• Tidak ada hasil yang ditemukan

Postmodernisme dan Nilai Nilai Olimpiade

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Postmodernisme dan Nilai Nilai Olimpiade"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Raynald Santika 1406566413

Postmodernisme dan Nilai-Nilai Olimpiade

Apakah ada suatu event yang dapat

menggambarkan gerakan postmodernisme yang lebih

baik lagi selain event yang diikuti oleh peserta

multi-nasional? Olimpiade merupakan salah satu

perhelatan besar berskala internasional yang

mengundang atlet dari seluruh penjuru dunia,

berkumpul dalam suatu kota di suatu negara

penyelenggara, yang memiliki tujuan utama yaitu

mendapatkan medali emas bagi negaranya. Dibalik

semua keglamoran pertandingan olahraganya,

Olimpiade pada zaman postmodern memiliki

nilai-nilai khusus yang ingin diangkat dalam proses menuju dunia yang lebih modern. Dalam hal

ini, arsitektur merupakan salah satu bidang yang tak luput dari pergerakan ini. Dalam proses

menuju penyelenggaraan Olimpiade, pastinya dibutuhkan sarana/prasarana dan

infrastruktur untuk mendukung acara ini. Sarana inilah yang kemudian secara implisit

mencerminkan nilai postmodernisme yang sedang ramai diperbincangkan pada saat itu.

Berbicara tentang nilai-nilai yang

dianut pada aliran postmodernisme

sendiri yang bertolak belakang dengan

konsep yang sebelumnya dianut yakni

modernisme, nilai-nilai yang terkandung

pada penyelenggaraan Olimpiade sendiri

mengalami perubahan seiring dengan

waktu. Setelah melewati era pasca Perang

Dunia kedua, nilai-nilai kekeluargaan dan

kebersamaan yang hadir, terutama di Olympic Village dimana semua atlet bertinggal selama

penyelenggaraan sebuah Olimpiade, sangat menjadi perhatian utama untuk membangun

kondisi yang ideal ditengah kompetisi yang berlangsung. Dalam hal ini, prinsip pluralisme

yang menjadi landasan postmodernis sangat menjadi keprihatinan utama, dimana arsitektur Barcelona 1992 Olympic Village (© Mimoa)

(2)

yang diusung pada masa itu didorong untuk mengedepankan jiwa emosional dan

subjektivitas dari penggunanya.

Contoh pertama yang coba kita perhatikan

adalah Olympic Village di Barcelona, kota

penyelenggara Olimpiade 1992. Komplek

ini terdiri dari dua bangunan linear dengan

menara pada perpotongannya. Bagian

selatan dipenuhi oleh taman yang

berhubungan langsung degan tangga

menuju apartemen pada lantai pertama.

Bagian ini ditarik ke belakang untuk menghasilkan pemandangan yang lebih indah dengan

rencana asli berjarak 13 meter. Menara yang ada merepresentasikan sirkulasi vertikal dan

dua apartemen pada setiap lantai. Apartemen pada blok linear mempunyai sirkulasi vertikal

dan ruang servis pada pusat geometrinya, yang memisahkan bagian utara yang menghadap

dunia malam dan bagian selatan yang aktif pada siang hari. Perbedaan arah ini

menunjukkan adanya pengalaman emosional yang coba ditujukan pada setiap atlet,

sehingga masing-masing mempunyai ceritanya sendiri ketika pulang ke negaranya kembali.

Jika kita lihat pada desainnya, seperti Olympic Village pada umumnya, memiliki satu

arcade yang besar yang memotong bagian tengah dari daerah tersebut. Arcade ini yang ditujukan untuk menjadi urat nadi Olympic Village dimana semua atlet dari seluruh penjuru

dunia dapat berkumpul dan berinteraksi tanpa ada segregasi. Dalam hal ini, prinsip

globalisme dari postmodernisme sangat diterapkan. Namun, berbeda dari prinsip tersebut,

terdapat pula prinsip lain yang ingin diterapkan sebagai bagian dari dunia modern, yakni

fragmentasi, yang terlihat pada pengalaman baru yang coba ingin diinjeksi ke dalam

keseluruhan komplek ini. Pojok-pojok seni, kebudayaan antar negara, bahkan coffee shop

atau mini café pada lantai dasar menjadi bagian baru dari Olympic Village yang sebelumnya tidak pernah ada. Hal ini juga disebabkan oeh keperluan komersialisme yang mulai muncul

(3)

Dilihat dari detail arsitekturnya

sendiri, persyaratan tidak tertulis yang

selalu ada yang patut didapatkan oleh

setiap atlet pada setiap kamar adalah

ketersediaan balkon yang menghadap

keluar, baik itu ke arah arcade maupun ke luar komplek. Selain aspek teknis untuk

memberikan active cooling, balkon ini juga dijadikan sebagai sarana kebanggaan suatu kontingen dengan cara menggantung bendera atau material kebudayaan negara mereka.

