• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Corporate Governance Terhadap Intellectual Capital Bank Umum Swasta Nasional yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Corporate Governance Terhadap Intellectual Capital Bank Umum Swasta Nasional yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Agency Theory

Teori keagenan mengemukakan hubungan kontrak kerja antara pemegang

saham (principal) dengan pengelola perusahaan yang diwakili oleh direksi (agent)

(Sutedi, 2012:13). Agent sendiri ditunjuk oleh pemegang saham untuk mengelola

perusahaan demi kepentingan para pemegang saham.

Agency problem muncul akibat adanya asimetri informasi dan konflik

kepentingan antara pemegang saham dengan manajemen sebagai pengelola

perusahaan (Sutedi, 2012: 14). Pemegang saham menginginkan pengelolaan yang

menghasilkan pendapatan maksimal atas dana yang telah diinvestasikan, namun

tidak memiliki informasi dan kekuasaan yang luas untuk memonitor dan

mengontrol kegiatan manajemen. Di pihak lain, manajemen berkepentingan

terhadap insentif atas pengelolaan dana pemegang saham dan harus bertanggung

jawab atas keputusan bisnis yang dilaksanakan yang disebabkan oleh

wewenangnya atas pengelolaan perusahaan.

Konflik kepentingan tersebut secara alamiah akan terjadi dalam struktur

kepemilikan perusahaan yang tersebar (dispersed ownership) dan struktur

kepemilikan dengan pengendalian pada beberapa pemegang saham saja

(concentrated ownership). Untuk menekan potensi konflik kepentingan,

perusahaan perlu menerapkan praktik corporate governance (Surya, 2008:28).

Perusahaan dengan struktur kepemilikan yang tersebar kepada pemegang

(2)

kewenangan yang dimiliki para pemegang saham publik sebagai penyeimbang

pihak manajemen. Sedangkan perusahaan yang memiliki beberapa pemegang

saham pengendali, struktur kepemilikannya terkonsentrasi, perlu menerapkan

corporate governance untuk meminimalkan potensi konflik kepentingan yang

timbul antara pengendali perusahaan dan pemegang saham publik (Surya,

2008:6).

2.2 Intellectual Capital

Dalam kajian tentang intellectual capital, banyak definisi yang diajukan

oleh para peneliti. Stewart (dalam Ulum, 2009: 19) dalam artikelnya (“Brain

Power – How Intellectual Capital Is Becoming America’s Most Valuable Asset”)

yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1980-an mendefinisikan intellectual

capital sebagai “The sum of everything everybody in your company knows that

gives you a competitive edge in the market place. It is intellectual material –

knowledge, information, intellectual property, experience – that can be put to use

to create wealth”.

Dalam kutipan tersebut Stewart menyatakan bahwa intellectual capital

merupakan gabungan dari semua (barang dan orang) yang diketahui dapat

memberikan nilai pasar yang kompetitif. Intellectual capital juga mencakup

pengetahuan, informasi, kekayaan intelektual, dan pengalaman yang dapat

digunakan untuk menciptakan kekayaan.

Sementara itu International Federation of Accountant (IFAC)

(3)

knowledge asset yang dapat diartikan sebagai saham atau modal yang berbasis

pada pengetahuan yang dimiliki perusahaan (dalam Widiyaningrum, 2004).

Intellectual capital juga sering didefinisikan sebagai sumber daya pengetahuan

dalam bentuk karyawan, pelanggan, proses atau teknologi yang dapat digunakan

oleh perusahaan dalam proses penciptaan nilai (Bukh, et al., 2005: 715).

Dari berbagai definisi yang ada, dapat disimpulkan secara umum bahwa

intellectual capital merupakan jumlah tiga elemen utama organisasi yaitu human

capital, structural capital, dan customer capital. Ketiga elemen utama tersebut

berkaitan dengan pengetahuan dan teknologi yang dapat memberikan nilai tambah

berupa keunggulan bersaing bagi perusahaan (Sawarjuwono, 2003: 38). Berikut

ini disajikan tabel yang menunjukkan perbandingan konsep intellectual capital

oleh beberapa peneliti:

Tabel 2.1

Perbandingan Konsep Intellectual Capital Menurut Beberapa Peneliti

Brooking (UK) Roos (UK) Stewart (USA) Bontis (Canada)

Human-centered asset Skills, abilities and expertise, problem solving abilities and leadership styles. Human capital Competence, attitude and intellectual agility. Human capital Employees are organization’s most important asset. Human capital The individual level knowledge that each employee possess. Infrastructure assets All the technologies, process and methodologies that enable company to function. Organizational capital All organizational, innovation, processes, intellectual property and cultural assets. Structural capital Knowledge embedded in information technology. All patents, plans and trademarks.

