• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KOMPENSASI DAN STRESS KERJA TER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH KOMPENSASI DAN STRESS KERJA TER"

Copied!
135
0
0

Teks penuh

(1)

DI PT. LIEBRA PERMANA

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat sidang skripsi Guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

Oleh :

Ratna Suryani

074010303

PROGRAM STUDI MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PASUNDAN

(2)

Sumber daya yang dimaksudkan tentu saja termasuk sumber daya manusia. Manajemen sumber daya manusia tentu saja termasuk manajemen kompensasi dan manajemen tingkat stres kerja yang dihadapi oleh sumber daya manusia.

Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data studi literatur dan penelitian langsung ke lapangan dengan cara melakukan wawancara dan peninjauan secara langsung terhadap aktivitas perusahaan. Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kompensasi dan stres kerja dengan produktivitas kerja karyawan hal itu dilakukan dengan menggunakan uji korelasi, dan pengujian hipotesis. Dimana penulis mengadakan penelitian terhadap alat yang dapat memotivasi karyawan dalam bekerja yaitu kompensasi dan stres kerja pengaruhnya terhadap produktivitas kerja karyawan.

Berdasarkan hasil analisa data dengan metode analisis jalur diperoleh bahwa setiap variabel bebas yaitu kompensasi memiliki hubungan yang lemah dengan stres kerja dengan koefisien korelasi sebesar -0.468 yang artinya korelasi bersifat negatif dengan besar pengaruh -5.747, dengan menggunakan analisis jalur didapatkan besarnya koefisien jalur dari kompensasi ke produktivitas adalah 0.867 dan koeisien jalur dari stres kerja menuju produktivitas adalah -0.056, yang dapat diartikan bahwa setiap peningkatan Kompensasi sebesar satu satuan, maka akan meningkatkan Produktivitas (karena nilainya positif) sebesar 0,867 satuan, dan setiap peningkatan Stress Kerja sebesar satu satuan, maka akan meurunkann Produktivitas sebesar 0,056 satuan.

Secara simultan variabel kompensasi dan stres kerja memiliki pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas dengan hasil Uji Bersama (F) yang lebih tinggi dari F tabel yaitu sebesar 233.46. Sedangkan uji secara parsial menghasilkan besar pengaruh total kompensasi terhadap produktivitas kerja

adalah 77.38%dan besar pengaruh total stres kerja terhadap produktivitas adalah

2.59%. Dari perhitungan tersebut diperoleh total pengaruh variabel Kompensasi

dan Stress Kerja terhadap Produktivitas adalah sebesar 79.96%, sedangkan

pengaruh faktor lainnya terhadap Produktivitas ditunjukkan oleh nilai ε = 20.04%.

(3)

i

Puji dan syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena berkat

bimbingan dan kehendak-Nyalah skripsi yang berjudul “Pengaruh Kompensasi dan Stres Kerja Terhadap Produktivitas Karyawan Divisi Quality Assurance di PT. Liebra Permana” dapat diselesaikan.

Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat sidang skripsi guna

memperoleh gelar Sarjana Ekonomi. Penulis menyadari sepenuhnya dalam

pembuatan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan, sehingga

masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat

membangun sangat diharapkan untuk perbaikan dan penambahan pengetahuan bagi

penulis sehingga tugas yang diberikan akan menjadi lebih sempurna.

Tak ada kata yang pantas penulis berikan sebagai rasa penghormatan dan

ucapan terimakasih penulis kepada Ibu Dr. Atty Tri Juniarti, SE., MSi. selaku dosen

pembimbing yang telah membimbing penulis dengan penuh kesabaran. Selanjutnya

kepada pihak-pihak terkait penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi, Drs., MSi. selaku Rektor Universitas

Pasundan.

2. Dr. H. R. Abdul Maqin, SE., MP. selaku Dekan Fakultas Ekonomi

(4)

3. Dr. H. Jaja Suteja, SE., MSi. selaku Pembantu Dekan I Fakultas Ekonomi

Universitas Pasundan Bandung.

4. Dr. Atang Hermawan, SE., MSi. selaku Pembantu Dekan II Fakultas

Ekonomi Universitas Pasundan Bandung.

5. Bapak Sadikun Citra Rusmana, SE. selaku Pembantu Dekan III Fakultas

Ekonomi Universitas Pasundan Bandung.

6. Dr. H. Juanim, SE., MSi. selaku Ketua Jurusan Program Studi Manajemen

Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan Bandung.

7. Bapak Bardjo Sugeng, SE., MSi. selaku Ketua Program Ekstensi Fakultas

Ekonomi Universitas Pasundan Bandung

8. Ibu Jenny Syika Sinaga selaku pembimbing lapangan di PT. Liebra Permana

dan seluruh staf dan karyawan PT. Liebra Permana khusunya divisi Quality

Assurance.

9. Seluruh pimpinan dan karyawan PT. Setiabudhi Tours and Travel tempat

penulis bekerja, Ibu Sienny, Bapak Boyke, Satria Megha, Yatie Sobaryati,

Emilia Ismet dan Alex Kurniawan.

10.Suami tercinta Ramli Nainggolan, terimakasih untuk seluruh dukungan yang

diberikan.

11.Keluarga tercinta untuk semua doa dan bantuan serta motivasinya baik moril

maupun materil.

12.Teman-teman yang sudah banyak membantu, Iriene, Hendriksen, Adhi

(5)

13.Seluruh staf karyawan Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan Bandung yang

sudah banyak membantu untuk menyelesaikan skripsi ini.

14.Seluruh pihak yang sudah membantu, yang tidak dapat disebutkan satu

persatu.

Akhir kata semoga Tuhan yang membalas semua budi baik yang telah

diberikan kepada penulis. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi seluruh

pihak yang membutuhkannya.

Bandung,28 April 2011

Penulis

(6)

iv

KATA PENGANTAR... i

DAFTAR ISI ……….... iv

DAFTAR TABEL... viii

DAFTAR GAMBAR... xii

BAB I PENDAHULUAN ………. 1

1.1 Latar Belakang Masalah .……… 1

1.2 Identifikasi dan Rumusan Masalah ……… 6

1.3 Tujuan Penelitian………... 8

1.4 Kegunaan Penelitiaan……….. 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1 Tinjauan Pustaka ………. 10

2.1.1 Kompensasi………...……… 11

2.1.1.1 Definisi Kompensasi ...……… 11

2.1.1.2 Jenis-jenis Kompensasi...……….. 12

2.1.1.3 Tujuan Pemberian Kompensasi...………. 13

2.1.1.4 Faktor Yang Mempengaruhi Besarnya Kompensasi... 15

2.1.1.5 Tantangan Dalam Pemberian Kompensasi...………... 17

(7)

2.1.2.1 Pengertian Stres Kerja...………... 21

2.1.2.2 Faktor Penyebab Stres Kerja ...………. 23

2.1.2.3 Indikator Stres Kerja ...………….. 25

2.1.2.4 Dampak Stress Kerja ... 26

2.1.2.5 Mengatasi Stres Kerja ... 28

2.1.3 Produktivitas ……….... 31

2.1.3.1 Pengertian Produktivitas.………..… 31

2.1.3.2 Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas.………. 32

2.1.3.3 Pengukuran Produktivitas………... 34

2.1.3.4 Indikator Produktivitas ...………. 36

2.2 Kerangka Pemikiran ...………. 37

2.3 Hipotesis ……… 40

BAB III METODE PENELITIAN……...………. 41

3.1Metode Penelitian ....……….. 41

3.2Definisi Variabel dan Operasionalisasi Variabel ...……….42

3.2.1 Definisi Variabel……… 42

3.2.2 Operasionalisasi Variabel ………. 42

3.3Populasi dan Sampel ……...……… 44

(8)

3.3.3 Jenis dan Sumber Data…………...………... 46

3.3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 47

3.4Uji Validitas dan Uji Reliabilitas ...………. 48

3.4.1 Uji Validitas……….. 48

3.4.2 Uji Reliabilitas………... 49

3.5 Analisis Pengolahan Data ………...…... 50

3.5.1 Analisis Korelasi... 51

3.5.2 Analisis Jalur ... 52

3.6 Pengujian Hipotesis ... 54

BAB 1V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 56

4.1 Hasil Penelitian... 56

4.1.1 Gambaran Umum Perusahaan... 56

4.1.2 Profil Responden... 57

4.2 Pembahasan ………... 60

4.2.1 Kompensasi Karyawan Divisi Quality Assurance pada PT. Liebra Permana. ... 60

(9)

Liebra Permana... 63

4.2.4 Tanggapan responden mengenai Kompensasi. ...66

4.2.5 Tanggapan responden mengenai Stres Kerja ... 74

4.2.6 Tanggapan responden mengenai Produktivitas kerja... 83

4.3 Uji Validitas dan Reliabilitas... 90

4.3.1 Uji Validitas ………. 90

4.3.2 Uji Reliabilitas ……….. 91

4.4 Analisis Statistik Pengaruh Kompensasi dan Stres Kerja terhadap Produktivitas Karyawan Divisi Quality Assurance di PT. Liebra Permana. ... 93