Hal ini menjadi sesuatu yang penting bagi Olympic Village di era sebelumnya, maka dari itu

prinsip ini diteruskan ke pembangunan selanjutnya. Namun, dengan adanya eclecticism

yang kental pada masa postmodern, susunan pembagian 113 kamar inilah yang diacak yang

kemudian menimbulkan bendera-bendera ini terpajang menjadi satu dan tidak tersegregasi.

Hal ini menimbulkan arcade yang penuh warna dan tidak lagi terfokus pada suatu negara

tertentu yang berimbas pada suasana yang lebih bersahabat dan atraktif.

Berjaya pada masanya tidak lalu jaya pula pada masa kini. Masterpiece Ricardo Baffil ini pada masa pasca postmodern menjadi sangat sepi dan tidak atraktif lagi. Kafe-kafe yang

ada tinggal sedikit dikarenakan krisis ekonomi yang mengguncang Spanyol. Namun, lebih

dalam lagi, penyebab Olympic Village ini tidak bertahan lama adalah karena kurangnya

perhatian pada masalah urban pasca-olimpiade. Setelah Olimpiade bergulir, jumlah

penduduk yang mendiami residensial tersebut dinilai kurang untuk menjadikannya kota

yang hidup . Krisis demografi ini yang kemudian menjadikan Olympic Village kini seperti

kota mati.

Kegagalan Barcelona sebagai perencana

jangka panjang seharusnya belajar pada

preseden kita yang lain, yakni Los Angeles

sebagai tuan rumah Olimpiade 1984.

Keseluruhan desain penyelenggaraan acara

(Look of the Games) ini diberikan tanggung jawabnya kepada Jon Jerde Partnership. Jon

London 2012 Olympic Village dipenuhi bendera tanda tempat kediaman kontingen Australia (© Australian Times)

(4)

Jerde merupakan arsitek postmodern yang sangat lekat dengan karya pertamanya yakni

Horton Plaza di San Diego, California, tak jauh dari Los Angeles. Prinsip perancangan Jerde

pada hakikatnya adalah ruang berkumpul diantara bangunan, lebih dari bangunan itu

sendiri, dimana dia membuat banyak destinasi berupa jalan yang berkelok dengan kafe di

kanan-kirinya dan penuh dengan penampil jalanan. (Ambry, 2015)

Dalam Horton Plaza, Jerde mendapatkan ilham dari kota di Eropa sebagai berikut,

After USC he went on a traveling fellowship to Europe, and was dazzled by the communal spaces of old cities for shopping, dining, entertainment, promenading and people watching, fomenting in him his pla e- aki g philosoph – creating memorable places that pulsed with life and community, using entertainment and shopping as catalysts. (Ambry, 2015)

Hasilnya, Horton Plaza bersifat open-air dengan jalur terbuka, memiliki level yang bervariasi,

parapets, colonnades, menara, dan jembatan dengan penggunaan warna yang berani. Wrna ini menggambarkan wajah Horton Plaza yang baru yang dulunya suram dan menjadi tempat

berkumpulnya gelandangan. Penggunaan level yang bervariasi dengan tampak yang tidak

monoton (bertolak belakang dengan prinsip modernisme yang terpaku pada hal-hal simple

dikarenakan kemudahan produksi) membuat pengalaman ruang lebih menarik dan berbeda

seperti sebelumnya pada mall retail yang hanya mementingkan produk, Horton Plaza yang

baru mementingkan pengalaman subjektif. Alhasil, seperti yang dikemukakan oleh Buket

Ergun Kocaili , perencana lansekap dari Turki, Horton Plaza meredefinisi pengalaman urban

retail dan menjadi katalis dalam regenerasi area pusat kota.

Sayangnya, kejayaan Horton Plaza tak lagi bersinar seperti pada tahun 1980an. Saat

ini Horton Plaza ditinggalkan oleh para tenant nya dikarenakan kebutuhan masyarakat yang kian berganti. Komersialisme kini menjadi hal yang lebih penting dimana pengalaman pada

(5)

ruang publik menjadi kebutuhan sekunder. Alhasil, Horton Plaza kini makin sepi dan tidak

lagi diminati, kecuali untuk para pewisata sejarah dan penikmat ruang terbuka.

