PARADIGMA BARU
PENYELENGGARAAN
PEMERINTAHAN
Dalam perspektif Undang-Undang Administrasi Pemerintahan
dan Kaitannya Dengan Perkembangan Hukum Acara Peradilan Tata usaha negara
Ditulis oleh:
Undang-Undang Administrasi
Pemerintahan menjamin
hak-hak dasar dan memberikan
pelindungan kepada Warga
Masyarakat serta menjamin
penyelenggaraan tugas-tugas
negara sebagaimana dituntut
oleh suatu negara hukum
sesuai dengan Pasal 27 ayat
(1), Pasal 28 D ayat (3), Pasal
28 F, dan Pasal 28 I ayat (2)
Pertimbangan hukum dikeluarkan UU No 30 tahun 2014:
1. bahwa dalam rangka meningkatkan kualitas penyelenggaraan
pemerintahan, badan dan/atau pejabat pemerintahan dalam
menggunakan wewenang harus mengacu pada asas-asas umum
pemerintahan yang baik dan berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
2. bahwa untuk menyelesaikan permasalahan dalam
penyelenggaraan pemerintahan, pengaturan mengenai
administrasi pemerintahandiharapkan dapat menjadi solusi
dalam memberikan pelindungan hukum, baik bagi warga
masyarakat maupun pejabat pemerintahan;
3. bahwa untuk mewujudkan pemerintahan yang baik, khususnya
bagi pejabat pemerintahan, undang-undang tentang administrasi
pemerintahanmenjadi landasan hukum yang dibutuhkan guna
mendasari keputusan dan/atau tindakan pejabat pemerintahan
untuk memenuhi kebutuhan hukum masyarakat dalam
Tujuan UU No 30 Tahun 2014:
a. menciptakan tertib penyelenggaraan
Administrasi
Pemerintahan;
b. menciptakan kepastian hukum;
c. mencegah terjadinya penyalahgunaan
Wewenang;
d. menjamin akuntabilitas Badan
dan/atau Pejabat
Pemerintahan;
e. memberikan pelindungan hukum
kepada Warga
Masyarakat dan aparatur
pemerintahan;
f. melaksanakan ketentuan peraturan
undangan dan menerapkan AUPB; dan
g. memberikan pelayanan yang
sebaik-baiknya
Ruang Lingkup UU Nomor 30 Tahun 2014:
a. Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan yang menyelenggarakan Fungsi Pemerintahan
dalam lingkup
lembaga eksekutif;
b. Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan yang menyelenggarakan
Fungsi Pemerintahan dalam lingkup lembaga yudikatif;
c. Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan yang menyelenggarakan
Fungsi Pemerintahan dalam lingkup lembaga legislatif; dan
d. Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan lainnya yang
menyelenggarakanFungsi Pemerintahan yang disebutkan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
Sistem dan prosedur
penyelenggaraan tugas
pemerintahan dan pembangunan
harus diatur dalam undang-undang
Oleh karena itu diperlukan peraturan yang dapat mengarahkan penyelenggaraan
Pemerintahan menjadi lebih sesuai dengan harapan dan kebutuhan masyarakat (citizen friendly), guna memberikan landasan dan pedoman bagi Badan dan/atau Pejabat
Secara kontruksi hukum UU No 30 tahun
2014 adalah hukum materil dari Hukum Tata Usaha Negara
Artinya warga masyarakat juga dapat
mengajukan gugatan terhadap
Keputusan dan/atau Tindakan Badan
dan/atau Pejabat Pemerintahan kepada
Peradilan Tata Usaha Negara, karena
Undang-Undang Administrasi
Pemerintahan merupakan hukum
Secara hak konsutusional keberadaan Undang-Undang Administrasi
Pemerintahan mengaktualisasikan secara khusus norma konstitusi hubungan antara negara dan Warga Masyarakat
Maka pengaturan Administrasi Pemerintahan dalam Undang-Undang Administrasi
Pemerintahan merupakan instrumen penting dari negara hukum yang demokratis, dimana Keputusan dan/atau Tindakan yang ditetapkan dan/atau dilakukan oleh Badan dan/atau
Pejabat Pemerintahan atau penyelenggara negara lainnya yang meliputi
lembaga-lembaga di luar eksekutif, yudikatif, dan legislatif yang menyelenggarakan fungsi
Tugas pemerintahan adalah untuk mewujudkan tujuan negara sebagaimana dirumuskan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tugas tersebut merupakan tugas yang sangat luasSecara konstruksi hukum keberadaan
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 dimaksudkan sebagai payung hukum bagi penyelenggaraan pemerintahan, tetapi juga sebagai instrumen
untuk meningkatkan kualitas pelayanan
Warga Masyarakat tidak lagi hanya
menjadi objek, melainkan subjek yang aktif terlibat dalam penyelenggaraan Pemerintahan.
