kompasiana
menjadikan bahasa Indonesia sebagai bagian dari budaya kita? Sudahkah kita santun dalam berbahasa?Pertanyaan inilah yang tiba-tiba muncul di kepala saat kuliah Bahasa Indonesia kemarin. Bahasa Indonesia yang bila kita telaah lebih dalam asal-usul sejarahnya, seharusnya dapat membuat kita sebagai warga negara Indonesia bangga untuk menggunakannya dan menjadikannya bagian dari budaya kita. Namun, kenyataannya tidak demikian.
Bahasa Indonesia adalah bahasa yang berasal dari bahasa Melayu tinggi yang hanya digunakan oleh kaum bangsawan atau kaum intelektual dan hanya digunakan serta diajarkan di sekolah-sekolah saja. Bahasa Melayu tinggi pertama kali digunakan di Riau. Zaman dahulu, bahasa Melayu tinggi cenderung digunakan oleh masyarakat atas, sedangkan masyarakat menengah ke bawah menggunakan bahasa Melayu pasar.
Terbayangkah oleh kita bagaimana dulu bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa persatuan, padahal Indonesia memiliki banyak sekali bahasa daerah. Salah satu cuplikan Sumpah Pemuda mengingatkan kita, “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.”
Perjuangan dan ikrar pemuda-pemuda nusantara waktu itu seharusnya dapat kita jadikan pedoman untuk saat ini. Namun, entah kenapa dengan alasan globalisasi bahasa Indonesia seakan menjadi semakin tersingkirkan. Sekolah-sekolah mulai menggunakan bahasa asing sebagai bahasa pengantar (lingua franca) dalam kegiatan pembelajaran. Anak muda lebih sering menggunakan istilah-istilah asing, karena mungkin dianggap lebih keren atau apalah. Fakultas Bahasa Indonesia kurang diminati oleh warga Indonesia sendiri, mahasiswanya justru kebanyakan adalah orang asing yang memiliki ketertarikan terhadap budaya Indonesia.
Bahasa adalah kunci segala-galanya. Suatu negara yang ingin melakukan penjajahan, maka harus mengerti bahasa yang digunakan di tanah jajahannya tersebut. Sadar atau tidak, perlahan kita sudah mulai terjajah kembali. Sadarkah kita betapa banyak orang asing yang sangat tertarik untuk mempelajari kebudayaan dan bahasa negeri kita? Negeri kita masih sangat kaya. Tak bisa dipungkiri kalau banyak negara tertarik dengan tanah negeri kita ini. Orang-orang asing sudah banyak yang menetap di Indonesia. Pengusaha-pengusaha asing pun banyak yang berinvestasi di Indonesia. Disini kemampuan berbahasa sangat memegang kendali.
Mungkin kita sudah terlambat beberapa tahun, namun sekali lagi tidak ada kata terlambat untuk berubah. Jadilah generasi muda yang sadar berbahasa. Bangga menggunakan bahasa Indonesia dan jadikan bahasa Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan kita.
Kamis, 29/10/2009 17:55 WIB
Karena Bahasa Cermin Budaya
Bangsa
Mukhamad Najib - detikNews
Halaman 1 dari 2
Jakarta - Presiden telah mengumumkan kabinetnya untuk periode pemerintahannya yang kedua. Salah satu nama yang tetap bertahan di
posnya adalah Jero Wacik.
Sudah sejak lama kementerian kebudayaan selalu dipegang oleh orang Bali. Mungkin alasannya karena Bali dianggap sebagai daerah yang paling merepresentasikan budaya. Dalam iklan-iklan pariwisata Indonesia Bali juga menjadi ikon dominan. Seakan hanya Bali daerah
yang paling berkebudayaan. Kalau kita datang ke kounter-kounter Garuda
di Jepang atribut budaya yang ditampilkan juga candi-candi dan corak bangunan di Bali.
Tentu sangat naif jika kita menjadikan Bali sebagai satu-satunya representasi budaya Indonesia karena pada kenyataannya budaya Indonesia begitu beragam. Ada yang bercorak Hindu seperti di Bali. Tapi, tidak sedikit simbol-simbol kebudayaan Indonesia yang bercorak Islam seperti pakaian adat di wilayah Sumatra, masjid-masjid bersejarah dan istana yang memiliki konstruksi bercorak Islam, dan lain sebagainya.
Semoga saja pada kepemimpinannya yang kedua di kementerian budaya, Bapak Jero Wacik mampu melihat elemen budaya pembentuk budaya nasional secara komprehensif. Sehingga, beliau tidak hanya ribut ketika Tari Pendet yang berasal dari Bali di klaim Malaysia namun diam ketika lagu Rasa Sayange yang dari Maluku diklaim Malaysia.
Selain pengembangan budaya nasional yang komprehensif salah satu representasi budaya yang penting yang tidak boleh dilupakan juga adalah bahasa. Para ahli budaya menilai bahasa sebagai cermin budaya dan identitas diri penuturnya. Bahkan, bahasa memberi pengaruh yang signifikan pada kemajuan sebuah bangsa.
Sebagai contoh kita bisa melihat dalam sejarah bangsa Eropa pada masa pencerahan telah melakukan "penterjemahan" besar-besaran atas karya agung orang-orang Islam di dunia Timur yang dengan itu mereka mencapai kemajuan. Jepang mungkin negara pertama di dunia yang mampu menterjemahkan kembali bahasa Barat tanpa meninggalkan budaya dan bahasanya sehingga kini Jepang dapat sejajar dengan negara-negara Barat.
Sumba, tercatat 50 bahasa masih bertahan, tapi delapan di antaranya terancam. Di Papua dan Halmahera, dari 271 bahasa daerah, 56 di antaranya hampir punah. N
Kamis, 29/10/2009 17:55 WIB
Karena Bahasa Cermin Budaya Bangsa
Mukhamad Najib - detikNews
Halaman 2 dari 2
Kalau saat ini bahasa daerah yang mulai punah tidak mustahil suatu hari nanti Bahasa Indonesia yang punah jika tidak ada upaya yang serius dalam menjaga dan mengembangkannya. Meski UUD 1945 jelas menyebutkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang harus digunakan sebagai bahasa pengantar resmi. Namun, saat ini banyak sekolah yang justru mengembangkan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.
Bahasa asing tentu saja harus kita pelajari untuk memudahkan kita menyerap pengetahuan dari bangsa-bangsa lain di dunia. Namun, bukan berarti kita membiarkan bahasa kita sendiri terlantar dan hanya menjadi bahasa pinggiran yang seolah tidak layak menjadi bahasa ilmu pengetahuan.
Saat saya ke Malaysia saya sempat berkunjung ke University Kebangsaan Malaysia. University ini termasuk salah satu university yang dijadikan sebagai cagar budaya oleh pemerintah Malaysia. Mahasiswa, dari mana pun datangnya, harus menggunakan Bahasa Malaysia dalam perkuliahan maupun aktivitas sehari-hari. Bahkan, mahasiswa Indonesia yang kuliah di kampus ini diwajibkan mengikuti pelajaran Bahasa Malaysia meski Bahasa Indonesia dan Malaysia relatif sama.
Yang menarik adalah ketika Dekan memutarkan film tentang profil kampus ini. Di bagian akhir film ini ada kalimat yang kira-kira isinya begini "pernahkah anda membayangkan suatu hari nanti Bahasa Malaysia digunakan dalam ilmu kedokteran? Pernahkan anda membayangkan suatu hari nanti Bahasa Malaysia digunakan oleh ahli-ahli teknik di seluruh dunia? Pernahkan anda membayangkan suatu hari nanti Bahasa Malaysia menjadi bahasa ilmu pengetahuan yang digunakan di seluruh dunia? Dari sinilah, dari kampus inilah semua akan bermula!"
