I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di Indonesia terdapat sekitar 419.282 ha tambak air payau dan sekitar 913.000 ha lahan lainnya yang potensial untuk budidaya. Peningkatan produksi perikanan secara global rata-rata mencapai 8.9% per tahun. Tentunya hal ini dapat menjadi faktor pendukung perkembangan industri budidaya udang yang selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Melihat pesatnya perkembangan industri budidaya udang, tentu saja memerlukan banyak tenaga kerja. Mahasiswa FAPERIKA Universitas Riau, setelah lulus nanti diharapkan menjadi ahli yang kompeten di bidang perikanan, salah satunya budidaya. Untuk itu, para mahasiswa perlu diberi bekal agar dapat berkompetisi ketika masuk ke dunia kerja nanti. Salah satu caranya adalah dengan melakukan praktek magang di instansi-instansi yang fokus dalam perkembangan perikanan budidaya, khususnya budidaya udang.
Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Ujung Batee, Nanggroe Aceh Darussalam merupakan salah satu Unit Pelaksana Tugas (UPT) di lingkungan Departemen Kelautan dan Perikanan. Pada saat ini BPBAP Ujung Batee merupakan pusat perkembangan industri budidaya udang di Provinsi Aceh, karena di BPBAP Ujung Batee ini telah dapat memproduksi benih, pembesaran sampai pakan udang. Selain itu, tenaga ahli dan fasilitas yang ada di BPBAP Ujung Batee juga sangat memadai. Oleh karena itu tidak heran jika BPBAP Ujung Batee mempunyai reputasi yang baik di antara instansi-instansi pembudidaya udang lain di wilayah sumatera.
mewabahnya penyakit. Kondisi lingkungan terkait erat dengan kualitas air budidaya yang tercermin dari beberapa parameter. Pengukuran kualitas air selama kegiatan budidaya dilakukan untuk mengetahui kualitas perairan budidaya. Kontrol kualitas air harian dilakukan pada beberapa parameter diantaranya oksigen terlarut, salinitas, pH, suhu dan kecerahan.
Kegiatan budidaya udang windu yang dilakukan di tambak BPBAP Ujung Batee telah menggunakan peralatan yang bisa dikatakan lengkap dengan teknologi yang mumpuni dan dilakukan oleh tenaga yang berkompeten di bidangnya.
Dalam hal ini penulis tertarik untuk melakukan praktek magang di Balai Perikanan Budidaya Air Payau Ujung Batee, dengan harapan dapat mengetahui lebih jauh tentang teknik pengukuran kualitas air payau dalam kegiatan budidaya, khususnya budidaya udang windu (Penaeus monodon).
1.2 Tujuan Magang
Kegiatan praktek magang ini dilaksanakan bertujuan untuk mengetahui teknik pengukuran kualitas air pada kegiatan budidaya udang windu (Penaeus monodon) di BPBAP Ujung Batee, Provinsi Aceh.
1.3 Manfaat Magang
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Taksonomi dan Morfologi Udang Windu (Penaneus monodon)
Di alam terdapat 30.000 Spesies krustacea yang umumnya hidup di laut. Tubuh bersegmen, ruas-ruas pembentuk kepala tumbuh menjadi satu. Tubuh
Spesies : Penaeus monodon
Gambar 1. Udang windu (Penaeus monodon) Sumber : BPBAP Ujung Batee
Secara internasional udang windu dikenal sebagai black tiger, tiger shrimp,
werus atau udang dogol (Metapenaeus spp), udang jari (Penaeus indicus) dan udang kembang (Penaeus semiculatus) (Rusmiyati, 2010).
Udang windu termasuk dalam familia Penaidae, Sub Ordo Natantia, Ordo Decaoda dan Klas Crustacea. Kelompok ini hidup di dasar perairan/bentik, tidak menyukai cahaya terang dan bersembunyi di lumpur pada siang hari. Bersifat kanibal, terutama dalam keadaan lapar dan tidak ada makanan tersedia, mempunyai eksresi smoniak yang cukup tinggi dan untuk pertumbuhan diperlukan ganti kulit (moulting) (Sumeru, 1992).
Udang windu memiliki kulit tubuh yang keras dari bahan chitin. Warna sekujur tubuhnya hijau kebiruan dengan motif lereng besar. Tubuh udang windu di bagi menjadi dua bagian besar yaitu bagian cephalothorax dan abdomen (Rusmiyati, 2010).
