Pengertian Zina dan Hukum - Hukum Berzina
Pengertian :
Zina (Bahasa Arab : انزلا, bahasa Ibrani: ףואינ - zanah) adalah perbuatan bersanggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat oleh hubungan pernikahan (perkawinan). Secara umum, zina bukan hanya di saat manusia telah melakukan hubungan seksual, tapi segala aktivitas-aktivitas seksual yang dapat merusak kehormatan manusia termasuk zina. (wikipedia)
Zina menurut pandangan Agama:
Di dalam Islam, pelaku perzinaan dibedakan menjadi dua, yaitu pezina muhshan dan ghayru muhshan. Pezina muhshan adalah pezina yang sudah memiliki pasangan sah (menikah), sedangkan pezina ghayru muhshan adalah pelaku yang belum pernah menikah dan tidak memiliki pasangan sah.
Berdasarkan hukum Islam, perzinaan termasuk salah satu dosa besar. Dalam agama Islam, aktivitas-aktivitas seksual oleh lelaki/perempuan yang telah menikah dengan lelaki/perempuan yang bukan suami/istri sahnya, termasuk perzinaan. Dalam Al-Quran, dikatakan bahwa semua orang Muslim percaya bahwa berzina adalah dosa besar dan dilarang oleh Allah.
Tentang perzinaan di dalam Al-Quran disebutkan di dalam ayat-ayat berikut; Al Israa' 17:32, Al A'raaf 7:33, An Nuur 24:26. Dalam hukum Islam, zina akan dikenakan hukum rajam.
Hukumnya menurut agama Islam untuk para penzina adalah sebagai berikut:
Jika pelakunya muhshan, mukallaf (sudah baligh dan berakal), sukarela (tidak dipaksa, tidak diperkosa), maka dicambuk 100 kali, kemudian dirajam, berdasarkan perbuatan Ali bin Abi Thalib atau cukup dirajam, tanpa didera dan ini lebih baik, sebagaimana dilakukan oleh Muhammad, Abu Bakar ash-Shiddiq, dan Umar bin Khatthab.
Bahaya Zina :
Dibawah ini adalah beberapa akibat buruk dan bahaya zina:
Dalam zina terkumpul bermacam-macam dosa dan keburukan, yakni berkurangnya agama si pezina, hilangnya sikap menjaga diri dari dosa, buruk keperibadian, dan hilangnya rasa cemburu.
Zina membunuh rasa malu, padahal dalam Islam malu merupakan suatu hal yang sangat diperdulikan dan perhiasan yang sangat indah dimiliki perempuan.
Menjadikan wajah pelakunya muram dan gelap.
Membuat hati menjadi gelap dan mematikan sinarnya.
Menjadikan pelakunya selalu dalam kemiskinan atau merasa demikian sehingga tidak pernah merasa cukup dengan apa yang diterimanya.
Akan menghilangkan kehormatan pelakunya dan jatuh martabatnya baik di hadapan Allah maupun sesama manusia.
Tumbuhnya sifat liar di hati pezina, sehingga pandangan matanya liar dan tidak terarah.
Pezina akan dipandang oleh manusia dengan pandangan muak dan tidak dipercaya.
Zina mengeluarkan bau busuk yang mampu dideteksi oleh orang-orang yang memiliki hati yang bersih melalui mulut atau badannya.
Kesempitan hati dan dada selalu dirasakan para pezina. Apa yang dia dapatkan dalam kehidupan adalah kebalikan dari apa yang diinginkannya. Dikarenakan orang yang mencari kenikmatan hidup dengan cara yang melanggar perintah Allah, maka Allah akan
memberikan yang sebaliknya dari apa yang dia inginkan, dan Allah tidak menjadikan larangannya sebagai jalan untuk mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan.
Pezina telah mengharamkan dirinya untuk mendapat bidadari di dunia maupun di akhirat.
biasanya berkait dengan dosa dan maksiat yang lain, sehingga pelakunya akan melakukan dosa-dosa yang lainnya.