Dalam rangka memberikan jaminan
pelindungan kepada setiap Warga
Masyarakat, maka Undang-Undang
Administrasi Pemerintahan
memungkinkan Warga Masyarakat untuk
mengajukan keberatan dan banding
terhadap Keputusan dan/atau tindakan,
kepada Badan dan/atau Pejabat
Keberadaan UU No 30 Tahun 2014
hakekatnya merupakan implementasi
nilai-nilai ideal dari sebuah negara hukumDengan demikian dapat diartikan bahwa penyelenggaraan kekuasaan negara harus lebih
banyak berpihak kepada warganya, karena undang-Undang Administrasi Pemerintahan
diperlukan dalam rangka memberikan jaminan kepada Warga Masyarakat yang semula sebagai objek menjadi subjek dalam sebuah negara hukum yang merupakan bagian dari perwujudan
kedaulatan rakyat. Kedaulatan Warga Masyarakat dalam sebuah negara tidak dengan sendirinya
dapat terwujud. Pengaturan Administrasi
Pemerintahan dalam Undang-Undang Administrasi Pemerintahan menjamin bahwa Keputusan
dan/atau Tindakan Badan dan/atau Pejabat
Pemerintahan terhadap Warga Masyarakat tidak dapat dilakukan dengan semena-mena, yang
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 merupakan transformasi dari asas-asas umum yang baik. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014
merupakan transformasi dari asas-asas umum yang baik yang telah dipraktikkan selama
berpuluh-puluh tahun dalam penyelenggaraan Pemerintahan, dan dikonkretkan ke dalam
norma hukum yang mengikat. Asas-asas umum yang baik akan terus berkembang, sesuai
dengan perkembangan dan dinamika
masyarakat dalam sebuah negara hukum.
Karena itu penormaan asas ke dalam Undang-Undang berpijak pada asas-asas yang
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 menjadi dasar hukum dalam penyelenggaraan
pemerintahan di dalam upaya meningkatkan pemerintahan yang baik (good governance)
Undang-Undang Administrasi Pemerintahan sebagai upaya untuk mencegah praktik korupsi, kolusi, dan
nepotisme. Undang-Undang Administrasi Pemerintahan harus mampu menciptakan birokrasi yang semakin baik, transparan, dan efisien. Secara konsepsional, bahwa pengaturan terhadap Administrasi Pemerintahan pada dasarnya adalah upaya untuk membangun
prinsip-prinsip pokok, pola pikir, sikap, perilaku, budaya dan pola tindak administrasi yang demokratis, objektif, dan profesional dalam rangka menciptakan keadilan dan kepastian hukum. Selain itu Undang-Undang
Administrasi Pemerintahan merupakan keseluruhan upaya untuk mengatur kembali Keputusan dan/atau Tindakan Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan
UU No 30 Tahun 2014 sangat mendasar dan memperluas administrasi
Pemerintahan, karena lingkupnya tidak hanya di eskekutif, tetapi juga yudikatif dan legislatif (Pasal 4 UU Nomor 30 Tahun 2014).