Bagian cephalotorax yaitu bagian kepala yang menyatu dengan bagian dada terdiri atas kepala dan dada. Terdapat 13 ruas, 5 ruas ada di kepala dan 8 ruas ada di dada. Cephalothorax dilindungi oleh kulit chitin yang tebal atau juga dengan karapas (carapace). Bagian depan kepala yang menjorok merupakan kelopak kepala yang memanjang dengan bagian pinggir bergerigi atau disebut juga dengan cucuk (rostrum). Cucuk di kepala ini memiliki tujuh buah gerigi di bagian bawah. Sementara itu, di bagian pangkal bawah kepala terdapat sepasang mata (Rusmiyati, 2010).
2.2 Sifat dan Kehidupan Udang Windu (Penaeus monodon)
Di alam, udang windu biasa memakan berbagai jenis Crustacea besar, Brachyura, benda-benda nabati, Polychaeta, Mollusca, ikan-ikan kecil dan Crustacea kecil dalam jumlah yang terbatas (Sumeru, 1992).
Udang windu windu bersifat nocturnal, yaitu hewan yang aktif mencari makanan pada saat malam hari. Hal ini merupakan sifat alami dari udang, sedangkan pada siang hari sebagian dari mereka bersembunyi di dalam substrat atau lumpur (Rusmiyati, 2010).
Menurut Buwono (1993), pemberian pakan udang windu harus di sesuaikan dengan tingkah laku udang dalam hal mencari makanan. Udang bersifat nocturnal, yakni aktif mencari makan bila suasana gelap.
Syarat mutlak untuk terpenuhinya pemberian pakan yang baik adalah merata, dalam arti dapat diusahakan agar satu individu udang memperoleh bagian pakan yang sama dengan individu lainnya, sehingga di harapkan dengan pemberian pakan merata, pertumbuhan akan seragam. Dengan danya seleksi alam, sejalan dengan lamanya waktu pemeliharaan, udang yang lemah akan mengalami kematian dan udang yang memiliki daya tahan standar akan mampu bertahan dan tumbuh dengan baik (Sumeru, 1992).
Udang juga terkenal dengan sifatnya yang rakus, dimana udang memiliki usus yang tidak terlalu panjang, sehingga proses pencernaan makanan cepat sekali berlangsung dan perut udang cepat sekali kosong (Rusmiyati, 2010).
yang sejenis. Udang windu dapat melakukan penyerangan terhadap sesame jenisnya, udang sehat akan menyerang udang yang lemah. Hal ini lebih sering terjadi saat udang sedang sakit dan saat terjadinya proses moulting. Seperti diketahui, saat proses moulting udang akan berada pada kondisi fisik yang lemah dan kulit belum mengeras. Sifat kanibalisme biasanya akan muncul terutama bila udang tersebut dalam keadaan kurang pakan sedangkan kepadatan udang di tambak cukup padat (Rusmiyati, 2010).
Secara alami udang tumbuh di perairan laut, yang didahului dengan proses ganti kulit (moulting). Fenomena ini merupakan indikasi awal pertumbuhan hewan crustacea. Proses tersebut merupakan salah satu sifat bilogis udang yang berlangsung secara periodic (Buwono, 1993).
Interval moulting bagi udang muda lebih pendek daripada udang dewasa, dimana semakin besar udang frekuensi moulting semakin menurun (Buwono, 1993).
udang-udangan (crustacea) dan anak-anak serangga sperti chironomus dan lain sebagainya. Di tambak, udang juga dapat memakan plankton, klekap, lumut dan hewan bentos, namun jika padat penebaran tinggi, maka makanan tambahan mutlak diperlukan (Rusmiyati, 2010).
Udang windu hidup dan mencari makan di dasar perairan (benthic). Udang windu merupakan hewan pemakan lambat dan terus menerus dan digolongkan ke dalam hewan pemakan segala macam bangkai (omnivorous scavenger) atau pemakan detritus dan karnivora yang memakan krustacea kecil, amphopoda dan polychataeta (Rusmiyati, 2010).
2.3 Kualitas Air Untuk Budidaya Udang Windu (Penaeus monodon)
Air merupakan media hidup bagi udang dan organisme lainnya penting untuk diperhatikan. Kesalahan mengelola air berakibat fatal bagi kesehatan pembenihan. Untuk memperoleh air laut yang bersih selain mengambil langsung dari laut dapat pula dihasilkan melalui penyaringan (Rusmiyati, 2010).
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam usaha budidaya udang, perlu di perhatikan kualitas air yang baik. Persyaratan yang layak bagi beberapa parameter kualitas air bagi budidaya udang akan di jelaskan satu persatu (Sumeru, 1992).
2.3.1 Oksigen Terlarut (DO)
tambak selain untuk pernapasan organisme juga untuk mengoksidasi bahan oranik di tambak (Buwono, 1993).
Dilihat dari jumlahnya, oksigen terlarut adalah satu jenis gas terlarut di dalam air urutan kedua setelah Nitorgen. Namun jika dilihat kepentingannya bagi kehidupan ukan dan udang, oksigen menempati urutan paling atas. Oksigen yang sangat diperlukan udang untuk pernafasannya harus dalam bentuk terlarut dalam air, karena udang tidak dapat memanfaatkan oksigen langsung dari udara (Sumeru, 1992).