4.4.1 Analisis Jalur... 93

4.4.2 Hubungan Antar Variabel... 94

4.4.3 Koefisien Jalur... 95

4.4.4 Pengujian Jalur Secara Simultan dan Parsial... 97

4.4.5 Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung... 101

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 104

5.1 Kesimpulan... 104

5.2 Saran... 105

(10)

viii

Tabel 1.1 Produktivitas Kerja Karyawan ... 3

Tabel 3.1 Operasionalisai Variabel ... 43

Tabel 3.2 Pedoman kode kuesioner ...48

Tabel 4.1 Profil Responden Berdasarkan Usia...57

Tabel 4.2 Profil Responden Berdasarkan Pendidikan ...58

Tabel 4.3 Profil Responden Berdasarkan Jabatan ...58

Tabel 4.4 Profil Responden Berdasarkan Masa Kerja...59

Tabel 4.5 Profil Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan ...59

Tabel 4.6 Hasil Produksi Pakaian Dalam...65

Tabel 4.7 Produktivitas Karyawan...65

Tabel 4.8 Tanggapan responden mengenai Kesesuaian Kompensasi Dengan Beban Kerja ... 66

Tabel 4.9 Tanggapan responden mengenai Upah per-jam ...67

Tabel 4.10 Tanggapan responden mengenai Insentif ...67

Tabel 4.11 Tanggapan responden mengenai Tunjangan Hari Raya...68

Tabel 4.12 Tanggapan responden mengenai Tunjangan Kesehatan...68

Tabel 4.13 Tanggapan responden mengenai Peningkatan Jumlah Kompensasi...69

Tabel 4.14 Tanggapan responden mengenai Manfaat Kompensasi ...69

Tabel 4.15 Tanggapan responden mengenai Tunjangan Kesehatan ...70

(11)

Tabel 4.17 Tanggapan responden mengenai Tunjangan Hari Raya ...71

Tabel 4.18 Tanggapan responden mengenai Insentif ...71

Tabel 4.19 Tanggapan responden mengenai Harapan Jumlah Gaji...72

Tabel 4.20 Tanggapan responden mengenai Insentif ...72

Tabel 4.21 Tanggapan responden mengenai Kompensasi ...73

Tabel 4.22 Tanggapan responden mengenai Kompensasi ...73

Tabel 4.23 Tanggapan responden mengenai Tekanan darah Selama Bekerja...74

Tabel 4.24 Tanggapan responden mengenai Sakit kepala Selama Bekerja...75

Tabel 4.25 Tanggapan responden mengenai Sakit perut Selama Bekerja...75

Tabel 4.26 Tanggapan responden mengenai Ketegangan Selama Bekerja...76

Tabel 4.27 Tanggapan responden mengenai Kegelisahan Selama Bekerja ...76

Tabel 4.28 Tanggapan responden mengenai Rasa Marah Selama Bekerja...77

Tabel 4.29 Tanggapan responden mengenai Peningkatan Absensi Selama Bekerja...77

Tabel 4.30 Tanggapan responden mengenai Perubahan Pola Makan...78

Tabel 4.31 Tanggapan responden mengenai perubahan pola tidur...78

Tabel 4.32 Tanggapan responden mengenai perubahan cara berbicara...79

Tabel 4.33 Tanggapan responden mengenai lingkungan kerja ...79

Tabel 4.34 Tanggapan responden mengenai sakit kepala selama bekerja...80

Tabel 4.35 Tanggapan responden mengenai rasa kecewa ...80

Tabel 4.36 Tanggapan responden mengenai rasa malas bekerja...81

Tabel 4.37 Tanggapan responden mengenai tambahan pekerjaan...81

(12)

Tabel 4.39 Tanggapan responden mengenai kegelisahan...82

Tabel 4.40 Tanggapan responden mengenai pengetahuan akan target jumlah dan

kualitas produk yang ditetapkan oleh perusahaan ...83

Tabel 4.41 Tanggapan responden mengenai pencapaian target ...83

Tabel 4.42 Tanggapan responden mengenai pengetahuan jumlah penggunaan

masukan yang ditetapkan perusahaan ...84

Tabel 4.43 Tanggapan responden mengenai penggunaan seluruh bahan baku ...84

Tabel 4.44 Tanggapan responden mengenai penyelesaian pekerjaan...85

Tabel 4.45 Tanggapan responden mengenai penggunaan seluruh bahan baku ...85

Tabel 4.46 Tanggapan responden mengenai pemanfaatan waku kerja ...86

Tabel 4.47 Tanggapan responden mengenai kesesuaian kerja dengan target

perusahaan...86

Tabel 4.48 Tanggapan responden mengenai konsentrasi dalam bekerja...87

Tabel 4.49 Tanggapan responden mengenai kepedulian terhadap penetapan

anggaran...87

Tabel 4.50 Tanggapan responden mengenai kepedulian terhadap batas waktu

penyelesaian pekerjaan ...88

Tabel 4.51 Tanggapan responden mengenai penghematan bahan baku dalam

proses produksi...88

Tabel 4.52 Tanggapan responden mengenai ketergantungan dalam penyelesaian

tugas...89

Tabel 4.53 Tanggapan responden mengenai kepedulian terhadap standar kualitas

(13)

Tabel 4.54 Tanggapan responden mengenai pemanfaatan waktu...90

Tabel 4.55 Validitas Reliabilitas...92

Tabel 4.56 Korelasi Bivariat...94

Tabel 4.57 Matriks korelasi invers...95

Tabel 4.58 Hasil Perhitungan Jalur...96

Tabel 4.59 Uji Hipotesis Secara Simultan...98

Tabel 4.60 Hasil Pengujian Secara Simultan...98

Tabel 4.61 Pengujian parsial...100

Tabel 4.62 Pengujian Hubungan Antar Variabel Bebas...101

Tabel 4.63 Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung Kompensasi Terhadap Produktivitas...102

Tabel 4.64 Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung Stress Kerja Terhadap Produktivitas...102

(14)

xii

Gambar 2.2 Paradigma Penelitian ... 40

(15)

1

1.1 Latar Belakang Masalah

Indonesia sebagai sebuah negara dengan kawasan yang luas memiliki

keunggulan yang dapat diandalkan, yaitu dalam wujud sumber daya alam dan

sumber daya manusia. Indonesia mempunyai kekayaan alam yang melimpah,

mulai dari minyak dan gas bumi, pertanian, hingga perkebunan, yang semuanya

bisa menjadi kekuatan daya saing.

Dari sisi sumber daya manusia, jumlah penduduk yang lebih dari 200 juta

orang merupakan keunggulan tersendiri. Menurut data dari Badan Pusat Statistik,

angkatan kerja yang ada di Indonesia sampai Februari 2009 adalah 113.744.408

jiwa. Jumlah angkatan kerja tersebut bukanlah angka yang kecil. Angkatan kerja

sebanyak itu, dibarengi dengan tingkat upah yang tergolong rendah, dapat

dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan untuk menjalankan produksi dalam

rangka mendapatkan keuntungan. Tidak heran jika selama ini banyak perusahaan

asing ternama yang menjalankan proses produksi barang-barang mereka di

Indonesia. Seperti yang diungkapkan Executive Vice President Hankook Tire

Hyun Bum Cho dalam http://www.bisnis.com/ekonomi/makro/8111, bahwa faktor

yang menjadi alasan manajemen Hankook memilih Indonesia sebagai salah satu

pusat produksi ban antara lain sumber daya alam yang melimpah, penduduk yang

ramah, banyaknya tenaga kerja muda, pemerintahan yang baik, dan stabilitas

(16)

Di antara sekian banyak perusahaan dalam negeri yang mengerjakan

produksi atas pesanan pemilik merk di luar negeri, salah satunya adalah PT.

Liebra Permana (LP). LP merupakan perusahaan swasta di Indonesia yang

bergerak di bidang tekstil, khususnya pakaian dalam wanita. LP mempekerjakan

3.480 pegawai, baik karyawan tetap ataupun karyawan kontrak. LP telah

menjalin kerja sama dengan menjadi pemasok produk bagi beberapa perusahaan

pakaian dalam terkenal berkelas dunia, seperti Victoria's Secret dan La Senza,

yang selama ini menjadi buyer LP. Produk yang diproduksi oleh LP akan

diekspor dan dipasarkan ke luar negeri seperti Amerika, Kanada, Eropa dan

sebagian kecil di ekspor ke wilayah Asia.

Mengingat LP memproduksi produk yang kelak akan dipasarkan dengan

merk dagang yang telah dikenal secara mendunia, maka adalah hal yang wajar

apabila pihak buyer meminta LP untuk selalu menjaga kualitas produknya supaya

sesuai dengan standar mutu yang telah ditetapkan oleh buyer. Hal ini karena para

buyer akan selalu berusaha menjaga kepercayaan para konsumennya dengan cara

menghadirkan produk-produk yang sesuai dengan kualitas merk dagang mereka.

Dalam konteks ini, maka LP pun dituntut untuk menjaga kepercayaan buyer

dengan memenuhi standar yang diminta oleh buyer agar produk-produk hasil

produksi LP dapat memenangkan kompetisi di pasar.

LP adalah perusahaan tekstil yang melibatkan banyak sumber daya

manusia. Setiap karyawan LP harus memiliki pola pikir yang sama dengan pihak

manajemen bahwa kepercayaan buyer adalah hal yang penting. Selain itu,

(17)

keberhasilan sumber daya manusia yang dimilikinya, tidak terkecuali bagi sumber

daya manusia di divisi Quality Assurance.

Divisi Quality Assurance memegang peran penting dalam proses produksi

di LP. Divisi Quality Assurance menjadi penentu apakah produk yang dihasilkan

layak untuk dipasok kepada perusahaan buyer atau tidak. Di LP divisi Quality

Assurance merupakan wakil dari manajemen inti yang memutuskan bahwa mutu

produk sudah sesuai standar buyer. Oleh karena itu, divisi Quality Assurance

diharuskan mengetahui secara pasti standar yang diinginkan oleh buyer, baik dari

segi kualitas, kuantitas, dan desain. Untuk itu, karyawan divisi Quality Assurance

harus memiliki ketelitian untuk memeriksa dan mengevaluasi semua produk yang

sedang ataupun telah selesai diproduksi.