Zina menghilangkan harga diri pelakunya dan merusak masa depannya, sehingga membebani kehinaan yang berkepanjangan kepada pezina dan kepada seluruh keluarganya.
Kehinaan yang melekat kepada pelaku zina lebih membekas dan mendalam daripada kekafiran. Kafir yang memeluk Islam, maka selesai persoalannya, namun dosa zina akan benar-benar membekas dalam jiwa. Walaupun pelaku zina telah bertaubat dan
membersihkan diri, pezina masih merasa berbeda dengan orang yang tidak pernah melakukannya.
Jika wanita hamil dari hasil perzinaan, maka untuk menutupi aibnya ia mengugurkan kandungannya. Selain telah berzina, pezina juga telah membunuh jiwa yang tidak berdosa. Jika pezina adalah seorang perempuan yang telah bersuami dan
melakukan perselingkuhan sehingga hamil dan membiarkan anak itu lahir, maka pezina telah memasukkan orang asing dalam keluarganya dan keluarga suaminya sehingga anak itu mendapat hak warisan mereka tanpa disadari siapa dia sebenarnya.
Perzinaan akan melahirkan generasi yang tidak memiliki silsilah kekeluargaan menurut hubungan darah (nasab). Di mata masyarakat mereka tidak memiliki status sosial yang jelas.
Pezina laki-laki bermakna bahwa telah menodai kesucian dan kehormatan wanita.
Zina dapat menimbulkan permusuhan dan menyalakan api dendam pada keluarga wanita dengan lelaki yang telah berzina dengan wanita dari keluarga tersebut.
Perzinaan sangat mempengaruhi jiwa keluarga pezina, mereka akan merasa jatuh martabat di mata masyarakat, sehingga mereka tidak berani untuk mengangkat wajah di hadapan orang lain.
Perzinaan menyebabkan menularnya penyakit-penyakit berbahaya
Perzinaan adalah penyebab bencana kepada manusia, mereka semua akan
dimusnahkan oleh Allah akibat dosa zina yang menjadi tradisi dan dilakukan secara terang-terangan.
Hukum Zina :
Zina adalah haram hukumnya, dan ia termasuk dosa besar yang paling besar.
Allah swt berfirman:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Israa’: 32)
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a, ia berkata: Saya pernah bertanya kepada Rasulullah saw, “(Ya Rasulullah), dosa apa yang paling besar?” Jawab Beliau, “Yaitu engkau mengangkat tuhan tandingan bagi Allah, padahal Dialah yang telah menciptakanmu.” Lalu saya bertanya (lagi), “Kemudian apa lagi?” Jawab Beliau, “Engkau membunuh anakmu karena khawatir ia makan denganmu.” Kemudian saya bertanya (lagi). “Lalu apa lagi?” Jawab Beliau, “Engkau berzina dengan isteri tetanggamu.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari XII: 114 No. 6811, Muslim I: 90 No. 86, ‘Aunul Ma’bud VI: 422 No. 2293 No. Tirmidzi V: 17 No. 3232).
Allah swt berfirman:
“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Furqaan: 68-70).
Dalam hadist Sumarah bin Jundab yang panjang tentang mimpi Nabi saw, Beliau saw bersabda:
laki-laki dan perempuan yang telanjang bulat. Dari bawah mereka datang kobaran api dan apabila kena nyala api itu, mereka memekik. Aku bertanya, “Siapakah orang itu” Jawabnya, “Adapun sejumlah laki-laki dan perempuan yang telanjang bulat yang berada di dalam bangunan serupa tungku api itu adalah para pezina laki-laki dan perempuan.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 3462 dan Fathul Bari XII: 438 no: 7047).
Dari Ibnu Abbas r.a bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah seorang hamba berzina tatkala ia sebagai seorang mu’min; dan tidaklah ia mencuri, manakala tatkala ia mencuri sebagai seorang beriman; dan tidaklah ia meneguk arak ketikaia meneguknya sebagai seorang beriman; dan tidaklah ia membunuh (orang tak berdosa), manakala ia membunuh sebagai seorang beriman.”
