KEHIDUPAN SOSIAL PITHECANTHROPUS ERECTUS KALA PLESTOSEN TENGAH DI TRINIL NGAWI JAWA TIMUR
MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH Prasejarah Indonsia
Yang dibina oleh Bapak Drs. Slamet Sujud Purnawan Jati, M.Hum
Oleh Rica Filasari 160731614846
UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN SEJARAH
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Kehidupan Sosial Pithecanthropus erectus Pada Kala Plstosen Tengah di Trinil Ngawi Jawa Timur” ini tepat pada waktunya. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas matakuliah Prasejarah Indonesia yang diampu oleh Bapak Drs. Slamet Sujud Purnawan Jati, M.Hum.
Kami selaku penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada banyak pihak yang telah mendukung kami untuk menyelesaikan makalah ini, yaitu kepada:
1. Bapak Drs. Slamet Sujud P. J, M.Hum selaku dosen mata kuliah Pasejarah Indonesia,
2. Perpustakaan Universitas Negeri Malang yang telah menyediakan banyak buku untuk keperluan referensi makalah ini,
3. Lab. Sejarah yang juga telah menyediakan referensi untuk keperluan makalah ini.
Segala upaya telah kami dilakukan untuk menyempurnakan makalah ini, namun bukan tidak mungkin dalam penulisan makalah ini masih terdapat kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang dapat dijadikan masukan dalam menyempurnakan makalah lain di masa yang akan datang.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua, serta menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi kami sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amin.
Malang, November 2016
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR GAMBAR ... iii BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang... 1 B. Rumusan Masalah... 2 C. Rumusan Tujuan... 2 BAB II PEMBAHASAN
A. Keadaan Alam Kala Plestosen... 3 B. Manusia Purba Pithecanthropus erectus Kala Plestosen Tengah... 4 C. Kehidupan Sosial Pithecanthropus erectus Kala Plestosen
Tengah... 6 BAB III PENUTUP
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Paparan Sunda dan Paparan Sahul... 4
Gambar 2. Tutup kepala dan femur Pithecanthropus erectus... 5
Gambar 3. Lokasi Trinil, Ngawi Jawa Timur... 6
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Zaman Plestosen disebut pula zaman Dilluvium, dan berlangsung sekitar 600.000 tahun yang lalu. Masa ini sangat penting karena ditandai dengan munculnya manusia purba misalnya dari jenis Pithecanthropus dan Homo (Herimanto, 2012: 3). Zaman Plestosen dibagi menjadi tiga lapisan zaman yaitu Plestosen Awal, Plestosen Tengah, Plestosen Akhir.
Plestosen Awal dikenal juga dengan Plestosen Bawah yang merupakan subdivisi awal atau terendah dari periode kuarter. Sebagian besar Plestosen Awal berupa batu pasir, tufa dan tanah liat berwarna biru kehitam-hitaman. Di lapisan Plestosen Awal ditemukan manusia purba jenis Meganthropus paleojavanicus, Pithecanthropus modjokertensis, dan Pithecanthropus robustus.
Plestosen Tengah juga disebut sebagai lapisan tanah Trinil. Permukaan zaman Plestosen Tengah diperkirakan bersamaan dengan zaman es kedua (glasiasi yang kedua). Di lapisan inilah Pithecanthropus ditemukan. Pithecanthropus adalah manusia kera berdiri tegak dari Trinil. Jenis fauna yang ditemukan adalah beruang melayu, tapir, badak, rusa.
Plestosen Atas atau Plestosen Akhir bersamaan waktunya dengan zaman glasial ketiga. Secara khusus Plestosen Akhir disebut dengan tahap terantian. Pithecanthropus dan hewan menyusui yang hidup pada zaman sebelumnya tidak dapat mempertahankan diri. Makhluk baru yang muncul adalah manusia jenis Homo, seperti Homo soloensis.
kehidupan sosial Pithecanthropus erectus pada kala PlestosenTengah di Trinil Ngawi, Jawa Timur.
