• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASOSIASI MTs PENYELENGGARA SKS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ASOSIASI MTs PENYELENGGARA SKS"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

PETUNJUK TEKNIS PENYELENGGARAAN

SISTEM KREDIT SEMESTER

UNTUK

MADRASAH TSANAWIYAH

DAN

PROFIL

MTs PENYELENGGARA

ASOSIASI MTs PENYELENGGARA SKS

(2)

ii

PETUNJUK TEKNIS (JUKNIS)

PENYELENGGARAAN

SISTEM KREDIT SEMESTER

(SKS)

UNTUK

MADRASAH TSANAWIYAH

(3)

iii

Petunjuk Teknis Penyelenggaraan

Sistem Kredit Semester

Untuk

Madrasah Tsanawiyah

Pelindung :

Kabid Pendma Kanwil Kemenag Prop Jawa Timur: Drs. H. Leksono, M.Pd.I

Konsultan Pembina: Dr. H. Suwardi, M.Pd Drs. H.M.Syamsuri, M.Pd

Penanggungjawab:

Pengurus Asosiasi MTs Penyelenggara SKS: Aripin, S.Pd.,M.A. --- Drs. Jamiluddin,M.Pd.I

H. Mohammad Holis, S.Ag, M.Si --- H.Ahmad Zamroni,SS. M.Pd., MA. Dra. Farida Priyatna,MM. --- Enik Rusmiati,S.Pd

Vivin Novaliana, S.Pd --- Moch.Sultan Agung,M.Pd.I Drs. Mujtahid --- Agus Budi Hariyanto,S.Pd

Kontributor Naskah:

Tim Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jatim; Seluruh Kepala, Wakakur & Ketua Program

Penyelaras Ide:

H.Ahmad Zamroni,SS.M.Pd. MA.

(4)

iv

KATA SAMBUTAN

Bidang Pendidikan Madrasah

Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Saya menyambut penyusunan Petunjuk Teknis Penyelenggaraan SKS pada Madrasah Tsanawiyah ini dengan gembira disertai ucapan puji dan syukur kepada Allah SWT. Ini menunjukkan bahwa Madrasah Tsanawiyah Penyelenggara SKS di Jawa Timur serius meningkatkan mutu layanan pendidikan sekaligus ingin memberi inovasi-inovasi pendidikan kepada masyarakat. Mudah-mudahan ini dapat memenuhi kebutuhan guru, peserta didik, dan masyarakat untuk memperoleh informasi yang lebih banyak tentang Sistem Kredit Semester (SKS). Petunjuk Teknis semacam ini sangat penting untuk memperkenalkan Sistem Kredit Semester dengan segala karakteristik yang dimilikinya serta menjadi pedoman bersama dalam penyelenggaraannya di madrasah.

Penyusunan Petunjuk Teknis Penyelenggaraan SKS pada Madrasah Tsanawiyah ini diharapkan pula dapat memacu madrasah-madrasah lain untuk meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat luas. Dengan kata lain, keunggulan Fleksibilitas, Maju Berkelanjutan dan berkeadilan yang dianggap melekat pada Sistem Kredit Semester (SKS) diharapkan dapat dirasakan oleh peserta didik yang melaksanakan sistem ini. Pelayanan yang terbaik dari madrasah dari berbagai sisi dalam dunia pendidikan menjadi daya tarik tersendiri untuk menarik minat dan dukungan masyarakat luas.

Akhir kata, semoga Petunjuk Teknis Penyelenggaraan SKS pada Madrasah Tsanawiyah ini membawa manfaat dan maslahat yang besar bagi pengembangan madrasah.

Madrasah lebih baik, lebih baik madrasah!

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Surabaya, 11 September 2017 Kepala Bidang

ttd

(5)

v

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT atas segala anugerahNya sehingga Petunjuk Teknis Penyelenggaraan SKS Madrasah Tsanawiyah bisa tersusun untuk menjadi pedoman bagi penyelenggaraan SKS di Madrasah Tsanawiyah.

Madrasah Tsanawiyah sedang berusaha meningkatkan mutu pendidikan, salah satu upaya yang dilakukan adalah meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan dengan Sistem Kredit Semester (SKS) yang memberi layanan variatif sesuai dengan peserta didik yang majemuk dari segi bakat, minat dan kemampuan/kecepatan belajarnya serta potensi kecerdasannya.

Keberhasilan penyusunan petunjuk teknis penyelenggaraan sistem kredit semester ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu tim penyusun menyampaikan ucapan terima kasih yang tidak terhingga kepada yang terhormat:

1. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Jawa Timur yang telah mendukung penyelenggaran SKS Jawa Timur khususnya Kepala Bidang Pendidikan Madrasah .

2. Dr. H. Suwardi, M.Pd., Drs. H.M. Syamsuri, M.Pd dan Prof. Dr. H. Eko Supriyanto, M.Pd yang telah memberikan wawasan, arahan, bimbingan dan motivasi kepada tim penyusun sehingga petunjuk teknis penyelenggaraan sistem kredit semester ini dapat terselesaikan.

3. Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur, yang telah melakukan koordinasi, dan evaluasi terhadap seluruh penyelenggaran SKS di MTs di Jawa Timur.

4. Semua pihak yang telah mendukung dan mendo’akan dalam penyelesaian petunjuk teknis penyelenggaraan sistem kredit semester ini.

Petunjuk teknis penyelenggaraan sistem kredit semester ini belum sempurna, karenanya kami mengharapkan kritik dan saran membangun demi proses penyempurnaan. Akhirnya semoga petunjuk teknis penyelenggaraan sistem kredit semester ini bermanfaat bagi semua warga madrasah dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Sarangan, 29 Juli 2017

(6)

vi

BAB II: KONSEP, PRINSIP DAN TUJUAN SKS A. Konsep ... 5

B. Prinsip ... 5

C. Tujuan ... 6

BAB III: PENYELENGGARAAN SISTEM KREDIT SEMESTER A.Persyaratan Penyelenggara SKS ... 7

B. Beban Belajar ... 7

C.Indeks Prestasi ... 9

D.Penerimaan Peserta Didik Baru... 11

E. Karakteristik Pembelajaran SKS di Madrasah ... 12

F. Penilaian dan Remedial ... 14

G.Semester Pendek ... 13

H.Masa Transisi ke Jenjang Pendidikan selanjutnya ... 14

I. Mutasi Peserta Didik ... 16

J. Kelulusan ... 16

BAB IV: STRATEGI IMPLEMENTASI SKS A.Mekanisme Persiapan ... 17

B.Struktur Kurikulum Dan Roadmap/Sebaran Mata Pelajaran ... 18

C.Penyusunan serial Mata Pelajaran dan Pemetaan KI-KD ... 21

D.Penetapan Rombongan Belajar/Kelas... 29

E.Bimbingan Akademik Dan Bimbingan Konseling ... 30

F.Penyusunan Perangkat Pembelajaran ... 32

G.Persiapan Sarana Pendukung ... 32

H.Pelaksanaan Pembelajaran SKS ... 33

I. Evaluasi dan Tindak Lanjut ... 35

BAB V: PENUTUP A.Penutup ... 37

PROFIL MTs-SKS

A.SK Penyelenggara ... 38

(7)

Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur 1 BAB I

PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG

Sistem pengelolaan pembelajaran di Indonesia di semua satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, pada umumnya menggunakan sistem paket. Sistem ini mengharuskan semua peserta didik menempuh sistem pembelajaran yang sama dalam menyelesaikan program belajarnya. Sistem ini dinilai kurang aspiratif ketika menghadapi kenyataan bahwa peserta didik pada dasarnya majemuk dari segi bakat, minat dan kemampuan/kecepatan belajarnya. Peserta didik yang memiliki kemampuan/kecepatan belajar dan/atau potensi kecerdasan istimewa akan terhambat untuk menyelesaikan program studinya karena harus menunggu temannya yang lain, pun sebaliknya peserta didik yang lemah akan terpaksa untuk mengikuti pola belajar peserta didik yang memiliki kemampuan/kecepatan belajar dan/atau potensi kecerdasan istimewa.

