• Tidak ada hasil yang ditemukan

HAMA HAMA PADA TANAMAN BUNGA LAWANG Ilic

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HAMA HAMA PADA TANAMAN BUNGA LAWANG Ilic"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

HAMA-HAMA PADA TANAMAN BUNGA LAWANG (Ilicium verum L.)

PAPER

OLEH : ARDINA 130301074

AGROEKOTEKNOLOGI – HPT

MATA KULIAH HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN HORTIKULTURA

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikanPaper ini tepat pada waktunya.

Adapun judul dari Paper ini adalah “Hama-hama Pada Tanaman Bunga Lawang”yang merupakan salah satu sayarat untuk dapat memenuhi komponen penilaian pada mata kuliah Hama dan Penyakit Tanaman Hortikultura di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ameilia Zuliyanti Siregar, S.Si., M.Sc., Phd selaku dosen mata kuliah Entomologi yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan paper ini.

Penulis menyadari bahwa paper ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun demi terciptanya Paper yang lebih baik kedepannya.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga Paper ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Oktober 2016

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i DAFTAR ISI ... ii PENDAHULUAN

Latar Belakang ... 1 Tujuan Penulisan ... 2 Kegunaan Penulisan... 2 HAMA-HAMA PADA TANAMAN BUNGA LAWANG (Ilicium verum L.) KESIMPULAN

(4)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Bunga lawang atau Kembang Lawang atau pekak adalah rempah yang memiliki rasa yang mirip dengan Adas manis. Rempah ini banyak digunakan di dalam masakan negara-negara Asia. Bunga lawang adalah salah satu bumbu tradisional masakan Cina yaitu ngo hiong yang terdiri dari lima jenis rempah. Nama Bunga Lawang dalam Bahasa Tionghoa adalah ba jiao atau bat gok yang memiliki arti "delapan tanduk", sesuai dengan bentuknya yang memiliki delapan kelopak. Bunga Lawang mempunyai bau khas yang kuat. Dari asalnya di Tiongkok, rempah ini mulai diperkenalkan di Eropa pada awal abad ke-17 dan sejak saat itu mulai meraih popularitas. Minyak yang dihasilkan dijadikan bahan perisa dalam minuman. Bunga Lawang sebenarnya bukannya bunga, ia adalah buah yang dihasilkan oleh sejenis pohon kecil. Tinggi pohonnya bisa mencapai 8 meter. Ia mempunyai bunga yang cantik berwarna kuning. Bunga lawang berkembang-biak melalui biji benih. Buahnya dipetik sebelum ranum dan dikeringkan dengan bantuan cahaya matahari (FAO 2007).

(5)

Kendala utama dalam meningkatkan produksi tanaman bunga lawang di daerah tropis adalah serangan hama dan tungau. Hama utama bunga lawang diantaranya adalah penggerek pucuk dan buah terong,wereng daun, kutu putih (whitefly), thrips, aphid. Untuk melindungi tanaman terong para petani masih bertumpu pada penggunaanpestisida, misalnya di Philipina petani bunga lawang menggunakan pestisida selama satu musim dapat mencapai 56 kali penyemprotan dengan jumlah pestisida lebih kurang 41 literpestisida dari berbagai merek dagang

yang dikelompokkankedalam empat kelompok pestisida (Orden et al. 1994).

Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui hama-hama pada tanaman bunga lawang (Ilicium verum L)

Kegunaan Penulisan

(6)

HAMA PADA TANAMAN BUNGA LAWANG (Ilicium verum L) 1. Kutu kebul (Bemisia tabaci Gennadius) (Hemiptera: Aleyrodidae)

Kutu kebul (kutu putih) terdistribusi luas didaerah tropik dan subtropik serta di daerah temperate ditemukan di rumah kasa.B. tabaci bersifat polifagus dan memakan tanaman sayurandiantaranya tomat, terong, tanaman di lapangan dan gulma.Kondisi kering dan panas sangat sesuai bagi perkembangan kutuputih, sedangkan hujan lebat akan menurunkan perkembangan populasi kutu putih dengan cepat. Hama ini aktif pada sianghari dan pada malam hari berada dibawah permukaan daun.