Pada makalah ini akan dijelaskan bagaimana keadaan alam awal kala Plestosen Tengah. Selanjutnya tentang ciri-ciri manusia yang ada pada kala Plestosen Tengah di Trinil Ngawi, Jawa Timur dan yang terakhir akan membahas tentang kehidupan sosial manusia yang ada pada kala Plestosen Tengah.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat diajukan masalah-masalah di bawah ini:
1. Bagaimana keadaan alam pada kala Plestosen Tengah?
2. Bagaimana ciri-ciri Pithencanthropus erectus yang ditemukan di Trinil Ngawi, Jawa Timur?
3. Bagaimana kehidupan sosial Pithecanthropus erectus kala Plestosen Tengah di Trinil Ngawi, Jawa Timur?
C. Tujuan Penulisan
Dengan rumusan masalah diatas maka diharapkan dapat mengetahui dan memahami hal-hal yang berkaitan dengan kala Plestosen Tengah tentang kehidupan sosial Pithecanthropus erctus di Trinil Ngawi, Jawa Timur yakni:
1. Mengetahui keadaan alam pada kala Plestosen Tengah.
2. Mengetahui ciri-ciri Phitencanthropus erectus yang ditemukan di Trinil Ngawi, Jawa Timur.
BAB II PEMBAHASAN A. Keadaan Alam Kala Plestosen
Kala Plestosen (Dilluvium) berlangsung sekitar 600.000 tahun yang lalu. Kala Plestosen menjadi sangat penting karena pada masa ini mulai muncul manusia purba (Daldjoeni, 1982: 37).
Manusia baru muncul pada pertama kali di muka bumi pada kira-kira tiga juta tahun yang lalu, bersamaan dengan terjadinya berkali-kali pengesan (glasiasi) dalam zaman yang di sebut kala Plestosen. Pada waktu glasiasi suhu di bumi menurun dan glestser yang biasanya hanya terdapat di daerah-daerah kutub serta puncak-puncak gunung api dan pegunungan tinggi telah meluas, sehingga di daerah-daearah yang berdekatan dengan tempat tersebut dan tempat-tempat lain terjadi penutupan oleh dataran-dataran es, maka dari itu selama meyebarnya glestser tersebut disebut masa glasiasi (zaman es) (Poesponegoro & Notosusanto, 1984: 1).
Zaman Plestosen sendiri berlangsung kira-kira 600.000 tahun. Oleh karena selama itu es dari kutub berkali-kali meluas sehingga menutupi sebagian besar daerah Eropa Utara, Asia Utara dan Amerika Utara. Kejadian ini disebabkan karena ukuran panas di dunia tidak tetap, ada kalanya naik banyak dan ada pula kalanya turun mendadak. Jika ukuran panas itu turun sampai banyak, maka es itu mencapai luas yang sebesar-besarnya. Akibatnya ialah, bahwa air laut menjadi turun (zaman glacial). Sebaliknya jika ukuran panas itu naik, maka es itu banyak yang menjadi cair. Daerah yang diliputi es menjadi kurang dan permukaan air laut naik (zaman interglacial). Zaman-zaman glacial dan interglacial itu terus silih berganti selama zaman Dilluvium. Hal ini menimbulkan berbagai perubahan iklim di seluruh dunia, yang kemudian mempengaruhi keadaan tanah serta hidup yang ada di atasnya (Soekmono, 1973: 20).
ke sebagian muka bumi, perubahan iklim, turun-naiknya muka air laut, munculnya daratan-daratan baru dari bawah muka laut, letusan-letusan gunung api, timbul-tenggelamnya sungai, dan danau yang kesemuanya langsung atau tidak langsung telah memengaruhi cara hidup manusia (Soejono, 2008: 5).
Perkembangan akal-budi manusia yang tercermin dari hasil budaya yang diciptakan itu amat dipengaruhi oleh lingkungan alam sekitarnya. Iklim memegang peranan penting dalam menentukan berbagai corak-ragam kehidupan. Meluasnya muka-es yang terjadi pada kala Plestosen merupakan salah satu sebab berubahnya corak kehidupan. Selain meluasnya es, gunung-gunung yang tinggi, intensitas cahaya, kedalaman samudra, kadar uap air, dan arah bertiup angina juga meruakan faktor-faktor yang menentukan lingkungan hidup manusia (Poesponegoro & Notosusanto, 1984: 2-3).