Sebagai contoh, gugurnya kapasitas penyidik dalam menilai suatu perbuatan termasuk dalam ranah
penyalahgunaan wewenang karena telah beralih kepada Pengadilan Tata Usaha Negara untuk diuji terlebih dahulu. Hal tersebut seiring dengan telah diundangkannya UU Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan pada tanggal 17
Oktober 2014, yang diperkuat dengan bunyi ketentuan Pasal 21 ayat (1) UU Administasi Pemerintahan, yaitu:
Pengadilan berwenang menerima, memeriksa, dan memutuskan ada atau tidak ada unsur
Dengan demikian unsur “menyalahgunakan kewenangan” sebagaimana tersebut dalam Pasal 3 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi diartikan memiliki pengertian yang sama dengan
“penyalahgunaan kewenangan” sebagaimana disebut dalam Pasal 21 ayat (1) UU RI Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi
Pemerintahan, atau lebih jauh lagi bahwa ketentuan dalam Pasal 21 ayat (1) UU RI
Nomor 30 Tahun 2014 tersebut dianggap telah mencabut kewenangan yang dimiliki penyidik dalam melakukan penyidikan dalam rangka mengetahui apakah telah terjadi
penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh seorang tersangka selaku pejabat
Keterkaitan tersebut menimbulkan
kesulitan dalam membedakan
kapan seorang aparatur negara itu
melakukan
perbuatan melawan
hukum
yang masuk dalam ruang
lingkup hukum pidana dan kapan
dapat dikatakan
melakukan
penyalahgunaan
wewenang
yang masuk dalam
Secara substansial, asas spesialitas
(specialialiteit beginsel) mengandung makna bahwa setiap kewenangan memiliki tujuan
tertentu. Penyimpangan terhadap asas ini akan melahirkan penyalahgunaan kewenangan
(detournement de pouvoir). Parameter
peraturan perundang-undangan maupun asas-asas umum pemerintahan yang baik
dipergunakan untuk membuktikan
instrumen atau modus penyalahgunaan
kewenangan (penyalahgunaan kewenangan dalam Pasal 3 UUPTPK). Sedangkan
penyalahgunaan kewenangan baru dapat
diklasifikasikan sebagai tindak pidana apabila berimplikasi terhadap kerugian negara atau perekonomian negara (kecuali untuk tindak pidana korupsi suap, gratifikasi, dan
pemerasan), tersangka mendapat keuntungan, masyarakat tidak dilayani, dan perbuatan
Pada kenyataannya, hukum pidana menganut prinsip “personal responsibility” yang artinya tanggung jawab pidana adalah tanggung jawab pribadi. Hal ini secara langsung telah memberi garis batas yang jelas dalam hal ditemukan
adanya “wilayah abu-abu” dalam peririsan antara hukum administrasi dengan hukum
pidana. Pada hukum administrasi berlaku prinsip pertanggungjawaban jabatan (liability jabatan), sedangkan dalam hukum pidana berlaku prinsip pertanggungjawaban pribadi (personal
responsibility). Dalam hal ini penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh aparatur negara dengan tujuan-tujuan yang tidak dibenarkan dan khususnya untuk tindak pidana korupsi
penyalahgunaan wewenang tersebut mengakibatkan kerugian negara atau
perekonomian negara maka hal tersebut
Pada akhirnya, berujung pada kompetensi
(kewenangan) suatu badan pengadilan untuk mengadili suatu perkaradapat dibedakan
atas kompetensi relatif dan kompetensi absolut. Kompetensi relatif berhubungan dengan
kewenangan pengadilan untuk mengadili suatu perkara sesuai dengan wilayah hukumnya.
Sedangkan
kompetensi absolut adalah kewenangan pengadilan untuk mengadili suatu perkara
menurut obyek, materi atau pokok sengketa atau wewenang badan pengadilan dalam memeriksa jenis perkara tertentu yang secara mutlak tidak dapat diperiksa oleh badan pengadilan dalam lingkungan pengadilan lain.
Sehingga, kompetensi absolut atau kewenangan mutlak memberi jawaban atas pertanyaan:
Kehadiran Undang-undang No.30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan yang
disahkan pada tanggal 17 Oktober 2014, telah membawa perubahan yang signifikan terhadap kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara,
karena kompetensi absolut Peradilan Tata
Pemberlakukan UU No. 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan, telah membawa perubahan besar terhadap kompetensi absolut Peradilan Tata Usaha Negara
Perubahan yang terjadi dengan diundangkannya UU Administarsi Pemerintahan, adalah menyangkut hal-hal sebagai berikut:
1. Perluasan Pemaknaan Keputusan TUN (pasal 1 angka 7 UU AP)
2. Kompetensi Peradilan TUN terhadap Tindakan administrasi
pemerintahan /tindakan factual pejabat TUN. (pasal 1 angka 8 UUAP).
3. Kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara terhadap Pengujian tentang
ada atau tidaknya penyalah gunaan wewenang dalam penerbitan
Keputusan Tata Usaha Negara. ( Pasal 21 UU AP)
4. Kompetensi Peratun untuk mengadili/mengabulkan tuntutan ganti rugi,
tanpa pembatasan jumlah tertentu.
5. Kompetensi Peradilan Tata Usaha Negata Tingkat satu untuk mengadili
gugatan pasca Upaya Administratif .
6. Kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara untuk memutuskan terhadap