Kembali pada penyelenggaraan Olimpiade

Los Angeles 1984, Jon Jerde kali ini memiliki

partner Deborah Sussman (desainer grafis) dan

Paul Prejza (arsitek lansekap). Tetap berpegang

pada prinsip place-making, ditambah dengan nilai-nilai postmodernisme Olimpiade yang ingin

diusung lebih lanjut, mereka mengusulkan

kreativitas yang unik. Mereka menginginkan

Olimpiade sebagai pengalaman ruang pada seluruh

kota yang menarik pengunjung untuk datang,

dibandingkan dengan membangun venue baru yang menguras uang. Alhasil, hanya dengan trik warna dan instalasi khusus, Los Angeles dapat berhasil memukau dunia dan menjadi

salah satu Olimpiade yang desainnya paling dikenal.

Dalam salah satu wawancara Sussman dengan Los Angeles Magazine dirinya

mengakui inspirasi dari penggunaan warnanya sebagai berikut,

these warm reds, acid blues, and rich yellows were the colors I had observed in areas of celebration along the Pacific Rim — Mexico, Japan, India, China — the colors of the Hispanic and Asian communities that impact Los Angeles. (Sussman, 2014)

Pengakuan ini juga yang kemudian menjelaskan bahwa sikap postmodernis sangat

diimplementasikan disini dalam hal penggunaan prinsip-prinsip yang bersifat plural, dimana

konsep pluralisme sendiri

memungkinkan sebuah karya untuk

dinikmati oleh publik dari berbagai

latar belakang dengan berbagai

alasan. Mengusung warna-warna

dari seluruh dunia dan

menjadikannya sebuah kesatuan

yang tak terpecahkan dalam satu

palet warna membawa suasana Deborah Sussman, Paul Prejza, dan Jon Jerde memperlihatkan rancangan mereka pada LA Coliseum (© International Olympic Committee)

(6)

keberagaman yang positif. “uss a e apa ka hal i i se agai multicultural melting pot

of California a g juga e do o g pe a gu a kembali nilai-nilai Olimpiade yang dulu sempat hilang. Warna-warna patriotik khas Amerika (biru, merah, dan putih) sangat

dihindari oleh Sussman karena postmodernis tentunya menghargai nilai-nilai universal.

Palet warna ini kemudian tercermin dalam pembangunan instalasi dan infiltrasi yang

diterapkan pada venue Olimpiade Los Angeles 1984 itu sendiri. Pemerintah yang hanya memberikan sedikit dana untuk perhelatan ini (dikarenakan overspend pada Olimpiade Montreal 1976 dan sepinya pengunjung pada Olimpiade Moskwa 1980) menjadikan tidak

adanya pembangunan venue baru, melainkan hanya menggunakan venue yang sudah ada. Hal ini kemudian disiasati oleh Jerde untuk membuat struktur-struktur sementara pada

bangunan tersebut. Mulai dari penggunaan scaffolding, sonotubes, kain, dan mesh paneling

seluruhnya dielaborasi dengan seksama pada 43 pusat pertunjukkan seni, 28 venue

pertandingan, dan 3 Olympic Village, sehingga tidak timbul kasus overdesign

dalam konsep desain Olimpiade yang

mengacu pada town festival ini.

Melihat ketiga preseden di atas

mengenai penerapan nilai postmodernisme

yang kemudian berpengaruh pada nilai-nilai

yang coba didorong oleh Olimpiade,

terdapat beberapa konsekuensi yang harus Salah satu instalasi grafik temporer pada Olimpiade Los Angeles 1984 (© International Olympic Committee)

Los Angeles 1984 OG, Olympic Venues The Olympic Village.

Arena akuatik Olimpiade Rio 2016 kembali dibongkar setelah event digelar untuk disumbangkan ke negara-negara Afrika

(7)

dihadapi pada era pasca postmodernisme. Hal yang menjadi keprihatinan utama adalah

bagaimana produk dari nilai-nilai tersebut dapat bertahan lama, baik dari segi fisik maupun

fungsi. Olympic Village, contohnya, dapat menjadi mimpi buruk city planner jika perencanaannya tidak baik yang berimbas pada tidak dapat terpakainya kembali bangunan

tersebut. Hal serupa dapat ditemui dengan mudah di Athena, Roma, dan Berlin. Prinsip

temporer pada masa postmodernisme dapat diterapkan sebaik mungkin sehingga terdapat

pengeluaran biaya yang minim dan dapat juga untuk membangun daerah lain. Hal ini dapat

ditemui di Rio tahun lalu dan suksesornya di Tokyo dan Los Angeles tahun 2028.