LP berusaha mengolah, mengatur, dan memberdayakan karyawannya, agar

mereka dapat berperan secara produktif. Untuk itu, LP menerapkan sebuah sistem

manajemen yang dapat mengelola setiap sumber daya manusia agar mempunyai

keunggulan dalam meningkatkan kinerja masing-masing. Produktivitas yang baik

dapat menjadi faktor yang penting bagi upaya pencapaian tujuan perusahaan.

Oleh karena itu, LP selalu melakukan evaluasi produktivitas kepada karyawan

setiap divisi per tahun. Penilaian produktivitas tersebut dapat dilihat dalam tabel

berikut ini :

Tabel 1.1

Produktivitas Kerja Karyawan divisi Quality Assurance tahun 2007-2009

Tahun 2007 2008 2009

Rata-rata performance appraisal 2.9 2.75 2.71

(18)

Data pada tabel tersebut adalah data penilaian produktivitas kerja dari

tahun 2007 – 2009 yang secara rata-rata menggabungkan semua komponen

penilaian dari segi pencapaian target produksi dan perilaku dalam skala 1-5. Dari

tabel tersebut dapat dilihat bahwa terjadi penurunan produktivitas kerja dalam tiga

tahun terakhir. Penurunan produktivitas kerja mungkin saja disebabkan oleh

tuntutan karwanan terhadap kompensasi yang tidak dipenuhi oleh perusahaan.

Sebagai karyawan, memahami peranan kompensasi adalah penting dalam rangka

mencapai tujuan mereka, yaitu kesejahteraan saat kini dan masa depan (Tb. Sjafri

Mangkuprawira 2004, 197), hal ini senada dengan hasil survai WorkIndonesia

yang mengungkapkan bahwa salah satu pendorong utama keterikatan karyawan di

Indonesia adalah kompensasi. (

http://www.portalhr.com/majalah/edisisebelumnya/kompensasi/1id850.html )

lebih lanjut dalam http://www.portalhr.com/beritahr/seputarhr/1id460.html

dikemukakan hasil survai dari lembaga konsultan perusahaan Croner di Inggris

dalam rangka International Stress Awareness Day yang mengemukakan bahwa

kekhawatiran soal keuangan menempati urutan tertinggi penyebab stres

Di sisi lain, pihak perusahaan juga menetapkan standar tertentu mengenai

besaran kompensasi yang layak diterima oleh karyawan, sesuai dengan beban dan

tanggungjawab tiap karyawan, serta kinerjanya dalam melaksanakan amanat

tersebut.

Karena itu, pemberian kompensasi harus melibatkan kepentingan kedua

(19)

berkepentingan, maka perlu diterapkan sebuah manajemen kompensasi yang

dapat menjembatani kepentingan pihak-pihak yang terkait.

LP sebagai pengguna tenaga kerja tentu saja dituntut untuk memberikan

kompensasi yang berazaskan rasa keadilan dan kelayakan sesuai dengan

ketentuan pemerintah yang berlaku (Herman Sofyandi 2008, 162). Dalam hal ini,

LP selalu melakukan penyesuaian nilai kompensasi setiap tahun. LP berusaha

untuk mengikuti peraturan pemerintah tentang upah minimum kabupaten/kota

Bogor tahun 2010 sesuai keputusan Gubernur Jawa Barat nomor

561/Kep.1665-bangsos/2009 yaitu sebesar Rp 971.200,-. Karyawan divisi Quality Assurance

mendapatkan gaji pokok sebesar Rp 1.056.914, tanpa mendapatkan tunjangan

makan, jabatan maupun tunjangan lain seperti transportasi dan lain-lain.

Meskipun mendapat gaji di atas UMR, para karyawan LP tetap

mengharapkan tunjangan-tunjangan yang selama ini belum mereka dapatkan.

Menurut Presiden Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia, Rekson

Silaban, upah minimum merupakan jaring pengaman untuk karyawan dengan

masa kerja nol tahun

(http://www.portalhr.com/beritahr/compensation/1id1483.html). Hal ini mungkin saja menjadi salah satu faktor yang menjadi beban pemikiran bagi karyawan LP

sehingga menurunkan produktivitas kerja divisi tersebut.

Selain itu penurunan produktivitas ini diduga disebabkan oleh

tekanan-tekanan yang dialami oleh karyawan. Tekanan tersebut dapat berasal dari luar

pekerjaan seperti kompensasi sebagaimana diungkapkan sebelumnya dan dapat

(20)

buyer terutama terhadap karyawan divisi Quality Assurance yang khawatir jika

hasil produksi yang diserahkan kepada pihak buyer ditolak karena alasan

kesalahan mayor dan atau minor. Penolakan dari buyer berarti seluruh karyawan

divisi Quality Assurance harus mengulang kembali semua pekerjaannya dan

mereka semakin mendapat tekanan dari segi durasi penyelesaian yang jauh lebih

pendek dari sebelumnya. Tekanan yang diterima oleh karyawan divisi Quality

Assurance bukan hanya datang dari pihak buyer, tapi juga datang dari dalam

lingkungan kerjanya, terutama dari pimpinan yang terus memaksa karyawan

untuk bekerja dengan cepat dan sempurna.

Berdasarkan latar belakang di atas, judul penelitian yang diajukan penulis

adalah “Pengaruh Kompensasi dan Stress Kerja Terhadap Produktivitas

Karyawan Divisi Quality Assurance di PT. Liebra Permana.”

1.2 Identifikasi dan Rumusan Masalah

1.2.1 Identifikasi Masalah

Sebagai perusahaan-perusahaan ternama dengan merk yang sudah dikenal

secara global, para buyer LP selalu menuntut hasil produksi yang sempurna sesuai

dengan standar yang mereka miliki. Sebagai pemasok, LP tentu harus

menyesuaikan mutu produk dengan standar yang telah ditentukan. Standar

tersebut meliputi dari segi kualitas, kuantitas, desain dan tentu waktu

penyelesaian. Tekanan kerja terbesar yang dialami oleh karyawan divisi Quality

Assurance adalah ketika mereka diharuskan mengulang semua pekerjaan mereka

(21)

buyer dalam pengulangan pekerjaan ini tentu sangat pendek karena buyer harus

menjual produk tersebut sesuai waktu yang telah diagendakan. Beban kerja

seperti ini dapat menimbulkan stress kerja yang berpotensi menurunkan

produktivitas karyawan LP khususnya di divisi Quality Assurance.

Dengan tekanan kerja sebesar itu, para karyawan LP divisi Quality

Assurance pun dihadapkan pada tekanan lain dari luar pekerjaan seperti tuntutan

karyawan tentang pemberian tunjangan, baik itu tunjangan makan, transportasi,

dan tunjangan-tunjangan lainnya yang hingga kini belum terpenuhi. Apabila

merujuk kepada kebijakan pemerintah, maka LP sudah memenuhi peraturan

pemerintah dalam pemberian upah karyawan sesuai dengan UMR yang berlaku.

Akan tetapi, karyawan yang memiliki keluarga serta kebutuhan menghendaki

nominal kompensasi yang lebih besar dari yang telah diberikan. Dalam hal ini,

penurunan produktivitas dapat terjadi disebabkan oleh adanya ketidakpuasan

karyawan terhadap jumlah kompensasi yang diterimanya dan juga kekhawatiran

finansial yang dialaminya.

1.2.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka dirumuskan

masalah penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana kompensasi karyawan divisi Quality Assurance di PT.

Liebra Permana.

2. Bagaimana stress kerja karyawan divisi Quality Assurance di PT.

(22)

3. Bagaimana produktivitas karyawan divisi Quality Assurance di PT.

Liebra Permana.

4. Sejauh mana kompensasi dan stress kerja berpengaruh secara simultan

maupun parsial terhadap produktivitas karyawan divisi Quality

Assurance di PT. Liebra Permana.

1.3Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengkaji :

1. Kompensasi karyawan divisi Quality Assurance di PT. Liebra Permana.

2. Stress kerja karyawan divisi Quality Assurance di PT. Liebra Permana.

3. Produktivitas karyawan divisi Quality Assurance di PT. Liebra Permana.

4. Sejauh mana pengaruh kompensasi dan stress kerja kerja secara simultan

dan parsial terhadap produktivitas karyawan divisi Quality Assurance di

PT. Liebra Permana.

1.4Kegunaan Penelitian

1. Bagi Penulis

a. Dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang kompensasi dan

stress kerja.

b. Untuk mengembangkan dan menambah ilmu pengetahuan yang

diperoleh selama di bangku kuliah, sebagai persiapan di masa yang

(23)

c. Sebagai bahan perbandingan antara teori dengan praktek yang

sesungguhnya.

2. Bagi PT. Liebra Permana.

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan

pemikiran bagi PT Liebra Permana dalam membangun sumber daya

manusia, terutama yang berkaitan dengan stress kerja dan kompensasi

kinerja karyawan di PT Liebra Permana.

b. Sebagai referensi dan literatur bagi PT Liebra Permana.

3. Bagi Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan

a. Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan kepustakaan

dan menambah referensi dan literatur buku-buku yang ada di

perpustakaan Universitas Pasundan Fakultas Ekonomi.

b. Terjalin kerjasama antara lingkungan pendidikan dan pihak perusahaan

PT Liebra Permana.