2.3.2 Salinitas
Berdasarkan toleransinya terhadap salinitas, maka udang windu termasuk ke dalam golongan euryhaline laut, yaitu hewan laut yang mampu hidup pada air tawar. Di beberapa tempat, udang windu ditemukan masih mampu hidup pada salinitas 40 permil, namun terbukti mengalami pertumbuhan yang lambat. Nilai salinitas yang optimal bagi udang windu adalah 15-25 permil. Jika nilai salinitas terlalu tinggi, konversi rasio pakan akan tinggi sehingga untuk mengantisipasinya, volume penggantian air harus diperbesar (Sumeru, 1992).
Salinitas yang terlalu tinggi sering terjadi pada musim kemarau, sedangkan pada waktu musim hujan salinitas terlalu rendah. Untuk mengatasi hal tersebut maka penggunaan air artesis dari sumur bor sangat bermanfaat (Buwono, 1993). 2.3.3 Derajat Keasaman (pH)
Kisaran normal pH air untuk udang berkisar 7,5 – 8,5. Tambak yang baru di bangun pada lahan hutan bakau dan belum direklamasi, umunya pH air sangat rendah yakni sebesar di bawah 5. Air yang memiliki pH sangat rendah umumnya disebabkan oleh keasaman tanah. Pengaruh langsung dari pH rendah adalah menyebabkan kulit udang menjadi keropos dan selalu lembek karena tidak dapat membentuk kulit baru (Buwono, 1993).
2.3.4 Suhu
Beberapa pengamat menemukan bahwa udang windu tidak dapat hidup pada suhu kurang dari 15 ºC atau lebih dari 40 ºC. Suhu optimal bagi udang windu adalah 28 ºC - 30 ºC. Selain pengaruh langsung mematikan, suhu juga secara tidak langsung mempengaruhi metabolisme, daya larut gas-gas, termasuk oksigen serta berbagai reaksi kimia air (Sumeru, 1992).
Perubahan-perubahan yang mendadak dari suhu secara drastis selama kegiatan budidaya menyebabkan kondisi udang menjadi stress. Untuk mengantisipasinya dilakukan usaha dengan pembuangan lapisan air permukaan tambak (Buwono, 1993).
2.3.5 Amoniak
Amonia di dalam air terdiri dari dua bentuk yaitu ion NH4+ dan NH3, menurut reaksi NH3 + H2O → NH4+ + OH dengan total ammonia yaitu (NH4) + (NH3). Apabila pH air tinggi maka kadar NH3 menjadi keras (Buwono, 1993).
III. METODE MAGANG
3.1 Waktu dan Tempat Magang
Praktek magang ini dilaksanakan pada 26 Januari sampai dengan 20 Februari 2016 dan bertempat di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Ujung Bate , Provinsi Aceh.
3.2 Metode Praktek Magang
Metode yang digunakan dalam praktek magang ini adalah metode mentorial dan metode obsevasi/turun langsung kelapangan. Metode mentorial yaitu berupa pengenalan lingkungan dan lokasi magang serta pengarahan dan diskusi yang dibimbing oleh pembimbing lapangan.
Metode observasi yaitu praktek secara langsung di lapangan dengan pengumpulan data yang terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer merupakan pengamatan/pengukuran secara langsung di lapangan, wawancara dengan pegawai/staff BPBAP. Sedangkan data sekunder dengan melakukan studi pustaka yaitu melakukan pengumpulan data berupa literatur-literatur yang bersumber dari buku, jurnal dan internet.
3.3. Jadwal Kegiatan Magang
Tabel 1. Jadwal Kegiatan Magang di (BPBAP) Ujung Batee
Kegiatan berupa penyerahan peserta magang kepada pembimbing lapangan dan kemudian pengenalan lokasi praktek magang
Kegiatan dilakukan di lapangan dibimbing oleh pembimbing.
Pengukuran
kualitas air √ √ √
Kegiatan dilakukan di lapangan dibimbing oleh pembimbing.
Kegiatan Dilakukan Di Ruangan Serbaguna BPBAP Ujung Batee
IV. HASIL PRAKTEK MAGANG
4.1 Keadaan Umum BPBAP Ujung Batee
Sarana dan Prasarana terdiri dari gedung kantor, bak induk bandeng, bak induk Kerapu, hatchery Bandeng, hatchery Kerapu, laboratorium pakan alami, laboratorium hama dan penyakit, laboratorium pakan buatan, bak larva outdoor, bak pakan alami, perpustakaan dan musholla.
