Volume I, No.1, Januari 2012 I 4 5
Bung Hatta, Dari Era Kolonial Hingga
Orde Baru: Sebuah Refleksi
Ma liku l Ku s n o1
Abs tra ct: This article is aim ed at rerflectin g Hatta poliotical biography . H is life span can be devided in to three stages. First (1921-1932) w hen H atta studied in N etherlan d; this period gave the greatest experien ce for H atta due to his in v olv em en t in the w orldw ide in teraction an d organ ization s. Second (1932-1945) after he fin ished his education an d cam e back to In do-n esia; H e put ado-n em phasis odo-n his political activities to udo-n ite the struggle v ision an d av oid in ternal fragm entation . Third (1945– 1956), this is the m ost com plicated an d critical period of H atta political career. H e for m an y tim es felt disappoin ted in politic.
Ka ta Ku n ci: H atta, perjuan gan politik, PN I
Biografi politik Moham m ad H atta m em berikan pelajaran dan hikm ah yang berharga bagi kita. H atta lahir pada tan ggal 12 Agustus 190 2 di Bukittin ggi, Sum atera Barat. Di kota kecil yang indah in i Bung H atta – pan ggilan akrab Moham m ad H atta– dibesarkan dalam tradisi keluarga ibun ya. Ayahnya, H. Muham m ad Djam il, m en in ggal dun ia ketika H atta berusia delapan bulan . Dari perkawinan ayahnya itu, H atta m em iliki enam saudara perem puan. Ia adalah anak laki-laki satu-satunya.2
H atta adalah an ak kedua dari en am saudara, kakak perem puannya, Rafi’ah, dilahirkan dua tahun sebelum n ya. Sejak bayi H atta selalu dipanggil Attar oleh lin gkungan keluargan ya, yan g berarti parfum dan juga n am a seoran g pen yair terken al Persia, dan seoran g sufi yan g disegan i, yaitu Fariduddin Al Aththar. Percakapan Min an gkabau m en gubah n am a Attar den gan n am a H atta. Kem udian n am a Hatta diken al sepan jan g hidupn ya.
Ayah H atta, H aji Djam il m erupakan salah satu ulam a terkem uka di Min an g-kabau. Ibu Hatta adalah isteri keem pat H aji Djam il. Dalam tradisi Minang-kabau, tidaklah aneh jika seseorang lelaki m em iliki beberapa orang istri, terutam a apabila ia selalu berpergian sebagai saudagar di an tara pedalam an
1 Malikul Kusno adalah peneliti muda dan mahasiswa Pasca Sarjana Universitas
Padjadjaran Bandung. Aktivis IMM ini merupakan civitas akademika Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Tulisan ini merupakan revisi atas skripsi sarjananya di Fisip UMJ.
dan pantai. Dalam hal ini, H aji Muham m ad Djam il m em adukan dua un sur tradisi Min angkabau, perdagan gan dan kewajiban beragam a. Dalam m asya-rakat adat Min an gkabau, seoran g ulam a atau pem im pin diharapkan m em i-liki kekayaan yang m encukupi sebagai bagian integral dari m isi dakwah Islam .
Sejak kecil H atta dikenal sebagai anak yan g tekun dan disiplin dalam belajar. Ia adalah anak em as dari generasi yang tercerahkan. Kebijakan politik etis (ethics politics) yan g diterapkan pem erin tah kolonial Belan da m em berikan akses kem udahan bagi sebagian kecil
kaum pribum i, term asuk H atta, untuk m em peroleh pendidikan terbaik m odel Barat. Sikap pem erintah kolonial terhadap pendidikan kaum pribum i ini berlan gsun g sejak paruh kedua abad 19, yaitu sebagai kon sekuen si dari kem enangan politik kaum Liberal, terutam a fokus perhatiannya terhadap n egeri jajahan . Un tuk m em ajukan kepen tin gan ekon om i kaum Liberal di negeri jajahan , m aka diperlukan perluasan birokrasi pem erintahan bagi kaum pribum i dalam sistem pem erin tahan kolon ial Belanda. Den gan dem ikian , pem erintah kolonial m em butuhkan sum ber daya m anusia (SDM) yang berasal dari kalangan pribum i.3
Latar belakan g pen didikan H atta san gat dipen garuhi oleh n ilai-n ilai keaga-m aan dan kesukuan yang dianut dari keluarga ayah dan ibu serta keaga-m asya-rakat Min an gkabau pada um um n ya. Dari garis keturun an ayah, H atta m ewariskan tradisi keislam an yan g sangat kuat, dengan m em perioritaskan pada kehidupan akhirat ketim bang kehidupan dunia yang bersifat sem en-tara. Sedangkan dari pihak ibu, yang m em iliki latar belakan g sebagai pen gusaha, H atta m ewariskan ilm u ekon om i (ilm u perdagan gan ) yan g kem udian ditem puhn ya sam pai ke jen jan g perguruan tin ggi. Kedua hal itu sangat m em pen garuhi pilihan-pilihan bagi studi H atta.
Pendidikan H atta pertam a kali ditem puh di Europese Largere Scholl (ELS), setin gkat sekolah dasar, di kota Bukittin ggi, pada tahun 1916. Sejak duduk ELS, H atta serin g m en gun jun gi sebuah surau m ilik pam an n ya, Syekh Arsyad, di Batu H am par, untuk m endalam i ilm u agam a. Syekh Arsyad m em in ta kepada ibu H atta un tuk m en gizin kan an akn ya m en gikuti jejak san g Ayah m endalam i ilm u keagam aan di Mekkah, Arab Saudi, yang kem udian dilanjutkan ke Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.
3 Yudi Latif, Inteligensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad
Volume I, No.1, Januari 2012 I 4 7
Pan dan gan Syekh Arsyad bertolak belakan g den gan kein gin an san g ibu yang m engin gin kan supaya anaknya sekolah di tem pat um um . Dalam pada itu, guru agam a H atta, Syekh Muham m ad J am il J am bek, juga m em punyai pandan gan yang berbeda terhadap pen didikan Barat diban din gkan Syekh Arsyad. Syekh J am il J am bek adalah salah satu tokoh pem baharu pem ikiran Islam (m odern ism e Islam ) di Min an gkabau. Ia m en doron g kaum m odernis m uslim un tuk belajar dari Barat agar m am pu m enangkap sem angat zam an dan m elawan dom in asi Barat, khususn ya dalam pen guasaan ilm u pen ge-tahuan dan teknologi (IPTEK). Visi keagam aan ini m enyebar luas di kalan gan kaum m odernis m uslim Min an gkabau, dan m eran gsang m ereka un tuk m en sekolahkan an akn ya di sekolah um um . Dengan dem ikian, pihak ibu m en dapatkan pem belaan yan g sesuai den gan tun tutan dan aspirasin ya.
Setelah m enam atkan sekolah dasar dengan nilai yang cukup baik, H atta berpeluan g besar untuk bisa lan gsun g m elan jutkan sekolah ke H orger Burger Scholl (H BS), setin gkat SMU, di J akarta. Nam un , usaha in i ditolak oleh ibun ya, yan g m elihat H atta m asih san gat m uda un tuk tin ggal sendiri di J akarta dan terpisah dari keluarga. Nam un dem ikian , ibun ya m em inta H atta un tuk terlebih dahulu belajar di Meer Uirgebreid Lagere School (MULO), setin gkat SMP, di kota Padan g. Menden gar keputusan itu H atta kecewa; “karena say a bingung dan patah hati say a in gin berhen ti sekolah dan
m ulai bekerja”, ken an g H atta dalam m em oarn ya.4 Berkat doron gan dan
sem an gat yan g diberikan pam an Saleh kepada H atta, akhirn ya H atta berse-dia untuk m elanjutkan sekolah di MULO.