Boleh jadi kita tertawa dengan pernyataan ini. Tapi, kalimat-kalimat ini menunjukkan obsesi dan keseriusan Bangsa Malaysia untuk menjaga, mengembangkan, dan mempromosikan budayanya. Mereka memiliki cita-cita yang jelas akan pengembangan kebudayaan yang mereka inginkan dan mereka telah melakukannya. Pernahkah kita memiliki keinginan Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pergaulan internasional? Rasanya menteri kebudayaan sekali pun tidak pernah terfikir akan hal ini.
Beranikah kita meminta menggunakan Bahasa Indonesia jika ada pertemuan-pertemuan internasional di Indonesia? Tentu tidak, karena kita tidak percaya diri dengan bahasa kita sendiri atau karena kita selalu rela Bahasa Indonesia menjadi bahasa nomor dua. Sebagaimana juga kita rela Bangsa Indonesia menjadi bangsa nomor 2.
Semoga hal ini tidak berlanjut di generasi yang akan datang.
Mukhamad Najib
The University of Tokyo 4-6-41 Shirokanedai Minato-Ku [email protected]
Bahasa, Cermin Cara Berpikir Bangsa
cwpel | Kamis, 24 April 2014 | 12:20 WIB | Dibaca: 3227 | Komentar: 0
PENGGUNAAN bahasa Indonesia makin memprihatinkan. Hal itu tidak hanya terjadi pada urutan kata dalam kalimat, tapi juga dalam menuliskan kata yang tidak mengikuti kaedah. Penulisan dalam pesan-pesan pendek, media jejaring sosial dan pembicaraan keseharian semakin tidak mencerminkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Anehnya, meskipun urutan kata dalam kalimat tidak mengikuti aturan, orang tetap dapat memahaminya. Semakin banyak orang mengungkapkan kata-kata tanpa memperhatikan urutan yang sepantasnya. "Dia ada dimana sekarang?" atau "Sedih jadinya saya pak" adalah contoh ungkapan yang tidak benar tetapi tetap dimengerti. Dalam media jejaring sosial, penggunaan bahasa Indonesia lebih memprihatinkan lagi. Kita bisa melihat banyak contoh yang menunjukkan semakin besarnya kesalahan pemakaian bahasa Indonesia saat ini. Misalnya "Selamat pagii..please add fb MB yaa.. Terima kasih and have a nice day :)" atau "Senam, kupat tahu pedes, dilanjutkan pingpong ala kadarnya, menghasilkan aroma yang ruar biasa" atau "Jumat berkah..12 pcs terjual sudah.." dan sebagainya.
dengan bahasa etnis, banyak anak sekarang yang sudah mulai tidak lagi mampu menggunakannya secara benar.
Bahasa Jawa adalah salah satu contoh bahasa etnis yang semakin rusak. Kemampuan orang Jawa dalam menggunakan bahasa Jawa krama dan krama inggil makin jauh berkurang karena budaya berbahasa di dalam keluarga Jawa yang sudah tidak lagi memperhatikan penggunaan bahasa etnis tersebut. Banyak orang Jawa yang memasukkan bahasa Indonesia pada saat berbicara dalam bahasa Jawa, karena ketidakmampuannya dalam menyampaikan secara benar dalam bahasa yang digunakan. Menurut Lera Boroditsky bahasa mempengaruhi apa yang kita ingat dan struktur bahasa dapat menyebabkan kita semakin mudah atau semakin sulit mempelajari hal-hal baru. Bahasa Indonesia semakin dicampuradukkan dengan bahasa lain, bahkan di waktu yang akan datang bisa jadi semakin banyak kosa kata asing digunakan dalam keseharian meskipun padanan dalam bahasa Indonesia sudah ada. Perubahan cara menggunakan bahasa ketika orang sedang berbicara dapat mengubah cara berpikir. Mengikuti pola-pola bahasa lisan maupun tulis yang digunakan dalam keseharian sekarang ini akan membuat kita menirukan dan kemudian mengubah cara kita berpikir.
Bahasa ada di dalam mental manusia. Semakin kacau penggunaan bahasa, makin tak jelas mental bangsa. Penggunaan bahasa asing yang makin menjadi-jadi merupakan cerminan bangsa kita yang sudah dimiliki bangsa lain dan disuapi berbagai produk bangsa lain. Secara tak sadar, kita terbang dengan Lion, Tiger, dan Airasia; minuman kita shake, makanan kita steak, dan belanja di supermarket asing, bahkan banyak nama anak sekarang tak lagi cerminan bangsa Indonesia. Gary Witherspoon menggambarkan penggunaan bahasa seperti hubungan antara kuda dan manusia. Kalau kuda menyepak manusia, itu bukan salah si kuda, namun karena manusianya mengganggu kuda dengan menggelitik kaki atau perutnya. Bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi antara satu orang dengan orang lain
dan alat untuk mempersatukan bangsa.
menjadikan jati diri bahasa kita semakin tidak jelas, seperti halnya jati diri
bangsa. Bahasa mencerminkan bangsa. (*)
Ida F Priyanto,
Department of Information Science, School of Information, University of
Bahasa Cermin Identitas dan Karakter
Bangsa
131 ViewsNovember 29, 2012
Oleh :Elly Delfia, S.S.,M.Hum*
Bahasa adalah cermin identitas sebuah bangsa. Identitas berkaitan dengan karakter (sikap atau kepribadian) bangsa, seperti yang diungkapkan Widjono bahwa salah satu fungsi bahasa adalah sebagai alat untuk membangun karakter. Karakter berkaitan dengan sikap cerdas, lamban, bodoh, malas, atau rajin (Widjono, 2001:16). Dalam tulisan ini, karakter yang dimaksud adalah berkaitan dengan kecerdasan berbahasa (kecerdasan linguistik). Kecerdasan berbahasa meliputi kemampuan untuk memilah-milah kata-kata baik untuk digunakan dalam berkomunikasi dan berinteraksi.
Dari cara berbahasa dan cara memilih kata untuk diucapkan, dapat dipahami seperti apa karakter dan kepribadian seorang individu, sekelompok masyarakat, dan sebuah bangsa. Apakah mempunyai karakter keras, mudah emosi, lemah-lembut, santun atau penyayang? Topik mengenai bahasa cermin identitas dan karakter bangsa erat hubungannya dengan bulan Oktober. Sepintas memang tidak banyak yang bisa diingat dari Oktober selain hujan yang turun tak henti-henti, khususnya di kampus hijau Limau Manih. Kesibukan pun masih berjalan seperti biasa. Mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan seluruh civitas akademika kampus masih tetap menjalani rutinitas seperti biasa. Namun 84 tahun silam, Oktober menjadi bulan bersejarah bagi bangsa ini. Pada Oktober, tepatnya 28 Oktober 1928 setengah dari kedaulatan bangsa ini menyumbulkan tunasnya.
Para pemuda dari seluruh nusantara berkumpul untuk menyamakan visi dan menyatukan diri dalam sebuah sumpah yang dikenal dengan Sumpah Pemuda masa itu. Kemudian salah satu butir Sumpah Pemuda yang berbunyi, “Kami Putra-Putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia.“ mengabadikan Oktober sebagai bulan bahasa.
seluruh pelosok negeri ini di bawah naungan bangsa yang bernama Indonesia. Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana generasi muda sekarang memaknai bahasa Indonesia yang menjadi penanda identitas diri dan karakter bangsanya.
Dari hasil penelitian sebelumnya yang berjudul, “Afiksasi Bahasa Indonesia pada Istilah Berbahasa Asing pada Media Massa di Sumbar” (Delfia, 2010) diperoleh kesimpulan bahwa kecenderungan generasi muda sekarang merasa rendah diri menggunakan bahasa Indonesia dan mereka menganggap bahasa Aing (bahasa Inggris) lebih hebat, lebih gaul, gaya, dan intelektual. Orang yang berbicara dalam bahasa Inggris dianggap lebih hebat dan lebih pintar daripada yang menggunakan bahasa Indonesia. Kemudian dalam berkomunikasi sehari-hari pun, tidak sedikit generasi muda yang mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris(bahasakompasiana.com).
