DISTRIBUSI HOTEL DI KOTA SURAKARTA TAHUN 2008
SKRIPSI
Oleh:
K5403019 ARIS SUSANTO
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
DISTRIBUSI HOTEL DI KOTA SURAKARTA TAHUN 2008
OLEH:
K5403019 ARIS SUSANTO
Ditulis dan diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan
mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Geografi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.
Persetujuan Pembimbing
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. Wakino, M.S
ABSTRAK
Aris Susanto, DISTRIBUSI HOTEL DI KOTA SURAKARTA TAHUN 2008. Skripsi, Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret, April 2011.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1) Distribusi spasial hotel di Kota Surakarta tahun 2008 (2) Pola distribusi hotel di Kota Surakarta tahun 2008 (3) Faktor – faktor apa yang mempengaruhi distribusi hotel di Kota Surakarta. (4) Karakteristik pengguna (penginap) hotel di Kota Surakarta tahun 2008.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Populasi dalam penelitian adalah seluruh hotel di Kota Surakarta, sampel dalam penelitian adalah pengguna (penginap) hotel. Teknik pengumpulan data dalam penelitian meliputi : alamat hotel dengan menggunakan teknik dokumentasi, lokasi hotel secara spasial dengan observasi menggunakan GPS (untuk distribusi hotel), faktor – faktor yang mempengaruhi distribusi hotel dengan menggunakan teknik wawancara kepada Sekretaris Badan Pimpinan Cabang Perhimpunan Hotel Dan Restoran Indonesia (BPC PHRI) di Kota Surakarta dan pihak pengelola hotel di Kota Surakarta, karakteristik pengguna (penginap) hotel menggunakan teknik angket / kuesioner ditujukan kepada para tamu hotel. Teknik analisis data dengan menggunakan analisis peta, analisis tetangga terdekat, dan analisis tabel.
ABSTRACT
Aris Susanto. Hotel Distribution In Surakarta City 2008. Thesis, Surakarta : Teacher Training and Education Faculty Sebelas Maret University. April 2011.
The objectives of this study are to know : (1) the spatial distribution of hotels in Surakarta city 2008 (2) the distribution pattern of hotels in Surakarta city 2008 (3) what factors affect the distribution of hotels in Surakarta city (4) characteristic of the hotel user (residential) in Surakarta city 2008.
This research uses descriptive method. The population in these studies was the whole hotel in the city of Surakarta, the sample in the study were users (residential) hotel. Data collection techniques in the study include: address of the hotel by using the documentation techniques, the spatial location of the hotel with the observations using the GPS (for the distribution of hotel), the factors that influence the distribution of hotels by using interviewing techniques to the Secretary of the Governing Body Hospitality Branch of the Association of Indonesia ( PHRI BPC) in Surakarta, and the manager of hotels in Surakarta, the characteristics of users (residential) hotel using questionnaire techniques / questionnaire addressed to hotel guests. Data analysis techniques using the map analysis,nearestneighboranalysis,tabelanalysis.
MOTTO
Dimana ada kemauan disitu ada kesempatan.
( Intisari).
Gunakanlah waktu sebaik mungkin karena waktu tidak dapat diputar
kembali.
PERSEMBAHAN
Karya ini dipersembahkan,
Kepada :
1.Ibu dan Ayah ( yang selalu memberikan dukungan dan motivasi
serta semangat )
2.Dik Danang dan Dik Ayu
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh,
Puji syukur senantiasa dipanjatkan kehadiarat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah serta inayah_Nya, sehingga penyusunan skripsi ini dapat selesai. Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Geografi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.
Skripsi ini adalah hasil usaha yang maksimal dengan segala keterbatasan-keterbatasan yang ada dan bantuan-bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini Penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Bapak Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd, selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret yang telah memberikan ijin penyusunan skripsi ini.
2. Bapak Drs. Saiful Bachri, M.Pd, selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, yang telah menyetujui permohonan penyusunan skripsi ini.
3. Bapak Drs. Partoso Hadi, M.Si, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Geografi yang telah menyetujui permohonan penyusunan skripsi ini.
4. Bapak Drs. Wakino, M.S, selaku Pembimbing I yang dengan segala kelebihannya telah memberikan pengarahan, motivasi dan bimbingan, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
5. Bapak Dr. M. Gamal Rindarjono, M.Si selaku Pembimbing II yang telah memberikan arahan dan masukan, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. 6. Bapak Drs. Sugiyanto, M.Si, M.Si selaku Pembimbing Akademis yang telah
dengan sabar memotivasi dan membimbing penulis dari awal kuliah hingga selesai.
8. Para pengusaha hotel dan pengguna hotel yang telah meluangkan waktunya untuk diwawancarai dan mengisi angket.
9. Ezuan (sahabat terbaikku sekaligus teman berbagi), Eviliyanto, Agustinus, Tonoto (teman-teman seperjuanganku) yang meski sibuk selalu meluangkan waktu untuk memberikan motivasi, Habib yang banyak membantu dan memberikan solusi, Zaenal yang senantiasa memberikan tauziah, Sudiro teman senasib sepenanggungan, crew geoholic ’03 (Fariz, Tri, Dodik, Sunarso, Ruli, Anang, Tatag) dan ’04(Andi, Jumadi, Susilo), teman-teman geografi 2003 yang tidak dapat disebutkan satu persatu, semoga persahabatan kita dapat terus terjalin.
Menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan skrpsi ini, maka dengan segala kerendahan hati mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dan penyempurnaan. Akhir kata semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amiin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.
Surakarta, April 2011 Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGAJUAN ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iii
HALAMAN PENGESAHAN ... iv
HALAMAN ABSTRAK ... v
HALAMAN MOTTO ... vii
HALAMAN PERSEMBAHAN ……… viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR PETA……… xv
DAFTAR GAMBAR ... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ... xvii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 5
C. Rumusan Masalah ... 6
D. Tujuan Penelitian ... 6
E. Manfaat Penelitian………...6
BAB II. LANDASAN TEORI ... 8
A. Tinjauan Pustaka ... 8
1. Hotel ... 8
2. Fasilitas Usaha Hotel ... 10
3. Klasifikasi Hotel... 11
4. Perkembangan Hotel Di Kota Surakarta ... 13
5. Industri Pariwisata ... 15
7. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Distribusi Hotel ... 17
8. Karakteristik Pengguna Hotel ………. 18
9. Pendekatan Keruangan Dalam Geografi ………. 20
10.Analisis keruangan ………. 21
B. Penelitian yang Relevan ... 22
C. Kerangka Pemikiran ... 25
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 28
A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 28
B. Bentuk dan Strategi Penelitian ... 29
C. Populasi dan Sampel ... 29
D. Sumber Data ... 30
E. Teknik Pengumpulan Data ... 32
F. Analisis Data ... 33
G. Prosedur Penelitian ... 35
BAB IV. HASIL PENELITIAN ... 37
A. Deskripsi Daerah Penelitian ... 37
1. Letak, Luas, dan Batas Daerah Penelitian ... 37
2. Kondisi Fisik ... 40
3. Kondisi Sosial ... 46
4. Kondisi Ekonomi ... 56
B. Deskripsi Hasil Penelitian ... 61
1. Distribusi Hotel Di Kota Surakarta... 61
2. Pola Persebaran Hotel Di Kota Surakarta ... 77
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Distribusi Hotel ... 88
4. Karakteristik Penginap Hotel……… 92
BAB V. KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN ………... 100
A. Kesimpulan ... 100
B. Implikasi ... 101
C. Saran ... 101
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1. Penelitian Yang Relevan ……… 23 Tabel 2. Jadwal Penelitian ……… 28 Tabel 3. Jenis Data Yang Digunakan Dalam Penelitian ……….. 31 Tabel 4. Luas dan Banyaknya Kecamatan, Kelurahan, RW, RT,
dan Kepala Keluarga Di Kota Surakarta
Tahun 2008 ………. 37
Tabel 5. Luas Penggunaan Lahan Menurut Jenisnya di Kota Surakarta
Tahun 2008 ………. 40 Tabel 6. Besarnya Curah Hujan di Kota Surakarta Tahun 1999-2008……. 45 Tabel 7. Jumlah dan Persebaran Penduduk di Kota Surakarta
Tahun 2008 ………. 47
Tabel 8. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kota Surakarta
