjang, maka biayanya dicatat sebesar nilai pasar wajar atau nilai jual relatif.

Perlakuan akuntansi untuk berbagai jenis aktiva tak berwujud

Cara Akuisisi

Jenis Pembelian Dibuat secara internal a.Aktiva tak Berwujud yang

dapat diidentifikasi secara terpisah ( hak paten, merek dagang, dan biaya organisasi )

(5)

Sama seperti aktiva lainnya, aktiva tak berwujud juga memiliki umur manfaat yang terbatas dan tidak terbatas. Untuk aktiva tak berwujud yang meiliki batas umur manfaat, perusahaan umumnya mengamortisasi aktiva tersebut dengan pembebanan sistematis selama umur manfaatnya. Umur manfaat ini harus mencerminkan periode-periode di mana aktiva-aktiva tersebut memberikan kontribusi terhadap arus kas. Faktor –faktor untuk menentukan umur manfaat diantaranya adalah :

1. Perkiraan penggunaan aktiva tersebut oleh perusahaan

2. Perkiraan umur manfaat aktiva lainnya yang terkait dengan umur manfaat aktiva tak berwujud tersebut

3. Persyaratan hukum, undang-undang, dan kontrak yang akan membatasi umur manfaat suatu aktiva tak berwujud

4. Persyaratan hukum, undang-undang, dan kontrak yang akan memperpanjang umur kontrak aktiva tersebut tanpa biaya besar

5. Dampak dari keusangan, permintaan, persaingan, dan faktor-faktor ekonomi yang lain, seperti stabilitas industry, kemajuan teknologi, kebijakan legislatif, yang berakibat pada ketidakpastian atau perubahan lingkungan peraturan, dan perubahan pada jalur distribusi 6. Tingkat beban pemeliharaan yang diperlukan untuk mendapatkan arus kas yang

diharapkan dari aktivitas tersebut

Jumlah beban amortisasi untuk aktiva tak berwujud dengan umur manfaat yang terbatas harus mencerminkan pola konsumsi atau pola pemakaian aktiva tersebut oleh perusahaan, jika perusahaan itu dapat dengan pasti menentukan polanya. Ketika perusahaan mengamortisasi lisensi-lisensi produknya, perusahaan harus menunjukkan biaya itu sebagai beban. Kredit harus dilakukan ke akun aktiva yang sesuai maupun kea kun akumulasi amortisasi yang terpisah. Jumlah aktiva tak berwujud yang akan diamortisasi adalah biaya dikurangi nilai sisa. Nilai sisa yang dimaksud diasumsikan nol, kecuali pada akhir umur manfaatnya.

(6)

dalam periode waktu dimana aktiva tersebut dapat memberikan arus kas. Untuk aktiva yang tidak memiliki batas umur manfaat tidak diamortisasi. Perusahaan harus menguji apakah aktiva tak berwujud dengan umur tak tervatas tersebut mengalami penurunan. Pengujian penurunan untuk penurunan untuk aktiva tak berwujud dengan umur tak terbatas ini berbeda dengan yang dipakai untuk aktiva tak berwujud dengan umur terbatas, dalam hal bahwa hanya pengujian nilai wajar saja yang dilakukan. Aktiva tak berwujud dengan umur tak terbatas tidak akan pernah gagal dalam pengujian pemulihan arus kas tak berdiskonto karena arus kas dapat diperpanjang ke masa depan secara tidak terbatas.