Kenyataan ini cukup memiriskan hati dan jadi petanda makin memudarnya rasa nasionalisme generasi muda. Nasionalisme yang tergerus globalisasi, perkembangan ilmu pengetahuan, dan teknologi. Teknologi terkadang tidak hanya memberikan efek positif, tetapi juga negatif. Segala kebaruan yang tercipta dari teknologi telah mengalienasi manusia dari kehidupan dan identitas dirinya, seperti yang ramalkan ahli sosial, Karl Max bahwa teknologi yang diciptakan manusia akan mengalienasi (mengasingkan dan mengendalikan) manusia dari dirinya (Lauer, 2001).
Penggunaan bahasa Indonesia yang mencerminkan ketidakdisiplinan dalam berbahasa marak digunakan di kalangan anak muda, khususnya mahasiswa dan pelajar, misalnya peristiwa mencampurkodekan beberapa bahasa dalam sebuah kalimat. Peristiwa campur kode beberapa bahasa yang sering dituturkan mahasiswa dapat dilihat pada contoh tuturan berikut: Ndak tau gue doh. Jangan malu-maluin gua donk. Aden lagi download lagu di net, nih. Mo browsing dulu ah.
Maraknya peristiwa campur kode yang digunakan oleh mahasiswa dalam berkomunikasi baik dengan sesamanya, maupun di kelas, di seminar-seminar, dan di ruang-ruang ilmiah cukup membingungkan dalam hal penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dengan peristiwa campur kode di atas, kalimat-kalimat yang dituturkan mahasiswa ataupun pelajar sulit untuk diidentifikasi dan dikenali. Bahasa yang mereka gunakan tidak jelas karena dalam satu kalimat mengandung lebih dari satu unsur bahasa. Dalam kalimat, Aden lagi download lagu di net nih terkandung empat unsur bahasa, yaitu bahasa Minangkabau, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia baku dan tidak baku. Unsur bahasa Minangkabau terdapat pada kataAden, unsur bahasa Inggris ada pada kata download dan net, unsur bahasa Indonesia baku terdapat pada kata di dan kata lagu, sedangkan unsur bahasa Indonesia tidak baku terdapat pada kata lagi dan nih.
padanannya dalam bahasa Indonesia, minimnya pendidikan yang berisi kesadaran akan arti penting penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang menjadi identitas bangsa, kurangnya kepedulian terhadap penggunaan istilah-istilah yang berasal dari luar bahasa Indonesia, dan sungguh tidak disiplinnya anak bangsa ini dalam berbahasa yang berarti juga mencerminkan ketidakdisiplinan bangsa untuk berbagai hal dalam kehidupannya, termasuk dalam berbahasa.
Pada akhirnya, semoga persoalan ini dapat jadi buah perenungan bersama agar bangsa ini tidak kehilangan identitas dan karakter yang jadi membedakan bangsa ini dari bangsa lain di dunia.
Padang, 28 Oktober 2012
Bahasa Cermin Budaya Bangsa
Diupload oleh tamburian pada 8 Jun 2009 05:19
Bahasa adalah cermin budaya bangsa. Iklan Pemda DKI ini tidak memberikan contoh yang baik dalam penggunaan bahasa Indonesia. Awal kalimat yang begitu persuasif diakhiri dengan penggunaan bahasa Inggris sehingga bisa membingungkan orang yang membacanya.
Kamis, 24 Mei 2012, 13:34 – Pendis & Madrasah
PERAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI
CERMINAN PEMBENTUK KARAKTER
BANGSA
Pagaralam – Bahasa memang memiliki andil paling besar dalam suatu komunikasi karena, bahasa merupakan syarat utama untuk terjadinya komunikasi. Kemampuan berbahasa tidak hanya sekedar menulis (writing) dan berbicara (speaking) saja, tapi juga harus didukung dengan kemampuan menyimak (listening) dan membaca (reading). Ketika seseorang menghadiri suatu acara seperti seminar, symposium dan sebagainya, tentunya secara langsung ia akan melakukan tahapan kemampuan dalam berbahasa yang dimulai dari menyimak, menulis, membaca, dan berbicara. Di sini disebutkan bahwa tahapan terakhir dalam berbahasa adalah berbicara. Yang mengesankan orang ketika berbicara adalah karakternya.
Menurut Tesaurus Bahasa Indonesia (2006), pengertian bahasa adalah dialek,logat,ragam,tutur dan ucapan. Dari pengertian tersebut, Penulis menyimpulkan bahwa cara berbicara sudah menunjukkan adanya bahasa, karena berkaitan langsung dengan dialek atau tutur kata yang diucapkan, sedangkan untuk cara berbahasa sendiri dapat diungkapkan secara lisan maupun tulis. Berarti berbicara di sini termasuk dalam bahasa yang diungkapkan secara lisan.
Berbicara mengenai bahasa, lantas bagaimanakah peran bahasa Indonesia sebagai cerminan pembentuk karakter bangsa?Bahasa Indonesia adalah bahasa yang terpenting di wilayah Indonesia. Seperti yang telah disebutkan dalam UUD 1945 pasal 36 yang berbunyi “bahasa Negara adalah bahasa Indonesia” serta dalam pasal 36C pun disebutkan ”ketentuan lebih lanjut mengenai bendera,bahasa dan lambang negara,serta lagu kebangsaan diatur dengan undang-undang”. Artinya bahasa Indonesia telah diakui keberadaannya sebagai bahasa Negara dan telah dilindungi oleh aturan hukum. Yang menjadi pertanyaan bagi Penulis adalah sudahkah Bahasa Indonesia itu diterapkan secara baik dan benar? Sangat ironis sekali jika dalam ikrar Sumpah Pemuda yang salah satunya berbunyi “ Kami Putra dan Putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia” , namun dalam kenyataannya. hal tersebut sangatlah bertolak belakang.
memungkinkan penggunaan bahasa Indonesia, adanya perkawinan dari antar suku atau antar daerah yang memungkinkan penggunaan bahasa Indonesia sebagai pemersatu bahasa daerah mereka , adanya anggapan bahwa mereka tidak perlu lagi menggunakan bahasa daerahnya, orang-orang, dewasa ini cenderung lebih suka bertutur kata menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa daerahnya. Dari hal tersebut dapat kita simpulkan bahwa salah satu fungsi dari bahasa Indonesia adalah sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku dan ragam bahasa daerah.
Para ahli berpendapat bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Kunardi berpendapat alasan mengapa bahasa Melayu diterima sebagai dasar bahasa persatuan, yaitu (1) kedudukannya yang telah berabad-abad sebagai bahasa penghubung antar pulau, lingua franca (2) bentuk bahasanya yang luwes dan mudah dipelajari (3) bahasa Melayu tidak mengenal tingkatan-tingkatan seperti yang terdapat dalam bahasa Jawa, Sunda dan Madura. Jadi ada suasana yang demokratis. (Kunardi,2005:6). Pada tahun 1928, dalam kongres pemuda yang dihadiri oleh aktivis oleh berbagai daerah, menetapkan bahasa Melayu diubah namanya menjadi bahasa Indonesia dan diikrarkan dalam Sumpah Pemuda sebagai bahasa persatuan atau bahasa nasional. Bahasa Indonesia yang kita gunakan sebagai bahasa pengantar dan bahasa persatuan. merupakan salah satu dialek bahasa Melayu yang digunakan sebagian masyarakat di sekitar pesisir pantai Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, masyarakat melayu di Singapura, Malaysia dan Brunei. Bangsa asing yang datang ke Indonesia menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar kepada penduduk setempat. Misalnya pada saat penjajahan Belanda, hal ini sangat menguntungkan karena penyebaran bahasa Melayu yang tak lain adalah bahasa Indonesia menjadi menyebar atau berkembang lebih luas.Kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia di dalam Negara ini menurut Depdiknas dalam Pelatihan Nasional Dosen Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi berpendapat sebagai berikut:(a). Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional (b).Bahasa Indonesia sebagai Lambang Kebanggaan Nasional©. Bahasa Indonesia sebagai Lambang Identitas Nasional (d).Bahasa Indonesia sebagai Alat Pemersatu Berbagai Suku Bangsa (e).Bahasa Indonesia sebagai Alat Perhubungan Antar daerah dan Antar budaya (f).Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara (g).Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Kenegaraan (h).Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Pengantar Dalam Dunia Pendidikan (i).Bahasa Indonesia sebagai Alat Perhubungan di Tingkat Nasional untuk Kepentingan Pembangunan dan Pemerintahan (j).Bahasa Indonesia sebagai Alat Pengembangan Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
berbagai bahasa dan suku yang berbeda dapat digunakan untuk mengidentikkan diri sebagai satu bangsa dilihat dari bahasa yang ia gunakan.