Biologi

Telur: Serangga Betina umumnya meletakkan telur di bawahpermukaan daun di dekat venasi daun. Hama ini lebihmenyukai permukaan daun yang banyak berbulu untukmeletakkan telurnya lebih banyak.Seekor betina selamahidupnya dapat meletakkan telur kira-kira 300 butir.Telurberukuran kecil kira-kira 0.25 mm, bebentuk seperti buah pir,dan diletakkan dibawah permukaan daun secara vertical melalui pedicel.Telur yang baru diletakkan berwarna putihdan kemudian berubah menjadi kecoklatan.Telurtidak mudah dilihat dengan mata telanjang dan hanya dapat dilihatdibawah mikroskop atau kaca pembesar. Fase telur berlangsung kirakiratiga sampai lima hari pada musim panas dan 5 sampai 33 hari padamusim dingin (David 2001).

Nimfa: Setelah menetas larva instar pertama (nimfa)pindah dari permukaan daun ke lokasi yang sesuai untuk diamakan. Nimfa stadia ini disebut juga dengan “crawler.”Nimfatersebut segera menusukkan mulutnya dan mengisap

(7)

mata dan tiga pasang kaki yang sudah berkembang dengan baik. Nimfa berbentuk oval,pipih dan berwarna hijau kekuning-kungan.

Gambar 13: Mata merah pada nimfa Bemisia tabaci

Gambar14: Dewasa Bemisia tabaci

Nimfa instar kedua dan ketiga tidak mempunyai kaki dan tidakbergerak selama stadia ini. Stadia nimfa terakhir mempunyaimata yang berwarna merah.Stadia ini kadangkadangmirip dengan puparium walaupun pada seranggaHemiptera merah tidak mempunyai stadia pupa yang nyata(metamorphosis tidak sempurna). Lamanya periode nimfaberkisar antara 9 sampai 14 hari pada musim panas dan 17sampai 73 hari (David 2001). Serangga dewasa keluar daripuparia melalui celah berbentuk huruf T, dan beradadisamping bekas kerabang kulit pupa atau eksuvi.

(8)

tenda.Serangga jantan sedikit lebih kecildibandingkan serangga betina.Serangga dewasa dapat hidupselama satu sampai tiga minggu.

Gejala serangan

Baik nimfa maupun serangga dewasa mengisap cairan tanamandan mengurangi vigor tanaman.Pada saat serangan berat daunberubah menjadi kuning dan kemudian gugur. Jika populasihama ini tinggi (Gambar 15) maka akan terlihat embun tepungyang berasal dari sekresi serangga. Embun tepung merupakantempat yang baik untuk berkembangnya jamur jelaga pada daun tanaman sehingga akan mengurangi efisiensifotosintesa dari tanaman.

Pengelolaan

Kutu kebul merupakan serangga polifagus dan untukkehidupannya memakan banyak tanaman baik yangdibudidayakan maupun gulma. Dilapangan tanamanterong ataupun benih yang akan digunakan harus bersihdan ditanam tidak berdekatan dengan inangnya dangulma.

Tanamlah bibit tanaman terong didalam rumahkasa(50–64 mesh), rumah sereh, naungan ataurumah plastik.

Jika benih kecambah ditanam di lapangan terbuka, gunakan perangkap kuning rata-rata 1-2perangkap/50-100 m2 untuk memerangkap kutu kebul.Pasang perangkap sedikit diatas atau sejajardengan tingginya kanopi tanaman.

Bersihkan gulma pada areal pembibitan terong untuk mengurangi inang alternatif kutu kebul.

(9)

Formulasi neem dan imidakloprid (jika ada ) dapatdiaplikasikan ke tanah dalam bentuk larutan untukmengendalikan kutu kebul di tempat pembibitan.

Gunakan pestisida sistemik sesuai dengan rekomendasi penyuluh pertanian setempat. Jangan gunakan kelompok pestisida yang mempunyai senyawa yang sama secara terus menerus untuk mencegah timbulnya resistensi terhadap pestisida

2. Thrips (Thrips palmi Karny) (Thysanoptera: Thripidae)

Gambar 17: Thrips palmi dewasa

(10)

Pengelolaan

Walaupun T. palmi bersifat phitopagous tetapi serangga ini lebih menyukai memakan tanaman labu-labuan. Tanaman bunga lawang yang dilapangan dan pembibitannya harus terletak lebih jauh dari tanaman labu-labuan.

Tanamlah bibit tanaman bunga lawang didalam rumahkasa(50–64 mesh), rumah sereh, naungan atau rumah plastik terutama pada musim kering.

