BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dielektrik
Dielektrik adalah suatu bahan yang memiliki daya hantar arus yang
sangat kecil atau bahkan hampir tidak ada.Bahan dielektrik dapat berwujud
padat, cair dan gas. Pada bahan dielektrik tidak terdapat elektron-elektron
konduksi yang bebas bergerak di seluruh bahan oleh pengaruh medan listrik.
Sifat inilah yang menyebabkan bahan dielektrik itu merupakan isolator yang
baik.Sifat utama suatu isolator adalah kekuatan dielektrik. Yaitu nilai
gradient potensial, V/mm, yang dapat digunakan oleh perancang untuk
menghindarkan terjadinya kegagalan listrik
Agar dielektrik mampu menjalankan tugasnya dengan baik maka
dielektrik harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:[1]
1. Mempunyai kekuatan dielektrik yang tinggi.
2. Rugi-rugi dielektrik yang rendah, agar suhu bahan isolasi tidak melebihi
batas yang ditentukan.
3. Memiliki kekuatan kerak tinggi, agar tidak erosi karena tekanan elektrik
permukaan.
4. Memiliki kostanta dielektrik yang tepat dan cocok.
5. Kemampuan menahan panas tinggi.
6. Kerentanan terhadap perubahan bentuk pada keadaan panas.
7. Konduktivitas panas yang tinggi.
8. Koefisien muai panas yang rendah.
9. Tidak mudah terbakar.
10. Tahan terhadap busur api.
11. Daya serap air yang rendah.
Udara memiliki sifat listrik yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar,
sehingga nilai tegangan tembus udara juga akan berubah sesuai kondisi
lingkungan sekitar udara. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
tegangan tembus udara antara lain:[2]
Peningkatan temperatur udara akan mempengaruhi pertambahan
energi yang dapat mempercepat pergerakan electron-elektron di udara,
selain itu temperature yang tinggi juga akan meningkatkan jumlah proses
ionisasi termis dan emisi termis yang akan berakibat pada penurunan
kekuatan dielektrik udara.
2. Tekanan Udara
Bila tekanan udara besar, jumlah molekul di dalam udara semakin
banyak yang berarti proses ionisasi dapat terjadi lebih banyak. Tetapi bila
tekanan terlalu tinggi, gerakan muatan dari proses ionisasi akan terhambat
sehingga proses ionisasi berikutnya akan berkurang. Bila tekanan udara
terlalu rendah, jumlah molekul yang sedikit akan menyebabkan proses
ionisasi sangat sedikit.
3. Kelembaban Udara
Kelembaban didefenisikan sebagai besarnya kandungan uap air
dalam udara. Bila kelembaban tinggi, kandungan air dalam udara
meningkat sehingga mudah terjadi ionisasi karena air memiliki energi ikat
yang lebih rendah dari kandungan udara lain dalam udara.
Hasil pengujian dielektrik udara tergantung pada kondisi udara.
Karena itu, hasil pengujian ketika udara dalam keadaan standar perlu
dinyatakan, yaitu pada suhu 200C, tekanan udara 760 mmHg dan kelembaban
udara 11 g/m3. Hasil pengujian pada keadaan standar adalah:
Vs = (kh/kd) Vb (2.1)
Dimana:
Vs = hasil pengujian pada keadaan standar
kh = faktor koreksi kelembaban udara
kd = faktor koreksi kerapatan udara
Vb = hasil pengujian pada sembarang keadaan udara
Faktor koreksi kerapatan udara dihitung dengan persamaan
Dimana:
kd = faktor koreksi kerapatan udara
p = tekanan udara (mmHg)
T = temperatur udara (0C)
m,n = 1,0 untuk pengujian dengan tegangan tinggi dc dan impuls petir
1,0 untuk semua objek uji yang ditempatkan pada sela elektroda
bola-bola
2..2 Teori Kegagalan Isolasi
Jika suatu peralatan listrik mengalami percikan (sparkover) atau lompatan listrik (flashover) menandakan bahwa peralatan tersebut mengalami kegagalan isolasi.Terjadinya percikan atau lompatan listrik
diakibatkan isolasi yang digunakan mengalami tembus listrik. Tembus listrik
berhubungan dengan peristiwa ionisasi, deionisasi dan emisi. Ketiga
peristiwa ini akan dijelaskan berikut ini.[2]
1. Ionisasi
Ionisasi adalah proses fisik mengubah atom atau molekul
menjadi ion dengan menambahkan atau mengurangi partikel bermuatan
seperti elektron atau lainnya. Kegagalan listrik yang terjadi pada
dielektrik udara tergantung dari jumlah electron bebas yang ada dalam
udara tersebut.Konsentrasi electron bebas ini dalam keadaan normal
sangat kecil dan ditentukan oleh pengaruh radioaktif dari luar.Pengaruh
ini dapat berupa radiasi ultraviolet dari sinar matahari, radiasi radioaktif
dari bumi, radiasi sinar kosmis dari luar angkasa dan sebagainya, yang
semua hal tersebut menyebabkan udara terionisasi.