Structural capital

(4)

Brooking (UK) Roos (UK) Stewart (USA) Bontis (Canada) Intellectual property Know-how, trademarks and patent. Renewal and development capital

New patents and training efforts.

Customer capital Market

information used to capture and retain customer.

Intellectual property

Unlike, IC, IP is a protected asset and has a legal definition. Market asset Brands, customers, customer’s loyalty and distribution channels. Relational capital Relationship which include internal and external

stakeholders.

Relational capital

Customer capital is only one feature of the knowledge embedded in organizational

relationships. Sumber: Bontis, et al., (2000)

2.2.1 Komponen Intellectual Capital

Bontis et al., (2000: 4) mengemukakan bahwa secara umum, para peneliti

mengidentifikasi tiga konstruk utama dari intellectual capital, yaitu: human

capital (HC), structural capital (SC) dan customer capital (CC). Human capital

diartikan sebagai kepemilikan terhadap kemampuan individu yang

direpresentasikan oleh karyawan yang dimiliki perusahaan. Structural capital

meliputi seluruh sumber pengetahuan non-human dalam organisasi yang membuat

nilai perusahaan lebih besar daripada nilai materialnya. Sedangkan customer

capital adalah pengetahuan yang melekat dalam jalur pemasaran dan hubungan

dengan pelanggan.

Komponen-komponen yang terdapat dalam intellectual capital adalah

sebagai berikut:

1. Human Capital (HC)

Human capital mencerminkan kemampuan kolektif perusahaan untuk

(5)

orang-orang yang ada di dalam perusahaan tersebut. Melalui daya pikir serta kontribusi

sumber daya manusia yang intelektual inilah tercipta sumber inovasi dan

kemajuan suatu perusahaan. Akan tetapi, human capital merupakan komponen

modal intelektual yang sulit diukur. Human capital meliputi karyawan,

pendidikan, pelatihan, kompetensi, keterampilan, pengalaman, dan sebagainya.

Human capital merupakan sumber utama dari inovasi dan pembaruan dalam

perusahaan (Stewart, 2002: 79)

2. Structural Capital (SC)

Structural capital merupakan kemampuan suatu perusahaan dalam

menjalankan rutinitas kinerja yang didukung dengan operasi dan struktur yang

berkaitan juga dengan usaha karyawan untuk menciptakan kinerja intelektual

perusahaan yang optimal serta kinerja bisnis secara keseluruhan. Structural

capital mengacu pada kekayaan intelektual dan infrastruktur perusahaan.

Kekayaan intelektual meliputi hak cipta, hak paten, merek dagang, dan

sebagainya. Sedangkan infrastruktur perusahaan mencakup nilai, sistem, proses,

filosofi manajemen, corporate culture dan sebagainya (Sawarjuwono, et al.,

2003: 38). Kinerja perusahaan yang optimal tidak akan tercipta apabila sumber

daya manusia intelektualnya tidak didukung oleh structural capital yang baik,

(6)

3. Relational Capital atau Customer Capital (CC)

Elemen ini merupakan komponen intellectual capital yang memberikan

nilai secara nyata. Relational capital merupakan hubungan yang harmonis yang

dimiliki perusahaan dengan para mitranya baik itu berasal dari pemasok,

pelanggan, pemerintah maupun masyarakat. Relational capital dapat muncul dari

berbagai bagian di luar perusahaan yang dapat menambah nilai bagi perusahaan

(Sawarjuwono, et al., 2003: 39).

2.2.2 Pengukuran Intellectual Capital

Penelitian tentang intellectual capital telah mengarah pada sejumlah

kerangka untuk mengklasifikasikan dan mengukur konsep intellectual capital.

Tahun 1996, Petrash mengembangkan model klasifikasi yang dikenal dengan

value platform model. Model ini mengklasifikasikan intellectual capital sebagai

akumulasi dari human capital, organizational capital dan customer capital.