JENIS-JENIS AKTIVA TAK BERWUJUD

Akuntansi untuk aktiva tak berwujud bergantung pada umur aktiva tak berwujud tersebut, baik terbatas maupun tidak terbatas. Aktiva tak berwujud dikategorikan menjadi enam, yaitu:

1. Pemasaran aset tidak berwujud yang terkait (marketing-related intangible asset) 2. Pelanggan aset tidak berwujud yang terkait (customer-related intangible asset) 3. Artistik aset tidak berwujud yang terkait (artistic- related intangible asset) 4. Kontrak aset tidak berwujud yang terkait ( contract- related intangible asset) 5. Teknologi aset tidak berwujud yang terkait ( technology-related intangible asset) 6. Goodwill

1. Aktiva Tak Berwujud yang Terkait dengan Pemasaran

(7)

Jika suatu perusahaan memperoleh merek dagang atau nama dagang, maka biaya yang dapat dikapitalisasi adalah harga pembelian. Jika suatu merek dagang atau nama dagang dikembangkan oleh perusahaan tersebut, maka biaya yang dapat dikapitalisasi termasuk biaya pengacara, biaya pendaftaran, biaya perancangan, biaya konsultasi, dan biaya lainnya. Jika total biaya merek dagang atau nama dagang tidak signifikan, maka biaya tersebut dapat dibebankan. Kebanyakan umur merek dagang atau nama dagang adalah tidak terbatas. Oleh sebab itu, perusahaan tidak perlu mengamortisasi biayanya.

2. Aktiva Tak Berwujud yang Terkait dengan Pelanggan

Aktiva tak berwujud yang terkait dengan pelanggan pada umumnya diperoleh dari interaksi dengan pihak luar perusahaan. Contohnya adalah daftar pelanggan, catatan pesanan atau catatan produksi, dan hubungan dengan pelanggan yang terikat kontrak maupun yang tidak terikat kontrak.

3. Aktiva Tak Berwujud yang Berhubungan dengan Seni

Contoh dari aktiva tak berwujud yang berhubungan dengan seni adalah hak kepemilikan atas naskah drama, karya sastra, karya music, gambar-gambar, foto, dan materi video dan audiovisual. Hak cipta melindungi hak kepemilikan tersebut. Hak cipta adalah hak yang diberikan pemerintah kepada para penulis, pelukis, pemusik, pematung, dan seniman lain atas kreasi dan ekspresi mereka. Hak cipta ini diberikan selama umur penciptanya dan memberikan kepada pemilik, atau pewarisnya, hak eksklusif untuk memproduksinya ulang dan menjual suatu pekerjaan artistik atau yang dipublikasikan. Hak cipta tidak dapat diperbaharui. Biaya untuk memperoleh dan mempertahankan suatu hak cipta dapat dikapitalisasi, tetapi biaya penelitian dan pengembangan yang terlibat harus dibebankan pada saat terjadinya.

4. Aktiva Tak Berwujud yang Berhubungan dengan Kontrak

(8)

Franchise memperoleh hak untuk memanfaatkan ide-ide atau produk franchise dengan menandatangani perjanjian waralaba. Jenis waralaba lainnya adalah perjanjian yang biasa dilakukan oleh pemerintah kota dan penggunaan properti publik oleh suatu perusahaan bisnis. Dalam hal ini, perusahaan yang dimiliki secara pribadi diijinkan untuk menggunakan properti publik dan melakukan jasa-jasanya.

Waralaba dan lisensi dapat berlangsung selama periode waktu tertentu, selama periode yang tidak terbatas, atau perpetual. Perusahaan yang telah mendapatkan hak waralaba atau lisensi, mencatat suatu akun waralaba atau lisensi dalam pembukuannya, hanya jika terdapat biaya yang diidentifikasi pada akuisisi hak pengoperasian. Biaya waralaba dengan umur yang terbatas harus diamortisasi sebagai beban operasi selama umur waralaba tersebut. Perusahaan seharusnya tidak mengamortisasi biaya waralaba dengan umur yang tak terbatas atau waralaba perpetual, tetapi seharusnya mencatat sebesar biayanya. Pembayaran tahunan yang dilakukan perusahaan berdasarkan perjanjian waralaba harus dicatat sebagai beban operasi dalam periode perjanjian tersebut terjadi. Jumlah tersebut bukan merupakan aktiva karena tidak berhubungan dengan hak masa datang untuk menggunakan property public.