Lokasi kedua (balai dua) terletak di desa Neuheun Kecamatan Mesjid Raya, 1 km dari lokasi pertama dengan luas area 7,58 ha. Sarana dan prasarana terdiri dari bak induk udang windu, bak induk kelong/lambouh, hatchery udang windu, bak pakan alami massal, reservoir air laut 450 ton, bak pakan alami, tambak pendederan, tambak calon induk, tambak udang windu dan bak pembesaran ikan nila salin.
4.1.1 Sejarah Berdirinya BPBAP Ujung Batee
Balai Budidaya Air Payau Ujung Batee berdiri pada tanggal 5 Agustus 1986 berdasarkan SK Menteri Pertanian No.473/kpts/OT.210/8/1986 dengan nama “SUB Centre Udang” dan disempurnakan lagi dengan SK Menteri Pertanian No. 264/kpts/OT.210/1994 tanggal 18 April 1994 menjadi “Loka Budidaya Air Payau’. Pada saat itu Loka Budidaya Air Payau Ujung Batee diberi tugas melaksanakan penerapan teknik budidaya air payau serta kelestarian sumber daya ikan di lingkungan wilayah Indonesia bagian Barat khususnya Sumatera.
Pada perkembangan terakhir sesuai dengan kebutuhan Organisasi Loka Budidaya Air Payau berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.PER.08/MEN/2006 tanggal 12 Januari 2006 mendapat peningkatan ke III/a sehingga struktur organisasi meningkat menjadi Balai Perikanan Budidaya Air Payau Ujung Batee. Secara umum usaha aplikasi teknik dan segala aspek kegiatan dan sumberdaya manusia terus berkembang sesuai kebutuhan dinamika kehidupan, walaupun dalam berbagai sisi masih harus dilakukan pembinaan dan dipacu perkembangannya.
Sejak berdirinya Balai Perikanan Budidaya Air Payau Ujung Batee sudah mulai memproduksi benur yang berada di Desa Durung. Namun produksinya masih sangat terbatas disebabkan fasilitas yang kurang mendukung sehingga usaha pembenihan udang sempat tidak berjalan selama beberapa tahun. Kemudian pada tahun 1997, dibawah kepemimpinan Bapak Sugeng Raharjo, S.pi Balai Perikanan Budidaya Air Payau Ujung Batee mulai menjalankan kembali usaha pembenihan yang telah lama terbengkalai.
berada dibawah pembinaan dan pengawasan Balai Perikanan Budidaya Air Payau Ujung Batee.
4.1.2 Visi dan Misi BPBAP Ujung Batee
Adapun visi dari BPBAP Ujung Batee yaitu sebagai pusat pengembangan dan informasi dalam pendampingan teknologi budidaya air payau dalam menunjang pembangunan perikanan budidaya yang ramah lingkungan, berdaya saing, berkelanjutan dan berkeadilan.
Adapun misi dari BPBAP Ujung Batee, yaitu:
1. Mengkaji dan menerapkan teknologi budidaya air payau yang sederhana, efisien, berdaya guna dan berhasil guna.
2. Meningkatkan peranan balai sebagai pendamping teknologi di masyarakat dalam rangka proses alih teknologi.
3. Meningkatkan kualitas dan kapabilitas sumberdaya manusia BPBAP Ujung Batee.
4. Mewujudkan sentral pengembangan bank induk udang windu unggul, mendorong berkembangnya usaha perikanan budidaya air payau yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
4.1.3 Tugas dan Fungsi BPBAP Ujung Batee
Penerapan teknik pembenihan dan budidaya ikan air payau serta pelestarian sumberdaya induk atau benih ikan dan lingkungan. Dalam melaksanakan tugasnya, BPBAP Ujung Batee menyelenggarakan fungsi:
a. Pengkajian, pengujian dan bimbingan penerapan standar pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau.
b. Pengkajian standar dan pelaksanaan sertifikasi sistem mutu dan sertifikasi personil pembenihan serta pembudidayaan ikan air payau.
c. Pengkajian sistem dan tata pelaksana produksi dan pengelolaan induk udang dan induk dasar ikan air payau.
d. Pelaksanaan pengujian teknik pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau.
e. Pengkajian standar pengawas benih, pembudidayaan serta pengendalian hama dan penyakit ikan air payau.
f. Pengkajian standar pengendalin lingkungan dan sumberdaya induk/benih ikan air payau.
g. Pelaksanaan sistem jaringan laboratorium pengujian, pengawasan benih dan pembudidayaan ikan air payau.
h. Pengelolaan dan pelayanan informasi dan publikasi pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau.