Kala Plestosen, yang berlangsung selama beberapa juta tahun, merupakan masa yang terpanjang yang dilalui manusia dalam sejarah kehidupannya. Keadaan alam yang tidak stabil serta silih berganti dalam bentuk fisik, iklim, dan sebagainya telah dihadapi oleh manusia yang terus mengalami perkembangan bentuk lahiriah dan perkembangan akal budinya. Penghidupan terpusat pada mempertahankan diri di tengah-tengah alam yang serba penuh tantangan, dengan kemampuannya yang masih terbatas. Perburuan dan pengumpulan makanan menjadi kegiatan pokok sehari-hari dan peralatan dari batu, kayu, dan tulang dipakai untuk keperluan kegiatan tersebut (Soejono, 2008: 43).
Gambar 1. Paparan Sunda dan Paparan Sahul
B. Manusia Purba Pithecanthropus erectus Kala Plestosen Tengah
Fosil manusia yang paling banyak ditemukan di Indonesia ialah fosil Pithecanthropus sehingga dapat dikatakan bahwa kala Plestosen di Indonesia didominasi oleh manusia tersebut. Pithecanthropus hidup pada Plestosen Awal dan Tengah, dan mungkin juga Plestosen Akhir. Sisa-sisanya ditemukan di Perning, Kedungbrubus, Trinil, Sangiran, Sambungmacan, dan Ngandong. Hidupnya mungkin di lembah-lembah atau di kaki-kaki pegunungan dekat perairan darat di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang mungkin merupakan padang rumput dengan pohon-pohonan yang jarang (Soejono, 2008: 78).
Temuan pertama dekat Desa Trinil Jawa Timur di Indonesia pada tahun 1898 diperoleh dari Eugene Dubois, seorang dokter Belanda menemukan sekelompok tengkorak atas, rahang bawah dan sebuah tulang paha (Asmito, 1988: 10-11). Dubois pergi ke Indonesia lagi pada tahun 1890 dan 4 tahun kemudian, pada tahun 1894, Dubois betul menemukan tutup tengkorak dan femur Pitecanthropus. Karena menurut penelitian Dubois femur tersebut adalah manusia kera bipedal, ia hilangkan “alulus” dan menyebut penemuannya “Pithecanthropus erctus” atau manusia kera berjalan tegak (Pope, 1984: 187).
Gambar 2. Tutup kepala dan femur Pithecanthropus erectus
Bengawan Solo, tak jauh dari Ngawi (Madiun). Dalam tahun berikutnya di dapat kira-kira 40 km dari tempat penemuan pertama tadi sebuah geraham dan bagian atas tengkorak. Beberapa meter dari situ ditemukan dalam tahun 1892 sebuah geraham lagi dan lima belas meter lagi sebuah tulang paha kiri (Soekmono, 1973: 25-26).
Gambar 3. Lokasi Trinil, Ngawi Jawa Timur
Tinggi badan Pithecanthropus erectus berkisar antara 160-180 cm dan berat badannya 80-100 kg. Badannya tegap dan alat pengunyahnya cukup kuat, tetapi dalam kedua hal ini tidaklah sehebat pada Pithecantrhopus modjokertensis. Mukanya dominan oleh bagian rahang yang menonjol kedepan dan tonjolan kening di dahi. Dagu tidak ada dan hidungnya lebar. Pipi menonjol ke depan dan ke samping. Leher tegap dan miring ke belakang. Tengkoraknya lonjong dengan atap yang tebal; bagian tengkorak yang terlebar terdapat rendah dekat dasar. Isi tengkorak berkisar antara 750-1000 cc, kulit otaknya belum berkembang benar, terutama baga dahi dan dan baga samping, demikian pula otak kecilnya (Poesponegoro & Notosusanto, 1984: 73-74).
Gambar 4. Tengkorak Pithecanthropus erectus
C. Kehidupan Sosial Pithecanthropus erectus Kala Plestosen Tengah
Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, kehidupan manusia purba antara lain ditandai dengan cara kehidupan yang masih bersifat nomaden. Ketergantungannya yang begitu besar terhadap alam, menyebabkan mereka selalu harus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, tergantung dari sedikit banyaknya persediaan makanan yang disediakan oleh alam. Apabila daerah yang telah disinggahi mulai menipis atau bahkan habis sumber persediaan makanannya, maka mereka akan segera mencari tempat yang baru lagi guna mendapat sumber makannya kembali. Dengan demikian pola kehidupannya akan selalu berpindah-pindah atau mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya, dan tergantung dari jumlah persediaan makanan yang terdapat di dalam alam (bersifat nomaden).
tempat-tempat yang banyak sumber-sumber airnya seperti dipinggiran sungai-sungai serta danau-danau. Oleh karena hanya ditempat-tempat itulah mereka banya menjumpai berbagai jenis ikan, karang maupun berbagai jenis binatang buruan berkumpul. Pada waktu itu kelompok berburu relatif kecil, laki-laki bertugas mengejar binatang buruan, sedangkan perempuan tinggal dipangkalan dengan tugas memelihara anak-anak, mengumpulkan makanan serta meramunya (Herimanto, 2012: 79-80).