Jika diantara elektroda diterapkan suatu tegangan V, maka akan
timbul suatu medan listrik E yang mempunyai besar dan arah tertentu.
Di dalam medan listrik, elektron-elektron bebas akan mendapat energi
yang cukup kuat, sehingga dapat merangsang timbulnya proses ionisasi.
Pada Gambar 2.1 (a) memperlihatkan suatu elektron bebas
elektron yang terikat tadi keluar dari lintasannya menjadi elektron bebas,
seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.1 (b).
(a)
(b)
Gambar 2.1 (a) Suatu Elektron Bebas Membentur Elektron Terikat
(b) Elektron Terikat Keluar dari Lintasannya Menjadi
Elektron Bebas
Kegagalan listrik yang terjadi di udara tergantung dari jumlah
elektron bebas yang ada di udara. Penyebab tembus antara lain tekanan,
temperatur, kelembaban, konfigurasi medan, tegangan yang diterapkan,
material elektroda, dan kondisi permukaan elektroda. Ada beberapa cara
pembangkitan ion antara lain:
a. Ionisasi benturan elektron
b. Ionisasi termal
d. Ionisasi radiasi sinar kosmis.
2. Deionisasi
Deionisasi adalah preoses bergabungnya suatu elektron dengan
suatu ion positif menghasilkan suatu molekul netral. Proses deionisasi
merupakan kebalikan dari proses ionisasi. Deionisasi akan mengurangi
partikel bermuatan dalam suatu gas. Jika pada suatu gas terjadi aktivitas
deionisasi yang lebih besar dari pada aktivitas ionisasi, maka
muatan-muatan bebas didalam gas itu akan berkurang.
3. Emisi
Emisi adalah peristiwa pelepasan elektron dari permukaan suatu
logam menjadi elektron bebas di dalam gas.Gambar 2.2 menunjukkan
beberapa elektron yang terlepas dari permukaan suatu logam.
Dalam keadaan normal, elektron tidak dapat terlepas dari
permukaan logam karena gaya elektrostatik antara elektron dengan ion
dalam kisi logam. Supaya elektron ini dapat keluar dari permukaan
logam, diperlukan sejumlah energi luar.Besarnya energi ini
didefenisikan sebagai fungsi kerja dengan satuan elektron Volt (eV)
yang besarnya berbeda untuk setiap jenis logam.
Gambar 2.2 Emisi yang Terjadi pada Logam
Ada empat proses yang menyebabkan terjadinya emisi, yaitu:
a. Emisi fotoelektrik
b. Emisi benturan ion positif
d. Emisi termis
a. Emisi Fotoelektrik
Emisi fotoelektrik terjadi ketika permukaan logam terkena
cahaya. Cahaya menghasilkan energi foton akan membentur
permukaan logam yang memiliki banyak elektron bebas. Ketika
energi foton lebih besar dari energi ikat elektron maka elektron
akan terlepas dari permukaan logam seperti ditunjukkan pada
Gambar 2.3 berikut.
Gambar 2.3 Emisi Fotoelektrik
b. Emisi Benturan Ion Positif
Massa ion positif (proton) lebih besar daripada
massaelektron bebas. Ketika ion positif membentur elektron,
elektron akan terlepas dari permukaan logam. Hal ini dikarenakan
energy kinetik ion positif lebih besar dari energi ikat elektron
logam tersebut.Gambar 2.4 memperlihatkan electron yang terlepas
Gambar 2.4 Emisi Benturan Ion Positif
c. Emisi Medan Tinggi
Permukaan suatu logam tidak semuanya mulus, tetapi
selalu ada titik-titik yang runcing. Gambar 2.5 menunjukkan suatu
permukaan elektroda yang memiliki bagian yang runcing dikenai
medan elektrik. Maka elektron yang terdapat permukaan logam
katoda (K) akan mengalami gaya yang arahnya menuju anoda (A).