Fenomena kemajemukan peserta didik ini seharusnya terlayani dengan baik, Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 12 ayat 1 poin (b) menyatakan “Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan

kemampuannya”. Selanjutnya pada poin (f) menyatakan bahwa “Peserta didik pada

setiap satuan pendidikan berhak menyelesaikan pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang

ditetapkan”.

Maka dari itu, sesuai dengan Undang-undang tersebut dan untuk memenuhi

pelayanan pendidikan yang efektif dan adil kepada peserta didik sesuai dengan ketentuan

di atas, dapat ditempuh dengan menyelenggarakan Sistem Kredit Semester sebagaimana

yang diatur lebih lanjut pada Permendikbud Nomor 158 tahun 2014 tentang

Penyelenggaraan Sistem Kredit Semester Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan

Menengah.

(8)

2 Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur

melalui pengorganisasian pembelajaran bervariasi dan pengelolaan waktu belajar yang fleksibel. Pengorganisasian pembelajaran bervariasi dilakukan melalui penyediaan unit-unit pembelajaran utuh setiap mata pelajaran yang dapat diikuti oleh peserta didik. Pengelolaan waktu belajar yang fleksibel dilakukan melalui pengambilan beban belajar untuk unit-unit pembelajaran utuh setiap mata pelajaran oleh peserta didik sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing.

Akhirnya diharapkan sistem ini dapat memberi layanan yang efektif, efisien dan maksimal terhadap kemajemukan peserta didik agar potensinya bisa terekplorasi dengan baik dan maksimal.

B.LANDASAN

Sistem kredit semester pada pendidikan Madrasah Tsanawiyah ini berlandaskan pada kebijakan-kebijakan sebagai berikut:

1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);

2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4586);

3. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 71, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5410);

(9)

Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur 3 Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2014 tentang Perubahan Kelima Atas Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara;

6. Peraturan Menteri Agama Nomor 42 Tahun 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agama Republik Indonesia.

7. Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Kementerian Agama (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 851);

8. Peraturan Menteri Agama Nomor 90 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Madrasah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 1382); sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Agama No. 60 th.2015 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Madrasah.

9. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 160 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum 2013;

10.Keputusan Menteri Agama Nomor 117 Tahun 2014 Tentang Implementasi Kurikulum 2013 di Madrasah;

11.Keputusan Menteri Agama Nomor 165 Tahun 2014 Tentang Kurikulum Madrasah 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab;

12.Keputusan Menteri Agama Nomor 207 Tahun 2014 tentang Kurikulum Madrasah; 13. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 157 tahun 2014 tentang

Kurikulum Pendidikan Khusus;

14. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 158 tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Kredit Semester Pada Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah;

(10)

4 Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur

16. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 20 tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar Menengah;

17. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 21 tahun 2016 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah;

18. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah;

19. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 23 tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan;

20. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 24 tahun 2016 tentang Kompetensi Inti Dan Kompetensi Dasar Pelajaran Pada Kurikulum 2013;

21. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 03 tahun 2017 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pemerintah dan Penilaian Hasil Belajar oleh Satuan Pendidikan.

C.TUJUAN

Petunjuk Teknis Penyelenggaraan SKS pada Madrasah Tsanawiyah ini bertujuan untuk menjelaskan hal-hal yang bersifat umum mengenai SKS sebagai berikut:

1. Menjelaskan konsep, prinsip dan tujuan Sistem Kredit Semester (SKS) yang berlaku bagi di satuan pendidikan Madrasah Tsanawiyah.

2. Menjelaskan penyelenggaraan Sistem Kredit Semester (SKS) di Madrasah Tsanawiyah.

(11)

Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur 5 BAB II

KONSEP, PRINSIP DAN TUJUAN

A.KONSEP

Konsep merupakan abstraksi suatu ide atau gambaran yang dinyatakan dalam suatu kata atau simbol. Dalam merumuskan konsep Sistem Kredit Semester ini, mengacu kepada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 158 tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Kredit Semester Pada Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah. Di dalamnya mengandung pengertian-pengertian sebagai berikut:

1. Sistem Kredit Semester selanjutnya disebut SKS adalah: bentuk penyelenggaraan pendidikan yang peserta didiknya menentukan jumlah beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan/kecepatan belajar.

2. Indeks Prestasi selanjutnya disebut IP adalah nilai akhir capaian pembelajaran peserta didik pada akhir semester yang mencakup nilai kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan

B.PRINSIP

Dalam melaksanakan SKS berprinsip kepada:

1. Fleksibilitas; penyelenggaraan SKS harus fleksibel dalam pilihan mata pelajaran dan waktu penyelesaian masa belajar yang memungkinkan peserta didik menentukan dan mengatur strategi belajar secara mandiri.

2. Keunggulan; penyelenggaraan SKS memungkinkan peserta didik memperoleh

kesempatan belajar dan mencapai tingkat kemampuan optimal sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan/kecepatan belajar.

3. Maju Berkelanjutan; penyelenggaraan SKS yang memungkinkan peserta didik

(12)

6 Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur

4. Keadilan; penyelenggaraan SKS memungkinkan peserta didik mendapatkan

kesempatan untuk memperoleh perlakuan sesuai dengan kapasitas belajar yang dimiliki dan prestasi belajar yang dicapainya secara perseorangan.

C.TUJUAN

1. Mengelola bentuk pembelajaran yang berdiferensiasi bagi masing-masing kelompok peserta didik yang berbeda kecepatan belajarnya;

2. Memberikan layanan kepada peserta didik untuk menyelesaikan dan menjalani proses pendidikannya sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya, juga bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan no.157 tahun 2014.

(13)

Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur 7 BAB III

PENYELENGGARAAN SISTEM KREDIT SEMESTER

A.PERSYARATAN PENYELENGGARA SKS

Satuan pendidikan yang dapat menyelenggarakan SKS berpedoman pada ketentuan sebagai berikut:

1. Satuan pendidikan Madrasah Tsanawiyah yang terakreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Sekolah/ Madrasah (BAN-S/M).

2. Penerapan SKS oleh satuan pendidikan tersebut dilakukan secara bertahap mulai kelas VII pada satuan pendidikan Madrasah Tsanawiyah.