3. Aphid (Aphis gossypii Glover) (Hemiptera: Aphididae) Gejala kerusakan

Walaupun A. gossypii bersifat polifag, tetapi serangga inilebih menyukai tanaman kapas dan sayuran cucurbitaceae.Serangga ini lebih umum dikenal dengan “aphid kapas” atau“aphid melon.”Baik nimfa maupun serangga

dewasamempunyai tipe mulut menusuk dan mengisap.Serangga inimengisap cairan tanaman dan ditemukan dalam jumlah yangbanyak pada pucuk yang masih lunak atau di bawah permukaandaun. Kerusakan ringan akan menyebabkan daun menguning.

(11)

Pengelolaan

Meskipun A. gossypii merupakan serangga polifag tetapi serangga ini lebih menyukai cucurbits dan kapas.Oleh karena itu pilihlah lokasi tempat pembibitan terong yang jauh dari tanaman kapas dan cucurbits.

Tanamlah bibit tanamanbunga lawang di dalam rumah kasa (50–64 mesh), rumah sereh, naungan atau rumah plastik untuk menghindari dari serangan Aphid.

Kumbang predator (Menochilus sp. and Coccinellasp.) dan green lacewings merupakan predator aphid. Untuk menjaga populasi dari kumbang predator ini janganlah menggunakan pestisida yang berspektrum luas. Perbanyakan dan pelepasan kumbang predator sebanyak 200 pasang per ha setiap malam akan menekan populasi aphid.

A. gossypii dapat menjadi resisten terhadap pestisida.Gunakan pestisida sesuai dengan rekomendasi penyuluh pertanian setempat. Jangan gunakan kelompok pestisida yang mempunyai senyawa yang sama secara terus menerus untuk mencegah timbulnya resistensi terhadap pestisida.

4. Kumbang lembing (Epilachna dodecastigma (wiedemann)) and (E. vigintioctopunctata Fabricus) (Coleoptera: Coccinellidae)

Gejala kerusakan

(12)

Pengelolaan

Pilihlah tanaman yang tahan atau agak tahan yangterdapat di masing-masing daerah. Diskusikan dengan Penyuluh pertanian setempat jika ada tanaman bunga lawang yang agak tahan terhadap hama ini.

Semua stadia serangga ditemukan pada permukaan daun.Baik larva maupun serangga dewasa sangat mudah ditemukan pada tulang-tulang daun.

Jika bunga lawang ditanam pada lahan yang terbatas,tangkap serangga tersebut dan musnahkan.

Jagalah parasitoid telur, Pediobius foveolatus (Crawford).Kurangi penggunaan pestisida sintetik untuk menjaga jangan terbunuhnya parasitoid.

Jika dibutuhkan, semprot dengan pestisida selektif setelah berkonsultasi dengan penyuluh pertanian setempat.

5. Tungau merah (Tetranychus urticae Koch) (Acarina: Tetranychidae) Pengelolaan

Beberapa predator tungau merah terdapat diberbagai negara, misalnya Stethorus spp., Oligota spp.,

(13)

predator dan menyebabkan ledakan populasi tungau merah. Oleh karena itu hindari penggunaan pestisida yang berspektrum luas.

Predator tungau merah seperti Phytoseiulus persimilis Athias-Henriot dan beberapa jenis Amblyseius, terutamaA. womersleyi Schicha dan A. fallacies Garman dapat digunakan untuk mengendalikan tungau merah.Predatorini lebih efektif bila kelembaban tinggi dapat dijaga.

Green lacewings (Mallada basalis Walker danChrysoperla carnea Stephens) juga efektif sebagai predator umum tungau merah.Larva instar tiga dari C.

Carnea dapat memakan 25–30 tungau merah per hari,namun dibutuhkan ketersediaan makanan sepanjang hidupnya (Hazarika et al. 2001).

Semprot dengan akarisida sesuai dengan rekomendasi daerah. Biasanya Macrocyclic lactones (contoh:avermectins and milbemycins) cukup efektif . Namun demikian penggunaan akarisida secara terus menerusakan menyebabkan tungau menjadi resisten. Gunakan jenis pestisida secara bergantian sesuai dengan rekomendasi penyuluh setempat.

6. Rayap Tanah (Coptotermes curvignathus)

Siklus hidup perkembangan rayap adalah melalui metamorfosa hemimetabola, yaitu secara bertahap, yang secara teori melalui stadium (tahap pertumbuhan) telur, nimfa, dewasa. Walau stadium dewasa pada serangga umumnya terdiri atas individu–individu bersayap (laron) (Tarumingkeng, 2001).

