• Tidak ada hasil yang ditemukan

Qureta Kuasa Bahasa dan Politik Pendidik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Qureta Kuasa Bahasa dan Politik Pendidik"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

https://craftymcclever. les.wordpress.com/2013/05/17778-politics0448.jpg

Kuasa Bahasa dan Politik Pendidikan Karakter

Bahasa menunjukan kuasa. Dampak dari relasi antara “bahasa” dan “kuasa” berujung pada regulasi pemerintah. Negara menetapkan kuasa atas bahasa itu sebagai strategi internasional demi mencapai visi-misi jangka panjang. Undang-undang, karenanya, diakui menjadi pijakan yuridis yang mantap.

Sebagaimana diketahui khalyak, bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, mustahil terlepas politik internasional. Sebelum revolusi Prancis, bahasa Inggris di Eropa diacuhkan, sedangkan bahasa Prancis menjadi ikon hari depan. Namun, setelah warga Eropa banyak yang pindah ke tanah masa depan, yakni Amerika, bahasa Inggris mulai menegaskan kedudukannya di percaturan dunia.

Rony K. Pratama (https://www.qureta.com/pro le/Ronykpratama)

Buruh

23 Nov 2017 · „ 126 views

(2)

PBB lahir. Ia tumbuh berkembang di atas tumpah darah Perang Dunia I & II. Undangan ke pelbagai negara disebarkan: siapa bergabung, maka ia diakui internasional—khusus bagi negara oposisi dan berkembang.

Berawal dari kesepakatan, bahasa Inggris dijadikan alat verbal percakapan internasional; selain bahasa Prancis, Tiongkok, Jerman, dan lain sebagainya. Kedudukan bahasa Inggris menyeruak ke seluruh dusun-dusun, bahkan ia dijadikan tanda kemapanan dan kemodernan. Siapa tak mampu menuturkan sepatah kata dalam bahasa Inggris, maka dianggap purba, kuno, tradisional, dan pelbagai inferior lain.

Media cetak atau elektronik menjadi alat propaganda politik bahasa. Selain itu, spanduk atau baliho di sudut jalan juga melegitimasinya. Penjajahan bahasa mulai menggurita. Pola berpikir kita tanpa sadar dipengaruhi oleh struktur bahasa Inggris: ke-aku-an selalu ditempatkan menjadi subjek, sedangkan orang lain yang di luar kita acap di-objek-kan. Kuasa bahasa, dengan demikian, dibentuk oleh masa lalu, hari ini, dan hari depan. Tanpa disadari, ketiga lapisan waktu tersebut pada akhirnya tertanam dibenak kita.

Pendidikan menjadi wahana mayor pertumbuhan politik bahasa: kalau kau ingin ke luar negeri (khusus studi di negara yang penuturnya bahasa Inggris), maka buktikanlah dengan sertifikat khusus yang diakui seperti IELTS (International English Language Testing System) maupun TOEFL (Test of English as a Foreign Language). Sementara orang luar yang hendak belajar ke Indonesia tak perlu menunjukan sertifikat kemampuan bahasa Indonesia seperti UKBI.

Dalam pada itu bahasa Indonesia kalah secara politik, sebab ia sebagai lingua franca masih berumur jagung. Tidak seperti bahasa Inggris yang berumur ratusan tahun. Namun, kita mengakui itu: tanpa menguasai bahasa Inggris, kita akan tergilas zaman, sebab pelbagai pengetahuan (tertulis) yang kita pelajari banyak dari bahasa Inggris. Oleh sebab itu,

penguasaan bahasa Inggris harus ditempatkan pada kompetensi individu demi penguasaan suatu ilmu pengetahuan.

(3)

hanya diposisikan sebagai kerangka kognitif semata.

Bukankah lebih baik pendidikan karakter itu tak sekadar digelorakan pada tataran teks, melainkan juga pada laku? Akan tetapi, pemerintah melalui regulasi pendidikan cenderung mewacanakan pendidikan karakter itu sebagai ruang ide. Ia berkelindan dengan daya cipta teoretis. Kerancuan pendidikan karakter itu juga berbenturan pada epistemologi pendidikan moral. Bukankah lebih tepat disebut pendidikan moral ketimbang pendidikan karakter?

Meski kalau diteruskan pembahasan ini, pendidikan karakter sesungguhnya tak ada. Mana ada pola didikan yang mampu mengubah karakter seseorang? Bukankah karakter seseorang itu berangkat dari “kehendak” pribadi sendiri? Namun, khalayak mesti mafhum atas kerancuan tersebut, sebab wacana pendidikan karakter yang dijadikan jargon agung suatu instansi pendidikan itu berangkat dari dekadensi perilaku generasi muda yang menunjukan kebiadaban.