Sejak duduk di MULO, H atta tertarik den gan dun ia pergerakan , yan g waktu itu sedan g m arak berm un culan organ isasi kepem udaan yang bersifat kedaerahan pada tahun 1916, seperti J on g J ava, J on g Sum atran en Bon d, J on g Min ahasa, J on g Am bon ese.5 Hatta m asuk dalam organisasi J ong Sum atran en Bond (organisasi kepem udaaan Sum atera) sebagai bendahara. Setelah tam at dari MULO, ia m elan jutkan sekolahn ya ke H an del M iddlebare Scholl (HMS), atau sekolah dagan g, di J akarta. Di kota in ilah, H atta ban yak berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan n asion al, seperti Abdul Muis dan H aji Agus Salim , dll, yan g telah diken aln ya ketika berada di J on g Sum atren an Bon d (J SB).6
4 Mohammad Hatta, Memoir (Jakarta: Penerbit Tintamas, 1982), h. 3
5 Untuk lebih jelas mengenai perkembangan organisasi kepemudaan daerah lihat,
Hans Vans Miert, Een koel hoofd en een warm hart: Nationalisme, Javanisme en Jeughbeweging in Nederland-Indie, 1918-1930 (terjemahan), (Jakarta: Penerbit Hasta Mitra dan Pustaka Utan Kayu, 2003).
Pertem uan dengan beberapa tokoh pergerakan nasional di J akarta, m eng-inspirasikan secara radikal gerak m aju pem ikiran Hatta, khususn ya tentang kem erdekaan Indonesia. Secara khusus perkem bangan pem ikiran politik H atta dapat dibagi ke dalam em pat periode:
P e rio d e P e rta m a ( 19 2 1 - 19 3 2 )
Periode 1921-1932, m erupakan m asa perkuliahan H atta di Belanda. Di n egeri kolon ial itu gravik pem ikiran Hatta m en galam i perkem ban gan yan g sign ifikan , seirin g den gan m eluasn ya pergaulan dan pen galam an di orga-n isasi serta kegiataorga-n politik yaorga-n g laorga-n gsuorga-n g berseorga-n tuhaorga-n deorga-n gaorga-n pem eriorga-ntah pusat Belan da. Terhadap perjuan gan n ya itu H atta berkom en tar; “perjuan g-an kem erdekag-an In don esia pada saat y g-ang sam a m erupakg-an perjug-angg-an bagi dem okrasi dan bagi kem anusiaan un iv ersal”, sedan gkan pen capaian dem okrasi dan kem anusiaan sebagai tujuan utam a dalam perjuangan kem erdekaan, hanyalah sekedar pem in dahan kekuasaan dari pem erintah kolon ial Belan da kepada rakyat Indon esia.7
Di Belan da, H atta m elan jutkan studin ya pada R otterdam H an delsho-geshool, Am sterdam . Bagi pam an n ya, Syekh Arsyad, keputusan Hatta untuk m en eruskan studi ke n egeri Barat, telah m enciptakan kontroversi dan kekecewaan dari pihak keluarga Ayah, “aku dapat m erasakan bahw a pam an ku, Sy ekh Arsy ad, sangat kecew a bahw a aku akan pergi ke Belan
-da”, tulis Hatta.8 Syekh Arsyad m erasakan bahwa kepergian H atta ke
Belan da m erupakan hilan gnya seorang yan g gen uine yang m am pu m eracik gagasan ideal den gan kon sisten si pengabdian secara terus-m enerus. Dua unsur doktrin er yang m enurut Syekh Arsyad san gat m en dukun g prin sip-prinsip sebuah surau. Pertem uan itu pun m en jadi petan da akhir dari perjum paan dirin ya den gan H atta. Ia m en in ggal dun ia sebelum H atta pulang dari Belanda.9
Kepergian Hatta ke Belan da diawali den gan singgah terlebih dahulu ke kam pun g halam an n ya di Min an gkabau, un tuk m em ohon doa restu dari kerabat keluarga serta rekan -rekan n ya di J on g Sum atran en Bon d (J SB). Pada tanggal 3 Agustus 1921, H atta berlayar dari Teluk Bayur – yang pada waktu itu diken al sebagai Em n aheav en, atau pelabuhan Padan g– bersam a den gan tiga oran g pelajar In don esia yang akan m enuju Universitas Leiden.
7 Mavis Rose, Indonesian Free: A Political Biography of Mohammad Hatta (terjemahan),
(Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka, 1999 ), h. 57.
Volume I, No.1, Januari 2012 I 4 9
Perja-lan an laut ditem puh selam a satu bulan , den gan sin ggah di kota Marseilles, Peran cis.
Dalam m em oarn ya, ia m elukiskan ten tan g perasaan pribadinya ketika kapal berlabuh di Marseilles, Perancis, H atta yang m ahir berbahasa Perancis m am pu berkom unikasi secara aktif dan fasih, sehingga sangat m em bantu di an tara sesam a pen um pan g.10
Tahun pertam a di Belan da, H atta m en dapati sikap berbeda yan g diperli-hatkan oleh m asyarakat Belan da. Dalam hal in i, H atta m erasakan adan ya perbedaan yan g san gat m en yen angkan an tara kehidupan di tanah jajahan den gan tem pat tin ggaln ya di Eropa, yaitu m en urunn ya diskrim in asi rasial. Nam un dem ikian, perasaan itu telah m en gun dan g dilem a psikologis dalam perjuan gan n ya un tuk m en gusir pem erin tah kolonial Belanda. Ia dipaksa un tuk berem pati kepada oran g-oran g Eropa, sehin gga m en ghilan gkan rasa perm usuhan dan sin tem en an ti kolon ialism e.
Sikap an ti pen jajahan tidak sepen uhnya hilan g dari in gatan Hatta. H ari kedua tin ggal di Belan da, pem erin tah kolonial kem bali m em praktekkan sikap diskrim inatif dengan m elokalisir tem pat tinggal para m ahasiswa In don esia. Selan jutn ya pem erintah Belanda m em inta Westenenck, m antan asisten residen di Bukittin ggi, untuk m en jadi penasihat bagi para m aha-siswa Indonesia. Bagi H atta tugas itu m erupakan bentuk kontrol pem erintah terhadap aktifitas m ahasiswa, khususnya kaum in telektual yan g m em iliki afiliasi den gan gerakan Sosialism e dan Kom un ism e in tern asion al.
Pada tahun 1921, terjadi pen erim aan secara besar-besaran terhadap pem i-kiran Karl Marx (18 18 -18 8 3), khususnya di Eropa. Kebanyakan m ahasiswa Indon esia yan g belajar di Eropa, m em aham i betul gagasan Marx sebagai pisau an alisa bagi perubahan sosial-politik di tan ah air. Salah satu doktrin Marx yang terkenal dan m em pengaruhi H atta adalah gagasan n ya ten tan g em an sipasi m an usia.11 Dalam perspektif Marx suatu m asyarakat yang adil dan m an usiawi akan berkem ban g m elalui upaya m assa rakyat yan g tertin das secara ekon om i. Dalam kaitan itu, H atta m en uliskan bahwa kekayaan yan g diperoleh m elalui ten aga oran g lain m erupakan pen yebab terbesar dari dekaden si dan dem oralisasi yan g terjadi di ran ah In don esia.12
Un tuk m en dukun g aktifitas pergerakan n ya itu, Hatta bergabun g dalam Perhim pun an In don esia (In dische Vereniging) yang m erupakan
kepan- 10 Mohammad Hatta, Memoir, h. 101 - 104
11 Baca juga Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis Ke
Revisionisme (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka, 2000).
jan gan tan gan dari pelbagai organ isasi kepem udaan daerah. Sekitar bulan Februari 1922, H atta ditun juk un tuk m en duduki jabatan sebagai Ben da-hara.13 Sebagai pen gurus harian , ia dim in ta un tuk m en jadi dewan redaksi jurn al Hin dia Poetra yan g dibiayai oleh Liga Mahasiswa In don esia, suatu federasi m ahasiswa Belanda, Cin a dan In don esia yan g tertarik den gan H in dia-Belanda. Nam un , radikalism e pem ikiran yan g m un cul belakan gan di kelom pok m ahasiswa telah m enem patkan kem erdekaan sebagai tem a sen-tral dari penulisan jurnal. Sehingga nam a jurnal H in dia Poetra digan ti m en jadi In don esia M erdeka, sesuai den gan keingin an m ahasiswa atas asas n on -kooperasi dan tun tutan kem erdekaan sepen uhn ya bagi In donesia.