Tahun 2008 ………. 48 Tabel 9. Klasifikasi Tingkat Kepadatan Penduduk ……….. 48 Tabel 10. Komposisisi Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin
di Kota Surakarta Tahun 2008 ……… 50
Tabel 11. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kota Surakarta
Tahun 2008 ………. 50 Tabel 12. Rasio Jenis Kelamin Penduduk di Kota Surakarta
Tahun 2008 ………. 52 Tabel 13. Komposisisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Kota Surakarta
Tahun 2008 ………. 53 Tabel 14. Komposisi Pendududuk Menurut Mata Pencaharian di Kota
Surakarta Tahun 2008 ……… 55 Tabel 15. PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas Dasar Harga Konstan
2000 Serta Perkembangannya di Kota Surakarta Tahun
Tabel 16. Pertumbuhan Ekonomi (dalam %) di Kota Surakarta Tahun
2003-2008………. 58
Tabel 17. Struktur Ekonomi Surakarta Tahun 2003– 2008 Atas Dasar
Harga Berlaku (persen) ………. 59 Tabel 18. Pendapatan Per Kapita Penduduk Kota Surakarta Tahun
2002– 2008……….. 60
Tabel 19. Distribusi Hotel di Kota Surakarta Tahun 2008 ………. …. 61 Tabel 20. Distribusi Hotel Berdasarkan Jenis di Kota Surakarta ………… 70 Tabel 21. Distribusi Hotel Berdasarkan Kelas di Kota Surakarta ……….. 72 Tabel.22. Distribusi Hotel Berdasarkan Lokasinya (Situation) di Kota
Surakarta Tahun 2008 ……….. 76
Tabel. 23. Jarak Terdekat Antar Hotel Di Kota Surakarta Tahun 2008…... 82 Tabel 24. Distribusi Hotel Ditinjau Dari Status Jalan di Kota Surakarta
Tahun 2008 ……… 88
Tabel 25. Karakteristik Penginap Berdasarkan Usia dan Tingkat
Pendidikan di Kota Surakarta 2008 ……… 93 Tabel 26. Karakteristik Penginap Hotel Berdasarkan Pekerjaan dan
Pendapatan di Kota Surakarta Tahun 2008 ……… 94 Tabel.27. Lama Penginap Menginap di Hotel di Kota Surakarta
Tahun 2008 ………. 95
Tabel 28. Frekuensi Penginap Menginap di Hotel di kota Surakarta
Tahun 2008 ………. 96 Tabel 29. Tabel Kelayakan Sarana dan Pelayanan Hotel di Kota Surakarta
Tahun 2008 ……….. 97 Tabel 30. Karakteristik Penginap Hotel Berdasarkan Jenis Kelamin di
DAFTAR PETA
Halaman
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar. 1. Diagram Alir Kerangka Pemikiran ... 27 Gambar. 2. Tipe Curah Hujan Menurut Schmidt dan Ferguson ………… 46 Gambar. 3. Grafik Jumlah Hotel Berdasarkan Jenis di kota Surakarta
Tahun 2008 ……….. 71 Gambar. 4. Grafik Jumlah Hotel Berdasarkan Kelas di Kota Surakarta
Tahun 2008 ……….. 73 Gambar. 5. Grafik Distribusi Hotel Ditinjau Dari Segi Status Jalan di Kota
DAFTAR LAMPIRAN
1. Gambar hotel Kelas Melati 1,2,3. 2. Gambar hotel Kelas Bintang 1,2,3,4,5. 3. Perijinan.
4. Kuisioner.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Pariwisata merupakan gejala ekonomi karena adanya permintaan dari pihak wisatawan dan penawaran dari pemberi jasa pariwisata yang dalam hal ini berfungsi sebagai penyedia (biro perjalanan, penginapan, rumah makan) atas produk dan berbagai fasilitas terkait (Murphy dalam Sulastiyono, 1999: 5). Interaksi itu terjadi dalam suatu proses dimana pemerintah dan masyarakat sebagai tuan rumah berusaha untuk mempengaruhi para wisatawan maupun pengunjung lainnya tersebut untuk singgah di tempat daerah atau negara yang mereka kunjungi.
Wisata tidak hanya untuk mencari hiburan atau bersantai-santai saja melainkan juga untuk menikmati perjalanan, berekreasi, menghadiri pertemuan ilmiah, mengunjungi peristiwa olahraga, berkenalan dengan kebudayaan lain. Wisatawan bukan hanya orang yang memasuki negara asing, tetapi juga orang yang bepergian dari daerah satu ke daerah lain di negara sendiri. Hal ini yang mendasari terciptanya istilah wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik.
Pembangunan kepariwisataan pada hakekatnya adalah upaya untuk mengembangkan dan memanfaatkan objek dan daya tarik wisata. Pengembangan objek dan daya tarik wisata tersebut apabila dipadukan dengan pengembangan usaha jasa, penyediaan akomodasi dan penyediaan transportasi akan berfungsi meningkatkan daya tarik bagi berkembangnya jumlah wisatawan dan juga mendukung pembangunan objek dan daya tarik wisata baru. Hasil optimal akan diperoleh apabila upaya pengembangan tersebut didukung pembangunan sarana dan prasarana yang merupakan tanggung jawab pokok bagi pemerintah daerah setempat melalui badan atau instansi yang berwenang.
komunitas maupun ritualnya. Pariwisata Solo, banyak berkaitan dengan sejarah, budaya serta ritual keraton..
Selain wisata budaya, terdapat pula beberapa tempat dan event-event lain yang menarik untuk dinikmati. Beberapa event tersebut seperti Solo Batik Carnival, Solo International Ethnic Music (SIEM), yang gaungnya sampai ke luar negeri. Sesuai dengan perkembangan jaman, wisata modern yang kita kenal sebagai wisata belanja dan kuliner tersedia lengkap pula di Solo. Bagaimanapun, geliat Kota Solo sudah mulai terasa dalam setahun terakhir ini. Trauma kerusuhan yang pernah terjadi tahun 1998, yang menghanguskan banyak bangunan di tengah kota berangsur-angsur mulai pulih.
Sekarang, masyarakatnya antusias untuk kembali berbenah. Salah satunya, kembali ingin menjaring para wisatawan, entah itu wisatawan domestik ataupun dari mancanegara. Pariwisata Solo, juga didukung oleh obyek-obyek wisata didaerah sekitarnya. Diantaranya adalah peninggalan-peninggalan sejarah yang tersebar mulai di situs Sangiran Sragen (fosil manusia purba) sampai candi Sukuh dan candi Cetho di Karanganyar. Konsep pengembangan pariwisata Solo sekarang sudah menyatu dengan Jogja dan Semarang, yang dikenal sebagai Joglosemar. Wisata Solo juga didukung oleh fasilitas akomodasi baik berupa hotel, restauran dan transportasi yang sangat memadai.
Rata-rata kunjungan wisatawan mancanegara selama 2007 – 2008 meningkat sebesar 31,25 % dan tingkat penghunian kamar hotel juga mengalami peningkatan sebesar 8,16 % ( Surakarta Dalam Angka 2008 : 221 ). Dari data tersebut dapat diketahui bahwa arus wisatawan yang datang ke Surakarta dan kebutuhan akan kamar hotel ada kecenderungan mengalami peningkatan. Hal ini mendorong para pengusaha untuk menambah fasilitas dan atau mengembangkan usaha akomodasinya.
yang memiliki kontribusi pasar cukup besar terhadap pembentukan PDRB Kota Surakarta yakni sebesar 22,02%. Disamping itu juga merupakan salah satu sektor prospektif (peringkat kedua setelah sektor industri), yaitu sektor yang selain memiliki kontribusi besar juga memiliki pertumbuhan tinggi yakni sebesar 41,64% (RUTR Kota Surakarta 2007-2016: III-9).
Sampai akhir tahun 2008 jumlah hotel di Kota Surakarta tercatat sebanyak 119 buah hotel yang terdiri dari 19 buah hotel bintang dan 100 buah hotel non bintang (Solo Hotel and Restoran Directory). Dari data yang didapatkan, dapat disimpulkan adanya penambahan jumlah hotel bintang dan di sisi lain terdapat pengurangan jumlah hotel melati. Hal ini mengacu pada data dalam Direktori Hotel dan Jasa Akomodasi Lain Jawa Tengah 2004 yang mencatat sebanyak 120 buah hotel yang terdiri dari 15 buah hotel bintang dan 105 buah hotel non bintang sedangkan pada tahun 2005 tercatat sebanyak 126 buah hotel yang terdiri 17 hotel bintang dan 109 hotel non bintang.
Kota Solo semakin marak oleh bangunan-bangunan pencakar langit. Bangunan-bangunan calon hotel maupun apartemen mulai bermunculan, semakin menambah geliat dan dinamika kehidupan di kota budaya ini. Faktanya bisa dilihat, belakangan ini sedang dibangun lagi empat hotel berbintang di Solo. Sebut saja misalnya Hotel Best Western di eks gedung BHS Bank, Hotel Grand Solo yang akan mengambil lokasi di eks Puri Waluyo, Solo Square Hotel dan Hotel Beauty di kawasan Benteng Vastenburg. Selain hotel-hotel yang telah disebutkan di atas, beberapa hotel yang akan melakukan ekspansi antara lain Swiss Bell Hotel, Haritz Hotel, Mercure, Aston, Aman Grup dan lain-lain. Termasuk di dalamnya Hotel Ibis, yang kini sudah mulai beroperasi. Di lain pihak yaitu hotel melati terdapat beberapa yang sudah tidak ada mungkin dikarenakan merger atau gulung tikar seprti Hotel Suka Marem II, Hotel Widya Griya II, dn Hotel Banon Cinawi. Keadaan ini menarik untuk dikaji, di wilayah yang relatif tidak luas terjadi perubahan jumlah hotel dalam kurun waktu yang berkesinambungan.
dan memperlihatkan ekspresi keruangannya. Berkaitan dengan hal tersebut, diperlukan usaha guna tetap menjaga agar pengembangan industri perhotelan lebih terarah dan terpadu yang dalam hal ini adalah mengenai faktor lokasi, karena aktivitas ekonomi berkaitan dngan faktor lokasi. Menurut Alfred Weber, ada 3 (tiga) faktor penting yang mempengaruhi lokasi industri yaitu biaya angkut, biaya buruh, aglomerasi.