5. Aktiva Tak Berwujud yang Terkait dengan Teknologi

Aktiva tak berwujud yang terkait dengan teknologi berhubungan dengan inovasi atau kemajuan teknologi. Sebuah inovasi atau pengembangan dan penciptaan teknologi baru membutuhkan hak paten untuk melindungi hak kekayaan intelektual seorang innovator. Paten memberikan hak eksklusif kepada pemegangnya untuk menggunakan, membuat, dan menjual suatu produk atau proses selama periode 20 tahun tanpa campur tangan atau pelanggaran dari pihak lain. Dua jenis utama paten adalah paten produk, yang meliputi produk fisik aktual, dan paten proses, yang mengatur proses untuk membuat produk.

6. Goodwill

(9)

Goodwill yang dihasilkan secara internal tidak boleh dikapitalisasi. Pengukuran komponen goodwill sangat kompleks dan menghubungkan setiap biaya dengan manfaat masa depan yang tidak dapat diestimasi secara rasional. Manfaat masa depan dari goodwill tidak memiliki hubungan dengan biaya yang dikeluarkan dalam pengembangan goodwill tersebut. Goodwill dapat muncul tanpa biaya khusus dalam pengembangannya. Sehingga karena tidak adanya transaksi objektif dengan pihak luar yang telah dilakukan, maka subjektivitas bahkan misrepresentasi dapat terjadi.

Goodwill hanya dicatat jika keseluruhan perusahaan dibeli. Karena goodwill merupakan suatu penilaian yang bersifat going concern dan tidak dapat dipisahkan dari perusahaan secara keseluruhan. Untuk mencatat goodwill, nilai pasar wajar dari aktiva berwujud bersih dan aktiva tak berwujud yang dapat diidentifikasi, dibandingkan dengan nilai harga beli perusahaan yang diperoleh. Perbedaannya dianggap sebagai Goodwill. Jadi, goodwill adalah nilai sisa kelebihan biaya atas nialai wajar aktiva bersih yang dapat diidentifikasi yang diakuisisi.

Perusahaan yang mengakui goodwill dalam sebuah penggabungan usaha, menganggapnya mempunyai umur yang tidak terbatas. Oleh karena itu, perusahaan tidak boleh mengamortisasinya. Goodwill adalah aktiva tak berwujud yang paling besar dari neraca suatu perusahaan dan komunitas investasi ingin mengetahui jumlah yang diinvestasikan pada goodwill tersebut. Sehingga perusahaan harus menyesuaikan nilai tercatatnya ketika goodwill mengalami penurunan nilai. Nilai goodwill pada akhirnya akan habis, sehingga perusahaan harus mencatat goodwill ke dalam biaya selama periode yang terpengaruh. Amortisasi goodwill akan membandingkan beban dengan pendapatan dengan lebih baik.

(10)

ANALISA KASUS : PERLUKAH MEREK DAGANG DITAMPILKAN DALAM NERACA?

Berbagai nama merek dagang telah banyak beredar. Ratusan bahkan ribuan merek dagang telah muncul untuk berbagai jenis produk, antara lain Aqua, Coca-Cola, Indomie, Rinso, dan masih banyak lagi. Bahkan terkadang suatu merek dagang menjadi nama generic dari suatu produk. Sebut saja Aqua, merek dagang minuman kemasan ini telah menjadi sebutan untuk kategori produk air dalam kemasan.

Bagi para praktisi pemasaran, merek dagang semakin mutlak diperlukan. Apalagi bila persaingan semakin ketat, maka pendekatan merek dagang sebagai bagian dari produk tidak relevan lagi. Pada persaingan yang semakin ketat, peranan merek dagang menjadi kian penting dimana akan tercipta brand awareness, brand association, perceived quality, dan pada akhirnya membentuk brand lo yalty yang baik dan lancar.