Maraknya kasus tawuran atau kenakalan generasi pemuda itulah yang menjadi pijakan utama kenapa urgensi pendidikan karakter mesti ditegakan. Jika diteliti lebih komprehensif, bukankah kasus yang melanda generasi muda itu tidak sepadan dengan kebobrokan karakter? Laku generasi muda yang dinyatakan dekaden tersebut lebih dikarenakan oleh gejolak psikologis yang pada usianya mengalami “kenaikan” dan tak konstan.

Kenyataan demikian didukung pula oleh para “pemimpin” di parlemen tingkat lokal maupun nasional yang saling tawur satu sama lain. Apalagi, media cetak maupun elektronik tak henti-hentinya menyajikan geliat tawurnya para “penyambung lidah rakyat”.

Citra seperti itu menjadi sajian tiap hari sehingga para penonton—termasuk para generasi muda—secara tak langsung merekamnya di bawah alam tak sadar. Karenanya, tidakkah mengherankan bila para generasi muda melakukan tawuran antarsektor komunitasnya. Bukankah pemimpin mereka di parlemen juga melakukan hal yang sama?

(4)

Subscribe Noti cation

0 Comments Sort by

Facebook Comments plug-in

Newest

Add a comment...

TERPOPULER

Ketika Abah Anton dan Ya’qud Ananda Terciduk KPK (https://www.qureta.com/post/ketika-abah-anton-dan-ya-qud-ananda-terciduk-kpk)

„ 403 views

Mencintai Itu Susah! (https://www.qureta.com/post/mencintai-itu-susah)

(5)

Memilih Pemimpin Cerdas Menuju Bonus Demogra (https://www.qureta.com/post/memilih-pemimpin-cerdas-menuju-bonus-demogra )

„ 130 views

Kisah Om Peter dan Hatinya yang Terpikat Papua Merdeka (https://www.qureta.com/post/peter-arndt-dan-hati-yang-terpikat-papua-merdeka)

„ 114 views

Warga Negara Asing dalam Diplomasi Indonesia (https://www.qureta.com/post/orang-bule-dalam-diplomasi-indonesia)

„ 88 views

Hukuman Mati: Pro dan Kontra (https://www.qureta.com/post/hukuman-mati-pro-dan-kontra)

(6)

KPK dan Pendidikan Antikorupsi: Konstruk Moralitas & Gaya Non-Korup (https://www.qureta.com/post/kpk-dan-pendidikan-antikorupsi-konstruk-moralitas-gaya-non-korup)

„ 78 views

Menunggal (https://www.qureta.com/post/menunggal)

„ 73 views

Dalam Kuasa Desas-Desus (https://www.qureta.com/post/dalam-kuasa-desas-desus-6)

„ 45 views

Mereka yang Gamang Berdemokrasi (https://www.qureta.com/post/mereka-yang-gamang-berdemokrasi)

„ 44 views

PENULIS FAVORIT (https://www.qureta.com/penulis-favorit)

(7)

ȡ Follow (https://www.qureta.com/login)

Luth Assyaukanie (https://www.qureta.com/pro le/assyaukanie)

Pendiri Qureta

ȡ Follow (https://www.qureta.com/login)

Tentang Qureta (https://www.qureta.com/page/tentang-qureta)  |  Tips Menulis (https://www.qureta.com/page/tips-menulis)  |  FAQ (https://www.qureta.com/page/faq)  |  Kontak (https://www.qureta.com/page/kontak)

Referensi

Dokumen terkait

Padahal berdasarkan hasil observasi, hambatan utama penggunaan TIK adalah peralatan TIK yang ingin digunakan untuk pengajaran bahasa Inggris tidak tersedia di

Tujuan politik luar negeri bisa bersifat khusus berkaitan dengan beberapa masalah tertentu (seperti membentuk pasaran bersama di kawasan tertentu) misalnya ini ada

Pelajari terus sampai hapal di luar kepala (misalnya Anda tidak perlu membalik kartu untuk mengetahui artinya, atau Anda mengetahui bahasa Inggris suatu kata

Suaka atau dalam bahasa Inggris disebut asylum diartikan sebagai perlindungan yang diberikan oleh suatu negara kepada pengungsi politik atau aktivis politik yang berasal dari

Lebih parah lagi, pada saat menjawab persoalan Human Trafficking pejabat dari Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan menjawab dalam bahasa inggris yang terbata-bata,

(Sebagai contoh, bayang kan kalau bahasa Inggris cat [ucapannya kat, =kucing] dipinjam untuk bahasa Indonesia kata, oleh karena suaranya dekat. Dan ke mu dian istilah kata

Kau akan banyak dapat masukan dari situ.” HR, BTDLA: 54 Peristiwa di samping adalah peristiwa campur kode klausa bentuk dialog, masuknya unsur bahasa Inggris strategy in an uncertain

Selain itu terdapat campur kode ke luar yaitu penyisipan kata bahasa asing Inggris ke dalam bahasa Indonesia yang terjadi pada interaksi dan siswa kelas VII dalam kegiatan