Lokasi pendirian hotel baik bintang (seperti Hotel Novotel, Hotel Sanashtri, Hotel Wisata Indah, Hotel Grand Orchid) maupun non bintang (seperti Hotel Arini, Hotel Mulia, Hotel Putri Sari, Hotel Kota) mulanya banyak bermunculan di kawasan pusat Kota Surakarta, yang merupakan kawasan perekonomian dan perdagangan, Namun seiring waktu pendirian hotel-hotel di Kota Surakarta (terutama hotel non bintang) menyebar hingga kawasan pinggiran kota yang dahulu dianggap bukan merupakan kawasan strategis, dapat kita lihat pada keberadaan Hotel Cindewungu, Hotel Jayakarta, Hotel Avita Sari, Hotel Sinar Indah, Hotel Wahyu.
Hal ini karena ketersediaan lahan di daerah pusat kota sudah sangat terbatas, dan meskipun ada harganya cenderung mahal. Oleh karena itu para pengembang mulai mencari-cari lahan yang ada di daerah pinggiran namun lokasinya strategis. Persebaran hotel di daerah pingiran yang umumnya berjenis non bintang (melati) ini berkaitan dengan tujuan pengembang yang menyesuaikan dengan pangsa pasar yang ingin dijaringnya.
Sasaran dari pengguna (penginap) hotel adalah manusia yang memiliki karakteristik tertentu. Dengan perbedaan karakter yang dimiliki oleh pengguna hotel, pengusaha hotel memiliki pertimbangan dalam pemilihan lokasi pendirian hotel. Karakter penginap yang berbeda serta faktor pemilihan lokasi pendirian hotel akan mempengaruhi jumlah penggunanya.
untuk mendapatkan keuntungan lebih besar lagi, jadi hotel tidak hanya cukup dengan menerima penginap untuk menggunakan jasanya tetapi perlu melakukan langkah-langkah baru guna peningkatan kualitas pelayanan dan keuntungan. Hal ini sesuai dengan teori lokasi yang dikemukakan Alfred Weber yaitu factor aglomerasi,dimana terkait dengan analisis pemilihan lokasi hotel dan analisis kompetensi pasar oleh pihak pengusaha.
Para pengguna jasa hotel yang berkunjung ke Kota Surakarta cenderung lebih memilih menginap di hotel bintang dibanding non bintang. Rata-rata Tingkat Hunian Kamar Hotel untuk hotel bintang adalah sebesar 54,93% sedangkan untuk hotel non bintang sebesar 45,79% (Surakarta Dalam Angka 2009: 217).Terkait dengan preferensi dalam memilih tempat menginap tersebut diduga karena adanya perbedaan standar pelayanan serta fasilitas yang berlainan dari tiap hotel. Kondisi lingkungan sekitar maupun fisik bangunan juga sangat mungkin menjadi penilaian para calon penginap.
Keberadaan hotel dapat terlihat pada sebaran lokasinya, sehingga perlu dilakukan pengkajian mengenai pola persebaran serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persebaran hotel. Pola persebaran hotel mengkaji hal dimana terdapat keberadaan hotel tersebut di suatu daerah atau membicarakan lokasi hotel. Adapun terkait dengan pola yang terbentuk tentu dipengaruhi oleh berbagai faktor, namun demikian secara khusus harga lahan dan aksesebilitas lokasi sangat berperan didalamnya.
Dari latar belakang permasalahan di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul : “Distribusi Hotel Di Kota Surakarta Tahun 2008”.
B. Identifikasi Masalah
Sesuai dengan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka ada beberapa masalah yang dapat diidentifikasi sebagai berikut:
2. Hotel – hotel yang ada di kota Surakarta umumnya mengambil lokasi di sepanjang jalan arteri ( pusat kota) yang identik dengan kawasan perdagangan jasa namun seiring waktu banyak juga hotel yang mengambil lokasi di kawasan simpul transportasi.
3. Para pengguna jasa hotel cenderung lebih memilih hotel dengan jenis bintang sebagai tempat menginap daripada di hotel dengan jenis non bintang.
C. Rumusan Masalah
Dari uraian singkat di atas dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana distribusi spasial hotel di Kota Surakarta tahun 2008 ? 2. Bagaimana pola distribusi hotel di Kota Surakarta tahun 2008 ?
3. Faktor – faktor apa yang mempengaruhi distribusi hotel di Kota Surakarta ?
4. Bagaimana karakteristik penginap hotel di Kota Surakarta tahun 2008 ?
D. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui distribusi spasial hotel di Kota Surakarta tahun 2008. 2. Untuk mengetahui pola distribusi hotel di Kota Surakarta tahun 2008.
3. Untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi distribusi hotel di Kota Surakarta.
4. Untuk mengetahui karakteristik pengguna (penginap) hotel di Kota Surakarta tahun 2008.
E. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
b. Sebagai sumber informasi dan masukan bagi penelitian sejenis pada masa yang akan datang.
2. Manfaat Praktis
a. Bahan masukan bagi Dinas Pariwisata Kota Surakarta maupun Badan Perhimpunan Cabang Hotel Restoran Indonesia tentang distribusi keruangan perhotelan.
BAB II
LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka
1. Hotel
Hotel adalah suatu perusahaan yang dikelola oleh pemiliknya dengan menyediakan pelayanan makanan, minuman, dan fasilitas kamar untuk tidur kepada orang-orang yang sedang melakukan perjalanan dan mampu membayar dengan jumlah yang wajar sesuai dengan pelayanan yang diterima tanpa adanya perjanjian khusus (Hotel Proprietors Act, 1956 dalam Richard Sihite, 2000: 49). Lebih lanjut pengertian hotel yang di muat oleh Grolier Electronic Publishing Inc. 1995 (dalam Sulastiyono, 1999: 8), menyebutkan bahwa: “Hotel adalah usaha komersial yang menyediakan tempat menginap, makanan, dan pelayanan-pelayanan lain untuk umum”.
Dengan mengacu pada pengertian-pengertian tersebut di atas, dan untuk menertibkan perhotelan di Indonesia, pemerintah menurunkan peraturan yang dituangkan Surat Keputusan Menparpostel No. KM 37/PW.340/MPPT-86 (dalam Richard Sihite, 2000: 50), tentang Peraturan Usaha dan Penggolongan Hotel. Bab I, Pasal I, Ayat (b) dalam SK (Surat Keputusan) tersebut menyebutkan bahwa: ‘Hotel adalah suatu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau seluruh bangunan untuk menyediakan jasa penginapan, makanan, dan minuman serta jasa penunjang lainnya bagi umum yang dikelola secara komersial’.
Kata ‘akomodasi’ yang diserap ke dalam bahasa Indonesia dari kata bahasa Inggris Accomodation memiliki beberapa makna. Di dalam Kamus Inggris-Indonesia karangan Echols dan Shadily tercantum tiga makna, yakni (1) pertolongan,bantuan (2) penyesuain diri, dan (3) penggunaan. Ketiga makna itu tidak ada kaitannya dengan maksud kata ‘akomodasi’ dalam ayat di atas.
Mungkin itu sebabnya SK tersebut menganggap perlu untuk menjelaskan apa yang dimaksudkannya denga ‘akomodasi’. Penjelasan itu tercantum dalam Bab I, Pasal I, Ayat (a) sebagai berikut:
‘Akomodasi adalah wahana untuk menyediakan pelayanan jasa penginapan, yang dapat dilengkapi dengan pelayanan makan dan minum lainnya’.
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa, hotel seharusnya adalah:
- Suatu jenis akomodasi;
- Menggunakan sebagian atau seluruh bangunan yang ada;
- Menyediakan jasa penginapan, makanan dan minuman serta jasa penunjang lainnya;
- Berfungsi sebagai tempat sementara: - Disediakan bagi umum;
- Dikelola secara komersial, yang dimaksud dengan dikelola secara komersial adalah, dikelola dengan memperhitungkan untung atau ruginya, serta yang utama adalah bertujuan untuk mendapatkan keuntungan berupa uang sebagai tolok ukurnya.