Menurut Nandika dkk (2003) sistematika dari rayap (C. curvinagthus) adalah sebagai berikut :

(14)

Ordo : Isoptera

Famili : Rhinotermitidae Genus : Coptotermes

Spesies : Coptotermes curvinagthus Holmgren

Panjang telur bervariasi antara 1-1,5 mm. Telur C. curvignathus akan menetas setelah berumur 8-11 hari. Jumlah telur rayap bervariasi, tergantung kepada jenis dan umur. Saat pertama bertelur betina mengeluarkan 4-15 butir telur. Telur rayap berbentuk silindris, dengan bagian ujung yang membulat yang berwarna putih. Telur yang menetas yang menjadi nimfa akan mengalami 5-8 instar (Nandika dkk, 2003).

Nimfa yang menetas dari telur pertama dari seluruh koloni yang baru akan berkembang menjadi kasta pekerja. Kasta pekerja jumlahnya jauh lebih besar dari seluruh kasta yang terdapat dalam koloni rayap. Waktu keseluruhan yangdibutuhkan dari keadaan telur sampai dapat bekerja secara efektif sebagai kasta pekerja pada umumnya adalah 6-7 bulan. Umur kasta pekerja dapat mencapai 19- 24 bulan (Hasan, 1986).

(15)

Gejala Serangan

Serangan rayap pada berbagai spesies tanaman seringkali menyebabkan terjadinya penurunan hasil bahkan menyebabkan kematian pada tanaman inang sehingga menimbukan kerugian ekonomis yang sangat besar. Tingkat kerusakan akibat seranngan rayap dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya adalah tingkat preferensi rayap terhadap jenis tanaman, tingkat kesehatan tanaman dan kondisi tempat tumbuh (Nandika dkk, 2003).

Rayap Coptotermes curvignatus menyerang batang pohon . Serangan rayap ini hampr dijumpai pada semua jenis tanah dan serangannya menghebat setelah penutupan tajuk. Adanya serangan hama ini baru diketahui ketika bagian kulit pohon yang terserang ditutupi oleh tanah. Namun demikian pada saat itu, kerusakan yang terjadi telah cukup parah sehingga sulit untuk ditanggulangi. Pohon yang terserang C. curvignathus tidak menunjukkan gejala awal yang jelas kecuali pda saat pohon akan mati yang ditunjukkan oleh perubahan warna daun.

Pada umumnya, bagian pangkal batang pohon yang Rayap sering menimbulkan kerusakan pada tanaman karet dengan cara menggerek batang dari ujung stum hingga akar sehingga mata okulasi tidak dapat tumbuh lagi. Rayap juga memeakan akar sehingga pertumbuhan tanaman merana dan akhirnya mati. Rayap membangun sarangnya di tunggul-tunggul pohon kayu dibawah permukaan tanah. Jika tidak dikendalikan, maka serangannya akan semakin meluas dan menggerogoti tanaman karet sekitarnya (Setiawan dan Andoko, 2005).

Pengendalian Rayap

(16)

melalui penyemprotan, atau pencampuran termisida dalam bentuk serbuk atau granula dengan tanah. Teknik penyuntikan pada bagian pohon atau sistem perakaran tanaman yang terserang atau dengan cara penyiraman disekitar tanaman (Nandika dkk, 2003).

Pengendalian rayap dengan menggunakan formulasi umpan racun rayap. Termitisida dalam bentuk umpan racun bersifat lebih ramah lingkungan, karena target umumnya bersifat spesifik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa beberapa umpan racun dapat mengeliminasi anggota koloni rayap tanah.

Cara Pengendalian dengan metode ini diperkirakan akan menjadi metode andalan pengendalian rayap masa depan. Dalam hal metode pengumpanan, insektisida yang digunakan dikemas dalam bentuk yang disenangi rayap sehingga menarik untuk dimakan (Iswanto, 2005).

Pengendalian rayap umumnya dilakukan secara konvensional, yaitu dengan lebih mengutamakan insektisida, bahkan sering dilakukan aplikasi terjadwal tanpa didahului dengan monitoring populasi rayap. Cara ini tidak efisien karena seluruh areal tanaman diaplikasi dengan insektisida. Disamping memboroskan uang, juga akan menimbulkan dampak buruk berupa pencemaran lingkungan (Purba dkk, 2002).

(17)

pengendalian rayap yang lain memiliki keunggulan antara lain: tidak mencemari tanah, sasaran bersifat spesifik, dan memudahkan pengambilan sampel (French, 1994).

7.

KEPIK

(

Diconocoris

hewetti

(Dist.)

(HEMIPTERA:

TINGIDAE)

Kepi!< renda lada (KRL), Diconocoris hewetti (Dist.) (Hemiptera: Tingidae), adalah salah satu ham. pada pertanaman lada di Indonesia. Serangan kepik renda pertama kali dilaporkan teIjadi di Pulau Bangka pada tabun 1930-an (Kalshoven1981).