B.BEBAN BELAJAR

Beban belajar merupakan keseluruhan kegiatan yang harus diikuti peserta didik dalam satu minggu, satu semester, dan satu tahun pembelajaran. Adapun ketentuan pengaturan beban belajar dalam SKS adalah sebagai berikut:

1. Komponen Beban Belajar

Beban belajar SKS terdiri dari beberapa komponen, yaitu:

a) Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peserta didik dengan guru.

b) Kegiatan/penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa

pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh guru untuk

mencapai kompetensi dasar. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan

oleh guru.

c) Kegiatan mandiri adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai kompetensi dasar. Waktu penyelesaiannya diatur oleh peserta didik atas dasar kesepakatan dengan guru.

(14)

8 Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur

bersangkutan.

Kegiatan tatap muka dalam beban belajar setiap satu jam pelajaran dilaksanakan selama 40 menit jam pelajaran (JP) dan Kegiatan tatap muka dalam beban belajar bagi peserta didik yang memiliki kecepatan belajar di atas rata-rata yang ditunjukkan dengan IP>3,55 (dalam skala nilai 1-4) atau >89 (dalam skala nilai 1-100), durasi setiap satu jam pelajaran dapat dilaksanakan selama 30 menit sesuai dengan Permendikbud nomor 158 tahun 2014 pasal 9.

2. Jumlah Beban Belajar

Penyelenggaraan SKS agar berjalan efektif dan efisien maka harus ditentukan suatu batas minimal dan maksimal beban belajar yaitu sebagai berikut:

a) Peserta didik MTs yang menerapkan Kurikulum 2013 menempuh minimal 276 JP.

b) Setiap peserta didik sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan/kecepatan belajar dapat menyelesaikan program belajar paling cepat 4 (empat) semester dan paling lambat 8 (delapan) semester.

3. Kriteria Pengambilan Beban Belajar

Pengambilan beban belajar menggunakan kriteria:

a) Prestasi yang dicapai pada satuan pendidikan sebelumnya untuk pengambilan beban belajar pada semester 1;

b) IP yang diperoleh pada semester sebelumnya sebagai dasar pengambilan beban belajar pada semester berikutnya;

c) Pengambilan beban belajar oleh peserta didik didampingi oleh Pembimbing Akademik;

d) Satuan pendidikan dapat mengatur sebaran mata pelajaran secara tuntas dengan pola kontinu/homogen dan diskontinu/on and off. Pola kontinu/homogen yaitu setiap mata pelajaran selalu muncul tiap semester, sedangkan pola diskontinu/on and off yaitu setiap mata pelajaran tidak harus muncul tiap semester;

(15)

Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur 9 beban belajar lebih banyak dibanding dengan lainnya. Layanan pembelajaran dapat dilakukan dalam bentuk individu dan/atau kelompok:

Layanan individu diberikan kepada peserta individu yang meminta tambahan beban belajar dan mata pelajaran di luar jam pelajaran kelas atau rombongan belajar (rombel) sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik; Layanan kelompok dapat dilakukan dengan membuat kelompok/kelas/ rombongan belajar tertentu dengan kecepatan dan prestasi/kemampuan yang hampir sama. Pengelompokan dalam kelas/rombel khusus secara bervariasi dapat dilakukan sejak awal masuk madrasah berdasarkan data yang diperoleh pada saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan mempertimbangkan nilai rapor, nilai tes masuk, dan dapat diperkuat dengan memperhatikan hasil psikotes.

C.INDEKS PRESTASI (IP)

Indeks Prestasi merupakan suatu alat ukur prestasi di bidang akademik/pendidikan

semacam rerata terboboti. Pengambilan beban belajar dalam SKS memperhatikan Indeks

Prestasi yang dicapai oleh peserta didik setiap semesternya dengan ketentuan sebagai

berikut:

1. Pengambilan beban belajar untuk semester 1 (satu) berdasarkan prestasi yang

dicapai pada satuan pendidikan sebelumnya (sebagaimana termaktub di dalam Kriteria Pengambilan Beban Belajar) dengan memperhatikan salah satu atau beberapa aspek dokumen berikut ini: a) nilai rapor, b) nilai Ujian Sekolah/Madrasah, c) nilai USBN, d) prestasi akademik, dan d) nilai tes masuk. Aspek tersebut dapat diperkuat dengan memperhatikan hasil psikotes;

2. Pada semester berikutnya besaran beban belajar peserta didik berdasarkan IP pada

(16)

10 Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur

2.1. Menggunakan IP Statis (Dasar Permendikbud 158 tahun 2014)

a. IP < 67 dapat mengambil beban belajar paling banyak 50 jam pelajaran; b. IP 67 – 83 dapat mengambil beban belajar paling banyak 58 jam pelajaran; c. IP 84 – 91 dapat mengambil beban belajar paling banyak 66 jam pelajaran;

dan

d. IP > 91 dapat mengambil beban belajar paling banyak 74 jam pelajaran.

2.2. Menggunakan IP Dinamis berdasar KKM satuan pendidikan (Dasar Permendikbud no.23 tahun 2016), Contoh:

KKM : 70

Rentang IP Beban Belajar Semester Berikutnya

<70 50 JP

70-79 58 JP

80-89 66 JP

>89 74 JP

KKM : 75

Rentang IP Beban Belajar Semester Berikutnya

<75 50 JP

75-82 58 JP

83-90 66 JP

>90 74 JP

KKM : 80

Rentang IP Beban Belajar Semester Berikutnya

<80 50 JP

81-87 58 JP

88-93 66 JP

>93 74 JP

3. Penentuan Indeks Prestasi (IP) di MTs adalah rata-rata dari gabungan hasil penilaian kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan yang masing-masing dihitung dengan rumus sebagai berikut:

∑Ni x Bi

IP =

(17)

Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur 11 Keterangan:

IP : Indeks Prestasi

Ni : Rata-rata nilai pengetahuan dan keterampilan tiap mata pelajaran Bi : Beban belajar tiap mata pelajaran (JP)

D.PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU

Calon peserta didik baru Madrasah Tsanawiyah yang menyelenggarakan SKS dapat diterima dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Surat Keterangan dari SD/SDLB/MI/MILB/Program Paket A/Pendidikan Pesantren Salafiyah Ula/sederajat;

2. Laporan Hasil Belajar/Laporan Hasil Pencapaian Kompetensi Peserta Didik; 3. Usia calon peserta didik baru maksimal 18;

4. Prestasi di bidang akademik, bakat olah raga atau bakat seni; dan prestasi lain yang diakui madrasah/sekolah jika ada.