Berpegang pada definisi yang dirumuskan berdasarkan unsur-unsur tersebut, maka dimanapun lokasinya, berapapun jumlah kamarnya, bagaimanapun bentuk bangunan dan fasilitasnya, dan apapun motivasi kehadiran tamunya, asal telah memenuhi unsur-unsur pokok dimaksud, bangunan atau badan usaha tersebut sudah dapat dikatakan sebagai Hotel.
Namun sebaliknya, apabila tidak memenuhi unsur-unsur pokok diatas termasuk apabila urutan penyebutan pelayanan yang disediakan tidak sebagaimana mestinya, maka bangunan dan usaha tersebut bukan/tidak bisa disebut hotel. Adapun yang dimaksud dengan urutan penyebutan fasilitas dan pelayanan yang ada dalam suatu hotel sesuai dengan proritasnya adalah :
- Penyediaan penginapan (rooms)
Lebih lanjut Keputusan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi, Nomor: KM.94/HK.103/MPPT-87 (dalam Richard Sihite, 2000: 54) tentang Ketentuan Usaha dan Penggolongan, dijelaskan bahwa bentuk akomodasi lainnya yang tidak termasuk hotel antara lain:
- Losmen, pondok wisata, penginapan remaja dan perkemahan yang menurut peraturan perundangan, kewenangan pengurusan teknisnya telah dilimpahkan kepada pemerintah daerah.
- Bangunan (wisma) instansi pemerintah maupun swasta yang digunakan sebagai tempat peristirahatan bagi karyawan dan tidak untuk mencari keuntungan.
- Bangunan instansi pemerintah maupun swasta yang digunakan sebagai tempat tinggal oleh karyawannya.
- Asrama haji, asrama dan rumah pemondokan mahasiswa serta pelajar
2. Fasilitas Usaha Hotel
Hotel merupakan bagian yang integral dari usaha pariwisata yang menurut Keputusan Menparpostel disebutkan sebagai suatu usaha akomodasi yang dikomersialkan dengan menyediakan fasilitas-fasilitas sebagai berikut:
- Kamar tidur (kamar tamu); - Makanan dan minuman;
- Pelayanan-pelayanan penunjang lain seperti: - Tempat-tempat rekreasi
- Fasilitas olah raga
- Fasilitas dobi (laundry) dsb.
3. Klasifikasi Hotel
Untuk dapat memberikan informasi kepada para tamu yang akan menginap di hotel tentang standar fasilitas yang dimiliki oleh masing-masing jenis dan tipe hotel, maka Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi melalui Direktorat Jendral Pariwisata mengeluarkan suatu peraturan usaha dan penggolongan hotel (SK.No.KM 37/PW.304/MPPT-86).
Penggolongan hotel tersebut ditandai dengan bintang, yang disusun mulai dari hotel berbintang 1 sampai dengan yang tertinggi adalah hotel dengan bintang 5. Hotel bintang adalah suatu usaha yang menggunakan suatu bangunan atau sebagian bangunan yang disediakan secara khusus, dimana setiap orang dapat menginap, makan, memperoleh pelayanan dan menggunakan fasilitas lainnya dengan pembayaran, dan telah memenuhi persyaratan sebagai hotel berbintang seperti yang ditentukan oleh Direktorat Jenderal Pariwisata.
Secara garis besar kriteria yang digunakan untuk penggolongan hotel tersebut didasarkan pada unsur-unsur persyaratan sebagai berikut:
a. Persyaratan fisik.
Besar/kecilnya hotel atau banyak/sedikitnya jumlah kamar tamu; 1) Hotel Kecil, hotel dengan 25 buah kamar atau kurang.
2) Hotel Sedang, hotel yang memiliki kamar lebih dari 25 buah tetapi kurang dari 100 buah.
3) Hotel Menengah, hotel dengan jumlah kamar lebih dari 100 buah tetapi kurang dari 300 buah.
4) Hotel Besar, hotel yang memiliki lebih dari 300 buah kamar.
Kualitas, lokasi dan lingkungan bangunan;
Kualitas bangunan, yang dimaksud adalah kualitas bahan-bahan bangunan yang dipergunakan, seperti kualitas lantai, dinding, termasuk juga tingkat kekedapan terhadap api, kekedapan terhadap suara yang datang dari luar maupun dari dalam hotel.
b. Fasilitas yang tersedia untuk tamu, seperti ruang penerima tamu, dapur, toilet, dan telepon umum, lapangan tenis, kolam renang, diskotik.
c. Perlengkapan yang tersedia, baik bagi karyawan, tamu maupun bagi pengelola hotel. Peralatan yang dimiliki oleh setiap bagian/departemen, baik yang digunakan untuk keperluan pelayanan tamu, ataupun untuk keperluan pelaksanaan kerja karyawan.
d. Operasional/Manajemen
Struktur organisasi dengan uraian tugas dan manual kerja secara tertulis bagi masing-masing jabatan yang tercantum dalam organisasi. Tenaga kerja, spesialisasi dan tingkat pendidikan karyawan disesuaikan dengan persyaratan peraturan penggolongan hotel.
e. Pelayanan
Keramahtamahan, sopan , dan mengenakan pakaian seragam hotel; pelayanan diberikan dengan mengacu pada kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan tamu (untuk hotel bintang 4 dan 5, pelayanan dibuka selama 24 jam).
Pemerintah akan memeriksa penginapan yang diajukan oleh pemiliknya untuk memperoleh pengakuan sebagai hotel, dan selanjutnya memberikan surat pengakuan dan menetapkan golongan hotel tersebut jika segala persyaratannya dipenuhi. Hotel-hotel yang tidak bisa memenuhi standar kelima kelas tersebut, atau berada di bawah standar minimum yang ditentukan disebut Hotel Nonbintang (hotel melati).
Hotel Nonbintang adalah suatu usaha yang menggunakan suatu bangunan atau sebagian bangunan yang disediakan secara khusus, dimana setiap orang dapat menginap dengan atau tanpa makan dan memperoleh pelayanan serta menggunakan fasilitas lainnya dengan pembayaran.
4. Perkembangan Hotel di Kota Surakarta
Perkembangan usaha perhotelan di Kota Surakarta tidak dapat terlepas dari perkembangan hotel di Indonesia. Dapat dibagi menjadi beberapa periode, yaitu masa penjajahan Belanda, masa pendudukan Jepang, dan setelah Indonesia merdeka.
Pada masa penjajahan Belanda dapat dikatakan kegiatan pariwisata yang ada hanya terbatas pada kalangan orang-orang Belanda saja, sedangkan orang pribumi tidak ada sama sekali. Walaupun kunjungan wisatawan pada masa ini masih terbatas, akan tetapi di beberapa kota dan tempat-tempat tertentu di Indonesia telah didirikan hotel-hotel untuk melayani kebutuhan akomodasi bagi mereka yang berkunjung ke wilayah Hindia Belanda. Pertumbuhan usaha perhotelan di Indonesia baru dikenal pada abad ke-19 dan itupun hanya terbatas di kota-kota besar yang berlokasi dekat pelabuhan seperti Batavia, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makasar. Adapun fungsi hotel yang utama hanya terbatas untuk melayani tamu-tamu atau penumpang kapal yang baru datang dari negeri Belanda dan negara-negara Eropa lainnya. Oleh karena itu bentuk fisik ruang hotel yang tinggi disesuaikan dengan tinggi badan orang-orang Eropa (Richard Sihite, 2000: 21).
Pada permulaan abad ke-20 dimulai pendirian hotel di daerah atau kota yang jauh dari pelabuhan seperti di Malang, Surakarta, Bandung, Bogor, Yogyakarta, dan Bukittinggi. Pada waktu itu sampai dengan tahun 1933 di seluruh Indonesia terdapat sekitar 114 hotel dengan kapasitas kamar sebanyak 4.139 buah. Untuk memenuhi kebutuhan akomodasi bagi masyarakat pribumi yang makin banyak mengadakan perjalanan, berdirilah hotel-hotel kecil yang berupa losmen atau penginapan biasa. Sejalan dengan dikenalnya akomodasi sebagai sarana kebutuhan orang-orang yang sedang mengadakan perjalanan maka pada saat itu dikenal istilah penginapan besar (hotel) dan penginapan kecil (losmen).
sulit. Keadaan akomodasi (hotel dan losmen) pada waktu itu sangat menyedihkan. Banyak hotel yang diambil alih oleh pemerintah Jepang untuk dijadikan rumah sakit atau asrama. Sedangkan yang agak bagus ditempati oleh perwira-perwira tentara Jepang sebagai tempat tinggal yang disebut Heitany Ryokan, seperti Hotel Orange di Surabaya. Di tahun-tahun menjelang pihak Jepang kalah perang ketika jatuhnya bom di Hirosyima dan Nagasaki, terjadi inflasi dimana-mana yang menyebabkan dunia pariwisata menjadi macet dan usaha perhotelan menjadi mati sama sekali.