Sebagai bahasa Negara bahasa Indonesia dipakai dalam kegiatan kenegaraan. Dalam hal ini, pidato-pidato resmi, dokumen dan surat resmi harus ditulis dalam bahasa Indonesia. Pemakaian bahasa dalam acara-acara kenegaraan sesuai dengan UUD 1945 mutlak diharuskan. Tidak dipakainya bahasa Indonesia dalam hal ini dapat mengurangi
kewibawaan Negara karena merupakan pelanggaran
terhadap UUD 1945.Perkembangan jaman cukup memberi pengaruh terhadap penggunaan bahasa di Indonesia. Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa nasional (persatuan) sudah sepantasnya diterapkan secara baik dan benar berdasarkan konteks dan kedudukannya, karena Bahasa Indonesia juga memiliki unggah-ungguh seperti halnya Bahasa Jawa. Bedanya dalam bahasa Indonesia tidak ada tingkatan-tingkatan yang mengharuskan penggunaan perubahan kata-kata tertentu. Dewasa ini,umumnya anak-anak maupun remaja menggunakan bahasa Indonesia tidak memenuhi aturan ejaan yang disempurnakan, dengan cara menyerap kata-kata asing semaunya sendiri, mengkombinasi kata-kata dari bahasa daerah dengan bahasa Indonesia bahkan menciptakan kosakata sendiri atau sering juga disebut dalam bahasa “gaul”.Bahasa Indonesia mengenal adanya ragam bahasa. Ragam bahasa standar atau bahasa keilmuan memiliki sifat kemantapan yang dinamis, yang berupa kaidah dan aturan yang tetap. Baku atau standar tidak dapat diubah setiap saat. Adanya penyeragaman kaidah baku penyamaan ragam bahasa aatau penyeragaman variasi bahasa merupakan cirri bahasa baku yang ketiga setelah kecendekiaan. Kegunaan dari penyeragaman ini adalah untuk menyamakan persepsi atas suatu bahasa ke dalam bahasa Indonesia.(Moeliono,2002:13). Fungsi dari bahasa baku menurut Anton M. Moeliono yaitu sebagai pemersatu,pemberi kekhasan,pembawa kewibawaan dan kerangka acuan. Bahasa baku memperhubungkan semua penutur berbagai dialek bahasa, dengan adanya kata-kata yang dibakukan penutur memiiki pegangan ketika ingin mengungkapkan sesuatu dalam bahsa Indonesia. Bahasa Indonesia memiliki keunggulan dengan bahasa daerah yang lain, jumlah penuturnya lebih banyak, bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa negara sekaligus digunakan sebagai bahasa nasional (persatuan) merupakan ciri khas yang dimiliki bahasa Indonesia.
orang lain. Contoh bila kita hendak menulis pesan, ekspresi yang kita berikan dalam pesan itu biasa-biasa saja,tidak dengan nada marah dan sebagainya, tetapi dalam pesan tersebut kita sisipi banyak sekali tanda seru. Apakah ekspresi Si penerima pesan juga akan tetap biasa-biasa saja? Belum tentu, Si penerima pesan bisa saja salah mengartikan maksud dari isi pesan tersebut dan menganggap bahwa kita sedang marah kepadanya. Yang mana nanti pada akhirnya, antara pihak satu dan dua akan terjadi ketidak saling pengertian. Hanya gara-gara tanda baca pada pesan yang dikirim secara tertulis itu. Jadi, jelaslah bahwa raut muka atau mimik wajah sesorang pun juga dapat digambarkan dan diterjemahkan melalui bahasa tulis. Namun, ketidak jelasan dalam mengungkapkan bahasa secara tertulis,dapat mengakibatkan salah penerjemahan maksud pesan.
Ada pepatah yang mengatakan bahwa “ Mulutmu,Harimaumu”. Segala sesuatu, tutur kata yang kita ucapkan sangat berpengaruh terhadap perasaan seseorang. Karena pada saat kita berbicara pada orang lain, kita secara langsung juga mengolah perasaannya menjadi sebuah ekspresi. Memang mungkin secara tidak kita sadari, terkadang apa yang kita katakan pada orang lain, niatnya hanya bercanda, tetapi justru itu sangat menyakitkan bagi orang yang kita ajak bicara, apa yang kita katakan malah membuat orang tersebut tersinggung.
Bahasa mencerminkan karakter bangsa. Berdasarkan Tesaurus Bahasa Indonesia (2006), menyebutkan bahwa karakter adalah ciri, karakteristik, keunikan,sosok,pribadi serta sifat. Jadi, karakter adalah suatu ciri yang mendasari atau menggambarkan kepribadian diri secara keseluruhan. Kita dapat menunjukkan kebangsaan kita sendiri dengan cara menguatkan bahasa Negara kita yaitu Bahasa Indonesia.Keunikan ragam budaya bangsa Indonesia di antaranya adanya beratus-ratus bahasa yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Keanekaragaman tersebut dipersatukan oleh bahasa Indonesia sebagai bahasa penghubung antar daerah dan antar budaya. Sifat saling mempengaruhi antara bahasa nusantara dan bahasa Indonesia merupakan hal yang sangat wajar.Bahasa dapat berkembang karena adanya kontak dengan bahasa dan budaya lain sehingga perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan dapat terikuti. Satu hal yang perlu dijaga adalah dalam mengembangkan bahasa nasional ini kita harus bersifat terbuka tetapi di sisi lain kita juga harus waspada. Jangan sampai Negara kita dicap oleh dunia buruk hanya karena mereka melihat dari segi bahasanya. Oleh karena itu, kita perlu bangga memiliki bahasa Indonesia, dengan kita memiliki rasa bangga kita akan cenderung lebih menyayangi dan berusaha untuk bisa melestarikan serta dapat menciptakan suatu kesan yang baik ketika orang melihat kita berbahasa Indonesia. Dengan adanya ketertarikan tersebut, orang mungkin ingin mempelajari bahasa kita yaitu bahasa Indonesia dan siapa tahu buku-buku yang ditulis menggunakan bahasa Indonesia akan diterjemahkan menggunakan bahasa mereka (bahasa asing).
SUMPAH PEMUDA, BAHASA SEBAGAI CERMINAN BUDAYA
By Lintas Gayo on October 28, 2012Zuliana Ibrahim*
HARUS kita akui, bahwa saat ini masyarakat Indonesia kurang menghargai dan berminat terhadap bahasa nasional yakni bahasa Indonesia. Modernisasi yang banyak memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat, tanpa terkecuali pada perkembangan bahasa. Kini kian hari, kemerosotan masyarakat dalam kebanggaannya menggunakan bahasa persatuan bangsa Indonesia pun ikut memudar.
Menelisik perjuangan para pemuda yang dengan bangga merumuskan sumpah pada tanggal 28 oktober 1928 lalu, seharusnya menjadi kobar semangat bagi kita salah satunya agar mampu memelihara dan melestarikan dan menjunjung tinggi bahasa persatuan bangsa Indonesia yaitu bahasa Indonesia. Namun justru sebaliknya, kini bangsa Indonesia seperti kehilangan identitas bahasanya. Identitas bahasa “ternodai” oleh bahasa yang lahir pada zaman kekinian. Mengapa demikian? Ajip Rosidi dalam bukunya Bus Bis Bas (berbagai masalah bahasa Indonesia) menyatakan bahwa kemajuan atau perkembangan bahasa nasional kita, tergantung kepada seberapa besar perhatian dan keterlibatan kita sekalian memeliharanya. Tentu ia tak hanya sekadar berpendapat demikian, karena nyatanya masyarakat kita yang cenderung terlalu bangga dengan modernisasi memilih lebih menggunakan bahasa asing, pun dalam kehidupan sehari-harinya. Mungkin yang menjadi dasar pemikiran masyarakat kita karena merasa lebih populer bahkan bergengsi jika menggunakan bahasa asing dalam berkomunikasi.