Sepanjan g tahun 1922 sam pai den gan tahun 1923, H atta dikenal sebagai propagan dis terkem uka Perhim pun an In don esia (PI). Ia m ulai diken al lewat tulisan -tulisan n ya yan g kritis dan tajam . Dengan m en ggun akan keahlian ekonom i yang baru saja diperolehn ya, ia m enggugat kelem ahan teori Barat yan g dikem ukakan oleh ahli ekon om i Belanda, Dr. Boeke. Dalam tesisn ya Boeke m engem ukakan bahwa ada perbedaan m endasar dalam pandangan Tim ur dan Barat. Secara general, petan i Tim ur han ya m em iliki kein gin an yan g sederhan a dan terbatas, berbeda den gan petan i Barat yang m em iliki n aluri kein gin an yan g tidak terbatas. Di sam pin g itu, para petan i Tim ur tidak m em iliki kem am puan organisasi yan g baik un tuk m em ben tuk peru-sahaan dalam skala besar, dan kuran g m em iliki sifat m encari keuntun gan seperti yang dim iliki oleh orang Barat. Tesis ini dengan tegas ditolak H atta, ia m en yatakan bahwa hukum ekon om i yan g berlaku di Barat tidak berlaku bagi rakyat pribum i di H india-Belanda.
Tak puas dengan jurnal In don esia Merdeka, pada tahun 1925 Perhim punan In don esia (PI) m en erbitkan Geden boek, buku perin gatan pertam a lim a belas tahun berdirin ya organisasi m ahasiswa itu. Para pen ulis dalam buku itu m enekankan prinsip-prinsip non-kooperasi dan m en gajukan pen ggan tian n am a kesatuan politik H india Tim ur Belan da den gan In don esia. Dua tulisan H atta, yaitu In don esia di Tengah R evolusi Asia dan In donesia di M asy a-rakat Dun ia den gan tegas m enjelaskan kebangkitan Asia yan g terjadi secara endem ik dengan didorong oleh keberhasilan J epang dan Turki, serta m un -culn ya kekuatan kaum n asion alis di India yan g dipelopori oleh Mahatm a Gan dhi.
13 Desakan untuk bergabung dengan organisasi Perhimpunan Indonesia (PI)
Volume I, No.1, Januari 2012 I 5 1
Merebaknya aksi protes dan perlawan an kaum m ahasiswa Indonesia, m em i-cu sikap reaksioner pem erintah Belan da. Westen en ck ditugasi un tuk m e-ningkatkan pengawasan dan kewaspadaan terhadap pergerakan m aha-siswa, karena tak pelak lagi, m ereka telah m em ban gun jarin gan kerja (netw orkin g) dengan kelom pok-kelom pok sayap kiri in tern asion al. Terhadap aktifitas yan g sem akin luas itu, Hatta kem udian dicalon kan m en jadi ketua um um Perhim pun an In don esia. Den gan sikap terbuka Hatta bersedia m en erim a kedudukan itu.
Dalam pidato pelantikan sebagai ketua um um Perhim punan Indonesia, H atta m en yoroti akar-akar persoalan ekon om i kolon ial yan g diberi judul Struktur Dun ia Ekon om i dan Kon flik Kekuasaan. Dalam hal in i, H atta m erujuk pada filsafat H egel yang dian gkat oleh Marx, bahwa keberadaan konflik m erupakan syarat utam a bagi perkem bangan m asyarakat.14 Dari m aterialism e dialektika Marx, H atta m en guraikan hal ihwal kon flik yan g terjadi dalam m asyarakat In donesia, yaitu karena adanya situasi rasial yang diciptakan kolon ial yan g m erupakan an titesis dari pen guasa dan yang dikuasai, atau an tara ras kulit putih den gan kulit berwarn a. Hatta secara agresif m en yatakan , “tidak akan ada kem erdekaan tanpa kekerasan , karen a kepen tingan pen guasa jajahan ialah bertahan den gan segala m acam cara”. In ti pidato itu in gin m en geacam sistem ekon om i dan kelem bagaan pem erin tah kolon ial, tetapi m en olak saran pem beron takan bersen -jata (revolusi fisik). Menurut H atta, orang In don esia m em iliki kekuatan ekonom i dan kem am puan untuk m engorganisir, hanya jika m ereka m enge-tahui bagaim ana cara m em anfaatkannya.
Sem entara itu, di Eropa telah dibentuk liga in tern asion al yan g bertujuan m elawan kekuatan Im perialism e dan Kolon ialism e serta m em perjuan gkan kem erdekaan bagi setiap n egara jajahan . Bagi kaum n asion alis In don esia yang tinggal di Eropa, hal ini m erupakan kesem patan em as un tuk m em -peroleh legitim asi in tern asion al yan g lebih luas bagi In donesia. Liga itu pertam a kali diadakan oleh Partai Kom un is J erm an di bawah pim pin an Willi Mun zenberg, dan akan m en yelen ggarakan kon gresn ya di Brussel pada tan ggal 10 -15 Februari 1927. H atta m en ghadiri kon gres itu sebagai delegasi kehorm atan dari perhim punan Indonesia.
Dalam gelanggan g politik in tern asional, n am a H atta sem akin luas diken al publik in ternasion al. Un tuk pertam a kali, sebagai presidium , H atta bekerja-sam a den gan J awaharlal Nehru dari India. Pertem uan itu kem udian m en jadi titik balik palin g pen ting dalam hubun gan persahabatan antara H atta
14 Filsafat Hegel yang diangkat oleh Marx mengenai tesis, antitesis dan sintesis yang
den gan Nehru. Seperti haln ya H atta, Nehru m enolak praktek-praktek kom un ism e atau m arxism e-len in ism e yan g terjadi di Un i Soviet. Mereka m enolak kediktatoran partai kom un is Un i Soviet yan g m en ggun akan cara-cara kekerasan untuk m elegitim asikan kekuasaan. Nam un, kedua tokoh itu m en dukun g politik n on -kooperasi dan n on -kekerasan . H atta dan Nehru sepakat untuk m en ghargai pen jajah sebagai m an usia, n am un keduan ya m elihat bahwa praktek kolon ialism e berakibat fatal m erusak pada pen jajah apabila ia m en ggun akan kekuasaan despotik di kolon in ya, ketim ban g m em -biarkan derajat dem okrasi yang diterapkan di n egeri in duknya.15
Sem entara itu, dari H india dilaporkan bahwa seorang nasion alis veteran , Dr. Tjipto Man gun kusum o dikabarkan telah ditan gkap dan diasin gkan ke Ban da Neira, Kepulauan Maluku, oleh pem erin tah Belan da atas tin dakan n ya sebagai m esin pen ggerak Kelom pok Studi Ban dung yan g dipelopori oleh Soekarn o. Hatta m em bela Tjipto, dengan m en uliskan sebuah artikel yan g bernada keras di R echt en Vriheid, sebuah jurn al Liga Melawan Kolonialis-m e, dan sekaligus Kolonialis-m enorehkan apresiasinya terhadap tokoh pergerakan n asion al itu.
Tulisan H atta dim uat pada tan ggal 24 Septem ber 1927, tetapi sehari sebelum itu, setelah kun jun gan n ya ke Switzerland, H atta m endapati dua orang polisi Belanda m endatangi kediam annya dengan m em bawa surat perin tah pen a-han an . H atta ditaa-han bersam a tiga oran g rekan n ya dari PI, yaitu Nazir Pam un tjak, Ali Sastroam idjojo dan Abdul Madjid. Sedan gkan Subardjo, Gatot Tarum ihardjo, dan Arn od Mon on utu lolos dari pen an gkapan karena sedang berada di luar Belanda. H atta bersam a ketiga rekannya dituduh telah m erencanakan tindakan subversif atau pen ggulin gan kekuasaan den gan m enggunakan cara-cara kekerasan terhadap pem erintah H india-Belanda.