Setelah Indonesia merdeka para pengusaha nasional pada saat itu membentuk suatu asosiasi atau perkumpulan yang disebut dengan Organisasi Perusahaan Sejenis (OPS) yang sekarang dikenal dengan Persatuan Hotel Restoran Indonesia (PHRI). Pada saat itu sejumlah pimpinan hotel mengadakan suatu rapat untuk pertama kalinya dan menetapkan pendirian suatu organisasi perhotelan yaitu Badan Pusat Hotel Negara (BPHN) yang berpusat di Hotel Merdeka Malang. Pada sidang KNIP berhasil mengeluarkan Maklumat No.1/H/47 tertanggal 1 Juli 1947 yang memutuskan perhotelan masuk dalam kementrian Perhubungan dan disepakati membentuk suatu badan atau lembaga yang diberi wewenang untuk melanjutkan tugas-tugas pengusaha hotel bekas wilayah Belanda. Badan ini bernama HONET (Hotel Negara dan Tourism).
Semua hotel-hotel yang bernaung di bawah pengelolaan HONET diganti nama menjadi Hotel Merdeka yang diantaranya masih mempertahankan nama tersebut hingga sekarang. Kemudian dengan adanya perjanjian KMB tahun 1949 yang menyatakan harta benda milik Belanda harus dikembalikan, maka sejak itu HONET resmi dibubarkan. Tidak lama kemudian berdiri NV.HONET sebagai satu-satunya badan usaha milik Indonesia dalam bidang perhotelan dan pariwisata (Richard Sihite, 2000: 24-25).
(National Hotels & Tourism Corp.Ltd). Perseroan ini memiliki hotel-hotel antara lain Hotel Transaera, Hotel Prapat, Hotel Kuta Beach, serta hotel-hotel di seluruh Irian Barat bekas pemerintahan Belanda.
Di Indonesia perkembangan usaha perhotelan modern diawali dengan dibukanya Hotel Indonesia, yang lebih dikenal dengan singkatan H.I. di Jakarta tahun 1962. Pada waktu itu hotel ini merupakan satu-satunya hotel bertaraf Internasional di Indonesia. Kemudian berdiri Samudera Beach Hotel, Ambarukmo Palace Hotel, Bali Beach Hotel, yang semuanya dimiliki oleh Perusahaan Negara yakni PT HII (Hotel Indonesia Internasional). Pada tahun 1970-an baru muncul hotel-hotel lain bertaraf internasional yang dimiliki oleh perusahaan swasta nasional (Richard Sihite, 2000: 27).
5. Industri Pariwisata
Pariwisata merupakan suatu kegiatan usaha yang terbentuk dalam suatu proses yang dapat menciptakan suatu nilai tambah terhadap barang atau jasa yang telah diproses sebagai produk, baik yang nyata (tangible product) maupun yang tidak nyata (in-tangible product), berupa jasa pelayanan (Richard Sihite, 2000: 5).
Dalam dunia pariwisata, wisata ialah bepergian selama paling sedikit 24 jam sebagaimana ditetapkan oleh Komisi Teknik IUOTO (International Union of
Official Travel Organization) melalui PATA (Pacific Area Travel Association)
dan orang tersebut biasa disebut tourist(wisatawan) (Sulastiyono, 1999: 3).
Berdasarkan sifat perjalanan, lokasi dimana perjalanan dilakukan, wisatawan dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Richard Sihite, 2000: 8) :
1). Wisatawan Asing (Foreign Tourist), yaitu orang asing yang melakukan perjalanan wisata ke negara lain yang bukan merupakan negara dimana ia tinggal (wisatawan mancanegara).
3). Wisatawan Domestic (Domestic Tourist), yaitu seorang warga negara suatu negara yag melakukan perjalanan wisata dalam batas wilayah negaranya sendiri tanpa melewati perbatasan negaranya (wisatawan nusantara).
4).Indigenous Foreign Tourist, yaitu warga negara suatu negara tertentu, yang
karena tugasnya atau jabatannya berada di luar negeri kemudian pulang ke negara asalnya sambil melakukan perjalanan wisata di negaranya sendiri. 5). Wisatawan Transit (Transit Tourist), yaitu wisatawan yang melakukan
kegiatan wisata dikarenakan singgah atas perjalanan yang telah dilakukan. 6). Wisatawan Bisnis (Business Tourist), yaitu orang yang melakukan
perjalanan wisata untuk tujuan bisnis, bukan wisata, tetapi perjalanan wisata akan dilakukannya setelah tujuan utamanya selesai.
Wisata tidak hanya untuk mencari hiburan atau bersantai-santai saja, melainkan untuk menikmati perjalanan, berekreasi, menyehatkan badan, menghadiri pertemuan ilmiah, mengunjungi peristiwa olahraga, berkenalan dengan kebudayaan lain, dsb.
Pariwisata merupakan gejala ekonomi karena adanya permintaan dari pihak wisatawan dan penawaran dari pemberi jasa pariwisata (biro perjalanan, penginapan, rumah makan) atas produk dan berbagai fasilitas terkait (Murphy dalam Sulastiyono, 1999: 5).
Apabila seseorang mengadakan suatu perjalanan wisata, maka semenjak meninggalkan rumah sampai ketempat tujuan wisata dan kembali ke rumah, ia akan malalui 3 komponen utama dalam industri pariwisata, yaitu: (1) daerah tujuan wisata dan atraksinya, (2) Transportasi, (3) Akomodasi (Richard Sihite, 2000: 10).
6. Akomodasi Sebagai Komponen Kepariwisataan
Hal ini berarti bahwa hidup dan kehidupan usaha kepariwisataan tergantung pada banyak sedikitnya wisatawan yang datang, dan berdampak langsung pada kehidupan jasa penginapan atau akomodasi.
Memang tanpa akomodasi seseorang juga bisa melakukan perjalanan, inilah yang menyebabkan ada yang beranggapan bahwa akomodasi itu bukan sarana mutlak yang harus ada dalam kegiatan kepariwisataan. Anggapan demikian dapat dibenarkan apabila orang yang melakukan perjalanan itu hanya untuk piknik atau melakukan perjalanan kurang dari 24 jam. Orang tersebut cukup membawa bekal makanan seperlunya tanpa mencari tempat untuk menginap.
Tetapi lain halnya bagi seorang wisatawan yang melakukan perjalanan lebih dari 24 jam, akomodasi mutlak diperlukan agar ia dapat beristirahat, mandi atau tinggal sementara selama berada di daerah kunjungannya. Apalagi bagi mereka yang melakukan perjalanan wisata secara rombongan, baik untuk mengunjungi obyek-obyek wisata, seminar, konferensi, dan lain-lain maka akomodasi merupakan kebutuhan yang tidak bisa diabaikan (Richard Sihite, 2000: 43).
7. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Distribusi Hotel Di Kota Surakarta Faktor-faktor penentu pola sebaran dapat diketahui dengan menggunakan analisis overlay beberapa peta dan juga network analysis. Asumsi yang digunakan adalah bahwa pola sebaran hotel ditentukan beberapa faktor seperti aksesibilitas dan juga harga lahan. Faktor aksesibilitas dapat dilihat dengan kedekatan dengan jalur jaringan jalan yang ada, sementara untuk faktor harga lahan hanya ada satu subfaktor yaitu kelas harga lahan.
1. Aksesibilitas Lokasi
Hal ini karena berkaitan dengan pergerakan alus lalu-lintas yang menghubungakan berbagai kawasan. Arus lalu-lintas tentunya dipengaruhi oleh adanya hirarki fungsi jalannya. Hirarki fungsi jalan sesuai dengan UU No.13/ 1980 Tentang Jalan yaitu Jalan Arteri, Jalan Kolektor, dan Jalan Lokal. Jenis jalan yang digunakan untuk mengukur kedekatan suatu bangunan hotel dengan jalan yaitu jalan arteri (primer maupun sekunder) dan jalan kolektor (primer maupun sekunder).
Tidak semua hotel yang ada di daerah penelitian berada tepat di sisi jalan arteri dan juga kolektor, namun juga di tepi jalan lain di luar kedua jalan tersebut. Jalan lain biasanya berupa jalan lingkungan kawasan permukiman. Jalan lain tentunya menuju atau mempunyai percabangan dengan fungsi jalan tersebut di atas.
Jadi, jika suatu hotel berada di tepi jalan lain, maka dapat dipastikan lokasi hotel tersebut mempunyai akses utama menuju pusat kegiatan dengan melewati jalan arteri, kolektor ataupun jalan lokal. Fungsi jalan tersebut digunakan sebagai akses utama suatu lokasi hotel.
2. Agihan Kelas Harga Lahan
Harga lahan merupakan suatu pengukuran atas lahan yang diukur berdasarkan harga nominal dalam satuan mata uang untuk satuan luas pada pasar lahan. Harga lahan berbeda antara lokasi satu dengan lainnya, tergantung faktor kelengkapan fasilitas yang tersedia, dan kemudahan jangkauan. Harga lahan di kota tentu jauh lebih tinggi daripada di pinggiran kota. Harga lahan akan menurun seiring dengan bertambahnya jarak dari pusat kota. Wilayah tanpa sarana
transportasi juga akan memiliki harga lahan yang rendah.