Hama ini menimbulkan kerusakan pada "maman dengan cara mengisap bulir bunga !ada sehingga menggagalkan pembuahan. Pengamatan Asnawi (I992) menunjukkan bahwa kerusakan bulir bunga lada oleb D. hewetti berkisar 10-20"/0. Oi Serawak KRL mengakihatkan kerusakan bulir bunga 3()"'50"/o

(Rothschild 1968).

Penelitian tentang kehidupan KRL dirintis oleh van dec Vecht (1934) yang kemudian dilengkapi oleb Rotcbild (1968). Dilaporkan bahwa telur herwarna bening kekuningan. berbentuk ionjong, berukuran panjang 0.75 nun dan lebar 0.22 mm lebar, serta biasanya diletakkan di antara tonjolan bunga pada bulir bunga. Nimfa terdiri dari lima instar dengan total masa perkembangan 19 hari.

(18)

mengkaji pengaruh perbedaan varietas lada terhadap biologi dan parameter demografi kepik renda lada.

8. Penggerek Batang, L. piperis Marsh . ( Coleoptera : Curculionidae ) Kumbang dewasa disebut gagaja atau kumbang moncong, menyerang bunga, buah, pucuk,daun, dan cabang-cabang muda. Kerusakan terberat akibat hama ini adalah serangan larva dengan cara menggerek batang atau cabang tanaman sehingga mengakibat-kan kematian bagian atas batang atau cabang terserang. Daerah sebarannya hampir pada seluruh pertanaman lada di Indonesia (Kalshoven, 1981).

Serangga L. piperis sampai saat ini hanya diketahui dapat hidup dan berkembang biak pada tanaman keluarga Piperaceae, terutama genus Piper yang dikatagorikan sebagai sirih - sirihan .Hampir pada semua genus Piper serangga ini mampu hidup dan berkembang biak walaupun setiap spesies dari anggota genus ini memiliki berbagai tingkat ketahanan yang berbeda terhadap penggerek tersebut. Namun demikian tanaman inang utama yang paling sesuai adalah P. methysticum Forst.,dan P. nigrum L.

GEJALA SERANGAN

(19)

utama dapat mengakibatKan batang utama dapat kehilangan hasil sekita 43,8% atau bahkan tanaman mengalami kematian total bila seluruh batang utama yang terdapat pada bagian paling rendah dari tanaman terserang. Serangan pada dua cabang buah selalu diikuti dengan serangan larva pada satu batang utama, yang diperkirakan dapat mengakibatkan kehilangan hasil sekitar 16,5% (Deciyanto et al.,1986).

GEJALA KERUSAKAN

Pengerek Batang Lada dapat menyerang tanaman sejak dipembibitan hingga tanaman produktif. Serangga ini menyerang bunga muda dengan cara mengisap cairan Nimpa dan serangga dewasa mengisap bunga dan tandan bunga Serangan ringan tandan bunga rusak , buah sedikit. Serangan berat , seluruh bunga rusak , tangkai hitam dan gugur . Serangga dewasa makan dan merusak bunga, buah, batang, dan daun muda.Larva menggerek batang dan cabang , yang menyebabkan kematian tanaman di bagian atas gerekan. Serangan larva pada satu batang utama dapat mengakibatkan kehilangan hasil 43%, sedangkan serangan lanjut pada batang utama menyebabkan kematian tanaman (Deciyanto et al. 1986)..

UPAYA PENGENDALIAN PENGGEREK BATANG LADA

Pengendalian hama pada dasarnya adalah masalah ekologi. Oleh karena itu pengendalian hama lada yang efektif harus dimulai dari pendekatan ekologi yaitu dengan melakukan ;.

(20)

sebaiknya dilakukan secara berkala untuk menentukan teknik pengendalian yang tepat.

di lapangan, apabila menjumpai kumbang dewasa penggerek maka sebaiknya kumbang tersebut diambil dan dikumpulkan dalam kantong plastik. Pengumpulan kumbang dapat juga dilakukan dengan menggoyang - goyang tanaman sehingga kumbang yang tidak terlihat akan berjatuhan dan dapat ditampung, misalnnya: dengan kain atau karung plastik. Kumbang yang terkumpul segera dimusnahkan atau dimatikan. Memotong cabang yang terserang kemudian dimasukkan ke dalam karung dan dibawa keluar kebun lalu dibakar.