Dengan begitu, dengan semakin ketatnya persaingan, maka usaha membangun merek dagang juga harus direncanakan dengan baik. Hal ini tentu saja akan memerlukan anggaran besar, bahkan mungkin juga jangka waktu yang lama. Merek dagang seperti Coca- Cola memiliki awareness yang sangat tinggi pada kategori produknya tetapi juga mempunyai association yang positif dan saling memperkuat.

Merek dagang yang baik harus dikelola dengan baik. Merek dagang menjadi aktiva tak berwujud yang nilainya harus dapat dinyatakan dalam satuan moneter. Dalam Jurnal Financial World disebutkan bahwa pengukuran ekuitas merek dagang bukan berdasarkan top of mind tetapi berdasarkan kinerja keuangan produk-produk tersebut.

Jadi apakah merek dagang dapat dimasukkan dalam laporan keuangan — neraca - dalam suatu perkiraan tersendiri? Hal ini masih menjadi perdebatan. Memperlakukan ekuitas merek dagang sebagai aset merupakan isu yang kontroversial saat ini.

(11)

Adapun metode yang digunakan dalam menilai merek dagang, merek dagang tidak dapat dipisahkan dari pandangan perusahaan dan dari bentuk aktiva tak berwujud lainnya seperti paten, trademark dan business channel. Suatu merek dagang yang sudah diperkenalkan dan sudah terkenal memang betul-betul memiliki nilai ekonomis. Namun hamper tidak mungkin memisahkan nilai ekonomis yang khusus meskipun menggunakan sense of accounting yang kuat.

Kekuatan merek dagang terdiri dari berbagai faktor. Masalah timbul ketika

menentukan bagian yang overvalue dalam membagikan secara adil untuk merek dagang. Hal ini tidak jauh berbeda dengan ketidakmungkinan pembagian merek dagang dari aktiva tak berwujud lainnya. Dalam penilaian untuk tujuan administrasi internal pun sulit untuk dipisahkan karena nilai merek dagang merupakan jumlah total faktor-faktor yang membangunnya. Fakta tersebut menunjukkan adanya kekurangan alat untuk mengukur nilai merek dagang secara obyektif yang menjadikan akuntansi merek dagang sebagai sebuah isu yang kontroversial. Untuk itu dibutuhkan alat evaluasi untuk brand equity.

Merek dagang mempunyai berbagai kekuatan dan nilai yang berbeda dalam suatu pangsa pasar. Merek dagang yang kuat mempunyai brand equity yang tinggi. Makin tinggi ekuitas merek dagang maka makin tinggi pula loyalitas konsumen pada merek dagang tersebut.

Demikian juga dengan brand awareness, persepsi kualitas, asosiasi terhadap kekuatan merek dagang dan aset lainnya, seperti paten, trademark dan business channel makin tinggi. Sebuah merek dagang merupakan aset yang dapat diubah sebagai pengganti harga atau dalam nilai uang dari bentuk aktiva lainnya. Perusahaan-perusahaan dapat tumbuh atas kepemilikan dan pengembangan portfolio merek dagang yang kuat.

Sebuah pengukuran nilai ekuitas merek dagang adalah harga premi merek dagang acuan dikalikan volume tambahan yang bergerak melebihi rata-rata sebuah merek dagang acuan. Ekuitas sebuah merek dagang seharusnya tidak hanya mencerminkan nilai kapitalisasi dari keuntungan tambahan dari penggunaan merek dagang pada saat ini tetapi juga nilai potensial pengembangan ke produk lain.

Ekuitas sebuah merek dagang seharusnya tidak hanya mencerminkan nilai kapitalisasi dari keuntungan tambahan dari penggunaan merek dagang pada saat ini tetapi juga nilai potensial pengembangan ke produk lain.

(12)

menduduki 10 besar dunia yaitu Coca Cola, Kelloggs, McDonald’s, Kodak, Marlboro, American Express, Sony, Mercedez Benz, dan Nescafe. Bahkan perusahaan produk makanan terbesar dunia membayar $4,5 miliar untuk membeli Rowntree atau 5 kali lebih besar dari nilai bukunya. Namun, perusahaan-perusahaan itu tidak menunjukkan brand equity dalam neracanya. Hal ini disebabkan oleh estimasi yang terus berubah-ubah.