Pada tan ggal 8 Maret 1928 H atta diadili oleh Mahkam ah, di Den H aag. Dalam prosesi persidangan yang dilakukan selam a berbulan -bulan itu, H atta didam pingi oleh dua oran g pengacara yan g juga an ggota parlem en dari Fraksi Partai Buruh Sosialis, Dr. J .E.W Duys dan Mr. Mobach. Dalam pidato pem belann ya yan g berjudul In don esia M erdeka, Hatta m eyan gkal sem ua tuduhan yan g ditujukan kepada dirin ya. Setelah m elalu perdebatan di pen gadilan , akhirn ya H atta dibebaskan dari segala tuduhan pada tan ggal 22 Maret 1928 .16
15 Mavis Rose, Indonesian Free: A Political Biography of Mohammad Hatta, h. 60-61 . 16 Pidato pembelaan Hatta itu kemudian menjadi bacaan wajib bagi
dilaku-Volume I, No.1, Januari 2012 I 5 3
Setelah pem bebasan em pat oran g m ahasiswa, pem erin tah kolon ial Belan da sem akin bertindak represif terhadap pergerakan m ahasiswa. Pem bela hu-kum m ereka, Duys, m engingatkan kepada em pat orang m ahasiswa itu, bahwa nasib serupa akan terulang jika m ereka terus m enerus berpartisipasi dalam aktifitas pergerakan sesam painya di H india-Belanda. Mereka akan ditangkap dan diasin gkan ke tem pat pen gasin gan palin g gan as di Boven Digul, Irian Barat.
Men jelan g akhir tahun 1929, H atta m en yatakan kom itm en n ya kepada PI bahwa ia tidak bersedia lagi dicalon kan sebagai ketua um um PI. Kem udian sebagai penggan tin ya ia m en un juk seoran g m ahasiswa Fakultas H ukum yan g berasal dari Am bon. Aktifitas H atta kem udian lebih ban yak difokuskan bersam a Sutan Sjahrir dengan m elibatkan diri pada pedagogi sosial. Mereka m en gkritik patologi sosial yan g m en ghim pit sistem kepem im pin an aris-tokrasi J awa yan g m en ghilan gkan asas egaliter. Gagasan itu diterim a oleh beberapa kelom pok dalam PNI yan g kecewa terhadap tindakan sepihak Sartono untuk m em bubarkan PNI setelah pen an gkapan Soekarno. Mereka kem udian m em ben tuk Golon gan Merdeka yan g didukun g oleh H atta dan Sjahrir.
Pada tan ggal 9 Novem ber 1931 pen gurus PI m em utuskan bahwa H atta dan Sjahrir dikeluarkan dari Perhim punan In don esia atas tuduhan telah m em e-cah-belah gerakan n asionalis den gan m en dukun g Golon gan Merdeka. Da-lam pan dan gan H atta, keputusan itu m en gesan kan adan ya in filtrasi politik yan g dilakukan kaum kom un is den gan jalan m enem patkan PI di bawah subordin asi kaum kom un is. H atta m en yesalkan persekutuan yan g dilakukan pen gurus PI den gan Moskow.
Kecewa den gan keputusan itu, H atta m elanjutkan kegiatan politiknya de-n gade-n bergabude-n g bersam a Pede-n didikade-n Nasiode-n al Ide-n dode-n esia (PNI) yade-n g didiri-kan pada tan ggal 27 Desem ber 1931 di Yogyakarta. Dalam hal in i, H atta m engharapkan supaya Pendidikan Nasional In donesia m enjadi kelom pok filsafat politik yang terorganisir.17 Un tuk m em bedakan kelom pok tersebut
den gan PNI Soekarn o yan g dilaran g oleh pem erin tah kolon ial, Pendidikan Nasion al In don esia m en gubah n am an ya den gan Pen didikan Nasion al In do-n esia (PNI) Baru.
kan oleh para anggota Perhimpunan Indonesia (PI). Untuk lebih jelasnya lihat Mavis Rose, Indonesian Free: A Political Biography of Mohammad Hatta, h. 73.
17 Untuk mengetahui secara mendetail aktifitas pergerakan politik Bung Hatta di
Pada bulan J uli 1932, H atta m en gikuti ujian akhir yan g m enentukan bagi kelulusan studinya. Ia kem udian dinyatakan lulus sebagai sarjan a ekon om i den gan gelar doctoran dus setelah m enem puh perkuliahan selam a sebelas tahun . Tan ggal 20 J uli 1932, H atta kem bali ke In don esia den gan m en ggu-n akaggu-n kereta api dari Rotterdam m eggu-nuju Paris kem udiaggu-n ke Geggu-n oa, di m aggu-n a ia kem udian naik kapal J erm an, Saarbrucken, m en uju Sin gapura. Setiban ya di pelabuhan Tan jung Priok, ia disam but dengan han gat oleh para keluaraga dan tem an -tem an serta sebagian besar an ggota PNI Baru den gan an tusiasm e yan g tin ggi.
Pe rio d e Ke d u a ( 19 3 2 - 19 4 5 )
Setelah m eyelesaikan gelar kesarjanaan ekon om i di Belan da, H atta kem bali m eningkatkan aktifitas politikn ya di tanah air bersam a oraganisasi PNI Baru. Situasi politik di dalam n egeri m en jelan g tahun 1930 -an sedan g m e-m an as, e-m en yusul in siden pen an gkapan tokoh n asionalis tern ae-m a, Soekarn o. Pem erin tah kolon ial Belanda kem udian m elakukan pen yen soran dan pen ga-wasan secara ketat terhadap seluruh aktifitas pergerakan nasional. Seperti dikatakan Duys sebelum nya, bahwa pem erintah kolonial tidak akan segan-segan un tuk m en in dak kaum intelektual yan g m elakukan perlawan an dan m en gasin gkan n ya ke tem pat pem buan gan paling kejam di Boven Digul, Irian Barat.
Un tuk sem en tara waktu, H atta m em perioritaskan kegiatan politiknya de-ngan m elakukan konsolidasi politik untuk m en yatukan visi perjuan gan serta m enghin dari fragm entasi intern al yan g lebih luas akibat tuduhan -tuduhan yan g dilan carkan kelom pok-kelom pok tertentu kepada dirinya. Setelah dua m in ggu berada di J akarta, H atta berkesem patan m elakukan pertem uan per-tam a den gan Soekarno. Ia didam pin gi H aji Usm an yang bersedia m eng-an tarkeng-ann ya ke Beng-an dung. Sebelum itu, H aji Usm eng-an m en yareng-an keng-an kepada H atta, “m eskipun an da tergolon g dalam partai y ang berbeda, san gat baik jika an da m engen aln y a”. Dalam bayan gan H atta pertem uan pertam a de-n gade-n Soekarde-n o akade-n terasa tegade-n g, m ede-n gide-n gat kekecewaade-n yade-ng m ude-n cul di an tara keduan ya, bahkan sebelum peristiwa tatap m uka terjadi.18
Tepat pukul sem bilan m alam , Soekarno m enem ui H atta di sebuah hotel di Ban dun g. Dalam pertem uan itu tidak sedikitpun persoalan politik yan g
18 Sebelum bertemu muka dengan Soekarno, Hatta seringkali melakukan perdebatan
Volume I, No.1, Januari 2012 I 5 5
dibahas. H atta m erasakan pertem uan itu sam a sekali tidak berguna. Mun g-kin karen a hadirn ya H aji Usm an , sehingga Soekarno tidak bersedia untuk m em perbin can gkan secara luas persoalan Partai In don esia yan g dipim pin -n ya de-n ga-n PNI Baru.