Memang benar penggunaan bahasa adalah kebebasan individual, bagi masyarakat yang hidup di lingkup satu daerah dengan satu suku yang sama, mereka bisa saja menggunakan bahasa daerah dalam berkomunikasi atau di kalangan pemuda yang sekarang trend dengan bahasa gaulnya. Namun bukanlah sesederhana ini masalah yang kita temui, fenomena maraknya penggunaan bahasa gaul oleh pemuda kita, bukan hanya mempengaruhi dalam konteks berbahasa namun juga berbudaya. Masyarakat Indonesia yang berbudaya timur pun mulai tampak meluntur.
Perubahan gaya hidup, ruang lingkup sosialisasi adalah di antara faktor yang menjadi landasan keengganan pemuda masa kini dalam berbahasa nasional. Padahal negara Indonesia yang terdiri dari berbagai ragam suku, kaya akan adat istiadat dan budaya ini. Sudah seharusnya mengabadikan bahasa persatuan menjadi tonggak bersatunya masyarakat Indonesia, di bawah payung kemerdekaan bangsa Indonesia.
yang menempatkan bahasa asing dalam pembelajaran, bukan hanya di pelajaran bahasa asing itu sendiri namun juga pelajaran umum lainnya. Haruskah kita membanggakan hal ini? Sesuai dengan pasal 33 Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, bahwa bahasa pengantar pendidikan nasional ialah bahasa Indonesia. Ini menjadi pertimbangan bagi kita untuk mampu memposisikan bahasa asing di masyarakat kita terutama dalam segi pendidikan. Begitu pun bahasa gaul yang sebenarnya berasal dari bahasa Jakarta, sekarang bahkan merambat sampai daerah perdesaan di Indonesia. Anak-anak muda dari desa justru merasa bangga ketika mereka pergi merantau dan kembali pulang dengan berbahasa gaul. Mungkin mereka merasa tak ketinggalan dengan modernisasi.
Tetapi benar saja, kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan modernisasi, sebab modernisasi pun sangat memberikan perkembangan yang begitu baik bagi bangsa kita dari berbagai segi seperti pendidikan, pertanian, teknologi dan sebagainya. Oleh karena itu kewajiban kita adalah untuk mampu menyaring segala apa yang masuk ke masyarakat kita terutama para pemuda yang seharusnya mampu mempertahankan kearifan dari sumpah pemuda yang tegas menyatakan untuk menjunjung tinggi bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia.
KOMBASASIN
mengejek dengan keras. Kata-kata makian seperti “bangsat” pun keluar dari mulut para anggota DPR yang terhormat itu. Begitupun ketika mengajukan pertanyaan kepada pejabat atau mantan pejabat pemerintah, mereka berbicara dengan keras tanpa kesantunan sedikitpun, persis seperti polisi kolonial dulu memeriksa penjahat kelas teri. Di luar gedung DPR suasananya tidak berbeda ricuhnya dengan keadaan di dalam gedung. Para pendemo yang nampaknya terdiri dari dua kubu yang berseberangan saling mengejek. Kata-kata seperti “Maling, Rampok, Bandit,” yang keluar dari satu kubu direspon dengan kemarahan dari kubu yang lain. terlebih lagi ketika kubu tersebut dengan seenaknya menginjak-injak dan membakar gambar foto pejabat yang masih aktif. Kemarahan kubu yang lain semakin menjadi-jadi sehingga semakin sukarlah petugas keamanan melerai kedua kubu itu.Bagaimana tanggapan umum mengenai kericuhan di Senayan tersebut? Kericuhan yang terjadi di luar gedung DPR memang diberitakan, tetapi tidak banyak dikomentari masyarakat. Justru tingkah polah anggota DPR saat sidang ricuh tersebutlah yang mendapat banyak komentar dari masyarakat. Ada yang mengatakan kericuhan itu adalah wajar-wajar saja karena mereka anggota DPR yang datang dari berbagai daerah dan budaya yang tidak sama. Ada juga yang mengatakan hal itu adalah wajar karena kita baru belajar berdemokrasi atau hal itu menunjukkan kedinamisan dalam proses berdemokrasi, dan sebagainya.
Pendapat Profesor Pranowo tersebut mengusik batin saya, apakah ketidaksantunan berbahasa para anggota DPR tersebut mencerminkan budaya bangsa kita bahwasanya bangsa ini adalah bangsa urakan yang lebih mengandalkan otot mengungkapkan sebagian besar pikiran dan perasaan lebih dari bahasa yang lain, bukan karena bahasa itu lebih baik tetapi karena pemilik dan pemakai bahasa sudah mampu menggali potensi bahasa itu lebih dari yang lain. Jadi yang lebih baik bukan bahasanya tetapi kemampuan manusianya. Semua bahasa hakikatnya sama, yaitu sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu, ungkapan bahwa bahasa menunjukkan bangsa tidak dimaksudkan untuk menyatakan bahwa bahasa satu lebih baik dari bahasa yang lain. Maksud dari ungkapan itu adalah bahwa ketika seseorang sedang berkomunukasi dengan bahasanya mampu menggali potensi bahasanya dan mampu menggunakannya secara baik, benar, dan santun merpakan cermin dari sifat dan kepribadian pemakainya. Pendapat Sapir dan Worf (dalam Wahab, 1995) menyatakan bahwa bahasa menentukan perilaku budaya manusia memang ada benarnya. Orang yang ketika berbicara menggunakan pilihan kata, ungkapan yang santun, struktur kalimat yang baik menandakan bahwa kepribadian orang itu memang baik. Sebaliknya, jika ada orang yang sebenarnya kepribadiannya tidak baik, meskipun berusaha berbahasa secara baik, benar, dan santun di hadapan orang lain; pada suatu saat tidak mampu menutup-nutupi kepribadian buruknya sehingga muncul pilihan kata, ungkapan, atau struktur kalimat yang tidak baik dan tidak santun.
Beberapa pakar yang membahas kesantunan berbahasa antara lain, Lakoff (1972), Fraser (1978), Brown dan Levinson (1978), dan Lecch (1983). Secara singkat dan umum menurut para pakar tersebut ada tiga kaidah yang harus dipatuhi agar tuturan kita terdengar santun oleh pendengar atau lawan tutur kita. Ketiga kaidah itu adalah (1) formalitas, (2) ketidaktegasan, dan (3) kesamaan atau kesekawanan.
Menurut Brown dan Levinson (1978) teori tentang kesantunan berbahasa itu berkisar atas nosi muka atau wajah, yakni “citra diri” yang bersifat umum dan selalu ingin dimiliki oleh setiap anggota masyarakat. Muka ini meliputi dua aspek yang saling berkaitan, yaitu muka negatif dan muka positif. Muka negatif itu mengacu pada citra diri setiap orang yang berkeinginan agar ia dihargai dengan jalan membiarkannya bebas melakukan tindakannya atau membiarkannya bebas dari keharusan mengerjakan sesuatu. Sedangkan muka positif mengacu pada citra diri setiap orang yang berkeinginan agar apa yang dilakukannya, apa yang dimilikinya atau apa yang merupakan nilai-nilai yanh ia yakini diakui orang lain sebagai suatu hal yang baik, yang menyenangkan, dan patut dihargai. Karena ada dua sisi muka yaitu muka positif dan muka negatif, maka kesantunan pun dibagi menjadi dua, yaitu kesantunan negatif untuk menjaga muka negatif dan kesantunan positif untuk menjaga muka positif. Kesantunan ini dapat ditafsirkan sebagai upaya untuk menghindari konflik antara penutur dan lawan tuturnya di dalam proses komunikasi.
antara tuan rumah dan tamu, antara pria dan wanita, antara murid dan guru, antara mahasiswa dan dosen,dan sebagainya (Muslich, 2006:1).