8. Karakteristik Pengguna Hotel
Tingkat pendidikan menurut Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Dasar Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS yang dimaksud dengan pendidikan adalah “Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memenuhi kebutuhan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Menurut Soedomo Hadi (2003:193) tingkat pendidikan adalah tahap pendidikan berkelanjutan yang didasarkan pada perkembangan anak (peserta didik) dan keluasan bahasa pengajaran. Jadi tingkat pendidikan merupakan jenjang pendidikan yang ditempuh oleh seorang peserta didik sesuai dengan tujuan dan kemampuan yang akan dikembangkan oleh seorang/peserta didik. Tingkat pendidikan ini sifatnya berkelanjutan sehingga berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
Pendapatan merupakan tujuan utama orang mencari pekerjaan sebab dengan pendapatan seseorang mampu untuk memenuhi kebutuhan secara material. Menurut Winardi (1996: 257) “Pendapatan adalah tingkat hidup seseorang individu atau keluarga yang didasarkan atas penghasilan mereka atau sumber pendapatan lain”.
Menurut Azwini (1981: 25-28) dalam komposisi menurut umur dan jenis kelamin ada empat konsep, definisi dan ukuran-ukuran yang perlu diketahui sebagai berikut :
a) Umur tunggal
Yang dimaksud umur tunggal adalah umur seseorang yang dihitung berdasarkan hari ulang tahun terakhirnya.
Misalnya: jika sekarang berumur 17 tahun maka dalam pengertian diatas dianggap berumur 17 tahun.
b)Rasio jenis kelamin
c) Angka beban tanggungan
Adalah angka yang menyatakan perbandingan antara banyaknya orang yang tidak produktif (umur dibawah 15 tahun dan 65 tahun ke atas) dan banyaknya orang yang termasuk usia produktif (umur 15-64 tahun).
d)Umur meridian
Adalah umur yang membagi jumlah penduduk menjadu dua bagian dengan jumlah yang sama. Bagian yang pertama lebih muda dan bagian yang kedua lebih tua daripada umur meridian.
9. Pendekatan Keruangan Dalam Geografi
Pengkajian geografi secara umum dibedakan dalam dua hal, pertama objek yang berkaitan dengan material dan kedua adalah objek formal. Obyek material ilmu geografi adalah fenomena geosfer yang meliputi litosfer, hidrosfer, atmosfer, biosfer, dan antroposfer. Obyek formal geografi berupa pendekatan (cara pandang) yang digunakan dalam memahami obyek material. Dalam konteks itu geografi memiliki pendekatan spesifik yang membedakan dengan ilmu-ilmu lain, pendekatan spesifik itu dikenal dengan pendekatan keruangan (spatial
approach), pendekatan kelingkungan (ecological approach), dan pendekatan
kompleks wilayah (regional complex approach)
(http://www.Malang.ac.id/geografi.htm).
Lebih lanjut dalam analisa keruangan dipelajari perbedaan lokasi mengenai sifat-sifat penting yang diwujudkan dalam pertanyaan geografis seperti yang dikemukakan oleh Bintarto (1991), yakni faktor-faktor apakah yang menguasai pola penyebaran tersebut dan bagaimanakah pola tersebut dapat diubah agar penyebarannya menjadi lebih efisien dan lebih wajar. Sejalan dengan teori tersebut maka dalam penelitian ini dipelajari mengenai pola keruangan hotel dan pengetahuan akan faktor penyebab penyebarannya.
10. Analisis Keruangan
Pembahasan dalam analisis keruangan tertuju pada teori dan model keruangan yang akan dipergunakan. Hal-hal yang menjadi fokus perhatian analisis keruangan adalah mengenai lokasi, distribusi (penyebaran), difusi, dan interaksi keruangan (Sumaatmadja, 1981: 11).
Lokasi akan memberikan penjelasan lebih jauh tentang tempat atau daerah yang bersangkutan. Lokasi merupakan variabel yang dapat mengungkapkan berbagai hal tentang gejala yang dipelajari. Distribusi atau penyebaran menjelaskan tentang kekhasan distribusi dari gejala-gejala di permukaan bumi, sementara analisis interaksi dan difusi keruangan digunakan untuk menjelaskan perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat yang lain.
Untuk menganalisis berbagai pola penyebaran gejala geografi dalam hal ini adalah persebaran hotel maka dapat diterapkan analisis tetangga terdekat. Pada dasarnya pola penyebaran itu dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu seragam
(uniform), acak (random), mengelompok (clustered)(Hagget,1970 dalam
Hardiyanto 2001: 8).
B. Penelitian yang Relevan
Hasil penelitian Hardiyanto (2001) yang berjudul “Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Distribusi Fasilitas Telepon Kabel di Daerah Pinggiran Yogyakarta” dengan unit analisis desa. Penelitian tersebut menggunakan metode deskriptif dengan menyebar sejumlah angket serta melakukan wawancara tidak berstruktur untuk mendapatkan data primer, sedangkan data sekunder didapat dari pencatatan data yang dibutuhkan di instansi terkait guna pendukung hasil survei di lapangan. Adapun analisis data dengan kuantitatif melalui tabel tunggal dan tabel silang serta analisis korelasi dan regresi ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fasilitas telepon cenderung mengelompok di daerah yang jumlah penduduk besar. Variabel yang terbukti secara meyakinkan berpengaruh kuat terhadap distribusi fasilitas telepon kabel yaitu jumlah perguruan tinggi, jumlah fasilitas sosial, jumlah fasilitas ekonomi, jumlah penduduk, tingkat kepadatan penduduk, jarak dari pusat kota Yogyakarta, persentase luas lahan terbangun, persentase penduduk yang berpendidikan tinggi serta persentase penduduk yang termasuk keluarga sejahtera.
usia, jenis kelamin maupun cara mencapai bank. Faktor geografis yang secara signifikan mempengaruhi pola sebaran kantor cabang bank adalah indeks persebaran kampus perguruan tinggi dan jarak dengan kampus. Kampus perguruan tinggi dinilai memiliki kemampuan untuk mendorong terbentuknya kluster kegiatan bisnis disekitarnya. Arahan pengembangan lokasi kantor cabang bank diharapkan akan beralih keluar Kota Jogjakarta yaitu wilayah pinggiran di utara dan timur laut kota mengikuti arah perkembangan perguruan tinggi dan 2. Mengetahui faktor yang
mempengaruhi pola sebaran kantor cabang bank di perkotaan di perkotaan jogjakarta cenderung mengelompok didipusat-pusat perdagangan dan jasa dipusat kota dan utara kota (Kec. Depok) karema pada lokasi tersebut strategis, ramai, aman dan mudah dijangkau. 2. Tidak terdapat hubungan
yang signifikan antara karakteristik nasabah dan kantor cabang yang dikunjungi sehingga tidak terbatas pada segmen usia, jenis kelamin maupun cara mencapai bank.
dan timur laut kota
(1)Berdasarkan kelas hotel distribusinya banyak terdapat di Kecamatan Banjarsari dengan persentase hotel kelas non bintang (melati) lebih besar dibandingkan hotel dengan kelas bintang,(2)Berdasarkan analisis tetangga terdekat pola distribusi spasial hotel di Kota Surakarta cenderung mengelompok (cluster),(3)Aksesibilitas lokasi dan agihan kelas harga lahan sangat berpengaruh dalam penentuan lokasi hotel oleh pihak
pengembang,(4)Karakteristik penginap hotel berdasarkan tingkat pendidikan SMA dan S1 memiliki jumlah lebih besar dibandingkan dengan tingkat pendidikan lain.
C. Kerangka Pemikiran
Hotel adalah suatu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau seluruh bangunan untuk menyediakan jasa penginapan, makanan, dan minuman serta jasa penunjang lainnya bagi umum yang dikelola secara komersial, berfungsi sebagai suatu sarana untuk memenuhi kebutuhan tamu (wisatawan) sebagai tempat tinggal sementara selama jauh dari tempat asalnya sehingga hotel sering disebut rumah kedua bagi para wisatawan. Menurut klasifikasi, hotel dibedakan menjadi 2 jenis yaitu hotel bintang dan non bintang.
Berdasar pengukuran di lapangan, di Kota Surakarta terdapat 119 buah hotel baik bertaraf bintang maupun non bintang. Hal ini mengindikasikan sektor perhotelan di Kota Surakarta semakin berkembang sehingga perlu dilakukan kajian keruangannya. Jumlah hotel yang berjumlah banyak dan tersebar di banyak lokasi tersebut keberadaannya akan menunjukkan suatu pola sebaran tertentu. Untuk mengetahui pola sebaran hotel secara spasial diperlukan data tentang nama dan lokasinya.
Pola sebaran hotel tersebut dapat diberi ukuran yang bersifat kuantitatif misalnya dengan analisis tetangga terdekat, jadi dapat diketahui apakah polanya seragam, acak, atau mengelompok. Gambaran pola sebaran hotel nantinya akan dituangkan ke dalam sebuah peta sehingga diharapkan dapat digunakan untuk evaluasi efisiensi pemanfaatan ruang di daerah penelitian. Oleh karena itu, pola sebaran hotel penting untuk diketahui dalam rangka optimalisasi pemanfaatan ruang.