Madrasah dapat melakukan tes bakat skolastik atau tes potensi akademik dan atau non akademik. Tes potensi akademik dan atau non akademik meliputi:

1. Tes Potensi Akademik (Tes tertulis antara lain mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia,IPA, IPS dan Agama atau sesuai dengan kebutuhan madrasah) 2. Tes Non Akademik meliputi :

a. Wawancara dengan calon peserta didik dan orang tua/wali peserta didik b. Tes Bakat dan Kemampuan (jika diperlukan)

c. Praktek Ibadah

d. Tes Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ)

Seleksi calon peserta didik baru kelas 7 (tujuh) MTs yang berasal dari satuan pendidikan asing dilakukan berdasarkan:

1. Surat rekomendasi Direktur Jenderal Pendidikan Islam, sesuai dengan kewenangannya;

2. Usia calon peserta didik baru; 3. Prestasi di bidang akademik;

(18)

12 Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur

5. Prestasi lain yang diakui madrasah.

Adapun layanan kelompok pada SKS bagi peserta didik yang memiliki potensi kemampuan/kecepatan belajar lebih atau memiliki potensi kecerdasan istimewa, dapat melakukan program percepatan, dibentuk sejak awal masuk madrasah, dengan ketentuan sebagaimana tersebut di atas ditambah Permendikbud nomor 157 tahun 2014 tentang Kurikulum Pendidikan Khusus pasal 15 poin 4 yaitu:

1. Peserta didik memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa diukur dengan tes psikologi; dan/atau

2. Peserta didik memiliki prestasi akademik tinggi dan/atau bakat istimewa di bidang seni dan/atau olahraga.

Sesuai ketentuan di atas, Peserta didik yang memiliki potensi kemampuan / kecepatan belajar lebih atau memiliki potensi kecerdasan istimewa disarankan memiliki rekomendasi dari lembaga psikologi dan/atau memiliki hasil tes kemampuan intelektual umum dengan kategori superior.

E.KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN SKS DI MADRASAH

Madrasah merupakan entitas sekolah yang bercirikan Agama Islam, maka dalam proses dan materi pembelajarannya harus melakukan diferensiasi demi menciptakan kekhasan madrasah yang berkarakter unggul dibandingkan dengan lembaga pendidikan lainnya. Pembelajaran di madrasah disarankan melakukan diferensiasi baik dari segi materi ajar maupun proses pembelajaran, apalagi pada layanan kelompok/kelas-kelas yang peserta didiknya mempunyai potensi kemampuan/kecepatan belajar. Adapun diferensiasi dapat dilakukan dengan salah satu atau berbagai cara berikut:

1. Diferensiasi Materi Ajar

Materi ajar dapat dideferensiasi melalui salah satu dari beberapa cara berikut: a) Integration (perpaduan): Mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam proses

(19)

Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur 13  Integrasi agama dalam soal evaluasi pembelajaran dengan memasukkan

soal-soal berbasis afeksi dalam evaluasi pembelajaran.

 Integrasi agama dalam perilaku dalam hubungan antar peserta didik

maupun guru.

b) Enrichment (pengayaan): independent study, guest speaker, mentors, exchange program,dll.

c) Acceleration ( percepatan): multilevel enrollment, compaction (pemadatan), dll.

d) Escalation (penanjakan): Menemukan materi esensial dan menambah level materi sesuai dengan karakter keunggulan.

e) Deepening (Pendalaman): Pendalaman materi untuk mempertajam kemampuan penguasaan setiap materi yang ada dalam rangka menghadapi Ujian Tengah Semester maupun Ujian Akhir Semester hingga Ujian Nasional.

2. Diferensiasi Proses Belajar Mengajar

Proses belajar mengajar dapat dideferensiasi dengan model dan metode:

a) Grouping (pengelompokan): cluster grouping, special school, seminars, dll. b) Menggunakan pendekatan saintifik dengan karakteristik sebagai berikut:

 berpusat pada peserta didik.

 melibatkan keterampilan proses sains dalam mengkonstruksi konsep, hukum atau prinsip.

 melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelektual, khususnya keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik.

 mengembangkan karakter peserta didik.

a) Menggunakan model-model pembelajaran yang beriontasi pada peserta didik (student Centered) Misalnya : discovery learning, problem solving, dll. b) Menggunakan metode presentasi dalam pembelajaran sebagai hasil kerja

(20)

14 Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur

F. PENILAIAN DAN REMEDIAL

Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Ketentuan mengenai penilaian hasil belajar peserta didik program SKS dan program remedial mengikuti peraturan perundangan yang berlaku.

G. SEMESTER PENDEK (SP)

Semester pendek adalah kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan guna memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperbaiki nilai mata pelajaran yang sudah pernah ditempuh dalam rangka meningkatkan Indeks Prestasi dan memperpendek masa studi. Mekanisme semester pendek:

a. Peserta semester pendek mendaftarkan diri pada Penyelenggara Program SKS atau Bagian Administrasi Akademik dan Kesiswaaan melalui guru pendamping akademik;

b. Guru mata pelajaran wajib memberikan layanan semester pendek jika terdapat peserta didik yang mendaftar peserta semester pendek;

c. Jumlah pertemuan adalah 6 jam tatap muka tiap 2 JP mata pelajaran dan dapat ditambah sesuai kebutuhan.

H.MASA TRANSISI KE JENJANG PENDIDIKAN SELANJUTNYA

Apabila peserta didik menyelesaikan waktu studi lebih cepat dari seharusnya dan terdapat masa kosong atau transisi ke jenjang selanjutnya, maka masa transisi tersebut terdapat beberapa pilihan yang bisa dilakukan penyelenggara SKS untuk mengisinya dengan antara lain:

1. Pengayaan materi, sebagai upaya meningkatkan pengetahuan peserta didik sebagai bentuk jaminan mutu program layanan, dengan ketentuan:

a. Program pengayaan hanya diberikan kepada peserta didik yang sudah lulus pada setiap mata pelajaran semester sebelumnya;

(21)

Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur 15 c. Guru mata pelajaran wajib memberikan layanan pengayaan jika terdapat

peserta didik yang mendaftar peserta pengayaan materi; d. Jumlah pertemuan diatur sesuai kebutuhan.

2. Pengembangan keahlian

Pengembangan Keahlian ditujukan untuk menyiapkan peserta didik untuk bermasyarakat dan mandiri, dengan ketentuan:

a. Program Pengembangan keahlian hanya diberikan kepada peserta didik yang sudah lulus pada setiap mata pelajaran semester sebelumnya;

b. Peserta pengembangan keahlian mendaftarkan diri Penyelenggara Program SKS atau Bagian Administrasi Akademik dan Kesiswaan melalui guru pendamping akademik;

c. Pembina pengembangan keahlian wajib memberikan layanan jika terdapat peserta didik yang mendaftar peserta pengembangan keahlian;

d. Jumlah pertemuan diatur sesuai kebutuhan. 3. Dril soal Ujian Akhir Madrasah dan Ujian Nasional.