Edvinsson dan Malone (1997) mengembangkan The Skandia Value Scheme, yang

mengklasifikasikan intellectual capital ke dalam structural capital dan human

capital. Haanes dan Lowendahl (1997) mengelompokkan intellectual capital ke

dalam competence dan relational resources. Model yang dikembangkan

Lowendahl (1997) memperbaiki model di atas dan membagi kategori kompetensi

dan rasional menjadi dua sub-grup (dalam Tan, et al., 2007):

1. individual; dan

(7)

Stewart (2002) mengklasifikasikan intellectual capital ke dalam tiga

format dasar, yaitu:

1. human capital;

2. structural capital;

3. customer capital

The Danish Confederation of Trade Unions (1999) mengelompokkan

intellectual capital sebagai manusia, sistem dan pasar. Leilaert et al. (2003)

mengembangkan the 4-leaf model, yang mengelompokkan intellectual capital ke

dalam human capital, customer, structural capital dan strategic alliance capital

(dalam Tan, et al., 2007).

Metode pengukuran intellectual capital dapat dikelompokkan ke dalam

dua kategori (Tan, et al., 2007), yaitu:

1. kategori yang tidak menggunakan pengukuran moneter; dan

2. kategori yang menggunakan ukuran moneter.

Berikut adalah daftar ukuran intellectual capital yang berbasis moneter

(Tan, et al., 2007):

a. The Balance Scorecard, dikembangkan oleh Kaplan dan Norton (1992);

b. Brooking’s Technology Broker method (1996);

c. The Skandia IC Report method oleh Edvinssion dan Malone (1997);

d. The IC-Index dikembangkan oleh Roos et al. (1997);

e. Intangible Asset Monitor approach oleh Sveiby (1997);

f. The Heuristic Frame dikembangkan oleh Joia (2000);

(8)

h. The Ernst & Young Model (Barsky dan Marchant, 2000).

Sedangkan model penilaian intellectual capital yang berbasis moneter

adalah (Tan, et al., 2007):

a. The EVA and MVA model (Bontis et al., 1999);

b. The Market-to-Book Value model (beberapa penulis);

c. Tobin’s q method (Luthy, 1998);

d. Pulic’s VAIC Model (1998, 2000);

e. Calculated intangible value (Dzinkowski, 2000); dan

f. The Knowledge Capital Earning model (Lev dan Feng, 2001).

2.2.3 Value Added Intellectual Coefficient (VAIC)

Metode value added intellectual capital coefficient (VAIC) dikembangkan

oleh Pulic pada tahun 1997. VAIC merupakan instrumen untuk mengukur kinerja

intellectual capital perusahaan. Model ini dimulai dengan mengukur kemampuan

perusahaan untuk menciptakan value added (VA). Value added adalah indikator

paling objektif untuk menilai keberhasilan bisnis dan menunjukkan kemampuan

perusahaan dalam penciptaan nilai. VA dihitung sebagai selisih antara output dan

input (Ulum, 2009: 86).

Tan, et al., (2007: 79) menyatakan bahwa outputs (OUT)

merepresentasikan revenue dan mencakup seluruh produk dan jasa yang dijual di

pasar. Inputs (IN) mencakup seluruh beban yang digunakan dalam memperoleh

revenue. Hal penting dalam model ini adalah bahwa beban karyawan (labor

(9)

penciptaan nilai, intellectual potential (yang direpresentasikan dengan labor

expenses) tidak dihitung sebagai biaya. Karena itu, aspek kunci dalam model Pulic

adalah memperlakukan tenaga kerja sebagai entitas penciptaan nilai (value

creating entity). Hasilnya adalah bahwa VA mengekspresikan the new wealth of a

period.

VA dipengaruhi oleh efisiensi dari human capital dan structural capital.

Hubungan lainnya dari VA adalah capital employed (CE), yang dalam hal ini

dilabeli dengan VACA. VACA adalah indikator untuk nilai tambah yang

diciptakan oleh satu unit dari physical capital.

Pulic mengasumsikan bahwa jika satu unit dari capital employed

menghasilkan return yang lebih besar daripada perusahaan yang lain, maka berarti

perusahaan tersebut lebih baik dalam memanfaatkan capital employed-nya.