Dalam lanjutan riwayat di atas disebutkan:
Ikrimah berkata, “Saya bertanya kepada Ibnu Abbas, ‘Bagaimana cara tercabutnya iman darinya?’ Jawab Ibnu Abbas: ‘Begini –ia mencengkeram tangan kanan pada tangan kirinya dan sebaliknya, kemudian ia melepas lagi–, lalu manakala dia bertaubat, maka iman kembali (lagi) kepadanya begini –ia mencengkeramkan tangan kanan pada tangan kirinya (lagi) dan sebaliknya-.’” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 7708, Fathul Bari XII: 114 no: 6809 dan Nasa’i VIII: 63).
Liwat Menurut Perspektif Syarak.
rela. (Sila rujuk Enakmen Undang-Undang Kanun Jenayah Syariah (ii) 1993 bagi negeri Kelantan, bahagian 1 perkara 16,17 dan 18).
Menurut al-Syeikh Muhammad Ali al-Sabuni dalam kitab Tafsir Ayat al-Ahkam (Jilid 2): Liwat adalah seburuk-buruk amalan dosa yang hanya dilakukan oleh species manusia lelaki dan tidak dilakukan oleh mana-mana species haiwan jantan. Lantaran itu, amalan gejala-gejala keruntuhan akhlak dan tekanan penyakit jiwa ini amat merbahaya sekali jika tidak dibendung.
Dalam menentukan bentuk hukuman yang sewajar dikenakan terhadap mereka yang berkenaan, para ulama’ berselisih pendapat mengenainya. Perselisihan pendapat ini ringkasnya boleh dibahagikan kepada tiga mazhab;
Mazhab Pertama: Para sahabat Rasulullah seperti Nasir, Qasim bin Ibrahim dan al-Syafie mengatakan; hukuman liwat ialah bunuh ke atas si peliwat dan juga individu yang diliwat. Pendapat ini adalah bersandarkan kepada dalil nas hadis Rasulullah daripada ‘Ikrimah daripada Ibn ‘Abbas, Rasulullah bersabda “Sesiapa yang kamu dapati melakukan liwat (amalan kaum nabi Luth), maka bunuhlah si peliwat dan individu yang diliwat”.
Berasaskan hadis ini, al-Imam al-Syafie menegaskan hukuman liwat ialah direjam dengan batu sampai mati ke atas mereka yang terbabit samada lelaki-lelaki tersebut sudah berkahwin ataupun masih belum berkahwin. Hukuman mati ini juga diakui oleh al-Imam Malik dan al-Imam Ahmad bin Hanbal. Dalam pada itu, al-Imam Malik juga berpendapat si pesalah boleh dijatuhkan hukuman mati dengan cara dicampak ke bawah dari tempat yang tinggi. Meskipun begitu, terdahulu daripada ini, ijtihad Abu Bakr al-Siddiq dan Ali bin Abi Talib dalam masalah hukuman liwat ialah dengan memenggalkan leher mereka yang berkenaan sepertimana yang dilakukan ke atas golongan murtad ataupun dihempap dengan dinding batu sehingga mati.
bahawa aktiviti sex di mana seorang lelaki yang menyetubuhi seorang perempuan melalui duburnya juga adalah zina dan bukan liwat.
Adapun dalam masalah suami yang mendatangi isterinya melalui dubur, terdapat khilaf ulama’ dalam aktiviti tersebut sepertimana yang dijelaskan dalam kitab Tuhfah ‘Arus karangan al-Syeikh Muhammad bin Ahmad al-Tijani, halaman 351-356. Sebahagian besar ulama seperti Ibn Sya’ban mengharuskan aktiviti tersebut antara suami dan isteri berasaskan mafhum firman Allah “ Isteri-isteri kamu adalah umpama ladang bagi kamu. Maka datangilah mereka dengan apa jua cara yang kamu ingini”. Jumhur ulama’ juga mengatakan tiada sebarang hukuman hudud ataupun ta’zir yang wajib dikenakan ke atas pasangan suami isteri terbabit.