Pada bulan Oktober 1932, H atta m en yem patkan waktu un tuk kem bali ke Min an gkabau, di ten gah kegalauan politik yang sem akin tidak m enentu. H atta m erasakan suatu kebahagiaan dapat bertem u kerabat keluarga dan tem an -tem an seperjuan gan n ya di Minan gkabau. Kun jun gan H atta m en da-pat pengawasan cukup ketat dari kepolisian Belanda yang m encurigai H atta telah m em bangun kekuatan politik untuk m elum puhkan penjajah. Akibat-nya, suatu tindakan konspiratif dilakukan untuk m encegah keberadaan dirin ya. Ketika berken daraan ke luar kota Padan g, di m an a m obil yan g di-tum pan gi Hatta dipaksa ke luar jalan raya oleh sebuah kendaraan tak dikenal. H atta m engalam i kecelakaan, dengan luka kecil dan keseleo di tan gan . Setelah kejadian itu, H atta dipan ggil oleh asisten residen untuk segera m eninggalkan wilayah Sum atera, karen a ia telah din yatakan sebagai oran g terlaran g di kawasan tersebut.
Perintah larangan itu m engingatkan H atta supaya bertindak lebih hati-hati. Di sam pin g itu, kelom pok PNI Baru m en galam i tekan an yan g sam a dari pem erin tah. Pada bulan J an uari 1933, pen gurus PNI Baru caban g Surabaya ditangkap setelah m engeluarkan pern yataan politik yang berisikan: “R aky at In don esia harus m em iliki sem an gat rev olusion er – dari perbudakan m e-n uju kem erdekaae-n”. Nam ue-n dem ikiae-n, keberadaae-n orgae-nisasi tetap eksis dan berkem ban g. En am bulan setelah H atta kem bali dari Belanda, kedua belas caban gn ya telah berkem ban g m en jadi 66. Sebagaim an a dikem ukakan I Wangsa Widjaja, seorang anggota PNI Baru yan g kem udian m en jadi sekre-taris pribadi Bun g H atta: “H atta dan Sjahrir adalah pem im pin y ang dina-m is, kedatangan n y a dina-m edina-m buat pen gkaderan organ isasi dina-m enjadi dina-m en ing-kat”.19
Sekitar bulan J uli hin gga Agustus 1933, H atta m en gkon sen trasikan aktifitas-n ya di J awa Teaktifitas-n gah yaaktifitas-n g waktu itu m eaktifitas-n jadi pusat radikalism e, di m aaktifitas-n a PKI telah m em ban gun kekuatan sign ifikan di bawah kepem im pinan Sem aun dan Darsono. H atta m engam ati in tervensi kepolisian yang sem akin ketat, sehing-ga m en yulitkann ya un tuk pidato di forum terbuka. Akhirnya, aktifitas per-gerakan dialihkan ke tem pat-tem pat kediam an pribadi. Di Sem aran g, H atta m engadakan kontak dengan serikat pekerja kereta api, yan g waktu itu m en-dapat tekan an dari pem erin tah kolon ial. Pada tan ggal 27 J uli dikeluarkan
un dan g-un dan g pelaran gan kepada pegawai n egeri un tuk berafiliasi den gan kedua partai terkem uka, PNI Baru dan Pertin do. Pelan ggaran terhadap peraturan tersebut berakibat pem ecatan.
Sem asa H atta di Sem arang tersiar kabar bahwa Soekarn o telah ditan gkap lagi. Berkaitan dengan itu, H atta berusaha m en en an gkan kepanikan yan g m elanda kaum nasion alis. Ia m engingatkan kepada rakyat Indon esia bahwa m ereka bukanlah satu-satunya rakyat yan g m en derita akibat kekejam an rezim penindas. H atta m em berikan con toh Mustapha Kem al Pasha, yan g m eskipun dicap sebagai pem berontak oleh pem erin tah, tetapi kem udian disan jun g sebagai seoran g pahlawan n asion al.
Dengan diasingkannya Soekarno ke pulau Flores, m aka tonggak pergerakan nasional diserahkan kepada H atta. Sehubungan dengan pelarangan PNI Baru oleh pem erintah, H atta m enolak saran rekan-rekannya supaya PNI Baru dibubarkan saja dan pergerakan dilakukan secara inform al, supaya m em bingungkan pem erintah. Tak pelak lagi, konsep itu m engingatkan pem bubaran PNI lam a yan g pern ah dikritiknya dengan keras. Hatta m ulai m em perkuat hubungannya dengan kelom pok PNI lam a, den gan m en yelen g-garakan diskusi pada bulan Desem ber bersam a Sartono, untuk m enjam in kerjasam a yang lebih erat antara Partindo dengan PNI Baru.
Nam un, kegiatan itu m endapatkan sorotan tajam dari pem erintah Belanda. J aksa Agung m enyarankan kepada De J onge untuk m elakukan pem bersihan terhadap gerakan n asionalis. Dalam laporann ya kepada Gubernur J en deral pada bulan J an uari 1934, supaya PNI Baru dibubarkan dan pem im pin n ya ditangkap apabila m ereka tetap bersikukuh m elakukan kegiatan politik. Pada tan ggal 25 Februari 1934, han ya beberapa m in ggu setelah Soekarn o dibuan g ke Flores, un tuk kedua kalin ya H atta dijem put pihak kepolisian.
H an ya en am bulan berada di pen jara Glodok, H atta bersam a Sjahrir di asingkan ke Boven Digul, Irian Barat pada tan ggal 16 Novem ber 1934. H atta din yatakan bersalah setelah selam a berada di Belanda sam pai dengan tahun 1931 berafiliasi dengan kelom pok ekstrim is sayap kiri internasional yang berpusat di Berlin dan m em im pin pergerakan revolusion er un tuk m enja-tuhkan pem erin tahan yang legitim .
Volume I, No.1, Januari 2012 I 5 7
Sebelum nya, ia ditawari kontrak un tuk m en ulis di harian um um Pem an -dan gan .
Pada bulan Maret 1935, H atta m en ulis surat kepada kakak iparnya, suam i Rafiah, bahwa ia berkein gin an un tuk m em ban gun sebuah rum ah yan g lebih baik, yan g bisa bertahan sekitar sepuluh tahun . Pem erin tah kolon ial m en ye-diakan sen g, dan kaum buan gan dim in ta m em oton g kayu pepohon an di hutan sekitarn ya. Tan pa disadari surat itu dikirim kan ke surat kabar Indo-n esia daIndo-n BelaIndo-nda, sehiIndo-n gga m eIndo-n im bulkaIndo-n reaksi keras, baik di H iIndo-ndia m aupun di Belanda sendiri. Dalam keteran gan n ya di Tw eede Kam er, Perda-n a MePerda-n teri ColijPerda-n m ePerda-n ekaPerda-n kaPerda-n bahwa pem buaPerda-n gaPerda-n H atta ke BovePerda-n Digul tidak diperuntukkan un tuk m enghan curkan eksisten sin ya, m elain kan bertu-juan m engasingkan dirinya dari m asyarakat luas.
Un tuk m em ben dun g aksi protes yan g m erebak, pem erintah Belanda pada bulan Novem ber 1935 m em erintahkan supaya H atta dan Sjahrir dipindah-kan ke Banda Neira, Maluku. H atta m en yam but keputusan itu dengan suasan a haru dan sen an g. Sebagai kon sesi pem in dahan itu, pem erin tah kolon ial m em in ta H atta dan Sjahrir un tuk bersedia m en andatan gan i surat pernyataan bahwa m ereka berdua tidak akan bergabung kem bali dalam kan cah politik. H atta dan Sjahrir m enyetujui hal tersebut dengan bersedia un tuk m undur dari kegiatan politik. Suatu keputusan yan g berat diterim a oleh H atta.