Dengan demikian, pemanfaatan capital employee yang lebih baik merupakan

bagian dari intellectual capital perusahaan (Ulum, 2009: 87).

Hubungan selanjutnya adalah value added (VA) dengan human capital

(HC). Value Added Human Capital (VAHU) menunjukkan berapa banyak nilai

tambah dapat dihasilkan dengan dana yang dikeluarkan untuk tenaga kerja.

Hubungan antara value added dan human capital mengindikasikan kemampuan

dari human capital untuk menciptakan nilai di dalam perusahaan (Tan, et al.,

2007: 80).

Hubungan ketiga adalah structural capital value added (STVA) yang

menunjukkan kontribusi structural capital (SC) dalam penciptaan nilai. Structural

(10)

untuk menghasilkan satu rupiah dari value added dan merupakan indikasi

bagaimana keberhasilan structural capital dalam penciptaan nilai. Structural

capital bukan ukuran yang independen sebagaimana human capital, melainkan

dependen terhadap value creation (Pulic, 1999). Artinya, semakin besar kontribusi

human capital dalam value creation, maka akan semakin kecil kontribusi

structural capital dalam hal tersebut. Lebih lanjut Pulic menyatakan bahwa

structural capital adalah value added dikurangi human capital, yang hal ini telah

diverifikasi melalui penelitian empiris pada sektor industri tradisional (Pulic, 2000

dalam Ulum, 2009: 88).

Rasio terakhir adalah menghitung kemampuan intelektual perusahaan

dengan menjumlahkan koefisien-koefisien yang telah dihitung sebelumnya. Hasil

penjumlahan tersebut diformulasikan dalam indikator baru yang unik, yaitu VAIC

(Tan, et al., 2007: 80).

Keunggulan metode Pulic adalah karena data yang dibutuhkan relatif

mudah diperoleh dari berbagai sumber dan jenis perusahaan. Data yang

dibutuhkan untuk menghitung berbagai rasio tersebut adalah angka-angka

keuangan yang standar yang umumnya tersedia dari laporan keuangan

perusahaan. Alternatif pengukuran intellectual capital lainnya terbatas hanya

menghasilkan indikator keuangan dan non-keuangan yang unik yang hanya untuk

melengkapi profil suatu perusahaan yang lain. Konsekuensinya, kemampuan

untuk menerapkan pengukuran intellectual capital alternatif tersebut secara

konsisten terhadap sampel yang besar dan terdiversifikasi menjadi terbatas (Firer

(11)

2.3 Corporate Governance

Dalam rangka pemulihan ekonomi pasca krisis finansial yang melanda

Indonesia, pemerintah Indonesia dan International Monetary Fund (IMF)

memperkenalkan konsep corporate governance yang baik sebagai tata cara kelola

perusahaan yang sehat (Sutedi, 2012: 2). Price Waterhouse Coopers (dalam Surya,

2008: 26) mengemukakan bahwa

Corporate governance terkait dengan pengambilan keputusan yang efektif. Dibangun melalui kultur organisasi, nilai-nilai, sistem, berbagai proses, kebijakan-kebijakan dan struktur organisasi, yang bertujuan untuk mencapai bisnis yang menguntungkan, efisien, dan efektif dalam mengelola risiko dan bertanggung jawab dengan memerhatikan kepentingan stakeholders.

Secara teoritis, praktik corporate governance dapat meningkatkan nilai

perusahaan dengan mengurangi risiko yang mungkin dilakukan oleh dewan

direksi dengan keputusan-keputusan yang menguntungkan diri sendiri, dan

umumnya corporate governance dapat meningkatkan kepercayaan investor.

Sebaliknya corporate governance yang buruk menurunkan tingkat kepercayaan

para investor (Tjager, 2003: 4).

Organization for Economic Cooperation and Development (OECD)

mendefinisikan corporate governance sebagai: “The structure through which

shareholders, directors, managers set of the board objective of the company, the

means of attaining those objectives and monitoring performance.” Dari definisi

OECD di atas, dapat disimpulkan bahwa corporate governance merupakan

struktur yang olehnya para pemegang saham, komisaris dan manajer menyusun

tujuan-tujuan perusahaan dan sarana untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut dan

(12)

Untuk mewujudkan terciptanya corporate governance yang baik,

prinsip-prinsip tersebut dapat dicapai dengan pihak di dalam maupun di luar perusahaan.