Dril soal ini ditujukan untuk menyiapkan peserta didik menghadapi Ujian Akhir Madrasah dan Ujian Nasional , dengan ketentuan:

a. Program dril hanya diberikan kepada peserta didik yang telah menuntaskan seluruh beban belajar;

b. Guru mata pelajaran wajib wajib memberikan layanan kepada seluruh peserta didik yang memenuhi kriteria;

c. Guru mata pelajaran melalui penyelenggara program SKS atau madrasah bisa bekerjasama dengan pihak luar dalam melaksanakan dril soal tersebut.

d. Jumlah pertemuan diatur sesuai kebutuhan; 4. Pengembangan prestasi (pembinaan olimpiade)

a. Program pengembangan prestasi (pembinaan olimpiade) diberikan kepada peserta didik yang memiliki kemampuan khusus untuk berprestasi;

(22)

16 Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur

J. MUTASI PESERTA DIDIK

Madrasah memfasilitasi mutasi peserta didik antar madrasah/sekolah penyelenggara SKS dengan madrasah/sekolah lain yang masih menggunakan sistem paket. Mutasi dilaksanakan melalui mekanisme dan prosedur:

1. Madrasah memfasilitasi penyetaraan langsung terhadap beban belajar yang telah ditempuh pada sekolah asal;

2. Penyetaraan dari madrasah/sekolah sistem paket dapat dilakukan melalui matrikulasi dan mempertimbangkan KI-KD mata pelajaran yang sudah ditempuh;

3. Madrasah juga memfasiltasi mutasi ke madrasah/sekolah sistem paket sesuai dengan bentuk Laporan Hasil Belajar/Laporan Capaian Kompetensi sekolah/madrasah tujuan;

K.KELULUSAN

Kelulusan Peserta Didik dari satuan pendidikan yang menyelenggarakan SKS pada dasarnya dapat dilakukan pada setiap akhir semester dan/atau disesuaikan dengan ketentuan pemerintah.

Peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan di MTs setelah:

a. Menyelesaikan seluruh beban belajar yang dipersyaratkan bagi peserta didik pada satuan pendidikan berdasarkan Sistem Kredit Semester (SKS);

(23)

Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur 17 BAB IV

STRATEGI IMPLEMENTASI SKS

A. MEKANISME PERSIAPAN

Penyelenggaraan SKS dilakukan secara bertahap dengan strategi phasing in/out dimulai tahun pertama, dimana penerapan SKS dimulai kelas VII, sedangkan

kelas VIII dan IX masih menggunakan Sistem Paket. Pada tahun kedua, terdapat dua angkatan yang menerapkan SKS, dan pada tahun ketiga seluruh angkatan menerapkan SKS.

Tabel 1: Tahapan Penyelenggaraan SKS

PERIODE TAHAPAN PENERAPAN SKS

KELAS VII KELAS VIII KELAS IX

Tahun Pertama Sistem Kredit Semester Sistem Paket Sistem Paket Tahun Kedua Sistem Kredit Semester Sistem Kredit Semester Sistem Paket

Tahun Ketiga dst Sistem Kredit Semester Sistem Kredit Semester Sistem Kredit Semester

Pada tahap awal penyelenggaraan SKS, satuan pendidikan:

1. Melakukan sosialisasi, koordinasi, dan konsolidasi kepada guru, staf TU, dan komite;

2. Menyusun KTSP yang memuat struktur kurikulum dengan Sistem Paket dan SKS yang disahkan oleh Kementerian Agama;

3. Menyusun perangkat pembelajaran (Silabus dan RPP) dengan menyesuaikan SKS dengan unit-unit pembelajaran tiap mata pelajaran;

4. Merancang jadwal mata pelajaran dan jadwal konsultasi Pembimbing Akademik (PA) dan Konselor/BK.

5. Madrasah yang menerapkan sistem SKS harus memiliki izin dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi/Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangan masing-masing (Permendikbud Nomor 5 Tahun 2015 pasal 3 poin 2).

(24)

18 Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur

B. STRUKTUR KURIKULUM DAN ROADMAP/SEBARAN MATA PELAJARAN

Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Struktur kurikulum memuat beban belajar dan sebaran mata pelajaran, peserta didik wajib menyelesaikan mata pelajaran yang tertuang dalam struktur kurikulum.

Mata pelajaran dalam kurikulum 2013 dikelompokkan menjadi dua kelompok; Mata pelajaran Kelompok A adalah kelompok mata pelajaran yang kontennya dikembangkan oleh pusat sedangkan mata pelajaran Kelompok B adalah kelompok mata pelajaran yang kontennya dikembangkan oleh pusat dan dilengkapi dengan konten lokal yang dikembangkan oleh pemerintah daerah.

Beban belajar dalam struktur kurikulum dapat ditempuh secara bervariasi dengan mengikuti dua pola, yaitu: kontinu/homogen dan diskontinu/on and off.

1. Pola Kontinu/Homogen

Pada pola pembelajaran kontinu setiap mata pelajaran selalu muncul di tiap semester. Dalam hal ini pemilihan beban belajar berlaku ketika peserta didik memilih tambahan jam pelajaran (beban belajar) pada beberapa atau semua mata pelajaran sesuai dengan kemampuan dan pilihannya. Penambahan jam pelajaran berimplikasi pada tambahan unit pembelajaran (konten) dan kegiatan yang diperlukan di luar jam pelajaran yang telah ada.

Pada layanan kelompok pola kontinu, satuan pendidikan dapat menyusun variasi pembelajaran sesuai dengan kecepatan belajarnya. Struktur kurikulum disusun bervariasi, terdiri atas: 6 semester, 5 semester, dan 4 semester.

Tabel 2: Struktur Kurikulum dan Beban Belajar Pola Kontinu

MATA PELAJARAN

JP

6 semester 5 semester 4 semester

(25)

Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur 19

MATA PELAJARAN

JP

6 semester 5 semester 4 semester

Kelompok A 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 1 2 3 4

Pada pola pembelajaran diskontinu, setiap mata pelajaran tidak harus muncul di tiap semester. Untuk mengakomodasi peserta didik yang cepat, maka jumlah serial mata pelajaran dianjurkan maksimum adalah 4 (empat) seri. Dengan serial mata pelajaran ini, satuan pendidikan menyusun peta jalan (road map) pembelajaran secara bervariasi.

Penyusunan roadmap /sebaran mata pelajaran bertujuan untuk menyajikan pilihan on/off bagi peserta didik dan mengakomodasi beban mengajar 24 jam bagi guru. Penyusunan roadmap pembelajaran dilakukan dengan beberapa langkah sebagai berikut;

(26)

20 Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur

b. Selanjutnya disusun peta jalan / sebaran mata pelajaran dalam tabel yang dilengkapi jam pelajaran untuk semester ganjil (1, 3, dan 5) dan semester genap (2, 4, dan 6). Dalam mengisi On/Off mata pelajaran perlu dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut.

(1) Prioritas rancangan adalah mata pelajaran yang diujikan pada UN.

(2) Pengaturan dilakukan sedemikian rupa sehingga mata pelajaran on pada semester tertentu pada pilihan/kelas A dan B maka pada pilihan/kelas C dan D dirancang menjadi off dan sebaliknya.

(3) Dalam praktiknya jumlah jam pelajaran semester ganjil dan genap tidak selalu sama, oleh karena itu peta jalan akan bersifat fleksibel penggunaannya.