pemangkasan ( jika menggunakan tiang panjat hidup ), penyiangan terbatas, pemupukan, penanaman tanaman penutup tanah dan penggunakan varietas resisten

berwawasan lingkungan .Musuh alami yang potensial adalah parasitoid dan jamur patogen serangga. Jenis parasitoid yang memarasit kumbang penggerek batang ini adalah Spathius piperis, Euderus sp., Dinarmus coimbatorensis dan Eupelmus curculionis. Jamur patogen serangga yang dapat dimanfaatkan adalah Beauveria bassiana, Metarrhizium anisopliae, Konidia B.bassiana .dapat diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada kanopi, ditaburkan pada permukaan tanah atau

(21)

9. Penghisap buah (Dasynus piperis)

Hama penghisap buah lada (Dasynus piperis) termasuk keluarga Coreidae dari famili Hemiptera yang memiliki tipe mulut menusuk menghisap. Hama yang menyerang buah lada adalah stadia nimfa (serangga muda) dan imago (serangga dewasa). Siklus hidup hama penghisap buah lada dari telur hingga serangga dewasa ± 45-60 hari. Serangga betina dewasa dapat bertelur ± 160 butir dan berlangsung selama ± 10 minggu.

Serangga dewasa betina bertelur pada siang hari. Telur berwarna coklat tua dan berbentuk oval. Telur diletakkan pada permukaan daun, cabang tanaman, tandan buah muda, berjajar 2-4 butir, atau berkelompok 8-10 butir. Telur terdapat paling banyak pada bagian tengah tajuk tanaman lada.

Hama stadia nimfa dan imago menusuk dan menghisap cairan buah lada. Serangan pada buah lada muda menyebabkan tandan buah banyak yang kosong (kopong), sedangkan serangan pada buah tua menyebabkan buah menjadi hampa, kering dan gugur.

Nimfa ditemukan lebih banyak di buah dibandingkan di daun dan pucuk. Serangga dewasa dapat hidup ± 3 bulan dan bila diganggu akan mengeluarkan bau tidak sedap. Nimfa dan imago tidak suka sinar matahari langsung karena itu aktif makan pada pagi dan sore hari.

(22)

mempertahankan hidupnya, sehingga bagian tanaman tersebut terhambat pertumbuhannya.

Hama penghisap buah lada dinilai merugikan apabila ditemukan minimal 3 telur/nimfa/imago per tanaman di satu kebun pengamatan dan harus segera dilakukan tindakan pengendalian.

Hama penghisap buah lada (Dasynus piperis) atau yang biasa dikenal dengan berbagai nama seperti kepik, kepinding, walangsangit menjadi salah satu hama penting yang membuat petani lada menjadi geram, karena kehilangan produksi akibat serangan hama ini dapat mencapai 14% bahkan mencapai 36% bila serangan berat. Serangan hama tertinggi terjadi pada saat buah lada berumur 4-9 bulan yang merupakan sumber makanan hama yang paling disukai. Pada periode umur buah lada tersebut, serangga betina dapat hidup lebih lama, bertelur lebih banyak, persentase telur menetas lebih tinggi yang kemudian menjadi imago.

Fluktuasi populasi hama tidak begitu dipengaruhi oleh iklim (curah hujan, kelembaban dan temperatur) namun lebih ditentukan oleh tersedianya kualitas makanan dan musuh alaminya.

(23)

a.) Kultur teknis: pembersihan gulma tidak dilakukan total, tetapi hanya sekitar tanaman (piringan), karena gulma masih mempunyai peranan menjamin tersedianya madu dan nektar bagi kelangsungan hidup parasitoid hama. Pada akhir panen dilakukan rampasan buah (± buah tinggal 5%) untuk meniadakan sumber makanan yang disukai oleh hama.

b.) Menanam varietas bunga lawang yang hanya berbuah 1 kali setahun, jangan tanam lada varietas Chunuk yang berbuah sepanjang tahun untuk memutus siklus hama.

c.) Penggunaan musuh alami berupa parasitoid telur seperti Anastatus dasyni Ferr, Gryon homoeoceri Nix, Oeencyrtus malayaensis Ferr, mampu memparasitoid telur hama hingga 10-88% di Bangka. Bunga Arachis pintoi merupakan salah satu sumber nutrisi bagi musuh alami tersebut. Namun penutup tanah tersebut perlu dikelola secara baik sehingga fungsi konservasi musuh alami menjadi lebih efektif. Konservasi parasitoid dengan melakukan penyiangan terbatas lebih dianjurkan daripada penyiangan bersih.