Rapat Umum Pemegang Saham (yang mewakili pemegang saham), dewan direksi,

dewan komisaris, para karyawan dan struktur kepemilikan perusahaan merupakan

organ kunci dalam mewujudkan pelaksanaan corporate governance yang baik

(Waryanto, 2010).

2.3.1 Kode Corporate Governance Indonesia

Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa tujuan dari keseluruhan

mekanisme corporate governance adalah untuk mengurangi agency cost yang

muncul akibat pemisahan kepemilikan dan kontrol pada perusahaan publik yang

besar. Untuk itu pemerintah Indonesia melalui Komite Nasional Corporate

Governance telah mendesain sebuah instrumen yang disebut Kode Corporate

Governance.

Kode corporate governance versi terakhir yang dipublikasikan oleh

Komite Nasional Corporate Governance, terdiri atas (dalam Kamal, 2011):

1. Penciptaan Situasi Kondusif untuk Melaksanakan Good Corporate Governance

Kode ini mewajibkan pemerintah, komunitas bisnis, dan masyarakat bekerja

secara simultan sebagai governance tripod. Pemerintah sebagai regulator memiliki

tanggung jawab melahirkan hukum dan aturan-aturan yang relevan yang

mendorong terciptanya iklim usaha yang sehat, efisien dan transparan, di samping

(13)

mengimplementasikan prinsip-prinsip corporate governance sebagai dasar dalam

aktivitas bisnisnya. Kode juga menyatakan bahwa masyarakat diminta

menjalankan kontrol secara objektif dan bertanggung jawab dengan cara

mengkomunikasikan pendapat atau keberatannya kepada komunitas bisnis dan

pemerintah.

2. Asas Good Corporate Governance

Prinsip-prinsip umum Kode Corporate Governance Indonesia tidak berbeda

dengan prinsip umum corporate governance OECD, kecuali prinsip kewajaran

(Tjager, 2003: 52-53). Prinsip-prinsip tersebut antara lain:

a. Transparansi

Transparansi berkaitan dengan keterbukaan dalam melaksanakan proses

pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materil

dan relevan mengenai perusahaan.

b. Kemandirian

Kemandirian yaitu suatu keadaan dimana perusahaan dikelola secara

professional tanpa benturan kepentingan dan tekanan dari pihak manapun.

c. Akuntabilitas

Akuntabilitas mencakup kejelasan fungsi, pelaksanaan dan pertanggung

jawaban organ perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara

(14)

d. Pertanggungjawaban

Prinsip pertanggungjawaban merupakan kesesuaian di dalam pengelolaan

perusahaan terhadap regulasi pemerintah dan prinsip-prinsip korporasi.

e. Kewajaran

Prinsip kewajaran mencakup keadilan dan kesetaraan di dalammemenuhi

hak-hak pemangku kepentingan yang muncul berdasarkan perjanjian dan

peraturan yang berlaku.

3. Etika Bisnis dan Pedoman Perilaku

Kode menyarankan perusahaan untuk memiliki seperangkat pedoman

perilaku yang akan menjadi acuan bagi organ perusahaan dan karyawan dalam

mengimplementasikan nilai-nilai perusahaan dan etika bisnis.

4. Organ Perusahaan

Indonesia menjalankan struktur two tier board system yang memisahkan

posisi dewan direksi sebagai pengelola dan dewan komisaris sebagai pengawas.

Tiga entitas yang harus ada dalam perusahaan adalah:

a. Rapat Umum Pemegang Saham

Kode menjelaskan bahwa RUPS merupakan forum untuk membuat

(15)

b. Dewan Komisaris

Tugas dewan komisaris adalah sebagai pengontrol dan pemberi masukan

kepada dewan direksi sebagaimana yang diatur dalam peraturan

perundang-undangan.

c. Dewan Direksi

Kode menyatakan bahwa masing-masing anggota direksi, termasuk presiden

direktur, memiliki posisi yang sejajar dimana posisi presiden direktur adalah

mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan direktur lainnya.