Kesantunan berbahasa tercermin dalam tata cara berkomunikasi lewat tanda verbal atau tata cara berbahasa. Ketika berkomunikasi, kita tunduk pada norma-norma budaya, tidak hanya sekedar menyampaikan ide yang kita pikirkan. Tata cara berbahasa harus sesuai dengan unsur-unsur budaya yang ada dalam masyarakat tempat hidup dan dipergunakannya suatu bahasa dalam berkomunikasi.
Tata cara berbahasa sangat penting diperhatikan para peserta komuniksi demi kelancaran komunikasi. Tata cara berbahasa seseorang dipengaruhi norma-norma budaya suku bangsa atau kelompok masyarakat tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan yang sudah mendarah daging pada diri seseorang berpengaruh pada pola berbahasanya. Itulah sebabnya kita mempelajari atau memahami norma-norma budaya sebelum atau disamping mempelajari bahasa. Sebab, tata cara berbahasa yang mengikuti norma-norma budaya akan menghasilkan kesantunan berbahasa (Muslich, 2006:2).
Berdasar kajian berbagai teori kesantunan di atas, teori kesantunan yang digunakan dalam kajian ini adalah teori kesantunan Brown dan Levinson karena teori tersebut beranjak dari teori sosiologis Goffman (1959) tentang sosiologi kehidupan sehari-hari, terutama dari bukunya The Presentation of Self in Everyday Life. Hal itu amat berguna untuk menjelaskan fenomena “topeng” dalam panggung politik, terutama peristiwa komunikasi politik. Salah satu topeng yang digunakan dalam pementasan diri adalah strategi kesantunan.
Bila kesantunan berbahasa lebih berkenaan dengan subtansi bahasanya, maka etika berbahasa lebih berkenaan dengan perilaku atau tingkah laku dalam bertutur. Dalam hal ini Masinambouw (1984) menagtakan bahwa sistem bahasa mempunyai fungsi sebagai sarana berlangsungnya suatu interaksi manusia di dalam masyarakat. Ini berarti di dalam tindak laku berbahasa haruslah disertai norma-norma yang berlaku di dalam budaya itu. Oleh Geertz (1976) sistem tindak laku berbahasa menurut norma-norma budaya itu disebut etika berbahasa atautata cara berbahasa.
Etika berbahasa ini berkaitan erat dengan norma-norma sosial dan sistem budaya yang berlaku dalam suatu masyarakat. Sehingga etika berbahasa ini akan “mengatur” kita dalam hal (a) apa yang harus dikatakan kepada seorang lawan tutur pada waktu dan keadaan tertentu berkenaan dengan status sosial dan budaya dalam masyarakat itu; (b) ragam bahasa yang paling wajar digunakan dalam waktu dan budaya tertentu; (c) kapan dan bagaimana kita menggunakan giliran berbicara kita dan menyela atau menginterupsi pembicaraan orang lain; (d) kapan kita harus diam, mendengar tuturan orang; (e) bagaimana kualitas suara kita apakah keras, pelan, meninggi, dan bagaimana sikap fisik kita di dalam berbicara itu. Seseorang baru dapat dikatakan pandai berbahasa apabila dia menguasai tata cara atau etika berbahasa itu. Butir-butir “aturan” dalam etika berbahasa yang disebut di atas bukanlah merupakan hal yang terpisah satu sama lain, melainkan merupakan hal yang menyatu di dalam tindak laku berbahasa.
3. Bahasa dan Politik
pencapaian tujuan komunikator. Kedua,agenda-setting, yaitu sebuah proses di mana komunikator mencoba mengidentifikasikan dirinya dengan isu yang berkembang. Ketiga, interpretasi dan penghubungan, yang mengacu pada konstruksi dan penstrukturan pola makna dan asosiasi yang lebih luas. Keempat, proyeksi masa lalu dan masa depan (tradisi dan kontinuitas). Kelima, stimulasi tindakan ( fungsi “mobilisasi” dan “pengaktifan” bahasa).
Studi bahasa politik juga menjadi persoalan sentral dalam tradisi lain dalam studi komunikasi politik, yang ditunjukkan oleh teori dan penelitian kritis atau Neo-Marxis. Salah satunya adalah adanya analisis yang luas mengenai isi media massa, khususnya berita. Pemberitaan dalam media, apakah itu bersifat pribadi atau publik, muncul untuk membawa pesan konsensus sosial yang sedang berkuasa dan juga mendukung peraturan sosial dan politik yang sudah terwujud dan mapan dengan beragam cara, yaitu dengan memberi legitimasi dan perhatian untuk mewujudkan kekuasaan; dengan mendiamkan masalah dan mencari solusi alternatif; dengan mengarahkan perhatian kepada “kambing hitam”, dengan memberi label pada lawan politik sebagai ekstrimis yang mencoba menantang aturan yang sudah mapan dan semuanya di dalam sistem yang demokratis.
4. Bahasa sebagai Cermin Budaya Bangsa
Banyak ahli dan peneliti sepakat bahwa bahasa dan budaya adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sebut saja di antaranya Suryadi, dosen Politeknik Medan, dalam makalahnya Hubungan Antara Bahasa dan Budaya, yang disampaikan dalam seminar nasional “Budaya Etnik III” di Universitas Sumatera Utara 25 April 2009 kemarin. Ia menyebutkan bahwa bahasa adalah produk budaya pemakai bahasa. Sebelumnya, pakar-pakar linguistik juga sudah sepakat antara bahasa dan budaya memiliki kajian erat. Kajian yang sangat terkenal dalam hal ini adalah teori Sapir-Whorf. Kedua ahli ini menyatakan, “Jalan pikiran dan kebudayaan suatu masyarakat ditentukan atau dipengaruhi oleh struktur bahasanya” (Chaer, 2003:61).
Banyak pakar telah mengumpulkan berbagai macam definisi mengenai kebudayaan. Di antaranya adalah Nababan (1984), yang membagi definisi mengenai kebudayaan itu atas empat golongan, yaitu:
1. Definisi yang melihat kebudayaan sebagai pengatur atau pengikat masyarakat. 2. Definisi yang melihat kebudayaan sebagai hal-hal yang diperoleh manusia melalui
belajar atau pendidikan.
3. Definisi yang melihat kebudayaan sebagai kebiasaan dan perilaku manusia. 4. Definisi yang melihat kebudayaan sebagai sistem komunikasi yang dipakai
masyarakat untuk memperoleh kerja sama kesatuan dan kelangsungan hidup masyarakat manusia.
dihasilkan dari pikiran atau pemikiran. Maka tatkala ada ahli menyebutkan bahwa bahasa dan pikiran memiliki hubungan timbal-balik dapat dipahami bahwa pikiran di sini dimaksudkan sebagai sebuah perwujudan kebudayaan.
Bahasa yang dipakai oleh para anggota DPR tersebut telah melanggar kesantunan berbahasa serta etika berbahasa. Tidak ada alasan bagi mereka yang secara sosial memiliki kedudukan tinggi (seperti anggota DPR, pejabat tinggi negara, tokoh masyarakat, dll) untuk tetap mempertahankan kebiasaan dan perilaku budaya daerahnya dalam lingkup masyarakat nasional, apalagi internasional. Kesantunan berbahasanya tidak lagi harus diukur berdasarkan budaya masyarakatnya, tetapi harus diukur menurut norma-norma nasional.