Tabel 3: Contoh Struktur Kurikulum dan Beban Belajar Pola Diskontinu 6

(27)

Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur 21

Tabel 4: Contoh Struktur Kurikulum dan Beban Belajar Pola Diskontinu 5 Semester

dan 4 Semester

C. PENYUSUNAN SERIAL MATA PELAJARAN DAN PEMETAAN KI -KD

1. Penyusunan Serial Mata Pelajaran

Penyusunan serial mata pelajaran merupakan bagian penting dalam SKS dengan member nomor seri pada mata pelajaran yang tertuang pada struktur kurikulum dan beban belajar. Dengan penyusunan serial, maka nomenklatur mata pelajaran dilengkapi dengan nomor seri, seperti Matematika 1, Matematika 2, dan seterusnya.

(28)

22 Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur

dan mental peserta didik.

Penyusunan serial mata pelajaran mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut;

a. Jumlah seri minimal 4 (empat) dan maksimal 6 (enam) untuk mengakomodasi kemungkinan peserta didik menyelesaikan pembelajaran lebih cepat;

b. Susunan Kompetensi inti dan Pengurutan KD dari KI-3 dan KI-4 mengacu pada urutan KD sesuai Permendikbud Nomor 24 Tahun 2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran Pada Kurikulum 2013 Pada Pendidikan Dasar Dan

Pendidikan Menengah dan Keputusan Menteri Agama Nomor 165 Tahun 2014 Tentang Kurikulum Madrasah 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab atau peraturan perundangan lain yang berlaku.

c. Beban belajar dinyatakan dalam setiap seri mata pelajaran, pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan sesuai urutan serial, artinya dimulai dari seri 1, seri 2, dst. Peserta didik yang mengambil mata pelajaran Bahasa Inggris 2 disyaratkan telah mengikuti mata pelajaran bahasa Inggris 1 sebagai mata pelajaran prasyarat.

2. Pemetaan KI-KD

Setelah melakukan penyusunan serial mata pelajaran, maka konsekuensinya adalah memetakan KI-KD yang semula tersusun atas tingkatan kelas VII, VIII, dan IX menjadi KI-KD yang tersusun berdasar serial mata pelajaran. Penyusunannya mempertimbangkan beberapa hal, yaitu: tingkat perkembangan fisik dan mental peserta didik; hierarki kompetensi inti dan kompetensi dasar; relevansi dan kontinuitas materi pelajaran dan antar mata pelajaran dan kemudahan dalam keterpakaian.

Berikut ini contoh ilustrasi pemetaan serial mata pelajaran berdasarkan hierarki kompetensi inti dan kompetensi dasar.

Tabel 5: Pemetaan Serial Mata Pelajaran Berdasarkan Hierarki KI-KD dalam 6

semester

(29)

Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur 23 MATA PELAJARAN Kode Semester Pemetaan KI-KD Mata Pelajaran

(30)

24 Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur

(31)

Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur 25 MATA PELAJARAN Kode Semester Pemetaan KI-KD Mata Pelajaran

1 2 3 4 5 6

Tabel 6: Pemetaan Serial Mata Pelajaran Berdasarkan Hierarki KI-KD dalam 5

(32)

26 Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur

(33)

Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur 27

Tabel 7: Pemetaan Serial Mata Pelajaran Berdasarkan Hierarki KI-KD dalam 4

semester

(34)

28 Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur

(35)

Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur 29 MATA PELAJARAN Kode Semester Pemetaan KI-KD Mata Pelajaran

1 2 3 4

Langkah penetapan rombongan belajar pada tahun pertama dilakukan pada saat penerimaan peserta didik baru (PPDB). MTs penyelenggara SKS perlu memfasilitasi pengisian data yang memuat riwayat hasil belajar dari nilai rapor, data prestasi waktu di SD/MI, dan data kemampuan lain seperti data tes masuk, data psikotes, dll. yang diperlukan untuk membuat klasifikasi kecepatan belajar peserta didik. Beberapa langkah kegiatan penetapan rombongan belajar antara lain adalah sebagai berikut:

1. Mengelompokan siswa dengan variasi kecepatan belajar 4 semester, 5 semester,

dan 6 semester. Komposisi jumlah kelas/rombongan belajar umumnya lebih banyak pada kategori 6 semester. Sementara itu kategori 4 semester paling sedikit. Kriteria pengelompokan berdasarkan data nilai SD/MI dan hasil seleksi PPDB. Contoh pilihan kriteria pengelompokan:

a. Berdasarkan Nilai Akhir (NA) yang diperoleh dari Nilai Sekolah/Madrasah dengan Nilai Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN).

(36)

30 Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur

nilai tes masuk pada seleksi PPDB.

c. Kriteria (a) atau (b) dapat diperkuat dengan prestasi pendukung yang diperoleh

selama pendidikan sebelumnya dan/atau hasil psikotes.

Adapun contoh kriteria pengelompokannya berdasarkan Nilai Akhirnya adalah

sebagai berikut:

 Nilai (NA) > 89 → kategori 4 semester  Nilai (NA) 75 s.d 88 → kategori 5 semester

 Nilai (NA) < 75 → kategori 6 semester

2. Pada pola diskontinu, hasil pengelompokan berdasarkan kecepatan belajar

dilanjutkan pengelompokan berdasarkan pilihan road map/sebaran mata pelajaran.

3. Memberikan nama rombongan belajar dengan kelas A, B, C, dst. / nama lain

sebagai kelas mayor (utama). Kelas utama ini dapat berkembang menjadi kelas minor mulai semester dua akibat adanya peluang menambah beban mata pelajaran pada saat pengisian KRS.

4. Menetapkan ruang kelas jika menggunakan sistem belajar kelas tetap. Pada sistem

belajar kelas bergerak (moving clasroom) tidak memiliki ruang kelas tertentu. Sistem moving class merupakan sistem pendukung yang mendukung pelaksanaan SKS tetapi tidak mutlak untuk dilaksanakan.

E. BIMBINGAN AKADEMIK DAN BIMBINGAN KONSELING

Bimbingan akademik dan bimbingan konseling sangatlah penting dalam penerapan SKS, kedua hal tersebut dilakukan oleh Pembimbing Akademik (PA) dan Bimbingan Konseling (BK). PA dan BK melayani konsultasi peserta didik dalam rangka mendorong optimalisasi potensi dan prestasi belajar peserta didik di madrasah.

1. Pembimbing Akademik (PA)

(37)

Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur 31 belajar, adapun tugasnya sebagai berikut:

a. Membimbing siswa pada saat pengisian kartu rencana studi (KRS), pembagian rapor, dan melaksanakan konsultasi akademik;

b. Memantau dan melakukan analisis data potensi, kebutuhan, minat, dan prestasi yang diperoleh dari Konselor/BK, serta memberikan rekomendasi konstruktif selama mengikuti pendidikan di sekolah agar potensi akademik peserta didik berkembang secara maksimal;

c. Mengelola hasil observasi dan penilaian sikap spiritual dan sikap sosial berdasarkan hasil observasi dan penilaian dari guru mata pelajaran;

d. Menjalin komunikasi dan kerjasama dengan orang tua, konselor/BK, dan guru mata pelajaran.