5. Pemegang Saham

Kode menyatakan bahwa pemegang saham sebagai pemilik perusahaan

harus memperhatikan hak dan tanggung jawabnya dalam perusahaan sesuai

dengan aturan yang berlaku dan anggaran dasar perusahaan.

6. Pemangku Kepentingan

Pemangku kepentingan adalah pihak-pihak yang memiliki kepentingan

terhadap perusahaan dan mendapatkan pengaruh secara langsung oleh keputusan

strategis dan operasional perusahaan, termasuk di dalamnya karyawan, mitra

bisnis dan masyarakat setempat.

7. Pernyataan Tentang Penerapan Pedoman Good Corporate Governance

Kode menjelaskan bahwa dalam laporan tahunan perusahaan harus memuat

(16)

dengan laporan yang menjelaskan tentang struktur perusahaan, mekanisme kerja,

di samping informasi lainnya tentang penerapan corporate governance.

8. Pedoman Praktis Penerapan Good Corporate Governance

Kode menyatakan bahwa pelaksanaan corporate governance perlu

dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan. Oleh sebab itu, perusahaan

membutuhkan pedoman sebagai acuan dalam menerapkan corporate governance.

2.3.2 Faktor-faktor Pembentuk Corporate Governance

Steger dan Aman (2008: 17-18) mengemukakan bahwa selain model

bisnis/industri dan perangkat hukum yang berlaku, terdapat dua faktor lain yang

membentuk sistem corporate governance, yaitu personalities (karakteristik)

dewan komisaris dan dewan direksi serta ownership (kepemilikan). Karakteristik

dewan komisaris dan dewan direksi akan memengaruhi setiap pengambilan

keputusan dalam perusahaan, termasuk keputusan pengelolaan intellectual capital.

Karakteristik dewan yang diteliti dapat berupa gender, independensi, latar

belakang pendidikan, dan kebangsaan (Williams dan O’Reilly, 1998).

2.3.2.1 Dewan Komisaris Independen

Komisaris merupakan organ yang mengawasi kebijakan direksi dalam

menjalankan perusahaan serta memberikan nasihat kepada direksi. Komisaris

independen adalah komisaris yang bukan merupakan anggota manajemen,

pemegang saham mayoritas, pejabat atau dengan cara lain yang berhubungan

(17)

perusahaan yang mengawasi pengelolaan perusahaan (Surya, 2008: 135).

Komisaris independen diharapkan dapat menciptakan keseimbangan atas berbagai

kepentingan para pihak dalam hal pengambilan keputusan bisnis.

2.3.2.2 Dewan Komisaris dan Direksi Wanita

Pengertian direksi dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas adalah

organ perseroan yang bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk

kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik di dalam maupun

di luar pengadilan dengan ketentuan Anggaran Dasar (Surya, 2008: 140). Dalam

pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa direksi bertanggung jawab penuh

atas manajemen perusahaan.

Williams dan O’Reilly (1998) mengungkapkan bahwa diversitas dewan

komisaris dan direksi yang semakin tinggi akan menimbulkan gaya kognitif yang

semakin bervariasi, sehingga semakin memperkaya pengetahuan, kebijaksanaan,

ide dan pendekatan yang tersedia bagi perusahaan dan pada akhirnya

meningkatkan kualitas pengambilan keputusan. Salah satu diversitas yang sering

muncul adalah isu gender.

Robins dan Judge (2008: 206) menyatakan bahwa wanita pada umumnya

lebih memiliki pemikiran yang mendetail terkait dalam analisis pengambilan

keputusan. Dengan demikian keberadaan wanita dalam jajaran dewan komisaris

dan direksi akan memengaruhi pengambilan keputusan yang tepat atas

(18)

2.3.2.3 Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan saham oleh manajemen dapat diartikan sebagai kepemilikan

sejumlah saham suatu perusahaan oleh dewan direksi dan komisarisnya.

Kepemilikan manajerial ini diasumsikan dapat menurunkan potensi agency

problem. Dewan direksi dan dewan komisaris yang memiliki saham di dalam

perusahaan yang mereka pimpin akan memiliki rasa kepemilikan yang kuat

sehingga akan menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya untuk

meningkatkan kekayaan perusahaan (Makki, 2010: 22).