i. Pelaksana urusan tata usaha dan rumah tangga. 4.1.4 Struktur Organisasi dan Tenaga Kerja
a. Sub bagian tata usaha yang mempunyai tugas melaksanakan urusan keuangan, asistensi operasional serta kelompok jabatan fungsional seperti pembenihan, divisi budidaya dan koordinator laboratorium pengendalian lingkungan.
b. Tata usaha terdiri dari bagian pelaksana keuangan, administrasi dan rumah tangga.
c. Asistensi operasional terdiri dari sub seleksi pelayanan teknik yang mempunyai tugas melaksanakan pelayanan, penerapatan pemeliharaan dan budidaya ikan air payau.
d. Sub seksi informasi dan publikasi kegiatan perekayasaan teknik pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau serta pengelola perpustakaan.
e. Kelompok jabatan fungsional mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pekerjaan, pengujian, penerapan, standar atau sertifikasi teknik pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau.
f. Pengendalian hama dan penyakit, pengawasan budidaya sesuai dengan tugas masing-masing.
4.1.5 Sarana dan Prasarana BPBAP Ujung Batee
Untuk mendukung kegiatan BPBAP secara keseluruhan, dilengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana yang dimiliki sampai dengan tahun 2016, terdiri dari:
a. Hatchery Udang
kegiatan pemijahan, pemeliharaan larva, dan pentokolan udang di Desa Neheun, yang meliputi:
Bak pemeliharaan larva-post larva bandeng (Chanos chanos) dan ikan kerapu (Ephinephelus fuscoguttatus/kerapu macan dan E.Lanceolatus/kerapu kertang), disamping itu ikan lainnya seperti nila salin dan kerapu tikus. Beberapa sarana untuk mendukung produksi benih ikan yang dimiliki balai diantaranya:
Bak pemijahan induk kandeng/kerapu Bak pemeliharaan larva dan juvenil Bak kultur fitoplankton
c. Laboratorium
Kegiatan laboratorium memiliki fungsi yang cukup penting, diantaranya adalah mendukung seluruh kegiatan teknis dan membantu masyarakat (pembenih/tambak) dalam melakukan analisis penyakit dan lingkungan. Beberapa kegiatan seperti analisis kualitas tanah dan air, pengujian PCR dan produksi bibit plankton. Laboratorium yang dimiliki BPBAP Ujung Batee antara lain:
Laboratorium pakan alami sebagai komponen yang vital dalam produksi benih (ikan dan udang) laboratorium pakan alami dilengkapi beberapa fasilitas untuk mendukung kontuinitas penyediaan plankton antara lain:
Ruang kultur murni alga (seperti Chlorella sp., Nannochloropsis sp., Skeletonema sp., Chaetoceros sp. dan Dunaiella sp.).
Ruang kultur semi-massal (intermediate)
Ruang kultur massal alga dan rotifer (Brachionus sp.) Bak race-way untuk kultur bio-massa artemia
d. Tambak/kolam
Tambak atau kolam yang dimiliki BPBAP Ujung Batee seluruhnya berada di lokasi II. Tambak/kolam semuanya berjumlah 11 petak tambak/kolam dengan konstruksi beton dan tanah, serta penggunaannya untuk pendederan dan pembudidayaan
Tabel 2. Tambak/ kolam di BPBAP Ujung Batee
Jumlah Luas per unit (m2) Konstruksi fisik Penggunaan 4 petak 3000 Beton dilapisi plastik Budidaya intensif
1 petak 3000 Beton Pembuangan limbah
1 petak 3000 Beton Pengendapan air (tandon)
1 petak 2000 Tanah Budidaya sistem ekstensif
4.2 Kegiatan Magang
Tambak yang akan digunakan sebagai media budidaya adalah tambak beton berbentuk persegi empat yang dibagian pinggirnya dilapisi plastic mulsa. Luas tambak 50 × 60 m dengan kedalaman air 100 cm dan volume air berkisar 3000 m³. Pada sekeliling tambak dipagari dengan jaring agar terhindar dari hama dan predator.
bagi pertumbuhan dan perkembangan udang windu (Penaeus monodon) di dalam tambak, maka perlu dilakukan persiapan tambak. Adapun hal-hal yang harus dilakukan dalam persiapan tambak meliputi:
4.2.1 Pengeringan tambak
Pengeringan tanah tambak bertujuan untuk mengurangi senyawa-senyawa beracun yang terjadi selama tambak terendam air. Memungkinkan terjadinya pertukaran udara dalam tambak sehingga proses mineralisasi bahan organik yang diperlukan untuk pertumbuhan plankton dapat berlangsung, serta untuk membasmi hama, penyakit, dan benih-benih ikan liar yang bersifat predator ataupun kompetitor.
Gambar 2. Pengeringan tambak
4.2.2 Kedok taplok dan pengolahan dasar tambak
toksin dalam bongkahan tanah teroksidasi dengan sempurna. Setelah tanah dasar tambak di cangkul, kemudian dibalik dan lumpur hitam yang ada didalam
tambak harus diangkat.