Sem en tara itu, dalam ranah politik in tern asion al, ban gsa-bangsa Eropa dilanda krisis politik yan g tajam , yan g m en yeretn ya ke dalam Peperan gan pada bulan Septem ber 1939. H al in i m em un gkin kan tum buhn ya rasa persa-tuan di kalan gan kaum n asion alis Indonesia, m ereka m erasakan sem akin dekat pergolakan in tern asion al yan g terjadi dalam volum e yan g besar. Pada bulan Mei 1939, diben tuk Fron t Nasion alis Baru, yaitu Gabun gan Politik In don esia (GAPI) yang m en gan ut slogan “In don esia Berparlem en ” sebagai-m an a dibayan gkan dalasebagai-m jan ji Novesebagai-m ber 1918 . Pada bulan Desesebagai-m ber 1939 GAPI m en yelen ggarakan kon gres rakyat In donesia. Dalam pada itu, dilaku-kan perubahan kecil atas bendera yaitu den gan m en ghilan gdilaku-kan gam bar kepala banteng dan m en yisakan dua garis horisontal, berwarn a m erah dan putih, yan g kem udian m enjadi bendera resm i ban gsa In don esia.
Pasifik.20 Gubern ur J en deral m en geluarkan pernyataan resm i bahwa H india berada dalam situasi peran g. Ban da Neira dim obilisasi ke dalam pertahan an sipil, dan secara spontan H atta dan Sjahrir turut serta di dalam nya.
Pada tan ggal 1 J an uari 1942, sebelum J epan g berhasil m en gam bilalih keku-asaan H india, H atta dan Sjahrir dipindahkan ke pulau J awa atas desakan pem erin tah kolon ial Belan da. Setiban ya di Surabaya, H atta dan Sjahrir lan gsun g diboyon g ke Sukabum i, J awa Barat un tuk ditem patkan di Sekolah Kepolisian. Mereka diperbolehkan secara bebas untuk bergerak di wilayah Sukabum i, tetapi dilarang berpergian jauh dari tem pat itu.
Dom inasi m iliter J epang pada episode awal perang Pasifik m enyulitkan pasukan Sekutu, sehin gga m ereka harus m en gakui kekalahan terlebih dahu-lu dalam peran g Dun ia II. Seirin g den gan itu, pada tan ggal 9 Maret 1942 pem erintah Belanda m enyerah kepada tentara J epang, setelah dua m inggu pen daratan n ya di pulau J awa. Kerun tuhan Belan da begitu cepat, dan tan pa disadari oleh rakyat Indonesia bahwa kekuasaan m ereka kini telah berakhir, tan pa suatu perlawan an hebat seperti yang diprediksikan bayak pihak. Situ-asi in i m en an dai berakhirn ya fase pen gSitu-asin gan bagi Soekarn o H atta dan Sjahrir.
Kem enangan J epang terhadap pem erin tah Hin dia-Belanda tidak ban yak m en gubah sikap dan pan dan gan H atta terhadap kem erdekaan In don esia. Menurut H atta, tidak ada yan g patut digem birakan dari kem enangan J epang itu, ban gsa Indon esia harus lebih realistis m en erim a ken yataan bahwa In do-n esia akado-n m edo-n galam i kem bali kekuasaado-n asido-n g di bawah payudo-n g kuasa J epan g. Nam un dem ikian, sikap J epan g yan g berusaha untuk m en gako-m odasi kegako-m erdekaan bagi Indonesia, gako-m endapatkan perhatian serius dari Soekarn o dan H atta un tuk bekerjasam a m ewujudkan kem erdekaan In do-n esia dedo-n gado-n pem erido-ntah J epado-n g.
Sepanjan g tahun 1942 sam pai den gan tahun 1945, J epan g berhasil m em -ban gun hubun gan baik den gan para elit politik In don esia, khususn ya Soekarn o dan H atta. Nam un , badai dan krisis yang terjadi sepan jang tahun 1945, dengan kem balinya kekuatan Sekutu di kawasan Pasifik, telah m ele-m ahkan posisi J epan g. Soekarn o dan H atta telah dicap sebagai keloele-m pok Fasis dan penjahat perang oleh pihak Sekutu, akibat sikap kooperatif yang diperlihatkan n ya kepada J epan g. Berkaitan den gan itu, Soekarn o dan H atta m em in ta J epan g untuk m en in gkatkan latihan m iliter bersam a yan g telah
20 Pada tahun 1932 Bung Hatta membuat suatu tulisan yang meramalkan akan
Volume I, No.1, Januari 2012 I 5 9
disetujui dengan pem bentukan tentara gabungan Pem bela Tanah Air (PETA), un tuk m em ben dun g kem balin ya kekuasaan Belan da di In don esia, tetapi harapan itu sia-sia.
Pada tan ggal 14 Agustus 1945, pesawat-pesawat tem pur Am erika Serikat m enjatuhkan bom atom di H iroshim a dan Nagasaki, yang m enyebabkan 2 juta oran g sipil terbun uh. Dua hari kem udian, setelah peristiwa H iroshim a dan Nagasaki, J epang takluk kepada ten tara Sekutu. Sem en tara itu di dalam n egeri, berita kekalahan J epan g diketahui oleh sekolom pok pem uda yan g dikom an dan i oleh Sjahrir. Dalam pan dan gan kaum m uda pen aklukan J e-pang oleh Sekutu m erupakan m om entum besar bagi rakyat Indonesia untuk m em proklam irkan kem erdekaan.
Usul itu ditolak Soekarno dan H atta yan g telah terlan jur berkom prom i de-n gade-n J epade-n g. Dalam pade-n dade-n gade-n H atta, kem erdekaade-n Ide-n dode-n esia hade-n ya bisa dilakukan den gan m ekan ism e yan g telah disetujui m elalui Pan itia Persiapan Kem erdekaan Indonesia (PPKI). Sikap Soekarn o dan H atta m en yulutkan kem arahan di kalan gan pem uda. Mereka berencan a m en culik Soekarn o dan H atta serta m em aksan ya un tuk m en yatakan kem erdekaan bagi Indonesia. Dalam peristiwa Ren gas Den gklok yan g pen uh den gan perdebatan , Soekarn o dan H atta akhirn ya bersedia m en an datan gi n askah proklam asi yan g akan dibacakan pada hari J um ’at tan ggal 17 Agustus 1945. Selan jutn ya Soekarn o dan H atta secara bulat terpilih m en jadi presiden dan wakil presiden den gan usul tegas bahwa jabatan itu diperuntukkan secara khusus bagi Dwi-tun ggal.21
Pe rio d e Ke tiga ( 19 4 5 - 19 5 6 )
Periode 1945– 1956, m erupakan m asa sulit dan kritis dalam sejarah karir politik H atta. Pasca proklam asi kem erdekaan, In donesia segera m em asuki m asa suram dalam periode perang dan revolusi. Sebagaim ana dikatakan oleh sejarawan Taufik Abdullah, dalam periode perjuangan fisik, ada peris-tiwa yan g dipen uhi oleh jan ji-jan ji, tetapi ban yak pula yan g m en ggoreskan kekecewaan m endalam dalam kesadaran kolektif bangsa. Dari penaklukan kem bali kolon ialism e Belan da atas beberapa wilayah Indonesia, revolusi ke revolusi, sam pai kepada coup d’ etat terhadap pem erintahan yang sah pada m asa awal kem erdekaan.22
Dalam kedudukannya sebagai Wakil Presiden H atta m em iliki fungsi sentral, bersam a dengan Presiden, untuk m em buat rum usan dasar tentan g konsep
21 Mavis Rose, Indonesian Free: A Political Biography of Mohammad Hatta, h. 209.
22 Lihat Taufik Abdullah, “Upacara, Pengalaman dan Identitas Bangsa,” Majalah
ken egaraan In don esia. Dalam hal in i, beberapa keputusan pen tin g dikeluar-kan dalam rangka m em perkuat posisi pem erintah di hadapan publik inter-n asiointer-n al.23 H arus diakui bahwa dalam sejarah baru yan g kritis itu, euforia kem erdekaan telah m en jadi im petus bagi seluruh tradisi politik untuk berjuang m engaktualisasikan agenda politik m ereka.