2. Konselor/BK

Konselor/BK adalah pendidik profesional yang bertugas memberikan pelayanan bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan formal. Konselor/BK memberikan bimbingan dan konsultasi pada peserta didik (konseli) agar mampu mengembangkan potensi dan mandiri dalam mengambil keputusan dan pilihan untuk mewujudkan kehidupan yang produktif, sejahtera, dan peduli kemaslahatan umum. Dalam pelaksanaan SKS, konselor/BK membimbing siswa dengan jumlah minimal 150 orang selama masa studi dengan tugas sebagai berikut:

a. Memantau, menghimpun dan mendokumentasi data, serta melakukan analisis potensi, kebutuhan, minat, dan prestasi peserta didik;

b. Memantau, mendeteksi, dan memberikan rekomendasi konstruktif agar peserta didik mampu mencapai tugas perkembangannya melalui kegiatan pengembangan diri di sekolah termasuk peserta didik yang membutuhkan layanan khusus;

c. Memberikan bimbingan siswa pada saat kegiatan layanan dan kosultasi kelompok sesuai jadwal layanan, serta layanan individu sesuai dengan kebutuhan peserta didik; dan d. Melaporkan hasil penilaian kegiatan pengembangan diri tiap semester;

(38)

32 Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur

F. PENYUSUNAN PERANGKAT PEMBELAJARAN

Tahapan persiapan yang perlu dilakukan penyesuian adalah perangkat pembelajaran, yaitu Silabus, Program Semester, dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Penyesuaian diperlukan karena paradigma tahunan yang biasanya dilakukan pada sistem paket harus disesuaikan dengan paradigma semesteran pada SKS.

a. Silabus yang semula dirancang untuk kelas VII, VIII, dan IX perlu direkonstruksi sesuai dengan serial mata pelajaran. Rekonstruksi silabus dilakukan dengan cara memotong dan/atau menggabungkan kompetensi dan materi pokok sesuai dengan hasil pemetaan KI-KD yang disusun pada serial mata pelajaran, dengan merujuk pada lampiran Permendikbud No. 24 Tahun 2016 tentang Kompetensi Inti Dan Kompetensi Dasar Pelajaran Pada Kurikulum 2013 dan KMA No.165 Tahun 2014 tentang Kurikulum Madrasah 2013 Mapel PAI dan Bahasa Arab, atau peraturan lain yang berlaku.

b. Program semester dirancang untuk satu semester dan dapat digunakan pada semester ganjil atau genap. Dengan demikian pada SKS tidak diperlukan program tahunan, karena acuan program pembelajaran adalah semesteran.

(1)Secara umum mekanisme, prosedur, dan teknik penyusunan RPP mengacu pada ketentuan Permendikbud No.22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar Dan Menengah atau peraturan lain yang berlaku. RPP perlu disesuaikan dengan alokasi waktu sesuai dengan program semester. Dengan memperhatikan: a) Alokasi waktu pertemuan sesuai dengan road map / sebaran mata pelajaran; b) Perlu dilengkapi dengan kegiatan penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri;

G. PERSIAPAN SARANA PENDUKUNG

Pelaksanaan SKS di Madrasah Tsanawiyah memerlukan sarana pendukung sebagai upaya memaksimalkan pencapaian peningkatan mutu layanan. Sarana pendukung yang sebaiknya disiapkan antara lain:

(39)

Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur 33 (1)Dalam kelas paralel terjadi perbedaan beban belajar dan mata pelajaran dalam

tiap semester;

(2)Membantu tugas PA dan BK dalam mengontrol dan membimbing peserta didik melalui data yang tersimpan dalam program tersebut;

(3)Memudahkan data penilaian untuk mencetak laporan akhir semester dan laporan kumulatif setiap akhir semester;

b. Bahan ajar mandiri yang dikembangkan sesuai dengan serial mata pelajaran termasuk yang tersedia dalam bentuk digital dan mudah diakses. Hal ini untuk mendorong kemandirian belajar peserta didik untuk mencapai keberhasilan belajarnya.

c. Fasilitas dan waktu belajar yang fleksibel yang memberi layanan belajar lebih luas bagi peserta didik tertentu dengan kemampuan dan semangat belajar yang tinggi.

H. PELAKSANAAN PEMBELAJARAN SKS

Setelah melakukan persiapan di atas, selanjutnya sesuai dengan roadmap pembelajaran yang sudah disusun maka perlu dilakukan beberapa tahapan langkah sebagai berikut;

1. Penugasan Guru Mata Pelajaran

Penugasan guru mata pelajaran perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: a. Memiliki kemampuan yang baik dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Dengan demikian pada tahun ke dua, guru yang ditugaskan dapat menggunakan perangkat pembelajaran yang sudah ada dengan perbaikan dan penyesuaian yang diperlukan.

b. Memiliki persiapan yang baik sebagai pembimbing, pembina, dan pemberi motivasi kepada peserta didik.

c. Memiliki budaya belajar yang baik untuk terus berkembang dan integritas terbaik dalam menjalankan tugas.

(40)

34 Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur

2. Penyusunan Jadwal Mata Pelajaran

Penyusunan Jadwal mata pelajaan yang memuat dua pola, yaitu pola kontinu/homogen dan pola diskontinu/ on-off harus berdasarkan pada road map / sebaran mata pelajaran.

3. Pelaksanaan Layanan Konsultasi PA dan BK

Pembimbing Akademik dan BK memberikan layanan bimbingan sesuai dengan tugas dan fungsinya serta bekerjasama untuk melayani peserta didik sampai lulus. 4. Pelaksanaan UTS dan UAS

UTS dan UAS dilaksanakan oleh guru mata pelajaran dalam jadwal semester guna melakukan penilaian terhadap hasil belajar peserta didik.

5. Pelaksanaan Rapat Akhir Semester

Rapat akhir semester merupakan kegiatan rutin untuk mengevaluasi hasil belajar dan pelaksanaan SKS. Madrasah penyelenggara SKS perlu melakukan rapat akhir semester guna membahas masalah kelulusan peserta didik pada tiap mata pelajaran, semester pendek, kegiatan ekstrakurikuler dan tidak lagi membahas masalah kenaikan kelas.

Beberapa masalah yang diagendakan dalam rapat akhir semester antara lain: a. Hasil belajar satu semester mencakup keberhasilan dan ketuntasan peserta

didik dalam mata pelajaran;

b. Rekapitulasi peserta didik yang akan dilayani melalui kegiatan semeser pendek dan perencanaan kegiatannya;

c. Mekanisme dan prosedur pengisian KRS sesuai dengan roadmap pembelajaran dan penyesuaian terhadap hasil pengisian KRS;

d. Analisis hasil layanan PA dan BK selama satu semester; e. Pembagian tugas mengajar untuk semester yang akan datang; 6. Penyusunan Laporan Hasil Belajar / Rapor

(41)

Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur 35 memanfaatkannya). Oleh karena itu selain tersaji nilai pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara rinci dan terpisah dibolehkan untuk menyajikan nilai kesatuan kedua aspek tersebut dalam satu nilai indeks prestasi.