2.3.2.4 Kepemilikan Institusional

Menurut Hanafi (2003) dalam Priantana (2011: 68), kepemilikan

institusional merupakan kepemilikan saham oleh investor institusional yang dapat

dilihat dari proporsi saham yang dimiliki institusi dalam perusahaan. Institusi

merupakan lembaga yang memiliki kepentingan besar terhadap investasi yang

dilakukan termasuk investasi saham.

2.4 Penelitian Terdahulu

Penelitian yang menghubungkan corporate governance dengan

intellectual capital yang diukur dengan metode VAIC belum banyak dilakukan

terutama di Indonesia. Namun, di berbagai negara penelitian mengenai intellectual

capital ini telah dimulai sejak lama.

Beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan intellectual capital

(19)

Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu

Peneliti/ Judul Penelitian

Variabel-variabel Metode

Analisis

Hasil Penelitian

1. Indrianita Anis, 2013/ Corporate Governance-Driven to Intellectual Capital and Corporate Performance (Empirical Study in Indonesian Banking Industry)

1. Variabel independen:

Value Added Intellectual Capital (VAIC)

2. Variabel dependen:

a. Tobin’s Q

b. ROA

c. ROE

3. Variabel intervening:

a. Board of

Commissioners Effectiveness

b. Audit Committee

Effectiveness c. Institutional

Ownership d. External Auditor

4. Variabel kontrol: ukuran perusahaan

Structural Equation Model

a. VAIC berpengaruh positif

terhadap corporate

governance

b. Mekanisme corporate

governance berpengaruh positif terhadap VAIC

c. Mekanisme CG

berpengaruh positif terhadap

corporate performance

d. Mekanisme CG memoderasi

hubungan antara IC terhadap kinerja perusahaan

2. Chun-Yao

Tseng dan Chun-Yi Lin,

2011/ The

Relationship between Corporate Governance and Intellectual Capital: Empirical Study of Taiwanese Electronics Manufactures

1. Variabel independen:

a. Number of the

boards

b. The proportion of outside directors c. The proportion of

shareholding of the boards

d. Chairman duality

e. Proportion of

female directors f. Education level of

the board chairman g. Reward level of the

whole board directors

2. Variabel dependen:

a. Human capital b. Relationship capital c. Organizational

capital

Innovation capital

Panel Data Estimation

a. Proportion of outside

directors dan reward

memiliki hubungan positif signifikan terhadap human

capital

b. Proportion of shareholding if

the boards memiliki

hubungan negatif signifikan terhadap human capital c. Number of the boards dan

proportion of female directors memiliki hubungan

yang positif signifikan terhadap relationship capital

Number of the boards, proportion of female directors dan reward level

memiliki hubungan yang positif signifikan terhadap

organizational capital

d. Proportion of shareholding of the boards memiliki hubungan negatif signifikan

terhadap organizational

capital

e. Proportion of outside

directors dan education level

memiliki hubungan yang positif signifikan terhadap

(20)

Peneliti/ Judul Penelitian

Variabel-variabel Metode

Analisis Hasil Penelitian 3. Muhammad Abdul Majid Makki, 2010/ Impact of Corporate Governance on Intellectual Capital Efficiency and Financial Statement

1. Variabel independen:

Corporate governance: a. Percentage share

of all directors b. Percentage share

of all executive directors

c. Ratio of non

executive directors

d. Number of

meetings of audit committee

e. CEO duality f. Managerial

remuneration

2. Variabel dependen:

Financial performance

yang diukur dengan:

a. ROI

b. ROE

c. NPAT

3. Variabel intervening:

Intellectual capital:

a. Human capital

effectiveness b. Capital Employed

effectiveness

c. Structural capital effectiveness

Structural Equation Model

1. Corporate governance tidak

berpengaruh secara langsung terhadap kinerja perusahaan

2. Corporate governance

berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja

intellectual capital

3. Kinerja intellectual capital

berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja

perusahaan.

4. N-P Swastz dan S. Firer, 2005/

Board Structure and Intellectual Capital

Performance in South Africa

1. Variabel independen:

a. Persentase direksi

wanita

b. Persentase direksi

kulit hitam

2. Variabel dependen: VAIC

3. Variabel kontrol:

a. Ukuran perusahaan

b. Tipe industry

c. Debt to asset ratio d. Turnover ratio e. Return on asset f. Return on equity

Regresi Linear Berganda

a. Persentase direksi wanita

berpengaruh namun tidak signifikan terhadap kinerja

intellectual capital.

b. Persentase direksi kulit

hitam berpengaruh signifikan terhadap kinerja

intellectual capital.