4. Bagi Pihak Lain

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pengetahuan dan informasi

(24)

10

DAN HIPOTESIS

2.1 Tinjauan Pustaka

Sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor penting dalam

perusahaan selain faktor-faktor lain. Oleh karena itu, perusahaan harus memiliki

sistem manajemen yang tepat untuk mengelola sumber daya yang dimilikinya

termasuk sumber daya manusia. Manajemen yang dapat meningkatkan efektivitas

dan efisiensi organisasi sangat dibutuhkan dalam pencapaian tujuan organisasi.

Agar pengertian sumber daya manusia lebih jelas, maka akan dikemukakan

pendapat dari beberapa orang ahli. Menurut Malayu Hasibuan (2006,10) MSDM

adalah “ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar

efektif dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan

masyarakat.”

Sedangkan Henry Simamora (2004, 4) mengartikan MSDM sebagai

“pendayagunaan, pengembangan, penilaian, pemberian balasan jasa dan

pengelolaan terhadap individu anggota organisasi atau kelompok bekerja”.

Adapun A.A Anwar Prabu Mangkunegara (2005, 2) mengatakan bahwa

MSDM adalah “perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan

(25)

pemeliharaan, dan pemisahan tenaga kerja dalam rangka mencapai tujuan

organisasi.”

Dari beberapa definisi tentang manajemen sumber daya manusia yang telah

dikemukakan, maka dapat disimpulkan bahwa manajemen sumber daya manusia

adalah suatu ilmu untuk mengelola sumber daya manusia yang terdapat di perusahaan

dalam rangka mencapai tujuan perusahaan.

2.1.1 Kompensasi

2.1.1.1 Definisi Kompensasi

Kompensasi merupakan komponen penting dalam hubungan perusahaan

dengan karyawannya. Jika dikelola dengan baik, kompensasi membantu perusahaan

untuk mencapai tujuan dan memperoleh, memelihara, dan menjaga karyawan dengan

baik.

Sedarmayanti (2009, 23) mengatakan bahwa kompensasi adalah “segala

sesuatu yang diterima oleh pegawai sebagai balas jasa untuk kerja mereka.”

Pendapat lain tentang kompensasi diungkapkan oleh Davis dan Werther

dialihbahasakan oleh Mangkuprawira (2004, 196), yaitu “sesuatu yang diterima

karyawan sebagai penukar dari kontribusi jasa mereka pada perusahaan”

Panggabean (2004, 75) mengungkapkan bahwa kompensasi adalah, “setiap

bentuk penghargaan yang diberikan kepada karyawan sebagai balas jasa atas

(26)

Sofyandi (2008, 159) menyebutkan bahwa “kompensasi merupakan suatu

bentuk biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan dengan harapan bahwa

perusahaan akan memperoleh imbalan dalam bentuk prestasi kerja dari

karyawan.”

Dari definisi yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa kompensasi

adalah segala sesuatu yang dikeluarkan oleh perusahaan sebagai balas jasa kepada

karyawan atas kontribusinya terhadap perusahaan.

2.1.1.2 Jenis-jenis Kompensasi

Kompensasi tidak selalu berbentuk uang tetapi dapat juga berupa bukan uang,

sebagaimana dikemukakan oleh Sofyandi (2008, 159-160) yang mengkategorikan

kompensasi ke dalam dua golongan, yaitu:

a. Kompensasi langsung (direct compensation)

Kompensasi langsung adalah balas jasa yang diberikan perusahaan kepada

karyawan karena telah memberikan prestasinya demi kepentingan perusahaan.

Kompensasi ini diberikan karena secara langsung berkaitan dengan pekerjaan

yang dilakukan karyawan tersebut. Contoh: upah/gaji, insentif/bonus.

Pembayaran kompensasi langsung dapat didasarkan pada jabatan atau

kedudukan seperti manajer, supervisor, sekretaris, atau pegawai pabrik yang

(27)

b. Kompensasi tidak langsung (indirect compensation)

Kompensasi tidak langsung merupakan pemberian kompensasi kepada

karyawan sebagai tambahan yang didasarkan kepada kebijakan pimpinan

dalam rangka upaya meningkatkan kesejahteraan karyawan. Contohnya

fasilitas dan pelayanan yang diberikan perusahaan, tunjangan hari raya,

tunjangan kesehatan.

Kompensasi tidak langsung diberikan pada karyawan didasarkan pada

keanggotaannya sebagai pegawai di perusahaan, bukan berdasarkan kinerja

pegawai tersebut secara langsung (Efendi, 2007, 245).

2.1.1.3 Tujuan Pemberian Kompensasi

Menurut Davis dan Werther (1996) dalam Mangkuprawira (2003, 197), secara

umum tujuan manajemen kompensasi adalah untuk membantu perusahaan mencapai

tujuan keberhasilan strategis perusahaan dan menjamin terjadinya keadilan internal

dan eksternal.

Keadilan eksternal adalah jaminan bahwa pekerjaan dikompensasi secara adil

dengan membandingkan pekerjaan yang sama di pasar kerja, sedangkan keadilan

internal adalah jaminan bahwa permintaan posisi yang lebih tinggi dan orang yang

lebih berkualifikasi dalam perusahaan akan diberi bayaran yang lebih tinggi.

Sedarmayanti (2009, 24) mengemukakan tujuan sistem kompensasi yang baik,

(28)

a. Menghargai prestasi kerja

Pemberian kompensasi yang memadai adalah suatu penghargaan organisasi

terhadap prestasi kerja para pegawainya. Hal tersebut selanjutnya akan

mendorong kinerja pegawai sesuai dengan yang diinginkan organisasi.

b. Menjamin keadilan

Dengan adanya sistem kompensasi yang baik, akan menjami adanya keadilan

diantara pegawai dalam organisasi. Masing-masing pegawai akan

memperoleh imbalan yang sesuai dengan tugas, fungsi, jabatan, dan prestasi

kerjanya.

c. Mempertahankan pegawai

Dengan sistem kompensasi yang baik, para pegawai akan lebih betah atau

bertahan bekerja pada organisasi itu. Hal ini berarti mencegah keluarnya

pegawai dari organisasi untuk mencari pekerjaan yang lebih menguntungkan.

d. Memperoleh pegawai yang bermutu

Sistem kompensasi yang baik akan menarik lebih banyak calon pegawai.

Dengan banyaknya pelamar atau calon pegawai, maka peluang untuk memilih

pegawai yang bermutu akan lebih banyak.

Tingkat pembayaran harus responsif terhadap suplai permintaan pasar kerja

karena para pengusaha berkompetisi untuk mendapatkan karyawan yang

(29)

e. Pengendalian biaya

Sistem kompensasi yang baik, akan mengurangi seringnya pelaksanaan

rekruitmen, sebagai akibat dari makin seringnya pegawai yang keluar mencari

pekerjaan yang lebih menguntungkan. Hal ini berarti penghematan biaya

untuk rekruitmen dan seleksi calon pegawai baru.

f. Memenuhi peraturan

Sistem gaji dan upah yang sehat mempertimbangkan faktor-faktor yang legal

yang dikeluarkan pemerintah dan menjamin pemenuhan kebutuhan karyawan.

(Tb. Sjafri Mangkuprawira 2003, 198).

2.1.1.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Besarnya Kompensasi

Sebelum menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya kompensasi,

Mangkuprawira (2004,197) mengungkapkan ada beberapa prinsip yang diterapkan

dalam manajemen kompensasi, antara lain sebagai berikut:

a. Terdapat rasa keadilan dan pemeratan pendapatan dalam perusahaan.

b. Setiap pekerjaan dinilai melalui proses evaluasi pekerjaan dan kinerja.

c. Mempertimbangkan keuangan perusahaan.

d. Nominal dalam sistem penggajian mampu bersaing dengan harga pasar tenaga

kerja yang sejenis.

e. Sistem penggajian yang baru dapat membedakan orang yang berprestasi baik

(30)

f. Sistem penggajian yang baru harus dikaitkan dengan penilaian kinerja

karyawan.

Setelah dikemukakan prinsip dalam pemberian kompensasi, maka selanjutnya

faktor-faktor yang mempengaruhi perusahaan dalam pemberian kompensasi menurut

Herman Sofyandi (2008, 162) :

a. Adanya permintaan dan penawaran tenaga kerja

Apabila permintaan tenaga kerja datang dari pihak perusahaan maka secara

otomatis kompensasi relatif tinggi, sebaliknya apabila individu yang

membutuhkan pekerjaan maka kompensasi relatif lebih rendah.

b. Kemampuan dan kesediaan perusahaan membayar

Bahwa ukuran besar atau kecilnya kompensasi yang akan diberikan kepada

karyawan akan sangan tergantung kepada kemampuan finansial yang dimiliki

perusahaan.

c. Serikat buruh atau organisasi karyawan

Eksistensi karyawan dalam perusahaan akan membuat karyawan membentuk

suatu ikatan dalam rangka proteksi atas kesemena-menaan pimpinan, maka

akan muncul rasa yang menyatakan bahwa perusahaan tidak akan bisa

mencapai tujuannya tanpa adanya karyawan. Hal ini dapat mempengaruhi

besarnya kompensasi.

d. Produktivitas kerja/prestasi kerja karyawan

Kemampuan karyawan dalam menghasilkan prestasi kerja akan sangat

(31)

e. Biaya hidup/living cost

Tingkat biaya hidup disuatu daerah akan mempengaruhi besarnya

kompensasi.

f. Posisi atau jabatan karyawan

Tingkat jabatan karyawan akan mempengaruhi besarnya kompensasi, selain

itu berat ringannya bebas dan tanggung jawab suatu pekerjaan pun

mempengaruhi kompensasi.

g. Tingkat pendidikan dan pengalaman kerja

Semakin tinggi pendidikan karyawan dan semakin banyak pengalaman kerja,

maka semakin tinggi kompensasinya.

h. Sektor pemerintah

Pemerintah sebagai pelindung agar karyawan mendapat kompensasi yang adil

dan layak.