Situasi yan g terakhir in i m en yulutkan terjadin ya pertarun gan kekuasaan secara in ternal dan pertarungan ideologis yan g tercerm in dengan begitu singkatnya usia kabinet-kabinet pada m asa awal kem erdekaan. Sejak 19 Agustus 1945 sam pai dengan 20 Desem ber 1949, negara In donesia m en g-alam i jatuh ban gun sem bilan kabin et yan g m asing-m asin g usian ya tidak lebih dari dua tahun .24 Nam un dem ikian , m eski terjadi fragm entasi, kelom -pok-kelom pok blok historis m asih bertahan selam a beberapa waktu karen a adanya kehendak bersam a untuk m elawan agresi dari luar.
Melalui peperan gan dan n egosisasi yan g alot, selam a m asa revolusi kem er-dekaan , In don esia akhirn ya m encapai kedaulatannya secara form al dan legal. Kon feren si Meja Bun dar (KMB) di Den H aag, yan g diselenggarakan sejak tanggal 23 Agustus sam pai 2 Novem ber 1949, m engakui tanpa syarat dan sepen uhn ya, sebelum tan ggal 30 Desem ber 1949, kedaulatan Belan da atas sem ua wilayah jajahan H india-Belanda, terkecuali Irian Barat, kepada n egara Republik In don esia Serikat (RIS).25
Selan jutn ya Soekarn o diangkat sebagai Presiden RIS dan Moham m ad H atta sebagai Wakil Presiden m eran gkap Perdan a Men teri (1949-1950 ) RIS. Re-publik Indonesia Serikat terdiri dari 15 n egara bagian ben tukan Belan da, m erujuk pada kesepakatan KMB bahwa in vestasi-in vestasi Belan da yan g berada di In don esia akan dilin dun gi dan pem erintahan baru berkewajiban
23 Keputusan politik yang diratifikasi Wakil Presiden Mohammad Hatta bertujuan
untuk memperkuat sistem pemerintahan yang demokrasi. Beberapa keputusan politik itu, antara lain: Maklumat X tanggal 6 Oktober 1945 tentang pembentukan pengalihan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), Maklumat 3 November 1945 tentang pendirian partai-partai politik. Dua hari sebelumnya, pada tanggal November 1945, Hatta juga mengeluarkan Maklumat yang mengkritik sikap Belanda terhadap Republik Indonesia.
24 Sembilan kabinet itu ialah Kabinet (Presidensial) Soekarno (9 Agustus-4
Novem-ber 1945), Kabinet Sjahrir (Parlementer) Pertama (14 NovemNovem-ber 1945-2 Maret 1946), Kabinet Sjahrir (Parlementer) Kedua (2 Maret 1946-2 Oktober 1946), Kabinet Sjahrir (Parlementer) Ketiga (2 Oktober 1946-27 Juni 1947), Kabinet Amir Syarifuddin (Parle-menter, 3 Juli 1947-11 November 1947), dikutip dalam Yudi Latif, Inteligensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad XX, h.352.
25 Yudi Latif, Inteligensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad
Volume I, No.1, Januari 2012 I 6 1
untuk m elunasi hutang-hutang yan g diwariskan Belanda pasca pendudukan J epan g yan g bernilai jutaan dollar.
Nam un n egara In don esia serikat, hasil kesepakatan KMB, tidaklah bertahan lam a. Meskipun n egara federal itu telah lam a diim pikan oleh beberapa tokoh In don esia seperti H atta dan Sjahrir, fakta bahwa pem ben tukan RIS dipan -dan g sebagai dipaksakan oleh Belan da -dan sebagai hasil pen in ggalan kolo-nialism e, telah m enggiring opini ke arah negara kesatuan. Di lim a belas n egara ben tukan Belan da, m un cul tuntutan um um untuk m eleburkan diri ke dalam Republik In donesia. Pada tan ggal 3 April 1950 , Moham m ad Natsir, Ketua Fraksi Masyum i di parlem en , m en gajukan m osi in tegrasi kepada parlem en, yan g m en un tut agar sem ua n egara bagian bersatu ke dalam negara kesatuan. Mosi ini m endapatkan respon positif dari parlem en. Pada tan ggal 17 Agustus 1950 , RIS akhirn ya digan tikan oleh Republik In don esia den gan kon stitusi UUDS 1950 .
Perubahan atas rum usan dasar konstitusi m enjadi titik balik dalam persete-ruan H atta den gan Soekarn o. Sejak tahun 1951 sam pai den gan 1956, dalam m asa jabatan sebagai Wakil Presiden , beberapa kali H atta terlihat v is a v is den gan Soekarn o. Di dalam parlem en , kekuatan partai politik sem akin besar m em berikan dukungannya terhadap pem ikiran revolusion er Soekarno. Dengan dem ikian, telah m em persem pit ruang gerak H atta dalam pem erin-tahan , khususn ya gagasann ya ten tan g pem ban gun an n asion al. Selam a bebe-rapa tahun berikutn ya, Hatta m en ghabiskan waktu untuk m elakukan perja-lan an ke luar n egeri, den gan m em prom osikan kebijakan politik luar n egeri bebas aktif.
Sejak Kon feren si Meja Bun dar, H atta berusaha m enjalankan kebijakan politik luar negeri yan g independen . Ketika m en ulis kebijakan luar negeri In don esia satu tahun kem udian , ia m en yesalkan m en talitas blok dalam hubun gan in tern asion al, den gan m en yatakan bahwa In don esia tidak siap un tuk ikut dalam blok ketiga yan g dirancang untuk m enjadi kekuatan penentan g terhadap kedua blok raksasa. Dalam m en olak blok ketiga sebagai suatu strategi kebijakan luar n egeri, H atta bukan saja m enysisihkan diri dari Sjahrir, tetapi juga dari Nehru. Sudut pandang ini juga akan m em isahkan dirin ya dari Soekarn o, tepatn ya setelah pen yelenggaraan Kon feren si Asia-Afrika pada tahun 1955 di Ban dun g. Men urut H atta, sistem blok telah m elanggar sem angat dasar Persatuan Bangsa-Bangsa.
digagas oleh Soekarn o, ia harus m en em patkan diri sebagai oposisi. Dalam hal in i, H atta m em perin gatkan Natsir m en gen ai kein gin an n ya un tuk m en g-un durkan diri sebagai Wakil Presiden . Pada tan ggal 1 Desem ber 1956 secara resm i H atta m en gum um kan pen gun duran dirin ya sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.
Pe rio d e Ke e m p a t ( 19 5 6 - 19 8 0 )
Pengunduran diri H atta sebagai Wakil Presiden, tak pelak lagi m enim bulkan gejolak pen en tan gan di beberapa daerah, khususn ya Sum atera Barat, yan g selam a itu m enjadi basis kekuatan politik H atta. Kalan gan yan g kecewa den gan sikap pem erin tah Pusat (J akarta), m en gorgan isasi diri untuk m ela-kukan perlawan an . Pada tan ggal 2 Maret 1956, pan glim a wilayah Sulawesi Selatan , Sum ual, m em proklam asikan “Piagam Perjuan gan Sem esta” atau Perm esta. Deklarasi itu m en egaskan keinginannya, bahwa pem erintahan (kabin et) baru yan g diusulkan Presiden jika in gin m en dapatkan dukun gan yang besar, m ereka harus dipim pin oleh Dwitun ggal Soekarn o-H atta.
Dalam kun jun gann ya ke beberapa daerah, H atta m en yesalkan m un culn ya reaksi yan g berlebihan sehubun gan den gan pen gun duran dirinya sebagai Wakil Presiden . H atta m en egaskan , bahwa kein gin an n ya itu bukan lah un tuk m enghasut tim bulnya pem beron takan, m elainkan ingin m encegahnya. Orang-orang Sum atera, dem ikian H atta, berjanji untuk tetap m enjadi bagian in tegral dari In don esia. Nam un dem ikian, m ereka m enolak sebuah sistem pem erintahan yang dipraktekkan di J akarta. Sehubungan dengan itu, H atta m en un tut pem erintah un tuk secepatnya m elakukan perbaikan dan pem -ban gun an di daerah-daerah yan g selam a in i diabaikan .