(24)

e.) Penyemprotan dengan insektisida kimiawi menjadi alternatif terakhir dan dilaksanakan apabila populasi hama sudah di atas ambang toleransi serta musuh alami tidak mampu mengendalikan serangan hama. Penyemprotan dapat dilakukan 2-3 kali dengan interval waktu 1-2 bulan sekali. Contoh insektisida sintetis (bahan aktif) yang dapat digunakan seperti MIPC, BPMC, pyretroid, methamidophos, betacyfluthrin.

10. Biologi Hama Kepik Pengisap Buah (Helopeltis theivora) (Hemiptera: Miridae)

Menurut Kalshoven (1981) Helopeltis spp dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom : Animalia,Filum : Arthropoda, Kelas : Insecta, Ordo : Hemiptera, Famili : Miridae, Genus : Helopeltis, Spesies : Helopeltis spp

Serangga ini mempunyai tipe metamorfosa sederhana, terdiri dari telur, nimfa dan imago.Telur berbentuk lonjong, berwarna putih, pada salah satu ujungnya terdapat sepasang benang yang tidak sama panjangnya. Telur diletakkan pada permukaan buah atau pucuk dengan cara diselipkan di dalam jaringan kulit buah ataupucuk dengan bagian ujung telur yang ada benangnya menyembul keluar. Stadium telur berlangsung antara 6-7 hari (Karmawati, 2006)

(25)

Gejala Serangan

Selain menyerang buah, serangga ini juga menyerang pucuk tanaman bunga lawang dengan cara menghisap cairan bagian tanaman tersebut. Serangan pada buah tua tidak terlalu merugikan, sedangkan serangan pada buah muda dan pucuk dapat menyebabkan kematian pucuk dan buah muda tersebut. Perkembangan dari telur hingga menjadi dewasa 21-24 hari. Telur berwarna putih berbentuk lonjong, diletakkan pada tangkai buah, jaringan kulit buah, tangkai daun, buah atau ranting. Lama periode telur 6-7 hari (Karmawati, 2006)

Kepik penghisap buah (Helopeltis spp) merupakan anggota dari ordo hemiptera dengan tipe mulut haustelata dan metamorphosis paurometabola. Pada umumnya bagian yang diserang adalah bagian buah. Hama ini bertubuh kecil ramping, betina dewasa meletakkan telur 67-229 butir. Haina ini merusak daun muda, tangkai daun, pucuk, dan buah yang mendekati matang. Gejala berupa bekas tusukan berwarna hitam, kulit buah mengeras dan kering, serangan pada buah muda, buah kering dan mudah rontok. Buah kakao yang terserang tampak bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman dengan ukuran bercak relatif kecil (2-3 mm) dan letaknya cenderung di ujung buah. Serangan pada buah muda menyebabkan buah kering dan mati, tetapi jika buah tumbuh terus, permukaan kulit buah retak dan terjadi perubahan bentuk. Bila serangan pada pucuk atau ranting menyebabkan daun layu, gugur kemudian ranting layu mengering dan meranggas (Karmawati et al, 2010)

Pengendalian

(26)

1. menggunakan semut hitam, Dolichoderus thoracicus. Semut hitam mengganggu Helopeltis spp. semut ini pada permukaan buah menyebabkan Helopeltiss hingga tidak bisa meletakkan telur atau mengisap buah karena diserang oleh semut - semut tersebut. Peningkatan populasi semut dapat dilakukan dengan meletakkan lipatan daun kelapa kering yang berfungsi sebagai sarang semut. Selain dengan semut hitam,

2. pengendalian hama ini dapat juga dilakukan dengan menggunakan semut rangrang (Oecophyllasmaragdina) yang berwarna merah coklat. Untuk menghadirkan semut rangrang dapat dilakukan dengan menempatkan atau memindahkan koloni semut rangrang dari tempat lain atau dengan menaruh bangkai binatang pada pohon untuk menarik semut rangrang. Pemanfaatan semut hitam dan semut rangrang dalam pengendalian Helopeltis spp telah diaplikasikan pada tanaman jambu mete dan hasilnya cukup memuaskan (Karmawati et al, 2004).

(27)

DAFTAR PUSTAKA

Alam SN, Hossain MI, Rouf FMA, Jhala RC, Patel MG, Rath LK, SenguptaA, Baral K, Shylesha AN, Satpathy S, Shivalingaswamy TM, Cork A,Talekar NS. 2006. Implementation and promotion of an IPM strategyfor control of eggplant fruit and shoot borer in South Asia. TechnicalBulletin No. 36.AVRDC publication number 06-672.AVRDC –The World Vegetable Center, Shanhua, Taiwan.74 p.