Mazhab Ketiga: Menurut al-Imam Abu Hanifah (pengasas mazhab Hanafi), Al-Murtadha dan al-Muayyid billah, hanya hukuman ta’zir seperti hukuman penjara ataupun buang daerah dan sebagainya mengikut budi bicara hakim sahaja yang wajib dikenakan ke atas mereka yang terbabit kerana aktiviti tersebut bukannya zina dan tidak wajib dikenakan hukuman hudud ke atas si pelaku. Mereka berpendapat; dari sudut istilah bahasa, zina itu bukan liwat. Zina adalah persetubuhan haram antara lelaki dan perempuan. Sedangkan liwat pula adalah persetubuhan haram antara sesama lelaki. Disamping itu juga Islam mengharamkan hubungan al-Sihaq (lesbian) dan juga ityan al-bahaim (persetubuhan dengan haiwan). Para fuqaha’ bersepakat bahawa hukuman ke atas lesbian adalah ta’zir. Adapun dalam masalah ityan al-bahaim, jumhur ulama menegaskan hukuman ta’zir wajib dikenakan ke atas si pelaku kecuali al-Imam Ahmad bin Hanbal yang mengatakan hukumannya adalah sama seperti hukuman liwat. Bagi al-Imam Ahmad, si pelaku dan haiwan terbabit wajib dibunuh.
Onani
Onani/Masturbasi adalah menyentuh, menggosok dan meraba bagian tubuh sendiri yang peka sehingga menimbulkan rasa menyenangkan untuk mendapat kepuasan seksual (orgasme) baik tanpa menggunakan alat maupun menggunakan alat. Biasanya masturbasi dilakukan pada bagian tubuh yang sensitif, namun tidak sama pada masing-masing orang, misalnya : putting payudara, paha bagian dalam, alat kelamin (pada perempuan terletak pada klistoris dan sekitar vagina : sedangkan pada laki terletak pada sekitar kepala dan leher penis). Misalnya laki-laki melakukan onani dengan meraba penisnya, remaja perempuan menyentuh klistorisnya hingga dapat menimbulkan perasaan yang sangat menyenangkan atau bisa timbul ejakulasi pada remaja laki-laki.
Secara medis onani/mastrubasi tidak akan mengganggu kesehatan. Orang yang melakukannya tidak akan mengalami kerusakan pada otak atau bagian tubuh lainnya.
Onani/mastrubasi juga tidak menimbulkan resiko fisik seperti mandul, impotensi, dan cacat asal dilakukan secara aman, steril, tidak menimbulkan luka dan infeksi. Resiko fisik umumnya berupa kelelahan. Pengaruh mastrubasi biasanya bersifat psikologis seperti rasa bersalah, berdosa, dan rendah diri karena melakukan hal-hal yang tidak disetujui oleh agama dan nilai-nilai budaya sehingga jika sering dilakukan akan menyebabkan terganggunya konsentarsi pada remaja tertentu.
Cara menghindari onani/masturbasi
Setiap orang bisa mengendalikan dirinya untuk menghindari dan mencegah aktivitas
masturbasi/onani. Gunakan waktu luang dengan aktivitas yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Sesegera hilangkan atau alihkan pikiran yang mengarah kepada rangsangan seks kepada pikiran atau aktivitas lainnya.
Seperti ngobrol hal-hal yang tidak berbau seks, menyelesaikan tugas, menjalankkan hoby, olah raga, musik, berorganisasi, atau lainnya. Puasa adalah salah satu cara yang efektif untuk menahan nafsu seksual.
Pengertian lesbian adalah perempuan yang secara psikologis, emosi dan seksual tertarik kepada perempuan lain. Seorang lesbian tidak memiliki hasrat terhadap gender yang berbeda/ laki-laki, akan tetapi seorang lesbian hanya tertarik kepada gender yang
sama/perempuan. Mereka berpendapat bahwa istilah lesbian menyatakan komponen emosional dalam suatu relationship, sedangkan istilah homoseksual lebih fokus kepada seksualitas. Lesbian adalah istilah bagi perempuan yang mengarahkan orientasi seksualnya kepada sesama perempuan atau disebut juga perempuan yang mencintai perempuan baik secara fisik, seksual, emosional atau secara spiritual (Matlin, 2004).