Sasaran dari pengguna (penginap) hotel adalah manusia yang memiliki karakteristik tertentu. Dengan perbedaan karakter yang dimiliki oleh pengguna hotel, pengusaha hotel memiliki pertimbangan dalam pemilihan lokasi pendirian hotel. Karakter penginap yang berbeda serta faktor pemilihan lokasi pendirian hotel akan mempengaruhi jumlah penggunanya.
tersebut jika diklasifikasikan dan dikaji lebih lanjut merupakan langkah efektif untuk mendapatkan keuntungan lebih besar lagi bagi pihak hotel. Analisis yang digunakan untuk mengetahui karakteristik pengguna / penginap adalah analisis tabel silang.
Menurut pengamatan sementara, tampaknya hotel yang ada di daerah penelitian (terutama yang berlokasi di daerah pinggiran kota) menampilkan pola tertentu sesuai dengan kemampuan pengembang untuk memperoleh tanah dengan harga terjangkau. Pengembang memang sangat berperan dalam menentukan lokasi sebuah hotel. Pemilihan lokasi pembangunan hotel dapat memberikan gambaran pola persebarannya, tentunya dalam membangun hotel juga digunakan asumsi tertentu. Asumsi tersebut berdasar pada beberapa indikator wilayah seperti aksesebilitas, lokasi dan harga lahan. Dalam hal ini, variabel harga lahan dinilai lebih banyak berpengaruh dalam sebaran hotel. Hal itu karena pengembang dalam membangun hotel berorientasi bisnis sehingga dipilihlah lokasi hotel dengan harga lahan yang relatif murah dengan lokasi yang strategis agar mendapat keuntungan besar.
Gambar 1 Diagram Alir Kerangka Pemikiran
Hotel Nonbintang Klasifikasi Hotel
Perkembangan Dalam Jumlah dan Persebaran Hotel Bintang
Distribusi Hotel
~Distribusi Hotel ~ Pola Distribusi hotel
~ Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Distribusi Hotel
~Karaketeristik Pengguna Hotel
Pola Distribusi Hotel
Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Distribusi Hotel
Karakteristik Penginap
Hotel Preferensi Lokasi dan Segmentasi Pasar
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Kota Surakarta Propinsi Jawa Tengah dengan obyek penelitian seluruh hotel yang secara administratif terletak di wilayah tersebut. Lokasi penelitian dipilih dengan pertimbangan karena perkembangan jumlah hotelnya yang cukup pesat dan banyaknya lokasi hotel yang cenderung mengelompok di tempat-tempat tertentu di Kota Surakarta.
2. Waktu Penelitian
B. Bentuk dan Strategi Penelitian
Mardalis (2002: 24) mengemukakan bahwa “Metode diartikan sebagai suatu cara atau teknis yang dilakukan dalam proses penelitian. Penelitian itu sendiri diartikan sebagai upaya dalam bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta dan prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati dan sistematis untuk mewujudkan kebenaran”.
Nawawi (1983: 62) mengemukakan bahwa “Metode deskriptif adalah prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan subyek atau obyek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya”.
Bentuk dari penelitian ini adalah penelitian kualitatif sedangkan strategi yang digunakan dalam penelitian dengan metode deskriptif untuk mendeskripsikan pola persebaran hotel, faktor-faktor yang berpengaruh atau mempengaruhi lokasi hotel, serta karakteristik pengguna hotel di Kota Surakarta tahun 2008.
C. Populasi dan Sampel
Populasi adalah himpunan individu atau obyek yang banyaknya terbatas atau tidak terbatas Tika (1997: 32). Jadi, populasi adalah semua individu atau obyek yang menjadi sumber pengambilan sampel yang banyaknya terbatas atau tidak terbatas.
Penelitian ini adalah penelitian populasi untuk mengetahui distribusi spasial hotel. Jumlah hotel di Kota Surakarta tahun 2008 yaitu 119 buah yang tersebar di berbagai tempat di Kota Surakarta
artinya bahwa sampel yang digunakan harus dapat mewakili populasi yang telah dikemukakan.
Teknik sampling yang digunakan adalah random sampling atau sampel bertujuan. Tujuan pengambilan sampel adalah untuk mengetahui karakteristik penginap hotel dilihat dari segi umur, pendidikan dan pekerjaan. Besarnya sampel penelitian menurut Arikunto (2002: 112), apabila subyek penelitian kurang dari 100 lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika jumlah subyek penelitian lebih besar dari 100 dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih. Berdasarkan jumlah rata-rata pengunjung hotel baik bintang maupun non bintang (melati) perharinya, maka jumlah sampel yang diambil sebanyak 10% atau berjumlah 88 sampel.
Teknik ini biasanya dilakukan karena beberapa pertimbangan, misalnya alasan keterbatasan waktu, tenaga dan dana sehingga tidak dapat mengambil sampel yang besar dan jauh. Walaupun cara seperti ini diperbolehkan, yaitu bahwa peneliti bisa menentukan sampel berdasarkan tujuan tertentu, tetapi ada syarat-syarat yang harus dipenuhi sebagai berikut :
1. Pengambilan sampel harus didasarkan atas ciri-ciri, sifat-sifat atau karakteristik tertentu, yang merupakan ciri-ciri pokok populasi.
2. Subyek yang dambil sebagai sampel benar-benar merupakan subyek yang paling banyak mengandung ciri-ciri yang terdapat pada populasi (key subjects).
3. Penentuan karakteristik populasi dilakukan dengan cermat di dalam studi pendahuluan.
D. Sumber Data
1. Data Primer
Yaitu data yang diperoleh langsung dari responden atau obyek yang diteliti, atau ada hubungannya dengan yang diteliti (Tika, 1997: 67). Data primer dalam penelitian ini meliputi: lokasi hotel secara spasial di Kota Surakarta yang diperoleh melalui pengukuran menggunakan GPS di lapangan, wawancara dengan Ketua BPC PHRI Surakarta guna memperoleh gambaran seputar perkembangan hotel di Kota Surakarta, wawancara dengan pengelola hotel (terkait data jumlah pengguna/penginap perhari, fasilitas yang tersedia, jumlah kamar, preferensi pemilihan lokasi pendirian hotel ) dan kuisioner untuk mengetahui karakteristik pengguna hotel .
2. Data Sekunder
Merupakan data yang lebih dahulu dikumpulkan dan dilaporkan oleh orang atau instansi diluar diri peneliti sendiri, walaupun yang dikumpulkan itu sesungguhnya adalah data yang asli (Tika, 1997: 67).
Tabel 3. Jenis Data Yang Digunakan Dalam Penelitian
No Jenis Data Sumber Data
1 Peta Rupabumi Indonesia (RBI) lembar 1408-343 (sumber data)
Sekunder Bakosurtanal
2 Penggunaan Lahan Kota Surakarta (sumber data)
Sekunder Kompilasi RBI,
Google Earth
3 Kependudukan Sekunder BPS Kota
Surakarta
4 Nama dan Alamat Hotel Sekunder BPC PHRI Kota
Surakarta
5 Lokasi (koordinat) Hotel Primer Ploting GPS
6 Jumlah penginap Hotel Sekunder Hotel
E. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi
Observasi adalah cara atau teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala atau fenomena yang ada pada obyek penelitian.
Sasaran observasi lapangan pada penelitian ini adalah lokasi hotel di Kota Surakarta. Data diperoleh dengan cara peneliti mendatangi satu persatu hotel di Kota Surakarta berbekal data nama dan alamat hotel-hotel tersebut yang didapat dari BPC PHRI. Tiap kali sampai di suatu lokasi hotel, peneliti mencatat koordinat bujur dan lintang yang ditunjukkan oleh GPS (Global Positioning
System). Hal ini bertujuan untuk memperoleh data titik koordinat dari
masing-masing hotel, kemudian data titik koordinat tersebut diplotkan pada Peta Rupa Bumi Indonesia Skala 1 : 25000 Sheet 1408-343 lembar Surakarta sebagai peta dasar.
2. Dokumentasi
Teknik dokumentasi merupakan pengumpulan data yang dilakukan dengan melihat sumber-sumber tertulis yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Teknik pengumpulan data ini dilakukan dengan cara mengutip pada sumber data yang telah tersedia. Nawawi (1995: 95) mengemukakan definisi teknik dokumentasi yaitu :
”Cara mengumpulkan data yang dilakukan dengan kategorisasi dan klasifikasi bahan-bahan tertulis yang berhubungan dengan masalah penelitian, baik dari sumber dokumen maupun buku-buku, koran, majalah dan lain-lain”.
Dalam penelitian ini sumber tertulis berdasarkan dokumen meliputi data kependudukan dari BPS Kota Surakarta, data nama dan alamat hotel dari BPC PHRI Kota Surakarta.