Alam SN, Dutta NK, Ziaur Rahman AKM, Sarker MA. 2006a. Annualm Report 2005-2006.Division of Entomology, BARIJoydebpur, Gazipur, 86 pp. Alam SN, Rashid MA, Rouf FMA, Jhala RC, Patel JR, Satpathy

Anupam V, Raychaudhuri SP, Chenulu VV, Singh S, Ghosh SK, PrakashN. 1975. Yellows type of diseases in India: Eggplant littleleaf. Proceedings of Indian National Science Academy B(Biological Sciences) 41(4): 355-361. CAB International. 2007. Crop Protection Compendium.

http://www.cabicompendium.org/NamesLists/CPC/Full/EMPOBI.htm (accessedon October 30, 2009)

David BV. 2001. Elements of Economic Entomology (Revised andEnlarged Edition). Popular Book Depot, Chennai, India.590 p.[FAO] Food and Agriculture Organization. 2007. FAOSTAT. http://faostat.fao.org [accessed 3 April 2009].

Hanson PM, Yang RY, Tsou SCS, Ledesma D, Engle L,Lee TC. 2006. Diversity in eggplant(Solanum melongena) for superoxidescavenging activity, total phenolics, and ascorbic acid. Journal of Food Composition and Analysis19(6-7): 594-600.

(28)

Ho CC. 2000. Spider-mite problems and control in Taiwan. Experimentaland Applied Acarology 24: 453-462.

Karmawati, E. 2010. Pengendalian hama Helopeltis spp pada tanaman jambu mete berdasarkan ekologi; Strategi dan implementasinya .Pengembangan Inovasi Pertanian 3 (2): 102- 119.

Kardinan A. 2002. Botanical Pesticide; Formulasi dan aplikasi. Jakarta, Indonesia. : PT.Penebar Swadaya.

Lall BS, Mandal SC. 1958. Inheritance of spot-variation in Epilachna(Coleoptera: Coccinellidae). Current Science 27: 458.Mound LA. 1996. The Thysanoptera vector species of tospoviruses. ActaHorticulturae 431: 298-309.

Orden MEM, Patricio MG, Canoy VV. 1994. Extent of pesticide use invegetable production in Nueva Ecija: Empirical evidence and policyimplications. Research and Development Highlights 1994, CentralLuzon State University, Republic of the Philippines. p. 196-213.

Parker BL, Talekar NS, Skinner M. 1995. Field guide: Insect pests of selected vegetables in tropical and subtropical Asia. Asian VegetableResearch and Development Center, Shanhua, Tainan, Taiwan, ROC.Publication no. 94-427. 170 p.

Gambar

Gambar 13: Mata merah pada nimfa  Bemisia tabaci
Gambar 17: Thrips palmi dewasa

Referensi

Dokumen terkait

Pada Tugas Akhir ini menghasilkan simulasi yang menampilkan proses modulasi OFDM dengan BPSK, Sehingga dapat dilihat perubahan sinyal yang terjadi pada setiap blok diagram..

• Nalika ndeleng potret utawa video saka salah sijine album Facebook™, tutul layar kanggo nampilake toolbar, banjur tutul kanggo nuduhake yen sampeyan &#34;Seneng&#34; karo item

Output dari inverter satu fasa dihubungkan ke transformator multi belitan dengan jumlah belitan pada sisi sekunder sesuai dengan level tegangan output multilevel inverter

heksana menghasilkan lunularin ( 1 ) (135 mg) berupa kristal putih mengkilap, yang homogen pada KLT menggunakan tiga sistem eluen yang berbeda, dengan titik leleh 105-106 o C..

Data latih untuk Teorema Bayes membutuhkan paling tidak perkalian kartesius dari seluruh kelompok atribut yang mungkin, jika misalkan ada 16 atribut yang

Keberadaan Perguruan Pencak Silat PSHT sejak berdirinya sampai sekarang, rasa persaudaraan yang ditanamkan oleh PSHT ternyata membawa dampak terhadap keberadaan

Perubahan sosial ekonomi masyarakat Nagari Talang Kubu Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan tahun 1995 – 2014 mengalami perubahan yang berarti, hal ini dapat dilihat

Reptilia (hewan melata), memiliki ciri : tubuh terbuat dari sisik yang terbuat dari zat tanduk, respirasi dengan paru-paru,poikiloterm, mengalami pergantian kulit