Perkembangan otak menimbulkan perubahan dalam cara hidup. Kemampuan membuat alat mengakibatkan perubahan dalam eksploitasi lingkungan, baik dalam cara dan intensitasnya, maupun dalam jenis lingkungan. Diduga Phitecanthropus hidup di padang rumput dan pohon-pohonan yang jarang disekitarnya hidup pula berbagai hewan yang dapat dimakan seperti rusa, kijang, kerbau, banteng, gajah, kuda sungai, tapir dan lain-lain. Untuk berburu hewan tersebut di atas diperlukan gotong royong selain alat perburuan. Berburu bersama ini memerlukan pemikiran, komunikasi, daya ingat, kemampuan merancang serta koordinasi otot dan mata yang cukup baik. Buruan yang besar diperolah tidak abis dimakan sendiri atau dimakan di tempat perburuan, sehingga makanan itu harus dapat dibawa ke pangkalan tempat bermalam dan tempat tinggal sementara. Dalam kegiatan sosial demikian diperlukan alat komunikasi, dan diduga bahasa dalam bentuk yang sederhana sudah dipunyai Pithecanthropus, walaupun harus dibantu dengan isyarat dengan muka, anggota badan dan tubuh (Poesponegoro & Notosusanto, 1984: 78).
Timbulnya bertutur dalam evolusi manusia tercermin dalam perkembangan otak dan bentuk tengkorak serta saluran suara di atasnya. Dalam hal ini dominansi otak dan dominansi anggota badan sangat menguntungkan, sehingga misalkan hanya sebelah tangan dan kaki yang mahir mengerjakan pekerjaan yang halus atau cermat. Berburu hewan besar menimbulkan pula pembagian kerja antara kedua jenis kelamin. Perempuan tidak sanggup melakukan pekerjaan sedemikian berat, sehingga mungkin mereka bekerja tidak jauh dari pangkalan. Dan mengumpulkan buah-buahan, biji-bijian, daun-daunan, umbi-umbian, dan hewan-hewan kecil seperti kadal, katak, ular, landak, burung dan sebagainya. Terpisahnya kelompok pada waktu mencari makan menimbulkan pula kebutuhan akan alat komunikasi (Poesponegoro & Notosusanto, 1984: 79).
Dalam hidup berburu berkelompok tidak boleh terlalu besar atau terlalu kecil. Berburu sosial ini memerlukan kemampuan mengejar dan mengepung hewan-hewan besar yang hanya dilakukan oleh laki-laki dewasa dalam jumlah tertentu, tetapi makan yang mungkin diperoleh dan luas daerah yang dapat dijelajahi membatasi jumlah populasi. Dari Pithecanthropus erectus di Indonesia fosil laki-laki lebih banyak ditemukan, hal ini sesuai dengan penemuan fosil manusia di tempat-tempat lain. Mungkin banyak perempuan yang meninggal dalam kehamilan dan persalinan, perempuan juga tidak menguntungkan dalam berburu dan berpindah-pindah (Poesponegoro & Notosusanto, 1984: 79).
samping mendapatkan tugas untuk mengumpulkan umbi dan buah atau mengajak anak mencari keong labi-labi wanita juga harus membuat tempat tingga sementara yang relatif sangat bersahaja (Boedhihartono, 2009: 22).
Hidup yang sukar, menyeleksi individu yang kurang kuat dan kurang sehat. Angka kematian kanak-kanak yang tinggi mengurangi jumlah anak-anak. Jika pada suatu waktu jumlahnya terlalu banyak sehingga sehingga mengganggu dalam hidup berpindah-pindah dan berburu, barulah infantisida dilakukan untuk membatasi besarnya populasi. Penyakit yang diderita Pithecanthropus terutama tentu penyakit yang berhubungan dengan kehidupan berburu. Kecelakaan-kecelakaan dapat terjadi berhubungan dengan kegiatan-kegiatan sehari-hari yang menimbulkan luka, patah tulang atau kematian. Penyakit infeksi dapat bermacam-macam, tetapi karna jumlah penduduk kecil dan hidup berpindah-pindah, maka epidermi seperti yang kita kenal sekarang sekarang tidak terdapat, meski demikian peranan penyakit sebagai faktor seleksi cukup besar pada Pithecanthropus (Poesponegoro & Notosusanto, 1984: 80-81).