3. Wawancara
keterangan-keterangan lisan melalui bercakap-cakap dan berhadapan muka dengan orang yang dapat memberikan keterangan pada si peneliti”.
Wawancara yang digunakan yaitu wawancara terstruktur di mana responden berdasarkan yang dipilih saja karena sifat-sifatnya yang khas dan biasanya mereka memiliki pengetahuan dan mendalami situasi serta lebih mengetahui informasi yang diperlukan. Pertanyaan yang diajukan disusun lebih dahulu, untuk membatasi topik bahasan dan efektifitas waktu . Pelaksanaan tanya jawab mengalir seperti dalam percakapan sehari-hari namun tetap dalam batas materi yang diiinginkan. Wawancara pada penelitian guna memperoleh data yang lengkap lebih baik dan dapat dipercaya. Wawancara dilakukan dengan pengelola hotel baik bintang dan non bintang di Kota Surakarta untuk terkait data jumlah pengguna/penginap perhari dan preferensi pemilihan lokasi pendirian hotel (lampiran 4).
4. Kuisioner
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui (Arikunto, 1998:140). Cara pengumpulan data dengan tertulis seperti ini biasa disebut dengan teknik angket. Teknik angket dilakukan terutama untuk memperoleh data yang banyak dalam waktu yang singkat.
Angket pada penelitian digunakan untuk mengetahui karakteristik pengguna hotel di Kota Surakarta ditinjau dari faktor usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, pendapatan (lampiran 5)
F. Analisis Data
Patton dalam Moleong (1990: 103) bependapat bahwa “Analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya kedalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar”.
kemudian diuraikan dalam bentuk kalimat. Adapun data yang perlu dianalisis adalah :
1. Analisis Distribusi Spasial Hotel
Distribusi hotel pada tahun 2008 dapat diketahui dengan menggunakan analisis peta yaitu peta distribusi hotel di Kota Surakarta. Peta ini menggambarkan adanya perbedaan lokasi pendirian hotel yang ada di kota Surakarta. Keberadaan hotel yang ada di Kota Surakarta sebagian besar cenderung mengelompok di kawasan simpul transportasi yaitu di kawasan Stasiun Balapan dan Terminal Tirtonadi. Menurut hasil penelitian yang dilakukan terkait dengan pengelompokan tersebut adalah para pengusaha berusaha mencari harga lahan yang relatif lebih murah dibanding pusat kota yang ketersediaan lahannya semakin terbatas. Alasan lain yaitu kemudahan akses yang dimiliki kawasan simpul transportasi.
2. Analisis Pola Persebaran Hotel
Setelah diketahui sebaran hotel di wilayah penelitian kemudian dilakukan analisis lebih lanjut (analisis tetangga terdekat) untuk mengetahui pola distribusi hotel dengan menggunakan formula : (Bintarto dan Surastopo Hadisumarno ( 1979: 75)
jh ju T
T = indeks penyebaran tetangga terdekat
Ju = jarak rata-rata yang diukur antara satu titik dengan titik tetangganya yang terdekat.
Jh = jarak rata-rata yang diperoleh andaikata semua titik mempunyai pola random
3.Analisis Karakteristik Pengguna/Penginap Hotel
Untuk mengetahui karakteristik pengunjung hotel digunakan angket, setelah hasil angket diperoleh lalu dimasukkan dalam tabel silang yang menunjukkan persebaran data hasil angket yang berupa karakteristik pengunjung hotel dilihat dari segi usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, pendapatan. Analisis yang digunakan adalah analisis tabel silang.
4. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persebaran Hotel
Dalam menentukan faktor yang berpengaruh atau mempengaruhi lokasi suatu hotel, dilakukan malalui wawancara dengan pengelola hotel seputar preferensi lokasi pendirian usahanya. Hasil yang di dapat menunjukkan secara khusus faktor yang berpengaruh yaitu aksesibilitas lokasi dan harga lahan. Dengan asumsi demikian kemudian dilakukan overlay beberapa peta dan juga network analysis.
G. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian merupakan penjelasan yang memberikan gambaran tentang keseluruhan dari kegiatan persiapan, pengumpulan data, analisis data yang terkumpul, sampai dengan penulisan laporan. Prosedur dalam penelitian ini dapat dirinci sebagai berikut:
1. Persiapan
Tahap persiapan merupakan tahap paling awal dalam sebuah penelitian. Kegiatan yang dilakukan pada tahap persiapan meliputi:
a. Menentukan lokasi dan waktu penelitian
b. Mengamati permasalahan yang ada pada lokasi yang telah ditentukan c. Survei ketersediaan data
d. Studi pustaka
2. Penyusunan Proposal
proposal penelitian yang terdiri dari pendahuluan, kajian teori dan metodologi penelitian.
3. Penyusunan Instrumen
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah menentukan alat penelitian yang diantaranya adalah menyusun daftar pertanyaan dalam kuesioner yang akan diberikan kepada responden. Daftar pertanyaan tersebut digunakan untuk mengetahui karakteristik pengguna hotel. Data lokasi persebaran diperoleh dari data lapangan berupa tabel titik-titik lokasi absolut berupa lintang dan bujur dengan menggunakan GPS (Global Positioning System). Dari sebaran titik-titik lokasi absolut tersebut dapat diketahui pola persebaran hotel di Kota Surakarta.
4. Pengumpulan Data
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan berupa pengumpulan data melalui studi dokumen dan observasi di lapangan.
5. Analisis Data
Analisis data merupakan proses pengorganisasian dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan suatu uraian sehingga ditemukan tema. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah mengelompokkan data untuk kepentingan analisis data, setelah data terkumpul ditabulasi silang untuk mengetahui kecenderungan diantara dua variabel atau lebih, dan setelah diketahui kecenderungannya maka hasil penelitian dijabarkan secara deskriptif.
6. Penulisan Laporan
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Daerah Penelitian 1. Letak, Luas, dan Batas a. Letak
Daerah penelitian adalah Kota Surakarta yang merupakan salah satu kota administrasi yang terdapat di Propinsi Jawa Tengah. Kota Surakarta secara ekonomi terletak pada tiga pusat pertumbuhan kota besar yaitu Kota Semarang, Kota Yogyakarta dan Kota Surabaya. Berdasarkan letak astronomisnya Kota Surakarta berada antara 7035’ LS sampai 7056’ LS dan 110045’ 15” BT sampai 1100
b. Luas
45’ 35” BT.
Kota Surakarta mempunyai luas wilayah 4404 Ha atau 44,04 Km2
Tabel 4. Luas dan Banyaknya Kecamatan, Kelurahan, RW, RT dan Kepala Keluarga di Kota Surakarta Tahun 2008
yang terbagi dalam 5 kecamatan, yaitu : Kecamatan Laweyan, Kecamatan Serengan, Kecamatan Pasar Kliwon, Kecamatan Jebres dan Kecamatan Banjarsari. Terbagi dalam 51 Kelurahan mencakup 592 RW dan 2.644 RT, dengan jumlah KK sebanyak 127.742 KK, untuk jelasnya lihat Tabel 4.
N
o Kecamatan Luas (Km
2
) Kelurahan RW RT KK
1 Laweyan 8,64 11 105 451 22.864
2 Serengan 3,19 7 75 332 15.020
3 Pasar Kliwon 4,82 9 100 424 20.242
4 Jebres 12,58 11 145 605 31.870
5 Banjarsari 14,81 13 167 832 37.746
Jumlah 44,04 51 592 2.644 127.742
c. Batas
Kota Surakarta secara administratif mempunyai batas-batas sebagai berikut:
Sebelah Utara : Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Karanganyar. Sebelah Timur : Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo Sebelah Selatan : Kabupaten Sukoharjo.
Sebelah Barat : Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Karanganyar, dan Kabupaten Boyolali.
d. Penggunaan Lahan
Berdasarkan data sekunder yang dimuat Surakarta Dalam Angka Tahun 2008, diketahui bahwa secara umum penggunaan lahan di Kota Surakarta sebagian besar berupa lahan terbangun. Lahan terbangun tersebut berupa permukiman maupun fasilitas-fasilitas lainnya, seperti fasilitas jasa, perusahaan, dan industri. Sebaliknya keberadaan lahan belum terbangun berupa tanah kosong, tegalan, maupun persawahan sudah terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan lahan non pertanian lebih luas dari pada penggunaan lahan pertanian. Dari penggunaan lahan yang telah disebutkan dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu bangunan, sawah, tegalan, lain-lain, seperti dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Luas Penggunaan Lahan (Km2
No
) Menurut Jenisnya di Kota Surakarta Tahun 2008
3 Pasar Kliwon 4,82 0,03 - 3,96 0,82
4 Jebres 12,58 0,21 0,89 9,55 1,93
5 Banjarsari 14,81 0,88 0,02 11,88 2,03
Jumlah 44,04 1,57 0,91 35,33 6,23
Sumber : Surakarta Dalam Angka 2008 (BPS Kota Surakarta)