Gambar 3. Kedok taplok tanah dasar tambak
4.2.3 Penebaran molase
Molase adalah sejenis cairan sisa proses pengkristalan gula pasir. Sumber molase itu sendiri didapatkan dari tebu. Molase bermanfaat untuk mengasilkan bakteri pengurai baik dalam budidaya budidaya udang maupun untuk menambah unsur hara di dalam tambak.
Gambar 4. Penebaran molase
4.2.4 Pengapuran tambak
cara disebar merata di permukaan tanah dasar tambak. Dosis kapur yang diberikan dalam pembesaran udang windu ini adalah 500 kg/300 m².
Gambar 5. Kapur
Beberapa kriteria yang harus diperhatikan dalam pengapuran tambak yaitu:
1. Pemberian kapur dilakukan saat dasar tambak kering, setelah pembilasan. 2. Pemberian kapur disarankan pada waktu dimana angin tidak berhembus
kencang untuk mencegah kapur beterbangan keluar tambak. Tempatkan posisi tubuh yang membelakangi arah angin agar kapur tidak mengenai tubuh saat pemberian kapur.
3. Tebarkan kapur serata mungkin didasar tambak.
4.2.5 Pemasangan Kincir
Kincir merupakan alat yang digunakan untuk mempertahankan kandungan oksigen terlarut selama kegiatan budidaya udang tetap tesedia dengan baik. Pemasangan kincir dilakukan setelah tanah dasar tambak benar-benar kering. Kincir yang di pasang di tambak BPBAP Ujung Batee adalah sebanyak 4 buah. Kincir tersebut di pasang setiap sudut tambak dan arah putaran kincir di atur agar pada saat kincir hidup akan membuat arus searah mengelilingi tambak sehingga kotoran yang ada di tambak akan terbawa arus dan mengendap di bagian tengah tambak.
Gambar 6. Kincir
4.3 Pemasukan Air
Air yang yang dimasukkan kedalam tambak yang pertama adalah air payau dengan salinitas antara 11-13 ppt. Air dimasukkan hingga ketinggian 30-40 cm lalu dibiarkan beberapa hari untuk menumbuhkan plankton. Air yang masuk ke tambak harus disaring terlebih dahulu untuk menghindari ikan-ikan liar
Gambar 7.
Pemasukan air
Setelah pemasukan air payau, dilakukan penambahan air laut yang sudah disterilkan terlebih dahulu di bak tandon. Pengisian air laut dari tandon hingga mencapai kedalaman 100 cm dan salinitas air tambak juga meningkat menjadi 20 ppt. Tambak yang sudah berisi air harus diberikan treatment (perlakuan), yaitu pemberian racun (pestisida) untuk membunuh crustacea dan ikan liar yang mungkin lolos masuk kedalam tambak. Racun (pestisida) di tebar pada tambak adalah racun (pestisida) yang bermerek Nufaq dengan dosis 5 liter pada 300.000 m³.
Setelah dilakukan penebaran racun (pestisida), dibutuhkan waktu 13-15 hari sampai kandungan racun tersebut hilang. Setelah kandungan racun di perairan tambak dipastikan sudah tidak ada lagi, barulah benur udang dilepaskan ke dalam tambak.
4.4 Penebaran Benur
Gambar 8.
Pemasukan benur
Adapun prosedur yang harus diperhatikan dalam penebaran benur adalah:
Aklimatisasi
Plastik wadah benur direndam selama 2-5 menit, agar terjadi penyesuaian suhu antara air tambak dan dalam plastik.
Pengeluaran benur
Dilakukan dengan membuka sebagian ujung plastik ke air tambak. Biarkan benur keluar sendiri keair tambak. Sisa benur yang tidak keluar sendiri, dapat dimasukkan ketambak dengan perlahan dan hait-hati.
4.5 Pemberian Pakan
Gambar 9. Pemberian Pakan 4.6 Monitoring Kualitas Air
Kegiatan monitoring kualitas air di tambak bertujuan untuk memastikan bahwa kualitas air tambak sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan udang windu (Penaeus monodon) yang dibudidayakan. Metode pengukuran kualitas air yang digunakan selama praktek magang di BPBAP Ujung Batee adalah elektrometri dan refractometri.
Metode elektrometri merupakan metode analisis dengan adanya interaksi antara zat kimia dengan energi listrik. Alat-alat yang menggunakan metode ini adalah DO meter, thermometer digital dan pH meter. DO meter adalah alat untuk menganalisa kadar oksigen terlarut, thermometer untuk menganalisa suhu dan pH meter untuk menganalisa kadar pH (derajat keasaman).