Gambar 2.5 Emisi Medan Tinggi
Elektron pada ujung runcing akan mengalami gaya yang
lebih besar karena intensitas medan elektrik di titik tersebut relatif
lebih besar dibandingkan dengan intensitas medan elektrik
dibagian yang datar. Jika intensitas medan elektrik cukup besar,
maka dari titik runcing tersebut akan dilepaskan elektron bebas.
Pelepasan elektron ini yang disebut emisi bintik katoda.
d. Emisi Termis
Emisi termis terjadi karena suatu logam dipanaskan.Energi
panas yang diterima oleh logam menyebabkan elektron bebas di
kinetic elektron lebih besar dari gaya elektrostatik logam, maka
elektron tersebut keluar dari permukaannya dan menjadi elektron
bebas pada udara disekitar permukaan logam tersebut, seperti yang
diperlihatkan pada Gambar 2.6 berikut.
Gambar 2.6 Emisi Termis
2.3 Mekanisme Tembus Listrik pada Udara
Ada 2 teori meklanisme tembus listrik pada udara, yaitu mekanisme
Townsend dan mekanisme Streamer. Mekanisme towsend hanya berlaku
pada medan listrik seragam, sedangkan mekanisme Streamer berlaku pada
medan listrik seragam maupun tidak seragam.
2.3.1 Mekanisme Townsend
Mekanisme ini ditemui ketika dua plat sejajar mempunyai
jarak yang sempit dihubungkan dengan sumber tegangan. Dari
Gambar 2.7 dapat dijelaskan bahwa didalam udara terdapat electron
bebas yang disebabkan karena peristiwa ionisasi foton dan radiasi
sinar ultraviolet dan juga terdapat molekul-molekul netral. Apabila
kedua elektroda dihubungkan dengan sumber tegangan maka timbul
medan listrik (E) yang arahnya dari anoda ke katoda. Akibat adanya
medan listrik, maka ea (elektron bebas) akan mengalami gaya (F)
yang arahnya berlawanan dengan arah medan listrik (E).Karena
adanya gaya (F) maka ea bergerak dari dari katoda ke anoda. Dalam
perjalanan menuju anoda, elektron bebas membentur molekul netral.
Jika energi kinetik elektron bebas yang membentur molekul netral
ionisasi benturan. Ionisasi benturan menghasilkan satu elektron bebas
baru (eb) dan satu ion positif.Jadi ea dan eb terus bergerak menuju
anoda.Dalam perjalannya menuju anoda ea dan eb membentur lagi
molekul netral sehingga terjadi lagi ionisasi sehingga jumlah elektron
bebas dan ion positif semakin banyak.Ion positif bergerak menuju
katoda dan terjadilah benturan antara ion positif dengan permukaan
katoda yang disebut dengan emisi benturan ion positif.Dari
permukaan katoda muncul elektron-elektron baru hasil emisi ion
positif membentur lagi molekul netral sehingga terjadi lagi ionisasi
sehingga jumlah elektron dan ion positif semakin banyak. Selama
medan listrik masih ada maka proses ionisasi benturan dan emisi ion
positif akan terus berlangsung sehingga terjadilah banjiran elektron
dan ion positif. Ion positif yang membentur katoda semakin banyak
sehingga elektron hasil emisi ion positif semakin banyak yang
menyebabkan banjiran muatan seperti yang diperlihatkan pada
Gambar 2.8. Muatan yang berpindah dari katoda ke anoda semakin
besar yang dimana perpindahan muatan sebanding dengan arus dan
dalam selang waktu tertentu perpindahan muatan akan terus
bertambah yang menyebabkan banjir muatan dan arus pun semakin
besar yang kemudian terjadilah tembus listrik.