5. Simpulan
Kasus di atas telah menunjukkan bahwa kesantunan sesungguhnya bermakna tingkah laku yang memadai dalam situasi tertentu, begitu pun dalam penggunaan bahasa. Dalam kesantunan berbahasa, penentu kesantunan bukan sekadar bentuk bahasa itu sendiri, tetapi bentuk bahasa plus konteksnya, yang antara lain terdiri atas latar penggunaan, partisipan, tujuan, instrumen, norma, dan genre. Karena itu, kesantunan bukanlah sesuatu yang bersifat statis. Kesantunan juga tidak bebas konteks karena dikendalai oleh nilai budaya.
Akhirnya, dapat dinyatakan bahwa komunikasi politik memerlukan kesantunan berbahasa. Pemilihan strategi kesantunan yang tepat, akan dapat saling bisa menjaga muka, baik diri sendiri maupun orang lain, tanpa menghilangkan substansi yang menjadi persoalan pokok pembahasan di panggung politik. Kesantunan berbahasa juga dapat membantu menciptakan citra elegan di mata masyarakat.
March 11, 2014 KBI KELOMPOK (UL102C), KEBUDAYAAN
BAHASA MENCERMINKAN SUATU KEBUDAYAAN
Manusia mempergunakan bahasa Indonesia sebagai wahana dalam berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa adalah milik manusia.Bahasa mempunyai fungsi yang amat penting bagi manusia. Kedudukan bahasa Indonesia kini semakain mantap sebagai sarana komunikasi, baik dalam hubungan sosial maupun dalam hubungan formal.
Disini saya akan menjelaskan dan mengajak para pembaca untuk kebih mengetahui betapa pentingnya bahasa dalam kehidupan sehari-hari yang kita jalani.
Bagaimanakah caranya agar bahasa Indonesia benar-benar menjadi alat pengembangan kebudayaan bangsa Indonesia, dan bahasa Indonesia sebagai yang sanggup dan mampu mendukung bangsa Indonesia?Bagaimanakah pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia? Sudah sampai dimanakah bahasa Indonesia yang kita pergunakan saat ini?
Blog saya ini akan mencoba membantu anda mengetengahakan dan membahas jawaban atas pertanyaan –pertanyaan itu.
Bahasa adalah alat komunikasi utama, dan dengan bahasa manusia mengungkapkan pikiran dan perasaannya kepada orang lain. Proses – proses pemikiran sangat ditentukan oleh kemampuan berbahasa. Melalui kemampuan bahasa, pikiran, perasaan, dan penalaran seseorang dapat dirangsanng dan dilatih. Kemampuan bahasalah yang paling membedakan manusia dengan mahhluk hidup lainya. Bahasa memungkinkan manusia untuk menyampaikan informasi dan meneruskannya dari generasi- kegenerasi, melalui ungkapan secara tertulis. Bahasa memungkinkan manusia untuk membngun kebudayaan serta menguasai ilmu pengetahuan dan dengan demikian meningkatkan mutu kehidupanya .Bahasa juga dapat mempengaruhi arah perilaku manusia. Akhirnya dapat dikatakan bahwa bahasa memberikan manusia memberikan identitasnya, untuk menentukan posisinya di dalam dunia dan membentuk pandanganya tentang dunianya.
Koentjaraningrat dalam bukunya yang berjudul “kebudayaan, Mentalitet dan pembagunan” menulis bahwa akibat masa pascarevolusi dan proses kolonelisasi berlangsung terlalu lama, tumbuh sikap batin yang tidak sesuasi dengan jiwa pembagunan yang kita perlukan. Lahirllah berbagai sikap hidup yang dapat di rinci dibawah ini.
1. Sikap yang meremehkan mutu yang membuat orang puas dengan hasil karya yang asal jadi. Kurang berkembang keinginan untuk jaga nama dan jaga mutu.
2. Sikap yang menerabas yang membuat orang senang mencari jalan pintas.Serba masalah dapat “diatur” sehingga tujuan dapat dicapai denagn cepat.
3. Sikap tuna harga diri yang membawa orang beranggapan orang bahwa produk orang lain atau bangsa lain lebih bermutu dan berharga.
Tentu saja , pendaftaran sikap batin yang disebutkan tadi tidak bertujuan memberikan gambaran lengkap tentang sikap batin orang Indonesia.Seakan-akan tidak ada sikap batin yang positif yang dimilikinya. Namun, karena sikap yang positif bukan masalah melainkan modal.
sanksi apa pengembangan dan pembinaan itu. Pengembangan yang mengikuti kaidah yang dibakukan atau yang dianggap baku merupakan pemakaian dengan benar atau betul. Pemanfaatan ragam bahasa yang tepat dan serasi menurut golongan penutur dan jenis situasi disebut pemakaian bahasa yang baik atau tepat. Kita mungkin berbahasa yang benar yang tidak baik atau tidak tepat penerapanya karena suasananya mensyaratkan ragam bahhasa yang lain. Sebaliknya, kita dapat menggunakan bahasa yang baik, artinya yang serasi dengan situasi, tetapi yang tidak termasuk bahasa yang benar, yang betul, atau yang baku.
Pemakaian bahasa dengan benar tidak selalu diperlukan dan untuk sementara waktu kelahiran itu sulit dicapai oleh golongan niraksarawan dan semi-aksarawa. Yang penting bukan kebiasaan kita selalu berbahasa dengan betul, melainkan kemampuan kita menggunakan ragam itu di samping berbagai ragam bahasa yang tidak baku.
1. PERENCANAAN BAHASA
Perencanaan bahasa adalah perubahan bahasa yang disengaja, yaitu perubahan-perubahan dalam sistem kode bahasa atau ujaran atau kedua-duanya yang direncanakan oleh organisasi-organisasi yang didirika untuk tujuan itu atau diberi mandat untuk memenuhi tujuan-tujuan itu. Perncanaan bahasa mengacu pada seperangkat kegiatan yang disengaja, di rancang secara siistematik untuk mengorganisasi dan mengembangkan sumber-sumber bahasa dalam waktu yang direncanakan. Tujuan perencanaan bahasa terbatas pada saran dan anjungan atau rekomandasi yang aktif untuk mengatasi masalah pemakaian bahasa dengan cara yang paling baik.
Tugas perencanaan bahasa, ialah mencari norrma yang ideal yang didasarkan atas prinsip kejelasan, kehematan, dan keindahan. Bahasa lebih dari alat saja, bahasa antara lain juga merupakan ekspresi kepribadian dan lambang identitas yang tidak terttahluk secara mutlak pada hukum logika dan matematika
Masalah bahasa memperhatikan:
1. Tata hubungan antara kode bahasa dan ujaran
2. Tata hubungan kode bahasa dan pola perilaku kemasyarakatan yang lain 3. Hubungan antara bahasa verbal dan bukan verbal.
Dua dimensi di dalam perencanaan bahasa yaitu:
1) Perencanaan statuus bahasa, menyangkut penentuan kedudukan suatu bahasa dan tata hubunganya dengan bahasa lain
2) Perencanaan korpus bahasa antara laian meliputi ejan dan pembenntukan istilah.
Perencanaan bahasa merupakan kegiatan dasar bagi usaha pengembangan bahasa dan pembinaan bahasa. Iktisar tentang beberapa tafsiran teori perencanaan bahasa dewasa ini dalam masalah kebahasaan yang menjadai sasaranya, seperti kedudukan bahasa nasional, pembakuan bahasa, dan ketakpaduan di dalam pemakaian bahasa yang merupakan usaha untuk membimbing perkembangan bbahasa kearah yang di inginkan oleh perencana.
Perencanaan bahasa yang sifatnya menentukan pemilihan semacam itu hampir-hampir tidak terasa bagi negara kita, pada hal di negara- negara lain merupakan masalah yang gawat dan sering kali berbahaya. Kemudahan itu diperoleh berkat peristiwa sejarah. Penetapan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa resmi dan kemudian berkembang sebagai bahasa pengantar pendidikan.
penafsiran teori perencanaan bahasa dewasa ini dan masalah kebahasaan yang menjadi sasaranya, seperti kedudukan bahasa nasional, pembakuan bahasa, merupakan kegiatan dasar bagi usaha pengembangan bahasa dan pembinaan bahasa.