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Kala Plestosen (Dilluvium) berlangsung sekitar 600.000 tahun yang lalu. Kala Plestosen menjadi sangat penting dalam sejarah kehidupan karena pada masa ini mulai muncul manusia purba. Manusia baru muncul pada pertama kali di muka bumi pada kira-kira tiga juta tahun yang lalu, bersamaan dengan terjadinya berkali-kali pengesan (glasiasi) dalam zaman yang disebut kala Plestosen. Keadaaan alam yang melatar belakangi kehidupan pada manusia kala Plestosen ditandai oleh beberapa peristiwa yang amat besar pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Peristiwa-peristiwa tersebut antara lain berupa meluasnya es ke sebagian muka bumi, perubahan iklim, turun-naiknya muka air laut, munculnya daratan-daratan baru dari bawah muka laut, letusan-letusan gunung api, timbul-tenggelamnya sungai, dan danau yang kesemuanya langsung atau tidak langsung telah memengaruhi cara hidup manusia.
Fosil manusia yang paling banyak ditemukan di Indonesia ialah fosil Pithecanthropus sehingga dapat dikatakan bahwa kala Plestosen di Indonesia didominasi oleh manusia tersebut. Pithecanthropus hidup pada Plestosen Awal dan Tengah, dan mungkin juga Plestosen Akhir. Temuan pertama dekat Desa Trinil Jawa Timur di Indonesia pada tahun 1898 diperoleh dari Eugene Dubois, seorang dokter Belanda menemukan sekelompok tengkorak atas, rahang bawah dan sebuah tulang paha. Dubois pergi ke Indonesia lagi pada tahun 1890 dan 4 tahun kemudian, pada tahun 1894, Dubois betul menemukan tutup tengkorak dan femur Pitecanthropus. Karena menurut penelitian Dubois femur tersebut adalah manusia kera bipedal, ia hilangkan “alulus” dan menyebut penemuannya “Pithecanthropus erctus” atau manusia kera berjalan tegak.
harus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, tergantung dari sedikit banyaknya persediaan makanan yang disediakan oleh alam. Pada saat itu, kehidupan pengembaraan mereka diperkirakan masih berkelompok-kelompok, namun dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. Dalam mencari sumber-sumber makanannya mereka diperkirakan tidak terlalu jauh dari tempat-tempat yang banyak sumber-sumber airnya seperti dipinggiran sungai-sungai serta danau-danau. Pada waktu itu kelompok berburu relatif kecil, laki-laki bertugas mengejar binatang buruan, sedangkan perempuan tinggal dipangkalan dengan tugas memelihara anak-anak, mengumpulkan makanan serta meramunya.
B. Saran
DAFTAR RUJUKAN
Asmito. 1988. Sejarah Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Boedhihartono., Sutarto, A., Triguna, Y. & Indriyatno. 2009. Sistem Sosial. Dalam Sejarah Kebudayaan Indonesia II (Boedhihartono, Ed.). Jakarta: Rajawali Press.
Daldjoeni, N. 1982. Goegrafi Kesejarahan. Bandung: Penerbit Alumni.
Herminanto. 2012. Sejarah Indonesia Masa Praaksara. Yogyakarta: Ombak.
Jacob, T. 2000. Antropologi Biologis. Jakarta: Direktorat Jenderal Pedidikan Tinggi Departemen Pendidiakan Nasional.
Poesponegoro, M.D. & Notosusanto, N. 1984. Zaman Prasejarah di Indonesia. Dalam Sejarah Nasional Indonesia I (R.P. Soejono, Ed.). Jakarta: P.N. Balai Pustaka.
Pope, Geoffrey.1984. Antropoogi Biologi. Jakarta: CV. Rajawali.
Soejono, R. P., Jacob, T., Hadiwisastra, S., Subata, I., M. Kesasuh, E. A. & Buntarti, D. D (Eds). 2010. Zaman Prasejarah di Indonesia. Dalam Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: P.N. Balai Pustaka.