Gambar 2.8 Banjiran Elektron Penyebab Tembus Listrik
2.3.2 Mekanisme Streamer
Mekanisme Streamer berlaku pada medan listrik seragam
maupun tidak seragam. Udara yang berada di antara dua plat sejajar
yang diberi tegangan, akan mengalami terpaan medan listrik sebesar
E0 yang seragam. Elektron bebas di udara yang dihasilkan dari proses
ionisasi radiasi sinar kosmis atau fotoionisasi akan mengalami gaya
yang arahnya menuju anoda.Dalam perjalanannya, elektron ini akan
menyebabkan proses ionisasi benturan sehingga terbentuk suatu
muatan. Karena adanya muatan ruang pada celah, maka medan listrik
pada celah kedua plat berbeda pada setiap bagian pada celah, seperti
yang dapat dilihat pada Gambar 2.9 berikut.
Gambar 2.9 Medan pada Celah karena Adanya Muatan Ruang
a. Positif, atau streamer yang mengarah ke katoda
b. Negatif, atau streamer yang menuju ke anoda
a. Streamer Positif
Karena massa elektron yang lebih ringan dari pada ion
positif, maka pergerakan elektron lebih cepat daripada ion positif.
Saat elektron bebas sudah mencapai anoda dan masuk ke dalam
anoda, ion positif dapat dianggap masih dalam posisi semulanya.
Ion positif yang tertinggal ini membentuk muatan ruang seperti
kerucut dengan muatan yang terkonsentrasi pada bagian depan
kerucut (kawasan P dan Q) dekat anoda sehingga medan listrik di
sekitarnya lebih besar dibandingkan dengan bagian runcing
kerucut, seperti yang dapat dilihat pada gambar 2.10.
Gambar 2.10 Ion Positif Masih Berada pada Posisinya Saat
Elektron Telah Masuk ke dalam Anoda
Kemudian elektron bebas baru terbentuk dari proses
fotoionisasi dan bergerak ke daerah P dan Q. Selama perjalanan,
elektron ini akan membentur molekul netral dan membentuksuatu
banjiran muatan sekunder, seperti yang dapat dilihat pada Gambar
Gambar 2.11 Terbentuknya Banjiran Muatan Sekunder dari
Elektron Bebas Baru
Banjiran elektron pada banjiran muatan ini akan bergerak
menuju bagian depan kerucut dan membentuk plasma. Plasma adalah
gas terionisasi, yaitu gas yang memiliki banyak elektron bebas dan ion
positif. Karena plasma memiliki elektron bebas dan ion positif,
medanlistrik pada plasma lebih rendah daripada medan listrik E0.
Bagian depan kerucut memendek karena terbentuknya plasma tersebut,
tetapi medan listrik di sekitarnya masih tinggi. Proses pembentukan
banjiran muatan sekunder terjadi lagi di sekitar bagian depan kerucut
lagi dan membentuk plasma sehingga plasma memanjang, seperti yang
dapat dilihat pada Gambar 2.12.
Gambar 2.12 Ion Positif dan Elektron Membentuk Plasma dan
Proses ini akan terus berlangsung sampai plasma mencapai
katoda. Saat plasma ini menghubungkan anoda dan katoda,
peristiwa lewat denyar terjadi.Mekanisme ini disebut mekanisme
Streamer positif karena plasma memanjang dari anoda ke katoda.
b.Streamer Negatif
Pada mekanisme Streamer negatif ini, plasma berawal dari
katoda dan memanjang sampai anoda.Saat electron bebas awal
berada dekat dengan katoda dan banjiran muatan terjadi dekat
dengan katoda. Banjiran electron ini menyebabkan medan listrik E1
di daerah R menjadi lebih besar daripada medan listrik E0
ditunjukkan pada Gambar 2.13.
Gambar 2.13 Medan Listrik pada Daerah R Berubah karena
Muatan pada Celah
Kemudian elektron bebas dari proses fotoionisasi yang
berada pada daerah tersebut akan bergerak lebih cepat dan
membentuk suatu banjiran muatan sekunder, ditunjukkan dalam
Gambar 2.14 Terbentuknya Banjiran Muatan Sekunder pada
Daerah R
Banjiran ion positif sekunder akan bergerak menuju
banjiran elektron awal dan membentuk plasma ditunjukkan dalam
Gambar 2.15. Proses ini akan berlangsung terus sampai plasma
mencapai anoda.