2.1.1.5 Tantangan dalam Pemberian Kompensasi

Dalam menentukan jumlah kompensasi yang didapat seorang karyawan tentu

pihak manajemen harus memikirkan dengan matang agar kompensasi yang diterima

oleh karyawan memenuhi azaz layak dan adil tetapi memberikan rasa keadilan juga

bagi pihak perusahaan.

Berikut ini beberapa tantangan yang dihadapi oleh perusahaan dalam

(32)

1. Tujuan Strategik

Pemberian kompensasi tidak hanya dibatasi pada keadilan internal dan

eksternal saja, hal ini juga dapat digunakan untuk strategi perusahaan yang

lebih jauh. Misalnya sistem pembayaran tidak hanya didasarkan pada nilai

pekerjaan terterntu tetapi pada tingkat kemampuan dan keahlian karyawan.

2. Tingkat Upah Berlaku

Tekanan pasar dapat menyebabkan beberapa pekerjaan dibayar lebih mahal

daripada nilai relati pekerjaan mereka. Pergeseran demografi dan hubungan

suplai dan permintaan tenaga kerja relatif mempengaruhi kompensasi.

3. Kekuatan Serikat Pekerja

Serikat pekerja khususnya di negara maju memiliki kekuatan rebut tawar

yang relatif tinggi dalam penentuan upah karyawan, khususnya untuk anggota

serikat. Serikat pekerja juga berperan sebagai pemasok calon karyawan yang

bermutu, termasuk dalam melakukan tekanan terhadap perusahaan yang

berupa tertulis atau tidak tertulis seperti pemogokan apabila terjadi stagnasi

dalam perundingan dengan perusahaan. Pada saat inilah perusahaan harus

memikirkan dengan matang sejauhmana untung ruginya perusahaan manakala

terjadi pemogokan apakah perlu dinaikan tingkat upah atau tidak.

4. Kendala Pemerintah

Kendala pemerintah dapat berupa undang-undang ketenagakerjaan, peraturan

pemerintah, dan kebijakan yang dianggap kurang adil baik ditinjau dari segi

(33)

5. Pemerataan Pembayaran

Pemerataan pembayaran yang dilakukan tap perusahaan sangat didasarkan

pada persamaan hak dan persamaan pekerjaan. Maka adalah hal yang penting

dalam pemerataan pembayaran banyak mempertimbangkan faktor-faktr yang

memungkinkan terjadinya jurang yang lebar dalam hal pembayaran dari satu

pekerjaan dengan pekerjaan lain dan dari satu pekerja dengna pekerja lainnya,

untuk itu dibutuhkan evaluasi pekerjaan, termasuk evaluasi beban, secara

cermat dan mampu dibandingkan secara obyektif.

6. Penyesuaian dan Strategi Kompensasi

Kebanyakan perusahaan memiliki stratedi dan kebijakan kompensasi deimana

gaji dan upah dapat diseusikan setiap waktu. Termasuk dalam hal

penyesuaian pembayaran jika secara nasional ternyata terjadi peningkatan

biaya hidup dikalangan masyarakat.

7. Tantangan Kompensasi Internasional

Analisi kompensasi harus memfokuskan tidak hanya pada aspek keadilan

tetapi juga pada daya saing. Hal yang mungkin terjadi adalah upah dan gaji

patokan di negara lain yang lebih maju memiliki daya saing tinggi mungkin

malah dapat menyebabkan terjadinya komponen biaya tenga kerja yang lebih

mahal dibanding di negara yang kurang maju. Perusahaan yang mampu

berkompetisi secara global dapat memanfaatkan survei gaji lokal di negaranya

(34)

8. Produktivitas dan Biaya

Dalam keadaan apapun sebuah perusahaan memiliki komitmen untuk

memperoleh keuntungan usaha agar dapat tetap hidup. Maka inovasi

perusahaan mernjadi strategis tidak saja dalam meningkatkan produktivitas,

tetapi juga menjekan biaya produksi. Bisa jadi perusahaan akan memotong

atau bahkan menambah tingkat pembayaran bagi karyawan dimana semuanya

tergantung pada perkembangan perusahaan yang dicirikan oleh kemampuan

perusahaaan untuk meningkatkan produktivitas dan menekan biaya

produksinya melalui penerapan inovasi prosuktif secara berkelanjutan.

2.1.1.6 Indikator Kompensasi

Sofyandi (2008, 159-160) mengemukakan bahwa indikator kompensasi terdiri

dari:

1. Kompensasi langsung, dengan indikator:

a. Gaji

Adalah imbalan finansial yang dibayarkan kepada karyawan secara

teratur, seperti tahunan, bulanan, mingguan (Panggabean 2004, 77)

b. Upah

Adalah imbalan finansial langsung yang dibayarkan kepada para pekerja

berdasarkan jam kerja, jumlah barang yang dihasilkan atau banyaknya

(35)

c. Insentif

Adalah imbalan langsung yang dibayarkan kepada karyawan karena

kinerjanya melebihi standar yang ditentukan. (Panggabean 2004, 77)

2. Kompensasi tidak langsung (fringe benefit), dengan indikator:

a. Tunjangan Hari Raya (THR)

b. Tunjangan kesehatan

2.1.2 Stres Kerja

2.1.2.1 Pengertian Stres Kerja

Hidup manusia tidak pernah lepas dari stres, dalam berbagai bentuknya.

Rutinitas hidup, dan segala problematika hidup, membuat manusia senantiasa

mengalami pasang surut stres. Secara alamiah, stres timbul sebagai akibat dari

interaksi manusia dengan lingkungannya, karena itu stres merupakan bagian yang

wajar dalam kehidupan manusia.

Efendi (2007:303) mengungkapkan bahwa stres adalah

“situasi ketegangan/tekanan emosional yang dialami seseorang yang sedang menghadapi tuntutan yang sangat besar, hambatan-hambatan, dan adanya kesempatan yang sangat penting yang dapat mempengaruhi emosi, pikiran dan kondisi fisik seseorang”.

Robbins (2003:376) mengatakan bahwa “stres menunjukkan suatu kondisi

dinamika yang di dalamnya seorang individu dikonfrontasikan dengan suatu

peluang, kendala, atau tuntutan yang dikaitkan dengan apa yang diinginkan

(36)

Siagian (2007:300) mengatakan bahwa stres “merupakan kondisi ketegangan yang

berpengaruh terhadap emosi, jalan pikiran, dan kondisi fisik seseorang”.

Sedangkan Handoko (2008, 200) mengungkapkan bahwa stress adalah “suatu

kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir, dan kondisi

seseorang.”

Bagi orang-orang yang sudah bekerja, maka stres itu muncul dalam bentuk

stres kerja sesuai dengan lingkungan pekerjaannya. Stres kerja adalah tekanan, beban,

konflik, keletihan, ketegangan, panik, kemurungan dan hilang daya yang terjadi di

lingkungan pekerjaan, dimana karyawan berinteraksi dengan pekerjaannya.

Menurut Mangkunegara (2005, 28) stres kerja adalah “perasaan yang

menekan atau merasa tertekan yang dialami karyawan dalam menghadapi

pekerjaan”.

Beehr dan Franz (dikutip Bambang Tarupolo, 2002, 17) mendefinisikan stres

kerja sebagai “suatu proses yang menyebabkan orang merasa sakit, tidak

nyaman atau tegang karena pekerjaan, tempat kerja atau situasi kerja yang

tertentu.”

Stres mempunyai dampak positif atau negatif. Dampak positif stres pada

tingkat rendah sampai pada tingkat moderat bersifat fungsional dalam arti berperan

sebagai pendorong peningkatan kinerja pegawai sedangkan pada dampak negatif stres

pada tingkat yang tinggi adalah penurunan pada kinerja karyawan yang drastis

(37)

Stres yang tidak diatasi dengan baik biasanya berakibat pada ketidakmampuan

seseorang untuk berinteraksi secara positif dengan lingkungannya, baik dalam arti

lingkungan pekerjaan maupun lingkungan luar lainnya. Hal ini berarti karyawan yang

bersangkutan akan menghadapi berbagai gejala negatif yang akhirnya akan

berpengaruh terhadap prestasi kerja karyawan.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa stres kerja adalah

situasi ketegangan dan penuh tekanan yang dihadapi seorang karyawan dalam

menjalani pekerjaannya. Stres kerja menjadi masalah yang penting karena situasi itu

dapat mempengaruhi kepuasan dan produktivitas kerja karyawan (Marihot 2007, 303)

2.1.2.2 Faktor Penyebab Stres

Stres merupakan hal yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan, karena itu

diperlukan penanganan yang baik agar karyawan senantiasa berada dalam semangat

kerja yang sama untuk mencapai tujuan perusahaan. Untuk mengetahui penanganan

stres secara tepat, maka seorang pimpinan atau manager perlu mengetahui

faktor-faktor penyebab stres.

T. Hani Handoko (2008, 201) mengemukakan penyebab-penyebab stress kerja

dapat dibagi kedalam dua kategori, yaitu on-the-job dan off-the job.