4.6.1 Oksigen Terlarut (DO)
Oksigen terlarut diukur dengan metode elektrometri dengan menggunakan multiparameter. Sebelum digunakan, multiparameter dikalibrasi terlebih dahulu. Kalibrasi dilakukan untuk memastikan apakah alat tersebut stabil dan untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Prosedur pengukuran oksigen terlarut yaitu dengan cara memasukkan ujung detektor dari alat multiparameter kedalam perairan tambak. Multiparameter dihidupkan dengan menekan tombol Power/On kemudian tekan tombol Mode sampai multiparameter menunjukkan pengukuran parameter oksigen terlarut. Untuk membaca hasil pengukuran, tunggu beberapa detik hingga angka pada layar sudah benar-benar stabil dan hasilnya dicatat. Setelah itu kabel dibilas dengan air bersih agar bersih dan alat tidak cepat rusak.
Gambar 10. Pengukuran oksigen terlarut
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 rafik 1. Hasil pengukuran DO (mg/L)
Pengukuran oksigen terlarut dilakukan selama 23 hari. Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa kandungan oksigen terlarut di tambak berada pada kisaran 4,62 - 8,9 mg/L.
4.6.2 Salinitas
Pengukuran salinitas dilakukan dengan metode refraktometri. Alat yang digunakan adalah Refraktometer. Prinsip kerja alat ini adalah dengan memanfaatkan refraksi. Refraksi atau pembiasan cahaya adalah pembelokan cahaya ketika berkas cahaya melewati bidang batas dua medium yang berbeda indeks biasnya.
Sebelum digunakan, refractometer harus dikalibrasi terlebih dahulu. Kalibrasi menggunakan air bersih dilakukan untuk mengetahui kinerja alat. Pada bagian kaca prisma ditetesi air bersih lalu diamati melalui eye piece layar display hingga pembacaan menunjukan angka nol (0), lalu permukaan prisma dikeringkan dengan tissue.
Gambar 11. Pengukuran Salinitas
Pengukuran salinitas menggunakan refractometer dan dilakukan pada pagi hari pukul 05:00 sampai 06:00. Hasil pengukuran dapat dilihat pada grafik dibawah.
Grafik 2. Hasil pengukuran salinitas (ppt)
Pengukuran salinitas dilakukan selama 23 hari. Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa salinitas di tambak berada pada kisaran 11 ppt sampai 20 ppt.
4.6.4 Derajat Keasaman (pH)
dilakukan sebelum alat digunakan untuk memastikan apakah alat tersebut stabil
dan hasil yang didapatkan lebih akurat.
Gambar 12. Pengukuran pH
Prosedur pengukuran pH yaitu dengan cara memasukkan ujung detektor pH meter ke dalam perairan, kemudian pH meter di hidupkan dengan menekan tombol Power/On, tunggu hingga angka pada layar sudah benar-benar stabil dan kemudian hasilnya dicatat. Setelah itu pH meter dibilas dengan air bersih agar bersih dan alat tidak cepat rusak.
Pengukuran pH dilakukan selama 23 hari. Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa pH di tambak berada pada kisaran 7,1 sampai 8,1.
4.6.5 Suhu
Suhu di ukur dengan metode elektrofotometri dan menggunakan multiparameter. Sebelum digunakan, multiparameter dikalibrasi terlebih dahulu. Kalibrasi dilakukan agar hasil yang di dapat bisa lebih akurat. Prosedur pengukuran suhu yaitu dengan cara memasukkan ujung detektor multiparameter kedalam perairan tambak. Multiparameter di hidupkan dengan menekan tombol Power/On kemudian tekan tombol Mode sampai menunjukkan parameter
pengukur suhu, tunggu beberapa detik hingga angka pada layar benar-benar stabil dan catat hasilnya. Setelah itu, kabel multiparameter dibilas dengan air bersih agar bersih dan alat tidak cepat rusak.
Gambar 13.
0 kuran suhu menggunakan multiparameter dilakukan dua kali sehari, pagi pukul 05:00 sampai 06:00 dan sore 17:00 sampai 18:00. Hasil pengukuran suhu dapat dilihat pada grafik dibawah.
Grafik 4. Hasil Pengukuran suhu ( C )
Pengukuran suhu dilakukan selama 23 hari. Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa pengukuran suhu di tambak berada pada kisaran 26,9 oC sampai 31,8 oC.
4.6.6 Amoniak
Pengukuran kandungan amoniak di tambak dilakukan sebelum benur dimasukkan. Pengukuran kadar ammoniak dilakukan oleh pegawai BPBAP Ujung Batee dari bagian laboraturium. Hasil dari pengukuran menunjukkan kandungan amoniak di tambak adalah 0,07 ppm.