7. Pelaksanaan Kegiatan Semester Pendek

Kegiatan semester pendek (SP) diberikan kepada peserta didik untuk memperbaiki nilai, kegiatan semester pendek dilaksanakan setelah pembagian rapor semester, dapat pula dilaksanakan pada libur akhir semester, hari sabtu (bagi sekolah dengan 5 hari belajar), atau pada jam di mana tidak ada pembelajaran. Kegiatan ini dikoordinasi oleh penyelenggara SKS dengan jadwal kegiatan serta guru-guru yang diberi tugas.

I. EVALUASI DAN TINDAK LANJUT

Evaluasi pelaksanaan SKS meliputi evaluasi kinerja satuan pendidikan yang dilakukan oleh satuan pendidikan sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Evaluasi dilakukan oleh satuan pendidikan pada setiap akhir semester, meliputi: tingkat kehadiran peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan, pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kegiatan ekstrakurikuler, dan hasil belajar peserta didik.

1) Evaluasi terhadap kurikulum meliputi:

a. Struktur beban belajar dan struktur kurikulum setiap program,

b. Serial mata pelajaran,

c. Susunan KI dan KD sesuai dengan serial mata pelajaran,

d. Peraturan akademik,

e. Mekanisme pemilihan beban belajar,

f. Menentukan pembimbing akademik,

g. Melaksanakan penilaian hasil belajar untuk menentukan Indeks Prestasi. 2) Evaluasi terhadap pengelola dilakukan setahun sekali, mencakup:

a. Tingkat relevansi pendidikan terhadap visi, misi, dan tujuan;

(42)

36 Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur

d. Tingkat daya saing satuan pendidikan pada tingkat daerah, nasional, regional, dan global.

3) Evaluasi Hasil

a. Evaluasi hasil dilakukan melalui analisis hasil belajar peserta didik dalam bentuk hasil tiap mata pelajaran dan perubahan perilaku. Setiap mata pelajaran memiliki data hasil belajar pada aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Evaluasi dilakukan setiap semester hingga hasil akhir UAMBN dan UN.

b. Evaluasi terhadap prilaku dilakukan melalui survei dan pengamatan pada aspek kemandirian, motivasi, dan kepuasan terhadap layanan pembelajaran dan penilaian.

(43)

Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur 37 BAB V

PENUTUP

Sistem Kredit Semester yang disingkat SKS merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan yang peserta didiknya diberi kesempatan menentukan jumlah beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan/kecepatan belajar. Pola penyelenggaraan SKS secara kontinu atau secara diskontinu merupakan variasi yang dapat dipilih madrasah dalam menyelenggaran sistem tersebut. Oleh karena itu, penyelenggaraan SKS di MTs bukan sesuatu yang niscaya, melainkan sesuatu yang bersifat inovatif dan membawa warna berbeda dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia.

(44)

38 Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur

Surat Keputusan

Tentang

Madrasah Tsanawiyah Penyelenggara

Sistem kredit semester

(45)
(46)
(47)
(48)
(49)
(50)
(51)
(52)
(53)
(54)
(55)
(56)
(57)
(58)
(59)
(60)
(61)
(62)
(63)
(64)
(65)
(66)
(67)
(68)
(69)
(70)
(71)
(72)
(73)
(74)
(75)
(76)
(77)
(78)
(79)
(80)
(81)
(82)

76 Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur

DOKUMENTASI KEGIATAN ASOSIASI MTs-SKS

JAWA TIMUR

RAPAT KOORDINASI DAN EVALUASI PENYELENGGARAAN SKS Di MTs Negeri Bangkalan, 30 Maret 2017

Keterangan Gambar:

Dari Kiri: Kepala MTsN Bangkalan, Kepala Kantor Kemenag Bangkalan,

Pendma Kanwil Kemenag Jatim Ketua Asosiasi MTs-SKS Jatim

RAPAT KOORDINASI DAN EVALUASI PENYELENGGARAAN SKS Di MTs Negeri Bangkalan,

30 Maret 2017

Keterangan Gambar:

Para Kepala, Waka Kurikulum dan Ketua Program MTs-SKS Jatim

RAPAT KOORDINASI DAN EVALUASI PENYELENGGARAAN SKS Di MTs Negeri Bangkalan,

30 Maret 2017

Keterangan Gambar:

Dari Kiri: Ketua Asosiasi, Wakil Ketua Asosiasi,

(83)

Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur 77

RAPAT KOORDINASI DAN EVALUASI PENYELENGGARAAN SKS Di Telaga Sarangan Magetan, 28-29 Juli 2017,

dihadiri oleh Kasi Kurev Pendma Kanwil Kemenag Jatim, Para Pejabat Kantor Kemenag Magetan, Para Kepala, Waka Kurikulum dan Ketua Program MTs-SKS Jatim

RAPAT KOORDINASI DAN EVALUASI PENYELENGGARAAN SKS Di Telaga Sarangan Magetan, 28-29 Juli 2017,

dihadiri oleh Para Kepala, Waka Kurikulum dan Ketua Program MTs-SKS Jatim

RAPAT KOORDINASI DAN EVALUASI PENYELENGGARAAN SKS Di Telaga Sarangan Magetan, 28-29 Juli 2017,

(84)

78 Asosiasi MTs Penyelenggara SKS Jawa Timur

RAPAT KOORDINASI DAN EVALUASI PENYELENGGARAAN SKS Di Telaga Sarangan Magetan, 28-29 Juli 2017,

Sekretaris dan Wakilnya sedang melakukan proses update Data Profil Madrasah MTs SKS Jawa timur

RAPAT KOORDINASI DAN EVALUASI PENYELENGGARAAN SKS Di Telaga Sarangan Magetan, 28-29 Juli 2017,

Gambar

Tabel 1: Tahapan Penyelenggaraan SKS
Tabel 2: Struktur Kurikulum dan Beban Belajar Pola Kontinu
Tabel 3: Contoh Struktur  Kurikulum dan Beban Belajar Pola Diskontinu 6
Tabel 4: Contoh Struktur  Kurikulum dan Beban Belajar Pola Diskontinu 5 Semester
+4

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Nomor 34 Tahun 2006 tentang Pembinaan Prestasi Didik yang memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa Pasal 21 yang

Karena Madrasah Mu’allimat tersebut menanamkan pendidikan yang mengembangkan potensi yang dimiliki oleh peserta didik, yakni: nilai- nilai kecerdasan spiritual (SQ), dan

Pendidikan Inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan

Cara guru bimbingan dan konseling meningkatkan prestasi belajar yang rendah pada peserta didik kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pontianak dengan

Madrasah mampu meningkatkan mutu pendidikannya apabila setiap komponen yang ada di madrasah mampu bekerja secara kompak demi peningkatan prestasi peserta didik.

Kecerdasan emosional memiliki peran yang sangat penting dalam mencapai prestasi belajar anak didik di sekolah maupun setelah keluar nanti, karena dengan kecerdasan

Dengan menerapkan adanya program bimbingan olimpiade bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan logika matematika, lembaga ini sering kali mendapatkan juara atau prestasi yang

Adanya perbedaan kemampuan kecepatan belajar dan tingkat kecerdasan peserta didik diakomodasi melalui implementasi Sistem Kredit Semester SKS dengan masa studi dua tahun ini sebagai