Gambar 2.15 Terbentuknya Plasma dan Proses Plasma
Memanjang
2.4 Elektroda Bola
Salah satu alat yang digunakan dalam pengukuran tegangan tinggi
adalah elektroda bola.Elektroda bola standar terdiri dari dua elektroda bola
mengisolasi kedua elektroda disebut sela bola. Udara yang terdapat di antara
sela bola dikatakan dalam keadaan standar jika termperaturnya 20oC,
tekanannya 760 mmHg, dan kelembaban mutlaknya 11 g/m3. Pada kondisi
udara standar ini, sela bola akan mangalami tembus listrik pada suatu nilai
tegangan yang tetap dan sudah diketahui dengan catatan medan elektrik
pada sela bola uniform. Misalnya, udara standar pada sela bola 1 cm akan
mengalami tembus listrik pada tegangan 31,7 kV. Nilai tegangan tembus ini
tetap, baik untuk tegangan ac, tegangan dc, maupun tegangan impuls
sepanjang kondisi udara tidak berubah.Sifat elektrik inilah yang menjadi
dasar pengukuran tegangan tinggi dengan elektroda bola standar.
Elektroda bola umumnya terbuat dari bahan tembaga, kuningan, atau
aluminium.Permukaannya halus dan kelengkungannya uniform. Ukuran
standar elektroda bola antara lain 2, 5, 6, 6,25, 10, 12,5, 15, 20, 50, 50, 75,
150, dan 200 cm. Permukaan elektroda dijaga bersih dan kering, tidak boleh
digosok dan berdebu, tidak boleh terkena cat dan minyak, dan lapisan
lainnya.
Saat pengujian menggunakan elektroda bola standar diusahakan agar
medan elektrik pada sela bola uniform. Syarat-syarat medan elektrik di sela
bola dikatakan standar adalah sebagai berikut:[3]
1. Diameter bola sama;
2. Letak kedua elektroda bola harus satu sumbu;
3. Panjang sela tidak lebih dari setengah diameter elektroda bola, dan
4. Titik percikan elektroda bola bertegangan tinggi harus memiliki
jarak bebas (clearance).
Pada saat pengujian adakalanya dijumpai keadaan udara yang tidak
standar. Oleh karena itu, hasil pengujian dalam kondisi udara sembarang
adalah sebagai berikut:
̂= δ ̂s (2.3)
S
D
̂= Tegangan sela bola pada saat pengujian (keadaan udara sembarang) ̂s = Tegangan tembus sela bola standar
δ = faktor koreksi udara
Faktor koreksi udara tergantung pada suhu dan tekanan udara.
Besarnya faktor koreksi tersebut adalah sebagai berikut :
δ
=
(2.4)
Dimana :
P = Tekanan (mmHg)
θ = Suhu (°C)
Dalam pengujian menggunakan elektroda bola, elektroda bola
dapat diposisikan horizontal dan vertikal.Gambar 2.2 menunjukkan
elektroda bola yang diposisikan secara vertical dan Gambar 2.3
menunjukkan elektroda bola yang diposisikan elektroda bola secara
horizontal.
Gambar 2.2Posisi Elektroda Bola Vertikal
Distribusi medan elektrik pada permukaan elektroda bola dapat
terjadi pada permukaan rata dan permukaan kasar.
2.4.1 Distribusi Medan Elektrikpada Permukaan Elektroda Bola yang
Rata
Distribusi medan elektrik pada permukaan elektroda yang rata
dan halus tersebar secara rata di setiap permukaan. Dengan meratanya
medan elektrik di setiap titik pada permukaan elektroda
mengakibatkan tidak ditimbulkannya gaya yang menyebabkan
elektron terlepas dari molekulnya. Gambar 2.4 menunjukkan medan
elektrik yang merata pada dua elektroda bola yang permukaannya
rata.
A
B
Gambar 2.4 Distribusi Medan Elektrik diantara Dua Elektroda
Bola dengan Permukaan Merata.
2.4.2 Distribusi Medan Elektrik pada Permukaan Elektroda Bola yang
tidak Rata
Permukaan elektroda bola yang kasar dan tidak merata
menyebabkan distribusi medan listrik di setiap titik pada permukaan
elektroda bola tidak uniform seperti yang ditunjukkan oleh Gambar
2.5.