KESIMPULAN DAN SARAN

Perlakuan akuntansi untuk aktiva tak berwujud seringkali masih menimbulkan kesulitan dalam teori akuntansi. Kesulitan ini meliputi pemberian definisi aktiva tak berwujud, dan yang paling utama adalah adanya ketidakpastian mengenai pengukuran nilai dan masa manfaat dari aset tersebut. Ciri yang melekat pada aktiva tak berwujud ini justru menyebabkan perdebatan yang tidak kunjung usai tentang bagaimana seharusnya pengakuan, pencatatan, serta pengukuran terhadap aktiva tak berwujud dilakukan.

Dalam rangka menciptakan suatu standar yang dapat diterima, badan penetapan standar harus hati-hati menyeimbangkan pertimbangan mengenai relevance dan reliability, dan juga informativeness of fincmcial statements. Pada kenyataannya badan penetapan standar enggan untuk mengakui hal-hal yang berkaitan dengan aktiva tak berwujud sebagai aktiva, terutama bagi beberapa aktiva yang ditimbulkan dari aktivitas seperti penelitian dan pengembangan. Hal ini disebabkan karena pengakuan semacam itu akan mengakibatkan inkonsistensi dalam kriteria pengakuan aktiva dan memberikan kemungkinan lebih besar kepada pihak manajemen untuk memberikan informasi yang salah melalui pengakuan aktiva yang meragukan atau bahkan tidak ada.

(13)

Jadi, dengan perkembangan pesat yang terjadi yang berhubungan dengan aktiva tak berwujud, maka standar akuntansi untuk aktiva tak berwujud yang semakin berkembang dengan segala pro dan kontranya hendaknya dapat menjadi panduan untuk seluruh pihak yang terkait dengan keberadaan aktiva tak berwujud ini.

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Kieso, E Donald, Weygandt, J Jerry dan Warfield, D. Terry, 2007. Intermediate Accounting ,Edisi16e, 111 River Street, Hoboken, NJ: WILEY

Ikatan Akuntan Indonesia. 2002. Standar Akuntansi Keuangan per 1 April 2002. Jakarta: Salemba Empat.

Ni Putu Setia Devi Astini. 2015. RESUME ”ASET TAK BERWUJUD” Tersedia di https://www.academia.edu/28273406/Akuntansi_Keuangan_I__Aset_Tak_Berwujud Diakses pada tanggal 27 Desember 2017.

Referensi

Dokumen terkait

untuk selalu rajin dalam belajar Al- Qur’an dan meningkatkan kedisiplinan untuk anak-anaknya dengan harapan anak lebih semangat lagi dalam belajar. Al- Qur’an serta orang tua

Pada membran tanpa pelesapan, nilai % rejeksi akan lebih besar jika dibandingkan dengan dua membran lainnya yang telah dilesap dengan larutan asam nitrat 5 N

For this reason, honey bees (Figure 111) and bumble bees (Figure 112) are the main pollinators of red clover. Long- tongued bumble bees were introduced into New Zealand for

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media peraga mekanisme katup motor bakar untuk

Zat warna bejana yang dirubah menjadi zat warna bejana larut umumnya adalah zat warna bejana jenis IK yang molekulnya relatif kecil, sehingga afinitas zat

Kondisi pantai di bagian barat Lampung, seperti halnya pantai-pantai yang berhadapan dengan perairan samudera yang terbuka, adalah curam.. Kecuraman pantai di

Pada bulan Januari 2016, dari sebelas sub kelompok dalam Kelompok Bahan Makanan, 7 (tujuh) sub kelompok mengalami kenaikan. indeks dan 2 (dua) sub kelompok

Dengan menggunakan Rasio Profitabilitas (ROI) dapat mengukur kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bersih