Lesbian adalah istilah bagi perempuan yang mengarahkan orientasi seksualnya kepada sesama perempuan atau disebut juga perempuan yang mencintai perempuan baik secara fisik, seksual, emosional atau secara spiritual (http://id.wikipedia.org/wiki/lesbian), diunduh pada tanggal 23 Desember 2009.
Kata “Lesbian” berasal dari seorang penduduk pulau Lesbos, di Yunani yaitu Sappho. Sappho adalah seorang penyair yang menghasilkan puisi liris. Puisi liris sudah berkembang dari abad VI SM yang sebagian diantaranya masih ada hingga kini. Puisi Sappho berisikan tentang cinta lesbian. Pada masa itu, percintaan homoseksual dipahami sebagai hal yang lebih tinggi dibandingkan percintaan heteroseksual (Spencer, 2004).
Gay atau lesbian memiliki minat erotis pada anggota gender mereka sendiri, tetapi identitas gender mereka (perasaan menjadi pria atau wanita) konsisten dengan anatomi seks mereka sendiri. Mereka tidak memiliki hasrat untuk menjadi anggota gender yang berlawanan atau merasa jijik pada alat genital mereka, seperti yang dapat kita temukan pada orang-orang dengan gangguan identitas gender. Jadi, lesbian itu bukan merupakan gangguan identitas gender, akan tetapi orientasi seksual mereka yang menyimpang.
Pengertian Homoseksual, Transeksual dan Biseksual
Homoseksual, transeksual dan biseksual terkadang membingungkan sebagian orang untuk membedakan ketiganya. Karena kekurang tahuan, sehingga penggunaan ketiganya sering tidak tepat dalam menyebutkan sesuatu hal. Kita ingin menyebut perilaku seks waria misalnya kita sebut sebagai perilaku homoseksual, padahal yang tepat adalah perilaku transeksual.
Homoseksual
Homoseksual adalah perilaku seks dengan ketertarikan pada sesama jenis kelamin. Jika sesama pria homoseksual disebut dengan gay, dan jika sesama wanita disebut lesbian. Cara penyaluran hasrat seks bermacam-macam sesuai dengan keinginan pasangan tersebut. Secara fisik, bisa melalui dubur bagi pria, merangsang bagian-bagian sensitif bagi wanita, atau menekan bagian-bagian tertentu yang merupakan bagian sensitif bagi pasangan homoseksnya. Perilaku homoseksual ini biasanya tetap ada yang bertindak sebagai laki-laki atau perempuan (baik gay maupun lesbi), sehingga tetap ada peran yang berbeda antara keduanya, apalagi dalam hidup berumah tangga, bagi pasangan homoseks ini.
Transeksual
Transeksual sebenarnya tidak mengarah kepada penyaluran dan orientasi seks, tetapi lebih kepada identifikasi jenis kelamin. Seorang yang transeksual, merasa dirinya berada pada fisik yang salah. Seorang yang laki-laki misalnya secara fisik, tetapi dia merasa adalah seorang perempuan, sehingga merasa jiwa perempuannya terperangkap dalam fisik laki-laki. Ataupun sebaliknya, seorang perempuan secara fisik, tetapi mempunyai jiwa laki-laki, sehingga merasa terperangkap dalam fisik perempuan. Banyak penyebab mengapa seseorang merasa salah dengan fisiknya, tidak sesuai dengan jiwanya. Penjelasan yang ada antara lain karena faktor biologis, genetic, kekerasan seksual, imitasi yang buruk, masalah ekonomi dan lain-lain. Seorang laki-laki yang merasa dirinya perempuan biasa disebut dengan waria (bencong). Sedangkan seorang perempuan yang merasa dirinya laki-laki biasa disebut tomboy.
Biseksual
menjalani hubungan yang heteroseks, walaupun dalam jiwanya masih menyukai jenis kelamin yang sama dalam orientasi seksualnya.