Penyebab stress yang masuk kedalam kategori on-the-job adalah :

1. Beban kerja berlebih

2. Tekanan atau desakan waktu

(38)

4. Wewenang yang tidak mencukupi untuk melaksanakan tanggung jawab

Sedangkan yang termasuk dalam off-the-job adalah:

1. Kekuatiran finansial

2. Masalah yang bersangkutan dengan anak

3. Masalah yang bersangkutan dengan perkawinan

A. A. Anwar Prabu Mangkunegara (2005,28) mengungkapkan bahwa faktor

penyebab stres kerja antara lain beban kerja yang dirasakan terlalu berat, waktu yang

mendesak, kwalitas pengawasan kerja yang rendah, iklim kerja yang tidak sehat,

autoritas kerja yang tidak memadai yang berhubungan dengan tanggung jawab,

konflik kerja, perbedaan nilai antara karyawan dengan pimpinan yang frustasi dalam

kerja.

Pada organisasi yang besar, stres individu biasanya disebabkan oleh rumitnya

pengaturan koordinasi dan rasa tidak berarti di tengah-tengah sekelompok besar

orang-orang yang berkualitas cukup heterogen (Hayati, 2008, 43).

Marihot Tua (2007, 304-305) berpendapat bahwa stres yang dialami karyawan

dapat bersumber dari beberapa stresor, meskipun akibatnya ditimbulkan oleh satu

stresor, dan stresor yang menyebabkan stres seseorang dapat berbeda antara satu

dengan yang lain. Stres yang dialami seseorang bisa ringan atau berat, ini tergantung

kemampuan seseorang dalam menghadapi stresor, yang memang berbeda antara

karyawan yang satu dengan karyawan yang lain. Karena begitu banyaknya

kemungkinan penyebab stres dan dampaknya yang berbeda-beda bagi seseorang,

(39)

dalam situasi stres, seperti terlihat pada Gambar 2.1, sehingga dapat ditanggulangi

dan tidak mengganggu produktivitas karyawan.

Gambar 2. 1 Faktor-faktor yang menimbulkan stres

Sumber : Marihot Tua 2007, 305

2.1.2.3 Indikator Stres Kerja

Dalam bukunya Margianti mengemukakan bahwa gejala seseorang

mengalami stres adalah sebagai berikut (Margianti, 1999, 78-79) :

1. bekerja melewati batas kemampuan

2. keterlambatan masuk kerja yang sering

3. ketidakhadiran pekerjaan

4. kesulitan membuat keputusan

STRESSOR Pekerjaan dan LIngkungan kerja Beban kerja

Konflik peran

Wewenang yang tidak seimbang Ketidakjelasan tugas

Lingkungan kerja yang tidak menyenangkan

Atasan yang tidak menyenangkan Rekan kerja yang tidak

menyenangkan

Lingkungan

Kematian suami atau istri Perceraian

Kenakalan anak-anak

(40)

5. kesalahan yang sembrono

6. kelalaian menyelesaikan pekerjaan

7. lupa akan janji yang telah dibuat dan kegagalan diri sendiri

8. kesulitan berhubungan dengan orang lain

9. kerisauan tentang kesalahan yang dibuat

10. menunjukan gejala fisik seperti pada alat pencernaan, tekanan darah

tinggi, radang kulit dan radang pernapasan.

Marihot (2007, 305) mengemukakan bahwa indikator stress dapat dilihat

sebagai berikut:

1. Gejala fisik, yaitu perubahan-perubahan yang terjadi pada metabolisme organ

tubuh seperti denyut jantung yang meningkat, tekanan darah yang meningkat,

sakit kepala dan sakit perut.

2. Gejala psikologis, yaitu perubahan-perubahan sikap yang terjadi seperti

ketegangan, kegelisahan, ketidaktenangan, kebosanan, dan cepat marah.

3. Gejala perilaku, yaitu perubahan-perubahan atau situasi dimana produktivitas

seseorang menurun, absensi meningkat, kebiasaan makan berubah, merokok

bertambah, banyak minum-minuman keras, tidak bisa tidur, dan berbicara tidak

tenang.

2.1.2.4 Dampak Stres Kerja

Penanganan stres kerja sangat penting dilakukan karena bagi organisasi bukan

(41)

semua aspek dan efektivitas dari organisasi secara keseluruhan. Pengaruh stres kerja

yang paling mudah terlihat adalah perubahan perilaku dari karyawan yang

mengalamai stres kerja. Perubahan ini terjadi sebagai upaya untuk mengatasi stres

karena stres seringkali terjadi akibat adanya persaingan di dalam perusahaan, maka

pengidap stres seringkali bekerja keras secara berlebihan sebagai cara untuk

memenangi kompetisi.

Menurut Mangkunegara, (2005, 28) ada empat pendekatan dalam menangani

stres kerja, yaitu :

1. Pendekatan dukungan sosial

Pendekatan ini dilakukan melalui aktivitas yang bertujuan memberikan

kepuasan sosial kepada karyawan.

2. Pendekatan biofeedback

Pendekatan ini dilakukan melalui bimbingan medis (dokter, psikiater dan

psikolog) sehingga diharapkan dapat menghilangkan stres kerja.

3. Pendekatan kesehatan pribadi

Pendekatan ini merupakan pendekatan preventif sebelum terjadinya stres.

Dalam hal ini karyawan secara periodik memeriksa kesehatannya.

4. Pendekatan meditasi

Pendekatan ini dilakukan melalui penenangan pikiran dan olah raga

pernapasan (misalnya yoga).

Menurut Handoko (2008, 203-204), cara terbaik untuk mengurangi stres

(42)

pekerjaan-pekerjaan sehingga para karyawan mempunyai pilihan keputusan lebih

banyak dan wewenang untuk melaksanakan tanggungjawab mereka. Desain

pekerjaan juga dapat mengurangi kelebihan beban kerja, tekanan waktu dan peran

ganda. Selanjutnya komunikasi dapat diperbaiki untuk memberikan umpan balik

pelaksanaan kerja, dan partisipasi dapat ditingkatkan.

2.1.2.5 Mengatasi Stres Kerja

Ada tiga pola yang menurut A. A. Anwar Prabu Mangkunegara (2005, 38)

dapat mengatasi stres, yaitu :

1. Pola sehat

Pola sehat adalah pola menghadapi stres yang terbaik, yaitu dengan kemampuan

mengelola perilaku dan tindakan sehingga adanya stres tidak menimbulkan

gangguan, akan tetapi menjadi sehat dan berkembang. Mereka yang tergolong

kelompok ini biasanya mampu mengelola waktu dan kesibukan dengan cara yang

baik dan teratur sehingga ia tidak perlu merasa ada sesuatu yang menekan

meskipun sebenarnya tantangan dan tekanan cukup banyak.

2. Pola harmonis

Pola harmonis adalah pola menghadapi stres dengan kemampuan mengalola

waktu dan kegiatan secara harmonis dan tidak menimbulkan berbagai hambatan.

Dalam pola ini, individu mampu mengendalikan berbagai kesibukan dan

tantangan dengan cara mengatur waktu secara teratur. Ia pun selalu menghadapi

(43)

orang lain dengan memberikan kepercayaan yang penuh. Dengan demikian akan

terjadi keharmonisan dan keseimbangan antara tekanan yang diterima dengan

reaksi yang diberikan. Demikian juga terhadap keharmonisan antara dirinya

dengan lingkungan.

3. Pola patalogis

Pola patalogis ialah pola menghadapi stres dengan berdampak berbagai gangguan

fisik maupun sosial-psikologis. Dalam pola ini, individu akan menghadapai

berbagai tantangan dengan cara-cara yang tidak memiliki kemampuan dan

keteraturan mengelola tugas dan waktu. Cara ini dapat menimbulkan

reaksi-reaksi yang berbahaya karena bisa menimbulkan berbagai masalah yang buruk.

Salah satu program untuk menangani stres adalah program konseling.

Konseling atau bimbingan dan penyuluhan adalah pembahasan suatu masalah dengan

seorang karyawan, dengan maksud pokok untuk membantu karyawan tersebut agar

dapat menangani masalah secara baik. Atau dengan kata lain, konseling bertujuan

untuk membuat oarang-orang menjadi lebih efektif dalam memecahkan masalah.

Konseling merupakan suatu kegiatan komunikasi yang dapat memperbaiki prestasi

kerja organisasional, berkurang kekhawatiran terhadap masalah-masalah pribadi atau

berkurang kesedihan emosionalnya, atau membuat kemajuan di bidang tertentu.

Berikut disebutkan beberapa fungsi dari konseling (Malayu Hasibuan, 2006:204),

yaitu :

1. Pemberian nasehat, yaitu dengan mengarahkan mereka dalam pelaksanaan

(44)

2. Penenteraman hati, yaitu dengan meyakinkan karyawan bahwa dia mampu untuk

mengerjakan tugas-tugasnya asalkan dilaksanakan sunguh-sungguh.

3. Komunikasi, yaitu melakukan komunikasi dua arah, formal dan informal, vertikal

maupun horizontal dan umpan balik harus ditanggapi manajer secara positif serta

diberikan penjelasan seperlunya.

4. Pengenduran ketegangan emosional, yaitu membrikan kesempatan bagi orang

tersebut untuk mengemukakan problem yang dihadapinya secara gambling dan

jangan diinterupsi sampai dia selesai mengemukakannya. Baru kemudian kita

berikan pengarahan yang bersifat rohani dan psikologis.

5. Penjernihan pemikiran, yaitu pembahasan problem secara serius dengan orang

lain, membantu seseorang untuk berpikir realistis dan objektif mengatasi

masalahnya.