Di sisi lain, un tuk m encegah pengaruh besar posisi H atta dalam tubuh partai politik, Soekarn o m em asukkan Partai Kom un ism e In don esia (PKI) dalam kabinet baru yan g diben tukn ya. H al in i segera m en im bulkan kekecewaan dari partai Masyum i sebagai wakil kelom pok Islam . Dalam perspektif H atta, PKI pada dasarnya m erupakan bagian dari sebuah gerakan internasional (kom un ism e in tern asion al atau kom in tern ). Men urut H atta, gagasan Soe-karn o un tuk m em adukan partai-partai yan g berbasiskan n asion alism e, keagam aan dan luar negeri dalam satu kabinet m erupakan upaya m encam -purkan air dalam m inyak.
Volume I, No.1, Januari 2012 I 6 3
program “Nasakom ”, terutam a Dewan J enderal yang dicurigai m enyusun agen da besar (hidden agen da) untuk m en ggulin gkan Soekarno, term asuk A.H Nasution dan Ahm ad Yan i.
Nam un , tidak lam a setelah peristiwa Gestapu, m un cul gelom ban g besar dem on trasi m ahasiswa yan g m en un tut pem bubaran PKI. Dalam hal in i, Soekarn o dim in ta untuk bertan ggun g jawab terhadap pen culikan dan pem -bun uhan Dewan J enderal. Nam un , seberapa jauh Soekarn o terlibat Gestapu, sam pai den gan saat in i kabar itu tidak pern ah jelas. Di lain pihak, H atta m eyayangkan sikap reaksioner kaum Islam is setelah peristiwa Gestapu. H atta tidak bisa m eyem bun yikan kekecewaan dan aksi balas den dam yan g dilakukan um at Islam terhadap PKI. Sepan jan g perjalan an n ya ke pulau J awa, ia m eyaksikan den gan sen diri sun gai-sun gai yan g telah dilum uri oleh darah yan g m en yen gat dari tubuh an ggota PKI. Peristiwa Gestapu berakhir den gan kerun tuhan rezim Soekarn o pada tahun 1967, yan g kem udian m e-m unculkan nae-m a Suharto sebagai pee-m ie-m pin politik In don esia.
Kehadiran Soeharto dan Orde Baru diharapkan m em bawa angin segar bagi tegaknya dem okrasi di In donesia. Dalam pada itu, H atta m enaruhkan harapan besar bahwa dirin ya dan kelom pokn ya dapat m engam bil bagian terhadap dem okratisasi dan pem ban gunan di In don esia. Nam un , pem e-rintahan m iliter Soeharto tidak sedikitpun m em berikan ruan g politik kepada H atta dan kelom pokn ya. Dari catatan yan g dilaporkan oleh Deliar Noer, H atta kecewa dengan pem erintahan Orde Baru Seharto yang din ilainya sangat fasis, apalagi setelah adanya pem beritahuan bahwa Deliar Noer, seoran g m urid H atta yan g tekun dan disiplin , tidak boleh m en gajar lagi pada tahun 1973.26
Sepanjan g Orde Baru, H atta terpaksa berdiam diri m elihat keadaan yang sem akin m em buruk, sam bil berharap keadaan dapat berubah secepatn ya. Ia tidak bisa m en en tan g Presiden Soeharto secara terbuka, apalagi dengan m en ggun akan kekerasan yan g diyakin i akan m en im bulkan perang saudara dan disintegrasi ban gsa. Dalam usian ya yan g sem akin sen ja, H atta m engisi hari-harinya bersam a keluarga dan sesekali m em berikan pidato dalam diskusi dan sem in ar. Akibat kondisinya yan g sem akin m em buruk, H atta seringkali m enderita sakit parah, sam pai tiba waktun ya ia harus m en in g-galkan keluarga, tem an , rakyat dan n egaran ya pada tan ggal 14 Maret 198 0 . H atta wafat dalam usia 78 tahun, terhadap jasa-jasanya itu, bangsa Indo-n esia m eIndo-n geIndo-naIndo-n gIndo-n ya sebagai tokoh yaIndo-n g m em iliki iIndo-n tegritas daIndo-n m oral yaIndo-n g
26 Tentang pendapat pribadi Deliar Noer, lihat Deliar Noer, Biografi Politik Mohammad
Volume I, No.1, Januari 2012 I 6 5 Biblio gra fi:
A. Mc Clelland, Charles, Theory an d the In ternation al Sy stem, (terje-m ahan) (J akarta: Penerbit Rajawali, 198 1).
A.H Nasution , Sejarah Perjuangan N asional di Bidan g Bersen jata (J akarta: Mega Bookstore, 1964).
A.H . Nasution , Sekitar Peran g Kem erdekaan In don esia, (Ban dun g: Pen erbit An gkasa, 1977).
Couloum bis, Theodore A., dan H Wolfe, J am es, In troduction to In ternastion al Relation s:Pow er an d Justice (New J ersey: Pren tice H all, 1978 ).
Fran z Magn is Susen o, Pem ikiran Karl M arx: Dari Sosialism e Utopis Ke R evision ism e (J akarta: PT. Gram edia Pustaka, 20 0 0 ).
Fukuyam a, Francis, The En d of H istory an d The Last M an (New York: The Free Press, 1993)
H atta, Moham m ad H atta, M em oir (J akarta: Penerbit Tintam as, 198 2), h. 34
H atta, Moham m ad, “In don esia Foreign Policy” dalam Kary a Len gkap Bun g H atta Buku Ketiga, Perdam aian dan Keadilan Sosial (J akarta: Pen erbit LP3ES, 20 0 1).
H atta, Moham m ad, Kum pulan Pidato I, (J akarta: Penerbit Gunung Agung 20 0 2).
H atta, Moham m ad, Men day ung An tara Dua Karan g (J akarta: CV. Bulan Bin tang, 1976).
Koentjaran ingrat (editor), M etode-M etode Pen elitian Masy arakat (J akarta: Pen erbit Gram edia,198 1), h. 61-63.
Kom pas, kolom opini 11 Agustus 20 0 5
Latif, Yudi, In teligen sia M uslim dan Kuasa: Gen ealogi In teligen sia M uslim In don esia Abad X X (J akarta: Pen erbit Mizan , 20 0 6).
M.C.Ricklefs, A H istory of M odern In don esia Sin ce c. 120 0 (terje-m ahan ) (J akarta: PT. Sera(terje-m bi Il(terje-m u Se(terje-m esta, 20 0 5).
Machiavelli, Niccolo, II Prin cipe (terjem ahan ) (J akarta: Pen erbit Pustaka Gram edia, 1999), cet.1.
Mavis Rose, In don esian Free: A Political Biography of M oham m ad H atta (terjem ahan ), (J akarta: Penerbit Gram edia Pustaka, 1991).
R. Soeprapto, H ubungan In ternasional: Sistem , In teraksi dan Peri-laku (J akarta: Penerbit Rajawali Press, 1997).
Sabir, H . Moham m ad, Politik Bebas Aktif: Tan tangan dan Kesem -patan (J akarta: CV. H aji Masagung, 198 7).
Sudarsono, J uwono, State of Art, H ubun gan In tern asion al Men gkaji Ulan g Teori H ubun gan Internasion al (J akarta: Pustaka J aya,1996), h.15
Suseno, Magn is, Fran z, Etika Politik: Prin sip-prin sip M oral Dasar Kenegaraan M odern (J akarta: PT. Pustaka Gram edia, 20 0 1).
Swason o, Edi, Sri dan Ridjal, Fauezie (edt), Satu Abad Bun g H atta: Dem okrasi Kita, Politik Bebas Aktif, Ekon om i M asa Depan (J akarta: Penerbit Universitas Indonesia, 20 0 2).
Taufik Abdullah, “Upacara, Pen galam an dan Identitas Bangsa,” M ajalah Tem po, edisi khusus 17 Agustus 20 0 5.
Widjaja, I. Wan gsa, M en genan g Bun g H atta, (J akarta: Penerbit Gunung Agung, 20 0 2).