Gambar 2.5 Distribusi Medan Elektrik diantara Dua Elektroda Bola
Pada Gambar 2.5 diatas terlihat bahwa distribusi
medanelektrik tidak merata di setiap permukaan elektroda bola. Ini
disebabkan karena sebagian permukaan elektroda memiliki bagian
yang runcing. Pada bagian runcing, rapat medan elektrik lebih besar
dari bagian yang rata, yaitu EA ≥ EB.[4]
Perbedaan rapat medanelektrik ini menyebakan gaya lebih
besar pada bagian runcing daripada gaya pada bagian yang rata.
Kelembaban adalah jumlah uap air di udara.Kelembaban dapat
dinyatakan berupa kelembaban absolut, kelembaban relatif, dan kelembaban
spesifik.
Dalam pengujian ini hanya kelembaban relatif yang diperhitungkan.
Rasio kelembaban (ω) adalah berat atau massa air yang terkandung
dalam setiap kilogram udara kering.[2]
(2.8)
dimana:
ω = rasio kelembaban (kg uap air/kg udara kering)
Ps = tekanan parsial uap air dalam keadaan jenuh (kPa)
Bila kelembaban tinggi, kandungan air dalam udara meningkat
sehingga mudah terjadi ionisasi karena air memiliki energy ikat yang lebih
rendah dari kandungan lain dalam udara. Energy ikat air sekitar 13,6 eV,
nitrogen (N2) sekitar 17,1 eV, karbon dioksida (CO2) sekitar 14,6 eV, dan
oksigen (O2) sekitar 12,08 eV. Dimana eV adalah satuan dari energy suatu
partikel yang besarnya 1,6 x 10-19 Joule. Bila kandungan air yang terdapat di
udara semakin banyak maka udara akan lebih mudah terionisasi dan
menyebabkan kekuatan dielektrik udara turun. Hal ini menyebabkan
tegangan maksimum yang dapat ditahan udara sebelum terjadi tembus listrik
akan semakin kecil.
2.6 Korosi
Korosi didefenisikan sebagai degradasi dari material yang
diakibatkan oleh reaksi kimia dengan material lainnya dan lingkungan.
Akibat dari adanya korosi, suatu material akan mengalami perubahan sifat
kearah yang lebih rendah atau dapat dikatakan kemampuan dari material
tersebut akan berkurang.Gambar 2.6 memperlihatkan perubahan materi dari
elektroda bola sebelum mengalami korosi (a) dan sesudah mengalami korosi
(b).
(b)
Gambar 2.6 (a) Elektroda Bola Sebelum Terkena Korosi
(b) Elektroda Bola Setelah Terkena Korosi
Peristiwa korosi terjadi akibat adanya reaksi kimia dan
elektrokimia.Namun untuk terjadinya peristiwa korosi terdapat beberapa
elemen utama yang harus dipenuhi agar reaksi tersebut dapat berlangsung.
Elemen-elemen utama tersebut adalah sebagai berikut:[5]
a. Material
Dalam suatu peristiwa korosi, suatu material akan bersifat sebagai
anoda. Anoda adalah suatu bagian dari reaksi yang akan mengalami
oksidasi. Akibat reaksi oksidasi, suatu logam akan akan kehilangan
elektron.
b. Lingkungan
Dalam suatu peristiwa korosi, suatu lingkungan akan bersifat
sebagai katoda. Katoda adalah suatu bagian dari reaksi yang akan
mengalami reduksi. Akibat reaksi reduksi, lingkungan yang bersifat
katoda akan membutuhkan electron yang akan diambil dari anoda.
Beberapa lingkungan yang bersifat katoda adalah lingkungan air,
atmosfer, gas, mineral acid, tanah, dan minyak.
Peristiwa korosi hanya akan terjadi jika terdapat hubungan atau
kontak langsung antara material dan lingkungan. Akibat adanya
hubungan tersebut, akan terjadi reaksi reduksi dan oksidasiyang
berlangsung secara spontan.
Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi korosi adalah:[4]
1. Kontak langsung dengan H2O dan O2
2. Kontak dengan elektrolit
3. Keberadaan zat pengotor
4. Temperatur
5. Tingkat keasaman lingkunga sekitar (pH)
6. Mikroba.
Beberapa cara yang dilakukan dalam pengendalian korosi adalah:[6]
1. Mengadakan lapisan pelindung
2. Menghindari terjadinya pasangan galvanic