Tipe-tipe konseling (T. Hani Handoko, 2008, 207) adalah :

1. Directive Counseling

Adalah proses mendengarkan masalah-masalah emosional karyawan,

memutuskan dengan karyawan apa yang seharusnya dilakukan, dan kemudian

memberitahukan kepada karyawan dan memotivasi karyawan untuk

melaksanakan hal itu.

2. Nondirective Counseling

Merupakan suatu proses mendengarkan secara penuh perhatian dan mendorong

karyawan untuk menjelaskan masalah-masalah yang menyusahkan mereka,

(45)

3. Cooperative Counseling

Adalah hubungan timbal balik antara pembimbing dan karyawan yang

mengembangkan pertukaran gagasan secara kooperatif untuk membantu

pemecahan masalah-masalah karyawan. Tipe ini tidak sepenuhnya terpusat pada

karyawan dan tidak sepenuhnya terpusat pada pembimbing; tetapi

mengintegrasikan berbagai gagasan, pengetahuan, pandangan dan nilai-nilai

kedua partisipan dalam hubungan konseling. Oleh karena itu, koperativ

counseling mengkombinasikan berbagai kebaikan kedua tipe konseling lainnya.

2.1.3 Produktivitas

2.1.3.1 Pengertian Produktivitas

Secara bahasa, produktivitas berasal dari bahasa Inggris productivity, sebagai

hasil gabungan dua kata yaitu product + activity. Secara harfiah berarti kegiatan

untuk menghasilkan sesuatu (barang atau jasa) yang lebih tinggi atau lebih banyak.

Konsep produktivitas dalam pandangan ilmu ekonomi biasanya dikaitkan

dengan jumlah keluaran dan harga keluaran. Silver dalam Moeljono (2002, 33)

menganggap bahwa produktivitas hanyalah sejumlah masukan yang digunakan untuk

mencapai sejumlah keluaran. Produktivitas didefinisikan sebagai efisiensi dalam

memproduksi keluaran atau rasio keluaran dibanding masukan.

Sedarmayanti (2009, 57) mengemukakan bahwa “produktivitas

mengandung pengertian perbandingan antara hasil yang dicapai (output)

(46)

Menurut Sinungan (2009, 1-2) “pada dasarnya produktivitas mencakup

sikap mental patriotik yang memandang hari depan secara optimis dengan

berakar pada keyakinan diri bahwa kehidupan hari ini adalah lebih baik dari

hari kemarin dan hari esok adalah lebih baik dari hari ini.”

Menurut L. Greenberg sebagaimana dikutip oleh Sinungan (2009:12),

“produktivitas merupakan perbandingan antara totalitas pengeluaran pada

waktu tertentu dibagi totalitas masukan selama periode tersebut.”

Pandangan mengenai produktivitas hendaknya tidak hanya mengacu pada

jumlah keluaran, melainkan juga terhadap berbagai faktor yang dapat mempengaruhi

proses pencapaian produktivitas itu sendiri sehingga antara produktivitas, efisiensi,

dan efektivitas menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Dengan demikian,

produktivitas bukan saja berbicara tentang hasil, tetapi juga mengenai sumbangan

proses yang efektif dan efisien.

Dari beberapa pengertian yang telah disebutkan, dapat disimpulkan bahwa

produktivitas adalah hubungan antara kualitas yang dihasilkan dengan jumlah kerja

yang dilakukan.

2.1.3.2 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas

Handoko (2008, 193) menyebutkan bahwa faktor- faktor yang mempengaruhi

(47)

tingkat stres, kondisi fisik pekerjaan, sistem kompensasi, desain pekerjaan dan aspek-

aspek ekonomis.

Adapun Wignjosoebroto (2003, 9) mengatakan bahwa pada hakikatnya

produktivitas kerja akan banyak ditentukan oleh 2 faktor utama yaitu:

1) Faktor teknis, faktor yang berhubungan dengan pemakaian dan penerapan

fasilitas produksi secara lebih baik, penerapan metode kerja yang lebih

efektif dan efisien, dan atau penggunaan bahan baku yang lebih ekonomis.

2) Faktor manusia, faktor yang mempunyai pengaruh terhadap usaha- usaha

yang dilakukan manusia didalam menyelesaikan pekerjaan yang menjadi

tugas dan tanggung jawabnya. Ada 2 hal pokok yang menentukan, yaitu

kemampuan kerja dari pekerja tersebut dan yang lain adalah motivasi

kerja yang merupakan pendorong ke arah kemajuan dan peningkatan

prestasi kerja atas seseorang.

Menurut Moellfi (2003, 75), secara garis besar ada 3 faktor yang

mempengaruhi produktivitas kerja yaitu

1) Beban kerja. Berhubungan langsung dengan beban fisik, mental

maupun sosial yang mempengaruhi tenaga kerja sehingga upaya

penempatan pekerja yang sesuai dengan kemampuannya perlu

diperhatikan.

2) Kapasitas kerja. Kapasitas kerja adalah kemampuan seseorang untuk

(48)

sangat bergantung pada jenis kelamin, pendidikan, ketrampilan, usia

dan status gizi.

3) Beban tambahan akibat lingkungan kerja. Lingkungan kerja yang

buruk akan memberikan dampak berupa penurunan produktivitas

kerja, antara lain:

a. Faktor fisik seperti panas, iklim kerja, kebisingan, pencahayaan,

dan getaran.

b. Faktor kimia seperti bahan- bahan kimia, gas, uap, kabut, debu,

partikel.

c. Faktor biologis seperti penyakit yang disebabkan infeksi, jamur,

virus, dan parasit.

d. Fisiologis, letak kesesuaian ukuran tubuh tenaga kerja dengan

peralatan, beban kerja, posisi dan cara kerja yang akan

mempengaruhi produktivitas kerja.

e. Faktor psikologis, berupa kesesuaian antara hubungan kerja antar

karyawan sendiri, karyawan atasan, suasana kerja yang kurang

baik serta pekerjaan yang monoton.

2.1.3.3Pengukuran Produktivitas

Pengukuran produktivitas merupakan suatu alat manajemen yang penting di

(49)

produktivitas merupakan bagian penting yang perlu senantiasa mendapat perhatian

utama.

Pada tingkat perusahaan, pengukuran produktivitas terutama digunakan

sebagai sarana manajemen untuk menganalisa dan memdorong efisiensi produksi.

Pertama, dengan pemberitahuan awal, instalasi dan pelaksanaan suatu sistem

pengukuran, akan meninggikan kesadaran pegawai dan minatnya pada tingkat dan

rangkaian produktivitas.

Kedua, diskusi tentang gambaran-gambaran yang berasal dari metode-metode

yang relatif kasar ataupun dari data yang kurang memenuhi syarat sekalipun, ternyata

memberi dasar bagi analisis proses produksi yang konstruktif.

Secara umum pengukuran produktivitas menurut Sinungan (2009, 24-26)

merupakan perbandingan yang dapat dibedakan dalam tiga jenis yang sangat berbeda:

1. Perbandingan-perbandingan antara pelaksanaan sekarang dengan

pelaksanaan secara historis yang tidak menunjukkan apakah

pelaksanaan sekarang ini memuaskan, namun hanya mengetengahkan

apakah meningkat atau berkurang serta tingkatannya.

2. Perbandingan pelakasanaan antara satu unit (perorangan tugas, seksi,

proses) dengan lainnya. Pengukuran seperti itu menunjukkan pencapaian

relatif.

3. perbandingan pelaksanaan sekarang dengan targetnya, dan inilah yang

(50)

Upaya melakukan perbandingan-perbandingan ini perlu mempertimbangkan

tingkatan daftar susunan dan perbandingan pengukuran produktivitas.

Paling sedikit ada dua jenis tingkat perbandingan yang berbeda, yakni

produktivitas total dan produktivitas parsial.

1. Produktivitas Total adalah perbandingan antara total keluaran (output)

dengan total masukan (input) per satuan waktu. Dalam penghitungan

produktivitas total, semua faktor masukan (tenaga kerja, kapital, bahan,

energi) tehadap total keluaran harus diperhitungkan.

Hasil Total Produktivitas Total =

Masukan Total

2. Produktivitas parsial adalah perbandingan dari keluaran dengan satu

jenis masukan atau input persatuan waktu, seperti upah tenaga kerja,

kapital, bahan, energi, beban kerja, dll.

Hasil parsial Produktivitas Parsial =

Masukan Total

2.1.3.4Indikator Produktivitas Kerja

Sedarmayanti (2009, 58) berpendapat bahwa produktivitas memiliki dua

(51)

a. Efektivitas merupakan ukuran yang memberikan gambaran seberapa jauh

target dapat tercapai.

b. Efisiensi merupakan suatu ukuran dalam membandingkan penggunaan

masukan (input) yang direncanakan dengan penggunaan masukan yang

sebernarnya terlaksana.

Dari dua dimensi ini didapatkan indikator:

a. Indikator efektivitas:

- Target yang ditetapkan

- Target yang tercapai

b. Indikator efisiensi :

- Penggunaan masukan yang direncanakan

- Penggunaan masukan yang sebenarnya terlaksana

2.2 Kerangka Pemikiran

Kompensasi adalah segala sesuatu yang diterima oleh karyawan dari

perusahaan baik dalam bentuk uang maupun bukan uang sebagai balas jasa atas

kontribusi yang diberikannya kepada perusahaan. Manajemen pemberian kompensasi

melibatkan banyak sekali faktor, terutama faktor kinerja dari karyawan tersebut,

walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa kadang kala faktor-faktor subjektif seperti

faktor kemanusiaan, juga turut dilibatkan (Mangkuprawira 2004, 197).