2. BAHASA DAN KEBUDAYAAN
Dalam teori dan praktek ilmu liguistik, bahasa sebagai objek penelitian dianggap sebagai suatu sistem otonom. Yang berdiri sendiri dengan dengan ciri atau aturannya yang tersendiri. Perlakuan bahasa seperti ini menghasilkan suatu gambaran bahwa bahasa itu memeng terwujud sebagai sesuatu dengan kehidupan sendiri yang tunduk kepada hukum-hukum sendiri.
Oleh karena itu bahasa dan kebudayaan pada satu pihak dianggap terdapat semacam oposisi dan pada pihak yang lain bahasa itu adalah suatu peristiwa kebudayaan pula, timbullah persoalan kebudayaan. Keraguan-keraguan akan bentuk dan sifat pertalian itu tertermin pada ungkapan-ungkapan dan masyarakat ,” Bahasa sebagai aspek kebudayaan”, Bahasa sebagai Cermin Kebudayaan”.Bagaimana persisnya jenis-jenis pertalian itu harus dipahami atau diartikan berbeda menurut disiplin yang bersangkutan .
Jadi, dari sudut pengetahuan ilmu liguistik pertalian itu lebih banyak mengenai komponan semantik, yaittu pola yang tampak pada makna kata-kata, hubungan antara kata dan benda dan kejadian yanga seakan-akan berada diluar bahasa, sedangkan dari sudut pengeliihatan antropologi pertalian itu ditentukan atas dasar anggapan bahwa bahasa itu merupakan suatu pranata sebagaimana halnya sistem kekerabatan, misalnya suatu pranata bagaimana halnya sistem kedududkan bahasa diberikan sedemikian rupa, baik ilmu liguistik maupun atropolgi lebih banyak menyibukkan diri dengan persoalan- persoalan yang menurut anggapannya masing-budaya suatu komuniti.
Teori-teori yang telah dikembangkan untuk menjelaskan bagaiman sebenarnya bentuk dan sifat pertalian antara bahasa dan kebudayaan itu digolongan menurut dua golongan beriku.
1) Teori yang berpangkal tolak pada bahasa:
a. stuktural yang yang ditemukan dalam bahasa dianggap berlaku pula bagi aspek-aspek kebudayaan lainya.
b. bahasa dianggap sebagai penentu utama pertalianya dengan kebudayaan.
2) Teori yang berpangkal tolak pada kebudayaan . Dalam hubungan ini, pertalianya dilihat sebagai konfigurasi faktor- foktor sosial budaya yang memberikan corak terhadap kedudukan, peranan, dan penggunaan bahasa. (penerbit Pionir Jaya,Bndung)
3. Bahasa sebagai komponen kebudayaan
Jikalau kita meninjau hubungan timbal – balik antara bahasa dan komponen kebudayaan , maka hubungan itu dapat diungkapkan menurut dua arah pengaruh , yaitu yang berasal dari komponen subjektif, dan berasal dari komponen material. Apabila arah semata-mata berasal dari lingkungan pusat, secara otoritis hal ini berarti bahwa bahasa secara murni dibentuk oleh proses pemikiran dan perasaan, sedangkan apabila arah pengaruh berasal semata- mata dair lingkungan luar, maka bahasa secara murni terbentuk sebagai akibat interaksi manusia dengan alam, dan antara manusia dengan manusia.
mengadakan perbedaan dan pertalian, baik pada lingkungan alamnya maupun pada lingkungan sosialnya. Dengan demikian, jelas bahwa sedikit- sedikitnya dalam masa pertumbuhan manusia kerah kedewasaaan arah pengaruh terhadap alam pikiran perasaan berasal dari bahasaa dengan akibat bahwa presepsi manusia terhadap dunia luar terbentuk oleh pengaruh itu. Namun, apabila manusia mencapai kedewasaan ia juga mampu mengadakan perubahan pada bahasanya atau pada lingkungan sosial dan lingkungan alamnya. Hal ini juga berarti bahwa perubahan pada lingkungan alamnya dan lingkunga sosialnya yang terjadi diluar campurnya dapat di tampung olehnya melalui penyesuainya pada kebudayaan materialnyaatau tehnologi, pada struktur sosialnya, pada bahasa , dan pada cara berpikirnya.
4. Bahasa dan Kebudayaan Indonesia
Bahasa yang mengonsepsikan seluruh isi alam pikiran manusia ke dalam lambang- lambang yang berwujud nyata merupakan unsur dalam tiap kebudayaan. Oleh karenaitu, untungnya bangsa dan negara yang sedang berkembang yang sudah mempunyai bahasa nasional. Kitabangsa Indonesia, merupakan bangsa yang sudah memiliki bahasa nasional yang secara mutlak telah diakui dan dipergunakan oleh semua warga negara Indonesia. Apabila dibandingkan dengan negara- negara seperti India, Filiphinna,bahkan Malaysia, kita merupakan bangsa yang sangat beruntung. Hanya sayang justru karena kita telah dikarunia dengan bahasa Indonesia seolah- olah secara alamiah sudah ada dengan sendirinya.
Usaha untuk memperbesar perhatian kita terhadap bahasa Indonesia tidak hanya akan mengamankan ekstensinya an memepercepat perkembanganya, tetapi oleh karena bahasa Indonesia itu merupakan unsur kebudayaan nasional Indonesia, maka busaha tadi juga akan amat membantu perkembangan kebudayaan nasional kita itu.
Agar suatu kebudayaan nasional dapat didukung oleh sebagian besar warga suatu negara , maka syarat mutlak adalah bahwa dibanggakan aleh warga negara yang mendukungnya. Hal itu perlu, karena kebudaayaan nasional harus dapat memberi identitas kepada warga negara tadi.
Sifat khas suatu kebudayaan memang hanya bisa dimanifestasikan dalam beberapa unsur yang terbatas dalam suatu kebudayaan, yaitu dalam bahasanya, kesenianya, dan dalam adat istiadat upacaranya. Sulit untuk menonjolkan sifat khas yang memberi identitas dalam sistem teknologi sulit, juga dalam ekonominya, dalam sistem kemasyarakatannya, serta dalam ilmu pengetahuan.
5. Penggunaan Bahasa Indonesia
Manusia mempergunakan bahasa sebagai sarana komunikasi vital dalam hidup. Pada prinsipnya kita sangat diharapkan terampil dalam mempergunakan bahasa yang kita miliki, yang jadi masalah yaitu kebahasaan sebagai kompetensi keterampilan berbahasa, yang perumusan dan dasar penggarapanya perlu dicakup oleh kebijaksanaan nasional di dalam bidang kebahasaan, sebagai fungsi dan kedudukan bahasa Indonesia. Setiap bangsa pada hakikatnya memerlukan bahasa nasional, yaitu bahasa yang dapat mengkomunikasikan seluruh bangsa. Tetapi dalma kenyataanya tidak semua bangsa memiliki bahasa semacam itu. Oleh sebab itu dimilikiny satu bahasa nasional oleh suatu bangsa merupakan suatu hal yang tiada ternilai harganya.
kemantapan struktur dan ketetapan fungsi. Sedangkan yang kedua mengarah kepada pembinaan sikap mental pemakainya, sehingga diperoleh sikap positif terhadap pembinaan yang dilakukan lewat jalur pertanma.
KESIMPULAN
Bahasa adalah alat komunikasi utama, dan dengan bahasa manusia dapat mengungkapkan pikiran dan perasan kepada orang lain.Bahasa mmemungkinkan untuk membangun kebudayaan serta menguasai ilmu pengetahuan dan dengan demikian meningkatkan mutu kehidupanya. Dan dapat dikatakan bahwa bahasa dapat memberikan manusia identitasanya, untuk menentukan posisinya di dalam dunia dan membentuk pandanganya tentang dunianya.
Sehingga” bahasa sebagai aspek kebudayaan, bahasa dan aspek- aspek lain dari kebudayaan, bahasa sebagai pendukung kebudayaan dan sebaliknya.