2.5 Kerangka Konseptual

(21)

pemegang saham (Kusumastuti, et al., 2006). Salah satu upaya menambah nilai

pemegang saham adalah dengan meningkatkan kinerja intellectual capital.

Semakin besar komposisi dewan komisaris independen dalam perusahaan, maka

semakin tinggi kinerja intellectual capital-nya.

Williams dan O’Reilly (1998) mengemukakan bahwa diversitas dewan

komisaris dan direksi yang semakin tinggi akan menimbulkan gaya kognitif yang

semakin bervariasi, sehingga semakin memperkaya pengetahuan, kebijaksanaan,

ide dan pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pengambilan keputusan.

Keberadaaan wanita dalam jajaran dewan komisaris dan direksi perusahaan

merupakan salah satu ukuran diversitas dewan. Swartz dan Firer (2005)

menemukan keberadaan wanita dalam dewan berpengaruh positif pada kinerja

intellectual capital.

Kepemilikan saham oleh manajemen dapat diartikan sebagai kepemilikan

sejumlah saham suatu perusahaan oleh dewan direksi dan komisarisnya (Makki,

2010: 22). Direksi dan komisaris merupakan pihak internal perusahaan yang aktif

dalam pengambilan keputusan strategis. Semakin besar kepemilikan saham

manajerial, maka keputusan pengelolaan intellectual capital yang diambil oleh

manajemen semakin efektif sehingga meningkatkan kinerja intellectual capital.

Kepemilikan institusional merupakan persentase sejumlah saham

perusahaan yang dimiliki oleh institusi (Anis, 2013). Penelitian oleh Anis (2013)

menunjukkan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap

kinerja intellectual capital. Artinya, jika kepemilikan institusional meningkat

(22)

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang telah

dikemukakan sebelumnya, maka model kerangka konseptual yang menegaskan

pengaruh corporate governance yang diproksikan melalui proporsi dewan

komisaris independen, proporsi dewan komisaris dan direksi wanita, kepemilikan

manajerial dan kepemilikan institusional terhadap intellectual capital (VAIC)

ditunjukkan pada Gambar 2.1 berikut.

Sumber: Kusumastuti, et al. (2006), Swartz dan Firer (2005), Makki (2010), Anis (2013)

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

2.6 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah dan kerangka konseptual yang telah

diuraikan sebelumnya, maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:

“Proporsi dewan komisaris independen, proporsi dewan komisaris dan direksi

wanita, kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional berpengaruh

signifikan terhadap Value Added Intellectual Coefficient (VAIC) Bank Umum

Swasta Nasional di Bursa Efek Indonesia tahun 2008-2012” Proporsi Dewan Komisaris

Independen (X1)

Proporsi Dewan Komisaris dan Direksi Wanita (X2)

Kepemilikan Manajerial (X3)

Kepemilikan Institusional (X4)

Gambar

Tabel 2.1 Intellectual Capital
Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh antara eraning management , kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, ukuran dewan komisaris, komposisi dewan

manajerial, komposisi dewan komisaris independen, jumlah dewan komisaris independen, komite audit dan kualitas audit terhadap nilai perusahaan dengan manajemen laba sebagai

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menguji mekanisme corporate governance (ukuran dewan komisaris, komposisi dewan komisaris independen, kepemilikan manajerial,

Hasil dari penelitian ini seluruh variabel independen berupa jumlah komite audit, proporsi independen dewan komisaris, jumlah rapat komite audit, dan latar

Hasil regresi variabel kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, ukuran dewan komisaris, proporsi komisaris independen dan keberadaan komite audit terhadap

Nilai tersebut menunjukkan bahwa variabel independen struktur kepemilikan yang diukur dengan kepemilikan manajerial (KPMJ), komposisi anggota dewan komisaris (KOMI),

good corporate governance yang dilihat dari kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, ukuran dewan komisaris, komposisi dewan komisaris independen, komite

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh ukuran dewan komisaris, dewan komisaris independen, frekuensi pertemuan dewan komisaris dan kepemilikan manajerial