Kompensasi merupakan salah satu cara yang ditempuh perusahaan untuk

(52)

mendorong karyawan agar bekerja dengan produktif (Mangkuprawira, 2004, 197).

Begitupun sebaliknya, pihak perusahaan selalu melihat kemampuan karyawan dalam

menghasilkan produktivitas kerja akan mempengaruhi besarnya kompensasi yang

akan diterima karyawan (Sofyandi 2008, 163). Keterkaitan ini senada dengan hasil

penelitian dari Yuniarti Tandi Rapang (2005, 67) yang berjudul “Pengaruh

Kompensasi Terhadap Produktivitas Karyawan” yang mengungkapkan bahwa

kebijakan kompensasi yang tepat dapat memotivasi dan membangkitkan kegairahan

kerja, sehingga karyawan mempunyai produktivitas kerja yang tinggi. Karena tidak

dapat dipungkiri bahwa mendapatkan penghasilan adalah alasan utama sebagian besar

karyawan untuk bekerja, di samping alasan pendukung lainnya. Kekhawatiran

finansial merupakan salah satu penyebab terjadinya stress kerja yang berasal dari luar

lingkungan pekerjaan (Handoko 2008, 201). Walaupun kekhawatiran finansial

berasal dari luar pekerjaan, tetapi dampak nya cukup siginifikan sehingga seringkali

mengganggu produktivitas kerja karyawan.

Di lain pihak, setiap perusahaan selalu bertujuan untuk meminimalkan biaya

selain meningkatkan profit. Oleh karena itu, perusahaan harus mampu menerapkan

sebuah sistem kompensasi yang tepat agar produktivitas karyawan dapat terjaga dan

keadilan dapat dicapai bagi kedua belah pihak yaitu karyawan dan perusahaan.

Stres kerja merupakan keadaan dimana karyawan merasa tertekan akan

pekerjaannya. Untuk seorang karyawan, stres kerja dapat ditimbulkan dari

(53)

(Handoko 2008, 201). Tekanan seperti ini dapat berdampak positif bagi produktivitas

karyawan apabila diberikan dalam porsi yang cukup dan dikelola dengan baik.

Dalam hal ini, perusahaan perlu menerapkan manajemen stres yang baik di

dalam perusahaan, karena stress merupakan masalah yang penting karena situasi itu

dapat mempengaruhi produktivitas kerja (Hariandja 2007, 303), hal ini seperti yang

diungkapkan dalam hasil penelitian dari Dwi Retnaningtyas (2005) yang berjudul

“Hubungan Antara Stres Kerja Dengan Produktivitas Kerja” . Dalam hal mengatasi

dan mengendalikan stres sebaiknya dilakukan secara adaptif dan efektif

(Sedarmayanti 2009, 80), yaitu mengetahui apa yang tidak boleh dilakukan dan apa

yang harus diupayakan.

Sebelum seseorang dapat mengatasi stres maka perlu diketahui sumber stres

agar stres dapat ditanggulangi langsung dari sumber penyebabnya, selain mengatasi

penyebab stress, dengan manajemen stres yang baik juga dapat mengatasi dampak

yang akan ditimbulkan pada diri sendiri, orang lain maupun pada lingkungan lain.

Setelah mengetahui sumbernya maka selanjutnya adalah mengetahui langkah yang

dapat diambil untuk penanggulangan stres sehingga stres yang dialami oleh karyawan

tidak berlangsung lama dan tidak akan mengganggu produktivitas nya.

Untuk itu kompensasi dan stres kerja sebagai dua faktor yang mempengaruhi

produktivitas karyawan sebaiknya dikelola dengan baik, karena kedua hal ini akan

sangat menentukan baik bagi karyawan maupun untuk perusahaan, karena jika kedua

hai ini mendapat perhatian dari perusahan maka keuntungan yang diperoleh tentu

(54)

perusahaan memperoleh keuntungan berupa pencapaian tujuan dan produktivitas

yang tinggi dan bagi karyawan akan memperoleh kinerja yang tinggi.

Penelitian ini akan menghubungkan faktor kompensasi dan stres kerja secara

simultan dan parsial terhadap produktivitas karyawan dengan paradigma sebagai

berikut:

Yuniarti Tandi Rapang (2005).

Dwi Retnaningtyas (2005)

Gambar 2.2

Paradigma Penelitian

2.3 Hipotesis

Berdasarkan pada kerangka pemikiran di atas, maka penulis mengemukakan

hipotesis “terdapat pengaruh signifikan kompensasi dan stress kerja terhadap

produktivitas karyawan baik parsial maupun simultan.”

Stres Kerja (X2) :

a. Gejala fisik b. Gejalan Psikologis c. Gejala perilaku

Kompensasi Kerja (X1) :

a. Kompensasi langsung b. Kompensasi tidak langsung

Produktivitas Kerja (Y) :

(55)

41

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif-korelatif dengan

pendekatan studi kasus yang didukung survey dan teknik analisis korelasi.

Penelitian korelasi digunakan untuk mendapat gambaran sistematis, faktual dan

akurat mengenai fakta dan sifat karyawan divisi Quality Assurance di PT. Liebra

Permana sebagai populasi secara apa adanya, juga untuk menghubungkan variabel

kompensasi dan variabel stres kerja dengan variabel lainnya yaitu produktivitas,

sekaligus menguji hipotesis dan mengembangkan generalisasi sesuai

prinsip-prinsip yang memiliki validitas universal (Nazir, 2003: 54).

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian korelasional, yaitu penelitian

atau penelaahan hubungan dua variabel atau lebih pada suatu situasi atau

sekelompok subjek (Soekidjo, 2002). Tujuan penelitian korelasional adalah untuk

mendeteksi sejauh mana kompensasi atau stress kerja berkaitan dengan

produktivitas berdasarkan pada koefisien korelasi (S.Suryabrata, 1997).

Pendekatan yang dipakai adalah pendekatan secara kuantitatif dengan

menggunakan kuesioner tertutup dan pendekatan kualitatif dengan teknik

wawancara .

Pemilihan metode ini didasarkan pada maksud penelitian yang ingin

memperoleh gambaran empiris tentang pengaruh kompensasi kerja dan stres kerja

(56)

3.2 Definisi Variabel dan Operasionalisasi Variabel

3.2.1 Definisi Variabel

Penelitian ini terdiri atas tiga variabel yang akan diteliti, lalu diberi notasi

berupa variabel X1, variabel X2, dan variabel Y. Variabel-variabel tersebut adalah

sebagai berikut:

a. Kompensasi sebagai variabel eksogen pertama (X1), adalah sesuatu

yang diterima karyawan sebagai penukar dari kontribusi jasa mereka

pada perusahaan (Keith Davis dan Werther W.B dialih bahasakan oleh

Tb. Sjafri Mangkuprawira 2004, 196).

b. Stres kerja sebagai variabel eksogen kedua (X2), yaitu situasi

ketegangan/tekanan emosional yang dialami seseorang yang sedang

menghadapi tuntutan yang sangat besar, hambatan-hambatan, dan

adanya kesempatan yang sangat penting yang dapat mempengaruhi

emosi, pikiran dan kondisi fisik seseorang (Efendi 2007, 303).

c. Produktivitas karyawan sebagai variabel endogen (Y), yaitu

mengandung pengertian perbandingan antara hasil yang dicapai

(output) dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan (input).

(Sedarmayanti 2009, 57).

3.2.2 Operasionalisasi Variabel

Variabel-variabel yang telah didefinisikan di atas perlu dioperasionalisasi

agar tergambar indikatornya, ukurannya, dan skalanya dengan jelas.

(57)

Tabel 3.1

Operasionalisasi Variabel

Gambar

Gambar 2. 1 Faktor-faktor yang menimbulkan stres  Sumber : Marihot Tua 2007, 305
Gambar 2.2 Paradigma Penelitian
Tabel 3.2 Pedoman kode kuesioner
Tabel 4.25
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil pengujian secara simultan menunjukkan bahwa kompensasi dan stres kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan PT Karya Plasindo dengan nilai

Uji partial (uji t) digunakan untuk menguji apakah setiap variabel bebas yaitu kompensasi finansial (X1) dan kompensasi non-finansial (X2) mempunyai pengaruh

Berdasarkan hasil koefisien determinasi simultan diperoleh bahwa besarnya kontribusi yang diberikan oleh variabel kepemimpinan kepala sekolah, kompensasi, motivasi

Koefisien Regresi Stres kerja b1 Koefisien Regresi stres kerja pada persamaan tersebut diperoleh sebesar - 0,741 satuan negatif yang berarti bahwa apabila skor pada variabel stres

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan penelitian yang telah dikemukakan sebelumnya, maka diperoleh kesimpulan bahwa ketiga variabel bebas independen yaitu kompensasi, motivasi dan

Sementara untuk besarnya pengaruh kedua variabel bebas yaitu kompensasi finansial dan pengembangan karir terhadap prestasi kerja karyawan ditunjukan pada perolehan hasil uji koefisien

Dari hasil uji hipotesis yang dilakukan dengan menggunaka uji F, menunjukkan adanya pengaruh secara simultan antara variabel bebas yaitu Kompensasi X1 dan Motivasi Kerja X2 terhadap

Berdasarkan nilai beta Unstandardized Coefficients yang bernilai positif pada setiap variabel bebas tersebut menunjukkan bahwa arah pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat