PENGARUH MEKANISME GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN MANAJEMEN
LABA SEBAGAI VARIABEL MODERATING; STUDI PADA PERUSAHAAN YANG TERGABUNG INDEKS LQ-45
DI BURSA EFEK INDONESIA
TESIS
Oleh
Ivo Maelina Silitonga 097017054/Akt
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2012
S
E K O L AH
P A
S C
A S A R JA
PENGARUH MEKANISME GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN MANAJEMEN
LABA SEBAGAI VARIABEL MODERATING; STUDI PADA PERUSAHAAN YANG TERGABUNG INDEKS LQ-45
DI BURSA EFEK INDONESIA
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Akuntansi pada
Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Oleh
Ivo Maelina Silitonga 097017054/Akt
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul Tesis : PENGARUH MEKANISME GOOD CORPORATE
GOVERNANCE TERHADAP NILAI
PERUSAHAAN DENGAN MANAJEMEN LABA SEBAGAI VARIABEL MODERATING; STUDI PADA PERUSAHAAN YANG TERGABUNG INDEKS LQ-45 DI BURSA EFEK INDONESIA Nama Mahasiswa : Ivo Maelina Silitonga
Nomor Pokok : 097017054 Program Studi : Akuntansi
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Prof. Dr. Azhar Maksum, M.Ec,Ac) (Drs. Firman Syarif, M.Si, Ak) Ketua Anggota
Ketua Program Studi, Direktur,
(Prof.Dr.Ade Fatma Lubis, MAFIS,MBA,CPA) (Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE)
Telah diuji pada
Tanggal : 19 Januari 2012
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Azhar Maksum, M.Ec,Ac Anggota : 1. Drs. Firman Syarif, M.Si, Ak
2. Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, CPA 3. Dra. Tapi Anda Sari Lubis, M.Si, Ak
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan tesis yang berjudul : “Pengaruh Mekanisme
Good Governance Terhadap Nilai Perusahaan dengan Manajemen Laba sebagai
Variabel Moderating; Studi pada Perusahaan yang Tergabung Indeks LQ-45 di Bursa
Efek Indonesia”
Adalah benar hasil kerja saya sendiri dan belum dipublikasikan oleh
siapapun sebelumnya. Sumber-sumber data dan informasi yang digunakan telah
dinyatakan secara benar dan jelas.
Medan, Januari 2012
Yang membuat pernyataan :
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh mekanisme good
corporate governance yang meliputi: kepemilikan institusional, kepemilikan
manajerial, komposisi dewan komisaris independen, jumlah dewan komisaris independen, komite audit dan kualitas audit terhadap nilai perusahaan dengan manajemen laba sebagai variabel moderating, studi pada perusahaan indeks LQ-45 di Bursa Efek Indonesia tahun 2005-2010.
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang tergabung dalam indeks LQ-45 di Bursa Efek Indonesia (BEI). Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah populasi sebesar 97 perusahaan dan sampel sebesar 10 perusahaan. Kriteria yang digunakan dalam penentuan sampel yaitu perusahaan non-keuangan yang tergabung dalam indeks LQ-45 di Bursa Efek Indonesia per 1 Januari 2005-2010 dan perusahaan masih tercatat di BEI dan saham perusahaan masih aktif diperdagangkan hingga saat ini.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan mekanisme good
corporate governance yang meliputi: kepemilikan institusional, kepemilikan
manajerial, komposisi dewan komisaris independen, jumlah dewan komisaris independen, komite audit dan kualitas audit berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan dengan proxy Price to Book Value. Sementara secara parsial jumlah dewan komisaris dan kualitas audit berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan, sedangkan kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, komposisi dewan komisaris dan komite audit tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Manajemen Laba merupakan variabel moderating pada penelitian ini, dalam hal ini manajemen laba memperlemah pengaruh mekanisme good corporate governance terhadap nilai perusahaan.
ABSTRACT
The purpose of this research is to examine the influance of good corporate governance mechanisms consist of: institutional ownership, managerial ownership,
independent commissioner board composition, number of independent
commissioners board, audit committee and audit quality on value of the firm with earnings management as moderating variable, a study in LQ-45 in Indonesia Stock Exchange from 2005 to 2010.
The population in this research is all companies in LQ-45 index in Indonesia Stock Exchange (IDX). The sampling method in this research is purposive sampling with 97 companies as population and 10 companies as samples. The criteria used in sample selection process were that the non-financial companies were included and
still registered in LQ-45 index in Indonesia Stock Exchange on January 1, 2005 to 2010 and currently the shares of the companies are still actively traded.
The result of this research that simultaneously good corporate governance mechanisms including: institutional ownership, managerial ownership, independent commissioner board composition, number of independent commissioners board, audit committee and audit quality significant influence the value of the firm with the proxy Price to Book Value. While partially number of independent commissioners board and audit quality had a significant influence on the value of the firm, the institutional ownership, managerial ownership, independent commissioner board composition and audit committee did not have significant influence on the value of the firm. Earnings management is a moderating variable, in this research earnings management weakened the influence of good corporate governance mechanisms on the value of the firm. .
Keywords: Good Corporate Governance, Earnings Management, Value of the Firm.
KATA PENGANTAR
Syalom salam sejahtera bagi kita semua dan dengan segala kerendahan hati,
penulis mengucapkan puji syukur atas penyertaan dan bimbingan Tuhan kepada
penulis sehingga penulisan tesis ini dapat diselesaikan.
Dalam penyusunan tesis ini, penulis menyadari bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi isi maupun cara penyajiannya. Hal ini disebabkan karena
keterbatasan kemampuan penulisan miliki. Namun demikian, penulis akan tetap
berusaha untuk memperbaiki diri lebih baik lagi di masa yang akan datang.
Penulis telah mendapatkan bantuan dan bimbingan baik berupa moril
maupun materil dari berbagai pihak dalam penyelesaian tesis ini. Maka pada
kesempatan ini, penulis menyampaikan rasa terimakasih dan penghargaan yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang terlibat dan turut memnatu penulis dalam
menyelesaikan tesis ini terutama kepada :
1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H., M.Sc (CTM), Sp.A(K), selaku
Rektor Universitas Sumatera Utara atas kesempatan yang diberikan untuk
mengikuti dan menyelesaikan pendidikan magister di Universitas Sumatera
Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE, selaku Direktur Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara atas kesempatan yang diberikan untuk
mengikuti dan menyelesaikan pendidikan magister di Universitas Sumatera
Utara.
3. Ibu Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, CPA. selaku Ketua Program
Studi Akuntansi Sekolah Pascasarjana USU atas kesempatan yang diberikan
untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan magister di Universitas
4. Bapak Prof. Dr. Azhar Maksum, M.Ec, Ac. dan Bapak Drs. Firman Syarief,
M.Si. Ak. selaku Ketua dan Anggota Komisi Pembimbing yang telah
memberikan banyak saran dan masukan dalam penulisan tesis ini.
5. Ibu Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, CPA., Bapak Drs. Rasdianto,
MA, Ak., dan Ibu Dra. Tapi Anda Sari Lubis, M.Si., Ak. selaku Tim Penguji
tesis atas saran dan masukan untuk kesempurnaan penulisan tesis ini.
6. Seluruh staf pengajar Program Studi Akuntansi Sekolah Pascasarjana Universitas
Sumatera Utara atas segala ilmu dan pengetahuan yang telah diberikan.
7. Seluruh staf administrasi Program Studi Akuntansi Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara.
8. Orang tua tercinta, (Alm) Oloan Silitonga Dan Ibunda Sorta L.Tobing, dan adik
saya, Frisca Silitonga, yang telah banyak memberikan doa dan dukungan kepada
penulis.
9. Teman-teman selama pendidikan (Ruswan N, Azmi R, Ardin DS, Halomoan S,
Rahima Br Purba, Eva S, Namira Ufrida R, Arma Yuliza, Riantri B, Eky EM,
Vina A).
Akhirnya penulis mengharapkan kiranya tesis ini merupakan usaha yang
dikehendaki oleh Tuhan dan merupakan hasil yang bermanfaat bagi kita semua dan
bagi penulis sendiri.
Medan, Januari 2012 Penulis,
RIWAYAT HIDUP
Nama : Ivo Maelina Silitonga
Tempat/Tanggal Lahir : Surabaya/ 05 November 1984
Agama : Kristen Protestan
Status : Belum Menikah
Orang tua :
Ayah : Alm. Oloan Silitonga
Ibu : Sorta L.Tobing
Alamat : Jl. Arief Rahman Hakim no. 181 Medan 20217
Pendidikan : TK : TK YPPI II Surabaya
SD : SD YPPI II Surabaya SMP : SMP St. Maria Medan SMA : SMA Negeri 1 Medan
S1 : Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Atma Jaya Jakarta
S2 : Program Studi Akuntansi Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Pekerjaan : • Staf Pengajar di Universitas Atma Jaya Jakarta Fakultas Ekonomi Program Studi Akuntansi (2005-2008)
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK... i
ABSTRACT...ii
KATA PENGANTAR...iii
RIWAYAT HIDUP...v
DAFTAR ISI ...vi
DAFTAR TABEL...x
DAFTAR GAMBAR...xi
DAFTAR LAMPIRAN...xii
BAB I: PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang...1
1.2 Rumusan Masalah...7
1.3 Tujuan Penelitian...8
1.4 Manfaat Penelitian...8
1.5 Originalitas Penelitian...9
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori...11
2.1.1 Nilai Perusahaan...11
2.1.2 Corporate Governance...12
2.1.2.1 Pengertian Good Corporate Governance...12
2.1.2.3 Prinsip-prinsip Corporate Governance...15
2.1.2.4 Mekanisme Penerapan Corporate Governance...17
2.1.3 Kepemilikan Institusional...19
2.1.4 Kepemilikan Manajerial...20
2.1.5 Komposisi Dewan Komisaris Independen...21
2.1.6 Jumlah Dewan Komisaris...22
2.1.7 Komite Audit...22
2.1.8 Kualitas Audit...23
2.1.9 Manajemen Laba...25
2.1.9.1 Faktor-faktor Pendorong Manajemen Laba...28
2.1.9.2 Teknik Manajemen Laba...30
2.1.9.3 Pola Manajemen Laba...31
2.1.10 Manajemen Laba dan Nilai Perusahaan...32
2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu...33
BAB III: KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS 3.1 Kerangka Konsep...38
3.2 Hipotesis...40
BAB IV: METODE PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian...42
4.2 Lokasi Penelitian...42
4.3 Populasi dan Sampel...42
4.5 Definisi Operasional...44
4.6 Metode Analisis Data...50
4.6.1 Analisis Data...50
4.6.2 Pengujian Hipotesis...53
BAB V: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1 Deskriptif Data Penelitian...59
5.2 Analisis Data...62
5.2.1 Pengujian Data...62
5.2.1.1 Uji Asumsi Klasik...62
5.2.1.1.1 Uji Normalitas...63
5.2.1.1.2 Uji Multikolenearitas...,..64
5.2.1.1.3 Uji Heterokedastisitas...66
5.2.1.1.4 Uji Autokorelasi...67
5.3 Pengujian Hipotesis...67
5.3.1 Hasil Pengujian Hipotesis Pertama...67
5.3.2 Hasil Pengujian Hipotesis Kedua...70
5.4 Pembahasan...72
BAB VI: KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan...79
6.2 Keterbatasan Penelitian...80
6.3 Saran...80
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
2.1 Tinjauan atas Penelitian Terdahulu...36
4.1 Teknik Pengambilan Sampel...43
4.2 Sampel Perusahaan Indeks LQ-45 tahun 2005-2010...44
4.3 Definisi Operasional Variabel...49
5.1 Deskriptif Data Penelitian Hipotesis Pertama...59
5.2. Hasil Uji Normalitas dengan Uji One Sample Kolmogorov-Smirnov...64
5.3. Matriks Korelasi Variabel Bebas...65
5.4. Variance Inflation Factor...66
5.5. Pengujian Autokorelasi...67
5.6. Hasil Analisis Pengaruh KI, KM, KDK, JDK, KA, KuA terhadap Nilai Perusahaan secara Simultan...68
5.7. Hasil Analisis Pengaruh KI, KM, KDK, JDK, KA, KuA terhadap Nilai Perusahaan secara Parsial...69
5.8. Hasil Pengujian KI, KM, KDK, JDK, KA, KuA terhadap Manajemen Laba...71
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
2.1 . Kerangka Mekanisme Corporate Governance...19
3.1. Kerangka Konseptual...38
5.1. Normal PP Plot Residual...63
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Judul
1. Perusahaan yang Terdaftar Indeks LQ-45 2005-2010
2. Data Manajemen Laba
3. Data Hipotesis Pertama
4. Data Hipotesis Kedua
5. Tabel Median
6. Hasil Olah Data untuk Hipotesis Pertama
7a. Hasil Olah Data untuk Persamaan Pertama Moderating Uji Residual
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh mekanisme good
corporate governance yang meliputi: kepemilikan institusional, kepemilikan
manajerial, komposisi dewan komisaris independen, jumlah dewan komisaris independen, komite audit dan kualitas audit terhadap nilai perusahaan dengan manajemen laba sebagai variabel moderating, studi pada perusahaan indeks LQ-45 di Bursa Efek Indonesia tahun 2005-2010.
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang tergabung dalam indeks LQ-45 di Bursa Efek Indonesia (BEI). Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah populasi sebesar 97 perusahaan dan sampel sebesar 10 perusahaan. Kriteria yang digunakan dalam penentuan sampel yaitu perusahaan non-keuangan yang tergabung dalam indeks LQ-45 di Bursa Efek Indonesia per 1 Januari 2005-2010 dan perusahaan masih tercatat di BEI dan saham perusahaan masih aktif diperdagangkan hingga saat ini.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan mekanisme good
corporate governance yang meliputi: kepemilikan institusional, kepemilikan
manajerial, komposisi dewan komisaris independen, jumlah dewan komisaris independen, komite audit dan kualitas audit berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan dengan proxy Price to Book Value. Sementara secara parsial jumlah dewan komisaris dan kualitas audit berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan, sedangkan kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, komposisi dewan komisaris dan komite audit tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Manajemen Laba merupakan variabel moderating pada penelitian ini, dalam hal ini manajemen laba memperlemah pengaruh mekanisme good corporate governance terhadap nilai perusahaan.
ABSTRACT
The purpose of this research is to examine the influance of good corporate governance mechanisms consist of: institutional ownership, managerial ownership,
independent commissioner board composition, number of independent
commissioners board, audit committee and audit quality on value of the firm with earnings management as moderating variable, a study in LQ-45 in Indonesia Stock Exchange from 2005 to 2010.
The population in this research is all companies in LQ-45 index in Indonesia Stock Exchange (IDX). The sampling method in this research is purposive sampling with 97 companies as population and 10 companies as samples. The criteria used in sample selection process were that the non-financial companies were included and
still registered in LQ-45 index in Indonesia Stock Exchange on January 1, 2005 to 2010 and currently the shares of the companies are still actively traded.
The result of this research that simultaneously good corporate governance mechanisms including: institutional ownership, managerial ownership, independent commissioner board composition, number of independent commissioners board, audit committee and audit quality significant influence the value of the firm with the proxy Price to Book Value. While partially number of independent commissioners board and audit quality had a significant influence on the value of the firm, the institutional ownership, managerial ownership, independent commissioner board composition and audit committee did not have significant influence on the value of the firm. Earnings management is a moderating variable, in this research earnings management weakened the influence of good corporate governance mechanisms on the value of the firm. .
Keywords: Good Corporate Governance, Earnings Management, Value of the Firm.
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perusahaan-perusahaaan yang berhasil dan memiliki kinerja yang baik
mengerti bagaimana beradaptasi dengan pasar yang berubah secara kesinambungan.
Peningkatan tekanan persaingan di antara pemain pasar yang ada dan new entrants,
menjadikan resiko perusahaan meningkat dengan keuntungan makin tipis. Hanya
perusahaan yang unggul saja yang dapat keluar dari keadaan yang berlaku umum
tersebut, seperti perusahaan yang aktif dalam bursa saham atau disebut indeks LQ45.
Namun keunggulan yang dimiliki perusahaan makin cepat terdilusi karena kemajuan
teknologi sehingga terjadi peningkatan kompleksitas operasional perusahaan.
Semakin kompleksnya aktivitas pengelolaan perusahaan tersebut
meningkatkan kebutuhan praktik tata kelola usaha yang baik (good corporate
governance). Penerapan corporate governance yang profesional sangat penting
sehubungan dengan meningkatnya kondisi persaingan dan globalisasi dengan
memberikan prioritas terhadap perbaikan penerapan corporate governance,
perusahaan-perusahaan dapat mengarah ke biaya operasional yang lebih rendah dan
peningkatan kinerja.
Lemahnya penerapan corporate governance ditandai dengan perilaku
manajemen yang mulai mementingkan kepentingan sendiri dengan mengabaikan
harapan investor tentang tingkat pengembalian (return) atas investasi yang telah
mereka tanamkan dan mulai berhenti melakukan pendanaan atau investasi di
perusahaan-perusahaan di negara tersebut, yang mengakibatkan menurunnya aliran
masuk modal (capital inflows) ke negara tersebut secara keseluruhan sedangkan
aliran modal keluar (capital outflows) mengalami kenaikan. Hal tersebut
menyebabkan lemahnya investasi di negara tersebut, maka harga saham agregat
perusahaan-perusahaan di negara tersebut akan menurun. Hal ini menuntun pada
rendahnya kinerja perusahaan-perusahaan di negara tersebut (Darmawati,
Khomsiyah, dan Rahayu, 2004).
Kondisi-kondisi di atas, menyebabkan corporate governance sangat
dibutuhkan, dimana pihak manajemen perusahaan memiliki wewenang dalam
penggunaan segala sumber daya perusahaan, sementara para pemegang saham
berharap manajemen dapat bertindak profesional dalam mengelola perusahaan dan
segala sumber dayanya. Setiap keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh
manajemen seharusnya mementingkan kepentingan pemegang saham dan bertujuan
untuk kepentingan pertumbuhan nilai perusahaan. Namun pada kenyataannya,
manajemen seringkali bertindak demi kepentingan mereka sendiri dan merugikan
perusahaan serta pemegang saham. Permasalahan inilah yang kemudian dikenal
sebagai agency problem.
Masalah keagenan yang dipicu dari adanya pemisahan peran atau perbedaan
kepentingan antara pemegang saham dengan pengelolaan atau manajemen
perusahaan lebih banyak dan lebih dahulu daripada pemegang saham sehingga terjadi
asimetri informasi yang memungkinkan manajemen melakukan praktek akuntansi
dengan orientasi pada laba untuk mencapai suatu kinerja tertentu. Menurut Hastuti
(2005) manajemen laba merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja
perusahaan. Konflik keagenan yang mengakibatkan laba dilaporkan semu akan
menyebabkan nilai perusahaan berkurang dimasa yang akan datang.
Nilai perusahaan pada dasarnya dapat diukur melalui beberapa aspek, salah
satunya adalah harga pasar saham perusahaan karena harga pasar saham perusahaan
mencerminkan penilaian investor keseluruhan atas setiap ekuitas yang dimiliki.
Menurut Van Horne (2002) “value is represented by the market price of the
company’s common stock which in turn, is a function of the firm’s investment,
financing and dividen decision “. Harga pasar saham menunjukkan penilaian sentral
dari seluruh pelaku pasar, harga pasar saham bertindak sebagai barometer kinerja
manajemen perusahaan.
Peningkatan nilai perusahaan ini dapat tercapai apabila ada kerja sama antara
manajemen perusahaan dengan pihak lain yang meliputi sharehoder maupun
stakeholder dalam membuat keputusan keputusan keuangan dengan tujuan
memaksimumkan modal kerja yang dimiliki. Apabila tindakan antara manajer dengan
pihak lain tersebut berjalan sesuai, maka masalah diantara kedua pihak tersebut tidak
akan terjadi. Dalam kenyataannya penyatuan kepentingan kedua pihak tersebut sering
kali menimbulkan masalah. Adanya masalah diantara manajer dan pemegang saham
dan Meckling, 1976), adanya masalah agensi tersebut akan menyebabkan tidak
tercapainya tujuan keuangan perusahaan, yaitu meningkatkan nilai perusahaan
dengan cara memaksimumkan kekayaan pemegang saham.
Jensen dan Meckling (1976) menyatakan penyebab konflik antara manajer
dengan pemegang saham adalah perbedaan dalam pembuatan keputusan yang
berkaitan dengan aktivitas pencarian dana (financing decision) dan pembuatan
keputusan yang berkaitan dengan bagaimana dana yang diperoleh diinvestasikan.
Dalam aktivitas pencarian dana, manajemen menginginkan untuk mencari sumber
pendanaan dengan biaya sekecil mungkin sehingga mampu meningkatkan laba
perusahaan. Dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan dana yang
diperoleh, manajer cenderung memilih untuk menginvestasikan dananya pada proyek
dengan resiko rendah, tetapi investor cenderung untuk memilih proyek dengan resiko
tinggi karena resiko yang tinggi mencerminkan return yang akan diperoleh juga
tinggi.
Teori agensi memberikan pandangan bahwa masalah manajemen laba dapat
diminimumkan dengan pengawasan sendiri melalui good corporate governance.
Praktek manajemen laba oleh manajemen dapat diminimumkan melalui mekanisme
monitoring untuk menyelaraskan (alignment) perbedaan kepentingan pemilik dan
manajemen dengan cara; pertama memperbesar kepemilikan saham perusahaan oleh
manajemen (managerial ownership) (Jensen dan Meckling 1976). Kedua,
kepemilikan saham oleh institutional karena mereka dianggap sebagai sophisticated
manajemen yang berdampak mengurangi motivasi manajer untuk melakukan
manajemen laba (Pratana dan Mas’ud 2003); ketiga, peran monitoring yang dilakukan
dewan komisaris independen (Barnhart dan Rosentein 1998); keempat, kualitas audit
yang dilihat dari peran auditor yang memiliki kompetensi yang memadai dan bersikap
independen sehingga menjadi pihak yang dapat memberikan kepastian terhadap
integritas angka-angka akuntansi yang dilaporkan manajemen (Mayangsari 2003).
Komposisi dewan komisaris merupakan salah satu karakteristik dewan yang
berhubungan dengan kandungan informasi laba. Melalui perannya dalam
menjalankan fungsi pengawasan, komposisi dewan dapat mempengaruhi pihak
manajemen dalam menyusun laporan keuangan sehingga dapat diperoleh suatu
laporan laba yang berkualitas (Boediono, 2005). Adanya dewan komisaris
independen diharapkan mampu meningkatkan peran dewan komisaris sehingga
tercipta good corporate governance di dalam perusahaan.
Teoh dan Wong (1993) menyatakan bahwa kualitas audit berhubungan positif
dengan kualitas laba yang diukur dengan Earnings Response Coeficient . Karena pada
saat penelitian ini Big six telah berubah menjadi big four, juga diduga bahwa klien
dari auditor non big four cenderung lebih tinggi dalam melakukan manajemen laba.
Hal ini berarti kualitas audit berhubungan negatif dengan manajemen laba. Walaupun
demikian untuk kasus Indonesia sebagaimana penelitian yang dilakukan Siregar dan
Utama (2006) tidak menemukan pengaruh signifikan antara kalitas audit dengan
Komite audit mempunyai peran yang sangat penting dan strategis dalam hal
memelihara kredibilitas proses penyusunan laporan keuangan seperti halnya menjaga
terciptanya sistem pengawasan perusahaan yang memadai serta terlaksananya good
corporate governance. Menurut Sofyan, Komite Audit dapat dibentuk oleh Komisaris
dan bertanggungjawab kepada Komisaris dengan pertimbangan bahwa dalam rangka
mengoptimalkan kinerja, BUMN dituntut untuk dapat mengelola kegiatan usahanya
dengan hemat, berdayaguna dan berhasil guna dan dengan mentaati peraturan
perundang-undangan yang berlaku dengan mewujudkan sistem dan pelaksanaan
pengawasan yang kompeten dan independen.
Hubungan GCG dengan nilai perusahaan telah diteliti oleh Arsjah (2002)
membuktikan corporate governance berpengaruh terhadap nilai perusahaan namun
tidak semua komponen corporate governance berpengaruh secara signifikan dan
positif terhadap nilai perusahaan. Nilai perusahaan dipengaruhi oleh beberapa faktor,
antara lain struktur kepemilikannya, komposisi dewan komisaris independen, ukuran
dewan komisaris, manajemen laba, serta keberadaan komite audit. Dalam penelitian
Andrianto (2009) membuktikan corporate governance berpengaruh signifikan
terhadap Price to Book Value, dalam hal ini merupakan kepemilikan manajerial dan
kualitas audit serta manajemen laba, sedangkan kepemilikan institusional tidak
berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Sedangkan menurut Niken (2009),
kepemilikan manajerial dan institusional berpengaruh terhadap nilai perusahaan,
dimana variabel yang tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan adalah komposisi
Konsistensi yang beragam mengenai pengaruh mekanisme good corporate
governance terhadap nilai perusahaan ini memotivasi penulis untuk menguji
pengaruh penerapan Good Corporate Governance dalam hal ini kepemilikan
institusional, kepemilikan manajerial, komposisi dewan komisaris independen,
ukuran dewan komisaris, keberadaan komite audit dan kualitas audit dapat
meningkatkan nilai perusahaan yang diproxi dengan Price to Book Value, dimana
manajemen laba sebagai variabel moderating pada perusahaan yang memperkuat atau
memperlemah pengaruh antara variabel independen dengan variabel dependen yang
tergabung dalam indeks LQ 45 di Bursa Efek Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka pembahasan utama dari penelitian
ini adalah:
1. Apakah mekanisme corporate governance, yang meliputi kepemilikan
institusional, kepemilikan manajerial, komposisi dewan komisaris
independen, ukuran dewan komisaris, keberadaan komite audit dan kualitas
audit berpengaruh terhadap nilai perusahaan pada perusahaan yang tergabung
dalam indeks LQ-45?
2. Apakah manajemen laba memperkuat atau memperlemah pengaruh
mekanisme corporate governance yang meliputi kepemilikan institusional,
komposisi dewan komisaris independen, ukuran dewan komisaris, keberadaan
komite audit dan kualitas audit terhadap nilai perusahaan pada perusahaan
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah
1. Untuk menguji pengaruh penerapan corporate governance, yang meliputi
kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, komposisi dewan
komisaris independen, ukuran dewan komisaris, keberadaan komite audit dan
kualitas audit berpengaruh baik secara parsial ataupun simultan terhadap nilai
perusahaan dengan proxi Price to Book Value pada perusahaan yang
tergabung dalam indeks LQ-45.
2. Untuk menguji manajemen laba yang memperkuat atau memperlemah
pengaruh mekanisme corporate governance, yang meliputi kepemilikan
institusional, komposisi dewan komisaris independen, ukuran dewan
komisaris, keberadaan komite audit dan kualitas audit terhadap nilai
perusahaan dengan proxi Price to Book Value pada perusahaan yang
tergabung dalam indeks LQ-45.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Sebagai bahan referensi bagi manajemen perusahaan dan investor dalam
menilai kinerja perusahaan dalam hubungannya dengan penerapan good
corporate governance
2. Sebagai bahan referensi bagi peneliti selanjutnya.
3. Sebagai sarana untuk mengembangkan wawasan dan pengetahuan intelektual
1.5 Originalitas Penelitian
Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian Animah dan Rahmadhani
(2010) dengan judul Pengaruh Struktur Kepemilikan, Mekanisme Corporate
Governance dan Ukuran Perusahaan terhadap Nilai Perusahaan (Survei Pada
Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta 2003-2007). Penelitian
dilakukan terhadap perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ tahun 2003-2007.
Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa kepemilikan institusional, kepemilikan
manajerial, komite audit, ukuran dewan komisaris, proporsi dewan komisaris
independen dan ukuran perusahaan secara simultan berpengaruh terhadap nilai
perusahaan. Selain itu juga, variabel ukuran dewan komisaris dan ukuran perusahaan
berpengaruh secara parsial terhadap nilai perusahaan. Kepemilikan institusional,
kepemilikan manajerial, proporsi dewan komisaris independen dan komite audit tidak
berpengaruh secara parsial terhadap nilai perusahaan.
Adapun perbedaan penelitian ini dengan peneliti terdahulu adalah sebagai
berikut:
1. Dalam penelitian ini peneliti mengganti ukuran perusahaan dengan kualitas
audit yang di duga akan berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
2. Dalam penelitian ini peneliti menambahkan manajemen laba sebagai variabel
moderating yang di duga akan memperkuat atau memperlemah variabel
independen terhadap nilai perusahaan
3. Periode penelitian ini adalah 2005, 2006, 2007, 2008, 2009, 2010 sedangkan
4. Jumlah sampel perusahaan yang terdaftar pada indeks LQ-45 di BEI dari
tahun 2005 sampai dengan tahun 2010 diteliti berjumlah 10 perusahaan,
sedangkan penelitian sebelumnya, jumlah sampel perusahaan manufaktur
yang diteliti adalah 28 perusahaan yang terdaftar di BEJ dari tahun 2003
BAB II
TINJUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori 2.1.1 Nilai perusahaan
Nilai perusahaan pada dasarnya dapat diukur melalui beberapa aspek, salah
satunya adalah harga pasar saham perusahaan karena harga pasar saham perusahaan
mencerminkan penilaian investor keseluruhan atas setiap ekuitas yang dimiliki.
Fama (1978) dalam penelitiannya menggunakan pendekatan konsep nilai
pasar untuk mengukur nilai perusahaan. Nilai pasar berbeda dengan nilai buku. Jika
nilai buku merupakan harga yang dicatat pada nilai saham perusahaan, maka nilai
pasar adalah harga saham yang terjadi di pasar bursa tertentu oleh permintaan dan
penawaran saham tersebut oleh pelaku pasar. Nilai perusahaan merupakan nilai yang
diberikan pasar bursa kepada manajemen perusahaan
Pengukuran nilai perusahaan dalam penelitian ini akan menggunakan proksi
yaitu Price to Book Value pada periode yang telah ditentukan. Menurut Prayitno
dalam Wulandari (2009), Price to Book Value (PBV) menggambarkan seberapa besar
pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan. Makin tinggi rasio ini, berarti
pasar percaya akan prospek perusahaan tersebut
Semakin tinggi rasio PBV, semakin tinggi kinerja perusahaan dinilai oleh
pemodal dengan dana yang telah ditanamkan di perusahaan. Oleh karena itu dapat
prospek perusahaan, maka akan menjadi daya tarik bagi investor untuk membeli
saham tersebut, sehingga permintaan akan naik, kemudian mendorong harga saham
naik (Wulandari, 2009).
Hal ini dihitung dengan membagi harga penutupan saham saat ini dengan
nilai buku kuartal terkini per saham. Juga dikenal sebagai "rasio harga-ekuitas".
Dihitung sebagai:
Price to Book Value = ℎ�����������ℎ�����������
�����������ℎ�����������
PBV adal
perusahaan dengan harga pasar saat ini. Nilai buku adalah istilah akuntansi yang
menunjukkan bagian dari perusahaan yang dimiliki oleh pemegang saham, dalam
kata lain, total
2.1.2 Corporate governance
2.1.2.1 Pengertian Good Corporate Governance
Organization Economic Cooperation and Development (OECD) berpendapat
bahwa Corporate Governance merupakan struktur hubungan serta kaitannya dengan
tanggung jawab di antara pihak – pihak terkait yang terdiri dari pemegang saham,
anggota dewan direksi dan komisaris termasuk manajer, yang dirancang untuk
mendorong terciptanya suatu kinerja yang kompetitif yang diperlukan dalam
mencapai tujuan utama perusahaan.
Menurut formulasi Komite Cadbury (1992), corporate governance adalah
mencapai keseimbangan antara kekuatan kewenangan yang diperlukan oleh
perusahaan untuk menjamin kelangsungan eksistensinya dan pertanggungjawaban
kepada shareholders.
Menurut Forum For Corporate Governance in Indonesia (FCGI, 2000),
corporate governance adalah seperangkat peraturan yang menetapkan hubungan
antara pemegang saham, pengurus, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para
pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya sehubungan dengan hak – hak dan
kewajiban mereka, atau dengan kata lain sistem yang mengarahkan dan
mengendalikan perusahaan. Dan tujuan dari Corporate Governance adalah
meningkatkan nilai bagi pihak pemegang saham.
The Indonesian Institute For Corporate Governance (IICG) juga memiliki
definisi mengenai corporate governance. Menurut IICG, Good Corporate
Governance (tata kelola perusahaan guna memberikan nilai tambah perusahaan yang
baik) pada hakekatnya merupakan struktur, sistem, dan proses yang digunakan oleh
organ perusahaan guna memberikan nilai tambah perusahaan secara
berkesinambungan dalam jangka panjang. Struktur merupakan satu kesatuan yang
terdiri dari dewan komisaris, dewan direksi, dan pihak – pihak yang berkepentingan
(stakeholders). Sistem merupakan suatu landasan operasional yang menjadi dasar
mekanisme check and balances kewenangan atas pengelolaan perusahaan. Proses
merupakan cara untuk memastikan pelaksanaan prinsip Tata Kelola Perusahaan yang
Baik (tanggung jawab, akuntabilitas, keadilan, dan transparansi) dalam menentukan
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Corporate
Governance adalah sistem yang mengatur, mengelola dan mengawasi proses
pengendalian usaha untuk menaikkan nilai saham sekaligus sebagai bentuk perhatian
kepada stakeholders, karyawan, kreditor, dan masyarakat sekitar. Good Corporate
Governance berusaha menjaga keseimbangan di antara pencapaian tujuan ekonomi
dan tujuan masyarakat. Tantangan dalam Corporate Governance adalah mencari cara
untuk memaksimum penciptaan kesejahteraan sedemikian rupa sehingga tidak
membebankan ongkos yang tidak patut kepada pihak ketiga atau masyarakat luas.
2.1.2.2 Manfaat Corporate Governance
Utama (2005) menyatakan bahwa konsep Corporate Governance timbul
sebagai upaya untuk mengatasi perilaku manajemen yang mementingkan diri sendiri
dan menciptakan mekanisme dan alat control untuk memungkinkan terciptanya
sistem pembagian keuntungan dan kekayaan yang seimbang bagi stakeholders dan
menciptakan efisiensi bagi perusahaan.
Menurut The Forum For Corporate Governance In Indonesia, kegunaan dari
Corporate Governance yang baik adalah :
1. Lebih mudah memperoleh modal.
2. Biaya modal (cost of capital) yang lebih rendah, yaitu sebagai dampak dari
pengelolaan perusahaam yang baik tadi menyebabkan tingkat bunga atas dana
atau sumber daya yang dipinjam oleh perusahaan semakin kecil seiring
3. Memperbaiki kinerja usaha.
4. Mempengaruhi harga saham, serta
5. Memperbaiki kinerja ekonomi.
2.1.2.3 Prinsip – Prinsip Corporate Governance
Organization Economic Cooperation and Development (OECD)
mengembangkan seperangkat prinsip – prinsip Corporate Governance, atau yang
lebih dikenal sebagai The OECD Pinciples Of Corporate Governance. Prinsip –
prinsip dasar dari good corporate governance meliputi :
a) Fairness
Prinsip kewajaran menekankan pada adanya perlakuan dan jaminan hak-hak
yang sama kepada pemegang saham minoritas maupun mayoritas, termasuk hak-hak
pemegang saham asing serta investor lainnya. Praktik kewajaran juga mencakup
adanya sistem hukum dan peraturan serta penegakannya yang jelas dan berlaku bagi
semua pihak. Hal ini penting untuk melindungi kepentingan pemegang saham dari
praktik kecurangan (fraud) dan praktik-praktik insider trading yang dilakukan oleh
agen/manajer. Prinsip kewajaran ini dimaksudkan untuk mengatasi masalah yang
timbul dari adanya hubungan kontrak antara pemilik dan manajer karena diantara
kedua pihak tersebut memiliki kepentingan yang berbeda (conflict of interest).
b) Transparancy
Prinsip dasar transparansi berhubungan dengan kualitas informasi yang
kualitas informasi yang disampaikan perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan dituntut
untuk menyediakan informasi yang jelas, akurat, tepat waktu dan dapat dibandingkan
dengan indikator-indikator yang sama. Pinsip ini diwujudkan antara lain dengan
mengembangkan sistem akuntansi yang berbasis standar akuntansi dan best practices
yang menjamin adanya laporan keuangan dan pengungkapan yang berkualitas,
mengembangkan teknologi informasi dan sistem informasi akuntansi manajemen
untuk menjamin adanya pengukuran kinerja yang memadai dan proses pengambilan
keputusan yang efektif oleh dewan komisaris dan direksi.
c) Accountability
Prinsip akuntabilitas berhubungan dengan adanya sistem yang mengendalikan
hubungan antara unit-unit pengawasan yang ada di perusahaan. Akuntabilitas
dilaksanakan dengan adanya dewan komisaris, direksi independen dan komite audit.
Akuntabilitas diperlukan sebagai salah satu solusi mengatasi agency problem yang
timbul antara pemegang saham dan direksi serta pengendaliannya oleh komisaris.
Praktik-praktik yang diharapkan muncul dalam menerapkan akuntabilitas diantaranya
pemberdayaan dewan komisaris untuk melakukan monitoring, evaluasi, dan
pengendalian terhadap manajemen guna memberikan jaminan perlindungan kepada
pemegang saham dan pembatasan kekuasaan yang jelas di jajaran direksi.
d) Responsibility
Responsibilitas diartikan sebagai tanggungjawab perusahaan sebagai anggota
masyarakat untuk mematuhi peraturan dan hukum yang berlaku serta pemenuhan
sistem yang jelas untuk mengatur mekanisme pertanggungjawaban perusahaan
kepada pemegang saham dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Hal tersebut
untuk merealisasikan tujuan yang hendak dicapai GCG yaitu mengakomodasi
kepentingan pihak-pihak yang berkaitan dengan perusahaan seperti masyarakat,
pemerintah, asosiasi bisnis dan pihak lainnya.
2.1.2.4 Mekanisme Penerapan Corporate Governance
Terdapat dua mekanisme dalam penerapan corporate governance sesuai
kerangka corporate governance menurut World Bank (1999,) yaitu mekanisme intern
dan mekanisme ekstern. Mekanisme intern berkaitan dengan pengendalian intern
perusahaan khususnya peranan dewan komisaris. Dewan Komisaris berfungsi sebagai
wakil pemegang saham khususnya dan stakeholders lainnya umumnya untuk
mengawasi aktivitas manajemen sehingga asimetri informasi antara manajer dan
pemegang saham dapat diatasi. Dengan asumsi dewan komisaris merupakan alat
pengendalian dan merupakan elemen yang sangat penting dalam mekanisme intern
corporate governance. Anggota dewan komisaris dapat terjadi dari anggota yang
berasal dari dalam perusahaan (intern) dan dari luar perusahaan (ekstern). Dewan
komisaris intern lebih banyak mengetahui seluk beluk perusahaan, tetapi mungkin
tidak memiliki tingkat independensi yang besar dibanding anggota dewan komisaris
Mekanisme intern lainnya yaitu penunjukkan anggota dewan direktur dan
dewan komisaris independen serta pembentukan komite audit oleh komisaris yang
beranggotakan auditor independen dan staf internal audit
Pendapat dari anggota independen harus lebih mengacu kepada kepentingan
stakeholders, tidak hanya kepentingan komersial perusahaan, oleh karena itu,
pemilihan orangnya sangat menentukkan kinerjanya. Direktur Independen harus
orang dari luar perusahaan yang tidak mempunyai hubungan afiliasi maupun jasa
konsultasi serta tidak memiliki hubungan kekeluargaan dengan pihak manajemen.
Mekanisme lain dari Corporate Governance adalah mekanisme ekstern, yaitu
mekanisme control yang memanfaatkan semua perangkat yang ada di luar
perusahaan, baik ekonomi, hukum, dan social untuk mengontrol jalannya perusahaan
agar sesuai dengan keinginan pemegang saham dan stakeholders lainnya. Perangkat
tersebut mencakup pasar uang dan pasar modal yang bersaing, perangkat hukum dan
perundang – undangan yang lengkap, penerapan hokum yang konsisten dan adil,
pasar barang dan jasa (termasuk tenaga kerja yang professional) yang aktif dan
terbuka, konsumen yang aktif, tanggap dan sadar akan hak dan kewajibannya.
Mekanisme ekstern ini kadangkala lebih berperan dalam medisplinkan
manajemen dan perusahaan dibanding mekanisme intern. Sebagai contoh pasar modal
yang terbuka, aktif dan likuid memungkinkan para pemegang saham menindak secara
langsung perilaku manajemen yang tidak sesuai dengan kepentingan pemegang
saham. Mereka dapat melepas atau menjual saham kepasar apabila harapan mereka
saham secara serentak melakukan yang sama. Secara sistematis mekanisme GCG
tersebut dapat dilihat dalam gambar di bawah ini
INTERNAL EKSTERNAL
[image:37.612.107.562.168.397.2]PRIVATE REGULATORY
Gambar 2.1. Kerangka Mekanisme Corporate Governance Sumber : Cadbury 2000, Corporate Governance : A framework For Implementation
2.1.3 Kepemilikan institusional
Dalam hubungannya dengan fungsi monitor, investor institusional diyakini
memiliki kemampuan untuk memonitor tindakan manajemen lebih baik dibandingkan
investor individual. Kepemilikan institusional mewakili suatu sumber kekuasaan
(source of power) yang dapat digunakan untuk mendukung atau sebaliknya terhadap
keberadaan manajemen.
Struktur kepemilikan (kepemilikan manajerial dan institusional) oleh beberapa
peneliti dipercaya mampu mempengaruhi jalannya perusahaan yang pada akhirnya Standard Laws regulations Reputational Agent *Accountants *Lawyers *Credits ratings *Investment Bankers *Financial media *Investment Advisors *Corporate Governance Analysis Shareholders Board Of
Commissioner Financial Debt
Equity
Markets :
*Competitive factor & Product market
*Foreign Direct Investment *Comorate Content Board Of
Director
berpengaruh pada kinerja perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan yaitu
maksimalisasi nilai perusahaan.
Menurut Jensen dan Meckling (1976), kepemilikan institusional merupakan
salah satu alat yang dapat digunakan untuk mengurangi agency conflict. Dengan kata
lain semakin tinggi tingkat kepemilikan institusional, semakin kuat tingkat
pengendalian yang dilakukan oleh pihak eksternal terhadap perusahaan, sehingga
agency cost yang terjadi di dalam perusahaan semakin berkurang dan nilai
perusahaan juga semakin meningkat.
2.1.4 Kepemilikan manajerial
Dalam teori akuntansi, manajemen laba sangat ditentukan oleh motivasi
manajer perusahaan. Motivasi yang berbeda akan menghasilkan besaran manajemen
laba yang berbeda, seperti manajer yang juga sekaligus sebagai pemegang saham dan
manajer yang tidak sebagai pemegang saham. Dua hal tersebut akan mempengaruhi
manajemen laba, sebab kepemilikan seorang manajer akan ikut menentukan
kebijakan dan pengambilan keputusan terhadap metode akuntansi yang diterapkan
pada perusahaan yang dikelola.
Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa salah satu cara untuk
mengurangi agency cost adalah dengan meningkatkan kepemilikan saham oleh
manajemen (pihak intern). Proposi kepemilikan saham yang dikontrol oleh manajer
dapat mempengaruhi kebijakan perusahaan. Dalam penelitian Wahyudi dan Pawestri
(2006) menyatakan bahwa kepemilikan manajerial secara langsung dan atau melalui
2.1.5 Komposisi dewan komisaris independen
Dewan komisaris sebagai puncak dari sistem pengelolaan internal perusahaan
memiliki peranan yang sangat penting dalam perusahaan, terutama dalam
pelaksanaan good corporate governance. Menurut Egon Zehnder (2000), dewan
komisaris merupakan inti dari corporate governance yang ditugaskan untuk
menjamin pelaksanaan strategi perusahaan, mengawasi manajemen dalam mengelola
perusahaan, serta mewajibkan terlaksananya akuntabilitas. Vafeas (2000) dalam
Siallagan (2006) mengatakan bahwa peranan dewan komisaris diharapkan dapat
meningkatkan kualitas laba dengan membatasi tingkat manajemen laba melalui fungsi
monitoring atas pelaporan keuangan.
Penelitian mengenai keberadaan dewan komisaris telah dilakukan oleh
Chtourou et al (2001) yang menemukan bahwa earnings management secara
signifikan berhubungan dengan dewan komisaris. Hasil penelitian menunjukkan
income increasing earning management rendah pada perusahaan yang memiliki
outside board members yang berpengalaman sebagai board members pada
perusahaan dan pada perusahaan yang lain.
Berbeda dengan penelitian Veronica dan Utama (2005) yang meneliti
pengaruh proporsi dewan komisaris independen terhadap manajemen laba. Hasil dari
penelitian ini menunjukkan bahwa proporsi dewan komisaris independen tidak
2.1.6 Jumlah dewan komisaris
Selain kepemilikan manajerial, peranan dewan komisaris juga diharapkan
dapat meningkatkan kualitas laba dengan membatasi tingkat manajemen laba melalui
fungsi monitoring atas pelaporan keuangan. Pengaruh jumlah dewan komisaris
terhadap kinerja perusahaan mendapatkan hasil yang beragam. Yermack (1996),
Eisenberg et al (1998) dan Jensen (1993), menyatakan bahwa makin banyak personil
yang menjadi dewan komisaris dapat berakibat pada makin buruknya kinerja yang
dimiliki perusahaan. Hal tersebut dapat dijelaskan dengan adanya masalah keagenan
(agency problem), yaitu dengan makin banyaknya anggota dewan komisaris maka
badan ini akan mengalami kesulitan dalam menjalankan perannya, kesulitan dalam
berkomunikasi dan mengkoordinir kerja dari masing-masing anggota dewan itu
sendiri, kesulitan dalam mengawasi dan mengendalikan tindakan dari manajemen,
serta kesulitan dalam pengambilan keputusan yang berguna bagi perusahaan.
Penelitian Midiastuty dan Machfoedz (2003) menyatakan bahwa ukuran
dewan komisaris berpengaruh positif secara signifikan terhadap indikasi manajemen
laba yang dilakukan oleh pihak manajemen. Hal tersebut berarti makin besar jumlah
dewan komisaris maka makin banyak manajemen laba yang dilakukan perusahaan.
2.1.7 Komite audit
Sesuai dengan Kep. 29/PM/2004, komite audit adalah komite yang dibentuk
oleh dewan komisaris untuk melakukan tugas pengawasan pengelolaan perusahaan.
Keberadaan komite audit sangat penting bagi pengelolaan perusahaan. Komite audit
audit dianggap sebagai penghubung antara pemegang saham dan dewan komisaris
dengan pihak manajemen dalam menangani masalah pengendalian. Berdasarkan
Surat Edaran BEJ, SE-008/BEJ/12-2001, keanggotaan komite audit terdiri dari
sekurang-kurangnya tiga orang termasuk ketua komite audit. Anggota komite ini
yang berasal dari komisaris hanya sebanyak satu orang, anggota komite yang berasal
dari komisaris tersebut merupakan komisaris independen perusahaan tercatat
sekaligus menjadi ketua komite audit. Anggota lain yang bukan merupakan komisaris
independen harus berasal dari pihak eksternal yang independen.
2.1.8 Kualitas audit
Dalam konteks keagenan, dibutuhkan pihak ketiga yang independen sebagai
mediator antara principal dan agent. Pihak ketiga ini berfungsi memonitor perilaku
manajer sebagai agent dan memastikan bahwa agent bertindak sesuai dengan
kepentingan principal. Penggunaan auditor eksternal yang independen merupakan
mekanisme yang didorong oleh pasar, dengan tujuan untuk mengurangi earnings
management (Jensen dan Meckling, 1976; Watts dan Zimmerman, 1986). Pemegang
saham mengharapkan auditor untuk dapat menekan kemungkinan terjadinya moral
harzard yang dilakukan manajemen, sehingga agency cost yang ditanggung
pemegang saham akan berkurang. Namun dari sudut pandang manajer, sejalan
dengan moral hazard hypothesis dan kondisi informasi asimetri, manajer cenderung
memilih auditor yang member keleluasaan untuk memilih prosedur akuntansi yang
Gavious (2007) mengatakan bahwa masalah pemilihan auditor bersumber
pada mekanisme kelembagaan antara auditor dan manajemen. Disatu pihak, auditor
ditunjuk oleh manajemen untuk melakukan audit bagi kepentingan pemegang saham,
namun dilain pihak, jasa audit dibayar dan ditanggung oleh manajemen. Hal ini
menciptakan benturan kepentingan yang tidak dapat dihindari oleh auditor.
Mekanisme kelembagaan ini menimbulkan ketergantungan auditor kepada kliennya,
sehingga auditor merasa kehilangan independensinya dan harus mengakomodasi
berbagai keinginan klien, dengan harapan agar perikatan auditnya dimasa depan tidak
terputus.
Penelitian Teoh dan Wong (1993) berargumen bahwa kualitas audit
berhubungan positif dengan kualitas Earnings Response Coeficient (ERC). Karena
pada saat penelitian ini Big six telah berubah menjadi big four, juga diduga bahwa
klien dari auditor non big four cenderung lebih tinggi dalam melakukan earnings
management. Hal ini berarti kualitas audit berpengaruh negative dengan earnings
management. Walaupun demikian untuk kasus di Indonesia sebagaimana dalam
penelitian yang dilakukan Siregar dan Utama (2006) tidak menemukan pengaruh
yang signifikan antara kualitas audit dengan earnings management yang dilakukan
perusahaan.
Mekanisme GCG merupakan suatu aturan, prosedur dan hubungan yang jelas
antara pihak yang mengambil keputusan dengan pihak yang akan melakukan kontrol
atau pengawasan terhadap keputusan tersebut yang bertujuan untuk menciptakan nilai
menarik investor untuk menanamkan modalnya di perusahaan yang bersangkutan.
Komponen-komponen mekanisme GCG dalam hal ini adalah kepemilikan
institusional, kepemilikan manajerial, komite audit, komposisi dan ukuran dewan
komisaris independen.
2.1.9 Manajemen laba
Manajemen laba adalah suatu intervensi dalam proses pelaporan keuangan
eksternal dengan maksud untuk memperoleh keuntungan pribadi (Wolk et.al 2001).
Salah satu contoh terjadinya earning management adalah pada saat melakukan
penawaran perdana (initial public offerings/IPO) maupun pada saat melakukan
penawaran kedua dan seterusnya (seasoned equity offering/SEO). Dua kondisi
tersebut berbeda dalam hal tersedianya laporan keuangan yang dipublikasikan karena
dalam penawaran kedua dan seterusnya laporan keuangan yang dipublikasikan sudah
disediakan kepada publik. Manajemen laba dilakukan oleh manajer pada faktor-faktor
fundamental perusahaan, yaitu dengan intervensi pada penyusunanlaporan keuangan
tersebut akan mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan, yang selanjutnya akan
mempengaruhi kinerja saham (Wibisono,2004)
Menurut Scott (1997) manajemen laba didefinisikan sebagai berikut “Given
that managers can choose accounting policies from a set (for example. GAAP). It is
natural to expert that they will choose policies so as to maximize their own utility
and/or the market value of the firm”. Dari definisi tersebut manajemen laba
merupakan pemilihan kebijakan akuntansi oleh manajer dari standar akuntansi yang
perusahaan. Scott (1997) membagi cara pemahaman atas manajemen laba menjadi
dua cara. Pertama, melihatnya sebagai perilaku oportunistik manajer untuk
memaksimumkan utilitasnya dalam menghadapi kontrak kompensasi, kontrak utang,
dan political costs (Opportunistic Earnings Management). Kedua, dengan
memandang manajemen laba dari perspektif efficient contracting (Efficient Earnings
Management), dimana manajemen laba memberi manajer suatu fleksibilitas untuk
melindungi diri mereka dan perusahaan dalam mengantisipasi kejadian-kejadian yang
tak terduga untuk keuntungan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak. Dengan
demikian, manajer dapat mempengaruhi nilai pasar saham perusahaannya melalui
manajemen laba, misalnya dengan membuat perataan laba (income smothing) dan
pertumbuhan laba sepanjang waktu.
Manajemen laba dapat dijelaskan lebih dalam dengan teori keagenan (agency
theory). Teori ini berasumsi bahwa setiap individu semata-mata termotivasi oleh
kepentingan pihak manajemen sendiri sehingga menimbulkan konflik kepentingan
antara principal dan agent. Pemegang saham sebagai pihak principal, yang
mengadakan kontrak untuk memaksimumkan kesejahterahan dirinya dengan
profitabilitas yang selalu meningkat. Manager sebagai agent, yang termotivasi untuk
memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologisnya antara lain dalam
hal memperoleh investasi, pinjaman, maupun kontrak kompensasi.
Masalah keagenan muncul karena adanya perilaku oportunistik dari agent,
yaitu perilaku manajemen untuk memaksimumkan kesejahteraannya sendiri yang
principal, manajer termotivasi untuk memililh dan menerapkan metode akuntansi
yang dapat memperlihatkan kinerjanya yang baik.
Jansen dan Meckling (1976), Watts dan Zimmerman (1986) menyatakan
bahwa laporan keuangan yang dibuat dengan angka-angka akuntansi diharapkan
dapat meminimalkan konflik diantara pihak-pihak yang berkepentingan. Dengan
laporan keuangan yang dilaporkan oleh manajemen perusahaan sebagai
pertanggungjawaban kinerjanya, principal dapat menilai, mengukur, dan mengawasi
sampai sejauh mana manajemen perusahaan tersebut bekerja demi meningkatkan
kesejahteraanya, serta memberikan kompensasi kepada manajemen perusahaan
tersebut.
Laporan keuangan digunakan oleh principal untuk memberikan kompensasi
kepada manajemen dengan harapan dapat mengurangi konflik keagenan, hal ini dapat
dimanfaatkan oleh manajemen untuk mendapatkan keuntungan lebih besar dengan
cara melakukan pencatatan akuntansi secara basis akrual (accrual basis) yang
merupakan subjek managerial discretion. Fleksibilitas yang diberikan oleh GAAP
memberikan dorongan kepada manajer untuk memodifikasi laporan keuangan agar
dapat menghasilkan laporan laba seperti yang diinginkan, meskipun menciptakan
distorsi dalam laporan laba (Watts dan Zimmerman, 1986).
Pandangan teori keagenan dimana terdapat pemisahan antara agent dan
principal yang mengakibatkan munculnya potensi konflik yang dapat mempengaruhi
kualitas laba yang dilaporkan. Pihak manajemen yang mempunyai kepentingan
dan bukan demi untuk kepentingan principal. Dalam kondisi seperti ini diperlukan
suatu mekanisme pengendalian yang dapat menyelaraskan perbedaan kepentingan
antara kedua belah pihak. Mekanisme corporate governance memiliki kemampuan
dalam kaitannya menghasilkan suatu laporan keuangan yang memiliki informasi laba.
2.1.9.1 Faktor-faktor Pendorong Manajemen Laba
Perilaku manajemen laba dapat dijelaskan melalui Positive Accounting Theory
(PAT) dan Agency Theory. Tiga hipotesis PAT yang dapat dijadikan dasar
pemahaman tindakan manajemen laba yang dirumuskan oleh Watts dan Zimmerman
(1986) dalam Halim (2005) adalah :
a. The bonus plan hypothesis
Pada perusahaan yang memiliki rencana pemberian bonus, manajemen
perusahaan akan lebih memilih metode akuntansi yang dapat menggeser laba dari
masa depan ke masa kini sehingga dapat menaikkan laba saat ini. Hal ini dikarenakan
manajer lebih menyukai pemberian upah yang lebih tinggi untuk masa kini. Dalam
kontrak bonus dikenal dua istilah yaitu bogey (tingkat laba terendah untuk
mendapatkan bonus) dan cap (tingkat laba tertinggi). Pada saat laba berada di bawah
atau bogey, tidak ada bonus yang diperoleh manajer. Sedangkan pada laba berada di
atas atau cap, manajer tidak akan mendapat bonus tambahan. Sehingga jika laba
bersih berada di atas atau cap, maka manajer cenderung memperkecil laba dengan
bawah atau bogey. Jadi hanya jika laba bersih berada di antara bogey dan cap,
manajer akan berusaha menaikkan laba bersih perusahaan
b. The debt to equity hypothesis (debt covenant hypothesis)
Pada perusahaan yang mempunyai rasio debt to equity tinggi, manajer
perusahaan cenderung menggunakan metode akuntansi yang dapat meningkatkan
pendapatan atau laba. Perusahaan yang memiliki rasio debt to equity yang tinggi akan
mengalami kesulitan dalam memperoleh dana tambahan dari pihak kreditor bahkan
perusahaan terancam melanggar perjanjian utang.
c. The political cost hypothesis (size hypothesis)
Pada perusahaan besar yang memiliki biaya tinggi, manajer akan lebih
memilih metode akuntansi yang menangguhkan laba yang dilaporkan dari periode
sekarang ke periode masa mendatang sehingga dapat memperkecil laba yang
dilaporkan. Biaya ini muncul dikarenakan profitabilitas perusahaan yang tinggi dapat
menarik perhatian media dan konsumen.
Scott (2000) mengemukakan beberapa motivasi terjadinya manajemen laba :
a. Bonus purpose
Manajer yang memiliki informasi atas laba bersih perusahaan akan bertindak
secara oportunistis untuk melakukan manajemen laba dengan memaksimalkan laba
saat ini (Healy, 1985).
b. Political motivations
Manajemen laba digunakan untuk mengurangi laba yang dilaporkan pada
adanya tekanan publik yang mengakibatkan pemerintah menetapkan peraturan yang
lebih ketat.
c. Taxation motivations
Motivasi penghematan pajak menjadi motivasi manajemen laba yang paling
nyata. Berbagai metode akuntansi digunakan dengan tujuan penghematan pajak
pendapatan.
d. Penggantian CEO
CEO yang mendekati masa pensiun akan cenderung menaikkan pendapatan
untuk meningkatkan bonus mereka, jika kinerja perusahaan buruk, mereka akan
memaksimalkan pendapatan agar tidak diberhentikan.
e. Initial public offering (IPO)
Perusahaan yang akan go public belum memliki nilai pasar, dan menyebabkan
manajer perusahaan yang akan go public melakukan manajemen laba dalam
prospectus mereka, dengan harapan dapat menaikkan harga saham perusahaan.
f. Pentingnya memberi informasi kepada investor
Informasi mengenai kinerja perusahaan harus disampaikan kepada investor
sehingga pelaporan laba perlu disajikan agar investor tetap menilai bahwa perusahaan
tersebut dalam kinerja yang baik.
2.1.9.2 Teknik Manajemen Laba
Menurut Setiawati dan Na’im (2000), teknik dan pola manajemen laba dapat
a. Memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi
Cara manajemen mempengaruhi laba melalui judgement (perkiraan) terhadap
estimasi akuntansi antara lain: estimasi tingkat piutang tak tertagih, estimasi kurun
waktu depresiasi aktiva tetap atau amortisasi aktiva tak berwujud, estimasi biaya
garansi dan lain-lain.
b. Mengubah metode akuntansi
Perubahan metode akuntansi yang digunakan untuk mencatat suatu transaksi,
contohnya mengubah metode depresiasi aktiva tetap dengan cara perhitungan dan
pencatatan depresiasi aktiva tetap dari metode depresiasi angka tahun menjadi metode
depresiasi garis lurus
c. Menggeser periode biaya atau pendapatan
Rekayasa periode atas biaya atau pendapatan, dapat dicontohkan dengan
mempercepat atau menunda pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan sampai
pada periode akuntansi berikutnya, mempercepat atau menunda pengeluaran promosi
sampai periode berikutnya, mempercepat atau menunda pengiriman produk ke
pelanggan, mengatur saat penjualan aktiva tetap yang sudah tidak terpakai.
2.1.9.3 Pola Manajemen Laba
Pola manajemen laba menurut Scott (2000) dapat dilakukan dengan cara:
Pola ini terjadi pada saat reorganisasi termasuk pengangkatan CEO baru
dengan melaporkan kerugian dalam jumlah besar. Tindakan ini diharapkan dapat
meningkatkan laba di masa datang.
b. Income minimization
Dilakukan pada saat perusahaan mengalami tingkat profitabilitas yang tinggi,
sehingga jika laba periode mendatang diperkirakan turun drastis dapat diatasi dengan
mengambil laba periode sebelumnya.
c. Income maximization
Dilakukan pada saat laba menurun. Tindakan ini bertujuan untuk melaporkan
net income yang tinggi untuk tujuan bonus yang lebih besar.
d. Income smoothing
Dilakukan perusahaan dengan cara meratakan laba yang dilaporkan sehingga
dapat mengurangi fluktuasi laba yang terlalu besar karena pada umumnya investor
lebih menyukai laba yang relatif stabil.
2.1.10 Manajemen laba dan nilai perusahaan
Manajemen laba dilakukan oleh manager pada faktor-faktor fundamental
perusahaan, yaitu dengan intervensí pada penyusunan laporan keuangan berdasarkan
akuntansi akrual. Padahal kinerja fundamental perusahaan tersebut digunakan oleh
pemodal untuk menilai prospek perusahaan, yang tercermin pada kinerja saham.
Manajemen laba yang dilakukan manajer pada laporan keuangan tersebut akan
mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan, yang selanjutnya akan mempengaruhi
2.2. Tinjauan Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian sebelumnya yang membahas masalah manajemen laba
dan kinerja perusahaan antara lain:
a. Animah dan Ramadhani (2010), melakukan penelitian dengan judul.
Pengaruh Struktur Kepemilikan, Mekanisme Corporate Governance dan Ukuran
Perusahaan terhadap Nilai Perusahaan. Penelitian dilakukan terhadap perusahaan
manufaktur yang terdaftar di BEJ dengan tahun pengamatan 2003-2007. Variabel
yang digunakan adalah: kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, proporsi
dewan komisaris, ukuran dewan komisaris, komite audit, ukuran perusahaan dan nilai
perusahaan. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa kepemilikan institusional,
kepemilikan manajerial, komite audit, ukuran dewan komisaris, proporsi dewan
komisaris independen dan ukuran perusahaan secara simultan berpengaruh terhadap
nilai perusahaan. Selain itu juga, variabel ukuran dewan komisaris dan ukuran
perusahaan berpengaruh secara parsial terhadap nilai perusahaan. Kepemilikan
institusional, kepemilikan manajerial, proporsi dewan komisaris independen dan
komite audit tidak berpengaruh secara parsial terhadap nilai perusahaan.
b. Siallagan dan Machfoedz (2006), melakukan penelitian dengan judul.
Mekanisme Corporate Governance, Kualitas Laba dan Nilai Perusahaan. Penelitian
dilakukan terhadap perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ dengan tahun
pengamatan 2000-2004. Variabel yang digunakan adalah: kepemilikan manajerial,
proporsi dewan komisaris, komite audit, ukuran perusahaan, manajemen laba dan
governance mempengaruhi kualitas laba dan kualitas laba secara positif berpengaruh
terhadap nilai perusahaan. Selain itu juga, kepemilikan manajerial dan komite audit
berpengaruh positif terhadap kualitas laba sedangkan dewan komisaris berpengaruh
negatif terhadap kualitas laba. Mekanisme CG berpengaruh secara simultan terhadap
nilai perusahaan. Dimana, kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap nilai
perusahaan, komite audit dan dewan komisaris berpengaruh positif terhadap nilai
perusahaan.
c. Herawaty (2008) melakukan penelitian dengan judul. Peran Praktek
Corporate Governance sebagai Moderating Variabel dari Pengaruh Earning
Management terhadap Nilai Perusahaan. Penelitian dilakukan pada perusahaan
nonkeuangan yang telah listing di BEJ tahun 2004-2006. Variabel yang digunakan
adalah: ukuran perusahaan, kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial,
proporsi dewan komisaris independen, kualitas audit, manajemen laba dan nilai
perusahaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model regresi pertama, earning
management berpengaruh negatif terhadapa nilai perusahaan dengan variabel kontrol
ukuran perusahaan. Model regresi kedua menunjukkan kepemilikan manajerial
berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan, komite audit
berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Pada model regresi
ketiga, earning management berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai
perusahaan.
d. Semuel (2009) melakukan penelitian dengan judul. Mekanisme Corporate
Intervening. Penelitian dilakukan terhadap perusahaan manufaktur yang terdaftar di
BEJ, dengan tahun pengamatan 2000-2004. Variabel yang digunakan adalah
kepemilikan manajerial, dewan komisaris, komite audit, kualitas laba dan nilai
perusahaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mekanisme CG berpengaruh
terhadap kualitas audit, kepemilikan manajerial dan komite audit berpengaruh positif
terhadap kualitas laba, sedangkan dewan komisaris berpengaruh negatif terhadap
kualitas laba. Selain itu juga, kualitas laba berpengaruh positif terhadap nilai
perusahaan dan mekanisme corporate governance berpengaruh terhadap nilai
perusahaan. Dimana dewan komisaris dan komite audit berpengaruh positif terhadap
nilai perusahaan, kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap nilai
perusahaan. Kualitas audit bukan variabel intervening yang mempengaruhi hubungan
mekanisme corporate governance dan nilai perusahaan.
Dari peneliti terdahulu tersebut di atas terlihat bahwa dari hasil beberapa
peneliti menunjukkan adanya pengaruh mekanisme Corporate Governance terhadap
Tabel 2.1 Tinjauan atas Penelitian Terdahulu Nama Peneliti/
Tahun
Judul Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian
Animah, Ramadhani 2010
Pengaruh Struktur Kepemilikan,
Mekanisme CG dan Ukuran Perusahaan terhadap Nilai Perusahaan
a. Kepemilikan Institusional
b. Kepemilikan Manajerial
c. Proporsi Dewan Komisaris
Independen
d. Komite Audit
e. Ukuran Dewan Komisaris
f. Ukuran Perusahaan
g. Nilai Perusahaan
kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, komite audit, ukuran dewan komisaris, proporsi
dewan komisaris independen dan ukuran
perusahaan secara simultan berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Selain itu juga, variabel ukuran dewan komisaris dan ukuran perusahaan berpengaruh secara parsial terhadap nilai perusahaan.
Siallagan, Machfoedz 2006
Mekanisme CG, kualitas laba dan nilai perusahaan
a. Kepemilikan manajerial b. Proporsi dewan komisaris c. Komite audit
d. U