TUGAS INDIVIDU IMMUNOLOGI JURNAL INTERNASIONAL
“Assessment of drug hypersensitivity with non-irritating concentrations of antibacterial agents for allergic skin tests: a review”
NAMA : TRIA WULAN PURNAMEI
NIM : 70100113065
KELAS : FARMASI A
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
Pada umumnya antibiotic memiliki reaksi hipersensitivitas dengan prevalensi 6-10 % dari semua reaksi yang merugikan. Skrining sensitivitas terhadap antibiotic dengan standarisasi tes kulit dalam hal metodologi, dosis dan waktu evaluasi dari uji. Pada Negara Eropa dan Amerika menggunakan konsentrasi non-iritasi (NIC) antibiotic untuk pengujian kulit seperti intra tes kulit (IDT), dan uji tusuk kulit (SPT). Dimana pada pengujian ini antibiotic diberikan pada konsentrasi yang dimana tidak menyebabkan iritasi. Namun karea peningkatan resistensi antibiotic, dapat memperkecilnya fek terapeutik. Orang-orang yang telah terkena infeksi terhadapt organisme yang resisten dapat meningkatakan rawat inap. Hal ini terjadi karena pengguanaan antibiotic spectrum luas. Oleh karena itu, dilakukannya tes kulit di screening dari hipersensitivitas, dengan Divalidasi NIC dari semua agen antibakteri. Tujuan dari artikel ini adalah untuk meninjau penilaian dari hipersensitivitas obat dengan NIC obat antibakteri untuk SPT, IDT dan juga membangun kebutuhan untuk penelitian di bidang ini di negara kita.
Patofisiologi hipersensitivitas terhadap agen antibakteri
Reaksi hipersensitivitas terhadap agen antibakteri adalah dua jenis yang pertama yaitu jenis langsung dan jelas tidak langsung. Jenis langsung adalah imunoglobulin E (IgE) reaksi dimediasi; terjadi dalam 1 jam dari pemberian antibiotik dan biasanya bermanifestasi sebagai urtikaria, angioedema, konjungtivitis, bronkospasme dan shock anafilaksis. Sedangkan tipe tidak langsung adalah sel T reaksi tergantung, yang terjadi setelah 1 jam dari pemberian obat dan bermanifestasi sebagai makulopapular ruam, eksantema, tertunda urtikaria, yang tetap erupsi obat, dermatitis eksfoliatif, eritema multiforme, Stevens Sindrom Johnson dan nekrolisis epidermal toksik.
Antibiotik beta laktam
antara 0,004% dan 0,015% pasien diberi label sebagai alergi terhadap penisilin, banyak pasien yang mengalami alergi terhadap penisilin tanpa diketahui Kriteria dari alergi penisilin tersebut. Sefalosporin memiliki insiden alergi dari 1% menjadi 10% dan memiliki reaktivitas silang dari 10% danmonobaktam memiliki tingkat rendah reaktivitas silang pada pasien dengan alergi penisilin.
Untuk mengevaluasi hipersensitif beta-laktam dapat dilihat pada Gambar 1.
Pada gambar tersebut menunjukan penggunaan SPT. Yang hasilnya dilihat selama 20 menit, jika negatif pasien harus berturut-turut dievaluasi dengan uji intradermal, hasilnya dapat dilihat selama 20 menit. Jika pasien negatif untuk kedua tes kulit tersebut, dilanjutkan dengan pengujian, "tes provokasi obat" yang merupakan pengujian standar untuk mengevaluasi hipersensitif. Jika pasien positif terhadap SPT atau IDT maka dianggap alergi, dan harus disarankan untuk menghindari laktam beta.
Antibiotik Non Beta laktam
Sebuah review oleh Brockow et al., Menyarankan penggunaan algoritma (Gambar 3) untuk evaluasi hipersensitivitas terhadap antibiotik non-beta-laktam. Untuk pasien dengan riwayat klinis alergi terhadap antibiotik, algoritma menyarankan penggunaan berturut-turut SPT, intradermal dan uji provokasi obat, untuk mengevaluasi langsung hipersensitivitas. Hipersensitivitas lambat untuk non-betalactams dievaluasi oleh tes patch dan tes provokasi obat.
Kesimpulan