4.6.7 Nitrit
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari hasil praktek magang teknik pengukuran kualitas air dalam kegiatan budidaya udang windu (Penaeus monodon) di Balai Perikanan Budidaya Air Payau Ujung Batee, Provinsi Aceh, pengukuran oksigen terlarut, suhu dan pH dilakukan dua kali sehari, pagi pukul 05:00 sampai 06:00 dan sore 17:00 sampai 18:00. Salinitas diukur sekali saja pada pagi hari pukul 05:00 sampai 06:00. Sedangkan pengukuran ammoniak dan nitrit di tambak dilakukan oleh pihak laboraturium sebelum benur di masukkan. Metode pengukuran kualitas air yang digunakan selama praktek magang di BPBAP Ujung Batee adalah elektrometri untuk mengukur oksigen terlarut, suhu dan pH dan refractometri untuk mengukur salinitas.
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Buwono, D. 1993. Tambak Udang Windu Sistem Pengelolaan Berpola Intensif. Kanisius. Yogyakarta.
H.S. Nuraini, dan Rusliadi. 2009. Avertebrata Air. Pusat Pengembangan Pendidikan Universitas Riau. Pekanbaru.
Pulungan, C. dan R.M., Putra. 2014. Kumpulan Istilah Biologi Perikanan. Universitas Riau. Pekanbaru. (tidak diterbitkan).
Rusmiyati, S. 2010. Pintar Budidaya Udang Windu (Langkah Tepat, Prospek Cerah Meraih Rupiah). Pustaka Baru Press. Yogyakarta.
Sahidir, I. 2010. Tentang BBAP Ujung Batee. artaquaculture.blogspot.co.id. diakses pada 24 April 2016.
Sumeru, U dan S, Anna. 1992. Pakan Udang Windu. Kanisius. Yogyakarta.
Wardana, Y. 2011. Kajian Prospek Komoditas Induk Udang Windu Pada Kawasan Pesisir Perairan Pantai Di Daerah Kabupaten Aceh Besar. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrisep Universitas Padjajaran. Bandung.
Lampiran 2. Alat dan bahan yang digunakan untuk pengukuran kualitas air
Lampiran 3. Dokumentasi Praktek Magang
Persiapan tambak Pembuatan jembatan anco
Pengecoran Penebaran pestisida
Lampiran 4. Sarana dan Prasarana Tambak BPBAP Ujung Batee
Tambak Kincir
Bak Tandon Gudang
22 4.98 7.83 7.2 7.5 26.9 30.1 17
LAPORAN PRAKTEK MAGANG
TEKNIK PENGUKURAN KUALITAS AIR PADA KOLAM BUDIDAYA UDANG WINDU (Penaeus monodon) DI BALAI PERIKANAN BUDIDAYA
AIR PAYAU UJUNG BATEE PROVINSI ACEH
OLEH
MUHAMMAD ISNAN ZUHRI
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS RIAU
LAPORAN PRAKTEK MAGANG
TEKNIK PENGUKURAN KUALITAS AIR PADA KOLAM BUDIDAYA UDANG WINDU (Penaeus monodon) DI BALAI PERIKANAN BUDIDAYA
AIR PAYAU UJUNG BATEE PROVINSI ACEH
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Riau
OLEH
MUHAMMAD ISNAN ZUHRI NIM: 1304121789
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS RIAU
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS RIAU
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN Kampus Bina Widya Km. 12,5 Simpang Baru-Panam. Pekanbaru
Telp : (0761) 63274, Fax : (0761) 63275 Laman www.unri.ac.id, e-mail :Faperika.unri.ac.id
PENGESAHAN LAPORAN PRAKTEK MAGANG
Judul Praktek : Teknik Pengukuran Kualitas Air Pada Kolam Budidya Udang Windu (Penaeus monodon) Di Balai Perikanan Budidaya Air Payau Ujung Batee Provinsi Aceh
Nama Mahasiswa : Muhammad Isnan Zuhri
Nomor Mahasiswa : 1304121789
Jurusan : Manajemen Sumberdaya Perairan
Program Studi : Manajemen Sumberdaya Perairan
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hanya dengan pertolongan-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan praktek magang ini yang berjudul “Teknik Pengukuran Kualitas Air Kolam Budidaya Udang Windu (Penaeus monodon) Di Balai Perikanan Budidaya Air Payau Ujung Batee Provinsi Aceh” sesuai dengan rencana yang telah ditentukan.
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Ir. Adriman, M.Si yang telah memberikan petunjuk dan bimbingannya dalam menyusun laporan praktek magang ini, sehingga laporan praktek magang ini dapat disusun dengan baik.
Dalam penyusunan laporan praktek magang ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi kesempurnaan laporan praktek magang ini. Semoga laporan praktek magang ini dapat berguna bagi kita semua.