Prinsip lain yakni pengalaman emosional dan universal dalam menikmati ruang juga

perlu dikedepankan dibandingkan dengan penggelontoran uang secara besar namun tidak

berarti dan hanya menimbulkan residual spaces. Untuk itu, diperlukan perencanaan yang tidak hanya dari latar belakang arsitek, namun juga finansial bahkan psikologis untuk

membantu menjadikan nilai Olimpiade tertanam dengan baik tanpa adanya miskonsepsi

yang ditangkap oleh pengunjung dan kontingen.

Sebagai kesimpulan, postmodernisme banyak mempengaruhi nilai-nilai Olimpiade

yang ditanamkan, terutama pada era yang bersangkutan. Nilai ini kemudian menjadi

pembelajaran bagi suksesor di tahun selanjutnya untuk menjadikan Olimpiade yang lebih

bermakna dan sustainable baik dalam segi finansial maupun urban living.

Referensi:

A de to , F a es. . Jo Je de, Design Czar for the 1984 Olympics Who Remade Retail Destinations, Dies

at 7 . KCRW, 9 February, accessed 1 November 2017. < http://blogs.kcrw.com/dna/jon-jerde-design-czar-for-the-1984-olympics-who-remade-retail-destinations-dies-at-75>

Design Quarterly 127. 2013. 1984 Los Angeles Olympics, USA. Walker Arts Center, accessed 1 November 2017.

<http://graphicambient.com/2013/12/13/1984-los-angeles-olympics-usa/>

LUZ “. .l. 7. The T ue “pi it of the Ol pi Ga es . a essed No e e 7.

<http://luz.it/features/true-spirit-olympic-games>

Postmodern architecture. (2017, October 21). In Wikipedia, The Free Encyclopedia, accessed 1 November 2017

(8)

Ri a do Boffil Talle de A uite tu a. 7. Ol pi Village Housi g Co ple . Arch Case, accessed 1

November 2017. <http://archcase.com/ricardobofill/portfolio/olympic-village-housing-complex/>

‘o e, Pete . 7. San Diego's aging Horton Plaza, once a landmark of urban design, is losing luster and

tenants . Los A geles Ti es, Ja ua , a essed No e e 7. <

http://www.latimes.com/local/lanow/la-me-ln-horton-plaza-20170120-story.html>

Walker, Alissa. 2014. De o ah “uss a . Los Angeles Magazine, 16 July, accessed 1 November 2017.

<http://www.lamag.com/the80s/deborah-sussman/>

Wai ight, Oli e . . More is more: the gaudy genius of the late Deborah Sussman . The Guardian, 27

August, accessed 1 November 2017. <

Referensi

Dokumen terkait

Kebijakan puritanisme oleh sultan Aurangzeb dan pengislaman orang-orang Hindu secara paksa demi menjadikan tanah India sebagai negara Islam, dengan menyerang berbagai praktek

Artinya bahwa sektor tersebut memiliki laju pertumbuhan PDRB atau perekonomian yang lebih tinggi dari laju pertumbuhan nasional dan kontribusi yang lebih besar terhadap

Sesuai dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 272 / Kpts.II / 2003 tanggal 12 Agustus 2003 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Penyuluh Kehutanan dan Angka

al (2013) telah membangunkan model pengukuran dalam pembuatan Lean di dalam kajiannya yang mana bertujuan untuk mengukur dan menilai amalan Lean di dalam

(5) Penjabaran lebih lanjut mengenai tugas pokok dan fungsi Rumah Sakit Umum Daerah Kelas D ditetapkan dengan Peraturan Bupati.. Bagian Kedua

kandungan kalori lebih rendah dari lemak lain, (%) yang minimal disimpan sebagai lemak, dan (3) memberikan kontribusi untuk meningkatkan metabolisme untuk membakar lebih

Dengan demikian diperoleh kesimpulan bahwa, dari tiga faktor yang membentuk identitas kepribadian sebagaimana disebutkan Erickson, lingkungan sosial (keluarga dan

Kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan pada bulan Oktober 2017 mengalami deflasi sebesar 0,14 persen dengan IHK sebesar 128,44 lebih rendah dibandingkan